My Cool Boy

mcb-cover

My Cool Boy

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Oh Sehun
  • Lee Hana (OC)

Rating : PG-13

Genre : Romance, School-Life, Fluff

Length : Drabble, <2000 W

Note : Sehun isn’t mine, but this story is mine! Do not copycat without my permission. Enjoy!

 

Sehun adalah lelaki yang berwajah dingin.

Tapi, hanya di depan Hana, image dingin seorang Oh Sehun, luntur.

***

Waktu pulang sekolah telah tiba. Semua murid menghambur keluar kelas. Beberapa tampak bergegas dan tidak sengaja menabrak tubuh Hana –yang baru saja keluar dari kelasnya, untung saja dia tidak jatuh. Walaupun sedikit kesal, tapi ya sudahlah. Tidak ada gunanya mengomel. Mungkin mereka yang bergegas punya urusan penting yang harus segera mereka selesaikan.

Hana keluar dari kelasnya dengan langkah terseret. Ya, dia sungguh menyeret kakinya untuk berjalan. Cidera kecil di kakinya membuat gadis berambut panjang itu tidak bisa melangkahkan kakinya dengan benar.

Kelas dua belas adalah kelas yang berada di paling ujung. Hana harus berjuang dengan keadaan kakinya yang seperti itu. Sekarang dia berada di barisan paling belakang dari teman-temannya karena langkahnya yang pelan sekali.

Koridor mulai sepi.

Dalam jarak beberapa meter dari tempat Hana, ada seorang lelaki betubuh tinggi, tampan dan punya senyum menawan –orang yang tidak mengenalnya mungkin menyimpulkan dia adalah lelaki dingin.

Dia bersandar di dinding koridor dengan kedua tangan yang berada di saku celana dan kepala yang menunduk.

Sehunku!

Sehun adalah siswa Ilmu Sosial kelas XII. Dan seorang gadis yang sedang sulit berjalan itu adalah kekasihnya –Hana.

Hana tersenyum saat melihat keberadaan Sehun di sana. Lelaki itu masih sabar menunggunya meskipun dia sangat lamban. Ugh, Hana bahkan merasa kecepatan jalannya persis seperti siput.

Sehun mendongakkan kepalanya saat mendengar langkah kaki yang kian mendekat. Dia tersenyum pada gadis itu lantas menghampirinya.

“Kukira kau akan meninggalkanku,” ucap Hana saat Sehun sudah berada tepat di depannya.

“Mana mungkin aku meninggalkanmu sementara sekarang kecepatan jalanmu seperti siput. Kau bisa sampai rumah saat matahari terbenam nanti. Ck Hana, biar kutebak, kau tidak meminum obatmu lagi kan. Dasar keras kepala.”

Hana mengerucutkan bibirnya. Untunglah tidak ada orang lain di sekitar mereka. Karena Hana pasti akan merasa malu. Sehun mengomelinya. Dan ini menyebalkan.

“Nah, kupikir karena cara jalanku seperti ini kau akan meninggalkanku pulang.” Hana baru akan melewati Sehun, tapi dia tidak bisa melakukannya. Kakinya terasa sakit.

“Tidak mungkin. Kau kan pacarku!” Sehun berdiri di samping Hana. Dia mengarahkan satu tangan Hana untuk melingkar di bahunya. Dan Hana dengan susah payah melakukan hal itu karena tinggi badan Sehun sangat menyebalkan bagi seorang Hana.

Sebenarnya Hana ingin menolak bantuan Sehun, tapi rasa sakit di kakinya sama sekali tidak mengizinkan Hana untuk melakukan hal yang demikian.

Mereka berjalan beriringan –dengan tangan Hana merangkul bahu Sehun. Kali ini Hana sedikit lebih mudah berjalan. Dan hangat tubuh lelaki itu membawa kenyamanan tersendiri padanya.

Mereka berangkat dan pulang sekolah bersama hanya dengan berjalan kaki karena jarak rumah dan sekolah tidaklah jauh –sekitar beberapa blok saja.

Awalnya Sehun tidak menaruh perhatian pada gadis manapun di sekolahnya (Pernah sekali pada seorang gadis, tapi gadis itu keburu punya pacar). Dan sekarang Sehun terkesan cuek untuk masalah perempuan. Sampai dia bertemu dengan Hana. Bukan, bukan, maksudku sampai Sehun mengenal gadis yang bernama Hana.

Suatu siang di waktu istirahat. Sehun ke kantin untuk mengisi perutnya yang berontak. Dia memutuskan untuk membeli burger, kentang goreng dan cola. Nampannya tampak penuh, hingga Sehun harus berjalan dengan hati-hati.

“Tidak Baek, kubilang tidak.”

Please.”

“Kau baru sembuh kemarin! Jadi jawabanku tetap tidak.”

Kuharap mereka tidak menabrak tubuhku, ucap Sehun dalam hati.

Sehun mengenal dua orang yang baru saja menginjakkan kakinya di kantin –gadis dan lelaki yang berada di kelas yang sama, Ilmu Alam. Semua orang sudah tahu apa hubungan mereka berdua. Ya, bisa dibilang mereka pasangan termanis dengan cara mereka sendiri dan yang baru saja memberikan pernyataan penolakan pada lelaki yang disebut Baek –atau bernama Byun Baekhyun –adalah pacarnya, Minri (gadis yang pernah membuat Sehun tertarik).

Mereka sedang berdebat. Sehun tahu itu.

“Kumohon, hanya satu mangkuk es krim untuk hari ini.” Baekhyun tampak memberikan tatapan anak anjing, pada gadisnya yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada. Dan Baekhyun mengguncang tubuh gadis itu pelan, seperti merengek minta dibelikan permen pada ibunya.

Minri meneruskan langkahnya ke konter makanan. Lalu Baekhyun mengekornya. Berdebatan mereka masih berlangsung. Bahkan ketika mereka berdua melewati Sehun. Sehun bernafas lega saat kedua orang itu melewatinya tanpa menyentuh tubuhnya sedikitpun. Sehun meneruskan langkahnya, berniat menempati salah satu meja yang kosong.

Namun baru beberapa langkah yang dia ambil–

“Terserah kau saja Baek! Aku kehilangan selera makan!”

–seseorang menabraknya dari belakang, membuat cola di nampannya roboh dengan arah mulut gelas pada tubuh Sehun dan tentu saja seketika mengotori seragamnya.

Gadis itu –Minri, melewati Sehun begitu saja, keluar dari area kantin dengan langkah yang sedikit dihentakkan. Sehun pikir dia tidak menyadari bahwa dia telah membuat cola milik Sehun tumpah.

Baekhyun baru akan mengejar Minri, tapi dia berhenti di depan Sehun dengan wajah terkejutnya.

“Sehun-ssi, apa ini karena Minri tadi? Maafkan dia ya, dan maaf aku harus bergegas.” Baekhyun membungkuk beberapa kali pada Sehun yang hanya bisa memasang wajah datar.

“Ya, Baek. Tidak apa-apa. Lebih baik kau segera minta maaf pada pacarmu.”

Baekhyun membungkuk sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan area kantin. Sehun menggelengkan kepalanya. Oh, urusan perutnya lebih penting sekarang. Dia lapar. Dan dia harus memesan cola lagi.

“Sehun-ssi. Kau Sehun –ketua kelas dua belas Ilmu Sosial 2 bukan?” tanya seorang gadis yang kebetulan berada di barisan antri di belakang Sehun.

“Benar. Ada apa?” Sehun membalikkan badannya, menghadap gadis itu.

“Aku selaku sekertaris osis, ingin menyampaikan padamu bahwa kau harus menyerahkan data anggota kelasmu yang akan mengikuti prom.”

Sehun menurunkan pandangannya, sekilas membaca name tag gadis itu.

Lee Hana. Sehun mengucapkannya dalam hati.

“Ya, nanti akan kuserahkan pada osis. Terimakasih –”

“Hana, namaku Hana.” Gadis itu berucap sembari tersenyum. Wajahnya cerdas dan senyumnya manis.

“Senang berkenalan denganmu.” Sehun merutuk dirinya yang sialnya tidak bisa sekedar mengulurkan tangan sebagai tanda resmi perkenalan mereka.

“Untukmu.” Hana meletakkan bungkusan tisu miliknya di nampan Sehun. Hana melihat banyak noda yang sepertinya baru di baju Sehun. Dia hanya bermaksud untuk membantu.

“Trims.” Sehun balas tersenyum pendek. “Ingin pergi Prom denganku nanti?” tanya Sehun tiba-tiba.

“Maaf?” Hana tampak mengerutkan keningnya.

“Prom. Kau bersamaku.” Ucap Sehun.

Gadis itu tertawa pelan sembari menutup mulutnya. Mereka baru kenalan –walaupun mereka sudah dua tahun lebih berada di sekolah yang sama. Dan tiba-tiba Sehun mengajaknya pergi ke prom bersama. Menakjubkan.

“Aku serius.”

Dan selanjutnya Sehun menanyakan nomer ponsel gadis itu. Kemudian mereka berteman. Tidak ada yang bisa menghentikan Sehun bahkan rasa gengsinya sendiri.

Karena sepertinya dia menyukai gadis bernama Lee Hana itu.

 

Dua bulan sudah berlalu. Dan sebulan sudah mereka menjalin hubungan. Singkat, tapi merasa begitu dekat.

“Sudah minum obat, belum?” tanya Sehun saat ia dan Hana berada di trotoar. Beberapa pasang mata tampak memperhatikan mereka berdua.

“Belum –atau mungkin tidak.” Ucap gadis itu terkesan acuh. Dia terus mempercepat langkah kakinya. Beberapa kali ringisan lolos dibibirnya, membuat Sehun yakin gadis itu sedang menahan sakitnya. Dasar, ingin berlagak kuat di depanku, ujar Sehun menggerutu dalam hati.

“Kau tidak ingin sembuh ya.”

Sehun memelankan langkahnya, dan mau tak mau Hana juga harus mengimbangi langkah Sehun. Padahal gadis itu ingin sekali segera sampai rumahnya.

“Tentu saja aku ingin!” Hana melepaskan rangkulannya pada Sehun, lalu berhenti.

“Makanya minum obatmu.” Sehun menatap tajam gadis itu. “Kita istirahat sebentar.” Sambungnya. Memutuskan untuk berhenti di depan mini market.

Sehun bisa jauh lebih cerewet dari ibunya dalam keadaan seperti ini dimana Hana seolah-olah telah menyakiti dirinya sendiri. Padahal kan dia juga tidak ingin ini terjadi.

Hana duduk di kursi panjang yang berada di depan mini market sembari melengos. Sementara Sehun melesat ke dalam mini market, kemudian keluar dengan membawa dua kaleng minuman dingin. Lalu memberikan satu pada Hana.

“Jangan seperti ini lagi. Kau membuatku khawatir tahu.”

“Aku cuma terjatuh dari sepeda, Sehun.”

“Dan membuat kakimu cidera. Apa-apaan itu.”

Ya, Hana hanya terjatuh dari sepeda. Sore itu dia memutuskan untuk bersepeda sendirian, menghirup sejuknya angin sore. Namun, sebuah lobang besar berada di depannya dan dia tidak sempat mengerem. Akhirnya dia jatuh dan kaki malangnya terantuk batu dengan keras. Dia bahkan sampai menelpon Sehun agar bisa pulang. Hana merasa begitu ceroboh kala itu. Sudah dua hari berlalu, kakinya masih terasa sakit.

Hana meneguk minuman kalengnya, lantas menyapu keringat di dahinya. Sehun menghabiskan minumannya sampai tandas hanya dalam satu tegukan, kemudian lelaki itu meremas kalengnya sebelum melemparkan ke tempat sampah terdekat dengan gaya pemain basket melemparkan bola. Dan masuk.

Sehun jongkok di depan Hana, membuat gadis itu terkesiap. Dan yang lebih mengejutkan adalah ketika Sehun melepaskan sepatu Hana.

“Yak, apa-apaan kau?” protes Hana.

Sehun tidak bicaca apapun tapi dia menghadapkan punggungnya pada Hana.

“Naiklah. Aku akan menggendongmu sampai rumah.”

“Tidak, nanti kalau kau sakit punggung bagaimana?”

“Naik atau kutinggal.” Sehun bicara dengan nada mengancam. Oh tidak, dia sungguh akan tiba di rumah saat matahari terbenam kalau Sehun meninggalkannya.

“Baik, baik. Dasar cerewet.”

Hana naik ke punggung Sehun, dengan kedua tangan yang memegangi sepatunya –atas suruhan Sehun. Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Sehun. Mereka sedikit mencuri perhatian. Tapi Sehun tidak peduli.

Sehun mengambil jalan pintas, melewati jalan setapak di antara gedung tinggi.

Hana merasa nyaman berada di punggung Sehun. Dia suka aroma tubuh lelaki itu. Saking nyamannya dia bahkan menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.

Dia tidak sadar bahwa deru nafasnya itu menyentuh leher sensitif Sehun dan itu tentu saja membuat Sehun geli.

“Sehun, aku berat ya? Lebih baik kau turunkan aku sekarang.” Hana tidak tega dengan wajah Sehun yang tampak memerah. Selain karena terik matahari, lelaki itu pasti sudah lelah mengingat beberapa blok sudah mereka lewati.

“Sama sekali tidak. Kau tidak pernah bercermin ya? Kau itu kurus tahu.” Omel Sehun, tapi tetap mempertahankan wajah datarnya.

Hana memukul bahu Sehun. “Iya aku tahu, kok.”

“Nah, makanya diam saja! Kecuali kau benar-benar ingin aku turunkan disini.”

Di jalan yang sepi ini? Tidak Sehun, terimakasih.

Hana bungkam. Keheningan meliputi mereka berdua.

“Hana kesini sebentar.” Sehun menghentikan langkahnya, lalu menghadapkan kepalanya ke kanan. Hana pikir Sehun ingin berbisik atau semacamnya, jadi Hana memajukan wajahnya di bahu kanan Sehun.

TAPI, tapi Sehun malah… menciumnya. Oh, bibirnya yang malang.

Hana membulatkan matanya. Dia berpikir bagaimana kalau nanti ada orang yang melihat mereka melakukan hal yang tidak bermoral itu. Dia pasti malu sekali. Bisa-bisanya Sehun menciumnya dalam keadaan seperti ini, di saat Hana masih berada di punggung Sehun. Hana ingin melepaskan tautan bibirnya, tapi Sehun terus memagut bibirnya, membuat Hana mau tidak mau ikut terbawa suasana.

“Kau menciumku, Sehun.” Hana merasa wajahnya menghangat. Seolah terbakar di bawah mentari dan efek ciuman. Sehun sialan!

“Aku mengisi energiku.”

Sehun kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah tanpa dosa. Diam-diam Hana tersenyum. Mungkin kakinya yang sakit bukan sepenuhnya adalah masalah karena Sehun –pacarnya yang keren itu tentu akan setia membantunya kapanpun dia butuh bantuan.

Sehun berhenti di depan rumah Hana. Dia menurunkan gadis itu dengan pelan. Sehun mengusak kepala gadis itu dengan pelan dan membenarkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Hana melongo.

Jangan berlaku manis seperti ini Sehun! Kau sedang berada di depan rumahku, tahu! Bagaimana kalau Oppa melihat kita? Aku bisa digoda habis-habisan.

“Istirahatlah. Dan jangan lupa minum obatmu. Besok aku akan menjemputmu jam tujuh dan kau harus sudah siap. Mengerti?”

“Ya, tuan Oh. Baiklah. Baiklah. Kau cerewet sekali hari ini, ya.”

“Kau yang membuatku seperti ini, tahu.” Sehun mengerucutkan bibirnya lalu berbalik tapi Hana kembali memanggilnya.

Cup!

Dan melayangkan satu kecupan di pipi Sehun, membuat lelaki tinggi itu tersenyum lebar. Ck, gadisnya bisa seperti ini juga ternyata.

“Terimakasih. Terimakasih telah menjagaku dengan baik,” ucap Hana –menekan rasa gengsinya ke level terendah.

“Karena kau adalah gadis bernama Hana –yang artinya satu –yang berhasil membuatku menyerahkan hatiku secara cuma-cuma.”

Cheesy, ah.”

“Aku serius…” Sehun mencubit pelan pipi Hana. “Cepatlah sembuh. Jangan buat dirimu terluka lagi. Aku pulang ya..”

“Ya, hati-hati di jalan!”

Hana melambaikan tangannya pada Sehun, bahkan ketika lelaki itu sudah membalikkan badannya dan punggungnya bergerak semakin menjauh.

Hana tidak bisa menahan senyumnya. Sehun memang terkadang menyebalkan karena suka mengomelinya, tapi dia suka bagian itu. Hanya di depan Hana, image dingin seorang Oh Sehun luntur.

Mungkin dia tidak perlu minum obat hari ini. Dia boleh berharap besok Sehun akan menggendongnya lagi kan?

*END*

FF ini didedikasikan untuk Ratriana.

Yeah! Akhirnya jadi… maaf ya kalau tidak seperti apa yang kamu inginkan. ^o^/ Semoga suka!!

Seriusan ya setelah MDA tamat, aku malah kekeringan ide buat baekhyun-minri:/, eh tapi ide macam ini muncul, yaudah buat menuhin req.

tapi aku usahakan ada FF (walopun drabble doang) di ulang tahun Baekkie nanti, yehet!

(mungkin aku perlu bertapa di goa kali ya-_-) dan yaaa diriku masih sakitati sama dramus si bekkie *eh kok curhat*

ngakak dulu deh😄 Kenapa tiba-tiba cecunguk bedua itu muncul (r: Minri-Baekhyun)? *dijitak* Mwahaha mereka numpang lewat.

Makasih sudah baca. Kritik dan saran terbuka di kotak komentar.

Well, THANKS❤

©Charismagirl, 2014.

174 thoughts on “My Cool Boy

  1. Ya ampun sehunn , ini lho hun ? Kok cheessy banget sangat bukan oh sehun sekali , pengen deh punya pacar yg kaya sehun kalo bisa sehun aja dehh wkwk , manis banget sihh isi adegan cium-cium an aaaaa sehunnn mengombang ambingkan perasaan gue

  2. ff nya bikin greget dihh romantis banget masa :3 kerenn thorr, singkat, padat, jelas ‘*’ /? :3 feel nya juga dapet banget.berasa jadi hana /? . wkwkwk… tanggung jawab thor,aku senyum2 trus nih, baca ff nya :3 kkkkk~ fighting thor🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s