MY KISS, MY DESTINY (chapter 1)

Tittle: MY KISS, MY DESTINY (chapter 1)

Untitled-4

Author: Dindong L.Kim (@adinda_elements)

Main Cast :

–         SEO SANG AKH (OC)

– (Secret)

–         OH SEHOON

– (secret)

Support Cast :

        – DO HWE JI

        – DO KYUNGSOO

–         Akan bertambah sesuai chapternya

Genre: Romance (Maybe),Friendships, Comedy (Maybe), Gaje (Pasti), Marriage Live

Ratting: PG 15

Length: Chaptered

Disclaimer:

THIS FF IS MADE BY DINDONG L.KIM 😀 all cast hanya saya pinjam untuk dijadikan pemeran di FF ini.PLAGIATOR ?? JUST GO AWAY ^_^ AND SILENT READERS ?? IT’S OK, BECAUSE OF YOU,MAYBE I CAN’T CONTINUE TO WRITE THIS FF ^_^ ALUR IS PURE MINE 🙂

Dindong Notes :

Sorry for typos ^_^

Warning : Typo bertebaran 🙂

~Seo Sang Akh POV~

“PRANGGG” lagi – lagi suara dentingan piring yang dihempaskan terdengar. Aku yang notabene baru pulang sekolah hanya bisa menghela sedikit nafas dan langsung masuk ke dalam kamar. Sebelum benar – benar masuk ke dalam kamar, aku juga tak lupa memberi salam kepada kedua orang tuaku yang sedang sibuk dengan acara pertengkarannya.

Setelah menutup pintu kamarku, aku langsung melirik sekilas kearah jam weker hello kitty ku yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Akupun tersenyum miris dan melemparkan tasku keatas tempat tidur.

“setidaknya ini sudah berlangsung tiga perempatnya” kulepaskan baju sekolah yang masih melekat di tubuhku dan mulai menggantinya dengan baju yang biasa kupakai sehari – hari.

“SEHARUSNYA KAU PIKIRKAN SANG AKH!! DIA SUDAH BERUMUR 16 TAHUN SEKARANG..” dari arah Luar aku mendengar suara teriakan ayah yang menggelegar. Dan lagi, aku hanya bisa menyunggingkan sedikit bibirku dan segera berjalan kearah jendela.

“KENAPA BUKAN KAU SAJA ?? AKU SUDAH BEKERJA DARI PAGI HINGGA MALAM HANYA UNTUK SANG AKH DAN KAU. TAPI APA ?? KAU SAMA SEKALI TAK MENGHARGAINYA..” Itu suara Ibuku. Sifat keras kepalanya memang tidak pernah luntur bahkan kepada ayahpun, ibu selalu menggunakan nada yang seperti itu.

Beginilah keluargaku, maafkan aku karena belum memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Perkenalkan, namaku Seo Sang Akh. Biasa di panggil Sang Akh. Memiliki keluarga yang tidak sehat. Setiap hari, aku selalu mendengar suara cacian dan makian yang terlontar dari mulut kedua orang tuaku dan seperti yang kalian ketahui, tadi itu hanya sedikit cuplikan dari pertengkaran mereka. Pertengkaran merekapun tidak dilandasi dengan alasan yang kokoh, maka dari itu sampai sekarangpun mereka belum berhasil menemukan titik terang atas jalan keluar pertengkaran mereka.

“oh ? ada bintang jatuh ? sebaiknya ini pertanda bagus” aku tersenyum kecut melihat bintang jatuh melalui jendela kamarku.

“BISA KAU TURUNKAN EGOMU ? AKU BISA MENCARI UANG DAN MENGHIDUPI KALIAN BERDUA”

“DENGAN PEKERJAAN KECILMU ITU ?? HAH, JANGAN HARAP KAU BISA MEMENUHI SEGALA KEPERLUANKU DAN SANG AKH” aku hanya bisa menutup kedua mataku. Kuharap ini semua hanya mimpi dan ketika aku membuka mataku, semua teriakan dan cacian itu akan berubah menjadi senyuman dan pujian.

1

2

3

Akupun membuka mataku dan ternyata inilah kenyataan yang harus kuterima. Ibu dan ayahku memang tidak akan pernah akur. Semua ini akan berhenti pada satu titik, yaitu perceraian.

“DRRT DRRT” dari arah meja rias, aku mendengar suara deringan handphoneku. Setelah mengecheck apa yang membuat handphoneku bergetar, sebuah senyum kesenanganpun merekah di wajahku tatkala melihat sebuah foto pria yang sangat ku kagumi tertera di layar segi empat itu.

Wajahnya yang sama sekali tak memiliki ekspresi ini merupakan salah satu alasan mengapa aku mengaguminya. Bukan hanya itu, kepintaran otaknyapun juga sangat luar biasa bahkan ia merupakan siswa terpintar yang ada di tingkat ku. Sungguh hebat, bukan ?? di balik kelebihannya, dia juga memiliki kekurangan, yaitu sikapnya yang teramat dingin membuat semua wanita enggan untuk mendekatinya.

“astaga. Aku harus mengucapkan terima kasih kepada Hwe Ji karena sudah mengirimkan foto terbaru pangeranku”

Dengan cepat, aku mengirim sebuah pesan singkat kepada Hwe Ji karena ia sudah mau bersusah payah hanya untuk mendapatkan foto ini.

To        : Do Hwe Ji

Kau pintar. Bagaimana bisa kau mendapatkan foto pangeran tampanku ??

‘Send’ pesan singkatpun terkirimkan. Seraya menunggu balasan dari Hwe Ji, aku hanya menatap layar handphoneku dengan senang. Inilah yang membuatku masih tersenyum dengan keadaan keluarga yang benar – benar hancur. Pangeranku ini merupakan kekuatanku untuk mengembangkan senyum. Sebenarnya, aku tak memiliki alasan yang berarti untuk mengaguminya. Tapi, kurasa aku memiliki satu alasan kuat yaitu ……

“Oh, Hwe Ji membalas pesanku…”

To        : Seo Sang Akh

Aku mencurinya dari handphone KyungSoo. Kkkk~~

Sungguh prilaku yang kriminal, bukan ??

Tapi, untuk sahabatku. Apapun akan kulakukan demi pertahanan senyum manisnya..

Hwe Ji selalu begini. Ia selalu bisa membuat senyumku tak pernah hilang. Sejujurnya, aku juga iri kepada Hwe Ji. Ia memiliki keluarga yang harmonis. Ayah yang bekerja di sebuah perusahaan besar dan juga ibu yang selalu memberikan perhatian penuh kepadanya dan kembarannya Kyungsoo tidak pernah bertengkar. Andai ayah dan ibuku juga begitu, mungkin nilai – nilaiku tidak akan separah ini.

To        : Do Hwe Ji

Kau bisa saja. Lain kali jangan ulangi lagi yang seperti ini, Arra ?

Oh, kau juga harus mulai belajar sekarang..

Ujian tengah semester hampir datang..

Jangan jadi bodoh sepertiku.. 🙂

Aku membuat tanda senyum di akhir pesanku dan langsung mengirimnya. Setelah pesanku terkirim, aku kembali melihat foto pangeranku yang baru dikirim Hwe Ji. Tanpa terasa, aku senyum – senyum sendiri ketika melihat foto itu. Seperti orang gila, bukan ?? haha, terserah..

“PLAAAKKK” kupejamkan mataku ketika mendengar suara tamparan yang mengerikan itu.

“aku butuh tempat yang tenang sekarang” dengan cepat, aku langsung menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu.

—– —– —— —— —— —— ——

Aku tersenyum ketika merasakan angin malam yang dingin datang menerpa wajahku. Ini benar – benar membuatku tenang. Setidaknya untuk saat ini telingaku tidak tercemar oleh cacian dan makian yang tak ada ujungnya itu.

“Hei, Hei.. berikan bolanya kepadaku..” dari arah bawah aku mendengar suara gerombolan pria yang sedang bermain futsal. Karena tak tau ingin melakukan apapun, aku mendekatkan diriku menuju lapangan futsal itu.

Setelah berada di jeruji kawat lapangan futsal itu, tiba – tiba senyumku terkembang ketika melihat pria itu. Peluh yang telah membasahi baju yang dipakainya semakin menambah kesan maskulin yang melekat pada dirinya.

“Sang Akh ? kaukah itu ?” aku tersenyum seraya melambaikan tanganku kearah pria tampan itu. Entah kenapa, ia meminta waktu istirahat kepada teman – temannya dan setelah semua temannya menyetujui permintaannya, pria itu berlari kearahku.

“kenapa berhenti ?” ia hanya membalas dengan senyuman khasnya.

“aku lelah. Apa yang kau lakukan disini ??” ia menjawab dan langsung menyambungnya dengan sebuah pertanyaan yang aku sendiripun tak tau bagaimana cara menjawabnya.

“eunghh, aku hanya ingin mencari udara malam” setidaknya perkataan itu bisa mengamankanku.

“kau bohong. Oh ayolah, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku ??” pintanya dengan wajah mengiba. Aku hanya terkekeh ketika melihat tampang maskulinnya tiba – tiba berubah menjadi tampang seekor anak kucing.

“kau sok tau. Ini hanya urusan biasa” jawabku seraya tersenyum.

“OH SEHOON. Cepatlah!!! babak kedua akan dimulai” teriak salah seorang teman sehun yang sedang menggandeng bola menuju tengah lapangan futsal.

“temanmu memanggil”

“ah~ mereka selalu begitu. Tidak pernah membiarkanku senang” rutuk sehun dengan gayanya yang merengek seperti bayi. Jujur saja, ini adalah tingkah laku sehun yang kusukai. Suara kekehanpun tak bisa kutahan lagi.

“apa yang kau tertawakan ??” Tanya sehun karena melihatku yang sedang menutup mulut dengan kedua tanganku.

“tidak ada. Pergilah, temanmu sudah menunggu” dari sela – sela jeruji itu, aku mendorong tubuh sehun agar mau bermain futsal lagi.

“tunggu. Kau pulang dengan siapa ??” sehun menahan badannya agar tetap berada di posisinya yang sekarang.

“entahlah” jawabku sekenanya.

“mau pulang bersama ?? pertandingan ini akan berakhir 20 menit lagi. Ya, itu kalau kau ingin pulang bersamaku”

“kita lihat nanti saja. Sekarang pergilah” ucapku lagi dan kembali mendorong sehun. Untung saja ia patuh. Setelah mendengar jawabanku, sehun langsung saja berlari dengan cepat menuju ke tengah lapangan.

Setibanya di tengah lapangan, sehun tidak langsung memulai pertandingan. Ia masih saja menyempatkan diri untuk mengobrol dengan teman satu timnya. Kalau kulihat – lihat, kenapa sehun dan temannya berbincang seraya melihat kearahku ?? apa ada yang aneh dengan penampilanku ??

Akupun salah tingkah dan mulai mencari – cari kesalahan yang ada pada penampilanku. Setelah melihat pakaian, tata rambut, celana dan semuanya, aku tidak menemukan kejanggalan apapun. Jadi, apa yang mereka—-

“YO!” suara sehun yang tiba – tiba menyeruak masuk ke dalam telingaku membuat ekspresi yang sangat tidak elit terpampang di wajahku. Sungguh, aku benar – benar terkejut ketika melihat sehun yang tiba – tiba sudah berada di depanku.

“kau mengagetkanku” rutukku dan sehun hanya terkekeh.

“ayo” sehun tidak menggubris rutukanku. Ia langsung saja mengatakan ayo.

“ayo ??” karena tak tau apa yang sehun maksud. Akupun mengulang kembali perkataan sehun.

“timku kekurangan seorang pemain lagi. Kau bisa bermain futsal, bukan ??”

“Ye ?? kau bercanda ?? aku hanya menggunakan baju tidur sekarang. Bagaimana bisa ?” sehun menghela nafas dan keluar dari lapangan futsal. Iapun menarikku agar masuk ke dalam lapangan futsal.

“kita imbang sekarang” ucap sehun ketika sudah berada di tengah lapangan. Iapun melepaskan genggaman tangannya. Setelah terlepas, akupun menatap sehun dengan tatapan membunuh. Tak disangka, sehunpun membalas.

“tenanglah. Kami hanya bermain biasa. Tak apa jika kita kalah” kukerucutkan bibirku ketika mendengar perkataan sehun yang lebih menjurus kearah mengejekku.

Pria jakung nan putih ini benar – benar menjengkelkan. Dia selalu saja mempermainkan moodku. Baiklah, akan ku buktikan kalau SANG AKH bukanlah wanita bodoh yang semua orang pikirkan. “perhatikan langkahmu. Lariku bisa saja lebih cepat” tukasku dan langsung mengambil posisi yang berada di area lawan.

Beberapa menit kemudian pertandinganpun di mulai. Bola mulai menggelinding dari kaki ke kaki. Suara teriakan yang menyerukan agar bola di tendang pun tak hentinya diperdengarkan. Bahkan akupun juga larut gara – gara teriakan sehun dan teman – temannya. Pertandingan ini benar – benar menyenangkan. Suasana hatiku yang awalnya tak menentu sekarang langsung berbalik arah menjadi tenang.

“tembak Sang Akh. Tembak!!” perintah sehun ketika bola berada di kakiku dan gawang berada tepat di depanku. Sebelum bola di ambil oleh kipper lawan. Akupun menendang bola itu dan…

TINGG” Suara dentingan bola yang beradu dengan besi gawangpun terdengar. Setelah itu, bolapun melayang keluar lapangan. Astaga, tendanganku sama sekali tak ada gunanya.

“hei, sudahlah. Itu biasa” sehun mengingatkan seraya tersenyum kearahku dan tentu saja kubalas dengan senyuman juga.

“terima kasih” balasku dan pertandinganpun kembali dimulai.

Futsal ? kurasa hampir semua wanita yang ada di sekolahku takkan mau memainkannya. Tapi sekarang aku tau. Orang yang bermain futsal tidak hanya menghasilkan keringat dan letih namun juga ketenangan dan kekompakan ^^Bahkan semua perasaan kalut yang sempat tersirat di hatiku menjadi sirna ketika bermain futsal.

—– —– —– —– —–

“ini” sehun menyodorkan sebotol air mineral kearahku. Karena letih, akupun mengambilnya.

“terima kasih” akupun meneguk air mineral yang sehun berikan. Setelah menghabiskan setengahnya, akupun mengembalikan botol air mineral itu kepada sehun. Ia mengambilnya dan mulai meneguk air itu.

“bisa kita pulang ?? kurasa orang tuaku akan khawatir” sehun yang baru saja selesai meneguk air mineralpun lekas mengumpulkan semua barang – barangnya ke dalam tas.

“baiklah” balasnya dan langsung berjalan terlebih dahulu. Akupun mengikutinya dari belakang.

—– —— —— —— ——

“Sehun, kau tidak perlu mengantarku sampai rumah. Dari sini hanya tinggal satu blok ke rumahku dan lagipula, arah rumahmu juga berbeda” ingatku seraya menarik baju sehun.

“kau benar. Kalau begitu, aku pulang ya ?? Annyeong” sehun mengacak rambutku dan dengan gaya coolnya, ia kembali berjalan. Tanpa ia ketahui, akupun hanya bisa melambai – lambaikan tanganku. Setelah siluet sehun hilang di belokkan, akupun juga ikut pulang ke rumah.

Dengan senyum yang masih terkembang, aku berjalan pulang. Tak kusangka, 20 menit bermain futsal bisa membuat moodku berubah 180 derjat dan itu semua disebabkan oleh sehun. ‘terima kasih sehun. Kau memang yang terbaik ^^’ gumamku

—— —— —— —— ——

Pagi ini, aku kembali melakukan rutinitasku. Setelah merapikan tatanan rambutku, akupun memasukkan beberapa buku pelajaran ke dalam tas.

CKLEK” setelah keluar dari kamar, aku hanya bisa melihat barang – barang berserakan dimana – mana. Aku mendengus pelan dan kembali berjalan menuju rak sepatu yang ada di dekat pintu. Seraya memakai sepatu, aku hanya bisa tersenyum miris ketika mengingat letak barang yang tidak di tempatnya hanya gara – gara pertengkaran yang tak berujung.

“aku pergi” gumamku setelah mengikatkan tali sepatuku. Tak ada yang menjawab. Oh iya, aku ingat. Mereka berdua sudah pergi bekerja pagi – pagi sekali.

Inilah kebiasaanku. Kuharap, akan ada perubahan suatu hari nanti. Dimana kesepianku akan berbalik menjadi kesenangan yang tak terhingga ^^

—— —— —— —— ——

Tak butuh waktu lama bagiku untuk ke sekolah. 20 menit berjalan kaki saja sudah cukup membuat badanku ini dapat berpindah dari rumah ke sekolah. Setibanya di gerbang, aku memberhentikan langkahku sejenak dan mulai membenahi penampilanku. Sebenarnya bukan penampilan yang ku perhatikan. Tapi, mimic wajah yang masam (?). aku tidak ingin di cap sebagai murid yang mempunyai mood jelek.

“Fuhhh” kuhembuskan sedikit nafasku dan mulai menegakkan kepalaku lagi.

“YOSH!! Ganbatte Sang Akh!!!” ucapku memberikan support kepada diriku sendiri dan kata – kata itu memang sangat membantu. Perjalanan menuju kelas kembali kulakukan. Tapi…

“Sang AKH!!!” tiba – tiba aku mendengar suara teriakan dari arah belakang. Akupun berbalik dan mendapati sahabatku sedang berlari kearahku dengan girangnya di ikuti oleh kembarannya yang tampan. Ketika sudah mensejajarkan posisinya denganku, iapun mulai membuka suaranya…

“bagaimana ?? apa kau suka yang semalam itu ??” Tanya Hwe Ji seraya menaik turunkan alisnya. Senyuman yang selalu ia tampakkan pun juga menghiasi pertanyaan singkatnya.

Akupun mengangguk senang. “Eum, kau hebat. Dia sungguh tampan” akupun mencubit kedua pipi Hwe Ji gemas ketika mengingat foto pangeranku yang ia kirimkan tadi malam.

“apa yang sedang kalian bicarakan ?” tiba – tiba suara berat nan dingin menusuk milik Kyungsoo datang (?). masih dengan gaya coolnya yaitu kedua tangan yang ia sisipkan kedalam saku celananya, potongan rambut rapi dan wajah yang bersinar juga ikut ia tampakkan.

“eh ?? tidak bu—bukan apa – apa Kyungsoo” Hwe Ji tergagap ketika menjawab pertanyaan Kyungsoo.  Iapun menyikut lenganku sebagai pertanda ingin meminta bantuan.

“Oh ? iya, itu bukan apa – apa Kyungsoo. Kami tidak melakukan hal yang berarti. Ini hanya urusan wanita biasa” inilah andalanku, yaitu berbohong. Salah memang jika kita memiliki keahlian dalam berbohong. Namun apa lagi, keadaan keluargaku yang hancur membuatku harus berbohong di depan semua orang. Bahkan Hwe Ji yang notabene adalah sahabatku tidak pernah kuberitahu tentang keadaan keluargaku yang hancur berantakan.

Kyungsoopun mengangguk. “aku juga tak peduli tentang apa yang kalian bicarakan” balasnya dingin dan kembali berjalan. Hwe Ji yang mendengar jawaban kyungsoo, langsung menggembungkan kedua pipinya. Melihat wajah Hye Ji yang seperti ikan kembungpun membuatku ingin tertawa.

“sudahlah. Saudaramu memang begitu, bukan ??” ingatku seraya memiringkan sedikit kepalaku. Hwe Jipun mengangguk.

“kau benar. Tapi aku tak ingin dia selalu begitu”

“Wae ??”

“aku takut dia tidak akan pernah di dekati oleh gadis manapun hanya karena sikapnya yang teramat dingin itu. Bahkan kalau disuruh memilih antara seorang gadis dan buku, mungkin ia akan memilih buku tanpa keraguan apapun” rutuk Hwe Ji seraya menekuk wajahnya.

Aku hanya tersenyum ketika melihat Hwe Ji yang tampak putus asa. “Hei!” panggilku dan Hwe Jipun mendongak. “apa ??” tanyanya.

“kita sama – sama tau kalau Tuhan telah menciptakan manusia secara berpasang – pasangan, tak terkecuali Kyungsoo. Jadi, aku yakin. Pasti suatu saat nanti Kyungsoo akan mendapatkan seorang gadis baik dan bisa mengubah sifat dinginnya” ucapku seraya memegang bahu Hwe Ji.

“kau benar. Tapi, bagaimana denganmu ??” Tanya Hwe Ji seraya menatapku dengan jahil.

“ma—maksudmu ??” aku gugup seketika karena mendapati maksud dari ucapan Hwe Ji.

“maksudku, bagaimana jika jodohmu itu bukan pangeran tampanmu ?? apa kau yakin akan menerimanya ??” ‘BANG’ inilah pertanyaan yang sangat sulit untuk ku jawab. Mencintai orang lain ?? oh, aku mungkin akan gila jika melakukan hal itu. Tapi, apa yang Hwe Ji katakan memang benar. Pangeranku adalah orang yang sempurna dengan celah kesalahan yang sama dengan 0,01 %. Sedangkan aku ?? menjawab perkalian 25 x 7 saja sudah membuat kepalaku pusing.

“eunghhh” akupun berusaha menyalurkan rasa gugupku dengan menggaruk leher belakangku yang sama sekali tak gatal.

“entahlah. Aku juga tak tau. kurasa hanya waktu yang bisa menjawabnya” balasku dengan mengulas senyum manis. Hwe Jipun mengerti dan mulai mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian bel masukpun berbunyi. Hwe Ji yang merupakan murid kelas B pun berlari menuju kelasnya yang ada di lantai 3. Berbeda denganku yang merupakan murid kelas F dan kelasku berada di lantai pertama, tepatnya di ujung koridor.

—– —— ——- ——- ——-

Berdiri di ambang pintu kelasku,

Dari sini aku dapat melihat apa yang teman – teman sekelasku lakukan. Ada yang mengobrol, mencoret – coret dinding, memasak (?) bahkan ada juga yang tertidur dengan pulasnya. Akupun hanya mendengus pelan dan mulai berjalan ke tempat dudukku.

“Yo!” ketika aku sedang mengeluarkan buku pelajaran sastra, tiba – tiba sehun datang berlagak ingin mengejutkanku. Namun, tentu saja aku tak terkejut. Karena, dia selalu melakukan hal ini setiap hari.

“kau tidak terkejut, lagi ?” Tanya sehun seraya menarik kursi yang ada di hadapanku.

“kau melakukannya setiap hari. Tidak heran jika aku sudah mengetahuinya” sehun hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf O.

“dimana ketua ??” tanyaku dan sehun hanya menggendikkan kedua bahunya pertanda kalau ia tidak tahu. Aku mendengus pelan seraya menidurkan kepalaku di atas meja. Sehun yang melihat itu hanya memiringkan sedikit kepalanya dan kemudian aku mendengar suara guru olah raga yang memanggil sehun.

“aku pergi sebentar. Jaga dirimu baik – baik, eoh ?” mendengar ucapan sehun yang mengejek. Akupun mendongakkan kepalaku dan menatap punggung sehun dengan sebal. Dasar anak itu, selalu menganggapku seperti anak kecil. Sepeninggal sehun, aku hanya berusaha menyibukkan diriku sendiri dengan cara membalik – balikkan buku pelajaran sastra yang sebenarnya sama sekali tak ku mengerti.

Tanpa terasa, waktu pelajaran pertama telah usai. Namun kelas F yang merupakan kelasku, lagi – lagi tidak di masuki oleh guru. Menurut sumber yang bisa di percayai, Kang Saem yang merupakan guru sastra kelas F sedang mengambil cuti untuk pernikahannya dan itu membuat kebisingandi kelasku semakin menjadi – jadi.

“sebaiknya aku pergi ke kantin. Mungkin ada sesuatu yang menarik” karena merasa bosan, akupun berinisiatif untuk pergi ke kantin.

—— —— —– —– —–

“terima kasih” akupun mengambil uang kembalian yang ibu kantin berikan.

“segarnya” ucapku ketika menyeruput jus yang baru saja kubeli.

Kembali ke kelas ? oh, kurasa tidak. Butuh waktu 10 menit lagi agar guru yang berikutnya masuk ke dalam kelas. Melihat pangeranku ? haha, kurasa itu ide yang sangat brilliant ^^

—– —– —– —– ——

Seraya menyeruput jus yang baru saja kubeli, mataku tak henti – hentinya memperhatikan setiap siswa yang ada di kelas – kelas atas ini. Sungguh, keadaan ruang kelas di lantai 3 memang berbeda dengan keadaan kelas yang ada di lantai 1. Mereka kebanyakan lebih memilih memperhatikan guru – guru itu mengoceh daripada berbicara dengan temannya tentang sesuatu hal yang menarik. Akupun menggeleng pelan seraya tetap berjalan menuju kelas pangeranku.

‘astaga, itu dia’ girangku di dalam hati. Karena tak ingin dikatakan penguntit, akupun mengawasi keadaan sekitar dan untungnya di lorong ini tak ada satupun siswa maupun guru. Fiuh~ untung saja hanya ada aku sekarang.

“aigo kenapa mereka begitu tenang ??” heranku ketika mendapati kelas para juara sedang tidak dimasuki oleh gurunya. Tapi apa ?? tidak ada keributan disini. Mereka semua terlalu fokus dengan buku – buku tebal itu. Tak heran jika mereka memang generasi paling pintar yang setingkat denganku.

Masa bodoh dengan siswa – siswa itu. Yang terpenting sekarang bagiku adalah… pangeranku.

Lihatlah dia, disaat sedang membaca buku saja dia masih terlihat sangat tampan di mataku. Huaaa~ pilihanku memang tak salah. Akupun tersenyum sendiri.

‘andai kau bisa mengenalku’ ketika sedang asik memperhatikan pangeranku, tiba – tiba suara bel sialan itu datang. Sial! Apa bel itu tidak bisa menunggu ? Arggghhh, sebaiknya aku kembali ke kelas sekarang.

—– —– —— —— ——

“Sang Akh” dari arah belakang aku mendengar suara Hwe Ji dan ketika aku menoleh, dugaanku memang benar.

“apa kau tidak malu ? suara jelekmu itu merusak telingaku” rutuk sehun yang berada di sebelahku. Hwe ji yang baru datangpun memukul lengan sehun pelan. Akupun terkekeh kecil dan berujung dengan death glare yang berasal dari sehun dan Hwe Ji.

“talk to my hand, Mr OH” Hwe Ji menempelkan telapak tangannya di wajah sehun.

“Aish, anak ini” sehun menepis tangan Hwe Ji pelan. Hwe Jipun membalas dengan menjulurkan lidahnya kearah sehun.

“sudahlah. Kalian seperti anak kecil” akupun berusaha menetralkan situasi dengan cara berdiri di tengah – tengah mereka. Untungnya mereka menurut.

“mana Kyungsoo ?” tanyaku pada Hwe Ji.

“Kyungsoo ?? haha, kau seperti tidak tau dia saja. Anak kelas A memiliki pelajaran tambahan dan dengan senang hati, Kyungsoo pasti mengiyakan itu.” Akupun mengangguk pelan, sehun juga begitu.

“dasar sok pintar” celetuk sehun dan ia berhasil mendapatkan sebuah pukulan hangat di kepalanya.

“wae ?” sehun mengelus kepalanya seraya bertanya kearah Hwe Ji yang baru saja memukul kepalanya.

“sok pintar katamu ?? kau sendiri juga suka berlagak sok bodoh!” balas Hwe Ji tak mau kalah.

“hei sudahlah. Kajja kita pulang..” ajakku dan langsung menggenggam pergelangan tangan sehun dan Hwe Ji.

‘pelajaran tambahan ?? pangeranku juga ikut, bukan ?? ah, andai saja ia bisa mendengarnya, aku sangat ingin mengatakan fighting kepadanya..’ gumamku seraya mengulum sebuah senyum tipis.

—– —— —– —— —— —–

“aku pulang” setelah masuk ke dalam rumah. Akupun mengganti sepatu sekolah dengan sndal rumah. Ketika sedang menuju kamarku, aku melihat beberapa koper sudah tersusun rapi di depan pintu kamarku.

“ige mwoya ?” heranku seraya membuka salah satu koper itu. Dan apa kalian tau ? isi salah satu koper itu adalah baju – baju ku. Apa maksud dari semua ini ??

“kita akan pindah” akupun berdiri ketika mendapati ayahku baru saja keluar dari kamarku dengan menggandeng sebuah koper lagi.

“pi—pindah ? tapi kenapa ?”

“ini masalah orang dewasa Sang Akh. Kau tak perlu mengerti dan ibumu juga sudah menyepakatinya” ayah menjelaskan tetap dengan cara keep calmnya. Ya, inilah sikap yang kusuka dari ayah.walaupun ia selalu bertengkar dengan ibu, tapi ayah bukanlah tipe orang yang kasar.

“jadi, kapan kita akan pindah ??” tanyaku masih dengan wajah yang terbilang shock.

“10 menit lagi mobil yang akan mengangkut barang – barang kita datang”

“APA ?”

—– —– ——- —— —– —–

CKIIITT—

Mobil besar inipun akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang terbilang cukup besar. Akupun turun dan langsung menatap kagum kearah rumah yang besarnya 2 kali lebih dari rumahku yang sebelumnya.

“bagaimana ? apa kau suka ??” ayah berdiri di debelahku seraya mengacak rambutku pelan. Akuun menoleh kearahnya.

“akan berbeda karena ibu tak disini” akupun menunduk sedih ketika mendapati hanya aku dan ayah yang pindah.

“sudahlah, mungkin ini yang terbaik. Tapi, ibumu janji. Dia akan kesini ketika memiliki waktu senggang”

“benarkah ? syukurlah..” akupun mengulas senyum tipis.

“sudahlah.! Ayo kita pindahkan semua barang ini..” ayah mengingatkanku.

“iya” jawabku disertai dengan senyum yang terkembang dengan lepasnya.

Setelah berbincang.. ayah, aku dan orang pengantar barangpun mulai memasukkan beberapa koper dan kardus itu ke dalam rumah baruku. Ketika sudah berjalan 1/3 nya, tiba – tiba…

“apa kau butuh bantuan ??” ketika sedang mengangkat sebuah kardus, akupun mendengar sebuah suara. Ketika menoleh, aku mendapati seorang pria tua yang disertai dengan senyum riang di wajahnya.

“oh ??” aku heran masih menatap pria tua itu.

“Myulgeo ??” tiba – tiba ayah datang seraya memanggil pria tua yang ada di depanku dengan aksen, seperti ia mengenal pria tua ini.

“astaga.. apa kau Sanggyo ??” pria tua itu membalas dengan menyebut nama kecil ayahku.

‘apa ini ?’ heranku seraya masih menatap mereka berdua.

“ayah, dia siapa ??” tanyaku menengahi..

“dia Myulgeo, teman lama ayah.. Myulgeo kenalkan, ini anakku Sang Akh.” Ayah memperkenalkanku dan tentu saja aku membungkukkan sedikit badanku.

“Annyeong haseo Ajjushi. Perkenalkan, aku Sang Akh.” Ia juga ikut membungkuk.

“kau cantik Sang Akh” puji tuan Myulgeo dan aku hanya tersenyum malu – malu -_-“

“hei~ kau sepertinyaa satu sekolah dengan anakku” pekik tuan Myulgeo ketika mendapati aku masih memakai seragamku.

“oh ? benarkah ?”

“benar. Hanya saja dia tidak seriang dirimu” balas tuan Myulgeo dan akupun mengangguk.

“kau tinggal disini ?” Tanya ayah ketika aku sedang asik berbincang dengan tuan Myulgeo.

“oh ? iya aku tinggal di sekitar sini. Itu rumahku” tuan Myulgeopun menunjuk sebuah rumah besar yang ada di sebelah rumah baruku. Wah~ rumahnya sungguh besar dan luas.

“ayah, kurasa aku bisa memindahkan barang – barang ini sendirian dan dengan begitu ayah bisa berbincang – bincang dahulu dengan teman ayah” ucapku menyelip ketika ayah dan tuan Myulgeo sedang asik berbincang.

“benarkah ? apa kau yakin ?” akupun mengangguk pasti.

“jangan khawatirkan aku, pergilah” ayah mengangguk seraya tersenyum. Iapun mengacak rambutku dan tuan Myulgeo langsung mengajak ayah ke rumahnya. Aku hanya menggeleng pelan dan kembali memasukkan barang – barangku ke dalam rumah.

—– —– —– —— —– —— —–

Aku duduk di depan rumah baruku ketika semua kardus barang itu selesai dimasukkan. Setelah Ajjushi pengatar barang pamitan, akupun mendudukkan diriku di atas kursi santai yang ada di pekarangan.

‘BUGGHH’ baru saja kududukkan diriku di kursi santai ini, tiba – tiba sebuah bola basket datang dan mencium kepalaku dengan keras. Karena terlalu letih, akupun beranjak dari dudukku dan langsung mencari – cari siapa gerangan yang baru saja melemparku dengan bola basket.

Akupun memungut bola basket itu..

“astaga, maafkan kelalaianku. Apa kau baik – baik saja ??” ketika aku sedang memungut bola itu, tiba – tiba seseorang meminta maaf kepadaku. Aku tidak memperdulikannya, memangnya dia siapa ? berani – beraninya memukul kepalaku dengan bola basket. Dia harus kuberi pelajaran. Umpatku di dalam hati.

“tentu saja aku kesakitan. Kau pikir kau si-a-pa ??” akupun membentaknya seraya menegakkan kepalaku. Namun, ketika aku dapat melihat siluet pria itu, aku merasa seperti berada di alam mimpi.

“K—Kau ?”

-To Be Continued-

 

I AM YOUR MAID (Chapter 11)

193 thoughts on “MY KISS, MY DESTINY (chapter 1)

  1. Salam kenal 🙂 aku dea,tadi aku baca ff yang kamu post d ffindo dan aku langsung pengen baca ff kamu yang lainnya,aku suka ff kamu bagus2 semua.Maaf ya gak comment yg d ffindo 🙂

  2. Chapter 2 nya udah ada belum si kak? Keren ceritanya..
    Jadi penasaran sama cerita selanjutnya u,u
    Semangat kak! Ditunggu kelanjutannya yaaa (≧∇≦)/

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s