I Need You-Chapter 1

I Need You-Chapter 1

Author                    : Shin Hayoung

Rating                     : 14+

Length                    : Twoshoot

Genre                      : Angst (?), Friendship, Romance, Family

Main Cast              : Byun Baekhyun (EXO-K)

Han Hami (OC)

Support Cast        : See by you’re self^^

Summary              : Aku benar-benar membutuhkanmu sekarang..

Author Note        : Yeay, hello! Did you still remember me? No? -_- Okay,

that’s allright. I made another Agst fanfict^^

Hope ya like it!

WARNING!!

DON’T COPAS THIS FF! I HATE PLAGIATORS!!

SORRY FOR TYPO..

.:HAPPY READING:.

Author POV

“Ya! Kenapa kau seenaknya saja duduk disini?!” teriak seorang pria dengan suara ketus pada temannya. “Wae Chanyeol-ah? Bukankah ini memang tempatku?” jawab Baekhyun –teman yang diteriaki dengan ketus. “Ini tempat teman kami yang bernama Byun Baekhyun.” ucap Sehun –teman Baekhyun dengan dingin. “Byun Baekhyun? Kau bercanda? Ini aku Byun Baekhyun..” ucap Baekhyun sambil terkekeh melihat kelakuan sahabatnya yang konyol.

“Byun Baekhyun yang tidak mempunyai penyakit parah.” timpal Chanyeol –yang juga temannya kali ini dengan dingin. Baekhyun yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini pun bertanya, “A-apa maksud kalian?” tanya Baekhyun dengan gugup. Tidak, ini tidak mungkin terjadi.. batinnya. Sejenak hanya hening, keringat dingin mulai bercucuran menuruni pelipis Baekhyun.

“A-apa mungkin kalian sudah mengetahuinya?” tanya Baekhyun lagi berusaha menutupi kegugupannya dan tetap berfikir yang positif meskipun hati kecilnya berkata tidak. Chanyeol dan Sehun tetap pada posisinya, tidak bergeming dan hanya memalingkan wajahnya dari Baekhyun. Dalam satu tindakan itu, Baekhyun sudah menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan hati kecilnya benar. “Hah, lalu apa? Hanya karena itu kalian begini? Hanya karena aku mempunyai penyakit parah kalian menjauhiku? Pengecut.” ucap Baekhyun tak kalah sinis.

“Kau bilang ‘hanya’? Kami tidak akan begini jika kau tidak membohongi kami! Kami tidak akan begini jika kau memberitahu kami sejak awal kau menderitanya! Dan, ‘pengecut’? Kurasa kata itu lebih cocok untuk dirimu!” ucap Chanyeol sambil menggebrak meja dan membuat semua orang yang berada di kantin sekolah itu mengalihkan perhatiannya. Baekhyun diam. Yang di katakan Chanyeol benar. “Jadi? Kau tidak mau mempunyai teman seperti aku ini? Yang kau katakan pengecut?” ujar Baekhyun dengan smirknya dan tatapan dinginnya.

“Ah, perkiraanmu salah. Kami hanya tidak suka mempunyai teman yang pandai berbohong seperti anda, Baekhyun-ssi.” ucap Sehun yang tak kalah pedas perkataannya dengan Chanyeol. “Fine! Lakukan apa yang kalian inginkan!” ucap Baekhyun tegas yang diakhiri dengan gebarakan meja dan berlalu pergi.

***

Disinilah Baekhyun, menyendiri di tempat favoritnya. Taman belakang sekolah. Ia selalu suka berada disini, saat senang maupun saat kacau seperti ini. Ya, kacau.

Ia tahu yang dilakukannya selama ini salah. Menyembunyikan sesuatu yang penting pada sahabat sendiri itu sulit dan resiko yang diterima pun bahkan lebih sulit dari menyembunyikannya. “Hhh..” untuk kesekian kalinya ia menghembuskan nafas berat sambil menengadah ke arah langit musim gugur. Baekhyun selalu suka musim gugur, namun tidak untuk sekarang. Untuk pertama kalinya ia benci musim gugur.

Tidak perlu tanyakan kenapa ia benci musim gugur kali ini. Ia benci karena di saat yang menyenangkan seperti ini, tiba-tiba hal buruk datang padanya. Ia benar-benar membencinya. “Chogi..” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita, Baekhyun pun menolehkan kepalanya pada sumber suara itu.

“Kau.. Tidak apa-apa?” tanya wanita itu dengan sedikit gugup. “Hm? Ya, aku tidak apa-apa.. Tapi.. Kau, siapa?” tanya Baekhyun menaikkan sebelah alisnya mencoba mengingat wanita itu. Ia rasa, ia pernah bertemu dengannya. “Oh, astaga.. Kau bahkan tidak mengenaliku?” keluh wanita itu sambil memutar bola matanya dengan kesal.

“Haha, kurasa tidak.. Tapi aku rasa, aku pernah melihatmu..” ucap Baekhyun dengan mata menyelidik ke arah wanita itu. “Ahh.. Aku Han Hami ketua kelasmu.. Kau benar-benar tidak mengenaliku? Bahkan aku satu kelas denganmu..” omel wanita itu yang ternyata bernama Hami. “Ahh, ketua kelas yang menyebalkan—“ Baekhyun tiba-tiba menghentikan omongannya. “Menyebalkan?” tanya Hami bingung.

Oh ya ampun Byun Baekhyun.. Kau akan mati sekarang.. “Ehh, tidak-tidak.. Aku tidak bermaksud seperti itu..” ucap Baekhyun sambil mengangkat kedua tangan di depan dada dan melambaikannya. “Kau…” ucap Hami sedikit geram dengan perkataan Baekhyun. “Haahh.. Baiklah, mari kembali pada tujuanku kemari..” gumam Hami. “Duduklah, dan katakan apa maumu. Aku sedang ingin sendiri..” ucap Baekhyun singkat.

Hami pun duduk disebelah Baekhyun dengan tidak karuan, Baekhyun yang melihatnya dari ekor matanya pun mengernyit bingung. Ada apa dengan wanita itu? “Jika ada sesuatu yang mau kau katakan, katakan saja..” ucap Baekhyun. “Hmm, aku tahu rasanya dijauhi oleh teman atau pun orang yang telah kau percayai itu sakit..” Hami memulai pembicaraannya. “Hh.. Aku tidak serapuh yang kau lihat. Kau tidak perlu mengasihaniku seperti itu..” ucap Baekhyun dengan tawa hambarnya.

“Tidak, aku serius.. Aku benar-benar tahu apa yang kau rasakan, dan kukira kau perlu mengeluarkan isi hatimu dari pada kau menyimpannya.. Satu yang dapat aku simpulkan dari tindakan temanmu, mereka hanya khawatir dengan keadaanmu, mereka tidak bermaksud menyakitimu apalagi dengan alasan ‘basi’ seperti itu..” ujar Hami sambil tersenyum menghadap Baekhyun yang membalas tatapannya dengan senyum liciknya. “Kau kira kau siapa? Menyuruh orang lain sesuka hatimu? Kau tidak merasakan berada di posisiku. Di posisiku yang sudah di campakkan oleh orang yang telah ku percayai. Kau tahu? Ini pertama kalinya aku membenci musim gugur karena kejadian tadi!” ucap Baekhyun. “Hahaha.. Kau benar-benar lucu Byun Baekhyun..” Hami merespon dengan tawa cerianya, Baekhyun yang melihat kelakuan Hami sempat mengira bahwa Hami gila tapi tidak setelah Hami berkata, “Kau bilang kau tidak mau menceritakannya, tapi tanpa kau sadari kau bahkan menceritakannya padaku.. Hahaha.. Kau benar-benar Baekhyun..” ucap Hami masih dengan tawanya. “Haisshh..” desis Baekhyun, malu dengan perbuatannya yang membuatnya malu sendiri.

“Tapi tak apa.. Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih lega bukan?” ucap Hami masih setia dengan senyum di wajah cantiknya. “Hmm.. Ya.. Kurasa..” ucap Baekhyun pelan. “Begitukah? Kalau begitu kau mau menceritakkannya lagi padaku? Kau boleh menganggapku sebagai tembok atau kau boleh menganggapku tidak ada..” ucap Hami. “Haahh, entahlah, aku tidak tahu harus memulai dari mana..” desah Baekhyun sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.

Hami juga diam, ia tidak mau banyak bicara, ia hanya ingin duduk disini. Hanya berdua dengan Baekhyun. “Ahh, ngomong-ngomong, aku minta maaf atas perkataan ketusku tadi.. Aku hanya.. Hahh, begitulah aku, aku selalu terbawa emosi..” ucap Baekhyun sambil tersenyum ke arah Hami.

***

“Eommaa na waseoo.. Uhukk uhukk..” ucap Baekhyun sambi terbatuk-batuk. “Aigoo nae adeul.. Gwencanha? Sebentar eomma ambilkan minum dulu..” ucap ibu Baekhyun sambil terburu-buru mengambil air untuk anaknya. “Uhukk uhukk..” Baekhyun yang sudah tidak tahan lagi langsung berlari ke arah wastafel dan mengeluarkan suatu cairan merah. Kambuh lagi.. batin Baekhyun.

“Aigoo yaa.. Gwencanha?” ucap ibu Baekhyun sambil menepuk-nepuk punggung Baekhyun. Baekhyun tidak menghiraukan pertanyaan ibunya, ia langsung berkumur-kumur untuk menghilangkan sisa-sisa cairan merah di mulutnya. Selesai berkumur-kumur ia pun mengelap mulutnya dan astaga.. Cairan itu kembali meluncur bebas dari hidungnya. “Eomma.. Bisa tolong ambilkan tisu? Cairan merah sialan ini tidak mau berhenti keluar..” keluh Baekhyun kesal.

Ibunya yang panik pun langsung berlari ke arah meja makan dan mengambil tisu beserta tempatnya. Baekhyun pun langsung menarik tisu itu dengan kasar dan mengangkat kepalanya agar cairan merah itu bisa berhenti, walaupun sementara. “Oh Baekhyun-ah.. Tadi dokter mengatakan, jika kau mimisan lagi, jangan menengadahkan kepalamu, nanti darah kotor itu hanya akan menumpuk dalam tubuhmu dan memperparah keadaamu.. Kajja.. Duduk di sofa dulu..” ucap ibu Baekhyun khawatir. Baekhyun pun menurut perintah ibunya dan duduk di sofa, lalu menundukan kepalanya agar darah itu cepat keluar.

“Aigoo..” ucap ibu Baekhyun sedih sambil mengusap-usap punggung anak semata wayangnya itu. Ibunya memang sudah sering melihat Baekhyun seperti ini tapi bukan berarti ibunya tidak panik melihat seringkali anaknya mengalami hal menyedihkan ini. Ayahnya Baekhyun sudah lama meninggal akibat kecelakaan parah di masa lalu dan membuat ibunya Baekhyun semakin sakit mengingat semuanya. Belum lagi tagihan rumah sakit yang tentu saja harganya tidak murah membuat ibu Baekhyun terkadang stress, namun ia berusaha melupakan semuanya dan tetap fokus pada Baekhyun.

“Eomma..” ucap Baekhyun menatap nanar ke arah ibunya. “Eoh? Sudah berhenti? Ini minumlah lalu istirahat.. Eomma akan bersihkan semuanya..” ucap ibu Baekhyun mulai beranjak dari duduknya namun Baekhyun segera menahan tangan ibunya. “Waeyo Baekhyun-ah? Ada yang sakit?” tanya ibunya khawatir, Baekhyun pun hanya menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepalanya. “Eomma.. Mianhe.. Aku selalu membuat eomma susah, aku selalu membuat eomma panik dan khawatir.. Mianhe, aku bahkan belum bisa membahagiakan eomma sampai detik ini..” ucap Baekhyun sambil memegang tangan ibunya.

Ibu Baekhyun pun langsung memeluk Baekhyun dengan erat seakan takut Baekhyun menghilang begitu ia melepaskan pelukannnya. “Gwencanha.. Melihat anakku tersenyum saja sudah membuat eomma senang.. Gwencanha..” ucap ibu Baekhyun sambil menepuk-nepuk punggung anaknya yang mulai terisak. “Eomma mianhe..” ucap Baekhyun dengan isakan menyakitkannya. “Sudah eomma bilang tidak apa-apa.. Sudahlah, kau menangis semakin membuat eomma sedih..” ucap eommanya yang mulai meneteskan air matanya.

Ibu Baekhyun pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan Baekhyun dengan seksama sambil mengusap sisa air mata di pipinya. “Ah, aku baru sadar bahwa anakku benar-benar tampan seperti ayahnya.. Apalagi jika sedang tersenyum..” ucap ibunya Baekhyun tersenyum tulus kepada anaknya itu. Baekhyun pun tersenyum mendengar perkataan ibunya. “Eomma gomawo.. Sudah merawatku dengan baik sampai aku menjadi anak baik seperti ini.. Sudah membesarkanku tanpa rasa beban.. Dan, terimakasih karena eomma sudah mau menjadi ibuku..” ucap Baekhyun sambil tersenyum walaupun air mata terus bercucuran di pipinya.

Ibu Baekhyun pun mengangguk mantap mendengar ucapan Baekhyun. “Eomma akan selalu berusaha menjadi ibu yang terbaik untuk Baekhyun walaupun rintangan yang kita lewati sulit, eomma akan selalu menjagamu, melindungimu, dan menyayangimu.. Karena aku ibumu..” ucap ibu Baekhyun sambil tersenyum. “Gomawo eomma..” ucap Baekhyun, kali ini sambil tersenyum lebar memamerkan gigi putih nan rapihnya. “Chaa~ Sekarang Baekhyun minum air hangatnya, setelah itu ganti baju, eomma akan membuatkan makan siang paling lezat untukmu..” ucap ibu Baekhyun sambil mencubit pelan pipi Baekhyun.

***

KLIK

“Ya, begitu.. Tahan posisimu..”

KLIK

“Satu kali lagi.. Coba perlihatkan ekspresi saat kau sedang marah. Ya, begitu, bagus.. Tahan dan..”

KLIK

“Oke, selesai.. Pemotretan kali ini cukup sampai disini.. Kalian semua telah bekerja keras..” ucap sang fotografer sambil membungkukkan badannya. “Sajangnim.. Kau telah bekerja keras.. Terimakasih..” ucap Hami sambil membungkukkan badannya. “Oh Hami-ah.. Ya, terimakasih, kau boleh pulang..” ucap sang fotografer itu sambil tersenyum ramah. Ya, begitulah pekerjaan Hami, menjadi seorang model ternama seantero Seoul.

Wajah cantik dan bentuk tubuh yang bagus sangat membantunya dalam pekerjaan ini, walaupun Hami sebenarnya tidak mengiginkan pekerjaan ini sebagai profesinya. Ya mau bagaimana lagi, takdir mengatakan bahwa Hami cocok menjalani profesi ini. Dan mungkin sekitar 2 minggu lagi ia akan pergi ke Jepang untuk pemotretan juga. Tapi ia masih merasa aneh dengan perkenalan singkatnya dengan Baekhyun saat istirahat di sekolah tadi.

Bagaimana bisa ia tidak mengenal Hami? Seorang model ternama di Seoul dan banyak poster-poster cantiknya di pajang di berbagai sudut kota Seoul. ‘Sebenarnya apa yang dipikirkan anak itu?’ batin Hami. “Hami-ya..” tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunannya. “Oh oppa, wae?” tanya Hami pada managernya—suara tadi.

Jangan aneh dengan ucapan mereka yang tidak formal itu, mereka memang sudah lama mengenal satu sama lain (mereka hanya terpaut 1 tahun), dan keduanya pun memutuskan untuk berbicara sebiasa mungkin dan tidak menggunakan bahasa formal. “Ini.. Jadwal pemotretanmu untuk besok, Direktur Wu yang memberikannya..” ucap managernya yang bernama Kim Minseok itu. “Ahh, Direktur Wu kesini?” tanya Hami sambil membaca jadwal yang di berikan managernya itu. “Eum, dia langsung memberikannya padaku..” ucap managernya sambil ikut melihat jadwal yang di baca Hami.

“Eoh? Benarkah? Biasanya Asisten Oh yang mengantarkannya.. Woaah, ini benar-benar keajaiban..” ucap Hami dengan mata yang berbinar-binar. “Aigoo! Keajaiban apa maksudmu?” ucap managernya sambil memukul kepala Hami, dan yang terkena pukulan hanya meringis. “Tidakkah oppa menyadarinya? Baru kali ini aku mendengar Direktur Wu melakukan hal yang seperti ini, biasanya kan dia hanya diam di kantornya..” ucap Hami sambil kembali berpikir apa yang membuat direktur perusahaan yang terkenal dengan sifat dinginnya yang… Err, bisa di bilang menyebalkan. Coba pikirkan, sekali ditanya jawabannya hanya ‘iya’ atau ‘tidak’ dengan wajah yang hanya terfokus pada laptopnya, kalau pun melihat wajah lawan bicaranya, ia pasti menunjukkan ekspresi dinginnya yang lebih dingin dari musim dingin di kutub utara, menyebalkan bukan?

“Mm, mungkin suasana hatinya sedang baik.. Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi, kajja.. Kita pulang..” ucap managernya dan mereka pun berjalan keluar dari studio pemotretan.

***

Waktu terus berjalan, dan seiring dengan waktu yang berjalan Hami dan Baekhyun pun menjadi teman baik, bahkan bisa dibilang sahabat. Namun, ada perasaan lain saat Baekhyun bersama Hami. Baekhyun merasa nyaman saat di dekat Hami, dan suasana hatinya selalu berubah menjadi baik saat melihat Hami. Bukan, bukan perasaan antar sahabat, Baekhyun yakin bukan karena hubungan sahabat ia menjadi seperti itu.

“Baekhyun-ah..” panggil Hami yang melihat Baekhyun melamun di taman belakang sendirian. “Eoh, Hami-ah.. Ada apa?” tanya Baekhyun sambil tersenyum ke arah Hami. ‘Oh tidak~ Jangan tunjukkan senyum itu Baek’ batin Hami. “Hmm, igeo.. Tadi saat aku berjalan ke arah sini, tidak sengaja aku melihatmu sendirian, jadi sekalian aku belikan Strawberry Milk-Shake favoritmu..” ucap Hami sambil memberikan minuman favorit Baekhyun.

“Ahh, begitu.. Gomawo..” ucap Baekhyun sambil menyambar Strawberry Milk-Shake kesukaannya itu. Ia memang sedang membutuhkan minuman ternikmat itu menuruni kerongkongannya. “Kau selalu seperti itu, seperti kau sudah tidak minum selama 1 tahun..” ucap Hami yang masih terheran dengan kelakuan sahabatnya. Sedangkan Baekhyun hanya terkekeh polos menanggapi keluhan Hami yang selalu ia lontarkan.

“Hmm, Hami-ah.. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu..” ucap Baekhyun dan seketika ekspresinya pun berubah menjadi serius. “Mwoga? Hei, mukamu tidak usah berubah menjadi seperti itu juga Baek.. Kau tidak pantas memiliki ekspresi serius pada wajah imutmu..” ucap Hami sambil terkekeh geli. “Tidak.. Aku serius Han Hami..” ucap Baekhyun menangkis perkataan tidak penting Hami, tidak bukannya tidak penting, tapi hal yang satu ini lebih penting dari perkataan Hami. “A-ahh, mian.. Apa? Katakan saja..” ucap Hami sambil menyeruput Cappucino-lattenya dengan santai.

“Aku tahu mungkin ini terlalu lancang, tapi aku ingin mengatakan bahwa.. Aku menyukaimu Hami-ah..” ucap Baekhyun sambil tersenyum lega. Ya, mungkin perasaan aneh yang dirasakannya itu adalah perasaan suka. Namun, Hami yang mendengar itu malah tersedak dengan minumannya sendiri. “Omo, Hami-ah.. Gwecanha?” tanya Baekhyun kaget.

Namun yang ditanya malah tertawa keras.

“Hahaha, kau bercanda, kan?” ucap Hami yang masih tertawa. Baekhyun tidak menyangka reaksi Hami jauh dari ekspektasinya. Tidak seperti di drama romance yang sering ia tonton, pada adegan seperti ini, si wanita akan terdiam seribu kata dengan mata yang membulat sempurna. Namun, kali ini mata Baekhyun yang membulat melihat reaksi Hami.

“Tidak Hami-ah.. Aku tidak bercanda..” ucap Baekhyun dengan wajah yang seakan berkata, ‘Sungguh.. Ini bukan lelucon yang ku buat-buat..’. Dan kali ini mata Hami yang membulat sempurna mengetahui bahwa pengakuan konyol Baekhyun padanya bukan lelucon. Dunia seketika berhenti, Hami tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang.

“K-kau..” ucap Hami terbata-bata, namun tiba-tiba sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka. “Hami-ah..” Oh, ternyata managernya. “Ahh, ternyata kau disini.. Aku sudah mencarimu kemana-kemana.. Kajja, 30 menit lagi pemotretan akan di mulai..” ucap Manager Kim sambil menarik tangan Hami. Sebenarnya Minseok benci melihat Hami dengan Baekhyun. Mengapa? Karena dia menyukai Hami.

Ya. Dia menyukai Hami. Oh tidak, sebenarnya dia menyukai mencintai Hami sebelum Baekhyun. Mengapa Minseok tahu bahwa Baekhyun menyukai Hami? Itu pertanyaan yang terbilang mudah bagi Minseok, dia lebih tua dari Baekhyun dan Hami tentu saja ia tahu perilaku-perilaku Baekhyun yang sedikit aneh akhir-akhir ini, dan.. Ya, perasaan apalagi selain perasaan suka?

Baekhyun kembali menyendiri. Setidaknya perasaannya sudah ia utarakan dan membuatnya sedikit lega. Biar ku garis bawahi sedikit. Ya, dan sekarang masalah yang selalu membuat seseorang yang sudah mengutarakan perasaanya merasa lebih takut daripada saat mengutarakannya.

Masalah jawaban. Itu yang selama ini Baekhyun takutkan. “Arghh, aku bisa gila!” erang Baekhyun sambil menginjak-injakkan kakinya pada daun-daun kering yang berguguran dengan kesal.

***

Hami diam. Hami berpikir keras. Hami melamun. Itu yang selama perjalanan Minseok lihat. ‘Sebenarnya apa yang di pikirkan anak itu?’ batin Minseok.

Baru saja ia membuka mulut Hami langsung berbicara, “Oppa, apa mungkin seorang sahabat bisa mencintai sahabatnya? Apa itu aneh? Kurasa itu aneh.” ujar Hami sambil menggumam di kalimat terakhirnya. ‘Ahh, jadi anak itu sudah mengatakannya?’ batin Minseok dan seketika tatapannya pun kosong, tapi tentu saja ia masih memperhatikan jalanan. “Oppa?” ucap Hami membuyarkan lamunan Minseok. “Ne? Ahh itu.. Mungkin saja bisa atau mungkin saja tidak..” ucap Minseok tidak meyakinkan. “Aishh, oppa.. Tak bisakah kau memberi jawaban yang meyakinkan?” ucap Hami kesal dan kembali bersandar pada jok mobil.

***

“Uhukk uhukk..”

‘Aku sudah tidak bisa menahannya lagi..’

“Uhukk uhukk..”

‘Tuhan.. Bagaimana ini?’

“Eommaa, na was—Uhukk..” Baekhyun seketika pingsan. “Omo! Baekhyun-ah! Ireona Baekk.. Jebal, ireona..” ucap ibu Baekhyun panik sambil menggoyang-goyangkan bahu tegap anaknya itu. Tatapan panik ibunya semakin menjadi-jadi saat melihat darah yang tadinya menggumpal di tangan Baekhyun sekarang mengalir dengan tenangnya ke lantai. ‘Penyakitnya kambuh..’ itu yang ibu Baekhyun pikirkan, tanpa pikir panjang lagi, ibu Baekhyun langsung menelepon pihak rumah sakit untuk segera membawa Baekhyun.

***

Ibu Baekhyun sedari tadi hanya berjalan di depan pintu ruang Baekhyun. Dokter mengatakan bahwa penyakitnya akan semakin parah jika tidak segera di operasi, tentu saja ibu Baekhyun bingung harus bagaimana, jika ia melaksanakan operasi, uang dari mana untuk membayarnya? Jika tidak bagaimana kondisi Baekhyun?

“Kami akan memberi anda waktu 3 hari untuk memutuskannya.. Pikirkanlah baik-baik ahjumma, ini menyangkut nyawa anakmu..” perkataan Dokter Kim terus saja terngiang-ngiang di pikiran ibu Baekhyun, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Mungkin ia harus meminta bantuan teman-temannya? Tidak ia tidak ingin merepotkan teman-temannya juga. Atau ia harus memberitahu orang terdekat Baekhyun?

***

Hami masih saja bergaya dengan anggunnya di depan kamera sementara Minseok terus saja memikirkan Baekhyun dan Hami. Apa mereka benar-benar sudah menjalin hubungan? Apa Hami sudah menyetujui pengakuan Baekhyun? Tidak, itu tidak mungkin. Hami kelihatannya masih bingung. Jika Hami belum menyetujui pengakuan Baekhyun, apa Minseok masih punya kesempatan? Itu semakin membuatnya gila! “Yaa, kita break 30 menit!” ucap sang produser dengan suara lantangnya yang berhasil membuat pikiran Minseok buyar.

“Oppa, apa ada air? Aku haus..” keluh Hami, dan Minseok pun mengambilnya di sudut ruangan, tidak jauh dari tempatnya duduk. Namun saat kembali ponsel Hami berdering dan Hami segera menjawab panggilan dari ponselnya itu. “Ye eomoni?” ‘Siapa?’ pikir Minseok. “Ye?!”

Seketika pandangan Hami kosong, mengapa bisa begini?

-To be continued…

Yuhuuu, gimana gimana? Bikin penasaran ga sih? /ngarep/ Ada yang inget sama aku? /ga ada/ Tadinya ini mau dibuat Oneshoot, eh ternyata harus berlanjut menjadi Twoshoot -_- Tapi adakah yang mau lanjutannya? Adakah yang penasaran sama FF abal ini? Sebenernya males juga sih ngebuat FF yang review nya dikit, tapi jiwa penulis(?) aku selalu muncul untuk ngebuat banyak FF =D

Terus terang aja, apa FF aku ada yang baca? Entahlah, abaikan -_-

Oke, cukup ber-geje-geje rianya ._. Now.. Give me review, please.. Aku bener-bener butuh segala saran dan kritik kalian untuk kedepannya.. Oh satu lagi, kalo ada yang nemu typo tolong segera beritahu aku ._.)/

53 thoughts on “I Need You-Chapter 1

  1. Aku boleh protes nggak? Itu si tiang kok jahat sih? TT
    Tolong, muka dia nggak pantes buat jadi antagonis, dek. Muka lawak dan bego begitu yang ada semua rencana jahatnya gagal semua. Oke, aku mulai ngelantur..

    Ke cerita ya, aku jarang baca FF yg cast cowoknya sakit parah. Biasanya sih cewek, dan setelah sekian lama baca yg begini lagi, kenapa harus bbh yang sakit. TT

    Nggak tega serius liat dia kesakitan tiap penyakitnya kambuh. Belum lagi sahabatnya itu malah ninggalin. Rasa aku pengen peluk dia/digetok rima eonni😄

    Aku agak kesulitan ngebayangin Minseok hyung dg karakter kayak gini. Apalagi pas narasi yang bilang dia nggak suka sama bbh. Rasanya gimana gitu. Dia kan —menurut aku sih ya—orangnya care banget-bangetan. Kalo tiba-tiba dapet scene judes gitu, agak aneh juga. Tapi mungkin karena aku belum terbiasa kali ya..🙂

    Keep writing ya,🙂

    • Hai lagi kak, kakak juga udh baca yg ini toh😀 Iya juga sih, kenapaa aku baru nyadat skrg yak-_-

      Nah kalo aku kebalik, malah ga biasa sama cerita yg cewenya mati ._.

      Peluk aja, aku ikhlas kok :3 /di timpuk/

      Iya sih–” Ahh, tuh kan, aku amatirnya kebangetan kalo pake cast exo trs angst -_-

      Iya, kakak juga. Thanks for read kak{}

  2. ampuun, km kan udh aku kasih yg ori baca aja sendiri -_-
    yakin? kamu aja yg bulukan kelless, mereka ga bakal bulukan, karena mereka reader sejati 8) /pede bgt-_-/

    btw /alay-_-/,makasih udh komen beb 8)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s