Secret Darling | 5th Chapter

secret-darling1.

:: SECRET DARLING | 5th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Fluff | Friendship

Rating : Teen [WARNING!]

.

Poster by IraWorlds © High School Graphics ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter

.

Minhee terengah-engah setelah membanting pintu kamarnya, meninggalkan Sehun yang mematung di depan sana. Ya, tentu saja. Pasti sekarang namja itu masih terbengong-bengong di depan sana sepeninggal pintu yang beberapa detik lalu terbanting keras di hadapannya. Mungkin juga ia bingung karena melihat bagaimana sensitifnya Minhee saat mereka membahas soal kehamilan?

Aigoo… Kenapa tak ada satupun pria yang mengerti alasan mengapa seorang wanita sangat sensitif saat berbicara masalah kehamilan? Terlebih seorang wanita muda yang terjebak dalam pernikahan akibat kesalahpahaman konyol ini, Shin Minhee.

 

“Aish, kenapa disini hanya aku yang satu-satunya waras?” keluh Minhee sambil berjalan ke depan cermin dan mengacak poninya frustasi. Lalu tanpa ia tahu apa alasannya, tiba-tiba ia meletakkan telapak tangan kanannya diatas perut. Memandangi refleksi dirinya sendiri lamat-lamat.

 

Tapi… Bagaimana jika suatu hari nanti aku benar-benar hamil anaknya?

 

.

.

| 5th Chapter |

.

.

 

Tapi… Bagaimana jika suatu hari nanti aku benar-benar hamil anaknya?

Aish, michigetta!

 

“Kenapa mereka mengharapkanku hamil di usia semuda ini?” keluh Minhee lagi, masih tak memindahkan tangannya dari atas perut. “Mereka gila, ya? Mereka pikir aku mau merusak masa depanku sendiri?”

Minhee sedikit ngeri membayangkan suatu hari ia dan Sehun sama-sama melakukan kesalahan yang bodoh, lalu ternyata ia hamil, lalu ia harus membesarkan bayinya itu di dalam perut selama 9 bulan, lalu ia akan semakin gemuk dan gemuk, lalu pada akhirnya ia akan melahirkan, membesarkan anaknya itu, dan tentu saja itu berdampak pada kuliahnya yang akan terputus di tengah jalan. Dan nasibnya hanya terbentur sebagai ibu rumah tangga.

Oh, kurang malang apa? Apakah itu masa depan yang diinginkan oleh kedua orangtuanya? Kedua mertuanya? Luhan? Minhyuk? SEHUN?!

 

“Sayang, buka pintunya,” terdengar suara dari balik pintu yang diselingi beberapa kali ketukan halus. Minhee kontan menolehkan kepalanya bingung bercampur kaget.

Apa? Ia salah dengar ‘kan tadi?

 

“Sayang,” terdengar suara itu lagi. Tidak, tidak salah lagi. Itu suara Sehun.

“Sayang, buka pintunya. Maafkan perkataan konyolku tadi, oke?”

 

Sayang?

Sejak kapan Sehun memanggil Minhee dengan kata itu?

 

Oh ya, setidaknya ia pernah memanggilku begitu saat di depan resepsionis hotel ketika kami ‘bulan madu’.

 

“Berhenti memanggilku ‘sayang’!” seru Mihee setengah jengkel. “Aku benci mendengarmu memanggilku begitu!”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Tanya Sehun lagi, terdengar sedikit memelas. “Jangan marah padaku, oke? Baiklah, kita lupakan saja tema yang menyebalkan itu.”

“Aku tidak marah padamu.” Jawab Minhee akhirnya. “Aku hanya sedikit kesal. Kenapa kau sama tidak warasnya dengan mereka.”

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan itu.” sahut Sehun. “Kita bisa melakukannya kapanpun, tergantung kesiapanmu saja.”

“Apa katamu?!”

“Baiklah, bercanda.” Sahut Sehun lagi. “Lupakan soal itu. Akupun sepertinya tidak akan punya waktu untuk membahas itu, oke? Aku sedang sibuk dengan bimbingan skripsiku.”

“Baiklah, kau kumaafkan.”

“Benarkah?”

“Ya.” Jawab Minhee dengan sedikit nada terpaksa. “Sudahlah, aku mau tidur!”

 

***

 

“Jadi mereka semua ingin kau cepat hamil?” Minchan berujar tertahan, lalu disusul dengan tawa membahananya yang terdengar super duper menyebalkan di telinga Minhee saat ini.

“Berhentilah tertawa, Park Minchan.” Sahut Minhee datar dengan kerucut kecil yang terbentuk di bibirnya. “Kau tidak tahu betapa tertekannya aku saat ini. Kau pikir aku senang mendapat kenyataan seperti itu?”

“Tapi itu sangat lucu, Minhee-ya,” tawa Minchan lagi. “Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksimu saat menerima pertanyaan seperti itu dari mereka.”

 

Sebaiknya aku tak usah menceritakan tentang reaksiku yang tersedak minuman dan Sehun oppa yang tersedak tuna sushi. Jika aku menceritakannya, tawa Minchan akan semakin menggila.

 

“Sudahlah, bercerita denganmu tidak membantuku menemukan solusi.” Keluh Minchee sambil berdiri dari duduknya.

“Yak, kau mau kemana?”

“Aku mau pulang,” jawab Minhee singkat. “Bercerita denganmu malah akan membuatku semakin tertekan.”

 

 

“Kenapa kau menceritakan itu pada Minchan?” keluh Sehun saat mereka baru saja keluar dari elevator, dan kini mereka sedang berjalan menyusuri lorong apartemen menuju pintu apartemen mereka.

Minhee mengeluh. “Kau tidak mengerti rasanya jadi wanita.”

“Wanita itu merepotkan.” Balas Sehun datar.

Minhee memicing. “Hei, kau lupa kalau ibumu wanita juga?”

“Oh iya, maaf.”

 

Sehun baru saja akan mengeluarkan kunci apartemen dari dalam saku mantelnya, namun Minhee tiba-tiba mencegahnya. Sehun memandang bingung pada Minhee, namun Minhee malah memandang kenop pintu itu curiga.

 

“Ada apa?” Tanya Sehun.

Minhee tak menjawab, tapi langsung memutar kenop pintu apartemen mereka. Sehun baru saja akan melayangkan sebuah protes, namun ia bungkam saat melihat kalau pintu itu kini sudah terbuka tanpa perlu memasukkan anak kunci lagi.

 

“Kau tidak lupa mengunci pintunya ‘kan tadi?” Tanya Minhee, memandang Sehun dengan tatapan sedikit cemas.

Sehun menggeleng. “Aku benar-benar sudah menguncinya.”

“Pintu dalam keadaan tak terkunci lagi sekarang. Bagaimana kalau di dalam ada pencuri?” bisik Minhee cemas.

“Pencuri? Di apartemen?” ulang Sehun sedikit ragu.

“Pencuri bisa beraksi dimana saja,” sahut Minhee. “Oppa. Kau jalan di depan. Kau laki-laki, kau harus melindungiku.”

Sehun tak sempat protes saat Minhee tiba-tiba berpindah posisi ke belakang punggungnya, lalu entah sadar atau tidak, gadis itu memegang kedua sisi mantel Sehun dengan erat.

“Maju, oppa. Ppali, ppali.”

 

Sehun hanya bisa menelan saliva gugup saat Minhee menyuruhnya menghadapi suasana dalam apartemen mereka duluan. Dengan langkah kecil-kecil akhirnya mereka maju, walau masih diliputi perasaan cemas dan takut yang membuat pegangan Minhee pada mantel Sehun semakin erat.

 

Terdengar suara televisi saat pertama kali mereka menjejakan kaki di dalam sana. Lalu ada sedikit suara gemerisik yang berasal dari dapur. Sejenak Sehun dan Minhee saling pandang, benarkah itu pencuri?

 

Aigoo, apa yang kalian berdua lakukan?” suara itu nyaris membuat Sehun dan Minhee menjerit kaget bersamaaan. Namun betapa leganya mereka saat mereka justru melihat eomma Minhee sedang berdiri disana, lengkap dengan celemek dan memegang beberapa peralatan menggoreng.

Eomma?”

“Kenapa kalian ini, hah?” Tanya eomma Minhee balik, memperhatikan dengan seksama mengapa anak dan menantunya memasuki rumah dengan gaya seperti itu. “Kalian pikir di dalam sini ada hantu?”

“Tidak, si-eomeoni.” Jawab Sehun sedikit canggung. “Pintu depan tidak terkuci, jadi kami pikir pintu kami telah dibobol oleh pencuri. Jadi… Kami sedikit cemas.”

Eomma tidak mengabari kalau akan datang berkunjung,” tambah Minhee dengan cemberutnya.

Eomma Minhee tertawa. “Ne, maafkan, eomma. Tadinya eomma ingin memberikan kejutan untuk kalian.”

“Kejutan apa?” Tanya Minhee sedikit curiga.

Eomma akan menginap disini untuk beberapa hari.”

“Apa?!” sahut Sehun dan Minhee spontan, lagi-lagi secara bersamaan dan kini mereka pun saling menatap panik.

Geurae. Memangnya kenapa?” Tanya eomma Minhee. “Eomma menginap disini tidak mengganggu romantisme kalian, kan?”

“Romantisme apa maksud eomma?” protes Minhee. “Tapi, eomma…”

Eomma akan tidur di kamar tamu,” potong eomma Minhee lagi dengan senyum lebar di wajahnya. “Sehun-ssi, sementara ini kau harus tidur satu kamar bersama Minhee, ya?”

 

 

Aigoo, kenapa bisa eomma tahu kalau selama ini kita tidak sekamar?” keluh Minhee sambil mengerucutkan bibirnya dan memukul-mukul tepian tempat tidur, memperhatikan Sehun yang sedang menempatkan koper berisi pakaiannya ke salah satu sudut kamar.

“Tentu saja,” jawab Sehun sambil geleng-geleng kepala. “Semua barang-barangku ada disana. Tanpa bertanyapun ia pasti sudah tahu kalau aku yang selama ini menempati kamar itu.”

Oppa, apa menurutmu eomma sengaja menginap disini?” Tanya Minhee sedikit mencium kecurigaan.

Sehun menoleh padanya sambil sedikit mengernyit. “Sengaja?”

Eomma ingin kita tidur sekamar.” Sahut Minhee lagi. “Ia sudah tahu jika selama ini kita bahkan tidur di kamar yang terpisah. Michigetta. Semua keluarga kita semakin menggila sekarang. Apa mau mereka?”

“Entahlah.” Jawab Sehun sambil mengangkat bahunya.

 

Minhee menutup wajahnya dengan telapak tangan, ia merasa frustasi. Namun setelah beberapa detik lamanya, akhirnya ia membuka wajahnya lagi. Tepat saat itulah ia terkejut bukan main, sebab tak sengaja melihat Sehun sedang topless beberapa meter saja di depannya. Kontan ia menjerit kaget dan sesegera mungkin menutup wajahnya dengan telapak tangan lagi.

 

“KAU GILA, YA?!” omel Minhee panik. “Kenapa kau ganti baju di depanku?! Kenapa kau tidak ke toilet dulu, hah?!”

“Mana kutahu kau akan membuka wajahmu lagi secepat itu!” balas Sehun sambil bergegas memakai pakaian yang baru. “Sudah, aku selesai.”

“Tidak, aku trauma padamu!” balas Minhee kesal. “Keluar dari kamarku! Aku tidak mau satu kamar denganmu, mengerti?!”

 

“Sehun-ah, Minhee-ya… Ada apa? Kenapa kalian ribut-ribut?” terdengar suara cemas yang berasal dari balik pintu. Otomatis Minhee membuka wajahnya kembali, dan akhirnya ia menghembuskan napas lega saat dilihatnya Sehun benar-benar sudah berpakaian.

Sehun dan Minhee sama-sama tak menjawab, mereka hanya terdiam sambil saling melempar pandangan.

 

“Sehun-ah, Minhee-ya, buka pintunya! Eomma ingin bicara!”

 

Minhee memutar matanya jengah, sedangkan Sehun menunjuk-nunjuk Minhee dengan ekspresi sinis.

“Gara-gara kau,” desis Sehun datar.

“Salahkan kenapa kau buka baju di depanku,” balas Minhee tak mau kalah. Lalu dengan sedikit terpaksa akhirnya ia melangkah menuju pintu kamar, dan membukanya sampai bertemu dengan wajah eomma-nya dibalik pintu.

 

“Ada apa dengan kalian?” eomma Minhee yang pertama bertanya. Matanya sedikit melirik ke dalam kamar, menemukan Sehun yang sedang berbaring diatas tempat tidur dalam kondisi sudah berganti pakaian.

“Tidak ada apa-apa, eomma.” Jawab Minhee dengan senyum manis yang terpasang. “Tadi hanya ada… Kecoak. Ya, kecoak. Eomma tahu kan, aku benci kecoak?”

“Kecoaknya sudah pergi?” eomma Minhee memicing ragu.

Minhee mengangguk cepat. “Ya, eomma tenang saja. Kami sudah baik-baik saja, oke?”

“Baiklah.” Sahut eomma Minhee. “Tapi ingat, jangan berteriak-teriak lagi seperti itu, ya? Apa kalian selalu seperti itu selama ini? Itu bisa mengganggu tetangga.”

“Ya, eomma. Kami tidak akan mengulanginya.” Jawab Minhee dengan senyum manis.

“Baiklah, eomma akan menyiapkan makan malam lagi,”

Eomma tidak perlu kubantu?”

“Tidak perlu,” jawab eomma-nya sambil tersenyum. “Kau mengobrol saja dengan Sehun, ya? Sebentar lagi makan malam akan siap,”

“Oh, baiklah.” jawab Minhee dengan senyum. “Terimakasih, eomma.”

 

 

“Sehun-ah, Minhee-ya… Makan malam sudah siap!” panggil eomma Minhee dari meja makan. Sesaat setelah mendengar panggilan itu, Sehun dan Minhee pun datang menuju meja makan. Lalu dengan senyum cerah segera mengambil tempat duduk.

 

“Wah, aku rindu masakan eomma!” seru Minhee senang. Lalu layaknya anak kecil, ia menghirup aroma sedap dari masing-masing hidangan yang tersaji diatas meja itu.

“Minhee-ya, jangan seperti anak kecil! Kau itu sudah mempunyai suami.” Tegur eomma-nya sambil melempar senyum pada Sehun. Sehun sedikit canggung saat membalas senyum itu, merasa tidak biasa.

“Baiklah, terserah eomma.” Keluh Minhee sedikit bersungut-sungut.

 

“Bagaimana, Sehun-ah? Enak?” Tanya eomma Minhee saat Sehun baru saja memasukkan sesendok sup rumput laut ke dalam mulutnya.

“Ya,” jawab Sehun dengan senyum. “Masakan si-eomeoni sangat lezat. Seperti masakan eomma-ku.”

“Kau menyukainya?” sahut eomma Minhee senang. “Syukurlah. Kalau begitu, makan yang banyak, ya.”

Eomma Minhee lalu berpaling pada puterinya dan melemparkan pertanyaan yang nyaris membuat Minhee tersedak. “Minhee-ya, kau sendiri bagaimana? Kau sudah memasak apa untuk suamimu?”

 

Benar saja. Rasanya Minhee ingin tersedak potongan rumput laut saat eomma-nya bertanya seperti itu. Minhee berdehem canggung, lalu menangkap senyum kemenangan yang diumbar Sehun.

Menyebalkan!

 

“Telur dadar, eomma.” Jawab Minhee jujur. “Eomma tahu kan, aku tidak bisa memasak.”

“Lain kali kau harus belajar memasak, ya?” tegas eomma-nya. “Eomma akan mengajarimu. Pokoknya kau harus bisa memasak. Tidak mungkin kan, selamanya kau akan memasakkan telur dadar untuk suami dan anakmu?”

“Ya, eomma.” Minhee mendadak lemas saat eomma-nya kembali menyebut soal kata ‘anak’.

 

“Kau sudah kenyang?” Tanya eomma Minhee saat melihat gerakan makan anaknya yang mulai melambat.

“Sepertinya,” jawab Minhee. Jujur, bukannya ia sudah kenyang. Hal yang lebih mempengaruhi penurunan selera makannya adalah kata-kata eomma-nya soal ‘anak’ tadi. Membuat kata itu selalu terngiang-ngiang di telinga Minhee, membuat semangat Minhee drop seketika.

“Jangan dipaksakan kalau begitu. Minum saja,” nasihat eomma-nya sambil menyodorkan segelas air berwarna jingga pada Minhee. Minhee mengernyit.

“Ini apa, eomma?”

“Sari wortel.” Jawab eomma-nya singkat. “Sudah, minum saja.”

Minhee mengalah dan menurut untuk meminum jus itu.

Benar, rasanya seperti wortel.

 

“Sehun-ah, untukmu juga.” Sahut eomma Minhee sambil menyodorkan gelas yang lain pada Sehun. Sehun sedikit heran, namun ia tak enak hati untuk menolak. Pada akhirnya ia menerima gelas itu dan menurut untuk meminum isinya juga, seperti Minhee.

 

Eomma tidak minum sari wortel juga?” Tanya Minhee saat dilihatnya sang eomma malah meminum air putih biasa.

“Tidak, eomma ini sudah tua. Jadi ingin minum air putih saja.” Jawab eomma-nya dengan senyum seperti biasa. Jawaban yang sedikit janggal. Firasat Minhee merasakan keanehan, namun ia mencoba mengabaikannya dan bersikap biasa saja. Ia tidak mau asal menuduh yang tidak-tidak pada eomma-nya.

 

Eomma, aku ingin ke kamar.” Sahut Minhee setelah selesai. “Nanti kalau eomma ingin menyuruhku mencuci piring, panggil saja aku, ya?”

“Ya.” Jawab eomma-nya dengan senyum yang semakin lebar. “Kau tenang saja, Minhee.”

Minhee mengangguk, lalu bersiap melenggang pergi. Namun sebelum ia pergi, ia sempat memandangi Sehun.

 

Aigoo, kenapa dia makan banyak sekali?

 

 

Entah ini sudah keberapa kalinya Minhee menggosok tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. Oh, bukan hanya tengkuknya saja. Kini rasanya seluruh tubuhnya terasa memanas tanpa sebab. Beberapa kali ia bergerak gelisah, atau sekedar mengipas-ngipas dirinya sendiri menggunakan kerah piyama yang dipakainya.

 

“AC-nya tidak rusak, kan?” Tanya Minhee pada dirinya sendiri. Gadis itu melangkahkan kakinya ke arah bawah AC, merasakan hembusan angin dingin yang sangat terasa disana. Tapi angin itu terasa hanya menyentuh kulitnya, tidak bereaksi sama sekali untuk menurunkan efek panas yang entah kenapa bergejolak dalam tubuhnya saat ini.

Ini sangat aneh.

 

“Sebaiknya aku mengerjakan tugas saja,” putus Minhee sambil terus menggosok-gosok telapak tangannya ke tengkuknya. Minhee berjalan menuju meja belajarnya, mengeluarkan sebuah novel tebal dari dalam tas kuliahnya.

Aigoo, kenapa Minchan memberikanku buku seperti ini?” keluh Minhee sedikit jengkel. Sambil terus menggosok tengkuknya, ia membaca sekilas novel tebal itu, sesuai tugasnya untuk membuat resensi mengenai sastra roman itu.

“Sudahlah, biarkan saja. Yang penting sastra roman. Aku tidak peduli judulnya apa.”

 

Sepuluh menit sudah dilalui Minhee dengan membaca roman itu, dan dengan kecepatan membacanya yang diatas normal ia berhasil menghabiskan 32 halaman hanya dengan waktu selama itu. Setelah sekian lama membaca adegan demi adegan yang diceritakan disana, Minhee semakin merasa gelisah. Dalam keadaan sadarnya yang normal, ia akan shock saat membaca roman dengan rating diatas umur seperti itu. Tapi tidak kali ini. Minhee tidak shock, ia malah merasakan perasaan yang aneh telah berulah dalam dirinya.

 

Aigoo, ada apa denganku?” keluh Minhee frustasi sambil menopang kepalanya dengan tangan. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya yang dibanjiri keringat dingin. Ia yakin ada yang tak beres dengannya, namun ia tak tahu apa itu.

“Ada apa dengan reaksi tubuhku? Kau aneh, Shin Minhee!”

 

Grek!

 

Minhee tak menoleh saat mendengar suara pintu yang ditutup dibalik tubuhnya yang sedang duduk membelakangi pintu itu. Minhee sedang frustasi memikirkan gejala aneh yang dialami oleh seluruh hormon yang ada di tubuhnya.

 

Eomma?”

 

Tidak ada jawaban.

 

“Oh, Sehun oppa.”

Tanpa mendengar jawaban pun, Minhee sudah tahu pasti jika itu adalah suaminya.

 

Minhee menutup matanya frustasi, dan saat itulah ia merasa ada sesuatu yang hangat melingkar di perutnya. Sejujurnya Minhee kaget, amat sangat kaget, di keadaan yang normal pasti ia langsung berbalik dan menghantam orang itu dengan buku novel tebal yang kini sedang terbuka di hadapannya. Tapi saat ini, Minhee sedang tidak normal. Ia tidak berbalik dan menghantamkan buku tebalnya pada seseorang yang kini tengah memeluknya dari belakang itu. Ia bahkan tidak mengomel sama sekali. Ia tidak marah-marah saat ia disentuh seperti itu.

Minhee malah membiarkannya, bahkan cenderung menikmatinya.

Oh, demi spatula milik eomma-nya, APA YANG TERJADI PADA SHIN MINHEE?!

 

“Apa yang terjadi padamu?” Tanya suara itu, milik seseorang yang kini tengah memeluknya dari belakang. “I think, I almost do something to you. Don’t you get angry, Miss?”

I don’t know,” jawab Minhee yang lebih mirip suara gumaman saja. “I don’t care even if you do something to me. Up to you. I’m yours toninght.”

Really?” kekeh seseorang itu. Ia membenamkan wajahnya ke rambut Minhee dan menghirup aroma yang menguar dari sana, membuat sensasi panas dalam tubuh Minhee semakin menjadi-jadi.

Stop it, oppa.”

So, are you starting want it right now?”

 

Stop it, oppa!” seru Minhee. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya menghadap orang itu, lalu mendorong namja itu supaya menjauh.

Diluar dugaan Minhee, namja itu malah mendorongnya ke dinding dan memenjarakan gerak tubuh Minhee dengan kedua tangannya. Namja itu mencium bibir Minhee dengan kasar dan tidak sabar.

Sepertinya mereka sedang dalam keadaan yang tidak benar-benar sadar. Ya, lihat saja tingkah laku mereka sekarang.

 

Kepala Minhee terasa pusing karena beberapa kali membentur kecil tembok akibat ciuman hebat mereka. Kesadaran Minhee semakin parah, ia hampir tak bisa mengingat apa-apa lagi. Ia hanya bisa merasakan napas dua orang yang saling memburu, tanpa mengenal kesadaran.

 

“Sakit,” rintih Minhee setelah ciuman hebat itu berakhir. Ujung bibirnya terasa berdenyut nyeri, karena pertama kali bibir tipisnya dihujani ciuman sekasar itu. Ini tidak biasa. Minhee ingin protes, tapi entah kenapa ia tidak bisa karena pada dasarnya itulah hal aneh yang sejak tadi tubuhnya inginkan.

 

Ini aneh. Semua ini aneh. Minhee benci kenapa tubuhnya menginginkan semua ini.

 

“Hentikan, oppa. Kita tidak boleh melakukan ini,” pinta Minhee lirih. Ia masih sedikit sadar dengan apa yang sedang terjadi padanya. Mati-matian Minhee menggigit bibir bawahnya saat ciuman-ciuman kasar itu mulai turun ke area lehernya.

“Kenapa tidak boleh?” Tanya namja itu, sedikit mengerang frustasi saat Minhee mencoba menghentikan gerakannya dengan cara menjambak rambutnya. “Kau istriku. Kau pun sudah berkata kalau malam ini kau miliku. Kau ingat?”

“Tapi tidak begini caranya,” Minhee mulai terisak kecil. “Aku takut, oppa. Sungguh, kau tidak mengerti bagaimana perasaanku sekarang.”

Namja itu mengangkat kepalanya dan memandang mata Minhee dalam-dalam, lalu ia menyeringai tipis. “Tidak, sayang. Ini yang kau inginkan.”

 

Namja itu menarik Minhee dari dinding dan melemparkan tubuhnya begitu saja ke atas tempat tidur. Minhee menangis sekarang, ia benar-benar takut. Mungkin namja itu akan melakukan semuanya dengan kasar seperti tadi, karena ia diluar kesadaran. Entah minuman apa yang sudah dikonsumsinya, sehingga ia menjadi seperti ini.

 

Minuman, eh?

 

“Jangan menangis, sayang.” Sahut namja itu sambil mengusap airmata Minhee. “Aku tidak suka melihatmu menangis.”

“Berhenti memperlakukanku seperti ini, oppa.” Pinta Minhee dengan airmata yang mengalir. “Aku takut. Aku takut padamu…”

Namja itu berhenti memegang lengan Minhee dengan keras. Perlahan pegangannya melonggar, ia memandang Minhee dengan perasaan bersalah.

 

“Maafkan aku,” sahut namja itu pelan. Lalu dengan lembut ia mengecup kening Minhee, membuat darah Minhee berdesir dengan cepat sekaligus lega.

“Aku berjanji tak akan melakukan apapun padamu. Tapi… Bolehkah malam ini aku tidur sambil memelukmu?”

 

Minhee mengangguk, dengan seulas senyum yang coba untuk ia pertahankan. Akan sulit baginya untuk terlelap malam ini, mengingat peristiwa apa yang hampir saja terjadi padanya beberapa saat yang lalu. Namun perlahan ia mulai menyerah pada rasa kantuk dan lelah yang menyerangnya. Dan pada akhirnya, tepat jam dua belas malam, Minhee jatuh terlelap dalam pelukan namja yang tadi hampir menyisakan trauma seumur hidup dalam sugestinya.

 

 

Sinar matahari yang sudah bersinar sejam yang lalu belum cukup mengusik tidur Sehun dan Minhee. Mereka berdua masih terlelap dalam posisi yang belum berubah dari semalam, berpelukan. Mereka baru merasa terusik saat mendengar suara alarm yang berbunyi dari ponsel masing-masing.

 

Sehun mengerjap pertama, ia merasa asing pada awalnya. Dan ia sungguh terkejut saat mendapati Minhee terlelap dalam pelukannya. Ia langsung melepaskan pelukannya, membuat Minhee terbangun seketika.

 

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Sehun, langsung meminta penjelasan mengapa Minhee terlelap dalam pelukannya. Tampaknya ia benar-benar tak sadarkan diri semalam, buktinya adalah ia panik saat mendapati gadis itu ada dalam pelukannya saat pertama kali ia membuka mata.

“Harusnya aku yang tanya begitu.” Balas Minhee sedikit ketus. “Apa yang kau minum semalam? Kau mabuk, ya? Kau hampir saja memperkosaku.”

“APA?!” seru Sehun shock. “Apa kau bilang? Aku? Hampir memperkosamu?”

“Mau bukti?” tantang Minhee ketus lagi. Ia menyingkap rambutnya dan menunjukkan lehernya yang penuh dengan bercak kemerahan. Sehun melongo shock, tidak percaya dengan apa yang ditunjukkan oleh istrinya.

“Lihat apa yang telah kau lakukan padaku?” omel Minhee sambil menjitak kepala Sehun. “Harus bagaimana aku ke kampus hari ini? Apa kau senang melihat aku ditertawakan karena mengumbar hal super memalukan seperti ini? Dasar nappeun namja!”

“Semua kissmark itu ulahku?” ulang Sehun masih tak percaya, menatap puluhan kissmark itu tanpa berkedip. “Bagimana bisa aku melakukannya? Aku bahkan sama sekali tak tahu bagaimana caranya!”

“Itulah alasanku bertanya apa kau mabuk semalam,” dengus Minhee sambil melipat tangannya di depan dada. “Kau benar-benar menyeramkan semalam. Kau lihat bibirku juga? Bibirku bengkak gara-gara kau!”

“Aku juga?” Tanya Sehun tak percaya, ia menelan salivanya sulit. “Bibirmu… Memangnya kuapakan bibirmu?”

“Kau menciumku dengan ganas. Kupikir kau gila, kau benar-benar seperti orang mabuk semalam. Aku benci padamu.” Sahut Minhee sambil melayangkan pukulan ke lengan Sehun. Sehun hanya bisa mengaduh, namun tidak berani melancarkan protes.

 

“Minhee-ya, maafkan aku.” Sahut Sehun sebelum Minhee melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. “Maafkan aku telah menyakitimu semalam. Aku tak bermaksud—”

 

“Lupakan saja kejadian semalam, oppa. Kuyakin kau juga tak ingat apapun.”

 

 

“Astaga, Shin Minhee, kau itu apa-apaan sih? Sudah kubilang ini bukan musim dingin, jadi untuk apa kau memakai syal ke kampus? Kau membuatku gerah saat melihatmu, kau tahu?” omel Minchan panjang lebar saat melihat Minhee datang menghampirinya. Lagi-lagi dengan syal yang membelit lehernya. Bahkan kali ini bukan hanya syal, Minhee bahkan menutup separuh wajahnya dengan masker.

Tanpa aba-aba Minchan menarik syal itu dari leher Minhee, dan Minchan langsung melongo shock saat melihat puluhan kissmark yang bertebaran di leher sahabatnya itu. Ia hampir saja menjerit kaget, namun beruntungnya Minhee sempat membekap mulut Minchan dan kembali melingkarkan syal itu ke lehernya.

 

“Kau gila, Park Minchan!” omel Minhee tertahan. Minchan yang masih dalam kedaan mulut tertutup hanya bisa memandang Minhee shock dan tak menyangka, beberapa gumaman aneh terdengar mencoba Minchan keluarkan.

“Aku akan melepaskanmu, asal kau janji tidak berteriak-teriak, oke?”

 

Minchan mengangguk, dan saat itu juga akhirnya Minhee melepaskan tangannya dari mulut Minchan. Ia mengeluh saat Minchan memandanginya sedikit aneh.

 

“Kenapa?”

 

“Di lehermu banyak kissmark!” seru Minchan tertahan. “Itu milik Sehun oppa? Dia yang membuat semua kissmark di lehermu itu?”

“Ya, dia sedang gila semalam.” Jawab Minhee malas. Minchan langsung menutup mulutnya sendiri.

“Apa yang semalam kau lakukan bersamanya?”

 

“Hampir, oke? Untung aku masih cukup waras untuk mencegahnya melakukan hal yang tidak-tidak padaku.” Celoteh Minhee sambil memegangi keningnya frustasi.

“Apa? Kenapa kau gunakan kata itu? Dia suamimu, Minhee-ya.” cerocos Minchan.

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak tahu apa yang diminumnya semalam. Saat bertemu denganku, ia langsung menciumku dengan kasar dan menjepitku ke dinding. Ia bahkan membuat semua kissmark ini disana. Gila, kan? Aku langsung menangis di hadapannya, dan untungnya, ia tidak jadi melakukan hal yang tidak-tidak padaku.” Cerita Minhee lalu ganti menopang kepalanya dengan tangan.

“Sebrutal itukah?” Tanya Minchan sedikit ngeri.

Minhee membalasnya dengan mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Mungkin ia memang sedang gila semalam.”

 

“Hei, apa yang sedang kalian bicarakan?” suara cempreng seorang gadis tiba-tiba menyeruak diantara mereka. Minchan dan Minhee langsung menghentikan tema obrolan mereka, lalu ganti memandang gadis yang baru saja menghampiri mereka itu.

“Uhm, maaf, bukan urusanmu.” Jawab Minchan sambil memasang senyum yang dibuat-buat. Gadis itu merengut mendengar sambutan tak ramah dari Minchan.

“Ada apa, Melanie?” Tanya Minhee pada akhirnya.

“Hei, kenapa kau memakai masker dan syal segala, Minhee? Kau tidak modis sekali jadinya. Geurae, lepaskan saja.” Sahut Melanie tanpa menjawab pertanyaan Minhee barusan.

“Aku sedang sakit!” jawab Minhee cepat sebelum Melanie menyentuh masker ataupun syal miliknya. Ia khawatir Melanie akan jauh lebih shock daripada Minchan, lebih bahaya lagi karena pada dasarnya gadis itu adalah salah satu penggosip kampus.

 

“Sebaiknya kau cepat saja mengatakan apa maksudmu kemari, Melanie. Sampai kau mau repot-repot menghampiri kami.” Sahut Minchan to the point. Melanie kembali merengut, ia tahu dan sangat amat tahu kalau Minchan memang tak pernah memberikan sambutan yang ramah di setiap kedatangannya.

“Ada mahasiswa baru yang akan masuk kelas hari ini.” Ujar Melanie akhirnya. “Dia mahasiswa pindahan dari Amerika. Keren, kan?”

“Siapa?” Tanya Minhee yang sedikit sentimentil dengan kata ‘Amerika’. Kata itu seakan melemparkannya kembali pada bayang-bayang masa lalu.

“Aku belum tahu namanya,” jawab Melanie. “Kalau kau berani… Mungkin kau bisa bertanya pada Dongho si ketua badan mahasiswa. Kudengar anak itu akan segera dimasukkan ke lembaga tanpa proses seleksi terlebih dahulu.”

“Apa?” Tanya Minchan tak terima. “Dia curang sekali! Bagaimana mungkin Dongho memberikan keistimewaan seperti itu pada si anak baru?”

“Entahlah,” jawab Melanie sambil mengangkat bahunya. “Tapi kudengar, dia adik dari salah satu anggota lembaga juga. Mungkin itu salah satu jalan pintas yang membantunya,”

 

Tiba-tiba sosok Dosen Kim memasuki kelas, tepat setelah Melanie selesai berbicara. Gadis half Korean itu segera kembali ke tempat duduknya tanpa mengucapkan apa-apa lagi, sedangkan Minchan dan Minhee cepat-cepat memperbaiki posisi duduk mereka supaya tegap. Minchan sedikit terkekeh saat Minhee membetulkan syal-nya dan melilitnya semakin tebal dengan lehernya, seakan-akan takut syal itu akan terlepas tiba-tiba dan memperlihatkan semua kissmark buatan suami Minhee sekaligus kakak angkatan mereka.

 

“Selamat pagi, semua!” sapa Dosen Kim sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Selamat pagi, Dosen Kim!”

“Bagaimana dengan tugas resensi roman yang kemarin diberikan? Ada yang sudah selesai mengerjakannya?”

 

“Dosen Kim gila,” keluh Minchan, menyadarkan Minhee yang tadi sempat terhenyak saat mendengar soal resensi roman. “Dia menyuruh kita membaca roman setebal itu, dan berharap kita sudah menyelesaikan resensinya dalam waktu semalam?”

 

Roman sialan, runtuk Minhee dalam hati.

Roman itu adalah cikal bakal mengapa ia menikmati semua perlakuan Sehun, pada awalnya. Alasan yang entah mendukung hal aneh apa dalam dirinya, membiarkan Sehun saat menyentuhnya sampai sedekat itu. Mengingat itu, Minhee ingin marah-marah lagi rasanya.

 

“Baiklah, tidak ada yang menjawab pertanyaan soal roman itu rupanya,” sahut Dosen Kim lagi, geleng-geleng kepala. “Lupakan dulu soal roman itu hari ini. Hari ini ada info yang lebih penting untuk kalian. Kelas akan ketambahan satu mahasiswa lagi hari ini, kalian sudah banyak mendengar rumor tentangnya ‘kan, sepagian ini?”

 

“Nah, inilah bagian yang paling kutunggu!” bisik Melanie kecil dengan raut yang berbinar-binar. Minchan menoleh pada gadis half Korean itu, sedikit terganggu namun ia tak mengucapkan apa-apa.

 

Dosen Kim tampak menoleh dan tersenyum ke arah pintu kelas yang terbuka, mata semua anakpun ikut tertuju kesana. Perlahan tampak seorang namja berambut hitam melangkah memasuki kelas, pandangannya tampak canggung saat menelusuri satu-persatu calon teman-teman barunya.

 

Klek!

 

Pulpen yang sedang ada ditangan Minhee jatuh diatas mejanya dan menimbulkan suara pelan. Beruntungnya hal itu hanya bisa didengar oleh Minchan di sebelahnya. Minchan kontan menoleh pada Minhee, dan rautnya tampak tak menyangka saat melihat mata Minhee terpaku pada sosok mahasiswa baru itu.

 

“Minhee-ya, apa yang kau lakukan?” bisik Minchan sambil menggoyang pelan lengan Minhee. “Kenapa kau menatap si anak baru seperti itu? Kau menyukainya? Astaga, Shin Minhee, kau lupa? Kau bahkan sudah punya suami, bagaimana mungkin kau malah tertarik pada namja lain?”

 

“Jungkook…” lirih Minhee pelan dengan mata yang masih terkunci pada sosok namja berambut kelam itu.

“Apa?” ulang Minchan.

 

“Selamat pagi, namaku Jeon Jungkook,.” Sahut namja berambut kelam itu sambil membungkuk formal di depan kelas. “Aku mahasiswa pindahan dari Amerika, senang bertemu dengan kalian semua…”

 

“Jungkook?” ulang Minchan lagi dengan intonasi pelan yang tak menyangka. Minchan kembali menoleh pada Minhee, menggoyangkan lengan gadis itu sedikit lebih kencang dibanding sebelumnya. “Minhee-ya, dia Jungkook? Apa benar dia Jungkook yang pernah kau ceritakan padaku?”

Minhee tak sempat menjawab, ia hanya menggeleng bingung. Detik berikutnya ia menangkupkan kepalanya diatas telapak tangannya, semua kenyataan ini seakan membuat kepalanya pusing tujuh keliling.

 

Jeon Jungkook.

Kenapa namja itu harus kembali ke hidupnya setelah semua yang telah terjadi selama ia pergi?

 

 

 

| T B C |

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

Duh senengnya aku bisa posting tepat waktu lagi kali ini :3

 

/inhale/ /exhale/

 

Pertama-tama….. Duh, aku gatau mau bilang apa .-.

Itu ada sempilan NC diatas ituuuuu, maafkan aku yaaa ;______;

Aku gatau kenapa bisa ada itu(?). Kemarin sih lumayan banyak readers yg nanya, ataupun minta skinship antara Sehun-Minhee dibanyakin. Eh, tapi kenapa aku malah bikin kayak gitu coba -.-

Maafkan aku ya, semuanya (/-\)

Trust me, sampe selesai posting inipun perasaanku masih degeun-degeun gak karuan -.-

Menurut kalian salah banget gak, aku kasih scene kayak gitu? .___.

 

Yap yap yap! Sesuai yang aku janjikan di kotak komenan kemarin, kali ini si namja misterius yang muncul di toilet sudah terkuak siapa orangnya ^^

Dan selain dia, juga ada cast tambahan berupa si fangirl-nya itu😀

Baik Jungkook ataupun Melanie, mereka sama-sama jadi salah satu main cast dan akan ikut memegang peranan penting di konflik nanti ^^

Mian kalo disini mereka masih belum kedapetan banyak scene, soalnya di chapter ini masih pengenalan sosok mereka😀

Sekarang tinggal nunggu list cast selanjutnya muncul satu-persatu (lagi), dan inget ya! Buat cast pengganggu masih banyak diluaran sana yg belum aku munculin😉

Karena si pengganggu itu gak cuma satu, okeh?😉

 

Oke deh, sekian dulu cuap-cuap aku di chapter ini ~

Have a nice weekend, guys!😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi~

 

 

 

shineshen

 

 

Let’s say hi to our new casts!

The 18 y.o boy, Minhee’s first love who had comeback into her marriage life.

Jeon Jungkook.

 tumblr_mom40ehUDa1s70o1po1_500-1

 .

and

.

The 18 y.o girl, Jungkook’s ambitious fangirl who talks about him everytime.

Melanie Lee.

Melanie Lee

771 thoughts on “Secret Darling | 5th Chapter

  1. omo!jd org ke3 mulai muncul??siap2 aja nh sehun,,,
    btw,untung sehun bs berenti dwkt yg tepat..kl gkkkk..hehehe…curiga nh,jgn2 ibunya minhee ngsh ssuatu ma mrk smpe brubah jd bringas gtu…hahaha…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s