Truly, I Love You (chapter 14)

truly-i-love-you-3_zpsbad042c5

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), Yunju, EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

poster : by vind

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is just a fiction😀

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-Chapter 14-

-0-

Teori tentang perasaan itu. Siapa yang tahu, dia bisa datang kapan saja dan pada siapa saja.

 

D.O menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. pikirannya serasa penuh dan walau jam sudah menunjukkan tengah malam tapi matanya belum juga merasakan kantuk, padahal pulang sekolah tadi ia merasa begitu lelah. D.O mendesah lagi, kali ini lebih dalam dan seakan tergambar jelas, ada penyesalan dalam setiap tarikan nafasnya.

Lagi-lagi sakura menangis karenanya.

Flashback on

Sakura menatap D.O dalam, dan tanpa disadari gadis itu tiba-tiba butiran airmatanya sudah membasahi pipinya yang kemerahan. Sakura merapatkan mulutnya menahan amarah. Ingin marah membentak tapi ia sendiri pun kehilangan kata-katanya.

D.O terdiam kaku, tercengang dengan kalimat yang baru saja di katakannya. Tidak menyangka kalau kalimat pendek itu mampu membuat sakura terlihat begitu rapuh dalam sepersekian detik. D.O mengepalkan tangannya kuat, antara merasa bersalah dan kesal pada dirinya sendiri.

Asal sakura mengelap air matanya, “seharusnya aku sudah tahu sejak awal kalau kau tidak akan pernah bisa menerima gadis asing sepertiku, kyungsoo.”

Tanpa menunggu lama sakura segera berlari ke kamarnya, dan dengan satu bantingan keras pintu bercat putih itu tertutup dengan sempurna.

D.O menjambak rambutnya gusar, dan mendesah keras. “ternyata kau sebodoh itu Do Kyungsoo.”

Flashback off

Untuk kesekian kalinya D.O mendesah dalam, hatinya terlalu gundah dan kepalanya terlalu penuh untuk mau diajak berpikir tenang, kamarnya gelap. D.O bahkan tak ada niatan untuk menyalakannya, sinar bulan menyinari kamarnya dari balik sela jendela. Malam yang indah, namun tak mampu mengobati luka hatinya, selalu terasa ada yang tergores setiap kali sakura menjantuhkan air matanya. Dan Selalu ada tempat dalam rongga hatinya yang tercabik setiap kali sakura menangis karenanya.

Awalnya sakura memang membuatnya geram karena tiba-tiba saja menanyakan tentang yunju, karena dirasanya selain chen, nama itu juga terasa tak perlu dibicarakan di rumah ini. tempat yang sejatinya hanya untuk mereka berdua. Setiap kali sakura menyebutkan nama chen ia luar biasa kesal, dan sekarang sakura ingin membahas yunju ia menjadi lebih kesal.

Ia tak membenci yunju. Sungguh. Walau dulu yunju menghilang, tidak memberi kabar sama sekali tak membuat D.O membencinya, pun ketika gadis itu tiba-tiba datang lagi, walaupun kedatangan yunju yang tiba-tiba memang cukup membuatnnya kaget tapi setelah itu, D.O tak berniat memusingkannya lagi. apalagi setelah mendengar berita duka mengenai kematian ibunya, rasanya kalau tak adil kalau terus menyalahkannya karena kepergiannya yang tiba-tiba, mungkin yunju punya alasan yang tak bisa ia katakan.

Tapi saat sakura tiba-tiba saja menanyakannya, bertanya siapa yunju, dan rentetan pertanyaan mengesalkan lainnya. Dia cukup naik darah. Yunju hanya temannya dan itu memang tidak penting.

Lagi-lagi helaan nafas lelah, “aku hanya sulit mengatakannya sakura, aku tak benar-benar ingin mengatakan hal brengsek seperti itu. sungguh.”

D.O bangkit dari tempat tidurnya, apakah permintaan maaf akan cukup memperbaiki segalanya? Bukankah dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tak akan membuat gadis itu menangis lagi? D.O melangkah pelan menuju pintu kamar sakura, hening suasana sampai saat ia baru saja hendak mengetuk pintu kamar gadis itu, isakan pelan terdengar dari dalam.

“…I don’t want to be here again.”

I want to go home.”

D.O menahan nafasnya.

I shouldn’t be here, bunda.”

D.O menarik kembali tangannya yang telah terangkat untuk mengetuk. Genggamannya menguat, jatungnya berdetak tak teratur. Perkataan sakura tadi, dia serius?

D.O’s POV

Aku melangkah mundur, masih tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Apa gadis itu serius dengan ucapannya? Bunda? Bukankah itu cara sakura memanggil ibunya? Aku berusaha menenangkan hatiku, kutarik nafas dalam dan kuhembuskan perlahan. Kenapa sakura berpikir untuk pulang? Apa aku seterluka itukah perasaannya?

Aku memutuskan untuk mengurungkan niatku untuk meminta maaf, sakura pasti masih kesal. Ia pasti tak akan dengan mudah memberikan maafnya. Aku juga tak sepenuhnya salah dalam hal ini. kalau saja sakura tak membahas yunju, malam ini tak akan berakhir dengan pertengkaran bodoh seperti ini kan?

Author’s POV

Keputusan D.O untuk mengurungkan niatnya meminta maaf ternyata berujung panjang, setelah semalaman menangis di telepon lintas Negara dengan ibunya. Sakura memutuskan untuk mendiamkan D.O, keesokan harinya, pagi-pagi sekali sakura sudah menelpon kim ahjussi untuk mengantarnya ke sekolah. Padahal hari masih terlalu pagi, bahkan embun belum sepenuhnya mongering di dedaunan.

Sakura sampai di sekolah dengan keadaan gerbang yang baru saja di buka, penjaga sekolah sempat bingung ketika ia baru saja membuka gerbang sudah ada murid yang datang. sakura menunggu dalam keheningan di dalam kelasnya, kicauan burung terdengar indah di luar jendela kelas. Dari balik mejanya, sakura menatap sendu langit-langit seoul yang mulai cerah. “kota ini indah, tapi.. tapi kenapa kyungsoo harus seperti itu?” sakura meletakkan kepalanya di atas kedua lipatan tangannya. Dia tidur terlalu larut dan memaksa bangun terlalu pagi, sakura memejamkan matanya. Pasti eunyeol akan membangunkannya kalau gadis itu datang nanti. Batin sakura.

D.O merapikan dasinya saat menuruni tangga, ahjumma sedang sibuk menyiapkan sarapannya. D.O baru memakai jasnya saat ia hendak duduk di kursinya. Kursi di depannya kosong, tidak ada gelas susu yang disediakan ahjumma untuk sakura, D.O mengerutkan keningnya, heran. “ahjumma tidak menyiapkan sarapan untuk sakura?” tanyanya sembari meminum susunya.

“nona sakura sudah pergi sejak pagi-pagi sekali tuan, tadi dia bahkan sampai menelpon kim ahjussi untuk cepat-cepat mengantarnya ke sekolah. Dan dia belum sarapan.” Ucap kang ahjumma sopan, semalam dia juga salah satu saksi bisu pertengkaran sakura dan D.O, selama ini setiap kali kedua majikannya itu bertengkar, ahjumma tak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam. Namun, didalam hatinya ia sebenarnya miris, melihat bagaimana kedua pasangan tersebut seringkali terlihat begitu dingin satu sama lain.

“siapkan bekal untuknya, biar aku yang bawa.” Ujar D.O cepat, ia kehilangan seluruh nafsu makannya. Semalam sakura tak makan dan pagi ini berani sekali gadis itu juga tak mau sarapan. Rasanya sebentar lagi ia yang akan berakhir mendapat omelan noonanya karena membiarkan sakura sakit. Lagi.

D.O membawa kotak makan berwarna merah tersebut dan sebotol penuh susu coklat ke kelas sakura, belum banyak anak-anak yang datang saat ia memasuki kelas tersebut. “ini.” D.O meletakkan tempat makan dan botol minuman tersebut di meja sakura, merasa ada wangi karamel manis yang tiba-tiba saja menguat membuat sakura mengangkat kepalanya, harusnya ia tahu dari parfum yang digunakan, harusnya ia tahu bahwa itu D.O, dan harusnya ia tahu bahwa ia tak perlu mengangkat kepalanya.

Mata mereka saling bertemu, mata merah dengan lingkar mata yang menghitam milik sakura menatap tatapan dalam D.O, dengan bola mata hitam yang sepekat malam. Beberapa anak melihat mereka sekilas dan berbisik, D.O tak memusingkannya. Sakura membuang tatapannya cepat.

“makanlah, aku tak mau kau sakit.” Kata D.O, sebelum ia melangkah keluar kelas.

Sakura masih bersikeras tak mau mengalihkan pandangannya dari jendela, dia berjani tidak mau melihat D.O, dalam waktu dekat ini atau mungkin selamanya.

Sesaat kemudian, dengan loncatan riang eunyeol memasuki kelas dan langsung mengagetkan sakura yang dilihatnya sedang melamun keluar jendela. “ya!” sentak sakura kaget, eunyeol hanya terkikik pelan dan duduk di kursinya.

“kau serius sekali sih, kau sedang melamunkan apa memangnya?” Tanya eunyeol seraya merapikan ikatan rambutnya.

“tidak ada.”

“eh, apa ini? bekalmu?”

“bukan, makan saja.” kata sakura dingin, dia menatap eunyeol sekilas dan menelungkupkan lagi kepalanya.

“jinjja? Yehet!”

Sakura mengangkat kepalanya dan menaikkan alisnya, “kau barusan bilang apa?”

“eoh? Uhm. Akan kuceritakan nanti.” Jawab eunyeol dengan mulutnya yang penuh. Sakura mengangkat bahunya dan kembali ke posisinya.

D.O menatap dingin kedalam kelas, sejak tadi ia memang tidak pernah benar-benar kembali ke kelasnya. Tadi ketika ia keluar dan baru berjalan beberapa langkah, didengarnya eunyeol mengagetkan sakura, D.O melihat mereka bercakap-cakap dari balik jendela. D.O tak mendengar apa yang mereka bicarakan namun seketika hatinya terasa mencelos begitu melihat sakura membiarkan eunyeol memakan bekal yang tadi di bawakannya, dan bahkan gadis itu seakan tidak ada niatan untuk menyentuhnya sedikitpun. D.O merapatkan rahangnya menahan kesal, dan dengan decakan keras D.O berlalu dari tempatnya.

-0-

Setelah sehun mengajaknya ‘berteman’, eunyeol memang jadi lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya bersama sehun. Alasan sebenarnya memang karena sakura belakangan menjadi gadis perpustakaan yang selalu saja ingin berkutat dengan buku-buku disana. Dan eunyeol, sampai kapanpun, kalau bukan karena terpaksa, ia tak akan mau dengan senang hati menginjakkan kakinya disana. Selalu ada tempat yang lebih asik untuk belajar bukan? Begitu bantahnya setiap sakura menanyakan kenapa ia tak mau diajak belajar di perpustakaan.

“aku mau sandwich tuna itu.” pinta sehun pada ahjumma penjual makanan. Ia merogoh kantongnya dalam dan mengeluarkan beberapa lembaran uang won.

“kau mau menraktirku kan?” Tanya eunyeol sedikit berharap. Kemarin dia sudah menraktir sehun minuman karena kata sehun itu sebagai penanda, awal sebuah pertemanan.

“enak saja. bayar sendiri lah.” Tolaknya cuek.

“ya!” bentak eunyeol keras. Ia mencubit keras lengan sehun.

“ah! Sakit tahu!” pekik sehun tak kalah keras, ia mengelus lengannya yang ia yakini dibalik jas hitamnya itu pasti memerah. “iya, iya. Apa yang kau mau? Kutraktir.”

“yehet!” eunyeol menutup mulutnya cepat.

Walau eunyeol berbicara cepat, sehun dapat menangkap dengan jelas apa yang baru saja dikatakan gadis itu, “hehehet. Aku bahkan baru mengatakan kata itu sekali dan kau dengan cepat sudah tertular. Ckckck.” Dengan sunggingan senyuman penuh penghinaan, sehun menatap eunyeol sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ugh. Tidak.”

Obrolan kecil mereka terhenti begitu chanyeol, baekhyun, dan kai memasuki kantin. Kemarin hyung-hyungnya itu sudah menggodanya habis-habisan karena tertangkap basah sedang meminum soda bersama eunyeol di bangku taman dekat lapangan. Dan sekarang, rasanya sehun akan mendapat godaan yang lebih memalukan lagi dari kemarin.

“sehun-eeeee. Uri sehun-eeee” dengan nada yang asal baekhyun mendendangkan nama sehun.

“ck. Mwo?” ucap sehun dengan malas, eunyeol yang masih berdiri disebelahnya hanya mampu menggeleng pelan melihat tingkah mereka, ia baru sadar kalau ternyata sehun bisa terlihat begitu tak berdaya ketika sedang di goda teman-temannya. Dan wajah sehun ketika ia sedang di jadikan bahan lelucon terlihat sangat menggemaskan dengan kuping dan pipinya yang kemerahan.

“belikan aku ramyeon. Aku tak sarapan pagi tadi.” Pinta baekhyun dengan nada manja.

Sehun memandanganya geli, “kenapa aku? uang jajanku tak cukup.”

“ah kau ini. yah, Aku tahu, kau sudah punya pacar sekarang. Jadi kau tak mau lagi berbagi dengan hyung-hyungmu ini kan? aku mengerti Hun-ee. Kami mengerti.” Timpal chanyeol asal, dengan wajah yang ia usahakan seserius mungkin.

“mwoyaa~~” terdengar jelas ada nada kesal dalam rengekkan suara sehun. “pacar apanya, aku memang tak ada uang hyungnim.”

Sehun menghentakkan kakinya ke lantai dan segera berlalu menuju meja kantin. Meja khusus yang seakan diperuntukkan bagi mereka itu memang selalu kosong. “uh menyebalkan sekali byunbaek itu. Parkyeol bodoh. Dan Kkamjong. Awas saja kalau dia mengataiku lagi disini.”

Eunyeol menatap sehun sinis. “kau berisik sekali. Seperti perempuan saja.” omelnya.

“jadi bagaimana ceritanya saat sehun menyatakan cintanya padamu eunyeol-ah?” Tanya kai begitu ia mengambil kursinya dan duduk di dekat eunyeol.

“eoh?”

“ya! kemanhae!” rengek sehun memelas.

Serentak baekhyun, chanyeol, dan kai tertawa keras. Eunyeol hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menyunggingkan senyum tipis di ujung bibirnya. keempat laki-laki ini luar biasa aneh ternyata. Komentarnya dalam hati.

-0-

“kau yakin tak ingin memberitahu D.O sunbae terlebih dahulu kalau kau ingin menginap di rumahku?” Tanya eunyeol begitu mereka menaiki bus kearah rumahnya. Tadi setelah pelajaran selesai sakura memang tiba-tiba saja mengatakan kalau ia ingin menginap di rumah eunyeol. dan begitu di parkiran menemui kim ahjussi, sakura hanya mengatakan kalau ia akan main dulu ke rumah eunyeol, bukannya mengatakan menginap.

Sakura hanya menggeleng sebentar sebelum memakai headsetnya. Eunyeol mengerutkan keningnya sejenak, namun ia hanya mengangkat bahunya sedikit dan tak bertanya lebih jauh lagi.

Ibu eunyeol menyambut sakura hangat, sejak eunyeol mengenalkan sakura pada keluarganya, gadis itu memang sudah di sambut dengan sangat baik disana. Setelah berbincang sebentar mereka langsung menuju kamar eunyeol yang berada di lantai dua. Eunyeol segera mengganti bajunya sementara sakura membaca beberapa majalah mingguan yang tergeletak disana. Ada beberapa desain yang terselip disela lembaran majalah tersebut dan sakura tersenyum kecil, bakat eunyeol semakin berkembang saja. batinnya.

Setelah makan malam, eunyeol mengajak sakura kembali ke kamarnya. Ia juga sudah meminjamkan sakura pakaian, untungnya ukuran baju mereka tidak jauh berbeda, sakura hanya sedikit lebih kecil darinya. “ini hanya aku yang merasakannya atau memang kau seharian ini jadi lebih diam.” Gumam eunyeol saat sedang membuat sketsa di bukunya,

Sakura yang sedang berbaring di ranjang eunyeol hanya melihatnya sekilas dan kembali sibuk membaca majalahnya, “perasaanmu saja, tadi pagi kau bilang mau menceritakan sesuatu. Apa?”

“oh. Aduh, kau ingat saja. janji untuk tidak menertawakanku?” Tanya eunyeol memastikan, ia sudah membalik kursi belajarnya dan menghadap sakura. setelah sakura menoleh dan menganggukkan kepalanya pasti, eunyeol memulai ceritanya.

Sejam berlalu dan eunyeol sudah sampai di ceritanya ketika siang tadi sehun habis-habisan digoda hyungnya yang lain. Sakura hanya tersenyum kecil menanggapi, “jadi kapan kalian akan resmi pacaran?” Tanya sakura langsung begitu eunyeol menyudahi ceritanya.

“uh apa sih? Kenapa kau jadi sama saja dengan mereka? Aku hanya berteman.”

“arasseo, tapi kurasa aku akan lebih senang kalau kau dan sehun bisa bersatu.”

Mendengar kata-kata sakura, eunyeol memutar kedua bola matanya. “jangan ucapkan kata itu didepanku. Menggelikan sekali. Kau sendiri, hubunganmu dengan D.O sunbae bagaimana? Kalian semakin mesra kan?”

Sakura mengambil salah satu boneka eunyeol dan menutup wajahnya, “aku tak mau bahas itu.” kata sakura dingin.

Eunyeol memiringkan kepalanya, “kenapa? Apa terjadi sesuatu? Cerita padakuuu.” Rengeknya sembari menarik boneka yang menutupi wajah sakura.

“tidak ada.” Sakura membalik tubuhnya membelakangi eunyeol dan pura-pura tidur. Walau eunyeol sudah merengek memintanya bercerita, sakura tetap memejamkan matanya dan seolah tak mendengar. Terlalu sakit untuk di ceritakan. Batin sakura.

-0-

D.O kembali ke rumah begitu langit sudah gelap, ia memijit kepalanya yang sejak siang tadi sedikit pening. Kerongkongannya juga mulai terasa tak enak. Begitu memasuki rumah, suasana begitu sunyi. Hanya ada suara gemericik air dari dapur, dan dilihatnya ahjumma memang sedang mencuci piring. “ahjumma.” Ucap D.O pelan, dia duduk mengambil tempat di meja makan.

“saya baru saja memanaskan sup tuan, apa anda ingin langsung makan sekarang?”

“uhm, nanti saja. aku belum lapar. Sakura sudah pulang?”

Ahjumma menggeleng pelan sebagai jawaban, D.O menghela nafasnya. Kemana lagi gadis itu? batinnya. Setelah meminum segelas air, D.O memutuskan untuk langsung ke kamarnya. Mungkin tidur sebentar sembari menunggu sakura bisa mengurangi rasa pusing di kepalanya.

Petir besar menyambar saat D.O membuka matanya, langit begitu kelam dengan hujan yang cukup deras mengguyur bumi. D.O menyalakan lampu kamarnya yang sedari tadi gelap, sudah pukul 10 malam, apa sakura sudah pulang? Tanya D.O dalam hatinya. Dia keluar dari kamar dengan seragam yang masih lengkap, belum sempat digantinya. D.O mengetuk beberapa kali kamar sakura, dan tidak ada jawaban. Walau ragu, D.O memutuskan untuk membuka kamar gadis itu. kamarnya gelap dan masih rapi, tanda kalau pemiliknya belum kembali.

Sudah larut dan cuaca buruk. Seketika perasaan D.O berubah tak menentu. Ia menuruni tangga dengan cepat, berusaha mencari ahjumma yang semoga saja belum pulang. Namun, setelah berkeliling rumah, hanya pesan untuk segera makan malam yang tertempel di pintu kulkas dari ahjumma. Wanita paruh baya itu pasti sudah kembali ke rumahnya. Dengan berlari kecil, D.O kembali ke kamarnya dan mengambil kunci mobil.

Sudah satu jam berlalu dan D.O hanya berlalu lalang tak tentu arah di jalanan yang cukup lowong karena cuaca buruk, hujan masih terus turun dengan derasnya diselingi kilatan petir yang cukup membut bulu kuduk berdiri. Handsfree sudah sejak tadi menempel di telinganya. Dan tak satupun dari panggilannya yang di jawab sakura. “kau dimana sakura?” ujar D.O khawatir sembari menggigiti kuku jarinya. D.O sudah ke sekolah tadi, mungkin saja kejadian terkunci di gedung sekolah dulu terulang lagi, sayangnya menurut keterangan penjaga sekolah, sudah dapat dipastikan tidak ada siswa yang masih ada di sekolah di jam yang selarut itu.

Selang beberapa menit, ponselnya berdering tanda sms masuk. Dari ahjumma. ‘ahjumma, aku menginap di rumah eunyeol. katakan saja begitu pada kyungsoo. gomawo ahjumma. Ps: itu forward sms nona sakura barusan tuan.’

D.O’s POV

Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi begitu membaca isi pesan sakura, gadis itu. kenapa dia tahu sekali cara untuk membuatku kesal? Aku membaca lagi isi pesan tersebut. dan mendengus keras, jadi menurutnya lebih baik memberitahu ahjumma lebih dahulu ketimbang langsung memberitahuku? Dan apa maksudnya puluhan panggilanku tak satupun di jawabnya dan dia bisa mengirimi ahjumma pesan? Aku mengetukkan kepalaku di jok mobil, rasanya ingin detik ini juga menarik sakura pulang dan menanyakan banyak hal padanya, tapi aku tak tahu rumah eunyeol dan juga tak berniat untuk mencari tahu.

Dengan perasaan yang campur aduk, aku menginjak pedal gas keras.

Aku begitu mengkhawatirkannya sampai rasanya akan gila tapi dia? Aku berdecak keras.

-0-

Pagi itu aku terbangun dengan pusing yang lebih hebat dari kemarin, saat sarapan ahjumma juga menanyakan keadaanku karena katanya wajahku sedikit pucat. Iya kah? Aku hanya berkaca sebentar saat merapikan rambut tadi, jadi tak terlalu tak memerhatikan. Lagipula, semalam aku tak jadi makan. Terlalu kesal untuk bisa tenang menikmati makan malam setelah sia-sia mencari sakura semalam.

Sehun langsung menyambutku begitu aku keluar dari mobil, dia bilang pelatih memintaku untuk bertemu sore nanti. “untuk?” tanyaku.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “aku hanya disuruh mengatakan itu tadi. Hyung, kau baik-baik saja?”

“hm.”

“benarkah? Tapi wajahmu pucat sekali.”

“tidak apa-apa, aku duluan.” Setelah menepuk bahu sehun, aku segera berlalu sebelum anak itu menanyakan banyak hal lain lagi.

-0-

Author’s POV

Sakura merapikan rambutnya di depan cermin, karena tak pulang ke rumah, sakura hanya menata rambutnya dengan kunciran kuda sederhana. Padahal biasanya pagi-pagi sekali ia sudah meminta ahjumma menata rambutnya seperti yang ibunya sering lakukan saat ia masih di Indonesia. Sakura merapikan seragam sekolahnya, ternyata keputusan menginap tanpa persiapan apa-apa adalah keputusan yang kurang tepat, semuanya serba tanpa kesiapan dan yang jelas itu cukup membuatnya kesusahan pagi tadi.

“aku menginap di rumah eunyeol lagi ah, tapi aku harus pulang dulu. Tapi aku tak mau bertemu kyungsoo.” gumam sakura pada pantulan dirinya di cermin dan diakhiri dengan desahan panjang.

“hei.” Seseorang menepuk pundak sakura membuat gadis itu terlonjak kaget. Sakura menoleh dan ternyata yunju yang barus saja menepuknya.

“ah eonni, kukira siapa.” Ujar sakura lega.

“sedang apa kau berdiri sendirian disini?”

“aku baru saja bercermin tadi. Aku duluan eonni.” Pamit sakura, yunju membalasnya dengan senyuman.

Sakura melangkahkan kakinya menuju pintu toilet, namun baru beberapa langkah, ia tiba-tiba saja berhenti dan berbalik. Kurasa tak ada salahnya bertanya. Batin sakura. “uhm eonni, boleh aku menanyakan sesuatu?” Tanya sakura dengan keraguan yang begitu kental terasa dalam nada suaranya.

“boleh. Kau mau bertanya apa? Katakan saja.” balas yunju yang sedang mencuci tangannya.

Sakura’s POV

Aku menelan ludahku, astaga kenapa ini terasa lebih menegangkan ketimbang mengerjakan soal ujian bahasa korea? Aku menatap mata yunju yang sedang menunggu pertanyaanku. Aku memang akan bertanya hal yang sama dengan apa yang sudah kutanyakan pada kyungsoo, yang walau aku tak mendapatkan jawaban tapi tetap saja aku dibuat menangis semalaman akibat dari pertanyaan tersebut. dan apakah efek nya akan sama setelah aku mendengar jawaban yunju yang mungkin saja akan lebih jujur dan lebih menyakitkan?

“kau mau bertanya apa sakura?” kata yunju sesaat kemudian, setelah aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

“eoh? Uhm, aku benar-benar tak bermaksud apa-apa dengan menanyakan ini. kumohon kau jangan salah paham, uhm aku hanya penasaran saja.”

Yunju tersenyum, dan harus kuakui dia memang luar biasa cantik.

“katakan saja sakura.”

Aku menarik nafasku dan dengan kepala tertunduk aku membuka mulut, “dulu, saat di SMP kau punya hubungan yang spesial ya dengan kyungsoo?”

Aku menelan ludahku, dan segera menatap yunju. Ujung bibir yunju terangkat membentuk senyuman tipis, pipinya bersemu. “aku akan sangat bahagia kalau hubungan itu bisa disebut hubungan yang spesial.”

Aku mengerjapkan mataku, “eoh? Maksdunya?”

“aku tidak tahu perasaan D.O padaku, tapi harus kuakui dulu aku menyukainya. Dan kalau yang seperti itu bisa di bilang sebagai hubungan yang special, kurasa aku akan sangat bahagia.”

Aku tak bisa menatap yunju lagi, dan rasanya oksigen di dalam toilet ini semakin menipis saja. aku berperang dengan hatiku sendiri, apakah satu pertanyaan lagi bisa membunuh rasa penasaranku? Atau pertanyaan terakhir ini juga sekaligus membunuhku? Aku menghela nafasku, kuangkat lagi kepalaku dan kutatap dalam matanya,

“sekarang.. kau masih menyukainya?”

Yunju tersenyum, tertunduk sebentar dan dengan mata coklatnya ia kembali menatapku, “selalu. Aku selalu menyukainya sakura.”

Bagai disengat jutaan volt listrik, aku merasa dunia di sekelilingku bergetar. Bergerak tapi bukan lagi pada porosnya. Semuanya terjawab, jelas dan gamblang. Sikap dingin kyungsoo, sikap acuhnya, ucapan-ucapan ketusnya. Semua itu bukan semata hanya karena aku orang asing tapi memang sudah ada orang lain, ada orang yang sudah dikenalnya lebih dahulu sebelum aku. dan mungkin saja, walau tidak ada yang tahu, orang yang bisa saja sudah di cintainya sejak lama. dan aku? hanya gadis yang terpaksa ia terima karena ini suruhan orang tuanya.

Aku tak bisa. Aku berlari keluar, samar kudengar yunju memanggilku. Aku tak peduli.

Aku berlari menaiki tiap undakan tangga. Ada tempat yang rasanya pas sekali untuk meledak saat ini, tempat dimana aku terkunci dulu. Tempat dimana kyungsoo begitu manis memelukku dulu, dan tempat pertama kali aku merasa semuanya akan baik-baik saja selama ada kyungsoo.

Aku membanting keras pintu di belakangku kencang, kalau aku terkunci lagi, kali ini aku berharap tak di temukan. Aku menatap langit biru diatasku, mencoba menahan air mata. Tapi aku terlalu lemah untuk mampu melakukan itu. Aku mulai terisak pelan, aku menutup mulutku dan isakanku semakin kuat.

Apa kalian tahu hal yang paling menyakitkan di dunia ini? mencintai seseorang yang tidak mencintaimu. Anggapan bahwa cinta yang bertepuk sebelah tangan itu akan terasa baik-baik saja tidak ada. Sama sekali tidak ada. Aku mencintai kyungsoo, walau saat kesal aku mengatakan kalau aku membencinya, aku tidak pernah sungguh-sungguh bermaksud begitu. Aku terlalu mencintainya. Terlalu dalam mencintainya. Dan Kyungsoo membuatku sudah terlalu jauh mencintainya.

Aku terduduk di lantai, isakanku masih kuat dan aku tak tahu sudah berapa banyak air mata yang membanjiri pipiku.

… “karena itu urusan pribadiku dan kau tak perlu tahu.”…

… “selalu. Aku selalu menyukainya sakura.”…

Sepertinya aku memang tak seharusnya tidak hadir dalam hidupnya.

-0-

Author’s POV

D.O menelusuri lorong dekat kelas sakura begitu bel tanda istirahat dibunyikan. Ia merasa harus bertemu dengan gadis itu sekarang juga, kalau menunggu sore nanti bisa saja sakura memutuskan untuk tetap tidak mau kembali ke rumah. Di kelas sakura, D.O hanya menemui eunyeol yang sedang menulis sesuatu di bukunya, “dimana sakura?” Tanya D.O tanpa basa-basi.

Eunyeol mendongak begitu mendengar suara di dekatnya, “eoh? Uhm sakura tak masuk kelas sejak jam pertama tadi. Aku baru saja ingin mencarinya setelah menyelesaikan ini, sunbae.”

D.O berpikir sebentar dan tanpa menunggu lama segera berlalu dari dalam kelas, eunyeol mengangkat alisnya heran. “bukankah setidaknya dia harus mengatakan ucapan selamat tinggal terlebih dahulu?” gumam eunyeol pada dirinya sendiri. tak mau mengambil pusing, ia kembali menekuni catatannya.

Di sudut belakang sekolah, setelah mencuci wajahnya yang sembab bekas menangis tadi, dan mengunjungi kantin untuk membeli minuman, sakura duduk dengan tenang sembari menatap kosong halaman kosong di hadapannya. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang disana. Tidak banyak memang yang sering menghabiskan waktu istirahat mereka di sini. Hanya segelintir orang yang memang benar-benar butuh ketenangan.

“psst.”

Sakura baru akan meneguk minumannya saat mendengar suara di belakangnya, ia menoleh dan chen sudah berdiri disana dengan senyuman yang mengembang cerah di bibirnya. “hai.” Sapanya ramah. Chen mengambil tempat di sebelah sakura. “sedang apa kau sendirian disini? Dimana eunyeol?”

Sakura meneguk airnya sebelum menjawab, “aku hanya iseng kesini. Tidak tahu, aku belum bertemu eunyeol.”

Chen mengangguk-anggukkan kepalanya, “oh iya, sebenarnya sejak kemarin aku ingin mengatakan sesuatu.”

“apa?”

“kau masih suka fotografi?”

Sakura mengangguk pelan, “tentu saja, wae?”

“baguslah, aku dapat dua undangan lebih untuk menghadiri sebuah acara fotografi dan karena hana tak mau kuajak dan orang tuaku juga sedang tidak di korea jadi kurasa, kau mungkin akan tertarik. Bagaimana?”

“kapan acaranya?”

“besok malam.”

Sakura berpikir sebentar, “kurasa aku bisa.”

“jinjja?”

Sakura mengangguk, satu lagi cara untuk menghindari kyungsoo. batin sakura. “ngomong-ngomong acara seperti apa itu?”

“uhm, acara penghargaan atas foto-foto begitu, dan beruntungnya salah satu fotoku yang pernah aku ikut sertakan lomba masuk kedalam salah satu kategori.”

“daebak.” Puji sakura bersemangat. Sejak awal mengenal chen, dia memang sudah tahu kalau bakat laki-laki itu memang patut diperhitungkan.

Melihat sakura yang bersemangat atas penjelasannya membuat chen begitu berharap menang, selain hadiah yang dijanjikan begitu menarik, ia juga membayangkan wajah berseri sakura saat melihatnya menerima penghargaan tersebut di panggung. Rasanya kali ini ia akan terlihat lebih unggul dimata sakura dibanding atlit baseball itu. pikir chen.

D.O sudah habis mengelilingi sudut sekolah dan tak menemui sakura di manapun, ia mengunjungi taman belakang sekolah yang memang jadi tempat terakhir yang terlintas dipikirannya. Sedikit sekali orang yang ada disana, D.O hanya melihat sekilas dan merasa tak akan mendapatkan apa-apa sampai di lihatnya dari sudut matanya, sakura yang sedang duduk dan asik mengobrol bersama chen. D.O menghela nafasnya dan berdecak pelan.

Ia benci harus mengakuinya tapi melihat sakura bersama chen memang selalu membuat perasaannya tak karuan. Dengan pusing yang masih terasa di kepalanya dan perasaan aneh yang bergetar di dalam sudut hatinya D.O melangkahkan kakinya mendekati tempat sakura duduk. Tawa renyah dari sakura membuat D.O mengepalkan tangannya keras. Dia tak seharusnya tertawa sebahagia itu dengan laki-laki lain. Batin D.O jengkel.

“sakura.” dengan nada suaranya yang dalam, D.O memanggil sakura. dia berdiri didepan gadis itu yang membuatnya mendongak untuk mencari asal suara.

Sakura hanya menatap D.O dan tak mengatakan apa-apa, suasana yang tadinya hangat membeku seketika. Chen yang duduk di sebelahnya juga tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“ikut aku.” D.O tahu perbuatannya sedikit kasar, dia langsung menyentuk pergelangan tangan sakura dan menariknya.

Sakura menahannya, “apa sih?! Tidak mau.” Tolak sakura dengan nada tinggi.

“ikut aku.” D.O menarik tangan sakura lagi.

“sakit.” Rengek sakura jengkel. Kedua alisnya bertaut dengan mata yang menatap garang D.O,

Chen berdecak pelan, dia bangkit dan mendorong D.O pelan dengan tangan kanannya, “kau tidak seharusnya kasar pada seorang gadis kan?” ujarnya dengan nada yang tenang.

D.O menghela nafasnya malas, “aku tidak ada urusan denganmu. Minggir.” Ucap D.O ketus. Mendengar balasan D.O yang tak ramah, chen yang tadinya tenang, mengepalkan tangannya ikutan berang.

Sakura meniup poninya jengkel, “baiklah. Kemana?” tangannya sakit dan rasanya sakura tidak ingin melihat perdebatan tidak penting antara D.O dan chen. Hidupnya tidaklah sedrama itu kan?

Tanpa melihat chen lagi, D.O langsung membawa sakura berlalu dari sana dengan pegangan tangan yang erat pada pergelangan gadis itu. chen mendengus keras, dia selalu heran kenapa D.O selalu bertindak seolah-olah sakura adalah miliknya.

-0-

Menuju sudut lain sekolah, D.O membawa sakura. di sebelah ruangan tempat diamana para pemain baseball biasa berkumpul D.O berdiri di hadapan sakura yang sedang memegangi pergalangan tangannya yang memerah. “kau mau bicara apa? Cepat saja. aku mau kembali ke kelas.” Kata sakura cuek. Dia bahkan tak menatap mata D.O saat mengatakannya.

“kau tak masuk kelas sepagian tadi? Kemana?” D.O menatap sakura dalam walau gadis itu malah mengalihkan tatapannya kearah lain.

“tidak kemana-mana. Aku hanya duduk-duduk di suatu tempat.”

D.O menghela nafasnya, “semalam kau benar-benar di rumah eunyeol?”

“tentu saja, memang kau kira dimana? Di Indonesia?” sakura tertawa kecil menyadari jawabannya sendiri.

“aku sedang tidak bercanda dan jawab dengan serius pertanyaanku sakura.” kali ini D.O meninggikan nada suaranya.

Sakura mengangkat kepalanya dan membalas tatapan D.O yang semakin dalam. “aku juga sedang tidak bercanda.”

“apa kau tahu kalau kau adalah tanggung jawabku selama disini. Dan kau tidak bisa seenaknya pergi kemanapun tanpa persetujuanku. Aku sudah mengatakan ini berkali-kali kan, kenapa kau susah sekali untuk diberitahu, hah? Dan apa kau anggap memberitahu ahjumma lebih penting daripada mengangkat teleponku?” D.O menggertakan giginya, itu adalah kalimat yang benar-benar panjang yang pernah keluar dari mulutnya.

Sakura berdecak pelan. “memberitahu ahjumma atau kau kan sama saja, yang penting kau tahu kan aku dimana. Dan apa? Persetujuanmu, kurasa aku cukup dewasa untuk menentukan keputusanku sendiri. aku memang menumpang padamu disini, tapi kau bukan orang tuaku.”

D.O memejamkan matanya, tiba-tiba saja kepalanya sakit lagi. dan satu hal yang mengejutkan, D.O tak pernah menyangka sakura akan berani mengatakan hal semacam itu. “aku baru sadar kalau mengurus gadis sepertimu akan jadi sesulit ini.”

Sakura menggembungkan pipinya kesal, “maaf kalau aku menyulitkanmu kyungsoo, tapi kau juga harus tahu. menghadapi keegoisanmu selama ini juga sudah cukup membuatku muak dan lelah!” sakura menghentakan kakinya dan berlari menjauh meninggalkan D.O

-0-

Hati manusia tak pernah ada yang tahu. entah saat berbunga atau saat terluka. Sejatinya hati kedua manusia itu sedikit demi sedikit menemukan rasanya. Namun, saat banyak hati yang juga ingin diakui keberadaannya, hanya waktu yang mampu menjawab tanya, hati siapa yang akhirnya akan memiliki rasa yang sama.

-0-

D.O memasuki rumahnya dengan menyeret kakinya, sakit di kepalanya makin hebat. Tadi saat bel pulang D.O menyempatkan untuk bertemu dengan pelatihnya hanya untuk mengatakan kalau ia sedang tidak enak badan dan ingin langsung pulang ke rumah. Setelah pelatih mengiyakan, D.O segera melajukan mobilnya pelan menembus jalanan kota. Untungnya walau kepalanya sakit ia masih bisa menyetir dengan baik.

Keringat di kepalanya bercucuran, bibirnya yang begitu pucat mengering dan pandangannya sudah mulai kabur tak sejelas tadi. D.O berpegangan erat pada pegangan tangga, nafasnya naik turun tak karuan. Untung saja sebelum D.O ambruk di ujung tangga, ahjumma memegangi lengannya. “tuan muda? Anda sakit?” tanya ahjumma cepat.

“engh… aku..aku hanya pusing.” D.O melepas pegangan ahjumma dan menaiki tangga pelan.

Ahjumma mengikuti D.O di belakangnya, takut kalau tuan mudanya itu akan tumbang tiba-tiba. Setelah sampai di depan kamarnya, D.O langsung membukanya dan dengan cepat menutupnya lagi. ahjumma menggigit bibirnya khawatir. Wajahnya terlalu pucat untuk orang yang hanya pusing.

Begitu sampai di dalam kamarnya, D.O langsung ambruk di tempat tidurnya, matahari sore menyusup masuk dari sela tirai kamarnya. D.O memejamkan matanya, mungkin tidur sebentar akan membuatnya lebih baik. batinnya.

-0-

Langit sudah gelap begitu sakura memasuki rumah, walau sudah mengendap-endap ahjumma yang tiba-tiba saja muncul dari dapur langsung menghadangnya. Ahjumma langsung menarik sakura ke meja makan. “aduh aku sedang tak ingin lama-lama. aku hanya ingin mengambil bajuku ahjumma.”

“nona mau kemana lagi?”

“menginap di rumah eunyeol. sudah ya ahjumma.” Sakura melepas pegangan tangan ahjumma dan segera naik ke kamarnya sebelum bertemu D.O, malas berdebat lagi.

Sakura memasukkan seragamnya untuk esok hari dan sepotong baju yang akan dipakainya tidur malam ini ke dalam ransel. Ia hanya sedang menghindari D.O bukan bermaksud melarikan diri, jadi rasanya koper besar belum diperlukan saat ini.

Setelah menutup pintu kamarnya, sakura melirik pintu kamar D.O, dia mendesah pelan. perasaan tak karuan karena perkataan yang dilontarkannya tadi siang masih terasa hingga saat ini. Jauh di dalam hatinya sakura memang menyalahkan dirinya sendiri, karena rasanya ia sudah sangat berlebihan tadi. Dan tak seharusnya berkata demikian.

Sakura masih sibuk merenung sembari menatap pintu kamar D.O saat ahjumma naik dengan nampan berisi semangkuk bubur di tangannya, “itu untuk siapa ahjumma?” tanya sakura heran.

“tuan muda, tadi saat pulang sekolah wajahnya pucat sekali dan sepertinya sejak kemarin tuan muda memang sedang tidak sehat.” Kata ahjumma menjelaskan.

Sakura’s POV

Aku terhenyak. Kyungsoo sakit? Sejak kemarin? dan aku tidak menyadarinya padalah beradu mulut siang tadi? Aku mendahului ahjumma mengetuk pintu kamar kyungsoo, hanya keheningan padahal aku sudah mengetuk berkali-kali. Diketukan yang kesekian tetap tak ada jawban. Apa dia tidur? Aku mengetuk lagi sembari sesekali memanggil namanya. “aku masuk ya.” ucapku meminta ijin. Setelah lama tak kunjung mendapat tanggapan.

Kamarnya gelap. Aku menyalakan lampu. Dan mataku langsung tertuju keatas ranjang kyungsoo yang sedang ditiduri pemiliknya dengan posisi yang tak teratur. Tasnya tergeletak asal di lantai dan aku tahu kyungsoo bukanlah tipe laki-laki yang berantakan seperti itu. kakinya juga menggantung di sisi ranjang dengan sepatu yang masih dipakainya.

Aku berjalan mendekat dan melihat tubuh kyungsoo yang menggigil. “kyungsoo?” panggilku. Matanya terpejam rapat, wajahnya seputih mayat dan tubuhnya bergetar hebat. Aku memegang lengan kyungsoo, badannya panas dan keringatnya bercucuran.

Aku menggoyangkan pelan lengan kyungsoo, tak ada respon dan tubuhnya terus saja bergetar. “ahjumma. Telepon dokter Jo sekarang.” Perintahku cepat. Ahjumma meletakkan nampan di meja dan segera berlari keluar.

Aku menyentuh kening kyungsoo yang juga bercucuran keringat. “kyungsoo.” panggilku lagi. keningnya panas. aku meraih tangannya yang terkepal kuat. Nafas kyungsoo naik turun tak menentu. “kyungsoo? kau bisa mendengarku?”

Kyungsoo tak menjawabku, ia hanya mengerang pelan disela helaan nafasnya. Aku menggenggam tangannya erat. Perasaan apa ini? kenapa tiba-tiba saja rasa sesak memenuhi dadaku? Kenapa pikiran-pikiran buruk tiba-tiba saja melayang-layang di kepalaku? Aku menggigit bibirku. “kyungsoo.”

“dokter Jo sedang dalam perjalanan kembali ke seoul nona, dia akan usahakan sampai disini secepat mungkin.” Lapor ahjumma selang beberapa menit kemudian, dia juga sudah membawa air kompres dan handuk kecil. saat aku sedang memeras handuk tersebut, ahjumma sudah membetulkan posisi kyungsoo. aku baru tahu ahjumma bisa secekatan itu, kyungsoo kan tidak ringan.

Setelah ahjumma menyelimuti kyungsoo, aku meletakkan handuk kompres di keningnya. baru beberapa menit kuletakkan, handuk tersebut sudah ikutan menghangat. “suhu tubuhnya 380 celcius nona. Tinggi sekali.” Kata ahjumma semebari melihat thermometer.

“eothokkae? Dokter jo masih lama akan sampai?” tanyaku khawatir.

“biar saya telepon lagi nona.” Ahjumma kembali keluar dari kamar.

Aku meletakkan kompres baru lagi di keningnya. kutatap wajah pucat kyungsoo yang terpejam. Tubuhnya masih mengginggil, aku kembali memegangi tangan kyungsoo erat dengan kedua tanganku. Tiba-tiba saja perasaanku serasa teraduk. Semua perkataan yang kulontarkan padanya saat aku meledak, setiap pikiran jahat yang selalu saja berputar di otakku tentangnya, dan rangkaian kalimat tajam yang kukatakkan padanya tadi siang, tiba-tiba saja menguapkan perasaan bersalah yang menyesakkan dadaku.

Tanpa diijinkan, air mataku seketika jatuh. Menatap kyungsoo yang begitu tak berdaya membuatku sama tak berdayanya dengannya. aku terisak. “kyungsoo.” kataku pelan disela isak tangisku.

Aku menyesali setiap perbuatanku yang belakangan ini entah kenapa berubah menjadi begitu menjengkelkan. Aku marah padanya karena ia tak mau jujur padaku, aku kesal padanya karena ia tak menganggapku. Dan aku rasanya ingin membencinya karena ternyata ia memiliki perasaan pada yunju entah jenis perasaan apapun itu.

Aku cemburu.

Satu-satunya alasan yang membuatku berbuat sekanak-kanakkan ini hanya satu. Hanya karena aku cemburu.

Aku melihat genggaman tanganku, cincin hitam yang melingkar di jari manis kami berdua ternyata tak cukup mampu membuat kyungsoo menjadi milikku seutuhnya. Apa gunanya kalau aku hanya memiliki raganya tapi tidak hatinya.

Aku terisak lebih hebat lagi. dibalik kesedihan meratapi kondisi kyungsoo. aku juga begitu sedih meratapi nasibku yang begitu menyedihkan. Mencintai laki-laki yang tidak mencintaiku. Rasanya sudah kesekian kali aku mengulangnya, dan bodohnya karena alasan aku sudah terlanjur mencintainya, aku selalu berharap kyungsoo mau membuka hatinya untukku. Suatu hari nanti.

Tidakkah 6 bulan kebersamaan kita membuat hati dinginnya itu mencair?

“sssakura…”

Aku mengangkat kepalaku begitu mendengar rintihan pelan yang memanggil namaku. “kyungsoo?”

Kyungsoo membuka matanya pelan, ia mendesah dalam. Ia menatapku dengan tatapannya yang sendu. Kyungsoo melirik tangannya yang sejak tadi kugenggam. Ia menarik tangannya dan balas menggenggam tanganku. Ia menarikku. “kemarilah.” Katanya setengah mendesah.

Aku mendekatkan tubuhku kearahnya, pegangan tangannya naik menuju lenganku, dan ia menarikku semakin mendekat. Wajahku hanya sekitar lima senti dari wajahnya, walau mata besarnya itu tak bercahaya seperti biasanya, ia tetap menatapku dalam namun lembut. Sebelah tangannya yang sejak tadi berada disisi tubuhnya berpindah ke punggungku. Kyungsoo menarikku semakin dekat dan sempurna mengunciku ke dalam pelukannya. Tidak. kyungsoo bukan memelukku tapi merebahkanku diatas tubuhnya, aku menahan nafasku kaget. Kerongkonganku juga terasa mencekat. “engh kyungsoo. dokter jo akan datang untuk—“

“ssst.. aku tak butuh dokter jo. Kau disini sudah cukup, sakura.”

Baiklah. Apa aku boleh tersenyum sekarang? Kurasa iya, aku yakin aku tak salah dengar.

Aku berusaha mengatur nafasku, bernafas normal dengan posisi yang seperti ini memang sulit tapi aku juga tak mau cepat-cepat bangkit. Rasanya terlalu nyaman. Aku belum mengatakan ya, kalau berdekatan dengan kyungsoo selalu membuatku tak ingin waktu cepat berlalu.

Kurasa sekarang, aku hanya ingin waktu berhenti dan membiarkan degup jantungku dan degup jantungnya yang mengisi dengung-dengung suara di seluruh ruangan ini.

Pssst. Degup jantung kyungsoo sama cepatnya denganku, dan meletakkan kepala di atas dadanya seperti ini juga mencium aroma caramel yang selalu kusukai itu, kukira tak ada hal lain yang lebih hebat dari ini.

“kyungsoo..” panggilku.

“hm?”

I Love You.

“hm?”

“tidak.”

-0-

TBC

hai. hallo. annyeong. uhm well sorry for a very late post. again. y’know seperti biasa tugas kuliah numpuk dan ga bisa banget ditinggal. mian😦

anyway buat yg tanya blogku dan yang nanya sebenernya sampe chapter berapa fic ini, buka aja ini   dan ya kali aja ada yang iseng mau follow aku bisa buka twitter ku hhe :p pasti aku follback, mention aja🙂 dan maaf yang mungkin mention aku dan jarang aku bales, uhm lain kali pasti aku bales hhe😀

okeh. selamat membaca, a very special thanks buat yg RCL i love y’all to the moon around the sun and the galaxy lah and BACK! hha :*

oh iya, curcol. aku suka lagu mereka yang moonlight ^_^

486 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 14)

  1. woahhh daebak sakura berani ngomong gitu sama kyungsoo, wakakaka
    astaga kyungsoo sakit, dan sakura panik banget, dia punya hati yang lembut. ahh suka suka ada moment manis mereka, wakakaka

  2. Ga tau mao komentar apa lagi,
    Sifatnya dio rada menurutku, dikit dikit marah -_- tapi saya suka sama karakter yang kayak gini😀 *apadah

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s