My Love ‘Not’ From The Star

my love

My Love ‘Not’ From The Star

Author : Charismagirl

Cast :

  • Do Kyungsoo
  • Lee Jinhee

Rating : PG-13, Teen

Genre : Romance

Length : One-Shot

Note : This story is mine. Do not copycat without my permission. Enjoy!

Bahagia itu sederhana. Seperti saat kita mengetahui bahwa orang yang kita suka juga merasakan hal yang sama.

***

Yang namanya Do Kyungsoo itu wujudnya seperti alien. Maksudnya, coba lihat saja penampilan lelaki itu. Setiap kali Jinhee melihatnya dia memakai pakaian hitam atas bawah, rambutnya hitam, ukuran matanya juga lebih besar dari orang Korea kebanyakan. Bibirnya juga terlalu seksi (baik, abaikan yang ini.)

Mereka sering kali bertemu saat malam hari, di saat Jinhee baru pulang dari les bahasa inggris. Kyungsoo membuang sampah di tong sampah besar depan rumahnya. Matanya yang besar itu menatap Jinhee hanya sesaat sebelum dia kembali masuk ke dalam rumahnya, tapi tatapannya sukses membuat Jinhee ingin berlari dengan kecepatan turbo sampai rumah. Lelaki itu tidak bicara ataupun menyapa, dia tidak tersenyum. Expressionless.

Namun anehnya, pikiran Jinhee selalu dipenuhi alien pendek itu. Jinhee memang kurang ajar karena telah menyebutnya alien pendek. Ya meskipun Jinhee lebih pendek, tapi untuk ukuran lelaki seumurannya, Kyungsoo itu pendek. Titik. Tentu dia lebih pendek dari si gummy smile Chanyeol, lebih pendek dari si dancing machine Kim Jongin, bahkan dia lebih pendek dari si maniak es krim Byun Baekhyun.

Dia menyita waktu Jinhee untuk memikirkannya selama… selama… sebentar –biar Jinhee menghitung pakai jarinya dulu. Dua puluh empat dikurang delapan sama dengan enam belas. Delapan jam adalah waktu tidur Jinhee. Itu artinya dia menyita waktu gadis itu seharian untuk memikirkannya! Dan kalau dia masuk ke dalam mimpinya. Habislah sudah hari-hari Jinhee. Ya Ampun.

Gadis itu tidak bisa menyangkal kalau Kyungsoo juga memiliki wajah yang tampan dan sayang untuk dilewatkan. Kyungsoo itu menarik, punya figure wajah yang manis. Dia memang menjadi rebutan di sekolah. Ups, untuk informasi, mereka bersekolah di sekolah yang sama.

Meskipun begitu, Mereka tidak pernah saling menyapa, tidak pernah saling bicara. Membuat Jinhee yakin kalau Kyungsoo benar-benar alien. Mungkin saja dia tidak bisa bahasa manusia.

Ne, sonsaengnim. Aku akan mengumumkan pengumuman ini nanti.”

Oh, gadis itu salah. Itu tadi suara Kyungsoo. Dia baru saja selesai bicara dengan guru fisika di depan kelas. Kebetulan Jinhee lewat sendirian karena tadi ia harus memenuhi panggilan alam –buang air kecil.

Saat guru fisika sudah berlalu dari hadapan Kyungsoo. Lelaki itu malah menatapnya. Kuulangi. Do Kyungsoo menatap Lee Jinhee! Oh, jantungnya yang malang.

“Hey kau, gadis berkepang dua disana.”

Gadis itu menoleh ke belakangnya, memastikan bahwa hanya memang dia yang berada disana. Dan ternyata benar. Tidak ada seorangpun. Apa itu berarti dia memanggil Jinhee? Sungguh? Sungguh!

Ne, Kyungsoo-ssi?”

“Katakan pada teman-teman kelasmu, bahwa kelas tiga akan ada pengarahan acara kelulusan di gedung Aula, besok.”

Baru saja Jinhee berjalan mendekat untuk menghampirinya, lelaki itu lebih dulu berbalik dan masuk kelasnya. Dasar tidak sopan. Gadis itu bahkan belum bicara apapun.

Dan ingatkan Jinhee bahwa tadi dia bicara dengan Kyungsoo. Ini keajaiban!

***

Yang namanya Kyungsoo itu adalah alien. Dia ada dimana-mana. Lihat saja, sekarang dia sedang berdiri di depan, dalam ruang klub tata boga sembari menjelaskan takaran adonan yang pas untuk membuat kue tart. Ya, dia ketua klub memasak.

Heran. Disaat para lelaki lebih memilih untuk masuk dalam klub olahraga misalnya saja sepakbola, klub yang diketuai oleh Luhan, atau klub basket (Baekhyun si maniak es krim juga memilih klub ini). Tapi Kyungsoo memilih klub memasak. Ini aneh? Tidak. Ini tidak aneh selama Jinhee masih bisa terus-terusan bertemu dengannya. Demi alien pendek ini, Jinhee rela masuk klub memasak.

“Ya Lee Jinhee! Kyungsoo memanggilmu,” bisik Minri yang kebetulan berada satu kelompok dengan Jinhee. Minri, gadis ini adalah pacarnya Baekhyun yang Jinhee sebut lelaki maniak es krim tadi. Mereka sama-sama penggila es krim. Awalnya Minri juga masuk klub basket, tapi di pergantian semester, dia berganti klub. Jinhee tidak tahu dan tidak mau tahu alasannya.

Ne?” tanya gadis itu dengan bodohnya. Sepertinya dia melamun panjang sekali tadi, hingga tidak mendengar saat Kyungsoo memanggilnya.

“Berapa banyak telur yang diperlukan untuk satu baking pan kue bolu, Lee Jinhee-ssi?”

Gadis itu merasa mengecil saat semua anggota klub memasak menatapnya seolah-olah dia adalah kriminal pencuri telur mentah.

“Minri-ya, bantu aku.” Jinhee menyenggol lengan Minri yang sedang asik membaca buku resep.

“Sepu–”

“Park Minri, jangan katakan apapun.” Kyungsoo memperingatkan dengan nada yang menakutkan. Sementara Minri hanya mengendikkan bahunya, lalu kembali membaca resep. Gadis itu tampaknya tidak takut sama sekali meskipun atmosfer sekarang menegang–khususnya untuk gadis bernama Jinhee.

“Lain kali kalau kau tidak membawa otakmu ke sekolah, tidak usah masuk kelas ini.”

Kyungsoo itu alien. Kyungsoo itu kejam!

Sementara Jinhee sibuk menyumpah dalam hati, kegiatan klub kembali berjalan. Hari ini mereka akan membuat kue bolu dasar. Jinhee sudah membaca resepnya tadi, sepertinya mudah. Pertama memasukkan telur dan gula ke dalam wadah.

Jinhee mengambil telur di keranjang. Telurnya terasa licin karena Minri baru saja mencucinya.

Jinhee mulai memecahkan telur.

Satu.

Dua.

Ti–

Tidak!!

Telurnya pecah. Bukan masalah kalau pecahnya dalam wadah, tapi kali ini telurnya pecah tepat di kepala Kyungsoo! Si ketua klub. Matilah dia.

Jinhee tahu ini bukan magis. Tapi tadi ketika dia mengangkat telurnya, telur itu seperti melompat dari tangannya. Permukaannya yang licin membuat telur itu dengan mudahnya meluncur dari tangannya. Kyungsoo yang kebetulan berada di bawah–karena dia tadi memungut sampah bahan yang ada di bawah meja Jinhee (Kyungsoo sangat memperhatikan kebersihan)–harus merelakan rambutnya terkena telur mentah.

Ups, sorry.

Kyungsoo berdiri dan memegangi rambutnya. Dia menggelengkan kepalanya pelan sembari berdecak.

“Bersihkan tempat ini.” Kyungsoo beralih menatap Minri “Minri-ssi, bimbing teman-teman yang lain untuk meneruskan kegiatan ini. Aku mau membersihkan rambutku dulu.” Minri mengangguk lalu meneruskan kegiatannya. Faktanya, Minri adalah wakil ketua klub, itulah mengapa Kyungsoo percaya dan sering bicara padanya.

Tunggu, dia tidak memarahiku?!

“Apa menurutmu dia marah padaku?” tanya Jinhee pada Minri.

“Kau memecahkan telur di kepalanya, menurutmu bagaimana?”

Rasanya Jinhee ingin sekali melemparkan satu butir telur ke kepala gadis itu. Dia yang ditanya, malah bertanya balik. Yang benar saja.

Sekarang Jinhee harus mengejar Kyungsoo dan minta maaf padanya. Mestinya memang itu yang dia lakukan tadi, daripada melongo seperti orang bodoh.

“Kyungsoo! Do Kyungsoo! Tunggu aku!” Jinhee berlari mengejar Kyungsoo. Padahal belum lama dia meninggalkan kelas. Dan dia hanya berjalan kaki tadi. Dasar alien.

“Apa lagi?” tanya Kyungsoo dengan wajah datar.

Sambil terus berjalan, gadis itu meminta maaf padanya dan mengatakan alasan mengapa telur itu bisa sampai terlepas dari tangannya. Tapi lelaki itu hanya menanggapinya dengan gumaman dan wajah yang datar.

“Katakan sesuatu Do Kyungsoo!” Jinhee menghentakkan kakinya dengan geram. Bisa-bisanya dia mengabaikan wanita. Menyebalkan. Sangat menyebalkan.

“Kau tidak ingin masuk bersamaku ke dalam toilet pria bukan?”

Hah? Apa?

Kyungsoo melirik papan tanda di atas di depan pintu. Karena keasikan merecokinya Jinhee bahkan tidak sadar bahwa mereka sudah berada di depan pintu toilet.

Masuk toilet pria? Tidak, terimakasih. Dia pikir aku gadis macam apa.

Belum sempat Jinhee menjawab apapun. Kyungsoo sudah berlalu dari hadapan Jinhee. Gadis itu sempat melihatnya mencibir sebelum benar-benar masuk ke dalam area privasi laki-laki. Dan gadis itu menunggunya di depan pintu toilet. Para murid laki-laki melihati Jinhee dengan pandangan aneh. Rasanya Jinhee ingin meninju mereka satu per-satu dan berteriak ‘Siapa juga yang ingin mengintip kalian?!!’

Bagaimanapun, insiden telur pecah di kepala Kyungsoo adalah kesalahan Jinhee. Dia harus minta maaf dan mendapatkan maaf dari Kyungsoo. Karena, pertama, Jinhee tidak ingin keluar dari klub memasak (keluar dari klub, berarti dia tidak bisa dekat dengan Kyungsoo). Kedua, nilai klubnya akan kosong mengingat ini sudah hampir tahun ajaran akhir. Ketiga, selamanya dia tidak akan bisa memasak (Mungkin dia bisa minta ajari Eomma-nya nanti. Tapi dia sungguh berharap Kyungsoo yang mengajarinya melakukan hal itu.)

Sekitar sepuluh menit, Kyungsoo keluar dari toilet pria. Rambutnya tampak basah. Lelaki bermata bulat itu mengibaskan rambutnya, seketika membuat Jinhee melongo. Well, koreksi aku kalau dia salah mengatakan bahwa Kyungsoo seksi sekali. Astaga!

Jinhee kembali menghampiri Kyungsoo setelah dunia menariknya kembali dari kekagumannya akan sosok Kyungsoo.

“Kyung, aku minta maaf. Sungguh.”

Kyungsoo berjalan melewati Jinhee. Gadis itu kembali mengikutinya seperti anak anjing yang takut kehilangan majikannya. Untuk kali ini gadis itu harus bersabar mengingat penampilan Kyungsoo saat ini keren sekali.

Lelaki itu berhenti mendadak, membuat Jinhee nyaris menabrak tubuhnya.

“Baik, aku akan memaafkanmu. Asalkan…”

Kyungsoo melepaskan blazernya menyisakan kemeja putih di tubuhnya. Lalu lelaki itu menggantungkan blazernya yang sedikit kotor di bahu Jinhee.

“Cuci blazer-ku!” Setelah itu Kyungsoo berlalu dari hadapan Jinhee. Sementara gadis itu melongo seperti gantungan pakaian.

Kyungsoo-memintaku-mencuci-blazernya.

***

Matahari kembali berotasi ke bagian lain ketika Jinhee pulang dari tempat les bahasa inggrisnya denganberjalan kaki, melewati satu-satunya jalan menuju rumahnya. Tasnya tampak menggembung karena dia membawa satu muatan berlebih.

Dia melirik jam tangannya. Harusnya sekarang Kyungsoo keluar rumah, pikirnya. Dia sengaja memelankan langkah saat melewati depan rumah Kyungsoo. Jangan bilang Kyungsoo tidak keluar hari ini!

Sekarang gadis itu berhenti. Melangkah lima detik sekali. Seperti siput. Atau parahnya dia tampak seperti penguntit. Memalukan. Lalu kali ini dengan bodohnya dia bersandar di depan gerbang rumah Kyungsoo.

Tanpa terasa lima belas menit terlewat.

Ketika gadis itu menyerah, dia mendengar langkah kaki mendekat. Dengan segera dia beranjak dari pagar dan pura-pura sedang lewat di jalan.

Dia berbalik saat mendengar gemersik suara kantong plastik.

“Eh–Kyungsoo,” sapa Jinhee dengan canggung. Gadis itu menurunkan tangannya saat menyadari Kyungsoo tidak akan pernah membalas lambaian tangannya. Lelaki itu hanya menatap Jinhee dengan mata bulatnya. “Aku ingin mengembalikan ini.”

Jinhee membuka tasnya, memegang blazer yang telah dia cuci bersih dan diberi pewangi pakaian yang banyak. Wangi bunga menguar saat dia mengeluarkan benda itu dari dalam tas.

Kyungsoo mengelap tangannya di celana, lalu menyambut blazer dari tangan Jinhee.

“Kau memaafkanku?” tanya gadis itu pelan.

“Ya, seperti yang kujanjikan. Aku memaafkanmu dan… terimakasih.” Kyungsoo berbalik, tapi dengan lancang Jinhee menahan tangannya.

“Kita–” Kyungsoo mengerutkan keningnya saat gadis itu hanya menatapnya dengan mulut yang begerak tanpa ada suara yang bisa keluar dari sana. “Kita… belum berkenalan secara resmi.”

Kyungsoo tersenyum.

Kyungsoo tersenyum?!

“Kita sudah saling tahu, tapi–” Kyungsoo mengulurkan tangannya. “Namaku Do Kyungsoo. Kelas 3, Ilmu Alam 2.”

Jinhee menyambut uluran tangan Kyungsoo lalu menggenggamnya lembut. Tangan Kyungsoo benar-benar terasa lembut dan hangat membuatnya ingin berlama-lama menggenggamnya. “Namaku Lee Jinhee. Kelas 3, Ilmu Alam 1.“

“Kita bisa berteman baik–aaaw!!” Kyungsoo tiba-tiba menarik tangan Jinhee dan memojokkannya di dinding saat ada sepeda lewat dengan kecepatan luar biasa dan hampir menabrak tubuh gadis itu. Kyungsoo memojokkan Jinhee di dinding depan rumahnya. Oh, astaga!

“Ck! Ada saja orang mabuk jam segini.”

Jinhee mengerjapkan matanya dengan cepat. Tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dia akan berada dalam jarak sedekat ini dengan Kyungsoo. Alien pendek yang telah memporak-porandakan hatinya!

“Kyung…”

Lelaki itu menghadapkan wajahnya pada Jinhee. Tanpa beranjak satu sentipun dari tempatnya berdiri.

Aku bisa mati kalau berlama-lama seperti ini!

“Kau sungguh ingin berteman denganku?” tanya Kyungsoo sembari mendekatkan wajahnya. Dan lelaki itu menambahkan seulas senyuman di bibirnya.

Lelaki itu menghancurkan fantasi Jinhee dengan menjitak kepala gadis itu tanpa belas kasihan.

“Berhentilah bersikap ceroboh dan menimpa kesialan padaku. Ish!”

Kyungsoo menjauh dari hadapan gadis itu. Dia melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Jinhee harus pulang sekarang. Gadis itu harus istirahat karena jantungnya tampaknya tidak sehat jika berada di dekat Kyungsoo.

***

Yang namanya Kyungsoo itu adalah alien. Dia ada dimana-mana. Contohnya saja sekarang. Dia berada di depan rumah Jinhee. Padahal Jinhee sendiri tahu bahwa Kyungsoo sama sekali tidak tahu letak rumahnya dan tidak pernah berkunjung ke sana.

“Jinhee-ssi,” panggil Kyungsoo. “Aku mengantarkan kue pesanan atas nama Lee Jinhee, yang bertempat di alamat ini.”

“Sebentar. Aku memang memesan kue di toko kue ‘Sweet Do Cake and Pastry’ tadi pagi. Lalu kenapa kau yang mengantarkannya kemari? Kau bekerja sampingan sebagai pengantar kue?”

Kyungsoo menarik nafasnya dengan pelan lalu menghembuskannya. Dia bahkan merasa sesak mendengar gadis itu bicara panjang sekali dalam satu tarikan nafas.

“Toko kue itu milik ayahku.” Kyungsoo menyerahkan kotak kuenya di depan Jinhee. “Kau mau mengambil kue ini tidak?”

“Ah, iya, tentu saja. ‘Black forest’ adalah favoritku!”

“Tanda tangan disini.” Kyungsoo menyerahkan secarik kertas tanda terima beserta pulpen pada Jinhee. Dan gadis itu menandatanganinya. “Terimakasih.” Sambung Kyungsoo lantas beranjak dari sana.

“Kyungsoo!” panggil Jinhee saat Kyungsoo sudah mencapai pagar depan rumahnya. “Aku akan beli kue di tokomu lagi. Aku janji.”

“Itu urusanmu,” jawab Kyungsoo tidak mau tahu. Kemudian beranjak pergi. Jinhee tidak mau ambil pusing dengan sikap Kyungsoo. Lebih baik dia menikmati kue favoritnya sekarang. Menghabiskan sabtu sorenya yang berharga dengan menonton acara kesukaan ditemani kue favoritnya kedengarannya sangat menyenangkan.

 

Tanpa Jinhee tahu, saat Kyungsoo berbalik meninggalkan rumah itu. Kyungsoo tersenyum. Lelaki itu senang karena intensitas pertemuan mereka bertambah. Jinhee adalah gadis yang menyenangkan bagi Kyungsoo. Gadis itu blak-blakan, ceroboh, tidak tahu malu. Tapi entah mengapa Kyungsoo menyukai keunikan yang dimiliki gadis itu.

Ya, Kyungsoo memang menyukai Jinhee. Itulah mengapa dia lebih memilih bersikap dingin pada gadis itu. Karena pada kenyataannya Kyungsoo itu lelaki yang pemalu. Dia pasti salah tingkah kalau terlalu dekat dengan gadis itu.

Lebih baik mulai sekarang dia berlatih untuk bersikap normal di depan gadis itu. Membiasakan diri, barangkali mereka bisa berteman dekat, lebih dekat lagi atau bahkan lebih dari sekedar teman biasa.

Kyungsoo akan menunggu kapan waktu itu tiba.

***

Jinhee tidak bercanda dengan apa yang dikatakannya. Jika dia berjanji akan membeli kue di toko Kyungsoo lagi, maka dia akan membelinya.

Suara dentingan bel toko kue milik keluarga Do berbunyi saat seorang gadis dengan cardigan dan rok selutut berwarna cerah masuk ke dalam toko itu. Dia tampak seperti bunga matahari karena perpaduan bajunya warna kuning dan jingga.

“Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu.” Seorang pria dengan wajah kebapakan yang khas menyambut Jinhee dengan ramah.

“Maaf tuan kalau saya sedikit lancang, Apakah anda ayah Kyungsoo?”

“Benar. Kau temannya?”

Ne.” Jinhee tertawa pelan. Ternyata benar kalau toko ini memang toko milik ayah Kyungsoo. Perbedaan sikap Kyungsoo dan ayahnya membuat Jinhee sedikit ragu. Pria ini terlalu ramah, sementara Kyungsoo terlalu dingin (meskipun sekarang –semenjak Jinhee mengajaknya berkenalan secara resmi dan berteman –imej dingin Kyungsoo perlahan berkurang).

Tidak lama setelah itu, suara bel toko kue keluarga Do kembali berbunyi. Kali ini sosok yang Jinhee dan tuan Do bicarakan muncul dari arah pintu dengan pakaian serba hitam dan topi. Lalu menghampiri etalase di depan Jinhee.

“Pesanan keluarga Kim sudah ku antarkan, Ayah –eh Jinhee? Kau datang?” Kyung melepaskan topinya. Titik-titik keringat tampak di dahinya yang mulus.

“Ya, kali ini aku ingin membeli ‘Strawberry Short Cake’ pesanan ibuku.”

“Aku akan menyiapkannya untukmu.”

“Nah, karena sekarang Kyungsoo sudah datang, ayah akan melayani pelanggan yang lain. Terimakasih sudah berkunjung, nona manis.” Ayah Kyungsoo tersenyum, kemudian beranjak dari sana.

Kyungsoo masuk ke area pekerja. Dengan cekatan memasukkan kue pesanan Jinhee ke dalam kotak, membungkusnya dengan rapi. Sementara Jinhee menggerakkan bola matanya, melihati pergerakan Kyungsoo.

“Nih.” Kyungsoo menyerahkan kuenya sementara Jinhee menyerahkan uangnya. Lalu berbalik, melangkah keluar toko.

“Kyungsoo-ya, ada dua pesanan lagi yang perlu diantar.”

“Siap Ayah!”

Kyungsoo keluar dari tokonya dengan membawa dua kotak kue pesanan. Suara Jinhee yang memanggilnya, membuatnya berhenti. Ternyata gadis itu masih berada di depan tokonya.

“Boleh aku menemanimu?” tawar Jinhee.

Kyungsoo membulatkan matanya, membuat ukuran matanya tampak sedikit lebih besar, namun ia segera mengendalikan dirinya lagi.

“Tentu. Ak –aku sama sekali tidak keberatan.”

Kemudian mereka berdua berjalan beriringan sembari memegangi kotak kue di tangan masing-masing. Lalu mereka terlibat dalam obrolan ringan. Teriknya matahari tidak menghalangi keduanya terus melangkah dan berbagi cerita satu sama lain. Kyungsoo meminjamkan topinya pada Jinhee karena dia tidak tega melihat Jinhee kepanasan.

Kyungsoo tidak sedingin yang dibayangkan Jinhee, Kyungsoo lebih sering tersenyum sekarang, dan dia juga bisa tertawa. Hal itu adalah pemandangan langka bagi Jinhee. Dan gadis itu menyimpan baik-baik dalam memorinya.

Setelah selesai mengantarkan kue. Kyungsoo berjanji mengantarkan Jinhee sampai depan rumahnya. Hingga disinilah mereka sekarang, di depan pagar rumah Jinhee.

“Terimakasih sudah mengantarkanku, Kyung.” Jinhee tersenyum lalu melangkah masuk.

“Jinhee-ya,” panggil Kyungsoo. Jinhee berbalik. “Apa aku boleh suka padamu?”

“Hah?”

Kyungsoo terdiam sesaat.

“Tidak. Masuklah. Terimakasih sudah membantuku.” Kyungsoo segera berbalik dan pergi dari sana. Sementara Jinhee hanya bisa menggaruk tengkuknya, merasa aneh dengan tingkah Kyungsoo.

“Dia bilang suka padaku,” gumam Jinhee sembari tersenyum seperti orang yang kehilangan kewarasan. Dia masih di depan rumahnya. Tidak ada siapapun selain dia. Jadi, jika ada orang lewat lalu melihat Jinhee tersenyum seperti itu, gadis itu pasti benar-benar disangka terkena gangguan jiwa.

***

Hari demi hari berlalu.

Sosok Kyungsoo selalu ada dalam hari-hari Jinhee. Mereka bertemu dan saling menyapa saat di sekolah. Mungkin beberapa murid bingung melihat mereka berdua tampak dekat. Tapi mereka tidak peduli akan hal itu.

Siang atau sore hari, saat Kyungsoo akan mengantarkan kue pesanan, Jinhee akan muncul di hadapan Kyungsoo lalu bersedia menemani Kyungsoo mengantarkan kue pesanan. Jinhee muncul bukan seperti hantu atau tanpa alasan. Gadis itu bertemu Kyungsoo entah setelah dia baru saja selesai berbelanja di supermarket atau dari rumah Minri untuk belajar bersama. Atau mungkin saat Jinhee ingin membeli kue di toko keluarga Do.

Terakhir kali, saat Kyungsoo menanyakan hal aneh padanya, lelaki itu tidak pernah lagi membahas tentang perasaannya. Hal ini sedikit banyaknya membuat Jinhee merasa kalut dan ingin menghentikan harapan bodohnya untuk menjadi seseorang yang berharga dalam kehidupan Kyungsoo.

Jinhee sedang berjalan-jalan sore mencari udara segar di taman yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Gadis itu seketika menghentikan langkahnya saat ia melihat dua orang yang dikenalnya sedang… sedang… berpelukan. Kedua maniak es krim itu tampak merasa nyaman dengan semilir angin sore yang membelai wajah mereka. Berbagi pelukan dengan orang yang disayang memang salah satu hal yang tercatat dalam daftar hal-hal yang membahagiakan.

Jinhee menarik dirinya kembali lalu bersembunyi di balik pohon besar.

Membuat orang iri saja, cibirnya.

“Baek, aku merasa ada yang memperhatikan kita.” Jinhee mengenali suara itu sebagai suara Minri.

“Tidak ada siapapun disini.” Jinhee mengintip sedikit. Dan dia menyesal karena sudah mengintip. Sekarang apa lagi? Mereka akan berciuman?

“Sudah sore. Ayo pulang.” Jinhee bisa bernafas dengan benar, karena Minri baru saja mendorong tubuh Baekhyun menjauh sebelum bibir lelaki itu menyentuh bibirnya. Gadis itu tertawa lalu meninggalkan Baekhyun dengan setengah berlari.

“Minri-ya, tunggu aku.” Tampaknya Baekhyun tidak mempermasalahkan ciumannya yang gagal itu. Dia hanya tersenyum polos sembari menyejajarkan langkahnya dengan Minri lalu menautkan tangannya dengan gadis itu. Mereka saling bertatapan dengan seulas senyum di bibir, sebelum melangkah pergi.

Mereka pasangan yang manis. Ugh, aku iri!

“Sedang apa kau disini?”

“AAAAHHH!” Jinhee menjerit saat Kyungsoo muncul dengan santainya. Jinhee seperti baru saja tertangkap basah sudah mengintip orang pacaran (walaupun memang benar begitu adanya).

Lagi-lagi Kyungsoo seperti alien jika muncul tiba-tiba seperti ini.

“Apa yang kau lihat?” Kyungsoo memperhatikan ke sekitarnya, namun tidak ada seorangpun disana. Minri dan Baekhyun sudah berada cukup jauh dari tempat mereka berdiri.

“Tidak ada. Aku akan pulang.” Jinhee bilang ingin berhenti berharap hal-hal yang membuatnya sakit hati. Maka dari itu dia berbalik dan berniat meninggalkan tempat itu, namun Kyungsoo lebih dulu menarik bahunya dan menyandarkannya di pohon besar yang digunakannya sebagai tempat persembunyian tadi.

“Lee Jinhee.” Suara Kyungsoo yang berat dan dalam membuat Jinhee menelan ludahnya.

“Kali ini aku serius. Aku tidak akan bertanya apakah aku boleh atau tidak menyukaimu. Karena aku akan berkata bahwa aku menyayangimu. Sungguh.”

Jinhee mengerjapkan matanya. Perlahan mencerna perkataan Kyungsoo. Belum selesai Jinhee berpikir, Kyungsoo lebih dulu mencium pipinya. “Maukah kau menjadi pacarku?”

“Kau boleh menjawab sekarang atau nanti. Aku akan menunggumu.”

YAK! Beri aku waktu untuk mengatakan sesuatu!

Kyungsoo baru akan berbalik, tapi Jinhee tiba-tiba melompat ke tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Kyungsoo merasa seperti ada ledakan kembang api dalam tubuhnya. Sudah cukup semua pengakuannya tadi membuat jantungnya bekerja ekstra. Dan dia berniat melarikan diri dari sana. Tapi gadis itu menahannya. Memeluknya. Memberikan sensasi kehangatan yang berbeda.

“Aku juga sayang padamu Do Kyungsoo!”

Dan rasanya Kyungsoo ingin meleleh saat itu juga. Dia mengangkat tangannya dengan ragu, lantas meletakkan di punggung gadis itu, mengusapnya sembari tersenyum. “Bagaimana dengan pertanyaanku tadi?”

“Yes, I do. I’m yours.”

Kyungsoo menjauhkan wajahnya. Kedua tangannya memegangi bahu gadis itu. Mata mereka saling bertemu beberapa saat sebelum Kyungsoo menempelkan bibirnya di bibir Jinhee.

It’s our first kiss.

Waktu seakan berhenti beberapa saat. Lalu, setelah Kyungsoo melepaskan ciuman mereka, Jinhee lagi-lagi memeluknya. Dia sedang menyembunyikan wajahnya. Rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya membuat Jinhee yakin bahwa wajahnya pasti memerah.

Berbagi pelukan dengan orang yang disayang memang salah satu hal yang tercatat dalam daftar hal-hal yang membahagiakan. Dan Lee Jinhee bisa merasakannya sekarang. Gadis itu sudah lama mendambakan sosok Kyungsoo yang mengagumkan (walau sering disebutnya alien pendek) tapi sungguh, Jinhee benar-benar mencintai Kyungsoo.

Dan dia lebih bahagia mengetahui bahwa Kyungsoo juga menyayanginya, menjadikan Jinhee salah satu orang yang berharga dalam hidupnya.

Bahagia itu sederhana. Seperti saat kita mengetahui bahwa orang yang kita suka juga merasakan hal yang sama.

*END*

HAAAAII~ REMEMBER ME? MISS ME?(gak-_-) Kkk

Akhirnya kesampaian juga diriku nulis FF dengan main cast si Kyungbabysuaraseksi(?) ugh, maafin aku bilang Kyung alien pendek. Sebutan ini cuma untuk penekanan karakter di FF. lagipula bully tanda sayang kan yahaha😄 . Aku udah seringkali ngatain cast aku macam-macam (apalagi si Yeolli itu)

Demi apa woy judulnya😀 aku ga bakal dicekal karna masalah judul ini kan /plak

Harapan aku ga muluk2 sih, semoga kalian suka sama tulisan aku, trus ngerti sama jalan cerita yang kutulis.

Maaf kalau ada kesalahan, baik itu dalam pengetikan, bahasa, alur atau kata-kata yang menjanggal. Aku masih harus banyak belajar. /\

Dan buat seseorang yang sudah meminjamkan namanya, yang tentu sudah siap aku nistakan di FF ini😀 Terimakasih banyaaaaak!!

Dan buat yang sudah baca, makasih :3

(I HOPE I can make a collaboration with casts all couple like Baek-Ri, Chan-Young, Se-Na, and this. I can’t promise, but I’ll try later)

Masih euphoria #LOSTPLANETinSEOUL OMG!! Byun Baekhyun❤ >o<!! Dan semuanya keren banget TT. (udah deh ya, nanti panjang banget kalo aku fangirling disini). Pyeong~

LOVE YAAA ALL❤

©Charismagirl, 2014.

251 thoughts on “My Love ‘Not’ From The Star

  1. baru nemu ini dan begitu baca beberapa kata dari story ff ini langsung tertarik dan antusias bacanya.
    ternyata sikap dingin kyungsoo karena takut salah tingkah
    aaa mereka ini so sweet ><

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s