(Part 4) You Don’t Know everything [freelance]

Gambar

Tittle                      : (Part 4) You Don’t Know everything

Author                  : Hwang Eun Hee (@AnggiNindyas)

Main Cast            : Byun Baekhyun, Shim Chaesa, Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Kim Suho, Xi Luhan

Support cast       : You can find by your self

Gendre                : Romance, drama, school life, comedy

Rating                   : Teen

Poster                   : : leechannie61

Length                  : Sequel

Waa aku balik lagi bawa ff ini, semoga suka yaa, dan kunjungi blog aku minipinky22

 

Baekhyun segera berlari kesekeliling sekolah. Wajahnya terlihat begitu panic. Kenapa bisa? Sungguh, bahkan Baekhyun sendiri pun tidak tahun. Suho yang mengetahui hal yang tengah terjadi ikut berlari dibelakang Baekhyun. Kedua mata mereka menatap lekat sekeliling mereka.

Baekhyun sudah beberapa kali mencoba menghubungi nomor Chaesa. Namun nomor Chaesa tidak dapat dihubungi. Sungguh, kemana wanita itu. Baekhyun terdiam sejenak. Bukankah, dia punya nomor telfon rumah Chaesa. Dengan segera ia menelfon rumah Chaesa.

‘Yeobseo’ terdengar suara wanita berusia pertengahan dua puluh tahunan disana. Baekhyun mengatur nafasnya.

‘Yeobseo, ini Baekhyun. Aku ingin bertanya apa Chaesa sudah pulang?’ Tanya Baekhyun to the point.

‘Chaesa belum pulang, apa yang terjadi?’ suara disebrang sana mulai terdengar gelisah.

‘Tidak apa apa, kami sedang bermain petak umpet aku kira Chaesa bosan lalu pulang. Kalau begitu terima kasih. Nanti akan ku antar Chaesa pulang’

Baekhyun mematikan sambungan telfon. Suho menatap Bekhyun dengan tatapan tidak percaya. Alisnya saling bertautan. Baekhyun yang melihat pandangan aneh dari Suho langsung bertanya.

“Apa?”

“Alasan mu aneh. Kenapa kau tidak memilih alasan yang lebih masuk akan?”

“Itu tidak penting. Sekarang lebih baik cari Chaesa”

Bekhyun dan Suho kembali berlari. Membuka setiap pintu kelas. Namun hasilnya nihil. Tidak ada Chaesa dimana pun. Kelas memang tidak sepenuhnya sepi. Ada beberapa orang yang sibuk dengan kehidupan mereka masing masing. Setidaknya Baekhyun dan Suho tidak perlu setakut seperti yang ada dalam film film horror.

Terdengar suara gemuruh diluar sana. Hujan sudah mulai turun. Udara semakin dingin. Sial, Chaesa masih belum ketemu.

“Kemana lagi tempat yang belum kita cari?” Tanya Suho sambil mencoba mengatur nafasnya.

“Toilet wanita” ucap Baekhyun ala kadarnya, bukan kah begitu keadaannya, mereka memang belum memeriksa toilet wanita.

Suho membulatkan kedua matanya kaget. Toilet wanita? Apa dia harus masuk? Bagaimana jika ada yang melihat. Reputasinya sebagai presiden sekolah akan hilang seketika.

Baekhyun mendorong pintu toilet wanita dengan perlahan. Awalnya pintu ini terkunci. Namun beruntung, seseorang belum mencabut kunci itu dari tempatnya.

Suasana kamar mandi begitu gelap. Jujur bulu kuduk Baekhyun langsung berdiri. Tangan nya meraba raba dinding kamar mandi dan

Clek!!

Tubuh Baekhyun menegang seketika. Sosok pucat dengan rambut panjang yang sudah berantakan berdiri tak jauh darinya. Tangannya gemetaran hebat. Namun ia mencoba terus memasang ekspresi tenang. Itu Chaesa, Shim Chaesa.

Dengan cepat Baekhyun mendekati Chaesa. meraih kedua tangannya. Ia baru sadar satu hal, seluruh tubuhnya basah kuyub.

“Chaesa ya apa yang terjadi?” Baekhyun meraih tubuh Chaesa karena keseimbangan yang sudah berkurang drastis. Tubuhnya begitu panas.

“Ya tuhan kau demam Chaesa”

Baekhyun segera membopong Chaesa keluar dari kamar mandi. Suho yang menunggu diluar begitu terkejut melihat keadaan Chaesa. lemah, tidak seperti Chaesa yang biasanya.

“Chaesa ya” Suho langsung mendekati chaesa dan Baekhyun.

“Wae? Apa yang terjadi?” Tanya Suho khawatir. Belum sempat Baekhyun menjawab. Tiba tiba ia merasakan keseimbangan nya menghilang.

Chaesa nya kini sepenuhnya tidak sadarkan diri. Baekhyun menggendong Chaesa. “Suho Ya, bantu aku, bawakan tas nya”

***

Baekhyun mendudukkan Chaesa disamping kursi kemudi. Sungguh ia merasakan sangat khawatir pada Chaesa. Bagaimana pun sekarang Chaesa merupakan tanggung jawabnya kan. Ia melepaskan blazer yang melekat pada tubuhnya lalu memasang pada Chaesa.

Baekhyun menyentuh kening Chesa dengan punggung tangannya. Sial! Panasnya belum turun.

Baekhyun menjalankan mobilnya sesegera mungkin. Melajukannya dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Tidak berselang lama Baekhyun menggendong Chaesa masuk kedalam rumah. Suasana rumah yang belum sepi membuat mereka berdiri kaget. Ini kali pertama mereka melihat Chaesa pulang dengan kondisi seburuk ini.

Rambutnya berantakan, tubuhnya basah, dan dalam keadaan tidak sadar.

“Omo Chaesa ya, wae geurae?” Tanya nyonya Shim dengan panic. Ia berlari mendekati anaknya itu.

“Boleh aku tau dimana kamar Chaesa?” Nyonya Shim mengangguk kecil masih dengan wajha panic. Dia berjalan didepan Baekhyun dengan langkah panjang panjang,

Baekhyun masuk ke sebuah pintu berwarna coklat tua dengan nama Chaesa didepannya. Baekhyun cukup terkejut. Kamar Chaesa begitu luas dan, hangat untuk cuaca musim dingin seperti ini.

Baekhyun menidurkan Chaesa dengan perlahan.

“Apa yang terjadi dengan uri Chaesa?”

Baekhyun mendongakkan kepalanya kaget. Benar juga dengan pertanyaan nyonya Shim barusan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Chaesa, bahkan Baekhyun sendiri tidak tahu.

“Mianhae…..” Baekhyun menggantungkan kalimatnya, dia bingung harus memanggil Nyonya Shin dengan panggilan apa. Biarpun sekarang dia hampir memiliki seorang cucu, namun wajahnya masih sangat muda.

“Eomma, panggil aku seperti itu”

Baekhyun mengangguk “Ne, Mianhae eommanim, aku tidak dapat menjaga Chaesa dengan baik. Aku benar benar minta maaf, sungguh aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi”

Baekhyun menundukkan kepalanya menyesal. Ia tahu, nyonya Shim sekarang tengah memandanya dengan tatapan kesal. Ibu mana yang tidak kesal jika anaknya tiba tiba pulang dalam keadaan pingsan? Dan seseorang yang harusnya menjaganya malah tidak melakukan tugasnya dengan baik.

“Keluarlah, aku akan mengganti baju Chaesa” ucap nyonya Shim dengan begitu dingin nya. Baekhyun mengangguk kecil lalu keluar bersama Changmin yang entah sejak kapan sudah ada digenggaman tangannya.

Changmin membawa Baekhyun keruang tengah. Entah dia baru sadar atau bagaimana tapi sejak tadi dia tidak melihat tuan Shim. Kemana dia?

“Hyung, aku tidak menyangka jika Chaesa noona menjadi yeojachingu mu” ucap Changmin ala kadar nya. Ia mencoba ingin dekat dengan Baekhyun.

Berbeda dengan Chaesa, Changmin dan Chaerin begitu hangat padanya.

Bekhyun tersenyum kecil. Bahkan dia juga tidak menyangka jika ia bisa menjadi kekasih seorang Shim Chaesa.

“Chaesa noona tidak pernah sakit. Dia wanita paling kuat diantara Eomma dan Chaerin noona. Aku benar benar sedih melihat noona seperti itu”

Baekhyun menundukkan kepala “Mianhae, aku sungguh menyesal tidak menjaganya dengan baik”

Changmin terkekeh kecil “Gwenchana Hyungnim. Ah, aku memberikan satu rahasia untukmu, Chaesa noona sangat takut gelap. Ah apa tadi Chaesa noona ada ditempat gelap?”

Baekhyun terdiam, seketika tubuhnya menegang. Benar tadi ia menemukan Chaesa dikamar mandi yang gelap gulita. Baekhyun mengangguk kecil. Mengetahui hal yang sebenarnya terjadi Changmin menyandarkan punggungnya pada sofa.

“Eomma bilang ini karena noona pernah mengalami trauma. Dulu ada seseorang yang meninggalkan noona pada sebuah gedung yang baru saja akan dibangun”

Baekhyun membulatkan kedua matanya. Sepertinya ia mulai tertarik dengan cerita Changmin “Lalu apa yang terjadi?”

Changmin menggeleng kecil. Ia menghembuskan nafas kecewa. “Selebihnya eomma tidak mengatakan nya padaku”

***

Kyumi membuka pintu dengan malas. Wajahnya menatap datar seseorang yang berdiri dihadapannya.

“Wah, kita lihat siapa lagi yang terdampar disini” Kyumi melipat kedua tangannya didepan dada. Dia menatap dingin sosok dihadapannya.

“Apa maksud mu?”

“Ini rumah kediaman tuan Do, bukan Oh. Apa kau tersesat? Kau lupa jalan pulang? Apa perlu aku memberitahukan mu?” Kyumi mengangkat satu alis matanya. Ia menatap Sehun dengan tatapan menantang.

Sehun membuka mulutnya tidak percaya. “Ya, apa maksud mu?”

Tidak lama sosok pria yang tingginya melebihi Kyumi berdiri disamping Kyumi. Dia menatap Kyumi dan Sehun bergantian.

“Apa yang terjadi? Sehun ah kenapa tidak langsung masuk?” Kyungsoo meberikan isyarat menggunakan kepalanya agar Sehun cepat masuk.

“Seorang polisi abal sedang menunjukkan jalan pulang nya pada ku” ucap Sehun sinis. Dia berjalan melewati Kyumi. Mengekor Kyungsoo lebih tepatnya.

Sehun dan Kyungsoo jalan menaiki tangga mennuju kamar kyungsoo. Sehun sangat sadar, dari tadi sosok Kyumi juga ikut mengikuti mereka.

Kyungsoo membuka pintu kamarnya malas. Disana sudah ada beberapa orang terdampar memenuhi kamar Kyungsoo.

Disofa si tiang listrik Chanyeol tengah merebahkan tubuhnya memenuhi sofa yang cukup panjang. Luhan tengah sibuk mencorat coret kertas di meja belajar Kyungsoo. Suho sibuk dengan beberapa buku tebal, sesekali dia berguling guling dikasur big size milik Kyungsoo.

“Oh, Sehun ah, kenapa kau kemari? Bukankah orang tua mu baru pulang dari Jepang?” Tanya Chanyeol ketika melihat Sehun yang tengah berdiri diambang pintu.

Sehun berjalan pelan, dia ikut menjatuhkan dirinya disamping Suho. Si president itu sontak duduk kaget.

“Aku malas pulang, aku benci mereka membicaran perjodohan tentang ku”

“MWO? KAU DIJODOHKAN?” Tanya semua orang serempak. Sehun yang mendengar itu hanya menutup matanya. Mencoba mendamaikan pikirannya yang begitu kusut. Bahkan dia sendiri tidak percaya jika sekarang Oh Sehun yang memiliki kehidupan bebas tiba tiba dijodohkan dengan seseorang?

“Kau seperti tokoh dalam film atau novel yang aku baca Sehun ah” ucap Suho. Sehun tidak menanggapi ucap Suho. Ia tetap bertahan pada posisinya.

Kyungsoo dan Kyumi tiba tiba menegang seketika. Apa Sehun bilang? Dijodohkan?

“Dengan siapa kau dijodohkan?” Tanya kyungsoo hati hati.

“Molla, eomma tidak memberitahukan nya pada ku. Eomma bilang itu akan jadi kejutan” ucap Sehun masih menutup kedua matanya.

Kyumi masih diam ditempat dengan wajah menyebalkannya. Sebenarnya ia ingin sekali menarik Kyungsoo ke kamarnya lalu memaksanya mengerjakan tugas tugasnya. Sebenarnya dia tidak malu jika harus menyeret Kyungsoo sekarang juga dihadapan teman temannya. Namun sesuatu yang tidak Kyumi mengerti membuat nya terdiam seketika.

Tidak lama terdengar suara derap langkah seseorang mendekat, seketika Kyumi tersadar dari lamunannya. Seseorang telah berdiri disampingnya. Siapalagi kalau bukan Baekhyun. Kyumi mendelikkan matanya sebal.

“Wah lihat, Kyungsoo ya, apa kau akan membangun panti asuhan disekitar sini? Lihat ada seseorang lupa jalan pulang” Kyumi menghadap ke sosok disampingnya dengan wajah yang begitu sangat menyebalkan.

“Anak manis, lain kali lau harus bawa peta agar kau tak tersesat eoh” Kyumi mengusap bagian belakang kepala Baekhyun baik baik.

Semua mata yang melihat langsung membulat kaget. Baekhyun tidak dapat berbuat apa apa. Dia sangat kaget. Bagaimana bisa ada hoobae nya yang berkelakuan seperti itu. Kyumi melangkah pergi meninggalkan Kyungsoo dan kawan kawan. Sadar diperlakukan seperti itu Baekhyun membulatkan kedua matanya kesal.

“Ya Kyungsoo!! Apa dia adikmu? Wah jinjja!!”

***

Keesokkan paginya.

Xiumin menatap Chaesa kaget. Sebuah syal putih melilit leher nya, ia memakai hoodie tebal berwarna putih juga. Wajahnya begitu pucat.

“Apa yang terjadi? Kau sakit?” Xiumin menyentuh kening Chaesa. sungguh Xiumin begitu terkejut. Tubuh Chaesa sangat panas. Ia demam.

Chaesa duduk dikursinya tanpa menghiraukan Xiumin. Sungguh ia merasakan tubuhnya begitu berat. Memang semalaman ia tidak dapat tidur. Tidak bisa dipungkiri. Chaesa tidak dapat tidur karena ia masih sangat ketakutan. Ingatan ingatan masa lalunya kembali datang. Kenangan pahit itu kembali terulang dalam memori Chaesa.

“Jika kau sakit kenapa memaksa sekolah?”

“Xiumin ah, aku lelah tolong jangan Tanya atau berbicara padaku kumohon”

Xiumin mengangguk kecil. Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan beberapa hal dan memaksanya untuk pulang. Namun ini kali pertama Xiumin melihat Chaesa sakit dengan wajah sepucat itu.

Pelajaran dimulai, sesekali Xiumin menengok kearah Chaesa. Sesekali itu pula ia melihat Chaesa begitu kesakitan. Chaesa memang tidak mengeluarkan suara apapun, namun sangat ketara jelas diwajahnya. Xiumin ingin sekali menolong Chaesa namun ketika ia bergerak sedikit Chaesa sudah menatapnya dengan tatapan menolak.

Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Xiumin perlu memberikan dua jempol untuk Chaesa, karena sudah beberapa jam ia sanggup menahan kesakitannya. Xiumin membalikkan pandangannya. Ia mendengar suara kursi bergeser, itu Chaesa tengah memundurkan kursi.

Chaesa berdiri dengan wajah datar. “Songsaenim aku perlu ketoilet” Cho songsaenim mengangguk kecil, memberikan isyarat memperbolehkan Chaesa untuk pergi.

Namun ketika Chaesa menyentuh pintu, kesadaranya sepenuhnya hilang. Ia jatuh. Dengan cepat Xiumin berlari mendekati Chaesa. seketika Susana kelas tidak setenang tadi. Semua mata memperhatikan Chaesa yang tengah terbaring lemah dilantai.

***

Chaesa mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ia merasakan silau oelh cahaya diatas sana. Tiba tiba sosok jangkung datang menghampiri Chaesa. ia tersenyum manis juga lembut. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol.

“Kau bangun. Untunglah kau sadar dengan cepat” ucap Chanyeol. Chaesa tidak menjawab apapun. Dia masih terdiam, kepalanya sangat pusing dan tubuhnya begitu dingin.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Chaesa langsung bangkit dari tidurnya. Namun ia merasa seperti keseimbangannya hilang. Beruntung Chanyeol menangkap Chaesa dengan cekatan.

“Biasa nya orang bangun pingsan akan bertanya dia dimana, tapi kau menanyakan jam berapa?” Chanyeol melipat kedua tangannya didepan dada. Ia memasang wajah pura pura kesal. Namun Chaesa tidak menanggapinya.

“Aku antar pulang jangan memaksa belajar, kau ini pintar, aku yakin kau bisa langsung menyusul teman mu ketika kau sudah sembuh nanti”

Chaesa diam. Apa kata Chanyeol benar juga. Ia juga ingin segera berbaring, Chaesa lelah sangat lelah. Bahkan ia merasakan berat. Tapi pulang bersama Chanyeol? Tidak mungkin, bahkan Xiumin saja tidak tahu dimana rumah Chaesa. Rahasia akan terbongkar kalau begitu.

“Panggilkan Baekhyun” ucap Chaesa lirih.

***

Baekhyun memegang ponselnya yang dari tadi bergetar. Seseorang menelfonnya, Park Chanyeol, siapa lagi. Namun Baekhyun tidak juga mengangkat panggilan itu.

Kedua matanya masih menatap tajam sosok didepannya. Shim Chaesa dan Park Chanyeol. Baekhyun mengepalkan tangannya dan meremas kuat ponselnya.

***

Baekhyun melirik Chaesa sesekali. Kedua matanya terpejam disampingnya namun dia terlihat kesulian bernafas. Bibirnya bergetar, begitu juga dengan tangannya.

Baekhyun memanggil Chaesa beberapa kali, namun tidak ada tanggapan dari wanita itu. Baekhyun semakin khawatir. Di sudah melepas blazer nya karena dia pikir Chaesa kedinginan, namun tenyata itu tidak berguna sama sekali.

Dengan perlahan Baekhyun mencoba menggapai tangan Chaesa, dia menggenggamnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih bertengger manis pada stir kemudi.

Entah ini perasaan Baekhyun saja atau bagaimana, tapi sekarang Chaesa sedikit tenang. Setidaknya wanita itu sudah bisa mengatur nafasnya dengan baik.

Baekhyun memberhentikan mobilnya. Tangan kirinya masih menggenggam erat jemari Chaesa. Baekhyun mengeluarkan Chaesa, menggendong Chaesa ala bride style. Rumah terlihat sepi. Sekarang pukul setengah enam. Apa orang orang itu belum pulang?

Seorang ajhuma membuka pintu. Melihat keadaan Chaesa yang terbaring lemah digendongan Baekhyun membuatnya sangat terkejut.

“Omo tuan kenapa dengan aggashi?” Tanya Ajhuma. Baekhyun menghela nafas pelan. Ia menggendong Chaesa menuju kamar nya dengan ajhuma yang mengikutinya dibelakangnya.

“Dia pingsan, bisa ajhuma bawa air dingin ke kamar Chaesa?”

“Oh ne”

Dengan cepat ajhuma berlari kea rah dapur. Baekhyun mendorong pintu kamar Chaesa dengan satu kakinya. Membaringnya tubuh Chaesa dengan perlahan lalu menarik selimut hingga menutupi dada Chaesa.

Baekhyun menyentuh dahi Chaesa. tubuhnya masih sangat panas. Baekhyun menggerak gerakkan jarinya, mengusap lembut puncak kepala Chaesa.

“Ada apa dengan mu sebenarnya?”

***

Pukul 10 malam

Kyumi duduk diantara kedua orang tua angkatnya dan seorang kakak angkatnya. Kyungsoo dapat pulang lebih cepat hari ini karena ada sesuatu hal yang penting hari ini. Ya sangat penting, meski bukan menyangkut dirinya.

“Bagaimana Kyumi ah?” Tanya nyonya Do memastikan. Kyumi yang sedari tadi diam tidak mengatakan apapun. Bagaimanapun juga dia terlalu kaget untuk mendengar hal itu.

Bagaimana pun juga dia baru duduk diangkatan kedua. Bagaimana bisa dia menikah? Dan menikah dengan orang yang tidak dia ketahui siapa pria itu, bagaimana rupanya, dan bagaimana kelakuannya. Dia akan menikahi orang asing. Itu gila!

“Kami tidak pernah meminta hal apapun pada mu, kami tidak memaksa jika kau ingin menolaknya tidak apa” ucap Tuan Do. Kyumi lagi lagi terdiam.

Baiklah, kedua orang tua angkatnya memag tidak pernah meminta apapun. Kyungsoo yang mendengar tentang hal itu masih tetap bungkam. Keluarga ini memang pernah membahas sebelumnya tentang perjodohan keluarga Do, tapi saat itu Kyumi masih belum menjawab apapun.

“Ne eomma, appa. Aku akan senang hati menerima perjodohan ini” Kyungsoo membulatkan kedua matanya kaget. Pasalnya baru saja ia mendengar Kyumi menerima perjodohan, dia tidak pernah main main dengan ucapannya ketika tengah bersama kedua orang tuanya.

“Jinjja? Wah terima kasih banyak Kyumi ah. Kau memang anak kami yang sangat berbakti” Nyonya Do memeluk Kyumi senang.

Kyungsoo sedikit tersinggung. Apa eomma nya bilang? Anak yang berbakti? Woah! Memang Kyungsoo bukan anak yang berbakti?

“Kau akan segera bertemu dengannya” ucap Tuan Do sambil tersenyum senang.

“Appa kau harus memperkenalkan Kyumi dengan pria itu saat tanggal sacral Kyumi, agar dia tidak berbuat ulah” ucap kyumi mencoba mencairkan susasana.

“Eomma, Appa aku ingin ke kamar dulu, banyak sekali tugas yang menumpuk”

Nyonya Do dan Tuan Do mengangguk kecil. Mereka mendekat membicarakan tentang pertemuan Kyumi dengan calon suami yang bahkan mereka sendiri tidak tahu bagaimana raut wajahnya.

Kyungsoo menatap punggung Kyumi heran. Kyumi memang selalu tidak bersemangat, namun kali ini ia seperti melihat aura bimbang dalam dirinya. Sebenarnya dia sangat kasihan, dia ingin menemuinya lalu memberikannya semangat. Namun terlintas sikap sikap kyumi yang sangat tidak sopan pada dirinya, dan mengurungkan Kyungsoo untuk melakukan kebaikan itu.

***

Chaesa mengerjapkan kedua matanya. Ia merasakan pusing yang begitu sangat pada kepalanya. Lagi lagi dia pingsan?

Chaesa melihat sekeliling. Ia berada didalam kamarnya. Ia melihat sosok tinggi dengan seragam tengah menatapnya dengan tatapan yang sedikit, cemas?

“Sedang apa kau disini?” Tanya Chaesa sinis. Baekhyun mendelik sebal. Ia menarik kursi disamping tempat tidur Chaesa lalu mendudukkan nya. Ia menyentuh kening Chaesa.

Baekhyun menghela nafas lega. Setidaknya sekarang suhu tubuhnya tidak sepanas tadi. Melihat tingkah laku Baekhyun Chaesa langsung bangun dari tidurnya.

Seketika pening langsung mengerubuni  kepala Chaesa. Baekhyun dengan sigap menangkap tubuh Chaesa lalu menidurkan lagi Chaesa.

“Aku tau kau masih sakit, jangan berbuat hal yang dapat menyakiti dirimu sendiri”

Baekhyun bersikap seolah olah ia tengah memarahi seseorang yang sulit diatur.

“Jika besok kau masik sakit, jangan sekolah. Kau benar benar menyulitkanku” ucap Baekhyun pura pura kesal.

Chaesa tidak meladeni Baekhyun. Ia memalingkan wajahnya kearah berlawanan dimana tidak ada Baekhyun disana. Benar Baekhyun bilang dia merepotkan.

“Keluarga mu sudah pulang, aku pulang dulu ya, jaga kesehatan mu” Baekhyun meraih tas nya lalu menyimpannya disebelah pundaknya. Dia menghampiri Chaesa, mengecup kening Chaesa sebentar lalu pergi keluar kamar.

Chaesa terdiam. Bodoh, kenapa dia tidak menolak ketika Baekhyun mengecup kening nya? Kenapa dia malah menerima? Chaesa merutuki kebodohan dirinya. Tiba tiba bulir bening turun dari pelupuk matanya. Ia mendengar seseorang membuka pintu kamarnya, Chaesa menutup matanya lalu menenggelamkan kepalanya pada bantal.

Ia merasakan ujung kasur sebelah kirinya turun, Seseorang mendudukinya. Chaerin menepiskan beberapa rambut yang menghalangi wajah adiknya itu. Dia menatapan Chaesa dengan tatapan prihatin. Bagaimanapun juga, Chaesa adalah sosok yang kuat, namun ini kali pertama sejak beberapa tahun yang lalu. Ia melihat Chaesa terkulai lemas ditempat tidur.

“Apa itu Baekhyun mu? Aku merasakan aura bahagia dilubuk hati mu paling dalam”

***

Kyungsoo membuka pintu kamar Kyumi dengan sangat pelan. Ia melihat Kyumi duduk dibawah, kedua tangannya bersandar pada tempat tidur. Ia melihat kedua bahu Kyumi bergerak narik turun. Walaupun lampu itu mati namun ia tahu, adik nya itu tengah bersedih.

Kyungsoo berjalan menghampiri Kyumi. Lalu duduk disamping wanita itu. Kyungsoo tau wanita itu sadar akan kedatangan Kyungsoo. Pasalnya dibalik rambutnya panjang yang menutupi wajahnya itu, dia tengah menghapus air matanya.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Kyumi dengan nada menyebalkan seperti biasa. Kyungsoo menatap kedepan. Sebuah bingkai foto, foto dirinya, Kyumi dan kedua orang tuanya yang tengah tertawa bahagia.

Kyumi membalikkan tubuhnya. Ia sama sama menghadap foto seperti Kyungsoo.

“Apa aku tidak boleh pergi ke kamar adikku sendiri?”

Kyumi mendelik sebal. “Itu bukan jawaban mu. Katakan ada apa?” Kyungsoo terkekeh kecil. Kyumimemang bukan orang yang suka membuang buang waktu dengan percakan percakan ringan.

“Kenapa kau menerima perjodohan itu?” Bingo! Benar kan apa yang dipikirkan Kyumi. Kyungsoo pasti akan bertanya seperti itu.

“Tentu saja karena aku senang. Kau pikir karna apa?”

“Jangan berbohong” Kyumi terdiam. Dari mana dia tahu?

“Lalu kenapa kau menangis?” Tanya Kyungsoo. Kyumi menundukkan kepalanya. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak mengunci pintu.

“Aku? Aku menangis? Kau bercanda? Bagaimana mungkin seorang Do Kyumi menangis”

“Kalau begitu mari kira nyalakan lampunya” sektika tubuh Kyumi menegang. Ia menahan tangan Kyungsoo lalu menggeleng kecil.

“Aku hanya  merasa sedih, seperti wanita yang tidak laku. Tapi sepenuhnya aku senang. Bukankah ini mengasyikan!”

Kyungsoo terdiam ‘Lihat kau masih saja berpura pura’

“Wah Kyungsoo ah, aku rasa aku mengantuk. Aku ingin tidur, atau kau mau menemaniku tidur?”

“Bahkan tidak dalam mimpimu”

***

Keeseokan harinya….

Chaesa bangun pagi dengan begitu sehat. Entah kenapa, dia merasa badannya begitu sehat sekarang. Entah itu karena obat yang diberikan eonni nya, entah karena kasih sayang dari kedua orang tuanya, atau mungkin karena kecupan Baekhyun semalam.

Buru buru Chaesa menggelengkan kepalanya. Sialan, kenapa dia masih mengingat kejadian semalam?

Ponsel Chaesa bergetar, sebuah pesan masuk dari Baekhyun.

Bagaimana keadaan mu? Mau ku jemput?

Chaesa mengetikkan beebrapa hurf disana.

Tidak, aku rasa Chaerin eonni akan mengantarku

Tidak lama ponselnya kembali bergetar

Baiklah, aku akan menunggumu disekolah.

***

Chaerin memberhentikan mobilnya. Ditatap nya lekat lekat sosok adik yang duduk disampingnya. “Kau benar benar akan baik baik saja?” Tanya Chaerin khawatir.

Chaesa tersenyum kecil lalu mengangguk. “Eonni aku masuk dulu”

Chaesa keluar dari mobil mewah milik kakaknya. Ia datang jauh lebih pagi dari biasanya. Ia tidak mau ada seorang pun yang tahu kalau dia adalah orang kaya.

Chaesa berjalan melewati koridor. Sekolah benar benar sepi dan dingin. Tidak ada seorang pun yang berkeliaran. Cari melirik jam yang bertengger manis ditangan kirinya. Masih pukul setengah enam pagi.

Chaesa membuka koridor. Tiba tiba ia merasakan flash back. Ia ingat ketika Baekhyun datang, dan memaksanya sebagai pacarnya. Sungguh gila.

“Woah, Chaesa kau datang pagi sekali. Kau sudah sembuh?” Chaesa terlonjak kaget. Suara berat seseorang berada tepat dibelakangnya. Chaesa membalikkan wajahnya.

Chanyeol berada dibelakangnya dengan senyum konyolnya. Chaesa tersentak kaget, ia mundur hingga tubuhnya menabrak loker miliknya. Kedua matanya seolah berkata –apa-yang-kau-lihat?

Chanyeol terkekeh kecil. “Bagaimana keadaan mu?” Tanya Chanyeol lembut. Dia malah tersenyum sangat manis pada Chaesa.

“Seperti yang kau lihat” Chaesa berkata dingin. Dia berjalan melewati Chanyeol. Chanyeol mengerutkan kening. Dia berjalan cepat mengikuti Chaesa.

“Ya, kenapa begitu bukan kah kita teman?”

Chaesa tidak mengindahkan ucapan Chanyeol. Ia tetap berjalan dengan langkah panjang panjang. “Hey kau bukankah waktu itu sudah menerima ku sebagai teman. Kau mau bukti? Bagaimana kalau rekaman suaramu?”

Chaesa menghentikan langkahnya. Bisa bisa dia bisa gila. Baekhyun, wanita pengganggu itu, dan Chanyeol. Adakah yang lebih buruk dari itu?

“Sebenarnya apa mau mu?” Tanya Chaesa melipat kedua tangannya didepan dada. “Berteman dengan mu”

Chaesa mendelik sebal. “Ya tuhan, kau ingin berteman padaku tapi kau seperti sasaeng fans”

“Oh benarkan?” Tanya Chanyeol. Ia tertawa renyah. Chaesa menghela nafas kesal.

“Kalau begitu sebagai sasaeng fans mu akan ku tunjukkan padamu”

Chanyeol meraih lengan Chaesa, ia menarik Chaesa kesuatu tempat. Tubuh Chanyeol yang tinggi membuat langkahnya panjang panjang.

Chaesa mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Chanyeol. Namun sial, genggaman nya terlalu erat. Dia tidak suka dipaksa seperti itu. Bahkan Chaesa tidak mengenal Chanyeol.

“Ya! Lepaskan aku! Ya!!” Chaesa terus mencoba melepaskan diri dari genggaman Chanyeol. Namun nihil. Kekuatan Chanyeol tetap menang.

Chanyeol menarik Chaesa keatap sekolah. Sialan, pagi pagi begini sudah mengajak Chaesa lari. Apa dia tidak tahu Chaesa baru bangun dari sakit? Bagaimana kalau Chaesa tiba tiba jatuh pingsan seperti kemari?

Chanyeol membuka sebuah pintu. Sebuah hamparan luas dihadapan Chaesa. Ada beberapa teng penyimpanan air disana. Namun tempat ini cukup bersih dan nyaman. Chaesa menatap langit yang sebentar lagi akan disinari oleh fajar.

Chaesa sangat kagum. Sudah dua tahun lebih dia bersekolah disini, namun ia baru tau tempat ini? Chanyeol kembali meraih tangan Chaesa. dibawa nya Chaesa ke ujung gedung.

Chanyeol duduk disana, lalu diikuti dengan Chaesa. mereka menggantungkan kaki mereka. Ternyata gedung sekolah mereka benar benar tinggi.

“Aku selalu mengajak Kyungsoo atau Baekhyun kemari. Luhan sangat takut pada ketinggian, Suho sibuk menjadi president sekolah, dan Sehun aish, aku harus mengiming imingi dia dengan bubble tea” Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Ya sehun benar benar terllau ke kanak kanakan. Padahal sebentar lagi dia akan lulus. Bagaimana bisa ada seseorang yang duduk dibangku perguruan tinggi dengan sikap seperti Oh Sehun?

“Kau suka?” Tanya Chanyeol lembut. Chaesa menengok kearah Chanyeol. Kedua matanya tersenyum, namun tidak dengan bibirnya. Chaesa mengangguk kecil.

“Syukurlah jika kau suka, setidaknya aku tidak harus mengimi imingimu dengan bubble tea” Chanyeol terkekeh kecil. Chaesa kembali menatap langit.

Ia rasa kehidupannya kini sedang dilanda awan gelap. Lalu apakah bisa matahari menendang jauh jauh gumpalan awan hitam dalam dirinya?

***

Xiumin menatap senang sosok wanita yang ada dihadapannya, meskipun sosok wanita itu tidak membalas senyuman Xiumin.

“Chaesa ya, kau sembuh? Wah senang sekali bisa melihatmu dalam keadaan sehat” Chaesa mengangguk kecil lalu duduk dikursi belakang Xiumin.

“Apa Baekhyun merawatmu dengan baik?” Tanya Xiumin.

Chaesa terdiam, apa dia bilang Baekhyun? Hey, seharian ini Chaesa belum bertemu dengan Baekhyun. Chaesa melihat jam, pukul tujuh pagi. Biasanya dia akan datang kekelasnya atau membuat kejutan kecil. Tapi kemana dia? Tunggu, kenapa kau Chaesa? Apa peduli mu?

“Aku rasa begitu. Boleh aku lihat catatan kemari?” Xiumin mengangguk senang. Dia memberikan catatannya pada Chaesa.

Sebenarnya Chaesa sudah sangat merindukan bau pagi hari diperpustakaan, namun tidak, ini tidak ada baik. Bukannya dia takut. Hanya saja tubuhnya terlalu lelah untuk menghadapi fans Baekhyun.

***

Lagi lagi pergelangan tangan Chaesa menjadi korban. Baekhyun menarik tangan Chaesa dengan begitu kencang. Sekarang belum waktunya pulang, tapi Baekhyun sudah mendorong Chaesa masuk kedalam mobilnya. Baiklah, apa Baekhyun gila? Dia sudah tertinggal pelajaran kemarin!

“Kemana kau akan membawaku?” Tanya Chaesa dingin. Baekhyun duduk kedua tangannya menggenggam erat stir kemudi. Ia seperti tengah menahan amarahnya.

Baekhyun tidak menjawab pertanyaan apapun dari Chaesa.

“Ya! Jawab aku!!” Chaesa menatap tajam Baekhyun. Baekhyun melirik Chaesa sebentar. Dia mendekatkan tubuh nya pada tubuh Chaesa. seketika kedua mata Chaesa membulat kaget. Apa yang akan Baekhyun lakukan? Sial! Kenapa Baekhyun mengunci pintunya?

Wajah Baekhyun dan Chaesa hanya tinggal berjarak beberapa senti meter saja. Chaesa menahan nafasnya kaget.

“Pasang selfbelt nya sayang. Aku akan mengemudi dengan kecepatan penuh” Ucap Baekhyun lembut, namun menggelikan.

Mobil sport Baekhyun keluar halaman sekolah. Benar apa kata Baekhyun, dia benar benar melajukan mobilnya dengan kekuatan penuh. Wajahnya datar menatap kedepan.

Chaesa meremas ujung roknya kaget. Ia ingin memaki Baekhyun, dia ingin memukul Baekhyun. Namun seperti terikat. Dia tidak dapat melakukan apapun. Apakah Baekhyun berfikir dia akan mati bersama Chaesa? namun apa alasannya?

Mobil sport milik Baekhyun berhentu didepan sebuah rumah megah, sangat, namun terlihat sepi. Chaesa menatap pemandangan dihadapannya bingung.

“Dimana ini?” Tanya Chaesa gugup.

“Rumahku”

Baekhyun keluar mobil. Namun tidak dengan Chaesa. Chaesa tidak dapat berfikir jernih. Untuk apa Baekhyun membawanya kerumahnya? Apa Baekhyun gila? Jangan jangan Baekhyun akan melakukan suatu hal yang aneh.

Dengan kasar Baekhyun membuka pintu Chaesa. dia melepaskan selftbelt Chaesa lalu menariknya kasar keluar mobil.

“Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini. Lepaskan aku”Chaesa mencoba melepaskan genggaman tangannya, namun nihil. Dia tidak dapat melakukan apapun. Padahal tangannya benar benar sakit. Sebenarnya kenapa dengan jalan pikirannya. Tiba tiba dia menjadi sangat baik dan lembut, tiba tiba dia menjadi kasar, tiba tiba dia menjadi dingin.

Baekhyun membuka pintu besar dengan kasar. Terpancar jelas kalau sekarang dia tengah marah. Tapi kenapa? Apa dia marah pada Chaesa? tapi kenapa? Apa Chaesa berbuat salah?

Baekhyun berjalan keruang tengah, disana suadah ada sepasang suami istri berusia empat puluhan. Mereka cukup kaget dengan kehadiran Baekhyun dan Chaesa. terpancar jelas dari kedua mata pria itu, dia seperti marah, kesal.

“Siapa dia?” Tanya pria itu dingin. Dia menunjuk Chaesa. Baekhyun melirik Chaesa lalu tersenyum tipis.

“Chaesa dia ayahku. Appa, kenalkan dia Chaesa, anak dari tuan Shim Yonghwa pemilik perusahaan Shim yang bekerja sama dengan perusahaan ayah” Baekhyun tersenyum licik.

Wajah marah sudah berubah menjadi wajah senang, dan malu? Chaesa membungkukkan badannya kecil.

“Annyeong haseo, Shim Chaesa imnida” ucap Chaesa lembut, meski tidak dibarengi dengan senyum.

“Omo, kau Shim Chaesa adik dari Chaerin itu? Woah kau terlihat sangat cantik. Baekhyun ah, apa dia yeojachingu mu?” Tanya wanita itu yang diperkirakan sebagai ibu Baekhyun. Wanita itu menyentuh pipi Chaesa penuh sayang. Lihat sikap sepasang suami istri itu langsung berubah menjadi baik dan hangat.

“Ah terima kasih”

“Kenapa kalian sudah pulang? Kalian membolos?” Tanya tuan Byun. Bahkan nada suara nya sudah berubah menjadi lembut.

“Ayah aku dan Chaesa meminta restu” ucap Baekhyun. Chaesa menatap Baekhyun tidak percaya. Restu, apa maksud nya itu?

“Ayah aku dan Chaesa ingin segera bertunangan”

 .

.

.

.

34 thoughts on “(Part 4) You Don’t Know everything [freelance]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s