Secret Darling | 8th Chapter

secret-darling1.

:: SECRET DARLING | 8th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Fluff | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by IraWorlds © High School Graphics ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter

.

“Oh Sehun,” ucap Minhee tiba-tiba. Pandangannya menatap Sehun tanpa ekspresi. “Jangan coba-coba untuk mengalihkan tema. Cepat lanjutkan ceritamu sebelumnya, atau aku akan menghapus semua dokumen skripsimu di laptop. Bukan masalah besar karena aku bahkan mengetahui password yang kau gunakan untuk mengunci benda itu.”

Sehun menatap Minhee sedikit tajam, mungkin merasa terancam juga mendengar celotehan Minhee, atau malah mungkin ia jengah. Laki-laki itu mendengus lalu menopangkan dagunya diatas tangan kanannya yang menyiku.

 

“Kau perempuan pemaksa.” Dengus Sehun.

Minhee memeletkan lidahnya tanpa dosa. “Salahmu. Membuatku penasaran. Harusnya sebelum menikahiku, kau tahu aku lebih banyak. Jangan sekali-kali membuat Shin Minhee terlanjur penasaran karena ia akan terus mengejar apa yang ia inginkan untuk diketahui itu. Oke?”

 

“Baiklah,” Sehun menghela napas. “Kau siap?”

Minhee yang ikut menopangkan dagunya hanya bisa mengerutkan keningnya saat mendengar kata-kata Sehun. “Siap apa?”

“Untuk berjaga-jaga saja,” senyum Sehun. “Jika saja kau merasa bosan.”

“Ayolah cepat ceritakan saja,” keluh Minhee. “Jangan mengulur-ulur waktu, Oh Sehun.”

 

Sehun tak punya pilihan lain, gadis itu menginginkan ia banyak bercerita tentang Kai malam ini. Sehun akui gadis itu cukup tangguh memaksanya bercerita, sekaligus pengingat yang handal. Entahlah, semakin banyak hari yang Sehun habiskan bersamanya, semakin Sehun tahu pula jika Minhee memiliki sifat yang jauh berbeda dengan puluhan gadis lain di luar sana.

 

“Dimulai dari Kang Jiyoung,” Sehun memulai ceritanya.

Minhee merasa tidak mengenal Jiyoung, jadi ia diam untuk mendengarkan cerita Sehun dengan seksama.

Sehun menghela napasnya sesaat lalu melanjutkan kalimatnya, “Jiyoung adalah teman sekelas Kai saat sekolah dasar.”

 

 

.

.

| 8th Chapter |

.

.

 

Minhee membulatkan matanya. “Apa? Sekolah dasar?”

Sehun mengangguk sambil mengulum bibirnya. “Iya. Kau tahu, Kim Kai itu sudah berpacaran dengan teman sekelasnya saat sekolah dasar. Ia mempunyai kisah cinta monyet yang aneh bersama gadis bernama Kang Jiyoung itu.”

“Aneh?”

“Ya.” Jawab Sehun. “Sedikit menggelikan memang. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran orang itu. Ia menjadikan Jiyoung pacarnya setelah Jiyoung datang ke rumahnya pagi-pagi dan menangis. Kau tahu apa yang membuatnya menangis? Karena seorang kakak kelas mereka yang bernama Lee Howon. Dia menyukai Jiyoung, mengejar-ngejar Jiyoung setiap hari, dan pada akhirnya membuat Jiyoung ketakutan. Kai berpacaran dengannya hanya supaya Howon tak lagi menyukai Jiyoung.”

 

Kening Minhee mengerut mendengar cerita itu. “Aneh.”

“Ya, sudah kubilang,” sahut Sehun. “Tapi itu belum seberapa. Masih ada beberapa kisah cinta aneh lain yang Kai alami. Akupun bingung bisa-bisanya orang seperti dia mendapatkan banyak kisah cinta menggelikan seperti itu.”

 

“Selanjutnya, ada Bang Minah.” Lanjut Sehun. “Mereka juga mempunyai kisah cinta yang aneh. Kuakui, saat sekolah menengah, Kai mulai mendapatkan kepopulerannya semenjak bergabung dan menjadi bintang di klub menari. Banyak gadis yang mulai sering membicarakannya setiap ia lewat di depan mereka. Bahkan ada seorang gadis bernama Bae Suzy yang menyukainya. Suzy mendapatkan predikat sebagai salah satu gadis tercantik disana, dan banyak gadis yang mulai pesimis semenjak tahu secara terang-terangan kalau Suzy menyukai Kai. Namun kau tahu, dimana letak hal bodohnya? Kai menolak Suzy.”

Kening Minhee mengerut lagi. “Menolak?”

“Alasan bodohnya adalah karena Kai sebenarnya benar-benar menyukai Jiyoung. Dan Kai menyadarinya setelah ia sudah berbeda sekolah dengan Jiyoung. Kau bisa bayangkan betapa konyolnya itu?” celoteh Sehun. “Dan setelah menolak gadis sempurna seperti Suzy, kau tahu apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia malah berpacaran dengan Minah. Baiklah, Minah memang cantik. Usianya setahun diatas Kai, tapi wajah imutnya tak membuatnya terlihat seperti kakak kelas setiap ia berjalan disamping Kai. Tapi apa kau bisa membayangkan resiko dari merebut calon kekasih dari seorang ketua badan kesiswaan?”

Minhee melongo mendengar nada suara Sehun yang berapi-api. Sepertinya ia terlalu bersemangat dalam menceritakan semua kisah cinta Kai di masa lalu. Memangnya… Bagaimana dengan kisah cintanya sendiri?

 

“Ketua badan kesiswaan itu bernama Lee Junghwan, dan sebenarnya ia sudah lama-lama-lama-lama suka sekali pada Minah. Kau bisa bayangkan saat sosok Kai tiba-tiba hadir dan asal menyerobot langkah Junghwan untuk menjadikan Minah kekasih?” celoteh Sehun lagi. “Junghwan punya penyakit asma. Dan ia nyaris mati—saat mendengar bahwa berita Kai dan Minah berpacaran—andaikan guru konseling tidak cepat-cepat membawanya ke rumah sakit. Bodohnya Kai, ia malah datang menjenguk Junghwan sambil membawa Minah dalam gengaman tangannya.”

 

Minhee tak tahu harus berkata-kata apa. Ia masih melongo, terheran-heran mendengar semua kisah cinta Kai dan masa lalunya yang aneh. Bukan aneh juga sebenarnya, tapi hanya… Kisah itu sangat jauh dari kesan romantis.

Ya. Dan sekarang Minhee bingung, bisa-bisanya Minchan menyukai laki-laki dengan pengalaman cinta yang menggelikan seperti itu.

 

“Lalu…” Sehun terlihat berpikir. Sepertinya ia tengah mencoba mengingat-ingat kembali. Sesaat kemudian ia tersenyum cerah, yang artinya ia sudah mengingat satu lagi dan bersiap menceritakan kisah cinta konyol milik Kai.

“Lalu, Kai pernah berpacaran dengan sahabat adik sepupunya!”

 

“Hah?!” Minhee shcok. “Apa?! Adik sepupu?!”

Aish, sudah kubilang. Sahabatnya. Sahabat adik sepupunya. Dengarkan aku dengan baik sebelum kau mengeluarkan ekspresi berlebihanmu itu, Shin Minhee.” Keluh Sehun. Minhee hanya mengangkat bahunya tak peduli.

“Baiklah. Lanjutkan.”

Sehun mendengus mendengar perintah Minhee.

 

“Namanya—Kim Yoojung!” seru Sehun tertahan, sedikit girang juga karena pada akhirnya ia masih mengingat nama gadis kecil itu. “Ya, Kim Yoojung. Dia adalah sahabat dari adik sepupu Kai yang bernama Kim Sohyun. Coba dengar cerita konyol ini.”

Minhee memperbaiki posisi duduknya, bersiap mendengarkan kisah selanjutnya dari Sehun.

“Konyol sebenarnya. Kai menyukai gadis sekecil itu. Jarak usia mereka 5 tahun. Dan Kai berpacaran dengannya saat tahun awalnya di SMA. Berarti saat itu usia Yoojung masih 10 tahun. Konyol karena gadis itu benar-benar membuat Kai suka padanya dan untuk pertama kalinya berhasil menghapus bayangan tentang Jiyoung. Tak banyak kekonyolan untuk kisah yang satu ini. Mereka tak lama berpacaran. Yoojung yang memutuskan Kai, dan alasannya karena ia suka dengan teman sekelasnya yang bernama Mark Lee. Bodohnya adalah Kai benar-benar patah hati setelah diputuskan oleh gadis kecil seperti Yoojung.”

 

“Dan setelah Yoojung?” Tanya Minhee dengan alis terangkat. “Masih ada gadis lain lagi, kan?”

“Tentu saja ada,” jawab Sehun. “Kau tahu Tia Hwang? Dia berada di urutan setelah Yoojung.”

“Apa?!” seru Minhee tertahan. “Tia Hwang?!”

“Ya, kau mengenalnya ‘kan?” Tanya Sehun balik.

“Tentu saja. Aku mengenalnya karena aku satu angkatan dengannya. Ia berbeda fakultas denganku, karena sepertinya ia ada di divisi penyiaran. Tapi bukankah ia salah satu… Penggosip kampus?” Minhee mengucapkan kalimat terakhirnya dengan sedikit hati-hati.

Sehun hanya menganggukan kepalanya polos. “Ya, kau benar. Dia salah satu penggosip kampus. Bahkan dari yang kudengar, ia lebih parah dari Melanie Lee.”

Minhee memutar matanya. “Mereka sama berdengungnya,”

“Dia lebih suka bergabung bersama senior. Satu-satunya yang dekat dengannya dari angkatan kami hanyalah Melanie Lee. Sudah, baru sebatas itu saja yang kutahu.” Lanjut Minhee. “Ia sangat suka bergabung bersama gadis penggosip semacam senior Lee Hyeri.”

“Aku tak tahu pasti tentang mereka sebenarnya. Aku tak tahu mereka benar-benar berpacaran ataukah hanya sebatas kencan omong kosong belaka.” Lanjut Sehun. “Tak pernah kudengar berita serius lagi dari mereka. Kurasa mereka hanya sekedar kencan. Sama seperti hubungan Kai dengan beberapa gadis lain seperti Yoon Sohee, Cho Subin, Kang Seulgi, Na Haeryung, atau…”

 

“Atau?” Minhee mengerutkan keningnya menyadari sepenggal nama yang sengaja Sehun pisahkan dari deretan nama gadis sebelumnya.

 

“Kwon Soojeon.”

 

***

 

Kwon Soojeon?

Siapa dia?

Sehun bilang dia kuliah di kampus ini juga, seangkatan dengannya dan Kai. Namun Minhee merasa belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Lagipula, ia bukan tipe mahasiswa baru yang suka menghapal nama seniornya. Jadi wajar kalau ia merasa tidak mengenal gadis itu.

 

Minhee memasuki kelasnya, sedikit mengeluh saat menemukan kursi yang biasa ditempati Minchan masih kosong. Kemana anak itu? Padahal biasanya ia selalu datang lebih awal dari Minhee.

Minhee melangkahkan kakinya malas-malas menuju kursinya yang terletak di sebelah kursi Minchan. Pandangannya tertuju kosong tanpa sebab pada kursi itu, ingatan akan makan siang sehari yang lalu masih terlintas dengan jelas.

 

Apa Minchan tak masuk hari ini? Gara-gara kejadian kemarin siang?

 

“Yah, kau tahu, Tia. Semua laki-laki itu memang menyebalkan.” Suara cempreng seorang perempuan tiba-tiba masuk ke telinga Minhee. Minhee menolehkan kepalanya dengan cepat menuju pintu kelas dan tepat seperti dugaannya, suara itu milik Melanie. Namun ada satu hal yang tak biasa menarik perhatian Minhee.

Melanie datang bersama Tia.

 

Ugh, kelasmu mainstream sekali.” keluh Tia saat Melanie membawanya masuk ke kelas itu. Matanya menejelajah sekeliling kelas, tersenyum meremehkan saat melihat siapa-siapa saja yang sudah hadir dalam kelas itu.

Minhee mencoba untuk tidak tersinggung walau tahu apa maksud Tia sebenarnya.

 

“Kau tidak mendengarkan ceritaku, ya?” protes Melanie sambil mendudukan dirinya dengan keras diatas kursi langganannya. Menatap Tia dengan kecut.

Tia melempar senyum manis pada sahabatnya itu. “Oh, tentu aku mendengarkanmu, dear.”

“Jadi kau tahu siapa yang sejak tadi kubicarakan?” Tanya Melanie sambil mengangkat sebelah alisnya. “Sebutkan. Jika kau benar, maka aku percaya kau mendengarkanku.”

Tia memutar matanya, lalu menyingkirkan surai menjuntainya ke belakang telinga. “Oh, baiklah. Siapa, ya? Biar kutebak. Jeon Jungkook?”

Melanie tersenyum kecut. “Kau salah. Berarti kau berbohong padaku. Kau tidak mendengarkan ceritaku sejak tadi. Pantas saja kau terus berkutat dengan ponselmu itu.”

“Oh, maaf… Tebakanku salah, ya? Kukira kau membicarakan Jungkook sejak tadi. Yang kutahu ‘kan, kau sedang mengejarnya belakangan ini.” Celoteh Tia.

“Yang tadi itu bukan tentang Jungkook. Aku akan bercerita tentangnya suatu hari nanti. Yang aku bicarakan sejak tadi adalah Kim Yugyeom. Kau mengenalnya, kan?” celoteh Melanie balik.

“Oh, ya. Tentu saja. Memangnya kenapa dia?”

“Dia tak mau lagi berkencan denganku.” ujar Melanie kecut. “Itu adalah penghinaan besar, kau tahu. Harusnya aku yang memutuskan dia, bukan dia yang memutuskan aku. Namja macam apa yang berani mencampakkan seorang Queenka, hah?”

 

Minhee menundukkan kepalanya yang pening mendengar semua pembicaraan Melanie dan Tia. Semuanya tentang namja. Minhee merasa mual, jelas-jelas gaya hidupnya sebagai seorang mahasiswi biasa akan sangat berbentrok keras dengan kehidupan Queenka semacam Melanie dan Tia.

 

“Kudengar Yerin sudah mengetahui semuanya,” sahut Tia santai sambil lagi-lagi menata rambutnya. “Yerin sudah tahu jika Yugyeom berselingkuh denganmu di belakangnya. Mungkin itu adalah alasan mengapa Yugyeom memutuskan kencan kalian. Dia tidak mau menyakiti Yerin lebih jauh lagi.”

“Omong kosong.” Desis Melanie sinis. “Untuk apa dia mempertahankan hubungan omong kosongnya dengan Yerin itu?”

Yerin is a genious girl.” Sahut Tia sambil tersenyum miring. “Yugyeom akan menyesal bila memutuskan Yerin. Ia tak akan bisa mendapatkan bantuan Yerin lagi di setiap ujian jika itu terjadi.”

“Oh, kau cerdas, Tia.” Ucap Melanie sambil mengusap kedua tangannya.

Tia tersenyum menang. “Lagipula, Yugyeom juga tak bisa mengharapkanmu selamanya. Jelas-jelas kau bukan tipe gadis seperti Yerin yang akan mencintainya terus walaupun kau memergokinya berselingkuh atau melihat ada namja tampan yang duduk satu kelas bersamamu.”

“Siapa maksudmu?” Melanie tertawa. “Jungkook?”

“Kau lebih tahu siapa yang kumaksud itu, Melanie.” Balas Tia sambil memasang senyumnya. “Ya, tentu saja dia. Yugyeom pasti tahu bahwa selain dengannya, kau juga sedang mengincar Jungkook. Oh, tentu saja. Bagaimana kabarnya, Melanie?”

Melanie mengangkat bahunya. “Dia tidak semudah yang kukira. Dia sangat sulit kudekati. Asal kau tahu, ternyata dia adalah tipe pria yang sedikit menjaga jarak dengan wanita.”

“Benarkah?” Tia menahan tawanya. “Oh, seriously, Melanie Lee. Kau bahkan pernah berhasil mendapatkan Kingka senior kita, tapi kau ternyata gagal mendekati mahasiswa pindahan dari Amerika itu.”

“Berhenti meremehkanku, Tia Hwang. Kau belum pernah melalui satu haripun kelas bersamanya, jadi kau tidak tahu apa-apa tentangnya.” Protes Melanie sinis. “Dan jangan sebut aku ‘gagal’ dulu. Ini baru langkah awal, right?”

“Oh, baiklah.” Sahut Tia sambil mengibaskan tangannya. “Atau… Kau mau cara mudah? Dekati kakaknya dulu, Melanie. Setelah itu, baru kau bisa mendekati dia. Itu taktik lama, kau tahu.”

 

Jungkook punya kakak? Tanya Minhee dalam hati. Seingatnya dulu, Jungkook tidak punya seorang kakak pun. Ia anak tunggal.

 

“Aku tak tahu siapa kakaknya,” keluh Melanie. “Kudengar kakaknya hanya mahasiswi biasa. Jadi rasanya memang sedikit sulit untuk tahu siapa dia.”

“Dia ada di angkatan tiga tahun diatas kita.” Ujar Tia. “Dia salah satu anggota badan mahasiswa. Tapi sayang aku juga belum tahu siapa namanya. Apa sebaiknya aku tanyakan pada Hyeri eonni, ya?”

“Oh, boleh.” Sahut Melanie. “Tanyakan secepatnya, ya.”

 

Minhee menghela napasnya panjang. Ada perasaan aneh yang berdesir dalam darahnya saat mendengar Melanie dan Tia membicarakan Jungkook. Harusnya ia lebih bersyukur karena kedua gadis itu bukan membicarakan suaminya, namun entah kenapa hatinya masih kurang nyaman juga saat Jungkook yang dibicarakan.

Apa nama perasaan ini? Minhee merasa amat buta hanya untuk sekedar menebaknya.

 

“Oh, ada Nona Shin disini.” Sahut Tia tiba-tiba. Mendengar sahutan Tia yang jelas-jelas ditujukan padanya, Minhee kontan menoleh. Minhee merasa jengah saat melihat cara Melanie dan Tia menatapnya.

“Minhee,” Melanie ikut bicara. “Kau tidak menguping pembicaraan kami ‘kan, sedari tadi?”

Minhee menggelengkan kepalanya cepat, dusta. Namun setidaknya itu lebih baik daripada ia harus berurusan lebih pajang lagi dengan kedua gadis itu.

 

“Benarkah?” Tia mengangkat alisnya curiga. “Tapi kau tidak melakukan kesibukan apapun sejak tadi. Tidak menutup kemungkinan kau mencuri dengar obrolan kami.”

“Rasanya percuma aku mencuri dengar obrolan kalian sekalipun.” Sahut Minhee datar, dalam hati Minhee bersorak riang karena ekspresinya persis seperti apa yang ia harapkan. “Tidak ada gunanya.”

“Lalu apa yang kau lakukan?” Tanya Melanie mengintrogasi. “Yah, untuk sekedar meyakinkan kalau kau tidak mencuri dengar obrolan kami.”

“Aku sedang memikirkan naskah fiksi yang ditugaskan oleh Dosen Im.” Sahut Minhee sambil mengangkat bahunya.

“Lalu bagaimana hasil pemikiranmu?” Tanya Melanie lagi.

“Ini tugas individu, kan? Jadi kukira kau tidak boleh mengetahuinya, sebab nanti kau bisa mencontek ideku.” Jawab Minhee dengan polos.

Melanie dan Tia mengangkat alis mereka.

 

Minhee melempar senyumnya yang manis dan polos. “Kalian tidak perlu khawatir. Apapun yang kalian lakukan, aku tidak akan peduli.”

 

 

Sore ini Minhee tidak pulang bersama dengan Sehun. Mereka pulang secara terpisah. Sehun masih ada urusan sebentar dengan beberapa teman sekelasnya, sehubungan dengan sidang kelulusannya yang hanya tinggal menghitung bulan lagi. Minhee memanfaatkan waktu itu dengan pergi ke rumah Minchan, sekedar mengunjungi dan bertanya mengapa ia tak masuk kuliah hari ini. Minhee sengaja tidak memberi kabar pada Minchan, ia ingin membuat sahabatnya itu terkejut ketika melihat kedatangannya sore ini.

 

“Apa yang kau lakukan disini?!”

Dan benar seperti dugaan Minhee, Minchan terkejut saat membuka pintu kamarnya dan melihat sosok Minhee tersenyum manis di balik pintu. Terlebih saat melihat isi tas plastik yang menggantung di tangan kanan gadis itu, bukannya menemukan buah-buahan justru ia malah melihat beberapa bungkus camilan ringan dan dua kemasan kopi kaleng dingin.

Minhee tersenyum semakin cerah. “Jangan berpura-pura sakit, Park Minchan. Kau bisa membohongi ibumu, tapi kau tak bisa membohongi aku.”

 

Minchan memutar matanya lalu mempersilahkan Minhee masuk walau dengan wajah bersungut-sungut. Setelah masuk ke kamar Minchan, Minhee segera meletakkan tas plastik bawaannya di atas meja kecil yang ada di dalam ruangan itu.

“Aku memang sedang sakit.” Sahut Minchan sambil melipat tangannya didepan dada. Minhee masih mempertahankan senyumnya, menoleh pada Minchan sekali, lalu melanjutkan kegiatannya mengeluarkan camilan-camilan itu dari dalam tas dan menatanya sedikit di meja.

“Aku tidak melihat wajahmu pucat,” balas Minhee kecil. “Dan suaramu juga tidak terdengar lemah. Memangnya kau sakit apa, Minchan?”

“Aku sakit di sini.” Jawab Minchan sambil menunjuk dada kirinya. Minhee sempat melihat itu dan ia terkekeh geli. Setelah selesai dengan semua camilannya, Minhee duduk bersila di lantai kamar Minchan yang dilapisi karpet hangat.

“Hatimu yang sakit?” Tanya Minhee memperjelas, masih dengan kegelian di wajahnya. “Gara-gara kelakuan Kai oppa kemarin, hah?”

Minchan membulatkan matanya. “Apa?”

“Kai oppa pergi sebelum makan siang selesai,” sahut Minhee tenang sambil membuka kopi kaleng miliknya. “Dan kau tahu jika ia pergi karena ingin menemui seorang gadis. Apa kau cemburu?”

Minchan mengerucutkan bibirnya lalu melemparkan sebuah bantal kecil pada Minhee—entah ia dapatkan benda itu darimana, seingat Minhee tak ada bantal itu di sekitar mereka sebelumnya—hingga membuat Minhee nyaris tersedak cairan latte dalam kaleng itu.

 

Yak, hentikan!” seru Minchan dengan wajah yang mulai memerah. Minhee yang telah selamat dari tersedaknya kontan tertawa cukup keras ketika melihat wajah itu memerah.

“Kenapa? Kau salah tingkah?” balas Minhee sambil memeletkan lidahnya. Minchan lelah membalas dan hanya menghela napas panjang melihatnya.

“Berhenti membicarakan dia.” Sahut Minchan datar.

Minhee mengangkat alisnya. “Oh, benarkah? Sayang sekali, padahal aku datang kesini untuk memberikan informasi terbaru tentangnya.”

“Apa itu?” sambar Minchan cepat, bahkan sampai mengabaikan kaleng kopi yang baru saja ia buka.

Minhee tergelak. “Oh, kau bohong padaku, Park Minchan.”

Minchan mengeluh atas reaksinya sendiri. Menyesalkan kenapa nalarnya begitu cepat bekerja saat Minhee menyebutkan soal hal yang berbau Kai, menjadikan kebohongannya terbongkar begitu cepat. Minchan agaknya memang tak ditakdirkan untuk berhasil membohongi Minhee.

 

“Ini soal…” Minhee menghentikan bicaranya sejenak. Dalam kepalanya ia memilah, mana sajakah yang harus ia ceritakan pada Minchan. Soal percakapan antara Minhee dan Sehun malam lalu, tentang mantan-mantan kekasih Kai. Tentu saja Minhee tak akan menceritakan semuanya pada Minchan sekarang. Setidaknya tentang Kwon Soojeon saja, itu yang paling penting ia katakan pada Minchan sekarang.

Minchan mengangkat alis saat menyadari jeda bicara Minhee yang cukup lama. Ia memiringkan kepalanya di depan Minhee, dan beruntungnya Minhee cepat tersadar.

“Maaf, aku sedang mengingat namanya tadi,” dusta kecil Minhee sambil tersenyum lebar. Tampaknya Minchan percaya. Berbalik dari kenyataan bahwa Minchan tak bisa membohongi Minhee, Minhee justru bisa melakukannya walau tak selalu.

 

“Nama?” Minchan mengerutkan keningnya. “Nama siapa?”

“Nama yang aku dan Sehun oppa curigai sebagai nama kekasih Kai oppa saat ini.” Jawab Minhee. “Soal gadis yang kemarin ia bilang akan ditemuinya, kau tahu ‘kan?”

Minchan mengangguk kemudian mengangkat bahunya. “Lalu?”

“Kau kenal senior bernama Kwon Soojeon?” Tanya Minhee. “Sehun oppa bilang, Kai oppa pernah berkencan dengan gadis itu.”

“Benarkah?” Minchan membulatkan matanya sedikit. “Oh, siapa, ya? Aku tidak kenal dia. Ada petunjuk? Atau kau malah sudah tahu yang mana orangnya?”

Minhee menggeleng. “Sehun oppa juga sepertinya tak tahu persis tentang gadis itu. Kau tahu? Persahabatan mereka sangat payah, Sehun oppa bahkan tak tahu persis tentang semua mantan kekasih Kai oppa.”

“Ada petunjuk?” Tanya Minchan lagi. “Misalnya, dia anggota organisasi apa? Atau… Dia fakultas apa? Tempat yang biasa ia kunjungi? Ciri-cirinya? Atau—“

Please, Park Minchan. Suamiku bukan mata-mata, oke?” potong Minhee sambil memutar matanya jengah. Minchan terkekeh kecil, lalu tergerak untuk membuka salah satu kemasan biskuit yang tadi dibawakan Minhee. Biskuit gandum.

“Oh, kau memberikan satu ide padaku,” sahut Minchan, masih dengan mulut yang penuh biskuit gandum.

Minhee mengerutkan hidungnya sambil mengeluh, “Oh, Park Minchan. Bisa kau telan dulu makananmu?”

Minchan segera menelan makanannya dan meminum kopi kalengnya. Lepas dari kaleng alumunium itu, mata Minchan memandang Minhee lekat-lekat. Minhee mengerutkan alisnya melihat cara Minchan memandangnya.

 

“Ada apa?” Tanya Minhee heran.

“Kau memberikan satu ide padaku. Kau tentu mau membantuku, kan?” Minchan menjawab sekaligus balik bertanya.

Minhee menggaruk pelan pipinya. “Oh, tergantung. Apa permintaanmu.”

“Temani aku untuk memata-matai siapa Kwon Soojeon itu sebenarnya.”

 

***

 

“Sebenarnya kemarin aku ingin bertanya pada Melanie dan Tia.” Sahut Minhee saat dirinya dan Minchan menyusuri koridor kampus ditemani cahaya matahari yang mulai bersinar hangat. Namun ini masih terlalu pagi. Terbukti dari hanya terlihatnya beberapa gelintir mahasiswa yang yang sudah lalu-lalang disana.

“Lalu apa hasilnya?” Minchan menuntut kelanjutannya, ia masih melangkah sambil sesekali mengamati keadaan di sekitarnya.

Minhee menghembuskan napas panjang. “Aku tidak jadi menanyakan itu pada mereka.”

“Hah?” Minchan menghentikan langkahnya dan menatap Minhee dengan matanya yang membulat.

“Tak ada pilihan lain,” sahut Minhee sambil mengangkat bahunya tak peduli. “Mereka sangat menyebalkan. Aku jadi malas bertanya apapun pada mereka. Membalas perkataan mereka saja sebenarnya aku malas.”

“Oh, baguslah.” Sahut Minchan sambil melanjutkan langkahnya kembali. “Jadi sekarang, kau juga tidak suka mereka, bukan? Baiklah, kita memang selalu sehati.”

Minhee tak menjawab. Ia pun urung bercerita tentang pembicaraan Melanie dan Tia kemarin, tentang mereka yang membicarakan Jungkook. Sebelum mulai bekata pun ia sudah bisa menebak, Minchan tak akan menyukai segala hal berbau Jungkook. Entahlah, gadis itu memang sedikit sulit dipahami jalan pikirannya.

 

“Apakah Sehun oppa curiga melihatmu berangkat sepagi ini tadi?” Tanya Minchan tiba-tiba.

Minhee hanya menjawabnya dengan gelengan.

“Kau tak bilang padanya kalau kita ingin memata-matai Soojeon?” Tanya Minchan lagi.

Minhee menggeleng lagi. Namun kali ini ia menyambungnya, “kurasa belum. Tapi cepat atau lambat ia pasti tahu.”

Aigoo, darimana kita harus mulai mencarinya?” keluh Minchan tiba-tiba. Ia menghentikan langkahnya lagi, sehingga Minhee otomatis juga harus menghentikan langkahnya.

Minhee mengangkat bahu simbolis tak tahu. “Aku ‘kan hanya mengikutimu saja. Jadi soal kau harus memulai kegiatan ini darimana, jangan tanya aku. Aku hanya sekedar membantu, oke? Bukan ikut memutuskan.”

“Tunggu, kelas pertama kita milik siapa?” Tanya Minchan lagi.

Minhee berpikir sebentar, lalu menjawab ketika mengingatnya. “Dosen Im. Kelas pertama dimulai pukul delapan.”

Minchan melihat jam tangannya, lalu tersenyum simpul. “Bagus. Sekarang pukul setengah tujuh. Bagaimana kalau kita membolos saja hari ini?”

Minhee membelalakan matanya. “Apa?! Kau gila?!”

“Memangnya kenapa?” Minchan balik bertanya.

“Aku sudah mempersiapkan tugas karangan fiksi Dosen Im semalam suntuk, lalu sekarang kau menyuruhku untuk membolos? Membuang sia-sia waktu semalam suntukku?!” protes Minhee.

“Jadi kau sudah mengerjakannya?” Minchan balik bertanya. “Wah, rajin sekali. Aku saja belum.”

“Harusnya kau tahu betapa semangatnya aku mengambil jurusan sastra.” Sahut Minhee datar. “Shireo. Aku tidak mau membolos. Kalau kau mau memata-matai Soojeon seharian ini, membolos saja sendiri.”

“Kau melanggar janji.” Minchan mengerucutkan bibirnya.

“Terserah,” sahut Minhee sambil berjalan ke arah sebaliknya. “Aku baru mau membantumu saat jam kuliah sudah selesai.”

 

 

Dua jam penuh kelas yang diisi oleh Dosen Im terasa lambat sekali berlalu. Biasanya Dosen Im adalah salahsatu dosen favorit Minhee, namun agaknya teori itu tidak berlaku hari ini. Setelah lega mengumpulkan tugas naskah fiksi, nyatanya pikiran Minhee kembali terlempar pada Minchan. Minchan dan job baru yang dipilihnya, menjadi mata-mata dari seorang senior bernama Kwon Soojeon.

Minchan benar-benar membolos kelas Dosen Im hari ini, menimbulkan efek lain yaitu Minhee yang kelimpungan menjawab saat Dosen Im menanyakan keberadaan sahabat kental gadis itu. Mau tak mau Minhee menjawab jika Minchan tak bisa dihubungi sejak tadi pagi, berbuah pada pesan Dosen Im agar Minhee mendatangi rumah Minchan sepulang kuliah nanti. Minhee hanya menganggukan kepalanya, walau dari sudut mata ia melihat ada orang yang memandanginya saat itu. Sosok mahasiswa yang bahkan tak pernah punya hubungan yang baik dengan Minchan selama ini.

 

Saat Dosen Im resmi meninggalkan kelas, Minhee cepat-cepat membereskan peralatan tulisnya dan bahkan terkesan memasukannya serampangan ke dalam tas. Berbeda dari kebiasaan Minhee yang biasanya, gadis itu bahkan tak sempat lagi mengecek apakah ada barangnya yang tertinggal di kolong meja. Hanya setelah mejanya kosong, ia segera melesat meninggalkan kelas yang masih ramai oleh teman sekelasnya yang belum keluar.

Minhee melangkah cepat melewati koridor demi koridor, sembari jemarinya sibuk menari diatas layar halus ponselnya, mencoba benar-benar mengububungi Minchan dan bertanya dimana keberadaan gadis itu sekarang. Percayalah, kampus mereka bukanlah kampus kecil yang hanya memerlukan waktu seperempat jam untuk mengelilingi seluruh areanya.

 

Minhee frustasi saat pada kenyataannya ponsel Minchan benar-benar tak bisa dihubungi. Mungkin ini adalah karma dari kebohongannya pada Dosen Im. Yah, mungkin saja. Karena sekarang ponsel Minchan benar-benar tak bisa dihubungi, jadi Minhee tak tahu harus melacak keberadaan Minchan dari mana lagi.

 

“Mine!” suara itu tiba-tiba masuk ke dalam gendang telinga Minhee, menghentikan langkah Minhee dalam sekejap mata. Minhee mematung mendengar kalimat itu, ingatannya seakan kembali terlempar ke belakang dengan keras. Mengingatkannya pada satu-satunya orang yang hanya memanggilnya dengan kalimat itu.

“Mine, tunggu!”

 

Laki-laki itu berhasil mengejar langkah Minhee, dan sungguh Minhee bisa merasakan sesak saat laki-laki itu kembali berdiri di hadapannya. Menatapnya, masih dengan napas berantakan karena berusaha mengejar langkah cepat Minhee sebelumnya. Sorot mata laki-laki itu masih sama, masih seperti sebelas tahun yang lalu. Namun senyum masih tersembunyi dari wajahnya, walau tipis tapi Minhee bisa merasakan ada atmosfer aneh yang menguar saat mereka kembali berdiri berhadapan setelah tak bertatap muka selama lebih dari sebelas tahun lamanya.

 

“Kau menjatuhkan pulpenmu di kelas tadi,” sahut laki-laki itu. Tangannya tergerak menyodorkan sebuah pulpen bertinta hitam pada Minhee. Membuat mata Minhee terpaku pada pulpen itu.

“Ah, ya. Terimakasih.” Sahut Minhee kaku sambil menerima pulpen itu. Masih menundukkan wajahnya ke bawah, Minhee bahkan merasa canggung saat harus bertatap wajah lagi dengan laki-laki itu. Maka Minhee pun tak melihat senyum laki-laki itu ketika pulpen itu sudah berpindah tangan.

 

“Mine?” ulang Minhee saat mereka sama-sama terdiam sekian detik lamanya. “Kau—“

“Ah, ya. Maaf. Kau pasti sudah tak terbiasa lagi dengan nama itu.” potong laki-laki itu sambil tersenyum, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Minhee mengangguk canggung. “Ya, aku—”

“Senang bisa bertemu denganmu lagi, Mine.” Potong laki-laki itu lagi, kali ini sambil menyodorkan jabat tangan ke depan Minhee. Minhee tercenung menatap tangan kanan laki-laki itu.

 

‘Senang bisa bertemu denganmu. Namaku Jeon Jungkook. Namamu siapa?’

 

Seberkas ingatan masa lalu itu kembali memenuhi kepala Minhee. Jabatan tangan yang disodorkan laki-laki itu masih sama. Entah, Minhee juga tak tahu apa letak perbedaan dari jabatan tangan yang disodorkan oleh seorang Jeon Jungkook dengan jabatan tangan yang disodorkan oleh orang lain. Minhee hanya tahu jika itu berbeda.

 

“Kookie.” Sahut Minhee tanpa sadar. Mereka sama-sama terkejut saat nama kecil itu kembali terlontar dari Minhee. Minhee segera membekap mulutnya sendiri, berbeda dengan laki-laki itu yang malah tersenyum ketika gadis itu membuktikan bahwa ia masih mengingatnya.

“Kau masih ingat dengan nama itu?” Tanya laki-laki itu sambil tergelak kecil.

Minhee menatap laki-laki itu. Tanpa mampu melontarkan satu kata yang bisa menjawabnya.

 

‘Bagaimana jika aku memanggilmu Kookie? Panggilan itu terdengar lucu, kan?’

 

“Dan kenapa kau masih memanggilku Mine?” Tanya Minhee lebih lanjut, dengan mata yang terkunci pada sosok laki-laki itu. Pertanyaan sama yang selalu diulangnya. Pertanyaan yang sudah dilontarkan Minhee semenjak sebelas tahun yang lalu, diucapkan Minhee dalam pikirannya sendiri, namun belum menemukan jawaban hingga detik ini.

 

‘Kau mau tahu kenapa aku selalu memaggilmu Mine? Oh, tunggu saja. Suatu hari di masa depan kau pasti akan tahu mengapa aku memanggilmu begitu.’

 

Jungkook tergelak lagi. Tanpa terduga, Jungkook mengacak pelan puncak kepala Minhee. Membuat Minhee membatu saat itu juga.

 

“Kau akan tahu suatu saat nanti.” Jawab Jungkook dengan senyumnya yang masih belum berubah dari masa lalu. “Tapi tidak sekarang, Mine. Kutahu kau sedang buru-buru, kau tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk mendengar semua penjelasanku.”

 

“Minhee-ya, apa yang kau lakukan—“ suara Sehun memecah lamunan Minhee. Gadis itu menoleh seketika dan langsung kembali terdiam saat melihat suaminya tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. Memandangi dirinya yang sedang bersama Jungkook. Tak suka.

“—disini?”

 

“Oh, hai.” Sapa Jungkook ramah. Sehun masih menatap Jungkook datar, bahkan keningnya terkesan mengerut saat Jungkook menyapanya tiba-tiba. Padahal… Mereka belum pernah saling mengenal sebelumnya.

 

“Hai?” Tanya Sehun balik setelah terdiam dengan raut wajahnya yang datar saat memandangi Jungkook. “Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?”

“Oh, namaku Jeon Jungkook.” Sahut Jungkook sambil membungkukkan singkat tubuhnya. “Aku teman sekelas Minhee yang baru. Kau mengenal Minhee juga?”

“Dia kakak sepupuku.” Jawab Minhee cepat sebelum Sehun sendiri yang menjawabnya. Minhee melirik Sehun singkat, berusaha memberi kode pada Sehun agar diam saja dan tak usah bicara yang macam-macam pada Jungkook. Sehun terdiam, wajahnya mengeruh saat Minhee tak mengizinkannya bicara lebih banyak lagi dengan Jungkook.

“Namanya Oh Sehun.”

 

“Oh Sehun? Benarkah?” Jungkook terbelalak saat Minhee menyebutkan nama itu. Minhee kontan mengernyitkan dahi saat melihat reaksi Jungkook, terlebih lagi Sehun yang merasa aneh karena Jungkook seolah-olah sudah pernah mendengar namanya sebelum ini.

“Ada apa?” Tanya Sehun sedikit curiga.

“Oh, kakakku sering sekali membicarakanmu selama ini,” jawab Jungkook.

“Jadi kau—“

“Kau punya kakak?” Minhee memotong kalimat Sehun yang bahkan belum terselesaikan. “Bukankah dulu kau—“

“Semuanya berubah semenjak aku pindah ke Amerika.” Jawab Jungkook dengan sedikit perubahan ekspresi yang tergambar di wajahnya. “Oh. Lain kali aku berjanji akan banyak bercerita padamu, Minhee. Banyak sekali kejadian yang terjadi semenjak kita berpisah.”

 

Berpisah?! Hey, apa yang dia maksud dengan ‘berpisah’? Sehun meruntuk dalam hati.

 

Oh, sama. Kau juga banyak tak tahu tentang apa-apa saja yang telah kualami selama ini. Termasuk menikah dengan laki-laki yang sekarang ada di depanmu ini. Balas Minhee dalam hatinya juga.

 

“Setuju.” Sahut Minhee dengan senyum cerah. “Lain kali kita harus banyak mengobrol, Kookie. Aku merindukanmu.”

 

Sehun memicingkan matanya saat mendengar Minhee bicara seperti itu. Diam-diam ia menarik tangan kanan Minhee, membuat Minhee yang terantuk kecil segera sadar dan balik memicing pada Sehun.

 

“Oh, kami ada urusan.” Sahut Sehun tiba-tiba saat berpaling lagi pada Jungkook.

“Oh, silahkan.” Jawab Jungkook. “Sampai berjumpa lagi!”

“Oh ya, sampai berjumpa juga,” balas Sehun sambil memaksakan senyumnya. “Kookie.”

 

 

“Kookie?” protes Minhee saat Sehun masih terus menariknya tangannya. “Kenapa kau memanggilnya Kookie? Kau tahu, hanya aku yang boleh memanggilnya begitu!”

Sehun masih tak menjawab semua protesan Minhee. Namja berhati es itu masih terus menarik tangan istrinya, meski gadis itu sudah berkali-kali meronta minta dilepaskan. Siapa juga yang tak jengah karena tangannya terus ditarik seperti itu, dari kampus sampai ke apartemen mereka?

 

“Lepaskan aku, bodoh!” erang Minhee frustasi. Sekali lagi ia memukul lengan atas Sehun dengan tangan kirinya yang terbebas. Tapi Sehun masih saja tak bergeming. Kini tangan kiri gadis itu berpindah menjambak rambutnya sendiri.

 

“Aku bahkan tak ingat lagi namanya,” sahut Sehun datar. “Oh ya? Kenapa? Apa itu panggilan sayangmu pada laki-laki itu?”

Aish, bodoh!” erang Minhee lagi. “Apa urusanmu? Kau bahkan tak mengenalnya ‘kan? Jadi apa pedulimu sampai harus mengingat namanya segala?”

Sehun mendecak lalu dengan satu sentakan membanting kecil punggung Minhee sampai menyentuh dinding lorong apartemen. Laki-laki itu mengurung pergerakan gadis itu, membuat wajah gadis itu mulai memucat sekarang.

 

“Apa yang kau lakukan?” cicit Minhee kecil. “Ugh, seriously. Don’t kidding me.”

I’m not kidding you.” Balas Sehun datar. “Aku hanya ingin memperingatkanmu, Nyonya Oh. Aku tak suka melihatmu berdekat-dekatan dengannya. Siapa dia? Mantan kekasihmu?”

“Apa kau bilang?” protes Minhee. “Hey! Aku ini belum pernah berpacaran, oke?”

“Lalu siapa dia?” Tanya Sehun datar. “Dia sepertinya dekat sekali denganmu, dan kau juga terlihat sangat menikmati kedekatan dengannya. Dia berceloteh tentang banyak hal yang tidak kumengerti bersamamu, dan tadi. Dia menyebut kata ‘berpisah’. Apa kau bisa menjelaskan semuanya itu, Nyonya Oh?”

“Berhenti memanggilku Nyonya Oh, please.” Keluh Minhee. “Kau membuatku merasa tua ketika kau memanggilku ‘nyonya’.”

“Kenapa? Kau tak suka? Tapi sayangnya kau sudah menjadi istriku sekarang.” Sehun berkata dengan nada sinis lalu sengaja semakin mempertipis jaraknya dengan jarak Minhee. Membuat Minhee terpaksa memejamkan matanya rapat-rapat sambil memalingkan wajahnya.

“Menjauh dariku!” erang Minhee sambil memukul-mukul kecil dada bidang Sehun. “Menjauh! Menjauh! Menjauh!”

 

Grek!

 

Mereka berdua menoleh seketika saat mendengar suara pintu terbuka tak jauh dari mereka. Seorang wanita berusia tigapuluh-tahunan berdiri disana, di depan pintu apartemen miliknya, sedikit terkejut bercampur canggung saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

Wanita itu berdehem kecil—merasa tak enak hati mungkin—lalu dengan cepat berbalik untuk mengunci pintu apartemennya. Setelah selesai, ia segera berjalan cepat menuju elevator tanpa menoleh ke belakang lagi ataupun mengucapkan sepatah kata.

Sehun dan Minhee ikut terdiam, mungkin dalam hati mereka masih shock saat wanita itu tiba-tiba keluar dari apartemennya dan langsung melihat mereka dalam posisi seperti ini. Seperti hendak—

Hey, tunggu! APAKAH WANITA ITU BARU SAJA MELIHAT SEHUN DAN MINHEE DALAM POSISI MEMALUKAN SEPERTI INI?!

 

“Yak, kau! Menjauh dariku! Dasar bodoh!!”

 

 

 

| T B C |

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Huweeeeee…. Maafkan aku karena ngaret lagi posting chapter yang ini😥

Pertama (dan lagi) aku minta maaf karena komenan di 7th Chapter kemarin aku telat balesin lagi😥

Minggu ini aku emang lagi ribet sama laporan, dan buat ngejar waktu makanya aku gak onlen wp tiga harian… Dari mulai buat ngetik, buat revisi, sampai modem aku yang tiba-tiba kehilangan kemampuan koneksi dan baru bisa dipake keesokan harinya -.-

/maaf jadi curhat/

 

Kedua, aku mau minta maaf kalo misalnya di 7th Chapter kemaren banyak scene yang mengecewakan yaa (/-\)

Hm, banyak yang minta Sehun-Minhee moment dan jujur aku bingung. Mengingat konflik yang udah mulai kecium bau-baunya ini, aku gak yakin kalian bisa ketemu momen manis kayak kemaren lagi…

Maaf beribu maaf buat kalian yang kangen melihat romantisme main couple kita, untuk sekarang mereka udah susah buat berantem unyu lagi ya -.-

Tapi tunggu! Siapa tau aja di chapter sekian nanti kalian bakal menyaksikan kembali manis-manisan mereka yang kayak kemaren. Just wait patiently, okay?😉

 

Buat komen, aku terus menyicil buat balesin semuanya setiap hari yaa ~

Dan mengenai komentar juga, sebelum posting ini aku sudah menyelesaikan balasan komentar terbaru untuk 7th Chapter. Sisanya mungkin menyusul yaa… Soalnya aku gak sabar buat cepet-cepet posting ini >_<

 

Oke deh, sekian dulu cuap-cuap aku di chapter ini ~

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

Have a nice week, guys!😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi ~

 

 

shineshen

736 thoughts on “Secret Darling | 8th Chapter

  1. yahhh. sehun cemburu. hihihi. minhe si masa bgt dpn sehun. blg aku merindukanmu lagi. kan biar bgmn sehun it suami mu minheee!!!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s