[Minri’s Diary – 05] This is Your Day

baekday

This is Your Day

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Rating : PG-13

Length : One-shoot

Genre : Romance, fluff

Note : Baekhyun is mine. This story is mine. Do not copycat without my permission. Enjoy!

My best present is you!

Pukul 6 pagi. Hari selasa, di tanggal 6 bulan Mei.

Pagi hari. Saat-saat dimana harusnya aku bergelung dalam selimut merah mudaku, memeluk guling kesayangan dan menjelajah alam mimpi. Pukul enam pagi masih terlalu awal bagiku beranjak dari tempat favoritku.

Biasanya aku akan mengulur-ulur waktu sampai akhirnya eomma membangunkanku (dari cara halus sampai secara paksa). Tapi kali ini tidak. Masih dengan wajah mengantuk, aku keluar rumah. Memakai jaket yang cukup tebal karena udara pagi sungguh menusuk kulit. Berjalan beberapa blok ke sebuah rumah berpintu coklat. Demi seorang lelaki yang berarti dalam hidupku.

Dan disinilah aku sekarang, berdiri di depan rumah lelaki yang akan kuberi kejutan, rumah pacarku yang manis dan kekanakan –Baekhyun. Hari ini adalah hari jadinya. Dan untuk memperingati hari yang penting ini, aku harus memberinya kejutan.

Aku membawa sekotak kue tart dengan penuh krim stroberi dan juga buah stroberi di atasnya. Kesukaan Baekhyun. Di pergelangan tanganku kugantungkan hadiah berbungkus kado warna coklat dengan pita merah di atasnya.

Aku menekan bel rumahnya. Aku harus meminta maaf karena telah mengganggu penghuni rumah ini karena berkunjung pagi-pagi tapi eomoni –begitu caraku memanggil ibu dari Baekhyun –mendukung penuh atas usahaku memberi putranya kejutan di pagi buta, di hari jadinya.

“Minri,” sapa Nyonya Byun saat beliau baru saja membukakan pintu untukku. “Masuklah, Baekhyun masih tidur pulas di kamarnya.”

Sebelum aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah, ada satu hal yang ingin kutanyakan. Satu hal yang sedikit pribadi dan agak tabu. Sebuah kebiasaan yang … Ugh! this is so freak but who knows?

Eomoni, Baekhyun… tidak punya kebiasaan tidur tanpa busana kan?” tanyaku hati-hati.

Nyonya Byun tertawa, membuatku ikut tertawa canggung. Tidak ada salahnya kan aku bertanya, daripada nanti ketika aku masuk malah aku yang menjerit (atau mungkin Baekhyun juga ikut histeris) –lalu rencanaku akan gagal.

“Tidak. Selama ini Baekhyun tidak pernah seperti itu. Naiklah,” ucap wanita itu sambil mengusak kepalaku.

“Terimakasih banyak eomoni.” Aku membungkuk kecil. “Eomoni, kalau ada suara jeritan dari Baekhyun –itu adalah bagian dari rencanaku. Eomoni tidak usah khawatir.” Ucapku sembari tersenyum.

Wanita itu tersenyum lembut sembari menepuk bahuku. “Aku mengerti. Buatlah hari ini berkesan untuknya, Minri.”

“Ne, eomoni.”

Aku berjanji akan membuat hari ini begitu berarti untuk Baekhyun.

Aku berlalu, kemudian berjalan menuju tempat tujuan utamaku. Menjaga langkah agar tidak terdengar dan tidak mengganggu.

Aku meletakkan kado di depan pintu kamarnya, lantas membuka pintu menggunakan duplikat kunci kamar yang telah dipinjamkan oleh Nyonya Byun padaku. Aku benar-benar merasa diberikan kepercayaan oleh ibunya Baekhyun.

Ceklek!

Aku membuka pintu kamar Baekhyun. Remang. Pencahayaan tampak minim dan aku harus berhati-hati mengambil langkah agar aku tidak menginjak apapun yang mungkin menimbulkan suara yang berarti. Sebenarnya kamar Baekhyun termasuk kategori kamar yang bersih untuk para lelaki. Tapi Baekhyun sedikit bermasalah dengan kerapian. Dia membiarkan remote tivi tergeletak di lantai dan beberapa buku pelajaran yang cukup tebal. Demi apapun aku tidak ingin terpeleset konyol lalu membuatnya bangun sebelum aku menjalankan rencanaku.

Baekhyun sedang tidur pulas di atas tempat tidurnya. Dengan tubuh yang terbungkus selimut, juga memeluk guling, lelaki itu tampak menggemaskan!

Aku melangkahkan kakiku mendekat. Ini adalah pertama kalinya aku melihat wajahnya saat tidur di kamarnya seperti ini. Aku memandangi wajah polos itu cukup lama. Lima menit? Sepuluh menit? Ah, aku tidak tahu. Sampai aku terkesiap, teringat pada tujuan utamaku. Ugh, wajah Baekhyun yang polos itu seketika membuatku lupa.

Aku berdiri di ujung ranjang. Lalu menarik-narik selimutnya. Sedikit menakut-nakuti Baekhyun boleh kan?

Kemarin, aku sengaja mengajaknya nonton salah satu film terseram menurut versi-ku di DVD rumahku. Conjuring. Dengan berbagai cara aku merayunya agar dia ikut menonton. Aku bahkan ber-aegyo di depannya. Sedikit memalukan tapi ya demi hari ini. Aku menekan gengsiku.

Kami menonton di ruang tengah dengan tirai tertutup. Kami membuat bioskop sendiri. Kebetulan saat itu hanya ada Oppa di rumah. Dan dia hanya mendekam dalam kamarnya. Tidak peduli meskipun aku membuat rumah berantakan. Ah, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku tidak ingin dimarahi eomma seperti saat aku membuat dapur beliau amburadul.

Baekhyun memeluk boneka spongebob milikku dengan erat. Aku tertawa pelan melihat wajah takutnya saat hantunya muncul. Oh, kalau kalian kira aku adalah pemberani, maka kalian salah. Sebenarnya aku juga takut pada film horror. Sepanjang film di putar, aku hanya menutup wajah dengan bantal. Sesekali menjerit karena ulah Baekhyun –jeritannya menular asal kalian tahu. Dan, ehm, dia beberapa kali memelukku. Well, lupakan bagian yang itu.

“Minri harus tanggung jawab kalau aku tidak bisa tidur malam ini.” Baekhyun membuang mukanya ke arah lain. Sepertinya dia marah padaku. Aku hanya bisa tersenyum di balik punggungnya.

“Bagaimana caranya dan bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak bisa tidur?”

“Aku akan menelpon Minri, lalu kau harus kerumahku dan menemaniku tidur!”

“Sebentar. Apa?! Apa maksudmu menemanimu tidur??” Aku menarik bahunya agar dia menghadapku. Dan aku menangkap wajahnya yang sedang menahan tawa.

“Tidur berdua sepertinya seru.” Baekhyun tertawa renyah, lantas melompat dari sofa.

“YAK! Apa yang kaupikirkan Baekhyun!!” Aku melemparkan bantal sofa, lantas mengejarnya yang sedang menghindar dari amukanku. Memberi cubitan di perutnya mungkin bisa membawa otaknya pada keadaan semula.

Kupikir semua adegan di film conjuring tadi tidak ada yang mengkhawatirkan. Otaknya sudah berkembang ya. Atau boleh kusebut dia sudah mulai dewasa.

 

Tapi itu tidak terjadi. Dia hanya menelponku dan mengucapkan selamat malam. Aku yakin dia bisa tidur nyenyak tanpa gangguan, meskipun mungkin sedikit adegan-adegan menyeramkan dari film itu tidak dapat hilang sepenuhnya dari pikirannya.

Kembali ke waktu sekarang.

Aku menarik selimutnya dengan perlahan tapi pasti. Aku tengkurap di ujung ranjangnya. Baekhyun merespon dengan menarik kembali selimutnya ke atas, dan aku menariknya lagi. sampai aku mendengar dia bicara.

“Ini aneh.” Ada jeda beberapa saat. “Kenapa seperti ada yang menarik-narik selimutku,ya.”

Aku berusaha menahan tawaku. Kemudian kembali menarik selimutnya perlahan. Kali ini tidak ada perlawanan. Aku memunculkan kepalaku, kemudian melompat.

“Daaar!!”

“AAAAAHH!!”

Teriakan itu mengharuskanku untuk segera menutup telingaku dengan kedua tangan. Baekhyun tidak main-main dengan suaranya yang kencang itu.

“SIAPA KAU? PERGI SANAAA!!”

Baekhyun melemparkan bantal padaku, dan sialnya tepat mengenai kepalaku. Menyebalkan.

“Baekhyun?!” Aku menghentakkan kakiku dengan gusar. Seenaknya saja melempariku dengan bantal.

EOMMA!! ADA HANTU DIKAMARKU!! DAN DIA TAHU NAMAKU!!!”

Baekhyun berteriak lagi sembari memojokkan punggungnya di kepala ranjang. Dia menarik tinggi-tinggi selimutnya, membuat tubuhnya tertutup sampai bahu. Kalau begini aku lebih ingin tertawa sekarang. Wajahnya itu… lucu sekali! Haha. Well, ku maafkan persoalan pelemparan bantal tadi.

“Pergi kau dari sini, tuan hantu… aku takut…” kali ini suaranya terdengar bergetar. Sementara Baekhyun meratap dan memohon-mohon seperti hampir kehilangan nyawa, aku berjalan menggapai sakelar lampu lantas menyalakannya, bersamaan dengan itu aku membuka kupluk jaketku. Kemudian tertawa.

Surprise!!

“Minri?! Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamarku??” Baekhyun membuka selimutnya kemudian berdiri. Rambutnya sedikit berantakan. Khas bangun tidur. “Minri membuatku takut setengah mati. Minri jahat! Minri harusnya–”

“Baek,” aku menghentikan celotehannya –yang tampaknya tidak akan berujung –dengan meletakkan telunjukku di depan bibirnya. Aku tersenyum padanya kemudian mengambil kue yang tadi kuletakkan di atas meja belajar Baekhyun. “Selamat ulang tahun.” Aku menghampirinya dan berdiri di depannya dengan menyodorkan kue di wajahnya.

“Waaah!” Baekhyun menatap kue tart itu dengan mata berbinar. Stroberi seolah berputar-putar disekitar matanya.

Aku mengambil pemantik api dalam kantongku lalu menyalakan lilin. Perlahan ujung bibirnya terangkat. Sepertinya dia lupa bahwa dia ingin mengomeliku tadi.

Baekhyun merentangkan tangannya seolah ingin memelukku tapi aku buru-buru menghentikannya.

“Baekhyun! Jangan buat kue ini jatuh karena ulahmu. Ayo buat permintaan lalu tiup lilinnya.”

Arra…” Baekhyun memejamkan matanya beberapa detik sebelum dia meniup lilin menyala yang ada di atas kue.

“Nah, begitu lebih bagus. Selamat ulang tahun, Baekhyun.” Ucapku sembari tersenyum.

“Minri orang pertama yang mengucapkan selamat padaku. Terimakasih, sayang.” Lelaki itu juga tersenyum. Ugh, dia baru bangun tidur, bagaimana wajahnya bisa semanis itu. Dan dia bilang apa? Sayang?! “Kau mengejutkanku, tahu. Aku masih terbayang-bayang dengan hantu kemarin. Dan kau tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dengan keadaan gelap dan cara yang menakutkan. Kukira di kamarku ada hantu.” Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Dia mengerucutkan bibirnya sambil mengusap matanya. Tampaknya dia masih mengantuk. Oh, boleh aku lemparkan kue ini ke wajahnya yang menggemaskan itu? Atau tidak?

“Maaf.” Aku tertawa pelan. Aku memasukkan satu stroberi ke dalam mulutnya sebelum meletakkan kembali kue tart itu di atas meja.

Aku baru akan mengambilkan hadiah di luar pintu kamar Baekhyun, tapi tiba-tiba dia memelukku dari belakang.

“Terimaksih sudah menyiapkan semua ini. Aku sayang Minri.”

Aku merasa wajah dan tubuhku menghangat. Punggungku yang menyentuh dadanya, membuat sensasi tersendiri. Kehangatannya merambat ke atmosfer. Kuharap oksigen di sekitar sini tidak pergi.

“Iya Baek, aku juga. Lepaskan aku dulu. Aku punya hadiah untukmu.”

Bukannya melepaskanku. Dia malah mengeratkan pelukannya. ini benar-benar membahayakan. Bagaimana kalau nanti Nyonya Byun melihat kami seperti ini. Dia bisa mengira kami melakukan hal yang tidak-tidak.

Aku menggeliatkan tubuhku. Mencoba melepaskan diri dari pelukan baekhyun. Ngomong-ngomong dia kuat juga ya.

“Tidak mau. Hadiahku adalah kau.”

Baekhyun mengecup pipiku singkat. Dan aku membiarkannya memelukku seperti ini sedikit lebih lama. Pintu kamar yang tertutup setidaknya sedikit membuat kekhawatiranku berkurang.

“Baek, boleh aku tahu apa harapanmu tadi?” tanyaku. Mengabaikan jantungku yang berdentum keras.

“Aku ingin setiap saat, sepanjang hidupku, aku selalu dikelilingi orang yang kusayangi.”

Harapan yang manis, Baek.

Baekhyun melonggarkan pelukannya, lalu melepaskanku. Aku sedikit bernafas lebih lega. Dia membalikkan tubuhku lantas meletakkan kedua tangannya di bahuku. Mata hazelnya menatapku dengan intens. Apa lagi ini!

“Kau mau membantuku mewujudkan harapanku itu kan?” Seolah terhipnotis dengan tatapannya, aku mengangguk.

Dia mendekatkan wajahnya. Lagi. Dan lagi. Sampai… bibirnya menyentuh bibirku. Err, kakiku seperti kehilangan daya untuk berdiri. Sapuan bibirnya yang lembut membuat sistem ditubuhku seolah diacak-acak. Dan aku masih bisa merasakan sisa-sisa stroberi dari mulutnya.

Aku memejamkan mataku saat kurasakan Baekhyun melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.

Hentikan Baekhyun. Hentikan!!

Jeritan-jeritan itu hanya mencapai tenggorokanku saja. Mulutku bahkan terkunci kan? Mana bisa aku berteriak padanya.

“Tetaplah bersamaku,” ucap Baekhyun setelah melepaskan ciuman kami.

Samar-samar tampak rona merah dipipinya yang putih. Dan aku tidak bisa membayangkan seberapa merahnya wajahku saat ini.

“Mana hadiahku?” dia menyodorkan tangannya di depan wajahku. Menghancurkan fantasiku tentang betapa memesonanya Baekhyun tadi.

Aku masih mengatur nafas. Udara terasa menyempit. Ah, mungkin karena jendelanya belum dibuka. “Kau bilang tidak mau hadiah,” sungutku.

“Siapa bilang tidak mau. Aku hanya menundanya tadi.” Baekhyun melipat tangannya di depan dada dengan dagu terangkat.

“Baik, baik, tunggu sebentar.”

Aku berjalan menuju pintu, lalu mengambil kotak hadiahku. Lantas menyerahkannya pada Baekhyun. Dia menyambutnya. Lalu duduk di tepi ranjang. Jari-jari lentiknya merobek bungkusan itu secara acak. Dia tidak peduli bungkusan itu robek sana-sini.

Headphone?”

Baekhyun mengeluarkan headphone corak bintang dengan warna biru muda yang kubeli beberapa waktu lalu dengan uangku sendiri.

“Maaf, hanya hadiah biasa.” Aku menurunkan pandanganku. Sedikit takut kalau Baekhyun akan kecewa dengan hadiah kecilku.

“Tidak. Apapun dari Minri, pasti luar biasa!” Baekhyun memelukku lagi dari samping. “Terimakasih ya.”

Aku mengangguk dan mengusap lengannya. “Apapun untukmu, Baekhyun.”

***

Apapun untukmu.

Aku memegang janjiku. Setelah kami berdua puas memakan kue tart yang kubeli. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Dan tengah hari, Baekhyun menjemputku. Dia bilang dia ingin menghabiskan hari jadinya bersamaku. Oh tentu saja aku tidak bisa menolak. Aku sudah bilang kan aku akan memberikan apapun –yang aku bisa kabulkan –untuknya.

“Mau nonton apa Baek?” tanyaku saat kami berdua berada di barisan antrian konter tiket di bioskop.

Baekhyun menyusuri pandangannya ke layar yang tertera di depan. Dia tampak mengerutkan keningnya sambil membaca beberapa judul film yang sedang dimainkan.

Genre action?” Dia menatapku dengan kening terangkat.

Aku mengendikkan bahuku. “Kau yakin itu bukan film dewasa?” aku meringis membayangkan aku dan Baekhyun terjebak dalam studio yang menampilkan film dewasa. Pasti akan canggung sekali.

Baekhyun tampak berpikir lagi. Kemudian mengangkat kepalanya dengan mata berkilat antusias. Seolah-olah ada lampu yang menyala di belakang matanya itu.

“Aku tahu! Aku tahu!” Baekhyun mengacungkan jarinya dengan semangat, membuatku tertawa pelan. Anak ini. Tahu apa sih.

Kami maju satu langkah di barisan antrian. Tinggal satu orang lagi sebelum kami sampai ke konter tiket.

“Apa kau ingat dengan film yang kubicarakan tadi malam?”

“Conjuring?” tanyaku. Baekhyun menutup mulutnya dan menghembuskan napas lewat hidung. Bibirnya bergerak-gerak menggerutu.

“Bukan itu. Coba ingat-ingat lagi.”

“Apa sih Baek? Aku sedang malas berpikir.” Aku melipat tanganku di depan dada lantas mengalihkan pandangan ke arah lain. Sambil mengingat-ingat film apa yang dimaksud Baekhyun, aku mendengar dia menggumam tidak jelas.

Superhero laba-laba? Peter Parker?

“Spiderman! Amazing Spiderman 2.” Seruku sembari menghadap Baekhyun. Dan anak itu menyengir selebar joker.

“Yeah!” Baekhyun memegang tangan kananku lantas menarik tubuhku ke depan konter tiket saat kami berada di antrian barisan depan.

“Jadi anak muda, berapa tiket untuk film Amazing Spiderman 2-nya?” ucap wanita muda di balik pembatas dengan senyuman ramahnya. Sepertinya perempuan itu mendengar apa yang kami bicarakan. Atau mungkin kami tanpa sengaja bicara terlalu keras.

“2 tiket. Barisan depan.” Baekhyun mengeluarkan dompetnya. Menunggu transaksi selesai, aku membaca daftar film yang sedang dimainkan.

“Baik, tunggu sebentar.”

Barisan depan. Tunggu dulu!

“Baek, barisan depan?” aku mengerutkan keningku. Baekhyun memang konyol. Barisan depan bukan hal yang bagus. Aku bisa sakit mata saat keluar dari studio nanti. Barisan depan itu terlalu dekat!

“Ya. Ugh! Aku yakin ini keren sekali! Kita bisa merasakan seolah-olah berada di sana saat Spiderman bertarung.”

“Tapi–”

“Ini tuan.” Pegawai wanita itu menyodorkan tiket di depan kami. Meninterupsiku saat aku baru saja akan mendebat Baekhyun lagi.

“Ayo. Kau tidak akan menyesal.”

Aku hanya bungkam. Bahkan ketika Baekhyun menggenggam tanganku dan menyeretku ke dalam studio. Duduk di barisan depan. Huh, layarnya besar sekali!

Beberapa menit sebelum film-nya mulai, Baekhyun keluar membeli satu kotak besar popcorn dan dua gelas minuman soda. Untunglah tangan mungilnya itu tidak berulah. Aku tidak bisa membayangkan Baekhyun tersungkur dengan membawa makanan sebanyak itu. Seperti kasus kue tart beberapa waktu yang lalu.

Film dimulai.

Lampu studio dimatikan.

 

“Aku ingin menjadi Spiderman yang bisa menyelamatkan kota.”

Belum setengah jam filmnya berlangsung. Baekhyun sudah mengatakan hal itu tujuh kali! Yang benar saja.

Aku menggeleng tidak percaya sembari menjejali mulutku dengan popcorn. Baekhyun menyandarkan punggungnya menatap layar. Filmnya menarik, sungguh! Tapi berada di barisan depan membuat mataku perih. Aku menunduk, memejamkan mata sesaat.

“Gwen Stacy itu kekasih Peter Parker ya? Bukannya Marry Jane?”

Aku menolehkan kepalaku pada Baekhyun. Lalu kembali ke layar. Ya, mestinya Marry Jane. Tapi ini kan film yang berbeda. Pemerannya juga berbeda.

Dan… ugh! Apa-apaan itu! mereka berciuman!!

Aku mengalihkan pandanganku pada gelas cola yang masih utuh. Lantas meraih gelas itu, tidak bermaksud menyedotnya terburu-buru tapi kenyataannya malah seperti itu. Aku tersedak.

“Minri kenapa?” tanya Baekhyun pelan. Aku hanya menggeleng sampai batuknya mereda.

“Makanya pelan-pelan….” Baekhyun mengusap punggungku beberapa detik (terasa seperti ada sengatan ringan dalam tubuhku), sebelum fokus pada layar lagi.

Aku menyelami jalan ceritanya. Awalnya membingungkan. Belum jelas apa alasan ayah Peter pergi. Lalu kedatangan temannya yang bernama Harry. Kemudian kematian yang dirahasiakan oleh Osborn tentang pegawainya bernama Max. Selama film berlangsung aku fokus… fokus… fokus sampai Baekhyun membuyarkan semuanya dengan mencium pipiku –lembut.

“Baek.” Aku tergelak, lantas menoleh padanya. Dia hanya menggerakkan bola matanya dengan liar, lalu mencium bibirku secepat kilat. Alih-alih bicar, dia malah kembali memandang lurus ke layar. Sungguh aneh.

***

Kami sedang dalam perjalanan pulang. Berjalan bersisian di trotoar yang cukup sepi. Ini masih jam kerja. Dan ini hari selasa. Orang-orang pasti sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Baekhyun belum bicara semenjak filmnya selesai. Lelaki itu tampak menakutkan jika tidak bicara, merengek atau mengoceh. Maka dari itu aku menggoyangkan lengannya.

“Kau kenapa?” tanyaku.

Baekhyun menoleh padaku. “Aku tidak ingin menjadi Spiderman. Aku tidak ingin seperti Peter Parker!”

O-ow, Ada yang berubah pikiran rupanya.

“Bukannya Spiderman itu hebat? Kau bilang dia bisa menyelamatkan kota kan?”

“Ya… Tapi dia kehilangan kekasihnya Gwen, dan juga sahabatnya Harry. Kehilangan itu kedengarannya sangat menakutkan.” Baekhyun meraih tangan kananku, menautkan jari-jarinya denganku.

“Tapi kau tidak akan kehilangan Gwen ataupun Harry. Kau bahkan tidak mengenal mereka berdua, Baek.” Aku berusaha menahan tawa. Baekhyun melirikku dengan ekor matanya. Lantas mendengus.

“Bukan itu maksudku–Minri awas!!” Baekhyun menarik tubuhku kembali ke trotoar.

Brmm!!

Tiiiittt!!

Apa itu tadi? Jantungku seolah-olah sempat berhenti. Aku membeku di tempatku sekarang.

“Minri tidak apa-apa?” tanya Baekhyun sembari memperhatikanku dari atas, sampai bawah, lalu ke atas lagi.

Tidak. Aku tidak bisa baik-baik saja setelah mobil berkecepatan tinggi lewat di depanku, nyaris menyentuh tubuhku kalau saja Baekhyun tidak segera menarikku. Dan mungkin aku sudah terpelanting beberapa meter dari tempatku berdiri.

Puji Tuhan. Baekhyun menyelamatkanku.

Tadinya aku ingin menyeberang (kami sudah tiba di tempat penyebrangan ya, ngomong-ngomong). Tapi aku tidak sadar bahwa lampu tanda pejalan kaki sudah berubah merah. Dan kecepatan mobil yang baru saja lewat di depanku, seperti roket, yang bisa saja membuat nyawaku melayang. Oh tidak, itu mengerikan sekali!

“Baek, aku… takut….” Aku menghambur ke dalam pelukannya. Tidak menghiraukan bahwa kami sedang berada di tepi jalan.

“Sudah tidak apa-apa.” Baekhyun mengelus punggungku. Lalu melepaskan pelukanku. Dia menyapu air mata yang entah sejak kapan mengalir dipipiku. “Aku tidak ingin menjadi Peter yang kehilangan Gwen. Dan kau membuat nasibku nyaris seperti Peter.”

Aku lupa cerita bagian ini. Peter kehilangan Gwen dan Harry dalam waktu bersamaan. Dan bisa kalian bayangkan betapa sedihnya ketika orang yang kita sayangi, harus pergi meninggalkan dunia. Itulah yang dirasakan Peter.

“Kau tidak perlu menjadi Peter Parker apalagi Spiderman. Kau sudah menyelamatkanku, bagiku kau lebih dari sekedar superhero. Terimakasih….”

“Tapi aku superhero yang butuh imbalan.” Baekhyun mengulum senyumnya, membuat banyak tanda tanya menggantung dikepalaku.

“Eh?”

“Seperti ini.” Baekhyun menghalangi pandanganku dengan wajahnya. Bibirnya yang lembab dan lembut menyentuh bibirku.

Ini tempat umum.

Ini di tepi jalan.

Boleh aku pingsan sekarang? Atau tidak?

“Ayo pulang.” Baekhyun tersenyum dengan inosennya. Hari ini secara resmi umurnya bertambah. Dan aku masih tidak percaya akan hal ini. Wajahnya bahkan masih seperti bayi. Kelakuannya tak lebih bocah berumur tujuh tahun. Tapi dia tetaplah pacarku yang manis yang terkadang bisa bersikap dewasa dan membuatku semakin sayang padanya.

Selamat ulang tahun Baekhyun.

Kuharap di tahun-tahun selanjutnya kita akan terus bersama. Selamanya.

*END*

Bonus picuu for you🙂

birthdayboy1

birthdayboy2

birthdayboy3

#HappyBaekhyunDay

Hai seperti yang kukatakan sebelumnya, aku bakal ngepost FF ultah Baekkie. Tadinya mau ficlet doang. Sebenarnya adegannya bisa selesai pas minri ngasih hadiah ultah, sudah. Tapi aku ngerasa kuraaaang. Masa ultah Baekkie aku cuma bisa nulis segitu, dan akhirnya aku tambah-tambah adegan kencannya.

Maaf ya masuk-masukin Spiderman. Aku baru nonton sih, dan adegan2 dalam film itu masih kebayang dikepalaku. Hahaha

Hope you like it! Sorry for typo.

Thank you so much for reading this.

See ya!❤

©Charismagirl, 2014.

230 thoughts on “[Minri’s Diary – 05] This is Your Day

  1. Ping-balik: [Minri's Diary - 09] My Cute Hero | EXO Fanfiction World

  2. Ohhj goodd!! Sumpah ini lucu banget ceritanyaaa!! So sweet…mau banget punya pacar kayak baekkieeee uuuuu hahahahha semangat aauthorrrnimmmm!!

  3. Ping-balik: [Minri's Diary - 08] Where Did He Go? | EXO Fanfiction World

  4. aaak… byunbaek ngegemesin banget disini.. aku bawa pulang yaaaa /eh jangan ding/😀

    paling suka waktu dia teriak “ EOMMA!! ADA HANTU DIKAMARKU!! DAN DIA TAHU NAMAKU!!!”
    hahahahahaha… semoga aja telinga minri gak rusak mengingat teriakan byunbaek itu bisa bangunin orang sekampung (?)😄

    dan apaan tuh?? dia nyium minri di tepi jalan?? bener2 deh.. -_-

    love this fic.. keep writing^^

  5. Maygad so sweet banget!! Eonnie kalo bikin FF bagus semua.. lagi keburu juga bagus.. daebak banget dehh buat Eonnie dan gue gak percaya kalo baek semakin dewasa *ehh hahaha😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s