[Minri’s Diary – 04] Just a Little Mistake

just a postaa

Just A Little Mistake

Author : Charismagirl

Main cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Rating : Teen

Genre : Romance, fluff

Length : Drabble, <1900 W

Note : Boleh disebut sebagai seri dari My Boyfriend is a Baby | Still a Baby |My Black Pearl Talking About Marriage, boleh juga tidak. Just, happy reading!

***

He make a mistake, but he did right at the same time.

Ujian sudah selesai. Sekarang masa-masanya menikmati liburan sembari menunggu pengumuman kelulusan yang tentunya akan mendebarkan.

Aku punya ide –yang menurutku –bagus. Karena aku suka sekali makanan manis seperti cake, es krim, permen kapas dan susu coklat (well, ini minuman), maka aku berniat mengajak Baekhyun –pacarku yang juga manis itu –membuat cake bersama. Ugh, tapi tenang saja aku meskipun dia manis, aku tidak akan menggigitnya. Kecuali pada situasi tertentu, misalnya dia menyodorkan telunjuknya untuk mengomeliku maka aku akan menggigit jarinya yang lentik itu. Menggigitnya gemas ya, bukan bermaksud membuatnya putus. Jangan pikir aku psikopat.

Dan, disinilah kami berdua berada sekarang. Di dapur rumahku –yang tergolong cukup besar dengan peralatan masak selengkap-lengkapnya. Ibuku suka memasak dan beliau tidak akan tanggung-tanggung membuat dapur tempat beliau memasak seperti dapur kerajaan Inggris.

Saat ini hanya ada kami berdua di rumah. Ibuku pergi berbelanja dengan teman-temannya. Ayahku seperti biasa pergi bekerja. Oppa-ku? Kupikir dia sedang kencan bersama pacarnya.

Baekhyun sedang memakai apron motif bintang dengan nuansa warna biru muda. Dia tampak kesulitan mengikat tali apron yang letaknya di bagian belakang itu. Sementara aku dengan mudahnya memasang apron merah muda motif bunga –aku sudah terbiasa ya, walaupun aku belum begitu bisa memasak. Apron-apron ini adalah pilihanku ketika suatu hari ibu mengajakku membelinya.

“Minri, bantu aku, please.” Baekhyun menghampiriku lantas membalikkan badannya, membelakangiku.

Aku terkikik pelan saat melihat jalinan tali apronnya amburadul, menggumpal seperti bola mie.

“Apa tanganmu sebegitu pendeknya sampai-sampai mengikat ini saja susah sekali,” ucapku dengan nada bercanda. Aku melepaskan semua ikatannya lalu mengulang dari awal. Tidak butuh waktu lama untuk aku menyelesaikannya. “Sudah, Baek.”

Baekhyun berbalik dengan bibir mengerucut. Wajah tampak kesal. Yeah, sepertinya aku tahu apa penyebabnya. Hey, aku kan cuma bercanda.

“Ini bukan masalah tanganku pendek atau bukan, tapi aku tidak bisa meihat ke belakang tahu.”

“Tapi kau kan bisa mengira-ngira.” Aku mengendikkan bahu kemudian berlalu dari hadapan Baekhyun, menghampiri bahan-bahan yang sudah tersedia di atas pantri.

Baekhyun mengikutiku –dengan wajah kesal yang masih tersisa –dia berdiri di sampingku.

“Baik, baik, aku minta maaf, oke? Kau boleh meminta bantuanku kapanpun untuk sekedar mengikat tali apron ataupun bantuan lainnya. Jangan memasang wajah seperti itu. Nanti rasa kuenya tidak enak.”

Beginilah kami. Hal kecil semacam tadi saja bisa menjadi bahan perdebatan yang membuat Baekhyun murung. Dan tentu saja aku harus minta maaf kalau tidak ingin dia mendiamkanku seperti patung batu.

“Oke, Chef!” Baekhyun kembali cerah. Tersenyum lebar. Ucapannya membuatku tertawa dan tidak tahan untuk mencubit pinggangnya. Dia bilang apa tadi? Chef? Kedengarannya lucu juga.

“Sekarang kita mulai.”

 

Hanya beberapa menit setelah aku dan Baekhyun mulai membuat kue, kami berdua sudah berhasil membuat keadaan dapur seperti baru saja terserang gempa bumi berskala tinggi.

Ada tepung yang tercecer di lantai. Telur yang pecah –ini salah Baekhyun karena dia membawa telur-telur itu padaku tanpa keranjang. Bayangkan saja membawa sepuluh butir telur hanya dengan kedua tangan. Bagaimana bisa? Apalagi mengingat ukuran tangan Baekhyun cukup mungil itu. Dan beberapa bungkusan bahan dibiarkan begitu saja di atas meja.

Aku sudah bilang kan kalau aku tidak begitu handal dalam memasak. Jadi, kami berdua memutuskan untuk melihat resep di internet. Baekhyun-lah yang bertugas mencari dan membacakan instruksi resep dari layar gadged-nya. Sementara aku yang membuat adonan. Terkadang aku ikut melirik ke layar karena tidak sepenuhnya percaya pada ucapan Baekhyun. Mungkin saja dia melewatkan satu atau beberapa langkah.

Setelah memasukkan telur –dan memunguti kulitnya yang ikut masuk (demi apa memecah telur tidak semudah yang dibayangkan), kemudian gula serta tepung. Mixer dinyalakan. Suara mesin mixer membuat kebisingan di dapur ini. Kami harus memperbesar volume suara kami agar bisa berkomunikasi dengan benar.

Selama menunggu adonannya jadi, aku mempersiapkan bahan yang lain seperti coklat, cream, gula halus dan margarin.

Semuanya berjalan sesuai instruksi. Bahkan ketika mixer dimatikan, lalu aku melanjutkan prosedur selanjutnya sampai memasukkan adonan itu ke dalam oven.Lalu kami menunggu.

Menunggu itu bosan.

Aku memutuskan duduk di salah satu kursi di samping Baekhyun –yang sedang menjilati coklat lelehan, dengan terlebih dahulu membuat coklat itu menempel di sendok. Dia membuat noda-noda coklat mengotori apron, juga sudut mulutnya sampai ke pipi. Aku tertawa keras. Dia terlihat seperti kucing. Garis-garis coklat itu membentuk formasi seperti kumis kucing di pipinya yang putih.

“Kenapa?” tanya Baekhyun dengan kening mengkerut.

“Coba saja bercermin.”

Baekhyun mengambil ponselnya –dengan susah payah, karena kedua tangannya sudah cukup kotor –lalu bercermin. Dia ikut tertawa, lantas mengambil tisu dan menyapu wajahnya.

“Kau tidak mau coklat? Ini kan kesukaanmu.” Baekhyun menyodorkan sendok coklat di hadapanku.

“Tidak, nanti saja.”

Baekhyun kembali menyendok coklatnya. Dia tampak sangat menikmatinya. Lihat saja bagaimana pergerakan mulutnya di sendok itu. Bahkan sekarang coklat itu mengenai ujung hidungnya. Baekhyun!

“Aku habiskan baru tau rasa.”

“YA! Jangan dihabiskan! Persediaan coklat sudah habis karena kau ambil. Tadinya kan itu untuk menyelimuti bolu-nya.” Aku menyodorkan tisu padanya. Dan dia malah memajukan wajahnya. Lagi-lagi meminta bantuanku. Aku mengelap pipinya sebentar. Lalu melemparkan tisu itu sembarangan di meja.

“Enak, sih. Yakin tidak mau?”

Dia memaksaku ya? Apa sebegitu enaknya?

“Baiklah.”

Baekhyun menyodorkan perlahan sendok yang sudah berlumur coklat. Aku bersiap membuka mulut saat sendok itu sudah sangat dekat dengan wajahku. Tapi, Baekhyun malah membelokkannya dan sengaja menyentuhkan ujung sendok ke hidungku.

“Baekhyun!!”

Dia segera berdiri dan meletakkan mangkuk beserta sendok coklatnya. Kemudian membuat jarak di antara kami. Dia begitu cepat mencapai seberang meja. Ingin mengajakku perang ya?

Akupun ikut berdiri sembari menggulung lengan bajuku. Kemudian mengambil langkah panjang mengejar Baekhyun. Aksi kejar-kejaran itu pun tidak dapat dihindari. Baekhyun terus menghindar sembari tertawa. Dia bahkan melemparkan sisa tepung ke wajahku.

Aku juga punya senjata.

Aku sempat menempelkan krim ke pipinya. Dan wajahnya benar-benar lucu. Abaikan bagaimana keadaan wajahku sekarang –aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.

Semuanya terasa menyenangkan ketika tawa kami memenuhi dapur itu. Kami terus melanjutkan aksi peperangan hingga dentingan oven berbunyi menandakan kuenya sudah matang. Lalu kami berhenti.

Baekhyun membantuku mengeluarkan kue itu dari dalam oven. Dia meniup-niup tangannya setelah berhasil melakukan hal itu. Aku yakin rasanya pasti panas meskipun dia sudah menggunakan sarung tangan.

Tapi Baekhyun rela merasakan panas itu demi mencegahku merasakan hal yang sama. Dia romantis kan? Dia juga punya sisi dewasa meskipun sisi kekanakannya lebih mendominasi.

Taraa!

Kue itu tampak enak dengan warnanya kecoklatan. Tapi aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya.

Sekarang kami akan menghiasnya terlebih dahulu.

“Baekhyun, tolong ambilkan krim coklatnya.”

“Kau menghabiskan krim coklat untuk menghias wajahku Nona,” sahut Baekhyun dengan wajah datar. Sementara aku tertawa pelan. Aku lupa. Aku menghabiskan krim itu sebagai senjata perang tadi.

“Krim putih saja kalau begitu.”

Baekhyun mengambilkan mangkuk krim putih dan meletakkannya di samping kue. Aku meratakan krim putih ke semua bagian sebelum kami berdua bersama-sama menghias kue. Baekhyun menaburkan meses warna-warni di beberapa sisi. Aku menambahkan tulisan di kue itu dengan krim coklat yang masih tersisa sedikit. Dan Baekhyun pun melakukan hal yang sama. Entah apa yang kami tulis, hingga kue itu tampak penuh hiasan.

Kue buatan kami sudah jadi!

“Yeyy!!” seruku sambil memeluk Baekhyun singkat. “Aku akan mengambil foto kue ini.” Ucapku lantas berlari kecil menuju kamar. Setelah menemukan ponselku, aku kembali ke dapur.

Semuanya terasa menyenangkan saat aku melewati hari-hariku bersama Baekhyun. Semuanya terasa menyenangkan saat kami bercanda dan tertawa bersama. Semuanya terasa –

“BAEKHYUN! APA YANG BARU SAJA TERJADI?!”

–tidak lagi menyenangkan ketika kue yang aku –maksudku kami – buat dengan susah payah kini tergeletak di atas lantai. Hancur. Tidak beguna.

“Minri…” Baekhyun berdiri di depan kue itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya selama aku mengambil ponselku tadi tapi setidaknya dia bisa menungguku kalau ingin memiindahkan kue itu atau apapun yang ingin dilakukannya pada kue itu!

Asalkan tidak menghancurkannya seperti ini.

Aku terduduk lemas di depan kue itu. Memandanginya sembari menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.

“Aku minta maaf…” Baekhyun jongkok di depanku. Dia meletakkan tangannya di bahuku lalu aku menepisnya.

“Pulanglah, Baekhyun.”

Aku melipat tanganku di atas lulut, lantas menenggelamkan kepalaku di sana. Terisak. Lalu menumpahkan air mataku.

Hari ini benar-benar buruk. Buruk sekali!

“Maafkan aku…”

Aku sama sekali tidak ingin mendongak. Aku memuaskan diri menangis. Daripada aku harus menahan sesak didadaku karena menahannya, lebih baik aku menumpahkan semuanya. Tidak peduli bahwa ini akan menghancurkan imej-ku yang tegar dan kuat. Lagipula disini hanya ada Baekhyun – kuharap dia segera pergi. Karena Baekhyun sudah pernah melihatku menangis sebelum ini.

Tidak ada suara apapun selama aku menangis, hingga aku yakin bahwa aku sendirian di dapur.

TAPI, ketika aku mendongakkan kepalaku. Ternyata Baekhyun masih ada di depanku. Menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah. Matanya tampak berkaca-kaca. Siapa yang bersalah disini sebenarnya?!

“Kenapa kau belum juga pulang?” tanyaku dingin. Tangisku sudah reda, tapi sekarang hidungku malah pilek. Apa aku menangis terlalu lama tadi?

“Mana mungkin aku bisa pulang dengan tenang, meninggalkanmu sendirian di sini menangis dan keadaan dapur masih berantakan.” Baekhyun perlahan mendekat. Dia mengusap pelan mataku dengan jempolnya. “Maafkan aku ya, mata Minri jadi bengkak…”

Aku berdeham lantas berdiri.

“Jadi begini. Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana kue itu bisa terjatuh?” tanyaku, mengabaikan rasa perih di mata karena menangis.

Baekhyun ikut berdiri. Dia menyapukan pandangan ke seluruh penjuru dapur yang masih berantakan. Dia menggenggam tangannya sendiri. Beberapa kali Baekhyun membuka mulutnya, tapi tak kunjung bersuara.

“Aku … aku ingin memindahkan kue itu ke meja yang lain. Tapi aku terpeleset.”

“Dan menjatuhkannya.”

“Aku tidak sengaja, Minri. Maafkan aku… aku berjanji membuatkan lagi untukmu. Sendiri. Tanpa bantuanmu. Eh, atau mungkin sedikit minta bantuan Kyungsoo. Tapi maafkan aku dulu…” Baekhyun memelukku dengan tiba-tiba membuat tubuhku sedikit terhuyung.

Aku melepaskan pelukannya dengan susah payah. Lalu menghampiri kue yang tergeletak di lantai itu. Aku mengambil sedikit bagian kue itu lantas memakannya.

“Minri! Apa yang kau lakukan? Kau bisa sakit.”

“Aku memaafkanmu, Baek. Ternyata kue ini memang pantas dimusnahkan.”

Baekhyun mengerutkan keningnya. Lantas menghampiriku. Dia mengikuti apa yang Minri lakukan, memakan sebagian kecil kue itu. Seketika wajahnya berubah. Dia tampak ingin memuntahkannya, tapi ternyata dia memilih untuk menelannya.

“Rasanya aneh,” komentar Baekhyun. “dan teksturnya juga keras.”

“Mungkin kita bisa bertanya Kyungsoo dulu kalau ingin membuatnya lagi,” ucapku sembari tersenyum.

Aku memaafkannya, sungguh.

Baekhyun ikut tersenyum. Lantas memelukku lagi. Kali ini aku tidak melepaskannya. Aku melingkarkan tanganku di punggungnya.

“Meskipun kue itu gagal, aku tetap harus meminta maaf karena membuatmu menangis.”

“Aku sudah memaafkanmu.”

“Benarkah?” Baekhyun memberikan jarak di antara kami. Dia menatapku dengan mata yang berbinar, lalu mencium pipiku lama. Tekstur bibirnya yang lembut terasa di pipiku. Ugh, Baek, bibirmu itu…

“Terimakasih.” Ucapnya, menghancurkan fantasiku tentang bibirnya.

Aku memegangi pipiku yang terasa memanas. “Ayo bereskan semua ini sebelum eomma –“

Eomma pulaaaang!

Aku tidak bisa meneruskan kalimatku karena aku dan Baekhyun sedang kalang kabut membereskan dapur. Aku bisa dimarahi kalau begini. Ah, tapi dimarahi berdua lebih baik daripada sendiri.

Bersama Baekhyun, aku merasa setiap detik hidupku begitu berharga.

***END***

What is this? 😀 Haaaai Baekby is back walaupun Overdose belum comeback🙂

Aku nulis ini abis nonton master chef junior /loh ga maksud promosi/ dan si cutest chef Brian harus keluar *syedih* —oke lewati.

Aku belum sempat cek typo dan uji kelayakan FF ini. Jadi mohon maaf kalau menemukan kehancuran. Semoga kalian tidak bosan dengan tulisan saya ya, isinya lagi-lagi Baekhyun – Minri yahaha xD

Makasih ya udah baca.

Kotak komentar sangat terbuka untuk kalian kalau mau kritik, saran, atau melemparkan(? unek-unek kalian pada saya. Mwahaha

THANKS ^o^ !!

Love ya❤

©charismagirl, 2014

 

233 thoughts on “[Minri’s Diary – 04] Just a Little Mistake

  1. Waaa authoor makin sweet ajanih ceritanya. Gabisa ngebayangin kl minri jd marah kan kasian baekkie(?) :’D suka bgt sm ceritanya maniiiis bgt :))

  2. Ping-balik: [Minri's Diary - 09] My Cute Hero | EXO Fanfiction World

  3. Ping-balik: [Minri's Diary - 08] Where Did He Go? | EXO Fanfiction World

  4. oh my.. udah susah payah dibikin kuenya malah diancurin sama baek.. kalo gitu baek aja yang jadi kuenya berhubung dia juga manis #abaikan
    nice fic.. ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s