My Kiss, My Destiny (Chapter 2)

Tittle: MY KISS, MY DESTINY (chapter 2)

cats

Author: Dindong L.Kim (@adinda_elements)

Main Cast :

–         SEO SANG AKH (OC)

–  BYUN BAEKHYUN

–         OH SEHOON

–  GONGCHAN SHIK

Support Cast :

        – DO HWE JI (Ulzzang)

        – DO KYUNGSOO

–         Akan bertambah sesuai chapternya

Genre: Romance, Fluff, Friendships

Ratting: PG 15 / Teen

Length: Chaptered

Disclaimer:

THIS FF IS MADE BY DINDONG L.KIM😀 all cast hanya saya pinjam untuk dijadikan pemeran di FF ini.PLAGIATOR ?? JUST GO AWAY ^_^ AND SILENT READERS ?? IT’S OK, BECAUSE OF YOU,MAYBE I CAN’T CONTINUE TO WRITE THIS FF ^_^ ALUR IS PURE MINE🙂

Dindong Notes :

Sorry for typos ^_^

Warning : Typo bertebaran🙂

Chapter 1

– Chapter 2 –

“K-kau ?” astaga, apa yang sedang kulihat saat ini ? apa dia manusia ? atau malaikat yang salah alamat ? entahlah. Wajahnya yang tampan itu membuat siluet pangeran tampanku menjadi sedikit kabur di ingatanku.

“hei, kau tak apa ? maaf, aku benar – benar tak sengaja” pria itu melambai – lambaikan tangannya di depan wajahku dan itu cukup membuatku tersadar dari dunia khayalku. Dengan cepat, kugelengkan kepalaku beberapa kali.

“A ? benar, aku tak apa dan kau juga sudah kumaafkan” aku tersenyum semanis mungkin setelah mengatakan itu. Tunggu, kenapa ia merespond dengan wajah seperti itu ? hei, apa senyumku begitu mengerikannya sampai – sampai ia harus jijik melihatnya ?

“a—apa ada yang salah ? kenapa kau melihatku dengan raut wajah jijik seperti itu ?” well, siapa yang tak sakit hati jika senyumnya di respond dengan sebuah raut wajah yang begitu masam.

“Ye ? ah tidak. Aku hanya heran, moodmu terlalu cepat berubah. Ku kira itu hanya mitos dan ternyata tidak” pria itu terkekeh. Ya Tuhan, caranya tertawa sungguh lucu. Ingin sekali rasanya bagiku untuk mencubit kedua pipi Chubbynya. Namun apa daya, perbedaan tinggi yang cukup mencolok membuatku harus mengurungkan niat untuk melakukan itu.

“kau pikir aku aneh ?” pria itu menggeleng. Ada sedikit rasa syukur tersirat di hatiku ketika ia menggeleng.

“tidak, hanya saja sifatmu begitu jarang dan menurutku itu lucu” apa ? Lucu ? dia mengatakanku lucu ? Oh Tuhan, dia tidak bercanda, bukan ? baru kali ini ada seorang pria yang mengatakanku lucu. Sehun sekalipun tak pernah mengatakan hal manis itu.

“Haha, kau bercanda ? hanya kau seorang yang mengatakan aku lucu” aku tertawa renyah mengatakan itu.

“tidak, aku serius. Tapi entahlah” alisku bertaut. Entahlah ? hei, apa dia ingin mempermainkanku ?

“mataku kurang bisa melihat dengan jelas di malam hari”

Aku hanya membulatkan mulutku ketika mendengar pernyataannya itu. Oh, pantas saja dari tadi ia sering sekali memicing – micingkan matanya. Ternyata, matanya memang bermasalah.

“hei, kita belum berkenalan. Perkenalkan, namaku Sang Akh” akupun mengangkat tangan kananku bermaksud untuk menjabat tangannya. Kuharap ia tidak mempermalukanku.

“perkenalkan, namaku Gongchan. Senang berkenalan denganmu” iapun menjabat tanganku. Fiuh~ syukurlah, ia tidak menganggurkan niat jabatan tanganku.

“berapa umurmu ?” tanyaku setelah tautan tangan kami terlepas.

“menurutmu ?” ia malah balik bertanya. Ok, dari pertanyaan ini aku dapat membuat satu fakta tentang Gongchan. Yaitu : ia adalah pria yang suka dengan hal yang berbau lelucon. Well, kurasa itu tak buruk.

“Hmm, kurasa umurmu sudah menginjak angka 27 ?”

Garing memang leluconku yang satu itu. Mengatakan kalau umur Gongchan 27 tahun ? hei, semua orang yang melihatnyapun pasti berasumsi kalau Gongchan berumur sekitar 17 atau 18 tahun.

“apa wajahku tampak setua itu ?” ia bertanya dengan raut wajah serius dan tentu saja aku menanggapinya dengan sebuah tawaan yang cukup keras.

“kau percaya ucapanku ?” Gongchan mengangguk.

“Haha, aku hanya bercanda dan kurasa umurmu tak lebih dari 19 tahun. Apa aku benar ?”

“eumm, kau benar dan kurasa kita seumuran” balasnya dengan senyum mautnya. Oh, bisakah ia berhenti untuk tersenyum ? itu membuatku kelebihan kadar gula di darahku dan bisa – bisa aku terjangkit penyakit ‘Diabetes Gongchan Gummy Smile’. Ok, tak masuk akal memang. Tapi aku serius.

“Hehe, kau benar”

Begitulah awal perkenalan kami. Setelah saling mengenal satu sama lain, kamipun larut dalam sebuah perbincangan mengasikkan yang tak bisa dilewatkan. Well, kurasa untuk ke depannya aku akan ragu. Ragu untuk memilih mencintai pangeranku atau Gong–chan. Kuharap Tuhan telah menyiapkan sebuah rancangan kehidupan yang indah untukku.

-My Kiss My Destiny-

“Ya!” aku berteriak ketika mendapati diriku baru saja terjatuh dari tempat tidurku. Setelah kesadaranku pulih, akupun mengintip jam wekerku yang senantiasa telah bertengger bak ayam jantan di atas meja riasku. Matakupun terbelalak kaget ketika melihat jarum pendeknya telah menunjukkan angka 8. Matilah aku. Hukumannya akan sangat berat kali ini.

Tanpa perlu waktu banyak lagi, akupun langsung berlari menuju kamar mandi yang jaraknya tak lebih dari 5 meter dari tempat tidurku. 5 menit ? kurasa itu waktu yang cukup lama bagiku untuk mandi. Buktinya, dalam waktu dua menit saja aku telah selesai melaksanakan ritual pagi yang menurut sebagian wanita sangat penting.

Setelah bergulat dengan segala keperluan yang di perlukan untuk ke sekolah, akupun beranjak keluar dari kamarku dan aku juga tak lupa meminum segelas susu yang telah Ayah sediakan. Susu di pagi hari memang segar dan Ayahku sangat mahir membuatnya menjadi lebih nikmat. Setelah meminum susu, akupun langsung memakai sepatuku yang tersangkut di pelataran sepatu dekat pintu keluar rumah baruku.

‘Fiuh’ untung saja Ayah telah memberikan sedikit arahan kepadaku tentang jalan – jalan yang harus di lewati menuju sekolah. Tanpa menunggu lagi, aku langsung mengambil ancang – ancang untuk melakukan lari pagi. Lebih tepatnya, aku tak ingin menambah jam keterlambatanku dan itu harus kulakukan dengan berlari.

Ternyata Ayah benar. Dari rumah baruku hingga ke sekolah, hanya membutuhkan waktu 15 menit. Wuahh~ aku berhasil memecahkan rekor dengan terlambat selama 1 jam pelajaran. Sungguh hebat bukan ? Haha, sebenarnya itu bukan rekor. Hari selasa minggu lalu buktinya. Aku terlambat dan sampai di sekolah pada saat waktu istirahat sedang berlangsung. Menakjubkan, bukan ?

Setibanya di gerbang sekolah, aku mendapati tak ada seorangpun yang ada di meja piket. Aigo, kemana perginya siswa – siswi killer yang suka memberi hukuman itu ? apa mereka tiba – tiba sakit perut secara massal ? haha, terserahlah. Yang terpenting, aku bisa masuk dan catatan kebolosanku bisa diminimalisir.

Setelah melewati gerbang, akupun langsung berlari menuju kelasku. Namun, langkahku terhenti ketika melewati lapangan. Disana tampak segerombolan siswa – siswi yang biasanya memberikan hukuman sedang membentuk sebuah lingkaran. Penasaran ? tentu saja aku penasaran.

Dengan mengenyampingkan resiko, akupun mendekati kerumunan tersebut. “kenapa kau tidak berjaga di meja piket ?” pertanyaan bodoh memang. Bisa – bisa aku tak diizinkan masuk ke kelas hanya gara – gara pertanyaan ini.

Gadis yang kutanyaipun berbalik. “kau terlambat, lagi ?” tanyanya seraya menunjuk kearahku. Ia juga menekankan kata ‘lagi’. Akupun memutar bola mataku bosan.

Tanpa melihat apa yang ada di dalam kerumunan itu, akupun kembali melanjutkan langkahku menuju kelas. Tapi na’as, mereka telah mengetahui keberadaanku.

“SEO SANG AKH” matilah aku. Itu suara ketuanya. Oh Tuhan, kali ini apa hukuman yang akan mereka berikan kepadaku ? membersihkan pekarangan sekolah ? aku sudah pernah melakukannya, bahkan aku lari dari tugas itu. Membersihkan toilet wanita ? hei, pasti mereka bercanda kalau menyuruhku untuk melakukannya.

Akupun berbalik dan siluet ketuapun tampak. Akupun hanya tertawa seraya menampakkan deretan gigiku. Sementara ketua ? aku heran, kenapa dia bisa tahan dengan mimik wajah yang selalu serius ?

“Ketua yang baik hati, maukah kau membiarkan aku masuk ke kelas ? hari ini aku ada ulangan” aku tersenyum dan sebenarnya apa yang kukatakan adalah sebuah kebohongan. Gila saja jika hari ini memang ada ulangan.

Ketua menggeleng dan aku tau apa yang selanjutnya akan terjadi.

“hari ini adalah hari beruntungmu Sang Akh” ujar ketua dan akupun tercengang mendengarnya. Beruntung ? hei, apa dia mengejekku ?

“maksud ketua ?”

“kau akan membersihkan koridor gedung olah raga sekarang” eh ? apa itu yang ia maksud dengan keberuntungan ? astaga, kenapa dunia ini begitu kejam padaku. Koridor gedung olahraga ? ruangan itu bahkan lebih luas dari 5 ruang kelas.

“kau gila ? butuh waktu satu hari penuh bagiku untuk membersihkannya” aku merajuk. Ya, sebenarnya ini tak akan membantu.

“bukankah sudah ku katakan kalau kau beruntung” ketua masih saja bersikukuh mengatakan kalau aku beruntung. Ya sudahlah, mungkin hari ini aku tak akan masuk ke kelas.

“baiklah, dengan senang hati akan ku lakukan perintahmu” aku sedikit membungkuk ketika hendak pergi menuju gedung olah raga. Namun, baru 2 langkah aku berjalan menuju gedung olah raga ketua kembali memanggilku.

“Sang Akh! Jangan remehkan dia” ketua tersenyum tipis setelah mengatakan itu. Meremehkan ? siapa ? apa dia ingin membuat sebuah lelucon ? Haha, leluconnya sungguh garing dan membosankan. Aku hanya mendengus mendengar perkataannya dan kembali melanjutkan langkahku menuju gedung olahraga.

-My Kiss My Destiny-

Setibanya di gedung olahraga, akupun meletakkan tasku di salah satu kursi tribun penonton. ‘ini akan membuatku tepar’ rutukku di dalam hati seraya mengikat rambutku ke atas dan setelah itu acara bersih – bersihpun dimulai. Namun, ketika aku hendak menyapu salah satu deretan kursi tribun penonton, aku mendengar ada bunyi yang menyerupai seperti orang yang sedang menyapu.

Aku mendongak dan berusaha mencari – cari sumber bunyi tersebut. ‘HAAAA ?’ mataku terbelalak kaget ketika mendapati siluet itu. Dengan tangan kanan yang asik mengayun – ayunkan sapu dan tangan kiri yang memegang sebuah buku. Astaga, apa yang ia lakukan disini ? apa ini yang ketua maksud dengan sebuah keberuntungan ? Aha~ kurasa kesempatan ini tak datang dua kali.

“permisi, apa kau juga terkena hukuman ?” aku mendekat kearahnya. Oh Oh, dia mengalihkan pandangannya kearahku. Jantungku langsung saja berdetak tak karuan. Ini benar – benar kesempatan yang langka. Biasanya aku hanya bisa melihatnya dalam radius 8 meter. Tapi sekarang ? jarakku dan dia tak lebih dari 2 meter. Andai saja aku memiliki kekuatan seperti Tao ‘EXO’ aku pasti akan memberhentikan waktu sekarang juga.

“Eumm” dia mengangguk singkat dan wajahnya itu masih saja menyiratkan sifat kerennya.

“apa kau tidak kelelahan ? apa kau ingin kubelikan minuman ?” tawarku dan ia menggeleng. Bibirku mengerucut seketika. Ia benar – benar sangat minim dengan kata – kata. Buktinya, dari tadi ia hanya mengangguk dan menggeleng.

“A! perkenalkan aku Seo Sang Akh dari kelas XI F” aku tersenyum ketika memperkenalkan diri. Sementara dia ? oh ayolah, jangankan tersenyum. Untuk menggerakkan bibir saja ia tampak malas. Aku mendengus pelan dan kembali melanjutkan pekerjaan bersih – bersihku. Ternyata dugaanku selama ini benar. Ia sama sekali tak suka bersosialisasi.

-My Kiss My Destiny-

Baru kali ini aku mengerjakan sesuatu dengan serius. Eumm, ternyata melakukan sesuatu dengan serius itu ada gunanya juga. Buktinya, dalam kurun waktu 3,5 jam aku telah berhasil membersihkan seluruh koridor gedung olahraga ini. Sebenarnya yang paling banyak berjasa adalah pangeran dinginku. Haa~ andai dia tak sedingin itu. Pasti pekerjaan ini terasa lebih menyenangkan.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk beristirahat, akupun langsung meletakkan sapu beserta alat bersih – bersih lainnya ke dalam gudang. Sewaktu aku hendak keluar dari gudang, akupun tak sengaja berpapasan dengan pangeranku. Astaga, tak kusangka ia jauh lebih tinggi dariku. Atau memang aku saja yang terlalu pendek ? whatever lah dengan asumsi itu.

“apa ? terkunci ? hei, kau bercanda ?” rutukku ketika mencoba membuka pintu gedung olahraga. Karena tak puas, akupun mencoba membukanya berulang – ulang. Tapi tetap saja, pintu itu tak mau terbuka.

Karena terlalu asik dengan urusan pintu terkunci, akupun tak menyadari kalau pangeranku telah berdiri disampingku. “kenapa ?” tanyanya dengan aksen dingin. Aku menoleh kearahnya seraya menunjuk pintu yang terkunci.

“pintunya tak bisa di buka” aku mengadu dan iapun mencoba membukanya. tapi, lagi – lagi hasil yang kami dapatkan sama sekali tak ada bedanya. Pintu itu tetap tak bisa di buka.

“Astaga! Teman sekelasku pernah mengatakan kalau pintu ini berunsur mistis. Terkadang ia bisa mengunci sendiri ataupun terbuka sendiri. Mungkin, kalau kita baca mantra abracadabra pintu ini bisa saja terbuka” ok, itu pendapat yang menggelikan bukan ? tapi temanku benar – benar mengatakan itu. Hanya saja waktu itu kami sedang berbicara dalam konteks bercanda.

“kau bodoh ? hal – hal seperti itu sangat sulit dipercaya pada zaman modern seperti ini. Kalau kuperkirakan, mungkin pintu ini tak bisa dibuka hanya gara – gara persendiannya yang berkarat.” Aku tersenyum kecut ketika mendengarnya mengatakan kalau aku bodoh. Well, aku memang bodoh. Tapi tak seharusnya ia berbicara sejujur itu, bukan ?

“aku tak menyangka kau begitu menyebalkan” rutukku dan langsung mengambil handphone dari dalam tasku. Disaat genting seperti ini, aku harus menghubungi orang yang benar – benar peduli kepadaku.

“Yeoboseyo ?” sahutnya di ujung sana.

“Yeoboseyo, Sehun-a” aku tersenyum senang ketika Sehun menjawab telfonku.

“bisa kau menghubungiku sebentar lagi ? aku sedang terlibat rapat penting sekarang.. Annyeong..”

“Sehun ? Sehun-a ?” aku memanggil – manggil nama Sehun. Namun ia tak menyaut. Ok, jelas saja ia tidak menyaut. Sambungan telefonnya sudah terputus ketika sehun mengatakan Annyeong. Aish, anak itu tak bisa diandalkan.

“kenapa ?” aku menatap pangeranku dengan wajah sebal. Dia bertanya, namun arah matanya tak lepas dari buku yang ia pegang.

“kenapa kau begitu tenang ? padahal kau anak terpintar di sekolah ini, tapi kenapa wajahmu tak menyiratkan rasa khawatir ?” tanyaku yang sudah gemas dengan sikap damai pangeranku.

“tak ada yang perlu kukhawatirkan” jawaban macam apa itu ? kalau saja dia bukan pangeranku, pasti akan kubunuh dia karena seringkali membelokkan arah pertanyaaanku.

-My Kiss My Destiny-

Sudah setengah jam berlalu, namun tak ada perubahan. Aku dan pangeranku masih terkunci di dalam gedung olahraga. Yang terparahnya, selama setengah jam pula pangeranku hanya membaca buku dan tak berniat untuk mengajakku berbicara. Astaga, ia sungguh mengerikan.

‘HACHI~’ aku bersin ketika semilir angin berhembus.

“pakai ini, aku tak menyangka daya tahan tubuh seorang wanita sangat rendah” pangeranku memberikan seragam almamaternya kepadaku. Akupun menatapnya bingung. namun, beberapa saat kemudian aku tersenyum. “terima kasih” ucapku dan mulai memakai seragam almamater pangeranku.

“aku tau ini tak terlalu penting dan kukira kau pasti mengetahuinya” ucapnya masih dengan mata yang tak lepas dari buku itu. Alisku bertaut. Aku sama sekali tak menemui titik arti dari perkataannya.

“Byun Baekhyun. Kau bisa memanggilku Baekhyun” aku kembali tersenyum. Akhirnya ia memperkenalkan dirinya. Ya, walaupun sebenarnya aku mengetahui namanya. Tapi aku sangat menantikan moment langka ini.

“Baekhyun-ssi, senang berkenalan denganmu” aku mengangkat tangan kananku. Berniat untuk menjabat tangannya. Namun, ia tak kunjung menyambutnya. Tingkat mood bahagia kupun kembali menurun.

Keadaan diampun kembali berlangsung dan beberapa saat kemudian pintu gedung olahragapun terbuka. Aku berdiri, begitupula dengan baekhyun. Dari arah luar, aku melihat Sehun dan Hwe Ji masuk ke dalam.

“Hwe Ji~” teriakku dan langsung memeluknya. Ia juga balas memelukku.

“kau tak apa, bukan ?” aku menggeleng begitu mendengar pertanyaan Hwe Ji.

“pantas saja tadi kau menelfonku. Ternyata gara – gara ini ?” Sehun juga tak mau tinggal diam.

“kau tak bisa diandalkan” rutukku seraya memukul kepala sehun pelan. Hwe Ji yang melihat itupun tertawa kecil.

“hei~ aku sedang ada rapat penting saat itu” sehun membela diri. Ya, sudahlah. Yang penting aku bisa keluar dari ruangan besar nan pengap ini.

“Sang Akh” dari samping. Aku mendengar suara Baekhyun. Aku menoleh, begitupula dengan Sehun dan Hwe Ji.

“seragamku” ia meminta almamaternya dan akupun langsung memberikannya. Hwe Ji yang melihat itu tak mampu berkata – kata lagi. Ia merasa shock sekarang. setelah mendapatkan almamaternya, Baekhyunpun mengeratkan pegangan tasnya dan ia keluar dari gedung olahraga.

Melihat siluet Baekhyun yang telah hilang. Hwe Jipun menambah tingkat kehebohannya.

“kau terperangkap berdua ? hanya berdua ? Astaga, kenapa aku harus membuka pintu ini” rutuk Hwe Ji dan akupun tertawa melihatnya.

“apa kau pikir aku bahagia terperangkap bersamanya ? tentu saja tidak. Kau tau ? dia bahkan lebih dingin dari yang kita pikirkan” rutukku di sela perjalanan menuju kelas.

“setidaknya ada rasa senang dihatimu kan ?” celetuk Sehun dan itu membuat aku tersenyum.

ya, walaupun aku tak banyak bicara dengannya tapi melihatnya dengan jarak sedekat tadi sudah membuat hatiku senang. Dia memang dingin, cara bicaranya memang agak kasar. Tapi entah mengapa, setiap melihat wajahnya yang damai itu aku merasa seperti terlindungi.

-My Kiss My Destiny-

Setibanya di rumah, aku langsung menghempaskan badanku di atas ranjang. Jarum pendek jam wekerku masih menunjukkan angka 7. Tak seperti biasanya. Malam ini aku merasa begitu tenang. Tak seperti malam – malam sebelumnya yang penuh akan suara sindiran atau cacian. Yang kudengar malam ini hanyalah suara binatang malam.

Aku tersenyum senang ketika mengingatnya. Namun, senyum itu tak bertahan lama. ‘Aku merindukan ibu’ gumamku di dalam hati seraya memeluk bantal guling pemberian Ibu beberapa tahun lalu.

‘Tok Tok’ dari arah luar aku mendengar suara ketukan. Aku menoleh dan langsung menghapus air mata yang sempat terjatuh dari pelabuhannya.

“Ayah masuk” ucap Ayah dari luar dan akupun mempersilahkan ia masuk.

“ada apa ?” tanyaku ketika Ayah duduk di pinggir ranjang.

“apa kau mau menemani Ayah untuk mengunjungi teman Ayah yang semalam ?” aku mulai berpikir. Well, tak ada salahnya bukan untuk menemani Ayahku ? mungkin saja teman Ayah memiliki anak yang seumuran denganku.

“baiklah” aku tersenyum senang mengatakannya. Melihat respond baikku, Ayahpun bangkit dari duduknya.

“tukarlah seragammu”

“Hai’~~~”

-My Kiss My Destiny-

“kau cantik” puji Ayah ketika kami sedang berada di depan pintu rumah teman Ayah.

“jadi selama ini aku tidak cantik ??” aku merajuk dan Ayah terkekeh. Beberapa saat kemudian pintupun dibuka dan yang keluar dari dalam rumah itu adalah..

“Gongchan ?”

“O, Sang Akh dan ini Ayahmu ?” Tanya Gongchan dan Ayahpun mengiyakannya.

“ayo silahkan masuk. Pamanku sudah menunggu kedatangan kalian” Ayahpun masuk terlebih dahulu. Sementara aku ? hehe, aku berjalan bersama dengan Gongchan. Sungguh kejam, bukan ?

“ini rumahmu ?” tanyaku dan Gongchan menoleh kearahku. Iapun menggeleng.

“jadi ?”

“Kedua Orang tuaku bekerja di salah satu perusahaan teknisi mesin di Amerika dan aku dititipkan di rumah pamanku” aku hanya ber-Oh ria mendengar penjelasannya. Tak berapa lama kemudian, kamipun sampai di ruang makan. Di sini, aku melihat teman Ayah yang semalam dan juga seorang wanita paruh baya yang kuyakini sebgai istrinya.

“Annyeong Haseo Ajjushi, Ahjumma” aku memberi salam seraya membungkukkan badanku.

“aku Seo Sang Akh. Senang berkenalan dengan kalian” aku memperkenalkan diriku dan kulihat Ahjumma cantik itu tersenyum senang.

“Aigo~ kau manis sekali. Yeobo, kenapa kita tak memiliki anak perempuan ?” wanita paruh baya itu bertanya kepada suaminya. Ayahku yang mendengarnyapun hanya tertawa, begitupula suaminya.

“ayo, silahkan duduk” teman Ayah mempersilahkanku duduk. Akupun duduk, begitupula dengan Gongchan.

“kau bisa memanggilku Byun Ahjusshi dan istriku dengan panggilan……”

“panggil aku Byun Ahjumma” istri Byun Ahjusshi langsung saja memotong pembicaraannya.

“A~ Gongchan, kemana perginya anakku ?” Tanya Byun Ahjumma ketika kami hendak makan.

“aku tak tau. Mungkin ia punya pelajaran tambahan” jawab Gongchan santai dan Byun Ahjumma kembali mengocah.

“dasar anak itu. Aku khawatir dengan jiwa sosialnya yang minim” aku tertawa pelan mendengar ocehan Byun Ahjumma.

“O ? kudengar dari Ayahmu, kau bersekolah di Kyouku High School. Apa itu benar ?” aku mengangguk singkat mendengar pertanyaan Byun Ahjumma.

“sudahlah, perutku terlalu lapar sekarang. apa kita bisa memulai acara makannya ?” rutuk Byun Ahjusshi dan acara makanpun di mulai. Sebelum mulai makan, Gongchan sempat berbisik kepadaku. ‘aku mempunyai sesuatu untuk diperlihatkan padamu’ akupun menoleh kearahnya dan mengangguk singkat.

“aku menunggunya” ucapku pelan dan Gongchan tersenyum mendengarnya.

-My Kiss My Destiny-

Acara makanpun berlangsung nikmat. Ayah dan Byun Ahjusshi tampak asik berbicara satu sama lain. Sedangkan aku ? aku terlibat percakapan ringan dengan Gongchan dan Byun Ahjumma. Ini sungguh menyenangkan. Aku tak menyangka bisa terlibat sebuah acara makan malam seperti ini.

Setelah acara makan selesai. Aku dan Ayah masih betah berada di rumah Byun Ahjusshi. Well, Ayah mengatakan kalau ia masih memiliki beberapa urusan dengan Byun Ahjusshi dan aku dibebaskan untuk bersama Gongchan.

Tapi, aku mengurungkan niatku untuk bersama Gongchan. Bukannya aku tak mau, tapi aku tak tega melihat Byun Ahjumma yang membersihkan piring bekas makan kami sendirian. Akupun meminta maaf kepada Gongchan dan ia memakluminya. Setelah itu, aku menyusul Byun Ahjumma yang sudah lebih dahulu pergi ke dapur.

“Ahjumma, apa aku boleh membantu ?” tawarku dan Byun Ahjumma menoleh ke belakang. Sesaat kemudian ia tersenyum. Oh, senyum Byun Ahjumma sungguh manis. Aku yakin, anaknya pasti juga manis.

“Sang Akh ? apa yang kau lakukan disini ? aku bisa mengerjakannya sendiri” tolaknya lembut seraya mengibas – ngibaskan tangannya pertanda untuk menyuruhku pergi.

“Ahjumma tak suka denganku ?” aku merajuk.

“tidak, bukan begitu. Hanya saja aku tak ingin tangan mungilmu menjadi kasar gara – gara membersihkan piring – piring kotor ini” ujar Byun Ahjumma.

“Aigo~ aku tak apa Ahjumma. Sini, biar ku angkat piring itu” Ahjumma tersenyum mendengarnya dan memberikan beberapa piring yang baru saja selesai di cuci. Akupun meletakkannya di pelataran piring, sesuai dengan intruksi Byun Ahjumma.

Dalam acara mencuci piring ini, Byun Ahjumma bercerita banyak tentang anaknya. Namun sayang, ia masih saja tak mau memberi tahukan nama anaknya kepadaku. Aku memang kecewa pada awalnya, namun Byun Ahjumma mampu membuat suasana hatiku kembali naik.

“Sang Akh, kau tunggu disini, eoh ? aku ingin membuang sampah ini ke depan”

“Ah, biar aku saja Ahjumma” aku bergegas mengambil satu kantung plastik sampah dari tangan Byun Ahjumma.

“jangan. Aku bisa melakukannya”

“kumohon, biarkan aku menolongmu. Otte ?” Byun Ahjummapun pasrah dan memberikan kantung plastik itu kepadaku. Akupun berjalan menuju halaman depan.

‘aku penasaran dengan paras anak Byun Ahjusshi dan Byun Ahjumma. Apakah dia tampan ?’ seraya berjalan menuju halaman depan, aku selalu saja melamunkan tentang paras anak pasangan yang begitu romantis itu. Sampai – sampai aku tak sengaja menginjak sebuah duri kecil dan itu membuat keseimbanganku agak oleng. Finally,

‘Bugh~’ aku terjatuh dengan kaki yang berlumuran darah. Sampah yang berada di tangankupun lepas. Aku merintih kesakitan. Tapi, aku merasa ada Sesuatu yang janggal.

“A ? Kau ? A-apa yang kau lakukan disini ?” tanyaku histeris ketika melihat siluet pria itu disana. Ia berdiri dengan gagahnya dengan tangan yang di masukkan kedalam saku celana. Mata tajamnya yang sering kulihat itu semakin membuat parasnya yang sudah tampan itu menjadi lebih tampan.

“kakimu” ucapnya datar seraya menunjuk kakiku. Akupun kembali melihat kakiku. Astaga, darahnya masih mengalir.

“Appo” rintihku seraya berusaha memberhentikan aliran darah itu dengan cara menekannya. Ketika aku sedang asik dengan darah itu, sesuatu kejadian langka dan menakjubkan terjadi. Dia menggendongku masuk ke dalam rumah Byun Ahjussi.

“a-apa yang kau lakukan ? hei, turunkan aku” aku memberontak kepada pria itu seraya memukul – mukul dadanya pelan. Tapi, sepertinya aku dikacangkan. Buktinya, ia hanya diam dan hanya berjalan masuk ke dalam rumah keluarga Byun Ahjusshi.

Setibanya di dalam, aku di dudukkan di salah satu sofa ruang tamu. Kemudian, ia masuk ke area lebih dalam rumah itu dan kembali lagi dengan Ayah, Byun Ahjusshi, Byun Ahjumma dan Gongchan di belakangnya.

“kau kenapa ?” Tanya Ayah khawatir ketika melihat kakiku yang berlumuran darah. Aku diam. Rasa sakit ini sangat mengganggu, sampai – sampai suaraku terendam dibuatnya.

“tahan sedikit” pria itu mengingatkan dan aku mengangguk pelan.

“YA! Pabo, itu sangat menyakitkan” bentakku seraya meremas bahunya. Ayah yang melihatkupun hanya menatap khawatir. Begitu juga yang lainnya.

“kau bisa diam atau tidak ??” bentaknya. Akupun diam seketika and then Byun Ahjussi memukul kepala pria itu pelan.

“dia seorang gadis. Kau tak pantas membentaknya seperti itu” Byun Ahjussi mengatakan dan pria itu hanya mengangguk. Setelah itu, Ia mencabut duri yang menancap di kakiku.

“YAAAA~~~”aku berteriak histeris dan tanpa kusangka, tanganku dengan tidak sadarnya telah mendarat di kepala pria itu. Akupun menyadarinya dan segera menyingkirkan tanganku. Ya, pada awalnya aku memang tak mengetahuinya tapi, melihat tatapan mata pria itu. Sumpah, itu langsung membuat hatiku dugeun dugeun. Akhirnya ia berdiri. Aku hanya bisa menatapnya heran.

“Ibu” panggilnya seraya menatap Byun Ahjumma.

“terima kasih. Kau memang anak yang baik. Sekarang naiklah” Byun Ahjumma tersenyum manis seraya menepuk – nepuk bahu pria itu. Sungguh ibu yang menyenangkan, berbeda terbalik dengan ibuku yang. Ah, kurasa aku tak perlu mengatakannya. Toh, kalian semua tau bagaimana sikap ibuku, bukan ?

‘Sang Akh’ bisik Ayah seraya menyikut bahuku. Akupun menoleh. ‘ucapkan terima kasih’ lanjutnya.

“O, Maaf.. tapi, terima kasih sudah membantu mengobati kakiku. Aku tak tau apa jadinya kakiku tanpa pertolonganmu” pria itu menoleh dan hanya memandangku. Well, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Bukannya aku tak mau membungkuk untuk mengucapkan terima kasih.tapi… Hei, kakiku sedang sakit sekarang dan bekas darahnya juga masih ada. Aku tak mungkin berdiri tegak saat ini juga.

“kau tak perlu berlebihan” balasnya dan langsung pergi meninggalkan kami.

“Sang Akh. Kakimu harus segera di perban. Sini, akan ku bantu kau memerbannya” Gongchan menawarkan bantuan dan akupun mengangguk pelan. Kemudian, Ayah dan Byun Ahjussi kembali ke pos mereka yang sebelumnya dan Byun Ahjumma ?? dia sedang mengambilkan air hangat. Katanya itu akan ia gunakan untuk merendam kakiku supaya darah yang masih menetes berhenti.

Well, aku tak menyesal duri itu tertancap di kakiku. Ya, walaupun sakitnya masih terasa sampai sekarang tapi aku senang. Ternyata, disini. Aku mendapatkan banyak perhatian. Entah itu dari Ayah, Byun Ahjussi, Byun Ahjumma dan Gongchan. Bahkan pangeranku yang cenderung bersikap dingin kepada semua gadis di dekatnya juga menolongku.

Aigo~ memikirkannya saja aku sudah malu sendiri >.< melihat gayanya sewaktu menggendongku itu.. ARGHHHH~~ andai waktu bisa di putar kembali.

BYUN BAEKHYUN !! AKU SEMAKIN CINTA PADAMU >.<

-My Kiss My Destiny-

“bagaimana kakimu ? apa kau merasa baikan ?” Aku mengangguk.

“Ayah tak perlu khawatir. Aku gadis kuat” balasku dan Ayahpun mengacak puncak rambutku.

“Ayah~~ Butuh waktu 10 menit bagiku untuk membuat rambut rapi seperti ini” protesku seraya memperbaiki rambutku. Ayahpun terkekeh pelan. Pagi ini, Ayah memang datang terlambat ke Hotel tempat ia bekerja dan itu semua karena diriku. Ia harus memastikanku agar pergi sekolah. Sungguh miris -_- Ayah malah berpikir kalau aku akan membolos hanya gara – gara kaki ini. Aigo~ apa wajahku seperti seorang kriminal ?

“baiklah, aku pergi. Dah~” aku pamit pergi ke sekolah. Sebelum keluar rumah, aku menyempatkan diri untuk menyalami Ayahku. Well, aku tak mau dikatakan sebagai anak yang durhaka.

“hati – hati dijalan, eoh ?” aku mengangguk. Setelah keluar dari rumah, akupun berjalan menuju sekolah dengan pelan. Pagi ini, matahari masih belum timbul sepenuhnya. Ya, tak seperti biasanya memang. Kemarin aku berani datang terlambat ke sekolah. Tapi sekarang tidak. Melihat kemampuan berjalanku yang masih seperti bayi berumur 3 tahun. Butuh waktu 5 kali lebih lambat untuk datang ke sekolah kali ini.

Aku mendengus pelan. Ini memang kesalahanku dan tak ada yang perlu di salahkan kecuali diriku sendiri. Akupun kembali melanjutkan jalanku, dan tiba – tiba bunyi klakson kendaraan membuatku terhenti. Aku menoleh dan langsung tersenyum ketika melihat pria itu.

“Mau pergi bersama ?”

-To Be Continued-

Gimana ? makin ngawur yak ?

Hehehehe, yang penting semakin banyak kalian memberikan komentar.

Maka, semakin sering saya luangkan waktu untuk buat ff ini ^^

Terima kasih sudah mau membaca dan komentar ^^

Sekali lagi, saya mau mengucapkan terima kasih kepada para reader yang sudah berkomentar di Chapter 1 ^^ semoga FF ini banyak peminatnya dan dengan begitu saya tidak kehabisan ide untuk melanjutkan FF ini.

Dan untuk kemarin yang bertanya ‘kok FF ini kayak film Naughty Kiss ?’

Saya jawab ya ^^

Jadi, ff ini memang terinspirasi dari film Naughty Kiss tapi saya Cuma buat sifat tokohnya sama dengan film itu dan untuk alur ceritanya tentu saja saya ubah ^^

Dan terakhir => Love You all🙂

108 thoughts on “My Kiss, My Destiny (Chapter 2)

  1. wlaupun agak mirip sama naughty kiss tpi jlan critanya ttp bagus kok..
    tokoh sang akh nya juga 11,12 sama oh hanny tpi dibwah oh hanny sih.. hehe
    lanjutkan ..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s