Vampires vs Wolves #8 – Lose Control

Vampires Vs Wolves

 

 

Tittle : Vampires vs Wolves

Subtittle : #8 – Lose Control

Author : Nintiyas

Main Cast :

  • Ahreum T-ara as Lee Ahreum
  • EXO-K as Vampires
  • EXO-M as Wolves

Other Cast :

  • Dasom Sistar as Kim Dasom

Genre : Fantasy, School Life, Fluff, Romance

Rating : PG-15, T

Diclaimer : WARNING!! This is my story, my imagine, also my fantasy. BEWARE!! I DO NOT LIKE COPYCAT ^^
A/N : Hallo~~~ Author comeback bawa lanjutan FF ini >< hahahaha. Jeongmal mianhae, neomu neomu mianhae reader-ssi(?) T^T author sangat amat lama buat update FF ini, karena masalah pribadi. Semoga tidak mengurangi minat para readers pada FF ini yah ^^~ Happy Reading❤

List : Teaser  ││ Chapter 1  ││ Chapter 2  ││ Chapter 3  ││ Chapter 4  ││  Chapter 5  ││  Chapter 6  ││ Chapter 7

Summary : Menjalani kehidupan yang menyenangkan dan bahagia dengan potret keluarga yang harmonis dan utuh. Itulah cita-cita sederhana dari seorang gadis remaja yang terlalu naif untuk mengetahui bahwa kenyataan dan hukum alam lebih pahit dibanding dengan penalarannya dalam hidup. Menjadi putri dan cucu satu-satunya dari keluarga Lee yang notabene adalah keluarga yang berkecukupan dalam hal materi. Tak pernah membuat ahreum merasa semua lebih baik. Bahkan, dirinya hidup dengan latar belakang semua gunjingan dari para warga disekitar rumahnya. Entah itu tentang sang Harabeoji, sang Appa, tentang status sang Eomma, sampai kasus manusia vampire juga manusia serigala yang dekat dengan sang harabeoji dan sang appa. Baca Lebih Lanjut→
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ucapan Kai terputus tepat ketika, suara ranting terinjak terdengar jelas ditelinga Kai dan Ahreum.

“Anyeong Haseyo, nona muda Ahreum-ah.” Sapa sang suara misterius itu.

Kai memandang tepat dikedua mata sosok misterius itu. Kai semakin menggenggam erat tangan Ahreum. Dia bahkan membuang bunga yang dia genggam ditangan sebelahnya tadi.

“Kai-ah, dia yang membuatku pingsan.” Bisik Ahreum dengan suara bergetar.

“Apapun yang terjadi, kamu akan selalu berada dibelakangku dan akan selalu aman hingga yang lain datang.” Ucap Kai seraya berbisik tepat ditelinga Ahreum.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Vampires vs Wolves

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pintar memang, Kai telah menghubungi ponsel Xiumin. Kai membiarkan ponselnya jatuh ketanah dalam keadaan tersambung dengan ponsel Xiumin.

“Oh, Kai? Mwoya?” Tanya Xiumin pada ponselnya yang berdering dengan nama ‘Kai’ tertera pada layarnya.

“Wae geurae, hyung?” Tanya Lay penasaran dengan ekspresi Xiumin.
“Anniya, hanya saja Kai tiba-tiba saja menelponku. Menurutmu, kenapa dia menelponku?” balas Xiumin balik bertanya.
“Coba angkat saja, hyung. Mungkin Ahreum meninggalkan sesuatu.” Timpal Sehun yang saat itu tepat berada disebelah mereka–Xiumin dan Lay.

Xiumin dan Lay hanya membulatkan bibir mereka membentuk huruf ‘O’ seraya Xiumin menekan tombol terima dari ponselnya. “Ehm, yeobuseyo?” ucap Xiumin mengawali.

Sementara itu, Kai menjawab ucapan Xiumin–walaupun situasinya tidak terlihat seperti Kai dan Xiumin sedang asyik berbalas sapa. “Neo nuguya???” teriak Kai kearah pria misterius itu. Walaupun, Kai telah yakin itu adalah Aofes.

Kai merasa dirinya berutung, karena menurut insting vampire-nya, hanya ada satu Aofes disana. Tapi, bodohnya Kai tidak bisa memastikan seberapa kuat Aofes itu.

“Aigoo, uri Kai-ssi jangan berteriak seperti itu eoh! Aku hanya ingin menyapa nona muda, geucho?” sahut pria misterius itu lengkap dengan senyuman seringainya. “Jauhi gadis ini! Dia bukanlah gadis yang kau cari.” Lagi-lagi Kai berteriak.

Xiumin tercengang mendengar percakapan antara Kai dengan entah siapa, melalui ponselnya yang masih tersambung dengan ponsel Kai. Tanpa berpikir panjang, Xiumin berlari kesana-kemari karena kepanikan. Bahkan dia berulang kali berteriak memanggil nama Kris.
Lay yang bingung dan juga merasa khawatir dengan sikap Xiumin, akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya “Waeyo, hyung?”
“Kris… anni, kita harus segera ke pemakaman Mokpo. Kai, anniya… Ahreum dalam bahaya. Anniya, mereka semua dalam bahaya. Ah, omo-ya ottoekaji??” racau Xiumin penuh kepanikan.
“Wae, hyung? Jebal tenanglah sedikit.” Kris membuka mulutnya seraya meraih lengan Xiumin supaya berhenti berlari kesana kemari. “Jelaskan pada kami pelan-pelan, hyung.” Sambung Kris.
“Kajja, tidak ada waktu lagi. Aku akan menjelaskan semuanya dalam perjalanan nanti. Oh, ayolah kita harus segera ke pemakaman Mokpo.” Bujuk Xiumin, dia bahkan sudah berlari keluar menuju mobil milik Baekhyun. “Ah, Tao dan Sehun harus tetap dirumah. Bagaimanapun rumah ini harus jauh dari ‘aroma Ahreum’ yang lainnya kalian tunggu apalagi? Ayo berangkat!!” teriak Xiumin yang entah bagaimana ia bisa masuk dalam mobil Baekhyun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Michin saram? Cih!!!” ejek pria misterius itu seraya meludahi Kai.

Kai merasa darahnya mendidih hingga ubun-ubun kepalanya. Dia benar-benar geram dengan perlakuan Aofes yang terkesan menghinanya didepan Ahreum. “Hyaak!! JUKEOSHIPEO???” bentak Kai sarkasme.

Pria misterius itu menghilang, sedetik setelah Kai mebentaknya. Tapi, itu tak berlangsung cukup lama. Pria itu kembali muncul, dan kemunculannya itu tepat berada dibelakang Ahreum.
Dengan leluasa, pria itu menyandarkan dagunya dipundak Ahreum seraya berbisik “Jeosunghamnida, nona muda. Kai tidak tahu cara memperlakukan seorang nona terhormat sepertimu.”
Sontak saja, Ahreum berteriak dan reflek melepaskan genggaman tangan Kai. Kesempatan yang sangat bagus bagi pria misterius itu. Kai dengan cepat menoleh kearah Ahreum. Sayang sekali, Kai kalah langkah.
Dengan sigapnya, pria misterius itu mengamit pinggang Ahreum dengan tangan kanannya. Sedangkan, tangan kirinya mengelus pipi Ahreum dengan bebasnya.

Demi darah rusa yang segar, Kai berani bersumpah akan mengutuk dirinya sendiri jika Aofes itu berani menyakiti Ahreum. Tapi, lihat saja sekarang. Aofes itu bahkan dapat menyentuh pipi Ahreum dengan bebasnya.
“dengarkan aku baik-baik. JIKA KAMU BERANI MENYAKITI GADIS ITU WALAU HANYA SEHELAI RAMBUTNYA? AKU BERSUMPAH AKAN MENCABIKMU DENGAN TARINGKU SENDIRI.” Ancam Kai penuh amarah ditiap katanya.
“Apa? Mencabikku? Cih, penghisap darah tetaplah penghisap darah.” Ejek pria itu dengan sekilas melirik Ahreum. Pria itu tahu dan sangat yakin bahwa para vampires dan wolves masih merahasiakan identitas mereka.

Walau ragu, dan masih ketakutan. Ahreum mencoba membuka mulutnya, memberikan sedikit suara terhadap Kai. “Kai, pergilah! Carilah Suho dan Luhan. Aku tidak apa-apa.” Ahreum mengucapkan dengan sekuat tenaganya, dia bahkan menahan air mata dan mengigit bibir bawahnya teramat keras. Ia tak ingin terlihat lemah dan takut dihadapan Kai. Ia, ingin menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja supaya Kai juga berani menghadapi ini.
“Kamu diamlah!! Aku akan melindungimu. Tataplah aku!! Kamu percaya padaku kan?” balas Kai. Dia memeberikan tatapan yang paling menyejukan bagi Ahreum. Kai benar tentang ucapannya, ia ingin melindungi satu-satunya orang yang dapat memberikan kehangatan baginya.

Tanpa basa-basi lagi, pria misterius itu memperkenalkan dirinya dihadapan Ahreum dan Kai. “ah, ijinkan aku memotong semua kata-kata dramatis ini. Nona muda, perkenalkan namaku Lee Minhyuk inmida.” Ucap pria misterius itu yang ternyata bernama Minhyuk. Dia mencium tangan Ahreum sekilas. Memperlakukan Ahreum layaknya seorang tuan putri yang ia hormati.

Ahreum memalingkan muka. Terlihat sekali ia jijik dan takut pada pria yang bernama ‘Minhyuk’ itu.

Kai sangat paham dan teramat tahu, bahwa Minhyuk adalah salah satu dari ratusan Aofes. Tapi, Kai mungkin tak tahu bahwa Minhyuk adalah satu dari ratusan Aofes yang terbaik dalam perang–dalam kata lain, perang melawan vampires dan wolves.
Sangat jelas bagaimana nemora membunuh dan menumpas habiskan vampires dan wolves. Masih sangat terkenang diingatan Kai, bagaimana Aofes–kaki tangan nemora. Membunuh keluarga Kai satu-persatu, memisahkan kepala para vampires dari tubuh mereka. Hingga, membelah para wolves menjadi dua bagian tanpa belas kasihan.
Perjuangan vampires dan wolves tak menjadi sia-sia setelah bertemu dengan kakek dan ayah Ahreum. Bodohnya, nemora dapat mengadu-domba vampires dan wolves yang sudah susah payah menjadi akur karena usaha kakek dan ayah Ahreum. Hancur begitu saja hanya karena perebutan hak asuh Ahreum yang saat itu masih bayi. Pertumpahan darah dimana-mana. Semua pihak merasa dirinyalah yang layak mengasuh Ahreum. Keturunan murni antara manusia dan nemora. Begitu pula sang ayah yang yakin bahwa ibu kandung Ahreum tak ada sangkut pautnya dengan perang antara nemora, vampires dan wolves ini.
Namun, amarah dan rasa tak percaya satu sama lain telah mengalahkan rasa sayang dan kekeluargaan. Meskipun, keturunan terakhir nemora yang notabene adalah ibu kandung Ahreum hilang ketika perang berakhir tepat dimana kakek dan ayah Ahreum telah tiada. Begitu pula Ahreum yang saat itu menghilang dalam pelukan Jung ajjhuma.
Pesan terakhir kakek dan ayah Ahreum, yang masih diingat vampires dan wolves adalah menjaga Ahreum hingga ia berusia 18 tahun dan menemukan keisitimewaan dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu, Suho telah menemukan Luhan. Sial, Suho mungkin sedikit terlambat.

Luhan, ia temukan dalam keadaan yang sedikit mencemaskan, mungkin. Bagaimana tidak? Sebuah pohon besar menimpa lengan kirinya, sementara kaki kanannya terperangkap dalam sebuah jebakan aluminium murni. Oh, ayolah bahkan vampires pun tahu dengan pasti bahwa kelemahan seorang wolves adalah aluminium murni.
Yah, mungkin mereka tidak akan mati hanya karena sebuah aluminum murni. Tapi, lebih parah dari kematian. Kekuatan mereka akan terhisap, hingga membuat mereka tak dapat berubah kesosok serigala raksasa sekeras apapun mereka mencoba.
“Luhan-ah~ neo gwenchana?” teriak Suho seraya berlari menuruni bukit dengan langkah cepatnya kearah Luhan. “Arrghhh, Suho-yaa!! Manhi appa!!” jawab Luhan dengan rintihannya.
“Jjakaman juseyo, aku akan menyingkirkan pohon ini dulu.” Sela Suho melancarkan tendangannya kearah pohon yang menimpa lengan Luhan. – jangan Tanya bagaimana Suho dapat menyingkirkan pohon yang besar hanya dengan sekali tending. Karena yah, semua tahu karena dia adalah vampires yang tangguh. “Arrrgghhh, pelan-pelan eeohh!!!” protes Luhan sedikit melotot kearah Suho. Suho hanya membalas Luhan dengan cengiran dan seolah berkata hehehehe-mianhae-aku-terlalu-beramarah.

Suho merasa iba pada Luhan. Kaki Luhan yang tercengkeram erat dengan sebuah jebakan bergerigi tajam, meneteskan darah segar mengalir dengan pasti dari pergelangan kaki Luhan. Tanpa disuruh, Suho dengan lembut dan hati-hati membebaskan pergelangan kaki Luhan. “aigoo, uri Luhanie tahanlah ini pasti sakit”
Dia membopoh Luhan kesebelah mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi Luhan terjebak tadi. “Kamu baik-baik saja?” periksa Suho. “Anniya, mungkin aku tidak bisa berubah selama moonsuade. Yah, setidaknya aku tidak akan berubah hingga pergelangan kakiku membaik juga.” Jelas Luhan seadanya. Suho hanya mengangguk sekilas, tanda bahwa dia paham dengan perkataan Luhan.

Sesaat kemudian, Luhan sadar bahwa dirinya bukanlah satu-satunya hal yang harus diperhatikan Suho. “ah, sebaiknya kamu menyusul Kai dan Ahreum. Perasaanku mengatakan bahwa mereka pastilah dalam bahaya.”
“Lalu, bagaiman denganmu? Uhm, aku juga merasakan ada yang mengikuti kita sejak diperjalanan tadi. Bahkan, taman pemakaman ini jauh lebih mengerikan.” Sahut Suho setuju. “Suho, kamu taukan ‘mereka’ tidak akan membunuh salah satu dari kita. Apa kamu lupa dengan ucapan ayah dan kakek Ahreum, dimalam sebelum kita saling bersumpah takkan pernah bersatu lagi, dimalam dimana kita terpecah-belah karena nemora dan aofesnya itu?” Tanya Luhan memastikan.
Suho terlihat berfikir sejenak, mengulang ingatan masa lalunya. Dimana Ahreum masih berumur 5 bulan, dimana Ahreum adalah bayi yang tak berdosa yang direbutkan oleh seorang ibu bertangan tirani, dimana pertumpahan darah terjadi antara vampires dan wolves.
“Arra, nemora berkata–ibu Ahreum, bahwa ini sudahlah bukan perang kita. Tapi, perang antara Ahreum dan ibunya. Disaat Ahreum sudah siap, hati kecilnya akan memilih menyelamatkan kaum kita dan manusia atau menjadi penerus keturunan nemora.” Tegas Suho.
Luhan memamerkan senyum simpulnya. Dia juga menepuk pundak Suho dengan lembut. “Yang bisa kita lakukan sekarang adalah melindungi Ahreum hingga waktunya tiba.” Suho sangat setuju dengan ucapan Luhan, dia kemudian membantu Luhan masuk kedalam mobil. Menurut Suho, berada dalam mobil lebih aman daripada berada diluar.
Suho bergegas pergi tepat ketika ia telah menutup pintu mobilnya. Ia kemudian kembali berlari menaiki bukit pemakaman, menuju Kai dan Ahreum berada.

 

Sementara itu,
Kai merasa darahnya memanas hingga puncak kepalanya. Ia benar-benar geram dengan sikap aofes yang satu ini. Aofes itu semakin mengeksplor pipi Ahreum. Entah mengapa, Minhyuk merasa tatapan Kai terhadap Ahreum bukanlah tatapan layaknya pengawal terhadap tuan putri yang harus dia lindungi.
“Ah, nona ijinkan aku membawamu ketempat ibumu berada.” Ucap Minhyuk to the point. Ia tak mau berbasa-basi lagi, baginya menunggu lebih dari 17 tahun itu sudah lebih dari sekedar basa-basi.
“HYAAAK!! TUTUP MULUTMU!!” ancam Kai ditengah amarahnya. Ahreum hanya menerawang samar dan mencerna ucapan Minhyuk tepat dibagian ‘ketempat ibumu’ perlahan namun pasti, Ahreum memberanikan diri bertanya satu hal pada Minhyuk “Minhyuk-ssi, apa maksudmu dengan ‘ketempat ibuku’?.” Kini Ahreum bahkan memberanikan diri menatap mata elang Minhyuk. Ahreum bahkan telah membelakangi Kai yang sedari tadi sudah mengambil posisi menerkam Minhyuk.

“Manis, kumohon sekali saja. Jangan dengarkan ucapan pria busuk itu!!! Dia hanya pembual, dia han-,”

Bruuuaaaakk…

Celotehan Kai terputus, tepat setelah Minhyuk mengayunkan jari telunjuk kanannya. Kai tersungkur ditanah pemakaman yang kering dan keras itu. Sial!! Lemah sekali diriku. Umpat Kai, lagi-lagi. Sekeras apapun Kai tersungkur, tetap saja tidak ada darah atau memar yang muncul.

“KAI!!” Ahreum menjerit, dia berusaha melepaskan genggaman tangan Minhyuk walau sia-sia. “Minhyuk-ssi, kumohon jangan menyakiti Kai. Siapapun kamu, kumohon lepaskan Kai.” Mohon Ahreum dengan airmata yang sudah membasahi pipinya.
Tuhan! Sungguh, kali ini Ahreum ingin melepaskan genggaman–atau lebih tepatnya cengkeraman yang amat kuat dan menusuk dipergelangan kiri Ahreum. Dia ingin menolong Kai, berlari kearahnya. Mengusap setiap keringat yang berada didahi Kai. Menanyakan apakah Kai baik-baik saja atau apakah tubuhnya terluka.

Entahlah, Ahreum juga bingung mengapa dadanya terasa sesak ketika Minhyuk degan mudahnya melempar Kai hingga tersungkur dengan kerasnya–meski itu tanpa menyentuh sehelai rambut Kai sekaligus.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Deru mobil terdengar jelas ditelinga Luhan. Dia sedikit memicingkan matanya, ketika sosok Lay berlari kearahnya. Mungkin dewa fortuna berpihak padanya. Ternyata tak hanya Lay. Kris, Xiumin, Chen, Baekhyun, Chanyeol, dan D.O juga datang.

“Lay!!!.” Teriak Luhan sekeras mungkin. Karena mustahil baginya melambaikan tangannya, ketika dengan jelas kedua tangannya sedang menahan luka dikakinya agar darahnya berhenti mengalir.
Lay dan yang lainnya segera mengampiri Luhan.

“Lu, kenapa bisa sampai begini?.” Tanpa Xiumin penuh keibaan. “Apa yang terjadi? Jadi benar ada aofes disini? Berapa jumlahnya? Dimana Suho? Kai? Ahreum?” timpal Kris dengan sejumlah pertanyaannya.
“Suho sudah menyusul Kai dan Ahreum. Mereka berada diatas.” Jawab Luhan seraya menunjuk bukit pemakaman. ”Arraseo, Lay disini saja, kau obati luka Luhan.” Perintah Xiumin.
Tanpa aba-aba lagi, mereka langsung menuju kearah yang ditunjuk Luhan. Meninggalkan Lay dan Luhan disana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suho terperangah melihat Kai yang berkali-kali tersungkur tepat ketika ia mencoba bangkit dan hendak menghajar aofes.
Suho hafal sekali, dia mengingat dengan jelas seringai itu. Rambut semerah darah kental. Dan, aroma aofes yang satu ini. Iya, dia adalah aofes yang sama. Aofes yang membunuh dan menumpas habiskan keluarga Suho dimalam itu.
Suho tau batas kekuatannya jika menghadapi Minhyuk. Tapi, ia juga tak bisa mengabaikan wajah ketakutan Ahreum. Baiklah aku akan melindunginya. Ucap Suho menghibur dirinya sendiri. “Jangan khawatir ayah, aku akan melanjutkan tugasmu yang tertunda. Menjaga seorang Lee Ahreum.” Gumamnya begitu pelan dan lembut. Sudut bibirnya terangkat sekilas.
Dengan penuh keyakinan dan percaya diri bahwa ini akan baik-baik saja. Suho mempercepat langkahnya, dia berlari sekencang yang ia mampu kearah Minhyuk. Begitu cepat dan sekuat tenaga.

Dalam satu detik kemudian, Suho sedikit melompat kearah Minhyuk dan berhasil merobek kulit leher sebelah kanan milik Minhyuk. Sontak saja, Minhyuk terkejut dengan seragan tiba-tiba itu. Dia reflek dan melepas genggamannya pada Ahreum.
Suho sedikit mengerlingkan sudut matanya pada Ahreum. Seolah memberi aba-aba untuk segera menjauh dari Minhyuk.
Ahreum berani bersumpah, dia bukanlah Suho yang beberapa minggu ini tinggal bersamanya. Ahreum yakin melihat taring yang panjang–jika dibandingkan dengan manusia normal. Dan, taring itulah yang merobek leher Minhyuk.
“Aiissshh,!!!.” Desis Minhyuk seraya memeriksa lehernya yang tersobek akibat serangan mendadak Suho. “Aigoo, tuan karismatik Suho ternyata. Aahh, brengsek! Apa kau tau betapa sakitnya leherku?” bentak Minhyuk dengan tatapan menguncinya pada Suho.
Baiklah, Suho. Buktikan pada ayahmu jika kau bisa menghadapinya. Kau pasti bisa melindungi Ahreum. Lagi-lagi Suho menghibur dirinya sendiri.

Ahreum berlari kecil kearah Kai. Dia segera duduk bersimpuh dihadapan Kai, saat itu pula Kai bangkit dan memalingkan wajahnya dari Ahreum. Bodoh!! Aku sangat lemah. Umpat Kai. Kai tak ingin Ahreum melihatnya dalam keadaan seperti ini. Walau, setuju atau tidak Ahreumlah yang sedari tadi berada didepannya.

“Kamu baik-baik saja?.” Cemas Ahreum. Ia menangkupkan kedua tangannya pada wajah Kai. Ahreum memperhatikan tiap detil dan lekuk wajah Kai. Khawatir jika Kai terluka. Kai mengangguk sekilas. Dia kemudian berdiri, memberi isyarat pada Ahreum untuk mencari tempat aman. Namun, bukan Ahreum namanya jika ia langsung menurut begitu saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suho sudah kelelahan menghadapi Minhyuk. Berkali-kali didorong hingga tubuhnya bersentuhan dengan pohon yang teramat besar. Dihempaskan ke tanah hingga rasanya tulang punggungnya ada yang patah. Bahkan, Minhyuk tak memberi kesempatan Suho untuk berkedip.
“Vampire kecil!! Beraninya kamu merobek leherku hingga seperti ini. Aissshh, apa kamu tak tahu jika kulitku itu sensitive.” Racau Minhyuk sambil tetap menghajar Suho habis-habisan. Puncaknya, Suho ditendang begitu keras pada bagian perutnya hingga Suho terlempar beberapa meter dari Minhyuk.

Xiumin, Kris, D.O, Chen, Chanyeol dan Baekhyun baru tiba dan langsung terperangah tak percaya dengan keadaan Suho–walaupun Suho tak mati, dan tak mengeluarkan darah sama sekali. Tetap saja tubuhnya meringkuk ditanah.
Tanpa ingin menunggu lebih lama lagi. Xiumin, Kris dan Chen langsung merubah diri mereka mejadi sosok serigala raksasa dengan marah yang tak tertahankan.

Oke, Minhyuk bukanlah aofes yang bodoh. Ia takkan jatuh dalam lubang yang sama. Ia takkan terkejut dengan serangan mendadak lagi. Minhyuk hafal bau ini, dia yakin ada segerombolan manusia serigala. Dia hanya menyugingkan sudut bibirnya sekilas. Seolah berkata kalian-tidak-akan-menang-melawanku.
Belum sempat perdebatan Kai dan Ahreum–perdebatan dimana Kai memaksa Ahreum untuk mencari tempat yang aman. “Oh, Minhyuk-ssi sudah menghilang.” Kaget Ahreum. Hati Ahreum bernafas lega, ketika ia menyaksikan sendiri bahwa Minhyuk menghilang dari pandangannya.

Menghilang? Hei, tunggu menghilang? Oke, bukan tak mungkin bahwa Minhyuk masih berada disana.

Chanyeol, Baekhyun dan D.O segera menghampiri Kai dan Ahreum. Sesaat setelah Minhyuk menghilang. Serigala raksasa itu juga telah kembali dalam bentuk semula. Menjadi para pemuda tampan.
“Kamu baik-baik saja?.” Periksa Baekhyun pada Ahreum dengan seksama. Ahreum mengangguk, Baekhyun pun dapat bernafas lega. Chen dan Chanyeol membantu Suho untuk berdiri. Mereka semua dapat bernafas lega.

Oh, ayolah aofes bukanlah tipikal musuh yang mudah menyerah. Suho dan Kris begitu pula Xiumin yakin akan hal itu. Tapi, sedikit aneh mengingat Minhyuk tiba-tiba menghilang begitu saja.

Apa mungkin dia takut?
Heol, demi darah rusa yang segar. Aofes tak pernah mengerti arti kata ‘takut’ apalagi yang dihadapinya hanya sekelompok manusia serigala dan vampire yang jika dibandingkan pengalaman bertarungnya ribuan kali jauh lebih hebat. Terlebih lagi, Minhyuk satu dari segelintir aofes terbaik yang tersisa.

Yah, mungkin ini sudah berakhir.

Chen dan Chanyeol membantu Suho berjalan. Membopohnya dengan hati-hati. Diikuti Kris dan Xiumin dibelakangnya. Sementara itu D.O berada disebelah Kai memeriksa apakah Kai benar-benar baik-baik saja. Kai mengangguk sekilas, D.O juga merasa lega. Ia kemudian berlari mengekor dibelakang Kris dan Xiumin.

“Kajja.” Ajak Kai seraya memberikan telapak tangannya yang dingin itu untuk digenggam oleh Ahreum.
Ahreum tersenyum sumringah. Semburat merah bersemu dipipi chubby-nya. Dengan sedikit malu-malu, Ahreum menerima telapak tangan itu.

Dingin…

Awalnya Kai tak yakin jika Ahreum mau menggengam tangan dinginnya itu. Tapi, tiba-tiba saja wajah antusias Ahreum dan gerakan lincahnya langsung menggengam telapak tangan Kai. Kai menyunggingkan sudut-sudut bibirnya. Dia merasa hawa panas dalam tubuh seketika kembali tepat saat jemari lentik Ahreum bertautan dengan tangannya yang sedikit mengapal namun tetap halus itu.

“Sebentar…” ucap Kai ditengah langkah kaki mereka. Tanpa basa-basi, Kai membalut tangan mereka yang saling bertautan dengan jaket miliknya. “Nah, dengan begini akan tetap hangat.” Tambah Kai lengkap dengan senyum simpulnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Belum seberapa jauh mereka berjalan menuruni bukit pemakaman. Langit saat ini berubah menjadi gelap, awan-awan mendung telah tertata apik dilangit bukit pemakaman Mokpo. Mereka berjalan lebih cepat, agar bisa sampai dimobil sebelum hujan turun. Tepat ketika melewati turunan terakhir sebuh buket bunga megalihkan perhatian Ahreum.

Buket bunga?

Oke, tunggu. Itu memang buket bunga yang taka sing bagi Ahreum.

“Oh, Kai itukan buket bungaku? Tunggu sebentar aku akan memunggutnya kembali.” Ucap Ahreum langsung melepas genggaman tangan mereka.

D.O yang melihat Ahreum berlari melewatinya, hendak menghentikan langkah Ahreum. Namun, gagal. Gadis itu terlalu bersemangat untuk mengambil buket bunga miliknya. Sementara otak Kai terlalu lambat untuk mencerna kata-kata Ahreum.
Buket bunga?
Buket bunga yang taka sing? Buket bunga milik Ahreum?

TUHAN!! BODOHNYA DIRIKU!! Umpat Kai.

Kai membelalakan matanya, saat ia baru sadar inilah rencana lain Minhyuk. Alasan Minhyuk menghilang. Dengan jelas terlintas diingatan Kai bahwa buket bunga milik Ahreum ia jatuhkan dibukit pemakaman tadi.

“Hyak!! Babo!! Lee Ahreum!! Berhenti disitu!!.” Teriak Kai dari belakang D.O, Kris, Xiumin dan Baekhyun. Para hyung-nya itu menoleh kearah Kai dan menatap tajam kearah Shreum.

Terlambat…

Ahreum sudah memungut buket bunga itu. Dan yah, seekor ular nemesis–ular buatan para aofes. Dimana ular itu mempunyai bisa yang sama berbahayanya dengan bisa 20 ular kobra.

“Akkkhhhhh….” Jeritan Ahreum mencolos detik itu juga, saat sang ular melancarkan gigitannya dileher mulus milik Ahreum. Samar Ahreum dengar suara Minhyuk yang berbisik ‘mereka bukanlah manusia, mereka hanya memanfaatkanmu. Mereka melindungimu karena mereka membutuhkanmu. Hahahaha, selamat datang di dunia yang sebenarnya nona muda Lee Ahreum.’

Kai berlari dengan diikuti Kris dan yang lainnya. Sementara Chen dan Chanyeol begitu pula Suho hanya terkulai lemas melihat orang yang mereka lindungi mati-matian , terjatuh dengan sekujur tubuh berwarna keabu-abuan dan sedikit darah memgalir dati bekas gigitan ular tadi.

Ahreum merasa dunianya terhenti sejenak. Kupu-kupu dan ribuan bunga yang tadi bersemi dihatinya ketika ia berpeganggan tangan dengan Kai. Kini lenyap dan layu seketika. Bahkan, ia merasa kedinginan meski ia tak lagi menyentuh Kai, meski hujan belum turun di pemakaman Mokpo. Bibirnya terkatup, namun ia bisa merasakan getaran dalam bibirnya. Perih, lehernya teramat perih dan seakan luka yang ditetesi air garam, sakitnya benar-benar menggigit.

Ayah, kakek… Ahreum rindu dengan kalian. Bisakah Ahreum menemui kalian sekarag? Racaunya dalam hati. Jung ajjhuma, Ahreum rindu omelanmu… bolehkah aku mendapat satu omelan lagi? Karena sikap cerobohku ini. Lagi-lagi racaunya dalam hati.
Ibu… bisakah kau memberikan sedikit kenangan klise tentang kita? Aaah, Kai… sakit… ini teramat sakit tuhan!!

Detik kemudian,

Ahreum merasakan dekapan Kai yang dingin. Kai mendekapnya teramat erat, kini ia mempersilahkan Ahreum dipangkuannya. Kai membelai pipi Ahreum dengan lembut, dia mengelus puncak kepala Ahreum. Sampai akhirnya, Ahreum menangis dalam diam.

Langit semakin gelap,

Tanpa berpikir lagi, Kai memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam. Dia kembali menyentuh pipi Ahreum, mengusap air mata Ahreum yang bahkan hampir mongering. Dia mencoba menelan salivanya terlebih dahulu. Ia gugup, dan itu mungkin bukan pertanda baik.

Perlahan namun pasti, Kai mulai menundukan wajahnya sejajar dengan leher Ahreum yang mulus dan jenjang itu. Ia menghembuskan nafasnya yang menderu berkali-kali dileher Ahreum.
“Baiklah, aku akan menyelamatkanmu. Kuharap ini tak sakit.” Bisiknya pelan ditelinga kanan Ahreum.

Diawali dengan menjilat darah yang sudah mengering yang berada disekitar gigitan ular tadi. Kai, mulai merasakan sensasi menggelitik dari dadanya.

Kemudian ia melanjutkan dengan menancapkan taringnya yang tajam itu pada gigtan ular tadi. Menghisapnya dengan lembut dan pelan.

Pahit dan getir…

Itulah yang dirasakan Kai. Ah, inilah racun ular itu. Kai masih penasaran dengan semua ini, dia mencoba semakin menembus masuk dengan taringnya. Menghisap leher Ahreum makin lembut, bahkan kini Kai memegang pipi kiri Ahreum.

Semakin lama, Kai mulai merasakan sensasi darah milik Ahreum. Manis dan hangat dan sangat kental. Ini tak seperti darah manusia yang sudah pernah ia hisap sebelumnya. Bahkan, darah Ahreum lebih lembut dari darah seorang bayi.

Hisapan yang awalnya lembut dan hati-hati itu, kini berubah nafsu yang memburu. Racun ular itu telah hilang. Ahreum sudah sedikit mengerjapkan matanya. Tapi, Kai masih asyik dengan aktivitasnya.
Tangannya beralih dari pipi Ahreum menuju pundak kiri Ahreum. Kai mencengkeram pundak Ahreum. Dan tentu saja Ahreum yang baru siuman langsung memekik atas perlakuan Kai.

“Akkhhhhhh…” pekiknya

Kai semakin menjadi, dia menghisap darah Ahreum penuh nafsu. Ia berulang kali menghembuskan nafasnya yang hangat ditengkuk Ahreum. Ahreum bergidik ngeri, dia membelalakan matanya tepat ketika Kai mengigitnya dengan sedikit jilatan dilukanya.

Ahreum sempat melirik sekilas, itu Kai. Pikirnya.

“Kai, kurasa itu sudah cukup.” Panik Baekhyun. “Hyak! Kim Jongin!! Lepaskan Ahreum sekarang.” Tambah Baekhyun.
Sekeras apapun semua hyung-nya mencoba melepas Kai dari Ahreum. Tetap saja taring itu tertancap dileher Ahreum.

“Kaaaaii… aaahhh… Kaaaii aaaahhh…” jerit Ahreum ditengah lengguhannya. Ahreum mencoba mendorong tubuh Kai agar menyingkir darinya.

Sia-sia, Kai justru menggengam erat tanggan Ahreum.

“Uuuhh, aaakkhh… jebal… ini bukanlah kaaa..aaaiihh yang ku kenal!! Aakhhhh aaaapppoooohh.”
Jelas sekali Ahreum kesakitan, wajah Ahreum terlihat pucat seketika. Kepalanya terasa berat dan pening. Sekali lagi, Kris, Xiumin, Baekhyun dan D.O mencoba melepaskan Kai dari Ahreum. Dan kali ini usaha mereka berhasil.
Ahreum mencoba bangun dengan bantuan D.O. butiran bening itu menggenangi pelupuk mata Ahreum yang sayu. Kai menundukan kepalanya, ketika ia menyadari bahwa yang telah ia lakukan itu terlalu melampaui batas.
Ahreum mengigit bibir bawahnya agar tangisannya tak pecah. Ia berhenti tepat didepannya Kai. “Makhluk macam apa sebenarnya kalian?” Tanya Ahreum tanpa menatap semua yang ada disana.
Ahreum berlalu begitu saja, dia berjalan dengan langkah yang berat dan leher yang masih ngilu. Dia menepis tangan D.O yang mencoba membopohnya atau niat baik Baekhyun yang ingin menggendongnya.

“Mianhae, manis…” sesal Kai dalam hati. Seraya menatap siluet Ahreum perlahan menjauh.

 

-TBC-

51 thoughts on “Vampires vs Wolves #8 – Lose Control

  1. Ping-balik: Vampires vs Wolves #10 –The Journal | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s