Diposkan pada exofanworldfreelance, Fanfiction, Freelance, Lay, Mistery, One Shoot, Oneshot, Romance

MH370 [freelance]

Gambar

Judul   : MH370

Author : Aurrsyj

Length : oneshot

Genre  : Surrealism, Mystery, Romance

Casts   :

  • Zhang Yixing
  • Lu Bohwa

Disclaimer       : Original poster and storyline by Aurrsyj!

Author’s Note : Hello fellas! Yoohoo~~ Apa kabar semuanya? Semoga baik-baik aja ya. Pertama-tama author minta maaf kalo FF ini gaje bin aneh yah gitu deh pokoknya. Terus juga mungkin banyak typos bertebaran karna bikinnya ngebut hohoho. Tapi baca aja dulu siapa tau suka. Ahayyy! Selamat membaca~^^

 

 

 

***

 

 

“Walaupun aku tidak mengingat tanggal lahir Ibuku. Walaupun aku tidak mengingat kapan pertama kali kita bertemu. Percayalah… aku hanya berbohong soal melupakanmu. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah melakukannya.”

 

 

***MH370 BY AURRSYJ***

 

 

 

Setelah memastikan bahwa tidak ada penumpang yang tertinggal, kru pesawat segera menutup pintu kabin. Seorang wanita bertubuh tinggi tegap berjalan anggun di lorong kabin sambil menekan sebuah alat mirip stopwatch. Matanya tidak berhenti melirik ke kanan dan ke kiri, berkonsentrasi pada hitungannya. Ia kemudian berhenti di tengah lorong, “Excuse me, Miss. Where is your seat?” Ia berujar pada seorang gadis berambut ikal yang tengah terlihat bingung.

 

Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia menatap name tag yang menempel di dada sebelah kanan si pramugari yang bertuliskan ‘Alia Dastur’. “Umm..” gadis itu bergumam pelan sebelum akhirnya menyodorkan secarik kertas -tiket pesawat- pada Alia.

 

Pramugari itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “There your seat is, 37E.” Alia menjawab sambil menunjuk deretan kursi yang di atasnya tertulis ’37E, 37F’.

 

Gadis itu tersenyum dan bergegas menuju tempat duduknya. Alia kembali merajut langkah. Ia bahkan hampir lupa sudah menghitung sampai mana dan angka keberapa.

 

Di ujung lorong, sudah berdiri seorang pramugari lain dengan name tag ‘Nor Izatil Hasanah’ di dadanya. Si Cahaya langsung menyerbu Alia dengan pertanyaan rutinnya, “Sudah lengkap?” begitu.

 

Alia mengangguk, “Sudah lengkap.”.

 

Sanah baru akan mengangkat gagang telepon untuk menghubungi bagian kemudi bahwa awak kabin sudah siap untuk terbang ketika terdengar sebuah keributan kecil yang berasal tak jauh dari tempat mereka. Sanah dan Alia sama-sama menoleh pada sumber keributan. Oh, bukan hanya mereka. Tapi seluruh penumpang.

 

“Kau?! Sedang apa kau disini? Kau mengikutiku ya?”

 

“Oh enak saja! Memang apa untungnya bagiku mengikutimu?!”

 

“Hey lihatlah kau bahkan duduk bersebelahan denganku!”

 

Alia menoleh pada Sanah, dan memberi isyarat bahwa Ia akan menghampiri dua orang tersebut -yang sedang bicara dalam bahasa Mandarin yang tidak dimengerti Alia-.

 

“Dengar ya, aku sudah melupakanmu! Kita sudah tidak punya hubungan!”

 

“Oooh iya. Kau kan memang pelupa jadi pantas saja jika kau dengan mudah melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Dasar pikun!”

 

“Ehm!” Tepat saat kata-kata gadis itu berakhir, Alia menginterupsi perseteruan mereka. “I’m sorry, Miss and Mister. Is there something I can do for you?”

 

Lu Bohwa, gadis penghuni kursi bernomor 37E yang sejak tadi berseteru dengan pemuda di sampingnya cepat-cepat mengangguk. “Yes, of course. Please move this guy to another seat. I don’t want to sit next to him.” Ia menjawab dengan nada bicara tidak suka. Mungkin sudah kelewat jengkel dengan pemuda yang sejak tadi hanya memasang wajah tidak berdosanya.

 

Alia mengedarkan pandangannya. Ia ingat bahwa penerbangan kali ini penuh penumpang dan tidak tersisa kursi kosong. Kalaupun ada, itu adalah kursi eksekutif yang jika digunakan, -tentunya- harus dibayar lebih mahal.

 

Alia mengembalikan pandangannya pada gadis berkebangsaan Cina itu. “I’m sorry, Miss. There is no other seat left. We’re going to take off in a moment. So, please take your seat and fasten your seatbelt.” katanya.

 

Bohwa hanya bisa menurut, tidak ada jalan lain. Sebenci-bencinya Ia pada pemuda Zhang ini, toh Bohwa tetap harus duduk bersampingan dengannya dalam beberapa jam kedepan.

 

Dan Bohwa yakin itu adalah waktu-waktu tersulit dalam hidupnya.

 

 

*****

 

 

 

Sulit diakui bahwa jauh di dalam lubuk hatinya Bohwa masih mencintai Yixing. Hell… Bohwa menyesali keputusannya kala itu yang memilih untuk mengakhiri hubungan mereka hanya karena Yixing punya penyakit aneh, pikun! Bayangkan, tidak ada kue saat ulangtahun. Tidak ada bunga saat hari jadi. Oh! Jangankan untuk mengingat hal-hal yang berhubungan dengan Bohwa, alamat rumahnya sendiripun terkadang Yixing lupakan.

 

Parahnya, Yixing bukan tipe pemuda romantis yang setiap hari melontarkan kata sayang. Tidak… Yixing menganggap itu terlalu bertele-tele. Toh Yixing yakin, walaupun tanpa Ia beritahu, Bohwa sudah tahu betul bagaimana isi hatinya.

 

Tapi pada dasarnya wanita itu sama. Sekali-kali ungkapan rasa sayang juga diperlukan dalam suatu hubungan, setidaknya agar terkesan manis. Sama seperti pasangan lain, Bohwa ingin hubungan yang seperti itu.

 

Jam yang melingkar di pergelangan tangan Bohwa sudah menunjukkan jam delapan malam. Oh, Tuhan… Bohwa ingin sekali cepat-cepat mendarat di Beijing karena duduk berdampingan dengan Yixing seperti ini membuat jantungnya berdetak tidak normal. Bohwa takut kalau-kalau pemuda itu akan menyadari gelagat anehnya. Ditambah lagi, kalau melihat wajah Yixing, akan mengingatkan pada hubungan mereka di masa lalu yang Bohwa sesali kenapa harus berakhir.

 

“Bagaimana kabar Paman dan Bibi?” mata Bohwa melotot kaget saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Yixing. Damn! Kenapa Yixing bertingkah semanis ini dengan menanyakan kabar keduaorangtua Bohwa.

 

Bohwa diam sejenak. Sebenarnya Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk pertanyaan Yixing. “Mereka baik-baik saja.” dengan nada bicara yang dibuat sedingin mungkin, Bohwa beringsut sedikit agar posisi duduknya lebih jauh dari Yixing bahkan sejengkal. Sungguh Bohwa tidak ingin pemuda ini mendengar detak jantungnya yang berdegup kelewat kencang.

 

“Baguslah.” Yixing menganggukkan kepala dan kini mulai sibuk menulis pada secarik kertas yang tadi sempat diberikan petugas imigrasi.

 

Bohwa menoleh pada pemuda itu. “Kau tidak ingin menanyakan kabarku?” Oops. Bohwa benar-benar tidak bermaksud melontarkan pertanyaan macam itu pada Yixing, apalagi dengan nada yang terkesan sebal. Ini murni kecelakaan. Pantas saja teman-teman mereka dulu sering mengatakan bahwa Yixing dan Bohwa pasangan serasi, ternyata karena mereka sama-sama ceroboh. Ckckck.

 

Yixing menatap Bohwa dengan tatapan bingung dan aneh. Rahangnya jatuh karena pertanyaan Bohwa barusan. “Untuk apa aku tanyakan kabarmu? Jika kau sakit kau tidak akan berada di sini.” jawabnya polos.

 

Tapi benar juga. Kalau Bohwa tidak baik-baik saja, dia pasti tidak akan berlibur ke Malaysia dan satu pesawat dengan si pikun Yixing. Hahhh…. Pertanyaan ini sangat menjatuhkan harga diri Bohwa.

 

“Excuse me, sir. Can you please turn your cell phone off?” suara yang bersumber dari pramugari yang sama dengan yang melerai perdebatan Yixing dan Bohwa memecah keheningan. Kali ini Ia berusaha menegur seorang pria paruh baya yang sejak tadi sibuk memainkan telepon genggamnya. Kebetulan tempat duduk pria itu bernomor 37B, hanya berjarak dua kursi dari tempat Bohwa.

 

“Tapi saya sedang menghubungi rekan kerja saya, nona.” pria itu menjawab dengan bahasa Malaysia. Bohwa tidak mengerti apa yang Ia katakan selain kata ‘Saya’. Sedangkan Yixing…ah sudahlah. Yixing tidak pernah tahu apa-apa.

 

“Saya mengerti, Tuan. Tapi Anda bisa mengganggu kegiatan penerbangan. Sinyal yang kami kirimkan pecah sebelum sampai ke ATC.” Alia berusaha keras agar pria itu menghentikan pelanggaran yang beliau lakukan. Yixing dapat melihat wajah penuh emosi dari pria paruh baya itu.

 

“Anda tidak mengerti, nona! Ini adalah telepon penting!” nada suaranya agak meninggi dalam menanggapi perkataan Alia.

 

Alia hanya menghela napas lalu tersenyum ramah sebelum Ia mengatakan sesuatu lagi, “keselamatan penerbangan juga tidak kalah penting, Tuan.” mimik pria itu langsung berubah begitu mendengar tambahan dari Alia. Beliau cepat-cepat mematikan telepon genggamnya dan memasukkan benda mungil berwarna hitam itu ke dalam saku kemeja.

 

Alia tersenyum lebar, jelas Ia merasa puas karena bisa menyelesaikan masalah tanpa membuat keributan.

 

Begitu membalikkan badannya, pandangan Yixing dan Bohwa yang ditujukan kepadanyalah hal pertama yang menyambut Alia. Tanpa mengurangi kesan ramah, Alia tersenyum pada mereka lalu kembali merajut langkah.

 

Bohwa tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan Ia juga tidak mengerti apa yang barusan pramugari itu bicarakan pada pria paruh baya di seberang sana.

 

Dan hal itu, mau tidak mau, membuat Bohwa sedikit… khawatir.

 

 

 

*****

 

 

 

“…We’re now on 35000 feets above the sea level. Please enjoy your flight with us. Up until now, this is Captain Ahmad. Good night.” begitu dirasa sudah cukup bicara, Ahmad (29), segera mematikan pengeras suara dan meneguk air mineralnya.

 

Sudah lima tahun Ahmad menekuni pekerjaannya sebagai seorang pilot. Ini adalah penerbangan pertama dimana Ahmad betugas sebagai Pilot utama. Biasanya Ia akan menjadi co-pilot bersama seseorang yang lebih senior. Tapi kali ini disampingnya adalah Sultan, teman satu angkatannya. Sempat terbersit di hati Ahmad bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak beres selama penerbangan. Ia tidak merasa cukup berani untuk menghadapinya.

 

“Sudahlah. Jangan gugup begitu. Semuanya akan baik-baik saja.” berbeda dengan Ahmad, Sultan tipe orang yang lebih santai. Baginya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh, jika terjadi sesuatupun, mereka tinggal mengirim sinyal ke ATC dan bantuan akan segera dikirimkan.

 

Ahmad hanya tertawa dalam menanggapi perkataan Sultan.

 

“Oh, iya, Ahmad. Kudengar kau akan menikah.”

 

Ahmad meletakkan kembali botol minumnya. “Ya, begitulah.” jawabnya singkat.

 

Kali ini giliran Sultan yang memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Kelihatannya seperti sebuah wafer yang Ia beli sebelum berangkat bekerja tadi sore.

 

“Masih dengan wanita yang sama?” Sultan bertanya lagi. Tapi kata-katanya tidak terdengar jelas karena Ia bicara dengan mulut penuh makanan.

 

Ahmad tertawa lagi, terkadang Sultan begitu lucu baginya. “Tentu saja. Bagaimana denganmu? Masih betah bermain-main dengan wanita? Ahahahah.”

 

Sultan terlihat berpikir sejenak. Bahkan sampai umurnya menginjak angka ke-30, Sultan belum juga menemukan wanita yang pas untuk menjadi pendamping hidupnya. Oh! Atau Ia yang enggan?

 

“Sebenarnya aku sudah berpikir untuk berhenti sejak tahun lalu.” Ahmad menatap Sultan, menunggu kelanjutan ceritanya. “Tapi tidak pernah bisa.” lalu tawa di antara keduanya pecah begitu saja.

 

Selalu begini. kockpit selalu dipenuhi dengan canda tawa setiap kali Sultan mengutarakan gurauannya. Terkadang Ahmad berpikir bahwa co-pilot seperti Sultan berguna juga selama penerbangan. Ya…setidaknya Sultan bisa membuatnya terjaga setiap kali kantuk menyerang. Apalagi pada penerbangan malam seperti saat ini.

 

Mereka masih ternggelam dalam suasana suka pada saat itu. Ahmad bahkan sempat menyelipkan sebuah pesan dalam tawanya pada Sultan agar Ia cepat menghentikan kebiasaannya sebelum menyakiti lebih banyak hati wanita.

 

Kemudian Ahmad berhenti tertawa. Ekor matanya menangkap sesuatu yang aneh pada navigation display, alat yang menampilkan informasi rute pesawat. Ah, seingatnya Ia tidak melakukan apapun, tapi mengapa…”Sultan…” Ia memanggil Sultan dengan ragu.

 

Sultan juga telah menghentikan tawanya kala itu, “Ya?”

 

Ahmad tidak bisa mengalihkan pandangannya dari navigation display. “Apa kau memutar kemudi?” tanya Ahmad dengan gelagat yang sulit diartikan.

 

“Tidak.” jawab Sultan singkat. Kemudian Sultan mengikuti arah pandangan Ahmad. Mereka sama-sama terdiam sejenak. Mencoba memastikan apakah yang mereka lihat tidak salah atau mungkin monitornya yang mengalami kerusakan.

 

“Lalu…Kenapa kita terbang ke selatan?”

 

 

*****

 

 

Saat Ia terbangun, hal pertama yang dilihat Yixing adalah sekumpulan pramugari dan pramugara yang berlalu lalang di lorong kabin. Mereka bicara sambil berbisik, tapi sayangnya Yixing adalah tipe orang yang mudah terbangun dari tidur sehingga bisikan mereka cukup untuk membangunkan pemuda Zhang itu. Jam tangannya baru menunjukkan pukul sebelas malam.

 

Yixing melihat Alia lewat di hadapannya, diikuti seorang pramugari lain. Tanpa pikir panjang, Yixing segera menghentikan langkah pramugari itu. “E-excuse me, Miss. What’s wrong?” tanyanya.

 

Pramugari itu terlihat gelagapan. Ia memutar bola matanya, mencoba menemukan jawaban yang tepat agar Yixing tidak khawatir. “Nothing, Mr. It’s okay.” jawabnya. Ia segera tersenyum dan melenggang pergi dalam langkah yang besar-besar.

 

“I’m sorry, Sir. Where are you heading to?” suara yang dikeluarkan seorang pramugara bertubuh tinggi -bahkan lebih tinggi daripada temannya, Kris- mengalihkan perhatian Yixing. Pemuda itu agak mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.

 

Di sana, seorang pramugara sedang berbincang dengan seorang penumpang laki-laki. Dari wajahnya Yixing tahu bahwa penumpang laki-laki itu berasal dari negara yang sama dengannya. “I’m going to the toilet.” jawab laki-laki itu.

 

“I’m sorry, Sir. But you can’t go now. Please go back to your seat.”

 

Yixing melihat laki-laki itu kembali ke tempat duduknya. Beberapa langkah sebelum si pramugara berjalan melewatinya, Yixing melihat Alia yang berlari menyusul pramugara itu.

 

“Masih tidak bisa kirim sinyal ke ATC?” Alia mengatakan sesuatu dalam bahasa Malaysia.

 

“Bukan hanya itu, sepertinya ada masalah pada Aileron.” Yixing memang tidak bisa memastikan apa yang terjadi, tapi melihat dari mimik panik yang tergambar jelas pada pramugari dan pramugara yang berlalu lalang di hadapannya… Rasanya Yixing dapat memastikan, bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

 

Sementara itu di ruang kockpit, Ahmad dan Sultan sibuk mencari jalan keluar. Ada sesuatu yang salah pada sayap pesawat dan bukan hanya itu saja, Ahmad dan Sultan curiga bahwa masih ada bagian lain yang sama bermasalahnya.

 

“Tidak ada pilihan lain, kita harus cepat melakukan pendaratan darurat.” Ahmad masih sibuk menekan tombol-tombol pada kockpit ketika suara Sultan menginterupsinya.

 

Ahmad mendesah berat. “Tidak ada daratan untuk pendaratan darurat!” Laki-laki berusia 29 tahun itu sudah kelewat frustasi sampai-sampai Ia tidak bisa menahan emosinya.

 

“Kita bisa lakukan pendaratan di laut!” Sultan menanggapi dengan nada yang tidak kalah tinggi. Lagipula, jika terus terbang mereka akan sampai di kutub utara. Mustahil rasanya kalau pesawat mereka sanggup melewati rute tersebut.

 

Akhirnya Ahmad menyerah, Ia bergegas menekan tombol untuk mengirim sinyal pada ATC -walaupun sebenarnya Ia tahu bahwa sinyal yang dikirimkan tidak akan diterima-.

 

“ATC Kuala Lumpur, ini MH370. Kami akan melakukan pendaratan darurat. Sejauh ini titik koordinat belum bisa diidentifikasi….” Ahmad hampir menangis kalau saja Ia tidak mengingat bahwa sekarang Ia sedang membawa ratusan jiwa bersamanya. Ia bertanggung jawab atas penerbangan ini, tidak ada pilihan lain.

 

Kemudian Ahmad melanjutkan pesannya untuk ATC, “…kami harap kalian menerima pesan kami. Selamat malam.”

 

Begitu Ahmad menyelesaikan percakapannya, Sultan segera menghubungi kru pesawat untuk menyampaikan kabar bahwa pesawat akan melakukan pendaratan darurat.

 

Suasana kabin mendadak ricuh. Para penumpang takut bukan main. Bohwa adalah salah satunya. Ia tidak bisa berhenti mengumpat sangking takutnya.

 

Sementara Yixing yang sudah curiga sejak awal hanya diam. Ia bingung harus melakukan apa. Kalau Yixing ikut-ikutan panik, tentu tidak akan memperbaik suasana. Oh, Tuhan… Sungguh Yixing belum ingin mati. Masih banyak yang ingin Yixing lakukan. Mimpinya untuk menjadi penari yang hebat dan membuktikan pada kedua orangtuanya bahwa mimpi itu bukan hanya bualan semata juga belum terwujud. Jadi bagaimana bisa Yixing tenang dalam menghadapi situasi ini.

 

Setelah bersiap dengan pelampung mereka, semua penumpang dan kru pesawat segera menuju kursi masing-masing.

 

“Ya Tuhan… Selamatkanlah kami.” Bohwa bergumam. Saat Yixing menoleh untuk melihatnya, Bohwa sedang memanjatkan doa sambil menutup kedua matanya. Bukan hanya itu, Yixing juga baru sadar kalau pipi Bohwa sudah basah akibat air mata yang turun dari pelupuk matanya.

 

Melihat itu, Yixing jadi ikut sedih. Ini adalah kali pertama Yixing merasa kehilangan semangat hidupnya setelah beberapa tahun belakangan.

 

Yixing menghela napas panjang, lalu ikut memejamkan matanya. Entah setan apa yang sedang merasuki raga Yixing saat ini, tapi Yixing yakin betul bahwa tangannya benar-benar berada tepat di atas tangan Bohwa, menggenggamnya begitu erat seakan mereka tidak akan berpisah apapun yang terjadi.

 

Pesawat mulai terbang turun, melawan tekanan udara. Yixing memberanikan diri untuk membuka mata untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

 

Tapi tampaknya dugaan Yixing salah. Begitu membuka mata, Yixing langsung dihadapkan pada sebuah pemandangan yang tak kalah menakutkan ketimbang kehilangan radio kesayangannya. Yixing melihat sayap pesawat yang terbakar.

 

Yixing merasakan pundaknya yang mendadak berat. Saat Yixing menoleh, Ia mendapati Bohwa yang sudah bersandar di pundaknya. Mata gadis itu masih tertutup rapat.

 

“Yixing…” Bohwa memanggil nama Yixing dengan sangat pelan.

 

Yixing menanggapinya sambil bergumam pelan.

 

“Maafkan aku karena meninggalkanmu kala itu.” Bohwa berujar pelan. Air mata mengalir semakin deras dari pelupuk matanya.

 

Yixing tersenyum pahit. “Tidak apa-apa.”

 

Bohwa menarik napas, ingin bicara lagi. “Ayah dan Ibu akan baik-baik saja, kan?”

 

Senyum Yixing semakin melebar, “Mereka akan baik-baik saja.” jawab Yixing lagi.

 

Detik berikutnya, terdengar suara ledakan dari ekor pesawat. Yixing dan Bohwa sama-sama kaget dibuatnya. Mereka sudah tidak punya harapan. Berserah diri pada Tuhan adalah pilihan satu-satunya saat ini.

 

Yixing dapat merasakan napas berat Bohwa yang berhembus di lehernya. “Yixing, aku mengantuk.” kata gadis itu kemudian.

 

Yixing tersenyum masam, “Tidurlah… Aku akan menjagamu.”

 

Kata-kata Yixing menghantarkan badan pesawat pada permukaan air laut. Semua penumpang berteriak ketakutan. Sebagian dari mereka menangis dan menjerit seperti orang gila -atau seperti orang yang mungkin akan kehilangan nyawanya sesaat lagi?

 

Yixing dan Bohwa tidak tahu apa yang terjadi. Yang mereka rasakan berikutnya adalah tubuh sakit mereka yang melayang-layang di dalam air. Bahkan Yixing sempat berpikir bahwa tidak ada gunanya juga Ia mengenakan pelampung seperti ini. Toh, kalau Tuhan memang sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya, apa boleh buat?

 

 

Tapi tidak….

 

Setelah terhempas ke air laut dan kepalanya sempat bertubrukan dengan badan pesawat, tubuh Yixing mengapung. Sulit rasanya bagi Yixing untuk mengambil napas. Terlebih setelah Ia melihat betapa badan pesawat hancur parah. Puing-puing benda terbang itu mengapung di permukaan laut. Tubuh Yixing menggigil akibat air laut yang kelewat dingin.

 

“Bohwa!!!” Ia berseru senyaring yang Ia bisa agar satu-satunya manusia di sana -selain dia- dapat mendengarnya.

 

Perempuan itu kini tengah berusaha menstabilkan napasnya yang terengah. Rambutnya basah. Lengan bajunya juga robek di beberapa sisi. Takdir atau apapun itu, Ialah yang telah menentukan ini. Bohwa dan Yixing adalah dua-duanya orang yang terlihat eksistensinya sejauh mata memandang.

 

Atau…

 

Ah, dari kejauhan Yixing bisa melihat ada orang lain. Pramugari yang sebelumnya Ia kenal dengan nama Alia. Benar dia, kan? Yixing sebenarnya juga tidak yakin. Yang jelas sekarang perempuan itu sudah bersimpuh di atas serpihan badan pesawat. Rambutnya basah dan berantakan. Seragamnya pun sudah tidak jelas berbentuk.

 

Saat melihat Bohwa, Alia langsung berseru padanya, “Come here, Miss. Come on, grab my hand!” seraya menjulurkan sebelah tangannya pada gadis itu. Yixing ikut meneriaki Bohwa agar secepatnya menyusul Alia.

 

Sekarang Bohwa sudah berada di atas serpihan badan pesawat bersama pramugari itu, sedangkan Yixing berpegang pada salah satu sisi karena jika Ia ikut bergabung, serpihannya tidak cukup kuat.

 

Ah, adegan ini sama persis seperti yang pernah Bohwa tonton di film Titanic. Sangat tidak masuk akal bagi Bohwa. Adegan seperti ini hanya fiksi, tidak mungkin terjadi sungguhan.

 

Tapi nyatanya, Bohwa malah berada di sini sekarang. Luntang-lantung di tengah ombak laut, berharap akan ada seseorang yang menolong walaupun pada kenyataannya hal itu mustahil -mengingat bahwa mereka sedang berada di tengah laut sekarang-.

 

Cukup lama sampai akhirnya Bohwa melihat tubuh Yixing yang mulai bergetar. Pemuda Zhang itu pasti sedang kedinginan. Desiran ombak juga begitu dahsyat. Kasihan Yixing kalau terus-terusan berada di sana. Bohwa dan Alia saja belum tentu selamat. Apalagi Yixing?

 

Ditengah keheningan malam, Alia hanya dapat mendengar isak tangis Bohwa. Alia kebingungan bukan main. Sejak tadi Alia hanya memeluk tubuh Bohwa, mencoba berbagi kekuatan pada gadis itu. Sementara Bohwa tidak juga melepaskan pegangan tangannya pada Yixing.

 

“Yixing! Kumohon bertahanlah.” kata Bohwa di sela-sela isakannya.

 

Yixing tersenyum, menampakkan dua lesung pipinya. “Semuanya akan baik-baik saja, Bohwa.” ujarnya.

 

Bohwa menangis lebih kencang. “Maafkan aku, Yixing! Maafkan aku!”

 

Yixing menggeleng, “Hey, dengarkan aku Lu Bohwa!” Bohwa langsung menghentikan jeritannya kala itu juga. Ia benar-benar mendengarkan Yixing.

 

“Walaupun aku tidak mengingat tanggal lahir Ibuku. Walaupun aku tidak mengingat kapan pertama kali kita bertemu. Percayalah… aku hanya berbohong soal melupakanmu. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah melakukannya.”

 

Damn! Bohwa menyesali semua yang telah Ia lakukan pada Yixing. Pemuda ini begitu mencintainya dan apa yang Ia lakukan? Meninggalkan Yixing begitu saja. Ckckck.

 

“Aku hanya bisa sampai sini, Bohwa. Aku sudah tidak tahan. Aku akan membiarkan tubuhku hanyut bersama ombak. Jagalah dirimu baik-baik. Ingat bahwa kau tidak sendiri.”

 

Yixing melepas satu tangannya.

 

“Tidak, Yixing! Jangan lakukan!”

 

Yixing melepas tangannya yang satu lagi.

 

“Yixing…” suara Bohwa melemah.

 

Tubuh Yixing hanyut terbawa ombak.

 

“Tidak! Yixing!! Jangan pergi Yixing! Jangan tinggalkan aku!!!!”

 

 

 

…..

 

…….

 

 

“Yixing! Yixing, jangan pergi! Aku mencintaimu, Yixing! Yixing!!!!” Bohwa membuka matanya secara tiba-tiba kemudian mendapati tatapan aneh Yixing yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

 

Oh, astaga! Dia pasti mengigau yang aneh-aneh tadi!

 

“Yixing…”

 

“Eh, aneh! Kau tadi mimpi apa? Kenapa panjang sekali?! Pundakku pegal, tahu?!”

 

Bohwa langsung terkesiap saat itu juga. Ia menilik ke luar jendela di samping Yixing. Ah, benar. Ternyata Bohwa hanya bermimpi soal pesawat jatuh. Rupanya mereka sudah tiba di landasan.

 

“Kita sudah sampai di Beijing sejak sepuluh menit yang lalu! Kau tidak lihat? Pesawatnya sudah kosong. Makanya kalau mimpi lihat-lihat tempat!” kemudian Yixing bangkit dari duduknya. “Awas kau menghalangi jalanku!” begitu sergahnya pada Bohwa agar gadis itu mau membuka jalan untuk Yixing.

 

Setelah Yixing berlalu, Bohwa masih terdiam di tempatnya. Bohwa masih terlalu sibuk menstabilkan napasnya yang terengah-engah akibat mimpi panjangnya barusan. Syukurlah, hanya mimpi.

 

“I’m sorry, Miss. Is there something you are looking for?” Bohwa terperanjat kaget saat suara itu menggema di telinganya. Bohwa menoleh dan melihat Alia yang sedang berdiri di hadapannya.

 

Bohwa tersenyum. Dalam mimpi pun Alia masih menjadi sosok yang ramah. Ah, Bohwa pikir Alia akan sukses karena keramahannya kelak. “No, no! Thank you.” jawab Bohwa. “I will go now.” Bohwa memungut tas tangannya lalu berlalu dari dahapan Alia dan menghilang di balik pintu pesawat.

 

Alia mengamati kepergian Bohwa. Ia berbalik, hendak berjalan menuju ekor pesawat tapi menghentikan langkahnya lagi. Mendelik ke belakang dan tersenyum miring.

 

Kau bilang apa? Alia yang ramah? Hh… Terimakasih atas pujiannya, Nona.

 

 

 

*****

 

 

“Sampai berita ini diturunkan, baik pemerintah China maupun Malaysia belum bisa memastikan koordinat terakhir pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 tujuan Beijing.”

 

 

 

***END***

 

 

 

 

Haloooo!!!!

 

Ini ff murni terinspirasi dari MH370. Tapi waktu ide ini muncul, author jadi inget kalo author pernah baca ff dengan ide serupa tp lupa dimana. Dan sebelumnya jg ada yg bikin terinspirasi dr MH370 juga. Etapi suer ini ff murni pemikiran author sendiri. Karna kebetulan hampir-hampir mirip anggap aja ketidaksengajaan xixixi. Sebenernya author sendiri ngerasa kalo FF ini udah basi banget. Abis udah lama mau ngepost tapi ga sempet on pc hiks T-T dan akhirnya di kirim ke sini hihihi.

 

Dan kalo ada yg salah sama bagian2 pesawat itu author minta maaf ya. Author soalnya juga nggak begitu tau, selama ini cuman bisa naiknya doang._.v

 

Terus ya, author mau ngasih tau juga. cerita ini tuh intinya, pesawatnya nggak jatuh, tapi dibajak sama pramugarinya sendiri yaitu Alia. dengan kemampuannya mengendalikan pesawat, Alia membawa pesawat dan awak kabin ke suatu tempat yang author-nggak-kepikiran-dimana HAHAHA

 

But yea, author tidak mengharapkan komen untuk ff ini karna author tau ini ff nya gaje bin ajaib. Tapi kalo mau komen juga rapopo. Author dengan senang hati akan baca. Oh iya, author buka Poster Shop loh. Yuk, kunjungi http://www.parkshinyoung97.wordpress.com entar klik link poster shop muehehe

 

Thanks for reading~ Sampai jumpa~ 

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

Ditandai:

18 tanggapan untuk “MH370 [freelance]

  1. suka thor! ffnya bikin aku gigit bantal gara2 nyesek -…-
    awalnya ngikik krn tingkah yixing. tp begitu udh ditengah malah tegang sendiri -_- dan sempet netes juga krn kebayang wajah lay yg seakan2 ngucapin selamat tinggal. aaaaah. sumpeh nyesek men ternyata dia mimpi *jungkir balik*
    but overall authornim tetap keren! daebak! ^^b

  2. anyeong
    sebenarnya bingung tapi setelah ada penjelasannya jadi tau itu pesawat di bawa didunia entah apa namanya , dan di dunia nyata orang2 kelabakkan mencari tu pesawat, hehe barati mimpinya ?

    @_@fighting
    dari judulnya bikin tertarik

  3. Sempet bingung, tapi waktu author jelasin aku jadi ngerti ;), nggak nyangka ternyata alia yg ngebajak pesawatnya, padahal dia keliatan ramah banget. ff ini sukses bikin penasaran 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s