Milargo del Amor – Chapter 2

poster mda

Milargo del Amor – Chapter 2

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Other Cast :

  • Kim Jongin |Do Kyungsoo |Oh Sehun |Park Chanyeol
  • Kris Wu | Kim Jun Myeon
  • Stepmother | Jung Soo Jung |Jung Soo yeon

Rating : PG-15

Genre : Romance, friendship.

Length : Chapter

Note : Enjoy! Do not copycat without my permission!

Link : Prolog | Chapter 1

My miracle is you…

***

“Hey Baekhyun…”

Laki-laki di depan Minri menoleh pada sumber suara–Kris.

Namanya Baekhyun. Baekhyun…

Minri mengulangi nama itu dalam hati. Lantas terkesiap saat Baekhyun melepaskan tangannya di pinggang Minri dan beralih memegang tangan gadis itu.

“Kesini sebentar.” Kris memanggil Baekhyun. Lalu Baekhyun menarik tangan Minri, membuat gadis itu mengekor di belakangnya.

Baekhyun melangkahkan kakinya menghampiri Kris. Kris tidak sendiri. Disana ada Jongin, Kyung Soo, Chanyeol, Sehun, Jun Myeon–

–dan Soo Yeon?!

Oh tidak!

Minri menghentikan langkahnya membuat Baekhyun menoleh. Minri melepaskan pegangan tangan Baekhyun. Lalu berbalik. Dia bisa ketahuan.

“Maaf Baekhyun, aku harus pergi.”

“Tunggu–”

Belum sempat Baekhyun meneruskan kalimatnya, Minri sudah melesat pergi. Berbaur bersama kerumunan membuat Baekhyun–merasa kecewa–kehilangan sosok yang bersinar itu.

[chapter 2, presented…]

“Baekhyun.”

“Iya, sebentar. Dasar cerewet!”

***

Minri melangkah cepat menuju taman belakang. Dia tidak tahu harus kemana hingga kakinya memilih untuk berada di taman ini.

Dan demi Dewi Aprodhite! tempat itu luar biasa menakjubkan. Ada berbagai macam jenis bunga. Rumput hijau yang segar. Ada air mancur. Juga pencahayaannya yang cukup. Minri bahkan merasa sedang tidak berada di dunia.

Dia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sana. Dia melepaskan sepatu‒hak tinggi menyebalkan‒nya. Kemudian memejamkan mata. Menikmati semilir angin malam membelai wajahnya, tanpa harus melepaskan topengnya.

Isi kepalanya penuh dengan kronologis membahagiakan yang dialaminya beberapa saat yang lalu. Tanpa dasar dia tersenyum. Laki-laki itu telah membuatnya gila. Atau dia sudah tergila-gila pada laki-laki itu? secepat itu? Masa bodoh!

Sembari membongkar memori tatapan, sentuhan dan suara Baekhyun, terdengar suara gemersik dedaunan dan langkah kaki yang mendekat. Minri terkesiap. Dia membuka matanya. Hampir terlonjak dari duduknya saat menyadari seorang laki-laki yang sedang berdiri tidak jauh dari kursinya.

Laki-laki asing itu lagi.

“Sedang apa kau disini?” tanya Baekhyun dengan langkah yang terus mendekat. Kemudian dia duduk di samping Minri, tanpa sempat gadis itu bergeser lebih jauh. Lengan mereka yang tidak sengaja bersentuhan, membuat Minri akhirnya menggeser duduknya sedikit.

“Hanya mencari udara segar,” jawabnya, sesaat melirik Baekhyun.

“Kita belum selesai berdansa,” ucap Baekhyun tanpa diduga.

“Ingin berdansa lagi.” Minri tertawa pelan.

“Kalau boleh.”

Baekhyun berdiri di depan Minri. Dia kembali mengulurkan tangannya dan di sambut Minri dengan senang hati. Di bawah langit yang gelap itu mereka kembali berdansa. Rerumputan menggelitik telapak kaki Minri yang telanjang.

“Selama ini kau tinggal di Jepang?” tanya Minri, memecah keheningan di antara mereka berdua.

“Ya. Dua tahun terakhir. Aku sedang menjalani studi disana.”

“Oh.”

Baekhyun menghentikan langkahnya, membuat Minri ikut berhenti. Keningnya berkerut bingung di balik topeng peraknya itu. Dia baru akan bicara, tapi semua kalimat dalam mulutnya kembali tertelan saat Baekhyun membuka topengnya, lalu menjatuhkannya begitu saja di atas rumput.

Dia-pasti-bukan-manusia.

Minri menatap wajah Baekhyun tanpa kedip. Memuaskan dirinya menatap dan mengagumi wajah mempesona itu. Sebuah karya agung tanpa cela. Oh, Tuhan benar-benar baik menciptakan Baekhyun dengan wajah seperti itu.

Baekhyun tersenyum.

That’s the best beautiful smile ever.

Senyumnya memperparah keadaan. Minri merasa udara di sekitarnya kian menipis. Sial! Padahal banyak pohon disini. Oksigen mana oksigen!

Lalu Baekhyun mendekatkan wajahnya, memutus jarak di antara mereka. Napas menerpa wajah. Membelai lembut pipi yang kian merona itu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Dunia seakan terhenti ketika…

Dia menciumku.

Minri membeku–bukan karena cuaca yang dingin. Tapi dia membeku tanpa alasan yang logis. Sentuhan tekstur lembut dari bibir Baekhyun benar-benar membuatnya gila. Sapuan bibirnya seperti kapas. Lembut dan menghanyutkan. Harusnya Minri bisa mendorong Baekhyun untuk berhenti. Tapi–dia harus mengutuk dirinya karena hal ini–dia malah membalas ciuman itu.

Dia bahkan tidak tahu atas dasar apa Baekhyun melakukannya. Tapi Minri ingin waktu terhenti. Bertahan lebih lama untuk memberikan mereka berdua waktu. Karena bersama Baekhyun Minri merasakan kebahagiaan. Karena bersama Baekhyun Minri melupakan penderitaanya. Karena Baekhyun adalah–

Kemudian Baekhyun melepaskan ciumannya. Demi apapun Minri ingin mengubur dirinya ke pusat bumi. Dia malu karena dengan mudahnya membalas ciuman seorang laki-laki yang–bahkan–baru dikenalnya.

“Ma–maaf. Aku tidak bermaksud kurang ajar tapi–”

Plak!!

Minri menampar pipi Baekhyun, membuat laki-laki itu membulatkan matanya karena kaget. Baekhyun harap dia tidak salah kalau tadi dia merasa gadis itu membalas ciumannya. Tapi mengapa dia menampar Baekhyun sekarang?

“Ah–itu–itu aku, tadi ada nyamuk di pipimu. Tapi sekarang sudah pergi.”

Kisah romantis ini benar-benar cacat hanya karena seekor nyamuk sialan. Tapi nyamuk hanyalah alasan Minri untuk mengalihkan kegugupannya. Tidak benar adanya nyamuk di pipi Baekhyun. Minri jadi merasa bersalah disini.

“Tuan putri!!” sebuah suara berseru nyaring. Disusul langkah kaki yang tergesa-gesa.

Bukan Minri merasa sebagai tuan putri, tapi disini tidak ada orang selain dia dan Baekhyun, sehingga Minri memutuskan untuk menoleh pada sumber suara.

“Jongin?”

“Cepat pulang sebelum nenek sihir itu menemukan kamarmu yang kosong. Dia sudah curiga kau datang ke pesta.” Jongin menarik pergelangan tangan Minri.

Minri tidak sempat bicara apapun. Bahkan ketika Baekhyun memintanya menunggu. Baekhyun ingin bicara, tapi Minri tidak punya waktu untuk hal itu sekarang. Yang terpenting, dia harus tiba di rumah sebelum Soo Yeon atau Soo Jung tiba disana.

Minri bisa mati.

 

Minri melupakan sepatu peraknya. Meninggalkan sepatu itu di taman belakang rumah Kris.

Dan Baekhyun memungut sepatu itu. Dia tahu itu adalah sepatu milik gadis–yang paling bersinar–yang dilihatnya di pesta. Tapi sayangnya Baekhyun tidak mengetahui namanya. Dia berharap bisa menemukan gadis itu segera, karena Baekhyun ingin secara serius mengenal gadis itu. Ada perasaan berbeda ketika Baekhyun bersama gadis itu, ketika dia menyentuhnya dan bahkan ketika dia menciumnya.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukannya adalah menemukan pemilik sepatu perak itu.

***

Minri masih bisa hidup setelah pulang dari pesta. Dia tiba lebih dulu sebelum Soo Yeon dan Soo Jung. Berterimakasihlah pada Jongin yang sudah membawa mobilnya dengan kecepatan menggila. Kalau saja Jongin bukan pengemudi yang handal, mungkin nyawa mereka berempat–Minri, Sehun, Kyung Soo dan Jongin–sudah melayang ke dunia lain.

Tapi Minri melupakan sepatu peraknya yang sebenarnya adalah milik Soo Jung! Kalau sampai ketahuan, matilah dia!

Malam itu Soo Yeon dan Soo Jung menggedor pintu kamar Minri tepat saat Minri telah mengganti baju dan menghapus make up nya–dengan susah payah. Dengan kemampuan aktingnya, Minri mengacak-acak rambutnya seperti orang yang baru bangun tidur. Kemudian membuka pintu dengan wajah–dibuat-buat–mengantuk.

“Ada apa?” tanya Minri dengan suara serak.

“Kau datang ke pesta Kris!” teriak Soo Yeon seenaknya. Tapi tanpa dia tahu bahwa dirinya benar.

“Aku ingin. Tapi kau melarangku.” Soo Yeon memasang wajah geram saat menyadari bahwa dia tidak punya bukti yang kuat untuk menuduh Minri bahwa tadi dia melihat Minri ada di pesta.

Eonni-ya! Kau lihat? Dia tidak akan bisa pergi. Lagi pula dia tidak punya gaun yang pantas.” Soo Jung tampak kesal (sekaligus mengejek Minri tentang gaunnya). “Padahal aku ingin bertemu sepupu Kris bernama Baekhyun itu. Tapi kau memaksaku pulang. Teman-teman bilang dia sangat tampan!!”

Dan alasan kekesalan Soo Jung adalah karena dia tidak bisa berlama-lama di pesta–dia tidak berhasil berkenalan dengan Baekhyun, juga tidak berhasil mengajak Baekhyun berdansa.

“Dasar genit.” Gerutu Soo Yeon sembari berlalu dari depan kamar Minri. “Tapi baguslah. Itu berarti Jun Myeon sepenuhnya milikku.”

“Kita lihat saja nanti, kalau benar Baekhyun lebih mempesona dari Jum Myeon, maka si pendek itu akan ku serahkan padamu.”

“YAK! Jangan kau lupakan bahwa kau pernah menyukainya! Seenaknya saja mengatakan Jun Myeon pendek!” bentak Soo Yeon sebelum dia masuk ke dalam kamarnya. Membanting pintu yang sama sekali tidak bersalah.

Minri mundur teratur lalu menutup pintu kamarnya pelan. Kedua saudara tirinya masih terdengar saling memaki walau mereka sudah berada dalam kamar masing-masing.

Dan Minri perlu memakai earphone untuk meredam suara-suara yang mengganggu itu.

***

Bruk!

Aww…” Minri meringis ketika dia baru saja menabrak tubuh seseorang yang berperawakan tinggi di atas rata-rata dengan postur tubuh yang masuk kriteria pemain basket kelas internasional. Buku-buku tebal yang di pegangnya jatuh begitu saja di atas lantai koridor.

Ups, sorry.”

Sebuah tangan terulur di depan wajah Minri. Tangan yang jelas bukan ukuran tangan Kris. Tangan yang indah dengan jari-jari lentik yang Minri kagumi–Minri pernah melihat tangan ini sebelumnya.

Tangan Baekhyun?

Minri mendongak, menatap si pemilik tangan indah tersebut.

Benar, Baekhyun…

Kris memang kurang ajar. Harusnya Kris yang membantu Minri berdiri, bukan Baekhyun yang berada di sebelahnya. Tapi kekurang-ajaran Kris bukan lagi masalah karena Minri bisa menyentuh tangan itu –lagi. Walaupun dalam keadaan berbeda. Seolah-olah tidak saling mengenal satu sama lain.

Minri memang mengenal Baekhyun. Tapi laki-laki itu tidak mungkin mengenalinya karena dia memakai topeng sepanjang pesta. Dia bahkan belum memperkenalkan dirinya pada Baekhyun.

Thanks–” Minri menggantungkan kalimatnya, lalu melepaskan tangannya dengan Baekhyun saat dia sudah berdiri.

“Namanya Baekhyun.” Kris menyela. “Oh, kalian pasti belum saling kenal.”

Kami bahkan sudah berciuman, batin Minri.

“Baekhyun, perkenalkan, gadis ini bernama Minri–Park Minri.”

Minri mengulurkan tangannya. Lalu Baekhyun menyambutnya. Laki-laki itu menatap matanya cukup lama membuatnya agak risih. Dan jantungnya kembali berulah saat–untuk kedua kalinya–Baekhyun tersenyum dengan pesona yang semakin menakjubkan.

“Senang berkenalan denganmu.”

Sepertinya Baekhyun benar-benar tidak mengenali Minri yang tadi malam, dengan Minri yang sekarang.

“Ya. Aku juga. Senang berkenalan denganmu.”

Dan senang bertemu denganmu lagi, Baekhyun.

“Oh astaga!” tiba-tiba Kris tampak panik.

“Minri, bisakah kau membantuku?” Kris melirik jam tangannya. “Aku ada kelas sekarang. Dan aku ingin kau menemani Baekhyun berkeliling kampus. Dia sedang melakukan penelitian untuk study-nya.”

Minri dan Baekhyun saling menatap sesaat.

“Ku anggap kau setuju. Bye.”

Kris memang kurang ajar. Minri bahkan belum berucap sepatah katapun. Tapi apakah sekarang Minri harus marah pada Kris atau harus berterimakasih karena telah meninggalkan Baekhyun bersamanya?

Kris meninggalkan mereka berdua yang hanya berdiri diam. Orang-orang yang melewati mereka berdua melirik heran. Sebagian mengabaikan.

“Kita mulai darimana, Baekhyun?” tanya Minri sambil melirik Baekhyun.

“Perpustakaan.” Jawab Baekhyun setelah dia berpikir sejenak.

Mereka berjalan bersama. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Tapi Baekhyun merasa nyaman berada di samping gadis itu. Dia merasa seperti pernah bersama Minri sebelum hari ini.

Baekhyun berpikir keras. Dia baru tiba beberapa hari di Korea. Tidak banyak yang dikenalnya disini. Dan tidak ada gadis bernama Park Minri yang dikenalnya sebelumnya.

Lantas apa yang membuatnya merasa nyaman berada di samping gadis itu?

***

Baekhyun dan Minri duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon apel. Baekhyun membelikan Minri satu minuman kaleng sebagai rasa terimakasih karena sudah menemaninya. Mereka mengunjungi beberapa tempat di kampus seperti perpustakaan, laboratorium bahasa, dan beberapa ruang kelas.

Baekhyun mendapatkan banyak data untuk risetnya.

“Berapa lama kau akan tinggal disini untuk penelitianmu, Baekhyun?” Minri memulai percakapan setelah sebelumnya keheningan melingkupi mereka berdua.

“Aku berasal dari Bucheon, jadi yah–aku hanya akan ke Jepang beberapa kali untuk menyerahkan laporan penelitianku.”

Minri mengangguk. Lalu menyesap minumannya lagi. Sebenarnya Minri ingin bicara banyak, tapi dia tidak tahu topik pembicaraan yang cocok untuk menjadi bahan obrolannya bersama Baekhyun. Dia ingin menanyakan hal yang sedikit pribadi.

Apakah Baekhyun sudah punya kekasih?

Tapi apakah aku boleh menanyakan hal itu? Yang benar saja!

“Berapa lama kau mengenal Kris? Apa kalian dekat?” Minri merasa terlempar dari lautan pikirannya ketika suara Baekhyun cukupmengagetkannya.

Baekhyun menoleh pada Minri, menatapnya, yang saat itu masih meneguk minuman kalengnya, membuat Minri tersedak.

“Maaf. Kris… yah, aku mengenalnya. Tapi tidak terlalu dekat.” Minri bicara setelah berhasil meredakan rasa tersedaknya.

“Aku tidak melihatmu di pesta Kris,” ujar Baekhyun lalu memandang lurus ke depan–kearah air mancur. Dia ingin meminta bantuan Minri lagi, tapi dia tidak yakin apakah gadis itu bisa membantunya.

“Mungkin kau tidak mengenaliku,” jawab Minri jujur.

“Aku ingin minta bantuan lagi padamu. Ku harap kau bisa membantu.”

“Apa itu, Baekhyun?”

“Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu. Ikut aku ke mobilku.”

 

Minri mengikuti Baekhyun sampai di depan mobilnya. Baekhyun mengambil sepatu perak yang diletakkannya di kursi belakang.

Minri sempat melebarkan matanya dan bicara secara refleks, “sepatu Soo Jung.”

“Kau tahu ini sepatu siapa?” Baekhyun mendekat pada Minri dengan antusias membuat Minri perlu memundurkan satu langkah kakinya kalau dia tidak ingin detakan jantungnya berhenti tiba-tiba.

“Ya, itu–Soo Jung, sepatu Soo Jung, temanku.”

Baekhyun menepuk pelan bahu Minri lalu tersenyum.

“Kalau begitu ikut aku, kita akan mengembalikan sepatu ini ke rumahnya.”

Minri menelan ludahnya. Ke rumah Soo Jung berarti ke rumahnya juga. Minri harap setelah Baekhyun mengembalikan sepatu Soo Jung, urusannya akan selesai. Mungkin ada sedikit tambahan omelan dari Soo Jung karena meminjam sepatunya tanpa izin–itu bukan masalah.

Masalahnya adalah, semuanya akan terungkap! Termasuk fakta bahwa Minri benar-benar datang ke pesta Kris.

Bagaimana ini?!

Please,” Baekhyun meminta dengan tatapan memohon. Ya Tuhan!

“Baiklah.”

 

Baekhyun menghentikan mobilnya di depan rumah Minri. Dengan langkah ragu dia keluar dari sana. Baekhyun memandangi rumah itu sembari tersenyum. Dalam pikirannya, dia telah menemukan sosok gadis yang bersinar di pesta Kris–gadis impiannya.

Mereka berdua berdiri di depan pintu, lalu Minri menekan bel rumahnya.

Tidak lama setelah itu terdengar langkah kaki, kemudian pintu terbuka. Dan orang yang dicari Baekhyun telah menampakkan wajahnya –Soo Jung muncul di depan pintu.

“Yak Minri–eh kau?”

Minri yakin Soo Jung akan langsung menyemburnya jika saja fokusnya tidak teralihkan karena sosok pria tampan di sampingnya.

Soo Jung memandangi Minri dan Baekhyun secara bergantian. Dan Soo Jung sesegera mungkin merapikan rambutnya dan tersenyum ramah –hanya pada Baekhyun.

Oh my god! He’s so handsome with his cutie smile!

Soo Jung butuh penjelasan tentang hal ini. Tapi Minri memberikan isyarat bahwa mereka akan membicarakan ini nanti.

“Hai Soo Jung, namaku Baekhyun.”

“Baekhyun? Baekhyun sepuku Kris? Ada apa kemari? Dan apa yang membuat kalian bersama kesini?”

Baekhyun tertawa pelan mendengar Soo Jung yang hanya dalam satu tarikan napas dan begitu cepat.

“Ya, aku Baekhyun, sepupu Kris. Apakah kau pemilik sepatu ini?” Baekhyun menunjukkan sepatu yang dibawanya. “Dan Minri adalah orang yang mengantarkanku kepada pemilik sepatu ini.”

Soo jung sempat kaget, dia kembali menatap Minri.

“Ya, ini milikku. Kenapa ada padamu?”

“Kau lupa, kau meninggalkan sepatu ini di taman.”

“Di taman? –Ah, ya…”

Minri meminta Soo Jung mengangguk saja dan membenarkan perkataan Baekhyun. Soo Jung merasa bodoh sekaligus beruntung. Minri memang meminjam sepatunya tanpa sepengetahuannya. Tapi bagi Soo Jung hal itu tidak menjadi masalah jika berujung seperti ini.

“Ya, em, terimakasih telah mengantarkan sepatu ini padaku.”

“Kuharap kita bisa berteman dekat.”

Soo Jung merasa letupan-letupan menakjubkan dalam dadanya. Dia baru saja melihat Baekhyun hari ini, tapi pria itu tampak tertarik padanya.

Oh, dunia berpihak padanya.

“Baek, aku harus pulang.”

Minri memotong sesi perkenalan Baekhyun dan Soo Jung. Sungguh dia tidak tahan melihat semua ini. Minri tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun dia yakin bahwa dialah yang sebenarnya dicari Baekhyun.

“Minri, sebentar, aku akan mengantarmu.”

Baekhyun menahan pergelangan tangan Minri. Gadis itu menarik tangannya kembali.

“Tidak perlu. Rumahku sudah dekat.”

Bahkan beberapa langkah lagi saja aku akan sampai ke kamarku.

Dan Baekhyun menatap telapak tangannya. Dia yakin pernah menyentuh tangan itu sebelumnya. Sengatan listrik voltasi rendah kembali mengalir saat dia menyentuh tangan Minri.

Tapi, bukankah Soo Jung yang dia cari? Bukankah Soo Jung gadis yang paling bersinar –yang berdansa dengannya?

Baekhyun menatap punggung Minri yang kian menjauh.

“Masuklah Baekhyun,” ajak Soo Jung, menghentikan lamunannya.

Baekyun masuk ke rumah itu.

Minri sempat melirik ke belakang sebelum pintu benar-benar ditutup.

Minri membelokkan diri ke arah selatan rumahnya. Dia masuk ke dalam rumah itu lewat pintu belakang. Lalu mengendap masuk ke dalam kamarnya. Dia pikir semuanya akan selesai. Tapi Baekhyun malah bertahan dan mengobrol panjang dengan Soo Jung, seolah Baekhyun menaruh hati pada Soo Jung.

Dan apakah sekarang Minri harus melupakan sosok pangerannya?

***

“Ya, Park Minri!”

Soo Jung memanggil Minri, ketika Minri menyapu ruang makan. Gadis itu menghampiri Minri dengan kedua tangan yang berlipat di depan dada.

Minri menoleh.

“Dari mana kau kenal Baekhyun? Kau benar-benar datang ke pesta?!” jerit Soo Jung tidak terkendali.

Minri bingung harus menjelaskan mulai mana. Tapi sudah terlambat untuk menutupi semuanya karena Soo Jung pasti akan mengetahuinya, cepat atau lambat.

“Ya, aku datang.”

“Bagaimana kau bisa kenal dengan Baekhyun?” Kini Soo Jung duduk di salah satu kursi di meja makan. Dia mengulurkan tangannya mengambil sebiji apel merah yang tersedia di atas meja.

“Dia hanya mengajakku berdansa.”

Demi apapun Minri tidak akan menceritakan tentang ciumannya.

“Soal sepatu itu… maaf sudah meminjam tanpa izin.”

“Terimakasih telah meminjam sepatuku tanpa izin. Karena hal itu membuat aku kenal dengan Baekhyun. Astaga! Dia tampan sekali,” ucap Soo Jung –dengan cepat. Sementara Minri hanya menghela nafasnya dengan lesu.

“Ya, dia memang tampan.”

Dan sosok pangeran impianku jika saja dia tidak beralih padamu!

Soo Jung mengunyah apelnya sembari membayangkan seolah dia sedang berdansa. Dia tersenyum seperti orang yang kehilangan kewarasan, tapi dia tidak peduli.

“Siapa yang datang ke pesta?” Soo Yeon tiba-tiba muncul, membuat Minri merasa terkena serangan jantung mendadak.

“Eng…” Minri menelan ludanya. Wajah Soo Yeon –dengan masker di wajahnya –seolah dia baru saja terjembab di lumpur, sedikit mengerikan, apalagi matanya yang melotot itu.

“Tentu saja aku.” Soo Jung menyahut, membuat Soo Yeon menoleh padanya.

“Aku tahu itu, bodoh! Maksudku upik abu ini…” Soo Yeon menoyor kepala Minri.

Minri merapatkan mulutnya, tampak geram dengan apa yang baru saja dilakukan Soo Yeon padanya. Dia ingin sekali memukul Soo Yeon dengan tongkat sapu yang di tangannya, lalu Soo Yeon melambung ke luar rumah seperti bola golf dan mendarat di lumpur agar dia bisa memasker seluruh tubuhnya–fantasy-nya mulai bergerak liar –atau dia bisa mencabik-cabik wajah Soo Yeon yang menyebalkan itu.

“Siapa yang kau bilang bodoh! Dasar tua!” Mulut tajam Soo Jung mulai beraksi.

Minri memundurkan kakinya beberapa langkah, dengan pelan dan teratur. Minri merasa aneh ketika Soo Jung membelanya.

Gadis itu kembali menyapu lantai, sementara dua saudara tirinya masih setia adu mulut dengan urat leher yang makin mengencang.

Perdebatan mereka berakhir ketika Soo Yeon menjerit, karena dia harus mencuci masker di wajahnya. Kemudian Minri menghampiri Soo Jung.

“Aku tidak menyangka kau membelaku, tapi, terimakasih.”

“Aku tidak membelamu. Tapi ya, anggap saja ini ungkapan terimakasihku.”

Triiing!

Ponsel Soo Jung berbunyi. Dia nyaris melompat dari tempat berdirinya sekarang ketika membaca nama penelpon yang terpampang di layar. Dia meletakkan apelnya yang masih tersisa setengah. Lalu berdeham sebelum mengangkat telpon.

“Hello Baekhyun… aku? Tidak ada pekerjaan… ya….”

Soo Jung menjauh dari Minri. Dia naik ke lantai dua menuju kamarnya. Minri menatap Soo Jung sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.

Baekhyun… apakah kita bisa sedekat itu?

***

Minri sedang berbelanja bahan-bahan makanan di sebuah Mall besar. Berdiam diri di rumah membuatnya terus-terusan memikirkan kedekatan Soo Jung dan Baekhyun. Dan hal itu sedikit banyak membuat hatinya berdenyut sakit.

Dia berjalan sambil melamun seperti orang linglung. Kemudian terkesiap ketika seseorang tidak sengaja menabraknya dari belakang. Hampir membuat seluruh belanjaannya terjatuh, tapi untunglah, keberuntungan masih berpihak padanya.

Minri baru akan mengomel pada orang yang telah menabraknya, tapi setelah mengetahui siapa pemuda itu, dia bungkam. Dia bahkan meminta maaf. Hey, mana Minri yang galak seperti yang dikatakan Sehun!

Pemuda itu tampak terkejut, lantas menggantinya dengan senyuman.

“Aku yang harus minta maaf, Minri.” Tanpa bicara apa-apa, Baekhyun mengambil alih satu kantung belanjaan Minri –gadis itu tidak akan bisa menolak pertolongan Baekhyun. Lalu mereka berjalan beriringan. “Senang bertemu denganmu lagi.”

Minri dan Baekhyun mengobrol panjang. Diam-diam Minri melirik Baekhyun. Dia masih-akan-tetap-selalu tampan seperti yang Minri lihat sebelumnya.

“Harusnya kau tidak berbelanja sendiri kalau bawaanmu sebanyak ini.” Baekhyun menoleh pada Minri.

Gadis itu sudah tertangkap basah menatap Baekhyun. Dan sialnya dia tidak bisa mengalihkan pandangannya lagi. Lihat, betapa Baekhyun mempengaruhi sistem di tubuhnya.

“Eh –ya. Harusnya. Tapi aku tinggal sendiri.”

Minri tampak tersenyum konyol, membuat Baekhyun merasa gemas, hingga dia mengusap kepala gadis itu dengan satu tangannya. How dare him!

“Kau dari‒atau bahkan‒ingin kemana?” tanya Minri setelah dia berhasil mengendalikan detak jantungnya.

“Aku baru saja tiba. Aku punya janji bertemu dengan Soo Jung. Kami akan nonton bioskop.”

Tepat saat Baekhyun menjelaskan alasannya berada disana, mereka sudah tiba di area bioskop. Minri merasa awan mendung kembali menggantung di kepalanya.

“Maaf aku hanya bisa membantu sampai disini.” Baekhyun kembali menyerahkan belanjaan Minri kepada pemiliknya.

“Tidak apa-apa–”

“Baekhyun!” suara seorang gadis tengah memanggil Baekhyun dengan cukup nyaring. Dan Minri mengenali suara itu –gadis yang telah membuat janji bertemu dengan Baekhyun.

“Aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi.”

Baekhyun melambai riang, meninggalkan Minri beserta belanjaannya yang banyak itu. Minri dan Soo Jung sempat beradu pandangan. Lalu Soo Jung melingkarkan lengannya di lengan Baekhyun. Minri hanya bisa menatap dari jauh.

Bodoh! Bodoh! Berhenti memperhatikan mereka atau kau akan menangis!

Minri merutuk dirinya yang belum juga beranjak dari sana. Hingga sosok Soo Jung dan Baekhyun, hilang dari kerumunan.

***

Baekhyun ingin melepaskan tangan Soo Jung di lengannya, tapi dia merasa tidak enak hati. Soo Jung memang cantik. Tapi entah mengapa Baekhyun menempatkan gadis tercantik –di urutan teratas dalam penilaiannya –adalah Minri.

Keberadaan Minri membuatnya nyaman, meskipun gadis itu seringkali menghindari tatapan matanya pada Baekhyun. Baekhyun ingin terus bersama gadis itu. Dia ingin melihat gadis itu tersenyum. Tapi kenapa harus Minri?

“Baek, kau melamun?” Soo Jung menyadarkannya.

Baekhyun bingung kenapa dia harus memikirkan Minri sementara gadis yang diajaknya berdansa di pesta itu sedang berada di depannya.

Pasti ada yang salah.

“Soo Jung, sejak kapan kau berteman dengan Minri?” tanya Baekhyun.

“Sebenarnya kami tidak terlalu berteman, hanya saling kenal.” Soo Jung menyeruput minumannya.

“Minri tahu dimana rumahmu, apa itu berarti kau tahu dia tinggal dimana?”

Soo Jung meneguk minumannya sampai habis, lantas melemparkannya ke dalam tong sampah yang mereka lewati. Sebenarnya, Soo Jung sedikit kesal karena Baekhyun terus-terusan menanyakan tentang Minri padanya. Tapi Soo Jung tidak akan gegabah dalam bertindak kalau tidak ingin Baekhyun menjauhinya.

“Aku tidak tahu.”

Baekhyun tidak bertanya apa-apa lagi. Kalau Soo Jung tidak tahu, itu akhirnya dia harus mencari tahu sendiri.

***

Matahari telah berada di ufuk barat. Warna jingga memancar di balik jendela kamar bernuansa merah muda. Sang pemilik sedang berbaring di kasurnya dengan memangdangi langit-langit kamarnya. Hari akan berganti lagi. Tapi kehidupannya masih tetap sama. Bekerja keras dalam rumahnya sendiri. Disuruh ini-itu tanpa bisa memprotes.

Helaan nafas lelah lolos dari bibirnya.

Di tengah kesepiannya itu, tiba-tiba terlintas sebuah nama beserta sosoknya yang mempesona.

Baekhyun

Ingatannya kembali melayang pada malam itu. Di dalam pesta yang megah, dia bertemu dengan sosok itu. Menjadikannya seperti seorang putri dari negeri dongeng. Kebahagiaan menyeruak ketika laki-laki itu mengajaknya berdansa, mengunci tatapannya, tersenyum padanya dan juga … mencium bibirnya.

Gadis itu tanpa sadar tersenyum‒lagi‒seperti orang bodoh. Dia menggigit-gigit telinga boneka beruangnya. Dan berakhir dengan mencium boneka itu. Dia pasti sudah gila!

Gadis itu melirik meja belajarnya yang bertuliskan Park Minri’s Area. Sampul novel warna-warni yang tergeletak disana sedikit menarik perhatian. Kali ini dia bangkit dan mengambil novel-novel itu. Lantas menghamburkannya di atas kasur.

Biasanya, kalau semua pekerjaannya sudah selesai, dia akan membaca novel roman favoritnya –yang bahkan sudah dibacanya berkali-kali itu.

 

Minri memilih novel bersampul merah muda terang bergenre roman–semi fantasi, lantas menghempaskan tubuhnya ke kasur.

Beberapa menit terlewat membuatnya tenggelam dalam kisah romantis itu. Tubuhnya berguling-guling di atas kasur. Keberadaan novel-novel yang tadi diambilnya cukup membuat kasurnya berantakan, tapi dia tidak peduli.

Setengah jam kemudian fokusnya terbagi. Pikirannya melayang ke beberapa hal lain, membuat kerja otaknya sedikit bermasalah.

“Aku mencintaimu, Minri, menikahlah denganku.” Ucap Baekhyun sembari memegangi tangan Minri.

Minri mengerjapkan matanya beberapa kali. Lantas bangkit dari posisi berbaringnya. Dia mendekatkan novel yang dibacanya ke wajahnya. Kenapa ada namanya disana? Jeritnya dalam hati. Dia memejamkan matanya selama tiga detik, lalu membuka lagi dan tulisan di novel itu kembali normal. Tidak ada nama Minri, apalagi nama Baekhyun.

Minri menggelengkan kepalanya pelan. Pria itu sudah mempengaruhi hidupnya dalam tahap yang membahayakan. Benar-benar membahayakan!

Suara deru mobil terdengar kian mendekat dan itu menarik perhatiannya. Dia beranjak dari kasur lantas berjalan cepat menuju jendela. Dia hampir terjungkang karena tersandung oleh selimutnya sendiri. Dia benar-benar buruk perihal keseimbangan tubuh.

Sebuah Porsche hitam mengkilap berhenti di depan rumahnya. Soo Jung keluar dari sana dengan rambut coklat yang berkibar karena angin dan wajah angkuhnya. Tapi fokusnya segera teralihkan pada seorang pria yang baru keluar dari bangku kemudi.

“Baekhyun,” gumamnya.

Laki-laki itu tampak bersinar di bawah sisa-sisa mentari yang berpendar. Rambutnya yang gelap itu tertiup hembusan angin sore. Oh, dan jangan lupakan wajahnya yang tampan itu.

Baekhyun bicara dengan Soo Jung sebentar, sebelum masuk ke dalam mobilnya. Baekhyun memutar mobilnya hingga Minri bisa melihat laki-laki itu di balik persegi jendela mobilnya yang terbuka. Dan Minri terkesiap saat laki-laki itu melihat ke atas –tempat dimana dia berdiri sekarang –dan dengan secepat kilat Minri menutup gorden kamarnya.

Apakah Baekhyun melihatku?

***

Kicauan burung bersahut-sahutan di tengah pagi yang sejuk dan juga cerah ketika Minri melangkahkan kakinya di tepian jalan raya. Dia sudah biasa berangkat ke kampus dengan angkutan umum, bahkan tidak jarang dia hanya berjalan kaki.

Kuliah tidak seperti sekolah yang waktu belajarnya tepat pukul 7, jadi Minri tidak perlu bermasalah dengan dosen karena datang terlambat.

Aktivitas kota tampak begitu ramai. Orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Meskipun tidak menaiki kendaraan pribadi, Minri cukup bersyukur karena dia masih bisa melihat dunia luar dan berbagai keindahannya.

Dia baru akan mencapai halte bis ketika sebuah mobil membunyikan klaksonnya tepat di belakang Minri. Gadis itu terkesiap lantas berbalik dengan wajah kesal. Beruntung dia tidak punya riwayat penyakit jantung, kalau saja dia punya, maka bunyi mengejutkan itu bisa saja membuatnya mati. Demi apapun dia tidak ingin mati konyol hanya karena bunyi klakson.

Kaca mobil itu perlahan turun, kemudian seorang laki-laki menyembulkan kepalanya dari sana.

Oh-My-God! Benar-benar pemandangan indah di pagi hari.

“Minri, ayo kita berangkat bersama.”

Minri menghampiri mobil itu dengan senyum cerahnya. Tapi kemudian senyum itu sedikit meredup ketika dia melihat ada Soo Jung di dalam mobil Porsche hitam yang dilihatnya kemarin sore beserta pemiliknya yang mempesona.

“Selamat pagi Baek. Terimakasih, tapi tak perlu. Halte bis sudah dekat, aku –“

“Tidak apa-apa, naik saja. Kau dan Soo Jung berada di kampus yang sama. Lebih baik kita berangkat bersama-sama.”

Minri melirik Soo Jung yang memasang wajah kesal. Minri tahu pasti Soo Jung tidak menginginkan kehadirannya, tapi Baekhyun terus-terusan memaksanya menaiki mobilnya itu. Soo Jung menatapnya dengan tajam di belakang punggung Baekhyun.

“Minri?” panggil Baekhyun.

“Ah ya, baiklah.”

Minri membuka pintu mobil bagian belakang, tanpa mempedulikan tatapan Soo Jung. Lantas masuk ke dalam mobil itu.

Baekhyun menarik pedal gas, dan menjalankan mobilnya. Porsche hitam itu membelah jalanan di tengah ke ramaian dan kesibukan pusat kota Seoul.

Minri bisa sedikit mengobati rasa rindunya karena dia sedang berada dalam satu tempat yang sama dengan Baekhyun –abaikan keberadaan Soo Jung – dan beruntung laki-laki itu tidak mengabaikannya.

 

Tapi, perjalanan menuju kampus tidak semenyenangkan yang Minri kira meskipun dia sedang berada di satu tempat yang sama dengan Baekhyun. Keberadaan Soo Jung tidak bisa diabaikan, karena perempuan genit itu terkadang memegang lengan Baekhyun. Dia juga suka memotong pembicaraan Minri bersama Baekhyun. Dan itu sangat menyebalkan. Minri sungguh ingin melempar Soo Jung keluar jendela saat itu juga.

Berbagai hal dilakukan Soo Jung agar dia bisa lebih dekat dengan Baekhyun. Dia bahkan beberapa kali membenarkan tatanan rambut Baekhyun. Soo Jung bersikap seakan-akan dia adalah kekasih Baekhyun. Dan parahnya Minri hanya bisa menyaksikan itu semua, meskipun dia sama sekali tidak ingin melihatnya. Menyebalkan!

Tapi beruntung, penderitaan Minri telah berakhir ketika Baekhyun menghentikan mobilnya di area kampus. Tanpa pikir panjang, Minri segera turun dari sana.

“Park Minri? Kau sungguh keluar dari sana?” suara Jongin tiba-tiba menyambutnya, membuatnya sedikit terkejut.

Minri belum bicara apapun saat Baekhyun dan Soo Jung juga keluar di mobil yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan, membuat Jongin semakin mengerutkan keningnya.

“Kami bertemu di jalan dan Baekhyun menawarkan tumpangan padaku,” jelas Minri. Dia menatap ke arah Baekhyun. “Terimakasih Baekhyun.”

“Ya, senang membantumu,” jawab Baekhyun beserta senyumnya yang ramah itu.

Minri segera mengangkat kaki dari sana. Dia melangkah cepat, sementara Jongin di sampingnya terpaksa mengambil langkah panjang untuk mengimbangi langkahnya itu.

Dengan seenaknya Jongin menarik kerah belakang kemeja Minri, membuat tubuh Minri tertarik ke belakang.

“Berhenti Minri, berhenti! Kelas kita masih satu jam lagi. Tidak usah terburu-buru.”

Minri berhenti kemudian melanjutkan jalannya dengan langkah yang lebih lambat.

“Aku tidak tahan berada di dekat mereka,” ucap Minri.

“Maksudmu kau tidak suka dengan Baekhyun.”

“Tentu saja aku menyukainya!” Minri berhenti sembari menutup mulutnya. Kemudian bicara lagi, “Yah –maksudku, aku…”

“Hai teman-teman!! Pagi yang cerah!!” Sapa Chanyeo cukup heboh, memotong ucapan Minri. Di belakangnya ada Sehun dengan senyum tipis dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Dan juga Kyungsoo yang memegangi tali tas ranselnya.

“Ya, Selamat pagi.”

“Minri, lanjutkan bicaramu,” pinta Jongin. Tapi Minri sedang tidak ingin membicarakan tentang perasaannya saat ini.

“Memangnya tadi aku bicara apa?”

“Kalian membicarakan apa?” Chanyeol menyelip di tengah Jongin dan Minri, membuat keduanya hampir terjungkal karena ukuran tubuh Chanyeol tidaklah kecil. Tentu saja tabrakan tubuhnya memberikan efek berarti pada tubuh Minri yang masuk daftar gadis kurus.

“Gara-gara kau pembicaraan serius kami terpotong.” Jongin berjalan mendahului Chanyeol, dia memilih berdampingan dengan Sehun yang damai.

“Kenapa aku yang disalahkan.” Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Minri ingin tertawa melihat tampang lucu Chanyeol, tapi dia tertawa di saat seperti ini bukanlah ide bagus.

***

Di sebuah Kafe yang berlokasi di daerah Gangnam, Baekhyun memeriksa lembaran data risetnya sambil sesekali menyesap strawberry milk shake –minuman favoritnya.

Beberapa gadis melirik ke arahnya, karena laki-laki itu cukup –atau terlalu –menarik untuk diperhatikan. Tapi tampaknya dia tidak begitu peduli dengan keadaan di sekitarnya. Sudah sekitar satu jam yang lalu dia berada di sana. Dengan lembaran-lembaran kertas yang bertumpuk di meja, dan pulpen di tangannya, menampakkan bahwa Baekhyun sedang sibuk.

Baekhyun menghela nafasnya ketika dia menyelesaikan pemeriksaannya pada lembaran yang terakhir. Dia merapikan kertas-kertas itu sebelum menyandarkan punggungnya ke bangku Kafe, lantas meregangkan tulang-tulangnya yang terasa kaku.

Dia menyapukan pandangannya ke seluruh Kafe. Dia tidak sadar sejak kapan pengunjung menjadi ramai. Dan beberapa gadis tampak salah tingkah ketika Baekhyun tanpa sengaja melihat ke arah mereka. Kemudian matanya menangkap seseorang yang tak asing. Seorang gadis berambut coklat ikal dengan wajah manis.

Baekhyun membereskan peralatannya lalu memasukannya ke dalam tas. Dia menghampiri gadis itu–yang tampaknya tenggelam dalam lautan imajinasi novel romannya.

“Hai, Minri.”

Gadis yang merasa namanya disebut itupun mendongak. Wajahnya yang terkejut itu tampak menggemaskan. Baekhyun menahan diri untuk tidak mencubit pipi gadis itu.

My prince?”

Minri merutuk mulutnya yang sering bicara di situasi yang salah. Baekhyun pasti mengira dia baru saja berkhayal tentang pangeran pujaannya.

“Ya. Princess?”

(TBC)

ini ku kasih foto jung sister yang cantik, cool, cute(? tapi dapet peran menyebalkan. kkkk

jung sist

Yaeyy aku kembali…!! Huahaha dengan tidak elitnya ku potong di adegan itu xD!! supaya beda halamannya ga beda jauh sama yang satu makanya mesti ku potong.

Gimana? Udah ada tanda-tanda mereka bakal bersatu? Wkwk

Sebelumnya sudah aku bilang kalau FF ini tidak akan sampai pada chapter yang panjang. Karena aku –mungkin-tidak suka bertele-tele dalam hal konflik (atau mungkin kemampuan memang segitu aja xD). Apalagi menambahkan konflik lain (waduh sinetron itu mah-_-/) So, jika memungkinkan FF ini akan berakhir pada nomor punggung Baekhyun –kalau kalian tahu😀

Trus, aku minta maaf kalau ada typo (segera laporkan ya kalau nemu🙂 , maaf sama kata-katanya yang rada cheesy, atau mungkin tidak mengenakan hati.

nobody’s perfect.

Ohiya, kalau bisa sih ga manggil thor (berasa superhero yg bawa palu). Panggil aja namaku, RIMA (kalau kalian seumuran, aku 93-line:/ Atau boleh panggil Kak/eonni jika kalian lebih muda. Dik, dongsaeng, yeodongsaeng jika kalian keduluan aku lahir(?) let’s be friend la!🙂

Buat yang sudah menunggu FF ini –kalau memang pantas ditunggu dan buat yang sudah bersedia menempatkan komentar kalian, memberi kritik atau saran. TERIMAKASIH BANYAAAAK!! :*

Keep support ya😉 thank you!!

Aku sayang kalian❤

© Charismagirl, 2014.

282 thoughts on “Milargo del Amor – Chapter 2

  1. Ahh.. Pen komen!! Aku suka Baekhyun yg disini daripada yg asli kan cerewet /apa lo?/ iya bek -eh baek maaf. Si Minri juga lucu, suka ngumpat tapi umpatannya lucu. Kak, kak Rima kok bisa sih bikin ff kek gini? Ajarin dong😀

  2. Yahhh… Ko tbc sihh😦
    Cie…. Yang manggilnya prince-princess
    Tpi kapan yah baekkie nyadar klo minri princessnya? Dari pada penasaran langsung baca chap selanjutnya deh. Keep writing!!!

  3. Eonnie lucu banget ihh *cubit pipi eonnie* aku berasa minri masaaa -abaikan- jadi pengen cepet2 selesaiin bacanya ihh.. tapi geregetan bacanya soalnya minri terlalu sabar.. pokoknya daebak dehh buat eonnie

  4. Thor, fanfict ini cukup membuatlku senyum-senyum gaje kayak orang gila lagi tersesat(?) *abaikan ini* Entah, kenapa rasanya seneng banget jika ada diposisi Minri —walau kadang tersiksa tapi rasa bahagia lebih mendominasi, fairy tales nya kena banget. Pangeran berkuda yang akan membawa permasurinya pergi ke dunia indah *woah bahasaku.
    Keren dan the best of the best lah, aku jarang nemu ff kayak gini dan yang spesial ada di author. Keep writing!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s