(Part 3) You Don’t Know everything [freelance]

Gambar

Tittle                      : (Part 3) You Don’t Know everything

Author                  : Hwang Eun Hee (@AnggiNindyas)

Main Cast            : Byun Baekhyun, Shim Chaesa, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Kim Suho, Xi Luhan

Support cast       : You can find by your self

Gendre                : Romance, drama, school life, comedy

Rating                   : Teen

Length                  : Sequel

 

                Chaesa terlonjak kaget. Sebuah lollipop besar berwarna warni sudah ada didepan wajah Chaesa. kedua matanya membulat sempurna.

“Annyeong!” Baekhyun, ya tidak salah lagi, mana mungkin jika itu adalah orang lain. Chaesa mendelik sebal. Baekhyun menyodorkan permen lollipop itu kearah Chaesa. Kedua matanya seolah memaksa dengan senyum dibibirnya.

Chaesa mengambil permen itu dengan malas. Baekhyun semakin tersenyum lebar. Dia mengamit tangan Chaesa lalu berjalan beriringan dikoridor sekolah.

Beberapa orang menatapnya, kaget, benci, dan semua tatapan ada disana, kecuali tatapan bahagia. Chaesa tidak peduli. Bahkan jika mereka akan membully Chaesa ia tidak perduli.

Semalam ia berfikir, baiklah dia memang salah, salah karena telah mencuri primadona sekolah dengan seenaknya, walaupun pada kenyataannya hatinya menolak keras.

Baekhyun menengok kearah Chaesa. “Apa tidurmu semalam nyenyak?” Chaesa menghela nafas pelan. Sebenarnya ia malas menanggapi ucapan Baekhyun barusan, namun genggaman tangannya makin erat. Menandakan, dia akan membuka kartu sekarang jika Chaesa tidak juga membuka mulutnya.

“Eoh” ucap Chaesa sambil mengangguk singkat. Chaesa tau, bukan jawaban itu yang Baekhyun mau. Ia tahu jika Baekhyun ingin memamerkan kemesraan nya dengan Chaesa. tapi sungguh, dia tidak suka cara seperti ini.

Baekhyun dan Chaesa berhenti didepan kelas Chaesa. Chaesa berjalan masuk namun segera ia tarik kembali tangan Chaesa.

“Kau belum memberikan ku nomor telfonmu”

***

Masih pagi, tapi tiba tiba hujan deras melanda kota Seoul. Kyungsoo terdiam sambil memadang keluar kaca. Tatapannya kosong. Ia menatap sebuah rumah yang tidak begitu mewah, namun memiliki sebuah halaman hijau yang luas.

Otak Kyungsoo tiba tiba mengalami sebuah flash back. Sama seperti saat ini, ketika itu hujan deras tengah melanda tempat ini, namun bedanya, dulu sebuah kebahagiaan menyelimuti Kyungsoo.

From     : Kyungsoo

To           : Hyesung

Hujan, jangan keluar sebelum mendengar bunyi ketukan pintu. Ara!

Kyungsoo terkekeh kecil membaca pesan yang ia buat. Baiklah, dia menjadi sedikit overprotective sekarang.

Kyungsoo membuka pintu mobil. Ia membuka payung berwarna coklat besar, sengaja agar bisa melindugi dirinya, dan Hyengsung. Kyungsoo berjalan, ia membuka pintu pagar yang hanya setinggi pinggang orang dewasa. Satu tangan ia masukkan kedalam saku celananya.

Kyungsoo berhenti didepan sebuah pintu berwarna coklat tua. Sebuah senyum mengembang dibibir Kyungsoo. Ia mengetukkan pintu rumah itu beberapa kali. Tidak lama, sosok wanita dengan rambut sebahu keluar rumah dengan wajah kaget.

“Jadi ini maksud pesan mu itu?” Kyungsoo tidak menjawab, ia hanya menggerakkan tangannya, menggandeng satu tangan Hyesung.

“Kau tidak bisa menolakku untuk datang bersama” Kyungsoo memeluk bahu Hyesung erat. Membawa Hyesung ikut berjalan disampingnya berdamping. Entah apa yang dirasa Hyesung sekarang. Tapi satu yang jelas Kyungsoo tau, Hyengsung gugup.

Sakit, benar benar sakit jika mengingat itu. Tidak, mengingat apapun tentang wanita itu benar benar sakit. Kyungsoo menenggelamkan wajahnya pada stir kemudi. Menarik nafasnya dalam dalam lalu membuangnya pelan. Dia tahu, apapun yang terjadi, dia tidak dapat pergi kemasa lalu dan mengubah takdir nya.

Kyungsoo menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah itu.

Tanpa Kyungsoo sadari, seorang wanita berambut sebahu terdiam sejak tadi, sejak Kyungsoo memberhentikan mobilnya didepan rumahnya. Rasa sesak itu kembali muncul. Ia menutup kedua mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Takut tangis nya pecah, takut sampai kakaknya mendengarnya dan mencemaskannya.

Melihat mobil Kyungsoo telah pergi, Hyesung tumbang. Bagaimana pun, ia sangat merindukan Kyungsoo, merindukan setiap sentuhan hangat pria itu, mendengar suaranya, dan merindukan tatapan teduh darinya.

Tangis Hyesung pecah. Namun tidak bersuara. Dia lemah, sangat.

***

Xiumin menatap kedua mata Chaesa cemas. Dia menyelusuri setiap lekuk tubuh Chaesa. Baik baik saja. Xiumin menghembuskan nafasnya lega.

Chaesa mengangkat kedua alis nya bingung. Kenapa Xiumin bersikap seaneh ini. Xiumin duduk didepan Chaesa. kedua matanya menatap Chaesa dengan tatapan serius. Chaesa mengerti, ada suatu hal yang perlu Xiumin katakan pada Chaesa.

“Jangan pergi ke kamar mandi sendiri, jangan keperpustakaan sendiri, jangan ke kamar mandi sendiri, jangan ke kolam renang sekolah sendiri. Pokoknya, kau tidak boleh kemana mana sendiri. Kau harus bersama ku atau kekasihmu Baekhyun. Ara?!”

Chaesa mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Bingung kaget, dan semacamnya.

“Berapa lama aku harus seperti itu?”

Xiumin mengerutkan kening, ia mencoba berfikir sejenak. “Satu minggu, atau mungkin satu bulan. Pokoknya, sampai para wanita itu lelah”

Chaesa tersentak kaget. Bagaimana bisa dia tidak datang keperpustakaan selama sebulan sendiri? Lalu bagaimana jika dia mau ke toilet, ayolah sekarang dia ada diangkatan tiga, pulang pasti lebih larut malam, dia pasti perlu ke kamar mandi baik itu sekali atau dua kali.

“Aku tidak bisa Xiumin” Xiumin mendelik sebal.

“Ayolah Chaesa, aku sangat menghawatirkan mu, aku takut kau sampai terluka. Aku mohon, dengarkan aku satu kali saja”

“Aku tidak takut Xiumin”

Sungguh Chaesa tidak takut, biarpun dia harus dikunci dikamar mandi, disiram menggunakan air, menamparnya, melemparnya dengan telur busuk, bahkan sampai menodongnya dengan pistol. Chaesa tidak takut.

“Chaesa ya!” kini suara memelas Xiumin menghilang. Yang ada suara tegas nya yang baru pertama kali ia dengar. Chaesa diam, baiklah, untuk pertama kalinya dia akan mendengarkan kata Xiumin. Selalu bersama Xiumin kan itu akan mudah.

“Baiklah”

***

Kyumi menatap buku nya malas. Tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk mencapai buku yang berada dirak paling tinggi. Sial, dia merutuki tulang tulang nya yang tidak mau menambah tinggi badannya.

Ia merutuki songsaenim yang telah menyuruhnya meminjam buku itu. Ia merutuki seseorang yang membuat rak itu, kenapa ia membuat rak terlalu tinggi, seharusnya dia melakukan observasi dulu, berapa rata rata tinggi siswa siswi disekolah ini. Kyumi merutuki pembuat buku, kenapa dia harus membuat buku itu. Menyusahkan saja. Kalau saja buku itu tidak ada, Kyumi pasti tidak akan diperintah untuk mengambil buku itu. Kyumi merutuki perpustakaan sekolah ini, harusnya mereka membantu Kyumi, bukan malah membuat Kyumi kesulitan seperti ini. Dan juga Kyumi merutuki Kyungsoo, kenapa disaat seperti ini Kyungsoo tidak ada. Pria macam apa dia?!

Kyumi melirik kesekitarnya. Dilihatnya Sehun yang berdiri tidak jauh darinya. Dia tengah membaca sebuah buku dengan tenang. Ck, Kyumi berdecak kesal. Ia juga merutuki Sehun. Kenapa dia tidak membantu Kyumi saat Kyumi mengalami kesulitan?

Kyumi berkacak pinggang kearah Sehun. “Ya! Sunbae, kau tidak lihat aku sedang kesulitan, apa matamu itu terlalu kecil untuk melihat sekeliling?”

Sehun menatap Kyumi dengan tatapan bingung sekaligus kesal. Mana bisa ada junior nya yang berkata seperti itu.

“Jika kau meminta tolong gunakan bahasa yang formal, ingat aku sunbae mu” Sehun menutup buku nya. Kyumi yang mendengar itu membuka mulutnya tidak percaya.

“Aku sudah memanggilmu sunbae, apa itu tidak cukup” Kyumi menekan kata sunbae dengan sangat jelas.

Sehun melangkah mendekati Kyumi mencoba menggapai buku yang Kyumi inginkan. “Benar kata Kyungsoo kau orang yang keras kepala”

Kyumi memutar matanya kesal. Dia mendorong tubuh Sehun sangat keras. Kalau saja dia tidak berpegangan pada kursi rak disampingnya dia akan jatuh.

“Ya!”

“Tidak usah menolongku untuk mengataiku, aku bisa meminta tolong pada orang lain” Kyumi melangkah melewati Sehun. Ck, anak itu!

***

Ini semua salah Chaesa, salah Chaesa karena menuruti ucapan Xiumin, dan mengiyakan permintaan Xiumin. Jadi nya sekarang, kemanapun Chaesa pergi disana ada Xiumin. Ini gila.

Beberapa kali Chaesa menolak, ada rasa tidak enak dalam hati Chaesa. Bagaimana pun juga Xiumin punya kehidupan sendiri. Jika dia terus mengawasi Chaesa maka apapun yang ingin dia lakukan dia abaikan begitu saja. Sungguh, Chaesa tidak ingin merepotkan siapapun.

Waktu istirahat dimulai. Baiklah, Chaesa memang beruntung masuk ke kelas 3-1. Semua orang disana terlalu individualism, dan tidak peduli pada hal disekitarnya. Setidaknya Xiumin akan sedikit lega. Pikir Chaesa.

Waktu makan siang sudah tiba, sebenarnya yang Chaesa inginkan adalah membaca buku, namun ia tahu Xiumin pasti akan ada disampingnya untuk itu. Dan chaesa juga tahu Xiumin pasti sangat lapar sekarang ini.

Xiumin dan Chaesa mengambil nampan lalu diisinya makanan berat. Chaesa berjalan disamping Xiumin. Baiklah ini cukup berlebihan.

Xiumin ingat. Salah satu bullyan yang akan diberikan pada Chaesa adalah kantin. Mungkin ini saat nya?

Xiumin menatap sekeliling, didapatnya wanita yang terus mengamati Chaesa dengan tatapan tajam. Ya, ini saat nya. Wanita itu melangkah cepat kearah Chaesa, saat posisinya tinggal beberapa meter, wanita itu mendorong nampan yang ada ditangannya dengan hingga membuat semua isinya tumpah.seperti sebuah slow motion, ketika makanan itu berjalan kearah Chaesa, Xiumin segera menarik tangan Chaesa menjauh dari tempat asalnya.

Chaesa cukup kaget karena tindakan tiba tiba Xiumin.

PRANG!!!

Suara piring pecah menggema keseluruh kantin. Seluruh penghuninya menatap kaget kea rah sumber suara. Si pembuat onar menatap kaget. Ternyata dia gagal menjalankan misinya.

Chaesa terdiam. Sesungguhnya dia sangat kaget. Berarti ucapan Xiumin tadi benar, namun dia masih menampakan wajah datarnya.

“Lihat kan”

***

Luhan menjatuhkan dirinya diatas sofa. Sungguh ia lelah dengan kepura puraan yang tengah ia hadapi. Ia lelah harus belajar bisnis, ia lelah terus mengikuti hal hal yang begitu tidak ia mengerti.bukan itu yang Luhan inginkan, dia hanya ingin sebuah kebebasan.

“Kenapa lagi?” Luhan membuka sebelah matanya. Dilihatnya Kyungsoo tengah menatapanya dengan tatapan sedikit khawatir mungkin. Namun tidak bisa dipungkiri, kedua mata Kyungsoo tidak dapat berbohong, dia juga sedang mengalami masa sulit sekarang ini.

“Kau yang harusnya bertanya seperti itu pada dirimu sendiri” Luhan kembali menutup kedua matanya.

Kyungsoo terdiam. Dirinya sendiri?

“Ada apa dengan mu, kau terlihat buruk sekarang”

“Aku, entahlah”

***

Waktu sudah menunjukakan pukul satu dini hari. Sebenarnya hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Mulai dari kejadian di kantin sekolah. Namun itu merupakan sebuah permulaan.

Mungkin Chaesa harus menitikkan air mata terharu karena para hatersnya yang bersusah payah membuat nya menderita. Mulai dari tadi ketika dikantin, lalu sampai ada orang yang rela berdiam diri diatas pohon lama sambil membawa seember air. Lalu siap menumpahkannya ketika Chaesa ada disekitar sana.

Atau bersiap dengan tangga di perpustakaan, bersiap akan menjatuhkan buku buku besar ketika Chaesa ada dibawah mereka. Atau ketika mereka bersusah payah membuat Chaesa pergi kekamar mandi.

Beruntung ada Xiumin yang selalu bersama nya. Namun saat ini, mungkin Baekhyun yang akan menjaganya. Mungkin.

Chaesa menatap ponselnya yang baru saja mendapat pesan dari Baekhyun.

Jangan kemana mana, kita pulang bersama ara!

Chaesa menghela nafas pelan. Ia memandang lokernya datar. Tidak lama, ia mendengar suara Baekhyun yang berlari kearahnya.

Seketika tubuh Baekhyun menegang. Kedua matanya melotot kaget. Bagaimana bisa ada yang melakuakan hal seperti ini?

“I-ini karena?” Baekhyun gugup, ia bertanya sambil menunjuk loker Chaesa.

Loker yang sudah dipenuhi oleh coretan dengan menggunakan bahasa sarkatis. Jika kau membukanya, maka bau busuk akan memnuhi indra penciuman mu. Ada beberapa bangkai tikus dan pecahan telur busuk disana.

“Mu, ini semua karena mu” ucap Chaesa masih dengan tatapan datar. Baekhyun mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Kaget. Ulahnya? Memang apa yang telah dia buat?

“Karena kau berpacaran dengan ku, hidupku sudah tidak sedamai dulu” Chaesa membuang nafasnya pelan lalu berjalan pergi meninggalkan Baekhyun.

Melihat Chaesa yang tiba tiba pergi seperti itu memebuat  Baekhyun ikut mensejajarkan langkahnya. Bagaimanapun juga, dia telah mengacaukan hidup seseorang. Lalu Baekhyun akan berhenti? Jangan bercanda, ini baru saja dimulai.

“Mianhae, jongmal! Aku tidak tahu akan jadi seperti ini”

“Sudahlah, semuanya sudah terjadi kan” Chaesa masih menatap datar. Tidak ada emosi dalam matanya. Tidak ada rasa takut dalam matanya.

Aneh, sebenarnya kenapa dengan wanita dihadapannya ini?

Baekhyun mendengar suara seorang wanita dan seorang pria yang tengah tertawa. Baiklah, sepertinya Baekhyun begitu kenal dengan suara tawa itu.

Benar, itu Jung Hyemi yang tengah bergelayut manja ditangan Kris. Mereka sedang menyombongkan ke romantisan mereka?

Baekhyun menghentikan langkah Chaesa. Chaesa menatap Baekhyun dengan tatapan bertanya. Sebuah senyum manis terlukis disana. Dia mengangkat tangannya lalu membenarkan rambut Chaesa yang sebenarnya selalu rapi.

“Rambutmu, biar aku yang benarkan” Chaesa diam, saat nya berakting?

Baekhyun sedikit memajukan tubuhnya. Kedua mata Chaesa melebar. Kaget, bagaimanapun Chaesa tidak dapat mengkontrol wajahnya. Baekhyun akan, menciumnya?

Tidak, Baekhyun memajukan bibirnya pada puncak kepala Chaesa. dia meniupkan rambut Chaesa yang sebenarnya tidak ada apa apa.

Tapi sungguh, perlakuan Baekhyun tadi membuatt dada Chaesa sesak. Bagaimana pun, sedekat apapun dia dengan Xiumin, Xiumin tidak pernah melakukan hal itu. Dia hanya berani memegang tangan Chaesa, tidak lebih.

“Sudah, kajja” Baekhyun menggandeng tangan Chaesa. Hyemi melihat tingkah Baekhyun barusan. Ia tersenyum kecil. Bagaimana pun juga, bukankah itu bagus?

Baekhyun terdiam didalam mobil. Dia menenggelamkan wajahnya pada stir kemudi. Chaesa sempat melihat Baekhyun sebentar lalu beralih menatap jendela.

“Bukankah kita mau pulang? Aku sudah lelah” Chaesa mendarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menyandarkan kepalanya pada kaca jendela lalu menutup kedua matanya. Ya ia begitu lelah. Lelah dengan semua pikiran pikiran yang memenuhi benaknya.

Lelah karena harus terus berakting bersama Baekhyun, lelah karena Xiumin terus berada didekatnya, lelah karena pada haters nya, juga lelah karena sekolahnya.

***

Sehun Luhan dan Kyungsoo menatap langit kamar Kyungsoo. Mereka semua terdiam, larut dalam pikiran mereka masing masing.

Entah akhir akhir ini Kyungsoo terus memikirkan Hyesung. Masa masa dimana Hyesung datang padanya, ketika Hyesung mampu memikat hatinya, dan ketika Hyesung mencampakkan hatinya. Sungguh rasanya benar benar sakit. Namun entah, hatinya masih mengikat Hyesung.

Luhan menghela nafas. Ia lelah, biarpun dia seorang pria yang sebentar lagi akan menginjak bangku universitas, tapi tetap saja, dia butuh perhatian dan kasih sayang. Masa bodoh dengan cinta toh suatu saat cinta itu akan datang dengan sendirinya kan? Tapi kasih sayang, apa kasih sayang bisa datang dengan sendirinya juga?

Sehun mengerjapkan kedua matanya perlahan. Ia bingung. Baiklah, ia tahu Luhan sangat lelah dengan  tekanan yang orang tua nya berikan. Sehun juga sama dengan Luhan. Namun dia terima, bagaimana pun, ia memang menyukai bisnis. Berbeda dengan Luhan. Namuan masalah cinta? Ia sungguh lelah, apa dia harus terus mempertahankan wanita itu atau melepaskan nya. Bagaimanapun juga, sebentar lagi dia akan mengalami perjodohan. Hah! Itu gila!

“Kyungsoo ah” merasakan namanya dipanggil Kyungsoo bergumam kecil. Sehun menghela nafas pelan lalu membuka mulutnya kecil.

“Apa yang akan terjadi jika mencintai orang yang seharusnya tidak dicintai dan meninggalkan orang yang harus dicintai?”

***

Changmin menatap sosok pria didepannya dengan wajah kaget. Bagaimanapun, jarang sekali ada seseorang yang bertamu kerumah dengan pakaian seragam yang sama seperti yang dipakai Chaesa.

“Kau siapa?” Tanya Changmin hati hati. Pria dihadapannya tersenyum manis. Dia bukan Xiumin, Changmin yakin, pria dihadapannya malah lebih imut dari pada Xiumin.

“Aku pacar Chaesa, apa Chaesa ada dirumah? Aku ingin mengajaknya berangkat bersama”

Changmin terdiam. Mencoba mencerna ucapan Baekhyun barusan. Apa dia bilang? Pacar? Ya tuhan, sejak kapan Chaesa kakaknya yang pendiam mempunyai pacar?

“Ma-masuk” Changmin terdiam diambang pintu. Baekhyun tersenyum lalu masuk perlahan kedalam rumah mewah milik Chaesa. lihatlah, dari luar saja rumah ini sudah begitu terlihat megah apa lagi didalamnya. Seluruh sekolah pasti tidak percaya dengan kekayaan yang keluarga Chaesa miliki. Tapi kenapa Chaesa malah menyembunyikannya?

Seorang wanita dengan perut yang sedikit buncit mengampiri Baekhyun. Sebuah senyum terus mengembang dibibir wanita itu. Baekhyun ingat, itu Shim Chaerin, kakak Chaesa. wah dia memang benar benar manis dan cantik.

“Annyeonghaseo, Byun Baekhyun imnida, saya anak dari Byun Ji Sung pemilik Byun cooperation” kedua manic mata Chaerin membulat seketika. Kaget, senang, dan bahagia.

“Omo, kau anak tuan Byun? Woah, senang sekali kau ada disini. Apa yang sebenarnya membawamu kemari?”

Baekhyun terkekeh kecil “Aku ingin menjemput pacarku, Shim Chaesa”

Baik Chaerin atau pun Changmin langsung terdiam seketika. Kaget. Tentu saja. Pasalnya Chaerin dan Changmin ataupun siapapun dirumah ini tahu, kalau Chaesa hanya punya satu teman yaitu Kim Xiumin. Itu pun dia tidak pernah datang secara langsung kerumah ini.

Lalu sekarang datang seorang pria dengan tiba tiba dan mengatakan jika dia adalah kekasih Chaesa. ini gila.

Tidak lama Chaesa turun dari tangga dengan tenang. Dia menatap Baekhyun yang tengah berhadapan dengan Chaerin eonni, dan dibelakangnya ada adiknya yang baru menginjak kelas 5 sekolah dasar, Shim Changmin.

Chaesa melangkahkan kakinya mendekati Baekhyun dengan tenang, dan wajah datar juga dingin tentunya. Chaerin menatap Chaesa dengan tatapan menuntut.  Ya menuntut penjelasan tentang apa yang baru saja dia dengar. Pacar?

“Ah Chaesa, kajja kita berangkat” Baekhyun meraih tangan Chaesa lalu digenggamnya erat dan hangat. Lagi lagi Chaerin dan Changmin membulat kaget. Bisa bisa kalau mereka melakukan skinship yang lebih jauh mereka akan jantungan dengan cepat.

“Eonni, katakan pada eomma dan appa, aku berangkat ne” Chaesa dan Baekhyun melangkah keluar rumah.

***

“Kenapa kau datang kerumah ku?” Tanya Chaesa perlahan. Baekhyun yang tengah sibuk menyetir menatap Chaesa lalu tersenyum manis.

“Aku menjemput yeojachingku” Baekhyun tersenyum kecil. Ia kembali memfokuskan kedua matanya kejalanan didepannya.

“Kau membuat keluargaku kaget” mendengar ucapan Chaesa Baekhyun tertawa keras.

Ia ingat ketika seorang anak kecil menatapnya kaget. Lalu ia ingat ketika kedua mata Chaerin yang hamper keluar dari kelompak matanya.

Beberapa menit berlangsung sekarang Baekhyun dan Chaesa sudah sampai diparkiran. Namun Chaesa dan Baekhyun tidak kunjung kurun. Baekhyun menahan tangan Chaesa. Digenggamnya tangan Chaesa hangat, entah perlahan Baekhyun meremas tangan Chaesa.

Tatapannya tajam menatap kedepan sana. Chaesa mengikuti arah pandang Baekhyun. Seorang wanita Hyemi dan Kris, baiklah siapa lagi kalau bukan mereka.

Sebenarnya Chaesa tidak mau ambil pusing mengenai Baekhyun, Hyemi dan Kris tapi ia sedikit penasaran sekarang. Sudah beberapa hari ini dirinya selalu menjadi pelampiasan Baekhyun. Apa statusnya sekarang juga merupakan pelampiasan?

“Baekhyun sshi, aku harus ke kelas” ucap Chaesa. Baekhyun yang sadar akan ucapan Chaesa lalu meraih tangan Chaesa.

“Saat makan siang, kita makan bersama”

***

Sehun berlari kecil dengna bola merah besar ditangannya. Sesekali mata sipit Baekhyun tersenyum meremehkan kearah Luhan yang berusaha dengan keras merebut bola dari Sehun. Ayolah, siapa yang tidak tahu bahwa itu tidak sulit, lihat saja dari postur tubuh, Luhan sudah kalah.

Namun seketika senyum meremehkan itu hilang. Chanyeol dengan lihainya mengambil bola dari tangan tangan Sehun dan

Set! Masuk. Wah lihat sekarnag siapa yang tengah tersenyum dengan bangganya. Luhan berjalan keluar lapangan lalu menjatuhkan dirinya. Ia terlihat tengah mengatur nafasya. Bermain bersama dua tiang listrik benar benar membuatnya kewalahan.

Sehun dan Chanyeol berjalan mendekati Luhan. Mereka ikut menjatuhkan dirinya disamping Luhan.

“Lihat, bahkan kau tidak bisa mengalahkan ku dalam permainan ini. Bagaimana bisa kau mengalahkan ayahmu kalau kau seperti ini” Sehun berkata dengan datarnya.

“Aku tidak akan pernah mengalahakan ayahku. Bagaimanapun, dia ayahku, mana bisa aku mengalahkan ayahku?”

Luhan benar. Ayahnya hanya meminta untuk melanjutkan perusahaan hotel miliknya. Kenapa dia harus memberontak?

“Ayolah, aku, Chanyeol, Kyungsoo, Baekhyun dan Suho sudah tahu, kau itu memiliki bakat dibidang seni”

Luhan terkekeh kecil. “Mana mungkin? Kau tidak lihat, nilai setiap ujian seni ku? Aku bahkan selalu mendapat nilai nol”

“Itu karena kau selalu kabur dengan berbagai alasan” kali ini Chanyeol bersuara dengan suara berat khas miliknya.

Luhan mendelik sebal. “Kenapa kalian menyudutkan ku?”

Luhan berjalan kembali masuk kedalam lapang, bergambung dengan para pria kelas nya yang baru saja masuk keruang olah raga.

***

Saat Makan siang tiba, Chaesa berjalan berdampingan bersama dengan Baekhyun. Tangan mereka slaing bertautan. Senyum merekah terlihat jelas dibibir Baekhyun. Namun tidak dengan Chaesa. wanita itu menatap tajam seolah ingin membunuh Chaesa mentah mentah.

Hati Baekhyun mencelos seketika. Seseorang yang duduk ditengah tengah kantin. Siapa lagi kalau bukan Hyemi dan Kris. Lihat kemesraan mereka.

Hyemi bergelayut manja ketangan Kris. Mereka saling menyuapkan makanan makanan. Dan lihat senyum manis menjijikkan dari Hyemi. Baekhyun meremas tangan Chaesa kencang. Bahkan tidak peduli kalau wanita yang tengah berdiri disampingnya begitu kesakitan karena kelakuannya.

Dengan gerakan cepat Baekhyun menarik Chaesa paksa kea rah meja kosong yang tak jauh dari Hyemi dan Kris. Hampir saja Chaesa jatuh, beruntung tuhan masih memberikan nya keseimbangan. Jika tidak, kepala seseorang yang tengah meremas tangannya kuat itu akan habis pada kepalan Chaesa.

“Kau tidak makan?” Tanya Baekhyun. Chaesa mendongak malas. Ia mengacungkan buku tebal yang baru saja ia buka.

“Ini makan siang ku”

Kedua nya terdiam dalam hening. Chaesa larut pada buku yang tengah ia baca. Dan Baekhyun? Tentu saja mengamati Hyemi. Seharusnya seseorang yang disamping Hyemi itu Baekhyun bukan Kris, seharusnya yang Hyemi gelayuti itu bukan Kris tapi Baekhyun. Seharusnya yang membuatnya tersenyum seperti itu Baekhyun bukan kris.

Chaesa terlonjak kaget. Sesuatu yang basah dan dingin terasa dipuncak kepalanya. Ketika dia membalikkan badan,

Pour!!

Wajah Chaesa dibanjur menggunakan air dingin oleh seseorang didepannya. Wanita didepannya yang diketahui dari name tag nya bernama –Hyora- tersenyum kecut kearah Chaesa.

Seketika kantin menjadi hening. Seluruh mata tertuju pada Chaesa dan Hyora. Tatapan sengit terlihat jelas dikedua mata Chaesa. semua mata menebak nebak. Apa yang akan Chaesa lakukan. Menjambak rambut Hyora, menampar pipi Hyora, atau yang lebih bagus lagi menyerang Hyora.

Namun seketika mereka membuka mulutnya kaget. Chaesa pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Hyora tersenyum kecil. Baiklah untuk pertama kalinya dia menang setelah dipermalukan Chaesa di koridor waktu itu.

“Aku ragu kau benar benar mencintai yeojachingumu itu” ucap Hyora cukup sarkatis. Baekhyun bangkit dari duduknya setenang mungkin.

Sebenarnya dia tidak begitu masalah, dia tidak begitu peduli maua Hyora melakukan apapun pada Chaesa. namuan jika Yora melakukan itu pada Hyemi, mungkin akan lain masalahnya.

***

Chaesa berjalan cepat. Baiklah tidak seharusnya dia percaya pada Baekhyun. Lihat, bahkan tadi dia diam saja ketika wanita itu menumpahkan air kewajah Chaesa.

Tiba tiba ia merasa seseorang menarik tangan Chaesa dengan paksa. Chaesa mendongakkan wajahnya, ternyata si tiang listrik bodoh itu lagi. Dia tidak sendiri, dia bersama seorang wanita manja yang berdiri tepat disampingnya.

“Lepaskan aku” ucap Chaesa dingin. Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Chanyeol. Namun pria itu terlalu keras menahan tangannya.

“Apa yang terjadi dengan mu? Mana Baekhyun?” Chaesa menatap tajam Chanyeol.

“Si bodoh itu masih di kantin”

“Mwo? Ya jaga bicaramu” seseorang disamping Chanyeol menatap kesal Chaesa. bagaimana

“Aku tidak punya masalah dengan mu”

Krystal membulatkan kan kedua matanya sempurna. Kaget, dan ugh, dia merasa dijatuhkan sekarang. Chaela melangkah menjauh dari Chanyeol dan Krystal.

Chanyeol menatap punggung Chaesa khawatir. Ia ingin sekali belari mengejar Chaesa, lalu mengusap wajahnya yang basah. Namun Krystal menahan lengan Chanyeol dengan sangat kuat. Wajhanya begitu terlihat marah.

“Kau, jika kau melangkah satu langkah lagi, aku tidak akan pernah mau berbicara lagi dengan mu” ancam Krystal yang sukses membuat Chanyeol terdiam seketika. Chanyeol mendelik matanya kesal.

***

Baekhyun menjatuhkan tubuhnya pada sofa. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelah lebih tiga puluh menit. Seharusnya mereka pulang pukul sepuluh jika mereka masih siswa yang duduk diangkatan dua.

Suho melirk Baekhyun lalu ikut menjatuhkan dirinya disamping Baekhyun. Baekhyun sedikit kaget, merasakan bagian sebelahnya terasa berat. Melihat siapa yang baru saja membuat nya kaget Baekhyun lalu kembali menjatuhkan dirinya disofa.

“Aku dengar Chaesa disirah air oleh Hyora dan kau tidak melakukan apapun. Sebenarnya apa yang terjadi?” ucap Suho membuka pembicaraan. Baekhyun yang mendengar hal itu lalu menghela nafas pelan.

Ia terlihat berfikir keras, menunpukkan kedua tangannya pada kedua pahanya dan saling menautkan kesepuluh jarinya.

“Entahlah, aku tidak tahu”

Mendengar itu kedua mata Suho langsung membulat hebat. Dia menatap Baekhyun dengan tatapan tidak percaya.

“Suho ya, sampai sekarang, sampai aku memiliki kekasih Chaesa, aku masih merasa marah jika Hyemi berada disamping Kris, bermesraan dengan Kris. Sungguh, aku ingin sekali menarik Hyemi dan menggenggam tangannya menjauh dari Kris. Namun aku tidak bisa” jelas Baekhyun panjang lebar.

Lagi lagi kedua mata Suho membulat. Begitu juga dengan mulutnya. “Jangan bilang kau masih mencintai Hyemi, dan menggunakan Chaesa sebagai pelampiasan”

Baekhyun menatap Suho dengan tatapan sendu. Raut wajah lelah nya terlihat jelas. “Entahlah aku tidak tahu”

“Ya! Baekhyun ah, apa yang terjadi dengan dirimu. Kenapa kau jadi seperti ini?!” Suho menggoyang goyangkan kedua bahu Baekhyun histeris. Bagaimanapun juga, Baekhyun sudah melakukan kesalahan kan?

“Jangan menggunakan Chaesa sebagai pelampiasan mu. Kau tahu, dia sangat baik. Tapi kau melakukannya seburuk itu. Tidak apa jika kau tidak mengikatnya, tapi yang kau lakukan kau mengikatnya. Kau menghalangi jalan Chaesa Baekhyun. Kau menghancurkan kehidupan Chaesa. Ya! Apa ini benar Baekhyun? Kau sudah menjadikan Chaesa sebagai kekasihmu kan, jika begitu adanya cobalah untuk mencintai Chaesa”

Tiba tiba Baekhyun merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari, Xiumin?

Apa Chaesa bersamamu? Dia tidak ada bersama ku. Aku hubungi ponselnya tidak bisa. Tiba tiba perasaanku menjadi begitu khawatir.

-TBC-

 

 

36 thoughts on “(Part 3) You Don’t Know everything [freelance]

  1. yapz ! Q stju bgt sma Suho..baek npa jhat bgt ngjadiin Chaesa cm sbg plmpiasn…
    q mw bca lnjtnnya ya…
    authot tetap smangat yaaaaaaa…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s