That Girl is You

kim Jongin-1

That Girl is You.

Author : Charismagirl

Cast :

  • Kim Jongin
  • Park In Hwa

Genre : Romance, fluff

Length : Drabble <1000 W

Rating : Teen

Note : Do not copycat without my permission. Just enjoy this short story!

Apa sebegitu sulitnya memahami ucapan Jongin?

***

Mempunyai teman atau sahabat semacam Kim Jongin tidak selalu menyenangkan. Apalagi pada kenyataanya kau menganggap Jongin lebih dari itu.

Kim Jongin mempunyai bentuk tubuh yang bagus, atletis, seksi, wajahnya tampan (tentu saja!). Dia populer, punya banyak penggemar dan dikagumi para gadis di kampusnya.

Kenyataan-kenyataan itu membuat In Hwa mendekam di kamarnya, memutuskan untuk tidak pergi ke kampus. Ini adalah kejadian langka sepajang sejarah hidup In Hwa karena dia telah membolos dari kuliahnya karena sebuah alasan konyol.

Menghindari Jongin dan para penggemarnya yang berisik.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh. In Hwa memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ini sudah terlambat. Sangat terlambat untuk dikatakan sebagai bangun pagi. Dengan langkah gontai dia menuju kamar mandi kemudian melakukan rutinitas paginya.

Lima menit kemudian dia keluar dari sana dengan wajah segar, lengkap dengan pakaian barunya. Tapi tidak bisa menutupi bayangan hitam di bawah matanya. Dia tidak bisa tidur tadi malam, karena memikirkan Kim Jongin!

Desas-desus yang mengatakan bahwa Jongin akan mengencani seorang gadis membuat In Hwa terkejut. Mestinya laki-laki itu menceritakan padanya bahwa dia sudah punya seseorang yang disukainya.

Agar In Hwa bisa melupakan perasaannya pada Kim Jongin dengan segera.

In Hwa memukul kepalanya pelan. Tidak seharusnya seorang sahabat menyukai sahabatnya sendiri. Dia akan menghancurkan hubungan persahabatan mereka berdua yang sudah cukup lama terjalin.

Mata coklatnya tiba-tiba melirik tajam ke arah pintu dan mendapati seorang yang ada dalam pikirannya berdiri menyender di sisi pintu dengan tangan bersedekap di dada. Terlihat sangat keren dengan kemeja hitam dan celana jins yang senada.

Sialan Jongin! In Hwa merutuk.

Dia yang berdiri di depan pintu kamarnya pasti hanyalah ilusi, In Hwa meyakinkan dirinya. Tapi sosok itu tampak terlalu nyata untuk disebut ilusi. Ini aneh.

Bantal, guling dan boneka rilakuma miliknya dia lemparkan bersamaan, tanpa rasa bersalah ke depan pintu kamarnya dimana Jongin –yang In Hwa pikir hanya khayalannya –sedang berdiri. Dia sebal. Disaat berusaha menghilangkan Jongin dipikirannya, sosok itu malah muncul.

“Aww! Sambutan macam apa itu?!” Jongin menepis semua serangan tiba-tiba dari gadis di depannya, membuat bantal, guling dan boneka rilakumanya teronggok tidak berguna di atas lantai.

“HAH JONGIN? ITU BENAR KAU?”

“Ya. Dan kau melempariku dengan bantal.” Jongin masuk ke dalam kamar gadis itu tanpa menghiraukan tatapan tajamnya yang seolah berkata –darimana kau datang dan berani beraninya kau masuk ke dalam kamarku!!

“Kupikir, kau hanya ilusi.” In Hwa mengikuti arah pandangannya pada tubuh Jongin yang kian mendekat.

“Apa itu berarti kau sedang memikirkanku?” Sebuah smirk terpatri di wajah tampannya.

“Ha –apa?” In Hwa melirik jam dindingnya dengan ekor mata. Dia harus melakukan sesuatu, pikirnya. Kemudian mendorong Jongin ke pintu kamar. “Ini masih jam sepuluh. Mestinya kau berada di kampus.”

Pemuda itu hanya mendengus.

“Itu yang harusnya aku katakan padamu. Kenapa kau tidak ke kampus hari ini?” Jongin bukanlah tandingan bagi In Hwa –gadis itu tidak akan kuat mendorong Jongin sampai keluar kamarnya.

Dengan mudahnya Jongin berbalik lalu mendorong In Hwa kembali ke dalam kamarnya. Dan pemuda itu juga menutup pintu kamar, membuat In Hwa melongo. Apa-apaan!

“Apa yang kau lakukan!”

Jongin melangkah menghampiri In Hwa, memegang kedua bahunya kemudian mendorong gadis itu perlahan hingga kakinya menyentuh tepi ranjang. Dan memaksa gadis itu duduk.

“Baik. Sekarang ceritakan padaku. Ada apa denganmu?” Jongin duduk di samping In Hwa dengan posisi menghadap gadis itu.

“Aku hanya bersantai dalam kamarku sebelum kau datang lalu merusak suasana liburanku.”

“Liburan apa maksudmu? Kau membolos In Hwa!”

Jongin melirik tumpukan buku yang ada di meja belajar In Hwa, juga susunan piagam penghargaan yang tergantung di dinding-dinding kamarnya. Gadis itu mestinya malu pada piagam itu. Gadis cerdas macam dirinya tidak mungkin membolos –ada atau tanpa alasan sekalipun.

“Oh, baik. Kau ingin aku cerita padamu?”

In Hwa bangkit dari duduknya lalu berjalan mondar mandir seperti setrika panas. Dia sedang mengetuk-ngetuk ujung dagunya sambil sesekali mendongak. Dan Jongin dengan sabar dan penasaran menunggu apa yang akan dia katakan.

“Kupingku sakit.” In Hwa berhenti berjalan. Lalu menelengkan kepalanya.

“Kau bisa pergi ke dokter,” ucap Jongin dengan wajah datar.

“Bukan itu!” In Hwa menjerit, lantas kembali mondar-mandir membuat Jongin pusing dan mengambil tindakan untuk menghentikan gadis itu. Jongin berdiri di depan In Hwa dengan kedua tangan mengunci bahu gadis itu.

“Ada apa sebenarnya??” Jongin tampak gemas.

“Begini, salahkan penggemarmu yang terus-terusan membicarakan tentangmu.”

“Aku kenapa memangnya?” Jongin mengerutkan keningnya.

“Kau bodoh atau apa sih!” In Hwa menepis tangan Jongin yang ada di bahunya lalu berbalik, mengambil beberapa langkah jarak dari tempat Jongin berdiri. “Mereka bilang kau akan mengencani seorang gadis.”

“Lalu?” Pemuda itu diam-diam mengambil langkah untuk mendekat.

“Mereka terus membicarakanmu dan itu membuat kupingku sakit!!”

“Kau merasa terganggu karena mereka terus membicarakanku atau terganggu karena hal yang mereka bicarakan?”

“Keduanya!” In Hwa berbalik, lantas terkesiap saat Jongin tepat berada di hadapannya. “Eh –sejak kapan kau berdiri disini.”

Well, mari kita luruskan semua ini.” Mengabaikan pernyataan In Hwa yang kedua, Jongin mengambil satu langkah ke depan membuat mereka semakin dekat. “Mestinya kau bisa mengabaikan apa yang mereka bicarakan tentangku, kau kan temanku.”

“Bagi teman biasa memang harusnya bisa begitu. Tapi bagi orang yang menyukaimu tidak akan semudah itu!!”

“Kau menyukaiku?” tanya Jongin langsung menohok. Seketika membuat In Hwa ingin mengubur diri ke pegunungan Himalaya.

Kacau. In Hwa merasa kacau dengan apa yang baru saja dikatakannya. Dia kelepasan.

“Maksudku, maksudku, kau tidak menceritakan padaku bahwa kau akan mengencani seorang gadis. Kau bilang kita teman.” Menghela nafas sedikit memberi ketenangan.

“Mana mungkin aku menceritakan gadis yang akan aku kencani pada gadis itu sendiri.”

“Hah?” melongo seperti orang bodoh begini mestinya tidak dilakukannya karena jika dia melakukannya mestinya dia menyusun piagam penghargaan olimpiadenya dan memasukannya ke dalam gudang. Piagam itu tidak ada gunanya karena dia mendadak bodoh dengan pernyataan Jongin barusan.

“Kalau kau ingin tahu siapa gadis yang akan aku kencani, maka kau harus membawakan cermin padaku.”

“Apakah kau akan melakukan sebuah sulap lalu membuat gadis yang kau maksud keluar dari cermin?”

Jongin memegang lehernya. Mendadak pusing. Oh astaga! Dia harus bersabar menghadapi gadis ini. Tapi tanpa rasa kasihan dia meletakkan telunjuknya di dahi gadis itu lalu menoyornya pelan.

“Kau! Gadis yang ingin dan akan aku kencani itu kau, Park In Hwa!”

“Jangan bercanda. Simpan saja leluconmu dalam kaos kaki kesayanganmu lalu keluarkan saat kau menemukan gadis yang kau sukai.”

“Ya Tuhan! In Hwa, kau tidak percaya padaku?” Jongin mendekatkan wajahnya, membuat In Hwa mengejap panik. “Kau gadis yang aku suka, kau gadis yang aku sayangi.”

“Lalu?”

“LALU?! Tentu saja kita akan berkencan!”

In Hwa berbalik lantas begumam, “Dia pasti sudah gila.”

Jongin menarik bahu In Hwa kemudian …

Kemudian…

In Hwa seketika membeku. Dengan atau tanpa perlawanan, In Hwa merasa dia menginginkan hal itu. Dia mendambakan bibir Jongin mengecup bibirnya. Kenyataan bahwa Jongin hanyalah sahabatnya membuat gadis itu tidak berani berharap terlalu jauh.

“Masih tidak percaya padaku?” Jongin melepaskan tautan bibirnya lantas menyapu sudut bibir gadis itu.

“Kupikir kau hanya menganggapku seorang teman.”

“Kau tidak perlu berpikir, tapi kau harus merasakan.” Jongin merengkuh In Hwa ke dalam pelukan hangat. Dan gadis itu membalas pelukannya.

“Mari kita lihat apa Kim Jongin yang populer ini akan kembali membuat penggemarnya heboh,” ucap In Hwa.

“Oh tentu saja! Aku akan memperkenalkan pada dunia bahwa aku resmi menjadi kekasih seorang gadis bernama Park In Hwa.”

“Dan kau akan kehilangan penggemarmu.”

“Masa bodoh.” Jongin melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan gadis itu. “Ayo pergi.”

“Ke kampus?”

“Tentu saja berkencan!”

*END*

Jangan dicontoh! Biar Jongin saja yang mementingkan kencan daripada kuliahnya. Mwahaha.

Ini FF diluar rencana (dengan pengerjaan yang superduper singkat).

Ini FF buat Rina eonni yang waktu itu ada req FF padaku, tp sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permintaan eonni. Miaaaan T^T

Tapi sebagai gantinya aku buatin FF singkat ini.

Semoga suka ya eon. Tuh aku buat Jongin jadi manis, biasanya In Hwa sama Jongin aku buat galau mulu kan. Hahaha

Thanks for read. See ya❤

137 thoughts on “That Girl is You

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s