Diposkan pada Chan Yeol, charismagirl, EXO-K, fluff, Oneshot, Romance

Ridiculous Love

RL-pcy

Ridiculous Love

Author : Charismagirl

Cast :

  • Park Chanyeol
  • Ahn Sungyoung

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Vignette

Note : This story is mine. Do not copycat without my permission. Enjoy! There’s some surprise in the middle plot 😀

Idiot!

Telinga yoda!

Berhentilah bicara seperti kau tersengat listrik!

***

Ada banyak sekali kata yang bisa menggambarkan seorang Park Chanyeol. Tapi bagi Sungyoung, Chanyeol itu hanyalah seorang idiot… idiot… idiot jangkung yang mencuri hatinya. Dan Sungyoung mau tidak mau harus mengakui bahwa Chanyeol lelaki yang sangat tampan!

Seperti biasa setiap pulang dari les biolanya, Sungyoung akan dijemput Chanyeol dengan sepeda uniknya. Sepeda khusus lelaki, tetapi ada tempat untuk membonceng dibelakangnya. Chanyeol sudah memodifikasi sepeda itu sedemikian rupa. Anggap saja hubungan Chanyeol dan sepeda miliknya setara dengan hubungan Mr. Bean dan mobil kodoknya.

Chanyeol sudah memiliki sepeda itu jauh sebelum dia mengenal Sungyoung dan resmi menjadi kekasih Sungyoung.

Lelaki tinggi itu akan tersenyum selebar kuda jika dia menemukan Sungyoung di depan gerbang tempat lesnya –gadis itu selalu menunggu kedatangan Chanyeol untuk menjemputnya, lalu mengantarkannya pulang ke rumah.

Seperti sekarang ini.

Sungyoung berdiri bosan di depan pintu gerbang sembari memegang tas biola di tangan kanannya. Tidak ada orang yang bisa diajaknya bicara. Sungyoung bukan tipikal gadis yang gampang berteman. Dan dia malas bicara pada orang yang belum dikenalinya secara dekat. Gadis dengan rok selutut dan jumper putih kebesaran itu membuat tubuhnya terlihat mungil. Dia memiliki mata hazel yang indah serta hidung yang mungil membingkai wajahnya yang cantik, hingga tidak akan ada seorangpun yang –dengan mudahnya- percaya bahwa Sungyoung memiliki ilmu bela diri.

Sudah hampir sepuluh menit dia menunggu tapi kekasihnya itu belum juga menampakkan hidungnya –dan telinga yoda nya. Sungyoung memutuskan untuk melangkahkan tungkainya beberapa meter dari sana, ke sebuah tempat duduk. Kebetulan sekali kursi di dekat lampu jalanan sedang kosong.

Baru saja dia menginjak langkah yang ke lima, sebuah sepeda berhenti mendadak di sampingnya membuat Sungyoung terkesiap. Beruntung gadis itu tidak punya riwayat penyakit jantung.

Ckiiit!!

“Hai, maaf terlambat.” Akhirnya dia datang. Chanyeol beserta sepeda uniknya. Lelaki itu tersenyum selebar joker sembari mengatur napas. Tampaknya dia dan sepedanya baru saja bekerja keras. Bulir keringat tampak di dahinya yang mulus itu.

“Sepuluh menit, bukan masalah.” Sungyoung mengendikkan bahu dengan memasang wajah datarnya. Padahal dalam hatinya ingin sekali memukul kepala Chanyeol dengan biolanya. Mood-nya sedang berada di level terendah. Entahlah, mungkin pengaruh PMS.

Sungyoung menghampiri sepeda Chanyeol dan bersiap untuk duduk di tempat duduk bagian belakang sepeda itu.

“Kau tidak ingin tahu alasanku?” Chanyeol memutar badannya sedikit.

“Tidak. Ayo pulang.”

Sungyoung memangku biolanya di paha dan memegang alat musik itu dengan tangan kiri sementara tangan kanannya dia gunakan untuk berpengangan di pinggang Chanyeol.

Chanyeol mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang.

Angin sore berhembus pelan berlawanan dengan arah sepeda Chanyeol, menerpa wajah mereka berdua membawa kesejukan tersendiri. Mereka tampak semakin berada jauh dari keramaian. Karena lelaki itu baru saja membelokkan sepedanya ke sebuah taman.

Taman itu berjarak beberapa blog dari rumah Sungyoung. Sebuah taman dengan banyak pohon dan dan bermacam-macam jenis bunga. Gadis itu terlalu sibuk dengan kegiatannya sekarang hingga ia tidak tahu bagaimana perkembangan taman yang dulu selalu menjadi tempat bersantainya di minggu sore bersama kekasihnya yang tinggi itu.

Chanyeol menghentikan sepedanya di dekat danau.

“Untuk apa kita kesini, Yeol?” tanya Sungyoung sembari melompat kecil, menginjakkan kakinya ke tanah.

“Ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Lelaki itu menyenderkan sepedanya di salah satu batang pohon terbesar. Lalu melangkahkan kaki jenjangnya ke dermaga panjang.

Sungyoung mengikuti langkah Chanyeol. Tapi sebelumnya, dia meletakkan tas biolanya di ujung dermaga karena dia tidak ingin menangis dengan konyol jika tas biola beserta isinya tiba-tiba berenang indah di danau itu.

Gadis itu memperhatikan punggung Chanyeol yang berada di depannya. Lelaki tinggi itu sungguh hugable. Sungyoung suka (bukan sering) memeluk Chanyeol. Tapi membiarkan aroma tubuh lelaki itu memenuhi indra penciumannya adalah hal yang cukup berbahaya. Dia mungkin terlalu enggan untuk melepaskan pelukannya.

Namun bukan Sungyoung namanya jika dia tidak lebih mementingkan rasa gengsinya. Dia selalu menunggu Chanyeol memberikan pelukan. Walau terkadang lelaki itu terlalu lelet untuk menyadari bahwa Sungyoung sangat membutuhkan rengkuhannya.

Chanyeol hampir mencapai ujung dermaga, dan dia berhenti.

Sungyoung perlu mengambil beberapa langkah lagi sebelum bisa berdiri tepat di samping Chanyeol. Gadis itu tidak terlalu memperhatikan langit yang jingga, awalnya. Dan gadis itu hampir tidak percaya bahwa fenomena matahari kembar sedang berada di depan matanya sekarang.

“Aku ingin menunjukkan hal ini padamu.” Chanyeol merangkul Sungyoung dengan tangan kirinya. Membuat tubuh mereka berdempetan tanpa jarak. Sungyeong merasa kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Darimana kau tahu bahwa akan terjadi hal ini, hari ini?” Sungyoung memandangi pantulan mentari itu di permukaan danau yang tenang. Dia merasa seperti berada di negeri dongeng lengkap dengan sosok seorang pangeran di sampingnya.

“Aku membaca di situs berita online.

Sungyoung membulatkan mulutnya tanpa berkata apapun. Dia tidak akan terkejut dengan sumber berita yang di dapat Chanyeol karena lelaki itu memang seorang maniak internet – juga cemerlang dalam bidang IT. Walaupun wajahnya kurang mendukung untuk membuktikan bahwa Chanyeol itu adalah seorang jenius.

Gadis itu menyenderkan kepalanya di bahu Chanyeol yang tinggi. Menikmati detik-detik keindahan atas ciptaan Tuhan itu.

“Dan kalau kau belum lupa, aku ingin mengucapkan… selamat hari jadi untuk kita berdua!” Chanyeol mengecup puncak kepala Sungyoung. Sementara gadis itu membeku. Bagaimana mungkin si-anti-lupa- macam Sungyoung bisa melupakan hal sepenting itu. Astaga!

Chanyeol mengeluarkan cokelat kemasan kotak besar dari kantung celananya serta setangkai bunga mawar putih yang batangnya sudah patah dan beberapa kelopak daunnya tanggal-Chanyeol tidak berpikir bahwa bunganya akan jadi kusam seperti ini- sementara Sungyoung mulai berpikir seberapa besar kantung celana Chanyeol.

“Terimakasih Chanyeol. Maaf aku lupa kalau hari ini adalah hari jadi kita.” Sungyoung menyambut hadiah Chanyeol kemudian memeluknya ringan. Gadis itu menurunkan pandangannya pada permukaan danau yang tenang. Wajahnya sedikit murung.

“Hey! Tidak apa-apa. Semua orang pernah lupa kok.”

Tapi melupakan hari sepenting ini bukanlah hal bagus, batin Sungyoung.

Chanyeol mengangkat dagu Sungyoung dengan satu tangan, membuat gadis itu mendongak. Dia mengecup pipi gadis itu dengan singkat –bahkan tidak sampai sedetik. Tapi sukses membuat wajah Sungyoung merona merah.

“Ngomong-ngomong, inikah alasan mengapa kau terlambat menjemputku?” Sungyoung menatap wajah Chanyeol.

“Kalau kau memang ingin tahu, iya, aku membeli coklat dan bunga tadi. Dan sial antriannya panjang sekali.”

“Dan maaf tadi aku sempat berpikir ingin memukul kepalamu dengan biola.” Sungyoung menyengir (ini pemandangan langka), tapi Chanyeol menyengir lebih lebar dari gadis itu. Terlalu lebar. Tapi dia manis sekali!

“Kau tidak akan melakukan itu padaku ‘kan?” tanya Chanyeol sembari mengerjapkan matanya yang besar.

Wajah Sungyoung berubah serius, tapi sebenarnya dia sedang menahan tawanya. “Kalau kau terlalu menyebalkan. Mungkin aku akan melakukannya sungguhan.”

Sungyoung segera melarikan diri dari sana sebelum Chanyeol –mungkin- mencekiknya. Lelaki itu seringkali kehilangan kontrol saat bercanda.

Tapi tidak. Chanyeol hanya menggelitik pinggang Sungyoung, membuat gadis itu meronta, meminta Chanyeol berhenti. Sore yang cukup sepi itu menjadi penuh dengan gelak tawa mereka berdua.

“Ayo pulang!” ajak Sungyoung. Dan Chanyeol mengangguk setuju.

“Baekie-ya, kembalikan ponselku~”

Sungyoung dan Chanyeol memperhatikan dua orang yang baru saja lewat di depan mereka. Tampak seorang gadis berambut cokelat sedang berada beberapa meter dari seorang pemuda yang dipanggilnya ‘Baekkie’ tadi.

“Tidak. Kau mengabaikanku beberapa jam terakhir hanya karena sebuah game baru bernama, apa tadi? Where’s my water? Yang benar saja Minri, kau memandikan buaya?”

Gadis yang dipanggil Minri itu berlari kecil hingga ia berada di samping pemuda itu. Masih dengan nada memohon, gadis itu minta ponselnya di kembalikan.

“Satu mangkuk es krim stroberi sebagai permintaan maaf. Bagaimana?”

“Kau kira aku anak kecil yang bisa disogok dengan semangkuk es krim. Huh.” Pemuda berambut hitam itu membuang wajahnya ke arah lain.

“Bagaimana kalau dua?” Minri masih belum ingin menyerah.

Dan pemuda itu tampak berpikir.

“Baiklah.”

Pabo! Kau bahkan jauh lebih kekanakan karena menerima sogokan dua mangkuk es krim. Kau bisa sakit perut tuan Byun Baekhyun!”

Minri merebut ponselnya dari tangan Baekhyun dengan gerakan tiba-tiba. Meninggalkan pemuda itu –yang sekarang memasang wajah murung dan berjalan dengan kaki yang sedikit dihentakkan.

“Baik, baik, tapi satu mangkuk saja ya?” Minri tidak tahan jika harus melihat wajah Baekhyun yang seperti itu. Maka dari itu dia tetap mengabulkan keinginan Baekhyun, hitung-hitung sebagai permintaan maaf.

Minri tersenyum pada Baekhyun –yang mengangguk senang dengan air muka yang cerah, membuat rambutnya bergerak-gerak.

“Ayo kesana sekarang!” Baekhyun menggenggam tangan Minri.

“Ya, setelah itu kita pulang. Ini sudah terlalu larut.” Minri membalas genggaman tangan Baekhyun –menautkan jari-jari mereka satu sama lain –lalu berjalan beriringan.

“Yeol….” Panggil Sungyoung pada Chanyeol yang masih melongo melihat pasangan kekasih yang berdebat singkat di depannya dan bisa berbaikan hanya dengan satu mangkuk es krim rasa stroberi.

“Ya? Sampai dimana kita tadi?” tanya Chanyeol, seketika membuat kening Sungyoung berkerut. Namun beberapa saat kemudian gadis itu tertawa ringan.

“Sampai… kita harus pulang sekarang.”

“Ah iya.” Chanyeol menggaruk tengkuknya.

“Yeol, kau tidak akan menyita ponselku hanya karena aku bermain game lalu mengabaikan mu, kan?”

“Tidak. Yang benar saja!” Chanyeol tertawa keras.

Sungyoung tersenyum lega. Pasalnya akhir-akhir ini dia sedang tertarik pada permainan flappy bird.

“Tapi aku punya cara lain, jika kau memang mengabaikanku.”

Sungyoung mendadak waspada. “Apa itu?”

“Ini.” Chanyeol mendekatkan wajahya dengan tiba-tiba, lalu menggigit kecil bibir bawah Sungyoung. Lalu lelaki itu menggeret sepedanya dengan tergesa-gesa (beberapa kali kakinya sempat tersandung batu). Dia harus segera pergi dari sana sebelum–-

“YAK! Park Chanyeol! telinga yoda! Kemari kau!!”

–Sungyoung melemparkannya ke dasar danau.

***

Next day.

“Sungyoung-ah!!”

Sungyoung melirik pintu rumahnya dengan pandangan menyipit. Menghakimi pintu itu seolah-olah benda keras itu telah berbuat salah padanya. Sebenarnya bukan masalah pintunya, tapi masalah kepada orang yang sedang berada di baliknya, orang yang mengetuk-ngetuk pintu itu sembari menyerukan namanya. Dia kenal betul si pemilik suara bariton itu.

Park Chanyeol –siapa lagi? –si idiot sialan yang sudah membuat kakinya pegal. Hari ini Chanyeol kembali membuatnya menunggu di tempat les biolanya. Dia tidak memberi kabar apapun sampai Sungyoung memutuskan untuk pulang sendiri. Dan sekarang dengan beraninya lelaki itu muncul mengganggu waktu bersantainya di malam hari.

Tadi sore. Langit tidak begitu cerah tapi juga tidak bisa dikatakan terlalu gelap. Mentari bersembunyi di balik awan abu-abu, sementara angin berhembus pelan.

Sungyoung berdiri di depan gerbang tempat les biolanya. Dia menunggu Chanyeol seperti biasa. Keterlambatan sepuluh menit bukan lagi masalah bagi Sungyoung mengingat Chanyeol pasti punya alasan dibalik keterlambatannya itu. Seperti kemarin.

Sungyoung masih menunggu dengan sabar. Dia menendang-nendang pasir dengan ujung sepatunya. Bosan. Sungyoung tidak suka menunggu –mungkin kebanyakan orang juga begitu. Dan baterai ponselnya sudah lemah. Jika dia gunakan untuk bermain game. Matilah sudah. Dia tidak akan bisa menerima panggilan penting.

Meskipun kesal, Chanyeol beserta senyum lebarnya itu akan senantiasa melunturkan kekesalan Sungyoung karena telah menunggu lama. Entah hal magis apa yang ada di dalam tubuh lelaki itu.

Terlambat sepuluh menit, lima belas menit atau setengah jam masih bisa ditoleransi. Tapi tidak untuk satu jam!

Sungyoung memijat lututnya sesaat sebelum dia beranjak dari sana. Dia memutuskan untuk pulang sendiri. Lebih baik naik angkutan umum, pikirnya. Gadis itu jarang sekali naik angkutan umum karena biasanya dia selalu bersama Chanyeol dan sepeda uniknya.

Dengan menenteng tas biolanya, Sungyoung melangkah ringan menyusuri jalanan. Matahari sudah hampir menghilang di singasana langit. Lampu-lampu jalanan mulai menyala. Ini sudah terlalu petang, tapi Sungyoung masih berada di jalanan.

Chanyeol sama sekali tidak memberi kabar apapun saat itu. Dan itu sangat-sangat menyebalkan!!

Sungyoung beranjak dari kursinya karena Chanyeol terus saja mengetuk pintu rumahnya. Lama-lama pintu bisa lepas, pikir Sungyoung diluar akal. Keributan yang dibuat lelaki itu sungguh mengkhawatirkan. Pasalnya, ini malam hari, waktunya untuk istirahat. Semoga saja tidak ada tetangga yang melempar Chanyeol dengan pot bunga atau semacamnya dan untungnya ibu Sungyoung sedang tidak ada di rumah.

Gadis itu membuka pintu, lalu membiarkannya terbuka lebar. Dia melipat tangannya di depan dada dan memandangi Chanyeol dengan pandangan datar. Wajahnya seakan berkata sebaiknya-kau-pergi-sebelum-aku-menendang-bokongmu.

“Sungyoung-ah~ syukurlah kau tidak diculik!” Chanyeol baru akan memeluk Sungyoung tapi gadis itu menunjukkan telapak tangannya di depan wajah Chanyeol, pertanda bahwa lelaki itu tidak boleh mendekat –setidaknya sekarang.

“Apa yang kaulakukan disini?” tanya Sungyoung dingin.

“Maafkan aku…” Chanyeol menangkup kedua tangannya di depan dada dengan wajah memelas yang membuat Sungyoung ingin sekali melemparkan sandal jepitnya.

“Ya, aku maafkan.” Sungyoung memutar bola matanya dengan malas. Lalu berniat menutup pintu. Dia tidak ingin bicara dengan Chanyeol saat ini. Moodnya berada di angka negatif (jika memang ada parameter pengukuran mood).

Chanyeol menahan pintu itu dengan tangannya. Kekuatan lelaki itu tidak sebanding dengan Sungyoung jadi beradu kekuatan adalah sia-sia bagi Sungyoung –meskipun dia sedikit menguasai ilmu bela diri.

“Apalagi? Kau sudah minta maaf dan aku memaafkanmu. Urusan kita selesai. Sebaiknya kau pulang.”

“Tidak. Tidak. Kau belum memaafkanku.”

Nah kau pasti tahu itu, batin Sungyoung.

“Dengarkan aku dulu, pelase.” Chanyeol melengkungkan bibirnya ke bawah. Kenyataan bahwa dirinya bersalah semakin membuat Chanyeol ingin mengubur dirinya sendiri. Dia tidak bisa menjemput Sungyoung. Dan dia tidak bisa menghubungi gadis itu sebelumnya. Kalau Sungyoung tidak mendengarkannya, itu sama saja dengan Chanyeol menyimpan sebuah kebenaran.

Sungyoung bungkam. Tapi dia melepaskan tangannya dari pintu, pertanda bahwa dia tidak akan menutup pintu itu sebelum Chanyeol menyelesaikan bicaranya.

“Aku…” Chanyeol menggerakkan bola matanya dengan liar. Dia ragu apakah gadis itu akan percaya dengan ucapannya atau tidak. Tapi berbohong tidak akan menyelesaikan masalah. “Tidak bisa menjemputmu.” Sambungnya.

Hell! Sungyoung tahu itu! Yang ingin gadis itu dengar adalah alasan. Alasan mengapa seorang Chanyeol tidak bisa menjemputnya, atau bahkan menghubunginya? Seseorang tolong izinkan Sungyoung untuk mengeluarkan ilmu bela dirinya sekarang.

Gadis itu menghitung dalam hati. Jika dalam hitungan detik ke sepuluh dia tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya maka ucapkan selamat tinggal pada pintu putih.

Satu… dua…

“Aku jatuh dari tangga.”

Uhhuk!

Sungyoung tersedak ludahnya sendiri. Apa? Lelaki itu bilang apa? Jatuh dari tangga. Yang benar saja.

Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, hingga diameter matanya tampak lebih panjang dari biasanya. Dia ingin sekali berteriak di depan wajah Chanyeol dan mengatakan ‘Kau serius?!’. Tapi kenyataannya Sungyoung hanya membeku dengan rahangnya yang jatuh.

Chanyeol baik-baik saja ‘kan? Otaknya tidak geser karena benturan ‘kan?

“Aku terpeleset di tangga karena menginjak buku gitarku di dua anak tangga terakhir, lalu aku jatuh dan pingsan. Aku terbangun beberapa jam kemudian dan mendapati langit di luar sudah gelap. Jadi aku mohon maafkan aku yang terpeleset ini dan membiarkanmu menunggu–”

Idiot!

Telinga yoda!

Berhentilah bicara seperti kau tersengat listrik!

Chanyeol tidak bisa meneruskan kalimatnya karena bibirnya telah dibungkam. Bukan dengan tangan Sungyoung, apalagi tangannya sendiri. Gadis itu menghentikan rentetan alasan Chanyeol dengan sebuah ciuman atau semacamnya. Bisa dikatakan bahwa bibir Sungyoung-lah yang membungkamnya.

Sungyoung memegangi wajah Chanyeol dengan kedua tangannya. Dan menekan dalam bibirnya di bibir pria itu selama beberapa menit.

“Aku memaafkanmu, sungguh.”

Sungyoung langsung berbalik. Menyembunyikan wajahnya yang semerah sosis. Dia benar-benar sudah membuat dirinya malu setengah mati. Demi sepeda kesayangan Chanyeol, Sungyoung ingin bersembunyi di pojok gelap ruang bawah tanah. Apa yang telah dilakukannya tadi?!

Dengan gerakan tiba-tiba lelaki itu menarik bahunya dan kembali menyatukan bibir mereka berdua. Kali ini Chanyeol memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman mereka.

Oh. Tidak. Mereka-sedang-di depan-pintu-rumah-Sungyoung. Tolong.

Sungyoung merasa di jantungnya seolah terjadi peperangan. Menggedor-gedor rongga dadanya dari dalam. Lelaki itu membuat Sungyoung amnesia bahwa dia memiliki ilmu bela diri. Jika seperti ini, Sungyoung akan menjadi wanita sepenuh jiwa dan raga.

“Terimakasih sudah percaya padaku, Sungyoung-ah.”

Meskipun pingsan karena jatuh dari dua anak tangga terakhir adalah hal yang cukup konyol, tapi jika itu Chanyeol, kekonyolan apapun bisa saja terjadi. Lagipula Chanyeol tidak pernah membohonginya bahkan hal kecil sekalipun –misalnya saja lelaki itu tidak sengaja membuang angin saat mereka belajar bersama.

“Kau tidak apa-apa kan?” Sungyoung memegang wajah Chanyeol sekali lagi, lalu turun ke bahu, lengan dan berhenti di pinggang. Wajahnya yang manis itu menampakkan sebuah kecemasan.

“Tidak apa-apa. Hanya sedikit nyeri di bagian bokong.” Chanyeol tertawa pelan. “AH!” seperti teringat akan sesuatu, Chanyeol mengacungkan tangannya lantas merogoh saku celananya.

Sebuah kalung rantai berbandul hati tergantung di jari-jari Chanyeol. Kalung itu tampak berkilau karena cahaya lampu.

“Apa itu?” tanya Sungyoung.

“Hadiah kemarin yang ketinggalan. Karena aku sudah berjanji pada diriku, ingin memberimu kalung ini saat umur jadian kita sudah mencapai satu tahun.”

Chanyeol melingkarkan kedua lengannya di leher Sungyoung membuat wajah mereka begitu dekat. Gadis itu kembali waspada dengan keadaan jantungnya yang malang.

Setelah selesai memakaikan kalung itu di leher Sungyoung, Chanyeol memeluk gadisnya cukup lama. Menyalurkan kehangatan satu sama lain. Angin malam sama sekali tidak sanggup mengusik mereka berdua.

I love you, Ahn Sungyoung.”

I love you more, Yoda’s ear, my handsome idiot, Joker’s smile, Park Chanyeol.”

Terimakasih Tuhan, karena Kau telah membuat Chanyeol hadir dalam kehidupanku.

He is the one and only.

***END***

Hel to the lo, hellooooooo!! I brought another fluff romance. Hahaha. Do you like it?

I’m sorry if I was bullying PCY. Sorry~ /o\

For my lovely dongsaeng, I hope you like this. ❤

Ngakak yuks! lagi-lagi cecunguk dua itu muncul *lols* 😄 mereka gentayangan di ff orang yahaha

Sorry for typo, absurd plot, etc.

Makasih udah baca. Dan kotak komentar terbuka untuk kasih kritik, saran, keluhan dan lain-lain ^o^/

THANKS ❤

LOVE YAAA~

© Charismagirl, 2014.

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

182 tanggapan untuk “Ridiculous Love

  1. aaah.. park chanyeol sweet banget siihh..
    walaupun selalu menjengkelkan stengah mati,, tp ujung”nya selalu berakhir manis..
    dan apa?? dia jatuh dr tangga gegara buku gitar dan pingsan?? oh my.. itu konyol banget kayak mukanya.. 😀
    semoga aja abis jatoh itu otaknya jd bener ya.. 😄

    oh ya.. boleh gk aku panggil author kak rima?? line 93 kan?? aku alya 99line.. salam kenal.. *bow 😀

  2. kyaaaaa… so sweet thor!!!
    yeoli n sungyeong pasangan yg kocak bener, mereka bener2 setia
    kenapa tiba2 si baek nonggol?!?
    semangat buat nulis ff

  3. Waaaaaaaaah, daebaak kaaak riiim*garukgaruktembok
    Aku lagi bosen dan kenyang habis buka puasa eh tba2 nemu ff ini aaaah sweeet bangeeet, ceritanyaa manis, cocok buat buka puasaaa, ceritanya hidup (?)*hah
    Maafkaan akuu yang baruu muncul disiini, susah banget post ini komenT_T
    Salahkan pada jaringan eror dirumah aku#hyena eyes~.~
    aku seneng baca ff nya kak rim yang bikin aku overdose saking manisnya
    Jingkrak2 (?) kalo nemu ff nya kakaa, sukaaa sama cara penyampaian, bahasaanya, scenenya pokoknyaa kaka kereeeeen, trus kaka ramaah dn baik banget waah seneng deh menemukan author kaya kaaak rim
    Kaka jadi first author favorit akuu deh, hehe
    Maafkan komenku yang panjang bejibun ini#aegyobarengbaek
    Terima kasiih untuk kerja keraaasnya kaak
    Keep writing !

    1. Hai.. viet 🙂
      yahaha untung abis buka puasa bacanya ya. meskipun cocok buat buka puasa, tp ini ga baik di konsumsi pas lg puasa ‘-‘) ciumnya aseek banget sih.

      biasanya kamu muncul dimana de? wkwk
      iya gapapa uhh

      aku juga seneng lah kalo kamu seneng yaeyy /\
      weeh? ah? awww terbang nih akunyaa
      makasih komennya yang panjang ini aku suka :3

      yee aegyo baekkie bikin aku melted tauu >,<
      thnks for read and comment.
      keep reading! fighting!!

  4. Wkwkwk eonnie ini FF daebak dehh.. walaupun cameo nya gak banget.. aku reader baru disini,waktu cari2 author jadi kepingin baca FF author ‘charismagirl’ entah kenapa namanya narik banget/? Wkwkwk paling bercahaya kali ya namanya *abaikan* jadi pengen baca FF eonnie yang baek sama minri.. kayaknya banyak yang suka ya ;;

    1. Oiya aku lupa.. aku baca FF ini juga gara2 judulnya.. jadi inget mantra harry potter *gak ada yang nanya* cuma bilang.-.

      1. hai galaxy/? haruskah aku memanggilmu demikian? 😀 selamat datang dan salam kenal!
        ouh mengenai nama charismagirl… seneng atuh dibilang bersinar *o* terinspirasi dari suami akooh di syaini, visual tiang itulohh 😀

        harry potter? mantra penghancur sih yang mirip ‘reducto!!’ ahahah penggila harrpot ya :3 aku juga.

        cameonya ga banget? emang. mereka ada-ada aja sih-_-
        makasih udah baca ❤

  5. Hai eonni. Daebak! Ff nya keren.

    Keep writing.

    Aku baru lihat ff ini pas buka author favorit aku, yaitu kamu.. hahaha lebay.

    Maaf baru komentar-,-

    Aku mau kasih saran nih, lain kali bikin ff tentang do kyungsoo juga ya, aku pengen tau ceritanya gimana kalo d.o yang main 🙂 ok sekian.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s