Diposkan pada Angst, Chapter, Romance, Sad Romance, Seo Yuri

My Kris, My Hero | Chapter 8 [END] |

My Kris, My Hero written by Seo Yuri

Chaptered; G; romance, angst

Lee Eun Ji (OC), Kris (EXO), Lee Tae Min (Shinee), Yesung (Super Junior)

For my dearest Eun Ji, I’m sorry!

Inspirated by: “Anterograde Tomorrow (changdictator)” and “Memento (monggu)”.

Chapter 7

—OoooOoooO—

—i  h a v e  f o r g o t t e n  h o w  t o  j u s t  h e a r,  l o v e  a n d  c a r e,  n o  l o n g e r  b u t  l o s t—

 —OoooOoooO—

“Kau merasa baikan?”

Suhu badannya masih sangat tinggi, tapi Eun Ji tampaknya cukup yakin bisa bertahan saat ini. Setidaknya ia percaya akan baik-baik saja meskipun Yesung harus pergi; apalagi kalau bukan untuk menemui pasien-pasiennya di rumah sakit.

Sembari menganggukkan kepala, Eun Ji menatap yakin ke dalam mata Yesung, “Aku baik-baik saja, sungguh.”

Detik-detik mulai berlalu dengan Eun Ji yang berbaring di ranjang dan Yesung yang sama sekali tak beranjak dari posisinya; duduk menghadap Eun Ji dan menatapnya lama, “Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa sakit begini?”

Senyum kecil mengisi sebagian wajah Eun Ji; sebagai jawaban ambigu untuk pertanyaan Yesung, tapi tak lantas membuatnya berhenti.

“Aku tidak bisa terus kembali untuk mengecek keadaanmu, pasien di rumah sakit juga membutuhkanku. Jadi, kupikir alangkah baiknya jika kau kembali ke rumah sakit, setidaknya hatiku akan lebih tenang. Kau tidak keberatan, kan?”

Entah bagaimana, mendengar kata rumah sakit membuatnya menjadi tak nyaman. Hatinya mendadak ngilu dan bibirnya terasa sangat keluh hanya sekedar untuk berbicara. Segala pasokan udara menjadi berkurang dengan drastis, bahkan suhu menjadi semakin dingin; semakin tak nyaman.

“Rumah sakit,” Eun Ji membiarkan dengusan kecil itu terdengar dan membalikkan badan, memunggungi Yesung. “Tentu saja aku akan kembali ke rumah sakit.”

Malam semakin larut, tapi tak lantas melarutkan suasana yang tercipta karena terkadang wajahnya tampak begitu sedih; terlalu banyak rasa sakit, tapi ia tidak benar-benar tahu mengapa.

—OoooOoooO—

Dia kembali ke kamar itu.

Tentu saja ia akan, untuk beberapa alasan yang tak ia mengerti; kamar itu adalah miliknya, apapun yang terjadi.

Tapi malam itu, ketika panas di tubuhnya tak kunjung menghilang, Eun Ji merengek untuk pindah kamar. Dengan alasan tidak ingin sendirian, ia mendapatkan izin dari Yesung untuk tidur di kasur sudut ruangannya bekerja.

Bagi Eun Ji, malam di ruangan Yesung terdiri dari bunyi kertas yang dibolak-balikkan dengan tempo tak beraturan; dipenuhi gelapnya malam, ditemani setitik cahaya kuning di sudut ruangan lainnya; bunyi mesin penghangat yang khas; nyaring ponsel yang berdengung tak ada habis-habisnya.

Ada saat di mana Yesung menghentikan aktivitasnya sejenak, dan bertanya apa Eun Ji telah tidur dan Eun Ji hanya membalikkan badan, memejamkan matanya singkat, tidak menjawab; bertingkah seolah ia sedang tertidur.

Tapi semua itu hanya kepalsuan, karena setelahnya mata itu kembali terbuka dan malam tak jadi membawanya pergi. Hanya ketika bulan merasa lelah untuk menyapa dunia, mimpi mulai berulah dan melarutkannya lagi.

—OoooOoooO—

Adakah sebuah topeng yang cocok untukku

Musik mengalun pelan, perlahan mengetuk sensitifitas telinga Eun Ji hingga kakinya pun dipaksakan untuk melangkah. Itu berasal dari kamar sebelah; musik yang membawa Eun Ji kemari, tempatnya terlihat baru tapi entah bagaimana tidak terlalu aneh di mata Eun Ji.

Ada seorang lelaki di sana; berdiri menghadap jendela besar, matahari yang masuk melalui celah-celah sempit dalam dirinya terlihat begitu benar dan juga indah.

Dan ia mengaguminya; sosok itu, jendela itu, sinar matahari itu―sungguh kombinasi yang sempurna.

Karna berkata terlalu banyak maka itu tidak akan terjadi

Eun Ji tak dapat mengatasi perasaannya, detak jantungnya; tidak saat pemandangan sempurna itu tepat berada dihadapannya―bersiap-siap membalikkan badan.

Mungkin waktu adalah penawarnya

Tentu saja ia tak bisa, lelaki asing itu; dengan baju rumah sakit yang kekecilan, figure belakang yang mengagumkan, perfect jawline, seems like an angel, really; terlihat sedikit kaget saat mendapati Eun Ji di sana, tapi cepat-cepat digantikan senyuman tipis―benar-benar tipis, seolah senyuman itu akan terbang ditiup angin atau mungkin akan terhapus bila ia memejamkan matanya sejenak.

Atau mungkin racun yang aku minum sekarang

Ia tak tahu mengapa, hanya saja setelah melihat lama, hatinya seolah diperas. Pikirannya tak bisa fokus, bahkan jantungnya berpacu dengan cepat. Ada yang mengganggunya, tapi ia tak tahu apa. Ini benar-benar salah, tapi kenapa?

Saat ini, ia merasa seolah-olah sedang menyaksikan memorinya direbut secara paksa, dalam kehidupan nyata. Dan ia hanya memperhatikan dalam diam, tak mampu melakukan apa pun.

Tapi ia kemudian sadar, lelaki di sana hanya orang asing, bukan seseorang yang sempat berada diingatannya―setidaknya itu yang diyakininya.

Tanpa melihat senyumanmu aku bagaimana bisa tidur

 “Maaf,” Eun Ji memulai setelah beberapa saat terdiam, mendorong pintu putih di sampingnya agar terbuka lebih lebar. Barulah setelah itu, ia memilin jemari dan memperhatikan kaki munggilnya menapaki keramik dingin dengan perlahan.

Lelaki asing itu juga mengambil langkah yang sama, hingga jarak di antara mereka tak lagi besar. Bahkan ketika Eun Ji berhenti melangkah dan akhirnya memberanikan diri menatap wajah lelaki itu lebih dekat, ia bisa dengan leluasa menghirup aroma obat yang menyeruak dari tubuh lelaki itu.

 “Um,” Eun Ji terbata begitu ia mendapati si orang asing tengah menatapnya sambil tersenyum. Ia berusaha tak memikirkan alasan lelaki itu terus menatapnya sambil tersenyum, tapi rasa penasarannya tak dapat diajak kompromi. Sehingga pemikiran mengenai mereka yang pernah bertemu sebelumnya membuat ia merasa tak berdaya. Entah bagaimana, memikirkan alasan lelaki asing itu tersenyum begitu cerah membuatnya harus mendapatkan sakit kepala yang menyakitkan.

Suaramu begitu dekat namun tetap tidak bisa ku peluk

Mengerikan memang jika mereka pernah bertemu sebelum ini.

Tadi pagi, begitu Eun Ji bangun seperti hari yang tak pernah ada dalam ingatannya, ia menemukan sebuah note tertempel di dinding―entah itu di kamarnya, kamar orang lain; ia tak mengerti.

Tapi itu bukan apa-apa, karena terdapat banyak tempelan note di sana. Yang mengusik dari note itu adalah tulisannya. Tulisan yang berarti bencana. Tulisan yang benar-benar mengganggu. Bahkan ia yakin seluruh organ tubuhnya berhenti bekerja saat tulisan itu terbaca.

Kau akan melupakan dirimu yang kemarin, 2 hari yang lalu, hari yang terus berlalu tanpa pernah kau ingat, kemarin, kemarinnya lagi, lagi, lagi…

Eun Ji tak mengerti apa maksud dari tulisan itu, ia bahkan sama sekali tak tahu siapa orang iseng yang menulis note dan menempelkannya di dinding. Yang jelas, entah bagaimana, menatap note itu lama membuat ia merasa ingin menangis. Ia tak tahu mengapa dan ia pun tak berniat mencari tahu.

Karena ia sadar akan satu hal, meski ia tahu, tak akan ada yang berubah; kebingungannya, rasa sakitnya, semuanya, apapun itu; takkan ada yang membaik–sehingga ia tak lagi merasa sedih. Sampai-sampai ia berhenti untuk berharap dan hanya menatap kenyataan yang tengah menunggunya di ujung jalan.

Karena terkadang harapan tinggallah harapan. Orang yang berharap terlalu banyak adalah orang yang paling kesepian sekaligus menyedihkan. Dan orang itu tampak sama sepertinya yang tak memiliki ingatan.

Ia hanya dapat bertahan pada kehampaan. Ingatannya berupa kehampaan. Semuanya hal berupa kehampaan.

Andai saja ada sedikit cahaya yang dapat menyinari kehampaan.

Matahari akan terus berputar walaupun bumi tak ada

Barulah ketika Yesung datang, semuanya bisa teratasi. Ia terbangun diruangan lelaki bernama Kim Jong Woon; Yesung dan itu adalah dokter yang merawatnya, orang iseng yang menempelkan note di dinding adalah dirinya sendiri dan itu juga ditujukan untuk ia.

Ia yang menghapus dirinya di penghujung hari, membilas semuanya bersih. Pemilik kepribadian yang terlalu naïf dan berkata bahwa tidak apa jika ia benar-benar tidak ingat. Ia yang meminta Yesung memberitahunya tentang semuanya, tentang namanya, penyakitnya, ruangannya.

Dan inilah dirinya. Seorang gadis polos yang bahkan melupakan jadwal makannya setiap pagi, begitu pula makan siang, makan malam. Berharap seseorang akan membantunya mengingat, barang sedikit pun.

Mencoba mencari jati dirinya, ingatannya, berharap dapat menemukan penawar; hingga tanpa bantuan Yesung ia berhasil mencapai ruangannya, berharap sedikit perasaannya dapat mengelitik ingatan itu muncul; dapat menumbuhkan kembali memori yang sempat hilang.

Tanpa alasan aku juga bisa berjalan menjauh darimu

“Hei,” lelaki itu mulai berkata, menatap Eun Ji dengan kedua bola matanya yang tajam namun sendu, “Kau tidak seharusnya di sini.”

Eun Ji tak menjawab karena ia juga tak tahu harus menjawab apa. Mungkin yang dikatakan lelaki ini benar, ia memang tak seharusnya berada di tempat ini. Tidak seharusnya masuk ke kamar orang lain, tidak boleh masuk ke kamar orang yang bahkan tidak dikenalnya. Tapi ia juga tak mengerti kenapa kakinya menuntunnya kemari. Nyatanya, ia bahkan tak benar-benar mengerti ketika mengatakan, “Ap-Apa aku pernah mengenalmu?”

Setelah berusaha sekian lama, lelaki itu berhasil memaksakan seulas senyum, namun sesegera mungkin ditiup angin ketika ia berkata, “Menurutmu?”

“A-Aku,” ia berhenti berkata, bukan karena takut tapi ia sungguh tak punya apa-apa untuk diutarakan. Ia berusaha keras memutar otaknya, supaya ia dapat mengingat, meski hanya sekilas saja. Tapi kehampaan kembali menyapanya, setitik cahaya itu tak kunjung bersinar. Ia telah sampai di ujung jalan tapi tak ada yang ditemukannya.

Setelah keheningan cukup lama, “Aku hanya merasa, mungkin kau mengenalku,” akhirnya terdengar, dan dengusan menyambung, dari salah satu di antara mereka. Mungkin keduanya.

Meski Eun Ji tengah menanti persetujuan, meski keduanya menunggu jawaban yang sama, Eun Ji tak punya apa-apa lagi untuk diutarakan. Ia telah berusaha sebaik yang ia mampu tapi keheningan yang menyelimuti mereka tetap berusaha meruntuhkan setiap bagian dalam tubuh dan menariknya menjauh hingga ia tak mampu memprotes barang sedikit pun ketika lelaki itu berkata, “Kau tahu―suatu malam aku bertemu denganmu, ketika kau mencoba untuk mengingat dan aku terus membisikan kata maaf. Itu adalah malam seperti biasanya dan tak ada yang spesial. Tak ada alasan kita harus bertemu setiap hari, setiap waktu. Jadi, maksudku,” ia menarik napas, dan hantaman terakhir terasa lebih kejam dari ucapannya barusan, lebih kelam dari keheningan mana pun, “Kau tidak punya alasan untuk berada di sini.”

Dan Eun Ji kembali menelan kekecewaan ketika ia tiba-tiba berada di luar ruangan dan pintu tertutup dihadapannya, meski ia belum sadar benar apa yang sedang terjadi.

Baru setelah Yesung mengernyit, berlari ke arahnya, memanggil dan bertanya kenapa ia ada di sini, ia mengedipkan mata dan menghembuskan napas yang ia sendiri bahkan tak sadar telah menahannya sedari tadi.

—OoooOoooO—

“Jadi, apalagi yang ingin kau lakukan sekarang?” Yesung akhirnya bertanya, bertopang dada dan menyandarkan punggungnya ke kursi saat Eun Ji menatapnya serius.

Yesung tahu, jika Eun Ji sudah bersikap seperti ini, pasti sesuatu telah terjadi. Entah itu tentang ingatannya, tentang jati dirinya, tentang Yesung yang selalu sibuk, dan yang terburuk tentang—

“Kau kenal tetangga sebelah?”

Tepat sasaran dan Yesung tak mampu lagi menyembunyikan ekspresi tak nyaman. Ia mengusapkan tangan yang kasar ke wajah cemberutnya dan menghembuskan nafas panjang, “Jadi, kau mengabiskan waktuku yang berharga dengan duduk di sini hanya untuk menanyakan ini? Oh, ayolah.”

Dan berikutnya tak ada jawaban atau protes berupa apa pun dari Eun Ji. Ia masih tetap menatap Yesung tapi benar-benar tak melakukan hal lain. Hal itu tentu saja sangat mengganggu.

Yesung tak pernah memperhatikan atau lebih tak pernah lagi menghitung, seberapa sering Eun Ji menanyakan hal itu. Seberapa besar rasa penasaran gadis itu, sehingga kata-kata itu terus meluncur begitu saja.

Ia benar-benar tidak mengerti, bagaimana bisa Eun Ji terus menanyakan itu karena―hei, bukankah ia telah melupakan tetangga sebelahnya. Kris bahkan tak pernah lagi kelihatan ingin mengganggu Eun Ji atau parahnya berkeinginan mengajak Eun Ji berkenalan.

Yesung yakin Kris bersungguh-sungguh dengan janjinya. Meski ia tak suka dengan Kris, tapi itu bukan berarti ia tidak bisa mempercayai lelaki itu. Lelaki itu bukan orang yang akan seenaknya membuat janji dan melupakannya begitu saja. Ia bukan orang yang dengan gampang akan memakan kembali omongannya. Setidaknya, di mata Yesung, masih ada satu kepribadian yang disukainya dari Kris.

Tapi tetap saja Eun Ji yang tengah menatapnya adalah suatu kesalahan, karena ia paling tidak suka melihat tatapan sendu seperti itu, tak pernah bisa lari dari tatapan memohon itu. Sehingga, “Kenapa kau begitu ingin tahu?” terucap bagaikan mimpi di siang bolong.

Detik-detik telah berlari, jarum panjang jam terus berpindah dari angka 12 ke angka 12 lagi. Keheningan diam-diam merayapi mereka, diam-diam menertawakan mereka. Dan yang terdengar hanyalah dengusan dari Eun Ji dan penantian dari Yesung.

Berikutnya Eun Ji memilih menyerah dan berkata bahwa ia telah merepotkan Yesung, bahwa ia tak seharusnya di sini, bahwa Yesung harus beristirahat. Tapi bagaimana pun juga, yang menarik tangan Eun Ji dan mencegahnya pergi adalah Yesung. Yang meminta maaf padanya juga Yesung. Yesung yang menceritakan semuanya, tentang ia yang mengenal tetangga sebelahnya, tentang bagaimana ia terus berusaha membuat Eun Ji melepaskan sosok itu tapi tetap gagal. Bagaimana ia menyerah seperti sekarang. Bagaimana ia harus menjawab jika Eun Ji bertanya lagi. Atau bagaimana Eun Ji menyadari keberadaan Kris dengan cepat. Bagaimana kini Eun Ji menangis dengan tangan membekap mulut, terisak dengan tumpahan air mata.

Bagaimana ia bisa bertahan?

—OoooOoooO—

Dalam perjalanan menuju kamarnya, Eun Ji menemukan kaki dan tangannya bergetar hebat ketika melewati kamar 159. Mungkin seluruh tubuhnya memang bergetar. Bukan hanya itu, efek dari kejujuran Yesung sangat besar, lebih besar dan mengerikan dari yang sempat dibayangkan Yesung. Mungkin keduanya.

Meski air mata itu telah menghilang beberapa saat yang lalu, tetap saja tak ada yang bisa menjamin tetesan cairan itu tak akan kembali. Tidak ada yang memastikan hal itu takkan terjadi. Hingga ia kembali jatuh, kembali merasa sakit, merasa sesak dan akhirnya ia kembali kehilangan dirinya.

Meski kini ia tahu yang terjadi, meski semuanya telah terjelaskan. Terkadang kenyataan terlalu menyilaukan baginya, terlalu susah untuk ditatap, terlalu menyesakkan jika ia berusaha seorang diri.

Mungkin akan lebih baik jika ia tetap lupa, karena ia pun sadar bahwa ingatan dapat membunuh manusia dengan perlahan dan itu lebih menyakitkan dari pembunuhan mana pun.

Malam itu adalah malam ketika Eun Ji diam-diam menyandarkan punggungnya ke pintu dan berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa keesokan hari ia tak akan merasa sedih, bahwa sakitnya akan terhapus begitu ingatan itu hilang.

Tapi tetap saja tak ada yang bisa membuat ia merasa lebih baik.

—OoooOoooO—

Ketika Eun Ji terbangun keesokan harinya, ia tidak berada di luar ruangan. Faktanya tak ada pintu yang membantunya bersandar semalaman. Karena kini punggungnya bertemu pandang dengan kasur empuk rumah sakit, berbeda jauh dengan pintu kaku yang cenderung dingin di luar sana.

Tapi Eun Ji tidak tahu, ia tak peduli tentang kamar siapa ini, tentang kenapa ia berada di sini, kemana perginya semua orang. Tidak ada Eun Ji yang menangis di koridor rumah sakit. Tidak ada Eun Ji yang bergetar, tak ada Eun Ji yang berharap tidur akan membawanya pergi.

Pagi itu hanya ada Eun Ji yang berjalan di ruangan asing, meneliti setiap note yang tertempel di dinding. Bertanya-tanya apa ada yang tertinggal.

Dan note itu juga tak menjawab segalanya, justru membuatnya tambah parah. Karena ia tak dapat melepaskan pandangannya dari tempelan di dinding, tak dapat mengedipkan matanya untuk sejenak. Tak dapat mengerti arti dari semua ini.

Tetangga, suara seperti muntah.”

“Pelupa itu sama saja seperti orang bodoh. Lee Eun Ji, kau gadis yang menyedihkan.”

“Kau kesepian.”

“Apa yang bisa kau lakukan selain melupakan harimu?”

“Kau sakit.”

“159; dia memanggilmu, Eun Ji-ah.”

Ia tak memperdulikan tentang catatan-catatan tadi, ia tak mau mencari tahu siapa itu Lee Eun Ji, bagaimana bisa ia sampai di kamar Lee Eun Ji. Tapi, tempelan terakhir merupakan hantaman yang lebih keras lagi. Catatan itu adalah sebuah kesalahan.

Sebuah kesalahannya yang bukan berupa, “Dokter Kim bilang aku pernah jatuh cinta dengan seorang pria dan jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi, dan itu terjadi ketika ingatan direbut paksa dariku. Bukankah itu lucu? Itu pasti bohong, kan?”

Melainkan tulisan di bawahnya, yang ditulis berulang kali dengan pen hitam, sehingga tulisannya tercetak tebal; dan sepertinya ditulis oleh orang yang berbeda, sebagai jawaban dari pertanyaan di atasnya, “For my dearest Eun Ji, I’m sorry.

Dan semua itu semakin buruk saat ia menuju pintu, membukanya, membaca angka yang menyembul di balik pintu putih yang terasah rapi dan ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia tak mengerti apa yang menggangu dari angka “159”. Hanya saja, melihat angka itu lama membuat lututnya otomatis merasa lemas dan tubuhnya bergetar.

Hingga, akhirnya setelah beberapa waktu, Eun Ji yang bergetar telah kembali, disusul oleh Eun Ji yang menangis tapi Eun Ji yang tengah berharap tidak sempat muncul. Mungkin itu karena kehampaan telah menerjangnya sebelum ia sempat berpikir dan kali ini lebih menyesakkan dada.

—OoooOoooO—

Hari itu memang hari terburuknya, tak cukup terbangun di kamar yang salah, menemukan catatan yang nyaris membuatnya kehabisan nafas, no ruangan yang membuatnya menangis layaknya tak ada hari esok; kini ia harus berpas-pasan dengan pasien bersiap-siap diangkut ke ruang ICU.

Sesungguhnya Eun Ji tidak terlalu peduli dengan hal itu, tapi entah bagaimana melihat lelaki yang tengah berlari sambil mendorong kasur itu membuat ia berhenti sejenak, atau bagaimana nama Lee Taemin yang tercetak di tanda pengenal membuat ia tak berkedip. Ia benar-benar tak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia merasa begitu salah?

Tapi saat-saat itu telah berlalu, kini hanya ada Eun Ji yang duduk di ruangan Yesung; bertanya tentang Lee Taemin, sehingga Yesung tersedak kopi yang ia buat sendiri, membulatkan mata di balik kacamatanya, menarik tangan Eun Ji dan memasang wajah serius.

“Bagaimana kau bisa tahu tentang Lee Taemin?”

Eun Ji mengedipkan mata, respon yang terlampau wajar, mengingat perbuatan Yesung yang sangat tiba-tiba, “Tadi dia sedang berlari sambil mendorong pasien dan kami berpas―

“Tunggu-tunggu. Dia membawa pasien?” Yesung menginterupsi, terlihat sedikit menimbang ketika berkata, “Maksudmu Kris?”

“Kris siapa?” adalah yang sebenarnya ingin diutarakan Eun Ji, tapi dengan cepat digantikan dengan ekspresi panik dan rasa takut yang berlebihan. Ia lantas berbalik dan mencari tahu penyebab di balik rasa paniknya, alasan di balik ketakutannya.

Tapi yang muncul dalam ingatannya bukan bagaimana ia harus mencari tahu, atau kemana ia sekarang; bukan mengapa Lee Taemin terlihat panik, atau bagaimana ia mendorong dengan cepat. Melainkan melihat dirinya memanggil nama Kris berulang kali, dirinya yang menangis di koridor, ia yang terus mencari Kris namun tetap mengapus nama itu dalam ingatannya; membilasnya tanpa bekas; meninggalkan semuanya di dalam mimpi.

Kris. Kris. Kris. Kris. Kris.

Semuanya tentang Kris hingga ia sampai di hadapan sebuah ruangan yang tampak sama dengan ruangan dalam ingatannya. Ruangan yang ia sendiri tak tahu bagaimana bisa sampai di sini.

Kemudian kilasan itu muncul lagi, bagaikan film yang diputar di bioskop; Eun Ji melihat Lee Taemin muncul di sana, memegang sebuah alat dan terus meneriakkan nama Kris, menyusun permohonan di setiap hentakkan. Berharap Kris dapat bertahan.

Tapi hari itu ia tidak menangis, Lee Taemin tidak berteriak dan ia lupa membisikkan permohonan. Hari itu terlihat sama tapi berbeda. Karena Taemin akan mengusap wajahnya kasar, membuka pintu dan meminta Eun Ji masuk ke dalam. Bukan menatap Eun Ji dan menutup jendela seperti yang diingatnya.

Lalu, Lee Taemin meminta Eun Ji untuk mendengar perkataannya, bahwa ia tak akan mengulangnya lagi jika kata itu terlewatkan. Eun Ji tak paham beberapa hal penting tentang kemoterapi, stadium yang sudah serius. Ginjalnya yang berhenti bekerja, tentang hepatoma.

Tapi Eun Ji merasa dunianya seketika runtuh ketika sesuatu tentang pengobatannya yang terlambat dilakukan, tentang sel kanker yang telah menyebar, tentang tak ada lagi harapan dan ucapan terakhir adalah yang paling kejam, paling menyakitkan, paling menyesakkan, kesedihan tanpa akhir tentang, “tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Waktunya mungkin tak lama lagi. Maaf.”

Berikutnya tak ada lagi Taemin, tak ada lagi Yesung, tak ada siapa-siapa lagi di mata Eun Ji, selain Kris yang masih tertidur dengan masker oksigen. Hembusan udara memudar, suara monitor tak ada hentinya. Tapi yang didengar Eun Ji hanya keheningan; yang diam-diam menelannya bulat-bulat dan kali ini tak mengizinkannya keluar.

—OoooOoooO—

Keesokan harinya, tak ada yang special; tak ada yang berubah, semuanya sama. Hanya saja Eun Ji sekarang duduk di bangku sebelah kasur, mengamati mata Kris yang perlahan bergerak dan menatapnya setelah beberapa saat. Dan dalam situasi seperti itu, mereka membiarkan waktu seharian terbuang begitu saja.

Keesokan harinya lagi, Kris dipindahkan ke ruangannya semula dan kamar Eun Ji telah dihuni oleh pasien lain. Kini dinding kamar Kris lebih ramai dari biasanya, karena tempelan-tempelan baru telah tertata rapi di sana.

Tentang seorang gadis bernama Lee Eun Ji dan lelaki di sebelahnya bernama Kris, mereka bertemu di sebuah malam, melewati permintaan maaf, rasa bersalah, penyesalan, di antara ketidakpastian, di antara paku yang terus terlepas, dan mereka telah melalui banyak hal sehingga mereka jatuh ke dalam lubang keputusasaan; bahwa tidak ada kata cinta, tidak ada. Terlalu banyak kata ‘tidak’ hingga kata itu terhapuskan. Jadilah mereka terjatuh terlampau dalam dan tak bisa bangkit lagi. Mereka jatuh, jatuh, jatuh keesokan harinya, esoknya lagi, lagi, lagi…

Dan ia bertekad untuk ingat dan tidak akan pernah lupa. Sehingga ia memberanikan diri berharap, diam-diam melipat tangan di depan dada dan menghembuskan permohonan-permohonan kecil di atas buku-buku jarinya yang memucat, di atas bibir yang terus bergetar.

—OoooOoooO—

“Hari itu yang memanggilku itu kau, kan? Dan yang mengambil semua tempelan-tempelan itu, kau juga, kan?” Eun Ji menebak dan berharap jawabannya yang diterimanya akan berbunyi positif. Tapi orang yang diharapkan hanya menatap dari balik bulu matanya yang panjang, bernafas lewat masker plastik yang terpasang di hidung; menolak untuk menjawab apa pun.

Eun Ji mengamati masker itu dalam diam; sedikit berembun ketika Kris menghembuskan nafas dan menghilang saat ia menghirupnya. Tiba-tiba ia menduga-duga seberapa menyebalkan memakai masker plastik itu, apalagi jika itu menekan tepat di bagian hidung.

Namun tampaknya Kris tak ingin Eun Ji menduga terlalu lama, karena setelah itu ia bergumam kecil; terlalu kecil hingga Eun Ji tak mampu membedakan gumamannya dengan udara yang ia hembuskan.

Jadi Eun Ji mendekatkan wajahnya ke arah Kris, berharap dapat mendengar gumaman berikutnya, sehingga Kris tak perlu repot-repot mengulangnya.

Di percobaan ketiga, Eun Ji akhirnya dapat mendengar, “Aku yang menabrakmu,” hingga ia menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Kris sejenak. Kemudian mengambil selembar sticky note, menuliskan, “Dia yang menabrakku,” sebelum tersenyum menenangkan, menggenggam tangan Kris, mengelusnya pelan; malah terlalu pelan, lalu kata ,“dan aku bersyukur karena kau yang menabrakku,” terdengar, menyamarkan suara mesin penghangat di sore hari; mengabaikan sekumpulan camar yang menghiasi langit; bersiap-siap menyapa bulan yang mulai terbangun.

Eun Ji tersenyum dan Kris yang menatapnya ikut tersenyum. Saling menatap di antara keheningan yang begitu menonjol. Berharap waktu tak lekas berlalu.

—OoooOoooO—

Ada saat di mana Eun Ji tak bisa membedakan permohonan kecil dan keputusasaan. Sinar lampu berkedip atau sinar dari mobil di jalan raya. Hembusan nafas atau bisikan lembut. Jam makan siang atau jam beristirahat. Waktunya tidur atau waktunya melupakan. Ingatannya terbilas atau terhapus. Apa ada yang mencuri kenangan indahnya? Kenapa ia begitu sedih?

Tawa Kris atau Kris yang kesakitan. Semuanya tampak sama. Itulah realita.

Terkadang ia lupa berapa kali Kris terjatuh dari tempat tidur; berapa kali ia menangis di tengah malam. Di lain waktu, ia menatap Kris dan bertanya berapa kali ia melewati hari-hari tanpa pernah mengingatnya; berapa lama lagi mereka melalui hari seperti ini.

Tapi Eun Ji tak pernah bertanya satu hal. Ia tak pernah bertanya apa Tuhan akan mendengarnya; apa Tuhan akan mengabulkan permohonannya. Karena permohonannya terlalu kecil, terlalu mudah, terlalu sederhana, terlalu polos, terlalu naif.

Semuanya terlalu naif. Perasaannya begitu naïf, Kris terlampau naif.

Detik-detik terlalu naif.

—OoooOoooO—

Kris tak pernah tertahan dalam waktu, sementara Eun Ji selalu meminta waktu agar tak berjalan dengan cepat. Karena fakta tetap mengantarkan berita buruk, bahwa Kris semakin lemah dan Eun Ji tak mampu berbuat banyak selain melupakannya setiap malam.

Keesokan paginya, ia akan merasa bingung dan Kris membantunya mengingat. Tentang jati dirinya, mengapa ia di sini, apa yang harus dilakukannya, hari apa sekarang.

Tapi terkadang, beberapa pagi tetap berlalu tanpa ada Kris yang menjelaskan segala sesuatu dengan Eun Ji; tanpa Kris yang mengenalkan dirinya; menjelaskan ini dan itu, hanya dihabiskan dengan Eun Ji yang menatap dinding lama lalu mengumpulkan segala tulisan itu ke dalam otaknya. Berharap hal itu dapat bertahan lama.

Dan malam tetap tiba hingga catatan terus bertambah agar ia semakin cepat ingat. Karena mereka kehabisan waktu. Eun Ji kehabisan hari. Kris kehabisan detik.

Tak ada yang bisa bertahan. Tidak dengan air mata yang terus mengalir.

—OoooOoooO—

Bagi Eun Ji, kebahagiaan itu simple. Kebahagiaannya adalah ketika ia menatap Kris, memegang tangannya yang hangat; menidurkan kepalanya di tepi kasur; berharap hembusan nafas Kris terdengar dan Kris membalas genggaman tangannya.

Hanya seperti itu.

Tapi malam itu kebahagiaan tak datang dengan mudah. Karena ia menghilang ketika Eun Ji menemui Yesung. Dan Eun Ji berlari dan berteriak pada Taemin seperti orang gila, berharap dapat cepat menemukan Kris.

Beberapa saat kemudian, ia kembali ke kamar dan menemukan Kris baru keluar dari kamar kecil. Tak butuh waktu lama bagi Eun Ji untuk berlari ke arah Kris, memeluknya erat sambil berjinjit, menangis tersedu-sedu dan meminta Kris berjanji agar tak menghilang; tak pergi lagi.

Maka Kris balas memeluk Eun Ji, menepuk-nepuk bahunya, memberi isyarat agar Eun Ji berhenti menangis, bahwa ia tidak suka melihat Eun Ji menangis, apa pun alasannya. Ia mengatakan pada Eun Ji bahwa takkan ada yang menghilang, bahwa ia hanya masuk ke kamar kecil. Bahwa ia tak akan pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Tapi kata ‘selamat tinggal’ sangat mengganggunya, sangat ingin air mata Eun Ji tetap di sana. Sehingga Eun Ji pergi menemui Taemin ketika tidur telah membawa Kris ke dunia mimpi. Dengan lumuran air mata ia berlutut dihadapannya, memohon agar Taemin dapat menyelamatkan Kris. Berharap itu semua dapat terjadi.

Karena Kris tak boleh berakhir seperti ini. Kris tak boleh kesakitan seperti ini. Eun Ji tak akan membiarkan Kris mati, ia tak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena ia membutuhkan Kris. Ia membutuhkan Kris untuk tetap berada di sampingnya.

Oleh karena itu, malam berikutnya Eun Ji kembali menemui Taemin untuk memohon hal yang sama. Dan Taemin juga tetap menjawab dengan perkataan yang sama, meski Eun Ji tak pernah mengingatnya. Bahwa tak ada lagi yang dapat dilakukannya, bahkan jika ada, itu sudah ia lakukan tanpa perlu dimohon oleh Eun Ji.

Maka ketika Eun Ji berniat kembali ke kamar Kris, ia menemukan Kris menekan penanya begitu kuat. Dan begitu Kris telah terlarut dalam tidur, Eun Ji menjangkau dinding dan melihat tempelan yang ditulis Kris sebelum tetesan cairan itu kembali jatuh dan kali ini lebih keras. Ia berjongkok dan menutup mulutnya dengan erat, berharap isakannya tak akan terdengar oleh Kris.

Memohon agar tangisannya dapat mengobati hatinya yang mencelos ketika membaca, “For my dearest Eun Ji, i’m sorry,” yang tercetak tebal dengan pena warna hitam, ditekan berkali-kali hingga tercetak pada kertas, mungkin ditulis kembali lebih sering daripada yang dapat ia bayangkan.

Air mata itu tak mau mengering dan tak membiarkan Eun Ji bangkit.

Karena Kris sadar inilah akhir. Mereka sama-sama sadar harapannya kabur ditiup angin.

—OoooOoooO—

Suatu malam, di saat suara penghangat terdengar berbeda dari siang hari, Kris bercerita tentang seseorang bernama Wu YiFan yang terperangkap dalam kemarahan dan kebencian palsu dan ia semakin buruk dan tak terkendali, kehilangan arah, dunianya sekelam jelaga. Tentang keluarga yang mulanya indah tapi hancur seketika saat sang ibu pergi dan ayah kelihatan tak peduli. Dan YiFan hancur, ia mulai melihat segala sesuatu dengan sebelah mata, dan hidupnya tak lebih dari kebencian yang ia sendiri tak mengerti. Penuh dengan tekanan, kenyataan yang selalu ia sembunyikan. Bukan cerita yang menyenangkan, tapi ia tak peduli.

“Ia kabur dari rumah dan memutuskan untuk menghilang, tapi sang ayah tak pernah berhenti mengirimi uang, hingga ia merasa dipermainkan dan kebencian semakin menutupi matanya. Ia mulai berfoya-foya, berharap suatu saat akan mendengar berita bahwa ayahnya bangkrut dan ia merasa senang sehingga ia tak menderita seorang diri; ia yang membutuhkan teman, tapi tak sanggup meminta. Ada kala di mana ia ingin kembali dan meminta maaf, mengakhiri kebencian yang sama sekali tak memiliki arti; ia yang sadar bahwa yang terluka bukan hanya ia sendiri, bahwa masih ada ayah dan kakaknya yang juga terluka, tapi ia terlalu egois untuk mengakui bahwa ia salah.”

“YiFan ingin segera mengakhiri semua ini, ia ingin semuanya kembali seperti semula. Maka ia sekali lagi melarikan diri, kali ini ke tempat yang lebih jauh dan ia berharap akan benar-benar kehilangan kontak. YiFan membawa harapan bersamanya, bahwa ia akan berusaha sendiri tanpa bantuan ayahnya, bahwa setelah ia sukses ia akan memamerkan kepada sang ayah bahwa ia bisa, ia telah mandiri. Sehingga ia tidak merasa malu ketika harus pulang dan meminta maaf, ketika ia berharap semuanya kembali seperti semula.”

“Tapi semua berjalan tak sesuai dengan perkiraannya, orang-orang tak sejalan dengan pemikirannya, kepribadian orang tak sebaik yang ia duga. Karena partner kerjanya ternyata seorang penipu, membawa semua uang dan sekali lagi ia terpuruk, kali ini tak bisa berbuat apa-apa lagi. YiFan memutuskan untuk kembali lebih cepat, tak apa jika ia harus malu, karena sekarang ia sudah tak punya apa-apa lagi. Tapi tak ada ayah lagi di sana, hanya ada sang kakak yang menatapnya marah, sang kakak yang tak sudi lagi melihat wajahnya; karena YiFan telah merenggut nyawa seseorang, kebenciannya telah membunuh seseorang. Sehingga sang kakak mengusirnya, dan berkata bahwa ia akan terus mengirimkannya uang dan meminta agar tak kembali lagi.”

“YiFan tak memahaminya. Kebencian telah membutakan matanya sehingga ia tak sadar seseorang tengah memanggilnya, menyuruhnya untuk kembali tapi semuanya telah terlambat, kebencian telah menelannya bulat-bulat. Hingga suatu malam, di hari peringatan 2 tahun ibunya meninggal, YiFan bertemu seorang gadis; diiringi bunyi cicitan rem, hantaman yang begitu keras, hujan deras, darah di mana-mana.”

“YiFan yang membuat ia menderita, YiFan yang merengut ingatan itu pergi. Sekali lagi kebencian YiFan mencelakai seseorang dan kali ini ia ingin menyelamatkannya. Tapi justru gadis itu yang menyelamatkannya; menghapus kegelapan matanya, membilas bersih semua kebencian; meyakinkannya bahwa ia sesekali harus tersenyum dan menghirup udara segar. Bahwa tidak apa-apa jika sekali-kali melakukan kesalahan. Bahwa manusia tidak ada yang sempurna, tidak ada yang hidup dalam kebahagiaan seutuhnya.”

“Kenapa kau menceritakannya padaku,” Eun Ji memotong. Wajahnya datar.

Waktu tetap berjalan, udara semakin dingin, mesin penghangat bekerja lebih keras. Kris menatapnya, menautkan jemari mereka dan menggenggamnya, “Faktanya seperti ini. Aku Wu YiFan dan kau yang menyelamatkanku. Tapi kau telah berjuang terlalu keras, kau yang terus tertatih-tatih hingga sampai di sini; dan sekarang giliran aku yang menolongmu.”

Eun Ji membalas genggaman Kris hingga keduanya merasa hangat dan tak ada lagi penghalang di antara mereka, tak ada keheningan; hanya ada hembusan nafas yang terkadang berirama tak teratur. Eun Ji mengantarkan kepalanya untuk tidur di tepi kasur, bermain-main dengan ujung baju Kris, dan berkata dengan suara pelan, “Besok aku tidak akan ingat apa-apa.”

Tapi Kris menariknya mendekat dan menggeser, sehingga tersedia tempat bagi Eun Ji untuk berbagi tempat tidur dengan Kris. Hingga ia dapat mendengar dengan jelas saat Kris membisikkan, “Setidaknya kau perlu tahu tentang diriku seutuhnya sebelum aku tak bisa menjawab lagi saat kau bertanya.”

Hingga ia dapat menyembunyikan dirinya dalam dekapan Kris dan diam-diam menangis.

—OoooOoooO—

Keesokan harinya, ketika Eun Ji terbangun, ia dikejutkan dengan kehadiran sebuah gaun panjang berwarna soft pink. Sebelum ia bertanya darimana datangnya gaun itu, ia kembali dikejutkan dengan lelaki asing yang baru keluar dari kamar kecil. Memakai baju kemeja lengan pendek putih yang dipadukan dengan celana kain hitam. Tersenyum ketika mata mereka bertemu, Eun Ji semakin tak mengerti ketika lelaki yang mengaku bernama Kris itu menarik tangannya dan berkata bahwa hari ini mereka akan bersenang-senang. Dan ia juga tak paham bagaimana nama Kris terdengar sangat familiar.

Tapi Kris telah berkata, “Ayo kita harus segera pergi,” sebelum Eun Ji menemukan jawabannya dan akhirnya ia menyerah. Karena ia terus mengikuti Kris melangkah ke luar rumah sakit, masuk ke dalam mobil yang Kris sebut taxi; merasa takjub dengan bangunan yang ia kira tak pernah dilihatnya; merasa senang hanya karena alasan sesederhana itu.

Kris menggenggam tangannya, tertawa bersamanya dan bahagia bersamanya. Di satu saat, Eun Ji melihat Kris sebagai seorang anak laki-laki yang tertawa dengan semua kerutan di wajah saat mereka menonton film di bioskop; menjadi seseorang yang pelit saat membelikan Eun Ji sebuah kamera Polaroid dan meminta Eun Ji untuk membayarnya kelak; lalu menjadi musisi handal saat ia menyanyi untuk Eun Ji di café.

Lain waktu ia menjadi si pemberani yang memegang tangan Eun Ji dan berkata bahwa semua baik-baik saja saat mereka menaiki permainan besar bernama Roller Cooster. Menjadi si baik hati Kris yang membantu anak hilang mencarikan orang tuanya.

Dan tibalah saatnya menjadi Kris yang tersenyum dan bersandar pada Eun Ji ketika mereka duduk di hamparan laut yang indah.

Bagi Eun Ji, Kris di hari itu adalah ukiran indah Tuhan yang sempurna, namun rapuh dari dalam; karena suara tawa Kris semakin kecil meski filmnya belum habis dan semua orang tetap tertawa. Musisi yang gagal menunjukan aksinya; si pemberani yang berakhir dengan muntah-muntah di tempat peristirahatan.

Eun Ji tak mengerti bagaimana bisa seseorang terlihat kuat dan rapuh di saat yang bersamaan. Ia tak paham mengapa dunianya seakan runtuh saat genggaman Kris semakin mengendor. Atau bagaimana Kris yang berkata bahwa sebentar lagi Yesung akan datang merupakan sebuah kesalahan.

Ia tak mengerti, dan menjadi semakin tak paham ketika tubuhnya bergetar dan pandangannya memudar. Atau bagaimana Kris yang matanya semakin sayu tetap berusaha mempertahankan senyumannya.

Tapi ia memahami suara nafas Kris yang berusaha mengambil oksigen, ia memahami dirinya yang mengambil kamera Polaroid keluar dan berkata bahwa mereka harus berfoto bersama; sebagai kenangan indah, katanya.

Tapi ia gagal memahami Kris yang menganggukkan kepalanya lemah dan tertidur begitu pulas di pundaknya; bagaimana hembusan nafas itu tak lagi terdengar; atau mengapa ia merasa sangat sedih. Mengapa foto yang terjatuh ke pasir membuat ia terisak di luar kendali dan menghancurkannya menjadi ribuan keping. Mengapa dunia rasanya berakhir ketika Yesung datang dan mengguncangkan tubuh Kris dengan begitu keras.

Mengapa tidak ada respon yang diterimanya. Tangisannya makin keras, ia terjatuh lebih dalam, hancur berkeping-keping dan kali ini tak ada yang menangkapnya.

—OoooOoooO—

Ada hari di mana Eun Ji merasa hidup untuk pertama kalinya. Itu adalah hari ketika ia bertemu dengan seorang lelaki asing yang memberikannya handy cam; mengaku-ngaku sebagai Santa Claus, padahal Eun Ji yakin benar saat itu bukanlah musim dingin.

Tapi ia tak mengelak, justru tersenyum dan menerimanya; bertanya-tanya siapa nama Santa Claus yang baik hati ini. Dan tiba-tiba terdengar seseorang meneriakkan nama ‘Kris’ dari belakang si lelaki asing.

Hingga Eun Ji mengangguk-anggukan kepala dan menyalakan handy cam, berkata sesuatu seperti “Baiklah Santa Claus yang baik hati. Kau memiliki nama yang sangat bagus.” Sebelum tersenyum dan mengarahkan kamera ke arah lelaki asing yang menurut Eun Ji bernama Kris itu.

Setelah itu Kris tersenyum, melambaikan tangannya ke kamera seolah sedang menyapa seseorang di sana; dan duduk di samping Eun Ji, bertanya siapa namanya.

Maka Eun Ji menurunkan handy cam dan merenung sejenak. Kemudian merongoh sesuatu di balik saku dan sebuah kertas muncul di sana. Ia membaca sekilas dan menyimpannya lagi, “Maaf, aku mengidap Reterograde dan Anterograde Amnesia, Dokter Kim menyebutnya double kill, jadi aku sering melupakan namaku sendiri. Ah! Iya, namaku Lee Eun Ji. Senang bertemu denganmu.”

―end

Iklan

Penulis:

I know I'm not a good writer... But i will try my best to make you enjoy with my story... =)

9 tanggapan untuk “My Kris, My Hero | Chapter 8 [END] |

  1. Hueee.. nangis thor! ;A;
    Sad ending emang bikin aaaa..
    Gatu mau ngomong apa lagi..
    Yang jelas ff ini daebakkk benerannn :mrgreen:

  2. Huaaaa sedih banget 😥 Perasaan berasa diaduk-aduk, apalagi baca ff ini sambil ngedengerin lagu wax – tears are falling, langsung dapet banget feel-nya 😥 4 jempol deh buat author (y) (y) (y) (y)

  3. Sedih.banget! ;( disini banyak bgt flashback, agak pusing sih tp ga masalah. Ini tetep bagus!
    sering ngedenger ff anterograde tomorrow, tp mls bacanya krn b.inggris-_-

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s