Secret Darling | 9th Chapter

secret-darling.

:: SECRET DARLING | 9th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by chocolatesoda © CaféPoster Art ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter

.

Sehun mendecak lalu dengan satu sentakan membanting kecil punggung Minhee sampai menyentuh dinding lorong apartemen. Laki-laki itu mengurung pergerakan gadis itu, membuat wajah gadis itu mulai memucat sekarang.

“Apa yang kau lakukan?” cicit Minhee kecil. “Ugh, seriously. Don’t kidding me.”

“I’m not kidding you.” Balas Sehun datar. “Aku hanya ingin memperingatkanmu, Nyonya Oh. Aku tak suka melihatmu berdekat-dekatan dengannya. Siapa dia? Mantan kekasihmu?”

“Apa kau bilang?” protes Minhee. “Hey! Aku ini belum pernah berpacaran, oke?”

“Lalu siapa dia?” Tanya Sehun datar. “Dia sepertinya dekat sekali denganmu, dan kau juga terlihat sangat menikmati kedekatan dengannya. Dia berceloteh tentang banyak hal yang tidak kumengerti bersamamu, dan tadi. Dia menyebut kata ‘berpisah’. Apa kau bisa menjelaskan semuanya itu, Nyonya Oh?”

“Berhenti memanggilku Nyonya Oh, please.” Keluh Minhee. “Kau membuatku merasa tua ketika kau memanggilku ‘nyonya’.”

“Kenapa? Kau tak suka? Tapi sayangnya kau sudah menjadi istriku sekarang.” Sehun berkata dengan nada sinis lalu sengaja semakin mempertipis jaraknya dengan jarak Minhee. Membuat Minhee terpaksa memejamkan matanya rapat-rapat sambil memalingkan wajahnya.

“Menjauh dariku!” erang Minhee sambil memukul-mukul kecil dada bidang Sehun. “Menjauh! Menjauh! Menjauh!”

 

Grek!

 

Mereka berdua menoleh seketika saat mendengar suara pintu terbuka tak jauh dari mereka. Seorang wanita berusia tigapuluh-tahunan berdiri disana, di depan pintu apartemen miliknya, sedikit terkejut bercampur canggung saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

Wanita itu berdehem kecil—merasa tak enak hati mungkin—lalu dengan cepat berbalik untuk mengunci pintu apartemennya. Setelah selesai, ia segera berjalan cepat menuju elevator tanpa menoleh ke belakang lagi ataupun mengucapkan sepatah kata.

Sehun dan Minhee ikut terdiam, mungkin dalam hati mereka masih shock saat wanita itu tiba-tiba keluar dari apartemennya dan langsung melihat mereka dalam posisi seperti ini. Seperti hendak—

Hey, tunggu! APAKAH WANITA ITU BARU SAJA MELIHAT SEHUN DAN MINHEE DALAM POSISI MEMALUKAN SEPERTI INI?!

 

“Yak, kau! Menjauh dariku! Dasar bodoh!!”

 

 

.

.

| 9th Chapter |

.

.

 

“Ya, jadi kau banyak ketinggalan info hari ini.” Sahut Minhee dengan sedikit penekanan saat michrophone merekam durasi panggilannya. Yah, obrolan mereka sudah lumayan panjang. Minhee merasa ponselnya mulai memanas.

“Salah sendiri,” sahut Minhee lagi. “Siapa suruh kau membolos kelas Dosen Im hanya karena ingin memata-matai senior yang misterius itu. Memangnya apa yang kau dapat?”

Minhee terdiam sejenak dengan sabar untuk mendengarkan semua celotehan panjang Minchan dari seberang sana, dan —akhirnya— ia merasa lega karena ponsel temannya itu bisa dihubungi lagi. Seperti dugaan Minhee, ponsel Minchan kehabisan baterai saat mereka masih berada di kampus tadi.

 

“Tidak ada?!” seru Minhee heboh. “Aish, jinjja. Sudah kubilang apa. Kita bahkan sama sekali buta informasi mengenai dia. Jadi apa yang kau lakukan tadi? Hanya terdiam seperti orang linglung di lobi fakultas seni?”

 

Tiba-tiba pintu kamar Minhee membuka tanpa terdengar suara ketukan terlebih dahulu. Minhee segera mengarahkan kursinya menghadap pintu, dan memutar matanya tatkala melihat Sehun sudah berdiri disana sambil mengacungkan ponselnya.

 

“Hei, aku ada urusan mendadak. Bagaimana kalau nanti kau yang gantian menelepon? Oke, hubungi aku lagi pukul delapan. Annyeong.” Putus Minhee begitu saja. Dan tanpa menunggu respon Minchan, ia segera memutus sambungan telepon tepat saat Sehun berjalan ke arahnya.

 

“Luhan hyung menyuruh kita datang ke pesta ulangtahun,” sahut Sehun tanpa diminta.

Minhee merebut ponsel yang ada di tangan Sehun, lalu membaca pesan Luhan yang langsung tampil di layar utama. Keningnya mengerut.

“Untuk apa kita diundang? Kita bahkan tak kenal siapa teman Luhan oppa yang satu ini.”

 

Sehun hanya mengangkat bahunya. “Aku hanya disuruh menyampaikan pesan.”

“Kapan ulangtahunnya?” Tanya Minhee.

Sehun memutar matanya. “Oh, bukankah kau sudah membacanya di pesan itu? Tanggal tercantum disana.”

Minhee mengeluh dan terpaksa membaca ulang pesan itu karena ia sama sekali tak memperhatikan keberadaan tanggal tercantum disana. Dan kerut di keningnya bertambah dalam seketika.

“Besok?”

“Yah, kau tahu… Ini sejenis party.” Sahut Sehun menambahkan. “Aku belum pernah menghadiri party orang dewasa, jadi yah… Aku tidak tahu akan seperti apa disana.”

“Oke,” Sahut Minhee menambahkan lagi. “Disana mereka mencantumkan dresscode. Dan aku harus memakai gaun pesta malam. Hm, aku tak punya itu.”

“Kau harus tahu kalau pesan ini datang bersama barang kiriman Luhan hyung.” Sehun berucap tiba-tiba sambil menyerahkan satu benda berbentuk kotak yang entah sejak kapan berada di tangannya. Minhee mengambil kotak itu lalu melongo sekilas melihat benda yang ada di dalam sana.

“Luhan oppa membelikanku gaun?!”

“Dia juga membelikanku sebuah kemeja.” Tambah Sehun. “Dan kau harus tahu. Kemejanya benar-benar bagus, kutahu itu salah satu kemeja mahal yang ada di butik langganannya.”

 

***

 

Pagi ini Minhee datang ke kelas dengan waktu yang sedikit terlambat dari biasanya. Minhee memasuki kelas yang masih dihuni beberapa mahasiswa saja itu, lalu melihat Minchan sedang duduk sendirian di kursinya sambil menyumpal kedua telinganya dengan headset.

Minhee mempercepat langkahnya menuju Minchan dan berani bertaruh bahwa Minchan bahkan tak mengetahui kedatangannya sedikitpun.

 

Yak!” protes Minchan refleks saat Minhee mencabut paksa headset yang menyumpal telinga kanannya. Gadis itu segera tahu siapa satu-satunya si pelaku, lalu melempar pandangan sebal pada Minhee. Minhee memasang senyum lebar yang polos saat mata Minchan memandangnya penuh rasa sebal.

“Kemarin kau kemana saja? Kau tahu, Dosen Im merindukanmu.” Celoteh Minhee riang sambil merangkul bahu Minchan. Minchan benar-benar melepas headset-nya kini, lalu menatap Minhee dengan rasa jijik atas kalimatnya barusan.

“Apa maksudmu?” protes Minchan sengit.

Minhee tertawa bahagia mendengar protes Minchan. “Bercanda,”

“Sebaiknya kini kau memberitahuku lebih lengkap soal proyek drama itu.” sahut Minchan sambil memasukkan ponsel beserta headset yang tadi dipakainya ke dalam tas. “Ceritamu semalam sungguh tidak jelas, dan… Kau bahkan memutuskan sambungan secara sepihak.”

“Aku sudah menyuruhmu untuk menelepon pukul delapan,” sahut Minhee sambil mengangkat kedua tangannya. “Tapi kau tidak menelepon. Jadi, ya sudah.”

Minchan memutar matanya. “Kau tahu, aku sedang tidak ada pulsa.”

“Mengapa tidak ada pulsa selalu kau jadikan alasan?” Minhee cemberut.

“Oh, sudahlah. Sekarang cepat beritahu aku soal proyek drama itu. Kelas Dosen Son akan dimulai sepuluh menit lagi.” paksa Minchan, dan Minhee tahu jika itu salah satu wujud pembelokan tema obrolan yang dilakukan Minchan. Minhee menatap Minchan dengan sungut di wajahnya.

“Kau sangat memaksa.” Keluh Minhee.

Minchan mengangguk. “Ya, aku memaksa. Sangat, Nyonya Oh.”

“Berhenti memanggilku itu.” Keluh Minhee keras. “Aku tidak mau menceritakanmu soal proyek drama jika kau masih memanggilku dengan nama itu.”

“Baiklah, aku berhenti.” Sahut Minchan mengalah. “Asal kau ceritakan padaku, oke?”

 

Minhee menghela napasnya panjang. Oke, ia tahu siapa Minchan. Meski ia berjanji akan berhenti memanggil Minhee dengan embel-embel ‘Nyonya Oh’, setidaknya itu hanya berlaku kali ini. Karena Minchan butuh informasinya soal proyek drama musim depan. Selepas dari itu, Minhee yakin Minchan akan melupakan janjinya.

 

“Jadi Dosen Im bilang, kita akan menjalin kerjasama dengan mahasiswa seni teater untuk melaksanakan proyek drama musim depan,” jelas Minhee. “Mahasiswa divisi sastra adalah yang bertanggung jawab soal naskah drama, itulah alasan mengapa kita dibebankan tugas naskah drama fiksi, karena naskah yang akan terpilih nanti akan dijadikan skenario untuk drama itu. Sedangkan mahasiswa divisi seni teater adalah yang bertanggung jawab soal pertunjukan, dan dosen jurusan akan membentuk tim khusus untuk pangadaan casting. Peserta casting akan dipilih melalui audisi yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi dari kedua divisi.”

“Benarkah?” respon Minchan dengan mata berbinar. “Lalu bagaimana naskahnya? Apa sudah diumumkan naskah seperti apa yang terpilih?”

Minhee menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, namun setelahnya ia baru tersadar dengan keganjilan yang ditunjukkan Minchan. Sejujurnya, pandangan berbinar Minchan sedikit mengganggu Minhee.

“Ada apa denganmu, Park Minchan?”

 

“Oh, aku sangat ingin ikut drama itu,” jawab Minchan riang. “Bagaimana denganmu, Minhee? Kau mau ikut juga, kan?”

“Hah?” ulang Minhee dengan mulut menganga. “Aku? Drama?”

“Mengapa tidak kau coba saja? Siapa tahu kau yang akan beruntung mendapatkan peran utama. Bagaimana?” bujuk Minchan. “Ayolah, temani aku mengikuti audisi itu, ya? Lagipula, bukankah audisi itu wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi dari kedua divisi?”

“Tapi aku—“

“Oh, ayolah… Kumohon?” pinta Minchan sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Minhee meringis melihatnya.

“Jangan memaksaku, Park.”

“Tapi aku ingin,” bujuk Minchan lagi. “Ayolah, kau sahabatku, kan?”

 

Minhee tak tahu harus menolak dengan kata apa. Sejujurnya ia merasa kurang berminat untuk mengikuti audisi pemilihan pemain drama itu, tapi… Apa boleh buat? Sepertinya Minchan memaksanya, dan Minhee tahu jika ia sedang tak punya kata untuk menolak permintaan Minchan.

 

“Aku—“

 

“Aku yakin kalau aku yang akan mendapatkan peran utamanya, Tia.” Terdengar suara seorang gadis yang sudah mereka hapal pemiliknya diluar kepala.

Minchan dan Minhee menoleh serempak menuju muka kelas, dan tepat seperti dugaan mereka sebelumnya, mereka melihat gadis itu dan sahabat setianya sedang berjalan melewati depan kelas, lalu berhenti di meja milik gadis bersurai cokelat pirang itu.

“Dan Jungkook akan mendapatkan peran utama yang lain. Lalu kami akan menjadi pasangan peran utama.”

 

Minchan meringis sambil memutar kepalanya lagi pada Minhee. Minhee ikut memandang Minchan, membuat tatapan mereka bertemu di udara.

 

“Selamatkan divisi kita, Minhee-ya,” Desis Minchan pelan, supaya tak didengar duo Queenka yang saat ini sedang tak berada jauh dari mereka.

Minhee mengangkat alisnya, menuntut kelanjutan kalimat Minchan. Minchan memperjelas ringisannya, sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Selamatkan divisi kita. Jangan biarakan gadis penggosip itu mendapatkan peran utamanya. Meskipun itu bersama Jungkook.”

 

***

 

Malam ini Sehun dan Minhee sedang bersiap menuju pesta ulangtahun teman Luhan. Kesibukan mereka cukup berarti, berkali-kali bahkan mereka tak sengaja bertubrukan di muka pintu saat berpapasan. Mereka sama-sama tergesa, dan sama cerobohnya.

 

Aish, jinjja! Kenapa kau memakai dasi?” omel Minhee saat melihat Sehun sedang berdiri di depan sebuah cermin besar yang terletak dalam kamarnya. Sehun hanya berpaling pada Minhee dengan raut wajah bingungnya, setengah mengangkat tangannya yang sedang memegang kedua ujung dasi itu.

“Tapi aku suka dasi ini,” sahut Sehun polos. “Aku tidak bisa mengikat dasi. Kau bisa membantuku?”

“Apa?!” respon Minhee berlebihan. “Dasiku saat sekolah dulu tidak pernah berbentuk seperti ini. Jadi mana kutahu. Lagipula sudah kubilang, kau ini bukan memakai jas, jadi apa gunanya kau memakai dasi.”

Sehun hanya terdiam pasrah saat Minhee menarik dasi itu dari kerahnya. Minhee memasukkan dasi itu kembali ke dalam lemari, lalu menatap Sehun sambil berkacak pinggang.

“Sekarang kau lihat rambutmu? Bahkan gara-gara dasi bodoh itu, sekarang kau lupa menata rambutmu. Luhan oppa akan datang menjemput kita beberapa menit lagi. Astaga!” celoteh Minhee.

Sehun tak tahu harus menimpali Minhee bagaimana, jadi ia hanya terdiam sambil memasang wajah bersungut-sungut.

“Jangan lagi sebut dasi itu sebagai ‘dasi bodoh’.” Desis Sehun kecil.

Minhee pura-pura tak mendengar. Kini ia sedang sibuk berpikir bagaimana caranya menata rambut Sehun. Oh Tuhan, bagaimana bisa? Ia bahkan sama sekali tak tahu bagaimana caranya menata rambut lelaki. Haruskah ia menelepon Minhyuk hanya untuk menanyakan hal bodoh itu?

 

“Masa bodoh. Biarkan Luhan oppa saja yang menata rambutmu.” Sahut Minhee yang sudah frustasi. Ia memasukkan sisir dan sewadah gel rambut ke dalam tas kecilnya, lalu tanpa aba-aba lagi menarik Sehun menuju pintu keluar.

Bertepatan dengan itu, bel pintu mereka berbunyi.

 

“Kalian—“ kata-kata Luhan terputus saat melihat Sehun dan Minhee membuka pintu dan langsung muncul di hadapannya.

Oppa, please… Aku tak tahu bagaimana caranya menata rambut pria.” Sahut Minhee sambil meringis kecil. “Oppa bisa membantu, kan?”

Uhm… Baiklah.” Sahut Luhan setengah menggumam. Namun tak henti-hentinya Luhan menatap rambut Sehun yang masih dalam keadaan berantakan itu.

Sehun hanya bisa memutar matanya.

 

 

Pesta ini…

Pesta orang dewasa.

 

Haruskah Minhee mengomel pada kakak iparnya, mengapa ia membawa Sehun dan Minhee ke pesta itu? Padahal sudah jelas, mereka berdua bahkan sama sekali tidak diundang. Dan pesta ini… Uhm, sedikit aneh dimata mereka.

 

“Jadi pesta orang dewasa seperti ini…” gumam Minhee sesaat setelah Luhan membawa mereka berdua memasuki kerumunan orang dalam pesta tersebut.

Sialnya mereka berdua terpisah dari Luhan. Luhan pergi entah kemana, meninggalkan Sehun dan Minhee yang kebingungan berputar-putar di tengah kerumunan para orang dewasa.

Tiba-tiba seorang wanita dengan dandanan super tebal melintas di dekat mereka, meninggalkan jejak wangi parfum yang menyesakkan di udara. Minhee kontan menutup hidungnya, merasa terganggu dengan bau itu. Beruntungnya, wanita itu tidak menyadarinya.

Sehun cepat-cepat menarik Minhee dari dekat wanita itu.

 

Yak, kenapa kau menarikku?” protes Minhee setelah Sehun berhenti menariknya. Kini mereka sudah berada di jarak yang cukup jauh dari wanita itu.

“Kenapa kau menutup hidung di depannya, bodoh.” Omel Sehun sambil melempar death glare-nya pada Minhee.

“Aku tidak suka baunya. Membuat perutku mual.” Jawab Minhee polos sambil bersungut-sungut.

Sehun memutar matanya. “Tapi tidak harus di depannya juga. Aish, kau harus banyak belajar soal etika.”

Minhee hanya menjawab kata-kata Sehun dengan cibiran. Selanjutnya ia tak peduli lagi, ia lebih tertarik mengamati aktifitas para orang dewasa. Apa saja yang orang dewasa lakukan saat mereka mengadakan pesta.

 

“Sehun, Minhee.” Panggil Luhan dari arah kanan. Sehun dan Minhee menoleh seketika, dan baru saja menemukan Luhan sedang berjalan menghampiri mereka membawa dua gelas minuman berisi cairan dengan warna bening.

Oppa, kau membawa minuman!” seru Minhee riang, lalu merebut salah satu gelas dari tangan Luhan begitu saja.

Tanpa pamit, Minhee meminum isi dari gelas tersebut. Luhan sedikit meringis saat melihat perubahan ekspresi wajah Minhee saat meminum cairan tersebut.

 

“Oh Tuhan, syukurlah aku mengambil soda tadi,” sahut Luhan, tepat saat Minhee menghabiskan minumannya. Gadis itu baru saja hendak bertanya soal minuman apa itu sebenarnya, namun kembali mengatupkan bibirnya saat mendengar Luhan menyahut tanpa ditanya.

“Minhee-ya, kau harus hati-hati meminum sesuatu di pesta ini. Kau harus bertanya pada bartender soal jenis minuman yang sedang ia racik. Salah-salah, kau bisa meminum alkohol.” Lanjut Luhan.

“Apa?!” respon Minhee berlebihan. Minhee segera mengembalikan gelas kosong itu pada Luhan dengan cepat. Raut wajahnya tampak panik.

“Apakah aku akan mabuk nanti?”

 

“Tidak, bodoh.” Sehun yang menjawabnya dengan raut wajah datar. “Sudah Luhan hyung katakan. Ia mengambil soda. Berarti kau baru saja minum soda tadi. Mengerti?”

Minhee menganggukkan kepalanya patuh. Lalu setelahnya sedikit menundukkan kepalanya. “Aku tidak akan macam-macam lagi disini.”

“Itu lebih baik.” Sahut Sehun sambil mengangkat bahunya.

“Sehun-ah, kau temani Minhee saja, ya. Aku akan berkumpul sebentar bersama teman-temanku. Nanti aku akan menemui kalian lagi.” sahut Luhan. Sejenak matanya menjelajah kursi kosong yang ada dalam ruangan bar itu, dan beruntungnya ia menemukan.

“Kau bisa duduk bersama Minhee di sofa itu. Jangan pergi kemana-mana sebelum aku datang. Mengerti?”

 

“Yap.” Sahut Sehun setengah hati. Tanpa aba-aba, Sehun langsung menarik tangan Minhee menuju sofa kulit berwarna merah itu. Minhee tak bisa untuk tidak mengaduh, walau langkahnya terpaksa mengikuti Sehun juga.

 

“Kau dengar kata-kata Luhan hyung tadi? Jangan banyak bertingkah di pesta ini.” Ulang Sehun dengan nada datarnya.

“Ya, aku juga mendengarnya.” Sungut Minhee. Mereka akhirnya berhenti begitu sampai di sofa merah tersebut. Sehun langsung mendudukkan dirinya di sofa tersebut, berbeda dengan Minhee yang masih berdiri mematung sambil menonton kelakuan Sehun.

“Hei. Duduklah. Mau sampai kapan kau berdiri disana?” sahut Sehun datar. Namun walau begitu, ia menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya, seakan menyuruh Minhee untuk duduk. Minhee akhirnya duduk, masih dengan sungut di wajahnya.

“Kenapa kau cemberut?” Tanya Sehun setelah beberapa menit lamanya mereka saling terdiam.

Minhee menolehkan kepalanya pada Sehun, lalu mengangkat bahunya dengan cuek. “Aku tidak apa-apa.”

“Menurutmu bagaimana?” Tanya Sehun lebih lanjut. Minhee hanya mengangat alisnya sebagai respon atas pertanyaan Sehun.

“Apanya yang bagaimana?”

“Pesta seperti ini.” Ucap Sehun memperjelas.

Minhee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sejenak ia belum mengeluarkan sepatah kata sebagai jawabannya, matanya hanya mengedar memperhatikan para tamu yang sedang berlalu-lalang membawa gelas-gelas pesta.

“Pesta ini sepertinya terlalu dewasa untukku.” Ucap Minhee. “Kau sudah dewasa. Bagaimana pendapatmu sendiri?”

“Entahlah.” Jawab Sehun. “Selama ini aku jarang menghadiri pesta teman, dan terakhir kali aku ke pesta itu saat ulangtahun Kai. Hanya pesta sederhana yang diadakan dengan makan malam bersama di café.”

“Kau belum pernah datang ke pesta seperti ini?” Tanya Minhee lagi.

Sehun menggelengkan kepalanya.

“Oh. Lalu kau tahu siapa teman Luhan oppa yang berulangtahun hari ini?” Tanya Minhee lebih lanjut.

Sehun hanya mengangkat bahunya tak tahu. Minhee mengeluh kecil.

“Kukira kau tahu.”

“Hanya karena aku adiknya, jadi kau beranggapan kalau aku tahu segalanya tentang Luhan hyung? Termasuk teman-temannya?” celoteh Sehun.

“Maaf.” Ucap Minhee kecil. “Jadi… Untuk apa kita disini?”

“Duduk dan melihat-lihat.” Jawab Sehun singkat. “Lalu apa lagi? Kita bahkan tak kenal satu orangpun di pesta ini kecuali Luhan hyung. Dan kau tahu apa kenyataannya sekarang? Luhan hyung bahkan pergi meninggalkan kita.”

“Aku mau pulang,” rengek Minhee dengan suaranya yang kecil. “Bagaimana kalau kita pulang sekarang saja? Kita bisa naik taxi.”

Shireo,” respon Sehun. “Apa kau tak tahu seberapa jauhnya jarak dari bar ini ke apartemen kita? Apa kau mau menghabiskan jatah uang makan kita selama seminggu hanya untuk menyewa taxi kembali ke apartemen?”

Minhee semakin memanyunkan bibirnya. “Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Aku sudah bilang. Duduk dan melihat-lihat. Jangan pergi kemana-mana, jangan sembarangan menyentuh apapun. Jangan bertingkah aneh, dan satu lagi. Ini adalah pesta orang dewasa, jadi hindari merengek seperti anak kecil selama kau berada di pesta ini. Mengerti?” cerocos Sehun panjang lebar.

“Kau cerewet sekali,” gerutu Minhee. “Lebih baik aku tidak bersamamu, daripada aku harus didera stress mengingat semua peraturan sok ketat yang tadi kau sebutkan.”

 

Minhee bangkit dari duduknya, lalu bersiap melangkah. Tapi Sehun menyadarinya lebih cepat. Ia menarik pergelangan tangan Minhee sebelum gadis itu benar-benar melangkah pergi.

“Kau mau kemana? Kau tidak dengar aturanku tadi?”

“Aku hanya ingin ke toilet. Memangnya kenapa? Kau mau ikut dan menungguku di depan bilik toilet?” cerocos Minhee gusar.

Sehun mengerucutkan bibirnya dan melepas genggamannya pada pergelangan tangan Minhee seketika. Setelah Sehun melepaskannya, Minhee langsung melangkah pergi tanpa pamit apapun lagi pada Sehun. Sehun mengeluh frustasi melihat kelakuan gadis berusia 18 tahun itu.

 

 

Minhee berjalan kemana saja, meskipun ia tak tahu arah sama sekali. Bodoh memang. Apalagi gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tanda tak ada niat untuk bertanya pada tamu yang lain. Gadis itu sudah cukup cemas dengan orang-orang dewasa yang ada di sekelilingnya. Banyak diantara mereka yang terlihat mabuk. Mata mereka nyalang memperhatikan setiap sosok yang lewat, dan Minhee berani bertaruh jika pikiran mereka memang sedang tidak normal.

Yeah, Minhee hampir bisa menebak bagaimana rasanya sedang mabuk itu.

 

Pada akhirnya setelah sedikit perjuangan mengelilingi lantai bar yang dipenuhi aroma alkohol memabukkan, Minhee tiba di sebuah ruangan yang dilengkapi dengan logo toilet di pintu masuknya. Minhee segera masuk ke bagian toilet perempuan, melepaskan waspadanya saat ia melihat semua wanita yang ada disana dalam keadaan normal. Maksudnya tidak mabuk. Mereka tampak seperti wanita kebanyakan yang sekedar merapikan riasan mereka di depan cermin.

 

“Selamat malam, Nona.” Sapa seorang wanita tiba-tiba. Minhee sedikit terlonjak, segera membalikkan tubuhnya untuk menghadap wajah wanita yang tadi telah menyapanya dengan suara dalam. Minhee sedikit canggung melihat model gaun yang dipakai oleh wanita itu.

“Kau terlihat terlalu muda untuk berada disini.” Sahut wanita itu lagi, lalu memandang Minhee keseluruhan mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Berapa usiamu, huh?”

 

Astaga, kenapa sepertinya semua orang sangat ingin tahu tentang usiaku?! Runtuk Minhee dalam hati.

Minhee belum menjawab dan ia masih memandangi balik sosok wanita itu dengan sedikit waspada.

 

“Siapa kau?” Tanya Minhee dengan cicit suara yang kecil. “Apa kau mengenalku?”

“Oh, tentu saja tidak. Kita baru bertemu, Nona.” Jawab wanita itu sambil menyunggingkan senyum dengan bibirnya yang terpoles gincu merah. “Oh, pasti kau merasa asing denganku.”

Minhee hanya menganggukkan kepalanya, terlalu canggung untuk mengatakan ‘iya’.

“Namaku Sojin.” Sahut wanita itu memperkenalkan dirinya, tanpa ada jabat tangan. “Dan… Selamat datang di pesta adikku.”

“Oh.” Sahut Minhee tanpa sadar. “Oh, maksudku… Terimakasih atas sambutanmu, Sojin-ssi. Namaku Minhee.”

“Baiklah, lupakan saja soal umur.” Sahut wanita bernama Sojin tersebut, dan pada akhirnya Minhee bisa menghela napas lega karena Sojin tak jadi menginterogsi dirinya. “Kau datang kesini bersama pasanganmu?”

Oh, tidak. Minhee tidak jadi menghela napas lega.

 

“Oh, aku—“ Minhee tergagap. Ia panik karena bingung harus menjawab apa. Sama sekali tak ada ide untuk berkelit dari pertanyaan Sojin yang satu ini. Tak ada tema lain yang bisa menyelamatkannya.

“—aku datang kesini bersama kakakku.”

 

Oh, bagus, Minhee. Sekarang wanita ini akan tahu kalau kau anak dibawah umur yang hanya bisa pasrah saat dibawa pergi ke pesta oleh kakakmu.

 

“Kakakmu?” Sojin sedikit terkejut. “Yang mana kakakmu?”

“Oh Luhan,” jawab Minhee secara otomatis. “Dia kakak sepupuku sebenarnya. Aku diajak untuk menemani adiknya juga, dan adiknya itu sepupuku.”

“Oh, kau adiknya Luhan?” respon Sojin lagi lalu mengangguk-anggukan kepalanya.

 

Tiba-tiba seorang wanita yang lain datang dan langsung membisikkan sesuatu pada Sojin. Minhee hanya bisa memandangi mereka, tanpa tahu sama sekali apa pembicaraan mereka sampai-sampai Sojin tersenyum saat wanita itu berbisik ke telinga kiri Sojin.

“Baiklah, Vic. Aku akan segera kesana.” Sahut Sojin saat wanita berambut blonde itu selesai dengan bisikannya.

Wanita itu kembali keluar dari toilet, meninggalkan Sojin bersama Minhee lagi. Minhee hanya bisa memandang Sojin dengan polos, terlihat sekali dari cara gadis itu mengerjapkan matanya.

Sojin tersenyum pada Minhee.

“Baiklah, aku harus pergi sekarang. Senang bisa mengobrol denganmu, Minhee-ssi. Selamat malam, dan… Selamat menikmati pesta. Bersenang-senanglah!” sahut Sojin riang sebelum melangkahkan kakinya menyusul wanita yang tadi membisikinya.

Minhee hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Dan setelah Sojin keluar, ia merasa seperti orang bodoh yang berdiri di tengah-tengah ruangan toilet sekarang. Minhee mendengus lalu menghampiri deretan washtafel yang dilengkapi fasilitas kaca besar di dinding atasnya.

Minhee nyaris membasuh wajahnya dengan air, saat ia ingat jika saat ini ia sedang menggunakan make up. Walaupun sangat-sangat tipis jika dibandingkan riasan para tamu yang lain, tetap saja air tak akan berdampak bagus untuk riasannya nanti. Minhee mengurungkan niat dan kembali memutar keran air.

 

Tiba-tiba ia teringat kembali dengan wanita tadi. Sojin. Katanya ini adalah pesta adiknya.

Bukankah Minhee sendiri sangat penasaran dengan sosok si empunya pesta malam ini? Dan kalau itu kakaknya, mengapa Minhee tak bertanya saja soal adik wanita itu?

Aish, jinjja. Mengapa kau selalu lambat, Shin Minhee?!

 

“Ya, baiklah. Aku tak akan pulang malam hari ini. Katakan pada eomma.” Tiba-tiba suara seorang wanita muncul dari sisi sebelah kanan Minhee. Minhee menolehkan kepalanya dan melihat ada seorang wanita dengan penampilan yang cantik sedang mengobrol lewat telepon genggamnya. Tanpa sadar Minhee sedikit memperhatikan wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Aku berjanji. Apakah itu belum cukup?” lanjut wanita itu dengan nada sedikit gemas. “Sekarang tutup teleponnya, Soojeon. Sudah malam, seharusnya sekarang kau sudah tidur karena besok kau ada jadwal kuliah.”

“Oke, selamat malam adikku sayang.” Sahut wanita itu mengkhiri panggilannya.

 

Bertepatan dengan itu, Minhee berhenti memperhatikan si wanita. Minhee mengambil ponselnya, pura-pura sibuk dengan sesuatu di sana selagi wanita itu mengembalikan ponselnya sendiri ke dalam tas tangannya lalu merapikan sedikit rambutnya di depan cermin.

“Yuri!” seru seorang wanita yang baru saja memasuki toilet. “Astaga! Akhirnya aku bisa menemukanmu juga, Kwon Yuri. Darimana saja kau?!”

“Ada masalah?” Tanya wanita bernama Yuri itu, membalikkan tubuhnya dari depan cermin sampai menghadap temannya yang baru saja tiba. “Aku baru saja mengangkat telepon dari adikku tersayang di rumah. Eomma bertanya aku pergi ke mana lagi malam ini.”

“Kau harus segera kembali ke tengah pesta. Sebentar lagi Jaewon akan berbicara di depan semua tamu.” Kabar wanita yang baru saja tiba itu. “Malam ini ia berencana akan melamarmu, kan?”

“Apa?!” pekik Yuri kaget. “Jaewon akan melamarku?! Kau baru saja bicara apa, Hyosung?!”

Wanita bernama Hyosung itu langsung membekap mulutnya rapat. Matanya membelalak, seakan kaget dengan ucapannya sendiri. Oh, Minhee bisa membaca situasinya sekarang. Pasti wanita bernama Hyosung itu baru saja kelepasan bicara di depan Yuri.

“Oh, maaf…” lirih Hyosung kecil. Ia sedikit menunduk saat mata Yuri memandangnya shock.

“Astaga, Jaewon…” keluh Yuri dengan suara lemah.

“Makanya aku mohon kau segara menemuinya sekarang. Kau akan menerima penjelasan yang lebih lengkap darinya,” ujar Hyosung. “Ayo.”

 

Hyosung menarik Yuri keluar toilet, dan akhirnya Minhee tersadar jika sekarang tinggal ia sendiri di dalam sana. Memutuskan untuk lebih tahu tentang apa yang terjadi, Minhee melangkah menyusul kedua wanita itu keluar toilet. Suasana ramai yang masih sama kembali menyambutnya saat ia menjejalkan diri kembali dalam kerumunan orang di lantai bar itu.

 

Minhee menyelipkan diri diantara kerumunan tamu, dan pada akhirnya ia berhasil menemukan sosok Luhan. Mereka tak bertemu, Minhee hanya sekedar melihat Luhan yang sedang berada diantara teman-temannya yang lain. Kenyataannya Luhan tampak sangat menikmati pesta ini, berbeda kontras dengan apa yang Sehun dan Minhee sedang rasakan sekarang.

Bahkan Minhee berharap jarum jam bergerak sepuluh kali lebih cepat supaya ia bisa segera pulang. Keadaan di bar ini sangat tak cocok untuknya dan terasa mengganggu.

 

Minhee masih memperhatikan Luhan dari kejauhan, saat ia menyadari jika dentuman musik yang sedang diputar berangsur mengecil. Gumaman besar dari beberapa orang segera jelas terdengar, namun gumaman itu berubah menjadi bisik-membisik yang semakin keras saat seorang pria mengambil posisi di tengah podium disc jockey. Pria itu mengenakan jas dengan setelan yang paling rapi, jadi bisa disimpulkan saja, Minhee akhirnya tahu siapa yang disebut Jaewon oleh dua wanita di toilet tadi sekaligus juga si empunya pesta malam ini. Subjeknya pasti satu orang, dan tidak lain lagi adalah pria yang berdiri diatas podium itu. Pria bernama Jaewon yang tadi dibicarakan oleh Yuri dan Hyosung.

 

“Harap perhatiannya sebentar, para tamu pestaku,” sahut pria itu menggunakan mikrofon. Membuat perhatian para tamu tentu saja langsung tertuju padanya. Begitupun Luhan. Minhee melihat Luhan tampak ramai membicarakan soal pria diatas podium itu bersama teman-temannya. Kelihatannya, rencana pria itu untuk melamar seorang gadis bernama Yuri telah menjadi rahasia umum. Minhee pun yakin jika yang sedang Luhan bicarakan bersama teman-temannya adalah soal lamaran yang akan diutarakan Jaewon sebentar lagi.

 

“Bisa aku katakan malam ini adalah salah satu malam paling istimewa dalam hidupku. Sebab di hari ini, aku telah menuju di usia yang lebih dewasa. Yaitu 26 tahun.” Ujar pria bernama Jaewon itu panjang lebar. Minhee tahu itu adalah awal dari pidatonya untuk melamar gadis bergaun hitam yang sedang berdiri di ujung sana, tak bisa berhenti menatap Jaewon dengan gelisah.

“Dan di usia 26 tahun ini, ibu dan kakak perempuanku mengajukan satu permintaan untukku,” lanjut Jaewon, lalu melirik gadis bernama Yuri itu. Di bawah remangnya lampu bar, Minhee masih bisa melihat bahwa wajah Yuri berangsur memucat.

“Mereka meminta aku agar menikahi seorang gadis di tahun ini.”

 

Sorakan ramai langsung bergema di seluruh penjuru ruangan bar. Sedikit berisik, namun anehnya kali ini Minhee tidak merasa terganggu. Minhee justru tersenyum kecil memandangi apa yang sedang Yuri lakukan sekarang. Gadis itu mulai panik dan bertanya-tanya pada sang sahabat yang berdiri di sisinya.

 

“Gadis itu adalah kau, Kwon Yuri…” lanjut Jaewon lagi. Pria itu mengulurkan tangan pada sisi podium tempat Yuri berdiri. Yuri memandang pria itu tak percaya. Minhee lagi-lagi tersenyum kecil. Oh, betapa romantisnya mereka!

“Kwon Yuri, maukah kau menikah denganku?”

 

Sorakan ramai, bahkan jauh lebih-lebih ramai dari sebelumnya bergema disana. Semua orang bersorak gembira, menyelamati Jaewon dan Yuri yang baru saja berdampingan diatas podium kini. Minhee ikut senang meskipun nyatanya ia tak mengenal kedua orang itu sama sekali. Hanya saja, sebagai wanita Minhee bisa membayangkan bagaimana perasaan Yuri saat ini. Pasti bahagia sekali, dilamar dengan cara seromantis itu di acara ulangtahun calon suamimu.

Sayangnya, Minhee tak punya kesempatan untuk dilamar calon suaminya dulu dengan cara seperti itu.

Tidak ada seikat bunga, tidak ada sebuah cincin. Tidak ada musik yang mengalun, dan tidak ada Sehun yang berlutut di hadapannya. Sehun menikahi Minhee begitu saja. Karena pada dasarnya pernikahan itu ada akibat sebuah kesalahan. Tak ada rencana sama sekali. Bahkan terkadang Minhee masih merasa bahwa semua yang telah ia alami ini adalah serentetan mimpi.

 

Minhee mengalihkan tatapannya dari atas podium saat perasaan getir itu mengecap di hatinya. Minhee selalu membayangkan bagaimana rasanya dilamar kekasih untuk menikah, tatkala ia membantu rencana pelamaran yang dilakukan kakak sepupunya. Semuanya terlihat romantis, dan sejak saat itu Minhee berangan-angan akan mendapatkan pinangan indah dari laki-laki yang akan menikahinya kelak. Tapi kenyataan tidak seperti angannya. Ia bahkan menikah dengan laki-laki yang baru dikenalnya selama satu malam.

Rasanya getir. Minhee beranjak dari posisinya dan mengambil langkah. Langkah kemana saja, asal bisa membawanya keluar dari kerumunan yang semakin ramai itu. Minhee melangkah menuju tepian bar, tempat para bartender bekerja di balik meja mereka. Saat itulah Minhee baru mengingat sesuatu saat melihat seorang laki-laki yang masih duduk di sofa merah dekat meja bartender. Minhee melebarkan matanya begitu melihat bagaimana keadaannya sekarang, dengan panik ia segera menghampiri laki-laki itu.

 

Oppa! Oppa!” panggil Minhee panik saat melihat Sehun dalam kondisi yang sepertinya, tidak sadar sepenuhnya.

Minhee memandang kesal sebotol sebotol minuman yang tergeletak diatas meja, beserta sebuah gelas yang masih menunjukkan setengah isinya. Cairan dengan warna bening, namun dari jarak puluhan centimeter Minhee bisa mencium baunya yang menyengat.

Kau bodoh, Oh Sehun.

 

“Kenapa kau meminum itu?!” omel Minhee sambil menghentak-hentakan kakinya di lantai. Ia memandang marah Sehun, namun semarah apapun gadis itu, Sehun tak sadar. Ia justru meracau tak jelas, membuat amarah Minhee semakin memuncak. Rasanya ia ingin menjambak-jambak rambut Sehun sekarang juga.

Minhee segera melangkah cepat meninggalkan Sehun dan kembali menuju podium. Kali ini untuk mencari Luhan. Mereka harus pulang secepatnya dari tempat ini. Tempat ini berbahaya. Minhee bersumpah tidak akan mau lagi diajak siapapun ke tempat semacam ini. Minhee benci mencium bau alkohol dimana-mana.

Dan yang paling ia utama, ia benci melihat Sehun mabuk.

 

Oppa, aku mau pulang!” seru Minhee saat ia sudah menemukan Luhan. Gadis itu segera menarik Luhan dari kerumunan teman-temannya yang lain. Beberapa dari mereka tampak memandangi Minhee, ada sirat cemooh di mata mereka saat melihat garis wajah Minhee yang masih terlalu muda untuk berada di pesta itu.

“Ada apa, Minhee?” Tanya Luhan dengan kening berkerut melihat ekspresi Minhee. Dan jangan lupa juga wajah Minhee yang sudah memerah seperti kepiting rebus sekarang. Gadis itu terlihat sedang kesal dan marah.

“Kau tahu apa yang adikmu lakukan? Dia mabuk.” Tandas Minhee datar. “Oppa, please. Kami harus pulang sekarang. Segala yang ada disini semakin membuat aku merasa tak nyaman.”

“Dia siapa, Lu?” Tanya seorang wanita bergaun merah marun yang ada di belakang Luhan. Minhee melirik sosok wanita itu sedikit, ia terlihat sinis saat memandangi Minhee.

“Adikku.” Jawab Luhan singkat. “Aku harus pulang sekarang. Adik laki-lakiku sudah gawat.”

“Oh, benarkah? Kau pasti baru sekali mengajaknya ke tempat seperti ini.” celoteh wanita itu lagi. “Dan… Gadis itu juga. Tampaknya ia masih terlalu kecil untuk berada disini. Kau tersesat, Nona?”

“Berhenti meledek adikku, Bora.” Luhan memutar matanya. “Aku harus pergi sekarang. Adios!”

 

Luhan menarik tangan Minhee menjauh dari kerumunan teman-temannya. Minhee masih terdiam sampai Luhan akhirnya membuka suara.

“Dimana Sehun?”

“Disana,” tunjuk Minhee pada sosok Sehun yang masih ada di sofa merah. Luhan mempercepat langkahnya menarik Minhee ke arah sofa itu. Setelah tiba, yang pertama Luhan lakukan adalah meneliti botol beserta gelas sloki yang masih tergeletak diatas meja.

“Sial, siapa yang memberikan minuman ini padanya?” gumam Luhan gusar sambil meletakkan kedua benda itu lagi diatas meja. Luhan melenggang menuju meja bartender.

 

“Kau yang memberikan minuman pada laki-laki itu?” Tanya Luhan pada salah seorang bartender sambil menunjuk sosok Sehun.

Bartender itu melihat ke arah Luhan menunjuk, lalu menggelengkan kepalanya. “Bukan aku. Tadi ada seorang tamu wanita bersamanya, wanita itu yang memberikan minuman padanya.”

Luhan kesal sekarang. Siapa wanita itu? Jadi ia sengaja menipu Sehun yang tidak tahu apa-apa supaya ia mabuk? Sial, siapa dia?

 

“Ayo kita pulang.” Sahut Luhan datar sambil memapah Sehun. Minhee menganggukkan kepalanya patuh, lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia mengikuti langkah Luhan. Samar Minhee masih mendengar suara racauan Sehun, ada namanya yang tersebut. Apa yang sedang Sehun pikirkan mengenai dirinya?

 

 

Setidaknya Luhan menunjukan sikap sebagai kakak yang bertanggung jawab saat ia mengantar Sehun dan Minhee sampai apartemen mereka. Bahkan Luhan juga yang memapah Sehun sampai ke kamar, namun sialnya bukan kamar tamu yang biasa Sehun tempati, melainkan kamar utama. Minhee mengernyit saat mendapati kenyataan itu, namun ia mengerti sekali bagaimana perasaan kesal Luhan sekarang. Membuatnya tak berani melancarkan protes apapun.

 

“Aku harus kembali kesana,” sahut Luhan selesai membawa Sehun berbaring di tempat tidur. “Aku masih harus mencari tahu siapa wanita yang sudah menjebak Sehun sampai mabuk seperti ini.”

“Bukankah sudah terlalu malam, oppa…” cicit Minhee kecil, dengan pandangan setengah menunduk ia melirik Sehun yang masih saja dalam keadaan setengah sadar. “Akan lebih baik jika oppa pulang saja. Aku tak lagi mempermasalahkan siapa yang sudah menjebak Sehun oppa. Sungguh.”

“Tidak bisa begitu, Minhee.” Sanggah Luhan. “Aku masih kesal. Aku tak akan berhenti mencari tahu.”

Minhee tak berani lagi menimpali kata-kata Luhan yang terdengar datar dan dingin. Minhee hanya berani melirik sedikit kakak iparnya itu. Rupanya ekspresi Luhan dan Sehun saat mereka sedang emosi tak jauh berbeda. Mereka memang bukan sosok yang menunjukan emosi, tapi lebih memilih memendam dan menyimpan emosi itu untuk diri mereka sendiri. Hanya bongkahan es yang terlihat oleh orang lain.

 

Luhan melangkah saat Minhee masih membisu di hadapannya. Menyadari kepergian Luhan, Minhee kontan mengikuti sampai ke pintu depan. Walau ia masih canggung untuk bicara apapun pada Luhan.

“Jaga Sehun baik-baik. Biarkan dia istirahat saja sampai pagi. Semoga besok ia sudah pulih seperti biasa.” Sahut Luhan sebelum benar-benar pergi.

“Baiklah, oppa.” Balas Minhee pelan. “Oppa… Hati-hati.”

Luhan tak membalas kalimat Minhee lagi. Laki-laki itu benar-benar melangkah pergi, menyusuri lorong apartemen yang sudah sepi karena larut. Minhee masih memandangi punggung Luhan sampai laki-laki itu menghilang dalam balok elevator.

Selepas itu Minhee menghela napas panjang. Ia kembali masuk ke apartemennya dan menuju kamar utama tempat Sehun dibaringkan. Perlahan Minhee menghampiri Sehun, lalu mulai berpikir bagaimana caranya ia membereskan laki-laki itu. Minhee menutup matanya grogi.

 

Haruskah?

Sehun jelas dalam keadaan mabuk sungguhan kini. Masih segar di ingatan Minhee saat tragedi minuman jus wortel beberapa waktu yang lalu. Teringat itu Minhee kembali takut, mulai ada prasangka yang tidak-tidak berkelebat dalam benaknya.

Ia takut semua yang terjadi malam itu akan terulang kembali. Mungkin bisa lebih parah. Sehun mabuk sungguhan malam ini.

 

Dengan sedikit berjengit Minhee mendekatkan dirinya pada Sehun. Gadis itu berlutut di sisi tempat tidur dan mulai melepaskan sepatu Sehun. Minhee berani bersumpah kalau saat ini ia sedang grogi setengah mati. Disana Sehun masih suka meracau, jantung Minhee semakin bermarathon tidak jelas.

 

“Minhee-ya? Kaukah itu?” Tanya Sehun setelah sebelumnya terdiam. Minhee pikir Sehun sudah tertidur, namun mau tak mau ia terlonjak saat mendengar suara berat Sehun menyebut namanya.

Minhee menelan saliva-nya payah. “I-iya. Ini aku. Ada apa?”

 

 

 

| T B C |

 

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Huweeeeee…. Maafkan aku karena ngaret lagi posting chapter yang ini😥

Dan kali ini ngaretnya parah. Maaf, maaf, maaf yaaa😥

Jadi gini, kemarin itu kuota modem aku habis. Dan aku lalu sengaja hiatus semingguan lah, buat ngurusin sekolah dulu ._.

Aku baru beli kuota sekitar tanggal 16 atau 17, dan aku nyicil komenan dulu, gak bisa langsung publish L Maaf yaa

Tapi sekarang sudah lega karena pada akhirnya berhasil publish juga, hoho😀

Dan… Terasa gak? Kali ini words-nya aku lebihin ._.😀

 

Buat komenan, aku sudah menyelesaikan balasan komentar terbaru buat 8th Chapter

Tapi buat chapter sebelum-sebelumnya belum sempet ._. soalnya aku keburu pengen publish yang ini, sudah banyak yang nanyain dan menunggu…

Maaf ya kalo aku harkosin kalian😥

Ntar kalo ada waktu luang yang lebih, mudah-mudahan aku bisa menyicil balas semua komentarnya. Okeh?😉

 

Oke deh, sekian dulu cuap-cuap aku di chapter ini ~

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini😀

Have a nice week, guys!😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya😀 mihihi ~

 

 

shineshen

809 thoughts on “Secret Darling | 9th Chapter

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s