Secret Darling | 7th Chapter

secret-darling1

.

:: SECRET DARLING | 7th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Fluff | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by IraWorlds © High School Graphics ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter

.

Park Minchan masih sibuk di mejanya, membereskan beberapa alat tulisnya yang masih berserakan tak teratur diatas meja papan, menghela napas panjang saat matanya kembali menatap deretan materi yang sempat ia catat di notes bergarisnya.

 

Minhee akan menyesal tidak masuk hari ini. Materinya banyak sekali, gerutu Minchan dalam hati.

 

Setelah selesai dengan semua alat tulisnya, gadis itu meninggalkan mejanya dan otomatis menjadi mahasiswa terakhir yang mengosongkan kelas. Minchan memang tidak terlalu peduli dengan Jungkook, namun ia tak bisa tidak melihat pemandangan bahwa kursi yang tadi sempat ditempati Jungkook telah kosong. Minchan melenggangkan kakinya tak peduli.

 

“Minchan-ssi,” Minchan bahkan baru beberapa langkah saja keluar dari kelas, namun ia sudah mendengar ada sosok laki-laki yang memanggil namanya dengan jelas. Minchan menoleh, lalu dengan gamblang melihat laki-laki itu berdiri tak jauh di belakangnya.

 

.

.

| 7th Chapter |

.

.

 

“Minchan-ssi,” Minchan bahkan baru beberapa langkah saja keluar dari kelas, namun ia sudah mendengar ada sosok laki-laki yang memanggil namanya dengan jelas. Minchan menoleh, lalu dengan gamblang melihat laki-laki itu berdiri tak jauh di belakangnya.

Dahi Minchan mengerut.

 

“Sehun-ssi?”

 

Sehun melangkahkan kakinya menghampiri Minchan, lalu sebelum Minchan melontarkan pertanyaan, Sehun sudah berkata mendahuluinya.

“Minhee tidak masuk hari ini,”

 

“Tentu saja aku tahu, Sehun-ssi. Kelas kami sudah berakhir lima menit yang lalu,” sahut Minchan sambil memutar matanya. “Kau terlambat jika Minhee menyuruhmu menyampaikan kabar itu padaku.”

“Dia tidak membalas pesanmu tadi pagi, dia tidak punya pulsa,” lanjut Sehun. Minchan hanya menganggukan kepala tanda mengerti, namun dalam hati ia meruntuki mengapa laki-laki ini begitu kaku dan dingin.

 

Apa di depan Minhee dia juga seperti ini?

 

“Oh, mengapa dia tidak meminjam ponselmu saja?” Tanya Minchan ringan. “Bukankah dia itu—Hmppph!”

Minchan tak berhasil melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba saja Sehun mengarahkan buku notes milik gadis itu ke arah yang bisa menutup pergerakan mulut Minchan. Sehun tak menutup mulut Minchan secara langsung, namun Minchan sadar bahwa ia nyaris saja kelepasan bicara andai saja Sehun tak membekap mulutnya dengan buku itu.

Tidak ada orang lain selain mereka sekarang—setidaknya itulah yang mereka lihat sampai radius 20 meter dari posisi mereka berpijak sekarang—namun itu tidak menjamin kalau tidak ada orang lain yang akan mendengar pembicaraan mereka.

Masih ingat kalau pernikahan Sehun dan Minhee adalah fakta yang harus disembunyikan rapat-rapat di kampus ini?

 

“Kau sama cerobohnya dengan Kai.” Desis Sehun datar. “Jangan pernah sambungkan aku dengan Minhee selama di kampus ini, kau mengerti?”

Minchan mengangguk patuh, lalu bisa bernapas lega kembali setelah buku yang digunakan untuk membekap mulutnya diturunkan oleh Sehun.

“Maafkan aku,” sahut Minchan dengan sedikit pout di bibirnya. “Aku terlalu sering mengolok-olok Minhee dengan kata itu, jadi aku seperti kebiasaan melakukannya.”

“Baiklah, terserah kau saja,” sahut Sehun tak peduli. Lalu tanpa berpamitan apa-apa pada Minchan, laki-laki itu membalikkan tubuhnya begitu saja, berniat untuk pergi karena merasa urusannya dengan sahabat istrinya itu sudah selesai.

Respon Minchan bagus. Ia langsung teringat dengan buku notes yang tadi digunakan Sehun untuk membekapnya, teringat materi Dosen Jung lebih tepatnya, jadi sebelum Sehun melangkahkan kakinya lebih jauh maka Minchan buru-buru menahannya.

 

“Tunggu!”

Sehun membalikkan tubuhnya lagi menghadap Minchan. Minchan mengeluh dalam hati kenapa Sehun masih saja berekspresi dingin.

 

Bisa-bisanya Minhee menikahi manusia es seperti ini.

 

“Tolong sampaikan notes ini pada Minhee. Di sana ada materi yang diberikan Dosen Jung hari ini,” sahut Minchan sambil menyerahkan buku notes itu pada Sehun. Sehun menerimanya, pandangannya berganti pada buku notes bergaris itu.

“Oh, terimakasih,” jawab Sehun. “Kau peduli sekali padanya. Aku akan mewakilkan rasa terimakasihnya padamu.”

“Sama-sama,” balas Minchan dengan senyum lebarnya. “Sampaikan juga ucapan itu padanya.”

“Yah,” Sehun mengangguk. “Bagaimana? Sudah selesai?”

Mendengar kata-kata seperti itu, Minchan mengerucutkan bibirnya kembali. Senyumnya luntur dan bahkan tak berbekas sama sekali. “Iya, sudah, Tuan Oh. Dan satu kata yang bisa kusimpulkan dari pertemuan singkat ini. Kau menyebalkan. Kukira aku mengerti sekarang, mengapa Minhee selalu saja berdebat denganmu. Selamat tinggal.”

 

Minchan melangkah terlebih dahulu meninggalkan Sehun, membuat Sehun hanya bisa mendengus sebagai jawaban atas kata-kata yang Minchan ucapkan sebelumnya.

“Dan kau sama menyebalkannya dengan gadis itu, Park Minchan. Kukira aku mengerti sekarang, mengapa Minhee menjadi sahabat yang selalu lengket denganmu. Selamat tinggal.”

 

 

Malam harinya, Sehun dan Minhee bertemu kembali. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, jadi tak ada pilihan bagi mereka selain buru-buru mengurung diri di kamar sebelum eomma Minhee mengomel dan menasihati mereka panjang lebar soal efek buruk tidur malam.

 

Minhee sedang memegang ponselnya diatas tempat tidur, area sebelahnya kosong dan masih terdengar suara gemericik air dari balik pintu kamar mandi. Disela jeda game, Minhee menyempatkan diri menoleh ke arah pintu itu, namun yang ia temukan masih sama. Pintu itu masih tertutup. Tak ada pilihan lain bagi Minhee selain mengalihkan tatapannya kembali ke layar ponsel, atau permainan yang ditekuninya sejak tadi akan mengalami game over.

 

Minhee bahkan tak tahu kenapa, tapi ia menghela napas yang cukup panjang.

 

Permainan ini membosankan lama-lama.

 

Tiba-tiba Minhee mendengar suara kunci kamar mandi yang diputar halus, menyebabkan suara yang bisa ia tebak sebagai kunci yang terbuka. Minhee masih berusaha terpusat pada layar ponselnya, mencoba tak peduli saat Sehun keluar dari kamar mandi sambil mengacak rambutnya yang masih dibasahi oleh air.

Minhee menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk terlihat tidak peduli dan lebih memedulikan layar ponselnya yang sedang menampilkan deretan kotak kecil berwarna-warni itu.

Walaupun ia jujur, wangi sabun yang menguar dalam ruangan itu sekarang mulai mengganggu konsentrasinya.

 

Minhee tak memperhatikan gerak-gerik Sehun sepenuhnya, namun ia bisa melihat dari ekor mata saat Sehun menjemur handuk setengah basah itu di dekat kamar mandi lalu dengan cuek melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Laki-laki itu duduk di sisi sebelah Minhee yang masih kosong dan ikut menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur seperti halnya apa yang Minhee lakukan.

 

“Minhee-ya,”

“Ya?” respon Minhee pura-pura tak peduli. Matanya masih terfokus pada layar ponselnya, mengabaikan nada bicara Sehun yang jelas-jelas menutut perhatiannya sejenak.

Tanpa berkata apa-apa Sehun menurunkan ponsel itu dari depan wajah Minhee, membuat Minhee mendecak keras seakan itu adalah hal paling menyebalkan yang telah Sehun lakukan.

 

“Yak, kau membuatku game over!”

 

Ssstt!” desis Sehun. Tanpa Minhee sadar sejak kapan, tiba-tiba ia sudah merasakan jari Sehun membungkam tepat di depan bibirnya, membuat dua permukaan itu saling menempel.

Minhee merasakan ada perasaan aneh yang mendesak dadanya saat Sehun menempelkan jarinya di bibir itu, membuat jantungnya bermarathon paksa malam-malam seperti ini. Apa maksud laki-laki ini sebenarnya?

 

“Aku mau minta pendapatmu soal ini,” Sehun membuka percakapan kembali, mengabaikan fakta bahwa hatinya sempat tergelitik saat melihat perubahan raut wajah Minhee.

Sehun mengeluarkan sebuah buku notes dari dalam laci meja yang ada di nakas samping tempat tidur. Mata Minhee memicing melihatnya, merasa familiar dengan cover notes itu.

 

“Minchan memberikan notes ini padaku tadi pagi, saat aku bertemu dengannya,” cerita Sehun sambil meletakkan notes itu diantara mereka. “Minchan bilang disini ada materi yang disampaikan Dosen Jung selama kelas kalian tadi. Lihat, betapa pedulinya ia padamu,”

Minhee meraih notes itu, lalu langsung menuju halaman yang dimaksud. Ia sedikit terbelalak melihat setumpuk materi yang tercatat disana.

“Bisakah kau memberikan ini padaku besok saja? Kau membuatku stress menjelang tidur.” Protes Minhee sambil mengerucutkan bibirnya.

Sehun memutar matanya. “Dengarkan dulu sampai aku selesai bicara.”

 

Sehun merebut notes itu dari tangan Minhee, lalu dengan cepat membalikkan lembar demi lembar sampai ke halaman terakhir dari notes bergaris itu. Tepat di halaman terakhir, Minhee membelalakan matanya saat membaca deretan tulisan yang tercetak berantakan disana.

 

“Menurutmu apa ini?” Tanya Sehun sambil melirik Minhee, menunjukkan dengan gamblang halaman itu di depan wajah Minhee. Membuat Minhee semakin membelalak dari sebelumnya karena meyakini jika deretan hangeul yang menyiratkan sebuah kata itu benar-benar tulisan Minchan.

 

“Ini asli?” Tanya Minhee konyol.

“Tentu saja. Kau lupa ini buku miliknya? Mana mungkin ada orang lain yang mencoret-coret isi hatinya di buku milik orang lain? Lagipula bukankah hanya kau satu-satunya orang yang diperbolehkan menyentuh catatan miliknya?” celoteh Sehun panjang lebar. “Jadi bagaimana menurutmu?”

 

“Apa?” Minhee balik bertanya. “Minchan benar-benar menyukai orang itu, maksudmu?”

 

***

 

Pagi ini Minhee sudah kembali mengikuti kelas seperti biasanya. Raut Minchan terlihat cerah saat melihat kehadiran Minhee kembali di kelas itu, namun Minhee tak bereaksi berlebihan. Tidak ada pelukan heboh seperti dulu, beberapa tahun lalu saat Minhee pertama kalinya masuk selesai didera penyakit cacar air selama seminggu.

 

“Oh, Nona Park, terimakasih atas catatanmu kemarin,” sahut Minhee tiba-tiba, membuyarkan lamunan Minchan saat notes itu teracung di depannya.

Minchan menerima notes itu, meletakkan begitu saja diatas meja, lalu berganti memandangi Minhee yang tampak biasa saja seolah tak ada hal aneh apapun yang terjadi.

Nona Park? Kenapa kau memanggilku begitu?”

Minhee menolehkan kepalanya pada Minchan, lalu mengerjap polos. “Memangnya kenapa? Margamu memang Park, kan?”

“Bukan begitu maksudku,” timpal Minchan sambil memutar mata. “Kau terlihat ganjil hari ini. Ada apa?”

“Aku tidak apa-apa,” sahut Minhee sambil mengerjap polos untuk yang kedua kalinya. “Minchan, uhm. Aku ingin bertanya, apa kau… Tidak berminat untuk menceritakan sesuatu padaku?”

Minchan mengerutkan keningnya semakin dalam mendengar pertanyaan Minhee. “Sesuatu? Bercerita? Bercerita apa?”

“Soal… Namja yang kau sukai, misalnya.” Jawab Minhee polos. Mencoba dengan samar untuk menarik Minchan ke tema yang sebenarnya.

“Siapa?” Tanya Minchan heran. “Lee Taemin? Sunbae alumni yang pernah kusukai selama SMA?”

“Selain itu?” Tanya Minhee lebih dalam.

“Apa?” Tanya Minchan balik. “Pertanyaanmu aneh,”

“Aku hanya ingin tahu,” sahut Minhee sambil mengetukkan jemarinya diatas meja papannya. “Selama di kampus ini… Apa kau belum pernah menyukai siapapun?”

Minchan mengerutkan keningnya, merasa aneh sekaligus curiga mendengar pertanyaan Minhee. Ia sudah mengenal Minhee bertahun-tahun, jadi apakah salah jika ia merasa aneh dengan pertanyaan Minhee kali ini? Jelas-jelas ia merasa ada yang aneh dalam hal ini.

 

Minchan menggeleng. Tanpa kata.

 

Terjadi sebaliknya. Minhee telah mengenal Minchan selama bertahun-tahun lamanya pula, jadi apakah salah jika ia merasa Minchan tak bereaksi jujur kali ini? Bahkan Minhee bisa melihat ada ragu bercampur dusta kecil yang terpancar dari mata Minchan, meskipun gadis itu dengan jelas menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan sebelumnya.

 

Beberapa detik diisi oleh keheningan antara mereka. Mereka hanya sama-sama menatap dalam bisu, bahkan tak tahu hanya untuk sekedar mengatakan reaksi kelanjutan atas percakapan mereka sebelumnya.

Tepat di detik kesepuluh, sosok Jungkook masuk dalam kelas itu, menguarkan auranya seperti biasa. Aura yang membuat gadis semacam Melanie Lee tergila-gila padanya, dan membuat gadis itu meracau tentang Jungkook sepanjang durasi kelas pertama. Membuat telinga Minchan dan Minhee berdesing.

 

Minchan dan Minhee secara kompak menoleh ke pintu, ke arah Jungkook lebih tepatnya. Hanya beberapa detik waktu yang digunakan Minhee untuk memandangi laki-laki itu dari kursi mereka, beberapa detik setelah ia merasa cukup ia pun mengalihkan pandangannya pada mata Minchan yang masih terus mengekor sosok Jungkook.

 

“Minchan… Kau tidak suka pada Jungkook ‘kan?”

 

 

Siang hari telah beranjak, beruntunglah ini musim gugur yang beranjak ke musim dingin, jadi matahari yang bertengger di atas langit kota Seoul tidak terlalu terik. Bermandikan cahaya matahari yang cukup hangat, Shin Minhee menarik satu tangan milik Park Minchan menerobos keramaian. Beberapa kali Minchan harus protes saat tubuh mungilnya terhimpit diantara orang-orang, namun Minhee seperti mengabaikan protes itu dan terus menarik Minchan sampai tiba di tujuan.

Lagi-lagi Minchan mengeluh, sebenarnya Minhee ingin membawanya kemana?

 

Minhee berbelok ke sebuah kedai makan yang terlihat cukup nyaman untuk ukuran anak kuliah seperti mereka. Minchan mengerutkan keningnya, Minhee sama sekali belum membaritahunya bahwa mereka akan makan siang bersama. Sebelum terlambat, Minchan memaksa Minhee untuk menghentikan langkah mereka.

 

“Tunggu!” tahan Minchan, mengerem kakinya kuat-kuat diatas lantai licin kedai.

Minhee terpaksa ikut berhenti, menoleh ke belakang, menatap Minchan sedikit kesal.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kita akan makan siang disini?” desis Minchan dengan suara kecil. Minhee hanya memutar matanya.

“Aku tidak bawa cukup uang saku hari ini!” desis Minchan kembali, matanya menelusuri beberapa sudut ruangan kedai.

 

“Makanya tunggu sampai aku selesai dengan tugasku!” sahut Minhee dengan sedikit tak sabar, menarik tangan Minchan kembali menuju salah satu deretan meja.

“Apa maksudmu, hei?!”

 

Minhee menghentikan langkahnya di sebuah meja yang telah diisi oleh dua orang laki-laki, mereka telah tiba sebelumnya. Minhee langsung tersenyum manis pada salah satu laki-laki yang memiliki kulit pucat, mendudukkan dirinya langsung dihadapan laki-laki itu sementara Minchan hanya terdiam linglung di sisi meja.

 

“Hai, Minchan!” sapa laki-laki itu hangat. “Duduklah, aku yang akan mentraktir kalian semua hari ini.”

“Sehun-ssi?” balas Minchan sedikit linglung. Pandangan matanya kemudian bergeser pada sosok laki-laki lain yang duduk di sebelah Sehun, laki-laki berkulit tan yang sedang sibuk dengan ponselnya, sampai-sampai tak menyadari kehadiran Minhee dan Minchan.

“Kai-ssi?”

 

Setelah mendengar namanya disebut—atau lebih tepatnya, tersebut—Kai menghadapkan wajahnya langsung pada Minchan, sedikit tersenyum untuknya, lalu dilanjut senyum yang lebih lebar untuk Nyonya Oh yang sudah mengambil kursi di depan suaminya.

 

“Selamat siang, Nyonya Oh.” Sapa Kai dengan nada yang entah meledek atau menggoda di akhir kalimat. Minhee memutar matanya jengah, lalu mendaratkan satu pukulan di lengan Kai.

“Jangan sebut aku begitu.” Tandas Minhee datar, Kai hanya tertawa renyah, dan Sehun malah tersenyum simpul.

Minchan merasa semakin bingung dengan semua ini.

 

Sejak kapan Minhee dekat dengan Kai?

Kenapa Kai hanya tertawa saat Minhee memukul lengannya?

Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa aku merasa disini hanya aku yang menjadi orang canggung?!

 

“Memangnya kenapa?” balas Kai tenang. “Ini diluar area kampus, kan? Jadi kau tidak perlu menyembunyikan status itu karena—seperti yang kau tahu—kami sudah memegang rahasia itu.”

“Bagaimana kalau disini ada mahasiswa kampus yang mengenalku?” sahut Minhee lagi, tak mau kalah.

“Oh, sudahlah.” Sahut Kai mengakhiri. “Sehun, kekhawatiran istrimu ini sangat berlebihan.”

Minhee memelototkan matanya pada Kai, sedangkan Sehun tak menunjukkan reaksi berarti mendengar celotehan Kai. Minchan masih berdiri di sisi meja dengan bingung. Memperhatikan wajah mereka bertiga yang sudah duduk diatas kursi masing-masing.

 

“Minchan, kau tidak mau duduk?” Tanya Sehun tiba-tiba, datar, membuat Minchan sedikit tersentak. Rasa canggungnya semakin parah saat mata mereka bertiga malah menatap wajahnya secara bersamaan.

“Iya, baiklah.” Jawab Minchan sambil duduk hati-hati di atas kursi yang berhadapan dengan Kai. Minchan memutar-mutar posisi duduknya dengan canggung, tak berani melihat ke depan. Sehun dan Minhee saling menatap diantara mereka, bersamaan dengan itu saling melempar senyum simpul.

 

“Hei, kalian mau pesan apa?” Tanya Sehun sambil menyodorkan buku menu ke masing-masing dari mereka. Mereka menerimanya dan sesaat kemudian tengah sibuk memilih-milih menu makanan.

“Aku mau bulgogi.” Putus Minhee cepat tanpa membalik-balikkan buku menu terlebih dahulu.

Kai mengangkat kepalanya, menatap Minhee dengan pandangan jahil. “Bulgogi? Apa kau sedang mengidamkan itu sekarang?”

“Hei!” sahut Minhee, protes. “Apa maksudmu? Aku memang sedang ingin makan itu, dasar.”

Minchan tak terlibat dengan semua pembicaraan itu. Sejak awal ia hanya memperhatikan deretan menu, walaupun percayalah tidak sepenuhnya ia berkonsentrasi memilih makanan yang akan ia pesan. Kai, Sehun dan Minhee asyik mengobrol dengan akrab. Menyisakan Minchan yang masih terus berkutat memperhatikan deretan nama menu.

 

“Minchan,” panggil Sehun tiba-tiba, lagi, membuat Minchan terlonjak dan langsung mengangkat kepalanya. Pandangan mereka bertiga menatapnya, membuatnya lagi-lagi harus mengecap rasa canggung yang aneh.

“Jadi kau mau pesan apa? Tinggal pesananmu yang belum dicatat,” lanjut Sehun lalu menunjuk dengan dagunya ke arah pelayan yang sedang ada di sisi meja, lengkap dengan catatan menu apa-apa saja yang akan mereka pesan.

“Bagaimana kalau diseragamkan saja?” tawar Minhee. “Kita berempat sama-sama memesan bulgogi.”

“Baiklah, terserah saja,” jawab Minchan sambil menutup buku menu itu lalu mengembalikannya ke tempat semula.

“Oke. Bulgogi empat porsi, lalu—“ Sehun menoleh pada Minhee, “kau ada pesanan lagi?”

“Aku mau tteokboki juga.” Jawab Minhee dengan senyum lebar, pelayan mencatat menu itu dengan cepat, lalu memberitahu mereka untuk menunggu sebentar sampai pesanan tiba.

 

Suasana canggung yang Minchan rasakan kembali ke kadar semula. Disaat ia melihat ketiga orang yang ada di hadapannya saling melempar canda, ia hanya bisa terdiam memperhatikan dan mendengarkan setiap celotehan mereka, tanpa ikut campur sama sekali dalam obrolan itu. Agak mengganggu sebenarnya, namun Minchan benar-benar tak tahu hal apa yang harus dilakukannya. Terasa aneh jika tiba-tiba ia ikut berceloteh, tak ada yang Minchan kenal dengan benar selain Minhee disana.

 

“Kenapa kau diam saja?” Tanya Kai tiba-tiba, melempar pandangannya pada Minchan, membuat Minchan nyaris tersedak napasnya sendiri.

Minhee menyembunyikan kekehan kecilnya dengan kepala ditundukkan, sedangkan Sehun berdehem kecil sambil pura-pura terlihat sibuk dengan suatu notifikasi yang muncul di layar ponselnya.

“A—aku?” Tanya Minchan canggung. Aneh rasanya jika kau yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba dilemparkan pertanyaan seperti itu. Terasa seperti ada bongkahan permen kristal besar yang tersangkut di kerongkonganmu.

“Aku tidak apa-apa, Kai-ssi.” Lanjut Minchan kaku, lalu beberapa detik kemudian sibuk meruntuk dalam hati mengapa ia harus berbicara sebegitu formalnya pada Kai. Padahal sejak tadi, Minhee terang-terangan menggunakan banyak bahasa informal saat mengobrol dengan dua mahasiswa yang notabene senior mereka itu.

“Tidak usah terlalu kaku begitu,” tawa Kai renyah.

Minchan terkesiap, runtukan dalam hatinya semakin menjadi-jadi.

“Kau terlihat tegang. Ini hanya makan siang biasa, Minchan-ah. Ada apa?” lanjut Kai sambil memutar sedikit lagi tempat duduknya agar semakin jelas menghadap Minchan.

Minchan menggelengkan kepalanya cepat, lalu mencoba tersenyum dengan wajar. Kai membalas senyum itu, membuat jantung Minchan terasa melambung seperti ada puluhan balon yang mendesaknya.

 

Minchan meruntuki dirinya sendiri habis-habisan dalam hati. Sekaligus juga ia ketar-ketir, apakah rona merah yang konyol di wajahnya mulai terlihat sekarang?

Rasanya ia ingin melompat ke luar jendela sekarang juga.

 

Ketika makanan tiba, mereka menikmati makanan masing-masing dengan hening. Minchan berusaha terus berkonsentrasi pada bulgogi lezat yang masih mengepulkan asap hangat itu, mencoba tak membiarkan berbagai kejadian konyol yang berlalu sejak beberapa menit yang lalu terus berputar-putar dalam kepalanya. Membuatnya merasa semakin aneh dan konyol.

 

“Uhm, kira-kira—“ perhatian mereka semua kini tertuju pada Kai, sang pemilik suara yang tiba-tiba berkata di tengah acara makan siang mereka. Kai terlihat sedikit tak enak hati untuk melanjutkan kata-katanya, namun melihat raut heran sekaligus penasaran dimata mereka semua, mau tak mau Kai harus melanjutkan kata-katanya.

“—kapan acara ini selesai?”

 

Sehun mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Kai, sedangkan Minhee melempar pandangannya pada Sehun. Minchan menundukkan kepalanya memandang piring makanannya, mengaduk-aduk bulgogi-nya dengan sumpit besi.

Sama seperti perasaannya, terasa seperti diaduk-aduk saat mendengar pertanyaan Kai yang kurang menyenangkan itu.

Sepertinya Kai tidak menikmati makan siang ini, dan ia sedang terburu-buru untuk menyelasaikan urusannya yang lain.

 

“Memangnya ada apa?” Sehun balik bertanya.

Kai menandang Sehun ragu, lalu tersenyum samar. “Aku—“

 

Suara dering ponsel tiba-tiba memutus kata-kata Kai. Semua mata saling menatap, kecuali sepasang iris kelam milik Kai dimana pemiliknya menyadari jika dering itu berasal dari ponselnya. Kai mengambil ponselnya cepat, lalu sedikit tertegun ketika membaca nama yang tercantum di layar.

Sehun dan Minhee saling pandang melihat ekspresi Kai, sedangkan Minchan masih belum mengangkat kepalanya dari sepiring bulgogi yang kini bentuknya sudah tak rapi lagi.

 

Tanpa sempat mengucapkan apapun, Kai menyingkir dari meja itu, lalu dengan langkah terburu-buru membawa ponsel itu sampai berada di jarak yang cukup jauh dari mereka. Mata Sehun dan Minhee sama-sama mengekor pada sosok Kai yang mengamankan dirinya dibalik pilar kedai, sedangkan Minchan pada akhirnya perlahan mulai menatap siluet Kai.

Hatinya sedikit kecut, sedikit sedih, perasaannya seperti diaduk-aduk dan tak bisa dijelaskan dengan kata tentang keadaannya sekarang. Mungkin jauh lebih berantakan dari sepiring bulgogi yang telah diacak-acak oleh sumpitnya itu.

 

“Maaf aku harus pergi,” sahut Kai yang tahu-tahu sudah kembali lagi ke meja. Makanan di piringnya belum habis, namun laki-laki itu dengan segera menyambar mantel dan tasnya dari atas kursi.

Sehun dan Minhee sama-sama melempar pandangan pada Kai, lalu beberapa detik kemudian berkata bersamaan, “kemana?”

Minchan? Ia menatap Kai dengan bisu.

 

“Aku harus menemui seseorang,” jawab Kai singkat, masih sibuk membereskan sesuatu dalam tasnya sebelum beranjak.

“Siapa?” Tanya Sehun penasaran.

“Bukan urusanmu.” Jawab Kai datar. Sehun memutar matanya jengah.

“Jawab aku, Kim Kai. Siapa dia?” ulang Sehun, masih belum menyerah walau jelas-jelas Kai tak akan semudah itu membocorkan identitas seseorang yang akan ditemuinya.

“Laki-laki? Perempuan?” lanjut Sehun, masih ingin tahu.

“Perempuan.” Jawab Kai akhirnya. “Kau puas? Dan satu lagi, jangan pernah berharap aku akan menyebutkan namanya disini. Terimakasih atas jamuan makan siangnya, keluarga Oh. Selamat siang.”

 

Dan Kai melenggang pergi begitu saja. Sepeninggal Kai, Sehun dan Minhee hanya bisa melongo kecil sambil bertukar tatap. Sedangkan Minchan kembali menundukkan kepalanya. Rasanya ia tak ingin hanya sekedar mengacak-acak bulgogi-nya dengan sumpit. Bila mampu, ia ingin mengaduk-aduk hatinya dengan sumpit sekarang juga.

 

 

“Menurutmu siapa?” Tanya Minhee pada Sehun, tepat saat pintu elevator terbuka. Sehun tak langsung menjawab pertanyaan Minhee. Ia menarik tangan gadis itu untuk keluar dari balok elevator, lalu melepaskannya kembali saat mereka mulai berjalan menyusuri lorong menuju pintu apartemen mereka.

“Apa seingatmu Kai oppa pernah punya pacar?” Tanya Minhee lagi.

Sehun menolehkan kepalanya pada Minhee lalu menatap remeh. “Kai itu sudah ditakdirkan menjadi laki-laki terkenal semenjak sekolah menengah. Coba saja kau pikir sendiri, apa mungkin dia belum pernah punya pacar dalam hidupnya?”

 

Minhee mengerucutkan bibirnya mendengar nada jawaban Sehun yang seperti itu. Tak berusaha memperbaiki kekesalan Minhee, Sehun hanya tersenyum tipis saat melihat ekspresi gadis yang berjalan di sebelahnya itu.

 

“Bukankah kau adalah temannya semenjak sekolah menengah?” ucap Minhee lagi, masih dengan raut kecut. “Kalau begitu kau pasti tahu siapa-siapa saja yang pernah menjadi pacarnya. Apakah dari sekian banyak gadis itu ada yang kuliah di kampus kita juga?”

Sehun terdiam berpikir sebentar. Ia mencoba mengingat-ingat, rasanya sedikit terganggu karena memaksakan diri untuk mengingat semua hal sepele yang sebenarnya sudah lama ia lupakan itu, namun berhubung kali ini Minhee yang memintanya maka ia tak punya kata untuk menolak. Gadis itu terlihat sangat penasaran untuk mengetahui banyak hal yang terjadi sebelum kedatangannya, sekaligus konsisten dengan keinginan terselubungnya untuk mendekatkan Minchan dengan Kai.

 

“Ada beberapa—“ Sehun bergumam kecil. Minhee cepat-cepat memusatkan perhatiannya penuh pada kata-kata Sehun untuk mendapatkan jawaban yang ia cari. “—ada beberapa gadis yang kutahu sempat dekat dengan Kai. Tapi aku tak tahu persis mana saja yang benar-benar menjadi pacarnya. Kami memang sahabat, tapi… Kami konsisten untuk saling tak mencampuri urusan pribadi masing-masing.”

“Kalian payah.” Keluh Minhee kecewa. “Apa itu yang kalian sebut dengan ‘persahabatan’? Apa serunya jika kalian tidak saling tahu hanya sebatas masalah itu?”

“Jangan samakan persahabatan perempuan dan laki-laki.” Timpal Sehun datar.

Minhee memutar matanya. “Baiklah, terserah kau saja. Lalu siapa saja dari mereka yang kau tahu? Setidaknya… Tahu siapa-siapa saja nama mereka,”

“Bagaimana jika kita melanjutkan percakapan ini saat makan malam nanti?” sahut Sehun, namun itu bukanlah jawaban yang Minhee inginkan. Minhee merengut kecewa.

Yak! Kenapa?”

“Kita sudah sampai, kau tahu.” Sehun berkacak pinggang dan berdiri di depan pintu apartemen mereka. Minhee merengut melihat nomor pintu yang tercantum disana. Benar, itu apartemen mereka.

 

“Sekarang kau harus mandi dulu lalu memasakkan sesuatu untukku. Aku lelah dan lapar karena masih harus menemanimu membuang waktu berjam-jam di mall setelah makan siang tadi. Kau mengerti, Nyonya Oh?” Sehun mengacak rambut Minhee lalu mencubit cuping hidung Minhee kecil. Tampak senyum di wajahnya, membuat Minhee terkejut seketika mendapat perlakuan seperti itu dari Sehun.

Beruntunglah Sehun cepat berbalik untuk membuka kunci pintu, sehingga tak sempat melihat wajah Minhee yang memerah tiba-tiba. Minhee shock dengan reaksi tubuhnya sendiri. Dengan cepat ia memegang kedua pipinya.

 

 

Tak banyak yang bisa Minhee masak untuk makan malam mereka hari ini. Kelewat sederhana karena ia hanya mampu menghadirkan semangkuk besar ramyun untuk dimakan bersama-sama serta dua mangkuk nasi diatas meja. Minhee masih belum berani memasak makanan macam-macam, ia takut salah memasukkan bumbu dan malah membuat rasanya menjadi aneh.

Dan betapa leganya Minhee saat Sehun menerima menu sederhana itu sebagai makan malam mereka, tanpa protes sedikitpun. Hanya saja mereka menghabiskan makan malam dalam diam. Walau berkali-kali Minhee mencoba melirik Sehun untuk memberi kode soal pembicaraan mereka yang belum selesai di depan pintu tadi, tapi agaknya Sehun masih menikmati makanannya tanpa merasa peka sama sekali. Minhee merengut kecil.

 

Oppa.” Panggil Minhee sambil meletakkan mangkuknya yang telah kosong ke atas meja.

Sehun juga telah menyelesaikan makannya tepat waktu, kemudian langsung menatap Minhee sebagai respon atas panggilan tersebut.

“Ceritamu tadi belum selesai,” lanjut Minhee. “Kau tak berharap aku melupakannya begitu saja, kan?”

“Mana mungkin aku bisa berharap begitu,” timpal Sehun sebelum mulai meneguk air putih dalam gelasnya hingga habis. “Kau adalah salah satu spesies manusia dengan ingatan terburuk yang pernah kutemui.”

Minhee melirik Sehun sedikit tersinggung. “Apa maksudmu dengan ingatan terburuk?”

“Sekarang aku meragukan statusmu sebagai mahasiswi fakultas sastra.” Sahut Sehun sambil tersenyum miring. “Kau tak mengerti kalimat konotatif, eoh?”

Minhee mengerutkan kening semakin tak mengerti. Sehun memperjelas senyum miringnya sambil mendekatkan wajahnya dengan Minhee, sampai hanya tersisa beberapa belas centimeter saja jarak yang mengisi udara hangat diantara keduanya.

 

“Kau manusia dengan ingatan buruk karena—“ Sehun menggantung kelanjutan kalimatnya. Mencubit kembali cuping hidung Minhee sebelum melanjutkan kalimat menggantungnya, “—karena kau selalu saja ingat hal-hal sepele yang tidak penting. Kau manusia dengan ingatan yang buruk, Shin Minhee.”

 

Mau tak mau Minhee menghentikan napasnya saat Sehun melakukan itu padanya. Sehun menghadiahkan sebuah senyum miring yang nyata tepat di depan wajahnya, bagaimana mungkin itu tak cukup membuat Minhee sulit bernapas seakan-akan darahnya berubah menjadi air es?

Sehun menjauhkan wajahnya kembali dari Minhee, lalu meminum gelas yang masih tersisa air putih di dalamnya. Itu adalah gelas milik Minhee, namun tepat seperti dugaan Sehun, gadis itu tak akan menyadari saat lagi-lagi Sehun meminum air dari gelasnya.

 

“Oh Sehun,” ucap Minhee tiba-tiba. Pandangannya menatap Sehun tanpa ekspresi. “Jangan coba-coba untuk mengalihkan tema. Cepat lanjutkan ceritamu sebelumnya, atau aku akan menghapus semua dokumen skripsimu di laptop. Bukan masalah besar karena aku bahkan mengetahui password yang kau gunakan untuk mengunci benda itu.”

Sehun menatap Minhee sedikit tajam, mungkin merasa terancam juga mendengar celotehan Minhee, atau malah mungkin ia jengah. Laki-laki itu mendengus lalu menopangkan dagunya diatas tangan kanannya yang menyiku.

 

“Kau perempuan pemaksa.” Dengus Sehun.

Minhee memeletkan lidahnya tanpa dosa. “Salahmu. Membuatku penasaran. Harusnya sebelum menikahiku, kau tahu aku lebih banyak. Jangan sekali-kali membuat Shin Minhee terlanjur penasaran karena ia akan terus mengejar apa yang ia inginkan untuk diketahui itu. Oke?”

 

“Baiklah,” Sehun menghela napas. “Kau siap?”

Minhee yang ikut menopangkan dagunya hanya bisa mengerutkan keningnya saat mendengar kata-kata Sehun. “Siap apa?”

“Untuk berjaga-jaga saja,” senyum Sehun. “Jika saja kau merasa bosan.”

“Ayolah cepat ceritakan saja,” keluh Minhee. “Jangan mengulur-ulur waktu, Oh Sehun.”

 

Sehun tak punya pilihan lain, gadis itu menginginkan ia banyak bercerita tentang Kai malam ini. Sehun akui gadis itu cukup tangguh memaksanya bercerita, sekaligus pengingat yang handal. Entahlah, semakin banyak hari yang Sehun habiskan bersamanya, semakin Sehun tahu pula jika Minhee memiliki sifat yang jauh berbeda dengan puluhan gadis lain di luar sana.

 

“Dimulai dari Kang Jiyoung,” Sehun memulai ceritanya.

Minhee merasa tidak mengenal Jiyoung, jadi ia diam untuk mendengarkan cerita Sehun dengan seksama.

Sehun menghela napasnya sesaat lalu melanjutkan kalimatnya, “Jiyoung adalah teman sekelas Kai saat sekolah dasar.”

 

 

| T B C |

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Yey! Setelah kemarin sempat telat posting di 6th Chapter, akhirnya kali ini posting 7th Chapter bisa tepat waktu lagi di satnight :3

 

Pertama-tama, aku lagi-lagi mau minta maaf ke kalian soal keterlambatan balasin komentar di chapter kemarin. Maaf ya aku gak langsung balasin semua komentar dalam satu malam (/-\)

Aku bersyukur dan sangat berterimakasih banget, komen yang kalian kasih ke aku sangat melampaui harapan aku… Aku seneng melihat respon kalian, betapa pedulinya kalian sama fic ini… Aku gak tau deh pokoknya harus berterimakasih seperti apa lagi sama kalian. Thanks buat kalian yang udah jadiin fic ini sebagai salah satu fic kesukaan kalian, setia menunggu update chapternya, dan mengingat aku terus sebagai author favorit ♥

 

Buat komen, aku terus menyicil buat balesin semuanya setiap hari yaa ~

Dan mengenai komentar juga, sebelum posting ini aku sudah menyelesaikan balasan komentar terbaru untuk semua chapter. Dari mulai Teaser s.d 6th Chapter. Jadi bagi yang belum baca balesan aku, silahkan kalian cek J

Kemarin aku baru sadar ada beberapa komentar yang tenggelam di 4th Chapter. Maaf aku baru tahu, aku baru liat semuanya… Tapi aku udah balesin juga kok. Pokoknya sebagai author yang baik, aku akan berusaha untuk terus menghargai semua pembacaku yang sudah menghargai aku jugaaa 😉

 

Oiya, ada ralat info ._____.

Kemarin di twitter aku menyebarkan clue soal kedatangan cast baru di chapter ini. Maaf ya aku ralat .__.

Si cast baru itu gak jadi muncul di 7th Chapter. Alasannya?

Di bagian ini tadinya dia mau aku munculin sebentar aja, lewat dialognya Sehun-Minhee. Tapi menurut aku biar sekalian aku reveal gitu tokoh dia, jadinya nama dia gak jadi aku sebutin di sini. Maaf yaa (/-\)

Nanti kalian bakal tahu deh siapa dia, pokoknya mari kita tunggu dulu 😉

 

Oke deh, sekian dulu cuap-cuap aku di chapter ini ~

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

 

Have a nice weekend, guys! 😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya 😀 mihihi ~

 

 

shineshen

 

799 thoughts on “Secret Darling | 7th Chapter

  1. Minchan suka sama kai?? rada kaget sii, soalnya minchan gk pernah diceritain di situ kalo dia ada perasaan ato deket sama kai. tapi, aku tetep dukung 2 pasangan itu kok.. hehe

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s