Milargo del Amor – Chapter 1

poster mda

Milargo del Amor – Chapter 1

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Other Cast :

  • Kim Jongin |Do Kyungsoo |Oh Sehun |Park Chanyeol
  • Kris Wu | Kim Jun Myeon
  • Stepmother | Jung Soo Jung |Jung Soo yeon

Rating : PG-15

Genre : Romance, friendship.

Length : Chapter

Note : Enjoy! Do not copycat without my permission!

Link: Prolog

***

Minri sangat suka fairy tale. Dia memimpikan suatu saat ia bertemu dengan pangeran impiannya. Dan punya kehidupan yang bahagia. Kedengarannya cukup kekanak-kanakan. Tapi Minri bukan anak-anak. Dia seorang gadis dua puluh tahun.

Minri ingin seperti putri tidur yang akan bangun jika pangeran–cinta sejatinya menciumnya. Minri akan melakukannya pada suaminya kelak saat pagi hari.

Minri ingin seperti putri salju, yang juga bangun karena pangerannya.

Dan yang terpenting, mereka hidup bahagia.

Minri!!! Dimana kau letakkan sepatuku?!”

Tapi kalau boleh jujur, kehidupan Minri sangat jauh dari fairy tale. Yah walaupun Minri tidak butuh kekuatan sihir. Tapi dia ingin sebuah keajaiban.

Park Minri!! Bajuku sudah kau setrika belum??

Jika setiap pagi tuan putri akan bangun dengan cantik, burung-burung berkicau indah, dan matahati menyapanya hangat, maka Minri akan bangun dengan rambut super berantakan dan teriakan nenek-nenek sihir. Sebenarnya mereka sama sekali tidak berwujud nenek sihir, karena Minri akui mereka memang cantik. Ada beberapa alasan yang Minri punya untuk menyebut mereka nenek sihir, tapi tentu saja bukan karena mereka memegang sapu.

Minri cepatlah bangun, kami butuh sarapan!

Minri sangat suka fairy tale, tapi dia benci jadi Cinderella!

Minri menarik selimutnya lebih tinggi hingga seluruh badannya tertutupi. Tapi kemudian teriakan-teriakan mengganggu itu kembali terdengar, kali ini lebih nyaring membuat Minri terkejut dan duduk dengan tiba-tiba. Kepalanya sedikit pening karena hal ini.

Minri beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri dengan mata yang masih terpejam. Oh sungguh, ini masih pagi dan Minri baru bisa terlelap pukul 3 pagi (salahkan tugas-tugas kuliahnya yang mengerikan itu.)

Minri membuka matanya dan mulai berjalan menuju pintu kamarnya. Ia masih cukup waras untuk tidak membuat kepalanya terbentur karena salahnya sendiri. Dan ia membukanya. Sambutan hangat–bukan-sambutan membara dari ibu dan kakak tirinya menjadi pembuka hari itu.

Mereka bertiga berdiri dengan melipat tangan di depan dada, sama persis. Sementara Minri memasang wajah amnesia dan ingin berkata aku dimana? Aku siapa?

Tapi tidak. Minri memilih tersenyum konyol sambil berkata, “Selamat pagi!!”

Dan jitakan di kepala dari kakak sulungnya–Soo Yeon adalah jawaban atas sapaan selamat paginya.

Dan rumah itu kembali normal. Semua tampak sibuk.

Sebenarnya hanya Minri yang bisa dikatakan sibuk dalam arti sebenarnya.

Soo Yeon, kakak tertua sibuk berdandan, memoles wajahnya dengan bedak dan terus menambahkannya membuat wajahnya putihnya seperti tertumpah tepung sana-sini. Soo Yeon memang sudah cantik, tapi ia terus menghiasi wajahnya dengan peralatan make-up lengkap memenuhi meja riasnya.

Mungkin Minri bisa membuangnya secara diam-diam nanti. Atau mungkin tidak.

Soo Jung sibuk memilah baju untuk kuliahnya. Menghamburkannya di kasur dan mencoba yang manapun ia suka. Ia bilang akan memakai baju dengan warna sesuai dengan suasana hatinya. Demi Tuhan! Soo Jung hanya ingin pergi kuliah, bukan berkencan atau menjadi model peragaan busana. Yang menjengkelkan adalah Minri yang harus merapikan itu semua nanti!

Ibunya, ah Minri tidak ingin memanggil wanita itu ibu (dan wanita itu juga tidak ingin Minri memanggilnya ibu), sedang duduk di meja makan sambil menyomot sarapan rotinya dengan dagu yang di angkat ke atas. Lipstick berwarna merah tajam dan bulu mata tebal. Tipikal ibu-ibu genit.

Sementara Minri…

Sibuk kesana kemari seperti setrika panas. Kadang tersandung kakinya sendiri karena gerakannya terlalu cepat. Dia punya keseimbangan yang buruk dengan tubuhnya tapi untunglah ia tidak memecahkan gelas atau terpeleset, dan itu mungkin bisa jadi masalah baru. Dan dia bisa di omeli habis-habisan sampai telinganya berdengung.

Sambil membuatkan teh hangat manis dengan satu sendok gula di tambah satu sendok susu, minuman Soo Jung setiap pagi dan Minri tidak boleh sampai salah membuatnya–Minri melirik jam dinding. Masih ada dua jam lagi sebelum ia ada kelas. Mungkin ia bisa menyambung tidurnya selama beberapa puluh menit.

“Minri, bersihkan kaca jendela kamarku. Aku tidak bisa melihat wajah tampan Jun Myeon dengan jelas saat ia keluar dari rumahnya.”

“Ya Eonni! Jun Myeon milikku!” sahut Soo Jung.

“Dia milikku!”

“Aku yang lebih dulu tertarik padanya!”

Dan kedua bersaudara itu saling melempar tatapan kesal. Seperti kucing yang sedang memperebutkan tulang ikan. Bukan, Jun Myeon bukan tulang ikan. Jun Myeon hanya tetangga seberang rumah yang kaya (daerah tempat tinggal mereka memang untuk orang kaya), dan mungkin tampan. Entahlah, Minri tidak memperhatikan.

“Kalian berdua, selesaikan sarapan kalian dan cepat berangkat. Aku tidak ingin mendengar dari dosen kalian bahwa kalian membolos.”

Dan ucapan dari ibu kandung mereka itu sukses membuat mereka berdua bungkam dan menghabiskan sarapan. Lalu berangkat.

“Aku pergi dulu, Mom.”

Wanita itu menerima kecupan di kedua belah pipinya dari dua orang putrinya sebelum kedua putri kesayanganya itu pergi ke kampus dengan mengendarai satu mobil. Kalau mereka bertengkar lagi, Minri harap mereka akan saling melemparkan ke luar mobil satu sama lain.

Tapi itu tidak akan terjadi.

“Minri, bersihkan meja ini. Setelah itu kau rapikan kamar Soo Jung dan jangan lupa bersihkan kaca seperti yang dikatakan Soo Yeon tadi. Aku akan pergi keluar sebentar.”

Pupus sudah harapan Minri untuk menyambung tidurnya selama beberapa puluh menit.

Eh,apakah tadi pendengaran Minri benar bahwa wanita itu akan pergi keluar?

Mungkin Minri bisa menunda pekerjaannya dan mengerjakannya nanti saat pulang kuliah. Berharap saja wanita itu terlalu asik belanja lalu melupakan segalanya, atau bahkan lupa pulang ke rumah. Kemungkinan kedua kedengarannya lebih menyenangkan.

***

“Kau melompat tembok lagi?” tanya Jongin sembari menyingkirkan dedaunan yang menempel di rambut Minri.

“Ya, aku tidak menyangka wanita itu mengunci gerbang utama. Apakah dia pikir aku tawanan rumah? Aku bahkan perlu kuliah. Apa dia tidak takut uangnya terbuang sia-sia karena bayaran kuliahku…” Minri mengomel sepanjang jalan dan Jongin mendengarkannya dengan baik. Jongin teman yang baik juga pendengar yang baik.

Dia dan Jongin teman satu kampus. Jongin cukup tampan–Minri rasa itu menjadi salah satu alasan para gadis mengerjarnya. Tubuhnya bagus (Jongin sering berolahraga). Jongin berasal dari keluarga yang berada.

Dan Jongin hampir-selalu-terlihat bahagia. Minri juga, tapi dulu sebelum para nenek sihir itu datang dan sebelum ayahnya meninggal. Kalau diceritakan mungkin ini akan menjadi kisah sedih yang berderai air mata.

Tapi tidak.

Minri tidak perlu mengungkapkan kisah sedihnya. Semua terlalu jelas disini. Fairy tale berubah menjadi mimpi buruk.

“Hey kkamjong, tangkap!”

Perkenalkan, yang baru saja melempar Jongin dengan bola basket, namanya Oh Sehun. Jongin punya gerakan refleks yang bagus. Ia bahkan pandai bermain basket. Dan permohonan Sehun terkabul, Jongin menangkap bola basketnya dan melemparkan lagi ke tengah lapangan, hampir mengenai kepala Chanyeol yang sedang duduk di tepi lapangan bersama dengan gitarnya.

Tak ada pelajaran wajib olahraga di perkuliahan. Mereka melakukannya hanya untuk senang-senang. Atau mungkin menarik perhatian para gadis. Mereka akan berkeringat, menambah kesan seksi. Tapi Minri justru memprotes dan mengatakan mereka bau keringat.

Jongin dan Sehun sama saja. Mereka suka menggoda para gadis.

Chanyeol lebih senang bermain dengan gitarnya. Chanyeol juga tampan, humoris tapi dia sayang pada gitarnya. Menikah saja kau dengan gitarmu! Minri menyumpah.

Minri duduk di bawah pohon rindang bersama Jongin, mereka tidak hanya berdua. Ada Kyung-Soo yang baru datang membawa bekal yang ia buat sendiri di rumah dan ia tidak pelit untuk membagi makanan itu pada teman-temannya.

Demi apapun Minri butuh sosok pangeran disini!

***

“Hey bung, aku undang kalian ke pesta ulang tahunku. Disana akan banyak gadis cantik.”

Kali ini seorang pria tinggi, hampir menyamai Chanyeol, menghampiri perkumpulan aneh (Sebut saja Minri terlalu jahat menamai kelompoknya perkumpulan aneh). Pria itu berambut pirang yang membingkai wajah berdarah campurannya.

Tampan sih. Dia juga cocok jadi pangeran. Tapi sayang bukan tipe Minri. Minri lebih suka yang berwajah manis dengan senyum menawan.

“Kau juga boleh datang, Minri.”

“Terimakasih Kris.” Minri tersenyum pendek. Lalu melanjutkan kegiatannya memakan bekal Kyung Soo.

Bukannya dia tidak berminat datang ke pesta itu. Tapi rasanya akan sulit keluar rumah mengingat para nenek sihir itu akan memintanya mengerjakan ini-itu.

“Hai Kris.”

“Uhhuk.”

Baru saja Minri membicarakan nenek sihir itu di kepalanya, tiba-tiba saja terdengar suara Soo Yeon, membuat Minri seketika tersedak. Kyung Soo menepuk pelan punggung Minri. Sementara teman-teman anehnya, menatap Seo Yeon lekat-lekat seakan wanita itu adalah kue terenak di dunia.

Dasar pria!

“Hai manis,” goda Kris. Soo Yeon tampak tersipu-sipu tapi tetap berusaha mempertahankan wajah dinginnya.

Minri menunduk, tidak ingin melihat Soo Yeon. Lagipula sudah ada peraturan yang dibuat saudara tirinya itu, yaitu menganggap tidak saling kenal saat di luar rumah. Siapa juga yang mau mengakuinya sebagai saudara, gerutu Minri dalam hati.

Minri ingin menyibukkan diri dengan memakan bekal Kyung Soo lagi. Tapi sayangnya tidak ada makanan yang tersisa. Sekarang apa yang harus dilakukannya? Mendengarkan Kris merayu Soo Yeon? Yang benar saja!

“Soo Yeon, aku mengundangmu ke pesta ulang tahunku. Kalau kau berkenan.”

“Kau juga mengundang Jun Myeon kan?” tanya Soo Yeon sembari mengibaskan rambutnya.

“Si pendek itu??” Kris tampak tidak rela saat Soo Yeon menyebut-nyebut nama Jun Myeon.

“Namanya Jun Myeon.” Soo Yeon melipat tangannya di depan dada. “Kalau kau tidak mengundangnya, berarti aku tidak datang.”

“Oke. Oke. Aku akan mengundang si pendek itu untuk jadi penyangga meja kue tart-ku.”

Chanyeol menyemburkan tawanya. Lalu Jongin memukul kepalanya. Chanyeol mengusap kepalanya dengan tangan dan dia hampir balas dendam memukul Jongin dengan gitar kesayangannya. Tapi Chanyeol mengurungkan niatnya–gitar itu terlalu berharga untuk sekedar memukul kepala batu si Jongin.

“Jangan sembarangan, Kris.”

Soo Yeon berlalu. Kris dan Soo Yeon dulu pernah menjalin hubungan. Entah karena alasan apa Kris menjadi sedikit takut pada wanita itu.

“Ayo pergi. Kita ada kelas.”

Sehun beranjak lebih dulu. Lalu disusul oleh yang lain.

Minri tidak punya teman wanita. Baginya semua wanita disana sama saja. Mereka datang ke kampus hanya untuk memamerkan kecantikan, memamerkan pakaian bermerk terkenal yang mereka beli di luar negeri, memamerkan kekasih mereka yang–menurut mereka sendiri –tampan.

Mungkin ada beberapa yang baik. Tapi Minri tidak bisa berteman terlalu dekat. Semua rahasianya bisa terbongkar, rahasia dimana dia dijadikan budak di rumahnya sendiri. Demi Tuhan! Itu adalah hal yang paling memalukan.

Lagipula Minri sudah merasa nyaman berteman dengan teman-teman anehnya. Mereka manis, walaupun terkadang menyebalkan.

***

“Aku pulaaang…”

Minri melepaskan sepatunya lantas berjalan menuju kamar. Tapi langkahnya terhenti ketika ibu tirinya memanggilnya dengan nada yang sangat menakutkan.

Minri memukul kepalanya dengan tangannya sambil merutuk dirinya, mengatakan bodoh berkali-kali dalam hati. Dia pulang terlambat kali ini. Dan ini semua karena teman-temannya mengajaknya makan es krim bersama. Minri tidak bisa menolak yang namanya es krim!

Sekarang Minri seperti dalam mode pause. Berdiri di tengah anakan tangga seperti manekin. Dan suara langkah kaki yang terus mendekat membuatnya merasa keringat dingin mulai muncul.

Nenek sihir enyahlah kau!

“Mengapa kau keluar rumah?! Bukannya sudah ku katakan kau menyelesaikan semua pekerjaan rumah?” ibu tirinya berdiri di belakang Minri. Kemudian wanita itu menaiki dua anak tangga lagi agar dia berdiri di depan Minri yang tak kunjung membalikkan badannya.

“Itu… aku…”

“Kau dihukum! Tidak boleh makan, malam ini.”

Malam ini kan acara ulang tahun Kris. Aku bisa pergi makan disana. Tapi itupun kalau aku bisa pergi.

“Kau dengar tidak?” Minri terkesiap saat ibu tirinya berteriak di depan wajahnya. Untung saja Minri bisa mempertahankan kakinya agar tetap berdiri. Kalau tidak, bisa-bisa dia terguling di tangga. Lalu amnesia, patah tulang, berdarah sana-sini. Euh! Itu terlalu mengerikan.

“Ya… aku mengerti.”

Ibu tirinya mengibaskan rambut lantas berlalu di depan Minri. Minri sempat bersin karena hal itu. kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju kamar dengan langkah gontai.

Aku bisa mati. Aku bisa mati.

Pikiran Minri sibuk memikirkan kesengsaraan yang dia akan dapat jika dia tidak makan malam ini. Sebenarnya dia tidak akan langsung mati jika aktivitasnya hanya menghitung jumlah koleksi alat make up–seperti yang sering dilakukan Soo Yeon atau menghitung pakaian merk Gucci, Guess, LV dan lain-lain seperti Soo Jung. Masalahnya, Minri harus bekerja ini-itu. Mana mungkin dia bisa bekerja dengan benar kalau tidak punya tenaga.

Dan hari ini. Pagi hari perutnya hanya diisi oleh bekal yang dibawa Kyung Soo–sandwich. Siang hari dia hanya makan es krim bersama teman-temannya. Demi kulit Jongin yang menjadi putih, Minri butuh asupan nasi!

Minri hampir mencapai kamarnya, tapi pintu kamar Soo Jung yang sedikit terbuka menarik perhatiannya. Dia mengintip sedikit.

Ada Soo Yeon disana.

Mereka berdua menungging menatap ke luar jendela. Terkadang saling mendorong. Lalu meneriaki satu sama lain. Dan beberapa kali menyebut “Jun Myeon milikku! Jun Myeon milikku! Enyah kau jelek!”

Sepertinya Minri tahu apa yang dilakukan dua gadis itu. Mengintip Jun Myeon. Ups! Minri lupa membersihkan kaca jendela kamar Soo Yeon. Tapi sebenarnya Soo Yeon berlebihan, kaca jendelanya tidak berdebu, hanya saja kurang cemerlang.

Aku harus segera masuk kamar sebelum Soo Yeon me–

“Yak Minri!”

–manggilku.

“Kau tidak membersihkan kaca jendelaku.” Soo Yeon menghampiri Minri yang berada di luar pintu. Sementara Soo Jung mengendikkan bahu dan kembali menatap ke luar jendela.

“Aku ada kuliah pagi. Sorry.”

Blam!

Soo Jung menutup pintu kamarnya dengan keras.

“Ya Soo Jung!!!”

Minri pikir pita suara Soo Yeon sangat kuat. Dia tidak pernah terserang gangguan tenggorokkan walaupun setiap hari berteriak.

“Jangan mengomeli ‘debu’ itu di depan kamarku! Berisik.”

Debu? Apakah yang Soo Jung maksud debu itu adalah aku? Heol.

Soo Yeon memutar bola matanya. Merasa kesal. Kemudian dia kembali menatap Minri dengan tajam. Dan dengan kedua tangan yang bersedekap di dada. Minri merasa mengecil, mengecil dan mengecil lagi. Kapan Minri punya keberanian untuk meneriaki nenek-nenek sihir itu balik? Sepertinya sulit, mengingat Minri tidak akan punya tempat tinggal lain kalau mereka mengusirnya.

Well, lakukan malam ini. Karena aku akan pergi ke pesta Kris.”

Minri benar-benar mati. Dia tidak punya kesempatan untuk makan malam ini. Oh ibu di surga tolong Minri.

“Apa kau di undang ke pesta itu juga?” tanya Soo Yeon saat ia ingin masuk ke dalam kamarnya.

“Ku pikir–ya. Aku di undang.”

“Kalau begitu kau tidak boleh datang!”

Lengkap! Nenek sihir itu sudah memperingatkannya. Dan itu artinya dia tidak boleh muncul di pesta itu. Sial! Sial!

***

Minri berdiri di depan pintu rumahnya dengan memegang sapu dan kain pel yang tergantung di bahunya. Menatap kepergian kedua saudara tirinya yang sudah berdandan seperti putri. Gaun cantik dengan kerlap-kerlip, rambut indah dan make up.

Seperti ada perbatasan yang tidak kasat mata-yang berada di depan Minri membuat dunianya berbeda dengan kakak-kakak tirinya itu. Mereka putri dan Minri hanya seorang budak bagi mereka. Done.

Kapan sosok pangeran muncul menjemputnya? Mengeluarkannya dari situasi yang menyedihkan ini?

“Hey! Kalau kau hanya berdiri di depan sana. Pekerjaan rumah ini tidak akan pernah selesai.” Ibu tirinya berteriak dari ruang tamu. Wanita itu sedang menonton televisi, serial kesukaannya. “Dasar tidak berguna!” gumam wanita itu.

Minri masuk ke dalam dengan langkah yang sama sekali tidak bertenaga. Sesekali dia menyapu lantai. Tapi dia lebih banyak melamun. Minri bukan orang yang lemah. Dia bisa saja meninju wajah kedua saudara tirinya atau ibu tirinya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Surat tanah dan kepemilikan rumah ada pada nenek-sihir-tua-sialan itu.

Minri mungkin bisa hidup tenang. Setelah dia merebut kembali surat-surat itu. Tiba-tiba Minri berpikir ingin melakukannya sungguhan.

Kriiing!

Minri terlonjak dari tempatnya saat ponsel di saku celananya berbunyi. Dia merogoh saku celananya. Sesaat menatap layar–panggilan dari Jongin–lalu mengangkatnya.

“Ada apa Jongin?” bisik Minri sambil sesekali melirik waspada ibunya yang sibuk mengganti channel televisi ketika serial dramanya sedang menampilkan film commercial.

Kau sudah siap? Aku sedang dalam perjalanan bersama Sehun menuju rumahmu…

“Sebentar. Ya–pesta.” Minri memukul kepalanya dengan pelan. Minri lupa memberitahu Jongin kalau dia tidak bisa pergi. Dan kalau Jongin menjemput Minri… Gawat! Ibu tirinya pasti akan bertanya macam-macam. Andwae! “Jongin. Aku tidak bisa pergi.”

APA?!

Minri menjauhkan telinganya dari ponsel ketika suara Jongin meledak seperti nuklir. Telinganya sedikit berdengung karena hal ini.

Ckiiit!

Jongin awaaaas!! Kau mau kita mati ya!!” kali ini terdengar suara Sehun yang sedang memaki Jongin. Harusnya Sehun yang menyetir, pikir Minri.

Miawww! Suara hewan manis berbulu juga terdengar di seberang sana.

“Kucing sialan!” gerutu Jongin sebelum dia kembali bicara pada Minri. “Minri–tapi kenapa?”

“Jangan tanya mengapa karena kau sudah tahu aku hidup diantara para nenek sihir, Jongin!” ups Minri menepuk pelan mulutnya. Dia sudah bicara terlalu keras. Sebaiknya dia masuk ke dalam kamarnya sekarang.

“Aku sudah selesai, madam.”

Ibu tirinya tampak tidak peduli. Dia hanya melirik Minri sekilas lalu melanjutkan kegiatannya. Sementara Minri melesat cepat menuju kamarnya, masih dengan memegang sapu dan kain pel yang menggantung di bahu.

Segera, setelah sampai dalam kamarnya. Dia mengunci pintu. Lalu bicara pada Jongin lagi.

“Aku tidak bisa keluar dari sini. Soo Yeon sudah memperingatkanku agar tidak datang ke pesta itu.”

Aku tetap akan menjemputmu,” ucap Jongin, final. “Demi Tuhan! Kau harus menemukan sesorang yang bisa melindungimu dan mengeluarkanmu dari situasi mengerikan dalam rumahmu, teman.” Jongin terdengar gemas di seberang sana.

Itu juga yang ku inginkan Jongin.

Akan banyak sekali yang datang–aku yakin Kris mengundang seluruh warga kampus. Bahkan satpam, ibu kantin, dan tukang sapu sekalipun. Jadi kau tidak perlu takut terlihat oleh saudara-saudara tirimu itu.

Jongin, tak usah banyak bicara. Jemput saja.” Sehun bicara lagi.

“Tap-tapi Jongin, aku punya satu masalah lagi.”

***

“Ku bilang juga apa. Kau ahli dalam hal melarikan diri. Kau membawa yang ku minta ‘kan?”

“Ya–dengan segala perjuangan.”

Jongin melesatkan mobilnya di jalan saat Minri sudah berhasil masuk ke dalam Audi hitam milik Jongin. Minri tidak memakai gaun pesta. Juga tidak berdandan. Itulah masalah yang dimaksud Minri. Dia tidak punya gaun yang bagus untuk pergi ke pesta mewah semacam itu.

Minri bisa keluar dari rumahnya dengan cara memanjat jendela kamarnya, lalu mengendap-ngendap dan terakhir memanjat tembok–lagi. Beruntung tidak ada yang melihatnya, karena jika ada, maka Minri akan di tuduh sebagai pencuri. Dan itu akan menjadi hal yang sangat konyol ketika orang tahu bahwa Minri memanjat tembok rumahnya sendiri!

“Kau akan membawaku kemana, Jongin? Ku pikir kita tidak akan sempat pergi ke Salon.”

Minri menatap jalanan yang cukup ramai. Kendaraan melesat cepat melewati mobil Jongin yang tidak kalah cepat. Lampu-lampu jalanan tampak indah, berwarna-warni. Minri lupa kapan terakhir kali dia keluar malam. Seperti sudah lama sekali.

“Percayakan saja padaku.”

“Maksudmu kau akan mendandaniku?!!” pekik Minri tidak percaya. Sehun yang baru saja meneguk minumannya lantas tersedak.

“Tentu saja itu tidak mungkin, Minri.” Sehun membantu Jongin menjawab. Karena sepertinya Jongin melirik ke kiri-kanan, sedang memastikan apakah dia berada di jalan yang benar menuju tempat tujuannya.

Minri menghela napas lega. Mungkin, jika Jongin yang mendandaninya. Dia tidak akan menjadi sesosok putri malam ini. Bisa saja Jongin memakaikannya tuxedo, memberinya wig rambut pendek, dan sepatu kulit yang mengkilap. Bukannya menjadi putri, Minri malah bertransformasi menjadi pangeran. Kedengarannya lucu. Atau kemungkinan terburuk dia akan menjadi badut penghibur ulang tahun Kris karena make up-nya yang mengerikan.

Saat Minri sibuk berkelana dengan pikirannya, Jongin menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Minri terjengkang ke depan–hampir saja kepalanya membentur dasbor mobil. Dan teriakan kesal dari Sehun mendandakan bahwa dia juga terkena efek atas cara mengemudi Jongin yang buruk–Sehun tersedak lagi.

Jongin membuka pintu mobil lalu bergegas keluar. Mereka berada di depan sebuah rumah yang cukup besar, namun tidak terlalu besar. Rumah itu tampak nyaman dengan bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan.

Minri dan Sehun menyusul. Mereka bertiga berdiri di depan pintu. Jongin mengetuk pintu rumah itu, sementara Sehun dan Minri hanya menunggu.

Jongin mengetuk pintu rumah itu beberapa kali namun tidak ada yang membukakan pintu, hingga membuat Sehun menoyor kepala Jongin tanpa rasa bersalah.

“Dasar idiot! Tidakkah kau melihat bel yang bertengger manis di samping pintu itu.” Kali ini Sehun menekan bel rumah itu. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Mereka disambut oleh sesosok Kyung Soo berpakaian rapi seperti Jongin dan Sehun. Kyung Soo memakai tuxedo warna putih. Dia tampak bercahaya di depan rumahnya yang remang-remang.

“Kalian tidak bilang akan menjemputku,” ucap Kyung Soo dengan dahi yang mengernyit.

Jongin mengibaskan tangannya. Kemudian mendorong Minri masuk ke dalam rumah Kyung Soo. Tanpa permisi. Yeah, Jongin memang kurang ajar. Tapi itulah Jongin–orang yang baik dengan caranya sendiri.

“Buat dia menjadi tuan putri, Kyung. Aku tahu kau handal dalam hal mendandani orang. Please…

Kyung Soo tampak berpikir. Dia menaruh telunjuknya di dagu, lalu menatap Minri dengan pandangan menilai.

“Cepatlah Kyung, lakukan saja. Kita bisa terlambat.”

Kalau Jongin bisa dibilang kurang ajar, maka Sehun lebih kurang ajar. Dia tidak akan berbasa-basi memohon seperti Jongin. Dia justru tidak segan-segan memerintah. Padahal dia yang paling muda disini. Kyung Soo bisa saja menolak membantu Jongin, tapi mengingat Minri adalah temannya, Kyung Soo akan melakukannya.

“Baiklah. Ikut aku ke kamar.”

Sebelum mengekor Kyung Soo ke kamarnya, Minri sempat bertanya pada Jongin, “Kyung punya alat make up?”

“Tenang saja. Dia punya seorang Noona yang baik hati dan juga cantik.”

 

Minri tidak berani membuka matanya. Dia duduk di depan meja kaca milik Kyung Soo. Jongin benar. Kyung Soo punya Noona yang baik hati dan juga cantik. Dia bersedia meminjamkan alat make up-nya pada Kyung Soo untuk Minri. Tapi sayang, dia tidak bisa sekalian mendandani Minri karena dia sibuk mengerjakan tugasnya. Sayang sekali.

Apa Kyung Soo bisa dipercaya? Apakah Kyung Soo melakukannya dengan benar?

Minri membuka matanya sedikit. Dia merasa aneh-sedikit lebih berat dengan tambahan maskara di matanya. Perlahan tapi pasti, dia membuka matanya.

Dia tidak menemukan dirinya di pantulan cermin Kyung Soo. Siapa gadis di depannya?

Untuk beberapa saat Minri terpaku pada pantulan seorang gadis di depannya. Dengan rambut yang digulung ke atas, dan tambahan mahkota kecil membuat gadis itu tampak seperti putri sungguhan. Astaga! Itu Minri. Dia harus percaya bahwa itu adalah dirinya.

“Woaah! Daebak! Kris akan membunuhku karena perhatian orang-orang pasti tertuju padamu. Ini pestamu, Park Minri.”

“Diamlah Jongin.”

Minri berlagak tidak peduli. Padahal dia juga sama terkejutnya dengan Jongin. Dia tidak pernah membayangkan bahwa wajahnya bisa seperti ini.

“Kalau saja aku lupa bahwa kau adalah Park Minri, sahabatku yang galak dan suka memanjat tembok. Aku pasti akan jatuh cinta padamu.” Sahut Sehun asal.

“Tapi Minri tidak akan mencintaimu–Sehun yang kurang ajar.” Jongin menyenggol bahu Sehun. Mereka berdua seperti dua orang yang berasal dari dunia berbeda. Selalu bertengkar kapanpun ada kesempatan. Tapi mereka adalah sahabat baik–dengan cara mereka sendiri.

“Bisakah kalian berhenti bertengkar dan kita berangkat sekarang.” Kyung Soo menghentikan kemesraan Jongin dan Sehun. Dia merapikan jasnya yang sedikit kusut. Jongin dan Sehun mengendikkan bahu lalu keluar dari ruangan itu.

Kemudian disusul Minri dan Kyung Soo. Mereka berangkat bersama.

***

“Pakai sepatumu, Minri.” Kyung Soo memperingatkan.

Jongin sudah menghentikan mobilnya di area parkir di halaman rumah Kris yang super luas. Suasana tampak ramai. Banyak sekali yang datang. Dan Minri pikir inilah pesta sesungguhnya. Penampilan para tamu benar-benar menakjubkan.

Minri menghela napas sesaat sebelum mengeluarkan sepatu high heel berwarna perak dengan permata yang membuatnya berkilauan. Itu barang yang diminta Jongin agar Minri membawanya. Kyung Soo tidak mungkin bisa meminjamkan sepatu Noona-nya karena Jongin yakin Minri punya kaki yang berbeda ukuran dengan Noona-nya Kyung Soo.

Dia memasang sepatu itu dengan enggan. Kemudian membuka pintu mobil lalu turun. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Beberapa orang yang baru datang tampak memperhatikan Minri. Gadis itu memang menarik perhatian.

“Pakai ini.” Jongin menyerahkan pada Minri sebuah topeng perak berbulu. Cantik, pikir Minri. Lalu Jongin juga memakai topeng yang mirip tapi dia memakai warna hitam. Sehun punya warna keemasan dan Kyung Soo warna putih senada dengan bajunya.

“Apa-apaan Kris. Kenapa harus menjadikan ini pesta topeng. Wajah tampanku jadi tidak terlihat,” keluh Sehun.

“Ini pesta topeng!” Minri memekik senang. Tapi dia segera mengendalikan dirinya mengingat bahwa sekarang dia sedang memakai gaun putih selutut-dengan lengan yang terbuka dan renda cantik sana-sini. Kesimpulannya, Minri tidak bisa bersikap sembarangan dengan dandanan feminimnya sekarang.

Ku harap tidak akan ada yang mengenaliku di pesta ini. Jadi aku tidak perlu khawatir.

 

Pesta berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Kris menyulap rumahnya menjadi sebuah istana seperti di negeri dongeng. Ada makanan yang bermacam-macam membuat Minri bingung harus mulai dari mana. Ada musik yang keren. Dan ada… seorang pria asing.

Laki-laki itu tampak mempesona meskipun sebagian wajahnya tertutup topeng.

Minri memusatkan pandangannya pada satu titik. Pada seorang laki-laki yang memakai tuxedo hitam, berperawakan sedang dan warna rambut keperakan. Orang asing. Minri tidak pernah melihat orang itu di kampusnya. Tidak ada yang sebegitu mempesonanya sampai Minri tidak bisa mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu. Dia sedang bicara dengan Kris.

Pangeran…

Minri merasa detak jantungnya berhenti sesaat ketika laki-laki asing itu balas menatapnya. Minri harusnya mengalihkan pandangannya ke arah lain karena dia sudah tertangkap basah memandangi laki-laki itu. Tapi sial! Tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.

Perasaannya semakin amburadul ketika laki-laki itu berjalan ke arahnya, menghampirinya. Dia bisa saja pingsan sekarang.

Oh tidak, jangan mendekat!

“Boleh berdansa denganmu, Nona?”

Suara lembut laki-laki itu menyadarkan Minri dari pikirannya yang berkecamuk. Kacau. Dia bahkan tidak tahu sejak detik ke berapa laki-laki itu sudah berada di depannya. Siapa dia? Berani-beraninya mengacaukan hati, otak dan tubuhnya. Sistem keseimbangannya mendadak bermasalah. Tolong!

Laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya sembari membungkuk. Jari-jarinya tampak lentik dan indah. Minri sesaat terpaku pada tangan itu–tanpa sadar mengaguminya–lalu menjemputnya, mengabaikan sengatan listrik bervoltasi rendah saat dia dan laki-laki asing itu melakukan kontak fisik.

Terkutuklah dia!

 

“Kau paling bersinar malam ini, Nona.”

Minri mengabaikan wajahnya yang memanas dan terus mengikuti langkah pelan laki-laki itu. Untunglah dia memakai topeng sehingga dia tidak perlu bersusah payah menyembunyikan wajahnya yang merona.

“Kau juga, Tuan asing. Aku baru pertama kali melihatmu.”

“Ya, aku baru datang dari Jepang. Aku ke sini demi memenuhi undangan sepupuku, si tiang tampan itu.”

Tanpa sadar Minri membuka setengah mulutnya karena kagum. Minri tidak pernah tahu kalau Kris punya sepupu semempesona ini.

Mereka terus berdansa, menikmati musik yang mengalun. Mata bertemu mata, seperti sedang berkomunikasi. Dan bibir terus saja tersenyum, mengungkapkan bahwa mereka sama-sama senang bisa bertemu. Tanpa harus banyak bicara.

Laki-laki itu menarik pinggang Minri mendekat, sementara Minri melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Jarak mereka sungguh-luar biasa-dekat, sampai-sampai Minri takut laki-laki itu mendengar detak jantungnya yang berdebar.

“Hey Baekhyun…”

Laki-laki di depan Minri menoleh pada sumber suara–Kris.

Namanya Baekhyun. Baekhyun…

Minri mengulangi nama itu dalam hati. Lantas terkesiap saat Baekhyun melepaskan tangannya di pinggang Minri dan beralih memegang tangan gadis itu.

“Kesini sebentar.” Kris memanggil Baekhyun. Lalu Baekhyun menarik tangan Minri, membuat gadis itu mengekor di belakangnya.

Baekhyun melangkahkan kakinya menghampiri Kris. Kris tidak sendiri. Disana ada Jongin, Kyung Soo, Chanyeol, Sehun, Jun Myeon–

–dan Soo Yeon?!

Oh tidak!

Minri menghentikan langkahnya membuat Baekhyun menoleh. Minri melepaskan pegangan tangan Baekhyun. Lalu berbalik. Dia bisa ketahuan.

“Maaf Baekhyun, aku harus pergi.”

“Tunggu–”

Belum sempat Baekhyun meneruskan kalimatnya, Minri sudah melesat pergi. Berbaur bersama kerumunan membuat Baekhyun–merasa kecewa–kehilangan sosok yang bersinar itu.

(TBC)

© Charismagirl, 2014.

Yehet! Akhirnya jadi chapter 1. Gimana?

Bisa kalian bayangkan betapa tampannya baekby *o*/? wkwk

Keep support and comments… see ya!

245 thoughts on “Milargo del Amor – Chapter 1

  1. Daebak nih ff!!! Ada selingan komedi jadi ringan bacanya dan meskipun gitu gk amburadul, malah keren jadi gampang di mengerti. Aku baru nemu nih epep thor :v

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s