Falling Star

Gambar

Falling Star by HoneyLulu // G // Oneshot // Chanyeol, Baekhyun, Sooyeon (OC) // Romance, sprinkled with a bit of sadness :3

Chanyeol bagaikan bintang jatuh yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon. Ya, apapun itu. Tapi yang namanya jatuh pasti terasa menyakitkan, bukan?

 

-FallingStar-

Chanyeol adalah bintang jatuh yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon. Ya, apapun itu.

Well, sebenarnya Chanyeol bukan sebuah bintang dari galaksi Bimasakti (bukan juga dari galaxy_fanfan, omong-omong) yang berterbangan dengan bebas bersama dengan benda-benda langit lainnya di ruang angkasa sana. Tetapi Chanyeol akan berusaha untuk menjadi bintang jatuh bagi Sooyeon.

 

Chanyeol dan Baekhyun baru saja mengembalikan buku-buku yang mereka pinjam di perpustakaan dan tanpa sengaja saat mereka hendak meninggalkan ruangan dingin tersebut, keduanya—maksudku, Chanyeol (karena dia berjalan lebih dahulu dibanding Baekhyun) berpapasan dengan sebuah tumpukan buku Biologi berjalan tepat di depan pintu masuk perpustakaan.

 

Oh, itu Sooyeon.

 

Dan dia perlu sedikit mendongak untuk melihat Chanyeol maupun Baekhyun dari balik buku-buku Biologi di tangannya lalu berkata, “Boleh tolong bantu aku? Ini berat dan punggungku terasa gatal.”

Sebetulnya Chanyeol tidak yakin apakah Sooyeon benar-benar bicara padanya atau orang lain, tetapi karena ia tentu saja tidak mungkin membantu Sooyeon untuk menggaruk punggungnya yang gatal (dia bisa kena tampar nanti), jadi Chanyeol mengambil alih buku-buku di tangan Sooyeon itu kemudian meletakkannya di atas salah satu meja perpustakaan.

Sooyeon tersenyum pada Chanyeol dan Baekhyun secara bergantian.

“Terima kasih.”

Lalu ia melengos pergi begitu saja.

 

Chanyeol sungguh-sungguh bahwa tidak ada hal paling manis di dunia ini selain senyum dari Kim Sooyeon, dan—hei! Sejak kapan jantungnya berubah menjadi seperti drum yang dipukul-pukul oleh keponakannya yang masih berusia dua tahun lebih tiga bulan?

Hey, man-in-love,” Baekhyun menyikut lengan Chanyeol yang berada di sampingnya itu. Chanyeol menoleh ke arahnya, sambil tersenyum lebar. “Sebaiknya kita cepat-cepat pergi ke kantin karena waktu istirahat akan segera berakhir.” Lanjut Baekhyun sembari melempar tatapan jahil pada Chanyeol.

Baekhyun tahu semua rahasia tentang Park Chanyeol (seperti kebiasaannya mengorok saat tidur, menumpahkan minuman di atas taplak meja Pak Zitao—walikelas mereka—dan pura-pura tidak tahu-menahu soal hal itu, merobohkan ring basket di lapangan, juga ukuran dari pakaian dalamnya—tunggu, apa?!), termasuk rahasia bahwa Chanyeol menyukai Sooyeon—teman seangkatan mereka—sejak kelas XII semester pertama.

“Oke.” Kata Chanyeol singkat. Kaki mereka beranjak meninggalkan perpustakaan.

Katakanlah, Chanyeol ialah seorang penggemar rahasia Kim Sooyeon. Secret admirer, juga tidak terdengar buruk. Bagaimana pun kau mau menyebut Park Chanyeol sebagai apanya-Kim-Sooyeon, yang jelas Chanyeol tidak pernah bisa menolak apapun permintaan gadis tersebut. Apapun.

Ya, karena bagi Chanyeol, setiap kata yang keluar dari mulut Sooyeon merupakan sebuah permintaan yang harus ia penuhi. Karena bagi Chanyeol, Sooyeon adalah Cinderella dan dia adalah pangeran—ups, bukan, peri bersayap yang bersedia memberi semua yang gadis itu inginkan. Ya, semuanya.

Karena Chanyeol bagaikan bintang jatuh yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon. Ya, apapun.

(tapi kalaupun ia harus menjadi pangeran untuk Sooyeon, Chanyeol akan menerimanya dengan senang hati, kok. Uhuk)

 

Seperti ketika Pak Zitao mengumumkan bahwa ia akan mengadakan ulangan Bahasa Mandarin dadakan dan berhasil membuat seisi kelas XII-3 histeris karenanya. Sooyeon lupa membawa kotak pensilnya dan Minji—teman sebangku gadis itu—hanya punya satu bolpoin. Jadi Sooyeon memutuskan untuk meminjam bolpoin milik Chanyeol.

“Eh, Chanyeol,” Panggil Sooyeon. “Boleh pinjam bolpoinmu, tidak?” Tanya Sooyeon. Tubuh Chanyeol terasa seperti disengat aliran listrik berkekuatan rendah secara berulang kali ketika mendengar suaranya.

Boleh. Tentu saja boleh. Untukmu apa yang tidak boleh, Sooyeon?

Chanyeol membuka tempat pensil bergambar Alvin And The Chipmunks (oh, itu memalukan, Chanyeol!) miliknya.

Hanya saja…

Chanyeol hanya punya satu buah bolpoin dalam tempat pensil yang bergambar tiga ekor tupai konyol miliknya itu. Hah, khas laki-laki sekali.

“Kenapa?” Tanya Sooyeon, mengernyit.

“Ah, tidak.” Balas Chanyeol, menyerahkan bolpoin itu pada Sooyeon. “I-ini. Maaf, tutupnya hilang.” Ujar Chanyeol. Sooyeon tersenyum pada Chanyeol.

“Oke, tidak masalah.” Ucap Sooyeon. “Aku pinjam, ya.”

Dan gadis itu pun kembali ke tempat duduknya.

Pak Zitao menepuk tangannya keras-keras, menghentikan segala protesan murid-murid yang kesal bukan main itu, “Oke, ulangan akan segera dimulai. Letakkan tas kalian di depan kelas. Kuài, kuài!” Perintahnya.

 

Entahlah.

 

Bahkan Chanyeol tidak perlu berpikir panjang tentang: jika dia meminjamkan bolpoin satu-satunya itu pada Sooyeon, dia harus pakai apa untuk mengerjakan soal-soal (mengerikan) buatan Pak Zitao nanti. Chanyeol tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu. Tidak perlu.

 

Pokoknya Sooyeon mendapatkan bolpoin—seperti yang ia mau, dan bisa mengerjakan soal ulangan Bahasa Mandarin dengan baik.

 

Karena Chanyeol bagaikan bintang jatuh yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon. Ya, apapun.

 

Seperti ketika bulan Februari datang dan para manusia di seluruh dunia meributkan tentang: “Beberapa hari lagi Valentine!”,”Aku harus memberinya apa?!”,“COKLAAT!”,“Kalau dia memberiku sebuket bunga mawar pasti akan sangat romantis.”, atau bahkan “Valentine itu apa sih, hah?!” dan ungkapan-ungkapan sejenisnya.

Maka Sooyeon tidak ingin kalah.

 

Chanyeol tengah mengambil sesuatu dari lokernya, loker nomor 192—tepat di sebelah loker 193 yang merupakan loker milik Sooyeon—saat itu. Hingga gadis itu datang bersama dua temannya sembari memperbincangkan sesuatu.

Oh, tentang Valentine.

Mereka terus saja mengobrol di dekat Chanyeol, hingga pembicaraan mereka sampai pada…

“Kalau aku,” Ucap Sooyeon. Ia menutup kembali lokernya setelah beberapa saat yang lalu membukanya. “Aku ingin mendapat sebuket bunga mawar dan surat berisi kata-kata manis. Kukira itu cukup.” Lanjut Sooyeon.

Chanyeol yang masih berada di dekat mereka tersenyum mendengarnya.

Benar saja, tepat saat hari Valentine itu tiba, pagi-pagi ketika Sooyeon membuka lokernya, dia menemukan sebuket bunga mawar dan juga sebuah beramplop warna merah jambu—yang pengirimnya tak diketahui—berada di dalam sana.

Memangnya siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol?

Chanyeol dan Baekhyun memandang Sooyeon yang kebingungan dari kejauhan. Gadis itu tampak celingukan, barangkali ia bisa menemukan siapa yang memberinya mawar dan juga surat itu. Sayangnya terlalu banyak murid yang berlalu-lalang di koridor. Jadi, yah, Sooyeon mengedikkan bahunya sembari tersenyum tipis dan memasukkan kembali sebuket mawar merah yang wangi beserta surat yang tak diketahui siapa pengirimnya itu ke dalam lokernya lagi (berniat untuk membaca surat tersebut sepulang sekolah nanti di dalam kamarnya).

“Dia menyukainya, Chanyeol.” Ucap Baekhyun yang berjalan beriringan dengan Chanyeol menuju ke kelasnya, melewati sejoli pasangan di koridor, eh, duajoli, tigajoli, empatjoli, limajoli…ugh, populasi mereka banyak sekali!

Chanyeol menunjukkan senyum yang menampakkan deretan gigi putih cemerlangnya (dia selalu menyikat giginya setiap selesai makan dan juga sebelum tidur, kau tahu?), “Semoga saja, Baek.” Ucap Chanyeol.

Sebenarnya Chanyeol bisa saja memberi Sooyeon lebih dari sebuket bunga mawar dan juga surat berisikan rangkaian kata-kata manis yang ia buat semalaman penuh—sampai-sampai matanya berkantung mata dan juga kamarnya dipenuhi dengan gumpalan kertas surat yang baginya gagal.

 

Tapi, tidak.

 

Chanyeol memberi Sooyeon bunga mawar berbau harum dan juga sebuah surat, seperti yang gadis itu inginkan.

Karena Chanyeol bagaikan bintang jatuh yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon. Ya, apapun.

 

Seperti ketika kelas XII-3 dihebohkan oleh berita tentang dibukanya sebuah restoran Sushi di dekat stasiun—yang katanya murah dan rasanya lezat—baru-baru ini. Tentu saja yang menyebarkan kabar tersebut adalah Minseok, lelaki pecinta segala spesies makanan.

“Rasanya lezat, harganya juga murah. Sungguh, aku baru mencobanya kemarin.” Ucapnya pada seisi kelas. Sebagian tidak menghiraukannya, namun sebagian menanggapinya dengan serius.

Sooyeon dan dua temannya masuk dalam kategori antusias saat itu.

“Oh, ya? Memangnya dimana letak restoran itu?” Tanya Sooyeon. Minseok menelan kunyahan roti isi selai kacang dalam mulutnya. “Di dekat stasiun. Kalian harus coba.” Ujar Minseok sumringah.

“Aku sudah coba, kok.” Sahut Minhwa—teman dekat Sooyeon. Jieun—teman dekat Sooyeon juga—mengangguk, “Aku juga. Memang enak dan harganya terjangkau.”

“Ih, aku mau coba juga, ah.” Kata Sooyeon. Dia tidak benar-benar menginginkannya, sebetulnya. Masih enak pancake buatan Ibunya daripada Sushi, begitu batin Sooyeon.

 

Tapi karena Chanyeol mendengarnya, jadi kemungkinan (sangat) besar bahwa ia akan mendapatkan sekotak Sushi yang ia inginkan.

 

Ya, tentu saja.

Chanyeol tersenyum untuk kesekian kalinya.

 

Dan keesokan harinya, Sooyeon menemukan sekotak Sushi yang masih hangat di dalamnya, beserta sebuah catatan kecil bertuliskan:

 

Selamat makan! Jaga dirimu baik-baik! ^^

 

 

Sooyeon menarik kedua sudut bibirnya. Sementara Chanyeol yang berada di sebelah gadis itu, tengah berpura-pura mengambil sesuatu dari dalam lokernya, sudah nyaris meleleh dan tenggelam di dalam lelehan dirinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, kakinya bahkan lebih pantas disebut sebagai sebuah agar-agar kala itu.

 

Chanyeol sengaja menghampiri restoran Sushi itu pagi-pagi tadi dan kemudian segera meletakkan sekotak Sushi tersebut ke dalam loker nomor 193, loker Sooyeon. Jadi Sushi tersebut masih terasa hangat ketika Sooyeon menemukannya berada di dalam lokernya.

 

Ya. Karena Chanyeol bagaikan bintang jatuh yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon. Ya, apapun.

 

 

Seperti ketika suatu hari, Sooyeon tiba di sekolah dengan wajah sedih dan mata yang sembap.

Dan Chanyeol yang (hanya berani) melihatnya dari kejauhan mengkhawatirkannya.

 

“Kau kenapa, Sooyeon?” Tanya Baekhyun. Tujuannya yang sebenarnya adalah untuk setidaknya mengurangi rasa kekhawatiran Chanyeol. Dengan begitu, ketika dia tahu apa jawabannya, Baekhyun bisa memberi tahu apa masalah Sooyeon kepada Chanyeol. Siapa tahu sang-bintang-jatuh bisa membantunya. Iya, kan?

“Ah, tidak,” Sooyeon tersenyum, tampak terpaksa. “Masalah kecil, tidak usah khawatir.” Sambungnya. Tapi Baekhyun malah duduk di sebelah Sooyeon—kebetulan Minji belum datang pagi itu—setelah sebelumnya mengerling pada Chanyeol di seberang sana.

“Katakan saja,” Ujar Baekhyun. “Siapa tahu kalau aku—dan juga Chanyeol bisa membantumu.” Lanjut Baekhyun agak ragu-ragu.

“Aku bilang ini hanya masalah kecil,” Sooyeon menunduk. “Tapi baiklah kalau kau memaksa, jangan tertawa, ya.” Ucap Sooyeon. Baekhyun mengangguk pertanda setuju.

“Tidak akan, janji.” Ujar Baekhyun, sesekali melirik ke arah Chanyeol yang tampak sedang mengamati mereka berdua.

“Kalungku hilang saat pelajaran olahraga di lapangan kemarin.” Ungkap Sooyeon.

 

Oh, kalungnya hilang dan dia tampak habis menangis semalaman. Oke, oke. Baekhyun mengerti, itulah yang dinamakan dengan perempuan.

 

“Dan itu adalah kalung dari mendiang Ibuku.” Sooyeon melanjutkan. Baekhyun mengangguk-angguk mengerti.

“Oh, itu buruk.” Kata Baekhyun.

Sooyeon mengangguk, “Aku tahu. Aku sudah mencarinya di lapangan, tapi tidak ketemu.” Jawabnya. Lagi-lagi Baekhyun mengangguk mengerti.

“Aku—dan Chanyeol bisa membantumu mencarinya kalau kau mau, bagaimana?” Tawar Baekhyun. Mata Sooyeon bebinar terang seketika.

“Benarkah?” Tanya Sooyeon tidak percaya.

“Iya, kami akan berusaha untuk mencarinya.” Balas Baekhyun. Sooyeon terlihat begitu gembira.

“Te-terima kasih, Baekhyun!” Seru Sooyeon riang.

 

Maka sepulang sekolah itu, Chanyeol dan juga Baekhyun berjalan perlahan mengelilingi lapangan sembari menajamkan pengelihatan mereka. Mencari dimana kalung milik Sooyeon itu berada, meskipun matahari di atas sana terasa begitu terik.

 

“Kalau kau mau pulang duluan, pulang saja.” Kata Chanyeol, masih merunduk ke bawah berharap segera mendapatkan kalung milik Sooyeong itu. Baekhyun yang sudah berkeringat dan menggelepar di atas rerumputan lapangan itu mendesah pelan.

“Aku mau saja membantumu mencari kalung itu di sini,” Ujar Baekhyun. “Masalahnya aku belum makan siang dan perutku butuh sesuatu untuk dicerna. Kalau tidak maag-ku kambuh lagi.”

Chanyeol memutar bola matanya, “Ya sudah, pulang saja.”

“Yakin?” Baekhyun mendudukkan dirinya di atas rumput-rumput lapangan yang sedikit menusuk-nusuk tubuhnya itu.

“Iya. Daripada kau pingsan di sini, urusannya akan makin panjang.” Ujar Chanyeol.

“Baiklah, aku pulang. Jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu lama berada di sini, kau belum makan siang.” Sahut Baekhyun kemudian beranjak. “Good luck, Chanyeol. Maaf aku tidak bisa membantumu lebih lama.” Sambung lelaki itu.

“Oke, no problem.” Balas Chanyeol. “Lagipula aku akan menemukannya sebentar lagi, lihat saja.” Katanya bersemangat. Sinar mentari yang terik dan membuat keringatnya mengucur tidak akan bisa mematahkan semangat Chanyeol. Tidak akan.

 

 

Sayangnya Chanyeol belum juga menemukan kalung milik Sooyeon hingga langit sore berada di atasnya. Chanyeol terkapar di atas rerumputan hijau—seperti yang Baekhyun lakukan siang tadi. Perutnya berbunyi, berontak ingin diberi sesuatu seperti mi instan atau apalah. Tetapi Chanyeol tidak peduli. Dia kembali bangkit. Mencoba mengelilingi lapangan untuk entah keberapa kalinya, memastikan bahwa benda itu benar-benar tidak ada. Setelah ini, kalau Chanyeol tidak menemukan kalung itu, terpaksa dia harus menyerah.

 

Namun ketika ia sudah mulai putus asa, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di dalam kolam ikan—tanpa ikan—dangkal di pojok lapangan. Chanyeol mengernyit. Ia melongokkan kepalanya di atas kolam tersebut, menyipitkan matanya.

Dan betapa senangnya Park Chanyeol karena—itu adalah sebuah kalung dengan liontin kupu-kupu berwarna perak! Tanpa ba-bi-bu lagi, Chanyeol memasukkan tangannya ke dalam air kolam yang agak keruh tersebut dan mengambil kalung kupu-kupu milik Sooyeon itu dari dasar kolam. Yap, Chanyeol dapat. Chanyeol berhasil menemukan kalung tersebut.

Chanyeol tidak peduli bagaimana bisa kalung itu berada di dalam kolam. Chanyeol tidak peduli bagaimana bisa kalung tersebut hilang. Chanyeol tidak peduli tentang perutnya yang sudah mulai terasa panas dan kepalanya yang pusing. Chanyeol tidak peduli.

Pokoknya dia telah mendapatkan kalung kupu-kupu milik Sooyeon itu. Seperti yang gadis itu inginkan.

 

“Astaga.” Sooyeon berseru ketika menyadari bahwa seseorang tengah memasangkan sebuah kalung—yang persis dengan kalung pemberian mendiang Ibunya—di lehernya dari belakang keesokan harinya.

Itu Chanyeol.

Dan dia tengah tersenyum lebar, begitu lebar.

“Kau menemukannya?” Tanya Sooyeon tidak percaya.

“Iya.” Balas Chanyeol singkat. Sooyeon tidak bisa menahan kegembiraannya.

“Terima kasih, Park Chanyeol! Terima kasih, terima kasih, terima kasih!” Seru Sooyeon senang.

“Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?” Tanya Sooyeon tulus. Chanyeol terdiam sejenak.

 

Tidak, Chanyeol tidak butuh balasan apapun. Chanyeol tidak butuh balas budi apapun dari Sooyeon. Chanyeol tidak butuh balasan apapun atas keringat yang membasahi dahinya kemarin siang. Chanyeol tidak butuh balasan apapun atas rasa lapar yang hebat yang melandanya kemarin. Chanyeol tidak butuh balasan apapun atas rasa pegal pada kakinya setelah mengelilingi lapangan berulang-ulang kali. Chanyeol tidak butuh balasan apapun.

Chanyeol menggeleng, “Tidak, tidak perlu. Sungguh.”

 

Karena Park Chanyeol bagaikan bintang jatuh yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon. Ya, apapun itu.

Karena apapun permintaan Kim Sooyeon, dia pasti akan mengabulkannya. Pasti. Keinginan yang mudah, maupun sulit. Sekalipun Kim Sooyeon menginginkannya untuk memanjat tebing yang curam, terjun dari puncak Mount Everest, berenang dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik, berjalan mengelilingi bumi, atau bahkan membuat seribu candi dalam semalam (oh, please), Park Chanyeol pasti akan melakukannya. Pasti ia akan melakukannya.

 

Bahkan permintaan yang paling gila sekali pun.

 

Seperti ketika Sooyeon mengatakan bahwa lipgloss Pink Berry miliknya hampir habis dan ia sedang tidak punya uang untuk membeli yang baru. Dan sepulang sekolah di hari itu juga, Chanyeol mendatangi toko aksesoris wanita bernama Mrs. Joy untuk membeli lipgloss Pink Berry (seperti yang gadis itu inginkan) tanpa peduli tatapan aneh dan juga mulut yang ternganga dari gadis-gadis di sekitarnya, bahkan penjaga kasir sekalipun.

Karena Park Chanyeol adalah bintang jatuh bagi Kim Sooyeon. Yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon.

Selamanya.

Chanyeol berjanji.

 

-FallingStar-

Chanyeol berjalan beriringan dengan Byun Baekhyun di koridor sekolah. Harusnya mereka sudah sampai di rumah siang itu, tetapi karena Pak Zitao menyuruh mereka untuk tinggal dan membantu beliau untuk mengerjakan data-data kelas (alasannya karena tulisan Baekhyun bagus dan Chanyeol yang rapi dalam menata ini dan itu. Hah, basi), jadi keduanya terpaksa pulang agak terlambat.

“Kenapa, sih, dia selalu merepotkan?” Protes Baekhyun.

“Bawaan lahir.” Sahut Chanyeol asal. Baekhyun tergelak, sementara Chanyeol hanya menyengir tanpa dosa.

“Mungkin saja begitu.” Kata Baekhyun. Kemudian saat mereka hendak berbelok ke kanan, Baekhyun menahan tubuh Chanyeol dengan merentangkan tangan kirinya dan berjalan mundur. Chanyeol yang heran mengerutkan dahinya, dan ikut melangkah mundur sama seperti Baekhyun. Mereka tidak jadi berbelok.

 

“Kenapa?” Tanya Chanyeol bingung. Baekhyun malah meletakkan telunjuknya di depan mulut. Chanyeol diam, mengerti maksud Baekhyun.

Dan samar-samar, terdengar dua buah suara yang berbeda. Satu suara perempuan, dan satu lagi sebuah suara yang berat. Baekhyun merapatkan tubuhnya pada dinding. Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol, mengucapkan sesuatu tanpa suara. Dari gerak mulutnya, Chanyeol tahu bahwa Baekhyun pasti mengatakan: “Sooyeon.”

Chanyeol pun turut merapatkan tubuhnya di dinding seperti Baekhyun. Mencoba untuk mendengarkan pembicaraan antara Sooyeon dengan—

Baekhyun mengintip sekilas ke lorong sebelah kanan, lalu menoleh ke arah Chanyeol lagi.

“Dengan Kris, kelas XII-1.” Bisik Baekhyun.

—Kris, anak basket kelas XII-1. Entahlah, jantung Chanyeol berdegup berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya. Telapak tangannya dingin. Apa yang mereka lakukan?

 

“Sendirian? Kenapa belum pulang?” Tanya seseorang bersuara berat itu. Kris. Baekhyun dan Chanyeol bisa mendengarnya, walau agak tak jelas.

“Iya, belum dijemput dan kebetulan tadi aku ingat kalau ada yang tertinggal di kelas. Jadi aku kembali.” Balas Sooyeon. Kris mengangguk mengerti.

“Omong-omong,” Kris buka suara lagi. “Masih—single, right?” Tanya Kris, tidak bermaksud menyindir atau apa. Baekhyun dan Chanyeol yang menguping saling melirik. Sooyeon terkekeh.

“Meledek, ya? Atau mungkin ada motif lain?” Canda Sooyeon. Kris tersenyum, menunjukkan gigi-giginya yang—well, kau tahu (tapi senyumnya tetap rupawan, kok).

“Tidak, sungguh.” Kris meluruskan. “Hanya saja—” Lelaki itu sengaja menggantungkan kalimatnya.

“Hanya saja?” Sooyeon mengangkat alisnya.

“Hanya saja—aku akan merasa benar-benar mendapatkan suatu kehormatan jika bisa memilikimu, Sooyeon.”

 

Deg.

 

Chanyeol terkejut, tapi tidak mungkin jika dia berteriak dan menjerit-jerit saat ini.

 

I-ini bukan bagian dari sebuah drama percintaan, bukan? Bukan bagian dari latihan theater—dimana Kris akan menjadi sosok pangeran dan Sooyeon adalah putrinya—untuk acara perpisahan nanti kan? Ini bukan—penembakan diam-diam secara tiba-tiba, kan?

Sayangnya, untuk pertanyaan yang terakhir, iya.

 

Sooyeon tersenyum canggung, “Ma-maaf?” Tanyanya tidak mengerti. Kris tersenyum simpul.

“Aku menyukaimu.” Kata Kris. Sooyeon terdiam untuk beberapa saat. Tidak ada yang bicara.

Jantung Chanyeol seakan tengah ditusuk oleh segala sesuatu yang tajam saat itu, dan Baekhyun hanya bisa menepuk bahu lelaki itu.

 

“Oh,” Balas Sooyeon singkat dan canggung. “Terima kasih. Tapi—” Sambung Sooyeon.

Kris mengangkat alisnya.

“Aku menyukai orang lain. Maaf.” Jujur Sooyeon. Kris tampak kecewa mendengarnya, tapi beberapa detik kemudian, dia tersenyum.

“Baiklah, bukan masalah.” Kris berusaha terlihat baik-baik saja. Dia anak basket, bro, mana mungkin dia mau terlihat lemah, rapuh, porak-poranda di depan gadis yang dia sukai.

Sedangkan Baekhyun dan Chanyeol setidaknya bisa sedikit bernafas lega. Chanyeol masih belum bisa tenang. Siapa orang itu? Siapa orang yang Sooyeon sukai?

 

“Maaf, Kris.” Ucap Sooyeon lagi. Kris mengangguk pasrah.

“Kalau boleh aku tahu, siapa orang yang kau sukai itu?” Tanya Kris. Sooyeon menunduk. Menatap sneakers berwarna hitam dengan sedikit corak pink dan juga kaus kaki putih yang membalut kakinya itu.

“Dia—” Sooyeon menghela nafasnya. Chanyeol dan Baekhyun saling memandang satu sama lain. Baekhyun memandang Chanyeol dengan pandangan sumringah dan sebuah senyuman, sementara Chanyeol melemparkan tatapan penuh harap pada Baekhyun (berharap sedikit lebih tinggi tidak apa-apa, bukan?).

Kris diam.

Menunggu.

Begitu pula dengan Baekhyun dan Chanyeol yang masih saling melempar pandang.

Masih hening.

Dan…

 

“Baekhyun.”

 

DOR.

 

Saat itu juga, senyum Baekhyun luntur dari wajah putihnya. Saat itu juga, raut wajah Chanyeol yang penuh harap tadi melayang entah ke mana. Saat itu juga, perasaan Chanyeol seakan diinjak-injak oleh kaki-kaki segerembulan kuda yang datang entah darimana. Saat itu juga, hujan seakan turun dengan deras dan disertai petir (hei, padahal di luar matahari sedang terik!) seolah-olah langit ikut meratapi nasib Chanyeol. Saat itu juga, langit seakan runtuh dan menimpa tubuh Chanyeol yang membeku. Saat itu juga, sebuah gunung seakan meletus dan lavanya seolah menenggelamkan sosok Park Chanyeol yang malang itu. Saat itu juga, sebuah ombak tinggi dan besar seolah-olah melahap lelaki itu. Saat itu juga, Chanyeol ingin mengubur dirinya di bawah permukaan bumi sedalam yang ia bisa.

 

“Aku ke kelasku dulu, ya. Botol air minumku tertinggal. Sampai jumpa.” Sooyeon berpamitan pada Kris kemudian beranjak meninggalkan pria jangkung itu. Kris hanya mendesah pasrah, apa boleh buat. Dan tanpa sengaja, ketika Sooyeon berbelok, dia mendapati dua laki-laki yang tengah menyandarkan bagian belakang tubuhnya pada dinding.

Wajah Sooyeon berubah merah ketika ia sadar bahwa dua lelaki itu adalah Baekhyun dan Chanyeol, keduanya tengah melihatnya canggung. Pasti mereka mendengar semua percakapannya dengan Kris tadi. Sooyeon langsung berlalu, ia mempercepat langkahnya menuju ke kelas. Ia tidak dapat menahan rasa malunya.

 

Chanyeol menatap punggung Sooyeon yang semakin menjauh itu miris. Begitu pula Baekhyun. Kemudian pria itu mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. Dia tidak tega. Baekhyun tahu bagaimana sakitnya hati Chanyeol ketika mendengar perkataan Sooyeon barusan, tapi dia heran, Chanyeol bahkan masih sempat tersenyum tipis padanya, lalu menepuk pundak Baekhyun. Seakan mengucapkan: “Selamat, Baek.”.

Hei, memang apa yang perlu diselamati?

 

“Maaf.” Lirih Baekhyun dengan wajah bersalah.

“Kenapa minta maaf?” Tanya Chanyeol, kali ini dia malah tersenyum lebar. Baekhyun tidak tahu harus bilang apa. Baekhyun tidak tahu. Baekhyun—ah, sudahlah.

 

Entahlah.

Untuk kali ini, Chanyeol merasa bahwa keinginan Sooyeon barusan (Chanyeol menganggap semua perkataan yang Sooyeon ucapkan sebagai keinginannya, ingat?) seakan terlalu sulit untuk ia kabulkan. Terlalu sulit.

Chanyeol hampir merasa bahwa ia adalah manusia paling tidak berguna sedunia.

Chanyeol hampir putus asa.

Chanyeol hampir ingin berhenti menjadi bintang jatuh Kim Sooyeon.

Namun semua perasaan itu seakan ditepis begitu saja ketika ia tak sengaja melihat tali tas ransel warna hitam milik Baekhyun yang bergambar sebuah bintang tepat di bagian bahunya.

Bintang.
.

.

.

.

.

.

.

Tidakkah waktu itu Chanyeol berpikir bahwa ia bagaikan sosok peri bersayap sedangkan Sooyeon bagaikan Cinderella untuknya?

 

Tidakkah Chanyeol pernah bilang kalau dia akan mengabulkan segala keinginan Kim Sooyeon sesulit apapun keinginan itu?

 

Tidakkah Chanyeol telah berjanji bahwa ia akan menjadi bintang jatuh yang selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan dari Kim Sooyeon…selama-lamanya?

Dan—tidakkah yang namanya jatuh pasti akan terasa sangat menyakitkan?

Jawabannya adalah, tentu saja.

Lalu kenapa dia harus bersedih hati begini?

 

Detik berikutnya, Chanyeol tersenyum.

“Kau senang kan, Baek?” Tanya Chanyeol. Baekhyun terkesiap.

“A-apa?” Dia malah balik bertanya. “Mana mungkin aku menari-nari di atas penderitaan sobatku sendiri, hah?” Protes Baekhyun, memalingkan wajahnya, pandangannya kacau—ke samping, ke atas, ke kiri, ke kanan, dan ke bawah.

“Jangan bohong.” Desak Chanyeol jahil. Setidaknya, rasa sakit dalam dadanya sedikit berkurang. Ya, sedikit.

“Bodoh! Memangnya aku teman macam apa?!” Protes Baekhyun tidak terima lagi. Chanyeol tertawa geli melihatnya.

“Salah tingkah begitu.” Kata Chanyeol, semburat merah yang samar tampak di wajah Baekhyun.

“Sudah, ayo kita pulang. Aku lapar.” Baekhyun baru saja ingin membalikkan badannya tapi Chanyeol menahan pundaknya. Menghadapkan Baekhyun ke arahnya kembali secara paksa.

“Baek,” Chanyeol agak menekuk lututnya agar wajah mereka sejajar. “Tatap aku.” Lanjut Chanyeol. Baekhyun menatapnya datar dan itu terlihat menyebalkan bagi Chanyeol, tapi—tak apalah.

“Apa?” Tanya Baekhyun datar. Chanyeol menarik salah satu sudut bibirnya.

“Kalau kau sahabatku, Baek,” Ungkap Chanyeol. “Jadilah milik Sooyeon. Jadilah miliknya, Baek. Buat dia bahagia.” Chanyeol tidak tahu darimana kata-kata itu berasal. Dia tidak ingat sejak kapan dia menjadi puitis dan bijaksana begitu. Tatapan Baekhyun menghangat perlahan-lahan.

“Kumohon, Baek.” Tambah Chanyeol. Chanyeol menatap Baekhyun dalam-dalam, berusaha meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.

“Tapi aku tidak menyukainya. Kau saja sana.” Ujar Baekhyun, lalu berusaha untuk melepaskan pegangan Chanyeol pada kedua pundaknya, namun tidak bisa.

“Jangan berdusta. Kau menyukainya.” Chanyeol menjulurkan lidahnya.

“Tidak!”

“Iya.”

“Tidak!”

“Iya, iya, iya.”

“Tidak, tidak tidak!”

“Iya, iya, iya, iya, iya, iya.”

“Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak!”

“Membohongi perasaan sendiri tidak baik, lho.”

“Sialan kau.” Desis Baekhyun kesal. Chanyeol melepas rengkuhannya pada pundak Baekhyun seraya tertawa.

Baekhyun membetulkan jas sekolah dan juga dasinya sambil berdeham pelan.

“Aku hanya tertarik padanya, itu saja.” Ungkap Baekhyun, kemudian membalikkan tubuhnya. “Ayo pulang.” Tambah Baekhyun. Chanyeol tersenyum puas mendengar pengakuan Baekhyun barusan.

“Tunggu, Baek!” Lelaki itu pun menyusul temannya yang sudah berbelok itu. Hah, kecil-kecil langkahnya cepat juga. Setidaknya Chanyeol bisa merasa sedikit baikan.

Karena bagaimana pun juga, dia akan menjadi bintang jatuh bagi Kim Sooyeon. Bintang jatuh yang akan mengabulkan segala permintaan dan keinginan Kim Sooyeon. Ya, segalanya.

Meskipun Chanyeol harus benar-benar jatuh dan merasakan sakit dan perih di dalam rongga dadanya.
.

.

.

.

Tepat sekali.

Beberapa hari kemudian, Sooyeon dan Baekhyun resmi menjadi sepasang kekasih. Dan itu membuat seisi kelas mereka heboh seketika (heboh meminta pajak pada Baekhyun dan Sooyeon, maksudnya). Bahkan Kris pun tidak menyangka akan hal tersebut. Sempat dikabarkan bahwa ketika mendengar berita itu, asmanya kambuh dan berujung dengan tubuhnya yang diangkat oleh Jongdae dan Luhan menuju ke ruang kesehatan.

 

Baekhyun dan Sooyeon senang.

Teman-teman sekelas Baekhyun dan Sooyeon senang karena mereka mendapat traktiran restoran Sushi dekat stasiun sepulang sekolah nanti.

Chanyeol pun juga ikut senang, tentu saja.

Chanyeol senang dia bisa mengabulkan keinginan Sooyeon, dan Baekhyun sekaligus.

Chanyeol senang dia bisa menjadi bintang jatuh yang selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan untuk Kim Sooyeon.

Ya, Chanyeol senang.

“Chanyeol, ada uang, tidak? Pinjam boleh, ya? Tabungan Sooyeon dan tabunganku hanya cukup untuk menraktir 35 anak sementara kelas kita punya 36 butir manusia-manusia menyebalkan.” Keluh Baekhyun kesal. Chanyeol tertawa pelan mendengarnya. Dan tentu saja ia meminjami Baekhyun uang yang ia punya. Memangnya apa yang tidak, sih, untuk Sooyeon—dan Baekhyun?

 

Setelah mendapat pinjaman uang dari Chanyeol (ah, Baekhyun jadi merasa tidak enak), Baekhyun segera kembali duduk di samping Sooyeon untuk mneghitung kembali uang-uang yang mereka punya (aduh, kenapa mereka jadi seperti sepasang suami-istri yang tengah mengatur keuangan mereka bersama-sama? E-eh, a-apa?!).

Chanyeol tersenyum melihat mereka berdua. Kemudian ketika ia hendak memasukkan kembali dompet hitam—yang telah ia pakai sejak kelas 1 Sekolah Menengah Pertama itu—ke dalam tasnya, sesuatu menyembul dari dalam sana.

Sebuah kertas tipis berwarna putih.

Chanyeol mengambilnya.

Itu struk pembelian dari toko Mrs. Joy yang bertuliskan sebuah nama item: Kawaii Lipgloss Pink Berry.

Chanyeol tersenyum kecil. Oh iya, waktu itu dia membelikan Sooyeon lipgloss karena gadis itu bilang bahwa lipglossnya hampir habis, kan? Lelaki itu tidak berniat untuk membuang struk pembelian itu. Chanyeol menyimpannya kembali dalam dompetnya. Menyimpannya sebagai kenang-kenangan tentu bukan hal yang buruk.

 

-FallingStar-

 

Waktu bergulir begitu cepat. Padahal Baekhyun dan Sooyeon baru saja resmi menjadi sepasang kekasih kemarin, tapi tahu-tahu saja semua murid kelas XII di sekolah mereka sudah lulus SMA dengan nilai yang baik sebulan yang lalu. Chanyeol memutuskan untuk kuliah di Seoul University dan tinggal di apartemen dekat kampus bersama dengan teman satu Fakultasnya.

Dan betapa kagetnya Chanyeol ketika Jongin—teman satu apartemennya itu—datang padanya sembari membawa sebuah kartu undangan untuknya.

“Nih, untukmu katanya.” Kata Jongin sembari mengunyah permen karet yang sudah tidak terasa manis lagi di mulutnya (ewh).

Chanyeol mengambilnya.

Dan begitu membaca bagian depan kartu undangan tersebut, dia tidak tahu harus menangis terharu, berteriak bahagia, berguling-guling di kasur, atau menampari muka Jongin keras-keras (hei, apa?!).

Waktu benar-benar berlalu begitu cepat.

Tahu-tahu saja Sooyeon dan Baekhyun yang rasanya baru menjadi sepasang kekasih kemarin akan mengadakan acara pernikahan mereka besok.

 

Chanyeol tersenyum simpul, lalu senyum itu berubah menjadi senyuman lebar, dan bermetamorfosis menjadi tawa pelan, berikutnya tawa tersebut semakin keras dan terdengar amat bahagia. Chanyeol tertawa semakin keras. Jongin sampai bergidik ngeri melihatnya. Ia terus tertawa, hingga matanya berair.

Bukan air mata biasa, bukan juga air mata sedih, bukan.

 

Itu air mata terharu.

 

Dia menangis haru tapi juga tertawa bahagia.

 

Jongin sampai nyaris menelpon rumah sakit jiwa karenanya.

.

.

.

.

.

Chanyeol menghadiri acara pernikahan Baekhyun dan Sooyeon di sebuah gedung mewah dengan mengenakan setelan jas berdasi merah dan juga sepatu yang telah ia semir agar terlihat lebih hitam dan mengkilap. Lelaki itu memandang Sooyeon—yang tampak anggun mengenakan gaun pengantin putih—beserta Baekhyun—yang tampak tampan dengan setelan jas pengantinnya—dari jauh. Kedunya serasi. Baekhyun cantik sedangkan Sooyeon tampan, eh, Baekhyun tampan sedangkan Sooyeon cantik. Ugh, mungkin otaknya kacau saking bahagianya.

Chanyeol melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka berdua.

Dan Baekhyun tersenyum padanya.

“Hei!” Sapa Chanyeol. Baekhyun mengangkat tangannya, dan mereka berdua langsung melakukan high-five tanpa peduli pandangan heran dari tamu-tamu lainnya.

Chanyeol tidak pernah menyangka bahwa hubungan Sooyeon dan Baekhyun akan sampai sejauh ini. Tidak pernah.

“Selamat, Baek. Aku ikut bahagia, kau tahu?” Chanyeol menjabat tangan Baekhyun dengan bersemangat. Baekhyun mengangguk senang.

“Oke, oke. Terima kasih.” Baekhyun mengangkat kedua alisnya tinggi. “Kapan menyusul, hm?”

Chanyeol memukul lengan Baekhyun pelan. Kedunya tergelak.

Tanpa sengaja, mata Chanyeol bertemu dengan mata Sooyeon. Chanyeol langsung tersenyum tulus.

Ia mengulurkan tangannya.

“Selamat, Sooyeon. Aku ikut bahagia. Semoga hubungan kalian langgeng, berjalan lancar, tanpa ada perseteruan, dan perpecah belahan.” Ucap Chanyeol. Tangan kanan berbalut sapu tangan putih Sooyeon menjabat tangan Chanyeol lembut.

“Terima kasih, Chanyeol. Kita sudah lama tidak bertemu, omong-omong.” Kata wanita cantik yang rambutnya digelung ke atas itu. Telinganya dihiasi anting-anting mutiara yang berkilau, dan…

Kalung perak dengan liontin berbentuk kupu-kupu dari mendiang Ibu gadis tersebut (yang dulu pernah hilang namun Chanyeol berhasil menemukannya) itu melingkari lehernya manis.

 

“Kalungmu cantik.” Ucap Chanyeol. Sooyeon langsung menggenggam liontin kupu-kupu miliknya.

“Haha. Terima kasih.” Balas Sooyeon tersipu. Chanyeol berganti melihat Baekhyun yang juga tengah menatapnya itu. Lalu tiba-tiba saja Baekhyun menariknya sedikit menjauh dari Sooyeon yang tengah sibuk menyambut beberapa teman Sekolah Dasarnya.

“Chanyeol,” Bisik Baekhyun. “Terima kasih sudah membuat kami menjadi seperti ini.” Lanjut Baekhyun. Chanyeol perlu beberapa detik untuk mencerna perkataan Baekhyun, lalu dia menunjukkan senyum mengerti.

 

“Oh, haha,” Chanyeol tertawa pelan. “Ya, sama-sama, Baekhyun.” Balas Chanyeol santai.

Baekhyun menambahkan, “Terima kasih juga telah menjadi bintang jatuh untuk Sooyeon.”

Chanyeol menanggapinya dengan satu anggukan kecil dan senyuman yang belum juga hilang di wajahnya.

“Aku akan memberi tahu bahwa kau lah yang membelikan lipgloss Pink Berry untuknya waktu itu.” Ujar Baekhyun. Chanyeol terbelalak.

“Hei, hei, jangan kurang ajar kau.” Sahut Chanyeol langsung, Baekhyun tertawa mendengarnya.

“Dia tidak perlu tahu-menahu tentang itu,” Ungkap Chanyeol sembari melirik Sooyeon yang sedang mengobrol hangat dengan tamunya. “Dan tentang aku yang mengaku sebagai bintang jatuh untuknya.” Sambung Chanyeol. Baekhyun terdiam sejenak.

“Baiklah,” Baekhyun tersenyum pada mempelai wanitanya di sana. “Tetapi aku akan memberitahunya jika saat yang tepat telah datang. Entah kapan itu.”

“Ya,” Jawab Chanyeol. “Ide bagus.”

 

Hening menyelimuti keduanya. Baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak ada yang bicara. Mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing.

 

Chanyeol sadar bahwa arti kebahagiaan itu sederhana.

Chanyeol tidak perlu memiliki Sooyeon untuk menjadi bahagia. Chanyeol tidak perlu mendapat balasan rasa cintanya dari Sooyeon untuk menjadi bahagia. Tidak perlu.

 

“KIM SOOYEON! APA KAU MASIH MENGINGATKU?!” Sebuah teriakan dari pria jangkung dan mengenakan setelan jas abu-abu dan kacamata hitam membuat sang pemilik nama, Baekhyun dan Chanyeol, beserta para tamu lainnya menoleh pada sosoknya.

Ternyata Kris.

Dan dia berlari menuju Sooyeon sambil merentangkan kedua tangannya, bermaksud untuk memeluk Sooyeon.

Baekhyun yang terbelalak langsung berlari dan mencoba untuk menyelamatkan wanitanya, “HEI, HEI! DIA MILIKKU, YA. JANGAN MACAM-MACAM KAU!”

“Ta-tapi—” Kris tergagap ketika Baekhyun menutupi sosok Sooyeon—yang sedang tertawa geli sekaligus malu itu—dengan tubuhnya yang tampak kecil bagi Kris.

“Tambahan, marganya sudah menjadi Byun, ya. Tolong.” Sambung Baekhyun.

 

Chanyeol—yang hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya heran saat melihat mereka semua itu—sadar bahwa kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika dirinya melihat seseorang yang ia sayangi tengah berbahagia.

Chanyeol juga sadar, bahwa menjadi bintang jatuh untuk Sooyeon saja sudah cukup. Lebih dari cukup, malah. Meskipun ia merasa sakit pada hatinya yang seolah teriris-iris, itu tidak apa-apa. Tidak masalah.
.

.

.

.

.
Karena Chanyeol telah berjanji untuk menjadi bintang jatuh yang akan selalu mengabulkan apapun permintaan dan keinginan Kim Sooyeon.

 

Ya.

 

Apapun itu.

 

-END-

Hey~ HoneyLulu’s back, HoneyLulu’s back, HoneyLulu’s back back back back back /kemudian nyanyi Sherlock/

Eh, enggak deng haha xD Aku kembali dengan fanfic ini! Harusnya ini di post minggu lalu tapi karena aku UTS dan fanfic ini juga baru kelar hari ini, jadi ya aku post sekarang deh ._.

Tau, nggak? Ternyata bikin karakter PARK CHANYEOL yang bawel dan ga bisa diem jadi NGGAK BANYAK NGOMONG DAN NGGAK BANYAK TINGKAH KAYAK GINI TUH SUSAH! ;;__;; Habisnya kalo liat muka Chanyeol yang terbesit di otak adalah: RANDOM .__.v #eh. Pokoknya mendalami karakter dia disini itu susah, beneran deh Dx

So… give me your like or comment, please? ;A;  Satu komentar berharga banget kok ;A; Terserah deh mau minta dihargai berapa komentarnya #eh. Kasih kritik dan saran juga nggak papa, nggak papa banget malah ;;__;;

Terima kasih sudah baca fanfic saya yaa~ ^^ /menebar cium jauh pada semua orang/ Semangat buat kakak-kakak yang lagi UN! Aku do’ain biar nilainya bagus-bagus dan lulus semua~  ^o^)9  Jia you!

PS——Fanfic ini terinspirasi dari quotes (yang menohok dan menusuk dan menujep-nujep/? relung hati) ini x’3 :

 

Gambar

 

147 thoughts on “Falling Star

  1. Chanyeol!!! Jadi bintang jatuh. Dapat mengabulkan keinginan seseorang walaupun nantinya kau akan sakit dan hancur.
    Oh…ini idenya dapat dari mana? Ini jauh dari kata keren, bener bgs.
    Bahasanya mudah di pahami, kata2 nya ngena bgt di hati.
    Aku salut buat karakter Chanyeol, sudah segitu berkorbannya dia pada Sooyeong, tapi dia bisa merelakannya dengan senyuman.
    Chanyeol! Mulai sekarang, biarkan aku yang akan jadi bintang jatuhmu (walau sebenarnya aku tidak bisa melakukan apa pun untukmu, tapi aku akan selalu mensupport apa pun pilihanmu).
    Jatuh cinta bgt aku sama karakter Chanyeolnya walau pada kenyataanya adalah authornya yg hebat.

    KEEP WRITING….

  2. WOW!! DAEBAK!! Aku suka banget sama ide pokok fanfic ini ^^ keren! By the way, aku suka fanfic ini karena nasib aku dan Chanyeol sama 😀 Sebenarnya, aku juga sebagai bintang jatuh untuk orang yang aku sayang *curhat weeh. Gomawo ya! Daebak, daebak, daebak!!!!!

  3. Suka bgt lah gue sm ff nya si hanilulu ini. Duhh, emg susah bayangin tuan park jd anggun begini. Tp demi apa, bahasa dan kalimatnya tetep bikin terlarut sm ceritanya. Mewek gue 😥

    • “Park Chanyeol yang Berhati Mulia” coming soon to a cinema near you :””””””) ((eh))

      Hehe, terima kasihi sudah baca dan komentar xoxo ❤

  4. chanyeol betapa baiknya dirimu kak… astaga gue sampai gak tau harus kasih respon apa… chanyeol kenapa lu buat idup lu gitu?? egois dikit dalam idup juga perlu yeol… eh astaga gue khilaf
    tulisannya bagus, rapi dan pokoknya emang susah bayangin chan yeol yang karakternya begitu itu.. ahahaha

  5. hooaaa aku nangis baca ini *aneehh yaa
    haha ceritanya baguuss banget. terharu sama sikap chanyeol yg kayak gitu

    ko bisa orang berbuat kayak gitu
    yeollie kamu terlalu baik, ahh andai aja ada orang yg bisa berbuat kayak gitu

    akhirnya baekkie sama sooyeon bahagia karena chanyeol

    dan yg melanjutkan sebagai bintang jatuhnya sooyeon adalan byun baekhyun

    yeaayy, daebaakk

    • Chanyeol kelewat baik yaa di sini heheh terus dia jadi pendiem plus anteng parah padahal aslinya mah tau sendiri kan ya WAHAHAHA 😄

      Iyaa Chanyeol ngerelain Sooyeon buat Baekhyun karena memang itu kebahagiannya Sooyeon ya kan hehee :’) Aww so sweet /peluk chanyeol/

      Terima kasih sudah baca dan komentar yaa~ 😀

  6. akkkk… ini ff seru abissss sumpah.. ff favorite ㅋㅋㅋ
    aku nangis terharu nih pas si Chanyeol ngerelain Sooyeon buat Baekhyun… hweehehe
    ffnya bagus bangettt… alurnya menarik sumpah. gak ada typo, pengertikan rapi dan bersih hehe. bahasanya juga asik, gak ngebosenin dan mudah dpahamin… heheheee
    keep writing ya thorrr… muah :*

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s