Posted in 123adinda, Baek Hyun, Romance

MY KISS, MY DESTINY (chapter 3)

Tittle: MY KISS, MY DESTINY (chapter 3)

poo

Author: Dindong L.Kim (@adinda_elements)

Main Cast :

–         SEO SANG AKH (OC)

– BYUN BAEKHYUN

–         OH SEHOON

Support Cast :

        – DO HWE JI (Ulzzang)

        – DO KYUNGSOO

–         Akan bertambah sesuai chapternya

Genre: Romance, Fluff, Friendships, Marriage life.

Ratting: PG 16 / Teen

Length: Chaptered

Disclaimer:

THIS FF IS MADE BY DINDONG L.KIM 😀 all cast hanya saya pinjam untuk dijadikan pemeran di FF ini.PLAGIATOR ?? JUST GO AWAY ^_^ AND SILENT READERS ?? IT’S OK, BECAUSE OF YOU,MAYBE I CAN’T CONTINUE TO WRITE THIS FF ^_^ ALUR IS PURE MINE 🙂

Dindong Notes :

Sorry for typos ^_^

Warning : Typo bertebaran 🙂

Preview Last Chapter :

“bagaimana kakimu ? apa kau merasa baikan ?” Aku mengangguk.

“Ayah tak perlu khawatir. Aku gadis kuat” balasku dan Ayahpun mengacak puncak rambutku.

“Ayah~~ Butuh waktu 10 menit bagiku untuk membuat rambut rapi seperti ini” protesku seraya memperbaiki rambutku. Ayahpun terkekeh pelan. Pagi ini, Ayah memang datang terlambat ke Hotel tempat ia bekerja dan itu semua karena diriku. Ia harus memastikanku agar pergi sekolah. Sungguh miris -_- Ayah malah berpikir kalau aku akan membolos hanya gara – gara kaki ini. Aigo~ apa wajahku seperti seorang kriminal ?

“baiklah, aku pergi. Dah~” aku pamit pergi ke sekolah. Sebelum keluar rumah, aku menyempatkan diri untuk menyalami Ayahku. Well, aku tak mau dikatakan sebagai anak yang durhaka.

“hati – hati dijalan, eoh ?” aku mengangguk. Setelah keluar dari rumah, akupun berjalan menuju sekolah dengan pelan. Pagi ini, matahari masih belum timbul sepenuhnya. Ya, tak seperti biasanya memang. Kemarin aku berani datang terlambat ke sekolah. Tapi sekarang tidak. Melihat kemampuan berjalanku yang masih seperti bayi berumur 3 tahun. Butuh waktu 5 kali lebih lambat untuk datang ke sekolah kali ini.

Aku mendengus pelan. Ini memang kesalahanku dan tak ada yang perlu di salahkan kecuali diriku sendiri. Akupun kembali melanjutkan jalanku, dan tiba – tiba bunyi klakson kendaraan membuatku terhenti. Aku menoleh dan langsung tersenyum ketika melihat pria itu.

“Mau pergi bersama ?”

| Chapter 1| Chapter 2| Chapter 3

~Author Point Of View~

“Sehun ?” alis Sang Akh bertaut ketika menyebut nama Sehun. Ia heran, kenapa pemuda cerewet itu bisa berada disini ? padahal ia belum memberitahukan masalah pindah rumahnya pada orang lain. Ya, maksudnya hampir semua. Tentu saja Hwe Ji telah mengetahui hal ini.

“kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu ? hei, ayolah. Aku hanya ingin memastikan agar kau tak datang terlambat lagi. sebagai sahabat, apa aku salah ?” Sehun mengangkat kedua tangannya. Sang Akh menggeleng pelan.

“kau tau darimana aku disini ?” Sehun tersenyum. Tampak ada sesuatu di balik senyumannya itu.

“Hwe Ji yang memberitahuku. Lagipula, kenapa kau tak mengatakan hal penting ini kepadaku ? aku juga sahabatmu” Bingo. Benar dugaan Sang Akh. Dasar Hwe Ji, mulutnya memang tak bisa dijaga jika bersama Sehun. Sang Akh menghela napasnya pelan dan mulai berjalan kearah Sehun yang tak lebih dari 5 meter.

Sehunpun memberikan sebuah helm kepada Sang Akh. Gadis itu menerimanya dan mulai naik keatas sepeda motor Sehun. Perlu tenaga ekstra bagi Sang Akh untuk bisa melakukan itu. Tapi, bukan Sang Akh namanya jika harus menyerah. Buktinya, sekarang ia bisa duduk di belakang Sehun.

Tak lama kemudian, Sehunpun memajukan motornya. Sang Akh semakin mengeratkan pegangannya. Rumah demi rumahpun mereka lewatkan dengan santai, bahkan tak ada satupun pemandangan yang menarik untuk dilihat –bagi Sang Akh-. Namun, ketika mereka terhambat oleh datangnya lampu merah. Mata Sang Akh menangkap siluet pemuda itu. Pemuda yang sejak dua tahun lalu memang sudah menjadi tambatan hatinya. Pemuda yang bisa menjadi lembut seperti kapas dan juga bisa menjadi tajam setajam pisau milik ayah Rudi tabuuty.

‘Baekhyun’

Tanpa sengaja, Sang Akh menggumamkan nama pemuda itu. Yang dipanggil memang tidak menoleh. Ia lebih fokus dengan jalannya dan tak menghiraukan keadaan sekitar. Di dalam hatinya Sang Akh bersumpah kalau Baekhyun adalah pria tertampan dan terbaik yang pernah ia temui selama hidupnya –Kecuali Ayahnya yang memang tak masuk dalam hitungan

“KYAAA >.<”

Sang Akh memekik dan semakin mengeratkan pegangannya di pinggang Sehun. Ia benar – benar tak menyangka warna lampu jalanan telah berganti menjadi hijau. Sungguh, baru kali ini ia ingin melenyapkan warna hijau. Padahal pangerannya baru saja ia lihat. Sungguh miris.

 

“SANG AKH!!” itu suara Hwe Ji. Sang Akh dan Sehun yang baru saja melangkah keluar dari areal parkiranpun harus menutup telinga rapat – rapat. Hei, bukannya ingin mendramatisir tapi suara Hwe Ji itu memang cetar membahana. Bahkan guru Jung juga mengiyakan itu.

“apa kau sudah berkonsultasi dengan doktermu minggu ini ? tingkahmu semakin menjadi” Hwe Ji yang mendengar ocehan Sehunpun langsung memlototi pemuda itu. Ia bahkan sudah berkacak pinggang. Oh, ini sungguh keadaan yang sangat sangat buruk. Butuh waktu 2 jam untuk melerai Sehun dan Hwe Ji jika sudah bertengkar. Sungguh, jika mereka berdua bukan sahabatnya. Sang Akh pasti sudah melakban bibir keduanya.

“sudahlah Hwe Ji. Kau tau Sehun, bukan ? mungkin ia tak sengaja mengatakan itu” Sang Akh berusaha merendahkan emosi sahabat wanitanya seraya mencubit pinggang Sehun pelan. Sehun yang tak terima akan perlakuan Sang Akh balas memlototi gadis itu. tapi, melihat raut wajah mengiba Sang Akh, Sehun kalah. Ia benar – benar lemah dengan raut wajah seperti itu.

“maaf, aku tak sengaja” Hwe Ji mengangguk dan langsung memukul – mukul pundak Sehun pelan seraya tersenyum.

“bukankah begitu lebih baik ?” ujarnya masih menepuk – nepuk pundak Sehun. Sementara Sehun ? ia hanya menghela napas. Ia benar – benar heran akan sikapnya sendiri. Hwe Ji bukanlah tipe gadis pendiam dan suka menjaga image imut, tapi gadis itu cenderung menjadi preman pasar yang suka memalak para pedagang. Bahkan suaranya sangat mirip. Tapi, entah mengapa. Ia merasa semakin nyaman dengan gadis itu.

“OMO >.< Kakimu kenapa ?” Sehun memutar bola matanya bosan. Jadi, sejak tadi Hwe Ji belum mengetahui itu ?

Sang Akh menggeleng pelan seraya mengulum senyum tipis. Ia tak mau menceritakan kronologis terciptanya luka di salah satu kakinya itu. Sungguh, biarlah hanya ia dan orang sekitar yang tahu. Hwe Ji mengangguk dan membantu Sang Akh berjalan menuju kelasnya.

“OH SEHOON! Kenapa kau diam saja ? apa kau tak berniat membantu sahabatmu ?” lagi, Hwe Ji membentak Sehun. Sang Akh yang mendengar itu hanya bisa menutup sedikit matanya. Sehun mengangguk dan membantu memapah Sang Akh. Namun,….

“Pletak~” Sehun mencentil daun telinga Hwe Ji. Membuat gadis cerewet itu menoleh dan Sehun membalas tatapannya dengan sebuah raut wajah mengejek. Hwe Ji sangat ingin membalas pemuda itu, namun mengingat keadaan Sang Akh. Ia mengurungkannya. Sehun hanya bermain – main dan ia tak boleh menjawabnya dengan sebuah emosi.

***

“Baiklah, diam semuanya! Hasil ulangan kalian akan dibagikan” Sang Akh mendengus pelan ketika mendengar tuturan gurunya yang bermarga Park itu. ia berani bersumpah demi apapun, pasti yang menjadi nilai terendah kali ini adalah dirinya. Mengingat ketika ulangan kerjanya hanya menghitung kancing baju untuk menjawab soal – soal biadab itu.

Guru Park mulai membagikan kertas biadab tersebut. Sang Akh melihat ekspresi teman – temannya melalui sudut matanya. ada beberapa yang tampak senang melihat hasil ulangannya dan ada juga yang tak senang, termasuk Sehun. Sang Akh menaikkan sebelah bibirnya, ia yakin bahwasanya Sehun pasti mendapatkan nilai yang rendah. Mengingat desahan yang ia lontarkan sangatlah panjang.

“Seo Sang Akh” akhirnya nama itu dipanggil. Sang Akh bangkit dari duduknya lalu berjalan mengambil kertas hasil kerja kerasnya –dalam menghitung kancing baju. Kini semua pasang mata di kelas itu tertuju pada Sang Akh. Sementara gadis yang dilihat hanya berjalan dengan santainya. Ia tak mau ambil pusing dengan tatapan teman – temannya.

Guru Park memberikan kertas ulangan Sang Akh. Nilai 25 sudah terpampang di sudut kiri atas kertas itu. “lain kali akan kugunakan penghapus” gumamnya sebelum kembali menuju tempat duduknya.

“Baiklah anak – anak, untuk siswa yang mendapatkan nilai dibawah kriteria ketuntasan, diharapkan kehadirannya dalam pelajaran tambahan, yang akan dilaksanakan jam 7 malam hari ini” semua siswa di kelas F langsung protes. Kenapa harus pelajaran tambahan ? apa Guru Park sudah gila ? menambah jam pelajaran di kelas F sama sekali tidak akan merubah perilaku maupun cara belajar mereka.

Disaat semua temannya ribut, Sang Akh hanya diam. Tapi, ia bukan diam karena nilainya. Ia hanya heran, kenapa semenjak kertas ulangan di bagikan Sehun terlihat lebih pendiam. Apa dia mendapat nilai lebih buruk daripada Sang Akh ? tidak tidak –Sang Akh menggeleng. itu tidak mungkin. Sehun bukan tipikal orang yang suka memperpanjang masalah –kecuali dengan Hwe Ji. Tapi sekarang ia kenapa ? apa dia baru saja putus dengan kekasihnya ? Oh, itu pasti hal gila lainnya.

Merasa jengah dengan segala asumsi yang berkecamuk di otaknya, Sang Akh datang menghampiri Sehun. Ia harus tau, apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda itu.

“kau kenapa ?” Sehun terkejut bukan main ketika Sang Akh datang. Menepuk bahunya. Jujur, andai saja Sehun tak mengatur keseimbangannya pasti ia akan terjungkal ke belakang dan itu adalah satu hal yang memalukan.

“apa nilaimu lebih buruk dari pada nilaiku ?” Sehun hanya diam. Ia menatap Sang Akh prihatin dan jujur itu membuat Sang Akh semakin khawatir. Dari raut wajahnya Sehun tampak tak berada dalam kondisi yang baik.

“sudahlah, bukankah ada kelas tambahan ? kita bisa menjadi lebih baik la—-”

“OH SEHOON” Belum selesai Sang Akh menyemangati Sehun namun guru tua itu telah memanggil nama Sehun. Tingkat kekhawatiran Sang Akh semakin tinggi. Apa nilai Sehun seburuk itu sampai – sampai pak tua memanggil nama Sehun sekeras dan selantang itu ?

“kerja bagus. Kau telah berhasil mendapatkan nilai sempurna. Aku bangga padamu” rahang Sang Akh serasa turun dan matanya melotot. Seperti orang yang baru saja melihat hal – hal gaib, Sang Akh sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja pak tua katakan. Ia melirik Sehun sekilas untuk memastikan kalau apa yang pak tua katakan itu adalah sebuah sindiran. Tapi ternyata ?

“YA! KAU MENDAPAT NILAI SERATUS ? SE—RA—TUS ?” Sang Akh memekik lalu menyambar kertas ulangan Sehun. Disana terpampang angka 1 dan diikuti dua nol di belakangnya. Apa ? sejak kapan Sehun sepintar ini ? Hei, ini bukan mimpi bukan ? mata Sang Akh terlihat ingin keluar saja ketika memelototi nilai Sehun. Ia memandang Sehun bergantian dengan kertas itu, seakan meminta penjelasan lebih lanjut.

“Sekarang jelaskan! Bagaimana bisa kau mendapat nilai 100 ? mencontek darimana kau ? Sunggyu ? –pemuda sipit yang menjadi pemuncak kelas.” Sang Akh meminta penjelasan dari Sehun sekarang. itu karena tadi ketika ia hendak bertanya, guru Park langsung saja memulai pelajaran dan terpaksa, Sang AKh harus menyimpan pertanyaannya sampai jam istirahat.

“Kyung Soo yang mengajarkanku dan itulah hasilnya” Sehun masih saja membaca komik berjudul Naruto Shipuden itu. menurutnya komik itu lebih menarik daripada wajah Sang Akh. Sementara gadis yang bertanya langsung saja terkejut. Kyung Soo ? sejak kapan kulkas berjalan itu mau mengajar Sehun ?

“bagaimana bisa ?” desis Sang Akh.

Sehun menutup komiknya dan meletakkan diatas meja. Ia menatap Sang Akh sekarang. “aku hanya memohon kepadanya selama….” Sehun memainkan jarinya. Seperti orang yang sedang berhitung. “kurasa sekitar 2 setengah jam” lanjutnya.

“memohon ? dua setengah jam ? kau gila ?” Sehun mengendikkan bahunya.

“tidak. Aku hanya berpikir apa yang akan kulakukan di masa mendatang. Aku hanya tak ingin selalu menyusahkan orang tuaku. Sudah saatnya bagiku untuk memikirkan masa depan hidupku dan kemana arah tujuanku” Waw. Sang Akh kagum mendengar tuturan Sehun. Menurutnya, rentetan kata – kata itu merupakan kata – kata terindah yang pernah Sehun lontarkan.

“dan sekarang apa ? aku hanya sendiri di kelas tambahan” Sang Akh mengiba. Biasanya kelas tambahan akan terasa menyenangkan dan itu karena ada Sehun yang menemaninya. Lalu sekarang apa ? Sehun akan pulang lebih awal darinya dan sumpah demi apapun, kelas tambahan ini akan menjadi kelas yang terburuk yang pernah Sang Akh hadiri.

“kau juga begitu. Pikirkanlah masa depanmu” Sehun menepuk – nepuk punggung sahabatnya pelan sebelum pergi keluar kelasnya untuk sekedar mengganjal perut. Sang Akh yang melihat kepergian Sehun hanya mendengus, namun beberapa detik kemudian ia berlari mengejar Sehun. Ternyata cacing – cacing di perutnya juga sudah berdemo dan ingin diberi makan.

“Huaa~” entah sudah berapa kali Sang Akh menguap. Bahkan disudut matanya telah terkumpul butiran – butiran air. Ia bukan sedang sedih, hanya saja rasa kantung yang menyerang sudah sangat kuat sekarang ditambah pelajaran kali ini sangat sangat sangat membosankan.

Sang Akh menoleh ke kanan dan kiri. Beberapa temannya tampak memperhatikan namun tak sedikit pula yang telah tertidur. Sang Akh menggeleng pelan, ia benar – benar membutuhkan waktu istirahat sekarang. ia ingin tidur tapi kegiatan bodoh itu tak mungkin ia lakukan, mengingat letak tempat duduknya benar – benar strategis sekarang ini. Di depan meja guru. So perfect.

“Aigo, Saem bolehkah aku permisi ? ada panggilan alam” inilah satu – satunya cara Sang Akh untuk beristirahat. Mengingat nilai dramanya tidak buruk, ia rasa dengan berakting kesakitan akan membuat guru itu percaya. Guru Park memperolehkan Sang Akh untuk keluar-aktingnya berhasil. Dengan langkah yang lebar dan terburu – buru Sang Akh pergi dari ruang kelasnya.

“syukurlah aku tidak pingsan di kelas” Sang Akh menghapus keringatnya yang entah sejak kapan sudah berkumpul di pelipisnya. Alih – alih berbohong, Sang Akh bukannya pergi ke toilet. Ia malah membelokkan arah tujuannya menuju kantin sekolah.

“Halo ?” Sang Akh mengintip keadaan kantin sekolah. Sepi dan hanya ada beberapa lampu untuk penerangannya. Tanpa memikirkan hal – hal mistis, Sang Akh memasuki kantin dan mendekatkan diri menuju mesin minuman dingin. ia haus dan sebenarnya itulah alasan mengapa ia ingin keluar kelas. Akan terlihat bodoh bukan jika Sang Akh harus meminum keringatnya sendiri ? ya, kalian juga tau. Guru Park tidak akan memperbolehkan seorang siswanya permisi selain ke toilet. Sungguh keterlaluan.

Sang Akh memasukkan koin ke dalam mesin itu kemudian ia tampak memilih – milih minuman dingin yang akan diminumnya. Akhirnya pilihan jatuh pada minuman dingin rasa jeruk. Sang Akh menekan kodenya dan wala~ kaleng minuman itu sudah berada di tempat keluarnya.

Sang Akh tersenyum lalu mengambilnya. Ia membuka tutup minuman itu lantas meneguknya bagaikan seseorang yang sudah tak minum selama satu minggu.

“segarnya” ia puas. Dengan sekali teguk, ia berhasil menghabiskan setengah dari minuman kaleng itu. karena merasa kekuatannya belum penuh, Sang Akh mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas. Ia lebih memilih duduk di salah satu bangku kantin daripada harus mendengar ocehan guru Park.

“Tok Tok Tok Tok” mata Sang Akh membulat, ketika mendengar suara dentuman kaki. Ia melihat ke kiri dan kanannya, namun tak ada siapa – siapa. Sungguh, selama 17 tahun Sang Akh hidup baru kali ini ia merasakan tentang keberadaan makhluk halus seperti yang ada di film – film horror kebanyakan.

Sang Akh berdiri, ia merasa bahwa ada yang tak beres di sini –di kantin ini. “Siapa ?” Tanya Sang Akh ketika mendengar suara derap langkah itu lagi. namun…..

“……………………………” tak ada yang menjawab.

Sang Akh menelan air ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, padahal ia baru saja mengalirinya dengan cairan. Bulu – bulu lehernya mulai meremang dan jujur, Sang Akh merasa ketakutan sekarang.

“Boo~”

“YA!!!” Pekik Sang Akh dan ia langsung saja menghambur ke dalam pelukan seseorang. Eh, tunggu. Seseorang ?

Sang Akh mendongakkan kepalanya dan disaat itulah ia melihat pemuda itu dengan jelas. Mata bulat nan indah miliknya terlihat lebih besar dikala gelap. Hidung mungilnya itu, ingin sekali rasanya bagi Sang Akh untuk mencubitnya dan Oh, bibirnya. Apa aku bisa mencicipinya ?

“Bodoh, menyingkirlah” Sang Akh buru – buru menghapus bayangan indahnya. Ia segera melepaskan tangannya dari bahu Baekhyun.

“siapa suruh mengejutkanku” rutuk Sang Akh seraya menatap Baekhyun mantap. Baekhyun memiringkan sedikit kepalanya, berusaha mencerna arti dari perkataan yang baru saja dilontarkan gadis di depannya.

“mengejutkanmu ? itu hanya membuang waktuku” Baekhyun berlalu melewati Sang Akh. Karena kesal, Sang Akh mengikuti Baekhyun. Ia mengkritik pemuda itu dari a sampai z.

“hanya membuang waktu katamu ? Ya!! Sejak kapan kau ada di belakangku ? dan oh, kenapa kau mengatakan Boo ? kau itu ? kata Boo itu seolah – olah kau ingin mengejutkanku” Baekhyun tak bergeming dengan kritikan Sang Akh. Pemuda itu hanya terlalu asik untuk memilih minuman dingin apa yang akan ia minum.

Melihat sikap Baekhyun yang seperti itu, membuat Sang Akh ingin menghantamkan kepalanya pada dinding secara berulang – ulang. Lihatlah, ia bahkan hanya menganggap kritikan Sang Akh sebagai angin musim panas. Sungguh miris -_-

“YA!!! KAU DENGAR—–”

“Ini, maaf” Sang Akh terkejut ketika Baekhyun meletakkan minuman kaleng rasa jeruk dipipinya. Kritikannya terhenti disaat itu juga. Matanya melotot tak percaya. Sungguh, ini hal manis lainnya yang Baekhyun lakukan pada Sang Akh.

Baekhyun tampak tak terlalu menghiraukan raut wajah Sang Akh yang berubah drastis, yang jelas Sang Akh sudah diam dan itu membuatnya tenang. Sama halnya dengan Sang Akh, setelah membeli minuman Baekhyun tak langsung masuk ke kelasnya. Ia juga memilih duduk di salah satu kursi kantin dan tentu Sang Akh juga mengekor. Ia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Baekhyun.

Baekhyun meneguk minumannya santai. Namun tidak dengan Sang Akh, gadis itu masih menatap Baekhyun lekat – lekat. Ia masih heran dengan sikap pemuda itu. bukankah beberapa menit yang lalu ia mengatakan kalau mengejutkanku adalah hanya membuang waktu berharganya ? lalu kenapa ia harus meminta maaf dan membelikannya minuman ?

“kenapa ?” Sang Akh kembali tertarik dari alam khayalannya dan kembali lagi ke dunia nyata. Ia mengerjapkan matanya berkali – kali sebelum berhasil melontarkan kata – kata.

“tidak, hanya saja. Ini ?” Sang Akh mengangkat minuman kaleng yang baru saja dibelikan Baekhyun. Wajahnya mengisyaratkan kalau ia benar – benar penasaran.

“oh itu, minumanmu terjatuh dan aku harus menggantinya” dahi Sang Akh berkerut. Mengganti minuman ? mata Sang Akh melebar seketika dan lalu ia melihat kearah dimana ia dan Baekhyun berpelukan secara tak sengaja. Sang Akh menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya dan waw~ ternyata minuman yang dibelinya tadi sudah tumpah tak bernyawa di lantai.

“Oh, benar. Terima kasih atas minumannya” Sang Akh benar – benar merasa malu. Ia pikir Baekhyun memberinya minuman karena Baekhyun peduli. Tapi ? ternyata ia harus mengubur dalam – dalam fantasi indahnya.

“dan tadi masalah kata Boo itu. aku hanya sedang melafalkan naskah dramaku. Jangan anggap itu sebagai sebagai tipuan untuk mengejutkanmu” Sang Akh mendesis. Fantasy indahnya benar – benar telah dihancurkan Baekhyun. Ia pikir Baekhyun mengatakan Boo karena ingin menjahilinya, namun apa ? ternyata itu hanyalah naskah drama. Sungguh memalukan.

“kenapa kau masih di sekolah ?” pertanyaan yang bodoh untuk membunuh rasa canggung yang berlangsung. Tapi, rasa canggung itu hanya Sang Akh yang mengalami. Tidak dengan Baekhyun. Pemuda itu hanya terlalu sibuk meminum minumannya.

“semua siswa kelas A sedang mengadakan les bersama malam ini” masih dengan raut wajah tak berbentuk, pemuda itu menjawab. Oh Tuhan, andai Sang Akh memiliki kekuatan merubah perasaan orang lain ia pasti akan langsung membuat Baekhyun menjadi orang yang ceria dan hangat. Bukan dingin dan menakutkan seperti ini.

“Oh, jadi Kyung Soo juga ikut, bukan ?” Sang Akh tersenyum konyol setelah mengatakan itu. hei, apa gadis ini benar – benar kehabisan akal sehatnya ? kenapa dari tadi ia hanya bertanya tentang sesuatu yang jelas – jelas jawabannya sudah ia ketahui.

Baekhyun mengangguk. Fiuh~ untung pemuda ini masih waras. “kenapa ? kau menjalin hubungan dengannya ?” JDERR! Seperti tersambar ratusan ribu volt arus listrik. Sang Akh benar – benar terkejut dengan pertanyaan yang Baekhyun lontarkan.

Jangankan menjalin hubungan, untuk suka saja Sang Akh tak bisa dengan lelaki lain. Ia hanya terlalu fokus dengan Baekhyun. Pemuda yang beberapa tahun ini telah mengisi hatinya. Ya, walaupun ia harus memendam rasa itu jauh – jauh dari dunia nyata.

Sang Akh tersenyum masam kala itu. ia lalu menggeleng. Baekhyun yang melihat gelengan Sang Akh hanya membentuk huruf O dan ia kembali meneguk minumannya.

!!~~~~!!

Hening, tak ada yang memulai pembicaraan. Sudah sekitar 5 menit berlalu namun keduanya masih betah di kantin dan keduanya juga tampak tak ingin meninggalkan kantin. Ya, walaupun kerja mereka hanya duduk dan minum. Tanpa mengobrol. Encamkan, TA-N-PA ME-NGO-BROL!

Sebenarnya Sang Akh ingin melontarkan banyak pertanyaan, tapi ia terlalu canggung untuk menanyakannya.

“eh ?” Sang Akh terkejut ketika Baekhyun berdiri dari duduknya dan tentu saja Sang Akh mengikutinya. Tanpa melihat Sang Akh, Baekhyun belajar keluar kantin. Namun, pergerakannya terhenti ketika…

“Baekhyun ?” Baekhyun berbalik dan menatap Sang Akh seolah ingin meminta lanjutan perkataannya. Sang Akh yang melihat respond baik dari Baekhyun langsung menghampiri pemuda itu. ia kembali tersenyu konyol kala itu.

“kau tau kan, sekarang sudah malam dan kau juga tau bukan kalau aku masih asing dengan keadaan sekitar rumah ‘kita’. Terus, kemarin malam aku mendengar banyak preman yang berkeliaran di area rumah ‘kita’. jadi——” Sang Akh berkata seraya memainkan kedua jari telunjuknya. Ia bahkan membuat mimic wajahnya menjadi sedikit lucu –bermaksud untuk merayu Baekhyun, tapi tampaknya it does’nt work.

“pulang bersama ?” Sang Akh menjentikkan jarinya. Ia lalu tersenyum manis pada Baekhyun seraya memainkan ujung roknya.

“apa kau mau ?” Sang Akh tak mampu melihat kedua manik mata Baekhyun lagi, sehingga ia hanya mampu menatap sepatunya yang jauuuuhhhhh dan sangat tidak menarik daripada Baekhyun.

“menunggu, pulang sendiri” Sang Akh melongo dengan tanggapan Baekhyun yang begitu singkat. Pemuda berambut hitam itu lalu berlalu pergi tanpa melanjutkan kata – katanya, bahkan ketika Sang Akh berteriak memanggil namanyapun ia tetap saja tidak berbalik.

Sang Akh mendesis.ia pikir Baekhyun akan berkata manis seperti “ayo pulang bersama” atau “kenapa kita tidak pulang bersama saja ?” Ughh~ ungkapan manis itu hanya tinggal mimpi.

‘menunggu ? pulang sendiri ?’ tiga suku kata itu sudah membungkus semuanya. Sungguh, pemuda yang pelit dengnan kata – kata.

Sang Akh lagi – lagi mengintip kearah luar jendelanya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Myung Soo –siswa kelas A lainnya. Mata gadis itu melebar. Matilah, rencananya untuk pulang bersama Baekhyun pupus sudah. Mengingat kerumunan anak kelas A sudah berada di luar semua dan Baekhyun bukanlah tipikal pemuda yang ingin beda dari yang lainnya.

Ah, sudahlah. Toh, dari awal Baekhyun tampaknya juga tak mau pulang dengannya –itulah rentetan kata – kata yang tercetak diotaknya. Walau berat, tapi Sang Akh hanya bisa tersenyum kecut seraya memperhatikan guru Park yang entah sudah berapa jam berlalu, namun ocehannya tentang materi yang ia ajarkan masih saja meluncur bak air terjun.

Jam setengah 10 malam, akhirnya guru Park berhenti mengoceh lantaran tenggorokannya yang sudah kering. Sang Akh tersenyum puas ketika perintah untuk memasukkan buku ke dalam tas sudah di interupsikan oleh guru Park. Kata terima kasihpun mereka lontarkan. Guru Park meninggalkan ruang kelas terlebih dahulu, diikuti oleh beberapa siswa yang baru saja mengikuti kelas tambahan –termasuk Sang Akh.

“Sang Akh, aku duluan” itu suara Ji Ae. Sang Akh tersenyum dan membalas lambaian tangan Ji Ae. Satu per satu teman Sang Akh pergi dari sekolah dengan langkah yang lebar – lebar. Berbeda dengan Sang Akh, gadis itu masih saja terhanyut dalam pikirannya. Ia berjalan lambat, bahkan jalannya tak lebih cepat dari motor mainan Sehun yang telah rusak lantaran diinjak Hwe Ji.

Sang Akh lagi – lagi mendesis, sungguh entah desis keberapa yang ini. Gadis ini hanya terlalu banyak terlarut dalam dunia fantasynya sehingga di kehidupan nyata, ia harus menerima enyataan pahit tentang sikap Baekhyun yang masih saja seperti itu. dingin dan tak berperasaan. Sang Akh juga heran, kenapa ia bisa menyukai pemuda itu ? dari segi visual dan intelektual ia memang tinggi, bahkan melebihi orang normal kebanyakan. Namun tidak dengan sikapnya.

Sang Akh menggeleng pelan, berusaha menepis semua fakta yang ada, bahwasanya cinta yang ia persembahkan untuk seorang Byun Baekhyun hanyalah cinta sepihak. Sang Akh tersenyum lalu mulai mempercepat langkahnya. ia tak ingin bertengkar dengan dunia fantasy maupun nyata.

“OMO!” Pekik Sang Akh pecah seketika. Sungguh, betapa terkejutnya Sang Akh ketika menemukan pemuda itu sedang bersandar pada dinding pagar beton sekolahnya. Walaupun disana tidak ada penerangan, namun Sang Akh tau kalau pemuda yang berdiri dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku itu adalah Baekhyun.

“Baekhyun ?” itu hanya pertanyaan untuk memastikan. Sang Akh berlari kecil menuju pemuda itu. ia berharap pemikirannya tidak salah dan ketika pemuda itu berbalik betapa senangnya hati Sang Akh. Ia bahkan lupa bagaimana cara menutup mulutnya.

“kau lama sekali” Baekhyun berlalu. Sang Akh yang mendengar rutukan Baekhyun tidak menciut. Bukannya merasa bersalah, tapi ia justru merasa sangat senang sekarang. kenapa ? ya, itu karena Baekhyun mau menunggunya. Padahal, bukankah siswa kelas A sudah pulang sekitar 15 menit yang lalu ? Ah~ jelas saja Baekhyun marah. Mengingat di percakapan sebelumnya ia mengatakan kalau menunggu sama saja dengan pulang sendiri.

Tapi sekarang apa ? Baekhyun menunggunya. Oh Waw, itu adalah bonus bagi Sang Akh. Ia benar – benar tak mengira kalau Baekhyun akan melakukan hal manis itu –menurut Sang Akh.

“Bodoh, kau mau pulang atau tidak ?” Sang Akh kembali tertarik dari lamunannya. Ia segera berlari menyusul Baekhyun yang telah berada 4 meter darinya. tunggu! Bukankah kaki Sang Akh sedang sakit ? tapi kenapa ia dengan mudahnya berjalan hari ini ? aha~ mungkin kekuatan cinta membuat sakit yang menjalar di kakinya tidak sampai ke otak karena terhambat di hatinya. Haha, sungguh amazing kekuatan cinta bukan ?

“Baek, terima kasih sudah mau menungguku” Sang Akh menoleh kearah Baekhyun. Butuh sudut sekitar 1200 bagi Sang Akh agar dapat melihat wajah Baekhyun dari sini. Mengingat tinggi tubuhnya yang—ehem, bisa dikatakan pendek.

“Hm” gumam Baekhyun singkat dan arah tatapannya masih saja lurus. Sungguh, tampaknya ia tak memiliki niat untuk sekedar melirik kearah Sang Akh.

!!~~!!

Lagi, keadaan hening menyapa mereka. Keduanya terlalu asik dengan pikiran masing – masing. Perjalanan pulangpun terasa sama bagi Sang Akh. Ia seperti pulang sendiri saja. Ia pikir Baekhyun akan sedikit berbicara ketika berada di perjalanan pulang. Tapi sekarang apa ? tak satupun rentetan kata keluar dari mulutnya setelah gumaman tadi. Sungguh miris.

“Kruk Kruk~” suara aneh itu berasal dari perut Sang Akh. Baekhyun menatap datar kearah Sang Akh. Sementara gadis itu hanya tersenyum lebar, berusaha menutup rasa malunya.

“aku terlambat makan malam. Apa kita bisa makan sebentar ?” Baekhyun tak menghiraukan permintaan Sang Akh. Ia kembali berjalan. Jujur, ingin sekali Sang Akh memukul kepala Baekhyun dengan tongkat baseball agar pemuda itu amnesia dan ia bisa menginterupsi hidup pemuda itu dengan canda dan tawa.

Sang Akh menggeram, lalu berjalan mendekati Baekhyun. “Baek, bisakah kau mendengarkanku sebentar ? aku ingin makan dan jika kau ingin pulang duluan, silahkan. Aku akan pulang sendiri dan tolong encamkan satu hal, Jangan abaikan seseorang yang sedang berbicara denganmu. Mengerti ?” Sang Akh berkacak pinggang seraya menunjuk Baekhyun dengan jari telunjuk kanannya.

“diam dan berbaliklah” alis Sang Akh bertaut. Ia masih belum mengerti arti perintah Baekhyun. Karena lama merespond, Baekhyun langsung saja bertindak. Ia memegang kedua bahu Sang Akh dan di detik selanjutnya ia membalikkan badan Sang Akh.

“eh ?” Sang Akh heran dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Sebuah restoran klasik korea. Ia yakin, di dalam sana pasti ada tteokboki yang enak dan lezat.

“ayo” lagi. Baekhyun melakukan sebuah tindakan yang manis. Ia menggandeng tangan Sang Akh masuk ke dalam restoran itu. alih – alih sedang marah, kini Sang Akh merasa kalau ia dan Baekhyun sedang terjebak dalam sebuah kencan. Asumsi bodoh memang tapi Sang Akh tidak bisa memungkiri isi hatinya yang sangat sangat berbunga malam ini. Ia bahkan tak menyangka akan mendapatkan 3 surprise dari pemuda yang ia cintai malam ini. Andai waktu bisa terulang, Sang Akh menginginkan 3 moment indahnya bersama Baekhyun tadi bisa terulang untuk kedua kalinya.

“Drrt Drrt” Sang Akh yang baru keluar dari kamar mandipun langsung di sambut dengan datangnya sebuah pesan singkat. Tanpa menunggu waktu lama, gadis itu langsung saja membaca pesan yang baru masuk.

From : Unknown

Sang Akh, ini aku Gongchan.

Apa kau sedang sibuk ?

Kalau tidak, kau mau tidak melihat penemuan baruku ?

Ya, itu kalau kau mau.

Sang Akh tersenyum ketika membaca pesan singkat itu. Gongchan Shik, ia tampan dan baik bahkan terkadang ia juga bisa melontarkan guyonan yang lucu. Tapi entah kenapa, Sang Akh hanya menganggap Gongchan sebagai temannya. Tak lebih tak kurang.

To : Unknown

Tentu saja ^^

SendSang Akh menekan tombol yang bertuliskan kata send. Sembari menunggu pesan singkatnya dibalas Gongchan, Sang Akh memilih untuk melihat – lihat foto—Baekhyun yang tersimpan di Handphonenya.

Alih – alih hanya melihat fotonya, ingatan Sang Akh kembali terputar tentang kejadian malam itu. malam dimana ia bisa berbicara dengan Baekhyun dalam jangka waktu terlama. Malam dimana Baekhyun mau menunggunya pulang dan malam dimana untuk pertama kalinya ia menggenggam tangan Baekhyun. Ia kira semua tangan pria itu kasar, namun tidak untuk Baekhyun. Tangan halusnya itu sangatlah menghangatkan.

Jika dihitung dengan hari ini, sudah 1 minggu lebih kejadian itu berlangsung. Namun, sensasi lembutnya tangan Baekhyun masih betah terasa di telapak tangan Sang Akh. Lebay memang, tapi itulah kenyataannya. Ya, walaupun di hari berikutnya setelah kejadian pulang bersama itu, Sang Akh dan Baekhyun tidak pernah terlibat obrolan lagi maupun berupa sapaan.

“Drrt Drrt” Sang Akh langsung membuka pesan singkat yang baru datang itu.

From : Unknown

Datanglah ke rumah.. nanti akan kuperlihatkan

Sang Akh tersenyum lebar ketika membaca kata ‘Datanglah’. Haha, dengan cara ini bukankah ia bisa menemui Baekhyun ?

Hoho, kejadian ini sama dengan pepatah ‘sekali dayung, dua tiga pulau terlewati’” dengan cepat, Sang Akh memperbaiki penampilannya lalu ia berangkat menuju kediaman keluarga Byun.

“Ting Nong” Sang Akh memencet bel kediaman keluarga Byun dan setelah itu, seorang wanita paruh baya menampakkan dirinya sembari membuka pintu.

“Annyeong Haseo Byun Ahjumma” sapa Sang Akh seraya membungkukkan badannya. Sementara yang disapa, tersenyum manis membalas sapaan Sang Akh. Ia lalu bertanya apa yang Sang Akh lakukan di rumahnya dan gadis itu menjawab kalau Gongchan yang menyuruhnya datang. Byun Ahjumma dengan senang hati mempersilahkan Sang Akh masuk ke rumahnya. Ya, itu karena ia suka dengan sifat ceria Sang Akh.

“Ahjumma, Gongchan dimana ?” Byun Ahjumma berbalik dan meletakkan telunjuknya di dahi. Tampak seperti seseorang yang sedang berpikir.

“kurasa ia dikamarnya” balas Byun Ahjumma disertai dengan senyum manis dibelakangnya. Sang Akh ber-Oh ria.

“eumm, Ahjumma. Maaf lancang, tapi apa aku boleh menyusul Gongchan ke kamarnya” Sang Akh ragu untuk menanyakan itu, tapi apa boleh buat. Keadaan yang mendesaknya.

“tentu, kau boleh” syukurlah Byun Ahjumma orang yang ramah, kalau tidak pasti ia akan mengusir Sang Akh. Sang Akh kembali membungkukkan badannya sebelum pergi menuju lantai dua kediaman keluarga Byun dan tentu, Byun Ahjumma membalas dengan sebuah senyuman manis. Ughh~ pantas saja ia terlihat muda. Ternyata ia sangat suka tersenyum.

“Bodoh, kenapa tidak kutanyakan dimana kamar Gongchan ?” Sang Akh memukul dahinya pelan ketika tersadar bahwa dia belum menanyakan dimana kamar Gongchan. Mengingat pintu di lantai dua ini cukup banyak. Ia hendak berbalik dan bertanya pada Byun Ahjumma, tapi itu sama saja kalau ia mengganggu. Jadi, ia harus membuka semua pintu yang ada di lantai 2 ini ?

Oh, yang benar saja. Sang Akh merutuk. Tapi kemudian semangatnya kembali lagi ketika melihat ada name text yang diberikan pada dua pintu kamar. Sang Akh merasa tertarik dan langsung berlari pada sebuah name text.

“Hee ??” alangkah terkejutnya Sang Akh ketika melihat name text itu. disana memang tertulis nama tapi bukan dengan Hangeul melainkan dengan Alphabet. Ughh~ cukup sudah penderitaan gadis itu, bukankah ia masih belajar membaca huruf A B C ?

“-an” hanya bagian terakhir saja yang bisa Sang Akh baca. An ? haha, bukankah itu akhir nama Gongchan ? berarti ini adalah kamar Gongchan. Sang Akh yakin dan dengan percaya dirinya ia membuka pintu kamar itu.

“Uwahh~ kamar yang indah” Sang Akh terkagum – kagum dengan interior kamar itu. mulai dari ranjang, cat dinding, meja belajar dan pintu. Semuanya di dominasi warna biru lembut. Sang Akh tersenyum manis seraya memperhatikan beberapa pernak – pernik yang ada di kamar itu. sungguh, kamar ini sangat indah dan rapi. Bahkan Sang Akh yang merupakan seorang gadis sekalipun mengakui kalau kamar ini jauh lebih bersih daripada kamarnya sendiri.

“kenapa kau dikamarku ?” mata Sang Akh melebar seketika. Suara ini, bukanlah suara Gongchan. Melainkan— . Sang Akh langsung membalik badannya untuk memastikan dugaannya dan ternyata dugaan yang baru saja ia rasakan sama sekali tak meleset.

“Baekhyun ? tapi name text di pintu” alis Sang Akh bertaut. Apa yang Baekhyun lakukan di kamar Gongchan ? dan satu lagi, dengan baju casual seperti itu Baekhyun tampak sangat bersinar. Untung saja Sang Akh belum menyadarinya, jikalau sudah. Bisa mati berdiri gadis itu arena penampilan pangerannya yang luar biasa tampan.

“kami bertukar kamar beberapa hari yang lalu dan name text itu, kami lupa menukarnya” Sang Akh ber-Oh ria lalu kemudian ia tersenyum konyol.

“maaf sudah mengganggu, jadi dimana kamar Gongchan ? aku ada urusan dengannya” Sang Akh sebenarnya merasa malu dengan kejadian itu. tapi mau apa lagi, ini sudah terjadi.

“Di sebelah” Sang Akh mengangguk singkat lalu dengan cepat ia berjalan menuju pintu. Ia sudah tak sabar ingin keluar dari kamar Baekhyun. Bisa – bisa sesuatu yang tak inginkan terjadi di antara mereka. Ya, walaupun Baekhyun dingin. tapi, bukankah ia juga seorang pria ? Ughh~ untuk memikirkannya saja sudah membuat perut Sang Akh mual.

“E ??” Sang Akh meraih ganggang pintu kamar Baekhyun. Tapi, ketika ia hendak menarik pintu benda berbentuk persegi panjang itu tak mau terbuka. Sang Akh panik bukan kepalang, usahanya untuk membuka pintu itu semakin menjadi. Sesekali ia juga melirik Baekhyun yang masih setia menatapnya datar. Bahkan pemuda itu tampak tak mau menolongnya.

Sang Akh menyengir konyol pada Baekhyun lalu kembali sibuk dengan aktifitasnya dengan pintu itu. “Oh Ayolah” rutuk Sang Akh.

“Bodoh, pintunya di dorong bukan di tarik” Sang Akh kaget bukan kepalang ketika mendapati tangan putih dan mulus milik Baekhyun datang menghimpit tangannya. Alih – alih terkejut, Sang Akh malah kehilangan keseimbangan dan akhirnya—-

“BRUK” Mereka berdua terjatuh dengan posisi Baekhyun menghimpit Sang Akh. Sebenarnya yang terjatuh hanyalah Sang Akh, Baekhyun yang tadinya hanya berniat untuk membantu Sang Akh membuka pintupun harus merelakan tubuhnya ikut terjatuh lantaran tangannya tertarik oleh Sang Akh.

“DAG DIG DUG” jantung Sang Akh berdetak tak beraturan kala itu. wajah Baekhyun yang hanya berjarak beberapa centi di depannya membuat deruan nafas pemuda itu dapat Sang Akh rasakan, begitu pula sebaliknya. Sungguh, jika Sang Akh mempunyai satu permintaan. Ia hanya ingin agar waktu di berhentikan. Melihat Baekhyun dari jarak sedekat ini hanya datang 1 kali seumur hidupnya. Ia yakin itu.

“KLIK” Pantulan cahaya Blits sebuah kamerapun terpancar disana dan itu membuat fantasy Sang Akh kembali hilang. Ia menoleh ke samping kanan bersamaan dengan Baekhyun. Dan disana, telah berdiri Byun Ahjumma. Perempuan paruh baya itu tampak senang sekali dengan hasil jepretannya.

“apa yang ibu lakukan ?” Baekhyun bangkit dari posisinya dan ia langsung menghampiri ibunya. Sang Akh mendesis, kenapa moment langka itu harus berlangsung secepat itu ? Ughh~ Tuhan sungguh tak adil.

“lihatlah anakku. Kalian terlihat serasi” Byun Ahjumma memperlihatkan hasil jepretannya kepada Baekhyun. Bukannya marah, Byun Ahjumma malah tersenyum lebar. Sungguh, dia ibu yang berjiwa seperti remaja. Sang Akh yang baru saja berdiripun juga ikut menghampiri Byun Ahjumma.

“Hapus!” Baekhyun memerintah, namun Byun Ahjumma menggeleng lalu menyimpan kameranya di belakang badannya. Sang Akhpun mengiyakan perintah Baekhyun. Gila saja jika foto itu tersebar.

“kenapa harus dihapus anakku ? foto ini lucu. Aku suka” Baekhyun mendesis. Ia benar – benar kewalahan dengan sikap ibunya yang seperti remaja itu.

“berikan kameranya!” Byun Ahjumma menggeleng.

“tidak. Karena foto ini akan menjadi awal dari kisah kalian” Byun Ahjumma tersenyum jahil setelah mengatakan itu.

“awal dari kisah kami ?” Sang Akh bertanya seperti orang Bodoh. Ia bahkan menunjuk Baekhyun ketika mengatakan kata kami. Berbeda dengan Baekhyun yang masih diam. Dia hanya ingin tau kelanjutan perkataan ibunya.

“Yap, benar sekali. Karena kalian berdua akan menikah” mata Sang Akh dan Baekhyun melebar seketika. Jangankan menikah, berpikir untuk menjalin Hubungan dengan Sang Akh saja Baekhyun tak mau. Berbeda dengan gadis itu. ia bahkan merasa sedang berada di dunia fantasynya. Sungguh, ia tak menyangka akan menikah dengan pemuda yang selama ini ia cintai.

-To Be Continued-

Gimana Chingudeul ?

Makin gaje ya ?

Kkk~ maaf ya ^^ dan Dina juga minta maaf atas keterlambatannya..

Tapi, Dina harap kalian mau mengisi kotak komentar setelah membaca ff ini ^^

Makasih buat semuanya yang udah mau berkomentar di Chapter sebelumnya ^^ dan dina janji bakalan balas komentar kalian yang di Chapter ini ^^

See You Next time Chingudeul ^^

I AM YOUR MAID (14)

 

Iklan

Penulis:

A Girl who love her Mother and Father ^^ A Girl who claim Byun Baekhyun to be her Husband

130 thoughts on “MY KISS, MY DESTINY (chapter 3)

  1. kyaaa… ceritanya seru eonni… sang akh dapat durian runtuh banget *iri . aku juga mau jadi sang akh *minus pisah ortu. itu impian semua oranh bisa akrab sama incarannya… next…

  2. oh ternyata yang nawarin tumpangan sehun toh, ku kira si baek baek :3
    Sang akh sama bebek mau nikah? oh tidak aku patah hati u,u #apadah
    nice thor, keren ceritanya ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s