さようなら、愛する ( Goodbye, dear ) [freelance]

さようなら、愛する ( Goodbye, dear )

   Gambar                                                                                          

Author : aaahraaa

Main Cast : Byun Baekhyun (EXO)  , Kim Nayoung (OC)

Genre : Romance , Hurt

Rated : PG 15

Length : Ficlet

Disclaimer :

Cerita dibawah ini murni tulisanku yang berasal dari hasil imajinasiku.

Untuk Byun Baekhyun adalah milik orang tuanya,sment dan tuhan.

Dan Kim Nayoung adalah OC ( Original Character )

Warning :

Maaf kalau ada typo bertebaran, dan mohon banget jangan ada siders T.T

 

Pernah aku post di saykoreanfanfiction dan blogpribadiku

 

( poster by chocolatesoda at posterdesigner )

                                                                           

 

 

“Someday, I’m sure we can meet again.” – Byun Baekhyun

 

 

 

“Baekki!” teriak seorang gadis ketika melihat kekasihnya keluar dari pintu kelasnya. Seketika senyum laki-laki itu mengembang begitu seorang gadis tadi memanggilnya kemudian laki-laki itu menghampirinya.

 

“Sudah lama menungguku?”

 

Yang ditanya hanya menganggukkan kepala, hal tersebut membuat Baekhyun mengacak-acak rambut Nayoung karena kelakuannya yang menggemaskan bagi Baekhyun.

 

“Baekki, jangan mengacak-acak rambutku.” Nayoung mengerucutkan bibirnya karna kesal atas perlakuan Baekhyun, walaupun didalam hatinya ia senang. Dengan segera Baekhyun menggenggam tangan Nayoung dan membawanya pergi.

 

Beruntungnya koridor universitas sepi dan itu membuat Nayoung lega karna tak ada yang akan melirik sinis kepadanya. Ketika sampai di pintu gerbang universitas, mereka menaiki bus dan memilih duduk di paling belakang. Suasana hening pun menyelimuti keduanya.

 

“Baekki, apa tak mengapa kau menemaniku ke pemakaman ayah?”

 

Baekhyun menoleh ke arah Nayoung lalu ia tersenyum, “Tak apa,Young-ah”

 

Ketika mendengar jawaban Baekhyun, Nayoung pun turut ikut tersenyum entah mengapa senyum tulus kekasihnya itu sangat menyejukkan dan dapat membuat ia ikut tersenyum. Kemudian Nayoung memilih untuk mengistirahatkan kepalanya di bahu Baekhyun lalu tertidur.

 

Baekhyun tersentak ketika kepala Nayoung berada di bahunya, namun ia ikut mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Nayoung sambil tersenyum.

 

“Aku ingin seperti ini selamanya,Tuhan.” Batin Baekhyun.

 

****

 

Baekhyun menggenggam tangan Nayoung sembari berjalan menuju pemakaman ayah Nayoung. Terlihat banyak sekali karangan bunga yang menghiasi setiap pemakaman walaupun dimusim dingin. Menurut Baekhyun meskipun tempat pemakaman tersebut dihiasi oleh berbagai jenis bunga yang indah tetap saja menurutnya tempat tersebut membuat bulu kuduknya berdiri.

 

“Appa.”

 

 Nayoung bergumam sembari berjalan mendekati makam ayahnya dan Baekhyun pun mengikuti Nayoung dari belakang. Nayoung meletakkan karangan bunga di atas makam ayahnya lalu ia memanjatkan doa. Baekhyun yang dibelakangnya juga turut memanjatkan doa untuk ayah Nayoung.

Air mata Nayoung membasahi pipinya, ia tak kuasa menahan rasa rindunya yang telah lama ditinggal oleh ayah yang sangat disayanginya. Baekhyun yang melihat Nayoung menangis harus menahan dirinya agar ia tak memeluk Nayoung karna ia takut tak akan pernah melepaskan pelukannya, namun egonya kalah. Dengan segera, Baekhyun memeluk Nayoung.

 

“Uljima,Young-a.” Baekhyun menenangkan Nayoung sembari mengusap lembut rambut halus Nayoung. Akibat dari pelakuan Baekhyun, Nayoung pun berhenti menangis meskipun sesungguhnya ia ingin terus menangis agar rasa rindunya yang meluap-luap akan mereda.

 

“Baekki, bawa aku pergi dari sini.”

 

Nayoung berbisik di telinganya, Baekhyun merasakan dirinya tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Nayoung. Dan akhirnya Baekhyun membawa Nayoung ke atas bukit dekat rumahnya dan Nayoung. Dulu, ia dan Nayoung sering sekali pergi ke tempat itu untuk menghilangkan penat sejenak akibat tugas sekolah yang semakin lama semakin banyak. Dan disana pula tempat dimana Baekhyun menyatakan rasa sayangnya ke Nayoung begitupun sebaliknya.

 

“Apakah kau sudah merasa baikkan?”

 

Suara Baekhyun memecahkan keheningan, Nayoung menoleh ke arah Baekhyun lalu menganggukkan kepala. Walaupun saat ini musim salju, ia dan Baekhyun tetap bisa melihat keindahan kota Seoul. Udara disekitar bukit semakin dingin yang membuat Nayoung melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun. Baekhyun pun tersentak lalu tersenyum.

 

Baekhyun hendak mengusap rambut Nayoung tiba-tiba Baekhyun merasakan tangannya yang tidak dapat digerakkan, ia merasa tangannya seperti mati rasa. Baekhyun tahu mengapa itu bisa terjadi kemudian ia memejamkan mata lalu membukanya kembali. Baekhyun merasakan tubuhnya sedikit bergetar.

 

“Apakah kau kedinginan, Young-a?”

 

“Sangat,Baek.”

 

“Apakah kau mau tahu cara agar tidak kedinginan lagi?”

 

“Memangnya bagaimana?”

 

Nayoung merasakan wajah Baekhyun semakin mendekat lalu ia merasakan bibir Baekhyun menyentuh bibirnya. Sebuah kecupan yang Baekhyun berikan membuat seluruh organ tubuh Nayoung berhenti sejenak seperti adanya mesin waktu yang memberhentikan waktu saat ini. Seketika suhu tubuh Nayoung meningkat dan ia merasakan rona merah berada di pipinya lalu ia menunduk menahan malu. Baekhyun yang melihatnya pun hanya tersenyum entahlah seperti senyum kemenangan.

 

“Bagaimana? Cukup efektif kah?”

 

“Baekki! Kalau begini caranya aku tidak akan mau!”

 

Bohong. Nayoung berbohong karena ia merasa malu tetapi entah mengapa ia menyukai perlakuan Baekhyun yang manis walaupun diawali dengan perlakuannya yang menyebalkan.

 

“Sudahlah aku pulang saja.” Nayoung bangkit dari tempat ia duduk tadi sembari menahan malu yang belum kunjung mereda, Baekhyun terkekeh lalu mengikutinya dari belakang.

 

***

 

“Baekhyun, Ayah memohon agar kau menyetujui apa yang tertera disini.” Tuan Byun menyerahkan suratnya kepada Baekhyun, raut wajah Baekhyun sulit untuk di jelaskan. Setelah membacanya, Baekhyun menyerahkan kembali surat tersebut kepada ayahnya.

 

“Aku tidak bisa, Abeoji. Aku ingin tetap disini, biarkanlah itu menyakitiku tetapi sungguh aku tak ingin meninggalkan Nayoung. Tolong mengertilah.”

 

Kesungguhan ucapan Baekhyun membuat Tuan Byun menghela nafas dengan berat, tak bisa dipungkiri bahwa Baekhyun memang benar-benar menyayangi Nayoung.

 

“Ayah tak tahu lagi harus bagaimana, tetapi Ayah mohon sekali saja ini juga demi kebaikanmu,nak.”

 

“Keputusanku sudah bulat, Abeoji. Aku tak akan pernah meninggalkannya.”

 

Baekhyun memutuskan untuk pergi dari ruang kerja ayahnya, setelah terdengar suara pintu tertutup Tuan Byun menelpon seseorang.

 

“Anak itu sangat keras kepala, Jin-kun.”

 

***

 

“Aku pulang!”

 

Suara Nayoung menggema di dalam rumahnya, kemudian munculah adik perempuannya yang bernama Minyoung sembari membawa spatula dari dapur.

 

“Unni, Ibu menyuruhmu membeli oregano di supermarket sebrang jalan.”

 

“Aku lelah,Young-ie. Kau saja yang beli.”

 

Nayoung terburu-buru memasuki kamarnya, ia memang sangat lelah akibat pulang sekolah tadi langsung ke tempat pemakaman ayahnya dan bukit atas tadi. Kemudian Nayoung memutuskan mandi untuk menghilangkan rasa lelah yang menghampiri dirinya. Beberapa menit kemudian, ia memutuskan untuk menghubungi Baekhyun.

 

“Yeoboseo? Baekki!”

 

“…”

 

“Sudah sampai rumah?”

 

“…”

 

“Kau baik-baik saja?”

 

“….”

 

“Suaramu aneh sekali.”

 

“…”

 

“Kurae, selamat malam, Baekki.”

 

Setelah terdengar bunyi yang menandakan telepon telah ditutup, kemudian Nayoung merebahkan diri dikasur miliknya. Nayoung merasa ada sedikit masalah yang menimpa kekasihnya, terdengar jelas sekali dari suaranya. Nayoung sudah mengenal Baekhyun sejak mereka berada di taman kanak-kanak hingga sekarang, jadi ia dapat mengetahui bagaimana sifat Baekhyun. Karena kantuk yang telah ia tahan sejak menghubungi Baekhyun, ia memutuskan untuk tidur.

 

***

 

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Baekhyun, ternyata yang mengetuk adalah salah satu pelayan yang ada dirumahnya. Pelayan tersebut berkata bahwa Baekhyun telah ditunggu oleh Ayah dan Ibunya dibawah.

 

“Aku lelah, Ahn Ahjumma.”

 

Pelayan tersebut yang bernama Ahn Ahjumma mengangguk mengerti lalu menutup pintu kamar Baekhyun secara perlahan seakan-akan pintu tersebut terbuat dari kaca yang mudah pecah.

 

Rasa sakit yang menderanya akhir-akhir ini datang kembali. Baekhyun merasa kepalanya seperti menghantam sesuatu dan isi perutnya meminta agar dikeluarkan, tak tahan akan rasa sakitnya ia menuju ke kamar mandi yang berada tepat di belakangnya.

 

Tak pernah sekalipun Baekhyun menyentuh obat pereda rasa sakit yang diberikan teman ayahnya untuknya, untuk apa ia meminum obat tersebut bahkan dengan atau tanpa obat tersebut keadaannya pun sama saja. Tiba-tiba suara nada dering handphone-nya terdengar, setelah melihat siapa yang menelpon iapun mengangkatnya.

 

“Yeoboseo? Young-a.”

 

“…”

 

“Hari ini kau sibuk?”

 

“…”

 

“Ani, Bagaimana kalau kita bertemu di kedai kopi dekat bukit atas?”

 

“…”

 

Baekhyun tersenyum setelah mendengar suara Nayoung, entah mengapa suara Nayoung justru dapat membuat rasa sakit yang Baekhyun rasakan mereda. Dengan terburu-buru Baekhyun mengambil mantelnya lalu pergi membawa mobil sport kesayangannya.

 

***

 

Seorang gadis bersurai coklat itu sedari tadi mengedarkan pandangannya mencari-cari kekasihnya yang ia tunggu tak kunjung datang. Rasa khawatir mulai bermunculan di benak Nayoung. Tak lama seseorang yang ditunggu Nayoung berjalan menuju tempatnya.

 

“Baekki, kau membuatku menunggu dan khawatir.”

 

Bibir Nayong mengerucut, hal tersebut membuat Baekhyun terkekeh.

 

“Hei jangan begitu kau terlihat jelek sekali, Young-a.”

 

“YAK! Baekki, aku sangat membencimu!”

 

Tak kuasa menahan tawa, akhirnya Baekhyun tertawa hingga matanya hanya tinggal sebuah garis melengkung membentuk seperti bulan sabit. Nayoung yang awalnya kesal karna Baekhyun menertawakannya, sekarang ia tersenyum melihat dan mendengar Baekhyun tertawa. Entahlah ia merasa Baekhyun akan semakin jauh darinya, namun pemikiran tersebut langsung ia buang jauh-jauh.

 

“Baekki, ada apa dengan wajahmu? Mengapa begitu pucat?”

 

Mendengar pertanyaan Nayoung membuat Baekhyun berhenti tertawa, ia mengabaikan pertanyaan Nayoung kemudian ia mengambil secangkir kopi dengan uap yang masih mengepul. Nayoung merasa Baekhyun menyembunyikan sesuatu entah itu apa, tapi itu membuat Nayoung penasaran bukan tetapi sangat penasaran.

 

“Kau mengabaikan ku, Baekhyun-ssi.”

 

Baekhyun tertegun mendengar Nayoung menyebut namanya menggunakan –ssi dan itu pertanda bahwa Nayoung serius dengan ucapannya.

 

“Young-a, sungguh aku baik-baik saja.”

 

Ekspresi wajah Baekhyun sangat meyakinkan, tetapi sesungguhnya jauh dilubuk hatinya ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja. “Ini demi kebaikannya.”,batin Baekhyun.

 

“Ayolah,Young-a. Sungguh aku baik-baik saja. Mau ku buktikan?”

 

Nayoung berfikir sejenak, ia bingung harus menjawab iya atau tidak. Tetapi pada akhirnya Nayoung memilih opsi kedua yaitu tidak. “Aku percaya padanya.”, batin Nayoung. Kemudian Nayoung menggelengkan kepalanya.

 

“Baekki, aku ingin ketempat yang indah selain bukit atas tentunya.”

 

Baekhyun mengerutkan keningnya sejenak, kemudian ia tersenyum.

 

“Baiklah, tetapi ada syaratnya. Bagaimana?”

 

“Kurae.”

 

***

 

“Nah sudah sampai.”

 

Suara Baekhyun membuyarkan lamunan Nayoung sedari tadi perjalanan ke tempat yang Nayoung sendiri tidak tahu. Setelah membuka lalu menutup pintu mobil, Nayoung mengedarkan pandangannya ke arah sebuah taman yang cukup luas. Tidak ada taman bermain ataupun sebuah kolam kecil, disana hanya ada beberapa bangku taman, beberapa lampu taman dan banyak pohon tak berdaun.

 

“Ini sangat indah.” Gumam Nayoung.

 

Baekhyun pun setuju dengan ucapan Nayoung, walaupun terlihat sederhana tetapi taman ini sangat indah walaupun tertutup salju. Baekhyun mengajak Nayoung untuk duduk disalah satu bangku taman disana. Keheningan menyelimuti keduanya, tak ada yang berani memulai pembicaraan tetapi Baekhyun tak tahan dengan situasi seperti ini.

 

“Nayoung-a, kau berhutang syarat denganku.”

 

“Nde? Hutang apa?” Nayoung bingung dengan pernyataan Baekhyun.

 

“Aish,Young-a. Apa kau lupa?” Kini Baekhyun mulai kesal karna otak Nayoung sepertinya kurang berjalan dengan baik.

 

Nayoung meringis lalu menunjukkan senyum tiga jarinya, dan itu berhasil membuat Baekhyun terpana sesaat. Kemudian ia tersadar dan kembali melanjutkan percakapannya dengan Nayoung.

 

“Kau harus berjanji untuk selalu mencintaiku dan menyayangiku,Young-a.”

 

Nayoung tertegun mendengar permintaan Baekhyun, itu benar-benar diluar perkiraannya. Nayoung mendongakkan kepalanya ke arah Baekhyun dan manik mata mereka saling bertemu. Nayoung merasa seakan-akan waktu berhenti dan waktu membiarkan mereka untuk saling bertatap lebih lama lagi.

 

Karena terbawa suasana, Nayoung melingkarkan lengannya pada leher Baekhyun dan Baekhyun melingkarkan lengannya pada pinggang Nayoung. Semakin lama jarak antara wajah mereka semakin menipis, entah siapa yang memulai keduanya merasakan bibir mereka yang saling bersentuhan.

 

Baekhyun memulai memperdalam ciuman mereka, meskipun sedang musim salju mereka berdua merasakan udara disekitarnya menghangat. Disela-sela ciuman mereka, Baekhyun mengatakan sesuatu.

 

“Ingat janjimu, Young-a.”

 

Nayoung merasakan tubuh Baekhyun melemah, kemudian kepala Baekhyun jatuh dipundakkan. Nayoung menepuk-nepuk wajah Baekhyun agar ia sadar.

 

“Baekki, jangan membuatku takut. Sungguh,Baekki-ah.”

 

Air mata Nayoung membasahi pipinya, tanpa berpikir lebih panjang lagi ia menelpon ambulance.

 

“Bertahanlah,Baekki-ah.”

 

***

 

Nayoung tak sanggup melihat kekasihnya yang sekarang tengah dipenuhi oleh berbagai macam peralatan rumah sakit entah itu apa namanya. Nayoung yang berada tepat disamping Baekhyun mengenggam tangannya sembari mengusapnya untuk memberikan kehangatan karna sungguh tangan Baekhyun dingin sekali.

 

Rasanya ia ingin menutup telinga serapat mungkin agar tak dapat mendengar penyataan dokter mengenai Baekhyun.

 

Kekasih Anda mengidap penyakin tumor otak, Kami belum bisa memastikan stadium berapa tumornya saat ini. Keadaan komanya diakibatkan oleh melemahnya fungsi otak pasien. Kami berharap Anda dapat menghubungi keluarganya segera agar dapat kami tindak lanjuti kembali. Terima kasih.

 

Rasanya air mata Nayoung ingin keluar lagi tetapi tak bisa, cukup sudah ia menangis selama 3 jam tanpa henti sembari menggenggam tangan Baekhyun. Dan yang membuat ia ingin menangis lagi adalah kenyataan bahwa Baekhyun harus benar-benar pindah ke Jepang untuk menjalani operasi tumornya tersebut.

 

“Kim Nayoung-ssi.”

 

Suara bariton milik ayahnya Baekhyun, Tuan Byun, mengentikan aktifitas Nayoung yang mengusap tangan Baekhyun.

“Ada yang ingin Abeonim jelaskan.”

 

“Kuraeyo,Abeonim.”

 

Tuan Byun dan Nayoung keluar dari ruang inap Baekhyun, lalu Tuan Byun mengajak Nayoung ke cafetaria yang berada di lobby rumah sakit. Setelah pesanan mereka datang, Tuan Byun memulai percakapan dengan kekasih putranya.

 

“Nayoung-ssi, kau sudah tahu bahwa kami akan pindah ke Jepang?”

 

“Nde,Abeonim.”

 

“Ada satu permintaanku untukmu,nak.”

 

“Apa itu,Abeonim?”

 

“Aku memohon agar kau melupakan Baekhyun.”

 

Nayoung tertegun mendengar permohonan Tuan Byun, tanpa ia sadari air matanya telah membasahi pipinya. Kemudian suara Tuan Byun terdengar kembali.

 

“Ini demi kebaikanmu,Nayoung-ssi. Aku tak ingin kau terus menunggu putraku yang sampai saat ini kami sendiri tidak tahu kapan dia akan sadar. Aku ingin kau juga bahagia,Nayoung-ssi.”

 

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Nayoung, ia terlalu terkejut mendengar pernyataan itu.

 

Kami sendiri tak tahu kapan ia akan sadar.

 

Separah itukah Baekhyun-nya?

 

Karna tak kunjung mendapat respon apapun, Tuan Byun melanjutkan kelimatnya.

 

“Maafkan aku,Nayoung-ssi. Tapi ini benar-benar permohonanku. Besok kami akan langsung berangkat ke Jepang. Sampai Jumpa,Nayoung-ssi.”

 

Setelah Tuan Byun pergi, seketika rasa sesak di dalam benak Nayoung yang sedari tadi tertahan kini tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya, ia tak peduli tatapan orang-orang yang ia pedulikan hanya kekasihnya yaitu Byun Baekhyun. Kemudian Nayoung berdiri lalu berjalan menuju ruang inap Baekhyun untuk terakhir kalinya.

 

“Baekki-ah, apa yang harus kulakukan? Jawab aku,Baekki.”

 

“Kau tahu? Rasanya disini sakit sekali,Baekki.”

 

Nayoung menggenggam tangan Baekhyun lalu mengarahkan ke dadanya, menunjukkan dimana rasa sakit itu berasal.

 

“Kau akan pergi meninggalkanku, sendirian.”

“Bahkan rasanya pun aku ingin menggantikan posisimu sekarang juga,Baek.”

 

“Mungkin aku terdengar gila, bahkan aku belum mengucapkan sepatah katapun mengenai perjanjian yang kau buat.”

 

“Aku ingin kau mendengarnya langsung,Baekhyun-ah.”

 

Suara tangis isak Nayoung pun menggema di seluruh ruangan inap Baekhyun. Tanpa Nayoung sadari, seseorang tengah memerhatikannya kemudian ia pergi.

 

***

 

Keesokan harinya, Nayoung mendatangi rumah sakit dimana semalam baekhyun dirawat. Dan ternyata mereka sudah pergi di pagi buta.

 

“Aku telat.” Batin Nayoung.

 

Karna Nayoung bingung akan pergi kemana, ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Keluarga Byun yang terakhir kali ia kunjungi sekitar 2 minggu yang lalu.

 

Ketika sampai di depan rumah keluarga byun, Nayoung menekan bel lalu keluarlah Ahn Ahjumma.

 

“Anyeonghaseyo, Ahn Ahjumma. Bolehkah aku masuk? Sebentar saja ingin mengambil barangku yang waktu itu tertinggal di kamar Baekhyun.”

 

Ahn Ahjumma tampak berfikir lalu memberi izin untuk memasuki kediamannya. Sebenarnya itu hanya alasannya saja supaya ia bisa masuk ke kamar Baekhyun. Ketika pintu kamar Baekhyun sudah tertutup, ia memerhatikan sekelilingnya. Sungguh aroma tubuh Baekhyun yang sangat ia kenali tercium di ruangan ini.

 

Nayoung melihat-lihat barang Baekhyun yang tertinggal, lalu melihat meja belajar Baekhyun yang terlihat sangat rapi.Ketika Nayoung membuka buku fiksi kesukaan Baekhyun tiba-tiba sebuah amplop berwana kuning, kesukaan Nayoung, terjatuh. Ia mengambil amplop tersebut lalu membuka dan membaca sepucuk surat yang terdapat di dalamnya kemudian ia menangis sambil menutup mulutnya agar tidak terdengar.

 

To : Young-ah

 

Aku yakin ketika kau membuka surat ini, aku sudah tidak berada disampingmu. Aku tak tahu mengapa aku menulis surat ini, entah aku berfirasat waktuku tinggal sebentar lagi,Young-ah. Kau tahu? Aku menulis surat ini dengan susah payah, lihatlah tulisanku yang seperti kaki ayam ini. Aku benar-benar payah, Young-ah. Sejujurnya, aku sungguh minta maaf kepadamu. Aku ingin sekali memberi tahu mu sejak awal, tetapi egoku mengalahkan perasaanku. Salahkan saja aku, Young-ah. Aku berhak disalahkan olehmu. Sebenarnya sudah dari dulu ayah mengajakku ke Jepang untuk terapi, tetapi aku tak mau, aku tak mau meninggalkanmu,Young-ah. Rasanya berat sekali untuk meninggalkanmu. Aku ingin terus berada disampingmu hingga akhir hayatku nanti. Nayoung-ah, aku tak mau kau menyia-yiakan air matamu untukku. Aku tak pantas untuk ditangisi,Young-ah. Karna aku telah membohongimu tentang penyakitku ini. Dan aku tahu, aku sangat jahat telah meninggalkanmu tetapi ingatlah Young-ah bahwa rasa cintaku dan sayangku untukmu tak akan berkurang dan akan terus bertambah walaupun kita telah dipisahkan oleh jarak. Percayalah Young-ah karena suatu saat nanti, aku yakin kita dapat bertemu kembali.

 

–          From : Baekki

 

 

 

 

***

 

A/N :

Hai, panggil aja aku ahra. Aku disini alias di dunia per-fanfiction-an adalah pemula, sangat pemula malahan. Ini fanfiction pertama aku yang di publish, so aku mohon dengan sangat komentar kalian biar aku bisa belajar lebih baik lagi nanti.

Ini emang sengaja banget endingnya aku gantungin (kayanya._.) menunggu respon kalian sih sebenarnya.

Hehe jangan lupa ya Like and Comment –nya sangat ditunggu J

 

8 thoughts on “さようなら、愛する ( Goodbye, dear ) [freelance]

  1. Newbie? Wah keren(y) sampe nangis bacanya
    Baekhyun tetep hidup please biar bisa sama nayoung. Sequel juseyo:)

  2. Baek kenapa harus sakit? Kenapaaaa????
    Itu yang ngeliatin Nayoung dari luar siapa?
    Huaa ini gantung banget-,- Baekhyun harus tetep hiduppp!!!
    Sequel ! Sequel ^^ hahah

    Keep writing!

  3. waaaaaaa…. pemula ? keren tulisannyaaa…. daebakkkk (y)
    feel-nya dapet buat para readers, cara penulisannya juga enak dibaca
    sepertinya juga aku ngga menemukan typo di sini.,,
    apa ya yang kurang? mungkin kurang panjang kali ya.. haha

    semoga ada sequel nya ya thor ^^ .. seriusan

    JJANG ! 🙂

  4. hai ahra , aku udah baca ini ff di saykoreanfanfiction
    dan ini kedua kalinya baca ini ff
    pokoknya ceritanya keren ,
    dan emang ngegantung ,
    jadi kapan nih sequelnya keluar?
    ditunggu 🙂

  5. Hai aku reader baru disini. Ini ff nya buat aku meneteskan air mata. Kalau bisa buat sequelnya ya author-nim . Keep writing 🙂

  6. msih newbie ya? ini lumayan loh utk pemula kyk author… ^^
    bagus ^-‘)b penggunaan kata2 ny bgs trus kyk ny aku gk nemu ad typo deh ^-^)b

    keep writing ya !!

  7. huueeeee *lap ingus
    sumpaahh demi apa aku pengen nangis thorr,
    ksian si bacon 😦
    ga ada sequel kah thorr??
    permintaan ku hanya 1 authornim tolong panjangin dikit yaakk 😀
    authoor jjang semangat 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s