Secret Darling | 4th Chapter

secret-darling1

.

:: SECRET DARLING | 4th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Fluff | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by IraWorlds © High School Graphics ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter

.

Hati Minhee melambung saat Sehun memuji bau harum telur dadarnya. Ia langsung membalikkan tubuhnya, bermaksud untuk mengahadap Sehun untuk mengucapkan terima kasih. Tapi gadis itu malah terbelalak bukan main saat menemukan kenyataan yang lebih. Sehun tepat berdiri di depannya kini, jarak mereka bahkan tak lebih dari tiga puluh centimeter. Satu-satunya hal yang membuatnya bersyukur saat ini adalah, tingginya yang hanya sebatas dada laki-laki itu tak membuatnya langsung berhadapan dengan wajah pemiliknya.

Kalau seperti itu kejadiannya, ia bisa pingsan menahan malu detik itu juga.

 

“Oppa?” Minhee meruntuki dirinya sendiri saat ia malah tak sadar mengarahkan pandangannya ke atas sehingga bisa menemukan wajah suami bertubuh tingginya itu. Dia itu tampak tampan dengan rambut kecokelatannya yang sedikit basah, mungkin baru selesai mandi.

 

Dasar bodoh kau, Shin Minhee.

 

Nalar Minhee terlalu beku untuk cepat-cepat mencerna apa yang terjadi. Sepertinya ia terlalu terbius oleh pesona-selesai-mandi suaminya sendiri, sampai-sampai ia tak sadar jika jarak antara mereka mulai menipis.

Ini adalah pagi hari yang cerah.

Morning kiss?

.

.

| 4th Chapter |

.

.

 

Ciuman yang menyapu bibir tipis Minhee begitu lembut dan manis. Bahkan ciuman ini seratus kali lebih manis dibanding ciuman-ujung-bibir yang Sehun berikan di atas altar. Tubuh Minhee serasa membeku dengan cepat, secepat nitrogen cair yang dibiarkan di udara terbuka. Minhee tak bisa bernapas sama sekali, seluruh tubuhnya lemas dan tak ada syaraf yang bekerja dalam tubuhnya.

Mungkin mereka melakukannya selama empat puluh detik. Tak bisa terlalu lama sekarang, karena mereka mulai kehabisan napas. Tangan Minhee mendorong tubuh Sehun ke belakang, dan akhirnya membuat ciuman mereka terputus. Mereka terengah-engah sambil memalingkan wajah merah masing-masing, terlalu malu untuk melihat wajah yang ada di depannya mengingat hal apa yang baru saja mereka lakukan pagi ini.

 

“Maaf.” Sahut Sehun pelan. “Aku…”

“Aku juga minta maaf,” potong Minhee kecil. “Uhm, sebaiknya kita makan sekarang saja.”

Mereka berpisah dan duduk di kursi masing-masing. Kursi mereka berhadapan, membuat suasana canggung semakin tak karuan. Diperparah saat mereka tak sengaja meraih sendok nasi bersamaan, membuat tangan kanan mereka sama-sama bertemu diatas sendok nasi besar berwarna putih itu. Mereka saling menatap dengan kaget, lalu melepaskan tangan dari sendok itu juga secara bersamaan.

 

“Kau duluan saja,” sahut Minhee canggung.

“Kau,” sahut Sehun. “Kau perempuan, lebih baik kau duluan.”

“Kau suamiku,” balas Minhee canggung lagi. “Lebih baik kau duluan. Tak apa, sungguh.”

Sehun menatap Minhee lalu akhirnya mengambil nasi pertama. Suasana menjadi semakin canggung dan kikuk, mereka sama-sama tak mengucapkan kata lagi. Sehun melirik sedikit wajah Minhee saat gadis itu mengangkat kepalanya untuk mengambil nasi, menemukan bahwa semburat merah itu masih bertahan di wajah istrinya.

 

“Aku sungguh-sungguh minta maaf,” sahut Sehun lagi selesai Minhee menuangkan nasi ke dalam piringnya. Minhee mengangkat kepalanya sedikit.

“Kau suamiku,” balas Minhee dengan senyum tipis yang sedikit tertarik. “Sebenarnya… Kau tak dilarang melakukan itu,”

“Aku tahu, tapi…” Sehun menjeda kalimatnya sebelum melanjutkannya kembali, “… kau sama sekali belum siap dengan pernikahan ini, kan?”

“Kita baru menikah selama dua bulan,” sahut Minhee kecil. “Mungkin untuk saat ini, iya. Tapi… Tapi aku berjanji, suatu saat nanti aku akan merubah sikapku.”

 

Sehun menatap Minhee yang sedang tersenyum kecil di depannya, lalu ikut membalas senyum itu.

Adalah takdir untuk bertemu denganmu, tidur sekamar denganmu, menikahimu karena sebuah kesalahpahaman, kuliah di kampus yang sama denganmu, tinggal satu apartemen yang sama denganmu, menciummu tadi… Mungkin suatu saat nanti aku juga akan ditakdirkan untuk mencintaimu. Aku percaya janjimu, Shin Minhee…

 

 

Minhee mengenakan syal ke kampus hari ini. Dan Sehun adalah orang yang melingkarkan syal itu ke lehernya. Tapi tentu saja hal itu mereka lakukan saat masih di apartemen, mereka tak pernah berani berdekat-dekatan saat di kampus. Lagipula mereka bukan hanya berbeda angkatan, tapi juga berbeda fakultas. Akan amat sangat sulit bagi mereka bahkan hanya untuk sekedar bertemu. Sehun sedang sibuk dengan bimbingan dosen menjelang kelulusannya yang sebentar lagi, sedangkan Minhee juga sama-sama sibuk dengan segudang kegiatannya sebagai mahasiswi baru.

 

“Minchannie,” panggil Minhee saat ia berhasil menemukan sahabatnya itu dalam ruangan kelas yang belum dimasuki dosen. Minchan menoleh dan sedikit mengernyit aneh saat melihat kedatangan Minhee dan pakaiannya ke kampus hari ini.

“Oh, please, Nyonya Oh. Ini bahkan belum benar-benar memasuki musim dingin, tapi kau sudah berpakaian serapat itu. Apa kau tidak gerah?” sahut Minchan sambil geleng-geleng kepala menatap sahabatnya yang kini sudah menyeret salah satu kursi dan duduk di sebelahnya.

Minhee hanya menggeleng, lalu menurunkan sedikit syal yang melingkari lehernya.

 

“Sehun oppa mencium bibirku tadi pagi,” sahut Minhee pelan.

Minchan membelalakan matanya. “APA?!”

Aish, kau!” desis Minhee saat mata beberapa anak yang ada di kelas itu menatap mereka bingung bercampur curiga. “Kecilkan volume suaramu, atau aku tak akan melanjutkan cerita ini padamu.”

“Maaf,” sahut Minchan sambil meringis kecil. “Bagaimana? Volume seperti ini cukup? Ayolah, kau tahu kan, aku tak suka jika kau tak jadi menceritakan hal yang sudah terlanjur membuatku penasaran. Lalu apa lagi yang dilakukannya?”

“Tak ada,” jawab Minhee dengan gelengan. “Ia hanya menciumku. Di depan meja makan.”

Morning kiss,” kekeh Minchan kecil. “Bagimana rasanya?”

“Entahlah,” jawab Minhee bingung. “Dia menciumku dengan sangat lembut. Aku kira rasanya… Uhm, sedikit… Lengket?”

“Astaga!” seru Minchan tertahan. “Kau memilih kata ‘lengket’ untuk mendeskripsikan morning kiss pertamamu dengan dia?”

“Aku tak tahu kata apa yang cocok kugunakan,” sahut Minhee sambil mengerucutkan bibirnya. “Mungkin ‘mint’? Dia menciumku selesai mandi,”

“Hah?” Minchan terpana. “Tapi… Dia sudah berpakaian, kan?”

“Jangan berpikir bodoh.” Sahut Minhee sambil mendorong lengan Minchan. “Tentu saja sudah. Kau tak dengar kata-kataku sebelumnya? Itu di meja makan, berarti di dekat dapur. Coba saja kau bayangkan sendiri, apakah mungkin ia pergi kesana dengan masih menggunakan baju handuk?”

“Kau benar juga,” sahut Minchan lalu terkekeh kecil. “Lalu semalam… Apa kalian melakukan sesuatu?”

Minhee membulatkan matanya sempurna lalu mendorong Minchan tanpa main-main. “Apa maksudmu?!”

Minchan tertawa keras melihat betapa berlebihannya reaksi Minhee dan wajah salah tingkahnya yang selalu menyenangkan untuk dilihat. Sahabatnya itu mengerucutkan bibirnya kesal, sekaligus merasa shock dengan pertanyaan konyol Minchan barusan.

“Maaf, aku hanya bercanda,” sahut Minchan sambil masih terkekeh disela kalimatnya. “Harusnya aku tahu sahabatku masih akan tetap sepolos ini, kau tak akan berani melakukannya. Benar, kan?”

“Bagaimana mungkin juga aku akan melakukannya?” Tanya Minhee datar. “Aku masih belum mengenalnya secara penuh. Aku tak segila itu, Park Minchan.”

Minchan masih terkekeh saat mengingat betapa berlebihannya sikap Minhee barusan. Sedangkan Minhee masih terus mengerucutkan bibirnya kesal, berkali-kali menyuruh Minchan berhenti dengan kekehan konyolnya itu namun tak banyak berfungsi.

“Jadi kau sekarang ‘berpacaran’ dengannya?” Tanya Minchan setelah selesai dengan kekehannya.

Minhee menatap Minchan bingung, terlihat dari keningnya yang mengerut. “Apa? Pacaran apa?”

“Pacaran dalam artian yang sesungguhnya,” sahut Minchan lagi. “Kalian sudah berani melakukan skinship. Itu yang kusebut sebagai ‘pacaran sesungguhnya’.”

“Tadi pagi itu hanya kesalahan, tahu.” Sangkal Minhee sambil memutar-mutar kakinya dibawah meja. “Lagipula kami sudah sama-sama minta maaf, jadi ya sudah. Kami melupakan hal bodoh itu.”

“Kau ini,” decak Minchan. “Kapan kau bisa sedikit terbuka pada namja? Dia itu suamimu, tahu. Apa kau akan memperlakukan dia sama seperti kau memperlakukan namja-namja masa lalu yang pernah kau sukai? Menjaga jarak, bahkan terkesan menjauh?”

“Tidak tahu,” balas Minhee sambil mengangkat bahunya. “Mungkin saja… Cepat atau lambat kami bisa menerima semuanya, menerima pernikahan kami.”

“Kau bilang ‘mungkin’,” keluh Minchan. “Oh iya, pulang kuliah nanti kau mau menemaniku ke mall?”

Minhee mengernyitkan dahinya. “Apa? Untuk apa?”

“Sekedar jalan-jalan saja,” jawab Minchan dengan senyum lebarnya. “Aku sudah lama tidak berjalan-jalan denganmu, merumpi denganmu… Semenjak kau menikah dengan dia.”

 

“Maaf, tapi tidak bisa, Minchan-ssi. Minhee milikku sepenuhnya hari ini.” Suara berat yang sedikit aneh milik seorang laki-laki menginterupsi mereka berdua. Mereka mendongak sampai ke atas, dan akhirnya menemukan wajah suami Minhee disana. Oh Sehun.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Minhee dengan nada terkejut yang sedikit berlebihan, Sehun hanya memutar mata saat mendengarnya.

Minchan dan Minhee menatap beberapa mata anak dalam kelas itu yang tertuju pada mereka bertiga dengan pandangan seperti tadi, aneh dan curiga. Apalagi mereka sudah tahu pasti, Sehun adalah kakak angkatan mereka karena dia salah satu namja yang terkenal di kampus.

Pasti pertanyaan mereka semua sama sekarang. Untuk apa Oh Sehun kesini?

 

“Selesai kuliahmu, cepat hubungi aku.” Pesan Sehun datar sebelum melangkahkan kakinya kembali keluar kelas. Minchan dan Minhee mengerutkan kening bersamaan.

“Apa maksudnya?” Tanya Minhee merasa aneh. “Dasar namja aneh. Tidak jelas sekali.”

“Intinya, dia melarang kita jalan-jalan,” sahut Minchan. Ia memutar matanya. “Shin Minhee, suamimu possesif sekali ternyata.”

“Dia saja yang aneh.” Sahut Minhee menambahkan. “Bayangkan aku harus hidup selamanya dengan namja seperti itu.”

“Tapi setidaknya dia tampan. Kau cukup beruntung mendapatkannya, benar ‘kan?”

“Iya.” Jawab Minhee tanpa sadar. “Yak, kau bilang apa tadi?!”

 

 

Minhee melangkahkan kakinya malas-malas menuju Sehun yang sudah menunggunya di gerbang kampus. Ia masih merengut, sampai akhirnya ia tiba di dekat Sehun. Bertepatan dengan Sehun yang menoleh sehingga ia bisa melihat wajah kusut Minhee sekarang.

 

“Sebenarnya ada apa?” Tanya Minhee malas-malasan.

Sehun mengangkat bahu. “Entahlah. Luhan hyung meminta kita pulang bersama hari ini.”

“Kau menghancurkan acaraku lagi bersama Minchan.” Keluh Minhee sambil merengut. Mereka memulai langkah mereka menuju halte terdekat yang ada di sisi kiri gerbang kampus.

“Bukan salahku, hei.” Protes Sehun. “Salahkan Luhan hyung. Ia yang merencanakan sesuatu hari ini.”

Tak lama kemudian bus yang mereka tunggu sudah tiba. Minhee mengernyit saat melihat tempat duduk bus yang sudah penuh, hanya tersisa dua bangku dan itu bersebelahan. Akhirnya mau tak mau ia duduk bersebelahan dengan Sehun, padahal sebelumnya mereka selalu mengambil tempat duduk yang terpisah. Minhee mendengus.

 

“Kau tidak suka duduk denganku?” tebak Sehun saat melihat ekspresi yang ditunjukan Minhee. “Baiklah, silahkan berdiri saja kalau begitu.”

“Mana etikamu?” balas Minhee tak mau kalah. “Kau laki-laki. Harusnya kau yang mengalah dan berdiri.”

“Tidak mau.” Balas Sehun. “Kau yang menolak duduk denganku, jadi tentu saja kau yang harus pergi.”

Minhee menggembungkan pipinya kesal. Ia menolak berdebat lebih jauh lagi dengan Sehun. Ia lebih memilih diam, walau dengan posisi wajah yang tak menghadap ke Sehun lagi. Mereka konyol. Mereka pasangan suami istri dibawah umur yang berdebat di dalam bus, itu pikir Minhee.

 

Tiba-tiba suara ponsel Sehun terdengar dari balik mantel namja itu. Sehun buru-buru menjawabnya, sedangkan Minhee masih pura-pura tak peduli dan hanya meliriknya sedikit.

 

Yoboseyo, hyung?”

 

“…”

 

“Ya. Sebentar lagi aku sampai,”

 

“…”

 

“Kau tahu, hyung. Gadis ini sulit sekali diatur. Ia terlalu banyak bertanya, kepalaku pusing.”

Minhee menyadari gadis yang dimaksud Sehun adalah dirinya, jadi ia segera melirik sadis pada Sehun sambil mendaratkan pukulan beberapa kali di lengan namja itu. Sehun hanya balik meliriknya sadis, lalu kembali sibuk dengan percakapan teleponnya.

 

“Ya, hyung. Sampai nanti,”

 

“Kau bicara apa tadi?” sembur Minhee begitu Sehun memutuskan sambungan teleponnya dengan Luhan. Sehun hanya melirik Minhee sedikit, seakan tak peduli dengan celotehan istrinya yang diam-diam cerewet itu.

“Aku bicara sesuai fakta. Kau memang cerewet sekali, Nyonya Oh.” Balas Sehun datar.

Minhee terkesiap sedikit saat Sehun menyebutnya sebagai ‘Nyonya Oh’. Namun selanjutnya ia lebih memilih untuk menampakan raut tak peduli.

“Aku? Nyonya Oh? Kalau kau sebal padaku, kenapa kau menurunkan margamu itu padaku, huh? Sebut saja aku ‘Nona Shin’ jika memang kau sebal padaku.” Balas Minhee.

Tanpa Minhee duga, tiba-tiba Sehun mendekatkan wajahnya. Begitu dekat, sampai Minhee mengira kalau jarak antara mereka hanya sekitar sepuluh centimeter sekarang. Minhee terpaksa menahan napasnya. Namja ini sudah gila. Kenapa ia nekat mendekat sampai seperti itu di tempat umum?!

 

“Karena biarpun kau menyebalkan dan cerewet, kau sudah menjadi istriku sekarang.” Bisik Sehun pelan sambil menunjukan smirk tipis. “Dan mengakui aku atau tidak, margaku sudah resmi turun padamu sekarang. Kau mengerti, Nyonya Oh?”

Minhee masih membeku, walaupun Sehun sudah kembali menjauhkan wajahnya dari wajah gadis itu. Gadis itu masih saja menahan napas, seakan masih terkejut layaknya tersengat listrik saat menerima perlakuan seperti itu dari Sehun.

 

“Hei, kau tidak mau turun?” panggilan Sehun menyadarkan Minhee dari lamunannya sedari tadi. Gadis itu menggeleng untuk menghalau rasa pusingnya, lalu mulai menyadari kalau Sehun sudah berdiri menunggunya di depan pintu bus. Minhee cepat-cepat bangkit dan mengahampiri namja itu.

“Terimakasih atas tingkah bodohmu tadi.” Sahut Minhee saat berjalan melewati Sehun menuju pintu keluar bus.

 

 

“Apa? Aku harus pakai ini?” protes Minhee saat melihat gaun berwarna putih yang diacungkan Minhyuk padanya. “Oh, please, oppa. Kau tahu kan, aku tidak suka dress!”

“Tapi ini makan malam formal, jadi kau harus pakai ini.” Tegas Minhyuk sambil memaksa Minhee menerima gaun itu. “Kami akan membawamu ke restoran mahal. Lalu apa yang kau harapkan untuk dipakai ke sana? T-shirt, jeans dan sepatu kets bututmu itu?”

Minhee mendengus. “Formal apanya?”

Eomma dan ibu mertuamu sudah menunggu disana, tahu.” Sahut Minhyuk sambil mencubit pipi Minhee. Minhee meringis lalu memukul lengan Minhyuk untuk membalasnya.

“Memangnya ada acara apa?” Tanya Minhee sambil menyampirkan gaun itu di pundaknya lalu bercakak pinggang.

Aigoo, kau bodoh!” runtuk Minhyuk sambil menjitak kepala Minhee, membuat gadis itu merengut sambil memegangi kepalanya.

“Ini gaun mahal! Kau benar-benar tak bisa diharapkan ya, untuk jadi perempuan normal!” omel Minhyuk sambil mengambil gaun itu dari pundak Minhee dan berusaha merapikan kembali kekusutannya.

“Apa maksudmu? Aku ini sudah jadi perempuan sejak lahir!” balas Minhee sambil balik menjitak kepala Minhyuk. Gadis itu memang… Kurang sopan.

“Baiklah, terserah apa katamu. Yang jelas, kau harus pakai gaun ini sekarang!” perintah Minhyuk sambil mengacungkan gaun itu lagi pada Minhee.

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?”

Argh, baiklah! Ini perintah eomma! Kau puas? Kau bisa melepon eomma sekarang, kalau kau masih tidak percaya juga. Dasar gadis keras kepala.” Dengus Minhyuk, kali ini benar-benar memaksa Minhee menerima gaun itu.

Minhee merengut, lalu mau tak mau mengambil gaun itu dari tangan Minhyuk. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu akhirnya menurut dan melangkahkan kaki menuju kamarnya. Namun seperti kebiasaannya, ia menjejakkan kakinya terlebih dahulu ke lantai, tanda kekesalan. Minhyuk hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya itu.

“Sehun masih belum bisa juga merubah kelakuanmu,”

 

 

“Bagaimana, ya?” Minhee berkata pada dirinya sendiri, sambil memperhatikan bayangan dirinya yang terpantul di cermin sebesar badan yang ada di kamarnya. Ia memutar-mutar tubuhnya dengan wajah yang ragu, namun sedikit takjub juga saat melihat ujung gaun itu yang melambai-lambai setiap ia bergerak.

“Gaun ini terlalu bagus untukku.” Keluh Minhee sambil menunduk memandangi tubuhnya yang terbalut gaun dengan desain feminin itu.

 

“Minhee-ya! Aigoo, kenapa lama sekali?!” protes seseorang yang ada di balik pintu. Detik berikutnya Minhee bisa mendengar gedoran brutal pada pintu kamarnya.

“Cerewet!” balas Minhee tak mau kalah, ia merengut semenjak mendengar suara Minhyuk berkumandang lagi dalam kepalanya.

“Kami menunggumu sejak tadi, bodoh.” Sahut Minhyuk emosi. “Cepatlah!”

“Sebentar lagi!” balas Minhee. Gedoran di pintu tidak terdengar lagi, perlahan Minhee menghela napas lega sambil kembali melihat pantulan dirinya di cermin.

“Shin Minhee, jangan kacaukan hari ini. Oke?”

 

Perlahan Minhee keluar dari kamarnya. Kosong.

Mereka semua kemana?

Minhee berjalan menuju ruang tengah, namun tepat di persimpangan ruangan ia menubruk seseorang dari arah yang berlawanan. Mereka sama-sama terdorong mundur. Minhee mengira ia baru saja bertubrukan dengan Luhan.

 

Mianhae, oppa.” Sahut Minhee sambil membungkuk. Namun setelah ia mengangkat kepalanya kembali, ia terkejut saat melihat bahwa itu Sehun. Namja itu tampak tampan dengan kemeja kotak-kotak cokelatnya.

“Sehun oppa?” sahut Minhee refleks. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Ini apartemen kita, hei.” Koreksi Sehun. “Aku baru saja ingin memanggilmu, Putri Kura-Kura.”

Minhee cemberut mendengar panggilan Sehun padanya. “Jadi sekarang kau punya panggilan baru untukku?”

“Kita tak punya waktu untuk berdebat lagi.” sahut Sehun sambil memutar matanya jengah. “Kita sudah ditunggu. Kau terlalu lambat, Putri Kura-Kura. Ayo.”

 

Dan untuk kali ini, lagi, Minhee tak tahu mengapa hatinya sudah mulai berdebar saat Sehun menyentuh tangannya.

 

 

“Kira-kira, ini sudah bulan keberapa ya, semenjak Sehun dan Minhee menikah?” pertanyaan itu membuat Minhee mengeluh dalam hati. Jadi mereka bertemu malam ini hanya untuk bernostalgia mengingat tanggal pernikahannya dan namja yang selalu berdebat dengannya itu?

Minhee melirik Sehun yang ada di hadapannya, Sehun yang tampak sibuk sendiri dengan makanan kesukaannya dan tampak tak peduli sama sekali dengan pembicaraan yang menyangkut soalnya. Soal pernikahan mereka.

 

“Bulan kedua,” jawab Luhan setelah meneguk lemon tea-nya. “Benar kan, adikku?”

Sehun mengangkat kepalanya, sedikit bingung dengan pertanyaan Luhan, karena jujur ia tak terlalu memperhatikan pembicaraan itu sejak tadi.

“Oh, iya.” Balas Sehun singkat.

“Luhan tampaknya sangat memperhatikan pernikahan kalian, ya?” tawa eomma Minhee. “Luhan-ssi, apa kau belum berniat menyusul adikmu ke pelaminan?”

“Oh, sepertinya belum.” Jawab Luhan dengan senyum. “Aku harus banyak mengejar karirku dulu. Itulah yang kupikirkan saat ini, ahjumma.”

“Bagaimana dengan Minhyuk?” Tanya eomma Sehun. “Apa dia pernah mengenalkan seorang gadis padamu, Yeonnie?”

“Minhyuk oppa selalu menjalani hubungan bawah tanah selama ini,” jawab Minhee dengan senyum tak bersalah. “Tentu saja eomma tidak tahu, siapa-siapa saja gadis yang pernah menjadi pacar Minhyuk oppa.”

Semua yang ada di meja makan itu tergelak, sementara Minhyuk hanya bisa melemparkan death glare pada adiknya.

Ini adalah balas dendam dari kelakuan menyebalkanmu tadi, Shin Minhyuk.

Minhee menyembunyikan senyum puasnya dengan gelas minuman yang sedang diteguknya.

 

“Ngomong-ngomong soal bulan kedua…” sahut eomma Sehun pelan. “Minhee-ya, apa kau belum menunjukan tanda-tanda kehamilan?”

 

Minhee kontan tersedak saat mendengar pertanyaan itu terlontar dari bibir eomma Sehun. Ia benar-benar tersedak dan terbatuk-batuk dengan parah, sampai Luhan ikut repot menolongnya. Begitupun Sehun yang tersedak potongan tuna sushi yang sedang dilahapnya. Eomma Sehun dan eomma Minhee hanya bisa mengerutkan kening saat melihat reaksi keduanya, saling pandang namun bingung untuk mengucapkan apa. Sedangkan Minhyuk dengan senyum santainya hanya diam saja sambil memandangi betapa menyedihkannya reaksi yang ditunjukan Minhee.

 

“Ha… Hamil?” Tanya Minhee dengan panik. “Hamil? Hamil?”

“Ada apa denganmu, sayang?” Tanya eomma Minhee sambil memandangi anak bungsunya dengan cemas. “Apa kau benar-benar sudah hamil? Lalu menyembunyikan berita itu dari kami?”

“Apa yang eomma bicarakan?” Tanya Minhee panik lagi. “Aku tidak mungkin hamil.”

Kini giliran eomma Sehun dan eomma Minhee yang terkejut mendengar penyataan Minhee. Tidak mungkin hamil? Apa maksudnya?

 

“Tidak mungkin hamil?” ulang eomma Minhee terkejut. “Tapi kenapa, sayang? Jadi gara-gara kejadian di Pulau Jeju itu… Kau tidak hamil?”

 

Hamil apanya? Sehun bahkan sama sekali tidak menyentuhku! Aigoo, kenapa semua orang jadi berpikiran bodoh seperti ini?!

 

“Aku tidak sedang hamil, oke?” ujar Minhee meluruskan semuanya. Ia melirik Sehun, dan ternyata Sehun juga sedang meliriknya. Minhee menelan saliva gugup.

 

“Berarti kita harus meralat semuanya, Kwonnie.” Sahut eomma Minhee, mengeluh kecewa. “Lalu bagaimana? Pesta penyambutan kehamilan itu?”

“Apa?!” sahut Sehun dan Minhee shock, bersamaan. “Apa maksudnya?”

“Kami kira kau sudah hamil, Minhee-ya…” sahut eomma Sehun kecil. “Maka dari itu kami bermaksud mengadakan pesta keluarga. Pesta penyambutan kehamilan.”

“Siapa yang menyebarkan berita kalau aku sudah hamil?” Tanya Minhee selidik. Dengan ragu, eomma Minhee melirik pada Minhyuk. Minhee tersadar seketika, siapa yang menjadi biang keladi dari semua kesalahpahaman ini.

Shin Minhyuk, kau benar-benar sangat mengesalkan!

 

“Boleh aku ke toilet sebentar?” pamit Minhee diluar dugaan. Minhyuk melirik Minhee, sungguh sebenarnya ia bersyukur sebab Minhee tak mengamuk seperti perkiraannya.

Setelah mendapat izin, Minhee cepat-cepat bangkit dan melangkahkan kakinya menuju toilet. Menahan mati-matian kekesalannya pada kakaknya satu-satunya itu. Argh, rasanya Minhee ingin menjambak rambut kakaknya itu sekarang juga!

 

Sampai di toilet, tak ada hal yang Minhee lakukan. Ia hanya terdiam di depan cermin washtafel sambil mengatur napasnya yang berantakan, efek dari menahan amarahnya pada Minhyuk. Aigoo, kenapa laki-laki itu menyebalkan sekali? Kenapa ia senang sekali meledek Minhee? Bahkan sampai menyebarkan berita kalau Minhee hamil, padahal… Demi telur dadar yang dimasaknya tadi pagi, Sehun dan Minhee bahkan belum pernah melakukan apapun! Bagaimana bisa Minhee hamil kalau Sehun saja belum pernah menyentuhnya?!

 

“Sayang,” panggil seorang wanita tiba-tiba. Minhee segera menolehkan wajahnya pada pintu masuk toilet dan melihat eomma-nya sedang berdiri disana, memandang sedikit khawatir padanya. Minhee tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis, dan eomma-nya langsung menghampiri Minhee.

“Ada apa, eomma?” Tanya Minhee setelah yakin jika emosinya pada Minhyuk sudah bisa diatur.

Eomma ingin bertanya sesuatu padamu,” jawab eomma-nya dengan senyum samar.

Minhee mengerutkan keningnya. “Pertanyaan apa, eomma? Kenapa tidak di meja makan saja menanyakannya?”

Eomma-nya menggeleng, membuat Minhee semakin bingung sekaligus berdebar menebak pertanyaan apa yang akan dilontarkan eomma-nya.

“Pertanyaan ini hanya untuk perempuan,” jawab eomma-nya. Minhee semakin berdebar mengira-ngira apa maksud eomma-nya.

“Minhee-ya, tolong jujur pada eomma.” Pinta eomma-nya pelan. “Apa benar Sehun belum pernah melakukan apapun padamu?”

“Hah?” ulang Minhee shock. “Melakukan apa? A— Apa maksud eomma?”

“Kau seharusnya tahu, Minhee-ya,” keluh eomma-nya sedikit tidak sabar. “Kau istrinya. Apa dia belum pernah melakukan apapun padamu?”

Tenggorokan Minhee mendadak kering. Kepalanya pusing karena ia tak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia jujur saja? Mengatakan apa adanya pada eomma-nya?

 

“Minhee-ya,” panggil eomma-nya lagi. “Jawab eomma.”

“Aku tak tahu, eomma.” Geleng Minhee sedikit canggung dan panik. “Kalau ‘sesuatu’ yang eomma maksud adalah ciuman, ya, aku jujur. Selain di altar, Sehun oppa pernah sekali lagi melakukannya padaku. Tapi untuk soal yang lain, tidak, eomma. Kami belum berani untuk melakukan apapun. Maafkan kami, eomma.”

Eomma Minhee terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar jawaban Minhee. Minhee mengangkat pandangannya takut-takut, takut menemukan sorot kecewa dalam mata eomma-nya. Itu bukan jawaban yang diinginkannya, kan?

 

“Lalu bagaimana soal kejadian saat di Pulau Jeju itu?” Tanya eomma Minhee lebih lanjut.

Minhee meremas ujung gaunnya dengan sedikit gelisah, ia bingung harus menjawab apa.

“Aku sudah bilang, kami tak pernah melakukan apapun,” jawab Minhee pelan. “Kami hanya sekedar tidur satu kamar. Tapi kami tidak melakukan apapun, eomma. Sehun oppa tidak menyentuhku sama sekali. Dan itu berlaku sampai hari ini. Jadi jika kalian semua mengharapkan aku secepatnya hamil anak Sehun oppa, aku rasa itu tidak bisa karena… Ya karena… Karena kamipun masih belum berani melakukan apapun, eomma. Kami masih terlalu muda, kami belum berani mengambil resiko dan kami juga belum mengenal satu sama lain lebih jauh. Kami masih butuh waktu, eomma…”

Lagi-lagi eomma Minhee terdiam setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari puterinya. Sebenarnya Minhee sudah menjawabnya dengan lengkap, namun entah kenapa ia masih merasa ada jawaban yang kurang meskipun ia tak tahu itu apa.

 

Eomma bisa mengerti keadaanku, kan?” Tanya Minhee lagi.

Eomma-nya tersenyum lembut pada Minhee, lalu mengelus pelan pundak puterinya itu. “Ya, eomma mengerti.”

“Terimakasih, eomma.” Sahut Minhee sambil memeluk eomma-nya itu. Eomma-nya balas memeluk Minhee dengan hangat.

“Tidak apa-apa, Minhee-ya…” sahut eomma-nya sambil melepaskan pelukan Minhee.

Eomma akan kembali ke meja. Kau mau ikut?”

“Tidak, eomma saja duluan. Aku menyusul sebentar lagi.”

“Baiklah, jangan terlalu lama, oke?”

“Ya, eomma.”

 

Bukan main leganya hati Minhee setelah berhasil mengatakan banyak hal terpendam yang selama ini belum tersampaikan sepenuhnya atas pernikahannya sendiri. Walau kejujuran itu tak akan bisa merubah apapun yang telah terjadi, juga tak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula, tapi setidaknya Minhee sudah mengatakan kebenaran secara lebih lengkap. Dan itu membuat hatinya lebih lega lagi.

Seperti janjinya dan Sehun tempo hari, jika memang ini sudah menjadi jalan bagi mereka, pasti semuanya akan berjalan normal menuju masa depan nanti. Mungkin mereka bisa saling jatuh cinta di masa depan, lalu menjalani hidup yang bahagia sebagai pasangan yang sebenarnya. Itu tidak menutup kemungkinan.

 

Setelah merapikan sedikit penampilan dan mengatur raut wajahnya saat tiba di meja makan lagi, Minhee mulai melangkahkan kakinya keluar dari pintu toilet itu. Bahkan pintu berat itu baru saja menutup di belakangnya, ketika langkahnya lagi-lagi terhenti saat ia bertemu dengan sosok namja yang baru saja melangkah lewat di hadapannya lalu masuk ke pintu toilet laki-laki yang ada di sebelah pintu toilet perempuan. Pandangan Minhee mengosong seketika saat sekilas wajah milik namja itu kembali mengetuk memori lamanya.

Selama beberapa saat Minhee terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus pergi saja dari sana? Atau malah menunggu namja itu sampai keluar dari toilet? Lalu menghampirinya, pura-pura bertanya akrab padanya, berharap namja itu masih memiliki ingatan yang sama baik seperti ingatannya.

Tapi… Apa yang bisa seorang Shin Minhee harapkan? Bahkan namja itu sudah berbelas-belas tahun tak berjumpa dengannya, apakah masih bisa diharapkan kalau namja itu masih mengingatnya? Sudah berbelas-belas tahun mereka terpisah jauh, bahkan terpisah oleh letak benua yang berbeda. Apakah masih ada kemungkinan jika namja itu masih mengingat gadis kecil yang pernah hadir di masa lalunya?

 

“Minhee-ya, kau sedang apa?” Tanya suara itu tiba-tiba. Minhee tersadar dari ilusinya, ia mengerjap dan tahu-tahu sudah menemukan Sehun yang sedang berdiri di dekatnya sambil memandanginya bingung.

“Kau melamun? Di depan pintu toilet?”

 

“Tidak,” geleng Minhee cepat. “Kau yang sedang apa disini?”

“Aku disuruh untuk menjemputmu,” jawab Sehun, sama sekali tak curiga dengan pengalihan tema yang dilakukan Minhee. “Si-eomeoni bilang kau terlalu lama di toilet. Dan, yah, eomma-mu benar.”

“Baiklah, ayo kembali ke meja makan saja.” Sahut Minhee lalu secara tak sadar menggandengkan lengannya dengan lengan Sehun. Sehun terkesiap sesaat, namun hanya tersenyum tipis kemudian dan sama sekali tak mengingatkan Minhee soal gandengan itu. Ia membiarkannya.

“Ide bagus.” Respon Sehun sambil memiringkan kepalanya. Mereka lalu berjalan kembali menuju meja makan. Sedang Minhee, dalam kepalanya sendiri, masih terus bertanya-tanya soal namja yang dilihatnya secara sepintas tadi.

 

Apakah ia tidak salah orang?

 

 

“Memangnya apa yang tadi si-eomeoni katakan padamu?” Tanya Sehun sambil menghempaskan diri diatas sofa, dengan televisi yang menyala di depannya dan juga Minhee bersama semangkuk popcorn yang ada di sisinya.

“Mau tahu saja,” jawab Minhee sekenanya, tanpa menoleh sedikitpun pada Sehun.

Sehun mendecak kesal sambil mengalihkan tatapan pada gadis yang duduk berjarak nyaris satu meter darinya itu. “Kau makan terus. Tadi kau sudah makan di restoran, dan sekarang kau mengemil popcorn.”

“Biarkan saja,” jawab Minhee lagi. “Aku masih dalam usia pertumbuhan, jadi wajar kalau aku masih suka makan.”

“Kau tidak benar-benar hamil, kan?

 

Minhee mendelik mendengar pertanyaan konyol Sehun, lalu detik berikutnya ia tak main-main mendaratkan pukulan pada lengan Sehun.

“Jangan sembarangan bicara, ya!”

 

“Memangnya apa salahku?” Tanya Sehun balik, sambil terus mengusap-usap lengannya yang tadi menjadi sasaran pukulan Minhee. “Memangnya kenapa kalau kau tiba-tiba hamil? Yang penting ‘kan sudah ada aku. Aku suamimu. Jadi kalau kau hamil, akulah yang bertanggung jawab atas bayimu itu.”

“Kau ini bicara apa?!” sahut Minhee shock lagi. Sehun benar-benar kaget saat Minhee membanting mangkuk popcorn itu keatas meja.

“Lalu maksudmu apa? Kau mau kita melakukan ‘itu’? Shireo! Kau gila! Aku tidak mau melakukan hal yang aneh-aneh bersamamu!”

 

“Memangnya kenapa? Kau ‘kan istriku? Pada dasarnya, aku punya hak, kan?” debat Sehun lagi. Minhee mengacak rambutnya frustasi.

“Lagipula, eomma kita sepertinya sangat mengharapkan cucu, jadi…”

 

“Jadi apa?” potong Minhee panik. “Jadi kau bermaksud membuatku benar-benar hamil? Begitu?”

 

Sehun terdiam, takut salah menjawab. Minhee juga ikut terdiam, merasa frustasi dengan tema obrolan super duper konyol yang sejak di restoran tadi sudah dibahas.

 

“Apa salahnya?”

 

“Apa salahnya?! Kau menyebalkan, Oh Sehun!”

 

BLAM!

 

 

Minhee terengah-engah setelah membanting pintu kamarnya, meninggalkan Sehun yang mematung di depan sana. Ya, tentu saja. Pasti sekarang namja itu masih terbengong-bengong di depan sana sepeninggal pintu yang beberapa detik lalu terbanting keras di hadapannya. Mungkin juga ia bingung karena melihat bagaimana sensitifnya Minhee saat mereka membahas soal kehamilan?

Aigoo… Kenapa tak ada satupun pria yang mengerti alasan mengapa seorang wanita sangat sensitif saat berbicara masalah kehamilan? Terlebih seorang wanita muda yang terjebak dalam pernikahan akibat kesalahpahaman konyol ini, Shin Minhee.

 

Aish, kenapa disini hanya aku yang satu-satunya waras?” keluh Minhee sambil berjalan ke depan cermin dan mengacak poninya frustasi. Lalu tanpa ia tahu apa alasannya, tiba-tiba ia meletakkan telapak tangan kanannya diatas perut. Memandangi refleksi dirinya sendiri lamat-lamat.

 

Tapi… Bagaimana jika suatu hari nanti aku benar-benar hamil anaknya?

 

 

| T B C |

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

Duh senengnya aku bisa posting tepat waktu kali ini :3

Seperti yang dari awal aku harapkan, aku kepengen posting Secret Darling setiap weekend… Dan akhirnya di chapter 4 ini aku bisa poting tepat waktu setelah dua kali ngaret dari keinginan .-.

 

Buat di chapter ini belum ada tambahan cast yaa…

Ohiya, kemarin sempet ada beberapa readers yang nanya kira-kira kapan mulai muncul konflik ceritanya. Nah, kemungkinan nih, mulai chapter depan sudah ada bau-bau konflik😀

Belum konflik sebenarnya sih, chapter 5 nanti baru aku munculin cikal bakal konfliknya. Dan inget apa konflik yang aku sebutin disini?😛

Dengan kata lain, di chapter depan bakal ada cast baru😀

Dan cast baru itulah yang menjadi salah satu cast pengganggu yang kemarin aku gadang-gadang itu. Penasaran siapa dia?

Hoho, ditunggu yah!😉

 

Oke, sekian cuap-cuap aku kali ini.

Gak banyak, kan? Tapi cukup menggoda buat clue yang aku kasih disini😛

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi~

 

 

 

shineshen

 

713 thoughts on “Secret Darling | 4th Chapter

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s