Truly, I Love You (chapter 13)

truly-i-love-you-3_zpsbad042c5

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), Yunju, EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

poster: http://invader09.wordpress.com/

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is just a fiction😀

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-Chapter 13-

 

-0-

“dia hanya mencintai laki-laki itu secara sederhana.”

 

Soekarno-Hatta, Indonesia 2010

Yui asik memainkan ponselnya saat koper-koper yang mereka bawa di naikkan ke atas troli. Hari ini keluar Do akan kembali ke korea, liburan 2 minggu mereka di Indonesia selesai. Ada banyak hal yang telah mereka lakukan selama kedatangan mereka ke Negara tersebut. D.O kecil terus melihat kesekelilingnya sejak tadi, dia akan segera kembali namun sejak ia membuka mata tadi pagi, dia belum melihat sakura dan bahkan teriakan gadis itu yang selalu membuat bising hari-harinya tidak juga di dengarnya.

“kyungsoo, kaja.” Ajak nyonya Do.

D.O menatap punggung kedua orang tuanya yang mulai menjauh. “noona.” panggilnya pada Yui yang masih berada selangkah di hadapannya.

“mwo?” yui membalik badannya.

D.O hanya menatap dalam mata yui, sebenarnya ia sangat ingin mengatakan sesuatu namun disaat yang sama ia juga sangat ragu untuk mengatakannya. “mwo?” Tanya yui lagi.

“ani. Tidak jadi.”

“kenapa? Sakura? kau tidak dengar apa yang tadi eomma katakan. Mereka sudah mengatakan ucapan selamat tinggal di saat makan malam kemarin, hari ini ada acara keluarga yang tidak bisa mereka tinggalkan dan tiket pesawat kita tak mungkin juga di batalkan. Kau yang bersikeras tak ingin ikut semalam. Jadi, ya sudahlah. Ayo, Aku tak mau di tinggal.” Yui mempercepat langkahnya menyusul kedua orang tuanya.

D.O kecil menatap lantai di bawahnya, ia menolak ajakan makan malam semalam karena awalnya dia pikir itu akan jadi makan malam biasa yang membosankan seperti biasanya. D.O tidak tahu bahwa itu adalah kesempatan terakhirnya untuk mengucapkan selamat tinggal yang walau otaknya memerintahkan untuk menolak namun hatinya terus saja mengatakan ada yang kurang.

“kyungsoo!” teriakan samar dari balik kerumunan orang-orang membuat D.O menghentikan langkahnya. Ia menoleh.

Dan gadis berkuncir dua yang tengah berlari kecil kearahnya perlahan mendekat. “kyungsoo.” panggil sakura lagi saat mereka sudah berhadapan.

“untung kau belum pergi. Aku kan belum mengatakan ucapan selamat tinggal.” Ujar sakura. D.O hanya bergeming menatap gadis itu, antara kaget, senang dan bingung karena seperti biasa, tak ada satu katapun yang dimengerti D.O dari apa yang sakura katakan.

Sakura mengulurkan tangannya. Kali ini dengan cepat D.O membalasnya dengan hangat. “terima kasih untuk 2 minggu yang menyenangkan ini. walaupun kau menyebalkan dan juga sangat pendiam, aku senang bisa mengenalmu. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. senang bisa mengenalmu kyungsoo.”

D.O hanya diam, tak tahu harus membalas apa karena dia juga tak mengerti apa maksud dari rentetan panjang ucapan sakura.

‘cup’

Kecupan hangat sakura berikan di pipi kanan D.O secara tiba-tiba, “aku tak punya hadiah perpisahan apa-apa untukmu. Kuharap kau akan selalu mengingatku untuk selamanya kyungsoo.”

Pengasuh sakura yang tadi datang bersamanya, perlahan menarik sakura menjauh. Dia memang merengek memaksa ditemani ke bandara tadi, disaat anggota keluarga yang lain sedang berada di tengah acara keluarganya. Sakura melambai pelan sebelum akhirnya D.O menghilang di balik kerumunan penumpang lain.

Sakura menjauh, lambaian tangannya masih dapat D.O lihat walaupun sedikit dari sela-sela para penumpang yang bergerumul di depannya. D.O memegangi pipi kanannya yang seketika menghangat. Ada sengatan listrik yang dirasakannya semenit lalu.

“ya! apa yang kau lakukan? Kau membuat orang khawatir saja. kaja. Kita sudah harus check in.” tegur yui dan langsung menarik tangan adiknya.

Di balik punggung yui yang tidak disadari gadis itu, D.O tengah menyunggingkan senyuman manis yang menunjukkan deretan giginya yang putih. Senyuman tulus yang benar-benar datang dari hatinya.

 

-0-

Langit sudah gelap walau hujan masih turun rintik-rintik. Yunju menunjukkan letak rumahnya yang ada di ujung blok perumahan. Mobil hitam D.O berhenti di depan sebuah rumah putih besar dengan gerbang hitam yang tinggi. “ini rumah baruku.” Kata yunju. D.O hanya menggumam singkat sebagai tanggapan.

“kamsahamnida D.O-ssi.” Ujarnya seraya melepas sabuk pengaman.

D.O menoleh dan mengangguk singkat. suasana canggung, bahkan sejak di jalan tadi, karena tidak ada satupun pembicaraan yang keluar selama perjalanan. Yunju berdehem sebentar sebelum membuka pintu mobil, “hati-hati di jalan D.O-ssi.” Pesannya.

D.O menghela nafasnya begitu yunju keluar dari mobil dan langsung menyalakan lagi mesin mobilnya, D.O segera melajukan mobilnya kencang tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Melihat mobil D.O menghilang di tikungan, yunju tersenyum samar. Ia senang dapat pulang bersama D.O, tapi disaat yang bersamaan tetap ada perasaan mengganjal yang terus membayanginya, D.O jadi terasa seperti orang lain sekarang.

-0-

Hujan deras mengguyur kota saat mobil chen sampai di depan gerbang rumah sakura. jam di dashboard menunjukan pukul 7 malam, mereka cukup lama menunggu Hana keluar dari sekolahnya tadi. Hana yang sebelumnya di jemput chen sudah terlelap di jok belakang. Dia sudah mengatakan ia lelah sejak masuk mobil tadi. “yakin sampai disini saja? aku benar-benar tak boleh untuk melewati gerbangnya ya?” Tanya chen, ada sedikit nada kekecewaan karena sakura memaksa untuk menurunkannya saja di depan gerbang padahal ia dapat melihat jelas jarak dari gerbang sampai depan pintu utama rumah itu cukup jauh.

“ani, bukan begitu. Aku sudah cukup merepotkanmu kan. gwenchana. Aku yakin aku tak akan basah sampai di rumah.” Sakura memberikan senyumannya. “terima kasih banyak chen-ah, ehm lain kali kau akan kutraktir makanan enak sebagai balasannya. Bye.” Sakura keluar dari mobil dan segera berlari menembus hujan.

“pabo,” ucap chen, “hujan sederas ini mana mungkin dia tidak basah.” Sesaat setelah sakura sudah tak terlihat lagi dari padangannya, chen mulai menyelakan lagi mesin mobilnya dan berlalu.

-0-

Sesampainya di depan pintu utama rumahnya, hal pertama yang diperiksa skaura adalah buku-buku yang tadi dipinjamkan seonsaengnim padanya. Dia mengeluarkannya dari dalam tasnya, untungnya buku-buku tersebut tidak sampai basah. Batin sakura.

“sedang apa kau?” sebuah suara tiba-tiba muncul di hadapannya, sakura mendongak dan mendapati D.O sedang bersandar di pintu sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“eung. Mengecek bukuku.” Jawab sakura polos, dia memasukkan lagi buku-buku tersebut dan langsung menggendol tas ranselnya.

“kenapa baru pulang jam segini? Dan kenapa kau hujan-hujanan? Kau pulang tanpa ahjussi?” cecar D.O, walaupun hari belum terlalu larut tapi sejak dia sampai di rumah tadi dan sakura belum pulang juga padahal cuaca buruk, cukup membuat D.O khawatir.

“ahjussi tak bisa menjemputku, aku coba menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya. Jadi aku pulang bersama…” sakura menggantung kalimatnya, diliriknya D.O yang sedang menatapnya, menunggu jawabannya.

“eung. Aku pulang bersama chen.”

Sakura menunduk, entah kenapa menyebut nama chen di hadapan D.O seperti sesuatu yang amat salah. Sakura menunggu D.O mengatakan sesuatu tetapi laki-laki itu tak juga mengatakan apa-apa, sakura mengangkat kepalanya dan D.O sudah tak ada di hadapannya.

Sakura mendesah, sepertinya dia sudah memulai pertengkaran baru lagi. batinnya. Dengan langkah lesu, sakura memasuki rumah. Kepalanya masih terus menunduk sampai sesuatu yang berbulu halus tiba-tiba sudah tersampir di kepalanya. Sakura mendongak dan mendapati D.O lah yang ternyata meletakkan handuk di atas kepalanya. “cepat ganti bajumu, akan ku bilang pada ahjumma untuk membawakan makan malam ke kamarmu.” Ujarnya. Tidak ada ekspresi kemarahan apapun seperti yang sudah sakura bayangkan sebelumnya. setelah berkata demikian D.O juga langsung beranjak ke dapur menemui ahjumma.

Melihat punggung D.O yang menjauh, sakura tersenyum kecil. rasanya aneh tidak mendengar sindiran kejam D.O yang biasanya ia lontarkan ketika mendengar nama chen. Sakura mengangkat bahunya dan segera menaiki tangga menuju kamarnya.

D.O’s POV

Setelah memastikan ahjumma menyiapkan makan malam untuk sakura, aku beranjak menuju kamar. Hujan masih turun dengan deras. Udara juga cukup dingin. Setelah masuk kamar aku menyalakan penghangat ruangan dan mengambil ponsel ku yang memang kusimpan di dalam tas sejak pulang sekolah tadi. 5 panggilan tidak terjawab dan semuanya dari sakura. ternyata dia benar-benar menghubungiku. Bodoh, kenapa aku harus mematikan nada deringnya. Ada sedikit kekesalan yang menyentil perasaanku, kesal karena aku tak melihat ponsel tadi dan kesal karena sakura harus pulang bersama chen. Aku mendengus keras, walau kesal aku tak tega kalau harus marah padanya dengan kondisi tubuhnya yang basah seperti tadi.

Pukul 8 malam aku memutuskan untuk keluar kamar, mengambil segelas air. Saat sampai di dapur, kulihat sakura juga sedang menuangkan air kedalam gelasnya. Sakura menoleh setelah aku berdehem kecil.

“kenapa kau bisa pulang bersama chen?” Tanyaku langsung begitu melihatnya hendak beranjak. Entah kenapa aku begitu tak tenang sampai mendengar langsung alasannya.

“kan sudah aku bilang tadi, ahjussi tak bisa menjemputku.”

“kenapa harus chen?”

“ya karna saat itu kebetulan yang ada adalah chen.” Nada suara sakura sedikit meninggi, baiklah, di rumah ini pembahasan mengenai chen atau apapun yang berhubungan dengannya memang tidak akan pernah berjalan baik.

Aku mendengus pelan, “kembalilah ke kamarmu.” Kataku kemudian, tak ada gunanya juga meneruskan pembicaraan tersebut, bukankah aku harusnya berterima kasih pada chen karena mengantar sakura aman sampai di rumah? Namun, baru membayangkannya saja sudah membuatku muak. Rasanya aku tak akan pernah melakukan hal itu.

-0-

Author’s POV

Pagi itu Eunyeol naik bus dari halte yang cukup jauh dari rumahnya, setiap pagi kalau ia menaiki bus dari tempat biasanya ia tak akan permah mendapatkan tempat duduk. Dan hari itu ia bertekad harus duduk sampai di sekolahnya. Sampai di dalam bus, eunyeol melihat sekeliling, kursi sudah hampir terisi semua dan hanya ada sisa satu kursi. Kursi dekat jendela. Tepat di sebelah Oh Sehun.

Sehun memakai headsetnya, tak menyadari kehadiran eunyeol sampai gadis itu berdehem di sebelahnya, meminta jalan. sehun sedikit terenyak begitu melihat gadis itu sudah berdiri di sebelahnya. Eunyeol mengarahkan kepalanya kea rah kursi sebelah sehun, dan laki-laki itu langsung berdiri, memberi jalan.

Eunyeol merapatkan mantelnya begitu duduk, ia juga langsung menatap keluar jendela. Berusaha mengenyahkan kenyataan kalau ia bersebelahan dengan sehun. Oh Sehun.

Celotehan-celotehan dengan sesekali di selingi gelak tawa, memenuhi seisi bus. Baru satu halte yang terlewati, dan untuk mencapai sekolah masih harus melewati sekitar tiga halte lagi. berbeda dengan penumpang bus lainnya yang sibuk bersenda gurau, eunyeol malah sibuk berperang dengan gemuruh dalam hatinya sendiri. dia baru sadar betapa wanginya sehun dengan jarak yang sedekat ini. wanginya seperti cokelat yang baru dilelehkan dengan ada sedikit aroma mint yang tersisip di antaranya. Dan sialnya eunyeol menyukainya.

Eunyeol’s POV

Aku menghela nafasku pelan. sehun sialan. Kenapa dia harus sewangi ini? aku kan jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Dan aku sungguhan baru tau kalau dia sangat wangi. entah parfum apa yang digunakan, yang walaupun tercium sangat manis tapi tetap ada kesan maskulin didalamnya. Ck. kenapa aku malah jadi mengomentari parfumnya seperti ini?

Aku menggeleng pelan, dan masih terus berusaha untuk tidak melihat ke arah sehun. Lima menit berlalu dan aku mulai tak tahan, baiklah kita memang bukan teman dalam arti yang sesungguhnya tapi aku mengenalnya dan dia juga mengenalku. Kenapa kita harus bertindak seperti orang asing begini? Uhm. Apa sehun masih marah dengan ucapanku di perpustakaan yang lalu? Masa? Aku kan hanya berniat bercanda.

“uhm, sehun-ah.” Panggilku pelan. sangat pelan.

Sehun bergeming. Tak menyadari panggilanku. Kusenggol sedikit tangannya. Dia melepas headset yang dipakainya dan menoleh. Ah, aku baru tahu kalau laki-laki bisa terlihat lebih baik di pagi hari. Tatanan rambutnya masih rapi dan dia terlihat sangat segar memang, dibanding saat ketika kau melihat sehun di sore hari. Uh, dia luar biasa berantakan.

“uhm, kau marah padaku ya karena ucapanku yang di perpustakaan itu?” Tanyaku langsung, buat apa pula berbasa-basi dengannya kan?

Sehun menaikkan alisnya, “tidak.” jawabnya pendek. aku menahan tangannya ketika dia hendak memakai lagi headsetnya. Dan langsung kulepaskan lagi dengan cepat, takut dia salah paham.

“aku uhm, belum selesai bicara. Soal hadiahmu, terima kasih. Aku menyukainya. Sungguh, dan kemarin aku malas saja mengatakan yang sebenarnya, kau kan sempat menyebalkan kemarin. ah tidak, kau kan memang selalu menyebalkan.” Jelasku panjang. Aku tak mau melihat wajah sehun, entahlah ekspresi apa yang tertera di wajahnya sekarang. Yang jelas aku tidak mau tahu.

“jinjja?” katanya kemudian, aku meliriknya. Sedikit.

“hm.” Gumamku sebagai tanggapan.

“eunyeol-ah, ayo kita berteman.”

Aku menoleh. Menatap mata berbinarnya yang cerah, dan memandang aneh senyuman yang tersungging di bibirnya. berteman?

-0-

Aku merapatkan jaketku lagi saat memasuki gedung sekolah. Setelah turun dari bus tadi aku memang langsung berlalu dengan cepat, meninggalkan sehun yang berteriak memintaku untuk jalan bersamanya. Aku mendesah pelan, ada sesuatu yang aneh saat menerima uluran tangannya tadi. Berteman? Hah, aku masih tidak percaya kenyataan bahwa sekarang aku dan sehun berteman. Sehun yang menyebalkan itu sekarang temanku? Baiklah, apapun yang akan terjadi nanti, anggap saja ini awal yang baik. Mungkin sikapnya memang tak seburuk yang kelihatannya kalau aku sudah mengenalnya lebih dekat.

Author’s POV

Sakura asik memilih beberapa buku ensiklopedi yang hendak di bacanya, akhir-akhir ini ia memang sedang senang-senangnya menghabiskan istirahat siang pertamanya untuk membaca di perpustakaan. Berbeda dengan eunyeol yang langsung menghambur keluar bersama dengan anak-anak lain menuju kantin begitu bel bahkan baru saja dibunyikan.

“hei.” Sebuah suara lembut yang terdengar familiar dari sebelahnya, sakura menoleh dan melihat yunju sedang berdiri di sebelahnya, “kau sakura kan? masih ingat denganku?” Tanya yunju lagi.

Sakura mengangguk pelan, “tentu saja,” katanya diselingi tawa yang renyah.

“kau sering kesini ya?”

“uhm, hanya belakangan hari ini saja. ujian kan sudah semakin dekat.”

“ah geurae, kau benar. Aku juga harus banyak mengejar ketertinggalanku.”

Sakura melirik buku yang sedang dipegang yunju, sebuah buku matematika untuk kelas 2, sakura berpikir sejenak. Ah, jadi dia sunbaenim. Batin sakura.

“kau mau duduk disana?” Tanya yunju.

Sakura mengangguk cepat, dia juga sudah mendapatkan buku yang hendak dibacanya. Mereka duduk di meja panjang yang kosong. Begitu duduk sakura langsung dengan tenang membaca bukunya, sama halnya dengan yunju.

Setelah beberapa menit kebisuan mengelilingi mereka, yunju berdehem hendak membuka pembicaraan. “kau senang menonton pertandingan baseball ya?” tanyanya, lebih tepatnya memberikan pancingan, karena mungkin saja sakura mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui tentang D.O, bagaimanapun semua orang di sekolah ini pasti mengenal D.O kan. begitu pikir yunju.

“ehm, lumayan. Kalau aku tidak ada urusan lain aku pasti akan menonton, lagipula mereka semua hebat.” Jawab sakura bersemangat.

“apakah D.O masih yang paling hebat?”

Sakura menatap yunju tepat di matanya, dia berkedip beberapa kali dan menelan air liurnya sebelum menjawab. “eoh. Uhm semua juga hebat, tapi kyungsoo memang yang paling sering dimainkan.”

“kyungsoo? seingatku hanya keluarganya yang dia ijinkan memanggilnya dengan nama itu.”

Telapak tangan sakura mulai basah, entah kenapa setiap pembicaraan ini membuatnya tegang. “darimana kau tahu tentang hal itu?”

Yunju tertawa pelan, “aku sudah mengenalnya sejak kami di bangku sekolah menengah pertama. Aku juga mengenal kelima sahabatnya yang lain dengan baik. Dan mereka memang sudah bermain baseball sejak saat itu. dan aku tak menyangka tim mereka akan bertumbuh semakin hebat seperti sekarang ini.”

Sakura menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan, berusaha terlihat setenang mungkin walau tak dapat dipungkiri fakta yang baru saja di dengarnya telah berhasil membuat perasaannya menjadi tak karuan. “uhm sunbae, kurasa aku harus pergi dulu. Aku baru ingat aku ada janji dengan temanku.” Kata sakura berbohong. Ia tak ingin mendengar fakta-fakta lain lagi yang mungkin akan di ungkapkan yunju.

“oh baiklah. Tapi jangan memanggilku dengan panggilan resmi seperti itu. rasanya jadi tak akrab.”

Sakura mengangguk pelan dan tersenyum, “ne eonni, aku pergi dulu.” Setalah membungkuk sakura segera berlalu dari hadapan yunju.

Yunju tersenyum dan membaca lagi bukunya, gadis yang lucu. Batinnya.

-0-

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, eunyeol langsung berlalu keluar kelas setelah sebelumnya mengatakan pada sakura kalau ia sudah memiliki janji dengan ibunya. Sakura merapikan bukunya dengan tenang, ia berniat akan ke kantin terlebih dahulu untuk membeli minuman.

Suasana kantin cukup ramai di jam pulang sekolah seperti ini, sebagian meja memang lebih banyak diisi anak-anak kelas 3 yang akan mengikuti pelajaran tambahan dan sebagian lain diisi oleh anak-anak yang akan mengikuti ekskul. Sakura sedang menuju mesin penjual minuman saat seseorang memanggilnya keras. Sakura menoleh dan ternyata kai. Setelah mendapatkan minumannya ia menuju meja kai yang ternyata juga ada baekhyun, chanyeol dan sehun disana.

“kau mau langsung pulang sakura?” Tanya baekhyun. ia sedang memakai sarung tangan baseball milik chanyeol.

“kurasa iya, tak ada lagi yang harus kulakukan.”

“kau tak ingin melihat kami berlatih noona?” kali ini sehun yang bertanya. Dia sedang mengunyah sandwich kesukaannya.

Sakura tersenyum canggung, “kim ahjussi kan sudah menungguku. Aku tak enak membuatnya menunggu lebih lama.”

Chanyeol tergelak, “astaga, kan ada D.O, pulang saja bersamanya, kalian ini seperti orang lain saja.”

“benar juga,” sambung kai. “eh ngomong-ngomong kemana dia?”

“entahlah, dia, suho dan yunju sedang hmph—“ baekhyun mendekap mulut chanyeol membuat laki-laki itu meronta di kursinya.

Sakura melihat wajah sehun, kai, dan baekhyun yang air mukanya mulai berubah. Seperti ada yang mereka tutupi, “ya!” bentak chanyeol saat baekhyun melepasnya.

Baekhyun menyenggol kaki chanyeol dan menautkan alis matanya memberi tanda agar chanyeol tak berbicara lagi, “kurasa sudah waktunya ke lapangan, kaja.” Baekhyun menarik chanyeol, walau masih bingung tapi dia tetap menurut. Kai tersenyum canggung dan ikut berlalu. hanya tinggal sehun dan sakura,

“eng, noona kurasa aku—“

“ada yang kalian sembunyikan ya?” Tanya sakura curiga.

Sakura’s POV

Ada yang aneh. Ada yang mereka sembunyikan. Dan semuanya, ada hubungannya dengan yunju. Aku menatap sehun dalam, kelihatan sekali kalau sehun salah tingkah. Kudengar sehun mendesahkan nafasnya. “tidak ada kok, sungguhan.”

Sehun berdiri, tersenyum salah tingkah. “aku pergi dulu ya.”

Aku menghela nafasku dalam, ada apa ini? dan perasaan macam apa ini? aku penasaran tapi di saat yang sama aku tidak ingin mengetahui kebenaran. Aku membuka minuman yang tadi kubeli. Dan meminumnya sampai habis.

Aku baru hendak berdiri begitu melihat kyungsoo masuk kedalam kantin. Dia tak melihatku karena wajahnya tertunduk sibuk menekuni kertas-kertas di tangannya, kyungsoo berdiri cukup jauh dariku. Ia hanya membeli minuman dan keluar lagi dari kantin, aku mengikutinya, tak ada alasan lain, aku hanya ingin mengikutinya saja.

Author’s POV

D.O berjalan menuju lapangan, ia hendak meminta ijin kepada pelatih untuk tidak latihan terlebih dahulu. Makalahnya akan deadline besok, sedangkan masih banyak yang harus dikerjakannya. Setelah pelatih memberinya ijin, D.O langsung kembali menuju kelasnya.

Saat kembali ke kelas, hanya ada yunju yang sedang sibuk dengan laptop di hadapannya, suho sedang ke toilet, katanya saat D.O bertanya.

“D.O,” panggil yunju,

D.O mendongak dan yunju langsung mengusap hidung laki-laki dengan sapu tangannya, D.O menjauhkan wajahnya cepat, “ada noda di hidungmu.” Katanya.

D.O menautkan alisnya, heran. Dia mengusap sendiri hidungnya dengan cepat. “mianhae.” Ujar yunju. Suasana berubah kaku seketika, untung suho cepat datang sehingga kebekuan tidak lama-lama mengungkung D.O dan yunju.

Sakura menundukkan kepalanya dalam selama di mobil, pikirannya melayang-layang terus membayangkan kejadian yang tadi di lihatnya di kelas D.O, ternyata mereka memang sedang mengerjakan sesuatu bersama. Tapi entah kenapa, hatinya seperti tertusuk begitu melihat yunju mengusap hidung D.O tadi dengan begitu lembutnya, dan melihat cara yunju melihat D.O tadi, rasanya malah lebih sakit lagi. sedekat apa mereka dulu? Batin sakura terus menerus.

-0-

D.O kembali ke rumah saat langit mulai gelap, begitu masuk dilihatnya ahjumma sedang menata makan malam, sakura belum pulang? Tanyanya dalam hati. “apa sakura belum pulang?” Tanya D.O sembari mendekati meja makan.

“nona sudah pulang sejak sore tadi tuan, tapi dia langsung naik ke kamarnya dan tidak turun lagi.” jelas ahjumma.

D.O menghela nafasnya, kenapa lagi gadis ini? batinnya. Selama ini kalau sakura tidak makan berarti sedang terjadi sesuatu, dan biasanya sesuatu yang tidak menyenangkan. Kemarin mereka memang ribut sedikit, tapi tidak mungkin itu terbawa sampai hari ini kan?

D.O mengetuk pintu kamar sakura, tidak ada jawaban sampai pada ketukan ketiga, Sakura baru keluar dari kamarnya dengan kepala yang tertunduk.

“ahjumma… aku tak lapar.” Ujar sakura sebelum sempat melihat orang yang mengetuk kamarnya.

“memangnya kau mesin yang tak bisa merasa lapar.” Balas D.O, sakura mengangkat kepalanya dan tatapan mereka langsung bertemu.

Sakura menggembungkan mulutnya, “kupikir ahjumma, aku memang tak lapar.”

“ck.” D.O meraih tangan sakura dan membawanya turun.

D.O’s POV

Tidak lapar? Bilang saja kalau dia tidak mau makan. Aku membawa sakura menuju meja makan, sedikit apapun dia tetap harus makan. tidak sadarkah dia kalau tubuhnya sudah terlalu mungil untuk gadis seumurannya. Dan juga, aku tak mau kalau sampai dia sakit.

Sakura hanya mendiamkan makanan di hadapannya, tidak menyentuhnya sama sekali. Aku melihatnya sekilas dan mendengus pelan, “maumu apa hah?” tanyaku mulai tak sabar.

“aku kan bilang aku tak lapar.”

“tapi makanlah walau sedikit sakura, kau mau sakit memangnya?”

“aku mau makan tapi jawab dulu pertanyaanku, siapa itu yunju?”

Aku menatap sakura, tak percaya. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan ini? dan darimana sakura tahu yunju?

“habiskan saja makananmu.” Ucapku cuek, tak mau membahas lebih jauh.

Author’s POV

Sakura melihat perubahan di wajah D.O, aneh sekali melihat bagaimana ekspresi semua orang berubah begitu nama yunju muncul. Sebenarnya siapa dia? Batin sakura. dia memang gadis yang keras kepala, melihat banyaknya keganjilan malah membuatnya semakin penasaran. Walaupun terlihat tenang, tapi sakura menyadari ada perubahan dari nada suara D.O tadi.

“kalian kenal sejak SMP ya?” Tanya sakura dengan nada sinis.

D.O diam, hanya serius menikmati makanannya,

“kalian sedekat apa saat SMP?”

“kau sekarang sekelas dengannya ya? dulu kau dengannya—“

“sakura!” bentak D.O keras, dia meletakkan dengan kasar sumpitnya. Dan menatap sakura dalam. Sangat dalam.

“kenapa kau membentakku?” sakura menaikkan nada suaranya, dia paling tidak suka saat ada orang yang membentaknya.

“kau berbicara terlalu banyak.” Dengan nada yang dingin D.O menjawab sakura, dia juga langsung bangkit dari kursinya.

“tapi kau kan tidak perlu membentakku seperti itu, kau kan hanya tinggal mengatakan siapa itu yunju.”

“tidak perlu.” D.O mulai menaiki tangga dan sakura mengikutinya.

“kenapa? Kenapa tidak perlu?”

Mereka sampai di lantai dua saat D.O membalik badannya, “karena itu urusan pribadiku dan kau tak perlu tahu.”

Tangan sakura mengepal keras, matanya yang tadi menatap dengan marah berubah rapuh dengan genangan air yang siap tumpah.

Sakura’s POV

“..dan kau tidak perlu tahu.”

Kyungsoo selalu saja bisa membuat lubang di hatiku, rasanya ada bongkahan besar batu dalam ucapannya yang baru saja menembus hatiku. Sudah 6 bulan dan ternyata aku masih orang lain dimatanya, setelah kelembutan yang ia berikan padaku. Ciuman itu. setiap pelukan itu. dan aku masih bukan siapa-siapa di matanya.

Padahal aku sudah begitu dalam mencintainya.

-0-

TBC

 

holla, uhm i dont know what happened here, tapi pengaturan postingan ku jadi berantakan, tapi masih bisa kebaca kan? hhe

anyway, sorry for being late, *yang uda buka blogku pasti paham*,  also a very special thanks for a very special poster by vind🙂 i love you vind saranghae, :*

dan buat yang uda setia menunggu so much thank you, saranghae :*

401 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 13)

  1. astaga adakah makhluk yang lebih menyebalkan dari kyungsoo,
    aku percaya kyungsoo gak sadar ngomong itu, dia suka sakura kan? sadarlah do kyungsoo sakura itu istrimu, dia berhak tau masa lalumu.

  2. Yunju,, ssungguh kau perusak dalam hubungan mereka berdua, kau dalang dari semua ini YUNJU..!!!!!
    Aku membenci Mu, gara_gara kau mereka berda mnjadi bertengkar..
    Knapa cuma Sakura sih, yg merasakan sakitnya dari perbuatan kyungsoo, sekali kasih ke, kyungsoo cemburu sama sakura, Aku sedih liat sakura yg terus_terusan Sakit hati. Sekali kyungsoo donk Thor..
    Next Chapter..

  3. Ribut lagi ribut lagi –– plis lah kyung, lu tuh udah punya istri. Seenggaknya lu tuh harus ceritain masa lalu lu itu –

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s