One-Sided Love [freelance]

Gambar

One-Sided Love

 

 

Author : @yhupuulievya / xoxoies.wordpress.com

Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more

Genre: Drama, Romance

Rate : T

Length : Chaptered

 

 

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?

Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.

Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?

Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.

Everything happens for reason, right?

 

Karakter

  • Xi Luhan

            Seseorang yang tak bisa kau baca ekpresi wajahnya. Dingin dan sulit didekati.

Seseorang yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian fatal dimasa lalu, seseorang yang kehilangan sahabatnya untuk orang yang begitu ia cintai, Song Hera. Meski keluarganya telah menyetujui akan perjodohannya dengan Choi Ahri, namun baginya, gadis itu tak lebih dari orang asing yang mengacaukan kehidupannya.

            “Aku tidak pernah berfikir untuk menggantikannya dengan siapapun, jadi berhentilah mengganguku dan temukan orang lain”

  • Choi Ahri

            Menyebalkan, manja dan bertindak sesuka hati. Itulah pandangan sebagian orang terhadapnya. Bagi mereka, ia hanyalah seorang gadis yang begitu menggilai shopping, clubbing dan Xi Luhan. Ia tidak berbeda jauh dengan gadis dari kalangan atas lainnya. Namun mereka tidak pernah tahu bahwa nyatanya, ia adalah gadis yang selalu kesepian, Seseorang yang mampu menyembunyikan kesedihan di balik senyuman palsu yang menawan.

            “Saat appa bilang bahwa ia menjodohkanku dengannya, aku begitu senang. Aku selalu berfikir, mungkin dengan begitu aku bisa bersandar dan membagi kesedihanku dengannya. Tapi semakin hari aku semakin lelah, menggapainya seperti berusaha melakukan sesuatu di luar batas kemampuanku” gadis itu berbicara pada namja yang duduk disampingnya

  • Kim Jongin (Kai)

            Kai? Ia hanyalah seorang player yang terlalu mencintai kehidupan liarnya. Satu hal yang semua orang ketahui tentangnya adalah bahwa ia merupakan pewaris muda hotel ternama di Korea selatan. Tentu saja, ia adalah seseorang yang begitu populer, diinginkan setiap gadis dan tidak pernah serius.

            Meski ia menghabiskan banyak waktu dengan banyak gadis, Kai tak pernah jatuh cinta pada mereka. Namun bagaimana jika pada akhirnya gadis yang menarik perhatiannya ialah gadis yang tak seharusnya ia cintai?

            Kai terdiam sejenak

            “Karena… Karena kau tidak bisa memilih kepada siapa kau ingin jatuh Cinta”

  • Song Hera

            Seorang gadis yang begitu naif, cerdas, dan disukai oleh setiap orang. Seseorang yang mengenal Luhan sedari dulu, seseorang yang berbagi masa kecil bersama namja itu. Namun, kau tidak akan mengenal kepribadian sebenarnya dari seseorang… tentu saja karena orang tersebut  terlalu pandai memainkan perannya sebagai “malaikat”

            Orang-orang di dunia ini memakai topeng. Kadang kau tidak akan bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.

            “Karena aku tidak pernah bisa mendapatkan semua yang aku inginkan. Kadang aku berfikir kehidupan ini terlalu sering berpihak pada orang lain. Jadi, bisakah untuk kali ini.. kau melepaskannya? Dia adalah harapan terakhirku, aku mohon”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER ONE

(First Meeting)

 

At restaurant in a luxurious  hotel—Seoul

10:00 PM

           

            Di sebuah hotel mewah, Choi AhRi sedang duduk manis, menunggu seseorang. Ia terus melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangannya dan menarik nafas perlahan sebelum akhirnya mengeluarkan ponsel  kesayangannya, mulai merasa bosan.

            “Annyeong Haseyo, Ahriya”

            Suara lembut seorang wanita sontak membuat Ahri mengalihkan pandagan dari layar ponselnya, ekspresi wajahnya berubah cerah

            “Umma Han!”Wanita itu serta seorang namja disebelahnya sontak membulatkan mata saat gadis itu melontarkan kata “umma”

            “U m m a ?” Ekpresi wanita berbalut dress mewah itu sedikit terlihat bingung

            “N e, bukankah jika aku sudah menikah dengan gege nanti, aku akan memanggilmu umma?”

            “ah! Itu benar. Kau harus mulai memanggilku umma agar terbiasa kelak”

            “Hn! Tentu saja umma”

            “Nah, sekarang umma akan memberikanmu waktu untuk berbicara dengan calon suamimu”Namja yang berdiri di samping wanita itu sontak menatap tajam pada ummanya

            “Lakukan yang terbaik, honey” Wanita itu berbisik pada anak laki-lakinya sebelum berlalu

            “Tap..”

            “Namamu Xi Luhan kan?”

            Hening…

            “Ne”

            “Ah! Duduklah, namaku Choi Ahri. Kau bisa memanggilku Ahri dan aku akan memanggilmu gege, karena kau lebih tua setahun darikukan?”

            “Ne” Namja bernama Luhan itu terlihat tidak terlalu nyaman dalam duduknya

            “Kau pasti kaget kenapa aku begitu banyak mengetahui  tentangmu, kan?  karena aku mendapatkan banyak informasi dari ummamu, bahkan aku mengunjungi  rumahmu kemarin, tapi umma bilang kau sibuk mempersiapkan keperluan festival musim gugur di sekolah. Gege adalah ketua kelas, kan? Itu benar-benar keren”Luhan hanya memutar bola matanya

            “Ah! Mengenai pernikahan kita nanti, gege ingin perayaannya seperti apa? Aku rasa perpaduan tradisional dan western akan sangat mengaggumkan. Selain itu aku sudah memilih tempat untuk berbulan madu, Pulah Maladewa benar-benar sangat indah, temanku bah….”

Luhan menghempaskan daftar menu yang berada diatas meja dan gadis didepannya itu tercengang

            “Ini memuakkan” Namja itu lalu berdiri dan berlalu begitu saja

            “Luhan ge!”

            “Gege!”Ahri terus berteriak namun namja itu terus berjalan menjauh, meninggalkannya

            “AKU MENYUKAIMU!”

Luhan menghentikan langkahnya dan berbalik

            “Such a freak girl” Kemudian ia berjalan keluar hotel

Ahri hanya terdiam sesaat, kemudian ia tersenyum lemah

            “Kau tidak akan berkata seperti itu saat kau menyukaiku nanti”

            “Have a beautiful night, luhan ge”

Ia berbicara pada angin malam yang berhembus tenang.

***

Seoul, 10 PM

 

            Choi Ahri terus mendial semua nomer orang-orang terpentingnya namun tak ada satupun yang menjawab panggilanya. Ah, mereka terlalu sibuk sepertinya. Oleh karena itu, akhirnya ia hanya mengirimkan sebuah pesan singkat pada Umma Han.

            Gadis itu terlihat sedikit kecewa. Salahkan saja hatinya yang terlalu berharap, ia selalu berfikir mungkin setelah melakukan perbincangan yang menyenangkan dengan Xi Luhan, namja itu akan mengantarkanya pulang lalu mereka saling mengucap “Jaljayou” sebelum berpisah, mulai malam itu keduanya akan mulai saling menyukai dan mempunyai kehidupan yang  bahagia kelak, oh please… hidup tidak sesimple itu.

            Ia melihat kesekitar dan menyadari kini ia tengah berdiri tepat di sebuah bar yang berada di samping hotel tadi. Haruskah ia masuk?  Sepertinya itu bukan sebuah ide yang buruk. Tanpa berfikir panjang ia memutuskan untuk pergi kesana

Baru saja ia melagkahkan kakinya kedalam, seorang gadis tak sengaja menabraknya. Sudah pasti gadis itu dalam keadaan mabuk berat

            “Gwenchanayo?” tanya Ahri

            Gadis itu hanya menatapnya sekilas dan berlalu begitu saja dengan langkah kaki yang sempoyongan.

            Ahri hanya bisa mengerutkan dahinya dan masuk kedalam. Lampu disko yang berwarna-warni, lagu khas diskotik yang begitu memekik, orang-orang yang berdansa, serta mereka yang sibuk berpesta dan bercumbu adalah pemandangan yang biasa di jumpai di setiap club malam. Oleh karena itu, ia hanya duduk di depan meja bartender dan memesan air putih, oh well air putih. Setidaknya disini tidak terlalu buruk dibanding diam dan duduk manis sendiri di hotel tadi.

            “Mau aku temani cantik?”

Sial, batin Ahri

            “Kau memilih target yang salah”

            Ahri segera berdiri, hendak pergi namun ternyata namja itu disertai teman-temannya.

            “Hey hey hey, buru-buru sekali noona, ayolah aku akan menemanimu, aku tidak akan membuatmu kecewa. Kita bisa bersenang-senang sepanjang malam”

            “Jika satu di antara kalian berani mendaratkan satu jari saja padaku, aku akan membuat kalian hidup dipenjara besok”

Kumpulan laki-laki itu sontak tertawa terbahak-bahak

            “Kau berlaga polos huh? Semua orang yang datang pasti untuk bersenang-senang” Namja itu menarik tangan Ahri dan dengan cepat ahri melepaskan pergelangan tanganya dan mengguyurkan air mineralnya tepat pada wajah namja tersebut

            “Sialan! Aku tidak bercanda dan singkirkan tangan kotormu, brengsek!”

Ahri segera melesat keluar dan mencoba berlari secepat mungkin. Ia cukup yakin bahwa gerombolan anak laki-laki tadi kini tengah mengejarnya dan benar saja mereka kini berlari tepat dibelakangnya

            “HEYYYYY! STOP THERE. BITCH!

Ahri berhenti tepat di sebelah hotel tadi, ia melihat ke belakang

            “KAU MEMANGGILKU APA, TADI?”

Ahri terlihat begitu marah dan begitu namja-namja itu mendekat, Ahri melepaskan High heels tingginya dan dengan sepenuh tenaga ia melemparkanya tepat pada namja yang berdiri paling depan, namja itu mengaduh kesakitan, Kini ia melepaskan high heels sebelahnya lagi dan kemudian memukul namja yang tadi memanggilnya dengan sangat tidak sopan, ia memukulnya dengan itu.

            “SIALAN KAU! BERANI MEMANGGILKU SEPERTI ITU, HUH? AKU ADALAH PUTRI DARI PEMILIK PERUSAHAAN TERKENAL DI JEPANG. KAUU TAU ITU?” Ia terus memukul namja itu

            “AW APPO! APPO! YAAA ! Kalian berdua bantu aku dan lepaskan gadis ini “ Namja itu kini meminta bantuan teman-temanya yang kini terlihat kebingungan karena gadis ini berubah mengerikan, salah satu diantara mereka mencoba menolong temanya tapi dengan cepat Ahri menendang namja itu tepat di daerah sensitifnya

            “AW!”

Ahri kini melepas high heels dalam genggamannya dan menjambak rambut namja itu

            “YAYAYAY! AKU MINTA MAAF SEKARANG LEPASKAN AKU”

            “SHIREO!”

            “Ada apa ini?”

            Mereka semua berhenti dan mengalihkan pandaganya pada sosok pria berdasi dan berjas mewah yang baru saja turun dari mobil silvernya. Anehnya kini ketiga namja tadi malah berdiri tegap dan membungkuk 90 derajat pada pria itu, bahkan mereka memasang wajah ketakutan kali ini

Pria itu kini menatap mereka lekat dan menggelengkan kepalanya

            “Apa anak ini membuat onar lagi?”

            “Ah, tidak paman kami hanya bercanda hehe” sahut namja jangkung

            “Kami berdua pamit” Setelah itu mereka berdua langsung berlari meninggalkan namja satunya

            “YAA!!! SEHUN! CHANYEOL!! KEMBALI KESINI!YAA!”

            “Apa anak ini menganggumu?” Suara pria didepan Ahri kini membuyarkan lamunanya

            “NE AJUSHHI ! Namja ini hampir memperkosaku”

Pria tadi langsung terbatuk dan menatap tajam namja yang di maksud Ahri

            “KAI….”

            “ANIO! appa kami tadi hanya bermain-main. Biasanya semua gadis akan dengan senang hati menemani ku, tapi gadis ini aneh dengan cepat menolak begitu saja. Aku hanya…”

            Namja dengan panggilan Kai itu tidak melanjutkan kata-katanya karena pria yang di panggilnya appa kini menatapnya lebih tajam

            “Nah, noona Saya minta maaf atas kejadian tadi, anak Saya memang keterlaluan. Bila ada hal lainya anda bisa menghbungi Saya” Pria tersebut tersenyum lembut dan menyerahkan kartu namanya.

Ahri masih terlihat kesal dan mengambil kartu nama tersebut

            “Anda seharusnya mendidik anak anda, ajushhi . dia benar-benar… MWO??? KAU PEMILIK HOTEL INI?”Ahri terlihat tak percaya begitu membaca deretan kata yang tertera dalam kartu nama tersebut

            “Benar noona, oleh karena itu anda bisa meminta ganti rugi atas kejadian tadi”

            “AH, anioo tapii kau pasti merasa malu punya anak seperti dia” Ahri melirik namja bernama Kai tadi

            “Ah itu…” Pria itu hanya diam kebingungan “Maafkan atas kebodhanya, Saya akan menghukumnya nanti, dan..”Ayah Kai menyadari bahwa gadis itu kini tak megenakan alas kaki dan itu membuat Ahri sedikit kikuk

            “Ah ini.. tadi aku melemparnya pada .. eum” Ahri tersenyum kikuk

            “Tidak apa-apa, cepat belikan dia sepatu yang baru, Kai!”

            Kai tanpa pikir panjang segera berlari dan menuruti kata-kata ayahnya atau ia akan benar-benar kena marah nanti. Ahri tersenyum senang melihat namja tadi kini terlihat begitu tersiksa, ia berbincang-bincang dengan ayah Kai di sebuah taman yang berada tepat di depan hotel milik pria tersebut.

.

15 menit berlalu

 

            “Ajushhi, apa kau yakin anak anda tidak sedang melarikan diri?” Ahri sepertinya mulai merasa bosan menunggu kedatangan Kai. Pria itu tersenyum lalu mengalihkan pandaganya dan Ahri mengikuti kemana arah pandagan pria tsb, ah rupanya ia melihat Kai yang kini berjalan mendekat

            “Ini” Kai mengulurkan sebuah kotak sepatu tanpa melihat Ahri sedikitpun, Ahri mendelik dan mengambilnya

            “Whoaah nomu yeppeunda!” gumamnya begitu melihat sebuah high heels yang tak kalah indah dibanding miliknya tadi. Ahri duduk dan kemudian menyerahkan kembali kotak sepatu itu pada Kai, namja itu terlihat bingung

            “Pasangkan!” perintah Ahri

            “Huh?” Kai masih terlihat kebingungan

            “Kau harus memasangkanya” Ahri tersenyum manis tapi Kai tahu gadis ini sedang bermain-main dengannya. Kai melirik ayahnya yang kini menatapnya lekat seolah ia harus segera memasangkan sepatu indah itu pada Ahri, gadis cantik yang ia pikir aneh ini.

            Kai segera mengambil sepasang sepatu tadi dan berjongkok tepat didepan Ahri, ia memakaikan sepatu itu yang ternyata begitu pas di kaki Ahri

            “WHOAAA Romantisnya!!!” Suara seseorang membuat mereka bertiga melihat kebelakang

            “UMMA HAN?” Ahri terlihat begitu kaget begitu pula wanita yang dipanggilnya Umma Han

            “Ahri-ya? Aigooo itu kau?”Wanita itu kini berjalan kearahnya

            “Umma Han!” Ahri langsung berlari dan memeluknya

            “Aiggo honey, umma begitu cemas saat mendapat pesan darimu. Maaf ya umma baru membacanya. Kau tidak perlu khawatir umma menyuruh Luhan kembali, ia akan mengantarkanmu pulang, lihat!” Beserta kalimat terakhirnya mereka berdua melihat kebelakang dan terlihat Luhan yang berjalan dengan malas kearah mereka. Ahri tersenyum.

            “Tunggu!”Wanita itu sepertinya baru menyadari sesuatu, kini ia menghampiri Kai.

            “YAA , KIM JONGIN. APA YANG TADI KAU LAKUKAN, TADI HUH? KAU MERAYU AHRI? GADIS INI ADALAH TUNANGANG ANAKKU, KAU HARUS MENCARI GADIS LAIN”

            “Ah maaf Xi Hanri, Kai tadi hanya membantu Ahri”

            “Tapi tetap tidak boleh, Kyuhyun-ssi, Ahri hanya boleh jatuh cinta pada Luhanku”

Luhan dan Kai memutar bola mata mereka berbarengan

            “AIGOO! UMMA! Kau mengenal mereka?”

            “Ah Kyuhyun ini adalah temanku, dan Kim Jongin ini adalah putranya, dia juga teman Luhan”

Kai tersenyum sinis saat mendengar kata ‘teman’ dan Ahri sepertinya kehabisan kata-kata

            “Sudahlah itu tidak penting, sekarang kau bisa pulang dengan Luhan”Umma Han tersenyum lembut dan Ahri mengangguk mantap

            “Luhan!” begitu Ummanya memanggilnya kini Luhan beranjak kesamping Ahri

            “Kami pulang dulu” Luhan menggengam tangan kanan Ahri dan mengajaknya pergi

            “dan Kai, maaf jika Ahri merepotkanmu!”Ahri tampak tak terima dan berkata

            “Namja itu yang merepotkanku” Ahri mempotkan bibirnya

            “Ah, sudah-sudah cepatlah pulang ini sudah larut malam”

            Luhan dan Ahri membungkuk dan berpamitan lalu keduanya meninggalkan tempat itu.Kai hanya terdiam, kedua bola matanya menatap kebawah. ia mengepalkan tanganya kuat bahkan ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Luhan tadi. Kini ia melangkah meninggalkan ayahnya yang kini terlihat berbincang dengan nyonya Xi Hanri

***

Luhan melepaskan genggaman tanganya dan berbalik menghadap Ahri

            “Tidak bisakah kau menelopon keluargamu? Kenapa harus merepotkanku?”

Ahri terilhat acuh tak acuh

            “Kau tak mendegarkanku”Luhan tampak kesal

            “Karena aku tunanganmu, sudah sewajarnya Aku merepotkanmu”Ahri segera masuk ke mobil Luhan tanpa menunggu aba-aba dari namja tsb. Luhan mengacak rambutnya frustasi lalu menyusul gadis itu naik ke mobil

            “Dengar, aku sudah mempunyai pacar, jadi..”

Ahri menutup telinganya

            “Terserah kalau begitu” Luhan tampak cuek lalu ia mendial nomor seseorang

Song Hera

 

Luhan langsung menekan tombol panggilan begitu menemukan kontak yang di carinya

            “Sorry, the noumber your calling…”

            Luhan mematikanya, sudah tiga kali ia mencoba menghubungi pacarnya itu namun hasilnya tetap sama. Gadis itu sepertinya sedang menelepon orang lain. Luhan terlihat kesal namun ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan kilat, menumpahkan amarahnya disana.

 

            Kai kini duduk di sebuah Club malam, ia terlihat begitu berantakan. Untuk kesekian kalinya ia menegak cairan yang memabukan. Ponsel dalam saku celananya kini berdering. Oh please.. Ia tidak berharap ayahnya memanggil sekarang. Kai menekan tombol jawab dan seketika terdengar suara perempuan yang amat di kenalnya

            “Yeobseo….” Panggil seseorang disana

            “Kai.. kau mendengarku kan?”

            “Kai?”Gadis ditelfon itu terus memanggilnya namun Kai tak kunjung menjawab

            “Kai, Bisakah kita ber..”

            “Berhenti menghubungiku Jung Hera!”

Kai memutuskan panggilanya.

***

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER TWO

(Freak Girl)

 

Dinning room

            Xi Hanri kini tengah menatap anak kesayangannya dengan antusias, mengabaikan semua makanan lezat yang telah terhidang di meja makan mewahnya itu.

“Dia cantik, kan?”

Luhan tetap melanjutkan makan malamnya tanpa menjawab pertanyaan ummanya

“eeeeh jangan malu-malu seperti itu, sayang. Katakan saja, bagaimana pendapatmu mengenai Choi Ahri?”

Luhan menatap ummanya sekilas namun setelah itu ia kembali melanjutkan makan malamnya, Xi Hanri sedikit cemberut

“Kau harus percaya pada umma. Meski gadis itu terlihat kekanak-kanakan tapi dia benar-benar gadis yang baik, dia juga ceria dan tak mudah menyerah. Umma sangat yakin dia yang terbaik” Xi Hanri tersenyum pada Luhan

“Cobalah untuk mengenalnya”

Tetap tak ada respon

“Mulai besok, umma menyuruhnya tinggal disini”

Luhan tersedak

“apa umma gila?” Luhan tampak tak terima dengan kalimat terakhir ummanya

“memang apa salahnya? Dengan begitu kau bisa lebih dekat denganmu. Lagipula kamar di sebelah ruanganmu kan kosong”

Luhan menaruh sumpitnya dan berhenti menyantap makan malamnya

“malam ini aku akan menginap di rumah Kris”

Setelah itu Luhan pergi begitu saja namun Xi Hanri tak berniat untuk mengejarnya, ia tau anak laki-lakinya itu tengah marah padanya,ah mungkin  ia hanya perlu memberikannya waktu.

***

Luhan terlihat begitu berantakan malam ini, terlalu banyak hal yang ada dipikirannya. Seorang gadis yang kini duduk di hadapannya membuka percakapan di antara mereka

“Jadi kau akan menginap di Apartemen Kris?”
“begitulah”

Luhan menjawab singkat lalu meneguk minuman yang tertuang di gelas kaca dalam genggamanya, seketika cairan merah itu membasahi tenggorokannya. Gadis yang duduk didepanya sedikit menggelangkan kepala lalu berjalan dan berlih duduk tepat disamping Luhan

“Jangan terlalu banyak minum”

Gadis itu lalu membawa gelas dalam genggaman Luhan dan menaruhnya di meja

“Umma benar-benar membuatku gila, ia bahkan berencana untuk mengajak gadis itu tinggal bersama”

Gadis di sampingnya berubah muram sekilas namun kemudian ia tersenyum

“Mungkin ummamu berencana untuk membuatmu dekat dengannya”

Luhan sedikit terganggu dengan ucapan gadisnya itu

“Kau tau kan bahwa aku hanya mencintaimu, Hera-ya”

Gadis bernama Hera itu tersenyum lembut

“arraseo tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini, jika kau langsung menolak rencana orang tuamu, bukankah appamu akan marah besar?”

Luhan berdiri dan berjalan ke arah balcony

“Ini benar-benar membuatku gila”

Ia mengacak rambutnya frustasi

Hera mengikuti namja itu lalu memeluknya dari belakang

“Jangan khawatir, aku yakin kau bisa menyelesaikanya. Kita hanya perlu waktu. Aku bisa menunggu untukmu”

Luhan terdiam, namun kemudian ia tersenyum

“Aku berjanji akan menyelesaikan ini secepatnya. Kaupercaya padaku kan?

Luhan berbalik dan gadis itu mengangguk dengan senyuman. Luhan menatapnya lekat lalu memeluka gadisnya erat

“Kau harus percaya padaku Hera-ah. Aku hanya mencintaimu” Luhan mengeratkan pelukannya

“Hm”

Hera memeluknya balik namun tatapan gadis itu terlihat kosong.

***

 

Kris’s Apartement 8:00 AM

 

Ding Dong

Ding Dong

Kris segera beranjak dari kasurnya begitu mendengar bel apartemenya berbunyi dua kali

~aissh siapa orang yang bertamu sepagi ini. Pikirnya

Kris mengucek matanya sebelum berjalan kearah pintu depan dan “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

Tepat saat ia membuka pintu apartemenya, teriakan seorang gadis tiba-tiba terdengar dan memekakan telinganya. Berhasil membuat namja tinggi itu tersadar dari kantuknya dalam sekejap. Ia melihat gadis yang tak ia kenal kini bersemu merah lalu menutup matanya. Dari sana ia sadar bahwa kini ia hanya memakai sebuah boxer pendek dan membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos..

~Oh man!!!!! I’m topless. Kini namja itulah yang sedikit malu

Ia segera berlari dan mengambil pakaianya lalu memakai kaos putih sebelum kembali menemui gadis tadi.

“ah maaf atas kejadian tadi noona, tapi.. kau siapa?” Kris terlihat bingung karena ia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya

“Apa kau Wu Yi fan?” Gadis itu malah balik bertanya

“ne dan kau?” Kris kembali bertanya

“Apakah tunanganku menginapa disini?” Gadis itu malah kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan tadi

~oh mannnn, what’s wrong with this girl?

“maaf noona. Tunanganmu yang ma…?”

“KKKKKKKYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAA, LUHANEY!!!!!”

Gadis itu langsung berteriak kegirangan begitu melihat orang yang dicarinya tertangkap indra penglihatannya. Luhan sepertinya baru saja bangun dan belum begitu sadar sepenuhnya namun gadis itu langsung menerobos masuk dan langsung memeluknya tanpa aba-aba

“BOGOSHIPPO!”

Gadis itu sepertinya benar-benar bersemangat pagi ini. Pelukanya membuat mereka terhempas tepat kesofa yang berada dibelakang Luhan.

~oh mannnn, i know.. there’s something wrong with this girl

Kris hanya menatap mereka tanpa ekspresi.

***

Suasana di mobil kali ini terasa begitu kaku.  Luhan sepertinya tidak berniat untuk mengajak ngobrol gadis disebelahnya. Ia hanya fokus pada jalanan di depanya dan menyetir dengan hati-hati

“Kenapa kau menginap di apartemen Wufan-ssi?”

“Apa kau bertengkar dengan umma?”

Luhan tampak tak mempedulikan pertanyaan Ahri dan itu membuat gadis disampingnya mempoutkan bibir, sedikit kesal

“Kau tidak boleh bertengkar dengan umma, aku yakin umma hanya ingin yang terbaik untukmu”

Luhan menambah kecepatan mobilnya

~Memangnya siapa yang mebuatku bertengkar dengan Umma, gadis bodoh. Batin Luhan

“bagaiman kalau kita minta maaf pada umma? Aku akan menemanimu”

Ahri hanya mengucapkan apa yang ada dipikrannya tanpa tahu apa akar permasalahan yang sebenarnya

“bukankah tidak baik bertengkar lama-lama dengan ummamu?”

Luhan membanting stir dan menghentikan mobilnya

“DIAMLAH!”

Luhan membentaknya dan Ahri terlihat begitu kaget

“tap…”

“dan berhenti memanggilnya umma, dia bahkan bukan umma-mu”

Ahri tak sempat melanjutkan kata-katanya, ia tak mengira bahwa Luhan akan mengatakan hal semacam itu. Ahri menundukan kepalanya lalu tersenyum lemah.

“ah itu benar .. maaf”

Ia menatap Luhan lembut dan namja itu kembali melajukan mobilnya tanpa melirik Ahri sedikitpun

“Aku akan menjemput Hera jadi aku hanya bisa mengantarkanmu sampai stasiun”

“EH?”

“Dia adalah pacarku, kau mungkin akan canggung jika harus satu mobil bersama kami”

Ahri tampak terkejut tapi ia berusaha kembali menormalkan ekspresinya

“tidak!  aku bisa mengatasinya. Aku benar-benar penasaran gadis seperti apa Heramu itu sehingga bisa begitu menarik dimatamu”

Ahri menyilangkan kedua tangannya, sebenarnya ia ingin marah pada namja itu, walau bagaimanapun ia adalah tunanganya, meski namja itu tidak pernah menyukainya setidaknya saling mejaga perasaan bukanlah hal yang beratkan? Ahri hanya sibuk dengan pikiranya matanya menatap pada jalanan yang dilaluinya.

Beberapa saat kemudian Luhan menghentikan mobilnya dan keluar dari sana. Ahri baru saja menyadarinya, lalu matanya menatap keluar sana. Ia hanya mengejapkan matanya sekali tanpa mengubah arah tatapanya, tiba-tiba perasaan yang aneh menjalar di hatinya saat ia melihat Luhan mengecup kening seorang gadis berambut pirang. Ahri tidak pernah tau bahwa namja itu bisa begitu manis, sebuah sikap yang tak pernah ia dapatkan dari namja itu. Seketika Ahri merasakan sesuatu yang bahkan tak ia mengerti

~itu benar, mungkin suasananya akan sangat tidak nyaman

Ia diam sejenak sebelum memutuskan untuk turun dari mobil Luhan.

~Aku melakukan ini bukan berarti aku melepaskanmu, Luhan ge

Ahri lalu memilih untuk pergi tanpa berniat untuk pamit dulu pada namja yang ia anggap tunangannya itu.

***

Choi Ahri kini hanya duduk disebuah stasiun tanpa melakukan apapun, ia hanya menatap kosong kedepan. Pikiranya entah melayang kemana. Ahri tampak begitu tak bersemangat. Sebenarnya, ia tidak berniat untuk bolos dihari pertamnya namun ia tidak dalam mood yang baik saat ini.

~tidak tidak tidak

Ahri menggelangkan kepalanya

~Seorang Choi Ahri tidak boleh menyerah semudah ini

Ahri mengangguk

~Itu benar! Kalau aku tidak berhasil mendapatkan Luhan ge, bukan Choi Ahri namanya

Ahri mengangguk lebih mantap kali ini dan tak menyadari orang-orang mulai menatapnya aneh

~Okay Choi Ahri. You Can do it!

“FIGHTING!!!!!” Ia berbicara pada dirinya sendiri tak peduli pada orang-orang yang mulai berbisik mengenainya.

Tanpa ragu langsung masuk kedalam bis begitu bis yang ditunggunya datang, meski ia tak pernah tarnsportasi umum sebelumnya namun ia pikir ini bukan waktu yang tepat untuk egonya.

 

***

Seoul High School, 9.30 AM

 

Bel tanda dimulainya jam pelajaran sudah berbunyi setengah jam yang lalu dan kini gerbang sekolahpun sudah ditutup. Ahri hanya berdiri mematung tanpa tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia hanya menghembuskan nafasnya berat

“Sial, padahal aku sudah memaksakan diri naik bis dan hasilnya tetep telat!”

Ahri langsung membalikan tubuhnya dan berniat untuk pulang saja namun wajahnya berubah cerah begitu menyadari bahwa ada oranglain yang datang terlambat juga

“HEII!” Ahri melambaikan tangan lalu berlari kearah orang tsb namun begitu jarak mereka dekat ia bisa langsung menyadari bahwa namja ini adalah namja yang dua hari lalu menganggunya di sebuah Klub malam

Ahri mencoba mengingat-ingat namanya dan

“KAIII?”

Ahri sangat terkejut bahwa ia kembali bertemu dengan namja yang benar-benar ia harap tak pernah ia jumpai lagi

Well, sometimes we just meet with unexpected person in unexpected place like that. Who knows? Maybe God has some plans

“KAU?” Kai membulatkan mata

“BAGAIMANA MUNGKIN KAU ADA DIMANA-MANA?”

Kai menatapanya tak percaya dan Ahri memukul kepalanya

“kau pikir aku hantu? Aku baru saja pindah kesini” Ahri mendelik sebal dan Kai mengusap kepalanya

“aissshhh kalau sudah bertemu gadis ini, hariku pasti akan jadi sial” Kai bergumam pelan namun Ahri dapat mendengarnya

“AWWWW!” kali ini Kai merasa kesakitan saat gadis itu menginjak kakinya

“YAAAA! TIDAK BISAKAH KAU BERHENTI MENYIKSAKU? AISSSH!!! PURA-PURALAH KAU TIDAK MELIHATKU DAN PERGILAH!”

Kai kembali berjalan

“CHAMKAMAN!!!”

“APA LAGI?”

Kai berbalik dan menatap kesal Ahri. Keduannya saling berbicara dengan nada tinggi

“Aku tidak akan menganggumu lagi, asal kau harus bisa membuatku masuk kesana tanpa harus ketahuan terlambat”

Kai tampak berfikir, tawaran yang cukup menarik, ia lalu menyunggingkan smirk khasnya

“Itu gampang, ikuti aku!”

Kai berjalan cepat dan Ahri mengikutinya dibelakang

“Aku tau jalan rahasia”

“Jinjja?”

“tentu saja”

“whoaaa daebak!!! sudah aku duga orang sepertimu pasti adalah seorang pembolos yang handal”

“Kau benar, selain bisa membolos lewat jalan ini, jika datang terlambat kau tak perlu khawatir”

Ahri mengangguk begitu mendegar semua ucapan Kai

“Jadi kau sering terlambat?” Ahri bertanya

“Kadang, kalau aku tidur terlalu larut”

“Ah Sekolah disini pasti sangat berat. Apakah gurumu memberikan banyka tugas?”

“Tidak juga” Kai berkata acuh tak acuh

“Llu kenapa kau tidur larut malam, aihhh aku tau . kau pasti terlalu asik clubbin sampai malam”

“Tidak juga, aku hanya menonton film dewasa semalaman”

“MWOOOOOOOOOOOO?” Ahri setengah berteriak dan Kai mengusap telinganya

“Kau berisik sekali” Sahut Kai

“Naiklah!” Kai berucap lagi

“huh?” Ahri tampak bingung

“Naik kepunggungku”

“huh?”

“aisssh! Cepat naik kepunggungku! Memangnya kau bisa memanjat tembok itu sendiri?”

“Ah anio!” Ahri menggelang begitu menyadari maksud ucapan Kai

“PPALI”

“Ah iya iya”

Ahri langsung naik kepunggung pria itu begitu mendapatkan perintah darinya. Begitu sampai disana Ahri langsng meloncat dan mendarat dengan sempurna, dengan seketika ia berada di dalam Seoul High School.

“Bagaimana?” Kai bertanya pada Ahri begitu ia menyusul memanjat tembok sekolah dan mendarat disamping Ahri

“itu benar-benar keren! Bagaimana mungkin kau bisa menemukan jalan rahasia seperti ini?”

Ahri tampak terkagum

“because I’m KIM JOGIN” Kai membusungkan dadanya bangga namun Ahri sekarang malah memutar bola matanya

“Ngomong-ngmong itu benar-benar cute”  Kai tersenyum penuh misteri pada Ahri

“hah?”

“Kau menyukai warna pink?” Tanya Kai

Ahri mengernyitkan dahi

“Bagaimana kau tahu?”

Kai langsung tertawa terbahak-bahak

“HAHAHAHAHAHA” Ia mengedipkan sebelah matanya pada Ahri sebelum menjawab

“Dari motif hello kitty yang kau pakai” Kai lalu berjalan menjauh dengan cool

Ahri hanya diam mematung. Tak mengerti arah pembicaraan Kai. Namun setelah beberapa saat ia baru sadar bahwa seingatnya ia mengenakan underwear pink bermotif hello kitty

~MWOOOOOOOOOOOO?

Ahri menjerit dalam hati. Itu berarti…..

“KAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!!”

***

 

 

CHAPTER THREE

(It’s Our roblem)

 

Kai berjalan dengan santai, sedari tadi seulas senyuman terus terlukis di wajahnya, sesekali ia terkekeh mengingat kejadian tadi.

Underwear hello kitty ? Haha dia kembali tertawa, itu mungkin sangat lucu baginya tapi disisi lain, jika mereka kembali bertemu nanti, gadis itu tak akan melepaskannya. itu pasti.

Kai terdiam sejenak, seharusnya sekarang ia berjalan ke kelas dan diam-diam masuk lewat pintu belakang, sepertia biasa. Namun, ia tidak mau menghancurkan moodnya yang  bagus ini dengan mengikuti pelajaran pagi yang begitu membosankan, oleh karena itu kini ia mengubah arah dan berjalan ke kantin belakang, tempat diamana ia selalu menghabiskan waktunya.

“bibi Ann, berikan aku satu kotak nasi” Kai berbicara dengan sumringah lalu duduk di kursi kantin. Wanita paruh baya yang di panggilnya bibi itu kini menggelangkan kepala

“Kau bolos lagi, Kai?”

“aigoo, sekarang aku sedang lapar bi, kita bicarakan itu nanti ya” Kai mengedipkan sebelah matanya

“ya ampun Kai, ayahmu pasti akan marah jika ia tahu kau sering membolos seperti ini” Bibi Ann tampak khawatir

“Kau harus mulai belajar dengan sungguh-sungguh Kai, kau tidak bisa bersikap seperti ini terus, bukankah kau harus meneruskan perusahaan ayahmu nanti? Oleh..”

Bibi Ann tidak melanjutkan ucapanya karena ia melihat, Namja itu kini diam, raut wajahnya berubah, ekpresi senangnya entah kenapa menghilang begitu saja

“Kai.. “

Kai masih belum menjawab namun kemudian namja itu tersenyum

“Aku tidak perlu belajar bi, Ayah sudah mempercayakan perusahaan pada Suho hyung, aku hanya perlu bersenang-senang dan menikmati hidupku saja, ah Suho hyung benar-benar bisa diandalkan”

 Kai kembali melahap sarapannya, entah mengapa meski ucapan namja itu seperti seseorang yang bahagia, seseorang yang mempunyai kebebasan, namun bibi Ann menangkap ekpresi sedih dari namja itu, walau sekilas.

“aigoo, kau lahap sekali”

Kai terkekeh sebelum menjawab

“itu karena aku belum sarapan dari pagi bi”

Bibi Ann kembali menggelengkan kepalanya

 “kalau begitu kenapa melewatkan sarapan pagimu, huh ? Bukankah pelayanmu di rumah sudah menyiapkan semuanya untukmu? Masakannya juga pasti enak-enak”

Kai tersenyum lagi

“masakan bibi yang paling enak” kemudian, namja itu mengacungkan jempolnya dan bibi Ann terkekeh

” kau ini bisa saja, setelah sarapan jangan membolos lagi”

“Arraseo, aku akan mengikuti kelas berikutnya”

Suara Kai terdengar dipaksakan dan itu membuat bibi Ann kembali tertawa

“Ya sudah nikmati sarapanmu, bibi harus menyiapkan yang lainya”

Kai hanya mengangguk pelan dan bibi Ann segera masuk kedalam

“Kau benar-benar menyukai tempat ini ya” Suara yang begitu familiar kini tertangkap pendengaran Kai, namun namja itu tetap melanjutkan sarapanya tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar tadi

Kini, Song Hera berjalan ke arah Kai dan duduk disampingnya

“Aku tau kau pasti ada disini, bolos lagi, hmm?” Gadis itu kini menatap Kai lekat

“Bukankah itu pertanyaan untukmu juga?” Kai menjawab tanpa melihat sedikitpun pada Hera

Gadis itu segera sadar bahwa iapun tengah bolos kini

 “Itu benar, aku hanya berencana untuk menemanimu. Maksudku, bukankah membosakan membolos sendirian? Lagipula bel istirahat akan segera berbunyi”

“Dan anehnya, membolos bersamamu lebih membosankan” Kai kini meneguk minumanya

Song Hera kini tersenyum lembut

“Kau tidak pernah berubah, sama seperti beberapa tahun yang lalu”

Kai menatap tajam pada Hera

“Jangan berkata seolah kau mengenalku”

Hera hanya diam, ia menatap balik pada Kai

“Bukankah aku memang mengenalmu?”

Kini Hera menatap Kai lebih dalam lalu menunduk

“Aku selalu berfikir apa kau akan bertindak sama seperti yang Luhan lakukan jika orang yang pertama kali aku temui adalah Kau..”

Gadis itu menghentikan kalimatnya sejenak, lalu tersenyum lemah

“bahkan sampai sekarang aku selalu berharap bahwa waktu akan kembali berputar dan berharap Kaulah yang menjadi penyelamatku, jika itu terjadi apa mungkin kini kaulah yang berada diposisi..”

Hera tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena kini Kai membanting sumpitnya

“Saat itu, aku sudah tau bahwa kau tak pernah pantas untuk Luhan”

Hera tetap tersenyum

“Kau masih peduli padanya, bukankah persahabatan kalian begitu menakjubkan? Bahkan setelah apa yang ia lakukan, kau masih peduli padanya”

“Itu sama sekali bukan urusanmu”

Kai beranjak dari sana dan mulai melangkah namun gadis itu kembali betanya

“Apakah aku sehina itu, Kai?”

Kai mengehentikan langkahnya lalu berkata

“Bukankah kau yang lebih mengenal dirimu sendiri, Hera-ssi? “

Dalam sekejap Kai berlalu dari sana dan Hera hanya diam terpaku lalu ia berdiri dan berjalan namun kembali menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah cermin, ia menatap kosong kedalamnya.

“Kadang aku berharap agar kau tak pernah terlahir kedunia ini, dengan begitu kau tak akan pernah bertemu dengannya dan terlihat begitu menyedihkan seperti ini”

Hera berbicara pada bayangannya sendiri.

***

Kai melempar minuman kalengnya, ia benar-benar berada dalam mood yang buruk saat ini. Ia kembali berjalan melewati aula. Bel istirahat sudah berbunyi sedari tadi, mungkin sebentar lagi bel masukpun akan segera terdengar, oleh karena itu kini ia berjalan ke arah kelasnya karena ia sudah janji pada Bibi Ann untuk tidak bolos lagi. Kai menghentikan langkahnya begitu menyadari siapa yang tengah berdiri tak jauh darinya, Luhan.

~Sial, batinnya

Ia merutuki dirinya sendiri karena memilih untuk berjalan melewati aula dan akhirnya berpapasan dengan orang yang benar-benar tak mau ia lihat untuk saat ini.

Kai membuang pandagannya dan kembali berjalan  melewati Luhan seolah ia tak melihat namja itu

“Kau bolos jam pertama?”

Luhan melontarkan pertanyaanya dan Kai menghentikan langkahnya, kini mereka berdiri saling membelakangi

“itu bukan urusanmu sama sekali” Kai hendak berjalan lagi namun Luhan kembali berkata

“Ayahmu akan marah besar Kai, bersikaplah dewasa dan mulai untuk belajar mengelola perusahaan”

“Dan aku sangat bosan untuk mengatakan bahwa suh..”

“Suho-hyunglah yang mempunyai tanggung jawab atas perusahaan ? berhentilah lari dari kehidupanmu Kai” Luhan melanjutkan kalimat Kai tadi, Kai tertawa kini

“Lari dari kehidupanku? Lari ? bukankah itu kata-kata untukmu juga?” Kai tersenyum sinis dan Luhan diam sejenak, ia tahu bahwa kini Kai mengubah topik pembicaraan mereka

“Kita sudah bersikap seperti ini untuk beberapa tahun Kai, katakan apa yang harus kulakukan untuk menebus semuanya?” Luhan berujar serius

“Tidak ada” suara kai berubah lebih dingin

“Kau boleh memukuliku sepuasmu Kai, buat aku meraskan kesakitanmu dulu, kau boleh mengirim ku kerumah sakit dan lakukan apapun yang kamu mau setelah itu lupakanlah semuannya dan kembali seperti dulu. Apa kau benar-benar tidak bisa?”

Kai mengepalkan tangannya dalam beberapa detik saja amarahnya bisa meledak

“Lakukan Kai”

“SIALAN KAU!!” Kai melayangkan tinjunya tepat kearah Luhan dengan keras dan namja itu kini jatuh tersungkur, Kai lalu mencengkram kerah baju namja itu, setetes darah meluncur di sudut bibir Luhan dan namja itu berusaha keras untuk tak menampakan rasa sakitnya

“AKU MEMANG BENAR-BENAR INGIN MENGHAJARMU DAN MENGHABISIMU SEKARANG  JUGA TAPI APA KAU PIKIR DENGAN MELAKUKAN ITU, SEMUANYA AKAN KEMBALI SEPERTI DULU , HAH!!! ?” Kai kembali memukul Luhan namun namja itu sama sekali tak melawan, ia bahkan tak berencana untuk membalas pukulan Kai

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

Luhan menatap Kai yang tengah menatapnya juga dengan tajam. Ia tahu bahwa namja itu kini tengah berusaha keras untuk menahan emosinya, Kai dengan segera melepaskan cengkramanya lalu berdiri dan hendak pergi

“Katakan apa yang harus aku lakukan kai”

Kai hanya diam, berdiri membelakangi Luhan. Memang  benar, sekarang namja itu tengah berusaha mengontrol emosinya dan berusaha berfikir jernih. Ia menghembuskan nafas beratnya dan beranjak pergi namun sesuatu melintas dipikarnya , kini ia menghentikan langkahnya.

“Apa yang akan terjadi jika perjodohanmu gagal? Apakah ayahmu akan mencoret namamu dari silsilah keluarga?”

Luhan tercengang, ia tahu kemana arah pembiacaraan Kai dan ia benar-benar tahu apa yang ingin Kai sampaikan

“Kau tidak perlu menyianyiakan waktumu untuk itu Kai, lagipula aku tidak berencana untuk mewujudkan keinginan keluargaku”

“Kau berusaha mengatakan bahwa Kau tak menyukai Ahri-mu?”

“Dengar Kai, gadis itu tidak ada hubunganya denganku. Kau tidak perlu membawanya dalam masalah ini”

Kai berbalik menatap Luhan, tetap dengan tatapan bencinya

“itu benar… aku lupa.. bahwa gadis yang benar-benar kau cintai adalah Hera” Kai tersenyum mencela

“Aku sempat berfikir untuk menghancurkanya karena  dengan begitu kau juga dengan otomatis akan hancur bersamanya tapi.. ini sangat membosakan. Gadismu itu terlalu mudah untuk jatuh kepelukan pria lain” Kai memamerkan smirk khasnya

Luhan mengeratkan jari-jarinya, kini ialah yang mengepalkan tanganya

“berhenti menyeret semua orang kedalam masalah kita Kai dan aku tidak suka kau berbicara buruk tentangnya”

“Apa? Tapi Itu benar, bahkan beberapa hari yang lalu aku melihatnya mabuk berat, aku benar-benar penasaran apakah dia tidur dengan seseorang setelah itu?”

“AKU BILANG BERHENTI  KAI!!” Kini Luhanlah yang berdiri dan memukul Kai tepat di wajahnya, Kai tersenyum sinis dan mengusap darah disudut bibirnya lalu membalas pukulan Luhan

Mereka terus berkelahi dan suasana disana mendadaka gaduh karena semua orang kini mulai berdatangan dan mengerumuni mereka.

***

Ahri berjalan malas, ia terus memainkan botol mineralnya, merasa bosan. Sedari tadi ia sama sekali belum mendapatkan teman dan kini ia harus makan sendirian. Dua puluh menit berlalu namun ia masih belum menyantap makananya, ia terus memandangi dua kotak yang ada didepanya, satu untuknya dan yang satunya lagi… seharusnya itu milik Luhan. Gadis itu memang bagun dini hari tadi  dan untuk pertama kalinya mencoba memasak, pelayan pribadinya bilang bahwa laki-laki pasti akan sangat senang bila seseorang memaskan sesuatu untuknya. Oh well, handmade. Namun sayangnya gadis itu tak sempat memberikanya pada Luhan karena namja itu terlalu sibuk dengan pacar tercintanya.

~Sigh

Ahri menghembuskan nafasnya lalu memasukan kembali dua bento itu kedalam tasnya, lalu berjalan untuk kembali kekelas. Ia tidak mood untuk makan sekarang.

“HEY CEPAT-CEPAT, KITA HARUS SEGERA PERGI KE AULA UNTUK MELIHAT PERKELAHIANYA” Seorang namja berteriak kearah temanya dan mereka langsung berlari. Ahri menatap kesekitar dan orang-orang berhamburan ke arah aula

Ahri bertanya pada seorang gadis yang hendak pergi kesana juga

“Ah, maaf .. eung sebenarnya apa yang terjadi?”

Gadis didepanya menjawab dengan tergesa-gesa

“Xi Luhan dan Kim Jongin tengah berkelahi” Gadis itu langsung berlari meninggalkan Ahri begitu menyelesaikan kalimatnya

“mwo? Apanya yang menarik dengan menonton orang berkelahi”

Ahri berbicara pada dirinya sendiri

Ia kembali berjalan dan..

“MWO ? XI LUHAN? LUHANKU?”

Ia berteriak pada diri sendiri begitu menyadari apa yang gadis tadi katakan

“aigoo Luhan ge” Dengan secepat kilat ia berlari kearah aula, ia benar-benar khawatir akan calon tunagannya itu. Sesampainya disana, ia segera menerobos kerumunan orang-orang

“persmisi”

ia berusaha keras untuk berjalan kedepan dan ingin segera memastikan bahwa Luhan baik-baiik saja.

Akhirnya setelah susah payah kini ia bisa melihat dengan jelas, disana Luhan dan

~Hey, bukankau itu Kai? Namja yang ia temui malam itu dan tadi pagi. Namja yang…

Ahri berhenti memikirkan kejadia tadi pagi, ia benar-benar malu dan kesal, terlebih lagi namjaa bernama Kai itu, kini malah berkelahi dengan Luhannya.

“Namja itu benar-benar..” Ahri menatap kesal pada Kai dari Jauh dan ia melihat dua orang temannya kini berusaha menahan Kai, mencoba menghentikan perkelahian mereka. Ahri mencoba mengingat siapa dua namja yang kini berdiri disamping kanan dan kiri Kai karena wajah mereka terlihat familiar.

~hell yaaa…

Ahri lebih kesal begitu menyadari bahwa kedua namja itu adalah orang yang malam itu bersama Kai saat di club, orang yang ikut menganggunya juga. Sehun dan Chanyeol .. jika ia tidak salah mengingat namanya.

Ahri mengubah arah tatapanya, disana Luhan juga ditahan oleh sahabatnya, ah itu Kris, Ahri masih mengingatnya betul, namja tinggi yang ia temui di apartemenya.

Ahri terdiam, di ujung sana ia melihat sesosok gadis yang ia yakini adalah kekasih Luhan, meski ia hanya melihatnya sekilas tadi pagi namun ia benar-benar masih mengingat wajah gadis itu. Ahri sekarang merasa bingung, haruskah ia berlari kearah Luhan? Mungkin gadis itu juga akan berlari keraah Luhannya dan ia akan segera terlupakan, terlebih lagi Gadis itu terlihat begitu panik dan khawatir namun apa yang ialakukan selanjutnya benar-benar membuat Ahri terkejut. Gadis itu tidak berlari kearah Luhan, namun kearah Kai. Benar saja, gadis itu.. mengahampiri Kai.

Didepan sana Luhan tampak sama terkejutnya dengan Ahri namun namja itu berusaha untuk menetralkan ekspresinya

“YAA KALIAN! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN HUH? CEPAT BUBAR DAN KEMBALI KE KELAS”

Semua orang yang ada disana dikejutkan oleh suara dari seorang ajushhi berpenampilan sangar

“oh gawat, Lee Soman seongseonim datang ayo kita bubar” seseorang berkata seperti itu dan dalam sekejap kerumunan orang-orang tadi langsung menghilang.

“Kalian berdua bereskan penampilan kalian dan temui saya di kantor”

“Ah! Dan Saya juga sudah menghubungi orang tua kalian”

Tuan soman itu segera pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Ahri tanpa pikir panjang kini berlari kearah Luhan

“Luhan ge, kau tidak apa-apa?”

Luhan masih menatap Hera yang kini tampak khawatir akan Kai, namun namja itu mengacuhkan Hera dan meninggalkanya. Kai berjalan kearah kantor diikuti oleh Sehun dan Chanyeol

“gwenchanayo. Kembalilah kekelasmu Ahri-ya” akhirnya Luhan menjawab Ahri

“tapi..”

Luhan menengok kearah Ahri dan ia melihat ekpresi  khawatir tergambar jelas dalam raut wajahnya. Luhan diam sejenak

“Aku akan baik-baik saja” Luhan tersenyum lembut pada Ahri lalu berdiri dan berjalan kearah kantor, meninggalkan Ahri yang masih menatap kedepan tak percaya

“Dia tersenyum padaku” Ahri berkata pelan pada dirinya sendiri

“Ini pertama kalinya ia tersenyum padaku! Whoaaa”

Ahri berdiri dan berkata dengan ceria

***

Nyonya Xi Hanri dan Tuan Cho Kyuhyun kini tengah berada di kantor kepala sekolah dan duduk berdampingan, tak lupa masing-masing disamping mereka ada Luhan dan Kai

“Aigoo, anakmu itu gengster atau apa? Lihat Luhanku sampai begini?” Umma Hanri berkata panik

“Maaf Hanri-ah tapi anakmu juga melukai Kai” Kyuhyun membela anaknya

“tapi Kyuhyun-ssi ini semua pasti gara-gara Kai” Nyonya Hanri tak mau mengalah

“Tidak-tidak, siapa tau anakmu yang memulainya” Timpal Kyuhyun

Kai maupun Luhan memutar bola matanya, jika diperbolehkan mereka ingin keluar dari ruangan ini sekarang juga. Namun untungnya, Tuan Lee Soman segera datang dan ceramah panjangpun di mulai

***

Mereka berempat keluar ruangan dan kali ini Nyonya Hanri maupun Tuan Kyuhyun tidak tampak membela anaknya masing-masing karena keduanya kini tengah menatap tajam pada anaknya

“Luhaney, sekali lagi kau berbuat seperti ini, Umma akan mengirimu keluar negeri. Aigooo kau benar-benar membuat malu nama keluarga kita, cepat pulang!”

Lee soman mempersilahkan keduanya pulang karena keadaan mereka tak memungkinkan untuk mengikuti pelajaran selanjutnya oleh karena itu Nyonya hanri kini menarik Luhan untuk pulang bersamanya, sedangkan Tuan Kyuhyun sudah beranjak pulang terlebih dahulu meski Kai masih tetap berada disana, sekarang namja itu baru hendak melangkah pergi namun..

“Umma Han!!!” Ahri melambaikan tanganya  dari jauh dan ia segara berlari untuk menghampiri nyonya Hanri

“Ah Ahri-ya cepat kemari” Raut wajah nyonya Han sedikit berbinar begitu melihat Ahri.

Kai tertegun sejenak lalu ia menatap kedepan sana, menatap Ahri yang kini hampir melaluinya

~kita lihat Luhan-ssi, apakah kau benar-benar tak menyukainya? Mari kita lihat apa kau benar-benar tak mau melakukan keinginan orang tuamu hanya untuk Hera?

Kai berbicara dalam hati lalu dengan tiba-tiba, ia mengehentikan langkah Ahri dengan menarik lengan gadis itu dan

~CUP

Nyonya Xi Hanri dan Luhan membulatkan matanya, dari jauh terlihat Song Hera yang juga menatap mereka berdua dengan tatapan tak percaya

Kai mengecup kening Ahri sekilas lalu berkata

“Sampai jumpa besok”

Setelah itu ia meninggalkan Ahri yang mematung, masih terkejut dengan perlakuanya yang tiba-tiba. Kai berjalan pergi meninggalkan mereka semua lalu tersenyum tipis

 

 

CHAPTER FOUR

(First Love)

 

            Nyonya Han memasuki rumah mewahnya dengan tergesa-gesa, ia tampak kesal bukan main. Dibelakangnya terlihat Luhan yang berjalan dengan malas

“Aissh, aku harus segera menyuruh Bibi Yu untuk membereskan kamar untuknya”

Setelah itu, Nyonya Han langsung berlari meninggalkan Luhan yang menatapnya datar.

“Bibi Yu!” Nyonya Han memanggil ketua pelayan di rumahnya dan dalam sekejap bibi Yu sudah ada disana

“Ah, ne nyonya”

“Tolong kau bereskan kamar di sebelah Luhan sekarang ya, Menantuku akan segera pindah kesini”

Nyonya Han tersenyum manis namun bibi Yu terlihat begitu kaget, seingatnya Luhan belum menikah sama sekali

“Baik nyonya” Bibi Yu segera beranjak kesana diikiuti dengan beberapa pelayan lainya

“ah iya, tolong kamarnya kau dekor semanis mungkin ya dengan dominasi warna pink”

“Nde, arraseumnida”

Mereka memberi hormat pada nyonya Han lalu bersiap untuk menjalankan tugas mereka

“Umma, apa yang akan kau lakukan?” Luhanbertanya pada ummanya dengan tatapan heran

Nyonya Han yang baru saja duduk santai di sofa kini beranjak dan memukul anak kesayangannya menggunakan tas kecil miliknya

“YAA! Kau masih bertanya huh? Tentu saja umma akan mengajak Ahri pindah kesini hari ini juga”

“umma..” Luhan tampak ingin menyanggahnya namun Nyonya Hanri kembali berbicara

“Luhaney apa kau masih tidak sadar, hmm? Kai itu sepertinya menyukai Ahrimu, nak. Kau harus bergerak cepat”

“Umma..” lagi-lagi Umma Han kembali menyela kalimat Luhan yang belum selesai

“Aissh, umma harus kerumah Kyuhyun sekarang lalu mengadukan tingkah anaknya. Seenaknya saja mencium calon tunangan orang. Dengar sayang, Kaulah calon tunangan Ahri bukan Kai, meski dia sahabatmu kau tetap tidak boleh membiarkannya mengambil apa yang menjadi milikmu. Arraseo?”

Luhan hanya menghela nafas

“Istirahatlah nak, umma akan mengunjungi Kyuhyun dulu..”

Umma Han segera beranjak darisana lalu

“ah tidak-tidak, aku harus menghubungi Ahri dulu” ia kemudian mendial nomor Ahri lewat ponselnya

Luhan tampak diam mematung di ruang TV. Apakah ia harus pasrah? Tapi, gadis yang kini ada dipikirannya hanyalah Song Hera bukan Choi Ahri.

Ah, berbicara tentang Song Hera, Luhan sadar bahwa ia harus menemui gadis itu nanti malam. Ada beberapa hal yang harus ia tanyakan padanya.

***

Hera’s apartmen . 8PM

 

Luhan menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan dan gadis itu, Song Hera, merasa tak nyaman dengan sikap namjanya

“Kau kenapa?” akhirnya ia memulai percakapan setelah tadi mereka saling diam, membuang waktu yang berjalan dengan sia-sia

“Apa kau menyukai Kai?” Luhan bertanya to the point dan itu membuat Hera sontak membulatkan matanya

“Apa maksudmu?”

“saat di sekolah tadi, kau berlari padanya bukan padaku. Kau menyukai Kai?” Kini Luhan menatap Hera lebih dalam

“aku..”

Semakin Luhan menuntut jawabanya, gadis itu semakin teringat kejadian di masa lalu, sebuah kejadian yang tak pernah ia lupakan sampai detik ini

[FLASH BACK]

6 Tahun lalu

Seorang siswi Sekolah Dasar  kini berjalan dengan lambat. Sepertinya sedari tadi ia terus menundukan kepala. Di sekitar sana siswa lainya berbisik membicarakan gadis tersebut

“Apa kau yakin ibunya seorang wanita bayaran?” seorang gadis berbisik pada teman yang berdiri di sebelahnya

“apa yang kau maksud wanita bayaran? Panggil saja ibunya pelacur. Itu lebih simpel” sanggah yang lainya

“itu benar bahkan sekarang ibunya menghilang entah kemana.. selain itu aku dengar ayahnya hanyalah seorang penjudi dan sering mabuk-mabukan” gadis berambut pendek kini bergabung untuk bergosip

“memalukan sekali, lalu darimana dia mendapatkan biaya untuk sekolah?”

“apa dia juga menjual harga dirinya?”

“OMOOOOO!” Teriak beberapa siswi yang lainnya

Gadis yang menjadi topik pembicaraan itu dengan jelas mendengar apa yang mereka katakan. Itu memang melukai perasaannya namun tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain diam

“Itu … mengerikan. Untung ini tahun terakhir kita. Setelah lulus aku harap aku tidak akan bertemu gadis dengan latar belakang sepertinya”

“Aku juga!!” Mereka semua berkata dengan serempak.

Song Hera hendak memasuki kelas namun beberapa murid perempuan kini menghadangnya

“Kau mau kemana? Masuk kelas kita? Tapi kau tidak pantas sama sekali untuk berada disini”

Song Hera hanya diam

“bagaimana mungkin anak pelacur sepertimu berada di sekolah elit seperti ini, huh?”

“aku mendapatkan beasiswa oleh..”
“Beasiswa? Apa kau yakin kau tidak menjual dirimu, Hera-shi?”

“hahahahaha” hampir semua murid disana lalu tertawa

“OMOOOO!! Lihat dia bahkan mengenakan kalung yang bagus Rin!”

Gadis bernama Rin itu kini mengambil Kalung yang dipakai Hera secara paksa hingga terputus, ia melihat bandul kalung tersebut lalu berkata

“Kau mencurinya dari mana?” Rin menatap gadis didepannya dengan rendah

“itu milik ibuku, tolong kembalikan” Hera hendak mengambil kalung tersebut namun beberapa teman Rin menahannya

“Ibumu? Bagaimana bisa ibumu membeli kalung sebagus ini? Ah.. benar! Diakan seeorang pelacur, kau ingin mendapatkan kembali kalaungmu? Ambilah..”

Rin mengarahkan tanganya pada Hera dan begitu Hera hendak mengambilnya Rin melemparnya pada Sunwa lalu dioperkan lagi pada Yuri dan terus seperti itu, membuat Hera belari kesana kemari sampai kalung itu kini dilemparkan lagi pada Rin

“kau mau ini?” Setelah kalimat terakhirnya Rin melemparkan kalung itu keluar jendela sehingga bandul kalung itu sedikit tergores begitu mendarat di lantai sekolah yang keras

Hera segera berlari keluar kelas diikuti Rin dan teman-temannya, kini bandul kalung tersebut malah dijadikan mainan oleh siswa laki-laki. Ditendang kesana kemari seperti sebuah bola sepak. Hera menitikan air matanya, itu adalah satu-satunya kenangan yang ia miliki dari ibunya. Sementara ia menangis siswa lainya bersorak ria dan menertawakanya

“APA KALIAN BISA BERHENTI MEMBUAT KEGADUHAN?”

Disana berdiri seorang namja dengan wajah mengantuknya. Ia berjalan dengan santai, namun siswa lainya sontak menghentikan semua aktivitas mereka, entah mengapa namun mereka jelas terlihat ketakutan.

“Aku sedang tidur di kelas sebelah dan tawa kalian begitu menggangguku”

“Aah mi  mianhaeyo” kata Rin dan mereka semua langsung berhambus ke kelas meninggalakan Hera yang masih menangis

Namja itu kini mengambil bandul krystal yang tergeletak di lantai, seperti barang yang tak berharga sama sekali.

“ini milikmu?” namja itu bertanya pada gadis yang kini masih menundukan kepalanya dan menangis

“Kalau kau tak menjawab, aku anggap ini milikmu”

Namja itu memegang tangan Song Hera dan meletakan bandul krystal itu di telapak tangannya setelah itu ia pergi begitu saja.

Hera menghentikan tangisannya, meski matanya masih tampak berkaca-kaca. Ia melihat bandul krystal milik ibunya dan menggenggamnya erat, merasa lega. Setelah itu ia melirik pada namja yang kini tengah berjalan meninggalkannya. Entah mengapa namun namja itu tak mengenakan seragam, sebuah kaos bolalah yang dipakainya. Song hera menatap punggung namja yang semakin menjauh itu, ia tersenyum lemah dan berusaha mengingat nama yang tertulis di belakang kaos yang dikenakan namja tersebut, tepat di atas nomor 88 tertera “ Kim Jong In”.

Setelah tahun kelulusan Hera tak pernah bertemu lagi dengan namja itu, ia dengar namja bernama Kim Jongin itu meneruskan sekolahnya diluar negeri . kehidupannya sejak saat itu mulai membaik, saat memasuki sekolah menegah pertama, beberapa penderitaanya mulai berkurang. Suatu malam, saat ia berlari ketakutan dari ayahnya yang sedang mabuk, seorang anak laki-laki bernama Xi Luhan menyelamatkannya. Mebuat ayah yang begitu ia benci mendekam di penjara atas perbuatannya. Xi Luhan perlahan menjadi temannya dan memperkenalkan gadis itu pada Nyonya Hana, seorang pembisnis kenalan ibunya, seorang wanita yang kemudian menngangkat Song Hera sebagai anak karena kepribadianya yang baik dan cerdas. Seiring berjalannya waktu gadis itu menjalin hubungan dengan Xi Luhan dan saat memasuki Sekolah Menengah Pertama entah apa yang direncanakan oleh takdir namun melalui Xi Luhan pula, ia kembali di pertemukan  dengan Kim Jongin, namja yang entah bagaiman selalu ia anggap sebagai cinta pertamanya.

.

.

.

“Kau menyukainnya Hera-ah?”

Suara Luhan membuyarkan nostalgianya. Hera diam sesaat dan kini menatap Luhan balik

“aku.. aku hanya menyukaimu” ucap Hera dan beberapa detik kemudian Luhan tersenyum sinyis

“Entah mengapa tapi aku merasa kau sedang berbohong padaku kali ini” Luhan menatap Hera lebih dalam

“aku…”

“empat hari yang lalu saat aku menghubungimu, kau selalu sibuk . siapa yang kau hubungi?”

Hera tertegun, jelas saat malam itu ia terus menghubungi Kai meski pada akhirnya namja itu malah menyuruhnya berhenti menghubunginya.

“aku menghubungi umma”

Luhan kembali tersenyum sinis

“Kau menghubungi Kai, Hera-ah dan jawabanmu tadi semakin meyakinkanku jika kau memang berbohong.. sejak awal”

Hera sedikit terkejut dengan pernyataan Luhan, ia tidak pernah mengira bahwa namja itu akan mengecek ponselnya..karena sepengetahuaanya namja itu sangat menghargai privasi seseorang. Tapi dengan sekejap, ia kembali menetralkan ekspresinya

“mianhaeyo Luhan tapi…” Hera menghentikan kata-katanya karena Luhan kini terlihat marah

“Hentikan semua kata-kata bohongmu Hera”

“Aku menghubunginya karena aku selalu merasa bersalah atas kejadian tiga tahun lalu , aku..”

“BERHENTI MEMBICARAKAN ITU! MASALAH TIGA TAHUN LALU ADALAH URUSANKU DAN KAI!” Luhan menaikan nada bicaranya

“tapi aku adalah alasan di..”

Luhan mengacak rambutnya frustasi dan bangkit dari duduknya

“Untuk sementara kita tidak perlu bertemu dulu”

Ia lalu meninggalkan Hera yang melihatnya dengan tatapan sendu. Begitu namja itu menghilang dari pandanganya , gadis itu mengeluarkan sebuah bandul krystal yang sudah terlihat usang, sebuah benda yang selalu ia bawa kemanapun. Lalu ia tersenyum lemah dan ingatanya kembali pada masa dimana ia kembali bertemu dengan Kai, cinta pertamanya.. namun sayang, saat mereka dipertemukan kembali namja yang selalu ada dihatinnya itu tak mengingatnya sama sekali.

Hera lalu menatap kedepan. Ia sadar akan hal lainnya , bahwa sekarang Xi Luhan.. satu-satunya namja yang ada disampingnya kini dijodohkan dengan gadis lain

“sepertinya aku memang ditakdirkan untuk kehilangan segala hal”

Ia lalu melihat keluar jendela, disana terlihat kota Seoul yang gemerlap kini dibasahi hujan yang turun dengan deras.

***

“Aigoo Ahri sayang, Luhan tidak mengangkat teleponnya”

Nyonya Hanri terlihat begitu gelisah, karena beberapa menit lagi ia harus pergi ke bandara Incheon untuk penerbangan keluar negeri dan urusan bisnisnya. Namun ia tak mungkin meninggalkan Ahri sendiri, gadis yang baru saja ia ajak tinggal bersama.

Nyonya Hanri kembali mendial nomor anak kesayanganya namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban. Oh yaampun, setidaknya jika ada Luhan disini ia bisa menemani Ahri. Gadis yang kini duduk di depan Nyonya Han beranjak dan menghampiri wanita itu

“gwenchana umma, jika kau harus pergi .. itu tidak apa-apa”

“Apa kau akan baik-baik saja?”

“nde umma, lagi pula bibi Yu ada disini kan?”

“ah iya tapi umma tidak enak meninggalkanmu begitu saja” Nyonya Han kini terlihat khawatir namun Ahri tersenyum lembut padanya

“aku akan baik-baik saja, umma tak perlu khawatir”

“Aigoo… Ahriku benar-benar begitu pengertian ne?”

Nyonya Han lalu memeluk Ahri . Meski Ahri terlihat begitu terkejut namun ia kemudian tersenyum, jika saja ia tak berusaha dengan kuat, mungkin kini air matanya akan meluncur dengan bebas..

Tidak, bukan karena ia sedih namun ia bahagia karena nyonya Han memperlakukannya dengan sangat baik. Begitu berbeda dengan orang tuanya yang selalu sibuk akan pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan.

Nyonya Han lalu melepas pelukannya dan bersiap untuk pergi, Ahri lalu mengantarkannya sampai kedepan dan mengucapkan salam perpisahan

“Hati-hati dijalan umma”

“hmm! Kau juga jaga diri baik-baik ne? Umma akan kembali 2 minggu lagi. Jika ada apa-apa tentang Luhan kau bisa menghubungiku”

Ahri mengangguk mantap dan ia melambaikan tangan saat Nyonya Han kini memasuki mobilnya dan dalam sekejap  mereka menghilang dari pandagannya. Gadis itu kembali merasa sendiri.

***

10 PM

 

Ahri menatap dingding langit dengan tatapan kosong, kamar barunya terasa begitu nyaman namun ia tak bisa tidur karena suara hujan dan gelap diluar sana membuatnya takut. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan begitu ia keluar kamarnya

“WHOAAA LUHAN GE!!”Ahri langsung berlari kearah Luhan yang kini hendak memasuki kamarnya yang tepat berada samping ruangannya.

“Kenapa kau basah kuyup seperti ini?” Ahri terlihat begitu khawatir

“Apa yang kau lakukan disini?” Bukannya menjawab pertanyaan Ahri namja itu malah balik bertanya namun ia segera mengingat sesuatu

“Ah benar, umma menyuruhmu pindah kesini”

“Nde .. oleh..”

Belum sempat Ahri menyelesaikan kalimatnya, Luhan langsung masuk kekamarnya meninggalkannya sendiri. Ahri terdiam.. ia kembali merasa takut begitu suara gelap yang keras terdengar diluar sana. Tanpa pikir panjang ia mengetuk pintu kamar Luhan

“ada apa?” Luhan memang mebuka pintunya namun wajahnya terlihat kesal

“a aku …”

Ahri terdiam, ia tak mau mengatakan kalau ia tengah ketakutan saat ini

“aku .. ah apa aku boleh meminjam peta sekolah? Karena aku murid baru, aku belum terlalu hafal tempat-tempat disana dan ah punyaku hilang”

Luhan masuk lagi kedalam, setelah beberapa saat kemudian ia keluar dan melemparkan peta itu pada Ahri

~BANGGG

Luhan menutup pintu kamarnya dengan keras.

15 menit berlalu dan Ahri masih tetap berdiri didepan kamar luhan, ia kembali mengetuk pintu

“APA LAGI?” Luhan keluar dan menatap Ahri dengan kesal

“a ku mau pinjam novel. Ah iya.. novel. Aku benar-benar merasa bosan”

Seperti yang dilakukan Luhan tadi, kini namja itu melemparkan sebuah novel pada Ahri dan

~BANGG

Ia kembali menutup pintu kamarnya dengan keras

15 menit berlalu dan Ahri masih setia dengan posisinya tadi . Ahri kembali memutuskan untuk mengetuk pintu Luhan

“Luhan ge…” ia berbicara dari luar dan

“APA LAGI SEKARANG?” Luhan sepertinya benar-benar marah kali ini dan itu membuat Ahri ketakutan

“a ah tidak”

“jangan menganggu lagi!” Luhan hendak menutup pintunya namun Ahri segera berbicara

“sebenarnya…

“sebenarnya aku tidak mau kembali ke kamarku karena aku.. takut gelap. Hehe” Ahri mengatakan kalimat itu dengan wajah polosnya

Luhan memutar bola matanya dan menarik gadis itu masuk ke kamarnya

“Aku mau tidur, kalau kau tak mau kembali ke kamarmu kau bisa diam disini, terserah.. lakukan apapun asal jangan mengangguku”

Beserta kalimat terakhirnya Luhan mematikan lampu kamarnya dan berbaring di kasur kesayangannya.

Ahri mempoutkan bibirnya, entah apa yang harus ia lakukan oleh karena itu ia hanya duduk di depan meja belajar Luhan.

~ah.. setidaknya aku tak sendiri. Batinnya

Ia lalu menatap kesekitar dan mengamati benda-benda milik Luhan serta dekorasi kamar itu. Ia lalu tersenyum dan melihat kearah Luhan yang kini terlelap. Dua puluh menit berlalu dan ia hanya duduk disana sedari tadi

“aha!” Tiba-tiba terlintas ide yang begitu membuatnya senang.

Ahri kini berdiri dan mulai berjalan menghampiri Luhan, ia benar-benar inign melihat bagaiman wajah namja itu saat tertidur

~whoaa nomu kyeopta

Ahri menatap angelic-face miliik Luhan, namja itu tetap terlihat tampan sekalipun saat terlelap. Ahri sedikit terkekeh lalu mengambil ponsel miliknya, bermaksud untuk mengabadikan figur wajahnya lewat foto dan

CEKREK….

Begitu ia mendapatkan foto namja itu, dengan segera ia menyimpanya dan berencana untuk mengambil foto lain namun tiba-tiba seseorang menggenggam pergelangan tangannya dan

“apa yang kau lakukan?”

Ahri membulatkan matanya dan berusaha untuk kabur namun tangan Luhan menariknya dengan kuat membuatnya terjatuh tepat kepangkuan Luhan, oh …. gadis itu kini berada di atas Luhan dan wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi saja . Ini benar-benar membuat jantung Ahri berdegup begitu kencang

~apa yang harus aku lakukan?

Batinnya

***

CHAPTER FIVE

(Rain hater)

 

            Ahri tertegun sejenak, ia hendak menjawab Luhan namun dilihatnya namja itu tengah berbicara dengan mata tertutup, oh hanya mengigau rupanya. Ahri menghela nafas.. phew…

“Hampir saja”

Namun dengan tiba-tiba Luhan ambruk dan jatuh tepat di atasnya, Ahri tercengang

“Lu..Luhan ge”

Ahri menyentuh lengan Luhan berusaha membangunkan namja itu agar segera merubah posisinya, namun saat itu pula Ahri merasakan bahwa sekujur tubuh namja itu terasa panas

“aigoo!”

Ahri dengan sekuat tenaga mengubah posisi mereka dan membuat luhan kini terguling dan tertidur disebelahnya, Gadis itu lalu bangun dan menyentuh dahi Luhan

“gege benar-benar demam”

“apa yang harus aku lakukan?”

Ahri terlihat bingung namun rasa khawatirnya terlihat begitu mendominasi raut wajahnya. Oleh karena itu ia segera berlari keluar kamar dan hendak mengetuk pintu kamar bibi yu

~tapi, bibi Yu pasti sudah tidur

Ahri tertegun sejenak, walau bagaimanapun ia tidak tahu dimana letak Bibi Yu menaruh obat-obatan tapi ia juga merasa tidak enak jika harus membangunkannya. Ahri berfikir lagi

~Mungkin lebih baik aku mengompresnya dulu

Ahri mengangguk mantap lalu segera berlari kedapur, mengambil air dingin dan handuk kecil sebelum kembali berlari ke kamar Luhan

“Pasti karena kau pulang basah kuyup tadi. Kau harus menjaga kesehatanmu, Luhan ge”

Ahri berbicara pelan lalu meletakan handuk kecil di dahi Luhan dan melingkarkan selimut itu sampai menutupi badan namja didepanya.

~aku harus membeli obat untuknya tapi.. aku takut

Ahri terdiam masih sibuk dengan argumen-argumen dalam hatinya, walau bagaimanapun ini sudah larut malam dan diluar hujan masih turun cukup deras

~tapi aku tidak boleh membiarkan Luhan ge sakit

Ahri menghela nafas

“Luhan ge, aku akan membeli obat dulu, aku akan segera kembali”

Ahri berbicara pada Luhan yang masih tertidur, digengggamnya tangan namja itu erat, benar saja suhu badanya semakin tinggi, ia harus segera membeli obat sekarang juga.

Ahri keluar dengan tergesa dari kamar Luhan dan segera menuruni tangga. Ia mengambil payung berwarna putih lalu bergegas keluar, berjalan menerobos hujan hanya membeli obat untuk Luhan.

Ia berjalan dengan hati-hati mengingat jalanan menjadi begitu licin karena air hujan yang membasahinya. Di tangan kananya terdapat tas plastik berisi obat yang baru saja ia beli sedangkan tangan kirinya mengenggam payung.

Suara gelap yang memekakan telinga kembali terdengar dan hujanpun malah turun semakin deras. Ahri menatap jalanan yang kosong lalu mengeratkan genggamanya pada payung di tangan kirinya, ia berharap agar tak ada hal buruk yang akan terjadi padanya karena situasi sekarangpun sudah membuatnya ketakutan. Jika boleh jujur, gadis itu ingin menangis saat ini juga.

Ia kembali melangkahkan kakinya namun dari belakang ia melihat bayangan hitam dan tepat saat Ahri memalingkan badanya seseorang datang dan membekap mulutnya.

***

Seoul, 11PM

 

Kai membanting pintu mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi

“Sial.. hanya karena hujan, aku jadi terlambat” Ia terdengar menggerutu lalu ponselnya berdering, menandakan sebuah panggilan  masuk, ia lalu memasang headsetnya dan menjawab

“Yeobseo”

“ya!! Kkamjong! Kau masih dimana huh? aku dan sehun sudah menunggumu dari tadi. Kita jadi berpesta tidak?”

“tunggu 15 menit lagi dan aku akan sampai disana” Kai masih tetap fokus pada jalanan didepannya.

“Aku sudah menunggumu sejam, kau tau? Menyebalkan sekali, cepat datang k..”

“cerewet sekali! Aku sedang dalam perjalanan”

Tututututututututut

Kai memutuskan panggilan Chanyeol dan mempercepat laju mobilnya

Karena besok weekend ia tidak perlu menghadiri sekolah yang membosankan dan itu berarti :

Saatnya pesta sampai pagi. Kai menyunggingkan senyum khasnya, baginya masa muda harus dinikmati sebisa mungkin dan kehidupan yang seperti ini adalah gaya hidup yang paling menyenangkan .

Ia kembali berfokus kejalanan namun ia melihat sosok gadis yang ia kenal kini berlari dan menjatuhkan payungnya, berbelok ke gang kecil diikuti dengan sosok pria dibelakangnya.

~SHIT!

Ia berujar kesal karena kedua orang tadi menghilang dari pandaganya namun ia yakin gadis tadi adalah Choi Ahri dan situasi tadi ia yakini adalah sesuatu yang buruk.

Kai menepi mobilnya dan segera berlari keluar, ia mengambil payung ahri dan berlari menerobos hujan, mengikuti kearah gadis itu berlari tadi. Begitu ia belok ke gang tadi, ia melihat Ahri yang tengah berusaha melepaskan cengkraman pria yang kini berusaha menciumnya secara paksa. Kai menjatuhkan payungnya.

“Menyentuhnya, berarti kau siap mati”

Suara Kai membuat pria tadi menghentikan aktifitasnya, Lalu tanpa pikir panjang ia memukul pria tersebut dengan keras, memukul, memukul dan memukulnya lagi sampai pria itu tersungkur ke aspal

“Berdiri!” Perintah Kai, namun begitu pria itu berdiri Kai kembali melayangkan tinjunya, darah yang mengucur dari pria tersebut tersapu oleh air hujan yang turun. Kai mencengkram kerah pria tersebut

“Kau mabuk rupanya, tapi kau menyentuh gadis yang salah”

“Ma maafan saya”

Kai mengeluarkan tatapan tajamnya lalu mencengkram kerah namja itu semakin kuat dan tersenyum

“Apa aku harus membawamu ke polisi atau membunuhmu saja?”

Kai semakin mencegkram kerah namja itu, membuatnya sulit bernafas

Ahri yang tengah gemetar lalu mencoba melepaskan cengkraman Kai pada pria tadi

“Kai lepaskan Kai, itu cukup, kau akan membunuhnya”

“Memang kenapa jika aku melakukanya,hm?”

Namja didepanya semakin meronta, hampir kehabisan nafas

“KAI!!” Ahri berteriak dan Kai melepaskan cengkramanya, begitu lepas namja itu segera berlari sempoyongan

“aku mengingat wajahmu, aku akan membunuhmu nanti”

Pria tersebut mengeluarkan ancamanya pada Kai sebelum benar-benar lari dari sana.

Kai mengepalkan tanganya, ia berusaha meredam emosinya

“APA KAU BODOH? BERJALAN SENDIRI DI MALAM SELARUT INI, HUH?”

“APA YANG AKAN KAU LAKUKAN JIKA AKU TAK ADA DISINI, COI AHRI?”

Kai berteriak pada Ahri lalu berbalik menatap gadis tersebut.

Ahri hanya menangis dan menundukan kepalanya, sebelum kejadian inipun ia sudah merasa ketakutan, mendengar bunyi gelap yang begitu keras, berjalan di jalanan yang sunyi, menerobos hujan yang deras, sebelum kejadian inipun ia sudah merasa takut, ia takut gelap, ia takut hujan, sendiri seperti tadi hanya mengingatkanya pada masa lalu yang ia takuti dan kejadian tadi membuatnya semakin bergetar. Ia kembali terisak dalam tangisnya.

Kai terdiam, entah mengapa kini ialah yang merasa bersalah karena telah berteriak dan memarahi gadis didepanya, jelas-jelas gadis ini terlihat ketakutan dan ia membentaknya tadi.

Kai menarik tangan Ahri lalu membawa gadis itu kedalam pelukannya

“Jangan menangis lagi, aku ada disini”

Kai menyentuh rambut Ahri dan berusaha menenangkannya

“Kau akan baik-baik saja” Kai semakin mengeratkan pelukanya

Untuk pertama kalinya Ahri merasa aman berda di dekat Kai, namja yang akhir-akhir ini mengacaukan kehidupannya, namja  yang sering berbuat seenaknya, namja yang suka menganggunya, namun malam ini namja itu pula yang menyelamatkanya.

“Aku akan mengantarkanmu pulang”

Kai melepaskan pelukannya dan mengenggam tangan Ahri. Ahri menyeka air matanya dan berusaha mengeluarkan suara

“aku tinggal di rumah Luhan”

Kai mengerutkan dahinya, itu membuatnya sedikit terkejut memang. banyak hal yang ingin ia tanyakan namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat

“hm”

Kai hanya menjawab Ahri singkat lalu menuntun gadis itu dan membukakan pintu mobilnya untuk Ahri

“masuklah”

Begitu Ahri masuk, Kaipun melakukan hal yang sama namun sebelum menjalankan mobil, ia mengambil jaket yang tersampai di joknya, mengambilnya lalu meletakanya tepat di badan Ahri

“Kai..” Ahri berusaha melepaskannya dan memberikanya pada Kai

“Pakai saja”

“Tapi kau..”

“Pakai saja, Aku ini laki-laki Ahri, aku tidak akan mati hanya karena kedinginan”

Kai berbicara enteng namun Ahri hanya memandangnya lekat, namja ini memang sering bertindak seenaknya dan mengeluarkan apapun yang ada dipikiranya lewat kata-kata yang apa adanya pula. Itu memang menyebalkan bagi Ahri namun malam ini ia merasa namja itu membuatnya tenang. Mungkin suatu saat nanti mereka bisa menjadi teman yang baik. Ahri berfikir dan masih menatap Kai lekat

“Jangan melihatku seperti itu atau kau akan jatuh cinta padaku nanti” Kai tersenyum namun masih fokus pada jalanan di depannya

Ahri mempoutkan bibirnya dan mengalihkan pandagannya ke sembarang arah.

Ia salah.. namja ini tetaplah menyebalkan.

***

Luhan terbangun begitu rasa haus menggerogoti tenggorokanya. Ia merasakan badanya panas dan sakit

“pusing sekali”

Luhan berujar lemah dan berusaha bangun, ia lalu menyadari bahwa seseorang telah menaruh kompresan dikepalanya.

Ia encoba mengingat-ngingat kejadian sebelumnya, seingatnya Ahri tadi berada disini dan kemana gadis itu sekarang? Bukankah ia bilang ia takut gelap dan hujan?

~aissh

Luhan beranjak dari tempat tidurnya dan mengecek kamar ahri sebelum turun menuju dapur

“ia tidak ada dikamarnya”

Luhan bergumam pelan

~ gadis itu merepotkan saja, apa dia pergi clubbing? Tidak mungkin

Luhan lalu mengambil sebotol air mineral dan meminumnya dengan perlahan, tak lama kemudian ia mendengar suara mobil di depan rumahnya. Luhan terdiam sejenak lalu berfikir

~apakah Ahri? Atau umma? Mana mungkin

Luhan lalu berjalan dengan lemah kepintu depan dengan langkahnya yang lambat. Panas badanya semakin menjadi. Tapi ia harus memastikan dulu kemana gadis itu pergi, walau bagaimanapun karena Ahri tinggal denganya mau tidak mau ia juga menjadi tanggung jawabnya sekarang. Jika ada yang terjadi pada gadis itu, sudah dipastikan eommanya akan memarahinya habis-habisan.

Tepat saat ia membuka pintu saat itu pula Ahri ada disana

“Luhan ge?”

“Ahri?”

Mereka berbicara berbarengan

“Kau… darimana?”

“Aku… sudah membeli obat untukmu dan tadi kehujanan jadi Kai mengantarkanku pulang”

Luhan membulatkan matanya, gadis itu basah kuyup seperti ini hanya untuk membeli obat? Untuknya? Luhan menatap Ahri lekat

~gadis ini..

Batinnya

“Bagaimana keadaanmu Luhan ge?” Ahri tersenyum pada Luhan namun entah mengapa namja itu merasa bahwa ada yang salah dengan Ahri, terlebih mata gadis itu terlihat sembab

“Aku merasa lebih baik”

“Meski begitu kau harus tetap minum obatmu, ini” Ahri kembali tersenyum dan menyerahkan kotak obat yang digenggamnya

“Ah..” Luhan hanya mengangguk dan mengambil kotak obat tersebut. Ia ingin mengucapkan terimakasih namun entah mengapa kata itu tak kunjung terucap dari bibirnya. Mereka berjalan menuju kamar masing-masing. Luhan berhenti didepan pintunya dan berfikir sejenak

“Kalau kau takut gelap kau boleh tidur dikamarku asal tidak menggangguku saja”

Luhan tak percaya bahwa kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya, mungkin melihat keaadaan Ahri, membuatnya simpati secara tiba-tiba

“ta tapi..” Ahri masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Luhan

“aku tidak akan macam-macam jika itu yang kau takutkan” Luhan memastikan bahwa dirinya tak akan berbuat apa-apa pada Ahri

“eh? Ti – tidak aku tidak berfikir seperti itu”

“kalau begitu cepatlah ganti bajumu “

“i iya. Gomawo”

***

Sinar matahari menelusup keselasela gorden kamar Luhan, membuat Ahri yang tertidur lelap kini mulai membuka matanya, sedkit merasa silau.

“ah.. sudah pagi”

Ahri menggeliatkan badanya dan saat ia berpaling kesebelah kiri ia hampir saja menjerit jika tak segera membungkam mulutnya menggunakan tanganya sendiri. Ia begitu kaget saat melihat Luhan tertidur disebelahnya tanpa mengenakan baju atasan. Ahri segera membuka selimut dan mengecek kondisinya

“PHEWW”

Ia bernafas lega saat menyadari ia masih mengenakan pakaian yang lengkap

~aigoo kenapa aku berpikir macam-macam

Ahri menggelengkan kepalanya saat pikiranya melantur jauh entah kemana. Lucu memang, karena tak seharusnya ia berpikir seperti itu, namun melihat namja itu topless sukses membuat pipi Ahri bersemu merah.

~aigoo, aku lupa kalau kebiasaan Luhan ge saat tidur memang seperti itu.

Ahri bangun dan menyelimuti Luhan

“demamnya sudah turun” Ia lalu membuka gorden kamar Luhan dan beranjak pergi ke kamarnya, pergi bershower lalu mengambil selembar kertas dan menuliskan sebuah pesan singkat disana

“Selamat pagi my Luhaney J terima kasih sudah mengijinkanku tidur di kamarmu, maksudku.. kau benar-benar mengerti bahwa aku sangat takut gelap dan hujan. Aku ingin menyiapkan sarapan pagi untukmu, tapi Bibi Yu sudah menyiapkan semuanya…hu hu Mungkin lain waktu aku akan memasakan makanan favoritmu. Cepat sembuh. aku mencintaimu❤

Your beloved fiance

Choi Ahri ^^ “

Ahri kembali ke kamar Luhan dan meletakan note itu di meja belajarnya

“Annyeong Luhan ge, Aku akan segera kembali nanti”

Ia berbicara pelan. Ahri lalu bergegas pergi, ia berencana untuk mengunjungi Kai dan membawakanya bento sebagai rasa terimakasih karena sudah menolongnya tadi malam.

***

~DingDong

Ahri kembali menekan bel rumah Kai berkali-kali tapi tak ada satupun yang membukakan pintu untuknya sampai saat ini

“Apa dia masih tidur?”

“Benar-benar anak malas” Ahri terlihat cemberut lalu menekan bel lagi

~DingDong

Ahri berdecak sebal lalu berencana untuk pergi saja namun ia mendengar suara pintu yang terbuka dan..disana berdiri Sehun yang tampak masih mengantuk

“Kau?” Ahri mengingat bahwa namja ini adalah salah satu dari teman Kai

“Apakah aku salah alamat? Bukankah ini rumah Kai?” Ahri terlihat kebingungan sedangkan namja di depanya hanya mengucek matanya lalu terlihat terkejut begitu menyadari siapa gadis ini

~bukankah gadis ini adalah …aisssh

Sehun mengingat kejadian malam itu, dimana ia, Kai, dan Chanyeol bermain-main untuk menganggunya dan gadis ini berubah mengerikan begitu Kai dengan tak sengaja melontarkan kata “bitch” Oh, wajah Sehun terlihat ketakutan kali ini

“a ah i iya . kau tidak salah alamat. Masuk saja, ah iya masuk” Sehun tersenyum kaku sedangkan Ahri hanya menatap namja itu bingung

“duduklah, aku akan memanggilkan Kai untukmu”

“Nde, gomawo”

Ahri tersenyum manis dan itu membuat Sehun tertegun

~tapi gadis ini tak terlihat mengerikan

“ah tunggu sebentar”

Sehun berlalu dan segera masuk ke kamar Kai

“KAI! Cepat bangun! Kau tau gadis waktu itu ada disini” Kai masih tak bergeming

“Kai….” Kai masih terlelap dalam tidurnya

Sehun beralih pada Chanyeol

“Hyung! Cepat bangun! HYUNGGGGGG!” Sehun sedikit berteriak dan itu berhasil membuat Chanyeol terbangun

“apa yang kau lakukan? Aku masih nagntuk”

“Cepatlah bangun hyung, kau tau gadis yang ada dibar itu? Dia ada disini”

“gadis yang mana? Banyak gadis yang kita temui di bar” Chanyeol masih menutup matanya

“Gadis yang melempar Kai dengan high heelsnya”

“MWO?” Kalimat Sehun berhasil membuat Chanyeol terbangun dalam sekejap

“Apa yang dia lakukan disini?”

“Mollayo.. Sepertinya Kai mencari masalah lagi dengannya”

“Jinjjayo?”  Chanyeol terkejut

“aisshh, KAI !! Cepat bangun Kai!” Chanyeol berusaha membangunkan Kai namun hasilnya nihil

“bagaimana jika gadis itu marah karena Kai tak juga menemuinya?”

Sehun terlihat panik namun kemudian Chanyeol menampkan senyum misteriusnya dan memandang sehun. Tak lama keduannya lalu terkekeh

“KAJJA!”

Sehun dan Chanyeol dengan kompak menggotong tubuh Kai dan berjalan ke kamar mandi dengan sigap, mereka lalu berhitung

Hana

Dul

Set

Tepat saat hitungan ketiga  dilemparkannya tubuh Kai tepat kedalam bathub yang sudah terisi air penuh, mereka segera berlari meninggalkan kamar dan menuruni tangga,  tepat setelah itu terdengar suara Kai yang mengumpat kesal.

“Annyeong eung…” Chanyeol menghentikan kalimatnya

“Aku Choi Ahri” Ahri mengulurkan tangannya  dan baik Sehun maupun Chanyeol, mereka saling bertatapan

“Ah Chanyeol imnida” ia bersalaman dengan Ahri dan

“Sehun imnida”

Ahri mengamati wajah ereka dengan seksama

“Kenapa kalian terlihat ketakutan? Seperti melihat hantu saja” Ahri mengerucutkan bibirnya dan Chanyeol menyikut lengan Sehun

“ah anio! Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin kami terlihat takut melihat gadis secantik ini hehe” Sehun melontarkan kalimatnya dengan gugup

“benarkah?” mata Ahri kini berbinar

“tentu saja” Chanyeol meyakinkan namun kini Ahri melihat kesekitar, mencari sosok yang dicarinya

“ah.. Kai akan segera kemari Ahri-ssi , dia sedang mandi dulu”

Sehun dan Chanyeol terkekeh mengingat kejadian tadi

“Apa yang kalian tertawakan?”

Ahri menatap mereka dan sontak Sehun maupun Chanyeol serempak menggelengkan kepala

“YYA!! KALIAN!” Kai melemparkan bantal pada Sehun dan Chanyeol lalu segera menuruni tangga

“Ahri?” Kai sedkit terkejut

“Aku membawakan bento untukmu sebagai ucapan terimakasih”

Ahri tersenyum tenang

“Bento? Hanya itu? Aku tidak mau” Kai berujar cuek

“Mwo? Aku berinisiatif sendiri untuk memberikan ini Kai, bukankah..”

“aku ingin kau menemaniku seharian ini, maka aku akan menganggap hutangmu lunas”

 “Hutang? Apa-apaan? Kau sendiri yang meutuskan untuk menolongku dan….”

~namja ini mulai menyebalkan pikir Ahri

“ayolaaah hanya menemaniku sehari saja”

Ahri terdiam sejenak, kenapa semuanya jadi seperti ini? Tapi mengingat pertolongan namja itu semalam, rasanya menemaninya untuk seharai bukanlah hal yang berat lagipula ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Kai tak muncul saat itu.

“tapi bagaiman nasib bento ini?” Ahri mengeluarkan kotak bento di tasnya dan sekejap mata Sehun maupun Chanyeol langsung berbinar

“jika tak keberatan kau bisa memberikanya pada kami”

Sehun berkata dengan lancar dan Chanyeol mengangguk mantap

“jinjja? Kalian mau memakannya? “ mataAhri lebih berbinar dan ia memberikan kotak itu pada Sehun dan Chanyeol

Dalam sekejap mereka langsung menyambar bento tersebut dan membukanya

“whoaa terlihat enak”

Chanyeol berkata

“Jinjja? Padahal ini pertama kalinya aku memasak”

“eeehh masakan itu tidak dinilai dari sebanyak apa pengalaman orang yang membuatnya tapi dari rasanya, dan melihat tampilanya saja sudah menggugah seleraku”

Ahri tersenyum senang mendengar kata-kata Chanyeol karena seingatnya semua anggota keluarganya selalu bilang bahwa ia sama sekali tak berbakat untuk memasak. Terakhir kali ia memasak, saudara sepupunya harus pergi ke dokter karena sakit perut.

Chanyeol maupun Sehun dengan semangat memegang sumpit mereka dan segera memakan maskan Ahri

1

2

3

Wajah mereka berubah muram

“Bagaimana?” Ahri terlihat senang dan menanti jawaban mereka.

Sehun dan Chanyeol saling berpandagan. Jika harus jujur ini adalah masakan terburuk yang pernah mereka makan namun sepertinya lebih baik berbohong dibanding harus melihat gadis itu berubah mengerikan seperti malam dimana mereka pertama bertemu

“ENAK!” Jawab mereka kompak

Dari jauh Kai terkekeh, melihat ekspresi dari kedua sahabtnya saja, ia tahu bahwa ada yang salah dengan masakan yang mereka makan dan raut wajah mereka mengatakan bahwa mereka tengah berbohong, Kai tau benar akan sahabtnya.

“Sebenarnya aku tidak bisa memasak tapi aku sangat senang kalian menyukainya, aku akan belajar lebih giat dan memasakan makanan yang lebih enak untuk kalian”

“huh?” Sehun mengernyitkan dahinya

“untuk meningkatkan kemampuan memasaku..Aku akan membuatkan bento untuk kalian setiap hari”

“MWWWWWWWWOOOOOOO?”  Sehun setengah berteriak dan Chanyeol tersedak makananya.

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER SIX

(Lotte World and Revenge)

 

            Kai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tak lupa senyuman manis terlukis di bibirnya sedari tadi.

“Mengemudilah dengan benar Kai!”

Ahri yang duduk di sampingnya terlihat ketakutan, Namja di sampingnya menjalankan mobil dengan kecepatan super.

“KAI!!! “ Ahri berteriak namun Kai malah terkekeh

“Lihatlah ekspresimu , itu lucu sekali hahaha”

Ahri mempoutkan bibirnya

“Kau ingin kita mati, huh?” Ahri hampir saja menangis dan Kai menyadari itu

“Aku hanya bercanda, kau cengeng sekali” Kai kini menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal

“Bercanda? Kau main-main dengan nyawa kita? KAU MENYEBALKAN SEKALI!”

Ahri memukul Kai dengan tas selempangnya

“Kai menyebalkan!!! Rasakan ini!” Ahri terus memukul namja disampingnya itu

“yayaya!!! Hentikan ini! Aku tidak bisa berkonsentasi! Kalau begini kita akan benar-benar mati”

Ahri menghentikan tindakanya lalu mengalihkan tatapannya keluar jendela dan menyilangkan kedua tangannya yang kemudian ia posisikan di depan dadanya

“menyebalkan” meski pelan Kai masih bisa mendengar gumaman gadis disampingnya, lalu namja itu tersenyum diam-diam

Ahri hanya menatap jalanan dan pemandangan yang terpampang diluar sana, menyadari bahwa mobil yang ia tumpangi kini melintas melewati Sungai Han.

“Kita akan kemana, Kai?”

“Lotte world” jawab Kai, santai

“Turunlah, kita sudah sampai”

Setelah kalimat terakhirnya Kai turun dari mobil, diikuti Ahri.

“kenapa kau tidak memberi tahuku dulu huh ? kenapa kau membawaku kemanapun yang kau inginkan?”

“Kau sudah setuju untuk menemaniku seharian” Kai membela dirinya

“tapi bukan berarti kau bisa melakukan segalannya sekehendakmu” Sanggah Ahri

“Kau akan menyukainya”

“Kau tahu apa tentangku?”

“Orang childish sepertimu pasti akan menyukai Lotte world”

“Aku tidak childish, Kai!” Ahri terlihat kesal dan mempoutkan bibirnya

“Berhentilah bertindak aegyo”

“Aku tidak bertindak aegyo!” Ahri menatap Kai kesal

“Lalu kenapa kau mempoutkan bibirmu? Kau ingin terlihat cute didepanku?” Kai balik menatap balik gadis disampingnya

“Itu karena aku kesal padamu!”

“Kalau bergitu berhentilah mempoutkan bibirmu atau aku akan menciumu”

“MWO?”

Kai memasukan tangannya kedalam saku celana lalu berjalan meninggalkan Ahri

“Kau ini tidak sopan sekali. YAA!! Aku bicara padamu Kim JONGIN!!” Ahri tampak lebih kesal namun ia segera mengejar Kai yang kini terlihat mulai berjalan menjauh darinnya

***

Kai mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan 48.000 Won pada petugas di depanya, lalu dua lembar tiket kini ada ditangannya

“percayalah kau akan menyukainya” Kai kembali meyakinkan Ahri yang sedari tadi terlihat cemberut.

Begitu mereka masuk, sebuah bangunan indoor-theme park yang sangat megah menjadi pemandangan awal yang menakjubkan. Penataan pilar-pilar yang diatur sedemikian rupa, membuat pengunjung disana mendapatkan pemandangan yang terkesan luas dan bebas keseluruh penjuru bangunan. Berbagai atraksi dan permainan yang menarik tersaji disana, dilantai dasar terlihat ice-ring berbentuk oval yang super luas.  Disisi lain, terdapat beraneka permainan yang menantang adrenalin termasuk roller coaster, rumah hantu, balon udara, kereta monorail yang berkeliling dari indoor ke outdoor theme-park dan juga beragam pertunjukan kesenian panggung utama indoor theme-park serta berbagai parade unik dipertontonkan disana. Tak lupa toko-toko souvenir, pusat perbelanjaan, museum plus restoran juga tersedia disana.  Ah.. berada disini seperti berada di negeri dongeng saja.

“Daebak” Ahri menatap pemandagan disana dengan takjub lalu wajahnya berubah ceria

“Ppali Kai! Kita harus mencoba apa dulu ? roller coaster atau bugge jump? Atau kereta monorail dulu ? ah itu ide bagus! Kita naik kereta monorail dulu, Kai! Ppali!” tanpa pikir panjang Ahri menarik tangan Kai dengan antusias sedangkan Kai hanya memasang muka datar

“Apanya yang tidak childish” Kai bergumam pelan

“Aku mendengar itu!” Ahri melirik Kai dan memberikan tatapan mematikannya.

Dan lihatlah, mereka pada akhirnya memutuskan untuk memilih kereta monorail yang membawa mereka ke arena indoor dan outdoor disana, membawa mereka melihat setiap panorama yang tersaji di lotte world. Saat mereka tiba di taman bermain outdoor yang berada di Magic island, sebuah pulau buatan di tengah danau menjadi pemandangan yang begitu menakjubkan

“Yeppeunda” Ahri bergumam pelan dan waktupun terus berjalan.

***

Luhan’s mension 7.30 PM

“Maaf mengganggu istirahatmu, aku membawakan ini”

Hera lalu menaruh parcel buah-buahan yang dibawanya di meja tamu

“bagaimana keadaanmu ? Kau tidak memberitahuku kalau kau sakit”

Hera memasang wajah kecewanya

“Aku baik-baik saja, sekarang pulanglah”

Hera kini menatap Luhan dengan lekat, namja itu sedari tadi berbicara dengan nada datar padanya.

“Kau masih marah padaku?”

Ekspresi Luhan sedikit berubah begitu Hera melontarkan pertanyaannya

“Kita bisa membicarakan itu nanti, sekarang pulanglah Hera, karena ini sudah malam dan aku tak bisa mengantarmu”

“Aku.. ingin kau bersikap seperti dulu padaku”

“Aku hanya perlu waktu Hera-yah”

“Kenapa kau mengacuhkanku hanya karena hal sepele seperti itu Luhan?”

Raut wajah Luhan kini berubah lagi dan ekpresi kesal sekarang tergambar disana.

“Kau menyukai Kai dan membohongiku selama bertahun-tahun, apa itu yang kau sebut sepele?”

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku menyukai Kai”

“itulah yang aku benci Hera, kau tidak pernah jujur padaku”

***

“Ini benar-benar menyenangkan” Ahri bergumam dengan riang

Senyuman tak pernah lepas dari bibir gadis itu meski kini hari sudah petang. Matahari sudah tenggelam sedari tadi dan warna hitam kini terlukis di kanvas langit dengan properti bulan dan bintang yang tertempel di atas sana.

“Ayo kita pergi ketempat selanjutnya Kai!”

Ahri sontak saja menggandeng tangan Kai, gadis itu mungkin tak menyadarinya namun namja yang digandengnya sadar betul akan hal itu dan kini ia tersenyum diam-diam.

Mereka berjalan ke arena magic castle untuk melihat pertunjukan sinar laser yang mengagumkan.

7.45

Ahri melihat jam tangan yang melingkar dipergelangannya.

“Omo…!! Kai ini sudah malam, sepertinya kita tidak jadi menonton pertunjukan laser”

Kai mendelik sebal

“Apa-apaan ? kita bahkan sudah berjalan sejauh ini”

“Tapi.. Luhan ge pasti mencariku”

“Pede sekali” Kai membuang tatapannya kesembarang arah

“Meski gege tidak mencariku, aku harus pulang sekarang Kai.. tidak enak kalau aku pulang terlalu malam”

Kai jadi teringat tentang apa yang ingin ia tanyakan, dulu

“Kenapa kau tinggal di rumahnya?”

“Umma Han mengajaku pindah kesana, lagipula aku dan Luhan ge akan segera bertunangan setelah lulus nanti” Ahri beralih menatap Kai namun namja itu hanya menatap kosong kedepan

“terserah” Kai lalu berjalan meninggalkan Ahri

~apanya yang terserah

Batin Ahri

“KAI!!! Chamkaman!!  Tunggu aku, Kai!” Ahri lalu berlari menyusul Kai

“Kau ini menyebalkan sekali, selalu meninggalkanku seenaknya”

“Yang menyebalkan itu kau” sanggahnya

“Mwo?” Kini Ahri terlihat kesal dan menatap namja disampingnya

“Akulah yang memintamu menemaniku tapi kenapa seolah akulah yang menemanimu?” namja itu balik menatap Ahri

“Huh?” wajah Ahri semakin terlihat kebingungan

“Sedari tadi aku terus mengikuti kemana kau pergi, menuruti semua yang kau mau, dan bermain wahana apapun yang kau pilih. Bukankah ini acaraku? Tapi kenapa jadi seolah aku yang menemanimu?” kini, Kailah yang terlihat kesal

Ahri terdiam dan menyadari semua itu. Perlahan ia tersenyum kepada namja yang kini menatapnya dengan kesal

“hehe .. mianhae”

Kai memutar bola matanya lalu berjalan meninggalkan Ahri lagi

“Kai!! Aku sudah bilang jangan meninggalkanku seenaknya!” Ahri setengah berteriak dan mengejar namja itu.

***

Hera masih tetap tak merespon apa yang Luhan katakan tadi namun pada akhirnya gadis itu membuka suara. Ia tahu benar, setelah ini mereka pasti akan bertengkar lagi.

“Apa yang kau maksud dengan tidak jujur?”

Luhan menatap Hera lebih lekat

“Katakan padaku bahwa kau menyukai Kai”

Hera lalu tersenyum dengan miris

“Kenapa kau terus berkata seperti itu? Aku sudah bilang aku tidak menyukainya, Luhan”

“Apa kau pikir aku tidak tahu?”

Pernyataan Luhan kini membuat Hera mengernyitkan dahi

“Apa yang kau bicarakan ? aku tidak mengerti sama sekali”

“Selama bertahun-tahun kau diam-diam memperhatikannya, mencuri pandang kearahnya, menghubunginya, dan terakhir kau berlari padanya, bukan padaku”

Luhan masih ingat betul akan kejadian beberapa hari yang lalu, saat mereka berkelahi dan sama-sama terluka, gadis itu berlari menghampiri Kai bukan dirinya.

“Bukankah itu sudah jelas? Kau menyukainya”

Hera hanya terdiam, ia menatap kebawah

“Aku sudah bilang, aku hanya merasa bersalah padanya”

“Sudah cukup” Luhan lalu berdiri dan beranjak pergi. Ia menaiki tangga dan

~GREPP

Hera memeluknya dari belakang

“Bukankah aku sudah bilang? Aku hanya menyukaimu”

Gadis itu berkata sambil terisak dan  Luhan segera menyadari bahwa gadis itu kini tengah menangis.

“Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu ? aku sudah menghabiskan waktuku denganmu. Selama beberapa tahun ini, aku terus bersamamu dan sekarang kau menuduhku menyukai Kai?” Hera berkata dengan pilu dan Luhan kini menyentuh tangan gadis itu, melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap Hera.

“Apakah kau tidak mempercayaiku?” setetes airmata kembali terjatuh dari mata onyx milik Hera

“Kau tidak mempercayaiku, Luhan?” ia mengulang kata-katanya

Luhan hanya terdiam.. jika harus jujur , ia ingin mempercayai gadis itu namun entah mengapa hatinya tetap pada pemikiranya, ia tetap merasa bahwa gadis itu menyukai Kai, bukan dirinya.

Hera tanpa pikir panjang, berjalan selangkah dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang Luhan, memeluk namja itu.

Dari arah pintu Ahri hendak mengucap kata “Aku pulang”, namun tiba-tiba lidahnya terasa kelu begitu melihat seorang gadis kini tengah memeluk Luhan dengan erat dan namja itu tak terlihat untuk berusaha melepaskannya sama sekali.

~Hera-shi

Ahri bergumam sangat pelan.

Ia hendak menangis namun ia juga sudah terbiasa menahan air matanya dan menggantikannya dengan senyuman palsu.

Ahri kembali berjalan keluar, rasanya sangat aneh melihat gadis itu memeluk calon tunangannya. Oh, bukankah Hera memang kekasih Luhan? Dan ia hanyalah gadis asing yang dijodhkan dengan paksa oleh ummanya. Mungkin Luhan juga  hanya menganggapnya sebagai seorang gadis yang mengacaukan hidupnya yang sempurna. Who knows..

“Kau bilang ingin segera pulang dan begitu aku mengantarkanmu, kau kembali berjalan keluar? kau memang gadis aneh”

Ahri terkejut begitu mendengar suara yang akhir-akhir ini begitu familiar di telinganya. Ia menatap kedepan dan disana Kai masih berdiri didepan mobilnya.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Beberapa waktu berlalu dan Ahri belum menjawab pertanyaan tadi sama sekali

“Bawalah aku kesuatu tempat Kai”

Kai membulatkan matanya begitu mendengar pernyataan Ahri. Ia yakin ada sesuatu yang salah dengan gadis itu, diluar ia mungkin tampak tersenyum tapi entah mengapa Kai masih bisa membaca wajah sendunya

“biar kupertimbangkan…” Kai berpura-pura memasang ekspresi berpikir

“Aku akan mengajakmu ke jembatan ….. dan sebagai gantinya berikan aku gantungan ponselmu, cukup yang laki-lakinya saja”

“Deal” Ahri mengangguk lemah.

***

Luhan terdiam sejenak, kemudian ia melepaskan pelukan Hera, entah mengapa bahkan ia tak memeluk balik gadis itu tadi.

“Maaf hera-ah, tapi aku sedang tidak ingin membicarakan itu sekarang”

“Pulanglah, ini sudah malam”

Hera hanya terdiam sejenak, lalu tersenyum miris dan menyeka air matanya

“Kau.. kau akan mempercayaiku Luhan, karena dulu kau pernah bilang kau selalu mempercayaiku dan aku tak pernah melupakan itu”

Hera kini menuruni tangga dan tepat saat ia berdiri di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Luhan untuk berucap

“Jaljayou”

Lalu siluetnya menghilang begitu saja. Luhan tertegun sejenak, pikiran untuk mengejar Hera sempat terlintas dibenaknya namun kakinya seolah tak mengijinkan ia untuk mengejar gadis itu.

Luhan menghela nafas berat lalu berjalan menuju kamarnya

“Ah!”

Ia sepertinya teringat sesuatu dan benar saja, bukankah tujuannya tadi adalah untuk mencari Ahri ? gadis itu belum pulang sampai saat ini dan jam yang tertempel di dingding kini sudah menunjukan pukul 8.30PM

“Dia kemana?” Luhan terlihat sedikit khawatir, oleh karena itu kini ia berjalan keluar rumah untuk mencari Ahri

“Gadis itu.. benar-benar”

Luhan mengeluarkan ponselnya lalu mendial nomor Ahri yang ia dapatkan dari ummanya

.

.

.

tak ada jawaban

Luhan kembali mendial nomor Ahri untuk kesekian kalinya namun hasilnya tetap sama… gadis itu tak menjawabnya.

“ckk!”

“Berjalan sendiri diSeoul pada malam hari, bukanlah hal yang aman”

Ia lalu kembali berjalan untuk mencari Ahri.

***

Ahri duduk disamping Kai dan tak ada satupun dari keduanya yang berusaha memulai topik pembicaraan, mereka terlalu sibuk dengan pikiranya masing-masing, bahkan angin yang berhembus dinginpun tak membuat mereka bergeming. Sampai pada akhirnya Ahri memilih untuk menyerah dan melontarkan sebuah pertanyaan pada Kai

“Bukankah kau tahu tentang perjodohanku dengan Luhan?”

Kai mengerutkan dahinya, tiba-tiba saja gadis itu membahas masalah pertunanganya.

“hmm, siapapun akan tahu hal itu. Bukankah kau mengatakan itu pada semua orang?”

Ahri tersenyum sendu

“Itu benar..”

“Saat appa bilang bahwa ia menjodohkanku dengannya, aku begitu senang. Aku selalu berfikir, mungkin dengan begitu aku bisa bersandar dan membagi kesedihanku dengannya. Tapi semakin hari aku semakin lelah, menggapainya seperti berusaha melakukan sesuatu di luar batas kemampuanku” lanjutnya

Kini Kai mengerti mengapa Ahri memintanya untuk pergi bersama kesuatu tempat. Gadis itu memerlukan teman bicara karena ia sedang sedih dan Kai merutuki dirinya sendiri yang dengan bodonya hanya diam saja,  tak tahu apa yang harus dilakukan

~sial. Batin Kai

~Apakah aku harus memeluknya? Tapi ia tak menangis sama sekali

~Kai brengsek. Kau bahkan tidak tahu apa yang harus kau lakukan

Sedari tadi, Kai hanya sibuk dengan pemikiran-pemikiranya

“Mengapa kita selalu jatuh cinta pada orang yang salah, Kai?” gadis itu berbicara pada namja yang duduk disampingnya

Kai menatap Ahri lekat sebelum menjawab pasti

“Karena… Karena kau tidak bisa memilih kepada siapa kau ingin jatuh Cinta”

 “Kau benar”

Ahri tersenyum pada Kai, Lalu keduanya mengalihkan tatapan mereka pada bintang yang berkelip terang, membiarkan burung-burung malam menjadi satu-satunya melodi yang terdengar.

***

“Terimakasih untuk hari ini”

Ahri tersenyum dengan tulus pada Kai lalu menyerahkan gantungan ponsel teddy bear yang tadi diinginkan Kai

“Huh?” Kai sedikit terkejut

“Karena kau sudah menemaniku malam ini”

“Ah, itu…” Kai mengambil gantungan ponsel yang Ahri berikan padanya

“Masuklah, aku akan melihatmu dari sini”

Ahri lalu mengangguk dan berjalan masuk. Tepat didepan pintu, ia kembali berbalik

“Bukankah kita sudah menjadi teman sekarang?” Ahri berbicara pada Kai dalam jarak jauh

“Teman ?” Kai sedikit berpikir

“Sebenarnya kau gadis yang menyebalkan, tapi karena kau sudah memberikanku gantungan ini, jadi aku menerima permintaan temanmu”

Ahri terlihat cemberut lalu bergumam sebelum akhirnya benar-benar masuk kedalam

“Jahat sekali”

Kai hanya terkekeh pelan mendengar gadis itu menggerutu

“Jaljayou”

Ia berucap pada malam yang semakin larut.

***

Ahri berjalan menaiki tangga, begitu melewati kamar Luhan ia berhenti sejenak.

~Lampu kamarnya masih menyala berarti Luhan ge belum tidur

“Jaljayou” Ahri bergumam pelan, masih sedikit merasa kecewa atas kejadian tadi.

Setelah itu, ia masuk ke kamarnya

~4 Panggilan tak terjawab

“eh?” Ahri sedikit terkejut begitu mengecek ponselnya dan semua panggilan itu berasal dari Luhan.

“Kenapa gege menghubungiku?” Ahri kemudian kembali berjalan keluar kamarnya dan mengetuk pintu kamar Luhan

“Luhan ge!” Ia berujar pelan

“Apa kau didalam?”

Ahri kembali bertanya karena sampai saat ini Luhan tak menjawabnya

“Apakah aku boleh masuk?”

Tak ada jawaban

“Kalau kau tetap tak menjawab ..aku anggap kau mengijinkanku masuk”

Tak ada jawaban

“Aku akan benar-benar masuk kali ini”

Tak ada jawaban.

Ahri mempoutkan bibirnya, dengan takut ia menutup mata dan perlahan membuka pintu kamar Luhan

~Hening

Ia kembali membuka matanya begitu teriakan Luhan tak juga tertangkap indera pendengarannya

~Kosong

“eh?”

Ahri membulatkan matanya begitu menyadari Luhan tak ada dikamarnya, ekspresinya berubah khawatir karena namja itu sedang sakit dan sekarang ia tak ada disini.

“Luhan ge kemana?” Ahri mulai terlihat panik.

***

Kai mengendarai mobilnya dengan santai. Entah mengapa perasaanya tak menentu malam ini, seolah hal yang buruk akan menghampirinya nanti. Namun ia berusaha menenagkan hatinya dan tersenyum begitu melihat gantungan teddy bear yang ia dapatkan dari Ahri, sebuah teddy bear yang mengenakan jas pengantin.

~cekitttt

Kai mengerem mobilnya serempak begitu segerombolan geng laki-laki menghadang dan memblok jalanya

“sialan!”

Kai keluar dari mobilnya dengan kesal

“Apa yang kalian lakukan, huh? Menyingkirlah, kalian menghalangi jalanku”

Namun gerombolan anak laki-laki yang ada didepannya kini malah tertawa, memainkan tongkat-tongkat yang mereka pegang.

“Senang bertemu denganmu lagi, anak muda!”

Kai menyipitkan matanya dan menyadari laki-laki yang tengah berbicara padanya adalah pria yang beberapa hari lalu ia pukuli karena mengganggu Ahri.

“Senang bertemu dengamu juga, pecundang!” Kai melemparkan smirk khasnya dan memposisikan tangannya kebelakang lalu dengan cekatan mendial nomor Chanyeol . Ia tahu bahwa mereka semua dalam waktu sekejap pasti akan menyerangnya.

Kai membiarkan panggilan telepon yang sudah tersambung dan menggantungkan panggilannya begitu saja, karena ia tahu .. sahabatnya akan mengerti sinyal darurat yang ia berikan.

“Apakah ada kata terakhir yang ingin kau sampaikan? Sebelum kau mati tentunya” Pria itu berkata enteng dan semua anak buahnya tertawa terbahak-bahak.

Kai tetap terlihat tenang

“Aku sangat senang karena pernah menghajarmu dulu” Kai tersenyum meremehkan dan itu membuat pria yang berdiri didepanya melonjak emosi

“HABISI DIA!”

Semua gerombolan laki-laki itu kini menyerang Kai dan mereka terlibat dalam perkelahian. Kai menedang salah satu dari mereka dan yang lainnya mengayunkan tongkat besi tepat ke punggung Kai

“Sialan”

Kai bergumam pelan sebelum akhirnya namja berbaju hitam menendang perutnya. Kai terbatuk dan darah segar mengalir dari bibirnya. Ia bangun dan mengusap darah tadi lalu memukul balik namja yang menyerangnya.Walau bagaimanapun jumlah mereka yang banyak pasti akan menyulitkan Kai.

***

Luhan berjalan dengan cepat, ia sudah mencari Ahri kesekitar rumah tempat tinggalnya juga ke tempat-tempat yang mungkin gadis itu kunjungi namun ia tak juga menemukannya.

Luhan mengacak rambutnya frustasi dan kembali berjalan. Begitu melewati gank sempit yang tak jauh dari bar sosok yang begitu ia kenal terlihat tengah berkelahi dengan gerombolan namja yang membawa tongkat.

“Kai?” Luhan menajamkan penglihatannya

“Itu benar-benar Kai” Luhan terlihat sedikit panik lalu berlari menghampiri mereka

“Apa yang kalian lakukan?”

“Jangan ikut campur dan pergilah” Namja dengan topi merah kini mencengkram kerah baju Luhan namun Luhan malah balik memukulnya. Membiarkan dirinya sendiri masuk dalam perkelahian itu.

Orang yang tadi ia pukul kini memukul Luhan dengan keras, membuatnya terhuyung kesisi Kai.

“Aku tidak memerlukan bantuanmu bodoh!” Kai menatap Luhan

“Aku berhak melakukan apapun yang ku inginkan dan kau tak berhak melarangku”

“terserah” Kai berujar cuek dan mereka bersama-sama melawan gerombolan namja tadi.

Beberapa orang menyerang Luhan maupun Kai secara bersamaan namun melawan mereka semua bersama, membuat keadaan sedikit terkontrol.

“Kau tak pernah berubah, berkelahi sepertinya memang hobimu” Luhan bergumam pada Kai lalu memukul pria yang hendak menyerangnya

“Karena aku menyelamatkan tunangamu” Kai berujar enteng dan menahan tongkat yang hendak menghantamnya.

Luhan terdiam

~Kai menyelamatkan Ahri? Kapan? Karena apa?

Sepertinya Luhan melewatkan sesuatu dan ia menatap Kai yang kini terus melawan gerombolan namja itu. Dari jauh namja berbaju merah yang sedari tadi hanya diam, mengeluarkan pisau lipat dan memainkanya. Dengan berlari laki-laki itu kini mengarahkan pisaunya pada Kai.

Luhan membulatkan mata lalu berlari kearah Kai. Dalam sekejap ia mendorong Kai dan

~BLESSSS

Darah segar mengalir deras tepat di bagian perut Luhan. Pria tadi menusuknya disana dan itu membuat Luhan ambruk seketika. Semua yang ada disana membulatkan mata.

“Kau bilang kau hanya ingin memukulinya. Tapi kau membunuh seseorang disini. Aku tidak ingin terlibat” Namja bertopi itu terlihat ketakutan lalu berlari kabur, meninggalkan temanya.

Yang lain dalam sekejap berlari mengikuti namja bertopi tadi. Kai terlihat sangat marah ia menghampiri Luhan lalu dengan amarah yang meletup berlari dan melayangkan pukulanya pada pria yang menusuk sahabat lamanya itu

“AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU KALI INI!” kini pria yang dicengkram Kai terlihat ketakutan karena dalam mata Kai terlihat amarah yang begitu membara, namja itu tak main-main

Kai memukul perut pria tadi dan menghempaskannya ke tembok dengan keras. Ia lalu mengambil sebuah tongkat yang tergeletak dan tak segan-segan memukulkanya tepat pada pria tadi secara bertubi. Darah mengalir dikepala pria yang kini berada dalam kendali Kai.

“AKU .. AKAN MEMBUNUHMU” Mata Kai terlihat berapai-api dan saat ia hendak memukul lagi, suara Chanyeol terdengar ditelinganya

“KAI!!!”

Chanyeol mencoba menahan Kai yang tak terkendali dan Sehun secepat kilat menghampiri Luhan yang telah kehilangan banyak darahnya.

“Hyungg!!!”

Sehun beralih menatap Chanyeol dan memanggil namja itu, ia terlihat shock melihat Luhan yang terkapar tak berdaya

“Kai hentikan Kai, kau akan masuk penjara jika membunuhnya” Chanyeol menahan Kai dan mencengkram tangan namja itu

“LEPASKAN AKU!” Kai berusaha melepaskan tangan Chanyeol namun kata-kata namja itu menyadarkannya

“Yang terpenting saat ini adalah kita harus segera membawa Luhan ke rumah sakit, aku akan mengurus ini Kai. Pergilah dan bawa ia kesana sekarang juga” Kai mencoba mengontrol emosi dan nafasnya lalu segera berlari kearah Luhan yang terlihat menahan rasa sakit

“bodoh! Dari awal aku sudah bilang.. ini bukan urusanmu”

Luhan mencoba keras untuk tersenyum

“Bu kankah a ku tak meninggalkanmu, se .. sekarang?” Luhan berucap dengan terbata

“Apakah kita akan menjadi sahabat lagi setelah ini?” Luhan meringis kesakitan setelah mengucap kalimat terakhirnya lalu tak sadarkan diri begitu saja

“Kau sama sekali tidak mengerti, Aku tidak pernah marah karena hal ini”

Itu benar..Kai tak pernah menyalahkan Luhan karena namja itu tak datang padanya saat kejadian beberapa tahun silam. Yang ia sayangkan adalah faktanya, namja itu adalah satu-satunya orang yang ia miliki namun Luhan tak ada disampingnya saat ia harus melewati masa paling sulit dalam hidupnya.

“Bodoh” Kai berucap pelan sebelum akhirnya membawa Luhan ke Rumah sakit , meninggalkan Sehun dan Chanyeol yang harus mengurus masalah ini terlebih dahulu.

***

PRANGGGG

Ahri tak sengaja menjatuhkan sebuah figura yang ada dikamar Luhan

“Aigoo” Wajah Ahri berubah muram seketika karena ia tahu Luhan pasti akan memarahinya nanti.

Ahri berjongkok dan mengambil figura yang kacanya kini sudah pecah. Sebuah foto Luhan dan Kai terpampang disana

“eh? Apakah mereka berteman?”  Ahri mengernyitkan dahi karena seingatnya hubungan mereka berdua tak cukup baik mengingat mereka pernah berkelahi disekolah dulu.

Ahri hendak membersihkan pecahan kaca tadi namun karena ceroboh pecahan itu mengores telunjuknya.

“aw..” Ahri menggigit bibirnya tak kala darah mengalir darisana, namun ia tak kunjung menghapusnya karena tak lama kemudian perasaan tak enak melekat di hatinya. Seperti sebuah firasat buruk.

~ding dong ding

Nada panggilan kini berbunyi dari ponselnya. Sebuah nomor baru terpampang di layar ponsel Ahri. Gadis itu terdiam, entah mengapa ia seolah enggan menjawabnya

~ding dong ding

Ponselnya terus berdering dan Ahri harus menjawabnya

“yeobseo?”

“Ahri.. Luhan…….”

 

 

 

 

 

 

CHAPTER SEVEN

(The Past)

 

[Flash Back]

05 Maret 2011

Seoul High School

02:00 PM

 

“Bagaimana kehidupanmu di New York Kai?” Luhan bertanya dengan wajah antusiasnya dan Kai berubah muram.

“Apanya yang bagaimana? Sangat membosankan! appa mendaftarkanku di sekolah terfavorit, aku bahkan harus mengikuti kelas tambahan, les bahasa inggris, Jerman dan mengikuti kelas pembinaan karakter, aisshhh jeongmal… menjadi penerus perusahaan setidaknya harus menguasai lima bahasa. benar-benar sial”

Kai menghela nafas beratnya

“HAHAHAHAH Kyuhyun ajusshi memang keren, lihatlah wajahmu saat ini.. seperti burung yang baru dilepaskan dari sangkarnya saja, bahkan aku masih bisa menangkap ekspresi tersiksamu”

“Sialan kau” Kai memukul kepala Luhan namun namja itu masih saja tertawa

“YAA!!Berhenti tertawa!” perintah Kai, kesal

“arraseo arraseo! Aigoo, tapi melihat wajah tersiksamu itu benar-benar lucu. Biar kutebak, kau pasti tidak punya waktu untuk berkencan sama sekali. Benarkan?”

 “Kau benar, tapi saat disana aku melihat gadis yang sangat cantik dan kau tahu? Aku melihatnya di pesta perayaan teman bisnis ayahku artinya gadis itu juga merupakan pewaris sebuah perusahaan, sepertiku. Ah.. mungkin kita berjodoh” Wajah Kai kini terlihat antusias

“Lalu.. apa kau mengobrol denganya?” Luhan terlihat penasaran

“Aku tidak sempat”

“Lalu apa dia mengenalmu?”

Kai terdiam

“Tidak juga”

Luhan kembali terkekeh lalu menepuk pundaknya

“Itu namanya kalian tidak berjodoh, sudahlah lebih baik aku kenalkan saja pada temanku. Dia tak kalah cantik. kajja!”

Lalu namja itu mengikuti Luhan yang  berjalan meninggalkan kelas dan begitu sampai gerbang.. seorang gadis berambut pirang kini berdiri lalu menghampiri Luhan

“Kau mau pulang?”

“hmm, tapi Hera-ah aku tidak bisa mengantarmu hari ini, ada beberapa hal yang harus ku kerjakan”

“Gwenchana” Gadis itu tersenyum manis pada Luhan namun tiba-tiba saja senyumnya memudar begitu melihat sosok laki-laki yang berdiri disamping Luhan. Entah hanya perasaan Kai saja atau bukan, namun ia merasa gadis itu kini tengah memperhatikan wajahnya

“Ah Hera-ya ini Kim Jong In, sahabatku.. dia baru saja pindah dari New York”

“Bangamseumnida!” Kai membungkuk pada Hera namun gadis itu hanya terdiam, membuat Luhan heran

“Hera?” Luhan memanggil nama gadis itu namun ia tetap tak menjawab

“Hera?” ulangnya

“AH.. mi mianhaeyo.. eung aku Hera, Song Hera. Manaseyo bangapseumnida” Hera mengucapkan kalimatnya dengan terbata

“Kau kenapa ? Apa kau sakit? Kau tampak pucat” raut wajah Luhan terlihat khawatir

“aniyo! Aku baik-baik saja , bukankah kau bilang masih ada beberapa hal yang harus dikerjakan?”

“oh iya.. kalu begitu kami duluan, hati-hati dijalan Hera-ah!” Luhan mengusap rambut Hera lembut dan berjalan meninggalkan gadisnya

“Apakah dia pacarmu?” Kai yang berjalan disamping Luhan kini bertanya pada sahabatnya

“hmm.. waeyo?”

“Wajahnya terlihat familiar, sepertinya aku pernah melihat dia disuatu tempat”

Luhan lalu tersenyum

“mana mungkin, bukankah kau menghabiskan tiga tahun terakhir di New York?”

“Ah, benar” Kai sepertinya tak tertarik untuk membahas itu lebih lanjut namun ia yakin ia pernah bertemu dengan Hera sebelumnya, wajahnya terlihat tak asing.

Belum juga mereka sampai tempat tujuan, tak jauh dari sekolahnya kini segerembolan siswa dari sekolah lain menghadang jalan mereka. Kai tersenyum dan berkata pada Luhan

“Kau pasti cari masalah dengan mereka”

Luhan balik membalas senyum sahabatnya

“Sepertinya begitu.. mau bergabung denganku?” ajaknya

“ide yang bagus. Kebetulan sekali.. sudah lama aku tidak memukul orang”

Luhan dan Kai lalu mengikuti segerombolan anak tersebut berjalan ke gedung kosong. Kai membuang tasnya begitu saja dan kemudian terlibat perkelahian untuk membantu Luhan.

(nb: silahkan liat aja adegan berantem di mv wolf versi drama yang kesatu, kurang lebih seperti itu)

***

05 Maret 2011

Kai’s room

04:00 PM

 

“Ada apa dengan wajahmu? Berkelahi?” Kyuhyun menatap tajam anaknya

“Bukankah aku sudah bilang? Kau punya jadwal pertemuan dengan keluarga Choi malam ini dan lihatlah penampilanmu sekarang. Aku tidak menyekolahkanmu agar tak terdidik seperti ini, KIM JONG IN!”

“Dan aku tak berniat untuk mengikuti perjodohan yang didasari atas bisnismu itu” Kai berujar cuek namun kata-kata datarnya itu berhasil menyulut amarah ayahnya

“KAU!” Kyuhyun hendak melayangkan tamparan pada Kai namun nyonya Myun segera berdiri dan mencegah suaminya

“Tenanglah..” Ia menatap Kyuhyun lembut, mencoba menenangkannya

“Aku akan berbicara padanya”

“Pergilah” Imbuh Nyonya Myun dan Kyuhyun segera meninggalkan ruangan itu.

Nyonya Myun mengambil P3K dan Kompresan yang tadi ia letakan di meja

“Aku obati dulu ya” Wanita itu tersenyum pada Kai namun namja itu segera menampik tangan Nyonya Myun saat hendak menyentuhnya

“Jangan pedulikan aku dan keluarlah”

Nyonya Myun tersenyum lalu duduk disebelah Kai

“Apa kau masih tak menyukaiku? Dengar Kai.. Aku mengerti perasaanmu. Bagi seorang anak, didunia ini tak akan pernah ada yang bisa menggantikan sosok ibu. Aku sangat paham akan hal itu. Baik Suho maupun aku, tak ada satupun dari kami yang berusaha untuk itu … karena takan pernah ada yang bisa mengantikan posisi  Nyonya Lee maupun Kau dalam hati Kyuhyun. Tak akan ada. Kyuhyun mewariskan semuanya padamu, ia mencatat namamu sebagai pewaris tunggal dan kau harus percaya bahwa ia benar-benar menyayangimu. Kau tak perlu khawatir akan banyak hal Kai, karena aku maupun Suho tak pernah meminta apapun. Aku tak memaksamu untuk memanggilku Ibu. Hanya saja untuk saat ini,biarkan akau berperan setidaknya sebagai orang yang bisa melindungi atau menyembuhkanmu..”

“ Layaknya seorang ibu” imbuhnya

Kai hanya terdiam, kali ini ia tak protes begitu Nyonya Myun mengompres lukanya dengan es.

“Pertemuan nanti malam bukanlah perjodohan Kai, kau berhak memilih. Kau hanya perlu bertemu dengan gadis dari keluarga Choi.. jika tak menyukainya, Kyuhyun tak akan menetapkan perjodohan. Ia bilang begitu padaku”

Kai sedikit terkejut mendapati pernyataan nyonya Myun, sepertinya ia telah salah paham pada appanya

“Usahakanlah untuk hadir Kai.. bukankah tidak baik jika kita tidak menepati janji yang sudah dibuat? Selain itu, mungkin pandangan keluarga Choi pada ayahmu akan berubah jika kau tak datang nanti malam”

“Sekarang istirahatlah” Nyonya Myun tersenyum lembut pada Kai dan pergi meninggalkan ruangannya.

***

05 Maret 2011

Hotel

09:00 PM

 

~ting

Pintu Lift terbuka, menampilkan sosok Kim Jongin yang kini berjalan santai dengan setelan jasnya. Begitu rapih dan berkelas. Ia berniat untuk menghadiri pertemuan yang telah direncanakan ayahnya. Entah mengapa , walau awalnya ia menolak namun perasaanya mendadak tenang. Seperti sebuah firasat baik.

Kai berjalan kearah ruang 19 dan tepat saat ia membuka pintu, di ujung sana Appanya dan nyonya Myun tengah berbincang dengan keluarga Choi yang duduk dengan tenang, disamping wanita berbalut gaun merah yang classy duduklah gadis berambut hitam pekat dengan kulit putih pucat. Ia mengenakan gaun berwarna pastel dengan rambut tergerai indah dan jepit permata yang ditempelnya di sebelah kanan.

Kai tersenyum. Ia tau gadis itu, Gadis yang sama yang ia lihat saat pesta Tahun lalu di New York. Gadis yang baru saja ia ceritakan pada Luhan tadi siang.

~Hidup memang penuh kejutan. Pikirnya

“Kau salah Xi Luhan, gadis ini sepertinya memang ditakdirkan untukku”

Ia baru saja akan melagkahkan kakiknya namun ponselnya bergetar tiba-tiba. Satu pesan masuk terpampang di layar ponselnya

Xi Luhan

Gedung 15, tak jauh dari universitas Kyunghee. Sekarang.

~Sial

Kai tampak bimbang namun kemudian ia memasukan kembali ponselnya dengan tergesa. Ia melihat gadis itu dari jauh, meliriknya sekali lagi. Jika takdir berkehendak, bukankah suatu saat juga mereka pasti akan bertemu lagi?

“Maaf” Kai bergumam pelan sebelum akhirnya melangkah keluar, ia berlari dan berlari. Meninggalkan perjanjian itu begitu saja. Setelah ini, ia tahu.. ayahnya akan memarahinya habis-habisan dan keluarga Choi pasti tak akan pernah mau untuk menggelar pertemuan denganya lagi namun dalam benaknya saat ini hanya ada sesosok Xi Luhan, walau bagaimanapun ia harus segera menolong sahabatnya.

***

11 Maret 2011

9:15 PM

 

~Byurrrrr

Seember air diguyurkan tepat pada tubuh Kai yang penuh luka. Sedari tadi segerombolan anak-anak minggu lalu kembali menyerangnya, mencoba untuk balas dendam

“Ini salahmu karena ikut campur urusanku dan Luhan. Lihatlah! bahkan sekarang sahabat yang kau bela-bela itu tak datang untuk menyelamatkanmu.” Namja itu kini tertawa

“Kau menyedihkan!” tambahnya

Kai dengan susah payah berdiri dan hendak memukul orang itu namun sebuah kayu dipukulkan tepat pada punggungnya, membuatnya roboh dan kembali tersungkur. Ia tak lemah, hanya saja namja ini membawa teman yang jumlahnya dua kali lipat dari minggu kemarin dan menghadapi mereka semua sendiri adalah hal yang sulit.

 Kai hendak berdiri namun dirasakannya tendangan yang keras tepat didadanya, sebuah darah kembali membasahi mulutnya. Namja dengan kaos hitam kini menginjak perut Kai

“Kau tidak seru, masa barus segini saja kau mau mati. Bangun!”

Kai masih sadarkan diri dan mendengar kata-kata orang itu membuat emosinya naik. Ia mengepalkan tangan

“Pengecut! Katakanlah bahwa kau takut padaku. Kau membawa teman-temanku karena kau tak bisa menghadapiku sendirian” dalam kondisi seperti itu, Kai masih saja melemparkan senyuman mencelanya.

Namja yang dimaksud kini terlampau kesal maka di tendangnya lagi tubuh Kai yang sudah tak berdaya

“Brengsek kau!”

Ia mencekik dan memukul wajah Kai bertubi-tubi namun teman-temannya segera menghentikannya

“YAA!!Hentikan… kau bisa benar-benar membunuhnya!”

“Brengsek! Lain kali, aku akan benar-benar menghabisimu!” beserta kalimat terakhirnya  segerombolan anak nakal itu berlalu meninggalkannya.

Kai hanya bisa diam tak bergerak, tubuhnya terasa remuk seketika. Pandangannya mulai kabur begitu darah yang mengalir dikepalanya  perlahan menghalangi penglihatannya. Nafasnya tak teratur dan ia mulai tak sadarkan diri.

Minggu lalu, hanya demi membantu Luhan, ia harus rela mendapat tamparan keras dari ayahnya dan juga gadis yang ia sukai itu takan pernah mau membuat pertemuan lagi dilain hari. Semuanya hanya ia lakukan demi sahabatnya, Xi Luhan.

Dalam pandangan matanya yang semu, Kai menatap kearah pintu dengan pilu. Apakah Luhan benar-benar tak datang untuknya?

Kai merasa tak mampu lagi dan dipejamkannya kedua mata itu, sampai detik terakhir, orang yang ia tunggu tak juga menampakan siluetnya.

***

12 Maret 2011

Rumah Sakit, Seoul

11 AM

Kai diam tertunduk. Beberapa jam yang lalu ia tengah siuman dan menyadari bahwa kini ia tengah berada di Rumah Sakit begitu atap putih diatas sana menjadi benda pertama yang ia lihat saat matanya terbuka, beberapa perban dan rasa sakit di sekujur tubuhnya juga menyadarkan Kai akan kejadian yang menimpannya kemarin malam.

Kai semakin tertunduk begitu ia yakini ayahnya menatapnya lebih tajam

“Menyekolahkanmu selama tiga tahun di New York dan mempersiapkanmu sebagai penerus sepertinya hal paling sia-sia yang pernah aku lakukan” Kyuhyun berucap dengan tegas walau dilihatnya Kai masih belum sembuh.

“Kenapa kau tidak bilang dari dulu kalau kau hanya ingin menjadi seorang gangster? Jadi aku tak perlu mendidikmu sedemikian rupa”

“Maaf aku…” Kai menghentikan kata-katanya saat mendengar nafas berat Kyuhyun

“Kemarin malam saat pesta peresmian.. karena kau tak datang, aku sudah memperkenalkan Suho sebagai pewaris tetapku kelak. Mulai besok, lakukanlah apa yang kau mau Kai, Kau bebas karena namamu tak tercantum sebagai penerus perusahaanku lagi.”

Kyuhyun segera melangkah keluar begitu menyelesaikan kalimat terakhirnya.

Setetes air mata jatuh dari mata Kai begitu saja, untuk kedua kali dalam hidupnya ia menangis. Pertama, saat ibunya meninggal beberapa tahun silam dan kedua ialah saat ini.

Kai menangis dalam kesendiriannya. Tiga tahun lalu, ia membuang mimpinya hanya demi mengikuti semua rencana ayahnya, Ia membuang waktu selama bertahun-tahun hanya untuk belajar dengan sungguh-sungguh, mengikuti segala kelas tambahan, mempelajari setidaknya lima bahasa, bahkan ia tak punya waktu untuk berteman dan menikmati hidupnya sama sekali hanya agar ia dapat menjadi penerus perusahaan ayahnya kelak. 

Tidak, itu bukan keinginannya memang namun melihat ayah yang begitu dibanggakan ibunya membuat ia merasa harus melakukan hal yang sama agar menjadi anak yang dibanggakan pula. Namun dalam beberapa hari saja, Kai mampu menghancurkan mimpi dan usahanya bertahun-tahun hanya karena Xi Luhan, sahabat yang bahkan sampai saat inipun belum menampakan siluetnya, yang bahkan saat semua orang menghilang dalam pandangannya, namja berstatus sahabat itu tak pernah datang untuk menguatkannya, Kai hanya menangis dalam diam. Tak ada seorangpun yang datang menemaninya.

***

11 Maret 2011

Gangnam, Seoul

9.25 PM

 

Luhan terlihat panik tak kala mengingat bahwa setengah jam yang lalu ia menerima pesan singkat dari Kai

~gawat

Luhan menyadari tujuan awalnya tadi, ia harusnya pergi ketempat biasa dan tak membiarkan Kai menyelesaikan semuanya sendirian namun ia segera berbelok ke arah apartemen Hera saat didengarnya gadis itu menangis saat meneleponnya.

~Sial. Sepertinya aku terlambat

Ia hendak berlari namun Song Hera kini menahan langkahnya

“Jangan tinggalkan aku” Gadis itu kembali terisak

Beberapa saat yang lalu beberapa anak nakal mengganggu dan hampir melakukan hal yang keterlaluan pada Hera dan kini gadis itu benar-benar ketakutan setengah mati

“Jangan pergi Luhan, aku benar-benar takut”

Hera memeluk Luhan semakin erat. Luhan terdiam.. ia tidak bisa jika harus dihadakan dalam dua pilihan seperti ini. Namun ia segera menyadari bahwa dalam list orang-orang terpenting baginya, nama Kim Jongin berada diatas Hera.

Luhan melepas pelukan Hera dan berkata pelan

“Hera-ah maaf.. aku tak bisa menemanimu. Aku harus pergi sekarang. “

“Kau akan baik-baik saja.  Percayalah.” Ia segera meninggalkan Hera usai kalimat terakhirnya.

Luhan berlari secepat mungkin tak mempedulikan hal apapun disekitarnya dan

~Cekitttt

Sebuah mobil yang melaju cepat menyerempetnya. Luhan terjatuh dan darah mengalir dilutut kananya

~Sial. Batinya

“Aigoo Tuan, maafkan saya. Saya tak sengaja karena anda melintas begitu saja. Saya akan membawa anda ke Rumah sakit”

Namun sepertinya Luhan tak mendengarkan kata-kata gadis itu dan segera berdiri. Mencoba untuk berlari lagi meski kakinya terpincang. Luhan mencoba menahan rasa sakit yang mulai menjalar, namun lukanya membuat larinya jadi lamban.

~Aku pasti datang Kai

Luhan terus mengucapkan kalimat itu dalam hatinya. Namun begitu sampai disana tempat itu kosong. Tak ada Kim Jongin, Tak ada musuh-musuhnya. Hanya sebuah gedung kosong yang begitu sunyi. Luhan tersekat nafasnya, Baru menyadari bahwa kini, Kakinya dipenuhi dengan darah. Kepalanya mendadak pusing dan seketika ia tak sadarkan diri.

***

12 Maret 2011

Rumah Sakit, Seoul

10.55 AM

 

Luhan berjalan dengan susah payah, sebuah perban terlingkar di kaki kanannya. Buah-buahan dan bungan ia pegang di kedua tanganya. Dengan niat meminta maaf ia hendak memasuki kamar dimana Kai dirawat, namun sebuah kalimat yang tak sengaja ia dengar menghentikan langkahnya.

“Kemarin malam saat pesta peresmian.. karena kau tak datang, aku sudah memperkenalkan Suho sebagai pewaris tetapku kelak. Mulai besok, lakukanlah apa yang kau mau Kai, Kau bebas karena namamu tak tercantum sebagai penerus perusahaanku lagi.”

Luhan membulatkan mata, kemudian menyembunyikan diriya saat Ayah Kai berjalan melewatinya, keluar dari ruangan itu.

Luhan terdiam. Semua itu salahnya.. Lalu di tatapnya dari jauh sahabatnya itu tengah menangis. Untuk pertama kalinya ia melihat Kai menangis.

Entah mengapa, Luhan seolah tak mempunyai tenaga lagi saat melihat sahabatnya terbaring dan menangis seperti seorang yang tak berdaya. Ia terduduk dilantai tepat didepan kamar rawat Kai. Namja itu hanya untuk dirinya, rela melepas gadis yang ia sukai dan sekarang demi dirinya juga namanya tercoret dari daftar pewaris. Luhan masih mengingat bagaimana wajah sedih namja itu saat menceritakan kehidupannya yang tertekan di New York dan usahanya selama tiga tahun itu lenyap begitu saja, Hanya karena dirinya.

Luhan menitikan air matanya. Dalam diam pula ia menemani Sahabatnya menangis diluar. Tak seharusnya ia menyeret namja itu kedalam masalahnya. Tak seharusnya…

Luhan terus menangis disana dan merasa tak berhak untuk menemui Kai lagi. Tidak.. ia tak pantas untuk mempunyai sahabat sesempurna Kai. Ia tak pantas juga untuk menemuinya lagi, kata maaf takan pernah cukup untuk menebus semuanya. Satu dari hal yang membuatnya lega ialah namja itu masih menghembuskan nafas, jika tidak Luhan takan pernah memaafkan dirinya… seumur hidup.

Luhan mengusap air matanya dan meletakan keranjang buah serta bunga yang dibawanya tepat di depan pintu

“Maaf Kai”

Beserta kalimat terakhirnya ia beranjak pergi.

***

2 April 2011

Seoul High School

 

Setelah dua minggu lebih akhirnya Kai mulai masuk sekolah namun sejak kemarin namja itu tak terlihat tersenyum ataupun mencoba berbicara dengan Luhan. keadaan sekarang jelas berbeda. Tak ada lagi kata “sahabat” bagi mereka.. yang ada hanyalah sebuah kenangan yang sudah berlalu. Sekarang keduanya bertingkah seperti orang yang tak mengenal satu sama lain. Namun yang paling mengejutkan, Namja itu berubah total, Kai yang dulu belajar dengan sungguh-sungguh sekarang saat pelajaran berlangsungpun ia malah tertidur.

Hari demi hari telah dilaluinya dan Kai semakin sering membolos. Beberapa teman lainya bahkan melihat namja itu pergi ke Club malam dan mulai bergaul dengan anak-anak nakal.

Bunyi bel tanda pelajaran berakhir kini berbunyi. Luhan menatap kebelakang, tepat kearah Kai yang tengah tertidur. Tak lama lagi Ujian akhir semester akan segera datang dan Kai sepertinya sama sekali tak pernah mencatat. Luhan mengeluarkan buku catatanya dan menyobek tag nama serta sampul bukunya. Ia berjalan ke meja Kai dan meletakan setumpuk catatanya disana, Kai tak akan tahu bahwa itu adalah miliknya karena dari awal ia sudah membedakan tulisan tanganya, selain itu tadi ia sudah menyobek sampul buku yang berisi namanya.

“Belajarlah yang benar”

Luhan berujar pelan dan meninggalkan Kai.

Mulai saat itu juga, persahabatan mereka sepertinya lenyap begitu saja.  Saat Kai berubah menjadi siswa yang nakal, Luhan sendiri berubah menjadi orang yang lebih pendiam dan dingin. Tak ada “mereka” yang dulu, karena mereka yang dulu sudah mati tertelan keegoisan masing-masing.

***

11 Desember 2013

Rumah Sakit, Seoul.

 

 “Katakan bahwa dia akan baik-baik saja, Kai!” Ahri menatap Kai dengan mata sembabnya. Gadis itu langsung menangis begitu sampai di Rumah sakit.

Kai terdiam, ia tak tahu harus berkata apa.. sebelum Ahri datang, Dokter sudah mengatakan bahwa Luhan kehilangan banyak darah dan kondisinya kritis.

Kai tak tahu apa yang harus ia lakukan, pada akhirnya namja itu hanya menarik Ahri kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan gadis itu.

Kai lebih mengeratkan pelukannya pada Ahri begitu potongan-potongan masa lalu kembali terputar diotaknya. Dua tahun lalu, ialah yang terbaring disana. Namun tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia menyalahkan namja itu, ia juga tak pernah marah bahwa faktanya karena namja itu pula ayahnya mencoret namanya sebagi pewaris.. tak pernah. Satu hal yang membuatnya kecewa adalah saat tak ada satupun orang disampingnya, namja itu, satu-satunya sahabat yang ia milki juga meninggalkanya dalam keterpurukan.

Ahri semakin terisak dalam tangisnya. Kai sedari tadi hanya terdiam, bukan berarti ia merasa tak sedih sama sekali namun melihat gadis itu kini tengah bersandar padanya ia tak sepantasnya meneteskan air mata didepan Ahri. Jika harus jujur, Ia takut.. takut jika Tuhan tak memberikan kesempatan lagi agar ia bisa memperbaiki hubungan persahabatan mereka yang hancur.

Kai melepaskan pelukan Ahri saat melihat Bibi Yu

“Apakah bibi sudah menghubungi Nyonya Han?”

“Nde.. Tuan, Beliau sedang dalam perjalannya kemari”

Kai mengangguk pelan, dalam hatinya ia berdoa untuk sahabat lamanya. Disisi lain, jika nyawa sahabatnya melayang tak peduli apapun resikonya, orang yang menusuknya harus mebayar dengan nyawa pula. Mata Kai tiba-tiba saja berubah kelam dan Chanyeol yang ada disana sadar akan hal itu.

“Jangan macam-macam Kai, lagipula aku sudah mengurusnya”

Kai tetap menatap kebawah, ia tak membalas kata-kata Chanyeol sama sekali.

5 Jam berlalu.

Hari kini menjelang fajar, Kai dari tadi malam tak juga beranjak dari sana. Ia menatap Ahri yang tengah bersandar pada bibi Yu..

Ia lalu pergi keluar untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Begitu ia kembali, langsung dihampirinya Ahri yang kini tengah menatap kosong kedepan

“Makanlah dulu” Kai menyerhakan makanan yang ia beli tadi namun gadis itu menggelangkan kepalanya

“Disaat seperti ini, kau harus makan dan minum yang cukup. Jika Luhan sadar nanti, setidaknya kau kau harus sehat agar bisa menjenguknya”

Ahri menatap Kai,ucapan namja itu ada benarnya. Ia lalu mengambil makanan dari Kai dan mulai menyantapnya walau tak ada nafsu makan sedikitpun.

“Dua tahun lalu, aku pernah berbaring disana. Sama seperti Luhanmu”

Ahri menatap Kai yang kini berbicara padanya

“Bedanya.. saat itu aku tak punya siapapun disisiku namun Luhanmu sepertinya mempunyai banyak orang yang peduli padanya”

Ahri merubah tatapannya namun Kai malah tersenyum

“Jangan menatapku seperti itu Ahri-ah, kau membuatku merasa seperti orang yang menyedihkan”

Ahri menggelangkan kepalanya. Ia tak menatap namja itu dengan tatapan kasihan, tidak… ia menatap namja itu dengan tatapan penuh pengertian, karena ia tahu betul bagaimana rasanya saat tak ada seorangpun disisimu saat kau membutuhkannya.

Dokter Jun kini keluar dari ruang operasinya, dan semua yang ada disana serempak berdiri, menunggu kabar darinya.

“Luhan…”

***

 

49 thoughts on “One-Sided Love [freelance]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s