Us | Best Mom and Dad

bmad-post

Tittle : Us | Best Mom and Dad

Auhtor : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Rating : PG-13

Genre : Romance, Marriage-Life, Family

Length : One-Shoot

Note : Do not copycat without my permission. Maybe this FF related to You and I”. Let me introduce our new cast … Byun Chanhee. And enjoy the story!

Hidup itu rentan dengan kesalahpahaman.

***

Kehidupan Minri dan Baekhyun berjalan sebagaimana mestinya. Baekhyun bekerja sebagai pegawai Bank, dan Minri penulis novel. Dia sudah menerbitkan novel perdananya yang berjudul US (kita) dimana pemeran dalam novel itu adalah dia sendiri, suaminya –Baekhyun dan putra tercinta mereka –yang mereka beri nama Chanhee.

Setiap pagi Minri bangun mendapati wajah suaminya yang polos dengan cara tidurnya sangat menggemaskan. Minri bahkan bingung bagaimana bisa Baekhyun semenggemaskan itu sementara dia sudah punya anak. Kemudian, ketika dia asik memandangi wajah suaminya itu, dia diberi ciuman kejut selamat pagi karena sebenarnya Baekhyun telah bangun lebih dulu darinya, tapi tetap membiarkan Minri memandangi wajahnya. Sedikit menyebalkan memang, tertangkap basah memandangi wajah itu. Tapi tak ada hal yang paling membahagiakan selain mendapatkan kecupan selamat pagi yang manis dari Baekhyun –pria yang telah berjanji dengannya untuk hidup bersama sejak mengucap sumpah di atas altar.

Pagi hari adalah saat-saat yang sibuk, dimana Minri harus menyiapkan sarapan untuk tiga orang penghuni apartemen itu. Waktu mengejar-ngejarnya seperti anjing bulldog yang kelaparan. Dia harus lari (dalam artian cepat mengerjakan apapun) kalau tidak ingin membuat semuanya berantakan.

Terkadang dia sebal karena Baekhyun masih minta diurus ini-itu padahal Minri sudah menyiapkan pakaian kerja Baekhyun di atas kasur lengkap dengan dasinya.

“Sayang, tolong, dasiku.” Baekhyun menghampiri Minri di meja makan ketika Minri masih sibuk menyusun roti tawar, selai, susu dan sereal.

Minri mengelap kedua tangannya di apron, lantas menghadapkan tubuhnya pada Baekhyun. Dia sedikit menjinjitkan kakinya agar dengan mudah mengikatkan dasi kerja Baekhyun dengan benar.

Baekhyun menunggu dengan sabar saat Minri masih sibuk dengan dasinya. Kedua tangannya beralih ke pinggang gadis itu, merangkulnya ringan. Kemudian menariknya mendekat. Berada dalam jarak sedekat itu berpotensi membuat Baekhyun memperlambat pekerjaan istrinya.

“Baek, kau harus belajar mengikat dasi sendiri. Aku tidak bisa terus-terusan menghabiskan lima menit berhargaku setiap pagi untuk hal ini,” ucap Minri tanpa mengalihkan pandangannya dari dasi Baekhyun yang tampaknya terlilit. Ada yang salah. Dan Minri harus mengulangnya dari awal. Dia membutuhkan waktu lebih lama dari lima menit.

“Tidak mau. Aku ingin kau saja yang mengikatkan dasiku.”

Baekhyun memandangi wajah Minri. Gadis itu tampak serius. Tidak peduli dengan helaian poninya yang jatuh ke depan. Sesekali keningnya mengernyit, dia bahkan menggigit bibir karena saking seriusnya.

Baekhyun beranggapan wajah itu bisa sangat menggoda, meskipun Minri sama sekali tidak berniat menggoda Baekhyun.

Minri menurunkan tangannya ketika dia selesai dengan pekerjaannya. Baekhyun menghela nafas karena momen berharga itu harus terhenti sampai disitu. Minri bermaksud mendorong Baekhyun menjauh, tapi pria itu bersikeras menahan pinggang Minri.

“Baek–”

Cup!

Dengan kilat Baekhyun mengecup bibir Minri, kemudian menggigitnya dengan gemas. Lantas menyengir. Dia bisa menghentikan protes dari mulut gadis itu hanya dengan mencium bibirnya saja. Karena Minri bukan tipikal gadis yang suka mendebat. Kecuali dalam beberapa hal, misalnya Baekhyun lupa mematikan saluran air.

“Dasar pria,” gumam Minri, lalu berbalik. Dia kembali meneruskan pekerjaannya. Sementara Baekhyun duduk di salah satu kursi kemudian menyomot roti selai stroberinya.

Biasanya, setelah Baekhyun memasuki area dapur, tak lama lagi Chanhee akan–

Eomma, dimana kaos kaki batman-ku?”

–bertanya letak kaos kakinya.

Bocah laki-laki itu telah lengkap dengan seragam sekolahnya. Dia sudah bisa mandiri dalam hal mandi (dan hal detailnya), berpakaian, maupun menyiapkan peralatan sekolahnya. Dia hanya –mungkin lupa, atau tidak mau tahu –rambutnya belum disisir. Rambutnya yang berwarna kecoklatan itu masih lembab sehabis keramas.

Minri tersenyum lantas menghampiri anak itu dan jongkok di depan Chanhee. Minri mencubit pelan pipi Chanhee yang lembut seperti bakpao.

“Sebentar, Honey. Eomma belum selesai menyiapkan bekalmu.” Minri beranjak dari sana, menghampiri meja makan dan memasukkan roti yang sudah berselai coklat ke dalam kotak bekal Chanhee.

“Chanhee-ya, Honey, kau harus bisa mencarinya sendiri. Kau lihat ‘kan ibumu sedang sibuk.” Baekhyun bicara layaknya seorang ayah. Ada rasa geli dalam diri Minri ketika dia mendengar kalimat itu dari bibir Baekhyun. Mestinya dia menerapkan apa yang dia ucapkan, pikir Minri.

“Begitu ya?” dengan wajah yang agak murung anak itu berbalik lantas berjalan kembali kamarnya.

“Tidak, Chanhee. Eomma sudah selesai kok.” Minri mengeraskan sedikit suaranya, menelengkan kepalanya pada Baekhyun dengan wajah geli. “Jangan buat anakmu murung pagi-pagi, Baek. Tidak bagus untuk mood-nya disekolah nanti.”

“Kau tidak sebaik itu padaku,” protes Baekhyun dengan bibir mengerucut.

Minri tertawa pelan. “Astaga Baekhyun! Kau serius cemburu pada anakmu sendiri!” Dengan perut yang masih menggelitik Minri meninggalkan Baekhyun di meja makan. Dia harus mengurus bandit kecil yang satu lagi.

Chanhee berumur 3 tahun, bersekolah di taman kanak-kanak. Anak itu cukup cerdas untuk mengimbangi anak yang lebih tua darinya karena sepertinya dia paling muda disana.

Seperti biasa, setelah suami dan anaknya siap berangkat, Minri harus membenarkan dasi Baekhyun sekali lagi. Dan menyisir rambut Chanhee. Kemudian melayangkan kecupan di pipi Chanhee yang chubby dan lembut. “Belajar yang baik ya.”

Eung!” Chanhee mengangguk, membuat rambutnya yang sudah kering itu bergerak-gerak. Kemudian Minri beralih pada Baekhyun.

“Jaga dirimu, Baek. Jangan lupa jemput Chanhee jam 11.” Minri baru akan mencium Baekhyun dibagian yang sama seperti Chanhee tapi Baekhyun menunjuk bibirnya.

“Here, lady.”

“Chanhee sedang melihati kita, Baek.”

Baekhyun menurunkan pandangannya, ke tempat Chanhee berdiri sekarang. Anak itu mendongak dan mengerjap polos. Terlalu penasaran dengan apa yang dilakukan ayah dan ibunya. Mendengarkan percakapan orang dewasa yang tidak terlalu dimengerti olehnya.

“Dia pasti suka kalau ayah dan ibunya selalu mesra.” Baekhyun mengangkat alisnya. Dia mengulur waktu. Padahal sudah waktunya dia dan Chanhee berangkat sekarang. Ugh, mereka bisa terlambat.

Minri mendekatkan wajahnya, kemudian mengecup keras bibir Baekhyun. “Masih sempat saja berargumen,” gumam Minri.

“Thanks.” Baekhyun tersenyum penuh kemenangan, kemudian menuntun Chanhee menuju pintu keluar.

Annyeong, Eomma…

Chanhee melambai senang, sepanjang koridor. Minri melihati mereka berdua. Tersenyum simpul, memperhatikan cara berjalan mereka berdua yang nyaris sama. Kemudian kembali ke dalam setelah kedua sosok itu menghilang di belokan jalan.

Keadaan pagi hari di apartemen keluarga Byun normal seperti keluarga lainnya. Kecuali tambahan beberapa masalah yang masih bisa mereka atasi.

***

Matahari sudah berada di tengah langit Seoul. Dan kesibukan kota itu tampak kentara. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Begitu pula dengan Minri yang sibuk dengan penyusunan novel keduanya.

Dia duduk di sofa, di temani cappuccino ice yang dibelinya di pertigaan jalan, tidak jauh dari letak apartemennya dan beberapa makanan ringan yang ada dalam lemari penyimpanan–makanan wajib yang harus dibeli ketika pergi belanja untuk keperluan bulanan.

Dengan statusnya sebagai seorang ibu dan istri, pekerjaannya tidak hanya itu. Dia telah membersihkan rumah, mencuci baju dan memasak –walau masakannya tidak seenak restoran terkenal buatan chef ternama. Tapi setidaknya dia sudah berusaha sebaik-baiknya.

Bel apartemen berbunyi, membuat Minri menelengkan kepalanya pada pintu. Baekhyun tidak mungkin bersusah payah menekan bel karena dia sudah tahu kode rahasia dari apartemen mereka. Tapi hal itu mungkin saja terjadi karena terkadang pria itu iseng menekan bel.

Minri melirik jam dinding. Waktunya Chanhee pulang, pikirnya.

Dia menghampiri pintu kemudian membukakannya. Seorang pegawai apartemen beserta seorang anak kecil berdiri di depan pintu. Tuan Kim dan Chanhee. Mereka bergandengan tangan.

Eomma!!” seru Chanhee lantas memeluk kaki Minri.

“Terimakasih mengantar Chanhee kesini, Tuan Kim.” Minri membungkukkan badannya.

“Jangan sungkan, Nak.” Tuan Kim tersenyum, kemudian berlalu.

Tuan Kim adalah pegawai apartemen yang baik dan juga ramah. Tuan Kim berumur sekitar tiga puluh lima-an dengan figur wajah yang cukup menarik. Dia sedang berpatroli. Berkeliling gedung apartemen yang Minri tinggali, memastikan bahwa tidak ada hal mencurigakan yang bisa saja mengganggu penghuni apartemen.

Baekhyun menjemput Chanhee dari sekolahnya lalu mengantarkan anak itu kembali ke tempat tinggal mereka. Baekhyun tidak bisa mengantar Chanhee sampai depan apartemen karena dia pasti akan repot memarkirkan mobil lalu naik lift, lalu kembali lagi ke kantor.

Meskipun begitu, Minri tidak perlu khawatir. Ada Tuan Kim yang bersedia dengan senang hati mengantarkan Chanhee sampai depan pintu apartemen mereka.

Setelah menutup pintu, Minri mengambil alih tas punggung Chanhee. Sementara anak itu duduk di lantai untuk melepaskan sepatunya.

“Chanhee, sepatunya,” tegur Minri saat Chanhee meninggalkan sepatunya begitu saja di samping rak.

Anak itu menyengir, menampakkan susunan gigi susunya yang rapi. Kalau sudah seperti itu, Chanhee sangat mirip dengan Baekhyun. “Maaf,” ucap Chanhee lalu mengambil sepatunya dan meletakkannya di rak.

Minri bukanlah gadis yang rapi, dulu dia suka sembarangan meletakkan sepatu dan tasnya saat pulang kuliah. Tapi sekarang, tidak boleh. Dia harus menerapkan kedisiplinan dan kerapian pada anaknya sejak kecil. Kebiasaan buruknya sama sekali tidak boleh menurun pada Chanhee.

“Bagaimana sekolahnya?” tanya Minri pada Chanhee yang sedang membuka kancing bajunya. Dan Minri membantu anak itu. wajahnya tampak lelah, jadi sebaiknya Chanhee segera mengganti bajunya, mempersilakannya makan agar kemudian anak itu bisa istirahat.

“Seru sekali! Bu guru mengajarkan kami membuat pesawat dari kertas. Lalu menerbangkannya dalam kelas. Seru dan ribut.” Chanhee tertawa pelan. “Pesawatku beberapa kali mendarat di kepala Jessy si rambut merah.” Kali ini tawanya terdengar lebih keras.

“Chanhee tidak bermaksud mengerjai gadis kecil itu ‘kan?” Minri memegangi seragam Chanhee, sekarang anak itu hanya memakai singlet.

“Tidak kok. Tapi wajahnya lucu kalau sedang melotot.”

“Ya sudah, Chanhee cuci tangan dulu setelah itu pergi ke meja makan.” Minri mengacak pelan rambut Chanhee yang agak berkeringat.

Anak itu menurut, melakukan apa yang diinteruksikan Minri. Minri tidak bisa menahan senyuman di bibirnya melihat Chanhee dengan langkah mungilnya berjalan menuju tempat cuci tangan setelah itu duduk di meja makan.

Dia benar-benar menggemaskan!

***

“Aku pulaaang!!”

Appa!!” Chanhee melepaskan mainan puzzle-nya dari tangan ketika mendengar suara Baekhyun dari pintu depan. Kakinya tidak sengaja tersandung puzzle yang sudah tersusun setengah, membuat puzzle itu berantakan. Tapi tampaknya dia tidak peduli, dia bisa menyusunnya lagi bersama ayah dan ibunya nanti.

Minri berdiri dan menyambut tas kerja Baekhyun sementara pria itu melepaskan sepatunya sambil berdiri.

Appa, tadi Chanhee membuat pesawat kertas di sekolah.” Mata Chanhee tampak berkilat antusias saat menceritakan hal itu pada ayahnya. Anak itu memang suka menceritakan kejadian yang menurutnya menarik.

“Benarkah? Wah! Pesawat Chanhee pasti terbang paling tinggi,” komentar Baekhyun sembari merangkul anak itu dan membawanya ke ruang tengah.

“Pesawatku tidak terbang jauh lebih tinggi dari punya Jonghwa, Ayah.” Anak itu menggembungkan pipinya membuat Baekhyun gemas hingga dia mencubit pelan pipi Chanhee.

“Tidak apa-apa Chanhee, nanti ayah ajarkan membuat pesawat yang bisa terbang lebih tinggi dari punya Jonghwa, bagaimana?”

Call!” wajah Chanhee kembali cerah, dan dengan langkah riang dia kembali menghampiri mainan puzzle-nya.

“Tapi ayah,” Chanhee membalikkan badannya. ”Pesawatku bisa mendarat di kepala Jessy, pesawat Jonghwa tidak.” Kemudian fokus kembali pada mainannya.

“Siapa Jessy?” tanya Baekhyun pada Minri yang sedang membantunya melepaskan jas kerjanya.

“Jessy –gadis kecil berambut kemerahan. Sejak tadi siang, anakmu terus menceritakan gadis itu. Dia bilang Jessy lucu sekali, apalagi saat kesal.”

Minri dan Baekhyun berjalan beriringan menuju kamar.

“Chanhee tidak sedang menyukai gadis bernama Jessy itu ‘kan?” tanya Baekhyun dengan konyolnya, membuat Minri memukul lengan Baekhyun dengan pelan.

“Ya! Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu pada anak yang baru berumur tiga tahun.”

“Mungkin saja,” jawab Baekhyun lalu mencium pipi Minri dengan tiba-tiba kemudian berlari lebih dulu menuju kamar mereka sebelum Minri sempat mengomel lagi.

 

Malam hari adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Melepaskan penat karena aktivitas siang hari yang cukup melelahkan.

Di keluarga Byun, setelah makan malam bersama, mereka memutuskan untuk bersantai di ruang tengah. Menonton televisi dan makan snack.

Chanhee tampak sibuk dengan buku kosakatanya. Buku penuh gambar yang berwarna-warni dan kosakata asing berbahasa inggris. Setiap hari minggu, Baekhyun selalu mengajak Chanhee ke toko buku dan membelikannya buku kosakata keluaran terbaru. Dan jika Chanhee berhasil mempelajari minimal lima kata per minggu maka Baekhyun berjanji membelikan anak itu es krim. Baekhyun sangat menyayangi Chanhee, meskipun terkadang sebal karena perhatian istrinya lebih terfokus pada anak itu daripada Baekhyun.

Baekhyun berbaring di sofa dengan menjadikan paha Minri sebagai bantalnya. Dia tidak peduli meskipun Minri protes karena geli.

“Baek, apa menurutmu Chanhee punya teman yang dekat? Dia tidak pernah mengajak temannya ke rumah. Chanhee tampak kesepian.” Minri berkata dengan pelan agar hanya dia dan Baekhyun yang dapat mendengarnya. Dia menunduk menatap Baekhyun.

“Chanhee pasti punya teman. Eh, mengapa kau tidak menanyakan padanya langsung?”

“Baiklah, nanti kutanyakan padanya.” Minri kembali menyomot kentang goreng di depannya dan mengunyah dengan cepat.

“Aku punya cara agar Chanhee tidak kesepian lagi.” Minri kembali menatap Baekhyun dengan kening berkerut.

“Apa itu?” tanya Minri penasaran.

Baekhyun mendekatkan wajahnya pada perut Minri, lalu menciumnya dengan gemas. Dia juga meletakkan sebelah tangannya di sana.

“Membuatkan Chanhee adik.” Baekhyun tertawa renyah, sementara Minri merapatkan rahangnya dengan wajah yang merona merah.

Minri memukulkan bantal sofa ke wajah Baekhyun yang tampak menyebalkan. Baekhyun sudah biasa menerima serangan macam itu dari Minri, hingga ia hanya tertawa lantas bangkit dari kegiatan berbaringnya.

Dia menahan tangan Minri lalu menurunkan bantal dari tangan gadis itu. Baekhyun mendekatkan wajahnya, sementara Minri mencoba menghindar. Dia tahu apa yang akan dilakukan Baekhyun padanya.

Appa, Eomma,” suara Chanhee refleks membuat Minri mendorong Baekhyun membuat pria itu hampir saja terjatuh dari sofa. “Chanhee mengantuk.”

Call! Saatnya tidur.”

Minri bangkit dari sofa lalu menghampiri Chanhee. Dia menuntun anak itu menuju kamar.

“Tidur, sleep. Benar ‘kan Eomma?” tanya Chanhee ketika mereka baru berjalan dua langkah. Dia mendongak pada Minri, lalu Minri mengacak rambut anak itu.

“Benar sekali.”

Sebelum mereka tiba di kamar Chanhee, Minri sempat menelengkan kepalanya pada Baekhyun yang hanya menatapnya datar dari sofa –Baekhyun gagal mencium Minri. Minri menjulurkan lidahnya sesaat, merasa menang.

Well, kalian boleh menyebut mereka pasangan teraneh abad ini.

Buat apa Baekhyun marah padahal dia bisa melakukannya lain kali. Dia bahkan berhak melakukan lebih dari sekedar ciuman.

Setelah mengantarkan Chanhee ke kamarnya, menyimutinya dan melayangkan kecupan selamat malam di dahinya Minri kembali ke ruang tengah. Duduk di samping Baekhyun tanpa rasa bersalah.

“Urusan kita belum selesai,” ucap Baekhyun sembari menghadap Minri.

“Hey Tuan, aku tidak punya urusan apapun dengan–YAH!”

Minri menjerit saat Baekhyun mendorong tubuhnya di sofa. Menahan kedua bahunya dengan tangan.

“Stt! Kau bisa membangunkan Chanhee,” ucap Baekhyun dengan telunjuk di bibir.

“Salahmu tau.” Kali ini Baekhyun membiarkan Minri bangun bahkan sebelum Baekhyun sempat melakukan apapun. Tapi, Baekhyun segera memutus jarak di antara mereka dengan memeluk bahu Minri.

Baekhyun meletakkan dagunya di bahu Minri, lalu menunduk menciumi bahu itu. Minri tidak bicara apapun. Dia membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun.

Mereka tahu, dengan cara begitu mereka bisa mendapatkan kenyamanan masing-masing. Karena pelukan hangat itu membuat semua aktivitas melelahkan terbayar, karena pelukan itu memberikan kekuatan seperti magis.

“Terimakasih selalu ada untukku, Minri.” Ucap Baekhyun.

“Kau juga.”

Malam itu ditutup dengan sebuah kecupan hangat dan ucapan selamat malam sebelum memasuki alam mimpi. Bersiap menghadapi besok hari yang mungkin lebih melelahkan juga penuh kejutan.

***

Kehidupan Minri dan Baekhyun berjalan sebagaimana mestinya. Baekhyun bekerja sebagai pegawai Bank, dan Minri penulis novel. Dia sudah menerbitkan novel perdananya yang berjudul US (kita) dimana pemeran dalam novel itu adalah dia sendiri, suaminya –Baekhyun dan putra tercinta mereka –yang mereka beri nama Chanhee.

Hari-hari berjalan seperti peluru, berlalu cepat dan tidak bisa dibelokkan.

Keluarga Byun melakukan rutinitas seperti biasa. Pagi hari, Minri menyiapkan sarapan sementara Baekhyun duduk di meja makan. Terkadang dia mengganggu Minri. Tapi itu adalah hal biasa.

Yang menjadi tidak biasa adalah ketika Chanhee belum juga keluar dari kamarnya. Dia terlambat dari biasanya.

“Chanhee, Honey, kau sudah bangun ‘kan?” seru Minri dari dapur. Tapi sama sekali tidak ada jawaban dari kamar Chanhee.

“Tidak biasanya dia terlambat,” ucap Baekhyun saat dia selesai dengan sarapannya.

“Pasti terjadi sesuatu.”

Minri melepaskan apron dan meletakkan sendok serta garpu makannya. Dia berjalan cepat menuju kamar Chanhee. Perlahan dia membuka pintu kamar itu. Keadaanya masih temaram karena gorden belum di buka.

Minri membuka gordennya terlebih dahulu sebelum menghampiri Chanhee yang masih berbaring di kasurnya dengan selimut sampai bahu dan posisi menghadap tembok.

“Chanhee-ya, ireonayo… kau tidak mau terlambat ke sekolah kan?” Minri menghampiri Chanhee. Perlahan anak itu berbalik. Wajahnya tampak mengantuk. Dan keringat membasahi keningnya.

“Astaga Channie, apa yang terjadi?” Minri menyapu keringat di kening anak itu. Dia merasakan suhu tubuh Chanhee di atas normal di bawah telapak tangannya.

“Chanhee tidak bisa bangun, Eomma… bisakah Eomma bilang pada bu guru kalau Chanhee tidak bisa ke sekolah hari ini.”

“Jangan khawatir tentang hal itu. Tunggu sebentar.” Minri bergegas keluar dari kamar itu kemudian berjalan cepat menuju dapur. Dia mengambil baskom aluminuim, menuang air hangat. Dia tampak kerepotan.

“Ada apa Minri?” tanya Baekhyun lantas berdiri, mendadak merasakan ada hal yang tidak beres.

“Chanhee –dia, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Coba kau lihat.” Minri membawa baskom itu ke dalam kamar. Baekhyun mengekor di belakangnya.

Minri mengambil handuk dari dalam lemari. Lalu kembali menghampiri Chanhee di kasurnya. Dia meletakkan baskomnya di atas nakas –setelah sebelumnya menyampingkan semua benda yang ada disana. Minri merendam handuk itu sebentar dalam baskom lalu meletakkannya di dahi Chanhee.

“Baek, kau tidak berangkat kerja?” tanya Minri pada Baekhyun yang berdiri diam di sampingnya.

“Maafkan aku.”

Minri menelengkan kepalanya pada Baekhyun. Tidak ada angin, apalagi hujan, tiba-tiba saja Baekhyun minta maaf padanya. Ini aneh.

“Minta maaf pada atasanmu nanti Baek, karena kau mungkin sudah terlambat.” Minri kembali merendam handuk itu lalu memerasnya.

“Chanhee sakit karena aku.”

Kali ini Minri membiarkan handuk lembab itu di dahi Chanhee. Anak itu memejamkan matanya dengan dahi berkerut. Terserang demam memang rasanya sungguh tidak enak.

Minri berbalik sepenuhnya menghadap Baekhyun.

“Apa maksudmu?”

“Kemarin,” Baekhyun melirik Chanhee sesaat, “aku terlambat menjemputnya.”

“Aku tidak di rumah kemarin. Aku ke rumah Eomma.” Minri menurunkan pandangannya. Pikirannya menerawang. Dia kira semuanya berjalan seperti biasa. Minri tahu, Chanhee adalah anak yang penurut. Jika dia diperingatkan untuk tidak kemana-mana sebelum Baekhyun menjemputnya, maka dia akan melakukannya. “Berapa lama dia menunggu?”

“Aku tidak yakin, mungkin… tiga jam.”

“Ya Tuhan, Baekhyun! Kau tega membiarkan anakmu menunggu selama itu? Apa yang kau lakukan?!” Minri meninggikan suaranya, membuat Chanhee terusik lantas bergerak gelisah.

“Aku minta maaf… Sungguh, aku tidak bermaksud–” Baekhyun memegang satu tangan Minri, tapi gadis itu buru-buru menepisnya.

“Minta maaflah pada Chanhee!!”

Eomma…” Minri mendengar suara lirih yang familiar memanggilnya. Menghentikan, atau setidaknya menunda emosi Minri yang memuncak.

“Ya Chanhee, Eomma disini.” Minri melirik Baekhyun di belakang bahunya. Dia akan membicarakan hal ini lain kali, pikirnya. Ada hal yang lebih penting yang harus diurusnya. “Pergilah Baek, lebih baik kau bekerja.”

“Aku minta maaf…” Samar-samar Minri mendengar langkah kaki yang semakin menjauh, kemudian menghilang. Gadis itu memejamkan matanya kemudian menghela nafas. Apa dia sudah bersikap keterlaluan, pikirnya. Dia membalikkan badannya, dan Baekhyun sudah tidak ada disana.

 

Dengan segala upaya yang dilakukan Minri, akhirnya suhu tubuh Chanhee menurun, meskipun anak itu belum pulih sepenuhnya tapi dia bisa bernafas sedikit lebih lega.

Tapi, perang dingin antara Minri dan Baekhyun masih berlanjut. Bahkan ketika Baekhyun tiba di apartemen tempat tinggalnya setelah dia pulang bekerja. Tidak ada sambutan selamat datang. Tidak ada senyum dari wajah Minri. Mereka sama sekali tidak bicara.

Baekhyun makan makanan yang sudah Minri sediakan di meja makan. Dia makan sendirian. Baekhyun tahu bagaimana kekhawatiran Minri pada Chanhee. Tapi, mestinya gadis itu tahu bahwa Baekhyun juga merasakan kekhawatiran yang sama!

Baekhyun mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian masuk ke dalam kamar Chanhee. Disana ada Minri, duduk di tepi kasur Chanhee dengan sebuah buku di tangannya.

Minri melirik ke arah pintu. Dia bicara pada Chanhee sebentar, lalu mencium pipi anak itu. kemudian, beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju pintu, Baekhyun pikir Minri akan menghampirinya, tapi ternyata, gadis itu hanya melewatinya tanpa kontak mata, tanpa sepatah kata.

Baekhyun segera menahan tangan Minri, mengharuskan gadis itu menghentikan langkahnya.

“Kita harus bicara,” ucap Baekhyun.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan.” Minri berusaha melepaskan tangannya dari Baekhyun.

“Aku mohon.”

“Baik. Sebaiknya kita keluar dari sini dulu.” Baru selangkah kaki Minri keluar pintu, dia mendengar isak tangis dari Chanhee, membuatnya panik sekaligus bingung. Baekhyun merespon dengan cara yang tidak jauh berbeda.

Mereka berdua bersama-sama menghampiri Chanhee.

“Ada apa Honey, mana yang sakit?” Minri meletakkan punggung tangannya di dahi Chanhee. Demamnya sudah benar-benar turun. Dan setahunya tadi Chanhee sudah bisa tertawa. Mengapa sekarang tiba-tiba dia menangis?

Chanhee menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bibirnya melengkung ke bawah. Anak itu tidak bicara apapun, membuat Minri semakin bingung.

“Chanhee,” Baekhyun memanggil anak itu. Dia mendongak, menatap ayah dan ibunya secara bergantian.

Eomma dan Appa bertengkar karena Chanhee… Chanhee tidak ingin kalian bertengkar…”

Minri dan Baekhyun saling memandang sesaat.

“Kami tidak bertengkar,” ucap Minri sembari tersenyum.

“Tapi, Eomma tidak bicara pada Appa, Eomma tidak tersenyum pada Appa.”

“Baik, sekarang begini.” Baekhyun duduk di samping Minri. Dia mengusap kepala Chanhee. “Chanhee harus segera sembuh. Maka Eomma dan Appa tidak akan bertengkar lagi.”

“Chanhee sudah sembuh kok,” ucap Chanhee lantas duduk tegap di kasurnya. Dia mengangkat kedua lengannya seperti para atlit angkat barbell biasanya.

“Bagus. Karena Chanhee sudah sembuh, Appa punya sesuatu untuk Chanhee. Tunggu sebentar.”

Minri melihati Baekhyun sampai pria itu keluar dari kamar Chanhee. Mungkin sudah saatnya dia memaafkan Baekhyun. Dia tidak perlu marah terlalu lama dengan pria itu. Dia bahkan belum mendengar alasan Baekhyun mengapa dia terlambat menjemput Chanhee.

Baekhyun kembali ke dalam ruangan itu dengan membawa sebuah kotak besar yang Minri ketahui sebaga kotak yang berisi mainan.

“Woaah! Seperangkat mainan agen rahasia!” Mata Chanhee tampak berbinar melihat mainan yang dibawa Baekhyun. Dan Minri tidak bisa menahan senyumannya melihat anak itu sebegitu bahagianya.

“Maafkan Appa, ya?” Baekhyun mengusap kepala Chanhee yang sedang berusaha membuka mainan barunya. “Kita akan bermain bersama setelah Chanhee benar-benar pulih.”

Minri tersadar sesuatu. Seingat Minri, Baekhyun tidak pernah melihat Baekhyun membelikan mainan itu untuk Chanhee. Itu berarti Baekhyun membelinya beberapa hari yang lalu atau mungkin kemarin? Ya Tuhan! Minri menjerit dalam hati.

“Baek, apa ini alasan mengapa kau terlambat menjemput Chanhee?”

Baekhyun menghadapkan tubuhnya pada Minri lantas tersenyum. “Konyol bukan? Aku lebih mementingkan mainan ini daripada Chanhee. Aku memang bodoh.”

“Tidak.” Minri melompat ke tubuh Baekhyun. Dia memeluk pria itu dengan erat dan nyaris menjatuhkan air matanya. “Kau pasti mementingkan Chanhee. Kita tahu Chanhee ingin mainan ini sudah cukup lama, tapi kau tidak punya waktu untuk antri membelinya. Maafkan aku.”

Baekhyun membalas pelukan itu. Dengan perasaan nyaman yang tidak tergantikan.

“Yeyy!! Akhirnya!” Minri melepaskan pelukannya setelah tersadar bahwa mereka masih berada di kamar Chanhee. Dengan segera Minri menyapu air matanya yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk mata.

Chanhee menyelip di antara Minri dan Baekhyun. Dia merangkul ayah dan ibunya kemudian mencium pipi mereka satu per satu.

Tawa memenuhi ruangan itu. Atmosfer-pun menghangat.

“Chanhee boleh minta sesuatu tidak?” tanya Chanhee saat Minri merapikan selimut yang membungkus tubuhnya. Baekhyun masih ada disana. Mereka menghabiskan waktu sebelum jam tidur dengan bermain tebak kata.

“Apa itu?” tanya Minri.

“Jessy baru saja punya adik yang lucu. Dia menunjukkan fotonya padaku di layar smartphone-nya. Jadi, apakah Chanhee juga boleh punya adik lucu seperti adik Jessy.”

Minri mengerjapkan matanya pelan, kemudian mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. Pria itu tersenyum, atau mungkin nyaris tertawa. Merasa menang karena ide dari dalam kepalanya ternyata juga tertanam di kepala Chanhee meski dengan cara berbeda.

“Chanhee bisa mendapatkan adik lucu. Tunggu saja,” jawab Baekhyun sekenanya. Tanpa mempedulikan Minri yang kehabisan kata-kata.

Minri mematikan lampu di kamar Chanhee setelah dia memberikan kecupan selamat malam pada bandit kecilnya itu. Lantas menutup pintu.

Baekhyun mengangkat tubuh Minri dengan tiba-tiba membuat gadis itu menjerit tertahan.

“Kau sudah mendiamkanku seharian. Aku merindukanmu tahu tidak.” Baekhyun menggembungkan pipinya. Heol, apa dia ingin bersikap seperti Chanhee yang sedang merajuk.

Arraseo… turunkan aku dulu.”

“Shireo,” Baekhyun berjalan menuju ruang pribadi milik mereka berdua.

“Aku berat.”

“Sama sekali tidak.”

“Baek–”

Baekhyun mencium bibir gadis itu dengan tiba-tiba, tanpa perlu menurunkan tubuhnya.

“Diam saja lah. Aku belum bilang bahwa aku memaafkanmu ‘kan?”

“Hah? Tapi kau juga salah Baekhyun.”

“Baik, kita impas.”

“Sekarang turunkan aku.”

“Tidak.”

Mungkin Minri tidak perlu memaksa Baekhyun menurunkannya. Tapi Minri perlu memaksa Baekhyun memaafkannya. Minri melingkarkan tangannya di leher Baekhyun, lalu mencium pipinya lama. Sedikit mengejutkan bagi Baekhyun.

“Wow, apa itu sebuah sogokan?” Baekhyun mengangkat satu alisnya.

“Kalau kau memang menyebutnya seperti itu, ya. Maafkan aku,” ucap Minri, menyampingkan semua rasa gengsinya. Dalam hal ini dialah yang bersalah. Dia sudah menuduh Baekhyun menelantarkan Chanhee tanpa tahu alasan yang sebenarnya.

Perlahan Baekhyun menurunkan Minri. Dia memegang kedua bahu gadis itu sebelum menenggelamkannya ke dalam sebuah pelukan hangat.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Aku tahu, kau sebegitu marahnya padaku karena kau menyayangi Chanhee.”

“Aku mencintaimu, aku mencintai kalian berdua.”

“Kita tahu, akupun begitu. Kalian adalah hidupku.”

Hidup itu rentan dengan kesalahpahaman. Kau hanya harus melakukan satu hal. Redam emosimu, lalu dengarkan dia.

***End***

Let meets our Chanhee

chanhee

cute isn’t? kkkk

——————————————-

IGEON OVERDOSE!! OVERDOSE!! /masih ngena euphoria overdose/

COMEBACK CHUKKAHAMNIDA OUR BOYS :*

Anggap saja aku lagi berbaik hati karena tiba-tiba dapet ide ginian. Aku dapat ide ini 2 hari yang lalu. TRUS, gegara liat dan denger overdose, ideku berasa berkembang dan akhirnya terciptalah ff macam ini. Hahaha. Gimana?

Maaf yak kalau ada typo.

Ah!! Yang pasti aku bahagia banget ketika video practice overdose tersebar!! Baekhyun ganteng banget T__T dan begitu menggoda pake acara tarik-tarik kamera(?) dengan penuh perjuangan donlot video itu akhirnya dapet.

ARHHHGHH POKONYA GITU DEH!!

MDA nya masih dalam proses ya. Makasih yang nunggu.

Okai!! Aku mau menikmati ke-overdose-an aku akan wajah, suara dan sosok BAEKHYUN!!

Bye, mwah! Komen? ^o^

© Charismagirl, 2014.

316 thoughts on “Us | Best Mom and Dad

  1. Eonnni boleh minta sesuatu ngga? Buatkan ff chanhee waktu masih kecil/bayi deh… kan udah ada tuh ff waktu richan masih bayi yg judul ffnya Super Daddy , jadi kali ini buatkan ff chanhre waktu masih kecil…. pleasee….”Maksa” plak***** kena tamparan
    1 ff aja

  2. Uwahh seneng banget sama keluarga byun ini, sweet abis eon. Gemes sama chanhee. Sumpah eon kalo baca bagian baekri-mereja berdua- greget sendiri entahlah romancenya dapt banget. Semangat buat eonni!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s