I AM YOUR MAID (Chapter 11)

Tittle: I AM YOUR MAID (Chapter 11)

cats

Author: Dindong L.Kim (@adinda_elements)

Main Cast :

–         XI LUHAN

–         SHIN NAOMI (OC)

Support Cast :

– KIM MINRAE (OC)

– PARK CHANYEOL

–         Akan bertambah sesuai chapternya

Genre: Romance (Maybe),Friendships, Comedy (Maybe), Gaje (Pasti)

Ratting: PG 15

Length: Chaptered

Disclaimer:

THIS FF IS MADE BY DINDONG L.KIM😀 all cast hanya saya pinjam untuk dijadikan pemeran di FF ini.PLAGIATOR ?? JUST GO AWAY ^_^ AND SILENT READERS ?? IT’S OK, BECAUSE OF YOU,MAYBE I CAN’T CONTINUE TO WRITE THIS FF ^_^ ALUR IS PURE MINE🙂

Dindong Notes :

Sorry for typos ^_^

And Long Update ^_^

Warning : Typo bertebaran🙂

~Author POV~

Setibanya di kafe tempat ia bekerja, Naomi langsung menukar bajunya dengan seragam yang telah di tentukan oleh pemilik kafe. Well, kemudian ia melakukan semua pekerjaannya dengan baik. Ya, memang dengan baik namun aura wajah Naomi sungguh menyeramkan.

“Hei”

Ketika Naomi sedang membersihkan piring kotor yang ada di meja nomor 8, tiba – tiba seorang gadis yang sangatia rindukan datang seraya menepuk bahu kanannya. Karena tak tahan dengan rasa rindunya, Naomipun menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Kesan bahagia sangat kental disana.

“kau kemana saja ? aku sangat merindukanmu. Banyak kejadian menarik yang kau lewati dan ada kejadian buruk yang tak kau lihat.”

Minrae tersenyum tipis mendengar ocehan Naomi yang sama panjangnya dengan ocehannya sendiri.

“aku butuh waktu untuk menetralkan semuanya”

Wow, sungguh singkat jawaban yang Minrae berikan. Naomi yang mendengarnyapun sempat tercengang, karena biasanya Minrae berbicara dengan panjang lebar. Dan sekarang ? dia hanya berbicara beberapa patah kata dengan ekspresi standart.

Naomi mengangguk singkat dan beberapa saat kemudian mereka berdua menerima sebuah teguran dari atasannya. Setelah mendapat teguran, Naomi dan Minraepun kembali melakukan pekerjaannya masing – masing.

‘kita sambung setelah bekerja’ bisik Naomi di sela pekerjaannya kepada Minrae dan Minraepun mengangguk.

~IYM~

“Ah~ ini sangat melelahkan”

Naomi menjatuhkan badannya di atas salah satu kursi dan Minraepun juga melakukan hal yang sama di hadapannya. Keduanya sama – sama merutuk karena jumlah pengunjung hari ini yang melebihi kapasitas. Butuh tenaga ekstra bagi Naomi dan Minrae untuk melayani semuanya, apalagi mereka sama – sama baru saja selesai cuti.

“KRINGG~”

Bel sialan itu berbunyi. Naomi dan Minrae langsung saja menggerutu di dalam hati. Mereka berduapun sama – sama berdiri untuk melayani pelanggan yang baru saja datang, namun Naomi kembali menyuruh Minrae duduk. Mengingat keadaan Minrae yang masih labil (?)

“ini tugasku. beristirahatlah”

Naomipun beranjak pergi ke meja nomor 4, tempat dimana pengunjung yang baru datang itu duduk. Setibanya di meja itu, Naomi langsung menanyakan pesanan pria yang Naomi perkirakan umurnya setara dengannya.

“selamat datang di kafe XXX, anda mau pesan apa ?”

Pria itu tampak berfikir dan kemudian, “bisa kau berikan aku dua cangkir cappuccino panas ?? malam ini sungguh dingin”

Naomi mengangguk singkat dan mulai mencatat pesanan pria itu.kemudian ia bertanya lagi, “apa ada yang lain sebelum aku pergi ??”

“menurutmu makanan apa yang paling enak disini ??”

Mendengar pertanyaan pria itu, Naomi langsung mengeja makanan yang benar – benar ia suka di kafe tersebut. Mendengar ejaan Naomi, pria itupun tersenyum dan memilih salah satu menu kesukaan Naomi.

“baiklah, saya harap anda mau menunggu. Permisi.”

Naomi pamit seraya membungkukkan sedikit badannya dan pria itu membalas dengan sebuah anggukan disertai dengan senyum tipis nan keren miliknya.

~~~~~

“ini pesanan anda”

Naomi meletakkan pesanan pria itu dan kemudian ia langsung pamit undur diri.

“maaf, bisa kau menemaniku untuk menghabiskan ini ??”

Pria itu bertanya dengan senyum manis yang tak pernah tanggal dari wajah tampannya. Karena pria itu meminta dengan sopan, Naomipun menyanggupi permintaan pria itu. Minrae yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum tipis dan sesaat kemudian Handphonenya berbunyi. Tebak siapa yang menelfon ? tentu saja Prince charmingnya a.k.a Chanyeol. Dengan senang hati Minrae mengangkatnya dan kemudian perhatiannya langsung teralihkan.

“maaf, apa aku boleh mengetahui namamu ?”

Pria itu bertanya di sela – sela acara makan mereka. Naomi hanya membalas dengan cara menunjukkan name tagnya dan pria itu langsung mengangguk seraya membentuk huruf O dengan bibirnya.

“SHIN NAOMI ? namamu unik dan juga terdengar sangat manis”

Puji pria itu yang langsung membuat Naomi tersedak oleh makanannya sendiri. Naomipun segera membersihkan sudut bibirnya yang kotor dan langsung membalas pujian pria itu dengan sedikit tertawa.

“astaga, anda sungguh pintar berbohong”

Pria itu menggeleng gemas seraya tersenyum tipis. “itu bukan kebohongan, namamu memang bagus dan kurasa kau tidak perlu berbicara seformal itu”

Naomi canggung. Ia mulai menggaruk leher belakangnya sebagai penyalur rasa gugup. “haha, kalau begitu terima kasih” Naomi tersenyum tipis, masih dengan tangan yang menggaruk leher belakangnya.

“eumm, apa kau tidak ingin mengetahui namaku ?”

“Ye ??” Naomi mengeluarkan raut wajah anehnya, membuat pria yang ada dihadapannya kembali terkekeh.

“maaf kalau ekspresiku berlebihan” Naomi menundukkan sedikit kepalanya dan pria tampan itu hanya tersenyum tipis seraya langsung menyuruh Naomi untuk tidak meminta maaf seperti itu.

‘DRRT DRRT’ tiba – tiba handphone Naomi berbunyi.

‘aku terlambat’ gumam Naomi setelah mengecheck handphonenya yang ternyata merupakan alarm peringatan. Dengan cepat, Naomipun pamit kepada pria yang beberapa saat lalu berbincang dengannya dan kemudian ia langsung mengganti seragamnya dengan baju yang awalnya ia pakai.

Sebelum benar – benar meninggalkan kafe, Naomi pamit dahulu kepada managernya dan juga Minrae, yang masih sibuk berbincang dengan chanyeol melalui handponenya.

“Gotcha, You are Mine. SHIN NAOMI” tanpa Naomi ketahui ternyata pria yang baru saja berbincang dengannya bergumam seraya mengulas sebuah senyum tipis yang lebih mirip dengan sebuah smirk.

Siapa pria itu ? apa yang ia maksud dengan Naomi sebagai miliknya ? entahlah, kuharap ini bukan pertanda buruk…

~~~~~

“aku pulang” Naomi membuka pintu garasi Luhan dengan pelan kemudian ia langsung masuk ke dalam.

Naomi berjalan pelan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika melihat sehun. “Naomi, Hyung Naomi. Hyung!!” sehun histeris mengatakan itu kepada Naomi. Naomi yang tidak tau apa – apa pun hanya bisa mengerutkan dahinya.

“Luhan ? dia kenapa ?” Naomi bertanya dengan raut wajah polosnya.

“astaga Naomi, apa kau tidak tau ? Hyung Naomi, Hyung!”

Alis Naomi kembali bertaut. Naomi tau sifat sehun yang terkadang berlebihan, namun ini sudah kelewat batas. Sehun sepertinya terlalu mendramatisir sesuatu dan Naomi kurang suka dengan kejadian biasa yang dilebih – lebihkan.

Naomi menghela napasnya dan kembali bertanya kepada sehun. “hei, tenanglah. Memangnya Hyungmu kenapa ? apa dia ingin mencoba bunuh diri lagi ?”

Sehun menggeleng dan kemudian ia langsung menarik pergelangan tangan Naomi menuju kamar Luhan. Setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar Luhan, Naomi hanya melihat sekeliling kamar Luhan dengan malas. Well, sepertinya tak ada yang berubah dari dekorasi kamar Luhan. Jadi, apa yang sehun khawatirkan ? pikir Naomi.

“Naomi, lihatlah itu”

Naomipun mengikuti arah telunjuk sehun dan ia mendapati setumpuk kaset jahanam sedang tertata rapi bak gunung yang ditumpuk. Melihat tumpukan kaset itu, Naomi berdecak kagum dan mulai mendekati tumpukan tersebut, begitupula dengan sehun.

“astaga, aku tak menyangka koleksinya sebanyak ini” Naomi berdecak kagum seraya memperhatikan kaset – kaset yang bercover ‘ehemm’ itu.

“apa yang kau lakukan di kamarku ?”

Tiba – tiba dari arah belakang Naomi mendengar suara berat nan seksi milik Luhan. Dengan cepat, Naomi berbalik dan mendapati Luhan sedang memegang beberapa kotak kaset yang bergenre sama dengan kaset yang baru saja ia lihat.

“ei ? tadi sehun yang mengajakku kesini” Naomi menjawab seraya menggaruk leher belakangnya. Sementara sehun yang merupakan kambing hitampun hanya bisa mengeluarkan cengiran khasnya seraya membentuk huruf V dengan jarinya.

Luhan berdecak dan kembali berjalan menuju tumpukan kaset yang baru Naomi lihat. Naomi heran dan masih tetap memperhatikan Luhan, tepatnya ia masih belum memiliki keberanian lebih untuk bertanya kepada Luhan. Sementara sehun ? Oh, anak itu rupanya hanya ingin memperlihatkan Naomi tentang fenomena Luhan yang mengeluarkan kaset jahannamnya dan baru beberapa saat yang lalu, sehun meninggalkan Naomi di dalam kamar Luhan.

“ah, apa kau butuh bantuan ?”

Naomi menawarkan pertolongan ketika melihat Luhan yang sedang kerepotan membawa tumpukan kaset itu. Tanpa banyak bicara, Luhan menerima bantuan Naomi dan membiarkan gadis itu membawa beberapa kasetnya.

“akan kita bawa kemana semua ini ?” Tanya Naomi.

“aku akan membakar semuanya” mata Naomi terbelalak kaget ketika mendengar kata ‘Bakar’. Ia benar – benar bersyukur karena Luhan mampu kembali ke jalan yang benar. Masih dengan wajah datarnya, Luhanpun berjalan ke luar kamarnya dan tentu saja Naomi mengikutinya dari belakang.

Sedari tadi, senyum Naomi tak pernah hilang ketika mengingat sifat Luhan yang suka mengoleksi film ‘itu’ sudah sedikit terkikis.

Setibanya di halaman belakang, Luhan menyuruh salah satu penjaga rumahnya untuk membawakan sebuah tangki besar. Pada awalnya penjaga itu bertanya kepada Luhan, untuk apa tangki itu baginya. Namun Luhan tidak menjawab. Ia hanya menatap penjaganya itu dengan tatapan tajamnya nan mematikan dan tanpa banyak Tanya lagi, penjaga itu membawakan sebuah tangki minyak yang tak terisi lagi kepada Luhan. Naomi yang melihat sikap Luhan itu hanya bisa terkekeh pelan.

“lemparkan semuanya ke dalam” seru Luhan dengan nada datarnya dan Naomipun menurutinya.

Setelah semua kaset jahannam itu dimasukkan ke dalam tangki kosong itu, Luhanpun melemparkan sebuah korek api dan dalam sekejap sebuah kobaran apipun terbuat.

“apa yang kau pikirkan sampai – sampai melakukan ini ?” Naomi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Luhan yang hendak pergipun terhenti. Ia berbalik dan menatap Naomi dengan intens. Naomi yang di tatap seperti itu langsung gelagapan.

“sebelum aku menjawab pertanyaanmu, apa kau mau menjawab pertanyaanku ?”

Naomipun memiringkan sedikit kepalanya dan jari telunjuknyapun ia letakkan di dagunya. Luhan yang melihat itu sangat ingin mencubit pipi Naomi. sungguh, gadis itu terlihat sangat imut sekarang. tapi, berhubung image yang sedang Luhan usung adalah cool and cold, ia mengurungkan niatnya untuk melakukan itu.

“selama pertanyaannya tidak membuatku mati, kurasa tak apa” Naomi tersenyum lebar setelah mengatakan itu.

“sini, duduklah. Kurasa ini akan menjadi cerita yang panjang” Luhanpun mendudukkan dirinya di depan tangki yang berisi kobaran api. Naomi yang melihat Luhan dudukpun hanya mengerutkan sedikit alisnya. Ia tidak mungkin duduk di samping Luhan. Itu akan kelihatan tidak pantas. Bisa kalian bayangkan derajat Naomi dan Luhan berbeda. Disini Naomi hanya sebagai Maid atau bahasa kasarnya adalah seorang pembantu. Sementara Luhan ? ia adalah Bos besar disini. Jadi, apa yang akan pembantu Luhan pikirkan jika Naomi duduk bersebelahan dengan Luhan ?

Melihat Naomi yang masih berdiri, Luhanpun geram dan dengan cepat, ia menarik pergelangan tangan Naomi agar duduk di sampingnya. “tidak akan ada yang melihat. Ini sudah larut” ucap Luhan ketika melihat sikap Naomi yang berubah menjadi agak canggung.

“ah ? benar” Naomi terkekeh pelan.

“apa yang akan kau lakukan ketika melihat kekasihmu selingkuh tepat di depan kedua matamu ?” tiba – tiba Luhan bertanya. Naomi yang semula sedang asik memainkan ujung bajunyapun tersentak kaget mendengar pertanyaan Luhan. Well, pertanyaan itu sepertinya sedang di alami oleh Luhan. Atau mungkin Luhan melihat Tiffany berselingkuh ? astaga, itu bukan pertanda baik.

“Apa Tiffany Unnie selingkuh ? astaga, kasihan sekali dirimu”

‘PLAKK’ Naomi berhasil mendapatkan sebuah centilan di dahinya. Siapa pelakunya ? siapa lagi kalau bukan Luhan. Centilan itu memang tak terlalu sakit, tapi rasanya cukup untuk membuat raut wajah Naomi yang awalnya ceria menjadi masam (?)

“kenapa kau melakukannya ? itukan hanya asumsiku” Naomi merajuk masih dengan tangan yang mengelus dahinya. Bibirnya yang mungilpun tak lupa ia kerucutkan.

“Seharusnya sebuah asumsi itu diikuti dengan sebuah fakta. Sementara kau ? aku tidak butuh rasa kasihan mu” Luhan mengatakan itu tanpa melihat kearah Naomi.

“baiklah. Aku mengaku salah. Maafkan aku” Luhan tersenyum miring mendengar permintaan maaf Naomi.

“sudahlah, hal sepele seperti ini tidak usah di perpanjang lagi. Sebaiknya kau menjawab pertanyaanku !” Naomi kembali mengingat pertanyaan Luhan yang tentang perselingkuhan itu. Selama beberapa saat berpikir, alis Naomi tampak berkerut. Ia berpikir seperti sedang menjawab soal Ujian Matematika yang jumlahnya tak lebih dari 50 Butir.

“Anu, itu–” mendengar suara Naomi yang muncul, Luhanpun mengarahkan pandangannya kearah Naomi.

“kurasa aku akan memutuskannya.” ‘Bingo’ jawaban itu lah yang Luhan inginkan dan dengan begitu, Luhan bisa menanyakan pertanyaan yang lainnya kepada Naomi.

“apa kau tidak berniat membalasnya ?”

“kau tau ? terkadang itu akan membuat perasaan yang lainnya terluka.” Naomi menjawab singkat dengan raut wajah seriusnya.

“maksudmu ?” Luhan terlalu sensitive dengan perumpamaan yang berbelit ini. Ia memang lebih suka di hadapkan dengan ratusan soal yang berhubungan dengan perhitungan dan rumus daripada harus menterjemahkan maksud dari sebuah perumpamaan.

“kau tau dengan permisalan ? misalnya seperti ini, kau melihat Tiffany selingkuh dan kemudian kau ingin membalasnya dengan menjadikan wanita lain sebagai bentuk pembalasanmu. Jadi, bagaimana jika wanita lain itu memang jatuh cinta kepadamu ? sementara kau sendiri hanya bermaksud untuk balas dendam. Sakit ? tentu saja. Dan kalau aku menjadi dirimu, aku pasti akan langsung memutuskan Tiffany dan tidak akan membalasnya. Cukup. Biarkan kita sendiri yang merasakan sakitnya” Naomi menjelaskan secara panjang lebar dan itu cukup untuk membuat Luhan mengerti.

“apa itu pengalaman pribadimu ?” Tanya Luhan kembali dan seketika itu juga sebuah bayangan nan menyakitkan bagi Naomi terlintas di pikirannya. Naomipun memejamkan matanya berusaha untuk menghilangkan ingatan itu. Luhan yang melihat itu langsung mengiyakan pertanyaannya yang barusan.

“hei, sudahlah. Jangan terlalu difikirkan. Apa kau tak menginginkan jawabanku ?”

“eoh ?” Naomi mendongak dan Luhanpun tersenyum kearahnya. Astaga, senyuman itu bagaikan kehangatan di tengah badai salju. Mengerikan memang kalau melihat Luhan tersenyum. Namun, Naomi tak bisa memungkiri kalau senyuman Luhan itu memang sangat indah dan menenangkan. Bak Narkoba bagi pencandunya atau permen bagi anak – anak.

“kau tak perlu memlototiku seperti itu” Luhan tertawa kecil ketika melihat tatapan Naomi yang melihatnya dengan raut wajah yang lucu.

“A ? hehe” Naomi tersadar dari lamunannya dan itu membuatnya tampak semakin bodoh. Tapi, bagi Luhan itu bukan perbuatan yang bodoh melainkan sebuah sikap lucu yang perlu di beri apresiasi.

“kau tau, setiap orang itu perlu perubahan. Begitupula denganku dan aku menginginkan hidup yang lebih baik di usia yang sudah tak muda ini”

Alis Naomi bertaut ketika mendengnar kata ‘tak muda’ keluar dari bibir seksi Luhan. “kau pikir kau sudah tua ? astaga, umurmu saja belum sampai ¼ abad.” Naomi mengingatkan dan ia kembali mendapatkan sebuah centilan di dahinya.

“Aigo~ yang ini lebih menyakitkan” rutuk Naomi seraya mengelus – elus dahinya.

“sudahlah, yang perlu kau tau. Ku lakukan ini semua hanya untuk memperbaiki hidupku dan orang yang berhasil membantuku adalah kau” Naomi tercengang. Karena dia ? hei, Luhan belum genap mengenalnya satu tahun.

“karena aku ? ke—kenapa ?” Naomi tergugup. Ia benar- benar tak habis pikir dengan apa yang Luhan lakukan ternyata karena dia. Oh ayolah, Naomi tau kalau Luhan memang kurang memiliki rasa humor. Tapi, yang ini sudah kelewat batas.

“entahlah, biasanya aku tak terlalu cepat beradaptasi dengan orang asing. Tapi untukmu ? entahlah, aku merasa nyaman denganmu” mata Naomi terbelalak kaget mendengarnya. Nyaman ? memangnya apa yang Naomi lakukan sampai – sampai Luhan merasa nyaman kepadanya ?

“leluconmu sama sekali tak berhasil” Naomi tertawa renyah. Luhan tersenyum miris mendengarnya.

“kau benar. Leluconku sangat menyedihkan. Terima kasih sudah mengingatkan” Luhan berdiri dan meninggalkan Naomi sendirian disana. Ada sedikit rasa sakit yang tersirat di hati Luhan ketika Naomi menganggapi keseriusannya dengan sebuah guyonan.

Setibanya di kamar, Luhan kembali menjatuhkan badannya di atas ranjang berukuran King Size itu. Kemudian Luhan memejamkan matanya. Ia memang dilanda dilema sekarang. di saat ia mulai mencintai seseorang, kenapa seseorang tersebut harus menanggapinya dengan sebuah tawaan ? apa Luhan salah telah mulai berpaling dari Tiffany ? Apa orang yang Luhan cintai itu merupakan orang yang salah ?

Entahlah, Luhan masih belum bisa mengkonfirmasi perasaannya yang berkecamuk sekarang.

~~~~~

Naomi yang melihat Luhan pergipun hanya terdiam. Setelah melihat siluet Luhan menghilang di balik pintu, Naomipun mulai memeluk kedua kakinya. Ia tau kesalahannya dan itu ia lakukan dengan sengaja.

“maafkan aku. Aku tak pantas mendapatkan cintamu. Aku terlalu Hina” Naomi menangis. Hatinya benar – benar sakit sekarang. sebenarnya Naomi tau Luhan serius, namun beberapa saat yang lalu, perkataan Jiyeon tempo hari kembali terngiang di otaknya.

Untuk beberapa saat Naomi memang ragu tentang apa yang harus ia pilih. Namun sekarang ia yakin, ia harus memilih kuliahnya daripada perasaannya. Sakit memang jika harus melepaskan perasaan hangat itu. Namun apa daya, hanya dua pilihan yang Jiyeon berikan dan salah satunya pasti akan menyakitkan perasaannya.

~~~~~

Pagi kembali datang. Matahari yang beringsut untuk duduk di tahtanyapun telah membuat seorang gadis berumur 18 tahun itu terbangun dari tidur nyenyaknya. Setelah bangun, gadis itu langsung berjalan menuju kamar mandinya sekedar untuk membasuh wajah lusuhnya.

Setelah membasuh wajahnya, Naomi berjalan keluar dari kamarnya. Ketika Naomi hendak melakukan aktivitas kesehariannya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Luhan. Naomi bernia untuk menyapa Luhan tapi raut wajah Luhan sangat tidak mengenakkan pagi ini dan itu membuat Naomi mengurungkan niatnya.

‘semuanya baru saja dimulai’ gumam Naomi dan kembali masuk ke kamarnya.

~~~~~

Tak banyak yang Naomi lakukan dari pagi hingga malam hari. Selama kurang lebih 12 jam ia hanya berada di dalam rumah Luhan. Ia memang tak berdiam diri, terkadang ia membantu para pembantu Luhan. Entah itu mencuci piring, Menyapu halaman, membersihkan kamar Luhan atau lainnya.semua ia lakukan untuk menghilangkan rasa bosannya.

Yang semakin Naomi herankan adalah, kemana perginya bocah tengik nan lebay itu. Yap, siapa lagi kalau bukan OH SEHOON. Sejak pagi Naomi belum melihat siluet tinggi nan tirus itu. Apa dia punya acara ? entahlah dan Naomi tidak ingin ambil pusing dengan kemana perginya bocah itu. Selama ia tak melakukan hal negative, Naomi rasa ia tak perlu mengkhawatirkannya.

Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan ringan, Naomipun merasa letih. Ia menyempatkan diri untuk duduk di sebuah kursi santai yang ada di halaman belakang Luhan. Seraya memainkan kursi itu, pikiran Naomi kembali melayang tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Menjauhkan diri dari Luhan ? sedang ia laksanakan sekarang. Menjauhkan Minrae dengan Chanyeol ? oh ayolah, mereka pasangan yang serasi. Bisa kalian bayangkan, betapa teganya Naomi jika ia benar – benar melakukan itu.

Naomipun mengerang frustasi. Ia benar – benar bisa gila dibuatnya. Untuk menjauh dari Luhan saja telah menimbulkan rasa sakit yang teramat di hatinya dan sekarang ? ia harus memisahkan jalinan cinta sahabatnya sendiri ? Oh ayolah. Naomi bisa dikatakan Monster jika melakukan itu.

~~~~~

‘KRINGG KRINGG’

Naomi masuk ke dalam café tempat ia bekerja dan langsung menukar seragamnya. Minrae yang telah dahulu datang hanya menatap Naomi. wajah Naomi yang terlihat tak tenangpun tertangkap oleh indera penglihatan Minrae.

Setelah Naomi keluar dari ruang ganti, Minraepun langsung bertanya tentang keadaan Naomi.

“kau tidak masuk hari ini. Apa ada yang salah ?” ujar Minrae sementara Naomi masih diam.

“kau kenapa ?” Naomi mendongak dan ia dapat melihat Minrae. Bukannya menjawab, Naomi hanya berlalu dan membersihkan meja nomor 5. Minrae yang melihat itu heran dan kembali bertanya.

“apa yang terjadi ?” lagi – lagi Naomi mengabaikan Minrae. Karena gemas melihatnya, Minraepun merajuk dan kembali melakukan tugasnya.

Melihat Minrae menjauh, Naomipun menghela nafasnya. Ingin sekali rasanya bagi Naomi untuk menceritakan semuanya kepada Minrae. Namun, ia tak tau harus memulai darimana. Semuanya sungguh rumit, sampai – sampai Naomi tak tau awal dari kejadian ini.

2 Jam berlalu.

Naomi dan Minrae masih larut dalam keadaan diam. Sampai pada akhirnya Chanyeol datang dan membuat keadaan sedikit mencair.

“kau tidak perlu bekerja terlalu keras. Kesehatanmu belum 100% kembali” ujar Chanyeol yang langsung mengambil tempat duduk. Minrae yang mendengar ocehan Chanyeol hanya mengangguk singkat. Karena jumlah pengunjung yang tak seberapa, Minraepun mengambil tempat duduk yang ada di sebelah Chanyeol.

“kau datang disaat yang tak tepat” Minraepun menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya. Melihat tingkah lucu Minrae, Chanyeolpun mencubit hidung mungil Minrae. Minrae semakin marah dan iapun memukul badan Chanyeol.

“YA! Shin Naomi. apa yang terjadi dengan sahabatmu ?” kebetulan sekali Naomi lewat di hadapan Chanyeol dan Minrae. Naomi melihat sekilas kearah Chanyeol dan kembali berjalan mengantarkan setumpuk piring kotor untuk dicuci.

Chanyeol heran. “dia kenapa ?” Tanya Chnyeol dan Minraepun menggeleng.

“aku yakin pasti ada sesuatu” Chanyeol berlagak layaknya detektiv dan lagi – lagi ia mendapatkan sebuah pukulan telak diperutnya.

“kenapa kau hobi sekali mendramatisir keadaan ?” Chanyeol terkekeh pelan melihat pacarnya kembali merajuk.

“YA! Shin Naomi. ayo kesini” ajak Chanyeol ketika melihat Naomi kembali lewat dihadapannya.

“Maaf sunbae, aku sedang sibuk” ucap Naomi datar.

Minrae yang melihat respond Naomi seperti itu semakin geram. Dengan cepat, ia berjalan kearah Naomi dan langsung menarik tangan Naomi. dengan paksaan juga, Minrae mendudukkan Naomi di kursi yang berada di depannya dan Chanyeol.

“aku memang tak mengenalmu dengan jauh. Tapi, untuk yang satu ini aku ingin tau. Apa yang sebenarnya terjadi” ucap Minrae dengan raut wajah seriusnya. Naomi yang takut melihat wajah Minrae dan Chanyeolpun hanya bisa menunduk.

“apa kau mau berbagi ?” Chanyeol bertanya dengan lembut. Namun, Naomi masih belum mau mengangkat kepalanya.

“jangan seperti ini. kumohon” pinta Minrae. Akhirnya Naomi menegakkan kepalanya dan sekarang dengan jelas Naomi bisa melihat bulir – bulir air mata Minrae telah jatuh. Naomi merasa bersalah dan langsung menghentikan aliran sungai yang tercipta di wajah mulus Minrae.

“jangan menangis” melihat Minrae yang menangis, Naomipun juga ikut menangis.

“aku akan berhenti. Tapi, maukah kau menceritakan semuanya ?” Naomi mengangguk. Kemudian ia menghela sedikit nafasnya sebelum memulai cerita menyedihkan yang titik awalnya tak Naomi ketahui.

“aku terlibat sebuah perjanjian dengan Jiyeon” tutur Naomi dengan nada yang bergetar. Tangisnya belum sepenuhnya mereda.

“jadi ? apa itu yang membuat sikapmu berubah ? apa perjanjian itu juga yang membuatmu membolos hari ini ?” pertanyaan bertubi – tubi Minrae hanya Naomi tanggapi dengan sebuah anggukan. Minraepun geram.

“apa isi perjanjian kalian ? dan apa sangkut pautnya dengan kehidupanmu ?” Naomi berfikir beberapa saat. Ia masih ragu untuk menceritakannya kepada Minrae. Mencoba untuk Berbohong ? oh, ini bukanlah situasi yang tepat untuk berbohong.

Entah untuk ke berapa kalinya, Naomi kembali menghela napasnya. “dua hari yang lalu, aku tak sengaja menampar pipi anak kepala yayasan dan beginilah jadinya. Aku terkena skorsing selama 2 bulan” air mata Naomi kembali menetes ketika mengingat kejadian nan menyakitkan itu. Minrae dan Chanyeol yang mendengarpun hanya bisa tercengang dibuatnya.

“ba—bagaimana bisa ? aku tau, kau bukan orang yang suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Tapi, kenapa kau lakukan itu ?” Tanya Minrae dan Chanyeolpun mengiyakan pertanyaan Minrae.

“sulit bagiku untuk menahan amarahku saat itu. Kau bisa bayangkan, betapa marahnya aku ketika sahabatku sendiri dikatakan wanita Jalang” mata Minrae melotot mendengarnya.

“wanita jalang ? apa yang dia maksud itu aku ?” Minrae kembali bertanya seraya menunjuk dirinya. Naomipun kembali mengangguk pelan.

“awas saja gadis itu. Berani – beraninya dia mengatakan malaikatku sebagai wanita jalang” Chanyeol yang sudah tak tahan menahan suaranyapun akhirnya mengeluarkan suaranya. Minrae yang melihat respond Chanyeolpun tertawa kecil.

“jadi, kau terlibat perjanjian apa ?”

“apa aku harus menceritakannya ?” Minrae mengangguk.

“Jiyeon dan anak kepala yayasan itu berjanji akan menghilangkan skorsingku dengan dua syarat” Naomi menjelaskan seraya memainkan ujung bajunya.

“jadi, apa persyaratannya ?”

“yang pertama, aku harus menjauhi Luhan” mata Minrae terbelalak kaget mendengarnya. Menjauhkan Luhan dan Naomi ? hei, mereka tinggal satu atap. Bagaimana caranya ?

“bagaimana dengan syarat yang kedua ?” alis Naomi bertaut ketika mendengar pertanyaan Chanyeol.

“yang ini lebih mengerikan” ujar Naomi.

“apa dia menyuruhmu untuk bunuh diri ?” Tanya Minrae.

“tentu saja tidak. Jiyeon menyuruhku untuk membuat kalian berdua ber—pisah” Naomi terbata ketika mengatakan kata terpisah. Minrae dan Chanyeolpun kembali terbelalak kaget mendengarnya. Bahkan ekspresi yang mereka berdua perlihatkan sama.

“itulah yang membuatku semakin terpuruk. Dua persyaratan itu membuat batinku tersiksa. Andai ancamannya bukan skorsing, aku pasti tak akan melakukannya. Tapi, kepala yayasan masih saja bersikukuh tak mau meringankan hukumanku”

“tenanglah. Persyaratan kedua telah berhasil kau penuhi” Naomi mendongak ketika mendengar ucapan Chanyeol.

“Ye ? ah~ tidak – tidak. Kalian tidak perlu melakukan hal gila seperti itu. Aku tau dengan perasaan kalian masing – masing” Naomi menolak.

“hei, tenanglah. Jiyeon tak ada disini. Besok di kampus, kami akan membuat sebuah drama Klise pertengkaran yang akan membuat Jiyeon percaya”

“benarkah ? kalian tidak benar – benar putus, bukan ?” Minrae dan Chanyeol menggeleng serempak. Senyum bahagiapun tercetak di wajah Naomi. dengan cepat, ia memeluk dua sejoli yang sedang kasmaran itu.

“terima kasih. Kalian memang yang terbaik”

“tapi, kurasa Jiyeon tak sebodoh itu. Ia pasti akan benar – benar mencari tau kebenarannya” ujar Chanyeol.

“kita tinggal berjauhan selama beberapa hari atau beberapa minggu. Apa itu susah ?” Chanyeol mengerutkan alisnya.

“kau pikir itu mudah ?”

“hei, kita curi saja beberapa kesempatan dan yang terpenting, kita hanya perlu memikirkan bagaimana caranya Naomi bisa menjauhi Luhan” Chanyeol dan Naomipun mengangguk ketika mendengar asumsi Minrae.

“kau benar. Itu akan terasa sangat sulit bagiku” rutuk Naomi seraya menidurkan kepalanya di atas meja.

“sulit ? tunggu, apa kau sedang terkena virus cinta ? kepada Luhan ?” Tanya Minrae dan itu cukup menimbulkan detakan yang kuat di Jantung Naomi.

“a—aku….”

_To Be Continued_

Big Thank’s untuk semuanya yang udah memberikan komentar di chapter sebelumnya ^^

Maaf kalau saya tidak balas satupun -_- itu gegara saya gak bisa lama – lama di depan NB dan Ibu saya juga melarang keras itu >.<

Plus, FF ini juga terancam kelanjutannya -_-

Kenapa ? ya, itu gegara Ibu saya bilang kalo saya terlalu lama di depan NB, nanti NB saya disita -_-

Terlepas dari itu semua, saya juga kecewa dengan beberapa reader saya >.<

Jadi gini, banyak pengunjung yang lihat ini ff bikin saya tercengang dan berbanding terbalik dengan jumlah komentar yang gak sampai ¼ nya -_-

Miris, bukan ?

Dan oleh karena itu, sekarang saya berada di posisi Mood paling bawah -_-

Ya sudahlah, mungkin cara penulisan saya masih jauh dari kata bagus dan typonya juga gak bisa dikatakan sedikit, tapi sebaiknya teman – teman semua mau membantu Mood saya naik dengan memberikan komentar apapun ^^

Well, itu dulu cerita saya..

Maaf kalau bikin mata kalian sakit, tapi ini serius Lhoh..

Sumpah, saya merasa miris banget gegara ini -_-

Last sentences :

‘Keep Comment because all Author like that😀’

Baekhyun, Chen ama Xiumin aja ngelarang kita untuk jadi Sider >.<

asa

 

<3  Love You All❤

 

144 thoughts on “I AM YOUR MAID (Chapter 11)

  1. Keren banget!
    Chanyeol-minrae baik banget sih….
    Cowok di cafe tuh siapa???
    And sehun ngilang kemana?!
    Next! Penasaran bingit><! Keep writing!!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s