Our Love Story in Seoul High School (Chapter 9)

Gambar

Tittle            : Our Love Story in Seoul High School  (Chapter 9)

Author         : QoureChoi (Khaerisma)

Length         : Chaptered

Genre          : romance, school life, family, sad (gagal), humor (maybe), gaje (banget)

Rating          : General

Main cast    :

–          Byun Baekhyun          (Exo K)

–          Lee Byung Hun           (Teen Top)

–          Lee Jinki                      (SHINee)

–          Lee Chunji                   (Teen top)

–          Park Chanyeol            (Exo K)

–          Xi  Luhan                     (Exo M)

–          Choi Inji                       (OC)

–          Kim Hyo Na                (OC)

–          Nam Jiyoung              (OC)

–          Choi Junghee              (OC)

–          Hwang Ahra                (OC)

–          Park Minjung               (OC)

Others cast : find it by your self

 

Hai Chingudeul J, pertama kali yang akan aku sampaikan adalah permintaan maaf. Maaf-maaf banget bagi kalian yang nunggu#emang ada yang nunggu#abaikan. Karena ff ini baru bisa publish sekarang. Harap maklum, tugas menumpuk, sibuk ujian dan sebagainya yang mengharuskan aku untuk berhenti menulis ff ini. Sekali lagi, maaf banget.

Sebagai gantinya, aku bawa ff yang lumayan panjang. Menurutku. Dan banyak konfliknya. Ok, gak usah nunggu lama.

 

    Warning       : Typo banyak dan berserakan dimana-mana.

DON’T PLAGIAT and DON’T BASH okJ”

 

~Happy Reading~

 

“PARK CHANYEOL?!!!” teriak Ahra yang membuat semua orang memusatkan perhatiannya pada Ahra.

 

Chapter 9

“Ahra? Wae? Oh, kau sudah berkenalan dengan Chanyeol?” tanya eomma Ahra.

 

“dd..di..dia..”

 

“kami teman satu sekolah ahjumma. kami sering pulang bersama ahjumma, tapi.. berpisah di lampu lalu lintas” Ucap Chanyeol memotong perkataan Ahra.

 

“ouw, kenapa kau tak pernah cerita pada eomma, Ahra?” tanya eomma Ahra. Ahra mendengus kesal.

 

 “kenapa harus cerita? Bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Lagipula, aku tidak tau kalau eomma dan eommanya Chanyeol berteman.” Ucap Ahra kesal. Ia lalu bangkit dan segera pergi.

 

“Ahra? Mau kemana kau?” tanya eomma Ahra. Tak ada jawaban, karena Ahra sudah menghilang dari pandangan semua orang.

 

“mmm.. maafkan kelakuan anakku ne? Mungkin dia sedang kelelahan.” Ucap eomma Ahra. Yang lain mengangguk mengerti.

 

“ah ne, Minjung, kau juga satu sekolah dengan Ahra kan?” tanya eomma Ahra.

 

“ne ahjumma.” Jawab Minjung sambil mengangguk.

 

“ah, sebenarnya, ada yang harus kita bicarakan jongki, hyun ah.” Ucap appa Ahra. Appa dan eomma Chanyeol saling memandang lalu tersenyum.

 

“kami mengerti. Dan kami sangat setuju.” Ucap jongki, appa Chanyeol. Appa dan eomma Ahra menghela nafas lega.

 

“kalau begitu, secepatnya saja. Menunggu mereka lulus, lalu kita jadi besan. Ahahaha.” Canda hyun ah. Minjung memasang raut wajah bingung karena tak mengerti apa yang sedang dibicarakan. sedangkan Chanyeol mengerti apa maksudnya kemudian ia tersenyum.

 

“ah, iya. Hampir lupa. Silahkan. Silahkan dimakan hidangannya. Ini masakanku sendiri loh.” Ucap ahjung.

 

“jinjja. Hemmm.. baunya enak. Pasti rasanya juga enak.” Puji hyun ah.

 

“ah gomawo. Silahkan dimakan.” Ucap ahjung. Mereka semua pun makan hidangan yang sudah dihidangkan.

 

“Ahra kemana? Apa dia tidak ikut makan?” tanya hyun ah sambil membereskan piring-piring kotor bersama ahjung, eomma Ahra.

 

“mm.. nanti dia akan makan. Tak usah dipikirkan.” Ucap eomma Ahra.

 

Appa Ahra dan appa Chanyeol sedang sibuk bermain billyard. Minjung? Ia sibuk ber-smsan dengan Luhan. Sedangkan Chanyeol? Entahlah.

Taman belakang

 

“kau tak ikut makan?” tanya Chanyeol kepada Ahra yang sedang duduk di kursi ayunan sambil mendengarkan penjelasan guru.

 

“ani.” Jawab Ahra singkat.

 

“wae?” tanya Chanyeol mendekat. Ahra melepaskan headshetnya.

 

“karna ada kau.” Ucap Ahra.

 

“aku? Oh, jadi kalau ada aku, kau grogi ya? Kau jadi salah tingkah karna ada aku?” tanya Chanyeol percaya diri.

 

“cih, percaya diri sekali kau ini. kau yakin aku menyukaimu?” tanya Ahra.

 

“hemmm.. kurasa. Lagipula, walaupun kau tak menyukaiku, aku tetap akan bersamamu kelak. Karena kita akan menikah.” Ucap Chanyeol yakin.

 

“menikah? Kau gila?” ucap Ahra. Chanyeol menggeleng.

 

“sudahlah, terima saja perjodohan ini. lagipula, kita saling mencintai.” Ucap Chanyeol dengan senyuman khasnya.

 

“mencintai? Kau yakin sekali kalau aku jatuh cinta padamu. Dengarkan aku, aku tak menyukaimu. Memang kau menyukaiku?” tanya Ahra. Senyuman Chanyeol memudar. Ia berjalan menuju jembatan kecil yang berada tak jauh dari ayunan itu.

 

“hah.. kau tak percaya padaku ya? Heh, ya.. mungkin. Kalau dipikir-pikir, aku menyatakan perasaanku seperti orang yang bercanda. Aku benarkan? Mianhae. Aku tak bisa romantis. Ya, inilah aku. Park Chanyeol yang tak bisa romantis dan selalu gila.” Ucap Chanyeol merutuki dirinya sendiri. Ahra masih bersikap cuek.

 

“bagus kalau kau menyadarinya. Sekarang pergilah.” Usir Ahra

 

“geurae, Mianhae. Aku terlalu percaya diri. Aku terlalu yakin bahwa kau mencintaiku. Mianhae. Aku akan membatalkan perjodohan ini.dan kau tak perlu menikah dengan namja yang tidak kau cintai. Mianhae sekali lagi.” Ucap Chanyeol sambil melangkah pergi. Ahra berbalik dan ia hanya bisa menatap punggung Chanyeol.

 

“aku membuat kesalahan.” Ucap Ahra merutuki dirinya sendiri.

 

Sekolah

XII A

Luhan yang baru saja datang, berjalan mendekati Inji yang masih sibuk membaca. Luhan kadang berfikir, kenapa Inji senang sekali dengan buku. Dasar, kutu buku.

 

“Inji-ya!” panggil Luhan. Inji menoleh.

 

“pagi-pagi sudah baca buku, siang, sore, malam, aish.. kenapa hari-harimu selalu disibukkan dengan membaca?” tanya Luhan.

 

“bagiku, tak ada hari tanpa membaca. Buku adalah bagian dari diriku.”

 

“dasar kutu buku!” ejek Luhan sambil mengacak rambut Inji. Inji mengerucutkan bibirnya membuat Luhan gemas dengannya.

 

‘awal yang bagus untuk bertanya. Yang sesungguhnya’

 

“siapa Baekhyun hyung untukmu?” tanya Luhan tiba-tiba yang membuat Inji menghentikan aktifitas membacanya.

 

“ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang Baekhyun?”

 

“ani… aku hanya.. ingin tahu. Bisa saja kalian.. mm.. dekat? Atau.. lebih dari itu.”

 

Hening. Tak ada yang bicara. Kelas pun sepi, tak ada orang. Tentu saja, ini masih jam 6 lebih 5 menit.

 

“Baekhyun… dia.. dia…dia musuhku. Dan akan selalu jadi musuhku. Ww..wae?” tanya Inji gugup. Inji memang gugup saat ini. entah apa yang membuatnya gugup.

 

“jangan bohong. Jika kau jujur, aku tak akan bertanya lagi.”

 

“aku jujur. Memangnya aku berbohong bagaimana?” tanya Inji dengan diselingi tawa garingnya.

 

“jinjja? Tapi aku tahu kau berbohong.” Ucap Luhan yang kemudian bangkit dan duduk di pojok belakang, tempat Zelo duduk.

 

Inji menatap Luhan yang kini sibuk dengan urusannya sendiri, berdiam diri sambil mendengarkan musik. Ia merasa Luhan aneh. Apa yang bohong? Inji benar-benar tidak tahu.

 

‘apa yang salah? Aku bohong? Bohong soal apa? Kenapa Luhan bertanya soal Baekhyun? aneh. Dia kenapa? o.. atau…. dia melihatku dicium…. Baekhyun?’ batin Inji.

 

“Inji-ya! Annyeong!” sapa Jiyoung yang baru saja datang. Inji menoleh dan tersenyum membalas sapa Jiyoung.

 

“eoh? Ada apa dengan Luhan?” tanya Jiyoung. Inji menggeleng lesu. Jiyoung menatap aneh kedua orang itu bergantian. Jiyoung pun segera duduk dengan pikiran masa bodoh-nya.

 

Lapangan basket

 

“geurae. Seperti biasa, aku pasrahkan posisi menyerang padamu Baekhyun. Chanyeol, kau juga. Dan yang lainnya, bertahan saja. Arraseo?” ucap L.Joe, sang ketua basket. Yang lain mengangguk. Chanyeol mengangguk kecil dan tak ada semangat dari dirinya.

PRIITT..

 

Permainan pun dimulai. Chanyeol mendrible bolanya tak bersemangat hingga berkali-kali bolanya direbut oleh musuh. Chanyeol juga tidak konsen sehingga tak sengaja menabrak sungjae. Sungjae pun jatuh tersungkur. Alhasil, kakinya terkilir. Tak mungkin sungjae bisa bermain besok. Pemain cadangan tak ada pula. L.Joe sebagai ketua merasa frustasi.

 

“apa yang kau lakukan Chanyeol?!” tanya L.Joe sedikit membentak. Chanyeol hanya diam walaupun sebenarnya ia terkejut. Ia benar-benar kehilangan semangatnya kali ini.

 

“kau lihat? Sungjae tak bisa bermain. Kita tak punya pemain cadangan. Kita akan didisfikualifikasi kalau seperti ini.” bentak L.Joe. yang dibentaki malah diam. L.Joe merasa dirinya sedang berbicara dengan patung.

 

“ah, Luhan saja yang menggantikan sungjae.” Kini ilhoon angkat bicara. L.Joe menoleh pada Ilhoon. Baekhyun juga menoleh dan ia merasa sedikit terkejut.

 

“murid baru itu? memang dia bisa bermain dengan baik?” tanya L.Joe meragukan. Ilhoon mengangguk mantap.

 

“dia duduk di sampingku, jadi aku sering bertukar cerita dengannya. Dan katanya, ia pernah menjadi ketua klub basket.” Ucap ilhoon mantap.

 

“geurae. Kalau begitu, panggil Luhan kemari.” Perintah L.Joe. Ilhoon pun berlari keluar.

 

“joe-ya, ini Luhan.” Ucap ilhoon.

 

“ada apa?” tanya Luhan. Sejujurnya ia merasa sedang malas melihat Hyung-nya, Baekhyun.

 

“kau terpilih menjadi anggota klub basket sekarang. Apa kau mau?” tanya L.Joe dengan senyuman. Luhan terdiam dan berfikir. Namun pada akhirnya ia menyetujuinya.

 

Istirahat

Pelajaran Jang seongseonim tadi benar-benar membuatnya ingin segera keluar dari kelas. Ia ingin segera ke kamar mandi. Bukan karena pelajaran memang, tapi karena Jang seongseonim tidak mengijinkan Inji pergi ke kamar mandi. Itu salahnya juga, saat pelajaran, Inji melamun dan tak fokus pada pelajaran.

 

‘Jang seongseonim memang killer’ batin Inji yang masih menunggu antrian kamar mandi. Kamar mandi di sekolah ada lebih dari 10 khusus yeoja. Tapi semua penuh.

 

Pintu yang ditunggu Inji akhirnya terbuka. Karena sudah tidak tahan, Inji segera masuk ke kamar mandi.

 

“ah.. lega.” Inji hendak membuka pintu namun pintu itu terkunci dari luar.

 

“ADA ORANG DILUAR? TOLONG!!! PINTU INI TIDAK BISA DIBUKA!! TOLONG!!” teriak Inji. Inji mencoba menendang pintu itu dengan kakinya, namun gagal. Inji masih terus berusaha mencoba mendobrak pintu itu, namun tetap saja gagal. Sia-sia saja usahanya. Bagaimanapun pintu itu tetap tidak bisa terbuka. Entah keberapa kalinya ia mendobrak pintu itu.

 

“aw..” rintih Inji sambil memegangi lengannya yang sakit.

 

“Hyona! Jiyoung-ii! Junghee-ya! Tolong aku.. siapa saja tolong aku..” ucap Inji lemas. Inji duduk lemas. Ia yakin ia berada di kamar mandi selama lebih dari 1 jam. Air mata mulai menggenangi pipinya walaupun telah ia tepis berkali-kali.

 

“Baekhyun… tolong aku…” ucap Inji tak sadar. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah Baekhyun, namja yang selalu menolongnya setiap ia kesusahan. Ia tak pernah menyadari itu sebelumnya.

 

“Baekhyun..” lagi-lagi Inji memanggil nama Baekhyun.

 

Pulang Sekolah

Baekhyun Pov

Aku memasang headshetku ke telingaku. Hari ini aku sedang malas mendengarkan celotehan Hana. Hana alias yeoja murahan itu benar-benar membuatku muak. Dia selalu mengejar-ngejarku agar aku menjadi namjachingunya. Malangnya, dia pantang menyerah, padahal aku pernah menolaknya mentah-mentah.

 

“Baekhyun-ii, kau mau mengantarku belanja? Aku mohon..”

 

“kau bisa diam? Pergi! Bukankah berkali-kali kubilang, jangan dekati aku! Aku muak melihatmu!” bentakku dengan kata-kata yang mungkin sedikit agak kasar.

 

“shirreo! Aku tidak akan menjauhimu! Kau harus mengantarkanku belanja atau orang yang kau sayang tidak akan selamat!” ucapnya dengan smirknya.

 

“apa maksudmu?” tanyaku mencoba acuh tak acuh walau sebenarnya aku menanggapinya dengan serius.

 

“Choi Inji. Orang yang kau sayangi kan? atau lebih tepatnya… orang yang kau cintai.”

 

“apa yang kau bicarakan? Aku tidak menyukai Inji.”

 

“jinjjayo? Aku tahu kau mencintainya Baekhyun. Itu terlihat jelas. Kau… mencintainya!!” aku terdiam memikirkan kata-kata Hana. Apa benar aku menyukai Inji? Sejelas itukah?

 

“Sekarang dia sedang terjebak. Mungkin tidak akan selamat.” Ucapnya. Alisku bertaut.

 

“kau apakan Inji? Katakan dimana dia sekarang?!” bentakku. Bukan jawaban yang kudapat, melainkan tawa yang jahat.

 

“aku akan memberitahumu setelah kau berjanji akan mengantarkanku belanja.”

 

“kau gila?! Hanya ingin diantar belanja dan kau melibatkan orang lain dalam masalah ini? kau ingin membunuh orang hah? Kau ini benar-benar Iblis!” ucapku langsung berlari meninggalkan Hana yang samar-samar berteriak bahwa dia hanya bercanda dan ini masalah sepele. Tapi ini bukan masalah sepele bagiku. Inji terjebak dan aku tak tahu dimana dia sekarang.

 

Tempat pertama yang aku datangi adalah perpustakaan. Untungnya Jinki jaga hari ini, jaadi aku bisa bertanya padanya. Jinki melihatku yang terengah-engah.

 

“ada apa baek?”

 

“dimana Inji?” tanyaku tanpa babibu. Jinki menggeleng.

 

“molla. Daritadi aku tak melihatnya. Seharusnya dia sudah datang, karena dia juga jaga perpustakaan bersamaku.” Ucapnya. Aku semakin frustasi.

 

“kenapa?” tanyanya.

 

“gomawo.” Ucapku yang tak mengindahkan pertanyaan Jinki.

 

Aku berhenti sejenak memikirkan dimana Inji biasa pergi. Selain di perpustakaan, UKS, dan Kantin. Tapi tak mungkin Inji  ke UKS. Jarang sekali dia kesana. Apalagi kantin, kantin adalah tempat terbuka. Selain dari ketiga tempat itu….. dimana lagi? oh, ne. Pasti di kamar mandi. Aku pun segera berlari menuju kamar mandi. Ini sama persis dengan kejadian pertama kali aku bertemu dengan Inji. Pada waktu itu, ia juga terjebak di kamar mandi. Bahkan ia sempat menangis.

 

Aku yakin Inji pasti di kamar mandi dekat kelasnya. Sampai di kamar mandi yeoja, aku tak ragu-ragu untuk masuk. Kulihat diantara 4 kamar mandi itu dan ada satu yang tertutup.

 

“Inji?” panggilku. Tak ada jawaban.

 

“Inji? Kau ada di dalam? Ini aku Baekhyun!” ucapku. Tak ada jawaban. Tanpa basa-basi lagi, aku pun mendobrak pintu itu. Terbuka. Kulihat Inji yang duduk di lantai dengan memejamkan mata. Aku yakin ia pingsan.

 

“Inji! Ireona! Aku Baekhyun! Inji-ya!” panggilku berusaha membangunkan Inji. Aku memang begitu panik saat ini. Kulihat wajahnya. Benar-benar pucat. Benar saja, ventilasi di kamar mandi sangat kecil dan hanya ada satu. Pasti sulit bernafas di dalam sini, apalgi berjam-jam lamanya.

 

“Baekhyun..” aku menatap Inji yang membuka matanya sedikit. Aku benar-benar lega.

 

“gomawo.” Ucapnya lemas. Aku mengangguk dan langsung menggendongnya menuju UKS.

 

UKS

Walau sekarang waktunya pulang sekolah, Chanyeol tetap disini. Kebetulan jadwalnya untuk berjaga di UKS sampai sore.

 

“ada apa lagi dengan Inji?” tanya Chanyeol.

 

“ceritanya panjang.” Jawabku.

 

“aku tidak memintamu untuk memeriksanya. Aku ingin dia disini sebentar sampai dia benar-benar siuman.” Ucapku kemudian. Chanyeol mengangguk.

 

“geurae. Akan aku ambilkan air putih. Apa kau akan menemaninya?” tanya Chanyeol. Aku mengangguk. Chanyeol pun pergi untuk mengambil air putih. <anggep aja di UKS gak ada air putih>

 

“Inji-ya! Kau sering membuatku khawatir.” Ucapku. Ya.. aku tahu dia pasti tak mendengarku.

 

“mianhae. Selain sering membuatmu khawatir, aku juga sering merepotkanmu.” Eoh?

 

“Inji? Kau sudah sadar?” tanyaku memastikan. Inji mengangguk dan tersenyum padaku.

 

“gwaenchanayo. Ini yang kedua kalinya kau terkunci di kamar mandi. Lain kali jangan ke kamar mandi sendiri. Arraseo?” ucapku. Kulihat dia mengangguk. Aku tersenyum.

 

“Baekhyun-ah! Boleh aku bertanya?”

 

“kau mau tanya apa?” tanyaku.

 

“waktu itu… kau menciumku. Apa arti ciuman itu?” tanyanya. Aku terdiam. Waktu itu.. aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku menciumnya. Itu benar-benar reflek, rasanya aku tidak ingin dia pergi. Aku senang jika berada di dekatnya. Membuatku nyaman, walaupun aku sering dibentaknya.

 

“kenapa diam?”

 

Aku bingung. Sungguh bingung. Apa aku benar-benar mencintai Inji? Jadi.. selama ini aku mencintai Inji tanpa sadar? Jinjja? Ada apa denganku???!!

 

“Baekhyun!”

 

“Saranghae!” ucapku reflek. Aku terkejut dengan apa yang aku ucapkan tadi. aku yakin Inji lebih terkejut daripada aku.

 

“apa maksudmu?” tanyanya yang kini mendudukkan dirinya.

 

“aa.. aku..” aku benar-benar tak tahu harus bicara apa.

 

“ini air putihnya. Eoh? Kau sudah bangun?” aku dan Inji menoleh ke arah Chanyeol yang mendekati kami. Chanyeol memberikan air putih itu pada Inji.

 

“aa..aku pulang dulu. Annyeong!” ucapku yang kemudian pergi meninggalkan Inji dan Chanyeol.

 

“baek! Lalu bagaimana dengan Inji?!” teriakkan Chanyeol tak kuhiraukan sama sekali. Aku hanya terus melangkah. Aku benar-benar gugup dan bingung. Oh.. aku harus bagaimana jika bertemu dengan Inji? Ah… aku frustasi!

Ahra pov

Waktunya olAhraga. Hah.. akhirnya. Pelajaran yang paling aku senangi datang juga.

 

“hari ini kita berlatih teknik pernafasan, kelincahan dan kecepatan dengan lomba lari.” Ucap Kang seongseonim. Lari? Tak apa. Aku terbiasa.

 

“namun, selain lari… kalian juga harus lompat. Jangan lewati pagar-pagar lompat itu dengan berlari di sampingnya. Understand?” semua murid tertawa. Guruku yang satu ini memang sok bule.

 

“geurae.. langsung saja. Hyona, Jiyoung, Hyeeun, Jina dan Ahra.” Aku? Biasanya aku bukan orang pertama. Hah.. tak apalah.

 

“siapkan posisi. Siap? Hana.. dul.. Sit..”

 

Aku mulai berlari sekencang-kencangnya mendahului yang lain. Aku memang tercepat dari yang lain. Bukan sombong namun hanya memberitahu kenyataan.

 

Ada 3 pagar alias benteng yang harus aku lompati, dan semakin lama pagar itu semakin tinggi. Aku mengatur nafas lebih dalam dan mencoba melompat pagar pertama. Akhirnya aku berhasil. Pagar yang kedua juga berhasil aku lompati. Untuk pagar yang ketiga ini… benar-benar tinggi. Tapi aku tetap optimis. Aku pasti bisa. Akupun melompati pagar itu.

 

“aw!” rintihku kesakitan. Aku gagal. Aku tak bisa melompati pagar itu. kini lututku berdarah. Mungkin tidak hanya lututku tapi tanganku juga.

 

“Ahra-ya! Gwaenchanayo?” tanya Hyona yang datang. Aku mengangguk. Hyona dan Jiyoung menolongku dan membawaku ke UKS.

_()_

 

UKS

Aku dibawa masuk oleh Hyona dan Jiyoung. Aku duduk di salah satu kursi yang ada di UKS ini.

 

“siapa yang sakit?” sebuah suara yang begitu… familiar denganku. Itu.. bukankah suara Chanyeol? Aku menoleh dan benar.. itu Chanyeol. Kulihat Chanyeol juga begitu terkejut karena melihatku.

 

“Chanyeol-ii, tolong Ahra. Dia terluka. Tadi dia terjatuh.” Ucap Jiyoung yang heboh sendiri. Mampus. Bagaimana ini?

 

“ee.. gwaenchanayo.. aku bisa mengobati luka ini sendiri.” Ucapku yang kemudian berusaha meraih obat merah dan perlengkapan lainnya di kotak P3K yang memang agak jauh dariku.

 

Saat aku hendak membuka kotak itu, tiba-tiba Chanyeol membuka kotak itu dan mengambil obat merah dengan kasa. Ia jongkok dan kemudian memberi obat merah pada lututku.

 

“aa.. tidak usah. Aku bisa sendiri.” Ucapku yang kemudian hendak merebut obat merah dari tangannya.

 

“diam. Nanti lukamu tambah parah.” Aku terkejut. Chanyeol benar-benar namja yang baik. Aku benar-benar menyesal. Ingin sekali aku memeluknya, tapi aku tahu.. itu tidak bisa. Dan itu.. adalah kesalahanku sendiri.

 

Aku terdiam sedangkan Chanyeol masih sibuk mengobati lukaku. Setelah selesai mengobati lukaku, Chanyeol pergi tanpa berkata satu patah katapun padaku. Kurasa dia masih marah denganku. Aku menghela nafas.

 

Keesokan harinya

Inji Pov

Aku masuk ke dalam kelas dan segera duduk di bangkuku. Aku masih berfikir kejadian semalam. Ani.. bukan kejadian, melainkan kata-kata Baekhyun. ‘saranghae’? apa maksudnya? Apa dia menyukaiku? Kurasa dia bercanda.

 

“annyeong Inji-ya!” sapa Hyona yang kini di depanku.

 

“annyeong.” Balasku.

 

“sedang memikirkan apa?” tanyanya ingin tahu. Aku menggeleng menandakan tidak sedang memikirkan apa-apa yang nyatanya sedang berfikir keras.

 

“oh begitu. Hei, beberapa hari ini Baekhyun tak mengerjaimu lagi. aneh sekali. Apa sekarang dia bosan? Ahahaha.. lucu sekali. Seorang Byun Baekhyun bisa bosan? Ahahaha..” aku memang mendengarkan Hyona tapi pikiranku melayang kemana-mana.

 

“hei, kau mendengarku tidak? Ooo.. aku tahu. Kau sedang memikirkan Baekhyun ya?” goda Hyona.

 

“kenapa kau berfikir seperti itu?” ucapku yang kini menanggapinya.

 

“bisa saja kan? kau sedih karena tak dijahili oleh Baekhyun?” ucap Hyona yang kemudian tertawa.

 

“itu tidak lucu.” Ucapku kesal yang kemudian membuka buku untuk kubaca.

 

Istirahat

Aku mendekati bangku Luhan yang kini bukan disampingku lagi. Sejak kemarin aku tak pernah berbicara lagi dengannya. Kenapa tiba-tiba dia marah? Aku ingin meminta penjelasannya dan aku berinisiatif untuk mengajaknya ke kantin.

 

“Luhan-ii, kau ingin ke kantin?” tawarku. Kulihat dia menatapku sebentar lalu kembali mengutak-atik handphonenya.

 

“Luhan-ii, kajja ke kantin. Aku lapar.” Lagi-lagi dia diam. Ada apa dengannya?

 

“Luhan-ii, kajja ke kantin. Aku tak mau tahu, kau harus ikut aku ke kantin.” Ucapku yang kemudian menarik tangannya.

 

“ne-ne-ne, jangan menarikku.” Ucapnya sedikit ketus. Aku tersenyum yang kemudian mengekor di belakangnya.

 

Kantin

Aku duduk bersama Luhan di bangku yang bisa untuk 4 orang. Aku sengaja hanya memesan ice cream, sedangkan Luhan, ia tak memesan apa-apa.

 

“kau bilang kau lapar, kenapa hanya pesan ice cream?” tanyanya.

 

“laparku sudah hilang. Sekarang aku hanya haus.” Jawabku sedikit bohong.

 

Beberapa menit berlalu, ice creamku hampir habis dan tak ada yang angkat bicara. Luhan terlalu sibuk dengan handphone-nya. Menyebalkan.

 

“aku ingin pergi membeli buku nanti. Apa kau mau mengantarkanku?” tanyaku sekaligus meminta. Kulihat dia sedikit memberi perhatian padaku kini.

 

“kuusahakan.” Jawabnya singkat.

 

“jinjja? Kalau begitu, aku tunggu kau jam 3 sore di depan apartementku. Kau masih ingat alamatnya kan?” tanyaku memastikan. Dia mengangguk. Aku tersenyum.

 

“mm.. Luhan-ii, aku.. ingin meminta penjelasan darimu.” Ucapku

 

“penjelasan? Penjelasan apa?” tanyanya tanpa melihatku sama sekali.

 

“kenapa tiba-tiba kau marah dan menjauhiku? Apa aku punya salah padamu?” tanyaku.

 

“ani.” Jawabnya singkat.

 

“lalu kenapa kau marah padaku?” tanyaku lagi.

 

“aku tidak marah padamu.”

 

“kau bohong.”

 

“justru kau yang bohong.” Ucapnya yang kemudian pergi meninggalkanku. Aku benar-benar bingung dengan sikapnya. Aku menatap ice cream yang sudah mencair itu dan meneguknya sampai habis. Aku medengus kesal. Kenapa kedua namja kembar ini tidak ada yang benar? Semua membuatku bingung.

 

Apartement Inji <masih Inji pov>

Bukan hari yang menyenangkan untuk jalan-jalan. Bagaimana tidak? Cuaca benar-benar tidak mendukung kegiatanku. Hari ini dingin sekali. Apa Luhan akan datang? Aku duduk di kursi depan apartementku. Sudah 1 jam lebih aku menunggunya disitu. Dan aku yakin, tindakanku ini benar-benar bodoh.

 

“hah.. pukul 4 sore. Apa benar dia akan datang? Mengingat ia tadi marah padaku. Cuaca dingin datang pula. Hah.. menyebalkan sekali.” Keluhku. Angin berhembus semakin kencang membuat tubuhku semakin menggigil.

 

“eonni! Menunggu Luhan oppa di dalam saja. lihatlah! Tubuhmu sudah hampir beku. Jangan paksakan dirimu!” ucap Junghee yang baru sajakeluar dari rumah dengan membawa payung. Oh ne, karena merasa dingin, sampai-sampai aku tidak tahu kalau sekarang hujan.

 

“aniyo.. aku akan menunggu Luhan disini.” Ucapku bersikukuh.

 

“tapi sekarang hujan! Kau bisa sakit eonni!” ucapnya sedikit membentak.

 

“kau saja yang masuk! Lebih baik aku yang sakit daripada kau yang sakit!” jawabku

 

“ani.. lebih baik jika kita tidak sakit! Masuk eonni! Kau sudah 1 jam menunggu Luhan oppa. Dan lihat? Luhan oppa tidak juga datang!” ucapnya yang mulai meninggikan suaranya.

 

“ani.. aku yakin Luhan pasti datang. Dia tidak pernah mengingkari janjinya.”

 

“tapi Luhan oppa tidak juga datang..” ucap Junghee yang melembut.

 

“Luhan pasti datang!”

 

“LUHAN OPPA TIDAK AKAN DATANG!!” aku menatap Junghee yang juga menatapku. Raut wajahnya kembali seperti biasanya.

 

“eonni, percayalah padaku. Luhan oppa tidak akan datang! Jika ia datang, seharusnya ia datang dari tadi. masuklah. Jangan buat dirimu sengsara eonni!”

 

Aku terdiam. Apakah Luhan benar-benar tidak akan datang? Apa sekarang Luhan tidak menepati janjinya? Ani.. Aku percaya pada Luhan. Aku percaya dia. Dia pasti akan datang.

 

“ani.. dia pasti datang.” Ucapku mantap. Kudengar Junghee menghela nafas.

 

“terserah padamu eonni. Aku sudah membujukmu bahkan sampai aku membentakmu. Ini pertama kalinya aku membentakmu karena Luhan oppa.” Ucapnya yang kemudian membuat emosiku menaik.

 

“jangan menyalahkan Luhan! Ia tidak salah apapun!” bentakku.

 

“dia salah eonni! Dia salah karena tidak tepat waktu datang. Bahkan dia tidak datang. Harus aku sebut apa dia? Pengingkar janji? Munafik?” bentaknya kemudian.

 

PLAK

 

Kulihat Junghee menyentuh pipinya bekas tamparanku tadi.

 

“jangan pernah menyebutnya seperti itu! Luhan bukanlah orang munafik!” bentakku. Kulihat Junghee menatapku dengan air mata yang mulai berlinang. Kudengar isakannya. Tatapanku yang semula tajam padanya kini melunak.

 

“aa..apa yang kulakukan? Junghee… mianhae.” Ucapku yang kini sadar dengan perbuatanku. Aku mencoba menyentuh Junghee namun ia tepis.

 

“geurae. Aku tidak akan peduli lagi denganmu eonni. Kau jahat! Aku benci padamu! Satu hal yang pasti, kau bukan Inji eonni. Kau bukan eonniku yang dulu!” bentaknya yang kemudian pergi masuk ke dalam apartement.

 

Aku yakin, Junghee sangat membenciku. Baru sekali ini aku menamparnya. Dan ini karena hal sepele. Hanya karena… Junghee menyebut Luhan seorang.. munafik? Apa aku eonni yang jahat? Mungkin iya. Dan sekarang, Junghee menge-capku sebagai eonni terjahat sedunia. Perasaanku benar-benar gelisah saat ini. Merasa bersalah dan bimbang.

 

“Oh, apa yang telah kuperbuat? Junghee… mianhae.. ah, eottokhae?” aku menggigit bibir bawahku menandakan bahwa aku benar-benar cemas sekarang. Aku hanya diam di tempat tak berbuat apa-apa selain.. cemas. Entah kenapa, aku merasa Junghee sebentar lagi akan turun.

 

Seperti yang aku duga, Junghee benar-benar turun dengan membawa koper besarnya. Junghee pergi. Ia akan kembali ke rumah.

 

“Junghee-ya..” panggilku. Oh.. bahkan dia tak menatapku sama sekali saat aku memanggilnya.

 

“saeng-ii..” panggilku lagi. kulihat dia menoleh. Aku bernafas lega dan tersenyum ketika melihatnya tersenyum. Kulihat dia mendekatiku dan seperti ingin mengatakan sesuatu.

 

“Chunji-ya!” panggilnya yang kemudian melewatiku. Jadi.. senyuman itu untuk Chunji? Bukan untukku?

 

Aku membalikkan badanku yang masih basah ini. Hujan sudah berhenti. Kulihat Junghee yang menggandeng tangan Chunji agar cepat pergi dari situ. Tak kusadari air bening keluar dari sudut mataku yang kemudian mengalir deras. Aku terduduk lemas sampai ada yang membawaku masuk ke dalam apartement. Tidak kupedulikan siapa mereka. Ya.. mereka ada 2 orang, dan itu.. aku tidak tahu siapa. Karena lama kelamaan semakin pandanganku gelap.

 

Author pov

Chunji yang masih mengemudikan mobilnya sesekali melirik Junghee yang wajahnya masih kusut. Sedari tadi ia masih bertanya-tanya ada apa dengan Junghee  dan Inji.

 

“chagi..” panggil Chunji

 

“hmm..” jawab Junghee tanpa menatap Chunji.

 

“ani..” Chunji merasa Junghee sedang tidak bisa diajak berbicara, ia ragu Junghee akan menceritakan semua padanya. Chunji akan bertanya lain kali pada Junghee. Tugasnya sekarang, mengantar Junghee sampai rumahnya dan memastikan bahwa Junghee baik-baik saja. walau sebenarnya ia tidak yakin bahwa Junghee baik-baik saja.

 

 

KRIINGG..

Untuk yang pertama kalinya, Inji bangun dengan langkah malas. Masih menutup mata walaupun ia sedang berjalan. Rasanya ia tak ingin berangkat sekolah hari ini. kejadian semalam membuatnya terjaga karena frustasi memikirkan Junghee dan Luhan.

 

Inji menatap kaca yang terpasang di kamar mandinya. Kini matanya terbuka lebar. Ia tersenyum miris melihat dirinya yang begitu kacau. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan jika bertemu dengan Junghee. Akankah ia tersenyum? Marah? Atau menyesal? Ia benar-benar bingung.

 

Tak terasa keluar air dari sudut matanya. Segera ia tepis air mata itu dengan tangannya, “ani.. aku tidak boleh menangis.” Ucapnya menghibur diri. Ia pun beranjak untuk membersihkan diri.

_()_

 

Sekolah

Walaupun malas, tetap saja Inji harus berangkat sekolah. Ia tidak mau namanya tercemar karena tidak berangkat sekolah dengan alasan masalah pribadi.

 

Inji menghela nafas sebeum ia masuk ke kelasnya, “huh.. hwaiting.” Ucapnya menyemangati diri yang kemudian tersenyum.

 

“Inji-ya!! Palliwa!!” panggil Hyona. Inji mempercepat jalannya menuju Hyona.

 

Inji mendudukkan dirinya di bangku Jiyoung, “Ada apa?” tanyanya.

 

“Jiyoung..” Ucap Hyona dengan menunjukkan wajah sedihnya.

 

“ada apa dengan Jiyoung?” tanya Inji yang mulai khawatir. Inji merasa belakangan ini  ia mendapat banyak maasalah. Walaupun itu masalah temannya.

 

“Jiyoung.. dia…”

.

.

.

.

TBC

Oke, mungkin ini gak terlalu panjang. Tapi, aku harap cukup untuk menebus semua kesalahanku (?). And i know, disini gak ada minjung. Jinki dan L.Joe part-nya Cuma sedikit. Mungkin di chapter selanjutnya muncul sekaligus membawa konflik, yang Minjung tapi ya. Haha J cukup sekian, makasih buat readers setiaku dan yang terus komen J

PLEASE RCL and DONT BASH

5 thoughts on “Our Love Story in Seoul High School (Chapter 9)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s