Posted in Baek Hyun, Chan Yeol, Chapter, charismagirl, D.O, friendship, Kai, Romance, Se Hun

Milargo del Amor – Chapter 3

poster mda

Milargo del Amor – Chapter 3

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Other Cast :

  • Kim Jongin |Do Kyungsoo |Oh Sehun |Park Chanyeol
  • Kris Wu | Kim Jun Myeon
  • Stepmother | Jung Soo Jung |Jung Soo yeon

Rating : PG-15

Genre : Romance, friendship.

Length : Chapter

Note : Sorry for late. Enjoy! Do not copycat without my permission!

Link : Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

I was knew, the silver-mask-girl is you…

***

“Hai, Minri.”

Gadis yang merasa namanya disebut itupun mendongak. Wajahnya yang terkejut itu tampak menggemaskan. Baekhyun menahan diri untuk tidak mencubit pipi gadis itu.

My prince?”

Minri merutuk mulutnya yang sering bicara di situasi yang salah. Baekhyun pasti mengira dia baru saja berkhayal tentang pangeran pujaannya.

“Ya. Princess?”

Minri mengerjap cepat ketika menyadari bahwa dia tidak sedang berkhayal. Minri baru akan melayang di udara, tapi ketika tersadar bahwa lelaki itu sedang bercanda dia tersenyum canggung. Apa dia berharap terlalu jauh, pikirnya. Baekhyun tertawa renyah kemudian mengambil tempat duduk di sampingnya.

“Aku boleh duduk disini ‘kan?” tanya Baekhyun setelah tawanya mereda. “Kenapa kau memanggilku prince? Lucu sekali.”

Minri tertawa pelan demi mengusir rasa malunya. Dia menutup novelnya –dan tidak sadar bahwa dia tidak menandai batas halaman bacaannya –lantas meneguk cappuccino-nya sampai tandas. Tenggorokannya mendadak kering karena kehadiran Baekhyun.

“Tokoh pangeran di novel ini deskripsinya mirip denganmu, Baek.” Minri mengusap tengkuknya.

“Oh begitu. Ku harap tokoh putrinya sepertimu,” ucap Baekhyun terdengar serius dan cukup berefek pada wajah Minri yang terasa memanas. “Kau sendirian disini?”

“Ya, seperti yang kau lihat.”

Baekhyun tidak bertanya apa-apa lagi dan Minri juga tidak tahu mau bicara apa hingga Minri memutuskan untu mengambil ponselnya dari dalam tas, lantas memainkannya. Dia bingung harus melakukan apa karena Baekhyun sedang menatapnya!

“Kau mengingatkanku pada gadis yang kuajak berdansa di pesta Kris.” Baekhyun tidak berhenti menatap Minri meskipun sekarang Minri balas menatapnya. Baekhyun justru menyelami tatapan mata itu. Mengintimidasinya.

“Baek, maaf aku harus pergi.”

Minri tidak ingin kisahnya menjadi rumit. Entah mengapa sekarang, Minri tidak ingin Baekhyun tahu bahwa dia adalah gadis yang diajaknya berdansa. Dia takut Baekhyun tidak menerimanya, karena Baekhyun sudah tampak bahagia bersama Soo Jung.

Sepertinya Baekhyun mencurigai Minri. Apakah itu berarti dia tahu bahwa bukan Soo Jung –gadis yang diajaknya berdansa?

 

Minri memang pergi dari Kafe itu. Tapi dia tidak bisa pergi dari Baekhyun. Laki-laki itu memutuskan pergi bersamanya menaiki bis angkutan umum. Baekhyun bilang dia tidak membawa mobilnya. Minri bisa apa lagi? Dia tidak mungkin bilang pada Baekhyun bahwa Baekhyun tidak boleh naik angkutan umum. Itu akan menjadi hal yang konyol sekali. Seperti bis ini milik Minri saja.

Saat ini banyak sekali penumpang yang berada dalam bis yang Minri tumpangi. Semua kursi penuh, membuat Minri terpaksa berdiri dengan memegangi lingkaran pegangan yang bergantung di langit-langit bis. Baekhyun juga demikian. Dia berada di samping Minri.

Minri tidak bisa bergerak bebas karena jarak mereka yang sangat dekat. Apalagi terkadang guncangan bis membuat tubuh mereka bersentuhan. Tidak ada yang bicara saat itu. Mereka hanya menatap ke arah jalanan, dengan pikiran yang berkelana masing-masing.

Tiba-tiba bis itu berguncang lebih keras, membuat Minri hampir terjatuh (karena pegangan ditangannya terlepas). Dan begitu mengejutkan ketika Baekhyun merangkulnya dengan satu tangan, membuat Minri tanpa sengaja menghadap Baekhyun dengan kepala yang membentur dada laki-laki itu.

Minri membeku. Baekhyun tetap merangkulnya meskipun bis yang mereka tumpangi sudah berjalan normal sebagaimana mestinya.

Minri baru akan menarik tubuhnya menjauh, tapi Baekhyun justru mengeratkan pelukannya.

“Biarkan seperti ini. Aku sangat merindukan gadis yang kutemui di pesta. Dan hangat tubuhmu cukup membuat rasa rinduku berkurang.”

Minri tidak berkata apa-apa. Dia ingin menolak keinginan Baekhyun. Tapi jauh dalam lubuk hatinya juga menginginkan pelukan hangat ini. Menginginkan saat dimana Baekhyun memeluknya. Menginginkan saat Baekhyun menganggapnya gadis yang diajaknya berdansa –walaupun sebenarnya memang demikian.

Bis berhenti.

Minri melirik keluar jalan. Kali ini dia mendorong tubuh Baekhyun pelan. Dia harus turun di pemberhentian ini, karena rumahnya sudah dekat.

“Baek, aku pulang dulu.”

Baekhyun menahan tangan Minri. Kemudian dia menyodorkan ponselnya. “Nomor ponselmu.”

Waktunya sudah sempit. Para penumpang yang turun di pemberhentian itu hampir habis. Dengan tangan yang sedikit bergetar Minri mengetikkan nomor ponselnya. Kemudian cepat-cepat turun dari sana. Dia sempat melirik Baekhyun yang berada dalam bis. Laki-laki itu tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Minri sempat menangkap gerakan mulut Baekhyun yang seperti berkata, “sampai bertemu lagi, Princess.”

Minri masih terpaku di tempatnya ketika bis itu mulai bergerak menjauh. Kemudian dia tersadar bahwa dia harus segera tiba di rumah sebelum nenek-nenek sihir itu mengomelinya.

***

Minri tiba di rumah lewat lima menit dari biasanya. Ibu tirinya –yang sedang mengecat kuku-kukunya itu, menghentikan Minri ketika gadis itu lewat.

“Darimana saja kau? Bermain dengan teman-temanmu lagi? Kau punya banyak sekali pekerjaan disini!” Ibu tirinya menoyor kepala Minri dengan tangan kanan –yang masih terbebas dari cat kuku.

Minri hanya menunduk. Membiarkan beberapa helaian rambutnya jatuh ke depan. Mendengarkan omelan ibu tirinya itu yang panjang lebar dan terulang-ulang seperti kaset rusak. Telinganya sudah kebal akan hal itu. Sampai-sampai Minri menguap karena bosan.

“Mom!!” Soo Yeon keluar dari kamar dengan beberapa rol rambut menggulung di rambutnya. Dia membawa tab merah muda miliknya yang berhias pernak-pernik sana-sini.

Ibu tirinya berhenti mengomeli Minri dan menyahut panggilan putrinya dengan lembut.

“Hari ini ada promosi baju baru di Mall. Ayo kita pergi.” Soo Yeon menunjukkan layar tab-nya kepada ibunya.

Minri memutar bola matanya. Mereka hanya bisa menghamburkan uang untuk kesenangan mereka. Dan mereka mestinya sadar bahwa uang yang mereka pakai bukanlah milik mereka sendiri!

“Baiklah, tunggu Mom menyelesaikan cat kuku ini.”

Soo Jung keluar dari arah kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa, dengan wajah tidak seceria biasanya. Soo Jung sedang memegangi ponselnya sambil menatap layar ponsel itu, seperti ada yang sedang di tunggunya.

“Ya, Soo Jung-ah, kau ikut ke Mall tidak?” tanya Soo Yeon.

“Tidak.” Jawab Soo Jung tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

“Ya sudah.” Soo yeon mengendikkan bahunya, kemudian berlalu menuju kamarnya. Dia tidak begitu peduli masalah Soo Jung, yang penting hari ini dia akan bersenang-senang, berbelanja dengan ibunya.

 

Terimakasih pada Soo Yeon karena membuat ibu tirinya berhenti mengomel dan membawa wanita itu pergi. Sekarang hanya Minri dan Soo Jung yang berada di rumah.

Soo Jung duduk bermalas-malasan di atas sofa sembari membolak-balik majalah fashion-nya, sementara Minri mengepel lantai. Sesekali dia melirik Soo Jung. Kemudian dia menyimpulkan satu hal. Baekhyun belum juga –

Kriiing!

–menghubunginya.

Minri terkesiap saat ponsel di sakunya berbunyi. Dia menepikan ember dan kain pel itu. Lantas merogoh saku celananya. Nomor yang tidak dikenal terpampang di layar ponselnya. Dia menekan tombol jawab, kemudian terdengar suara seorang laki-laki dari seberang sana.

Halo.

“Ya. Dengan siapa ini?” tanya Minri pelan.

Baekhyun.”

“Apa?!”

Minri melirik Soo Jung sesaat sebelum mengambil langkah panjang menuju kamarnya. Baekhyun menelponnya. Oh, ya ampun! Ada apa ini…

Soo Jung memperhatikan Minri sampai gadis itu hilang dari pandangannya. Dan Soo Jung mencurigai satu hal.

***

Hari kembali berganti seperti lembaran-lembaran kosong yang setiap waktunya akan terisi dengan momen-momen yang tidak terduga. Atau mungkin biasa-biasa saja.

Hidup gadis itu masih sama.

Di hari berikutnya pun masih sama.

Kampus sedang dalam keadaan yang tidak terlalu ramai ketika Minri dan teman-temannya berkumpul seperti biasa di bawah pohon apel.

Jongin, Sehun, Chanyeol dan Kyungsoo merasa aneh dengan keadaan Minri. Gadis itu seperti kerasukan arwah karena dia tidak bicara apapun sejak mereka berkumpul. Petikan gitar Chanyeol menjadi latar suara yang cukup mengganggu, tapi Minri tidak protes seperti biasa.

“Ya! Kau kenapa?” tanya Kyungsoo takut-takut.

Minri mendongakkan kepalanya, lantas menggeleng. Dia bingung harus mulai darimana kalau dia ingin menceritakan semua itu.

Kyungsoo menunggu Minri yang tak kunjung membuka mulutnya. Sehun sedang memainkan bola basketnya. Tangan lihai pemuda itu memutar-mutar benda karet berwarna jingga itu dengan cekatan. Sesekali melemparkannya ke udara, terkadang hampir mengenai kepala Jongin. Dan kalau sampai itu terjadi, dua pemuda tampan itu pasti beradu mulut berkepanjangan. Jongin sedang main game di PSP hitamnya.

Perkumpulan aneh di siang itu, terasa sepi (kecuali suara petikan gitar Chanyeol).

“Kalian kenal Baekhyun?” tanya Minri, menghentikan suasana sepi di antara mereka.

“Ya, kami tahu. Sepupu Kris, dia lumayan tampan.” Komentar Sehun sambil memeluk bola basketnya. Mungkin bagi Sehun hanya kata lumayan yang mewakilkan ketampanan Baekhyun, karena Sehun juga tidak mau kalah soal ketampanan. Tapi bagi Minri, kata tampan pun tidak mampu mendefinisikan pesona wajah Baekhyun.

“Kenapa dengan Baekhyun?” Jongin mulai mendapat penerangan atas alasan Minri melamun. Dia menegakkan duduknya dan dengan sembarangan meletakkan PSP-nya di paha Kyungsoo. “Baekhyun yang mengajakmu berdansa, kan.”

“Kau benar,” jawab Minri sembari tersenyum lemah.

“Ceritakan pada kami apa yang terjadi antara kau dan sepupu Kris itu.”

Atas saran Chanyeol, Kyungsoo berjanji menyerahkan semua bekalnya hari ini pada Minri, jika gadis itu menceritakan semuanya. Padahal Kyungsoo tidak perlu melakukan semua itu. Tapi, tawaran yang bagus sih.

“Ku pikir, aku menyukai laki-laki itu.”

“Wow! Kau mendapatkan pangeranmu.” Jongin meninju pelan lengan Minri.

“Akhir-akhir ini dia selalu muncul di hadapanku, juga sering menelponku. Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku.”

Minri menyomot kimbab buatan Kyungsoo, sementara teman-temannya yang lain masih berpikir. Chanyeol ikut mengambil kimbab-nya diam-diam.

“Malam itu dia mengajakku berdansa. Kami hanya berdansa. Mata bertemu mata. Lalu dia mengajakku bicara. Dia tidak menanyakan namaku, juga tidak bertanya hal-hal lain yang bersifat pribadi. Sampai ketika Jongin memanggilku lalu semuanya berakhir.”

“Tanyakan saja langsung padanya,” sahut Sehun, dan disambut anggukan ringan oleh kepala Jongin. Kali ini mereka sepemikiran.

“Itu konyol Sehun! Bagaimana mungkin aku bertanya padanya ‘apa kau menyukaiku?’ ketika kami bertemu. Kami tidak sedekat itu. Dan itu… oh, astaga memalukan!”

“Apa kau perlu bantuanku untuk menanyakannya?” Jongin menawarkan bantuan.

“Jangan. Tidak usah, Jongin.”

“Kau harus tahu, Minri. Kau harus tahu perasaan Baekhyun.” Kyungsoo ikut bicara. Chanyeol mengangguk-angguk sambil menunjuk Kyungsoo, berpendapat bahwa dia setuju dengan pernyataan Kyungsoo.

Minri baru akan membuka mulutnya lagi, tapi suara orang yang baru saja menjadi bahan pembicaraan mereka menginterupsinya.

Terkutuklah kalian! Baekhyun pasti mendengar semuanya.

“Permisi, maaf mengganggu kalian.”

Minri menolehkan kepalanya sesaat, sebelum kembali menatap teman-temannya dengan pandangan ‘ku harap kalian tidak bicara sembarangan!’

“Tidak apa-apa, Baekhyun-ssi. Ada apa?” Kyungsoo menyahut dengan ramah.

“Apa salah satu dari kalian bisa mengantarku ke ruang dekan?”

“Bisa. Minri bisa.” Jongin menyahut seenaknya. Dia tidak peduli bahkan ketika Minri melotot ke arahnya. Apa-apaan Jongin!

“Mungkin Kyungsoo bisa,” ucap Minri sembari menatap Kyungsoo.

Bukannya Minri tidak ingin bersama Baekhyun. Dia hanya menata hatinya agar tidak terlalu menaruh harapan besar pada Baekhyun karena dia yakin akibatnya, dia akan sakit hati lebih dalam nantinya.

“Aku ada kelas,” jawab Kyungsoo sembari tersenyum konyol. Tapi Minri tahu Kyungsoo tidak pandai berbohong.

“Aku juga,” ucap Chanyeol ketika Minri mengalihkan pandangan padanya.

“Aku juga.” Sehun juga ikut-ikutan bahkan Minri tidak terpikir untuk meminta bantuannya.

“Tentu bukan aku.” Jongin tersenyum penuh kemenangan saat semua teman-teman berpihak padanya.

Mereka bohong! Mereka tidak ada kelas hari ini! Oh Ya ampun!!

Minri merasa gemas. Rasanya ingin menyumpal mulut mereka satu-per satu dengan telur gulung buatan Kyungsoo yang belum habis dimakannya. Mengingat ada Baekhyun disini, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dan akhirnya dia hanya mengangguk pasrah.

Jrengg!

Suara gitar Chanyeol menjadi pengiring kepergian Minri bersama Baekhyun. Minri berbalik ke belakang, menatap datar teman-temannya tampak melambai senang.

 

“Kenapa Baekhyun harus ke ruang dekan?” tanya Minri saat mereka berdua mulai memasuki gedung kampus.

“Aku akan meminta tanda tangan persetujuan atas risetku,” jawab Baekhyun.

Tidak sepenuhnya alasan Baekhyun ke kampus itu hanya meminta tanda tangan, tapi sebenarnya dia ingin menemui Minri. Ada yang perlu dibicarakannya.

Mereka memasuki lift. Kampus itu adalah kampus elit di pusat Kota Seoul, jadi jangan heran kalau fasilitasnya sangatlah mengagumkan.

Ketika Minri melangkahkan kakinya ke dalam lift, tanpa sengaja dan tanpa diinginkannya, kakinya tersandung oleh kakinya yang lain, hingga dia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung, tapi, dengan sigap Baekhyun menangkap pinggangnya.

Minri seketika menoleh ke belakang dan saat itu pula, waktu seakan kembali terhenti. Bibirnya menyentuh bibir Baekhyun.

Perasaan ini… bibir ini… sama seperti saat aku mencium gadis yang paling bersinar di pesta.

Baekhyun menarik lengan gadis itu, membawanya ke salah satu sudut lift –tanpa memutus kontak di bibir mereka –kemudian pintu lift itu tertutup secara otomatis mengurung gadis dan pemuda dengan segala perasaan yang membuncah di dada.

Punggung Minri menyentuh dinding lift yang dingin. Keadaan berbeda terjadi dari dalam tubuhnya. Seperti ada puluhan bom yang diledakkan dari dalam, membuat Minri merasa pengap dengan api yang terus berkobar.

Minri tidak melawan. Dirinya terlalu shock dengan kejadian ini. Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan ketika Minri merasakan Baekhyun menggerakkan bibirnya. Ciuman itu, yang awalnya hanya ketidaksengajaan berubah menjadi sebuah ciuman yang menuntut. Persediaan oksigennya semakin menipis.

Minri terlalu lemah untuk mendorong tubuh Baekhyun menjauh. Minri terlalu lemah untuk menghentikan Baekhyun mencumbu bibirnya. Minri pasti sudah gila karena berharap Baekhyun terus menciumnya sampai mereka berdua membutuhkan pasokan oksigen untuk bernapas.

Baekhyun tetap mempertahankan posisinya bahkan ketika suara dentingan lift terdengar, menandakan bahwa lift itu sudah terbuka. Dia melepaskan ciumannya, lantas meletakkan kedua tangannya di samping wajah Minri. Menatap gadis itu dengan pandangan mengintimidasi, membiarkan gadis itu menghirup udara dengan napas memburu dan mulut yang setengah terbuka.

“Tidak salah. Kaulah gadis yang kutemui di pesta, bukan Soo Jung.” Baekhyun mengambil kesimpulan sendiri.

Minri mendorong tubuh Baekhyun. Kali ini dia mampu. Tapi tangan Baekhyun tengah menahannya pergi. Minri menurunkan pandangannya, dan dia melihat ada sepasang sepatu di depan pintu lift yang terbuka. Rupanya mereka berdua tidak sadar bahwa ada seorang laki-laki jangkung tengah menatap mereka dengan wajah bodoh dan rasa syok yang luar biasa.

Minri mendongak dengan wajah yang merona.

“Kris…”

“Oh-My-God!”

“Baek, aku harus pergi.” Minri menepis tangan Baekhyun.

“Tidak. Tapi kitalah yang harus pergi –dan harus bicara.”

Baekhyun kembali menarik tangan Minri, lantas menekan tombol lift, membuat pintu perlahan menutup, meninggalkan Kris dengan rahangnya yang jatuh dan pandangan tidak percaya.

Baekhyun sempat mendengar Kris mengumpat ketika pintu lift tepat tertutup.

YAK Baekhyun! Kau pikir kampus ini milikmu!

Minri mengerjapkan matanya cepat. Dia mencoba melepaskan genggaman tangan Baekhyun di lengannya. Tapi Baekhyun tetap bersikeras memegang lengan gadis itu. Padahal Baekhyun sendiri tahu bahwa Minri tidak akan bisa pergi kemana-mana.

“Bagaimana dengan minta tanda tangan –” Minri mencoba menyadarkan Baekhyun bahwa tujuannya datang ke kampus ini adalah untuk memenuhi syarat risetnya. Tapi tampaknya pria itu keras kepala.

“Hal itu masih bisa kulakukan nanti.”

 

“Ternyata benar.”

Minri baru saja menyelesaikan ceritanya. Mengatakan yang sebenarnya bahwa dia gadis yang diajak Baekhyun berdansa. Dan wajah Baekhyun seketika berbinar.

Di bawah pohon apel mereka bicara dengan nyaman. Taman kampus tidak terlalu ramai. Dan kelompok aneh –teman-teman Minri –tampaknya sudah menghilang entah kemana. Mereka hanya meninggalkan jejak sampah minuman kaleng. Pasti Chanyeol lupa membuangnya ke tempat sampah.

“Ya, Baek. Akulah gadis dengan topeng perak waktu itu. Dan aku menamparmu.”

Baekhyun langsung membawa Minri ke dalam pelukannya –hanya sebentar, sekedar meluapkan emosi bahagianya –ketika pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya telah terjawab dengan jelas . Minri adalah gadis yang ditemuinya di pesta. Minri adalah gadis yang diajaknya berdansa. Dan Minri adalah gadis yang berciuman dengannya –lupakan bahwa Minri pernah menamparnya.

Minri tersenyum, meskipun pelukan itu hanya berlangsung beberapa detik. Minri dapat mencium aroma tubuh pria itu. Terasa segar dengan farfum maskulinnya. Hembusan angin yang pelan di siang terus membawa aroma tubuh Baekhyun merasuk ke indra penciumannya.

Di bawah langit yang cerah itu, Baekhyun meminta –atau lebih tepatnya memaksa Minri menceritakan semuanya. Baekhyun sedikit kesal karena Minri tidak mengatakan yang sebenarnya pada Baekhyun dari awal. Tapi kekesalan itu sudah terbayar karena pada akhirnya Baekhyun bisa menemukan gadis yang selama ini dicarinya.

Baekhyun memegang kedua bahu gadis itu. Dia tersenyum.

“Aku menyayangimu.”

Aku lebih dari itu, Baekhyun…

“Bagaimana dengan Soo Jung?” tanya Minri pelan.

Baekhyun menurunkan kedua tangannya ke samping badan. Pikirannya menerawang. Soo Jung, gadis itu memang pemilik sepatu perak yang tertinggal di pesta, tapi gadis yang Baekhyun ajak berdansa bukanlah Soo Jung. Baekhyun tidak punya perasaan apapun pada gadis manja itu.

“Dia hanya teman. Atau bukan.” Baekhyun berpikir untuk tidak menemui Soo Jung lagi. Baekhyun sudah mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa Soo Jung lah yang dia cari, bahwa Soo Jung lah gadis yang disukainya, tapi ternyata perasaannya terasa janggal ketika bersama gadis itu. Bukan Soo Jung yang telah mencuri hatinya.

“Baek, aku ingin mengatakan satu hal.” Air muka Baekhyun berubah serius. “Soo Jung… adalah… saudara tiriku.”

Baekhyun tersentak. Cukup dikejutkan dengan kalimat yang meluncur dari bibir Minri. Dia tidak menyangka. Dia pikir Soo Jung hanya teman biasa yang mau meminjamkan sepatunya pada Minri. Pantas saja ketika Baekhyun menunjukkan sepatu perak itu pada Minri, dia langsung menyebut bahwa itu adalah sepatu Soo Jung. Dan Minri tahu dimana letak rumahnya.

Waktu itu Soo Jung bilang dia tidak tahu rumah Minri. Ck, gadis itu sudah membohonginya. Lantas, apa tujuan mereka berdua menyembunyikan semua ini dari Baekhyun.

“Ayah dan ibuku sudah pergi dengan damai.” Minri tersenyum tipis dengan pandangan menerawang.

Baekhyun belum mengerti kemana arah pembicaraan Minri, tapi dia bisa menangkap sedikit kepedihan di wajah itu. Meskipun Baekhyun sepenuhnya yakin bahwa Minri adalah gadis yang tegar.

“Dan ibu tiri beserta saudara tiriku memperlakukanku seperti babu. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menuruti perintah mereka. Semua surat kuasa dan tetek bengeknya ada di tangan wanita itu. Aku bisa diusir jika membantah.”

Baekhyun merangkul bahu gadis itu lantas mengusapnya pelan. Mengalirkan kehangatan yang nyaman. Minri menarik napas. Seperti tersadar dari mimpi. Bibirnya tertawa pelan.

“Astaga! Aku bicara apa…”

Gwanchana, kalau kau merasa nyaman setelah menceritakannya, ceritakanlah. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun.”

Minri menghentikan tawanya. Dia menatap Baekhyun beberapa saat, lalu dia menurunkan pandangannya. Baekhyun itu terlalu sempurna untuknya. Apakah Baekhyun sungguh sayang padanya? Dan mungkinkah mereka bisa bersama? Sementara pikirannya merangkai tanda tanya, hatinya menginginkan satu hal –atau mungkin beberapa hal.

“Baek, bolehkah aku memelukmu?”

“Selama yang kau mau.”

Baekhyun merentangkan tangannya. Kemudian mengurung Minri dalam pelukannya ketika gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Baekhyun. Dia mengusap pelan kepala Minri, merasakan surai gadis itu yang terasa lembut menyentuh telapak tangannya. Dia juga menghirup aroma sampo yang menguar dari surai kecoklatan itu.

Minri memejamkan matanya. Dia merasakan kenyamanan ganda. Selain tubuhnya merasakan pelukan Baekhyun yang hangat, hatinya juga merasakan kehangatan yang sama. Dia sungguh ingin berlama-lama dengan posisi seperti itu.

Oh, tapi Minri harus sadar bahwa Baekhyun belum resmi menjadi kekasihnya.

***

“Mengapa kau tidak mengatakan padaku yang sebenarnya?” Baekhyun menelontarkan pertanyaan yang sejak awal mengganggu pikirannya. Mereka berdua –Baekhyun dan Minri, berjalan menuju tempat parkir.

“Aku pikir kau menyukai Soo Jung dan… yah, aku tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaanmu.”

Baekhyun mencubit hidung Minri dengan gemas, membuat hidung gadis itu mengerucut lucu. Lalu Minri menurunkan tangan Baekhyun dari wajahnya. Minri ingin menjauhkan tangannya, tapi Baekhyun menangkap tangan itu lantas menggenggamnya.

“Kebahagiaanku ada padamu.”

Minri mengerjap cepat saat Baekhyun menghentikan langkah lalu mendekatkan wajah padanya. Hembusan nafas pemuda itu menerpa wajahnya. Kemudian pemuda itu mengecup keningnya –sesaat sebelum mereka dikagetkan dengan sebuah suara –

“Wohoo!! Akhirnya!!”

–seruan seorang laki-laki.

Minri segera menjauhkan tubuhnya dari Baekhyun ketika dia mendengar suara berat –yang dikenalinya sebagai suara Chanyeol –yang menggelegar dan terdengar dekat.

Teman-teman anehnya –entah datang darimana –memandangi Minri dan Baekhyun dengan senyuman menggoda. Bahkan si ‘kekurangan stok ekspresi’ macam Sehun juga melakukan hal yang sama. Ugh, apa yang baru saja mereka lihat.

“Selamat ya.” Kyungsoo menyodorkan tangan kanannya di depan Minri.

“Selamat untuk apa?” Minri menyingkirkan tangan Kyungsoo di depannya dengan pelan. Kemudian dia berdiri. Sedikit banyak, dia merasa malu menjadi tontonan meskipun itu teman-temannya sendiri.

“Baekhyun-ssi, mari kita makan siang bersama.”

Jongin merangkul bahu Baekhyun. Membuat mereka seakan akrab sudah cukup lama. Minri memasang wajah datar melihat hal demikian, karena pada kenyataannya, Jongin baru saja kenal dengan Baekhyun secara resmi beberapa jam yang lalu.

“Ya. Dan kau harus mentraktir kami.” Sehun bicara seenaknya. Sehun tidak peduli. Menurutnya, mereka sudah membantu Baekhyun –secara tidak langsung –agar dia punya waktu bicara berdua dengan Minri. Sehun ada benarnya.

“Baiklah.”

Dan si tuan baik hati itu mengiyakan begitu saja ajakan mereka. Heol… Baekhyun tidak tahu kalau dompetnya akan terkuras jika mentraktir makan para pemamah biak macam Chanyeol, Kyungsoo, Jongin dan Sehun.

Di sisi lain, Minri merasa senang. Karena teman-temannya yang baik itu telah membuat Baekhyun tertawa. Dan bagi Minri, tawa Baekhyun adalah salah satu hal yang tertulis dalam daftar hal-hal yang membuatnya bahagia.

***

Baekhyun menatap langit-langit kamarnya. Senyum terpatri di wajahnya saat dia mengingat momen-momen berharga yang dilewatinya bersama Minri dan juga teman-temannya yang lucu –kecuali si pirang berwajah dingin, Sehun.

Di luar jendela kamarnya, langit tampak berwarna jingga berpendar. Sangat indah. Dan sangat mendukung suasana hatinya sekarang. Mungkin memejamkan mata sesaat dapat mengembalikan rasa lelahnya setelah jalan-jalan setengah hari dengan teman-teman barunya (sebut saja Baekhyun baru mendapatkan teman-teman baru.)

Baekhyun baru memejamkan matanya ketika suara ketukan dari pintu kamarnya terdengar mengganggu. Dia mengenali suara itu sebagai suara Kris. Baekhyun sementara menginap di rumah Kris dan dia bisa memilih kamar manapun yang dia suka karena rumah keluarga Wu sangatlah besar, dengan cukup banyak kamar tidur.

Dengan langkah gontai dia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, lantas membukanya. Kris menyambutnya dengan sebuah jitakan manis. Baekhyun maklum, Kris sering melakukan hal itu padanya. Si tiang itu memang sering berbuat sesuka hatinya.

“Aku memanggilmu sejak tadi,” ucap Kris lantas melipat kedua tangannya di depan dada. “Soo Jung mencarimu.”

“Soo Jung,” gumam Baekhyun diiringi dengan helaan nafas.

“Aku heran kenapa Soo Jung mencarimu. Kenapa kalian bisa sedekat ini? Kau bahkan baru beberapa hari tinggal disini.”

“Kau tak perlu tahu Kris.” Baekhyun melewati Kris yang sebenarnya masih ingin mencercoki Baekhyun dengan banyak pertanyaan di kepalanya.

“Ku lihat kau juga dekat dengan Minri. Dan koreksi kalau penglihatanku salah, kalian berciuman?!”

Kali ini Baekhyun berbalik sembari tersenyum jenaka. Dia juga mengangkat kedua bahunya. Terkesan tidak peduli. Kris tidak perlu tahu tentang kedekatannya dengan Minri. Nanti, kalau sudah tiba waktunya Baekhyun akan mengumumkan pada dunia bahwa Minri adalah miliknya.

Baekhyun menuruni anak tangga dengan setengah berlari hingga akhirnya dia tiba di ruang tamu. Ada Soo Jung disana, duduk di sofa panjang dengan kaki bersilang. Rupanya Soo Jung sudah dipersilakan masuk.

Soo Jung berdiri setelah dia melihat Baekhyun. Gadis itu tersenyum, mungkin beberapa pria akan langsung tertarik pada senyuman itu, tapi tidak dengan Baekhyun.

“Ada apa Soo Jung-ssi?”

“Apa kau hari ini sibuk?” tanya Soo Jung sembari memainkan jari-jarinya.

Baekhyun berpikir sejenak. Dia memperhatikan penampilan Soo Jung diam-diam. Dan dengan segera dia menangkap satu hal. Soo Jung pasti ingin mengajaknya pergi.

“Err, maaf, aku sibuk. Aku harus menyelesaikan laporan studiku malam ini.”

Sedikit berbohong pada gadis manja ini tidak apa-apa kan? Baekhyun merasa sedikit bersalah melihat wajah Soo Jung tampak kecewa, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak ingin memberikan harapan yang palsu pada Soo Jung, gadis itu harus segera tahu bahwa bukan dia yang Baekhyun sukai.

“Baiklah, mungkin lain kali.”

“Ya.”

Soo Jung beranjak dari kursinya, dia berjalan menuju pintu masuk sementara Baekhyun mengekorinya di belakang. Meskipun tak suka pada Soo Jung, Baekhyun tetap harus menjadi tuan rumah yang baik.

“Soo Jung-ssi,” panggil Baekhyun.

Soo Jung berbalik, “Ne? Waeyo?

“Jam berapa biasanya kau berangkat ke kampus?”

“Aku? Sekitar jam 9.” Soo Jung tersenyum. Dia pikir Baekhyun akan mengantarnya. “Memangnya kenapa?”

“Tidak.”

Soo Jung mengerutkan kening sesaat, sebelum kembali berbalik dengan wajah kesal. Kali ini Baekhyun sangat menyebalkan baginya.

“Apa itu berarti Minri juga berangkat di jam yang sama?” gumam Baekhyun pada dirinya sendiri. Tapi telinga tajam Soo Jung masih bisa menangkap kalimat itu.

Kecurigaan Soo Jung semakin kuat. Dia mengertakkan giginya dengan mata yang berkilat marah. Dia akan menguak kecurigaannya ketika dia tiba di rumah nanti. Ada yang sudah berani melangkahinya rupanya.

***

“Park Minri!!!”

Uhhuk!

Minri menyemburkan air putih yang baru diminumnya ketika suara melengking memanggil namanya dengan cukup mengerikan. Dia baru saja menyelesaikan kegiatan memasaknya di dapur. Dan akan menghilangkan dahaganya tapi suara Soo Jung malah menginterupsinya. Apa-apaan!

Dia ingin meneguk minumannya lagi tapi kehadiran Soo Jung dihadapannya membuat Minri kembali menurunkan gelasnya.

Soo Jung tampak bringas. Dia seperti ingin mencakar-cakar wajah Minri atau mungkin mencincang Minri lalu memasukkan ke dalam mangkuk sup untuk makan malam. Itu mengerikan sekali.

“Ada apa?” tanya Minri dengan tenang.

“Kau mengambil Baekhyun-ku!!”

Baekhyun-ku?!!

Minri menjerit dalam hati.

Memangnya dia sudah resmi menjadi kekasih Baekhyun? Tidak ‘kan?

“Apa maksudmu Soo Jung? Aku tidak mengerti.”

“Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kalau kau diam-diam pergi dengan Baekhyun. Kau menceritakan semuanya pada Baekhyun. Mengatakan padanya bahwa kaulah gadis yang berdansa dengannya. Jawab aku Park Minri!!”

Baekhyun bahkan sudah tahu sebelum aku mengatakan padanya.

“Kau benar-benar kurang ajar!”

Soo Jung menjambak rambut Minri, membuat gadis itu memekik sakit. Kedua tangannya berusaha melepaskan tarikan tangan Soo Jung di rambutnya. Dia bisa botak, pikirnya.

Minri mengeluarkan sedikit ilmu bela dirinya. Dia memutar kedua tangan Soo Jung ke belakang tubuhnya. Dan Soo Jung meronta minta di lepaskan.

“Ada apa ini?” Ibu tirinya datang menghampiri mereka berdua. Minri segera melepaskan pegangan tangannya pada Soo Jung. Gadis manja itu berlari kepada ibunya dengan suara tangis yang dibuat-buat.

Mom! Dia mengambil pacarku!!”

Mata tajam ibu tirinya membuat Minri menunduk. Apalagi sekarang?

“Minri, temui aku di ruanganku.”

Matilah kau Park Minri.

***

Minri mengerjapkan matanya berkali-kali ketika mentari menelusup masuk melewati celah jendela yang terbuka. Dia meregangkan tubuhnya yang terasa ditindih beban berat. Dan rasanya dia tidak bisa beraktivitas dengan benar hari ini.

Ibu tirinya memang menyayangi anak kandungnya. Bahkan hanya karena pengaduan yang belum tentu benar dari mulut Soo Jung (dalam hal ini Minri dituduh bersalah), tadi malam, Minri disuruh memotong rumput di halaman. Baik, aku ulangi. Memotong rumput di halaman!

Dengan langit yang gelap, udara yang dingin, beserta nyamuk-nyamuk yang menggigitinya, Minri merasa seperti berada di hutan. Apalagi suasana sepi, menambah kesan horor yang kentara.

Dan setelah menyelesaikan semuanya, Minri merasa tubuhnya begitu lelah. Dia terkapar tanpa rasa di atas kasurnya.

Minri melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul delapan. Minri sudah terlambat. Tapi tampaknya tidak ada yang meneriakinya hari ini. Aneh.

Dia mencoba bangkit dari tempat tidur. Dengan mata yang setengah terpejam, dia melangkah menuju kamar mandi, mencuci muka lalu menggosok giginya. Setelah selesai dengan rutinitas paginya, barulah Minri keluar dari kamarnya. Benar, tidak ada seorangpun di rumah.

 

Di hari minggu, langit yang cerah bermandikan cahaya mentari. Ibu tiri dan kakak tirinya pergi bersenang-senang ke pantai. Mereka meninggalkan sebuah note kecil di pintu kulkas.

Tidak ada yang menyuruhnya ini-itu di pagi hari. Sekarang Minri bisa bersikap layaknya pemilik rumah. Dia membuka kulkas, lalu mengambil kotak susu lantas menuangnya di gelas. Dia juga membuka lemari penyimpanan, memilih sereal sebagai sarapannya kali ini.

Oh, ini baru namanya hidup!

***

Ponsel Minri berbunyi ketika dia baru saja selesai mandi. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Bibirnya melengkung ke atas saat melihat nama penelpon yang terpampang di layar. Siapalagi yang bisa membuatnya tersenyum bodoh seperti itu selain Baekhyun.

“Ya, ada apa Baekhyun?”

Hari ini cuaca cerah. Mau jalan-jalan denganku?”

Wajah Minri berubah murung. Dia ingin sekali menerima ajakan Baekhyun, tapi sayangnya dia tidak bisa. Minri sudah berkeliling rumahnya mengecek pintu depan dan belakang yang memungkinkannya bisa keluar dari sana, tapi ternyata semuanya dikunci. Heol, apa ibu tirinya ingin Minri terkurung dalam rumah itu seperti tokoh rapunzel?

“Maaf, Baek. Aku tidak bisa.”

Mengapa?” nada bicara Baekhyun tampak kecewa.

“Aku dikunci dari luar oleh ibu tiriku.”

“Apa? Oh astaga! Apa perlu aku ke sana lalu mendobrak pintunya?”

Minri tertawa pelan. Lalu memeluk boneka teddy bear-nya. Apa Baekhyun sungguh ingin melakukannya?

“Tidak perlu, Baek. Aku baik-baik saja. Mungkin kita bisa jalan-jalan lain kali.”

Terdengar helaan nafas dari seberang sana.

“Baiklah. Jangan lupa sarapanmu. Bye. Aku sayang padamu.”

Kemudian panggilan terputus. Minri tidak yakin dengan kalimat terakhir yang didengar oleh telinganya, karena Baekhyun memelankan volum suaranya saat dia mengatakan hal itu. Tapi Minri harap dia tidak salah dengar. Minri mengipas wajahnya dengan telapak tangan. Hangat menjalar di seluruh tubuhnya saat dia mendengar Baekhyun mengatakan bahwa dia sayang pada Minri.

Dan itu lebih dari cukup untuk membuat Minri bahagia.

 

Kebahagiaannya bertambah satu.

Sendirian di dalam rumah yang besar itu tentu bukan hal yang buruk. Minri bisa melakukan apapun yang dia suka. Setelah beberapa tahun terakhir berada di bawah kekuasaan ibu tiri dan kakak-kakak tirinya, akhirnya Minri bisa merasakan punya rumah sendiri (walaupun Minri tahu ini tidak akan berlangsung lama).

Minri berbaring di sofa ruang tengah sembari menyalakan televisi. Ditemani dengan makanan ringan yang di dapatkannya di lemari penyimpanan.

Matahari sudah terletak di tengah langit. Dan mungkin Minri punya waktu beberapa jam lagi untuk menikmati waktu sendirinya.

Minri mengganti-ganti chanel tv dengan remot di tangannya. Tidak ada acara yang menarik perhatiannya. Acara kartun favoritnya sudah habis. Sepertinya Minri harus berpikir keras untuk menghilangkan kebosanannya.

Tiba-tiba Minri menegakkan tubuhnya ketika sebuah pemikiran melintas di otaknya. Dia sedang sendirian di rumah berarti dia bisa menjalankan rencana lamanya untuk merebut surat menyurat kepemilikan dan tetek bengeknya.

Ide bagus!

Minri segera beranjak dari sofa. Meninggalkan bungkus makanan ringan yang berserakan di atas meja. Dia akan membereskannya nanti, setelah dia menemukan apa yang dia cari. Bagaimanapun, Minri harus menemukannya dan mengambil apa yang memang seharusnya menjadi haknya.

 

Dua jam berlalu dan Minri masih berkutat dengan berbagai macam berkas peninggalan ayahnya di ruang kerja. Beberapa kali dia bersin karena debu berterbangan di sekitarnya. Minri tidak diperbolehkan memasuki ruangan itu, makanya ruangan itu tampak tidak terawat.

Minri menemukan kunci ruang kerja ayahnya di kamar ibu tirinya. Anggaplah Minri sudah lancang karena masuk ke dalam kamar milik orang lain. Tapi Minri punya alasan yang kuat mengapa dia harus melakukan hal semacam itu.

Minri menghela nafas karena tak kunjung menemukan apa yang diinginkannya. Dia sudah mencari ke seluruh ruangan. Mulai dari laci meja, lemari besar bahkan susunan surat menyurat yang Minri tidak mengerti. Dia hampir putus asa. Harusnya Minri sudah tahu bahwa ibu tirinya itu tidak mungkin menyimpan berkas penting di tempat sembarangan.

Dia baru akan keluar dari ruangan itu sebelum sebuah kotak besi menarik perhatiannya. Kotak brankas. Minri menghampiri benda itu. Ada tombol angka di pintu brankas. Minri harus berpikir keras untuk dapat membukanya.

Minri mulai memikirkan tanggal kelahiran ibu tirinya, Soo Yeon dan Soo Jung. Sungguh menakjubkan karena Minri bisa hapal itu semua. Tentu saja dia hapal. Mereka bertiga selalu merayakannya besar-besaran di rumah ini ketika hari jadi mereka telah tiba. Dan Minri pasti dilibatkan dalam hal ini. Minri pasti kerepotan sana-sini!

Beberapa kali dia mencoba, namun hasilnya tetap sama –brankas itu tidak bisa dibuka. Minri mencoba lagi, kali ini dia iseng menekan tanggal lahirnya lalu–

Ceklek!

–brankas itu terbuka.

Wow. Minri membuka setengah mulutnya. Dia masih terlalu shock karena pada akhirnya brankas itu bisa dibuka dengan angka yang tidak terduga. Mungkin ibu tirinya tidak mempermasalahkan tentang kode rahasia yang dibuat ayahnya untuk brankas itu.

Perlahan Minri membuka kotak brankas. Dan dia mencubit pipinya dengan konyol, menyadarkan dirinya bahwa dia tidak sedang bermimpi.

(TBC)

Woohooo!! Akhirnya aku post. maaaaaf ya telat :/alasanku tentu klasik, aku sibuk *oke lewati*

Maunya ngepost ini bareng sama rilisnya MV Overdose, tapi ah keburu kesel akunya. Ga keluar keluar sih. Eh tapi hari ini Our lovely boys comeback stage arrggghhh!! –maap terbawa suasana. Salahkan Baekhyun yang kelewat tamvan, salahkan dia!! T^T

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, bahwa FF ini akan berakhir seperti di nomor punggung Baekby. Ah kok aku syeediih part depan ending /plak/ ahaha gapapa deh yang penting aku sudah berusaha yang terbaik untuk FF ini.

Oh iya, masih mengingatkan untuk tidak memanggil thor (kalian tahu kan thor itu superhero bawa palu -_-) panggil nama boleh, kakak, eonni, nuna, adik, dongsaeng, yeodongsaeng ya asal jangan sule(?

Pengen kenalan sama aku? *uhhuk pede amat* nggelinding kesini >>about me<< coba.

Sungguh terimakasih >o< kalian baik sekali meninggalkan jejak di kotak komentar :3

Thank you so much for waiting, reading, and comment!!

Love ya ❤

© Charismagirl, 2014

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

307 thoughts on “Milargo del Amor – Chapter 3

  1. Ya!! Aku suka banget ama nih ff kakak!! Kau sudah mencuri hatiku secara tidak langsung abaikan vroh radak nge fly ama Baekhyun nya tpi itu semua gara2 kak Rima. Daebak lah pokoknya. Kalo aku jadi juri per-ff-an dan disuruh milih author terfavorit ya kak Rima soalnya pembawaan ff nya bagus 😀

  2. wah udah mkin banyak scene baek-minri..yg kusuka dr ff ni, para karakternya sgt jelas smpe2 brasa jd slh 1 karakter figuran ajahihihih,, keep writing saeng

  3. Akhirnya baekhyun tw siapa minri,, ya ampun baekhyun emank bisa bikin org melting ya,,
    Udh tampan romantis pula,, senengnya jd minri !

  4. Wah… Penasaran apasih yg ada dalam berangkas itu?.
    Aku kesel banget deh ama saudara tirinya minri. Merebut baekhyunku? Idihh…. Pacaran aja blom. Daripada penasaran langsung baca next chapnya aja deh. Keep writing!!!

  5. Wwoooaaahhh akhirnya baek tau juga kalo minri orangnya.. Aaaahh FF eonnie bagus-bagus banget ihh.. hari ini begadang baca FF eonnie ahh.. -padahal akhirnya ketiduran juga- okehh abaikan yang tadi.. intinya eonnie daebak!! ;;

    1. iyaaa telat ih taunya-_- cinderella aja sehari langsung ketauan. (beda._.)
      ah masa? duh terbang nih.
      silakan, eh kalo sekolah besok jangan begadang baca ff akooh nanti aku disalahin pula 😀
      trims :3

  6. Wohahhahahahaha~ thor, ini makin membuat otak ku error maksimal, hadoh kenapa sih baekhyun jadi semanis itu. Akhirnya, pangeran berkuda Minri dateng juga, terselamatkanlah hidupmu -3- Tapi nenek lampir itu harus segera dibasmi.
    Adegan di lift nya thor, duh seharusnya aku ikut nyempil bareng kris hohoho
    udah lah thor, aku nggak mau banyak bacot lagi. FF nya asli jjang and the best of the best. ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s