Diposkan pada Baek Hyun, Chan Yeol, Chapter, charismagirl, D.O, EXO-K, EXO-M, friendship, Kai, Kris, Romance, Se Hun

Milargo del Amor – Chapter 4 [end]

poster mda

Milargo del Amor – Chapter 4 [end]

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Other Cast :

  • Kim Jongin |Do Kyungsoo |Oh Sehun |Park Chanyeol
  • Kris Wu | Kim Jun Myeon
  • Stepmother | Jung Soo Jung |Jung Soo yeon

Rating : PG-15

Genre : Romance, friendship.

Length : Chapter

Note : Enjoy! Do not copycat without my permission!

Link : Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Karena bahagia adalah ketika keajaiban terjadi, setelah Baekhyun memutuskan untuk menyayangiku dengan seluruh hidup dia punya.

***

[Last chapter, proudly presented…]

Minri mulai memikirkan tanggal kelahiran ibu tirinya, Soo Yeon dan Soo Jung. Sungguh menakjubkan karena Minri bisa hapal itu semua. Tentu saja dia hapal. Mereka bertiga selalu merayakannya besar-besaran di rumah ini ketika hari jadi mereka telah tiba. Dan Minri pasti dilibatkan dalam hal ini. Minri pasti kerepotan sana-sini.

Beberapa kali dia mencoba, namun hasilnya tetap sama –brankas itu tidak bisa dibuka. Minri mencoba lagi, kali ini dia iseng menekan tanggal lahirnya lalu–

Ceklek!

–brankas itu terbuka.

Waw. Minri membuka setengah mulutnya. Dia masih terlalu shock karena pada akhirnya brankas itu bisa dibuka dengan angka yang tidak terduga. Mungkin ibu tirinya tidak mempermasalahkan tentang kode rahasia yang dibuat ayahnya untuk brankas itu.

Perlahan Minri membuka kotak brankas. Dan dia mencubit pipinya dengan konyol, menyadarkan dirinya bahwa dia tidak sedang bermimpi.

Dia mengeluarkan satu per satu benda yang ada disana. Dia mengambil sebuah figura foto–yang letaknya paling atas. Memandangi foto itu sejenak. Ada ayah, ibu dan dirinya dengan senyum bahagia. Minri merasa beruntung karena ibu tirinya tidak membuang foto itu. Atau mungkin ibu tirinya tidak pernah membuka brankas ini. Entahlah. Tapi Minri rasa dia benar.

Dia memeluk figura sembari memejamkan mata. Dia harap ayah dan ibunya datang ke mimpinya malam ini. Karena sungguh Minri begitu merindukan mereka berdua.

Minri segera membuka matanya. Takut kalau berlama-lama memikirkan kerinduannya, dia akan menangis. Dia meletakkan figura foto itu di sampingnya. Kemudian mengambil map coklat yang tersusun rapi disana. Dia memeriksa berkas di dalamnya dengan seksama. Semuanya adalah berkas penting. Ada akta kelahiran, sertifikat tanah, rumah, perusahaan dan … surat wasiat.

Dia membawa serta semua berkas-berkas itu, kemudian kembali menutup pintu brankas.

Dia akan meluruskan semuanya. Dan berharap penderitaannya akan segera berakhir.

***

Deru mobil di halaman rumah membuat Minri cepat-cepat berlari ke pintu masuk karena teriakan ibu tirinya sudah dalam angka desibel yang membahayakan.

Pintu terbuka. Minri yakin bahwa Soo jung yang membukakan pintu karena gadis itu sedang memegangi kunci. Mereka semua masuk. Lalu menyerahkan tas-tas mereka pada Minri, membuat tas itu menumpuk di kedua tangan Minri yang kurus.

Satu

Dua

Minri kembali menjadi upik abu.

Masa bersenang-senangnya sudah berakhir dan Minri sudah membereskan semuanya seperti sediakala agar tidak meninggalkan jejak bahwa dia telah melakukan banyak hal ketika mereka tidak ada di rumah.

“Madam, aku sudah memasak.” Ucap Minri pada ibu tirinya yang sedang melepaskan mantel bulu bermerk dan juga mahal itu.

“Baguslah.”

“Rupanya terkurung sendiri di rumah membuatmu mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa diminta, great!” Soo Yeon berlalu di hadapan Minri sembari mengibaskan rambutnya. Oh, bisakah seseorang izinkan Minri menjambak rambutnya itu. Minri mengusap wajahnya yang terkena rambut Soo Yeon dengan satu tangan, membuat tumpukan tas di tangannya nyaris saja jatuh.

“Aku masih memperingatkanmu untuk tidak dekat-dekat dengan Baekhyun.” Soo Jung melayangkan tatapan tajamnya, lalu berjalan menuju dapur.

Minri menghela nafas sembari memutar bola matanya. Soo Jung tidak berhak berkata seperti itu. Soo Jung tidak punya hubungan apapun dengan Baekhyun!!

***

“YA! Park Minri!!”

Minri segera berlari menuju dapur dengan langkah yang terburu-buru. Di seputar kepalanya terikat sebuah kain putih. Sementara tangannya memegang pulpen. Dapat dikatakan bahwa saat ini dia sedang berkutat dengan buku-bukunya. Dan dengan terpaksa dia harus turun dari lantai dua dengan kecepatan roket.

“Bereskan semua ini. Lalu buatkan segelas susu hangat untukku, arraseo?” Soo Jung beranjak dari sofa, membuat remah-remah makanan ringan yang mengenai bajunya kini berjatuhan di lantai.

Minri memperhatikan keadaan makanan yang berserakan di atas meja. Ada beberapa bungkus makanan yang sudah habis, juga yang masih tersisa sedikit kemudian isinya berhamburan keluar dan ada segelas air putih yang tersisa setengah.

Soo Jung membawa satu bungkus yang belum terbuka.

Minri menghampiri meja lalu memungut sampah bungkusan makanan ringan itu satu per satu. Dia sudah cukup jengkel karena Soo Jung meneriakinya seenaknya padahal sesungguhnya Soo Jung bisa membereskan itu sendiri. Hey, ini pekerjaan mudah. Hanya memungutnya, lalu memasukkan ke dalam sampah. Kemudian Soo Jung menambahkan kejengkelannya dengan –

“Bereskan juga bagian yang ini!”

–menghamburkan isi makanan ke lantai. Padahal tadi jelas-jelas bungkusan makanan itu masih utuh. Oke, ini keterlaluan!

Soo Jung melangkah dari sana dan menjatuhkan bungkusan makanannya begitu saja di atas lantai. Baru beberapa langkah yang diambilnya, dia kembali berhenti karena sebuah suara.

“Jung Soo Jung,” panggil Minri dengan nada dingin. Dia bahkan memanggil Soo Jung beserta marganya.

“Ada apa–

Dan Minri melakukan suatu hal diluar dugaan, yang tidak pernah terpikirkan dalam benak Soo Jung, bahkan dalam pikiran Minri sendiri. Dia telah menyiram Soo Jung dengan sisa minumannya sendiri.

–aaah! Apa-apaan kau, brengsek!”

“Kau belum menghabiskan minumanmu.”

Minri menatap Soo Jung dengan wajah datar. Dia tidak pernah merasa seberani ini sebelumnya. Dia tidak goyah untuk membuat wajahnya menunduk. Sekalipun Soo Jung menatap matanya dengan tajam, sekalipun Soo Jung mengatupkan kedua bibirnya. Minri tetaplah Minri yang tidak akan berpaling dari musuh meskipun itu sedetik.

Jeritan Soo Jung pasti terdengar ke seluruh rumah. Dan pasti, tidak terhitung dalam semenit, saudara dan ibunya akan datang membela. Minri tahu hal itu. Kemudian Minri menghitung dalam hati.

Jeritan Soo Yeon menandakan bahwa dia telah melihat apa yang terjadi dengan adiknya, dan keadaan ruang tengah yang berantakan semakin menguatkan dugaannya –kalau saja dia menduga –bahwa telah terjadi pertengkaran antara Minri dan Soo Jung.

Mom!! Coba lihat ini! Gadis itu pasti sudah gila!” Soo Yeon menunjuk-nunjuk Minri yang masih setia beradu pandangan dengan Soo Jung. Kalau Minri tidak salah lihat, tampaknya Soo Jung ingin menangis.

“Apa-apaan ini, Park Minri!” Ibu tirinya keluar kamar dengan wajah geram. Tapi Minri telah kehilangan seluruh rasa takutnya. Dia bahkan membalas tatapan ibu tirinya itu.

“Aku hanya mengajarkan anakmu bagaimana caranya bersikap dengan benar.”

Soo Yeon mundur teratur. Dia berdiri di samping ibunya. Dia baru sekali melihat sisi dari Minri yang seperti ini. Soo Yeon tampak takut, seolah-olah Minri telah kerasukan roh.

“Oh, berani-beraninya kau.” Wanita itu menghampiri Minri. Ketika dia sudah cukup dekat, dia melayangkan tangannya di udara untuk memukul wajah Minri, tapi sayangnya Minri lebih dulu menahan tangan wanita itu. Lalu menghempaskannya.

“Aku tidak sudi disentuh olehmu.”

Ibu tirinya menarik napas.

“Keluar kau dari sini!!” Kemudian meledakkan suaranya seperti bom nuklir. Dan anehnya, Minri sama sekali tidak goyah.

Soo Jung –entah sejak kapan terisak di pelukan kakaknya. Bagus ‘kan? Minri sudah membuat dua saudara yang selalu bertengkar itu menjadi akur sekarang. Berpelukan. Manis sekali.

“Aku memang sudah berniat keluar sebelum kau memintaku. Tapi ingat, rumah ini masih menjadi milikku.”

 

Bodoh!

Bodoh!

Minri meninju kepalanya berkali-kali dengan kepalan tangan kanannya, sementara tangan kirinya dia gunakan untuk menyeret koper besarnya.

Berada di jalan, di malam hari bukanlah hal yang benar. Orang-orang yang melewatinya, memandang Minri seolah-olah Minri adalah gadis tersesat yang tidak tahu arah tujuan. Sementara beberapa pemuda malah menggodanya.

Harusnya Minri tidak bertindak segegabah itu. Harusnya dia masih bisa bersabar, menahan diri untuk tidak menuruti emosi negatifnya. Dan harusnya dia tidak pergi dari rumah itu sekarang. Lalu apa yang harus dilakukannya setelah ini? Mengemis? –Ya Tuhan.

Minri duduk di tepian trotoar untuk meregangkan otot-otot kakinya yang tegang. Dia memijat ringan kakinya tersebut. Lalu dia merogoh saku jaket, mengambil ponselnya. Dia menelusuri kontak di ponselnya. Kemudian tangannya berhenti saat kontak Jongin terbaca. Sudah terlalu sering menyusahkan Jongin, pikirnya. Lagipula dia tidak mungkin tinggal di rumah Jongin.

Minri memainkan jari-jarinya di atas layar. Kali ini terhenti di nama Sehun. Laki-laki itu memang baik. Minri yakin Sehun akan mengizinkannya menginap tapi… ah tidak! Minri pernah dengar kalau Sehun punya ayah yang galak. Kalau Minri tiba-tiba datang kesana dengan koper besar dan wajah merana, ayah Sehun mungkin mengira Sehun telah berbuat yang tidak-tidak pada Minri.

Jangan Kyungsoo.

Apalagi Chanyeol.

Biarlah, desahnya pasrah. Mungkin malam ini dia ditakdirkan untuk tidur di luar. Dan besok, ketika mentari muncul lagi dan Minri masih diberikan kesempatan untuk membuka mata, maka Minri akan meluruskan semuanya.

Dia baru akan memasukkan ponselnya ke dalam saku lagi, ketika ponsel itu tiba-tiba berbunyi, membuatnya terkesiap dan mengangkat telpon tanpa melihat siapa yang menelponnya. Deringannya bahkan belum lebih sedetik.

“Ya, halo?”

Cepat sekali. Menunggu telponku ya?” suara menenangkan dengan nada bercanda dari seorang laki-laki terdengar lewat gelombang udara. Mengisi ruang-ruang sempit dalam dada Minri yang terasa terjepit karena kesunyian.

“Baek –Baekhyun, tidak… aku…”

Terdengar tawa pelan dari seberang, membuat Minri lupa bahwa dia sedang berada di tepi jalan. Pendengarannya hanya terfokus pada suara Baekhyun. Dan dia tersenyum.

Disana terdengar berisik. Apa kau sedang berada di luar?

“Ya, aku memang di luar Baek,” ucap Minri sembari memainkan rumput-rumput pendek di depannya. Deru mobil yang melewatinya seolah membantu Minri menjawab tentang keberadaannya.

Apa yang kau lakukan? Kau bilang kau tidak boleh keluar kalau sudah malam.

“Ng… “ Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya? “Aku pergi dari rumah.” Akhirnya dia mengatakannya.

Apa? Lalu kau tinggal dimana?” terdengar suara gemersik dari seberang.

“Aku masih belum tahu– ”

Katakan dimana kau sekarang.”

“Baek.” Minri merasa yang bicara dengannya bukanlah Baekhyun. Karena dia baru merasakan sisi lain dari Baekhyun. Laki-laki itu peduli, protektif dan serius.

Aku mohon, Minri. Katakan padaku dimana kau sekarang berada.

 

Minri melirik Baekhyun yang memasang tampang kaku di sampingnya. Porsche hitamnya meluncur mulus di jalan yang masih ramai dengan gemerlap lampu jalanan dan aktivitas pekerja malam. Penjaja makanan di pinggir jalan, dan beberapa pejalan kaki.

Sudah lima menit berlalu, mereka berdua masih setia bungkam. Walaupun sebenarnya Minri ingin sekali membuka pembicaraan atau mungkin bertanya kemana Baekhyun akan membawanya, tapi melihat wajah Baekhyun seperti ini, semua kata-katanya tertahan di tenggorokkan.

“Kau sudah makan malam?” Baekhyun menelengkan kepalanya, kepada Minri yang juga sedang menatapnya. Wajah Baekhyun tampak melunak dan Minri sedikit merasa lebih nyaman untuk bicara pada laki-laki itu.

“Aku tidak lapar, Baek.” Minri tersenyum tipis. Tipis sekali. Hingga senyuman itu lebih bisa dirasakan daripada dilihat.

Baekhyun menurunkan kecepatan mobilnya, lalu membawanya ke tepi jalan. Kemudian berhenti. Minri sudah menduga-duga bahwa dia akan diturunkan di tengah jalan. Tapi pergerakan Baekhyun yang tiba-tiba memeluknya, melingkarkan kedua tangannya di punggung Minri, dan mengusap rambut panjangnya, seketika membuat Minri bingung sekaligus ingin meledakkan tangisnya.

“Aku sayang padamu. Biarkan aku melindungi, menjaga dan menyayangimu.”

“Aku tidak ingin dikasihani, Baek.” Dengan bibir yang sedikit bergetar, Minri mengangkat wajahnya dari bahu Baekhyun. Takut kalau tiba-tiba air matanya tumpah dan mengenai baju Baekhyun.

“Dengan menyampingkan latar belakang dan penderitaanmu, Minri. Aku bersungguh-sungguh.”

Minri menunduk di bahu Baekhyun. Menghirup aroma tubuh laki-laki itu. Merasakan pelukan ternyaman yang dia dapatkan setelah orang tuanya. Membiarkan waktu sedikit terulur lebih lama agar Minri bisa berpikir. Agar Minri bisa merekam dalam otaknya dan merasakan dalam hatinya bagaimana Baekhyun menyebut namanya, bagaimana Baekhyun mengatakan sayang padanya.

Kemudian Minri melepaskan pelukannya. Tersenyum seolah-olah semua bebannya telah melayang di atmosfer. Dan Baekhyun merasa jauh lebih lega setelah melihat senyuman itu.

“Terimakasih sudah menyayangiku, Baekhyun.”

Baekhyun meletakkan kedua tangannya di bahu Minri. Membawa nalurinya untuk terus mendekat, melenyapkan jarak diantara mereka. Tanpa memutus kontak mata, dengan nafas yang membelai wajah, hingga bibir Baekhyun berada tepat di depan bibir Minri.

“Aku sayang padamu, Baekhyun.” Minri berucap di depan bibir Baekhyun–yang kemudian memagut bibirnya dengan lembut dan hangat. Seperti kapas. Dengan gerakan memuja.

Dengan seluruh keberaniannya Minri memejamkan mata, membawa tangan kanannya ke tengkuk belakang Baekhyun, menekan lebih dalam. Sesekali tangannya merambat ke atas menjambak pelan rambut Baekhyun. Tidak peduli bahwa nantinya rambut itu akan berantakan. Karena Minri tahu Baekhyun tetaplah Baekhyun yang tampan, Baekhyun tetaplah Baekhyun yang mempesona, dalam keadaan apapun.

***

“Kita dimana, Baek?”

Baekhyun menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah mewah dengan taman yang luas. Mirip seperti milik Kris, tapi kali ini lebih artistik dengan patung di air mancur dan bunga-bunga cantik.

“Bucheon, rumahku.”

Baekhyun membuka kunci pintu mobilnya dengan otomatis, lalu keluar. Kemudian berputar menghampiri pintu disebelah Minri, lalu membukanya. Sungguh, Baekhyun tidak perlu melakukan semua itu padanya.

“Kau akan tinggal disini, untuk sementara.”

Kalau boleh Minri ingin bercebur di kolam yang di temuinya di depan gerbang. Tanpa kompromi, tanpa pembicaraan lebih lanjut Baekhyun langsung mengambil keputusan tentang dimana Minri tinggal malam ini. Dan tanpa bicara apa-apa laki-laki itu menyeret kopernya menuju pintu rumah –yang tadi disebutnya sebagai rumahnya.

Minri turun dari Porsche hitam itu, kemudian memandangi arsitektur bangunan di depannya dengan pandangan menilai. Besar, megah dan elegan.

“Park Minri. Ayolah,” ujar Baekhyun. Dia menunggu Minri di depan pintu. Minri tersenyum minta maaf, kemudian berlari kecil menghampiri Baekhyun.

“Kau yakin kalau aku boleh menginap disini? Dimana orang tuamu?” tanya Minri saat mereka berdua sudah masuk ke bagian dalam rumah. Tidak ada siapapun yang Minri temukan, selain seorang pelayan –yang menyambut mereka dengan ramah.

“Tentu saja boleh.” Baekhyun menurunkan gagang koper Minri, bersamaan dengan seorang pelayan yang menghampiri mereka. Kali ini seorang pria muda dengan tubuh tegap dan setelan jas yang begitu elegan. Dia tampak seperti agen.

“Selamat datang, tuan muda Byun. Dan apakah ini teman anda?” tanya pria itu lantas tersenyum. Minri langsung membungkuk dalam, menyapa.

“Ya, teman–atau kau boleh mengira dia kekasihku.” Baekhyun tertawa pelan, tidak tahu menahu bahwa Minri tengah membulatkan matanya.

Pria itu tersenyum lembut.

“Tolong siapkan kamar untuknya, Mr. Lee. Terimakasih.” Baekhyun menelengkan kepalanya pada Minri, lantas tersenyum geli. Baekhyun memegang kedua bahu Minri dari belakang, lalu mendorong gadis itu pelan menuju sebuah tempat. “Sekarang, kau harus makan.”

Sebelum mereka melangkah lebih jauh, Baekhyun memanggil pria tadi, “Mr. Lee, kamarnya di samping kamarku saja, ya.”

“Kau tidak perlu melakukan ini semua, Baekhyun. Kau memberiku tempat tinggal untuk menginap saja sudah lebih dari cukup. Jangan lagi. Ini sudah terlalu jauh. Dan merepotkan.” Meskipun berkata demikian, Minri tidak dapat menghentikan langkahnya karena dorongan Baekhyun di belakangnya hingga mereka tiba di sebuah tempat yang Minri asumsikan sebagai ruang makan keluarga. Ada sebuah meja besar berbentuk oval yang dikelilingi delapan buah kursi yang sama.

“Ini tidak akan cukup,” Baekhyun mendekatkan bibirnya ke telinga Minri, “dan sama sekali tidak merepotkan.”

Baekhyun mendudukkan Minri di sebuah kursi, di ruang makan. Berbagai macam makanan tersaji di atas meja. Seperti sedang melakukan piknik. Minri mulai menebak-nebak kapan makanan itu berada disana sementara Baekhyun mengambil tempat duduk di depan Minri. Mereka terpisah jarak oleh meja.

“Makanlah,” tawar Baekhyun sembari melipat tangannya di atas meja. Dia memperhatikan Minri yang sama sekali tidak begerak untuk mengambil barangkali beberapa potong daging panggang dan acar. “Apa aku perlu mengambilkannya untukmu?”

Minri mendongakkan wajahnya, menatap Baekhyun dengan pandangan protes. Minri bilang sudah cukup. Tapi Baekhyun tidak mendengarkannya dan tidak peduli.

“Tidak perlu, oke –aku makan.” Minri harus menghentikan Baekhyun –dan segala kebaikan hatinya.

Baekhyun tertawa pelan melihat gerak-gerik Minri yang tampak ragu untuk mengambil makanan yang tersedia di meja.

“Kau tidak makan?” tanya Minri ketika dia menelan daging panggangnya –yang Minri rasa begitu enak. Siapa sih kokinya, pikir Minri, yang sebenarnya tidak penting untuk dipikirkan.

“Tidak, aku sudah cukup kenyang dengan memandangi pipimu yang penuh dengan saus daging panggang.”

Baekhyun tertawa pelan, hingga matanya hanya tersisa segaris. Tawanya begitu ringan dan menenangkan. Alih-alih terpesona, Minri malah membeku dan merasa malu.

Oh, itu menjijikan dan mungkin akan menghilangkan selera makanmu, Baekhyun!

Minri segera menarik tisu di atas meja lalu mengelap sudut bibir sampai pipinya dengan gerakan cepat, memastikan saus yang disebut Baekhyun tadi tersapu dari wajahnya. Dia tidak bisa menyembunyikan rona di wajahnya karena malu. Dia terlalu menikmati makanan yang tersedia di rumah ini.

“Habiskan makananmu, lalu istirahatlah. Aku punya urusan sebentar.”

Baekhyun beranjak dari kursinya. Kemudian melangkah keluar dari ruang makan bahkan sebelum Minri sempat menanyakan dimana kamarnya. Bagaimana dia bisa menemukan kamar tidur yang telah disediakan untuknya di rumah yang sebesar ini!

 

Dewi fortuna sedang berada di pihak Minri. Ia tidak tersesat di dalam rumah Baekhyun. Ada pelayan ramah yang menyambutnya di tangga bawah lalu bersedia mengantarkannya ke kamarnya. Dia merasa diperlakukan seperti tuan putri –suatu hal yang membuatnya tidak terbiasa.

Terlalu mewah.

Dan terlalu asing.

Minri sudah membersihkan dirinya di dalam kamar mandi yang ada di kamar itu. Kemudian berganti baju. Dia merasa benar-benar nyaman. Malam yang tenang, setenang air kolam tanpa ikan. Seperti yang Minri rasakan suasana tenang tanpa teriakan-teriakan mengganggu yang membuat telinganya sakit. Dia mulai mengantuk.

Dia menyingkap selimut berwarna biru langit, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, membuat tubuhnya memantul-mantul bersama pergerakan kasur itu hingga kasur itu kembali tenang. Dia memandangi langit-langit kamar yang bernuansa hijau muda itu. Dia menghirup udara ruangan itu yang beraroma jeruk, sejuk, lantas memejamkan mata.

“Permisi, apa aku mengganggumu?” suara Baekhyun terdengar jelas memenuhi ruangan yang Minri tempati.

Minri langsung duduk lalu menelengkan kepala ke arah pintu –yang setengah terbuka. Baekhyun berdiri di perbatasan pintu dengan rambut basahnya sehabis keramas. Dia mengenakan kaos putih polos agak longgar dan celana bahan yang panjangnya selutut. Sederhana, tapi tak akan bisa menyingkirkan figure nya yang mempesona. Dan sekarang, –oh, demi apapun Minri malu mengatakannya, mungkin ini pengaruh hormon di malam hari–dia tampak seksi.

“Apa aku boleh masuk?” tanya Baekhyun sekali lagi.

“Tentu, ini rumahmu, Baek.”

“Tapi ini sudah menjadi daerah pribadimu,” ucap Baekhyun sembari melangkahkan kaki lebih ke dalam, lalu mengambil tempat duduk di kursi yang terletak di depan meja rias. Memperhatikan gadis itu yang sudah tampak segar dengan rambutnya yang digulung ke atas.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Tenang dan nyaman. Terimakasih.” Minri menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Kemudian mereka terlibat dalam obrolan ringan.

Minri sedikit menceritakan masa lalunya yang menyenangkan bersama ibu dan ayahnya, tentang teman-teman kampusnya yang baik dan terkadang menyebalkan (tapi Minri tidak menceritakan bagian yang menyebalkan itu). Sementara Baekhyun menceritakan hubungan keluarganya dengan Kris. Baekhyun dan Kris berbeda jauh masalah fisik, tapi mereka memiliki kesamaan dalam hal makanan, yaitu keduanya sama-sama anti mentimun.

Tawa ringan memenuhi ruangan itu.

Obrolan ringan itu berlanjut sampai Baekhyun menanyakan apa rencana Minri selanjutnya –kalau itu bisa dikategorikan dalam obrolan ringan.

“Sebenarnya aku akan merepotkanmu lagi, kalau kau ingin tahu rencanaku.”

“Apa itu?”

“Aku ingin mencari seorang notaris untuk mengklarifikasi isi surat wasiat yang ditinggalkan ayahku. Aku membawa semua berkas penting berkaitan dengan rumah dan tanah, dan segala hak miliknya. Punya usul?”

“Itu perkara mudah. Aku akan menghubungi ayah Kris. Beliau ahlinya.”

“Tapi aku tidak mungkin meminta bantuan secara cuma-cuma.” Minri menurunkan pandangannya, memainkan ujung selimut.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Beliau orang baik dan berwibawa. Berbeda jauh dengan Kris –jika kau sempat mengira atau membandingkan sifat Kris.” Baekhyun tertawa pelan.

“Aku tidak akan bisa membalas semua kebaikanmu.” Minri menggumam.

“Kau tidak perlu melakukan hal itu.”

Minri diserang rasa kantuk itu lagi. Baekhyun menyadari Minri yang beberapa kali menguap, mengerti, lalu beranjak dari kursinya. Baekhyun membawa tungkainya keluar kamar, meredam keinginannya mengusap kepala gadis itu, memberikan kecupan selamat malam, dan ucapan ‘semoga mimpi indah’.

“Tidurlah. Kau akan menghadapi hari yang panjang besok.”

Minri mengangguk kemudian menarik selimutnya lebih tinggi. Dia melayangkan senyumnya pada Baekhyun sebelum laki-laki itu melangkah keluar dari kamar.

“Selamat malam, Baek.” Bisiknya setelah pintu kamar benar-benar tertutup dan Baekhyun menghilang dari pandangannya.

 

Minri tidak pernah tahu bahwa ternyata Tuhan mengirimkan Baekhyun disaat ia diusir dari rumahnya sendiri. Minri tidak pernah tahu bahwa ternyata kebahagiaan sedang berada di depannya. Minri pun tidak pernah tahu bahwa ternyata lima menit setelah dia terlelap, Baekhyun kembali memasuki kamar yang ditempatinya.

Dengan lancang Baekhyun memperhatikan wajah gadis itu. Melekatkan kuat-kuat dalam memori otaknya tentang wajah cantik dan polos gadis itu ketika dia tidur, kemudian kelancangan Baekhyun bertambah karena dia menghampiri Minri, mendekat lantas mengusap kepala gadis itu sebelum melayangkan kecupan hangat di dahinya. Lalu mengucapkan selamat malam.

Minri hanya tahu bahwa malam itu dia tidur dengan nyenyak tanpa tekanan, tanpa memikirkan masalah esok hari. Yang dia tahu, dia bermimpi indah berlatarkan taman bunga warna-warni di musim semi bersama seorang lelaki yang mengajaknya berbaring di hamparan rumput, memandangi langit yang cerah. Kemudian seperti halnya gerhana, tubuh lelaki itu seolah-olah bulan yang menutupi matahari. Karena lelaki itu menghalangi pandangannya menatap langit. Karena lelaki itu menciumnya tepat di dahi.

Dan Minri mendapatkan satu kebahagiaan yang mewakili seluruh kebahagiaan lainnya.

***

Terbangun di pagi hari, menemukan diri di sebuah tempat yang asing adalah pengalaman baru. Minri merasakan cahaya matahari muncul dari sudut yang berbeda. Dan tentu saja aroma ruangan yang begitu memanjakan indera penciumannya. Rasanya dia tidak ingin beranjak dari kasur.

Tidak ada teriakan di pagi hari yang memekakkan telinganya. Dia harus berterimakasih pada seseorang yang membawanya pada situasi senyaman ini.

Kamar tidur itu terlalu nyaman, seketika membuatnya beradaptasi dengan atmosfer di sekitarnya. Sadar telah membuang-buang waktunya, Minri beranjak dari kasur –dengan susah payah. Lantas menuju kamar mandi.

Bermalas-masalan di rumah orang lain bukanlah ide bagus.

Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk Minri membersihkan diri sampai berpakaian lagi. Wajahnya tampak jauh lebih segar dan dia siap bertemu Baekhyun. Dengan langkah yang memburu, Minri menuruni tangga rumah yang cukup besar itu. Dia disambut dengan sapaan selamat pagi yang ramah dari beberapa pelayan yang dilewatinya.

Salah satu pelayan memberitahunya bahwa Baekhyun ada di ruang makan. Segera, Minri melangkahkan tungkainya ke sana, kemudian berhenti setelah mencapai perbatasan. Dia memilih memperhatikan (sebelum dia ketahuan). Betapa dia mendambakan situasi seperti ini. Sepagi ini dapat melihat wajah Baekhyun. Lalu sarapan di meja makan yang sama. Seolah-olah mereka telah hidup dalam atap dan atmosfer yang sama. Seolah-olah mereka hidup dan tinggal bersama.

Bisakah seseorang bilang padanya bahwa dia tidak sedang bermimpi sekarang?

“Selamat pagi, Minri. Mengapa kau berdiri disana saja? Ayo kesini.”

Minri tersadar dari lamunan pendeknya. Lantas membuka bibir dengan rahang yang tetap merapat sembari melangkah menghampiri meja makan. Kemudian duduk. Baekhyun memandanginya sembari tersenyum. Wajah laki-laki itu cerah seperti mentari pagi ini, dan memberikan sensasi hangat yang tidak terdefinisi dari dalam tubuh gadis itu.

Baekhyun menyodorkan piring berisi roti yang baru saja selesai diolesinya dengan selai coklat, tanpa berkata apa-apa. Seolah dia mengetahui apa rasa kesukaan Minri, padahal ada beberapa variasi rasa lain di meja itu, tapi Baekhyun memilih coklat. Dan itu rasa favorit Minri.

“Terimakasih, Baek.” Minri menyambut piring itu, kemudian menggigit rotinya, mulai dari sudut.

“Kita akan ke kantor tuan Wu sekitar pukul sepuluh. Kau tidak ada kuliah ‘kan?” tanya Baekhyun setelah dia menengak habis susu stroberinya. Ah, tidak menyangka Baekhyun suka susu stroberi. Benar-benar manis dan serasi dengan wajahnya itu.

“Kurasa… tidak ada.” Pikiran Minri menerawang, mengingat-ingat tentang jadwal kuliahnya.

“Baguslah. Habiskan sarapanmu, Minri.” Baekhyun mendorong kursinya ke belakang, lantas berdiri. “Aku ingin bicara padamu. Pribadi.” Tiba-tiba Minri merasa rotinya berubah menjadi bongkahan batu yang membuatnya sulit menelan. Serius sekali.

 

Mata hazelnya tidak henti-hentinya menyusuri tempat yang dipilih Baekhyun –yang katanya –mereka akan bicara perihal pribadi. Taman belakang. Waktu itu Minri pernah bilang bahwa taman di rumah Kris tampak indah sekali. Dan dia tidak tahu ternyata ada tempat yang lebih indah dari itu.

Embun-embun pagi menempel di dedaunan segar dan kelopak bunga merekah. Semak rendah di potong membentuk pola rumit yang artistik, tersusun rapi di pinggiran taman. Tukang kebun –atau yang mengusulkan dekorasi taman itu –pasti punya jiwa seni yang tinggi.

Minri berhenti memandangi keindahan tempat itu ketika Baekhyun mendudukan dirinya di sebuah bangku panjang berwarna putih seputih awan, sekeras baja. Tanpa diminta, Minri ikut duduk di sana, di samping Baekhyun.

“Berapa lama aku mengenalmu?” tanya Baekhyun pada Minri.

Minri menelengkan kepalanya. Dengan kening yang sedikit berkerut, Minri tetap menjawab. “Tidak yakin, seminggu atau lebih.”

Baekhyun menggeser duduknya. Minri mengerjapkan mata, alih-alih memberi jarak. Dan degupan dari dalam dadanya terasa bertambah ketika Baekhyun memegang satu tangannya dengan lembut seolah tangan itu adalah benda berharga dari museum yang mudah rapuh. Dan lagi-lagi Minri diam, terlalu penasaran dengan apa yang dilakukan laki-laki itu selanjutnya.

“Apa secepat itu orang bisa jatuh cinta?” Baekhyun menyelami mata hazel itu. Raut bingung tergambar di wajah cantik itu.

“Aku tidak mengerti, arah pembicaraanmu, Baekhyun. Tapi, yah, orang bisa jatuh cinta dalam sekejap. Yang kudengar, dalam sebuah studi, butuh semenit untuk seorang pria menyatakan bahwa dia jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Aku tidak butuh waktu selama itu.” Baekhyun tertawa pelan, menjadikan matanya membentuk garis melengkung.

Minri masih mencerna kalimat dari pria itu, bahkan ketika wajah Baekhyun kembali serius. Laki-laki itu menambah satu tangannya untuk menangkup kedua tangan Minri. Lantas mendekatkan wajahnya. Bicara di depan bibirnya. Dan dia terlalu hebat untuk tidak memutus kontak mata diantara mereka.

“Aku mencintaimu, Minri.”

Baekhyun bisa melihat kilatan keterkejutan melintas di mata hazelnya. Tangan yang dipegang Baekhyun terasa menegang. Dan Baekhyun memberikan pijatan ringan, menjadikan tangan itu kembali rileks. Baekhyun membiarkan gadis itu berpikir.

“Jadilah kekasihku.” Tapi sama sekali tidak membiarkan gadis itu menolaknya.

“Kuharap kau tidak salah orang bicara seperti ini padaku karena kau tahu aku hanya–”

“Jawabanmu, Nona Park?”

“Ya, Baekhyun, ya. Sial. Bagaimana aku bisa menolakmu!”

Baekhyun memutus jarak. Samar-samar Minri melihat bibir laki-laki itu tersenyum sembari menggumamkan terimakasih. Tubuhnya terasa ringan seperti awan ketika bibir laki-laki itu menyentuh bibirnya. Dingin. Lembab. Dan stroberi.

Mentari bersembunyi sebagian di belakang awan. Mengintip pasangan kekasih yang baru saja meresmikan hubungan mereka sedang berbagi cinta. Lalu dengan baik hati, mentari itu sedikit lebih menyembul menyinari keduanya seperti lampu sorot di opera. Merekalah pemeran utama. Merekalah yang bahagia.

“Menurutmu siapa yang lebih cepat jatuh cinta?” tanya Minri setelah melepaskan tautan bibirnya, kemudian menjilat bibirnya sendiri. Oh, laki-laki di depannya ini membuatnya benar-benar gila.

Baekhyun kembali tersenyum seperti malaikat.

“Coba katakan sejak kapan kau tertarik padaku?” tanya Baekhyun.

“Sejak malam itu. Pesta. Kau menatapku dalam jarak yang cukup jauh, sebelum mengulurkan tanganmu padaku. Mengajakku berdansa dan membuatku semakin menggilaimu.”

“Kurasa kita jatuh cinta dalam waktu yang bersamaan.”

***

Pukul sepuluh lewat empat puluh, Minri dan Baekhyun tiba di rumah Kris. Minri tidak perlu terkagum-kagum untuk kedua kali melihat tempat itu.

Karena Baekhyun sudah menghubungi ayah Kris kemarin, beliau tidak berada di kantor hari ini. Mereka membuat janji temu di rumah saja. Lebih terasa nyaman mengingat mereka adalah keluarga.

Mereka bertemu kris –yang tentu saja terkejut dengan kedatangan kedua orang itu. Demi apapun Minri ingin menyiram wajah Kris karena menurutnya lelaki itu melihat mereka berdua bersama dengan cara berlebihan, seperti melihat hantu saja. Kris sempat mencegat mereka, menanyai macam-macam seperti satpam.

Dan Baekhyun tidak mengatakan apapun tentang tujuan mereka berdua menemui ayah Kris, tapi dengan konyolnya Baekhyun bilang mereka sedang meminta restu menikah dari ayah Kris. Konyol, yeah. Tapi setelah itu Kris menyingkir dengan wajah sekesal-kesalnya.

Kesan pertama yang di dapat Minri saat dia melihat wajah Mr. Wu adalah kebijaksanaan, ketegasan dan kebaikan hati. Tipikal ayah yang menyayangi keluarga dengan seluruh hidupnya.

Minri bicara dengan perasaan terbuka pada Mr. Wu dan Baekhyun juga ada disana. Dia menceritakan semuanya, sebelum mencapai tujuan utamanya yaitu membantu membacakan surat wasiat dan menempatkan semua pada tempat yang semestinya.

 

Minri, Baekhyun dan Mr. Wu tiba di halaman rumah Minri saat matahari sudah berada tepat di tengah-tengah langit. Dengan langkah tegas dan yakin Minri melangkah menuju pintu. Mr. Wu lebih dulu di depannya sementara Baekhyun, laki-laki itu terus di sampingnya sembari memegangi tangannya, memberikan kenyamanan yang tidak kasat mata. Dan kekuatan.

“Semuanya akan baik-baik saja,” bisik Baekhyun saat ia menekan bel di samping pintu.

Jika Baekhyun mengatakan semuanya akan baik-baik saja, maka Minri harus yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Terdengar suara keributan dari dalam, kemudian pintu terbuka. Soo Yeon menyambut mereka dengan alis terangkat. Dia tidak bertanya mencari siapa, ada apa atau kenapa. Dia lebih memilih memanggil ibunya yang kebetulan berada di ruang tengah saat itu.

“Ada apa sayang –heh, kau? Masih berani menginjakkan kaki di rumah ini?” Wanita itu tampaknya tidak menyukai kehadiran Minri disana –beserta kedua orang yang bersamanya, atau hanya kepada pemuda yang berada di samping Minri. Tangan Minri menggenggam tegang.

“Nyonya, ada yang perlu kita bicarakan.” Mr. Wu menginterupsi kebekuan suasana itu.

Nyonya Jung, menatap Mr. Wu sesaat–kemudian meminta mereka bertiga masuk. Duduk melingkar di sofa ruang tamu. Soo Yeon hanya berdiri di samping sofa yang diduduki ibunya.

Minri melihat keadaan di sekitarnya, sedikit berbeda dari keadaan yang ditinggalkannya tadi malam. Rumah itu tampak sedikit lebih berantakan dari biasanya.

“Ada apa ini?” tanya Nyonya Jung dengan wajah serius.

“Sebelumnya perkenalkan saya Wu Yi Zhao, notaris.”

Tubuh wanita itu tampak menegang. Dia berusaha mempertahankan wajah dinginnya agar sama sekali tidak terlihat sedang tertekan. Memangnya siapa yang tidak kaget tiba-tiba ada notaris datang beserta gadis pewaris rumah beserta pemuda –entah siapa dia tidak peduli.

Mr. Wu mengeluarkan beberapa berkas dari dalam bag box yang dibawanya. Kemudian meletakkannya di atas meja. Nyonya jung memperhatikan dengan waspada sembari menyiapkan dalam kepalanya pertanyaan lain berkaitan dengan kedatangan orang-orang itu.

“Nyonya, anda punya satu anak perempuan lagi, benar?” Mr. Wu memberi jeda, “tolong panggil dia kemari agar saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya untuk membacakan surat wasiat dari Tuan Park.”

“Anak perempuan saya, yeah, Soo Yeon-ah, panggil Soo Jung kemari.” Nyonya Jung menepuk pelan lengan Soo Yeon, sebelum tersadar dengan kalimat terakhir yang diucapkan notaris itu. “Sebentar, surat wasiat apa maksud anda?!”

“Surat wasiat ayah yang kutemukan.” Minri menyahut lantas mendongak, membuat mata mereka beradu.

“Sialan! Kau masuk ke ruangan kerja suamiku tanpa izin. Dasar pencuri!” Nyonya Park berdiri, wajahnya memerah karena amarah yang meletup-letup.

“Duduklah Nyonya, dan simpan umpatan anda untuk anak-anak anda saja.” Baekhyun mulai jengah dengan gelagat sok berkuasa dari Nyonya Jung. Wajah cantik tidak menjamin apapun, pikir Baekhyun.

“Ada apa ini, Mom?? Oh Ya Tuhan–ada apa ini? Mengapa kalian bersama-sama?” Soo Jung lebih terfokus pada kehadiran Minri dan Baekhyun. Soo Yeon tampak menenangkannya, karena Soo Jung sangat kacau.

“Baik,” Mr. Wu menengahi. “karena semuanya sudah berkumpul, saya akan mulai.” Pria itu membuka sebuah surat yang sudah disiapkannya. Tidak ada yang bicara ketika pria itu mulai membaca isi surat di kertas krem dengan pulpen tinta hitam tergaris disana.

“Saya menulis surat ini dalam keadaan sadar, sehat, tanpa paksaan, tanpa tekanan. Kepada istri saya Jung Ae Ri dan anak-anakku. Ketika surat ini dibacakan maka saya sudah tidak bersama kalian lagi…”

Mr. Wu membacakan isi surat itu sampai habis, mengabaikan seruan protes dari Nyonya Jung saat pria itu baru membaca setengah jalan. Dan, kesimpulannya, Minri mendapatkan tujuh puluh lima persen harta ayahnya dan dua puluh lima persen untuk Nyonya Jung beserta anak-anaknya. Sementara rumah sepenuhnya dialihkan atas nama Minri. Tuan Park tahu bahwa pembagian itu pasti tidak adil untuk beberapa pihak tapi dia punya alasan. Minri anak kandungnya dan dia ingin membuat gadis itu bahagia meskipun beliau sudah tidak bisa menemui Minri lagi.

Minri nyaris menumpahkan air matanya, mengingat betapa ayahnya menyayanginya. Minri minta maaf karena dia pernah kesal pada ayahnya yang menikah lagi.

“Apa-apaan itu! Surat itu pasti sudah disabotase. Aku tidak percaya pada kalian!” Nyonya Jung menjerit frustasi sementara Soo Yeon dan Soo Jung mulai memasang wajah merana. “Pergi kalian dari sini!”

“Saya bisa menjamin keaslian surat ini Nyonya.” Pria itu berdeham sesaat, kemudian berdiri. “Baiklah, urusan saya sudah selesai disini. Saya pamit. Dan maaf, yang semertinya pergi dari sini adalah anda dan anak-anak anda. Kalian tidak punya hak untuk tinggal disini. Kecuali atas izin pemilik rumah ini.”

Baekhyun dan Minri ikut berdiri, mengantar Mr. Wu sampai pintu. Mr. Wu membawa mobilnya sendiri saat kemari jadi dia bisa pulang sendirian atau mungkin pergi ke kantornya setelah ini.

“Baekhyun, kau memang lelaki hebat, Nak.” Menurut pria itu. Keinginan Baekhyun untuk membantu Minri dari masalahnya patut diberi penghargaan. Dia berani melangkah sejauh ini dan mencampuri urusan gadis itu, meskipun dia sama sekali tidak punya hubungan keluarga. Mungkin mereka sedang menjalin hubungan tertentu –masalah anak muda.

“Minri,” pria itu meletakkan satu tangannya di bahu Minri. “Ini rumahmu. Kau berhak melakukan apapun. Membiarkan mereka tetap tinggal disini atau menyuruh mereka pergi, semua terserah padamu. Laporkan padaku jika ada hal yang membuatmu merasa terancam.”

“Terimakasih banyak, Tuan.” Minri membungkuk dalam sesaat.

“Senang membantumu, Park Minri.”

Gadis itu menatap punggung Mr. Wu sampai pria itu masuk ke dalam mobilnya kemudian melesat. Tersadar bahwa ada beberapa urusan yang masih perlu diselesaikannya, Minri masuk kembali ke dalam –demi Tuhan dia senang menyebutnya –rumahnya.

Soo Jung menghampiri Baekhyun dan Minri dengan kaki yang dihentakkan. Dia menatap Minri dengan tajam seolah-olah laser sedang memancar dari sana. Dan Minri hanya membalasnya tanpa ekspresi, dia terlalu lelah untuk berdebat. Biarkan dia senang dengan kondisinya sekarang.

“Aku tidak menyangka kau melakukan ini semua pada kami!!”

Pada kenyataannya aku memang melakukannya.

Soo Jung melayangkan tangannya, dan Minri menutup matanya rapat-rapat sudah siap jika pipinya memang harus kena tampar. Tapi nyatanya tidak ada sentuhan apapun, membuatnya harus membuka matanya lagi.

Tangan Soo Jung tidak akan pernah menyentuh wajahnya karena Baekhyun telah menahannya.

“Aku bisa menyeretmu pada kasus hukum karena kekerasan, dan kejahatan lainnya tanpa kau sadari.” Ucap Baekhyun dengan nada mengancam. Dan Minri merasa hatinya menghangat. Baekhyun melindunginya.

Soo Jung menyentakkan tangannya dengan kasar. Kalau dulu dia mendambakan Baekhyun memegang tangannya, menatap matanya dan bicara dengannya, sekarang, dia benci Baekhyun!

 

“Sial!” Soo Jung berlari dari sana. Minri pikir dia akan pergi ke kamarnya.

Mengabaikan betapa kesalnya wajah Soo Jung tadi, Minri mengalihkan pandangannya pada ibu tiri dan Soo Yeon yang masih berdiri terpaku seperti boneka manekin.

“Apa kau akan mengusir kami? Kuharap kau ingat bahwa aku pernah mengurusmu.” Ibu tirinya bicara tanpa ekspresi. Tapi Minri bisa menangkap kecemasan di wajah wanita itu. Sementara Soo Yeon melingkarkan lengannya dengan rapat di lengan ibunya.

Minri belum bicara apapun. Menciptakan keheningan yang mencekam. Dia tidak menurunkan pandangannya. Karena dia pikir, dia sudah mendapatkan haknya. Dia mendapatkan rumahnya kembali dan dia punya kuasa untuk melakukan apapun. Meskipun begitu, ia tetaplah Minri yang dulu. Minri yang yang punya hati. Minri yang menginginkan kebebasan. Itu saja.

“Aku ingat, kau pernah mengurusku, Madam.”

Dan juga pernah mengusirku dari rumahku sendiri!

“Kau, kau boleh memanggilku ibu seperti yang lain.” Nada bicara wanita itu terdengar sedikit bergetar. Ada yang ingin menyerah, pikir Minri.

“Tidak. Hanya ibu di surga yang bisa kupanggil ibu.”

Wanita itu menghampiri Minri. Dengan wajah yang patut dikasihani. Minri tidak pernah menyangka dia bisa melihat sisi lain dari wanita itu. Karena setiap hari dia selalu memasang wajah jutek nan menyebalkan.

“Aku tidak bisa membiarkan kalian tinggal disini. Tapi kalian boleh tinggal di villa belakang rumah ini.” Minri sudah memikirkan konsekuensinya. Dan dalam pikirannya, sejahat apapun seseorang, dia pasti masih punya hati nurani. Tak selamanya orang jahat akan berbuat jahat. Mereka pasti berubah. Minri harap begitu.

“Astaga! Benarkah? Ya Tuhan, nak, Terimakasih.” Wanita itu menjabat tangan Minri sembari membungkuk beberapa kali.

“Mom!!” jerit Soo Yeon tidak percaya. Dan Minri menerima sebuah senyuman dari wanita itu, membuat image ibu tiri yang jahat dan kejam lenyap dari wajahnya. Minri tidak peduli itu senyuman yang tulus atau tidak, yang penting sekarang, mereka tidak akan memperlakukan Minri seperti babu lagi. Minri merasa hidupnya telah kembali.

***

Baekhyun masih bersama Minri, bahkan ketika matahari perlahan mengendap-endap ke barat. Sore itu langit Seoul masih cerah.

“Aku tidak menyangka kau masih bersedia membiarkan mereka berada di sekitarmu. Yah, walaupun tidak tinggal satu atap.” Baekhyun menghadapkan tubuhnya pada Minri yang sedang berbaring telentang sembari menutup matanya.

“Meskipun mereka seringkali menyakitiku dulu. Mereka tetaplah orang-orang yang dipilih Ayah untuk menjagaku dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak akan berbuat macam-macam lagi sekarang.” Minri memutar tubuhnya hingga dia tengkurap, lantas meraba-raba rumput di depannya dengan telapak tangan.

Mereka berdua mengobrol ringan sejak satu jam yang lagu di taman belakang rumah keluarga Park. Berbaring di hamparan rumput yang cukup luas, menikmati alam yang sesungguhnya.

Baekhyun terus mengamati gadis itu. Rambutnya yang terurai jatuh ke depan, menutupi pandangan Baekhyun pada wajahnya, karena saat ini Baekhyun hanya bisa melihat gadis itu dari samping.

“Terimakasih Baek,” gumam Minri.”

“Ah?” Baekhyun memastikan pendengarannya.

“Terimakasih,” ucap Minri sembari menolehkan kepalanya pada Baekhyun. Lelaki itu makin tampak bersinar ketika bias mentari mengenai wajahnya. Lelaki itu mengangkat tangannya, menyelipkan rambut Minri ke belakang telinga.

“Terimakasih kenapa?”

“Karena sudah menyayangiku.” Minri merasakan wajahnya menghangat, ketika Baekhyun menangkup wajahnya dengan sebelah tangan.

“Aku kekasihmu, kalau kau belum lupa.”

“Ah–Iy–iya.”

Baekhyun menggulingkan tubuhnya, dengan kecepatan tidak terduga mendorong tubuh Minri hingga dia berada di atas tubuh gadis itu. kedua tangan lelaki itu menahan bobot tubuhnya. Lalu dengan perlaha dia mendekatkan wajahnya. Minri hanya memandangi Baekhyun, antisipasi akan jantungnya yang mungkin saja tiba-tiba berhenti.

“Aku mencintaimu.” Baekhyun berucap di depan bibir gadis itu, lalu menyapukan bibirnya dengan lembut. “Menikahlah denganku.”

“A-apa?” Minri mendorong pelan tubuh Baekhyun, lantas mendudukkan diri. Begitupula Baekhyun.

“Kubilang, menikahlah denganku.”

“Tapi kita … baru–”

“Baru saja menjadi kekasih.” Baekhyun menyambung –setelah sebelumnya memotong perkataan Minri. Dan gadis itu mengangguk mengiyakan.

Baekhyun mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Minri dengan lembut.

“Tapi aku sudah memberikan hatiku padamu sejak malam itu. Dan kau tidak ingin mengembalikannya kan?”

Minri menggelengkan kepalanya sembari menahan air mata yang keluar. Dia menghambur ke tubuh Baekhyun. Memeluk lelaki itu dengan erat dan dia tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum. Kemudian berkata dengan lirih di telinga Baekhyun. “I do, Baek.”

Minri tidak pernah menyangka bahwa Baekhyun akan membawakan kebahagiaan padanya bertubi-tubi. Kenyataan Baekhyun suka padanya, melindunginya, menyayanginya sudah lebih dari sekedar cukup untuk membuat hidupnya secerah mentari pagi.

***

Hari berganti lagi.

Pagi kembali menyambut.

Porsche hitam terparkir di depan rumah Minri beserta pemiliknya yang berdiri di samping. Kalau biasanya Porsche itu akan mengangkut penumpang bernama Soo Jung di bangku kemudi, maka hari ini akan jelas berbeda.

“Baek, kau tidak perlu menjemputku.” Minri baru keluar dari rumahnya, sedikit membenarkan tatanan rambutnya yang dijalin longgar menyampir di bahu kanan.

Apa dia sudah seperti wanita sesungguhnya? Dia tidak akan memanjat tembok kali ini!

Baekhyun bersandar di pintu mobilnya dengan kedua tangan berada di saku celana. Dia mendongak setelah mendengar suara gadisnya. Kemudian tersenyum.

“Calon istriku.”

Ugh, ini masih pagi dan aku tidak ingin kehilangan fokusku, batin Minri.

Minri tesenyum sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Minri berjalan ke pintu mobil yang lain. Dia baru akan menarik gagang pintu mobil, tapi sepasang tangan mengurungnya di depan pintu itu (dia tidak tahu bahwa Baekhyun diam-diam menghampirinya tadi). Minri menunda untuk membuka pintu itu. Gadis itu berbalik, membuat tubuhnya berhadapan dengan Baekhyun.

“Baek,” panggil Minri.

“Ya, sayang? Selamat pagi.” Minri mengerjapkan matanya cepat. Jarak pandangnya yang begitu dekat di depan Baekhyun membuatnya berdebar. Apalagi sekarang Baekhyun semakin mendekatkan wajahnya. Oh, tolong!

“Se-selamat pagi juga, Baekhyun.”

Baekhyun menyentuhkan ujung hidung mereka, kemudian tertawa ringan. “Harusnya aku yang membukanya.” Baekhyun meraih gagang pintu yang berada di belakang Minri, membuat gadis itu menggeser badannya sehingga pintu itu tebuka.

Minri menarik nafas lega saat Baekhyun memberi jarak. Minri sempat berpikir bahwa Baekhyun akan menciumnya. Haah, sepertinya dia kehilangan sedikit fokusnya pagi ini.

 

Baekhyun melesatkan mobil hitamnya di jalan yang ramai.

Setengah jam kemudian, mobil itu tiba di halaman kampus tempat Minri kuliah. Dia senang Baekhyun menjemputnya. Tapi sungguh dia tidak terbiasa di antar seperti ini ke kampus.

Minri keluar dari mobil Baekhyun.

“Minri,” panggil Baekhyun sebelum gadis itu melangkahkan kakinya menjauh. Minri menghampiri jendela mobil Baekhyun yang terbuka, kemudian mendekatkan wajahnya. Bersiap mendengarkan apa yang ingin dikatakan Baekhyun. Namun tiba-tiba Baekhyun mengecup bibirnya sekilas. Oh, apa itu tadi!

“Selamat pagi!” Suara Chanyeol seketika membuat Minri menarik kepalanya menjauh. Dia bahkan membuat kepalanya sendiri terbentur jendela mobil.

“Dia benar-benar keluar dari sana,” ucap Sehun sembari menunjuk mobil Baekhyun. Si pemiliknya tersenyum ramah pada teman-teman Minri. Sementara Minri berharap mereka tidak melihat kejadian tadi.

“Hai Baekhyun,” sapa Kyungsoo.

“Hai semuanya. Aku titip Minri ya, maaf aku harus bergegas,” ucap Baekhyun kemudian membawa mobilnya pergi dari area kampus. Lagi-lagi Minri merasa wajahnya menghangat. Dia harap teman-teman tidak menyadarinya.

“Apa kalian melihat sesuatu sebelum Chanyeol berkata selamat pagi tadi?” tanya Minri mulai mengambil langkah.

“Maksudmu sesuatu itu seperti … Baekhyun menciummu?” sahut Chanyeol dengan wajah tanpa dosa.

Oh sial, mereka melihatnya.

Pabbo! Sudah kubilang kita pura-pura tidak melihat saja!” Jongin yang tampak gemas, memukul belakang kepala Chanyeol dengan gulungan brosur yang di dapatnya di depan gerbang kampus. Kemudian Chanyeol berbalik mengejar Jongin. Kalau Jongin punya gulungan brosur, maka Chanyeol punya kotak bekal Kyungsoo di tangannya yang akan dipukulkannya ke kepala Jongin. Uh, itu pasti sakit. jangan tiru mereka.

Sehun tertawa pelan. Oke, ini pemandangan langka. Kemudian Sehun berjalan sejajar dengan Minri dengan mengaitkan jari jempolnya di saku celana.

“Selamat ya,” ucap Sehun tanpa menatap Minri.

“Selamat untuk apa?”

“Kalian jadian ‘kan?”

“Kau stalker ya.”

“Jadi benar?” tiba-tiba Kyungsoo menyelip diantara Minri dan Sehun, lalu merangkul bahu Minri karena tinggi mereka hampir sama. Akan sangat merepotkan kalau Kyungsoo juga merangkul Sehun. Sehun itu tiang macam Chanyeol!

“Kalau kau bukan kekasih Baekhyun, aku yakin kau akan menampar wajahnya sampai babak belur karena telah menciummu sembarangan –dan di depan umum.”

Aku tidak akan melakukan itu, ujar Minri dalam hari.

“Hng!” Kyungsoo mengangguk dengan semangat. “Bagaimana rasanya?”

“Yak! Berhentilah membicarakan hal itu!” Minri mendahului mereka dengan wajah merah padam. Kyungsoo dan Sehun tertawa, sementara Jongin dan Chanyeol (yang entah kapan sudah berhenti melakukan aksi kejar-kejaran mereka) juga ikut tertawa di belakang. Tapi ada yang hilang. Kotak bekal Kyungsoo. Pasti Chanyeol melemparnya tadi.

Mungkin Chanyeol tidak akan bisa merasakan masakan buatan Kyungsoo untuk semiggu ke depan. Salah sendiri mengapa melempar kotak bekal Kyungsoo. Harusnya dia melemparkan gitar kesayangannya saja. Oh, tapi itu tidak akan pernah terjadi.

Minri pada akhirnya ikut tertawa. Dia bahagia. Karena secara tidak langsung –atau secara langsung, teman-temannya telah mempertemukannya pada Baekhyun. Pangeran yang menyelamatkan hidupnya dan mengeluarkannya dari situasi yang menyedihkan.

 

“Aku akan menikah.”

“APA?!”

Uhuuk!!

Sungguh malang. Pekikan Jongin membuat Sehun yang baru saja menengak bubble tea-nya menjadi tersedak. Walaupun sebenarnya Sehun juga kaget dengan pernyataan Minri, tapi dia lebih kaget dengan teriakan Jongin yang tidak main-main itu.

Kyungsoo mencubit pinggang Jongin membuat laki-laki itu meringis. Dia sudah membuat mereka berlima menjadi pusat perhatian di kafe yang terletak tidak jauh dari kampus mereka.

“Kau serius?” tanya Chanyeol. Syukurlah Chanyeol tidak bereaksi berlebihan seperti biasa. walaupun rasanya sedikit aneh jika melihat Chanyeol ‘normal’ seperti ini.

Minri mengisap cappuccino ice miliknya seraya mengangguk. Mengabaikan Jongin, Kyungsoo dan Sehun yang sedang berdebat –perang kecil-kecilan.

“Kalian tidak senang ya?” Minri meletakkan gelas cappuccino-nya, sembari menatap teman-temannya satu per satu dengan bibir mengerucut dan mata seperti anak anjing yang kelaparan.

Apa gadis itu sungguh melakukan aegyo?

Apa aku salah lihat?!

Dia punya stok ekspresi semacam itu?

Dia cute juga ya.

Sesaat kemudian Minri menyemburkan tawanya sembari memegangi perutnya. Oh, apa dia terlalu jahat untuk mengatakan bahwa wajah teman-temannya melongo tadi konyol sekali. Seperti idiot yang belum makan selama tiga hari.

“Kalian kenapa?” tanya Minri sembari menyapu sudut matanya yang sedikit berair.

“Tidak.” Jawab Kyungsoo sembari tertawa. Disusul tawa yang lain.

“Kau benar-benar mengejutkan. Daebak!” Jongin mengacungkan jempolnya pada Minri.

Well. Aku tunggu hadiah kalian.”

“Hadiah pernikahan?” tanya Chanyeol.

“Tentu saja! Masa hadiah ulang tahun.” Kyungsoo menelengkan kepala pada lelaki tinggi itu dengan wajah datar.

“Kurasa selimut bulu yang tebal cocok untuk hadiah pernikahan.” Jongin berucap sambil menaik-turunkan layar ponselnya. Sehun yang penasaran dengan apa yang dilakukan Jongin, lantas mengintip. Sehun tertawa pelan karena ternyata Jongin berselancar di internet untuk mencari hadiah yang cocok.

“Tapi kupikir dia tidak membutuhkannya, Jongin. Selimut itu hanya akan teronggok tidak berguna di lantai kamar.” Sehun tertawa lagi. Minri sempat berpikir bahwa jiwa Chanyeol dan Sehun sedang tertukar.

“Oke, berhenti. Berhenti membicarakan hal ini. Kalian tidak perlu membicarakan hadiah kalian di depanku.” Minri merasa topik pembicaraan mereka akan mengarah pada hal-hal yang berbau dewasa.

“Kami ingin memberikan apa yang memang kau perlukan.”

“Mana kutahu,” komentar Minri terkesan tidak peduli. Tapi merasa senang karena teman-temannya sungguh perhatian. “Terimakasih telah menjadi temanku selama ini.” Minri menatap wajah teman-temannya satu per satu.

“Oh tidak! Ini mengharukan sekali!” Chanyeol buru-buru menarik tisu yang terletak di tengah meja. Kyungsoo hanya memutar bola matanya melihat tingkah Chanyeol.

“Selamanya kami akan menjadi temanmu,” ucap Jongin.

”Jongin benar.” Sehun menyahut sembari tersenyum tipis.

Minri merasa kristal tipis menghalangi pandangannya. Sebelum dia menumpahkan air mata –dan daripada dia menangis, lebih baik dia segera tertawa. Tadinya dia pikir konyol sekali Chanyeol mengira akan ada tangisan di situasi seperti ini. Tapi ternyata Chanyeol benar.

“Kalian memang terbaik.” Minri memberi jeda, “Dan mulailah berpikir untuk mendapatkan kekasih.”

***

Dua minggu berlalu. Dan waktu sesingkat itu sudah cukup untuk mempersiapkan pernikahan Minri dan Baekhyun. Semuanya terencana dengan rapi. Minri tidak bisa berhenti terkagum-kagum dengan kejutan yang Baekhyun persiapkan untuk pernikahan mereka. Sempurna.

Ballroom luas berkapasitas dapat menampung orang banyak telah berubah menjadi sebuah istana bernuansa putih dan hiasan bunga di berbagai sudut. Wangi bunga bercampur lilin aroma terapi membuat ruangan itu begitu nyaman meskipun sudah dipenuhi oleh para tamu dan undangan.

Dentingan alat musik piano mengalun lembut. Terdengar begitu elegan dan berkelas. Minri tidak yakin bahwa Baekhyun bisa mengundang Yixing si pianis terkenal. Tapi ternyata dia melakukannya.

Musik itu terdengar melambat ketika Minri tiba di depan pintu Ballroom. Semua perhatian tertuju padanya. Dan hal itu seketika membuatnya seperti penjahat yang sedang diinterogasi. Ugh, tiba-tiba Minri ingin mengecil lalu masuk ke dalam kantung tuxedo Sehun. Tapi tidak. Ini pernikahannya. Dia harus tetap berjalan lurus ke depan sana, menyambut uluran tangan Baekhyun yang sudah menunggunya di sana –di ujung altar.

Baekhyun memakai tuxedo putih yang pas di badannya. Lelaki itu tersenyum sembari menatap Minri. Sementara Minri tidak bisa lagi fokus pada hal lain. Baekhyun tampak begitu memesona. Lagi-lagi membuat Minri berucap dalam hati bahwa dia-pasti-bukan-manusia.

Minri mempererat pegangan tangannya di lengan Sehun –karena sehun sekarang berperan sebagai pendamping pengantin wanita –ketika dia merasa jaraknya dan Baekhyun semakin dekat.

Minri memilih Sehun karena lelaki itu tidak banyak bicara. Setidaknya dia tidak akan tertawa konyol jika Jongin yang menjadi pendamping –kemudian membicarakan hal-hal konyol padanya, atau mungkin terpeleset jika itu Chanyeol. Kyungsoo tidak masuk nominasi karena menurut Minri, mereka berdua akan tampak seperti anak SMA yang tersesat di pernikahan orang. Wajah Kyungsoo lebih tampak kekanakan daridapa teman-temannya yang lain dan postur tubuhnya juga mendukung.

Sehun menyenggol pinggang Minri dengan pelan –dengan sikutnya –saat Minri tak kunjung melepaskan pegangan tangannya. Gadis itu melamun, pikir Sehun.

“Kita sudah sampai, Minri.”

“Ah? Ya.” Minri melepaskan pegangan tangannya pada Sehun. Lantas menggumankan terimakasih. Dia menurunkan pandangan, menatap tangan indah Baekhyun yang terulur di depannya. Kemudian mendongak, tersenyum lantas menyambutnya.

Disanalah mereka. Berdiri berdampingan. Mengucap sumpah janji untuk terus bersama. Setia sampai maut memisahkan mereka berdua. Cincin telah tersemat indah di jari masing-masing.

Sekarang mereka berhadapan. Baekhyun membuka penutup kepala Minri. Kemudian menarik pinggang gadis itu mendekat, lantas melayangkan kecupan ringan di bibir gadis –yang sekarang telah resmi menjadi istrinya.

“Aku mencintaimu. Lebih luas dari semua fantasimu.” Bisik Baekhyun.

Minri merasa bunga-bunga sedang bemekaran dalam perutnya. Menggelitik dan menyenangkan. Riuh tepuk tangan para tamu undangan tidak bisa menghentikan Minri untuk kembali berjinjit dan meraih bibir lelaki itu. Apakah dia sudah kecanduan? Masa bodoh.

“Aku juga mencintaimu, Baekhyun.”

Karena Baekhyun adalah pangeran impiannya. Mengeluarkannya dari situasi menyedihkan. Membawakannya berjuta kebahagiaan yang tidak pernah terpikir dalam benaknya. Mencuri hatinya dengan cara yang mengagumkan.

Dia sangat bahagia.

Karena bahagia adalah ketika keajaiban terjadi setelah Baekhyun memutuskan untuk menyayangiku dengan seluruh hidup dia punya.

Este es el milagro del amor…

***END***

/Jumping in front pc screen/ yaeyyy!! Finally I finished this ❤

Gimana?

Part ini terpanjang loh ya 🙂

Well, sekarang speech /lo kira menang award-_-/

Aku minta maaf kalo ada salah-salah kata saat berinteraksi dengan kalian, maaf kalau kata-kata becandaku (sengaja atau tidak sengaja) membuat kalian tersinggung. Sungguh ya aku tidak bermaksud buruk. Aku cuma pengen berteman sama kalian /kemudian terharu.

MAAF kalau FF ini tak sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Beribu-ribu terimakasih saya ucapkan pada semua reader (yang namanya tidak bisa di sebut, termasuk silent reader) yang bersedia meluangkan waktunya membaca FF ini, menulis di kotak komentar, menunggu dan menyukai FF ini.

Terimakasih untuk tidak memanggil thor, atau tetap memanggil thor 😀

Terimakasih untuk respon yang mengagumkan. >o<!!

Aku akan berusaha menjadi lebih baik ke depannya.

Kritik dan saran yang membangun sangat diterima dengan tangan terbuka.

Akhir kata, sampai jumpa di ff lainnya~ *bow bareng semua cast(s)*

Selalu sayang kalian ❤

©Charismagirl, 2014

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

338 tanggapan untuk “Milargo del Amor – Chapter 4 [end]

  1. kak aku suka semua ama fanfic buatan kakak ceritanya pada keren dan so sweet apa lagi couple baekhyun dan minri…..aku tunggu ya fanfic2 lainnya fighting

  2. Kak.. Aku jatuh cinta ama ff mu yg ini!! Aku pen kek Minri /apak an seh/ keren, daebak, lucu, gemesin, sweet, tau ah gelap /aku cerewet iya/ ff ini… Bikin aku merasakan terbang sampai langit ke 100

  3. Kyaaaa~ selamattt… telah selesai membaca-ulang- ff ini/? *lah
    Okai. Selamat buat baekminri yang akhirnya berakhir dgn hepi endingg^^

    Yasyudah cukup sekian komen ku disini. Sampai jumpaa diffmu yang lainnn😊😊
    Keep writing and fighting^^9

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s