Diposkan pada Chan Yeol, Chapter, charismagirl, EXO-K, EXO-M, friendship, Kris, Romance, SCHOOL LIFE, Se Hun, Series

Just Stay With Me – Part 5 [End]

coverjswm

Title : Just Stay With Me – Part 5 [End]

Author : Charismagirl

Cast :

  • Oh Sehun
  • Park Minri
  • Cho Kyuhyun
  • Kim Hyejin
  • Park Chanyeol
  • EXO

Rating : PG-13, teen

Genre : Romance, friendship, school life

Length : Chapter

Link : Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

Note : Silakan RCL ^o^/ aku akan cuap-cuap panjang lebar setelah kalian selesai membaca FF ini. So, enjoy this story!

 

Jangan pergi terlalu jauh karena aku takut tak bisa menggapaimu.

Jangan menghilang dari pandanganku karena aku takkan mampu menahan rasa rindu…

***

“Aku pergi siang ini, Sehun.”

“Pergilah, jaga diri baik-baik ya. Aku pasti merindukanmu.”

Sehun menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Minri, membuat gadis itu bergidik geli. Karena nafas hangat Sehun menerpa salah satu daerah sensitifnya itu.

Ne, kau juga.”

Tidak ada yang mereka bicarakan lagi. sehingga mereka menghabiskan beberapa menit dengan pelukan diam, merasakan kehangatan yang sangat mereka sukai, sebelum Minri mendapat telpon dari ibunya untuk segera ke bandara.

Hari itu Minri pergi meninggalkan kota kelahirannya.

Just Stay With Me [last part, presented…]

Suara peringatan penerbangan Minri baru saja terdengar. Gadis itu segera menarik kopernya. Baru beberapa langkah ia berjalan, tangannya tidak sengaja tersentuh tangan Kyuhyun yang saat itu merebut kopernya dengan tiba-tiba.

“Biar aku yang membawakan,” ucap Kyuhyun dengan senyum ramahnya.

“TIdak usah Kyu, tidak perlu.”

“Tidak apa-apa. Anggap saja aku guide-mu dari pergi sampai kembali lagi.”

Minri tidak menyahut. Ia hanya mengikuti Kyuhyun berjalan. Matanya memandangi punggung tegap pria itu. kurus, tinggi dan begitu hugable dalam pikiran Minri. Minri segera menyingkirkan pemikiran terakhir. Apa-apaan Minri? ingin memeluk Kyuhyun?! Konyol!

“Minri, kau melamun?”

Suara Kyuhyun menyadarkan gadis itu. Dan tanpa di duga, Kyuhyun menarik tangan Minri dengan tangannya yang bebas untuk bergandengan dengannya. Kyuhyun begitu protektif pada Minri membuat siapapun yang melihat pasti iri.

Minri mendudukan dirinya di dekat jendela ketika mereka berdua sudah tiba di kursi mereka. Kyuhyun meletakkan tasnya di lantai, di depan kursinya.

Pria itu melirik Minri yang tampak melamun–lagi. TIdak terhitung sudah berapa kali Kyuhyun mendapati gadis itu melamun. Seperti ada hal berat yang membebani pikirannya. Kyuhyun ingin sekali membantu, tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Bisa saja Minri berpikiran bahwa Kyuhyun ingin mencampuri urusannya.

“Minri, kau sudah siap ujian seleksi?”

Ne?” Minri menoleh pada Kyuhyun.

“Kau sudah siap ujian seleksi?” ulang Kyuhyun.

“Oh, belum terlalu siap.” Minri kembali menurunkan pandangannya. Kyuhyun tidak bertanya lagi. Ia mengambil penutup mata lalu memasangkan di seputar kepalanya.

“Kyu, kau punya teman masa kecil yang sangat dekat denganmu?”

Kyuhyun urung memasang penutup matanya. ia tersenyum lalu menyenderkan bahunya di bangku pesawat yang empuk itu. Sembari menunggu jawaban, Minri ikut menyenderkan tubuhnya.

“Punya, tapi aku tidak tahu sekarang dia tinggal dimana. Gadis menggemaskan yang sangat senang dengan PSP.”

Kyuhyun tampak berbinar saat menceritakan gadis yang ia maksud. Minri pikir, Kyuhyun akan sangat bahagia jika bertemu teman kecilnya itu karena Kyuhyun sangat merindukannya. Begitu pula dengan Minri.

“Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?” Kyuhyun mengerutkan kening.

“Tidak. Aku hanya… ingin bertemu dengan seseorang, teman kecilku. Kami berpisah hampir sepuluh tahun. Dan aku pasti tidak mengenali wajah bocah itu sekarang.”

Geurae… Kau istirahat saja dulu, jangan terlalu banyak pikiran. Aku yakin kau pasti bertemu dengan orang yang kau inginkan.”

***

Langit Manhattan tidak begitu terik. Kesibukan tampak begitu kentara.

Minri menatap ke sekitarnya. Suasana yang begitu asing dan di kelilingi orang-orang asing. Mereka berkulit putih pucat. Berbeda dengan Minri. Apalagi wajahnya yang oriental orang asia.

“Minri, ayo masuk.”

Kyuhyun mendahului Minri masuk ke dalam gedung hotel yang akan mereka tinggali. Minri mengerjap, menghentikan kegiatan menatap ke sekitar, lalu berjalan mengekor di belakang Kyuhyun.

Kyuhyun tampak berbicara dengan resepsionis. Sementara Minri masih tetap menunggu. Pria itu bicara sedikit cepat dan gusar. Minri pikir ada sesuatu yang terjadi. Dan nilai bahasa inggris Minri tidaklah buruk, jadi dia cukup mengerti dengan apa yang dikatakan Kyuhyun ataupun resepsionis berambut pirang itu.

“Bagaimana Kyu?” tanya Minri.

“Apakah kita harus mencari hotel lain saja? Masa sih hotel sebesar ini kehabisan kamar.”

Kyuhyun ingin melangkah keluar tapi tangan Minri menahannya.

“Tidak apa-apa Kyu. Lagipula kata eomma, aku harus berada dalam pengawasanmu. Dan kau bisa terus mengajariku.”

Kyuhyun menatap Minri sesaat. Lalu mengendikkan bahu. Dia kembali bicara pada resepsionis itu.

Mereka berdua berjalan di lorong. Mencari kamar nomor 201. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hening menyergap. Hanya langkah kaki yang terdengar.

Sampai akhirnya mereka tiba di kamar mereka.

Kyuhyun membukakan pintu lalu Minri masuk lebih dulu. Kemudian Minri duduk di tepi ranjang. Dia bermain-main dengan kasur membuat benda empuk itu ikut bergoyang.

“Kau pasti lelah. Tidurlah lebih dulu. Aku akan tidur di sofa.”

Minri berbaring. Tapi belum ingin tidur. Dia membuka ponselnya lalu menyalakan ponsel itu. Ada beberapa pesan masuk dan juga panggilan tidak terjawab. Semuanya dari Sehun. Kekasihnya. Minri tersenyum tipis. Laki-laki itu pasti mengkhawatirkannya.

Minri memutuskan untuk menelpon balik. Memangnya baru berapa jam mereka berpisah? Minri merasa sudah merindukan Sehun.

“Hallo Sehun…” ucap Minri setelah telpon mereka tersambung. Senyum terpatri di wajah manisnya saat ia mendengar suara Sehun. Kyuhyun sempat melirik Minri. Sepertinya Kyuhyun tahu apa penyebab Minri melamun sepanjang perjalanan.

***

Sehun duduk sendirian di taman belakang sekolah. Hari ini hari pertama Minri tidak masuk sekolah. Sehun sudah tahu alasannya. Harusnya Sehun juga tidak usah masuk hari ini karena dia sama sekali tidak bersemangat masuk pelajaran apapun. Semuanya terasa membosankan.

Burung-burung berkicauan seakan memberitahu Sehun bahwa dia tidak sendirian. Ya, dia tahu kalau dia tidak sendirian disini. Tapi yang Sehun butuhkan adalah kehadiran Minri. Sosok Minri yang nyata, senyumnya, pelukannya dan ciumannya.

Sehun terkesiap saat sebuah tangan menempel di bahunya. Dengan segera ia menoleh dan menemukan sepupu dari orang yang sedang dipikirkannya–Chanyeol. Kemudian Chanyeol duduk di samping Sehun.

“Kau bolos satu jam pelajaran, Sehun. Ada apa?” Chanyeol memulai pembicaraan.

“Tidak ada.”

“Minri ‘kan?” tebak Chanyeol sok tahu. Tapi dia benar.

Sehun tetap bungkam. Laki-laki itu menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kasar.

“Kau tidak perlu khawatir. Dia aman bersama Kyuhyun. Dan aku jamin dia tidak akan melewatkan waktu makannya.”

Justru itu yang aku khawatirkan.

“Sepertinya dia sudah tiba di sana. Kau bisa menelpon untuk memastikan.”

Sehun merasa sepasang bola lampu terang-benderang berada di atas kepalanya, membuat wajahnya ikut berbinar.

“Kau benar. Aku akan menelponnya lagi.”

Chanyeol memutar bola matanya. Belum sehari mereka berpisah, Sehun sudah seperti orang yang dekat dijemput kematian. Muram sepanjang hari. Ck dunia.

“Oh iya, kau mengajar Hyejin lagi kan? Hari ini?”

“Tidak.” Jawab Chanyeol.

Sehun mengerutkan keningnya. “Karena aku akan menemaninya ke tempat tinggal barunya hari ini.”

“Maksudmu dia sudah menemukan tempat tinggalnya? Ck anak itu kenapa tidak bilang padaku…”

“Pikirkan Minri saja.” Wajah Chanyeol terlihat kesal. Memangnya Sehun siapa? Kenapa Hyejin harus bilang padanya terlebih dahulu.

“Kau sangat baik padanya. Kalian serasi jika bersama-sama,” ucap Sehun asal, namun sukses membuat Chanyeol menelan ludahnya. Darahnya berdesir.

Hyejin…

Ketika Chanyeol asik menerawang dengan pikirannya–memikirkan Hyejin, Sehun sedang mengutak-atik ponselnya. Belum sempat Sehun menekan tombol panggil di kontak yang bertuliskan ‘future wife’, satu panggilan masuk di ponselnya–membuatnya terkesiap.

Hallo Sehun,” ucap gadis di seberang sana.

Sehun tersenyum saat suara yang dirindukannya itu terdengar memenuhi indera pendengarannya.

Sedang apa?” tanya Minri.

“Sedang mengobrol bersama Chanyeol di taman belakang. Dan aku merindukanmu.”

Sehun melirik Chanyeol yang saat itu juga menatapnya dengan pandangan datar.

Ah, Chanyeol… kalian tidak sedang membolos kan?”

“Ka–kami tidak.”

Mereka bicara sekitar lima menit, sebelum suara Kyuhyun terdengar dari seberang.

Minri, sebaiknya kau makan dulu.”

Dan mengharuskan Minri untuk memutuskan panggilan–mengakhiri pembicaraan dengan Sehun. Dan itu sedikit membuat Sehun kecewa.

Sebentar. Sehun berpikir.

Dimana mereka tinggal sekarang?

***

Matahari telah berpindah ke bagian Negara yang lain, hingga penerangan di Manhattan berganti dengan bulan.

Minri sedang duduk di ruang tengah bersama beberapa buku pelajarannya. Dia tidak sendiri –ada Kyuhyun yang duduk di sampingnya.

Pria itu sedang menjelaskan matematika pada Minri. Tiga puluh menit di awal Minri memang fokus, tapi setelah itu dia tampak melamun lagi.

Kyuhyun meletakkan pulpennya dan menutup buku membuat Minri memandangi pria itu dengan pandangan bingung. Minri bahkan berkesimpulan bahwa Kyuhyun sedang marah karena Minri tidak begitu fokus. Minri merasa bersalah.

“Kau bisa cerita padaku kalau kau mau,” ucap Kyuhyun sambil melipat tangannya di atas meja.

Tanpa basa basi Kyuhyun menawarkan diri untuk menjadi pendengar yang baik.

“Aku tidak tahu keputusanku benar atau tidak, aku ingin membatalkan studiku di sini.”

“Kenapa?”

“Aku … tidak ingin jauh dari Korea.”

-dan tidak ingin jauh dari Sehun.

“Semua terserah padamu. Kau sendiri yang menentukan masa depanmu. Tapi setidaknya kau harus tetap ikut tes besok. Kau tidak boleh mengecewakan ibumu.”

Bagi Minri, Kyuhyun seperti sesosok kakak laki-laki yang sedang menasihatinya. Minri tidak punya saudara kandung, mungkin kehadiran Chanyeol sedikit membantu, tapi mereka lebih sering menghabiskan waktu bertengkar daripada saling berbagi cerita. Dan Kyuhyun membuat sosok kakak laki-laki untuk Minri terasa nyata.

“Bolehkah aku memelukmu?”

Kyuhyun sempat terkejut –sebelum akhirnya tersenyum, lantas merentangkan tangannya. Segera, Minri membenamkan wajahnya di dada pria itu.

Minri tahu, dirinya telah lancang memeluk Kyuhyun yang pada kenyataannya bukan siapa-siapa. Tapi Minri merasa satu kerinduan telah terobati. Kehangatan dari tubuh Kyuhyun memberikan efek nyaman baginya.

Dan ketika Minri memejamkan matanya, dia merasa Sehun-lah yang sedang memeluknya sekarang.

***

Pagi hari, di hari Sabtu.

Sekolah sedang berbaik hati pada muridnya karena telah memberikan waktu libur satu hari. Dengan mendadak Chanyeol mengajak Sehun, Hyejin, Yeon dan Kris ke pantai.

Yeon dan Hyejin dapat berteman dengan baik. Mereka bicara banyak –entah apa. Walaupun Yeon lebih tua dari Hyejin, tapi sikap mereka tidak jauh berbeda. Mereka berisik, supel dan ceria.

Kris beberapa kali mencoba untuk tidur, tapi suara Yeon dan juga Hyejin sama sekali tidak mengizinkannya beristirahat.

Chanyeol dan Hyejin duduk di bangku depan, sementara Sehun, Yeon dan Kris di baris kedua.

Sehun tidak banyak bicara –karena memang seperti itu gayanya. Dia menatap pepohonan di samping jalan. Baginya, tidak ada yang menyenangkan selain keberadaan Minri di sisinya. Tidak masalah kalau Minri pergi beberapa hari, tapi, kalau dia sungguh lulus dan melanjutkan studi disana. Bagaimana dengan keadaan Sehun nanti?

“Hei Sehun! Aku mengajakmu untuk bersenang-senang. Bukan untuk berdiam seperti batu dalam mobilku.”

Sehun menoleh sesaat. Lalu kembali menunduk.

“Aku mengantuk.”

Sehun menurunkan topinya lalu memejamkan mata. Setelah itu, dia benar-benar tertidur. Bahkan keributan dari Yeon atau Hyejin tidak dapat mengganggunya. Ini menakjubkan, membuat Kris heran dan ingin belajar ilmu-tidur-tanpa-merasa-terganggu dari sehun ini.

Tanpa Sehun tahu, ponselnya berbunyi. Ada satu pesan masuk, dari Minri.

***

Dua jam yang mereka butuhkan untuk tiba di pantai yang Chanyeol inginkan –karena Chanyeol sama sekali tidak meminta saran pada teman-temannya tentang pantai yang ingin mereka kunjungi.

Tidak banyak pengunjung yang datang.

Yeon melompat lebih dulu keluar, kemudian disusul Kris. Sementara Hyejin keluar dari pintu yang lain. Sehun masih menunduk dan Chanyeol harus membangunkan laki-laki itu dari tidurnya. Demi apapun, ini saatnya liburan!

Chanyeol mengguncang-guncang tubuh Sehun, membuat laki-laki itu merasa tidurnya terganggu. Sehun mengangkat topinya lalu melihat keadaan sekitar dengan pandangan menyipit. Sudah sampai, pikirnya.

“Ayo keluar, sebelum kau terjebak mati dalam mobil karena sesak nafas.”

“Kau mau membunuhku ya?”

“Kalau boleh begitu.” Chanyeol keluar dari mobilnya, kemudian Sehun juga keluar. Kakinya menjajak pasir pantai yang begitu bersih.

Sehun melihat teman-temannya sudah bermain dengan air. Bahkan Yeon dan Kris sedang main kejar-kejaran. Romantis. Dan membuat Sehun merindukan Minri.

Sehun memutuskan untuk menyusuri pantai sendirian. Samar-samar dia mendengar suara berat Chanyeol memanggilnya, tapi dia pura-pura menulikan pendengarannya dan terus berjalan, sampai akhirnya suara itu tak terdengar lagi. Sehun akan minta maaf pada Chanyeol nanti, karena sudah bersikap kurang ajar. Tapi Sehun sungguh membutuhkan waktu untuk sendiri.

Sehun menyelipkan kedua tangannya di saku, merasakan angin pantai menerpa wajahnya dan menerbangkan helaian rambutnya. Surai coklat itu Nampak berkilauan dibawah paparan sinar matahari yang tidak begitu terik.

Dia memutuskan untuk menenangkan pikirannya. Karena sepertinya dia sudah berpikir terlalu jauh untuk Minri. Dia seolah ingin menghalangi impian gadis itu. dia bahkan mencurigai Minri karena kedekatannya bersama Kyuhyun. Hal itu harusnya tak pantas melintas di pikiran Sehun.

Dia percaya pada Minri, dan akan mendukung apapun keputusan gadis itu. Apapun.

Tiba-tiba Sehun teringat akan ponselnya. Sudah beberapa jam dia tidak mengecek keadaan ponselnya itu. Kemudian dia mengambilnya dalam saku.

Ada satu pesan yang belum terbaca. Jari-jarinya menari dengan lihai di atas layar. Pesan itu sudah diterimanya beberapa jam yang lalu.

Sehun, hari ini aku akan menjalani tes. Doakan aku ya ^^. Aku sayang padamu.

Sehun tahu bahwa balasan pesannya sudah terlambat, tapi dia berharap pesan darinya bisa membuat gadis itu bahagia.

***

Minri keluar dari ruangan ujian bersama beberapa calon mahasiswa lain. Mereka menghambur ke segala arah, menabrak tubuh Minri. Minri mengabaikan hal itu. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar koridor mencari seseorang yang pergi bersamanya tempat asing ini. Dan pandangannya terhenti ketika pria yang dicarinya tengah duduk di sebuah kursi panjang sembari membaca buku –entah buku apa.

Minri menghampiri pria itu kemudian duduk di sampingnya. Kemudian pria itu menoleh padanya.

“Sudah selesai? Bagaimana?”

“Ya, Kyu. Nyaris seperti semua yang kau ajarkan. Trims.” Minri tersenyum, membuat Kyuhyun ikut tersenyum.

“Well, kau pasti lapar. Ayo kita makan siang.”

“Ah, kau memang selalu mengerti.” Minri langsung berdiri.

Kyuhyun menutup bukunya, lalu menyimpannya dalam tas. “Wajahmu terlalu mudah dibaca, Minri-ya.”

 

Mereka memutuskan untuk makan siang di Kafe universitas. Minri memilih menu makan siang sederhana. Dia tidak terlalu suka makanan Amerika. Sementara Kyuhyun masih memperhatikan menu makanan dan akhirnya memutuskan untuk memesan Americano dan kentang goreng saja.

Selama menunggu makanan datang, Minri bercerita tentang beberapa kesulitan yang dihadapinya ketika menjawab soal tes tadi.

“Jangan khawatir, aku yakin kau bisa masuk Universitas itu.” Kyuhyun memegang puncak kepala Minri sesaat –tapi sukses membuat Minri berhenti bicara. Pergerakan itu terlalu intim untuk sebuah hubungan antara tutor dan murid.

Hey, Marcus. What’s up?” seorang pria asing menepuk bahu Kyuhyun.

Pria itu berperawakan tinggi, kulit putih pucat dan mata yang sebiru laut. Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia seumuran dengan Kyuhyun –dan cukup menarik.

Dia memakai setelan celena bahan dan kemeja berwarna krem. Dia hanya membawa sebuah tab di tangannya, membuat Minri berasumsi bahwa pria itu adalah pria yang sibuk, juga berpendidikan.

Hey, John. Long time no see.”

Sepertinya mereka teman, pikir Minri. Sebentar, Minri seperti mendengar sebuah nama yang ingin diinginatnya. Marcus! Kyuhyun adalah Marcus?

She’s your girlfriend?” pria itu mengarahkan pandangannya pada Minri, kemudian Minri berdiri dan membungkuk –serta tersenyum canggung.

No, she’s my student.” Kyuhyun menepuk sebelah bahu Minri dengan pelan. Kemudian pria itu mengangguk mengerti lantas mengulurkan tangannya.

“West John.”

“Juny Park, nice too meet you, Mr.” Minri menyambut uluran tangan itu.

Kyuhyun menelengkan kepalanya pada Minri, menatap gadis itu tanpa berkedip. Harusnya dari awal dia bertanya nama barat gadis itu. Karena ternyata, gadis itu adalah Juny, gadis kecil yang sekarang sudah besar. Gadis yang suka main PS. Gadis yang ingin ditemuinya.

***

Chanyeol memang dibuat sekesal-kesalnya oleh Sehun hari ini. Harusnya dia mendapatkan ucapan terimakasih karena telah membawa Sehun ke tempat yang menyenangkan untuk mengisi waktu libur sehari –walaupun sebenarnya Chanyeol tidak begitu mengharapkan terimakasih itu. Tapi Chanyeol tetap harus melakukan tujuan utamanya. Dia punya dua tujuan untuk pergi ke pantai hari ini, dan salah satunya berhubungan dengan Hyejin –gadis yang disukainya.

Chanyeol sedang berjalan bersisian dengan Hyejin. Dengan susah payah memisahkan Hyejin dengan Yeon karena dua anak gadis itu terlalu asik dengan dunia mereka. Tentu saja mengandalkan Kris, kekasih Yeon yang berwajah bule itu.

Mereka menyusuri tepian pantai dengan kaki telanjang. Menikmati suasana pantai yang khas. Ada anak-anak yang berlarian, membangun istana pasir dan berenang. Beberapa orang dewasa tampak berjemur dan mengobrol.

Chanyeol memandangi Hyejin dari samping. Memperhatikan bagaimana angin membelai rambutnya yang panjang, memperhatikan gadis itu tersenyum memandangi anak-anak yang dilewatinya, apapun yang dilakukan gadis itu Chanyeol selalu memperhatikan –tanpa gadis itu tahu.

Chanyeol terkesiap saat Hyejin berbalik menatapnya. Gadis itu berhenti kemudian berdiri dihadapan Chanyeol, membuat kegugupan seketika mengelilingi laki-laki jangkung itu.

“Terimakasih, Chanyeol.” Hyejin tersenyum manis sekali, sampai matanya ikut tersenyum. Oh, itu senyum favorit Chanyeol.

“Untuk?”

“Untuk menjadi pengajar matematikaku, menemaniku mencari tempat tinggal baru dan membawaku ke tempat indah seperti ini dan… mau menjadi temanku.” Hyejin berbalik, kemudian meneruskan langkah pelannya. Membiarkan air laut menggelitik kakinya.

“Hyejin,” panggil Chanyeol dengan suara beratnya.

Kali ini Chanyeol menghampiri gadis itu, memposisikan diri berada dalam jarak yang cukup dekat sehingga Hyejin perlu mendongak untuk menatap wajah Chanyeol yang serius.

“Aku tidak ingin menjadi temanmu.”

Hyejin mengerutkan keningnya, dengan wajah yang tiba-tiba murung. Kalau Chanyeol tidak ingin menjadi temannya, mengapa Chanyeol harus peduli padanya. Hyejin pasti salah karena telah menaruh hati pada laki-laki itu.

Chanyeol bertindak lebih jauh, tanpa persetujuan, dia memeluk Hyejin. Menenggelamkan gadis itu ke tubuhnya, menyatukan kehangatan di tubuh mereka. Sementara Hyejin memekik dalam hati –tapi tak sanggup menolak.

Apa-apaan ini!

“Jadilah pacarku, pendampingku.”

Hyejin membulatkan matanya dalam pelukan Chanyeol. Gadis itu segera melepaskan pelukannya, mendorong Chanyeol cukup kuat.

“Kau bilang apa??” Hyejin tanpa sadar telah mengeraskan suaranya, membuat beberapa orang yang ada disana tertarik untuk melihat apa yang sedang terjadi.

“Aku sayang padamu. Jadilah pacarku.”

“Tapi –tapi, kau serius?”

Chanyeol menahan diri untuk tidak membekap mulut gadis itu dengan mulutnya. Respon lambannya hampir sama dengan Minri –yang dulunya tidak peka dengan perasaan Sehun.

“Ya,” ucap Chanyeol sembari memegang satu tangan Hyejin. “Jawabanmu?”

“Aku… mau.” Dalam satu gerakan, Hyejin menghambur dalam pelukan Chanyeol. Kemudian seketika merona saat menyadari orang-orang bertepuk tangan. Walaupun hanya orang tua dan anak kecil. Tapi sungguh! Dia merasa malu.

“Ada yang baru saja terjadi disini.” Sehun berada di antara kerumunan itu. Entah sejak kapan berada disana.

“Waaah! Aku melewatkan sesuatu.” Yeon memaksa tubuhnya masuk ke dalam kerumunan sementara Kris hanya menggelengkan kepalanya melihat Yeon yang begitu bersemangat.

“Wow, Bro. kau sungguh hebat.” Kris menimpali.

Perlahan orang-orang kembali pada kegiatan mereka, menyisakan lima kawanan anak muda yang tadi berangkat bersama ke pantai ini.

“Hyejin-ssi! Selamat ya!” Yeon memeluk Hyejin dengan erat seolah Hyejin adalah boneka pandanya yang dia peluk tiap malam.

Sementara Kris dan Sehun merangkul Chanyeol di kedua sisi laki-laki itu, nyaris membuat Chanyeol tercekik.

“Kau harus mentraktir kami, Bro.”

“Lepaskan dulu, bodoh! Kalian bisa membunuhku.” Chanyeol berusaha melepaskan tangan Kris dan Sehun yang sungguh memberatkan bahunya.

“Aku penasaran dengan respon Minri, jika saja dia tahu kalau kau sudah memiliki kekasih.” Sehun ingat bagaimana Chanyeol dan Minri selalu memulai pertengkaran bahkan karena hal kecil. Sehun terkikik geli.

“Aku juga menunggu hal itu.”

***

Minri mengklarifikasi semuanya saat dia dan Kyuhyun tiba di kamar hotel yang mereka tempati.

Kenyataan bahwa Kyuhyun adalah teman masa kecilnya membuat Minri tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya hingga dia memeluk Kyuhyun begitu eratnya.

“Kyu, tidak kusangka ternyata kau.”

Kyuhyun membalas pelukan Minri sembari mengusap rambut panjangnya yang tergerai. Kyuhyun mengangguk dalam pelukan itu. Dan tersenyum.

“Kau lebih mengejutkanku, Minri. Kau telah tumbuh menjadi gadis yang cantik.”

Minri melepas pelukannya. “Dan kau tumbuh tinggi sekali!” ucap Minri seketika dengan nada kesal, membuat Kyuhyun tidak tahan untuk tidak tertawa.

“Aku tampan tidak?” tanya Kyuhyun sembari menaik turunkan alisnya. Minri meletakkan telunjuknya di dagu, pura-pura berpikir. Dia tahu Kyuhyun memang tampan, tapi yah, itu tidak penting sekarang.

“Apa kau akan mentraktirku es krim jika aku bilang kau tampan?”

“Aish! Dasar!”

Minri tertawa renyah. Kemudian tawanya diinterupsi oleh sebuah panggilan dari ponselnya. Dia menjauh dari Kyuhyun sebelum menjawab telpon itu.

“Hello, Mom… ya, ujiannya sudah selesai… Aku sudah makan siang…” Ada jeda beberapa saat sebelum Minri bicara lagi. “Mom, aku boleh mengambil keputusan sendiri kan?…. ya, thanks Mom.”

Minri memutuskan panggilan itu dengan wajah serius. Padahal beberapa menit yang lalu dia terlalu asik dengan tawanya.

Minri baru sadar bahwa ada sebuah pesan singkat yang belum terbaca. Lantas bergegas membukanya.

Minri-ya, Maaf terlambat :/ aku tak mendengar ada pesanmu. Semangat ya ujiannya! Kau pasti bisa Aku juga sayang padamu. Dan aku merindukanmu :*

Pada akhirnya Minri tahu apa yang diinginkannya.

***

Waktu istirahat telah tiba. Beberapa siswa dan siswi memutuskan untuk keluar kelas, entah sekedar menyejukkan kepala yang sudah panas karena telah dijejali berbagai rumus matematika maupun pergi ke kantin untuk mengisi perut.

Tapi tidak dengan Sehun. Laki-laki itu masih duduk dalam kelas sembari membaca bukunya. Hal yang jarang dilakukan Sehun. Tapi, demi memudahkannya masuk ke universitas manapun yang diinginkannya dia harus belajar.

“Hey Bro, ayo kita main basket.” Kris cukup mengejutkan Sehun karena datang tiba-tiba dan duduk di bangku dihadapan Sehun.

“Kau saja. Aku lagi malas,” jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

Kris mendecak sebal. Sudah lama dia tidak memainkan bola karet jingga itu semenjak dilaksanakannya try out.

“Ajak saja Chanyeol.” Saran Sehun.

“Dia sedang asik bicara dengan pacarnya di telpon.”

“Kalau begitu kau juga mestinya pergi dengan pacarmu.”

“Kris,” panggil Yeon dari pintu. Great! Orang yang baru saja mereka bicarakan tiba-tiba muncul. Dan Kris tidak akan mengganggu Sehun lagi.

“Sepulang sekolah nanti kita ke apartemen Hyejin ya?” Yeon menghampiri Kris dan Sehun. Dengan dahi mengernyit memperhatikan kegiatan Sehun yang tampak asing di penglihatannya. “Oh Sehun! Kau belajar??”

Kris memutar bola matanya. Gadis itu terlalu heboh

“Sebaiknya kita pergi dari sini.” Kris beranjak dari duduknya kemudian merangkul Yeon. Gadis itu tampak mungil jika bedampingan dengan Kris.

“Kau mau kan mengantarku ke apartemen Hyejin?” Yeon mendongak, dan menatap Kris dari samping.

“Iya, sayang.” Kris mengacak pelan rambut Yeon.

“Kris!”

Yeon segera menyeret Kris dari ruang kelas Sehun karena beberapa murid perempuan yang kebetulan ada disana terkikik geli karena Kris memanggil Yeon dengan cara seperti itu.

Sehun tertawa kecil. Dan lagi-lagi teringat dengan gadisnya.

***

Beberapa hari sudah terlewat dan hari ini hari terakhir Minri berada di Manhattan. Dia sedang mengemas barang-barangnya.

“Minri, kau pasti senang mendengar ini!”

Kyuhyun menghampiri Minri sembari membawa tab-nya. Minri mengerutkan keningnya sembari berpikir kira-kira apa yang akan membuatnya begitu senang dengan berita yang Kyuhyun katakan. Apa Minri baru saja mendapat undian atau semacamnya.

“Kau lulus Minri!!”

Kyuhyun meletakkan tab-nya di depan Minri dengan wajah sumringah. Tapi respon Minri sangatlah menyebalkan bagi Kyuhyun.

“Pengumumannya secepat itu?” tanya Minri kemudian kembali memfokuskan diri pada kopernya.

“Respon macam apa itu, Minri?” Kyuhyun mengernyit lantas mengambil kembali tab nya. Samar-sama mulutnya mendesis.

“Aku senang, Kyu.” Minri menghela nafas sebelum menelengkan kepalanya lagi pada Kyuhyun. “Tapi aku tidak akan kuliah disini.”

“Kau yakin dengan keputusanmu?”

Eung!”

***

Sehun tidak pernah mengira kalau tiba-tiba ada penguntit di depan apartemennya. Seorang gadis dengan berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu apartemen dengan topi dan kacamata yang menutup sebagian wajahnya. Mencurigakan sekaligus menakutkan. Harusnya Sehun tak perlu khawatir dengan hal-hal semacam ini karena dia bukanlah artis. Tapi mengingat kepopulerannya di sekolah, Sehun tetaplah harus waspada.

Dia baru saja pulang dari sekolah. Tubuhnya terasa letih dan sekarang apakah dia harus berurusan dengan gadis misterius-menyeramkan-yang tidak dikenalnya.

“Permisi, Nona. Sedang apa kau disini?”

“Saya mencari laki-laki bernama Oh Sehun.” Suara peremuan itu tampak teredam karena mulutnya tertutup masker.

“Dengan saya sendiri. Ada apa?” Sehun memundurkan langkahnya perlahan ketika perempuan itu berjalan semakin mendekat, hingga memojokkan Sehun ke dinding.

Sehun berusaha tetap tenang. Kamera CCTV ada di sudut koridor apartemen. Jadi jika terjadi sesuatu pada Sehun, maka perempuan itu dipastikan terjerat kasus hukum.

Perempuan itu melepaskan kacamatanya. Sehun sempat membeku di tempatnya sebelum bergegas memasukkan perempuan itu ke dalam apartemennya.

Perempuan itu tidak akan terjerat dengan kasus hukum, tapi dia tetap harus berurusan dengan Sehun.

 

“Park Minri!! Kau tidak bilang padaku bahwa kau pulang hari ini…” Sehun melemparkan tas punggungnya sembarangan ke atas sofa, lalu terguling ke lantai. Sehun tidak peduli. Dengan tubuh yang sedikit berkeringat setelah pulang sekolah, Sehun tetap memeluk gadis di depannya. “Dan kenapa kau tiba-tiba datang dengan dandanan seperti teroris?”

“Oh Sehun, lepaskan aku!” Minri memukul-mukul punggung Sehun. Dan dengan terpaksa akhirnya laki-laki itu melepaskan pelukannya.

“Kau tidak merindukanku ya?” Sehun mengerucutkan bibirnya. Oh, apa ditinggal beberapa hari membuat Sehun tiba-tiba berubah menjadi seperti ini. Dia serius dengan ‘aegyo’-nya itu? Ya Tuhan! Berikan Minri umur yang panjang.

“Tentu saja aku merindukanmu! Sana ganti baju dulu…” Minri mendorong tubuh Sehun menuju kamar.

Arraseo. Mau menemaniku ganti baju?” Sehun tertawa pelan, sementara Minri tanpa belas kasihan memukul lengan Sehun yang sedikit ada bentukan otot disana.

“Jangan macam-macam!” Samar-samar Sehun melihat rona kemerahan di pipinya. Sehun tersenyum perasaannya menghangat karena akhirnya dia bisa melihat wajah gadis itu lagi.

Tidak sampai lima menit, Sehun keluar dari kamarnya. Dia mengenakan kaos hitam dan celana bahan yang panjangnya selutut. Laki-laki itu segera menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan duduk menghadap Minri.

“Jadi… bagaimana keadaan kampus disana?” Sehun memulai percakapan.

“Keren! Luar biasa, Sehun!” Minri mencengkram kedua bahu Sehun membuat wajah Sehun berubah murung. Harusnya Sehun tak usah bertanya hal itu. “Tapi aku tak jadi kuliah disana,” ujar Minri mengakhiri kalimatnya dengan pelan dan tawa yang ringan.

“APA?!”

“Ugh, tidak usah berlebihan begitu.” Minri mendorong pelan wajah Sehun yang cukup dekat. Lalu Sehun menahan tangan Minri di pipinya.

“Kau serius ya?”

“Kau mau serius atau bercanda?” Minri menaik turunkan alisnya.

“Minri…” Sehun menghela nafas putus asa.

“Aku serius Sehun.” Minri tertawa puas, tapi cukup membuat kelegaan dalam hati Sehun. “Singkirkan wajah frustasimu itu Sehun.”

“Tapi kenapa?” tanya Sehun pelan.

“Karena aku tidak ingin jauh dari rumahku. Danjugakau.” Minri mempercepat bicaranya saat dia mengucapkan kalimat terakhir. Dan hal itu sukses membuat Sehun tersenyum lebar.

Minri tidak mempedulikan wajah Sehun sesenang apa. Karena dia sendiri tengah sibuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Dia beranjak dari duduknya. Dia berniat mengajak Sehun makan siang bersama.

“Ayo kita pergi.”

“Minri,” panggil Sehun saat mereka berdua berada di perbatasan pintu. “Chanyeol dan Hyejin baru saja resmi menjadi kekasih, loh.”

“Haaah? Kau serius?” Minri berbalik menatap Sehun –yang sedang mengangkat satu ujung bibirnya. Saatnya pembalasan, pikir Sehun.

“Kau mau aku serius atau bercanda?”

“Kau ini!” Minri mencubit pinggang Sehun lantas melenggang pergi. Meninggalkan Sehun yang masih meringis.

“Minri-ya, tunggu aku!”

***

“Hey tiang! Kau sungguh jadian dengan Hyejin?” Minri menginterupsi langkah Chanyeol saat laki-laki itu akan memasuki area privasi –tempat ternyamannya di dunia –kamarnya.

“Oh!! Kelinci kutub! Kapan kau kembali??” Chanyeol menjauh dari pintu kamarnya, dia bergegas menghampiri Minri dan merangkul bahu gadis itu, nyaris mencekiknya.

“YAK! Idiot!”

Minri memukul kepala kakak sepupunya itu tanpa belas kasihan dengan bantal spongebob yang sejak tadi berada di tangannya.

Chanyeol mengusap kepalanya sembari meringis. Tapi dia menambahkan cengiran di wajahnya membuat Minri berasumsi bahwa laki-laki itu tidak marah sama sekali meskipun Minri sudah memukul kepalanya. Tiba-tiba Minri ingin menendang bokongnya. Orang aneh, pikir Minri. Dan orang aneh itu adalah sepupunya kalau dia belum lupa.

“Ya, aku dan Hyejin baru saja resmi menjadi sepasang kekasih.” Chanyeol tertawa lebar dan nyaring. Tawanya memenuhi koridor sekitar kamar Minri dan Chanyeol yang kebetulan berjarak tidak terlalu jauh.

“Selamat ya.” Minri mengucapkan tanpa ekspresi apapun.

“Kau mau memberi selamat atau malah meledekku. Lakukan dengan benar!”

Minri ingin memukul Chanyeol lagi. tapi berhubung dia ingin mengucapkannya dengan tulus dia harus melakukannya dengan benar. Apa menurut Chanyeol mengucapkan selamat dengan benar itu seperti…

“Selamat ya, Oppa…” ucap Minri dengan nada manja sembari Minri menangkup kedua tangannya di depan dada, lantas tersenyum lebar.

“Oh tidak!” Chanyeol menjerit heboh. “Kau lebih tampak menakutkan kalau berlaku seperti itu.”

Minri kembali berwajah kelinci kutub.

“Tapi, terimakasih.”

Chanyeol tersenyum, kali ini tersenyum sungguhan. Mewakilkan rasa terimakasihnya.

Mereka berdua memang sering bertengkar. Tapi mereka punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa sayang antara hubungan kakak-adik.

Seperti Chanyeol yang peduli pada hubungan Minri dan Sehun, mendukung penuh mereka berdua. Kini, Minri juga turut berbahagia jika Chanyeol memang berbahagia bersama gadis yang disukainya. Hyejin –gadis yang pernah membuat Minri cemburu karena kedekatannya dengan Sehun. Tapi Minri tidak perlu cemburu konyol lagi karena pada akhirnya gadis itu menempatkan hatinya pada Chanyeol.

***

Hari-hari ujian yang menegangkan telah mereka lewati bersama. Sehun senang karena Minri sungguh tidak memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di luar negeri. Dan kecurigaan Sehun telah musnah karena Minri sudah menceritakan bahwa Kyuhyun adalah teman masa kecilnya. Dan dia bilang Kyuhyun hanyalah seorang kakak baginya.

Sehun mulai menerima Kyuhyun sebagai teman. Bahkan dia ikut belajar bersama di rumah Minri dengan Kyuhyun sebagai pengajarnya. Rumah Minri mendadak menjadi tempat les ketika Yeon, Kris dan Chanyeol ikut bergabung belajar bersama. Sebenarnya ketiga orang itu hanya membawa keributan tapi Minri memerlukan mereka semua. Suasana sepi membuat kepala Minri seperti teko mendidih tiap kali Kyuhyun menambahkan satu rumus baru. Ah, tapi semuanya terbayar ketika Minri merasa lebih mudah menyelesaikan soal-soal ujiannya dan keluar kelas dengan senyum.

Seperti di sekolah lain, pada umumnya tiap kelulusan tiba diadakan acara Prom untuk perpisahan kelas dua belas. Sekolah yang Minri tempati pun tidak luput dari acara macam itu. Ketika para murid perempuan sibuk memikirkan dengan siapa mereka akan pergi, pakai gaun apa mereka nanti, Minri malah berpikir bagaimana caranya lolos dari acara semacam itu karena dia tidak ingin memakai gaun merepotkan dan make-up sana sini.

Tapi Yeon sukses memaksa Minri mengikuti acara itu. Dan Yeon sangat antusias mendandani Minri, membubuhkan bedak, menuliskan eyeliner, mascara atau apapun itu –Minri tidak peduli dengan namanya.

Minri memakai gaun hitam dengan rok mengembang yang panjangnya setengah paha. Menampakkan figure kaki jenjangnya. Dan dia memakai high heels dengan warna senada.

Minri menyerah dengan perdebatannya dengan Yeon. Dan lagipula kapan lagi mereka bisa berkumpul dengan teman-teman sekolah –dengan dandanan cantik. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan masa SMA kemudian terjun ke dunia yang lebih luas yang pastinya lebih banyak masalah yang akan mereka hadapi. Tiba-tiba Minri takut terpisah dengan para sahabatnya.

Prom sedang berlangsung. Para siswa dan siswi asik menari di lantai dansa, tak terkecuali Sehun dan Minri. Mereka tampak seperti putra dan putri mahkota.

Sehun memakai tudexo hitam dan celana bahan. Rambutnya ditata sedemikian rupa membingkai wajahnya yang tampan hingga tampak semakin mempesona. Minri memuaskan hatinya memandangi wajah Sehun.

Musik mengalun lembut, membuat langkah mereka berdua begitu pelan dan intim. Sehun tengah mempersiapkan sesuatu untuk gadisnya. Tapi dia sedang berusaha menyusun kalimat yang tepat untuk mengungkapkannya.

“Aku ingin kita bertunangan.” Sehun menghentikan langkahnya.

Minri mengerutkan kening. Tidak ada angin atau badai, tiba-tiba saja Sehun berkata seperti itu. Dia bercanda ya?

“Kau tidak punya kata-kata lain sebelum mengucapkan kalimat itu?” komentar Minri, lalu menggerakkan badannya lagi.

“Ayolah…”

“Secepat itu? Kita baru saja lulus sekolah, loh.”

“Pertunangan ini hanya aku dan kau yang tahu.” Sehun mengeluarkan sebuah cincin dari kotak beludru biru. Tidak ada permata apapun di cincin itu. Tapi Sehun sudah menyiapkan sepasang cincin yang tak ada di sudut manapun di dunia ini. Dia mengukir nama mereka berdua di sana.

Minri & Sehun, selamanya bersama.

Minri mengulurkan tangan kanannya, lalu Sehun menyematkan cincin itu di jari Minri. Lantas mencium tangannya.

“Kita masih di sekolah, Sehun.” Minri bicara dengan nada berbisik.

“Tidak ada yang melihat kita.” Sehun menarik pinggang Minri mendekat, lantas melayangkan ciuman secepat kilat di bibir gadis itu.

“Kau percaya padaku kan? Tunggu sampai saatnya kita bisa terikat dalam janji pernikahan nanti.”

“Ya, aku percaya padamu, Sehun. Dan aku mencintaimu.”

 

Jangan pergi terlalu jauh karena aku takut tak bisa menggapaimu.

Jangan menghilang dari pandanganku karena aku takkan mampu menahan rasa rindu.

Kepadamu aku mempercayakan hatiku.

Kepadamu aku menyerahkan cintaku.

Dan kepada Tuhan aku pasrahkan semuanya.

Lalu berharap kita ditakdirkan terus bersama, hingga kata selamanya adalah kata yang pantas untuk kita berdua.

Aku mencintaimu, Minri. Lebih dari semua definisi cinta yang pernah ada.

-Sehun

***END***

HAAAAII!! Dengan penuh perjuangan akhirnya aku menyelesaikan FF ini!

Ini FF terlama yang aku selesaikan berhubung masalah kehabisan ide. Postingan terakhir FF ini, yaitu part 4 di post 30 September 2013 lalu. Lama bener kaaaan!! /heboh/

Pertama, aku mau minta maaf sebesar-besarnya karena sungguh aku terserang block writer untuk FF ini. Sama sekali stuck! Lalu aku mencicilnya sedikit demi sedikit. Dan begitulah akhirnya. Aku merasa ini tidak maksimal *sobs* jadi, AKU MINTA MAAF BANGEEEET YA KALAU AKHIRNYA TIDAK MEMUASKAN SEPERTI APA YANG KALIAN HARAPKAN. Minta maaf juga karena aku telah menggantung kisah ini cukup lama. Dan maaf karena typo, alurnya yang acak, dsb, dst, dll.

Aku sudah berusaha semampuku supaya FF ini ada endingnya, biar gak gantung.

Kedua, aku mau mengucapkan TERIMAKASIH BANYAK untuk yang menunggu-nunggu FF ini, terimakasih juga kepada yang menagih-nagih minta di terusin. Kalian perlahan membakar semangatku untuk menyelesaikan FF ini. /halaah/

Aku bukan manusia yang sempurna, jadi aku yakin ada salah baik dalam pembuatan FF, perkataan dan perbuatanku. Maafin yaa.

Dan sekali lagi, terimakasih.

Aku sayang kaliaaan ❤

©Charismagirl

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

65 tanggapan untuk “Just Stay With Me – Part 5 [End]

  1. Uwaa daebak ^^
    Keren~
    Ffnya gak begitu dramatis walau konfliknya banyak.
    Aku kira hubungan mereka bakal ruwet, dsb, mengingat ada beberapa pihak yang bisa disebut pengganggu. Tapi ternyata mengalir alami >.<
    So sweet lagi :3
    Daebak deh (y)
    *Mian aku baru komen di sini. Abis ngebut bacanya -_-

  2. Endingnya bagus thor!!
    Apa lagi klo liat trio tiang listrik. Wkwkwk….
    And sehun ko’ mendadak manja
    Tp ffnya beneran keren thor!! Hehe… 🙂

  3. kak ini fanfict terlalu nge-feel sampai sampai bayangin yang adegan terakhir itu susah
    gila ini fanfict tak dapat dideskripsikan dengan kata kata
    sequel lagi dong kak ya haha
    keep writing kak

  4. pas baca part 3 agak takut kalo minri jadi suka sama kyuhun.. tapi untung endingnya minri sama sehun oppa :***
    kece thor.. buat lagi tapi chapternya jgn panjang panjang 😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s