Secret Darling | 3rd Chapter

secret-darling1.

:: SECRET DARLING | 3rd Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Fluff | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by IraWorlds © High School Graphics ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter

“Aish, hyung ini bicara apa?! Sudahlah, hyung. Kau aneh dan menyebalkan!” tandas Sehun kesal sambil memutus sambungan teleponnya dengan Luhan.

Sedangkan Minhee rupanya sudah terbangun dan sedang menatap Sehun heran.

“Oppa kenapa berisik sekali, eoh?!” omel Minhee tiba-tiba.

Sehun langsung membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara Minhee, dan saat itulah matanya terbelalak saat melihat sesuatu yang ganjil.

“Yak! Itu kan piyamaku, mengapa kau pakai, eoh?!” omel Sehun lagi, kali ini Minhee yang kena.

Minhee ikut membelalakkan matanya lalu menatap piyama Sehun yang saat ini sedang dipakainya.

“Ige… Ige….”

.

.

| 3rd Chapter |

.

.

 

“Ayo, lepaskan sekarang juga! Itu piyama kesayanganku!” seru Sehun sambil menuding piyama yang dipakai Minhee.

Minhee menggeleng-geleng panik. “Tunggu, oppa… Aku pinjam, ya? Jangan pelit padaku, oppa. Aku kan istrimu.”

“Lalu kalau kau istriku, apa hubungannya dengan piyama itu? Ayo, lepaaaaass…!”

Shireo!”

 

Sehun cemberut mendengar teriakan Minhee, akhirnya mengalah juga dengan cara membiarkan Minhee tetap memakai piyama itu.

 

“Baiklah, terserah kau saja.” Balas Sehun mengalah. “Kau boleh memakai piyama itu. Tapi aku punya satu pertanyaan untukmu.”

Minhee membelalakan matanya mendengar syarat yang Sehun ajukan. “Pertanyaan? Pertanyaan apa?”

“Kenapa kau pakai piyamaku? Memangnya kau tidak membawa piyama?” Tanya Sehun.

Mata Minhee membelalak semakin lebar saat mendengar pertanyaan itu. Sehun menatap aneh Minhee, aneh kenapa gadis itu selalu saja mengeluarkan ekspresi yang berlebihan. Lebih anehnya lagi, ekspresi berlebihan itu lebih mirip seperti ekspresi seorang anak kecil. Benar-benar tidak sesuai umur.

“Itu… Uhm,” Minhee tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Sehun. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Sehun menatapnya semakin aneh.

“Apa?”

 

“Uhm, eomma…” sahut Minhee pelan. “Itu karena eomma membawakanku piyama yang aneh.”

“Hah?” Tanya Sehun tak mengerti. “Aneh? Piyama aneh?”

“Yap,” jawab Minhee sambil menunduk.

“Aneh bagaimana? Sini coba kulihat,”

 

Minhee kembali membelalakan matanya dan menatap Sehun shock.

“Jangan!!! Tidak boleh!!! Oppa tidak boleh melihatnya!! Itu piyama perempuan!!” seru Minhee heboh sambil bangkit dari duduknya dan langsung memeluk kopernya.

Sehun berdiri dari duduknya dan menatap Minhee semakin aneh. Ia masih belum menyadari sepenuhnya apa yang Minhee sebut sebagai piyama perempuan.

“Kau aneh. Kenapa kau bertingkah seperti itu? Memangnya piyama macam apa itu?”

 

Minhee menggeleng keras. “Tidak. Intinya oppa tidak boleh melihatnya.”

 

Aish.” Keluh Sehun. “Ya sudahlah, terserah kau saja. Aku aneh, sama seperti hyung-ku.”

 

Minhee tidak protes saat Sehun mengatakannya aneh. Ia juga tidak protes saat Sehun malah menyerobot kamar mandi duluan. Yang penting ia sudah lega, karena Sehun tak memperpanjang urusan piyama itu.

***

 

Hari ini adalah hari pertama Minhee masuh kuliah. Kalau dihitung-hitung sudah bulan kedua setelah Minhee dan Sehun menikah. Namun selepas ‘bulan madu’ di hotel itu, Minhee tak tinggal lagi bersama Sehun. Mereka berpisah dan masih tinggal di rumah orangtua masing-masing.

Namun masalahnya adalah, hari ini Minhee baru tahu jika kampusnya adalah kampus yang sama dengan Sehun.

 

“Sudah, kau cari saja sendiri kelasmu, ya?” sahut Minhyuk ringan setelah ia mengantar Minhee ke lobi kampusnya. Kebetulan memang kampusnya disini juga.

“Apa-apaan?” Tanya Minhee sebal. Ia menggembungkan pipinya tanda jika Minhyuk menyebalkan.

“Kau ini kan sudah besar. Kau bukan lagi anak sekolah dasar yang harus diantarkan sampai ke kelas, bukan?” timpal Minhyuk lagi.

“Aku ada kelas pagi ini,” bual Minhyuk sambil melirik jam tangannya. “Annyeong, adikku sayang!”

“Hei?!” Minhee shock saat Minhyuk meninggalkannya begitu saja di lobi kampus. Langkah Minhyuk begitu cepat, Minhee tak sempat mengejarnya. Jadi, satu-satunya hal yang bisa Minhee lakukan sekarang adalah menoleh kesana-kemari sambil memperhatikan para mahasiswa yang sibuk berlalu-lalang disana. Mau bertanya pun ia bingung.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya seorang laki-laki dari balik punggung Minhee.

Minhee kaget dan spontan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa orang itu.

“Kau?!”

 

“Ada apa?” Tanya Sehun, lagi-lagi merasa aneh dengan ekspresi yang Minhee tunjukkan. “Ini adalah lobi untuk fakultasku. Kau ini fakultas apa? Seharusnya aku yang bertanya begitu,”

Minhee menggaruk kepalanya bingung. “Tak tahu… Baru saja Minhyuk oppa yang mengantarkanku ke sini. Tapi lalu dia pergi. Aku ditinggal sendirian. Dia… Oppa yang jahat.”

Sehun menahan tawanya saat mendengar Minhee menyebut Minhyuk sebagai oppa yang jahat.

 

“Oke, baiklah…” sahut Sehun. “Sekarang kutanya, kau masuk fakultas apa? Biar nanti aku yang mengantarmu ke kelas,”

“Kau mau mengantarkanku? Janji?” Tanya Minhee tak percaya.

“Yap.” jawab Sehun. “Fakultasmu apa? Ayolah cepat, sebelum aku ada kelas jam 8 nanti.”

“Aku, uhm…” Minhee menggumam sebentar. “Aku… Ah, ya! Fakultas sastra!”

Sehun mengangkat sebelah alisnya. “Sastra? Memangnya kau bisa?”

Minhee merubah rautnya menjadi cemberut. “Apa maksudmu bertanya seperti itu padaku? Sastra itu hobiku!”

“Ya sudah, terserah kau saja.” Sahut Sehun. “Oke. Ikuti aku.”

 

Minhee mengangguk semangat, baru saja ia dan Sehun akan melangkah dari tempat itu, namun tiba-tiba saja…

 

“Sehun-ah!”

 

Cha!

Panggilan seorang laki-laki barusan itu benar-benar menghentikan langkah mereka, dan mulai membuat Sehun berubah mood seketika.

Ia membalikkan badannya dengan sedikit ragu, menatap orang yang baru saja memanggil namanya itu. Ia tahu karena laki-laki tinggi dengan kulit sedikit gelap itu adalah sahabatnya.

Kai.

 

Minhee juga ikut membalikkan badan sampai akhirnya mereka bertiga bertemu tatap di tengah-tengah. Raut Kai tampak ceria saat bertemu dengan Sehun, namun ekspresinya berubah bingung saat menyadari jika ada sosok Minhee disana.

 

“Kau?” Tanya Kai bingung. “Siapa kau?”

Sehun dan Minhee sama-sama bingung mau menjawab apa. Mereka hanya saling bertukar tatapan bingung. Seakan saling menyuruh untuk menjawab pertanyaan Kai. Selama beberapa saat lamanya mereka berdua tak ada yang menjawab pertanyaan itu, membuat Kai semakin curiga.

 

“Kau pacarnya Sehun, ya?”

 

Minhee membelalakan matanya menatap Kai. Kai kebingungan mengapa Minhee menatapnya seperti itu.

“Kenapa kau menatapku seperti itu, eoh?” protes Kai.

 

Aish, yang benar saja?! Sudahlah, Kai. Maaf aku tak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang.” Sahut Sehun. “Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti selesai kelas pertama. Temui aku di kantin. Sekarang aku harus pergi dulu. Annyeong.”

 

Sehun menarik tangan Minhee menjauh dari tempat itu. Minhee tampak kebingungan dengan tindakan Sehun itu, namun ia menurut saja saat Sehun membawanya pergi. Minhee juga hanya menatap Kai sampai mereka jauh, namun tak mengucapkan sepatah katapun pada Kai.

Kai sendirian di posisi itu sekarang. Ia masih bingung kenapa tingkah Sehun jadi aneh begitu.

Begitupun dengan gadis yang dibawa pergi Sehun itu.

Siapa dia?

 

 

“Aku lega sekali saat kau dibolehkan orangtuamu untuk masuk ke kampus ini. Sebab kalau kau tak ada, aku tak tahu bagaimana nasibku nanti.” Celoteh Minhee saat ia sudah bertemu dengan Minchan sejak kelas pertama yang lalu. Beruntungnya mereka sekelas sehingga mereka bisa bersama-sama lagi sekarang.

Minchan tertawa mendengar celotehan Minhee. “Tapi setidaknya kan ada nampyeon-mu di kampus ini.”

“Yak, kecilkan suaramu! Kau mau membongkar kedokku, hah?” omel Minhee sambil memelototi Minchan. Minchan kembali tertawa.

“Untung sebentar lagi ia lulus, jadi aku bebas.” oceh Minhee lagi.

“Tapi eomma-mu pernah bilang padaku, jika Sehun oppa sudah lulus nanti ia bisa bekerja. Jadi setelah itu, appa dan eomma kalian tidak akan memberikan kalian uang saku lagi. Kau, kau akan jadi pengurus keuangan rumah tangga! Hahaha!” tawa Minchan puas.

“Apa kau bilang?! Kenapa dia malah mengatakan hal seperti itu padamu? Eomma bahkan belum bilang itu padaku…” sahut Minhee shock. “Jadi nanti…”

“Jadi nanti kalian akan benar-benar menjalani peran sebagai suami istri! Hahaha!”

 

Aniyaaaa…!” seru Minhee kecewa. Tak sadar suaranya terlalu keras, sampai-sampai beberapa teman sekelas mereka yang lain menatap mereka aneh. Minchan memberikan isyarat pada Minhee untuk mengecilkan volume suaranya.

“Apa-apaan itu? Huweeee…. Shireo….” Protes Minhee dengan suara pasrah yang semakin mengecil.

“Sudahlah, Shin Minhee… Kalian menikah itu kan juga gara-gara ulahmu. Kalau saja kau tidak memaksa Sehun oppa untuk tidur satu kamar denganmu, tentu nasib kalian tidak akan seperti ini,” ujar Minchan.

“Tapi kan kami sama sekali tidak melakukan apapun malam itu. Mereka saja yang asal menuduh mentang-mentang menemukan kami tidur satu kamar. Asal kau tahu saja, selama ini ia belum pernah menyentuhku sama sekali! Menciumku saja tidak.” Ujar Minhee.

“Kau yakin?” goda Minchan. “Bagaimana dengan ciuman kalian saat di altar, eoh? Mengaku saja kau, Minhee. Ciuman pertamamu dia, kan?”

Wajah Minhee memerah seketika. Minchan hampir tak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Minhee memerah seperti itu. Mati-matian ia berusaha tidak tertawa supaya bisa menggoda Minhee lebih puas lagi.

“Uhm, ya… Dia memang menciumku saat itu. Namun tidak tepat di bibir.” Bisik Minhee salah tingkah.

Minchan mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu? Dia tidak menciummu di bibir?”

Minhee menggeleng, masih dengan ekspresi salah tingkah. “Tidak. Dia menciumku disini.” Minhee menunjuk ujung bibirnya, masih teringat dimana Sehun menciumnya selesai mengucapkan ikrar di altar.

“Curang! Itu melanggar tradisi!” protes Minchan. “Pernikahan kalian belum sah!”

“Lalu bagaimana?” Tanya Minhee ikut bingung.

“Supaya sah, maka kalian harus berciuman. Kali ini dengan benar-benar!” jawab Minchan asal.

“Apa?!” sahut Minhee shock. “Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kau kira berciuman itu mudah? Harusnya saja aku bersyukur, aku tidak pingsan di altar saat itu juga saat ia menciumku, walau hanya di ujung bibir! Kau belum mengerti bagaimana rasanya ingin pingsan, ya?!”

Minchan lagi-lagi hampir tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Minhee. Oh Tuhan, kenapa gadis itu lucu sekali? Dia mudah sekali untuk digoda, apalagi mengenai ciuman itu!

 

Tiba-tiba ringtone ponsel Minhee berbunyi. Tanda ada panggilan masuk. Minhee segera melihat nama yang tercantum di layar. Rautnya berubah seketika.

Minchan ikut mengintip, dan ia pun tersenyum menggoda Minhee. Lagi.

 

“Wah, itu suamimu menelepon.” Goda Minchan. “Ayo, angkat. Tak baik mengacuhkan panggilan suami.”

“Diam kau.” Sahut Minhee datar. Melirik Minchan sadis sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.

 

“Halo?”

 

“Minhee-ya. Bisa kita bertemu sekarang?”

 

“Ada apa?”

 

“Ada oppa-mu juga disini. Kita disuruh ikut bersamanya.”

 

“Apa? Kemana?”

 

“Molla.” “Pokoknya dia bilang, kau harus cepat datang kesini.”

 

“Kalian dimana?”

 

“Di lapangan parkir kampus. Ppali!”

 

“Ya, baiklah. Terserah kau saja.”

 

 

Dan pada akhirnya, Minhee pun ikut membawa Minchan untuk menemui Sehun dan Minhyuk di parkiran kampus. Minhee sendiripun tak sadar mengapa Minchan ikut bersamanya, ia baru tersadar saat bertemu Sehun dan laki-laki itu melemparkan pandangan aneh pada sosok Minchan yang berjalan di belakang Minhee.

 

“Apa?” Tanya Minhee membela diri.

“Kenapa kau membawa temanmu?” protes Sehun.

“Lalu kau pikir dia siapa?” tunjuk Minhee pada sosok Kai yang juga sedang berdiri di belakang Sehun.

Eoh, aku?” tunjuk Kai pada dirinya sendiri.

“Iya, kau.” Jawab Minhee. “Kau temannya Sehun oppa yang tadi pagi, kan? Oppa, kau melarangku membawa teman, padahal kau sendiri juga membawa teman! Huh!”

Sehun langsung terdiam kehabisan kata-kata mendengar celotehan Minhee. Begitupun dengan Kai. Sedangkan Minhyuk hanya geleng-geleng kepala melihat dua teman seangkatannya itu kalah berdebat dengan adiknya.

 

Aigoo, sudahlah, kita berangkat sekarang saja.” Sahut Minhyuk memecah suasana.

“Ah, ya.” jawab Sehun yang akhirnya tersadar. Sejenak ia menoleh kesana-kemari. Namun belum sempat bertanya, Minhyuk sudah memotong duluan.

“Kai, kau pinjamkan saja mobilmu pada Sehun, ya?”

“Hah?” Tanya Kai.

“Ah, tentu saja. Kau tidak ingat? Pengantin baru itu harus selalu satu mobil, benar ‘kan?” goda Minhyuk.

 

“Apa maksudmu?!” reaksi Minhee berlebihan lagi. Apalagi saat melihat Kai benar-benar menyerahkan kunci mobilnya pada Sehun. Saat Sehun menerima saja kunci itu dengan wajah polos.

Aigoo, Minhyuk oppa ini bicara apa? Shireo! Aku mau satu mobil saja bersama Minchan!” tolak Minhee sambil menjauhkan diri dari Sehun.

“Tidak akan. Minchan akan satu mobil bersama aku dan Kai.” Sanggah Minhyuk ringan. “Bagaimana, Minchan? Kau setuju, kan?”

“Yap! Tentu saja aku setuju! Sangat setuju sekali!” jawab Minchan bersemangat.

“A… Apa?” Tanya Minhee shock. Lebih shock lagi saat ia benar-benar ditinggal berdua bersama Sehun.

“Minchan, kau jahat sekali…” keluh Minhee sambil memandang Minchan yang sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil Minhyuk.

 

“Yak, kau!” tegur Sehun.

Minhee menoleh dan menemukan Sehun sudah berdiri di dekat mobil hitam metalik milik Kai.

“Ayo cepat naik, atau kutinggal kau!”

 

Minhee berjalan menghampiri Sehun sambil bersungut-sungut.

“Tinggal saja kalau berani!” sahut Minhee asal sambil memeletkan lidahnya pada Sehun.

Sehun memutar matanya lalu masuk ke dalam mobil Kai. Menstarter mobil itu langsung dan bersiap jalan tanpa aba-aba.

Yak! Tunggu!” seru Minhee sambil menggedor kaca mobil Kai.

Sehun menghentikan mobil itu dan menurunkan sedikit kaca jendela yang ada di kursi di samping kemudi.

“Kau bilang kau tidak peduli…”

“Ya, baiklah! Aku peduli!” seru Minhee mengalah. “Asal jangan tinggalkan aku.”

Sehun tercenung sesaat mendengar kata-kata Minhee. Sampai akhirnya Minhee harus menegurnya lagi, dan Sehun baru membukakan pintu untuk Minhee.

 

Jangan tinggalkan aku…

 

Sehun merasa ada yang aneh dengan kalimat itu, karena kalimat itu tak mau pergi juga dari benaknya.

 

 

Akhirnya kini mereka sudah sampai di depan pintu sebuah apartemen bergaya minimalis. Dilihat dari bentuknya, apartemen ini tidaklah terlalu besar. Namun berada di gedung apartemen yang cukup elit. Dekat pula dengan kampus mereka, sehingga mereka tahu bahwa apartemen inilah yang bisa mereka lihat dari kejauhan saat masih berada di kampus.

 

“Apartemen siapa ini?” Tanya Minhee yang pertama kali membuka suara. Bahkan Minhyuk belum sempat membuka pintunya dengan kunci yang ternyata sudah ia persiapkan.

“Apartemen kalian.” Jawab Minhyuk singkat sambil membuka kunci pintu tersebut.

“Kalian?” Minhee memicing curiga. “Siapa yang oppa maksud dengan ‘kalian’?”

“Kau dan Sehun.”

 

“APA?!”

 

Kali ini bukan hanya Sehun dan Minhee yang berseru terkejut dengan mata membelalak. Tapi juga Kai dan Minchan yang berada disana sekarang juga. Karena mereka kini salah satu yang termasuk sebagai pemegang rahasia status Sehun dan Minhee sebenarnya.

 

SHIREO! KAU GILA YA, OPPA?!” protes Minhee kalang kabut.

Minhyuk melemparkan reaksi menyebalkan. “Aku tidak gila. Aku membawa kalian kesini atas perintah orangtua kalian. Harusnya Luhan hyung juga ikut kesini, tapi ternyata dia sedang sibuk di kantornya.”

 

“Itu berarti… Sehun oppa dan Minhee akan satu rumah?” Tanya Minchan polos.

“Tepatnya bukan satu rumah, tapi satu apartemen. Rumah terlalu besar untuk mereka. Kau mengenal Minhee, kan, Minchan-ssi?” Minhyuk balik bertanya.

“Ayo. Kita adakan tour singkat mengenai apartemen ini.” Ajak Minhyuk.

Tak ada alasan apapun bagi mereka berempat untuk tidak mengiyakan kata-kata Minhyuk. Termasuk Sehun dan Minhee yang kini hanya bisa terdiam pasrah setelah mengetahui mereka harus hidup dalam satu apartemen setelah ini.

 

“Kamar ini memiliki dua kamar tidur.” Jelas Minhyuk sambil menunjukkan kamar tidur utama. “Kalian bisa tidur di kamar utama ini.”

“Kalau begitu, kamar yang satunya untuk siapa?” celetuk Kai.

“Untuk anak mereka nanti.” Jawab Minhyuk sangat ringan, sambil melenggang ke ruangan berikutnya. Kai dan Minchan hanya bisa menatap shock Sehun dan Minhee yang benar-benar sudah kehilangan semangat sekarang akibat racauan Minhyuk.

“Ayolah, Sehun. Kau harus semangat!” ajak Minhyuk sambil berbalik dan merangkul bahu Sehun. Sehun tak menanggapi dan hanya menggumam tak jelas.

“Apa yang oppa maksud dengan anak tadi?” protes Minhee tajam.

Minhyuk tertawa dengan nada yang sangat menyebalkan sekali. “Oh, ayolah. Kalian jangan berpura-pura tidak tahu. Luhan hyung sudah bercerita padaku soal malam pertama kalian.”

 

MALAM PERTAMA?!

 

Kai dan Minchan sama-sama shock. Namun mereka hanya terdiam menyembunyikannya.

 

“Malam pertama apa maksudmu?” balas Sehun tajam juga.

“Oh, ayolah…” keluh Minhyuk sambil menghentikan langkahnya. “Pagi itu Luhan hyung meneleponmu, lalu bertanya tentang malam pertama kalian. Kau bilang Minhee kejam sekali, badanmu sampai sakit semua. Wah, aku tak percaya Minhee bisa seagresif itu padamu…”

 

“DIAM KAU, SHIN MINHYUK!” omel Minhee dengan wajah mulai memerah. Sepertinya, memerah karena ia benar-benar marah sekarang.

 

“Apa?”

 

“Ah, sudahlah, terserah kau saja.” Sehun mengibaskan tangannya tak peduli sambil melepaskan diri dari rangkulan Minhyuk. Ia berjalan menuju pintu keluar.

 

Yak, Oh Sehun! Kau mau kemana?” Tanya Minhyuk lalu buru-buru menyusul Sehun.

“Aku mau pulang.” Jawab Sehun singkat. “Kai. Ayo pulang saja. Aku sudah terlalu banyak didera stress hari ini. Aku harus pulang atau aku akan gila sekarang.”

Aniyaaaa…! Aku belum selesai,” tahan Minhyuk.

“Apa lagi?” Tanya Sehun tak sabar.

“Soal apartemen ini…” Minhyuk mulai terdengar ragu-ragu mengatakannya sekarang. “Mulai besok kau akan tinggal disini. Bersama Minhee. Hanya berdua. Itu keinginan orangtua kalian.”

***

 

Entah sudah berapa kali serakan kerikil yang ada disekitaran kaki Minhee itu menjadi sasaran kekesalan gadis itu. Debu-debu halus itu ikut berterbangan, membuatnya kadang terbatuk-batuk sendiri. Konyol memang, namun memang hanya hal itulah yang bisa ia lakukan sekarang.

 

Aigoo, lama sekali dia!” runtuk Minhee sambil melirik jam tangannya kesal. Panas yang menyengat semakin membuat kekesalannya menjadi-jadi.

Ia mengelap peluh yang mengalir di dagunya dengan asal. Mencoba menepis kekesalan yang malah ia lampisakan ke dirinya sendiri itu.

Sudah hampir satu jam Minhee menunggu Sehun di tempat itu, tapi sejak tadi belum ada tanda-tanda kedatangan Sehun. Mereka akan berangkat ke apartemen mereka pertama kali hari ini. Jadi mau tak mau mereka harus bersama.

 

“Maaf, aku terlambat.” Suara itu menginterupsi lamunan Minhee pada kerikil-kerikil yang ada di tanah. Ia mendongak dan menemukan wajah Sehun diatasnya, sedang menatap penuh rasa bersalah pada Minhee.

Minhee diam saja.

“Aku ada urusan dengan teman-temanku tadi. Aku tak tahu jika mereka mengulur waktuku sampai sebegitu lamanya…” jelas Sehun tanpa diminta.

Minhee masih diam saja.

Sehun menghela napas. “Baiklah, salahku juga. Aku tak bilang pada mereka jika ada seseorang yang menungguku. Maafkan aku.”

“Oke, tak apa.” Sahut Minhee akhirnya. Ia tersenyum tipis pada Sehun, membuat Sehun sedikit lega.

 

“Baiklah. Kita mau berangkat sekarang?” Tanya Sehun dengan senyum.

Minhee mengangguk lalu bangkit berdiri. Mereka berjalan bersampingan menuju gerbang kampus.

 

“Kau keberatan jika kuajak jalan-jalan terlebih dahulu?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Minhee menoleh pada Sehun dengan tatapan penuh tanya.

“Yah, sebagai permintaan maafku,” sahut Sehun memperjelas. “Kau akan kuajak ke kedai bubble tea kesukaanku. Tapi kau bebas memesan apa saja disana. Bagaimana?”

Mata Minhee berbinar. “Benarkah? Oppa mau mentraktirku?”

Sehun mengangguk yakin. “Yap. Bagaimana? Kau mau?”

“Ya, tentu saja! Aku boleh memesan apa saja, kan?” jawab Minhee senang.

Sehun mengangguk lagi.

“Aaaa… Terimakasih, oppa!” seru Minhee senang sambil meloncat-loncat kecil. Sehun menahan tawa melihatnya, melihat bagaimana gadis yang sudah menjadi istrinya itu masih bertingkah seperti anak kecil. Jauh dari kesan gadis-gadis yang selama ini Sehun temui, kebanyakan dari mereka justru lebih memilih menyembunyikan kesan kekanak-kanakan seperti itu di usia mereka yang sudah mulai dewasa. Namun tidak dengan Minhee. Gadis itu berbeda.

 

 

Sosok laki-laki dan perempuan itu berjalan menyusuri lorong apartemen yang sepi. Sejak tadi terlihat hanya sang laki-laki yang sibuk mencari-cari nomor apartemen mereka, tidak dengan sang perempuan yang sejak tadi masih asyik dengan taro bubble tea miliknya seperti anak kecil.

 

Yeah, akhirnya ketemu juga!” seru Sehun senang sambil mencari-cari kuncinya dalam saku kemejanya. Kunci itu akhirnya ketemu dan mereka sudah bisa memasuki apartemen itu sekarang.

 

“Bagaimana dengan barang-barang kita?” Tanya Minhee saat pertama kali memasuki apartemen itu. Kondisinya masih sama seperti saat mereka mengunjunginya tempo hari, memang sudah banyak perabot rumah tangga yang sengaja disiapkan oleh keluarga mereka. Jadi apartemen itu sudah siap huni saja.

“Kata Luhan hyung, semuanya sudah disiapkan.” Jawab Sehun sambil berjalan mengelilingi berbagai ruangan yang ada disana.

“Benarkah?” Tanya Minhee lagi. “Wah, canggih sekali,”

 

Minhee ikut berkeliling memeriksa berbagai ruangan yang ada disana.

 

“Umm, oppa…” panggil Minhee. “Disini kan ada dua kamar tidur. Bagaimana kalau kita berbeda kamar saja?”

Sehun kontan menatap Minhee, membuat Minhee salah tingkah dan hampir saja tersedak minumannya.

“Jadi kita…”

“Maaf, oppa… Aku hanya tak terbiasa jika ada laki-laki dalam kamarku,” jelas Minhee sambil setengah menunduk.

Sehun melempar senyum pengertian pada Minhee. “Baiklah, tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu,”

 

Sejenak mereka saling terdiam, tak tahu harus membicarakan apa lagi.

 

“Uhm, oppa, maaf. Aku harus ke kamarku dulu. Aku ingin mandi,” pamit Minhee sambil bersiap melangkah menuju kamar kedua.

“Ah, ya.” jawab Sehun dengan senyum.

Minhee ikut tersenyum lalu melanjutkan langkah menuju kamarnya. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya. Sehun yang entah kenapa masih memandangi Minhee saat gadis itu pergi, otomatis bertemu pandang dengan Minhee. Kesenyapan sesaat saat mata mereka bertemu menimbulkan sensasi yang aneh dalam jantungnya.

Oppa, bagaimana kalau kau juga mandi sekarang?” usul Minhee.

Sehun mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa?”

“Uhm, mandi sore saat ini adalah waktu yang ideal. Aku tidak mau oppa sakit karena mandi terlalu malam,”

***

 

Pagi ini adalah pagi pertama Sehun dan Minhee di apartemen mereka. Seperti rencana malam sebelumnya, mereka benar-benar tidur di kamar yang berbeda. Sehun memberikan kunci kamar utama pada Minhee, sedangkan ia menempati kamar yang sementara ini disebut sebagai kamar tamu. Barang-barang milik perempuan lebih banyak dan merepotkan, itulah alasan mengapa Sehun memberikan kamar utama yang jauh lebih luas untuk istrinya itu.

 

Pagi ini Minhee bahagia karena berhasil bangun pagi. Ia sangat bersyukur sebab alarm yang disetelnya semalam benar-benar bekerja pada telinganya. Ia bangun pukul 6 pagi, tak terlalu pagi memang. Namun kelasnya baru dimulai pukul sembilan nanti, sehingga ia masih memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan berbagai hal di apartemen itu.

Minhee bangun dari kamarnya dan membuka tirai jendela kamarnya. Tersenyum puas saat jendelanya bisa mendapatkan akses city view yang cukup bagus.

Apartemen ini boleh juga. Aku pasti akan betah tinggal disini.

 

Setelah itu ia mandi dalam kamar mandi pribadi yang memang tersedia di kamar itu. Itu adalah kamar utama, wajar jika fasilitasnya lebih lengkap dibanding kamar tamu yang ditempati oleh Sehun.

 

Selesai dengan penampilannya, Minhee memutuskan untuk keluar kamar dan mengecek kedaaan di luar. Seperti dungaannya, Sehun pasti belum bangun. Apartemen mereka masih sepi dan sama seperti semalam saat mereka tiba. Beberapa barang memang sudah rapi tertata di dalam sana, makanya Minhee sedikit penasaran untuk melihat bagaimana tata ruang dapurnya.

Dapur? Memangnya aku bisa memasak?

 

Minhee mendadak pucat saat mengingat kemampuannya yang tak bisa dibilang bagus saat memasak. Di kelas tata boga saat sekolah menengah dulu, Minhee tak pernah dapat peran lebih dari mencuci peralatan memasak ataupun sekedar mengiris bahan-bahan. Yah, temannya tak pernah mengizinkan Minhee memegang spatula. Minhee tak pernah bagus saat memasukkan rempah-rempah dalam masakannya. Selalu berlebihan, membuat rasanya menjadi aneh.

Sepertinya kata berlebihan memang cocok dan melekat pas dengan sosok seorang Shin Minhee. Minhee mengeluh kecewa pada dirinya sendiri. Ia buruk dalam memasak, lalu bagaimana caranya ia memasak untuk suaminya?

Bahkan ini adalah pagi pertama mereka tinggal bersama, apakah ia setega itu tak bisa memasakkan sarapan untuk Sehun?

 

Perlahan Minhee melangkahkan kakinya menuju kulkas yang berada di dekat meja makan. Saat membuka isinya, ia sedikit terkejut juga. Alasannya adalah karena ia sudah menemukan berbagai macam bahan makanan di dalam sana. Dari mulai daging, sayuran, telur, susu, bahkan berbagai macam camilan.

Tak ada sereal, kah?

Minhee kembali mengeluh kecewa.

 

Ragu-ragu Minhee mengambil dua butir telur dari dalam kulkas, lalu meletakannya disamping kompor. Ia memutar langkahnya menuju rice cooker yang ada di dekat kulkas dan beruntungnya menemukan sekarung kecil beras dalam laci penyimpanan. Kegiatannya sebagai ibu rumah tangga di dapur ia mulai dari memasak nasi. Cukup mudah karena ini menggunakan bantuan penanak nasi elektrik, ia juga sering melakukannya saat di rumah orangtuanya dulu.

Setelah selesai dengan nasi, ia mengambil penggorengan dan dan mangkuk. Ia kocok kedua telur itu dalam mangkuk dengan menambahkan beberapa macam rempah sederhana. Garam, merica, kaldu bubuk… Karena macam rempah yang ia masukkan cukup banyak, ia memutuskan untuk memberikan takaran sedikit-sedikit dari masing-masing rempah itu. Setelah selesai mengocok telur itu, ia menggorengnya dengan mentega diatas penggorengan. Bau harum telur dadar langsung menyebar dalam dapur kecil itu.

Setelah nasi matang dan semuanya telah siap, ia menata peralatan makan diatas meja makan mungil mereka. Mungil, yeah. Mereka hanya bedua, kan?

 

“Kau memasak?” suara seorang laki-laki terdengar saat Minhee baru saja selesai menuangkan air ke dalam gelas.

“Yap,” jawab Minhee tanpa menoleh, ia masih sibuk merapikan beberapa peralatan diatas sana. “Tapi maaf, aku hanya bisa memasak telur dadar,”

“Tak apa,” balas laki-laki itu dengan suaranya semakin terdengar dekat. “Lagipula baunya harum, sepertinya enak.”

 

“Benarkah?” hati Minhee melambung saat Sehun memuji bau harum telur dadarnya. Ia langsung membalikkan tubuhnya, bermaksud untuk mengahadap Sehun untuk mengucapkan terima kasih. Tapi gadis itu malah terbelalak bukan main saat menemukan kenyataan yang lebih. Sehun tepat berdiri di depannya kini, jarak mereka bahkan tak lebih dari tiga puluh centimeter. Satu-satunya hal yang membuatnya bersyukur saat ini adalah, tingginya yang hanya sebatas dada laki-laki itu tak membuatnya langsung berhadapan dengan wajah pemiliknya.

Kalau seperti itu kejadiannya, ia bisa pingsan menahan malu detik itu juga.

 

Oppa?” Minhee meruntuki dirinya sendiri saat ia malah tak sadar mengarahkan pandangannya ke atas sehingga bisa menemukan wajah suami bertubuh tingginya itu. Dia itu tampak tampan dengan rambut kecokelatannya yang sedikit basah, mungkin baru selesai mandi.

 

Dasar bodoh kau, Shin Minhee.

 

Nalar Minhee terlalu beku untuk cepat-cepat mencerna apa yang terjadi. Sepertinya ia terlalu terbius oleh pesona-selesai-mandi suaminya sendiri, sampai-sampai ia tak sadar jika jarak antara mereka mulai menipis.

Ini adalah pagi hari yang cerah.

Morning kiss?

 

 

 

| T B C |

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

Senengnya bisa bertemu kalian lagi, mian baru posting sekarang… Lagi-lagi aku ngaret😦

Maafkan aku, semuanya😦

 

 

Yap, kalian sudah bertemu si cast baru yang aku bilang kemarin. Bagi yg khawatir bakalan terjadi perebutan Minhee(?) antara Kai dan Sehun, tenang… Bukan itu kok ceritanya nanti😀

Disini peran Kai bakal jadi sahabatnya Sehun, tapi dia bakalan baik juga sama Minhee. Mengenai apa fungsi(?) Kai disini, nanti dia bakal dapet jatah cerita sendiri. Okeh?😉

Dan buat cast lain, selanjutnya masih ada beberapa cast lagi yang akan muncul di masa depan ^^

Inget, para pengganggu belum aku kenalin loh😀

 

Sip, gak banyak kata yang aku pesenin kali ini.

Oiya, kalo ada yang mau nanya acc aku apa. Find @shineshen97 on twitter ^^

Bagi yang mau berteman sama aku diluar wp, sampai jumpa disana😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi~

 

 

 

shineshen

 

 

Let’s say hi to our new cast!

The 21 y.o boy, who always be Sehun’s bestfriend forever after.

Kim Jongin as Kai.

 

 racun kau

645 thoughts on “Secret Darling | 3rd Chapter

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s