Vampires vs Wolves #9 – How To Spell ‘Sorry’ ?

Vampires Vs Wolves

 

Tittle : Vampires vs Wolves

Subtittle : #9 – How To Spell ‘Sorry’ ?

Author : Nintiyas

Main Cast :

  • Ahreum ex T-ara as Lee Ahreum
  • EXO-K as Vampires
  • EXO-M as Wolves

Other Cast :

  • Dasom Sistar as Kim Dasom
  • Minhyuk BTOB as Lee Minhyuk

Genre : Fantasy, School Life, Fluff, Romance

Rating : PG-15, T

Diclaimer : WARNING!! This is my story, my imagine, also my fantasy. BEWARE!! I DO NOT LIKE COPYCAT ^^

A/N : Mohon maaf sebelumnya, kalau missal bias kalian gak kebagian part ngomong T^T seperti yang dulu-dulu(?) author udah bilang kalo membagi part ngomong buat 13 orang bahkan lebih itu… semacam harus mengolah otak dua kali lipat(?) /okesip lebay-__-v/ semoga makin banyak yang suka FF ini ^^ jangan lupa komen yah, author butuh kritik dan saran kalian ^^ happy reading all❤

List : Teaser  ││ Chapter 1 ││ Chapter 2 ││ Chapter 3 ││ Chapter 4 ││ Chapter 5 ││ Chapter 6 ││ Chapter 7 ││ Chapter 8

Summary : Menjalani kehidupan yang menyenangkan dan bahagia dengan potret keluarga yang harmonis dan utuh. Itulah cita-cita sederhana dari seorang gadis remaja yang terlalu naif untuk mengetahui bahwa kenyataan dan hukum alam lebih pahit dibanding dengan penalarannya dalam hidup. Menjadi putri dan cucu satu-satunya dari keluarga Lee yang notabene adalah keluarga yang berkecukupan dalam hal materi. Tak pernah membuat ahreum merasa semua lebih baik. Bahkan, dirinya hidup dengan latar belakang semua gunjingan dari para warga disekitar rumahnya. Entah itu tentang sang Harabeoji, sang Appa, tentang status sang Eomma, sampai kasus manusia vampire juga manusia serigala yang dekat dengan sang harabeoji dan sang appa. Baca Lebih Lanjut→
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

 

Jelas sekali Ahreum kesakitan, wajah Ahreum terlihat pucat seketika. Kepalanya terasa berat dan pening. Sekali lagi, Kris, Xiumin, Baekhyun dan D.O mencoba melepaskan Kai dari Ahreum. Dan kali ini usaha mereka berhasil.
Ahreum mencoba bangun dengan bantuan D.O. butiran bening itu menggenangi pelupuk mata Ahreum yang sayu. Kai menundukan kepalanya, ketika ia menyadari bahwa yang telah ia lakukan itu terlalu melampaui batas.
Ahreum mengigit bibir bawahnya agar tangisannya tak pecah. Ia berhenti tepat didepannya Kai. “Makhluk macam apa sebenarnya kalian?” Tanya Ahreum tanpa menatap semua yang ada disana.
Ahreum berlalu begitu saja, dia berjalan dengan langkah yang berat dan leher yang masih ngilu. Dia menepis tangan D.O yang mencoba membopohnya atau niat baik Baekhyun yang ingin menggendongnya.

 

Mianhae, manis…” sesal Kai dalam hati. Seraya menatap siluet Ahreum perlahan menjauh.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Vampires vs Wolves

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Hujan mulai turun membasahi seluruh kota Mokpo. Tak terkecuali, tanah pemakaman Mokpo.

Ahreum merasa matanya semakin berkunang-kunang. Oh, ayolah untuk siapa sebenarnya ia harus berpura-pura kuat?

Bodoh! Terlihat jelas dia sudah memaksakan untuk berjalan–mendahului para vampires dan wolves yang mengekor dibelakang Ahreum.

Ahreum bahkan seperti seorang nenek tua dengan leher terluka, wajah pucat, dan dress hitam yang kumal bercampur air hujan.

 

“Berjalanlah dengan hati-hati. Jalanan licin, apalagi jalanannya menurun.” Celoteh D.O mencoba menasehati.

 

Cih! Ahreum hanya mendengus kesal menanggapi sikap sok perhatian dari D.O. Hey! Ternyata Ahreum masih memikirkan perkataan Minhyuk tadi. Benar-benar gadis polos dan naïf memang.
Baekhyun mencoba memegang kedua bahu Ahreum. Sungguh, raut khawatir masih saja belum hilang. Tapi, lagi-lagi Ahreum menepis tangan Baekhyun–hal yang sama, yang ia lakukan pada D.O.

“Ini ulahmu, sudah kuperingatkan tadi.” Cecar Kris teramat mengintimidasi pada Kai.
Kai hanya menatap pasrah pada punggung Ahreum. Jika ia bisa menghukum dirinya sendiri. Kai, bersumpah itu yang pasti ia lakukan saat ini juga.
Suho hanya berdecak seraya menggelengkan kepalanya, menyaksikan perlakuan Kris terhadap Kai. “Ge, jangan terlalu menyalahkan Kai. Aigoo, paling tidak, Ahreum sudah siuman kan.” Hibur Xiumin. Dia merangkul Kai sekilas dengan senyuman tanpa artinya.
Kris hanya menyahuti dengan senyuman terpaksanya.

 

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

 

“Apa sebaiknya kita mendengarkan musik?” usul Lay

Yah, Lay itu memang ide yang bagus. Teramat bagus bahkan, untuk mencairkan suasana ini.

Kecanggungan terjadi kembali antara Ahreum dan kedua belas lelaki ini. Disaat mereka mulai mendapat perhatian dan kepercayaan Ahreum. Aofes dengan mudahnya meruntuhkan itu semua. Ironis memang.
Kai merasa dirinya adalah satu-satunya vampire yang terkutuk. Dia bahkan sukses membuat Ahreum tak mau menatapnya atau bahkan hanya untuk satu mobil dengannya.
Tentu saja, Ahreum jauh lebih memilih satu mobil dengan Lay, Xiumin, Chen dan Luhan. Luhan? Yah, meskipun Ahreum merasa ketulusannya pada mereka dipermainkan. Tapi, Ahreum benar-benar terlihat iba dan panik ketika melihat keadaan Luhan tadi.
Maka dari itu, Ahreum memilih mengajak Luhan untuk satu mobil dengannya. Tak memungkinkan juga untuk Luhan menyetir dalam keadaan seperti itu.

Luhan memandang perubahan sikap Ahreum dengan seksama. “Kamu marah pada siapa?.” Tanya Luhan tiba-tiba
Ahreum sedikit terkejut dengan pertanyaan Luhan. Ia bahkan tak sempat menyusun jawaban. “Eoh? Ah, tentu saja pada kalian.” Jawabnya berpura-pura tegas.
“Ah, sungguh? Tapi kenapa kamu masih perhatian padaku? Terima kasih kamu masih memiliki sifat kemanusiaan.” Sahut Luhan sedikit menyindir dirinya sendiri dalam kata ‘kemanusiaan’.
“Memangnya aku tidak boleh berbuat baik? Apa aku salah jika aku khawatir dengan keadaan kakimu yang seperti itu.” Celetuk Ahreum seraya menunjuk kaki Luhan dengan bibirnya yang cemberut.
Anniya, kamu selalu benar.” Ujar Luhan lalu menyenderkan kepalanya mencoba untuk memejamkan matanya sejenak.

“Reum, apa kamu marah kepada kami?” kini giliran Chen yang bertanya penuh harap.
Ahreum mengigit kukunya yang tak begitu panjang. Jelas sekali raut wajah gelisah terlukis disana.
Dilema melandan perasaannya. Disatu sisi, ia yakin dan sudah percaya penuh bahwa mereka─para vampires dan wolves, adalah orang-orang yang dikirimkan ayah dan kakeknya untuk suatu alasan yang pasti. Dan, Ahreum yakin apapun alasan itu, pastilah demi kebaikannya.
Namun, disisi lain logikanya mencoba memutar dan mencerna tiap kata yang diucapkan Minhyuk tadi.

Ahreum sadar, kejanggalan perihal kematian Jung ajjhuma juga bermula pada pertemuan mereka. Bukan tak mungkin perkataan Minhyuk ada benarnya. Entahlah, sampai saat ini Ahreum masih menerka kemungkinan yang ada.

 

 

“Aku-,” jawabnya tergantung. Dia mengigit bibir bawahnya hingga terlihat makin merah. “Hanya… ragu terhadap kalian.” Sambungnya teramat pelan, bahkan terkesan berbisik.
Sepelan apapun itu, Chen tetap mendengarnya dengan jelas. Dia mengangguk paham. Akhirnya, Chen lebih memilih diam, Chen yakin Suho dan Kris mampu menjelaskan segalanya pada Ahreum nanti.

 

Perjalanan akhirnya berlangsung dalam kesunyian yang lebih didominasi gemericik hujan dari luar mobil. Tak jauh beda dengan susasana di mobil yang dikemudikan oleh Kris.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

 

Sesampainya dirumah, Sehun langsung membukakan pintu mobil untuk Ahreum. Tao juga menyambut Ahreum dengan senyuman tulusnya. Yah, jangan Tanya lagi. Mereka benar-benar mengkhawatirkan Ahreum.
Ahreum memilih hanya untuk melempar senyuman sekilas, kemudian membantu Luhan untuk berjalan. Dan memasuki rumah mendahului yang lainnya.
Tepat ketika Sehun dan Tao hendak mengikuti Ahreum, Kris dan Suho serempak menarik lengan keduanya untuk tetap ditempat mereka. “Biarkan dia melakukan hal yang dia suka.” Ujar Kris. “Yah, untuk saat ini.” Tambah Suho. Sehun dan Tao hanya mengangguk pasrah atas perintah kedua pemimpinnya itu.
Yah, apa boleh buat. Menenangkan pikiran Ahreum adalah hal yang paling penting saat ini.

 

 

Bukannya Suho tak mau menyelesaikan kesalahpahaman ini. Tapi, akan lebih mudah untuk menjelaskannya ketika Ahreun dalam keadaan tenang.
.
.
.
.
.

 

Luhan sedikit meringis saat tangan mungil Ahreum membantunya menaikan kedua kakinya keatas ranjang. Walaupun lukanya sudah tak mengeluarkan darah, bukan berate sakitnya telah hilangkan?

“Masih sakit?” panic Ahreum begitu menyadari perubahan mimic wajah Luhan.
Luhan menggelengkan kepalanya cepat. Dia tersenyum simpul seraya menarik Ahreum dalam pelukannya.

Hanya sekedar pelukan yang menandakan bahwa Luhan bukanlah orang jahat.
Hanya sekedar pelukan dari Luhan yang ingin ia jelaskan bahwa dirinya dan semua vampires juga wolves datang untuk melindunginya.

Pelukan itu teramat lembut dan hangat bagi Ahreum. Tak bisa dipungkiri, aroma tubuh Luhan membuatnya larut dan menitihkan air mata yang sedari tadi ia larang untuk jatuh.

Ne, menangislah. Luapkan semuanya, Reum.” Ucap Luhan semakin mengeratkan pelukannya, namun tetap terasa lembut bagi Ahreum.
“Kenapa? Hikss… semua orang yang berada di dekatku selalu dalam bahaya?” bingungnya ditengah isakannya. Air matanya semakin deras hingga mampu membentuk anak sungai dikedua pipinya.
Luhan berdeham sejenak, mencerna tiap kata yang Ahreum lontarkan. Dia kemudian membelai tiap helai rambut Ahreum yang sedikit kusut itu.
“Jadi, kamu tidak meragukan kami lagi? Kenapa kamu berpikiran seperti itu, huh?” jawab Luhan kembali melontarkan pertanyaan pada Ahreum.
Ahreum melepas pelukan Luhan lalu perlahan mendongakan kepalanya heran. Meragukan mereka? Hey, bagaimana Luhan bisa tahu? Bukankah dia tertidur pulas tadi? Batin Ahreum.
Kini tatapannya sejejar dengan wajah Luhan. Ahreum menghembuskan nafasnya berkali-kali. Seolah telah menemukan jawaban dari kegundahan dan dilema hatinya.
“Yah, aku sudah tak meragukan kalian. Tapi, yang masih tak ku mengerti adalah alasan kedatangan kalian. Dan, ah apa sebenarnya kalian ini? Ah, kenapa Kai bisa berperilaku seperti itu? Kenapa dia menghisapku? Oh, iya apa hubungan kalian dengan makhluk aneh bernama Minhyuk tadi?” gerutuan itu keluar begitu saja. Ahreum benar-benar meluapkan semua rasa ingin tahunya yang sedari tadi berputar-putar dikepalanya sejak kejadian Kai meghisap dirinya.

 

Luhan tertawa konyol saat itu juga, mendengar nada bicara Ahreum yang lucu dan terdengar innocent. Belum lagi ekspresinya yang memandang Luhan lekat-lekat bagaikan wajah gadis kecil yang meminta sebuah lollipop padanya.
Astaga, Suho benar. Bahwa Ahreym terlalu polos untuk menjadi sosok antagonis seperti ibunya.
Kris benar, bahwa Ahreum terlalu naïf untuk menjadi sosok yang rakus seperti ibunya.
D.O benar, bahwa Ahreum terlalu memiliki sikap keibuan untuk menyakiti sesame.
Kai juga benar, bahwa Ahreum juga seorang gadis berusia 17 tahun yang sangat kesepian dan butuh perlindungan.
Luhan mengangguk mantap ditengah tawa konyolnya. Dia merasa sudah mulai memahami gadis ini.
Perlahan Luhan mendekatkan wajahnya, dia tersenyum simpul. Kemudian ia menangkupkan kedua tangannya dipipi Ahreum. Luhan menyalurkan setiap hangat ditubuhnya pada Ahreum, mencoba memberi penenangan sesaat terhadap Ahreum sebelum akhirnya ia menjawab setiap pertanyaan Ahreum.
“Baiklah, nona yang ingin tahu segalanya.” Ujarnya tetap pada posisinya. “Pertama, kami semua datang kemari karena ingin melindungimu. Jika kamu penasaran, melindungi dari siapa? Aku yakin kamu sudah tahu jawabannya.” Jelas Luhan dengan menganggukan kepalanya berulang kali. “Dan, untuk masalah ‘siapa kami sebenarnya’ kurasa Suho dapat menjawab pertanyaan itu. Ah, satu hal yang harus kamu tahu, Kai sangat menyayangimu. Kami semua juga begitu. Apapun yang telah Kai perbuat, aku yakin itu semua beralasan dan demi kebaikanmu. Percayalah, Reum.” Sambung Luhan.

 

Ahreum terlihat mencerna tiap kata yang diucapkan Luhan dengan seksama. Ia mencoba memahami kedua belas lelaki ini. “Uhm, arraseo. Sekarang, lebih baik kamu istirahat supaya kakimu cepat membaik.” Ujarnya seraya melancarkan sentuhan lembutnya pada puncak kepala Luhan, sebelum akhirnya Ahreum meninggalkan kamar Luhan.
Dia menghembuskan nafas berulang-kali tepat setelah menarik knop pintu kamar Luhan. Dengan perasaan sedikit ragu, Ahreum berjalan selangkah demi selangkah menuruni tangga untuk menemui kesebelas lelaki yang telah menunggunya─tentu saja mereka menunggu Ahreum karena panik dengan perubahan sikap Ahreum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

 

Sebuah siluet dengan seringai yang tak hentinya bertengger dibibirnya itu, berdiri tepat dibelakang seorang wanita yang cukup tua namun lekukan diwajahnya masih terkesan tegas dan arogan. Dia membungkukan badannya sekilas, sebelum akhirnya melaporkan tiap inci kejadian yang telah ia alami seharian ini.
“Dia sangat cantik, tapi juga penakut.” Lapornya singkat tetap dengan seringainya seolah menghina objek yang ia laporkan.
“Benarkah? Cantik? Penakut? Hahahaha, pasti itu sifat dari ayah dan kakeknya.” Timpal sang wanita itu dengan tawa hambarnya.
“Tapi, nyonya…” putus sang pemilik seringai itu.
“Kenapa Minhyuk? Uhm, sepertinya ada hal yang belum kau sampaikan?”

 

 

Ah, ternyata itu Minhyuk. Lalu, siapa wanita ini? Oh, ayolah jangan bertanya lagi siapa wanita itu. Lihat saja, wajah yang anggun namun membunuh, bahkan sedikit lipatan keriput disudut matanya tak mengurangi kesan arogannya. Yah, tentu saja ini nemora.

 

 

“Tapi, kurasa dia akan sulit untuk menjadi bagian dari kita. Sikapnya yang terlalu baik dan ramah pada siapapun, itu menjengkelkan.” Sambung Minhyuk. Mata elangnya terus menerus menerawang dibalik penjara yang berada tepat disamping kirinya.
“Hahahaha, Minhyuk sayang!! Kamu terlalu bodoh untuk mengetahui kelebihan dari gadis itu. Aku tak pernah menginginkan dia untuk bergabung denganku, aku hanya membutuhkan jiwa kesuciannya tepat ketika ia berusia 18 tahun nanti.” Jelas sang nemora penuh keyakinan dan mata berkilat-kilat seolah kemenangan telah berada ditangannya.

Minhyuk hanya mendengus sekilas sebelum akhirnya dia menghilang dari hadapan sang nemora.

“Benarkan? Aku hanya butuh jiwanya saja.” Tanya sang nemora pada penjara yang sekilas terlihat kosong itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
‘Kami adalah seorang vampire dan manusia serigala’
Kata-kata itu mencolos begitu saja dari mulut Suho, Kris bahkan mengiyakan ucapan Suho. Apa ini? Apa aku sedang mimpi? Batin Ahreum.
Baiklah mari kita luruskan disini. Berate kejadian dimana Ahreum melihat seekor─atau lebih tepatnya lebih dari seekor serigala rakasasa, itu benar adanya. Oh, demi macaron dengan dua rasa Ahreum pikir dirinya saat itu sedang berhalusinasi karena luka ditelapak kakinya.
Ahreum memijat keningnya berkali-kali. Dia benar-benar frustasi dan tak percaya dengan apa yang diucapkan Suho dan Kris beberapa detik yang lalu.

“Kami harap kamu tidak berpikir bahwa kami datang untuk membunuhmu.” Sahut Kris dari sudut kamar.
Yang lainnya, terutama Sehun dan Tao benar-benar takut jika Ahreum akan menjauhi mereka setelah Suho dan Kris menceritakan semuanya. Tapi, apa yang dapat mereka lakukan. Semua hyung-nya menyetujui ide Suho untuk memberitahu Ahreum yang sebenarnya.
Sementara Kai? Dia sedang menyendiri dalam hutan. Dan memilih menjaga jarak dari Ahreum untuk saat ini─lebih tepatnya dia sedang frustasi karena tak bisa meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Ahreum.
“Apa kalian penyebab kematian Jung ajjhuma?” Tanya Ahreum to the point
Suho dan Kris berkata ‘tidak’ secara serentak.
“Bukan kami yang membunuhnya, yah walaupun mungkin karena kedatangan kamilah penyebabnya.” Sambung Suho seraya mendekati Ahreum. Suho berlutut dihadapan Ahreum. Dia menggenggam kedua telapak tangan Ahreum yang berkeringat. Suho bahkan melancarkan angel smile-nya yang selalu menenangkan bagi Ahreum. “Tugas ini. Anniya, amanat ini sudah bukan menjadi kewajiban bagi kami. Tapi, sudah seperti keinginan bagi kami untuk menjagamu, bahkan untuk berada di dekatmu.” Tambahnya.
“kamu berhak membenci kami, atau bahkan takut pada kami. Tapi, jika kamu meminta kami untuk meninggalkan kamu? Maaf, aku akan menjadi orang pertama yang menolaknya. Akan kupastikan itu.” Ujar Kris tetap dengan gaya cool-nya.
Hyaak!! Babo! Aku sudah terlalu nyaman dengan kalian. Lagipula, aku juga sangat menyayangi Sehun dan Tao, mereka sudah seperti kakak dan adik bagiku. Apalagi, Suho.” Jelas Ahreum, sedetik kemudian ia melancarkan pelukan manjanya pada Suho. Tentu saja, Suho membalasnya dengan sumringah dan sedikit guratan merona di pipinya. Dan, itu sukses membuat Kris kesal serta iri.
“Aku justru merasa bersalah, karena telah membuat D.O harus setiap hari memasak untukku, padahal dia sendiri tak bisa mencicipinya.” Gurau Ahreum ditengah pelukannya pada Suho.
Suho terkekeh sekilas, begitu mendengar ucapan Ahreum. “Nah, sekarang kamu sudah tidak marah lagi pada kami?” Tanya Suho dengan nada canggung.
“Anniya, dari awal aku tidak marah pada kalian. Hanya sedikit marah, hehehe. Sedikit.” Jawab Ahreum dengan tersenyum dan mengisyaratkan tangannya membentuk huruf ‘c’.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
‘Klek’

 

Belum ada sedetik pintu itu terbuka, Sehun dan Tao sudah berhambur memeluk Ahreum. Menumpahkan rasa rindunya pada Ahreum. Bahkan mata Tao sedikit sembab, seolah dia baru saja menangis.

Aigoo, arraseo arraseo. Aku tidak akan mengacuhkan kalian lagi.” Ucap Ahreum dengan menepuk punggung keduanya dan sedikit terbatuk─tentu saja Ahreum lakukan agar keduanya mau melepas pelukan itu, dan supaya Ahreum dapat bernafas lagi.
“D.O-ah, mulai sekarang aku tidak akan merengek untuk dimasakan padamu.”
Ne? ah, jangan begitu, Reum. Aku lebih memilih tetap memasak untukmu, itu lebih manusiawi.” Gurau D.O menyahuti permintaan Ahreum.

Tawa renyah pecah begitu saja, ketika D.O mengucapkan kata ‘manusiawi’
Ahreum bahkan mengangguk berulang-kali tanpa bisa berhenti tertawa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bulan sudah duduk cantik di langit, ini adalah malam ketiga moonsuade yang para wolves lalui dengan Ahreum.
Ahreum lebih lega dan semakin menyayangi keluarga barunya ini, terlebih lagi sebuah fakta besar telah terungkap hari ini. Dia senang, karena ayah dan kakeknya benar-benar menyayanginya, buktinya mereka mengirimkan para vampire dan manusia serigala ini untuk melindunginya.
Seperti biasa, setelah makan malam Ahreum selalu menonton drama kesukaanya bersama Chen dan Xiumin. Seperti biasa pula, Ahreum selalu mengenakan piyama pororo kesukaanya.

 

 

Tapi, tunggu!

 

 

Tidak biasanya Ahreum seperti ini, dia bahkan tak bisa menatap focus kearah layar untuk menyaksikan tiap adegan dari drama kesukaanya itu. Ayolah, ada apa denganku? Batinnya risau.

 

“Reum, lihat itu Cheon Seongyi nunna hampir jatuh dari tebing.” Ujar Chen menghayati drama.
“Ah, Do Minjoon pasti muncul sebentar lagi, lihat saja.” Ungkap Xiumin, seolah bisa menebak alur ceritanya.
“Ah, kalian ini berisik sekali. Lihat saja dramanya tidak perlu berkomentar.” Teriak Ahreum seraya berdiri dan meninggalkan Chen juga Xiumin yang tercengang dengan sikap Ahreum barusan.
Ahreum sedikit berjinjit ketika berjalan menghampiri Baekhyun, dia sudah cukup untuk menunggu kemunculan Kai.
“Cukup! Aku harus tahu dimana lelaki itu!!” geramnya meremas piyamanya kesal.
“Ada apa? Kenapa kau berdiri disana untuk waktu yang lama?” ujar Baekhyun seraya menunjuk kearah Ahreum berdiri.
Hyak! Baekki, apa kamu tahu Kai dimana?” Tanya Ahreum to the point.
“Dia menyendiri, itu pasti.” Sahut Chanyeol yang entah datang darimana.
“Ahreum bertanya pada ‘Baekhyun’ bukan pada ‘Chanyeol’.” Protes Bekhyun. “Berilah dia waktu sebentar untuk menjernihkan pikirannya, tidak akan mudah bagi seorang Kai muncul dihadapanmu. Terlebih atas apa yang sudah dia perbuat.” Tambah Baekhyun.
Heol!! Harusnya aku yang menyendiri. Daebak! Harusnya aku yang lakukan itu! Kau dengar Kai!!.” Teriak Ahreum dengan menutup telinganya rapat-rapat dan berlari meninggalkan Baekhyun serta Chanyeol menuju kamarnya untuk tidur.
Apa? Ingin sendiri? Ingin menengankan pikiran? Hahahaha, harusnya aku yang melakukan itu. Harusnya aku yang menghilang untuk sementara. Gerutu Ahreum dalam Hati.
Tapi apa? Lihatlah sekarang, siapa yang merasa cemas? Karena dia taka da? Siapa yang merasa hatinya tercekat karena tak bisa melihatnya walau sedetik.

 

 

‘Dasar Kai bodoh! Vampir menyebalkan, awas saja kau!! Vampir macam apa kau? Meminta maaf saja tidak bisa!!’
Ahreum berkali-kali mengulang kata-kata itu hingga akhirnya ia pulas tertidur.

 

 

Kai, mendengus mendengar ucapan Ahreum tadi, dengan perlahan ia memasuki kamar Ahreum lewat jendela yang terbiasa dibuka oleh Ahreum. Perlahan, Kai membenarkan posisi tidur Ahreum, ia kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh Ahreum hingga lehernya, memastikan bahwa Ahreum tak kedinginan.
Lalu, mendaratkan sebuah kecupan dikening Ahreum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kelopak mata yang terasa berat itu akhirnya dipaksa terbuka. Berkali-kali sang punya kelopak mata itu menguap. Baru saja Ahreum, sang punya kelopak mata itu hendak bangun dari tidurnya, tapi usahanya itu tertahan oleh kedua tangan yang memeluknya dengan erat.

 

 

Mwoya? Tangan? Batinnya. Dengan sedikit merunduk, mengikuti tangan itu berasal.
Satu detik…
Dua detik…
Tiga detik…
Hyaaaaaaakkk!! Tao!! Aigoooo!! Sudah berapa kali aku katakana? Jangan pernah mengendap-endap masuk ke kamarku dan tidur disini.” Jerit Ahreum histeris ketika menyadari bahwa lagi-lagi itu adalah tangan Tao.

Tao mendongakan kepalanya, terlihat dengan jelas wajah bangun tidurnya dan rambut yang acak-acakan. Dia menatap Ahreum dengan tatapan polos dan tak bersalahnya. “Mianhae, Reum. Habisnya aku takut ada yang menyakitimu lagi. Makanya, aku menjagamu disini.” Jelas Tao.
“Menjagaku apanya? Jelas sekali kamu tertidur.” Balas Ahreum. Sudah sana keluar!! Aku mau mandi, jangan coba-coba masuk yah!! Awas kamu!” ancam Ahreum menuding wajah Tao dengan telunjuknya.
Tao hanya mengangguk pasrah, dan dengan langkah malasnya dia berjalan keluar dari kamar Ahreum.

 

Setelah selesai dengan ritual mandi dan berdandan. Barulah ia turun menuju meja makan. Seperti biasa, D.O sudah menyiapkan nasi goreng kimchi dan susu madu yang hangat, sebagai sarapan.
Ahreum sedikit berlari menghampiri meja makan. Sudut bibirnya terangkat dengan sempurna begitu ia melihat menu sarapannya.
“Ah, D.O-ya apa Kai sudah pulang?” Tanya Ahreum spontan.
“Dia…” D.O terlihat sedang menyusun jawaban dari pertanyaan Ahreum. “Dia sedang menenangkan diri untuk saat ini.” Sahut Lay yang sudah memakai seragamnya, diikuti Sehun dan Tao yang sudah siap juga.
“Itu yang diucapkan Baekhyun dan Chanyeol semalam.” Rutuk Ahreum semakin kesal. “Berati dia tidak akan masuk sekolah hari ini?” tambahnya.

Seketika Ahreum kehilangan nafsu sarapannya, meskipun itu adalah makanan kesukaannya.
“Kalau begitu kita berangkat saja.” Ucap Ahreum tiba-tiba. Dia benar-benar kehilangan nafsu makannya ternyata.

Lay hanya bisa menuruti permintaan Ahreum. Bahkan, D.O yang berbaik hati membungkus nasi goreng dan susu madu dalam kotak bekal untuk Ahreum pun diacuhkan.
Sebuah mobil mini-van melaju meninggalkan pekarangan rumah, dengan Suho sebagai pengemudinya.
Dalam rumah, terlihat sosok Kai yang tiba-tiba berdiri dibelakang D.O, Kai menghembuskan nafas panjangnya. Saat ini dia benar-benar ingin memeluk Ahreum. Meyakinkan pada Ahreum bahwa dirinya menyesal melakukan itu semua.
“Harusnya kamu meminta maaf pada Ahreum.” Ucap D.O yang menyadari kehadiran Kai.
“Dia merasa Kehilangan sosokmu, Kai.” Sahut Kris yang duduk di meja makan.

Kai hanya bisa mengacak-acak rambutnya frustasi.
Bodoh! Apakah sesulit ini meminta maaf? Rutuknya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ban mobil berdecit ketika Suho menginjak rem. Yah, mereka telah sampai didepan gerbang sekolah. Lay, Sehun, dan Tao telah lebih dulu keluar dari mobil dan berjalan memasuki halaman sekolah.
Sementara itu, Ahreum berusaha untuk mengucapkan sesuatu pada Suho terlebih dahulu. Lebih tepatnya sesuatu yang Ahreum harap dapat Suho sampaikan pada Kai.

“Suho-ya, eum… begini… euhm, tolong sampaikan pada Kai jika…” Ahreum benar-benar mengerahkan seluruh keberaniannya.
“Sampaikan apa, Reum?” sahut Suho bingung, karena Ahreum memtusu ucapannya.
“Ah, iya! Sampaikan padanya untuk segera masuk sekolah. Karena aku tidak meminjamkan buku catatanku padanya, tolong sampaikan itu.” Sambung Ahreum.

Demi darah rusa segar! Ahreum saat ini mengutuk dirinya sendiri. Kenapa denganku? Kenapa aku tak bisa mengatakan bahwa aku sudah tidak marah lagi pada Kai? Makinya dalam hati.

 

“Hahaha, iya akan aku sampaikan.” Balas Suho. Kemudian, Suho kembali berkata hal konyol pada Ahreum. “Apa kamu percaya ikatan batin?”
Ne? ikatan apa?” sahut Ahreum polos
“Ikatan batin. Kalau kamu mempercayainya, cobalah melakukan kontak batin dengan Kai. Jika dia juga sedang memikirkanmu kalian pasti bisa terhubung satu sama lain. Cukup sebut namanya saja saat kamu merindukannya. Eh, maksudku membutuhkannya. Maka dia akan hadir dihadapanmu.” Jelas Suho konyol.
Ayolah, bahkan anak berumur sepuluh tahun saja mengerti bahwa ikatan batin hanya dapat dilakukan oleh saudara kembar. Sementara Kai dan Ahreum? Sama sekali tidak dapat dikatakan saudara kembar. Yang benar saja.
Ahreum mengangguk paham. Dia akhirnya berpamitan pada Suho. Kemudian berlari menyusul Lay, Sehun dan Tao yang lebih dulu memasuki halaman sekolah.
Bukan tanpa alasan Suho melakukan hal konyol itu. Yah, tentu saja. Suho melihat Kai bertenger diatas gedung depan sekolah mereka, bahkan tatapannya yang tajam hanya tertuju pada Ahreum.
Baiklah, Kai. Aku sudah membantumu, sekarang giliranmu untuk menyelesaikannya. Ucap Suho sebelum akhirnya menginjak pedal gas mobil untuk melaju meninggalkan sekolah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini terasa menjengkelkan bagi Ahreum. Dia harus berjalan sendirian menuju ruang kelasnya yang berada dilantai tiga. Untuk saat-saat seperti ini, dia menyesal tak bisa satu kelas dengan Sehun dan Tao.
Kemudian, Ahreum teringat ucapan Suho. Benar saja, dia melakukan hal yang dikatakan Suho.
Ahreum berhenti sejenak, setelah menaiki tangga ketujuh dilantai tiga. Dia memejamkan matanya, mulai berkonsentrasi memikirkan Kai. Dia bahkan sempat tersenyum konyol untuk sesaat. Kemudian dia memanggil nama Kai dengan pelan dan lembut.

Satu detik berlalu…
Nihil!

Ahreum mencoba mengulanginya. Kini dia memanggil nama Kai dengan sedikit lantang.

Dua detik berlalu…
Masih nihil!!

“Mwoya? Ikatan batin? Ha, bodohnya aku hingga terti-,”

 

Braaaakkk!!!

 

Ahreum tersungkur karena ulah Dasom. Dengan sengaja, Dasom menarik kerah baju Ahreum dari belakang.

Uppsss, maaf! Aku sengaja melakukannya.” Ucapnya polos.

Bodoh! Aku kan memanggil Kai? Kenapa malah nenek sihir Dasom yang muncul. Protes Ahreum dalam hati.

Aigooo, dimana pelindungmu? Dimana lelaki berkulit hitam itu, eoh?” ejek Dasom seraya menginjak Tas Ahreum.
Hyaaak!! Kamu ini kenapa sih?” teriak Ahreum mencoba untuk berdiri.
Bukan Dasom namanya jika ia membiarkan Ahreum berdiri dengan mudah. Benar saja, Dasom mencengkeram pundak Ahreum dan menekan tubuh Ahreum hingga ia jatuh terduduk dihadapan Dasom.
“Derajatmu akan selalu dibawahku seperti ini! Jangan pernah mencoba menjadi nomer satu. Hahaha, aku tidak peduli ada berapa banyak orang yang melindungimu! Bagiku kamu tetaplah anak yatim piatu yang tidak lebih bagus dari kucing yang ditelantarkan dalam kardus.” Ejek Dasom kemudian berlalu meninggalkan Ahreum.
Ahreum sempat berkaca-kaca mendengar ejekan Dasom. Apa salah Ahreum padanya? Apa salah ayah dan kakeknya sehingga selalu menjadi bahan ejekan Dasom? Apa salah Ahreum dan keluarganya hingga mereka dikucilkan oleh seluruh penduduk Mokpo, bahkan meski ayah dan kakeknya telah tiada.

 
Pelajaran dimulai, dan dirasa sangat membosankan bagi Ahreum. Mencatat tugas, dan akhirnya mendapat pekerjaan rumah yang menumpuk.
Dari meja duduknya, Dasom tampak berbisik dengan para anak buahnya. Dia berkali-kali menyeringai menatap Ahreum.
“Istirahat jam pertama?” Tanya salah satu anak buahnya memastikan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Dasom.
“Kita akan bermain dengan nona muda Ahreum nanti.” Ucap Dasom dengan mata berkilat kebencian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terlihat Tao dan Sehun berlari menuju kelas Lay. Bukan tanpa alasan hingga membuat keduanya berlari seperti ini. Yah, inilah salah satu rencana Dasom.
Beberapa menit yang lalu…

 

 

“Ah, aku dengar mereka akan menghajar Ahreum habis-habisan.” Ucap seorang murid yang sengaja lewat depan Tao dan Sehun yang saat itu bersiap menuju kelas Ahreum saat bel istirahat berbunyi.
“Benarkah? Ah, kurasa Dasom benar-benar geram kali ini!” ucap murid lainnya.
“benarkah? Itu semua pasti salah Ahreum. Suruh siapa dia memamerkan kedekatannya dengan Sehun dan Tao, belum lagi dengan kakak kelas kita Lay.” Ucap murid yang pertama.
Baiklah, Sehun dan Tao tak mau mendengar lebih banyak lagi. Mereka langsung berlari menuju kelas Lay.

 

 

Sementara itu,

 
Tepat setelah bel istirahat berbunyi, Ahreum bergegas menuju kantin. Tentu saja karena perutnya yang lapar.
Dasom tak menyiakan kesempatan itu. Dengan langkah pastinya, dia mengikuti Ahreum. Tanpa basa-basi lagi, ketika melewati toilet perempuan. Dasom langsung menarik kerah baju Ahreum dari belakang, menyeret paksa Ahreum memasuki toilet itu.
Anak buah Dasom langsung berjaga diluar pintu masuk toilet perempuan itu.
Sedetik kemudian, Dasom mendorong Ahreum hingga punggungnya membentur dinding kamar mandi.
Hyaaak!!” teriak Ahreum.
Plaaaakk!!!
Satu tamparan keras mendarat tepat dipipi kiri Ahreum.
Shit! Ahreum merasa sekujur tubuhnya bagai dialiri listrik sebesar 2000 volt karena tamparan itu.
“Jangan pernah berteriak dihapadanku!!” balas Dasom dengan kembali mendorong tubuh Ahreum membentur dinding. “Kamu! Kamu yang bukan siapa-siapa disekolah ini! Kamu yang selalu dihujat dan direndahkan disekolah ini! Wae? Wae? Kenapa!! Kamu bisa dikelilingi lelaki yang selalu bisa memberimu senyuman tulus??” bentak Dasom.
Ahreum mematung mendengar bentakan Dasom. Dia bingung dengan inti pembicaraan ini.
Tunggu! Apakah Dasom iri padanya?
Oh, ayolah! Bagaimana mungkin seorang Kim Dasom iri terhadap Lee Ahreum?
Baiklah, mari kita luruskan satu hal disini. Dari segi mana Dasom harus iri terhadap Ahreum? Jika dipikir harusnya Ahreum-lah yang iri terhadap Dasom. Yah, itu baru masuk akal.

 

“Apakah kamu iri terhadapku?” tebak Ahreum.
Kalimat itu sukses membuat Dasom menatap tajam kearah Ahreum. Dasom sempat meringis sekilas, sebelum dia kembali mencengkeram pundak Ahreum.
“Apa? Iri, huh? Aku yang mempunyai segalanya. Aku adalah Kim Dasom, kenapa aku harus iri pada anak yatim piatu sepertimu?”
“Yah, itu memang benar. Lalu, kenapa kamu melakukan ini padaku?”
“Kamu adalah Lee Ahreum, kesepian sudah mengalir dalam darahmu, tapi… apa ini? Kenapa dengan beraninya kamu mendapat perhatian dua belas lelaki sekaligus? Apa yang kamu berikan pada mereka sampai mereka bisa sangat baik padamu? Bahkan senyuman mereka pun tulus.”
“Mereka adalah orang-orang yang dikirimkan kakek dan ayahku untuk melindungiku.”
“Omong kosong!! Kamu harus kesepian selamanya!! Yah, harus kesepian selamanya!!” ucap terakhir Dasom sampai akhirnya dia mencekik leher Ahreum.
Kini, Ahreum dapat memahami maksud Dasom. Benar memang dia iri terhadap Ahreum. Suara Dasom terasa bergetar dan ketakutan setiap ia membuka mulutnya tadi.
“Ukkkhhh… Hyaaakk!! Dasom sakkhh…darlah.. ukkkhhh!!” ujar Ahreum mencoba menenangkan Dasom. Ia bahkan sempat memukul lengan Dasom.
Shirreeoo!! Tahukah kamu berapa banyak orang yang akan tersenyum jika kuminta? Tapi kenapa, mereka tak bisa tersenyum seperti yang mereka lakukan padamu?” oceh Dasom dengan tetap mencekik Ahreum.
Dilain tempat, lebih tepatnya dibelakang sekolah. Lay, Sehun dan Tao sudah merasa lelah mencari keberadaan Ahreum dan Dasom.
“Kalian yakin murid-murid tadi berkata bahwa Dasom akan menyakiti Ahreum disini?” Tanya Lay dengan menunjuk tempatnya berdiri.
“Tentu saja, hyung! Kami yakin mendengarnya dengan jelas.” Jawab Sehun dan Tao kompak.
“Ini aneh, kita sudah mencari disetiap sudut dibelakang sekolah. Tapi, tunggu!! Sebaiknya kita cari di area sekolah. Perasaanku mengatakan Ahreum berada dlaam bahaya.” Panik Lay.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dasom masih mencekik Ahreum, matanya sudah berkaca-kaca. Dirinya bahkan tak yakin, apakah ia harus membunuh Ahreum hanya untuk melihat gadis yang begitu ia benci ini tak bisa menerima senyum tulus itu dan harus selalu kesepian.
Ahreum merasa persediaan oksigennya hampir habis, berulang kali dia memukul lengan Dasom supaya Dasom melepas jemarinya dari leher Ahreum.
Nihil! Dasom tetap mencekiknya. Bahkan tiap detiknya terasa semakin menyesakkan.
Entah appa yang sedang ada dikepala Ahreum saat ini, dia justru kembali teringat dengan ucapan Suho tentang ‘ikatan batin’.
Dengan sisa tenaga dan oksigennya, Ahreum mencoba menarik nafas dan kembali memikirkan Kai. Kali ini dia memikirkan sebuah kenangan yang bahagia saat bersama Kai.
Kenangan dimana mereka pertama kali bertautan tangan. Kenangan dimana pertama kalinya ribuan kupu-kupu dan bunga bersemi dalam hatinya.
Detik pertama…
Detik kedua…
Detik ketiga…

 

“Kai-ah~~~”

Ucap Ahreum begitu tulus hingga ia meneteskan airmata. Bukan karena kesakitan akibat cekikan Dasom. Tapi, karena dia memang merindukan Kai. Merindukan saat-saat sensasi dingin menyeruak diseluruh telapak tangannya saat mereka berpegangan tangan.
Beberapa detik kemudian,
Ada apa ini? Kenapa aku bisa bernafas dengan lega? Dan kenapa persediaan oksigenku seolah terisi kembali? Batin Ahreum.
Ahreum mencoba membuka matanya tepat ketika Dasom berteriak kesakitan pada lengan kanannya.
“Hyaaak!!! Sakit bodoh!! Lepaskan aku!!” pekik Dasom.
Dep!
Kai! Ini Kai!! Seru Ahreum dalam hati.
Terlihat sekali kemarahan diraut wajah Kai. Kedua matanya berkilat-kilat menandakan dia siap mencabik Dasom kapan saja.
“Hentikan Kai!!” titah Ahreum
Kai tak bergeming, dia tetap mencengkeram legan Dasom. Bahkan, sekarang Kai memutar lengan Dasom berlawanan dengan arah jarum jam.
Dasom sudah menangis meronta-ronta memanggil anak buahnya. Namun, Kai tetap tak peduli bahkan meski anak buah Dasom masuk dan mengancam Kai akan dilaporkan pada kepala sekolah karena telah masuk toilet perempuan.
Amarah Kai justru makin memuncak. Ahreum sungguh tak mau melihat Kai lepas kendali dan menjadi monster lagi. Ahreum juga tak mau Kai menjadi mesin pembunuh seperti ini.
“Kai…” ucap Ahreum lembut. Ahreum memegang pundak Kai dengan hangat dan lembut. “Hentikanlah ini! Kamu bukanlah Kai yang kukenal jika seperti ini.” Sambung Ahreum.
“Dia sudah berani menyakitimu dengan tangan kotornya itu.” Jawab Kai tanpa melepas tatapannya dari Dasom yang telah merunduk menangis kesakitan.
Baiklah Ahreum, masa bodoh dengan gossip yang akan menyebar nantinya. Pikir Ahreum.
Yah, tanpa berpikir lagi, Ahreum melancarkan pelukannya terhadap Kai dari belakang.
Ahreum memejamkan matanya dan berkata “Biarkanlah dia yang menjadi monster. Biarlah tangannya yang kotor. Sudah cukup, Kai! Aku tidak mau kamu mengotori tanganmu untuk seseorang seperti Dasom.” Bujuk Ahreum.
Kai mulai meregangkan genggamannya pada Dasom. Kesempatan itu digunakan Dasom untuk pergi dari toilet dibantu anak buahnya.
Kai berbalik menatap Ahreum, dia melepas pelukan Ahreum perlahan.
Dengan seluruh keberaniannya, dia memegang pinggan Ahreum dan mengangkat tubuh Ahreum lalu mendudukannya diatas meja wastafel.
Kai sedikit merunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ahreum. Dan itu sukses membuat Ahreum salah tingkah. Bahkan pipinya merona karena perlakuan Kai ini.

 
“Mwo? Jangan salah sangka atas pelukan tadi, eoh! Jangan per-,” ucapan Ahreum terputus tepat setelah Kai mendaratkan kecupannya dikening Ahreum. Kali ini kecupannya begitu lembut, tidak seperti kecupan keraguan seperti semalam.
Mianhae…” ujar Kai begitu lirih.
“Uh..?” sahut Ahreum berpura-pura bingung.
“Aku sudah mengecupmu, harusnya kamu katakana sesuatu, eoh!” balas Kai mengalihkan perhatian Ahreum.

Ahreum tersenyum geli melihat tingkah Kai. Dasar Kai! Apa perlu dia mengecup keningku hanya untuk meminta maaf? Batin Ahreum.
Arraseo… arraseo.” Jawab Ahreum dengan sedikit memukul kening Kai. “Itu balasanku, wleeee~~” tambah Ahreum seraya menjulurkan lidahnya mengejek Kai.

 
Ahreum melompat turun dari meja wastafel yang tak terlalu tinggi itu, ia kemudian berlari keluar toilet disusul Kai dibelakangnya. Dan keduanya berhenti tepat di depan Lay, Sehun dan Tao yang berada di depan toilet perempuan lengkap dengan wajah panik mereka dan tangan yang disilangkan di depan dada masing-masing, menatap tajam kearah Ahreum dan Kai.

 

-TBC-

 

80 thoughts on “Vampires vs Wolves #9 – How To Spell ‘Sorry’ ?

  1. Ping-balik: Vampires vs Wolves #10 –The Journal | EXO Fanfiction World

  2. Ceritanya bagus…lanjut lagi yah author… maaf saya baru sempat komen… entah kenapa saya pengin di chapter selanjutnya ada seorang yeoja lagi… yang nanti berpasangan sama salah satu vampire atau wolf tapi yeoja itu punya kekuatan like a human power. Dan tugasnya juga untuk melindungi ahreum. Itu saya hanya menyarankan, jika author menerima saran saya. Saya ucapkan terimakasih. Tapi kalau tidak juga tidak apa-apa, yang penting dilanjut ya author. Saya setia menunggu…. Gomawo

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s