Diposkan pada Author, Baek Hyun, Drama, EXO-K, Fanfiction, fingersdancing14, friendship, MULTICHAPTER, SCHOOL LIFE, Type

Byunie and Illy (Chapter 1)

Byunie & Illy

Author: Mingi Kumiko

Cast:

  • Byun Baek Hyun
  • Ahn Il Yun (OC)
  • Kim Jong In
  • Oh Sehun

Genre: Romance, friendship, school life, family.

Rating: Teen (PG-15)

Summary:

Baekhyun dan Ilyun yang telah bersahabat sejak balita harus berpisah karena Baekhyun yang pindah ke luar kota untuk mengikuti ayahnya.

Saat kelas 2 SMA, Baekhyun pun kembali ke Seoul untuk menetap karena ayahnya meninggal dunia. Ia pun bisa kembali bertemu dengan Ilyun. Namun saat Baekhyun kembali mencoba bersahabat dengannya, Ilyun malah bersikap dingin padanya.

Apakah Baekhyun bisa membuat Ilyun sang cinta pertamanya kembali bersikap baik padanya?

***

 

“Baekhyunie!”

Seruan itu membuatnya sedikit mendongak dan menatap ke depan. Dilihat lah sang ibu dengan ekspresi berseri yang tersirat jelas di wajahnya. Ia pun mengembangkan senyum dan melangkah lebih cepat. Ia dekap erat ibunya dan menyalurkan rindu yang sudah lama tertahan.

 

Namanya Byun Baek Hyun, seorang pelajar yang menghabiskan waktunya selama sepuluh tahun di kota Chungju dan kini kembali ke Seoul agar bisa tinggal bersama ibunya.

“Aku rindu rumah ini, aku rindu kamarku, aku juga sangat merindukan masakan ibu!” kata Baekhyun. “Benarkah? Kalau begitu, ayo segera masuk, ibu sudah masak makanan istimewa untukmu,” balas Nyonya Yoon –nama ibunya Baekhyun.

 

Setelah menyantap dengan lahap masakan ibunya yang –menurutnya– benar-benar enak itu, Baekhyun pun segera menuju kamar. Ia rebahkan tubuhnya di kasur empuk itu, kemudian mengela nafas lega.

 

Langit-langit dan dinding kamarnya tidak berubah. Hawanya juga tetap sama, sejuk. Ia pun memejamkan mata, mencoba untuk tertidur dan beristirahat.

.

.

Sorenya, setelah bangun dan mandi, Baekhyun pun keluar dari rumahnya, ya… untuk sekedar jalan-jalan sore saja. Tapi belum juga melangkah jauh dari rumah, ia mendadak berhenti karena melihat sesuatu.

 

Dilihat lah seorang gadis yang menutup pintu dari luar. Baekhyun tertegun dengan mulut menganga.

Dia itu kan… Tapi, apa mungkin?

Baekhyun mengucek matanya, memastikan matanya baik-baik saja dan masih bisa melihat dengan normal.

“Ilyun?!” Baekhyun refleks menyebut nama itu dengan lantang, yang punya nama pun langsung menoleh dan mencari sumber suara. Melihat hanya Baekhyun yang ada di sekitarnya, ia pun segera menghampirinya.

“Kau memanggilku?” herannya.

“Ya, kau Ilyun, ‘kan?” tanya Baekhyun.

“Iya, kau siapa?” gadis bernama Ilyun bertanya balik.

“Aku Baekhyun, masa lupa sih?”

“Baekhyun? Oh~ wah, lama sekali ya kita tidak bertemu! Aku sampai pangling,” Ilyun mengacak rambut panjangnya yang tergerai sambil menepuk-nepuk pundak Baekhyun dengan tangan kanannya.

“Aku juga awalnya agak pangling melihatmu, kau berubah drastis ya? Sekarang sudah feminin. Pakai rok mini dan wadges, padahal dulu kan style-mu cuma celana pendek dan sneakers, hahaha…”

“Kau ini, jangan ungkit-ungkit dong! Aku kan jadi malu. Sudah ya, aku ada urusan, bye!” ucap Ilyun dan langsung bergegas meninggalkan Baekhyun tanpa memberinya kesempatan ngobrol lebih lama lagi.

 

Jantung Baekhyun berdetak kencang, pikiran dan perasaannya tak karuan. Sesosok gadis yang telah mencuri hatinya di masa kecil, kini telah ia temukan kembali dengan penampilan yang sungguh berbeda dan mengejutkan.

 

Dia lah Ahn Il Yun, cinta pertama seorang Byun Baek Hyun. Masih teringat lekat di memorinya, Ilyun yang dulu sangat imut dan menyenangkan. Sekarang ia telah kembali untuk melihat gadis pujannya itu. Namun kenapa sekarang aura yang dipancarkan Ilyun dirasa berbeda oleh Baekhyun? Ia terlihat biasa saja ketika Baekhyun datang, tidak ada ekspresi yang menunjukkan kalau Ilyun juga merindukan Baekhyun.

 

***

“Bu, aku tadi bertemu Ilyun,” ucap Baekhyun.

“Benarkah? Lalu, apa saja yang kalian lakukan? Bermain di halaman rumah seperti 10 tahun yang lalu?”

“Huhh… boro-boro, dia saja lupa kalau aku ini sahabatnya waktu kecil!”

“Masa? Ya, mungkin karena kalian sudah lama tidak bertemu.”

“Apa dia masih marah karena aku pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu ya? Tapi kan itu kulakukan karena aku tak mau dia sedih, bu…”

“Ya sudah, yang penting dia tetap menjawab sapaanmu,‘kan? Sekarang mulai lah lagi hubunganmu dengannya, oke?”

“Iya, bu.Oh iya, ngomong-ngomong… di mana aku akan bersekolah Senin depan? Apa sekolah itu sama dengan sekolahnya Ilyun?”

“Iya,”

“Yang benar, bu?! Waaah, terima kasih banyak!!!” Baekhyun terperanjat kegirangan.

“Belajar yang rajin, di kota ini banyak sekali anak pintar,”

“Siip! O iya, ibu bisa bantu aku untuk mendekati Ilyun tidak?”

“Kau mau ibu bantu apa?”

“Emmm… hehehe,”

 

***

“APA?!Berangkat dan pulang sekolah bersamanya? Ya! Ibu… aku bisa naik kendaraan umum, tidak perlu menerima tawarannya,”

“Ilyun… kau ini bagaimana sih? Dengan berangkat dan pulang sekolah bersama Baekhyun, kau akan lebih hemat ongkos. Dan juga, sekarang ini sedang marak kriminalitas di dalam kendaraan umum. Ibu kan khawatir!”

“Aku bisa jaga diri, bu… Ah, ibu egois!”

“Tidak ada ruginya jika kau menuruti perintah orang tua, Ilyun… Harusnya kamu senang, kalian berdua sangat dekat ketika kecil, bukan?”

“Masa kecil dan masa remajaku berbeda. Dia bukan Byunie yang dulu kukenal, Bu!”

“Sudah, sudah… Segera sarapan sana! Sebentar lagi Baekhyun datang menjemputmu.”

“Huhh!” Ilyun mendengus kesal. Bagaimana bisa ibunya memutuskan sebuah perbuatan yang menyangkut dirinya tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu?

 

Belum juga ia menyelesaikan makannya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang terketuk.

“Permisi, ini Baekhyun!” si pengetuk pintu itu berkata dengan sedikit berteriak.

Sial, dia benar-benar datang! rutuk Ilyun dalam hatinya.

 

Ibunya pun membukakan pintu dan menyambut ramah Baekhyun.

“Ya ampun Nak Baekhyun, lama tidak berjumpa, kau tumbuh menjadi seorang pria yang sangat tampan!” puji Nyonya Seo –ibunya Ilyun.

“Aihh, bibi bisa saja? Terima kasih aku sudah dipuji…” Baekhyun tersipu malu.

“Ilyun ada di dalam, sudah sarapan? Apa kau mau makan di sini juga?”

“Tidak, terima kasih. Ibuku sudah masak tadi.”

“Baiklah, kau masuk dan duduk saja dulu, ya?”

“Baik, bi…”

 

Baekhyun pun menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu yang empuk. Salah satu hal yang ia rindukan selama di Chungju pula. Dulu, ia sering sekali duduk di sini bersama Ilyun sambil menonton TV hingga larut malam dan membuat ibunya menjemputnya. Tapi karena tak mau pulang, ia malah menangis dan minta menginap di rumah Ilyun.

 

Selang waktu berlalu, Ilyun telah selesai makan. Kemudian, dengan langkah gontai ia segera menuju ruang tamu untuk menemui Baekhyun.

“Jadi, aku benar-benar akan berangkat bersamamu?” celetuknya dan sontak membuat Baekhyun menoleh ke belakang. “Oi, Ilyun! Ya, kita akan berangkat bersama. Kau sudah siap? Ayo segera pergi!”

“Ya…” jawab Ilyun lemas dan datar.

 

Setelah pamit kepada orang tuanya, mereka berdua pun segera menaiki motor dan berangkat. Di perjalanan, Ilyun terus saja menempelkan tangannya pada dengkul tanpa sekalipun menyentuh pinggang orang yang memboncengnya. Baekhyun hanya bisa menghela nafas. Walaupun ia sedikit menyesal, tapi apa mau dikata. Dapat berangkat ke sekolah bersana Ilyun pun, ia sudah senang.

 

Mereka pun sampai di SMA Labyrinth, sekolah yang sebentar lagi akan menjadi tempat bagi Baekhyun untuk beradaptasi.

“Tempat parkir motor di mana?” tanya Baekyun pada Ilyun.

“Di sini tempatnya.” jawab Ilyun.

“Tapi kenapa tidak ada satu motor pun yang terparkir di sini?”

“Itu karena kau menjemputku terlalu pagi!”

“Ahh~ ehehe, maaf ya… Kalau di Chungju, masuknya jam segini, kupikir sama saja.”

“Oh?” Ilyun menanggapi dengan jawaban yang sangat singkat.

 

Mereka pun berjalan berdampingan dengan tujuan yang berbeda. Jika Ilyun akan segera pergi ke kelas, Baekhyun harus datang ke ruang kepala sekolah untuk menyelesaikan registrasi. Tangannya menggeladik, berusaha meraih pundak Ilyun untuk dirangkulnya. Namun dengan cepat Ilyun tepis tangan itu dan mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Baekhyun.

“Oi, Ilyun-ah!” Baekhyun memekik, namun sama sekali tak digubris oleh Ilyun.

Dia itu kenapa sih? Kok sikapnya seperti sama sekali tak pernah kenal denganku? Baekhyun menggumam dalam kebingungan.

 

Setelah menunggu lama, akhirnya kepala sekolah pun datang juga. Segera Baekhyun selesaikan urusannya mengenai sekolah barunya itu.

“Kau akan ditempatkan di kelas 3 – A…” ucap kepala sekolah.

“Maaf, saem… Boleh saya tanya? Kalau saya di 3 – A, sekelas dengan Ahn Il Yun tidak?” Baekhyun agak ragu untuk menanyakan hal tersebut.

“Sebentar, biar kulihat daftar nama muridnya dulu…” ujar beliau. Baekhyun harap-harap cemas, ia benar-benar berharap Ilyun sekelas dengannya.

“Tidak, kalian tidak sekelas.” Kata kepala sekolah.

“Yah… Saem, bisa tidak, masukkan aku ke kelas di mana Ilyun ada di situ?”

“Kenapa aku harus melakukan itu?”

“Karena… karena hanya Ilyun yang kukenal di sini, jika kami sekelas, dia kan bisa membantuku beradaptasi. Boleh ya?” Baekhyun beralibi.

“Ilyun ada di kelas… Nah, dia di kelas 3 – 6. Ada 24 siswa di sana. Baiklah, kau masuk 3 – 6.”

JEONGMAL? Woah, terima kasih banyak, saem…”

“Oke, kau tunggu di sini dulu sampai bel masuk. Nanti kuantarkan ke kelas.”

 

Bel masuk akhirnya berdentang juga, segera lah Baekhyun mengikuti kepala sekolah yang memandunya menuju kelas yang akan ia tempati nanti. Baekhyun sangat antusias dan ingin segera sampai di kelas 3 – 6. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Ilyun nanti ketika tahu Baekhyun ada di kelas yang sama dengannya.

 

“Permisi, Tuan Cha. Saya mengantarkan anak baru yang akan ditempatkan di kelas ini.” Ucap kepala sekolah setelah mengetuk pintu kelas 3 – 6. Kemudian, beliau pun memberi isyarat pada Baekhyun melalui mata agar ia segera masuk ke kelas itu.

“Mari, saem…” kata Cha Sonsaengnimketika kepala sekolah hendak kembali ke ruangannya.

“Seperti yang kalian lihat, ada siswa di kelas ini. Baiklah, silahkan perkenalkan dirimu, nak…” ujarnya.

“Saya Byun Baek Hyun dari Chungju. Saya itu… hmmm, asli Seoul, hanya saja dulu ikut ayah sejak usia 9 tahun.” Jelas Bekhyun agak grogi hingga membuat kalimatnya berbelit.

“Memangnya aku peduli?” sahut salah seorang murid dengan pandangan sinisnya yang diarahkan pada Baekhyun.

“Hey, Kim Jong In,sopan lah sedikit!” omel Cha Sonsaengnim.

“Oke, aku minta maaf, saem…” jawab murid bernama Kim Jong In itu datar.

“Baiklah, silahkan duduk, Byun…”

“Terima kasih, saem.”

 

Baekhyun berjalan lurus hingga melewati bangku yang Ilyun duduki. Ia berhenti sejenak, kemudian menoleh dan meleparkan senyum ke arah Ilyun. Ia pun hanya terkejut, kemudian menundukkan kepalanya.

 

Bel istirahat berdentang nyaring, sembari merapikan buku-buku yang berserakan di atas mejanya, Baekhyun iseng menarik otot matanya dan menatap Ilyun dari belakang. Tiba-tiba saja ia lihat seorang lelaki yang berjalan menuju meja Ilyun, kemudian menghampirinya.

“Ilyunie, tadi kau paham pelajaran yang Woo saem ajarkan tidak?” tanya lelaki itu.

“Lumayan paham, Sehuna~”

“Aihh~ kau pandai sekali?”

“Ah~ kau bisa saja…”

 

Ilyunie? Sehuna? God! Kenapa mereka saling panggil dengan nama yang aneh dan terkesan spesial seperti itu? Ini terlalu kejam untukku, eomma!!! T_T

.

.

Baekhyun masih tak habis pikir dengan kejadian yang tadi siang ia lihat. Tentang Ilyun yang berbicara dengan nada manja pada seorang lelaki bernama Sehun. Ia coba tanya pada beberapa murid 3 – 6 yang baru ia kenal, katanya mereka tidak berpacaran. Hanya sekedar akrab. Tapi tetap saja, hal itu membuat hati Baekhyun tak tenang.

 

Bel pulang pun berbunyi, dengan sigap Baekhyun melangkah menghampiri Ilyun untuk mengajaknya pulang.

“Illy…” panggilnya untuk mengawali pembicaraan. Yang dipanggil pun sontak menoleh dengan menunjukkan ekspresi terkejutnya.

“Apa kau bilang tadi?!”

“Illy. Ya, nama panggilanku untukmu. Kau juga biasa memanggilku Byunie, ‘kan?”

“Dengar ya, masa itu telah berlalu. Dan sekarang sudah tidak ada lagi. Nama macam itu? Kolot!” cerca Ilyun dengan sangat tajam. Kemudian ia pun segera menarik tasnya dan pergi meninggalkan Baekhyun.

YA!  Bukan kah kita harus pulang bersama?” sergah Baekhyun dan membuat langkah Ilyun terhenti seketika.

 

Oh, shit! Ilyun mengumpat kesal lalu berbalik menghadap Baekhyun. “Oke, kajja!”

 

***

Di suatu sore, Baekhyun memutuskan pergi ke rumah Ilyun dengan alibi minta diajari beberapa bab yang belum ia pahami.

 

Ia pun mengetuk pintu dan beberapa saat kemudian, seseorang membukakannya.

“Permisi, bi… Ilyun ada tidak?” tanya Baekhyun ramah.

“Nak Baekhyun! Berapa kali aku bilang? Kalau mampir ke mari, tidak perlu ketuk pintu terlebih dahulu. Langsung masuk saja!” oceh Nyonya Seo.

“Maaf bi, aku sungkan kalau langsung masuk.” ucap Baekhyun sambil menyentuh lehernya.

“Ilyun ada kok… Masuklah dulu!”

“Baik, bi… Permisi ya…”

 

Nyonya Seo pun segera menghampiri Ilyun di kamarnya untuk menyuruhnya menemui Baekhyun. Ilyun yang sedang asyik berkutat dengan komputernya pun merasa terganggu dan menolak perintah ibunya.

“Suruh saja dia pulang! Aku sibuk.” ujarnya.

“Tidak baik seperti itu, Ilyunie! Bantu lah Baekhyun, kasian dia,”

“Kenapa ibu membela dia terus, sih? Yang dimintai tolong itu aku, jadi, aku yang berhak menentukan mau menolongnya atau tidak.” cetus Ilyun tegas.

“Ya sudah, kalau kau tidak mau menolongnya, tolak saja sendiri. Ibu tidak tega.”

“Ibu!!!” Ilyun merengek, namun tak digubris oleh ibunya.

 

Ia pun akhirnya berdiri dan beranjak dari tempat duduk, sejenak meninggalkan aktivitasnya untuk menemui Baekhyun.

Dasar cowok merepotkan! rutuk Ilyun kesal.

 

Sesampainya di ruang tamu, didapati lah sosok Baekhyun yang tengah duduk santai di atas sofa. Derap langkah Ilyun yang makin dekat membuat Baekhyun menoleh ke belakang.

“Illy!” serunya. Ilyun yang mendengar itu pun langsung mendengus kesal. “Sudah berapa kali kubilang, jangan memanggilku dengan nama itu!” celetuknya.

“Tapi kan… nama itu imut. Kau juga bisa memanggilku… Byunie?”

“Tidak, tidak akan! Ada perlu apa kau ke mari?”

“Aku mau minta diajari matematika. Susah sekali!”

“Aku benci matematika, aku tak pernah memperhatikan ketika guru menjelaskan. Kau salah orang untuk dimintai tolong. Pulanglah, aku sibuk!” setelah bicara dengan nada yang seakan mengusir Baekhyun, Ilyun pun berbalik dan bergegas kembali ke kamar.

 

“Terima kasih sudah mau menemuiku.” ucap Baekhyun yang sontak membuat langkah Ilyun terhenti.

“Tapi… tidak bisa kah jika bicara denganku, suaramu lebih dilembutkan?” sambungnya. Kalimat itu membuat Ilyun menunduk. Perlahan-lahan Ilyun kembali berbalik menghadap Baekhyun dan menantapnya nanar. Ia kemudian berlari menghampiri Baekhyun dan langsung mendekapnya.

 

Air mata Ilyun deras mengalir dan membuat kemeja yang Baekhyun kenakan menjadi basah. Baekhyun pun dibuatnya bingung bukan kepalang. Yang bisa ia lakukan hanya membalas pelukan Ilyun sambil mengelus lembut rambutnya.

“Byunie~” ucap Ilyun pelan dan tetap terisak.

“Illy… Aku sangat merindukanmu.” kata Baekhyun dan semakin mengeratkan pelukannya.

“Aku juga…”

 

***

Seperti biasa, suasana di kelas 3 – 6 sangat gaduh ketika Hwang sonsaengnim mengajar. Alasannya singkat, cara mengajar beliau yang menurut kebanyakan murid sangat membosankan. Hanya segelintir siswa kelas 3 – 6 yang benar-benar memperhatikan beliau. Salah satunya Ilyun.

 

“Jadi, siapa yang tahu, apa langkah terakhir yang harus kalian lakukan untuk menceritakan kembali isi sebuah prosa?” tanya Hwang sonsaengnim dengan suara lantang dan membuat kebisingan di kelas itu sejenak terhenti.

“Menentukan hal-hal yang menarik dari cerita yang tersedia, ssaem!” sahut Yimin.

Aniyo, Yimini-ah… yang benar menceritakan kembali isi cerita tersebut dengan kalimat sendiri.” celetuk Ilyun mengoreksi jawaban Yimin.

“Sok pintar, cih!” tiba-tiba saja terdengar suara Jongin yang mencibir Ilyun.

“Kau tidak suka, huh?!” sahut Ilyun karena tak terima Jongin meledeknya seenak sendiri.

“Apa’an sih?! Aku tidak sedang bicara denganmu, tahu!” oceh Jongin.

Gotjimal! Jelas-jelas kau menghinaku!”

“Jangan nyolot ya!”

“Berhenti beradu mulutnya! Jawaban Ilyun memang benar dan apa yang Yimin sampaikan kurang tepat. Tapi intinya, sebelum menceritakan kembali isi cerita dengan kalimat sendiri, terlebih dahulu kita harus menentukan hal-hal yang menarik dari cerita yang tersedia.”

“Tuh, kan… Jawabanku memang benar!” kata Ilyun pada Jongin.

“Bodo amat! Memangnya aku peduli?” balas Jongin dan membuat Ilyun nampak geram.

 

Begitulah setiap harinya. Selalu saja ada keributan yang terjadi antara murid terajin dan murid termalas di kelas 3 – 6, yaitu Ilyun dan Jongin. Tapi perseteruan mereka benar-benar sangat seru untuk disimak. Apalagi kalau Ilyun sudah mulai marah dan Jongin yang melontarkan kalimat-kalimatnya yang acap kali membuat Ilyun jengkel.

 

Pelajaran sastra pun berakhir dan dilanjutkan dengan olah raga. Hari ini Gil sonsaengnim akan membahas tentang sepak bola. Untuk siswinya, mereka hanya ditugaskan membaca materi, sedangkan para siswa akan ditugaskan praktek langsung di lapangan.

“Kangjoo-ya, nampaknya kau antusias sekali dengan pertandingan ini?” tanya Ilyun.

“Habis, sepertinya seru!” jawabnya.

“Kau menjagokan siapa?”

“Timnya Jongin, lah!”

“Kenapa?”

“Dia kan pandai sekali berolah raga. Strategi yang ia susun juga sangat cemerlang. Aku yakin, dia pasti menang!”

“Aihh~ lagamu sudah seperti komentator professional saja!”

“Kalau kau, menjagokan siapa?”

“Aku… Lawannya Jongin saja deh!”

“Cieee, kau mendukung mereka karena Sehun atau murid baru (Baekhyun) itu?”

“Apa’an sih? Aku menjagokan mereka karena tak ada alasan untukku mendukung Jongin. Itu saja!” Ilyun beralasan.

“Kalian berdua ini memang musuh bebuyutan sejak dulu. Aku sampai heran…”

Just that!

 

Pertandingan pun dimulai setelah wasit meniupkan peluit. Para siswi dengan heboh menyoraki tim jagoan mereka.

JONGIN-AH, FIGHTING!

SEHUUUN, KAU PASTI BISA!

 

Wasit pun meniup peluit panjang, pertanda praktek olah raga sepak bola telah berakhir. Pertandingan ini dimenangkan oleh tim Jongin dan otomatis membuat para pendukung Sehun kecewa.

“Kau lihat itu, Ilyun-ah?!” celetuk Kangjoo.

“Menyebalkan, hitam menyebalkan itu menang!” rutuk Ilyun.

 

Tiba-tiba saja terjadi sebuah insiden mengejutkan, di mana wajah Sehun menjadi merah padam dan mendadak saja mendorong Baekhyun hingga terjatuh dengan posisi pantat duluan. Sikap Sehun tersebut sontak membuat seluruh siswa terkejut.

“Gara-gara kau tak becus menjaga gawang kan, tim kita jadi kalah!” bentak Sehun pada Baekhyun. Yang dibentak pun segera bangkit dan memberontak dengan balas mendorong bahu Sehun, namun sebelum itu, terlebih dahulu ia bersihkan bokongnya yang kotor.

“Jangan seenaknya ya kalau bicara!” Baekhyun memperingatkan dengan mata mendelik.

 

Ya! Kenapa mereka malah berkelahi?” Kangjoo panik. Merasa janggal karena Ilyun yang tak kunjung menimpali ucapannya, Kangjoo pun menoleh, namun tak ia dapati Ilyun di sampingnya. Padahal ia ingat betul tadi anak itu ada di sebelahnya. Saat ia kembali memfokuskan pandangan ke lapangan, mendadak saja ia lihat Ilyun sudah ada di tengah lapangan sedang melerai Baekhyun dan Sehun yang sedang bertikai.

Hajima! Sehun-ah, kalian kan satu tim, jika kalah ya kesalahan bersama!” jelas Ilyun.

“Oh, jadi sekarang, aku juga salah, begitu? Aku sudah main dengan benar! Dia saja yang payah!” timpal Sehun.

“Apanya? Aku sudah benar-benar menjaga gawang, back-nya saja lemah! Dan kau sebagai kapten tim juga hanya memikirkan dirimu sendiri!” sahut Baekhyun.

“Kau jangan sok tahu ya, anak baru!” Sehun mengepal tangan, bersiap menghantam Baekhyun, namun dengan cepat Ilyun langsung menarik tangan Baekhyun dan membawanya lari menjauhi Sehun.

 

“Illy! Lepaskan aku, hey! Aku harus melawannya!” pekik Baekhyun, namun sama sekali tak dihiraukan oleh Ilyun dan ia tetap menariknya. Setelah sampai di halaman belakang sekolah (tempat yang sekiranya jauh dari para murid 3 – 6), Ilyun pun melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Baekhyun.

“Kenapa kau malah menarikku ke sini sih?!” tanya Baekhyun. Ilyun hanya membalas dengan tatapan mangkal, kemudian duduk di bangku taman. Baekhyun pun lalu ikut duduk dan kembali bertanya mengenai alasan mengapa Ilyun menariknya dan tak membiarkan Baekhyun menyelesaikan permasalahannya dengan Sehun secara jantan.

“Daripada kau bertengkar tak jelas dengannya, lebih baik kabur, ‘kan?” balas Ilyun.

“Tapi kan… Sehun dan yang lainnya akan menganggapku sebagai pengecut!”

“Lebih baik dianggap pengecut oleh seseorang yang tak terlalu berarti dalam hidupmu dibandingkan harus membuat ibumu sedih ketika nanti kau berurusan dengan guru BK!”

“Ahh~ Jadi… kau melakukan ini demi kebaikanku ya? Illy cantik, kamu baik sekali?”

“Apa’an sih? Nggak! Alasanku yang sebenarnya kan… Ya, kau sendiri kan tahu, sejak berangkat dan pulang sekolah bersamamu, aku tak diberi ongkos untuk naik bis. Kalau nanti kau harus berurusan dengan BK sepulang sekolah, bagaimana caraku pulang, huh?!”

“Aiiih~ alibi! Jujur saja, kau melakukan ini demi aku, ‘kan?”

Andwae! Jangan kePDan kau!”

“Oke, oke… yang kau katakan ada benarnya juga. Terima kasih, sudah menolongku, Illy…” ucap Baekhyun. Namun, Ilyun yang diajak bicara itu sama sekali tak menggubris ucapan Baekhyun.

 

“Hey! Tidak bisa kah sekali saja kau memanggil namaku? Seperti kemarin sore, kau memanggilnya dengan sangaaaaat manja! Aku senang tahu!” celetuk Baekhyun. “Lupakan tentang kemarin sore! Anggap saja cuma mimpi!” timpal Ilyun.

 

Baekhyun pun mendadak berekspresi muram. Hatinya kecewa dengan sikap Ilyun yang benar-benar dingin terhadapnya. “Tapi, kenapa?” tanya Baekhyun gemetar.

“Illy, sahabatmu yang tomboy di masa kecil, sekarang sudah tidak ada lagi. Byunie, sahabat terbaik si Illy, juga sudah lama menghilang. Dan sekarang, sudah tidak ada lagi persahabatan antara Byunie dan Illy.”

“Aku tidak menghilang, sekarang aku ada di sini, Illy…”

“Terlambat! Setidakpenting itu kah aku di matamu dulu? Kau pergi ke luar kota tanpa pamit padaku. Kau tahu, betapa aku merasakan sedih kala itu. Di masa kecil, aku sudah harus merasakan betapa lelahnya menangis seharian di kamar karena ditinggalkan orang yang sangat disayanginya. Kau kejam, Byun Baek Hyun, kau tidak punya perasaan!”

 

Mata Ilyun mulai beranak sungai, ia sesenggukan sambil memukul-mukuli dada Baekhyun. Ia pun hanya bisa diam, menerima apapun yang akan Ilyun lakukan padanya. Asal hal itu bisa membuat emosinya reda. Perlahan-lahan tangannya mulai menggeladik, menempelkan telapak tangannya di pipi Ilyun yang bulat. Ia menyeka air mata Ilyun yang deras mengalir hingga membuat matanya terlihat sembab dengan ibu jarinya sambil berucap, “Kau membuat hatiku perih dengan air matamu. Uljjima, jebbal…”

“Byunie tetap di sini, tetap bersama Illy, tetap menjadi sahabat terbaik Illy. Kumohon percaya lah, aku tetap menyayangimu, Illy…” Baekhyun tersenyum sendu menatap Ilyun yang mulai berhenti menangis. Ia pun kembali mengelus rambut Ilyun dengan lembut.

 

By the way, maaf ya sudah membuatmu dibentak oleh Sehun tadi, padahal kau kan sangat menyukainya…” celetuk Baekhyun.

“Kau dapat berita dari mana kalau aku suka Sehun?”

“Dari caramu bicara dengannya, tatapanmu padanya juga.”

“Sok tahu, dasar!”

“Memang benar begitu, ‘kan?”

“Ya itu dulu sebelum tadi ia mendorongmu hingga jatuh. Jangan berpikir ini karenamu, tapi dari dulu aku memang benci dengan lelaki yang suka menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri.”

“Ah, iya… Aku ingat, kau pernah mendiamkanku seharian hanya karena aku menendang Kyungsoo sampai kakinya lecet. Kau bilang aku yang salah karena sepedanya Kyungsoo rantainya putus setelah kugunakan.

“Dari dulu tetap teguh pada pendirian ya? Hmmm, ya sudahlah. Mungkin Sehun memang bukan lelaki yang tepat untuk kau sukai?”

“Iya, aku baru tahu sifat aslinya seburuk itu.”

 

TBC…

Iklan

Penulis:

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

50 tanggapan untuk “Byunie and Illy (Chapter 1)

  1. bagus bagguuuussss!!!!! aku lagi nyari nyari ff lama eh ketemu ini! suka banget sama illyun ma baekhyun. tapi disini si illy kek jutek kangen gimana gitu/?
    bttw si sehun menyebalkan huh/?

    KEEP WRITTING!!

  2. Haaaai aku reader baru tp jujur aku udah tau ff ini sejak chapter ini diposting tp you know lah wkwkw aku lg sibuk jadi ya cuma aku save trs baru aku baca deh /apaini/ 😀

    Jujur agak bingung sm Il Yun, kenapa dia moody bgt kayaknya sm Baekhyun. Oh jadi. Dia suka sm Sehun, oh! Nah janganjangan abis ini Jongin?

    That
    Oh oh oh ternyataaa. Huuuh itu fluff bgt yg part akhir 😀

  3. mian thor, d awal sbnernya q rada bingung, itu npa skp Ily nya gthu k Baek, trus ky nya lw q ngbyangin nih, ky nya bkn krkter Baek dc mpe ngejar2 illy gthu, skp Baek k Ily jg klwt nunjukin bgt lw dy nya ska bgt m Illy,
    Baek iyu kn krkternya cool tp mnis,,,
    lw ngejar2 illy nya mpe sgtu nya mh jd coolnya ilg dc… mian ya…
    tp k ahir2 q mly dpt feel nya…
    tetep smangat ya,, mian lw kta2 q g enk d ht author… mian mian mian… 🙂

  4. Next Thorr
    Hohohoh~ Daebakk thor
    Thor, tolong Bilang Ke Ilyun buat jauhi Sehun ya thor, sehun tunangan aku -_- *ketawa gaje ala sinetron :v
    Keep writing thor

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s