Secret Darling | 6th Chapter

secret-darling1.

:: SECRET DARLING | 6th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Fluff | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by IraWorlds © High School Graphics ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter

.

Pulpen yang sedang ada ditangan Minhee jatuh diatas mejanya dan menimbulkan suara pelan. Beruntungnya hal itu hanya bisa didengar oleh Minchan di sebelahnya. Minchan kontan menoleh pada Minhee, dan rautnya tampak tak menyangka saat melihat mata Minhee terpaku pada sosok mahasiswa baru itu.

“Minhee-ya, apa yang kau lakukan?” bisik Minchan sambil menggoyang pelan lengan Minhee. “Kenapa kau menatap si anak baru seperti itu? Kau menyukainya? Astaga, Shin Minhee, kau lupa? Kau bahkan sudah punya suami, bagaimana mungkin kau malah tertarik pada namja lain?”

“Jungkook…” lirih Minhee pelan dengan mata yang masih terkunci pada sosok namja berambut kelam itu.

“Apa?” ulang Minchan.

 

“Selamat pagi, namaku Jeon Jungkook,.” Sahut namja berambut kelam itu sambil membungkuk formal di depan kelas. “Aku mahasiswa pindahan dari Amerika, senang bertemu dengan kalian semua…”

 

“Jungkook?” ulang Minchan lagi dengan intonasi pelan yang tak menyangka. Minchan kembali menoleh pada Minhee, menggoyangkan lengan gadis itu sedikit lebih kencang dibanding sebelumnya. “Minhee-ya, dia Jungkook? Apa benar dia Jungkook yang pernah kau ceritakan padaku?”

Minhee tak sempat menjawab, ia hanya menggeleng bingung. Detik berikutnya ia menangkupkan kepalanya diatas telapak tangannya, semua kenyataan ini seakan membuat kepalanya pusing tujuh keliling.

 

Jeon Jungkook.

Kenapa namja itu harus kembali ke hidupnya setelah semua yang telah terjadi selama ia pergi?

 

.

.

| 6th Chapter |

.

.

 

“Park Minchan, ada apa disana?” tegur Dosen Kim tiba-tiba. Minchan mengangkat kepalanya kaget lalu buru-buru melepaskan pegangannya pada lengan Minhee. Kini semua mata yang ada di kelas itu tertuju padanya dan Minhee, termasuk mata milik Dosen Kim dan Jungkook.

Tak ada yang bisa Minchan lakukan selain menggeleng seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

 

“Ada apa dengan Shin Minhee?”

Jungkook menolehkan kepalanya pada Dosen Kim saat nama itu meluncur dari bibirnya. Setelah lebih dari sebelas tahun tak pernah mendengar nama itu lagi, wajar jika Jungkook amat terkejut saat kembali diingatkan pada nama gadis itu. Gadis yang permah menjadi miliknya di masa lalu. Matanya namja itu membulat, lalu kembali mengarahkan tatapannya pada dua gadis yang sedang dipandangi oleh Dosen Kim.

 

“Shin Minhee, tolong hargai kelas ini. Jika tidak terlalu dibutuhkan, harap melepas semua perlengkapan musim dingin yang kau kenakan di kelas saat ini!” tegur Dosen Kim tegas.

“Minhee sedang sakit, seonsaengnim!” jawab Minchan sambil berdiri dari kursinya. Ia membungkuk formal sebagai ganti dari hormat yang seharusnya diberikan Minhee.

“Baiklah. Kalau begitu bisa kau antarkan dia ke ruang perawatan saja, Nona Park?” Tanya Dosen Kim.

Ne.” jawab Minchan sambil membungkuk kecil. Minchan lalu meraih bahu Minhee dan menuntun gadis yang masih dalam kondisi tertunduk itu melewati kursi demi kursi milik siswa lainnya, berjalan dengan naungan tatapan bingung yang masih tertuju pada mereka.

Minchan menuntun Minhee melewati depan Dosen Kim dan Jungkook, sempat terhenti sebentar untuk minta izin dari Dosen Kim sebelum kembali melanjutkan langkah menuju keluar kelas.

Jungkook tak berkata apa-apa. Ia hanya terdiam sambil terus memandangi wajah Minhee yang tertunduk, tak terlalu terlihat karena tertutupi surai cokelat gelapnya. Bahkan warna rambut itu masih tak berubah dari yang terakhir kali Jungkook ingat. Ingat bagaimana gadis itu terkadang dikomentari teman-teman sebayanya akibat warna rambutnya yang tak sepemuhnya legam. Ingat bagaimana terkadang ia melampiaskan tangis atau marah-marahnya pada Jungkook yang akan selalu senang berlama-lama di dekatnya.

 

Minhee, apa itu benar-benar kau?

 

 

“Apa masih sakit?” Tanya Sehun cemas sambil meletakkan punggung tangannya ke atas kening Minhee. Sehun benar-benar khawatir kali ini saat melihat wajah pucat Minhee dan senyumnya yang tak kunjung muncul sedari tadi. Kini entah sudah keberapa kalinya Sehun memeriksa suhu tubuh Minhee. Sehun merasa aneh saat tak menemukan indikasi peningkatan suhu tubuh Minhee, padahal wajah gadis itu terlihat pucat dan lemah.

“Kau mau aku gendong?” tawar Sehun sambil memandang Minhee lekat. Minhee hanya menolehkan kepalanya pada Sehun, lalu menggeleng kecil. Berbalik dengan itu semua, pegangannya semakin erat dengan lengan Sehun. Gadis itu semakin lemah.

“Aku tak mau melihatmu pingsan,” tambah Sehun sambil memberikan tatapan pengertian pada Minhee. “Lihat, kita bahkan belum mencapai halte. Ayolah, jangan keras kepala.”

“Aku kuat,” sahut Minhee pelan. “Aku berat. Aku tidak mau menyusahkanmu.”

“Tidak, Minhee.” Tolak Sehun. “Akan lebih buruk lagi jika kau pingsan. Ayolah, kugendong ya?”

Minhee menggeleng sekali lagi, membuat Sehun mengeluh dalam hati mengapa Minhee sekeras kepala ini. Jelas-jelas ia tak mungkin memaksa Minhee, ia juga tak ingin. Tapi hatinya semakin tak nyaman melihat Minhee terus memaksakan langkah demi langkah yang harus ditempuhnya. Ingin rasanya Sehun mengangkat tubuh gadis itu saja, tak peduli ia mengizinkan atau tidak. Hati kecilnya hanya mengatakan, ia tak tega melihat Minhee terus memaksa berjalan saat ia sedang dalam keadaan sakit seperti ini.

 

“Lihat, aku kuat, kan?” Tanya Minhee saat mereka sudah tiba di halte bus. Sehun dengan cepat mendudukkan Minhee di kursi halte yang kebetulan sedang kosong, hanya menyisakan mereka berdua saja.

“Jaketku cukup tebal?” Tanya Sehun sambil memandang jaketnya yang sudah melekat di tubuh Minhee sejak tadi. Minhee hanya mengangguk, membuat Sehun mengulas senyum tipis. Pelan-pelan ia membimbing kepala Minhee untuk menyandar pada bahunya. Entah tersihir atau apa, Minhee menurut saja dan meletakkan kepalanya yang lemah keatas bahu Sehun. Gadis itu tersenyum dalam diam saat merasakan kehangatan dalam semua perlindungan yang dilakukan Sehun.

“Kau kedinginan?” Tanya Sehun lagi. Minhee menggeleng, lalu mengeratkan pelukannya pada lengan Sehun. Tanpa mereka duga, inilah romantisme mereka. Walau mungkin ini tak akan bertahan lama, karena waktunya hanya sebatas sampai bus yang mereka tunggu datang.

 

Saat di bus, Sehun melakukan hal yang sama untuk Minhee. Ia membiarkan Minhee menyandarkan kepalanya diatas bahunya, membiarkan gadis itu memejamkan matanya sampai ia bisa merasakan kalau gadis itu benar-benar sudah terlelap. Sehun tersenyum tipis, tak pernah menyangka kalau wajah Minhee saat tidur bisa sedamai ini.

 

 

Sehun tiba di depan pintu apartemennya, dan beruntungnya pintu itu langsung dibukakan oleh ibu mertuanya tanpa perlu ia menunggu terlalu lama. Mata wanita paruh baya itu tampak membelalak melihat Sehun datang sambil menggendong Minhee di punggungnya, melihat mata Minhee yang terpejam sudah pasti gadis itu sedang tidak sadarkan diri. Dan lagi-lagi melihat jaket Sehun yang menyelimuti tubuh Minhee seakan menjelaskan kalau Minhee sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.

 

Ibu mertuanya membantu Sehun membawa Minhee ke kamar mereka, lalu membaringkan tubuh gadis itu di ranjang sisi kiri. Wajah eomma Minhee tampak cemas melihat puterinya datang dalam keadaan seperti ini, berkali-kali menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Minhee, membuat Sehun merasa bersalah. Ia jadi merasa, ia telah gagal menjaga Minhee.

 

“Maafkan aku, si-eomeoni.” Sahut Sehun tanpa diminta. “Minhee sakit. Aku tak tahu dia kenapa. Saat aku bertemu dengannya di ruang perawatan, ia sudah seperti ini.”

“Bukan salahmu, Sehun-ah,” jawab eomma Minhee sambil mengulas senyum diantara raut wajahnya yang masih cemas. “Kau justru suami yang baik. Kau menggendong Minhee dari kampusmu?”

“Tidak.” Geleng Sehun. “Minhee baru tak sadarkan diri saat di bus tadi.”

“Terimakasih, Sehun-ah…” sahut eomma Minhee lagi.

Sehun hanya mengangguk sambil tersenyum tulus. “Ya, si-eomeoni… Kalau begitu… Aku keluar dulu saja, ya? Si-eomeoni perlu merawat Minhee lebih banyak. Permisi…”

“Datanglah kembali setelah aku selesai mengurus dia sementara,” sahut eomma Minhee sebelum Sehun beranjak dari sana. “Aku ingin kau yang menjaganya.”

 

 

Rasanya sulit bagi Sehun untuk berkonsentrasi dengan tayangan televisi yang menyala di depan wajahnya sedari tadi. Laki-laki berpiyama biru itu hanya memandangi layar dengan tatapan kosong, tangan kanan yang kaku memegang remot, serta tangan kiri yang menopang dagunya sedari awal. Berbagai pikiran mengganggu benaknya. Dari mulai Dosen Lee yang marah-marah padanya akibat kesalahan menulis laporan di kampus tadi, Kai yang nyaris keceplosan menyebut tentang pernikahan Sehun di depan teman-teman mereka saat di kafetaria, Minhee yang tiba-tiba jatuh pingsan saat di bus sehingga Sehun harus menggendongnya di punggung hingga tiba di apartemen, dan banyak kejadian kacau lainnya hari ini.

Selain tayangan televisi yang tidak terlalu menarik, semua masalah yang menerpanya hari ini seakan melayang-layang dalam benak Sehun dan menciptakan gumpalan gelap yang menyambar-nyambar keinginannya untuk merubah mood. Ditambah lagi Minhee yang masih tidur di kamarnya, belum terbangun sejak pingsan sepulang kuliah tadi. Memikirkan Minhee sakit apa menimbulkan gumpalan masalah lain di benak laki-laki itu, berputar-putar dalam arus searah dengan masalahnya yang lain.

 

Sehun ingin marah-marah, namun ia sendiri bingung dengan cara apa ia harus marah-marah dan ia akan marah-marah dengan siapa. Jika saja tidak ada ibu mertuanya disini dan Minhee sedang tidak dalam keadaan sakit, Sehun akan lebih memilih untuk memulai perdebatan konyol dengan Minhee demi melepas semua rasa frustasinya itu. Seperti malam beberapa hari yang lalu, Sehun begitu menikmati perdebatan konyol mereka soal ‘anak’ meskipun ia harus menanggung semua kekesalan Minhee dan pukulan yang sama sekali tak main-main dari gadis itu.

Sehun menikmatinya, saat ia melihat bagaimana berlebihannya reaksi Minhee. Tampak seperti anak kecil, sedikit merepotkan namun entah kenapa justru itu yang membuat Sehun menyukainya. Tanpa sadar Sehun mengulas senyumnya tipis, senyum yang hanya bisa ia lakukan saat sedang mengingat Minhee.

 

“Sehun-ah,”

Sehun tersadar dari semua lamunannya saat suara wanita itu memanggilnya, wanita paruh baya yang merupakan sosok ibu dari istrinya. Sehun melangkah mendekat pada ibu mertuanya, sedikit mencoba mengintip bagaimana keadaan Minhee lewat celah pintu yang tak terlalu terbuka lebar di belakang punggung eomma Minhee. Tapi tak berhasil.

 

“Kau jaga Minhee malam ini,” sahut ibu mertuanya sambil menepuk ringan pundak Sehun. Sehun meresponnya dengan senyum, sambil menganggukan kepalanya sekali.

“Aku percaya padamu, Sehun-ah… Jaga Minhee seperti malam itu,”

 

Sehun mengerutkan kening saat mendengar kata-kata terakhir ibu mertuanya sebelum melangkah pergi meninggalkannya mematung di depan pintu kamar begitu saja. Sehun merasa sedikit bingung dengan kata-kata ibu mertuanya tersebut, membuatnya kembali teringat juga dengan kata-kata eomma-nya sebelum melepas Sehun pergi mengantarkan Minhee pulang dengan mobil appa-nya. Sekilas terdengar mirip. Sehun sedikit curiga, namun ia lebih memilih untuk mengabaikan itu semua.

 

Sehun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang seharusnya menjadi milik mereka berdua. Dengan tatapan tak tega Sehun memandang gadis itu, gadis yang sedang tertidur diatas ranjang dengan selimut elektrik yang menyelubungi tubuhnya. Sehun juga tak bisa tidak melihat kompres yang menempel di dahi gadis itu. Rupanya gadis itu benar-benar demam, Sehun tak tahu harus bereaksi apa.

Mungkinkah ia suami yang tidak baik?

 

Sehun yang kini sudah berada di samping Minhee perlahan meraih tangan gadis itu. Begitu lembut karena ia takut Minhee akan terbangun, ia tak mau merusak istirahat Minhee. Gadis itu harus beristirahat banyak agar ia cepat pulih.

Sehun merindukan suaranya saat mengomel, memukul lengannya atau menjitak kepalanya saat mereka sedang berdebat, bahkan merengek padanya minta dibelikan bubble tea.

Ia begitu merindukan sosok gadis berjiwa anak kecil yang kini sedang terbaring sakit itu.

Sebenarnya apa yang membuatnya sakit hingga separah ini?

 

“Apa karena kemarin malam?” bisik Sehun pelan sambil menatap mata Minhee yang masih menutup. “Kau tidak suka aku menciummu?”

Tentu saja tak ada respon dari gadis itu, Sehun pun tahu jika sekeras apapun ia mengajak Minhee berbicara maka gadis itu belum bisa menjawab sekarang. Gadis itu masih tenggelam dalam alam bawah sadarnya, sama sekali tak mengerti dengan kekhawatiran Sehun yang menjadi-jadi dalam dunia nyata.

 

Dengan sedikit gugup Sehun menyingkirkan rambut yang menutupi leher Minhee, ia bahkan masih bisa melihat dengan jelas jika semua kissmark itu belum hilang. Baru beberapa detik kemudian ia membelalakan mata terkejut ketika sadar akan sesuatu.

Aigoo! Apa si-eomeoni melihat semua ini tadi?!”

Seluruh tubuh Sehun agaknya mati rasa saat ia terpikirkan soal itu. Apalagi melihat pakaian Minhee yang sudah berganti menjadi piyama kini, juga dengan segala perlengkapan pereda demam yang menempel di tubuh istrinya itu, mustahil jika ibu mertuanya tak sempat melihat leher Minhee yang terbuka saat menggantikan pakaian Minhee dan melihat puluhan bercak kemerehan itu tercetak di leher puterinya.

Sehun merasa mati kutu, rasanya ia ingin melempar dirinya saja ke luar jendela sebelum sempat bertemu dengan ibu mertuanya lagi.

Memangnya apa yang akan ibu mertuanya pikirkan saat melihat banyak kissmark bertebaran di leher puterinya seperti ini?!

 

Sehun berusaha membuyarkan berbagai pikiran aneh-anehnya itu, memaksakan dirinya merasa mengantuk, supaya ia bisa berbaring di samping Minhee sekarang. Dalam keheningan mata Sehun masih belum bisa terlepas dari sosok Minhee, Minhee yang masih membeku dan terdiam layaknya Puteri Aurora yang jatuh tertidur selama ratusan tahun.

Puteri Aurora tertidur untuk menunggu pangerannya datang dan menciumnya, supaya ia bisa terbangun dan lepas dari semua kutukan nenek sihir jahat yang ditimpakan padanya.

Wajah Sehun memerah tiba-tiba. Apa ia harus mencium Minhee juga supaya gadis itu bisa cepat sembuh dan bangun dari kesakitannya, supaya Sehun tak lagi merindukan bagaimana buruknya hubungan mereka? Pedebatan mereka?

 

“Selamat malam, istriku… Semoga kau cepat sembuh…”

 

Dan tak ada satupun orang lain yang tahu jika Sehun menutup malam itu begitu romantis dengan kata-katanya dan ciuman singkat untuk Minhee.

 

***

 

Sehun berusaha mengerjapkan matanya yang lengket setelah kesadaran baru saja menyapanya beberapa detik yang lalu. Rasanya pusing, bahkan kedua matanya saja terasa terlalu berat terbuka saat ini. Rasanya enggan untuk bangun kendati ia ingat jika pukul sembilan nanti ia masih ada jadwal bimbingan skripsi dengan Dosen Lee, rasanya ia masih ingin terus meringkuk di tempat tidur dengan seluruh selimut yang menggulung tubuhnya rapat.

 

Seluruh… Selimut?!

 

Sehun kontan terbangun saat kata-kata itu berdengung di telinganya. Ia ingat jelas, semalam ia tak tidur sendirian. Ada Minhee di sampingnya, dan gadis itu masih terbaring sakit sampai semalam. Sehun mendadak panik saat melihat sisi di sebelahnya telah kosong, ia hanya ada sendirian di kamar ini, tepatnya di atas tempat tidur ini.

 

“Minhee?” panggil Sehun mencoba mencari keberadaan istrinya itu. Ia bergegas mengetuk pintu kamar mandi, namun mendengar tak ada jawaban, ia memutar kenop pintu begitu saja. Tepat seperti dugaannya, di dalam ruangan kecil itu tidak ada orang. Tidak ada Minhee.

Tanpa menunggu lebih lama lagi Sehun segera keluar kamar bergegas mencari Minhee. Namun belum sempat menyuarakan nama Minhee, Sehun mendengar suasana yang agak berisik dari arah dapur. Mempercepat langkah, Sehun merasa penasaran melihat ada apa disana. Tak bisa dipungkiri hatinya lega saat mengenali bahwa penyebab suara berisik di dapur adalah suara Minhee dan ibunya.

 

Yak, untuk apa kau menuangkan garam sebanyak itu?!” seru eomma Minhee sedikit shock. Sehun tak langsung muncul disana, laki-laki itu diam di balik tembok sambil melihat apa yang sedang dilakukan kedua wanita itu di depan kompor. Sehun menahan kekehnya saat melihat Minhee cemberut tepat ketika ibunya merebut wadah garam dari tangannya.

“Kau cukup memasukkannya seperempat sendok kecil. Ingat? Seperempat. Sendok. Kecil.” Eja eomma Minhee sambil menegaskan lekat-lekat petunjuk itu pada Minhee. Minhee hanya mengangguk singkat sambil tetap mempertahankan raut bersungut-sungutnya.

 

Gadis itu bahkan sudah terlihat sehat kembali. Bahkan pagi ini ia belajar memasak. Wow, sehebat itukah efek ciumanku padanya semalam? Sehun terkekeh kecil saat hatinya bermonolog pada dirinya sendiri.

 

Eomma,” panggil Minhee tiba-tiba. Suaranya kecil, namun karena mereka berdua sedang sama-sama terdiam, wanita paruh baya itu bisa mendengar suara puterinya.

“Ya, sayang. Ada apa?”

Minhee memilin ujung piyamanya gelisah, berkali-kali ia melempar pandangannya pada ibunya yang masih sibuk memasak. “A… Aku… Aku punya pertanyaan aneh.”

“Apa?” ibunya berpaling sepenuhnya pada Minhee setelah terlebih dahulu mengecilkan nyala api kompor. Sehun ikut merapatkan dirinya ke dinding, seakan ikut penasaran akan pertanyaan aneh yang tadi disebut oleh Minhee.

Sedang raut gadis itu tampak tak tenang. Ia memandang ibunya tak enak hati, dengan jemari yang masih belum berhenti memilin ujung piyama miliknya.

 

Eomma, aku ingin tahu bagaimana rasanya…” kata-kata Minhee terputus, rautnya tampak jelas ragu-ragu untuk meneruskan kalimatnya. “Hamil?”

Mata eomma Minhee membulat, pun dengan Sehun yang tak bisa menyembunyikan raut terbelalaknya dibalik tembok. Sehun menatap gadis itu tak percaya, rasanya ia ingin membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tembok saat mendengar pertanyaan seperti itu meluncur dari bibir gadis itu, istrinya.

 

“Hamil?” ulang eomma-nya dengan raut terkejut yang masih belum luntur. Minhee memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya. Ekspresinya yang salah tingkah terlihat imut, dan walau rasanya menyenangkan bagi Sehun untuk bisa melihat raut wajah Minhee seperti itu, Sehun masih belum bisa menutupi rasa terkejutnya.

 

Hei, bukankah Minhee wanita yang sangat sensitif setiap kali mereka membicarakan kehamilan?

 

“Kau tidak biasa, sayang… Ada apa denganmu?” Tanya eomma Minhee cemas sambil memegang pipi puterinya itu. Ia yakin demam Minhee sudah turun sejak dini hari tadi, itulah yang membuatnya sangsi Minhee sedang meracau saat ini.

“Aku tidak apa-apa, eomma.” Jawab Minhee sambil menurunkan tangan sang ibu dari wajahnya. Ia memandang lekat ibunya, seakan berisyarat meminta jawaban atas pertanyaan sebelumnya walau masih ada semburat keragu-raguan disana. Masalahnya, ia baru saja membicarakan tema yang selama ini tabu dan selalu dihindarinya.

Eomma tahu sebenarnya kau tak suka mengungkit tentang itu,” sahut eomma-nya, lalu dengan satu tangan mematikan kompor sebelum menghanguskan makanan yang masih berada diatas teflon.

“Aku tidak tahu, eomma.” Jawab Minhee dengan pandangan tertunduk. “Aku mulai berpikir kalau mungkin saja eomma benar. Mungkin… Yah mungkin… Kalian memang benar-benar mengharapkan cucu dari aku dan Sehun oppa.”

Sehun tersedak salivanya sendiri. Minhee barusan bicara apa? Ada apa dengan gadis itu sebenarnya? Apa gara-gara sakit demam kemarin otaknya jadi terbalik?

 

“Jangan pikirkan lagi soal pembicaraan di makan malam itu, oke?” senyum eomma-nya sambil mengacak sayang rambut Minhee. “Kami mengerti posisimu. Kami tak pernah memaksamu. Kenapa puteriku menjadi serius sekali dengan obrolan ringan, eoh?”

Minhee menggeleng, lalu mengulaskan senyumnya. “Baiklah. Aku tidak akan mengulanginya lagi, eomma.”

Good girl.” Sahut eomma-nya sambil beranjak menuju rak piring. Ia mengambil piring saji untuk memindahkan masakan yang masih mengepulkan asap putih tipis itu.

Minhee terdiam di posisinya, tidak bergerak satu inci pun. Suasana jadi canggung dalam ruangan itu, tak ada lagi keributan seperti tadi.

Sehun juga ikut canggung, maski kedua wanita itu tak melihatnya yang masih bersembunyi di balik tembok. Laki-laki itu masih terdiam membatu disana, sibuk berpikir soal jalan pikiran Minhee yang sebenarnya. Mengapa jalan pikiran gadis itu menjadi berbalik 180 derajat padahal belum genap 5 jam setelah ia bangun dari tidurnya.

 

“Bangunkan Sehun,” sahut eomma-nya tiba-tiba, akhirnya membuat Minhee bergerak juga. Gadis itu mengangguk patuh lalu berjalan meninggalkan dapur. Bodohnya ia malah tak melihat Sehun yang jelas-jelas terdiam saat ia melewati tembok tempatnya bersembunyi. Sehun bahkan bisa melihat punggung gadis itu yang berjalan menjauh dari tempatnya.

Sehun mendengus pelan, namun pada akhirnya mengikuti jejak langkah Minhee tanpa memanggilnya sama sekali.

 

Minhee tiba di kamarnya dan langsung membuka pintu, sempat mematung di pertengahan jalan saat menyadari jika tempat tidur mereka sudah kosong. Hanya ada selimut dan berbagai bantal-guling yang berserakan diatas sana, serupa dengan sprei yang masih belum dirapikan. Tapi tak ada Sehun disana. Kening Minhee berkerut dan langkahnya membawa kaki gadis itu mendekat kesana.

 

“Minhee-ya,” langkah Minhee terhenti, padahal jaraknya menuju tempat tidur hanya tinggal beberapa meter saja. Minhee memutar tubuhnya saat ia yakin sudah mengahapal diluar kepala soal pemilik suara berat itu, dan hapalannya bekerja karena ia tidak salah menebak.

“Oh, oppa sudah bangun?” Minhee melontarkan pertanyaan retoris sambil memiringkan kepalanya, masih menatap Sehun yang berdiri di ambang pintu kamar dengan ekspresi canggung.

“Kalau belum, aku mana mungkin berdiri disini, Putri Kura-Kura.” Jawab Sehun dengan sedikit ledekan untuk Minhee di ujung kalimat. Minhee tersenyum tipis, menyadari saat ia ingat Sehun pernah memanggilnya begitu ketika akan makan malam bersama dengan orangtua dan kakak mereka.

 

“Kenapa kau tidak mau merapikan tempat tidur?” protes Minhee sambil berbalik, menghadap tempat tidur berantakan mereka. Gadis itu bercakak pinggang sesaat, lalu mulai merapikan tempat tidur itu sendirian.

“Perlu bantuan?”

“Tidak usah, Tuan Oh.” Tolak Minhee dengan suara manis, sebelum melanjutkannya dengan suara datar, “kalau kau ingin membantuku, seharusnya sejak awal kau tidak asal bangun dan meninggalkan tempat tidur berantakan ini seenaknya.”

“Aku ‘kan punya istri,” goda Sehun sambil merangkul pinggang Minhee secara tiba-tiba, membuat Minhee menoleh kaget dan berusaha menanggalkan dirinya dari rangkulan yang membuatnya risih itu.

“Aku istrimu, tapi bukan pembantumu.” Tandas Minhee datar. “Lepaskan aku, Oh Sehun. Kau menghambat pekerjaanku.”

“Memelukmu bisa menghambat pekerjaanmu?” ulang Sehun.

Minhee memutar matanya jengah. “Iya. Pikir saja sendiri.”

“Bagaimana kalau aku menghambat pekerjaanmu… Seperti ini?”

 

Minhee tak mengerti maksud perkataan Sehun di detik-detik awal laki-laki itu mengucapkannya. Namun waktu terlalu cepat berganti, dan bahkan Minhee tidak cukup cepat untuk menyadari apa yang terjadi. Tiba-tiba saja dalam hitungan milidetik, Sehun menarik tubuh Minhee tiba-tiba lalu memutar posisi gadis itu dalam pelukannya. Wajah mereka berhadapan, dan Sehun menghapus jaraknya sepihak sebelum membiarkan Minhee melancarkan protes apapun padanya.

 

Wanita ini selalu lambat.

 

Tahu-tahu saja Minhee merasakan permukaan bibirnya sudah bertemu dengan permukaan bibir laki-laki itu, membiarkan bibirnya sendiri dalam keadaan tertekan. Minhee masih belum tahu bagaimana caranya membalas ciuman yang seharusnya, jadi ia hanya terdiam. Yang bisa ia rasakan adalah ketika kakinya berubah menjadi jelly, mengharuskannya berpegangan pada Sehun agar ia tidak merosot jatuh saat ciuman itu semakin dalam.

 

Sedangkan di sisi lain, eomma Minhee mulai melangkahkan kakinya semakin dekat dengan kamar utama itu. Kamar milik anak dan menantunya. Ia sudah cukup heran mengapa Minhee membutuhkan waktu selama itu hanya untuk membangunkan Sehun dan berkata kalau sarapan sudah siap, namun ia rasa herannya perlahan merayap level menjadi curiga saat tak mendengar suara cempreng Minhee yang biasanya berteriak-teriak saat membangunkan Sehun. Tak ada suara apapun, padahal ia sudah berada dalam jarak yang lumayan dekat dengan pintu kamar itu. Namun sejauh ini yang didengarnya hanya kesenyapan.

Wanita paruh baya itu melihat pintu kamar utama yang masih terbuka, namun anehnya tak ada suara apapun dari sana. Ia mengerutkan kening dan mempercepat langkah. Apakah mereka berdua sedang ada dalam ruangan yang berbeda?

 

Langkah eomma Minhee terhenti saat itu juga. Dan untungnya, baru matanya yang berhasil menangkap pemandangan di dalam sana. Siluet tubuhnya belum muncul, menghindari kemungkinan mereka berdua akan memekik kaget dan menghancurkan romatisme mereka yang baru saja dimulai pagi ini.

Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, lalu meninggalkan kamar utama itu lagi. Ia lebih memilih menunggu keduanya di dapur, menunggu sampai anak dan menantunya itu selesai dengan urusan mereka.

 

 

Suasana kelas masih belum terlalu ramai, kursi-kursi milik para mahasiswa masih dibiarkan kosong, padahal ini sudah menghitung 15 menit sebelum kelas dari Dosen Jung dimulai. Biasanya Dosen Jung mudah sekali mendapat predikat sebagai ‘dosen berdarah dingin yang dihindari’ oleh para mahasiswa baru. Kenyataan bahwa ia adalah seorang wanita tidak merubah kadar betapa tegasnya ia sebagai seorang dosen kepala jurusan.

Dan sialnya lagi, kini seorang Park Minchan tengah duduk sendirian di kursinya yang biasa sambil masih ketar-ketir menunggu kedatangan sahabatnya.

Atau malah gadis itu tidak datang hari ini?

 

Bukan salah Minhee jika ia tidak datang hari ini. Kemarin ia sakit sampai harus dibawa ke ruang perawatan. Sebenarnya juga, sakitnya Minhee membawa mujur tersendiri bagi Minchan. Di kelas terakhir kemarin ada kelas Dosen Jung yang sebenarnya harus mereka ikuti, namun karena Minchan harus menemani Minhee di ruang perawatan sampai Sehun menjemputnya, ia tidak harus bertemu dengan Dosen Jung kemarin. Dengan sematan kata : Minchan takut bertemu Dosen Jung kemarin karena ia lupa mengerjakan tugas soal tata bahasa. Tapi hari ini ia telah menyelesaikannya, jadi setidaknya jantungnya tidak bermarathon seperti kemarin.

Namun hari ini ternyata ia tak jauh lebih sial. Siapa pula yang bisa menikmati dua jam penuh kelas dari dosen menyebalkan tanpa ada sahabat yang menemani mengobrol dengan suara mendesis guna mengusir rasa kantuk?

 

Minchan sedang menghentak-hentakan kakinya sendiri di bawah meja, saat matanya malah tak sengaja mengangkap siluet seorang mahasiswa yang baru saja memasuki kelas. Dilihat dari gelagatnya yang canggung, Minchan bisa pastikan kalau ia adalah mahasiswa baru yang kemarin dikenalkan Dosen Kim pada mereka semua. Mahasiswa baru, pindahan dari Amerika. Mahasiswa baru yang telah mendapatkan Melanie Lee sebagai fangirl-nya, bahkan sebelum ia sendiri menginjakkan sneakers-nya di kelas ini.

Minchan mengangkat pandangannya menuju sosok laki-laki itu, dan matanya langsung membentur sosok Jeon Jungkook yang bertahun-tahun lalu pernah Minhee ceritakan padanya. Bertahun-tahun yang lalu, saat ia dan Minhee bahkan masih dua orang bocah SMP yang masih dangkal dan asal menunjuk laki-laki mana yang mereka sebut sebagai cinta pertama mereka.

 

Tanpa Minchan duga, Jungkook membalas pandangannya. Minchan malah mempertegas pandangannya, pandangan yang menunjukan kalau ia tidak terlalu tertarik dengan kehadiran mahasiswa itu. Walaupun Jungkook memiliki tubuh tinggi tegap yang menawan, walaupun Jungkook memiliki standar wajah yang diatas rata-rata, walaupun Jungkook sudah diterima menjadi anggota badan kemahasiswaan tepat di hari ia masuk, walaupun Melanie Lee berkali-kali mengatakan di depannya betapa kerennya Jungkook itu.

Walaupun Jungkook adalah laki-laki yang dulu Minhee tunjuk sebagai cinta pertamanya.

Park Minchan tetap tidak peduli. Ia memang sahabat Minhee, namun entah kenapa ia sangat tidak suka ketika Jungkook kembali ke kehidupan Minhee.

 

Minchan tak tahu mengapa waktu bisa secepat ini dari perkiraannya, namun yang jelas ia tahu sebentar lagi kelas akan dimulai karena segerombolan mahasiswa lain mulai masuk dan mengisi satu-persatu kursi kosong yang berjajar disana. Jungkook hilang fokus pada Minchan, ia yang terdorong masuk oleh mahasiswa lainnya hanya bisa menerima tempat duduk yang tersisa, mengeluh saat mendapatkan kursi dengan letak yang cukup jauh dengan sosok Minchan yang sedang ia dapati tersenyum menang ke arahnya. Mata Jungkook melirik sebuah kursi yang masih kosong di samping kursi milik gadis itu, tanpa berpikir dua kali ia bisa memastikan bahwa itu kursi milik Shin Minhee.

Gadis masa kecilnya.

 

 

“Hari ini aku ada kelas jam tujuh,” sahut Minhee sambil menuangkan susu ke dalam gelas minumannya.

Sehun menoleh pada Minhee, namun eomma-nya malah tidak. Eomma Minhee tak mengerti apapun pembicaraan Minhee soal kuliahnya, jadi ia membiarkan seolah-olah Minhee mengobrol bersama Sehun saja.

 

“Kelas siapa?” Tanya Sehun merespon sambil meminum susu di gelas yang sama.

“Hei, itu gelasku!” protes Minhee dan membuat Sehun nyaris menyemburkan susu itu lagi keluar mulutnya. Sehun menelan cairan manis berwarna putih itu dengan sedikit susah.

“Maaf.”

 

Minhee memutar matanya, lalu tanpa sadar meminum susu dari gelas itu juga. Sehun yang tersadar hanya mengulum senyumnya penuh arti, lagi-lagi menyesali dalam hati mengapa Minhee benar-benar lambat menyadari apapun yang sedang dilakukannya.

 

“Jam tujuhmu kelas siapa?” Sehun mengulang pertanyaannya.

“Dosen Jung.” jawab Minhee singkat. “Kepala jurusan.”

“Apa kau menyesal tidak masuk?” Tanya Sehun setelahnya.

Minhee menggeleng, lalu sesaat kemudian ia tampak terkejut. Sepertinya ia baru mengingat sesuatu. “Oh iya, oppa. Bisa kau menemui Minchan nanti?”

“Untuk apa?” Sehun mengerutkan keningnya.

“Memberi kabar kalau aku tidak masuk. Tadi pagi ia mengirimiku pesan, tapi aku sedang tidak punya pulsa, jadi aku tidak bisa membalasnya. Pasti saat ini ia sedang gelisah menjalani dua jam penuh bersama Dosen Jung yang mengoceh di depan kelas dan juga Melanie yang mengoceh di sampingnya. Semoga ia tidak gila karena dua suara berdengung itu.”

 

Minhee menyuapkan potongan roti mentega itu dengan tenang ke mulutnya, namun tak ada yang sadar jika eomma Minhee memperhatikan mereka berdua lamat-lamat. Secara rahasia juga tentu saja. Masih jelas di ingatan wanita paruh baya itu saat tak sengaja menemukan Sehun dan Minhee sedang berciuman di dalam kamar mereka.

Namun entah kenapa beberapa menit kemudian mereka sama-sama datang ke meja makan dengan memasang raut biasa, seolah tidak terjadi apapun diantara mereka. Berlanjut sampai detik ini dan juga detik-detik berikutnya. Setidaknya wanita paruh baya itu berpikir, betapa piawai akting anak dan menantunya tersebut.

 

“Kau ada kelas jam berapa?” Tanya Minhee tiba-tiba, menatap Sehun selesai mengunyah roti menteganya.

“Jam sembilan,” jawab Sehun singkat. “Bimbingan skripsi Dosen Lee. Menyebalkan.”

“Bukankah dia dosen kesayanganmu?” Tanya Minhee polos. Sehun balas memandangnya seolah-olah itu adalah sindiran.

“Kapan aku bilang begitu? Apa saat aku mabuk?”

 

Uhuk!

 

Tiba-tiba eomma Minhee tersedak dengan cukup keras. Sehun dan Minhee kompak memandang ke arah wanita paruh baya itu, lalu Minhee dengan cepat membantu ibunya minum.

Eomma tidak apa-apa?” Tanya Minhee cemas.

Eomma Minhee menggeleng, simbolis bahwa ia merasa sudah baikan dan mereka tidak perlu cemas. Sehun masih bereaksi datar, bahkan sedikit mengerutkan kening saat tersadar. Kenapa ibu mertuanya tersedak saat ia membicarakan soal mabuknya ia tempo hari sehingga hampir melakukan ‘hal yang buruk’ pada Minhee?

Si-eomeoni tidak apa-apa?” Tanya Sehun akhirnya. Eomma Minhee menatap Sehun juga, lalu ia menggelengkan kepalanya sambil memunculkan senyum.

Sehun membalas senyum itu, setidaknya ia bisa menyembunyikan kecurigaannya yang tadi sempat berkelebat, menyimpannya sampai ia punya waktu yang cukup untuk membicarakannya berdua dengan Minhee.

 

“Minhee-ya, kau bantu eomma mencuci piring, ya?” pinta eomma Minhee, memandang puterinya.

Minhee mengangguk dengan senyum. Lalu berpaling pada Sehun, “oppa, kau berangkat masih lama, kan?”

“Ya,” jawab Sehun singkat. “Aku mempersiapkan beberapa perlengkapan kuliahku dulu. Setelah selesai dengan piring, bisa kau membantuku?”

Minhee mengernyitkan keningnya mendengar kata-kata Sehun, sedangkan eomma-nya memandangi mereka. Minhee tak punya waktu yang cukup lagi untuk bertanya apa maksud laki-laki itu, karena kini punggung itu sudah berlalu dari meja makan.

 

 

Dua jam belum berlalu sepenuhnya, namun sosok wanita bertubuh tinggi semampai dengan heels setinggi 8 cm itu telah melenggang dari kelas yang sudah disinggahinya sejak jam 7 tepat tadi. Selama beberapa detik belum ada mahasiswa yang mengikutinya keluar dari kelas itu, namun dalam hitungan satu menit kemudian bisa dipastikan kapasitas mahasiswa dalam kelas itu semakin menyusut karena masing-masing dari mereka telah melangkahkan kakinya keluar dari sana.

 

Park Minchan masih sibuk di mejanya, membereskan beberapa alat tulisnya yang masih berserakan tak teratur diatas meja papannya, menghela napas panjang saat matanya kembali menatap deretan materi yang sempat ia catat di notes bergarisnya.

 

Minhee akan menyesal tidak masuk hari ini. Materinya banyak sekali, gerutu Minchan dalam hati.

 

Setelah selesai dengan semua alat tulisnya, gadis itu meninggalkan mejanya dan otomatis menjadi mahasiswa terakhir yang mengosongkan kelas. Minchan memang tidak terlalu peduli dengan Jungkook, namun ia tak bisa tidak melihat pemandangan bahwa kursi yang tadi sempat ditempati Jungkook telah kosong. Minchan melenggangkan kakinya tak peduli.

 

“Minchan-ssi,” Minchan bahkan baru beberapa langkah saja keluar dari kelas, namun ia sudah mendengar ada sosok laki-laki yang memanggil namanya dengan jelas. Minchan menoleh, lalu dengan gamblang melihat laki-laki itu berdiri tak jauh di belakangnya.

 

 

 

| T B C |

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Ehem. Pertama-tama aku mau minta maaf sama kalian soal keterlambatan posting lagi di chapter ini. Maaf sudah membuat kalian menunggu (/-\)

Aku jadi merasa harkos gini ke kalian, huhuhu😥

Percaya deh, aku mah selalu niat posting tepat waktu di setiap chapter sebenernya. Cuma sayang karena aku pakenya paket modem yang akan habis kuota perbulan, makanya aku harus tabah setiap kuota habis tidak pada waktu yang tepat (/-\)

 

Kedua, aku mau minta maaf lagi. Kali ini buat betapa lambatnya aku dalam membalas komentar kalian di chapter sebelumnya (/-\)

Sumpah, aku pun kesel sama diri sendiri karena gak bagus manajemen waktunya sampe komentar terlantar dibales kayak gitu. Padahal aku gak pernah niat ngecewain kalian seperti itu😦

Aku tipe author yang sangat berterimakasih dengan sambutan yg sudah kalian berikan ke fic ini. Honestly, ini fic pertama aku yang bener-bener laku di pasaran. Ini judul pertama aku dimana dapet komen sampe ratusan, makanya aku menghargai kalian banget… Maafkan aku karena aku telat bales semua komen itu yaaa😦

Jangan bosen untuk ngasih apresiasi kalian di kolom komentar ~

Itu salah satu semangat aku, dan salah satu penghibur aku juga… Aku seneng melihat banyak readers yang suka sama fic aku dan bilang ke aku, hehehe

Dan buat kalian yang masih mau komentar ke aku (misalnya komen kalian kelewat aku balesin, atau aku bales komennya lama, atau nanya kenapa aku telat posting lagi) silahkan bilang ke @shineshen97 yaa ~

Disana aku juga sering ngasih tebar clue (kalo misalnya aku lagi kesel sama Sehun, aku suka tebar clue(?)), atau sekedar informasi tentang posting Secret Darling. Okeh?😉

Dan mengenai komentar, sebelum posting ini aku sudah menyelesaikan balasan komentar terbaru untuk semua chapter. Dari mulai Teaser s.d 5th Chapter. Jadi bagi yang belum baca balesan aku, silahkan kalian cek J

 

Oke deh, sekian dulu cuap-cuap aku di chapter ini ~

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

 

Have a nice long weekend, guys!😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi~

 

 

 

shineshen

 

770 thoughts on “Secret Darling | 6th Chapter

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s