Mask of The Prince

Tittle : Mask of The Prince

Genre : Idk??

Rating : PG12 for cursing words

Length: Oneshoot

Cast : Park Chanyeol, OC

Author : Jongchansshi

Dia keliahatan seperti pangeran berkuda putih sungguhan, tapi siapa yang tahu bahwa sebenarnya dia adalah seorang monster. Monster yang menggunakan topeng pangeran. – fake fairy tale.

Musim gugur yang kurang menyenangkan karena Matahari lebih menyengat dari biasanya. Hyewon tidak mengerti kenapa dia begitu mengutuk hari ini. Dengan tak tentu arah, gadis itu mengelilingi jalanan yang sepi, sepertinya dia tidak lagi berada di tengah kota. Masa bodoh, yang jelas hari ini dia ingin melarikan diri, sejauh mungkin, dari kenyataan menyakitkan itu.

Hyewon menginjak gas sehingga membuat mobil yang dikendarainya melaju kencang dijalanan lurus yang nyaris tidak ada kendaraan lain selain miliknya. Kenyataannya, dia sama sekali tidak pandai dalam urusan menyetir, tetapi untuk kali ini, gadis itu hanya ingin bertindak sedikit tidak waras dengan berusaha menghilangkan perasaan sakit hatinya.

Tetapi hal yang paling ia takuti itu terjadi juga. Tanpa bisa mengelak lagi, mobilnya menyenggol seorang pengendara motor sehingga terdengar suara dentuman keras diiringi dengan Hyewon yang menginjak rem secara mendadak. Hal itu terjadi begitu cepat, bahkan dia tidak tahu kapan pengendara motor itu sudah berada disekitar mobilnya lalu terjatuh.

“Kau bodoh Kim Hyewon!” hardiknya panik yang tak lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia melihat kearah kaca spion mobil yang menggambarkan si pengendara motor itu berusaha menegakkan motor besarnya yang berwana hitam dengan susah payah, Hyewon juga bisa melihat celana jeans yang sobek di area lutut orang itu dan mengeluarkan banyak darah.

Gadis itu memejamkan matanya. Ia dalam masalah besar sekarang. Rasanya ia ingin menangis saja. Turun atau kabur? Jika turun urusannya akan panjang dan jika kabur……………. tidak ada pilihan lain, aku memang diharuskan tidak bertanggung jawab kali ini.

Sekali lagi Hyewon menginjak pedal gas kuat-kuat lalu melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Dan ketika dia melihat kearah kaca spion dalam mobil, ia mengutuki perbuatannya barusan. Orang itu mengejarnya! Hal yang wajar dilakukan oleh korban tabrak lari, tentu saja orang itu tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.

Hyewon tak menegrti harus berbuat apa karena menurutnya, dia sudah menggunakan kecepatan paling cepat, bahkan speedometer pada mobil sudah menunjukkan angka 100 lebih. Dan bingo, si pengendara motor itu berhasil membuatnya mengerem secara mendadak untuk kedua kalinya hari ini. Dengan berhasil mendahului mobil Hyewon dan menghalang jalannya. Memang sinting jika mengharapkan bisa lolos begitu saja berhadapan dengan seorang yang memiliki gaya seperti itu.

Orang itu turun dari motornya dengan melepaskan helm besar_yang biasanya digunakan oleh para pembalap_ itu terlebih dahulu. Dia berjalan mendekati mobil Hyewon yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempat motornya diparkirkan. Santai sekali, seperti luka di area kakinya itu hanya tempelan saja. Hyewon menahan napasnya, dia panik luar biasa. Bahkan rasanya lebih menakutkan daripada cerita cinderella yang disiksa oleh ibu dan kakak tirinya sendiri.

Apa yang akan dilakukan pria itu? pertama jelas saja memintanya, lebih tepatnya memaksa Hyewon turun dari mobil terlebih dahulu. Pria itu mengetuk-ngetuk kaca mobil Hyewon dengan kasar dan tidak sabaran. Mungkin dia tidak terima karena Hyewon telah melakukan dua hal bodoh padanya. Ingin kabur setelah menabrak orang? Tentu saja itu kriminal!

“Buka pintunya atau aku akan menghancurkan kaca mobilmu,” ancam pria itu. Hyewon dapat mendengar suara berat pria itu dengan jelas dari dalam. Tapi Hyewon tetap tidak bergeming. Dia tidak berani, sama sekali tidak berani. Dan kata-kata pria itu barusan bukan hanya sekedar kata-kata. Pria itu mengambil sebuah batu besar di dekat jalan lalu bersiap memecahkan kaca mobil Hyewon.

Dengan tergesa, Hyewon menekan kunci mobilnya lalu membuka pintu dengan cepat, sebelum pria itu berhasil berbuat hal gila dan menghancurkan mobil yang baru dibelikan ayahnya 2 minggu yang lalu itu. Ia turun dengan raut sok polosnya dan takut-takut.

Hyewon hanya mampu menunduk sedangkan pria yang berdiri dihadapannya memperhatikan gadis itu dengan insten, lalu senyum tipis terkembang diwajahnya. Ia mengeluarkan sekotak rokok dari saku celananya lalu menyalakan rokok itu, dia tahu berhadapan dengan gadis seperti ini akan memakan waktu lama dan membosankan.

“Kau tahu apa yang baru saja kau perbuat?” tanya pria itu santai tapi penuh penekanan.

Hyewon masih tertunduk, dia terlalu pengecut untuk menjawab pertanyaan itu. Yang ada dipikirannya hanyalah pertanyaan-pertanyaan busuk seperti….

bagaimana kalau pria ini berniat jahat? Bagaimana kalau dia akan memperkosanya lalu membunuhnya lalu melakukan hal tidak diinginkan lainnya? atau bagaimana kalau pria ini akan menculiknya lalu menjualnya ke tempat human trafficking? Atau….hal-hal buruk lain sejenis itu lah. Dan Hyewon betul-betul menyesal memilih jalan sepi seperti ini untuk menghilangkan stres.

“YA! Aku berbicara padamu, nona!” karena merasa diabaikan, pria itu sedikit berteriak dan itu berhasil membuat Hyewon semakin ketakutan. Gadis itu mengangkat wajahnya lalu menatap pria itu dengan tatapan minta dikasihaninya.

“Maaf, a…aku..aku tidak se…ngaja.”

Pria itu mengangguk-angguk sok mengerti lalu menyesap rokok yang sedari tadi berada ditangannya dengan penuh penghayatan.

“Maaf? Setahuku maaf tidak pernah gratis.”

“La…la.lu apa.. ma..maumu?”

Pria itu menyunggingkan senyumnya karena pertanyaan Hyewon barusan telah ia ditunggu-tunggu dari tadi, “Tidak banyak, kau hanya perlu memberiku 5 juta…sekarang!”

“N-ne?”

Jelas saja Hyewon terkejut. 5 juta won? Apakah pria ini gila? 5 juta won sama sekali tidak sedikit. Mungkin ia memerlukan waktu satu tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. Apalagi dia hanya merusakkan beberapa bagian motor dan membuat sedikit cedera di bagian lutut pria itu. Jadi dia bermaksud memeras Hyewon? Sebenarnya dari awal Hyewon sudah mengerti kurang lebih beginilah yang akan dihadapinya.

“Lima juta won, nona dan aku membutuhkannya se-ka-rang!”

‘Dasar orang gila! Kau pikir aku sekaya apa hingga mampu memberimu segitu? Tidak tahu malu, beraninya hanya pada wanita! Cih, memalukan,’ umpat Hyewon kesal dalam hati. Tetapi ucapan itu hanya tertahan di benaknya saja Dia bisa mati saat ini juga kalau berani mengeluarkan kalimat itu.

“Aku… aku ti..dak punya uang sebanyak itu,” lagi, Hyewon hanya bisa merespon dengan suara bergetar dan tidak jelas.

Pria itu terdiam sejenak lalu menyesap rokoknya lagi. Beberapa pikiran negatif kembali berkeliaran di otak Hyewon.

“Baiklah, aku paham!” Balas pria itu tenang, seperti memberi secercah harapan untuk membebaskan Hyewon.

Sekarang Hyewon memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah dengan pandangan menyelidik. Gaya pria ini persis seperti anak brandalan yang tergabung dalam gang motor. Ditambah dia merokok dengan sangat amat tidak sopannya, didepan seorang gadis pula. Tetapi ketika Hyewon sampai ke bagian wajah pria itu, napasnya kembali tertahan. Kali ini bukan karena ketakutan lagi tapi lebih kearah kagum. Dia baru sadar kalau pria gila yang sedang berada dihadapannya ini memiliki wajah yang sangat rupawan bak seorang pangeran.

“Jadi?????????” tanya Hyewon cepat. Berharap agar pria tampan ini mau memaafkannya begitu saja. Walau sebenarnya harapannya itu mungkin akan menghasilkan sesuatu yang lebih tidak diinginkan lagi.

“Kuanggap itu sebagai hutang, jika dalam waktu sebulan kau tidak mampu melunasinya….” pria itu menatap Hyewon mengancam dan menggantungkan kata-katanya, jelas saja itu membuat Hyewon kembali cemas. “Aku akan melakukan hal paling buruk seperti apa yang terbayang diotakmu,” lanjut pria itu lagi dengan berbisik tepat ditelinga Hyewon. Jarak mereka begitu dekat, bahkan Hyewon dapat mencium dengan jelas wangi tubuh pria ini.

Hyewon menahan napasnya, hal buruk itu mungkin saja masih bisa terjadi. Tetapi bagaimana caranya dia mendapatkan 5 juta won dalam waktu satu bulan? Apakah tidak ada cara lain yang lebih manusiawi? Ayolah, apakah pria tampan ini sama sekali tidak memiliki hati dan rasa kasihan padanya?

Pria itu membuang puntung rokoknya lalu berbalik meninggalkan Hyewon. “Well, aku akan menemukanmu kembali dengan mudah, tentu saja,” ucap pria itu lagi sebelum memasang helmnya dan menekan engkol motor.

Hyewon mengepalkan tangannya erat-erat sebelum satu keberanian muncul pada dirinya, “tunggu!” panggilnya cepat. Dengan sedikit ragu, dia berjalan mendekati pria itu.

“Aku tidak mampu membayar 5 juta itu…”

Pria itu kembali melepaskan helmnya dan itu membuat rambut coklatnya terlihat berantahkan, tentu saja ini membuatnya semakin kelihatan tampan apalagi dia mengeluarkan senyum manisnya untuk Hyewon. Sesaat, gadis itu kembali terpaku. Dia bertanya-tanya apakah sedang berhadapan dengan orang gila atau pangeran saat ini.
Sedangkan pria itu seperti sudah tahu dari awal, kalau gadis ini tidak akan mampu membayar uang yang dipintanya.

“Begini, sebenarnya kau cukup melakukan satu hal saja… tapi aku tak sempat menjelaskannya sekarang.” Katanya sambil melihat kearah jam tangan hitam yang melingkar ditangan kirinya. “nomor handphonemu,” dia menyerahkan handphone miliknya ketangan Hyewon, handphone jenis terbaru dan termahal musim ini.

Ia meminta gadis itu menuliskan nomor handphonenya. Hyewon menatapnya sekali lagi, ragu atas apa maksud pria ini. Tetapi entah kenapa dia seperti menurut saja dan menuliskan nomor handphonenya. “Kau harus menemuiku malam ini. Tempat dan waktunya akan kuberitahukan nanti.” Jelas pria itu yang siap memasangkan helm nya lagi.

“Ta..tapi..”

“Menolaknya hmmm?” tanya pria itu dengan nada mengintimidasi. Tentu saja itu membuat Hyewon menggeleng terpaksa.

“Namaku Park Chanyeol dan jangan lupa nanti! Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal jahat padamu selama kau bisa diajak kerja sama. Selamat tinggal, nona.” Lalu pria gila yang bernama Chanyeol itu pergi bergitu saja dari hadapan Hyewon dengan motor besarnya yang memekakkan telinga. Hyewon menggeleng-gelengkan kepala, berharap kejadian panjang barusan hanyalah delusinya saja. Tetapi ketika dia sudah kembali kedalam mobil dan mengecek handphonenya, ada pesan masuk dari seseorang. Dan hyewon sudah tahu apa isinya.

—————-

Hyewon menghela napas ketika melihat Chanyeol sudah duduk disalah satu kursi cafe tempat mereka berjanji bertemu. Pria itu memain-mainkan sumpitnya karena kebosanan sambil sesekali menengok kearah jam tangannya.

“Maaf aku terlambat!” ujar Hyewon cepat lalu menarik kursi yang ingin didudukinya.

Chanyeol mendongak lalu berdecak ketika melihat Hyewon yang meminta maaf dengan nada tidak berdosa. Gadis itu kelihatan jauh lebih baik dari tadi siang saat pertama mereka bertemu.

“Maaf tidak pernah gratis. Kau yang harus membayar semua pesananku,” balas Chanyeol tak kalah santainya.

“Ya! Bahkan aku tidak membawa uang sama sekali!”

Yang benar saja, ini cafe yang makanannya serba mahal dan pria gila ini memintanya untuk membayar? Dia pikir Hyewon milyarder yang memiliki pohon uang? Lagian Hyewon hanya telat 10 menit dan itu juga bukan karena kemauannya.

Sedangkan Chanyeol agak terkejut dengan perubahan Hyewon yang betul-betul drastis. Padahal tadi siang, gadis itu tidak memancarkan raut lain selain ketakutan dan memohon rasa kasihan. Tapi sekarang? Dia berani membentak seorang Park Chanyeol!

“Kau membentakku?”

“Aku hanya menjelaskan keadaan yang sebenarnya!” Tegas gadis itu seperti tidak peduli dengan nada suara Chanyeol yang terdengar mengancam.

Hyewon tidak perlu merasa takut pada siapapun saat dia merasa berada ditempat aman. Cafe ini lumayan ramai, jadi jika Chanyeol macam-macam padanya dia hanya perlu berteriak copet sedikit lalu orang-orang akan menhajar Chanyeol.

Chanyeol seperti mengerti kenapa gadis ini tidak nurut lagi padanya, lalu ia mencondongkan tubuh tegapnya agar lebih mendekati Hyewon yang sedang mengutak-atik handphone, “aku bisa membuat orang-orang disini tunduk padaku dan menghabisi-mu,” ancam Chanyeol ketus dengan berbisik. Mata hyewon terbelalak dan pandangannya teralih pada Chanyeol seketika. Ancaman pria ini mungkin bisa saja terjadi. Mengingat mungkin saja dia seorang preman yang memiliki banyak kekuasaan.

Hyewon memasukkan handphonenya kedalam tas lalu memperhatikan Chanyeol. Pria ini menggunakan celana jeans hitam dan t-shirt putih yang membuatnya terlihat jauh lebih manis daripada tadi siang, sedangkan jaket hitamnya diletakkan diatas meja. Rambut coklatnya juga tersisir rapi sedangkan poninya dibuat tegak keatas. Dia betul-betul seperti pangeran langit.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Hyewon tanpa basa-basi lagi.

Chanyeol meletakkan kedua tangannya diatas meja lalu menatap Hyewon serius sebelum mulai bercerita.

“Keuanganku sudah sangat menipis dan kau tidak bisa membantu sama sekali. Aku tidak enak jika harus meminjam pada teman-temanku terus. Sedangkan aku juga butuh hidup. Sebenarnya aku bisa saja menculikmu lalu meminta uang tebusan pada orang tuamu. Tetapi kurasa itu sangat memalukan. Lebih baik aku memanfaatkanmu saja,kan?”

Hyewon menyimak kalimat Chanyeol dengan serius tetapi dia sama sekali tidak menangkap maksud dan tujuannya. Kecuali satu hal. Menggunakan Hyewon sebagai mesin pencari uang? Apakah begitu maksudnya?

“Kau berniat….menjualku?” Pertanyaan Hyewon barusan jelas membuat Chanyeol tertawa terbahak, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. Suara pria itu sangat berat dan dalam, mampu membuat wanita merinding ketika dia berbicara. Dan tentu saja tetap terdengar indah ketika dia tertawa.

“Untuk apa menjualmu jika aku bisa mendapatkan keuntungan besar dengan cara yang lebih terhormat?”

Hyewon mengerutkan dahinya, kebingungan dengan pertanyaan atau gumaman Chanyeol barusan. Well, bagaimana agar tetap waras ketika berhadapan dengan orang gila? Sesaat dia memperhatikan Chanyeol, lagi, kali ini lebih insten sehingga banyak pertanyaan baru yang muncul dibenaknya.

“Apakah hidupmu sesusah itu?”

Chanyeol berdecak lalu memabalas tatapan Hyewon, “Tidak juga. Hidupku indah, menyenangkan dan bebas asal kau tahu. Andai saja jika semua orang mau berpihak padaku.”

“Siapa yang tidak berpihak padamu?”

“Orang tuaku. Aku tidak mengerti kenapa mereka begitu merepotkan. Melarangku melakukan ini dan itu, menyusahkan saja, padahal kenyataannya mereka juga tidak memperhatikan dan memperdulikanku,” ceritanya singkat tanpa raut sedih sama sekali. Hyewon bisa saja mengira jika Chanyeol sedang mengarang cerita tetapi dari gaya Chanyeol menatapnya, pria ini seperti sedang menceritakan hal yang sebenarnya.

“Tidak usah banyak tanya, kau pasti akan mentertawakan hidupku setelah ini. Dan aku juga tidak mengerti kenapa bisa keceplosan menceritakan sedikit tentangku padamu,” lanjutnya lagi dan itu berhasil membuat Hyewon tersenyum tulus untuk pertama kalinya dihadapan Chanyeol. Begitulah Chanyeol, dia menyenangkan sebenarnya. Kalau saja moodnya sedang baik.

“Baiklah, sekarang kau jelaskan apa keinginanmu. Aku akan membantumu sebisaku. Jika itu tidak terlalu merugikanku.”

“Dua hari lagi adalah acara ulang tahun Noona-ku. Aku akan pulang kerumah karena benar-benar membutuhkan uang. Ini memalukan sih. Tapi Noona bilang mereka masih memaafkanku jika aku pulang dan mau berubah.”

“Jadi tugasku?”

“Pura-puralah menjadi tuan putriku.”

“N-ne?” tanya Hyewon tidak mengerti dengan suara terkejut. Tuan putri? Tuan putri apanya? Ayolah jangan bilang dia akan bermain dalam cerita dongeng versi modern.

“Kau hanya perlu menemaniku ke pesta itu dan berpura-pura menjadi seorang gadis yang telah mengubah hidupku. Wajahmu cukup polos dan kurasa mereka akan percaya kalau gadis sepertimu telah merubahku.” Jelas Chanyeol lagi.

“Kenapa kau tidak berubah sungguhan saja? Kenapa harus berpura-pura?” Tanya Hyewon keheranan. Sebenarnya rencana Chanyeol ini lumayan aneh tapi cerdas juga.

“Menurutmu, apakah mudah meninggalkan hobi begitu saja dan melakukan hal yang tidak kau suka-i dengan sungguh-sungguh?”

“Aku tidak punya hobi jadi aku tidak tahu.” Jawab Hyewon seadanya. Dia menopang dagu sambil memperhatikan Chanyeol lagi. “Kau sangat tampan, seharusnya mudah mendapatkan gadis yang kau mau tanpa harus repot-repot mencelakai dirimu sendiri, mengancam gadis yang tidak berdosa lalu membuatnya ketakutan,” jelas Hyewon yang berhasil membuat Chanyeol mengerjap-erjapkan matanya, menatap Hyewon kagum.

“Wah.. aku tidak menyangka kau sudah mengtahui semuanya. Tetapi tadi kau betul-betul membuatku terjatuh, bodoh, makanya jangan ngebut kalau tidak bisa menyetir,” balas Chanyeol ketus tidak mau disalahkan. “Teman wanitaku? Sebenarnya aku ingin meminta tolong pada mereka tetapi orang tuaku tidak akan percaya begitu saja. Lagian kasihan kan jika ketahuan mereka juga bisa kena batunya. Sudahlah, anggap saja kau gadis beruntung karena menjadi gadis pertama yang kutemui hari ini dan kuajak berkerja sama,” lanjut Chanyeol enteng sambil sedikit tersenyum pada Hyewon.

Beruntung apanya? Seharusnya Hyewon merasa sial karena sudah bertemu dengan Chanyeol. Dia membuat hari Hyewon yang sudah sial menjadi semakin sial.

“Pangeran pembangkang yang pintar berakting,” komen Hyewon menanggapi. Dia baru menyadari kalau Chanyeol banyak omong dan cerewet, baguslah setidaknya pria ini tidak sedingin pria-pria sok ganteng lainnya. Hal-hal buruk seperti bayangan Hyewon tentangnya seperti hilang begitu saja ketika mendengar pria ini bercerita, walau itu tak bertahan lama.

“Jadi ceritanya kau ingin mencelakaiku, begitu? Oh bagus sekali Chanyeol-sshi.”

Chanyeol menghela napas berat lalu menatap tajam Hyewon sedangkan yang ditatap tiba-tiba menjadi gugup, “Aku janji kau akan baik-baik saja nona. Ya! Ngomong-ngomong siapa namamu?”

“Kim Hyewon.”

“Jadi sebatas sini dulu pertemuan kita Hyewon-sshi, aku ada urusan penting. Well, jangan lupa dengan rencana itu ya. Aku duluan.” Pamit Chanyeol tiba-tiba lalu sudah meninggalkan Hyewon begitu saja. Apakah ini kebiasaannya? Pergi dan datang begitu saja sesuka hati?

“Dasar sok sibuk!” umpat Hyewon pelan. Dia tidak menyangka kalau seorang Park Chanyeol benar-benar sakit jiwa. Jadi ketakutannya tadi seratus persen sia-sia dan semuanya hanya akal-akalan Chanyeol saja? Oh tidak. Kenapa hari ini harus ada dan berjalan begitu menyebalkan?. Dia mengutuk hari ini. Sangat amat mengutuk. Karena hari ini semua hal buruk itu terjadi.

Hyewon baru sadar kalau perutnya berbunyi dan selama perbincangannya dengan Chanyeol tadi dia sama sekali tidak memakan ataupun meminum apa-apa.

“Nona, kau mau pesan apa?” tanya seseorang pelayan yang menghampiri Hyewon. Reflek hyewon menggeleng mengingat dia tidak membawa uang sama sekali.

“Tetapi pacar anda tadi sudah membayarkan pesanan seratus ribu won untuk anda.”

Hyewon menghela napas berat lalu tersenyum pada pelayan itu. Katanya tidak punya uang tetapi kenapa boros sekali? Dasar Chanyeol gila.

————————

Chanyeol tidak menyangka dia akan pulang ke apartemennya padahal waktu masih menunjukkan pukul 8 malam. Biasanya jam 3 dinihari dia baru memutuskan untuk pulang. Tiba-tiba dia teringat dengan gadis yang dikerjainya kemaren siang. Dia merasa beruntung mendapati gadis itu dengan begitu mudah.

Kim Hyewon. Lumayan cantik, walau sebenarnya dia memiliki banyak teman wanita yang jauh lebih cantik dari Hyewon. Tapi gadis itu lucu, setidaknya itu menurut Chanyeol. Gadis yang slalu negative thinking, pesimis, mudah ditebak dan juga aneh. Entah kenapa gadis itu mampu membuatnya tersenyum-senyum sendiri tanpa alasan.

Belum sempat dia mendapati motornya, tiba-tiba mata bulatnya teralihkan kepada seorang gadis yang menunduk_diduganya sedang menangis di depan estalase sebuah toko tak jauh dari tempatnya berpijak. Chanyeol menyerngitkan dahinya. Apakah wanita itu hantu yang hanya bisa dilihat olehnya? Karena sedari tadi gadis itu menangis tetapi tidak begitu diperhatikan oleh orang yang berlalu lalang. Dia sepertinya lupa jika ini daerah kota dan tentu saja orang yang berlalu-lalang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Entah karena dia lagi baik malam ini atau moodnya sedang bagus, dia memutuskan untuk berjalan dan mendekati orang itu.

Chanyeol hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika langkahnya sudah mendekati gadis itu dan menyadari bahwa dia mengenalnya. Kebetulan sekali, padahal tadi baru saja ia memikirkan gadis ini lalu sekarang sudah bertemu dengannya. Apakah mereka begitu berjodoh?

“Hyewon.” Panggilnya pelan. Dia ikut berjongkok didepan gadis itu tetapi sapaannya barusan seperti tidak didengar olehnya.

“Hyewon!” panggil Chanyeol lagi, kal ini lebih keras. Hyewon mengangkat kepalanya lalu menatap Chanyeol dengan terkejut. “Sedang apa kau disini?” bukannya menjawab, Hyewon malah menangis semakin keras dan itu tentu saja membuat orang-orang memperhatikan mereka, memasang tatapan tuduhan terhadap Chanyeol atau sekedar menggeleng-gelengkan kepalanya, “kau tenanglah…jangan seperti ini. Please jangan menangis lagi!” mohon Chanyeol kelabakkan. Dia seperti berada dalam dua hal yang tidak menyenangkan. Pertama, tidak tega melihat Hyewon menangis dan kedua, dia tidak mau orang-orang salah paham padanya. Walau aslinya dia memang bukan pria baik atau bisa dibilang brengsek, tetap tidak enak dituduh atas kesalahan yang tidak pernah diperbuat olehmu.

Tapi itu juga tidak membuahkan hasil. Lagian anak ini aneh sekali. Padahal kemaren hidupnya santai-santai saja seperti tanpa beban. Tanpa berpikir lagi dan entah apa yang menginspirasikannya, Chanyeol memeluk Hyewon. Memeluknya erat sekali dan membiarkan gadis itu menangis dibahunya. Dia lumayan pegal dengan posisi ini sebenarnya. Tapi sekali saja, dia ingin berbuat baik pada Hyewon. Anggap ini sebagai permintaan maaf karena dia berhasil membuat Hyewon ketakutan setengah mati kemaren siang.

Hyewon melepaskan dekapan Chanyeol lalu mengusap air matanya kasar. Sejenak ia menatap Chanyeol lalu mengeluarkan senyuman miris, “terimakasih.” Ucanya tulus.

Chanyeol tersenyum lalu ikut duduk disebelah Hyewon. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”

“Apa yang bisa membuatmu tenang ketika kau sedang dalam masalah?” Gadis itu tidak menjawabnya, ia malah bertanya balik pada Chanyeol.

Chanyeol terdiam sebentar, dia ragu untuk menjawab apa “Biasanya aku memilih minum alkohol atau ke club atau ya begitulah…” balas Chanyeol mencoba sejujur mungkin.

Hyewon memberikan senyumnya pada Chanyeol, dia memelas bahkan. “Kalau begitu, temani aku minum soju ya?”

“MWO?!” Ujar Chanyeol tidak percaya dan dia menyesali karena barusan sama saja ia menyarani gadis itu untuk melakukan kebiasaan buruknya juga.

“Temani aku minum Soju, please..” mohon gadis itu lagi. Matanya menatap Chanyeol dalam, menyiratkan kesedihan yang luar biasa.
“Jika kau tidak mau, aku akan tetap pergi sendiri lalu lupakan tentang aku yang akan membantumu besok!”

Gadis ini seperti tidak bisa dilarang lagi. Daripada dia membiarkan Hyewon pergi minum alkohol sendirian dan itu pasti akan membuatnya semakin menyesal, Chanyeol akhirnya mengangguk juga dan menyetujui permintaan gadis itu.

“Tapi jangan terlalu banyak. Kau bisa mabuk!” tegas Chanyeol ketus dan di hadiahi oleh anggukkan sumringah dari gadis itu.

^^^

“Kau tahu? Aku benar-benar telah menjadi upik abu sekarang. Ibu tiriku jahat, ayahku lebih memilih mereka dan tentu saja mereka akan menyiksaku.”

Chanyeol tidak tahu harus merespon ucapan demi ucapan Hyewon dengan apa. Dari tadi pembahasannya hanya seputar ‘ayah yang tidak lagi sayang padanya, ibu tiri, kakak tiri, cinderella’ dan seperti itulah. Dia sudah mabuk walau hanya meminum beberapa gelas saja. Dan chanyeol berani bertaruh kalau gadis ini belum pernah menyentuh alkohol sebelumnya.

“Kau sudah mabuk, sekarang berhenti ya lalu pulang kerumahmu!”

“Tidak aku tidak mau. Jangan suruh aku pulang kerumah,” pinta gadis itu memohon. Chanyeol menghela napas dengan berat, merasa kasihan dengan gadis ini. Masalah dengan rumah? Mungkin begitu.

Dengan sigap dia menahan tangan Hyewon yang mau meneguk satu gelas lagi,, “kita pulang sekarang! Aku janji tidak akan membawamu pulang kerumahmu.”

“Jika cerita Cinderella benar-benar berlaku dihidupku. Lalu seharusnya juga ada pangeran kan?” tanya Hyewon ngelantur. Dia memandang Chanyeol dengan tatapan berbinar. Kedua tangannya meraih pipi Chanyeol lalu memaksa pria itu menatap kearahnya juga, yang ntah kenapa itu berhasil membuat Chanyeol menjadi gugup dan salah tingkah. “Jadi, apakah kau pangeranku?”

Chanyeol tidak menjawab pertanyaan itu. dia mengeluarkan dompet kulitnya lalu membayar bergelas-gelas Soju yang telah diminum Hyewon. Dia tidak ikut minum, sama sekali tidak minum. Jika Hyewon mabuk dan dia juga mabuk, mau jadi apa mereka?

—————–

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi ketika Hyewon terbangun dan mendapati dirinya bukan berada dikamarnya. Jelas sekali bukan, kamar ini didominasikan oleh cat berwarna putih sedangkan kamarnya berwarna biru muda. Dia melihat ke sekeliling ruangan dan tidak menemukan petunjuk sama sekali tentang keberadaannya.

Gadis itu mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Seingatnya dia bertengkar dengan ayahnya ketika makan malam disebuah restaurant bersama ‘keluarga barunya’ lalu memutuskan untuk kabur dan menangis di pinggir jalan. Lalu…. dia ingat. Dia bertemu pria yang membuatnya ketakutan beberapa hari yang lalu, si Park Chanyeol dan itu artinya……………..

“Kau sudah bangun?” tanya seseorang seiring dengan pintu kamar yang terbuka. Reflek Hyewon menengok kearah orang itu dan betapa terkejutnya dirinya ketika sadar bahwa orang itu bukan Chanyeol. Dia melihat kebalik selimut. Bajunya sudah terganti. Apa Chanyeol……………….. tidak pria itu tidak mungkin melakukan itu kan? Maksudnya, menjual nya? Apakah Chanyeol setega itu? “Kami tidak melakukan apa-apa padamu, tenang saja. Dia sedang membeli makanan,” Kata orang itu menerangkan. Tetapi Hyewon tidak bisa percaya semudah itu. “Ah itu sepertinya dia sudah pulang,” gumam orang itu lagi sambil tersenyum ketika terdengar pintu depan terbuka. Dan Hyewon bisa saja terlena dengan pria ini. Dia tidak kalah tampan dari Chanyeol.

“Chanyeol cepatlah kemari! Tuan putrimu sudah bangun!” teriak pria yang kurang lebih seumuran dengan Chanyeolini. Hyewon baru bisa menghela napas lega ketika tahu ternyata dia memang berada ditempat Chanyeol. Dan apa-apaan… tuan puti? Errgg, terdengar begitu lucu ditelinga seorang Kim Hyewon. Andai saja jika dia mengingat apa yang telah diucapkannya semalam tentang dongeng-dongeng laknat itu pada Chanyeol. Mungkin dia sudah memilih untuk terjun ke sungai Han detik ini juga.

Tak lama pintu putih itu terbuka lagi, lalu muncullah Chanyeol membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.

“hay,” sapanya pada Hyewon dan lelaki yang berdiri didekat Hyewon. “Hyewon, ini Baekhyun dia temanku sekaligus sepupuku. Kami tinggal berdua disini,” jelas Chanyeol memperkenalkan mereka berdua. Hyewon mengangguk mengerti tapi masih ada pertanyaan menjanggal dalam dirinya.

“Apa yang terjadi semalam?”

“Kau mabuk.” Jawab Chanyeol singkat. Dia menyerahkan makanan pada Hyewon lalu duduk dipinggir tempat tidur.

“Maksudku, kenapa bajuku bisa terganti?!”

Mengingat Chanyeol bukanlah orang baik-baik dan dia belum mengenal Chanyeol, hal yang ditakutkan Hyewon mungkin saja terjadi semalam kan? Lagian Hyewon sedang tidak mengenakan baju yang wajar karena yang digunakannya adalah kemeja putih pria yang berukuran longgar dan tak sampai setengah lutut pula.

Terdengar suara tawa keras Baekhyun dan helaan napas Chanyeol. Sebenarnya pria itu juga ingin ikut tertawa, tetapi sebisa mungkin ia mengontrolnya. Gadis ini begitu naif.

“Kau pikir kami sekurang ajar itu?” tanya Chanyeol tidak terima yang sekaligus menjadi penjelasan berharga untuk Hyewon. “Semalam kau muntah dan mengotori bajumu, juga bajuku tentu saja. Bibi tetangga sebelah yang mengganti bajumu, ya untung saja aku cukup berotak untuk tidak menggantinya dengan tanganku sendiri.”

Penjelasan Chanyeol barusan benar-benar membuat Hyewon malu sekaligus lega. Pipinya memerah dan dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Seharusnya dia tidak terlalu berprisangka buruk pada Chanyeol. Siapa tahu dia beneran lelaki baik, kan?

“Sekarang kau makan saja dulu,” kata Chanyeol yang terdengar memerintah. Hyewon mengangguk, memilih menurut saja lalu memakan makanannya dengan malu-malu. Dia merasa tak nyaman karena makan dengan diperhatikan seperti ini, oleh dua pria super tampan pula. “Aku sudah kenyang,” ucap gadis itu setelah meneguk tidak lebih dari 5 suap nasi.

“Kau harus makan lebih banyak. Aku tidak meletakkan racun apapun, jadi tidak usah takut!”

Hyewon memutar bola matanya ketika mendengar kalimat Chanyeol barusan. Apakah dia terlihat securigaan itu? Tapi salahnya juga, selama dia bersama Chanyeol, dia slalu menampakkan kecurigaan dan prisangka buruk untuk pria itu.

“aku sungguh sudah kenyang,” jelas Hyewon lagi dan dia serius kali ini.

“Sudahlah Chanyeol, kurasa perutnya memang masih tidak enak. Jangan dipaksakan.” Saran Baekhyun yang langsung disetujui oleh Hyewon. Perutnya memang masih terasa mual.

Chanyeol mengangguk mengerti. Dia membereskan makanan Hyewon lalu menaronya diatas meja. Dia menarik kursi yang berada didepan komputernya lalu memperhatikan Hyewon. Sedangkan Baekhyun, dia memilih untuk duduk di sofa kamar itu.

“Kalau boleh aku tahu, kenapa kau begitu frustasi tadi malam?” tembak Chanyeol langsung. Hyewon menghela napas lalu melihat kearah jendela. Sebenarnya memalukan untuk menceritakan ini.

“Aku akan menceritakannya tapi kau harus juga cerita tentangmu!” Tawan Hyewon pada Chanyeol.

Next time.”

———————

“Dua hari yang lalu adalah pernikahan ayahku dengan seorang Ibu beranak satu yang usia anaknya kurang lebih seumuran denganku. Aku memutuskan untuk kabur dari acara pernikahan dan pergi ke suatu tempat yang bisa membuatku tenang. Tapi sialnya aku malah menabrak seorang pria super menyebalkan yang mungkin bercita-cita menjadi seorang aktor film laga saat itu.” Jelas Hyewon dengan tempo yang lumayan cepat.

Chanyeol berdecak sebal mendengar awal cerita Hyewon, belum apa-apa saja gadis itu sudah bermaksud menyindirnya. Tapi kali ini dia memutuskan untuk diam dulu. Sekali-sekali mengalah tidak ada salahnya kan?

“Dan aku menobatkan hari itu menjadi hari paling sial seumur hidupku. Lalu keesokkan harinya, ayahku marah besar kepadaku karena kelakuan pintarku itu. aku betul-betul merasa sendirian sampai pada malam harinya dipesta kecil-kecilan itu, ayah memarahiku habis-habisan didepan ibu dan kakak tiriku. Padahal biasanya ayah tidak pernah memarahiku dan slalu membelaku. Dan untuk pertama kalinya aku sangat amat merasa tidak berguna. Yeah, hidupku indah sebelum ini,” lanjut Hyewon lagi menceritakannya dengan panjang lebar. Walau ditelinga Chanyeol dia terdengar begitu berlebihan, tapi sesungguhnya Hyewon sama sekali tidak mendramatisir kejadian yang dialaminya.

“Wah ternyata kau betul-betul Cinderella. Kalau begitu maka Chanyeol adalah pangerannya. Ah tidak, sebenarnya aku bingung dia pangeran atau monster ya.” Sambung Baekhyun setelah Hyewon menceritakan cerita menyedihkannya itu. Hyewon nyaris tertawa mendengar Baekhyun, yang bahkan sepupunya sendiri menganggap Chanyeol seorang monster kalau saja dia tidak melihat raut Chanyeol yang seperti tidak setujuh dengan cerita Hyewon.

“Belum tentu kan kalau ibu tirimu jahat. Ayolah cerita Cinderella hanya terjadi dalam dongeng,” ujar Chanyeol yang sama sekali tidak membela pikiran Baekhyun dan Hyewon. “Ayahmu pasti mengkhawatirkanmu karena semalam tidak pulang. Jadi setelah ini, kau harus pulang dulu ya?”

Reflek Hyewon menggeleng kuat-kuat, “kau tidak mengerti Park Chanyeol.”

“Padahal kau sendiri juga kabur dari rumah, Park Chanyeol,” tambah Baekhyun enteng yang malah membuat Chanyeol menatap nya dengan pandangan membunuh.

Hyewon tertawa ringan melihat tingkah Baekhyun dan Chanyeol. Bagaimana mungkin dua orang ini bisa serumah dan akur padahal jelas-jelas memiliki jalan pikir dan pandangan yang berbeda?

“Baiklah aku akan pulang tetapi jika ayahku menghubungiku terlebih dahulu dan meminta maaf!” tegas Hyewon ketus sebagai harga mati. Mau tidak mau Chanyeol mengangguk saja, dia merasa terlalu memaksa gadis ini untuk melakukan ini dan itu.

——–

Hyewon datang bersama Chanyeol dan Baekhyun menggunakan Marcedes benz E Guard milik Baekhyun ke sebuah hotel berbintang 5 dan terkenal paling mahal se-ibu kota Korea Selatan itu. Chanyeol berjalan agak didepan sedangkan Baekhyun dan Hyewon saling berdampingan.

“Dia sepertinya sedang kacau,” bisik Baekhyun pelan mengajak Hyewon untuk bergossip. Hyewon mengiyakan lalu pandangannya teralihkan kepada Chanyeol yang berjalan mendahului mereka. Lelaki itu mengenakan suit hitam dengan celana berwarna senada. Dengan dandanan formal seperti ini, dia memang sudah bisa dianggap sebagai pangeran sungguhan.

Hyewon sebenarnya tidak yakin untuk melakukan skenario ini. Bagaimana jika ceritanya akan berlanjut? Tentu saja mereka tidak akan melepaskan Hyewon begitu saja, bukan? “seharusnya kau tahu kalau Chanyeol bisa melakukan apa saja yang dia mau. Apalagi dia memiliki otak yang pintar-pintar licik,” lanjut Baekhyun lagi dan itu kenapa langsung membuat Hyewon merinding, apalagi sekarang dia hanya mengenakan Dress yang lumayan sedikit terbuka.

“Menurutmu apa yang membuatnya terus diam sedari tadi?” tanya Hyewon pelan pada Baekhyun. Lelaki tampan dan imut itu mendekati bibirnya lagi kearah telinga Hyewon.

“Bertemu dengan mereka. Ada seseorang yang paling tidak ingin dilihatnya setelah ayahnya.” Balas Baekhyun lagi, seperti menceritakan. Hyewon sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa dengan cepatnya dekat dengan Baekhyun. Tapi laki-laki ini memang easy going, lucu dan menyenangkan. Mungkin itulah alasan kenapa dia bahkan terlihat lebih dekat dengan Baekhyun daripada Chanyeol.

Baekhyun berencana melanjutkan ceritanya lagi kalau saja Chanyeol tidak berbalik tiba-tiba dan menatap mereka berdua dengan tatapan tidak suka.

“bisakah kalian berjalan lebih cepat sedikit?” tanyanya ketus lalu kembali berjalan seperti biasa.

“Chanyeol emang sedikit aneh. Kau tidak usah takut padanya. Sebenarnya dia baik tapi juga brengsek. Aku juga bingung apa yang pas untuk mendiskripsikannya. Tapi tenang saja, walau mungkin kau akan dalam masalah jika mereka tahu kalian hanya berpura-pura, dia akan melindunginmu, mungkin aku juga.” Ujar Baekhyun lagi. Kata-katanya barusan betul-betul menenangkan Hyewon. Kalau dia sampai ketahuan, emang apa akibatnya?

————-

“Akhirnya kau pulang juga Park Chanyeol, sudah kuduga tidak akan terlalu lama,” ucap seorang gadis cantik dan anggun yang merupakan pusat dari acara ini. Dia tersenyum riang ke arah Chanyeol, tentu saja pada Baekhyun juga. Lalu senyumnya semakin melebar ketika melihat Hyewon. “hay, apakah kau pacarnya Chanyeol? Akhirnya adikku ini bisa move on juga. Kau sepertinya gadis baik-baik. Bagaimana caranya dia bisa mendapatkanmu?” tanya wanita itu panjang lebar pada Hyewon. Hyewon agak sedikit gugup, dia tidak tahu harus menjawab apa karena tidak terlalu memperhatikan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Dia terlalu kagum dengan kecantikkan dan keanggunan wanita ini.

“Kau terlalu banyak pertanyaan, Yuri noona. Dasar berisik!” balas Chanyeol mewakili Hyewon.

Wanita itu menjitak kepala Chanyeol pelan lalu menatapnya kesal, “Ya! Aku tidak bertanya padamu, adikku sayang.”

“Siapa namamu? Appa pasti senang sekali melihat kehadiranmu dan Chanyeol disini!” ucap wanita itu lagi dengan sumringah.

“Nama nya Kim Hyewon, dia……..”

“sudah kubilang, aku tidak bertanya padamu!”

Chanyeol menghela napas pasrah sedangkan Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menahan tawa melihat tingkah kakak dan adik itu. Baekhyun tahu betul kalau mereka berdua sering bertemu diam-diam untuk sekedar memberikan Chanyeol uang atau kangen-kangen-an. Setidaknya Yuri masih sangat memperdulikan Chanyeol dan menyayangi adik laki-laki satunya itu.

“Baiklah Hyewon-sshi, mari kukenalkan kau dengan Appa,” ajak Yuri dengan sumringah. Hyewon menatap Chanyeol sebentar lalu diangguki dengan pria itu. Dengan ragu, dia mengikuti langkah Yuri untuk menemui Appa mereka.

Hyewon langsung membungkuk hormat ketika dihadapannya berdiri seorang pria 40 tahunan lebih bersama seorang wanita yang tak kalah cantik dan anggun dari Yuri disebelahnya. Apakah wanita ini ibunya Chanyeol? Kenapa begitu muda? Tanya Hyewon dalam hati.

Appa ini Hyewon, dia pacarnya Chanyeol, cantik ya?” tanya Yuri meminta pesetujuan. Pria tua itu mengeluarkan senyumnya. Dia terlihat begitu beribawa dan tetap tampan walau sudah berumur. Bagaimana mungkin Chanyeol bisa membangkang pada pria dewasa seperti ini? Anak itu hebat juga.

“Syukurlah anak itu akhirnya pulang juga. Hyewon-sshi terimakasih.” Ujar pria itu yang jelas membuat Hyewon terkejut. Untuk apa berterimakasih padanya? Dan kenapa orang-orang begitu cepat mempercayai Hyewon dan Chanyeol berpacaran? Apakah mereka tidak perlu tahu dulu asal usul keluarga Hyewon?

“Jaga Chanyeol baik-baik, oke?’ ucap wanita yang diragukan merupakan ibu Chanyeol oleh Hyewon itu. Hyewon mengangguk dan tersenyum hangat, mencoba mengeluarkan senyum terbaiknya.

“Aku.. aku pasti menjaga Chanyeol dengan baik,” Balas Hyewon ragu. Bahkan ia terlihat lebih gugup daripada saat dikerjai Chanyeol waktu itu.

“Ah masih pemalu rupanya. Baiklah aku akan mengembalikanmu pada Chanyeol. Appa, Shi-Yeon-sshi, aku duluan!”

Lalu Yuri langsung menarik cepat Hyewon dari hadapan mereka.

“Kau pasti bertanya-tanya tentang wanita disebelah Appa-ku tadi, betulkan?” tanya Yuri pada Hyewon ketika mereka diperjalanan mencari Chanyeol. Gadis itu jelas saja langsung mengangguk, karena memang begitulah pertanyaan yang melayang diotaknya dari tadi.

“Ceritanya panjang yang jelas dia sempat menjadi orang yang paling dicintai Chanyeol sebelumnya. Tapi sekarang harus menjadi ibunya. Sebenarnya aku kasihan dengan anak itu. Ah iya, seharusnya Chanyeol sudah menceritakan ini padamu, bukan?”

Hyewon hanya tersenyum dan mengangguk. Cerita apa? Bahkan Hyewon hanya mengenal Chanyeol dalam waktu 3 hari dan pria itu tidak menceritakan apa-apa lagi selain dirinya yang kabur dari rumah dan suka bertengkar dengan ayahnya. Jadi wanita itu dulunya pacar Chanyeol tapi sekarang sudah dinikahi oleh ayahnya? Mungkin wanita itu yang dimaksud Baekhyun, orang yang paling tidak ingin ditemui oleh Chanyeol. Tampaknya hidup Chanyeol memang lebih berat dan menyedihkan dari apa yang dibayangkannya. Dan Hyewon akan menagih hutang cerita Chanyeol tentang ini tentunya.

“Nah itu Chanyeol. Aku duluan ya Hyewon, selamat menikmati pesta ini,” ucap Yuri ketika melihat keberadaan hidung Chanyeol dan Baekhyun. Setelah wanita itu pamit pada Hyewon, dia langsung pergi begitu saja. Yeah, sebenarnya kakak-adik ini benar-benar mirip.

——

“Senang berkerja-sama denganmu. Aku benarkan? Mereka bisa langsung mempercayai ini semua. Tapi tentu saja kau tidak bisa lari begitu saja setelah pesta ini slesai. Kau harus membantuku lagi lain waktu,” gumam Chanyeol panjang lebar ketika mengantar Hyewon pulang.

“Jadi…aku belum slesai?”

“Tentu saja belum. Mungkin setelah ini mereka merencanakan tentang pertunangan kita.”

“Mwo? Kau bercanda kan?”

“Sepertinya tidak. Sudahlah ikuti saja permainannya. Bukannya sama sekali tidak merugikan?”

“Tidak merugikan apanya? Aku sudah memiliki pacar tahu.”

Awalnya Hyewon mengira Chanyeol akan terkejut lalu mengerem mobilnya secara mendadak ketika mendengar pernyataan itu. atau yang paling diharapkannya adalah Chanyeol akan cemburu.

“Yasudah putuskan saja pacarmu itu! Tidak susah kan?” Balas Chanyeol dan yang menjengkelkan, dia mengucapkan itu dengansantai. Seperti kata-kata Hyewon tadi bukanlah hal yang penting.

“Jika begini ceritanya aku menyesal menyetujui semua rencana busukmu ini!”

Chanyeol tidak membalas lagi lalu mereka berdua larut dalam keheningan masing-masing.

“Aku menyayangimu, Kim Hyewon!” Ucap Chanyeol tiba-tiba ketika Hyewon menyuruhnya berhenti karena sudah tiba didepan rumahnya. Akhirnya ayah gadis menelpon gadis itu juga dan meminta maaf atau bahkan memohon agar Hyewon mau pulang kerumah. Jadi Hyewon juga harus menepati janjinya pada Baekhyun dan Chanyeol untuk pulang kerumah.

“Bagian dari skenario yang bagus juga padahal sudah tidak ada orang disini.”

Chanyeol menghembuskan napasnya cepat lalu tersenyum miris. “Well, ini sama sekali bukan skenario,” gumamnya pelan tapi masih bisa didengar oleh Hyewon.

Hyewon tahu betul kalau kata-kata Chanyeol barusan hanyalah lelucon omong kosong saja. Menurut Hyewon, orang seperti Chanyeol tidak akan mungkin jatuh cinta secepat ini, apalagi dia masih memiliki perasaan terhadap ibu tirinya. Pangeran yang memiliki kisah cinta menyedihkan dan juga sulit.

Tapi sebenarnya dia ingin sekali menyatakan kalau dia juga sudah menyayangi Chanyeol. Sedangkan soal pacar itu, dia hanya mengarang cerita sebetulnya.

“sampai bertemu lain waktu tuan putri, terimakasih untuk semuanya.” Ujar Chanyeol sambil membuka kaca mobil sebelum bersiap pamit pada Hyewon.

“Ingatkan aku untuk menagih cerita tentang nyonya Shi Yeon lain waktu.”
Chanyeol tersenyum sebentar, mengingat ia memiliki hutang cerita pada Hyewon, tentu saja ia tidak akan keberatan. Walau ia tahu itu sama saja menggores luka lama. Tapi ini artinya dia akan bertemu Hyewon lagi dengan segera, kan?

Hyewon pamit dan membuka pintu pagar rumahnya. Sudah kelihatan rupa ayahnya yang menanti Hyewon dengan tersenyum dan raut penuh khawatir. Dia berjalan mendekati pria tua itu dan diirngi dengan melesatnya mobil Chanyeol.

Dalam hati dia juga mengucapkan terimakasih pada Chanyeol. Setidaknya pria itu telah membuatnya tidak terlalu stres memikirkan nasib keluarganya.

Begitulah pertemuan singkat yang penuh rasa tidak jelas antara Hyewon dan pangeran yang dianggapnya monster itu. dalam waktu 3 hari, Chanyeol benar-benar mampu membuat Hyewon tidak bisa tidur dan memfokuskan pikiran hanya pada dirinya. Kelihatannya Cinderella telah bertemu pangeran dalam waktu yang sesingkat ini.

Apakah benar setelah ini cerita akan menjadi happily ever after? Seperti bagaimana kehidupan Cinderella setelah bertemu pangerannya.

Tidak tentu saja tidak semudah dan seindah itu. karena ini baru awal cerita, bukanlah sebuah ending. Dan belum tentu pangeran dihadapan Hyewon sekarang benar-benar pangeran. Siapa tahu sesungguhnya dia benar seorang monster. Monster yang lagi menyamar jadi pangeran. Tapi setidaknya Hyewon merasakan perasaan nyaman ketika bersama monster atau pangeran ini. Dan itu sudah lebih dari cukup, setidanya untuknya.

FIN

how whas this? Ini ff lama bangetttt dan cuma mau ngepost something aja. Udah pernah di post di beberapa blog sebelumnya, tenang aja ga ada plagiat2an kok emang nya ujian harus pake nyontek segala /gak.

Tidak ada sequel ya. Sorry im not sorry :ppp

Dan aku bakal sangat menghargai reader yang rajin❤

67 thoughts on “Mask of The Prince

  1. ahh ceritanya seru tapi sayang masa ga ada sequelnya,?? -_-
    alur ceritanya natural bgt GA LEBAY aku suka😀

    si Pangeran Monster yg atu itu emang bener2
    selalu ada tingkahnya🙂

  2. Eeh sumpah udah tamat aja? Aaah ga relaaaaaaa.
    Masa ga boleh mint sequel sih thor.
    Padahal itu endingnya gantung banget ha!
    Btw, Chanyeol sama Hyewon mirip banget sih kisah keluarganya. Cuma lebih miris jadi Chanyeol sih.
    Good story thor 😘

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s