Posted in fingersdancing14, friendship, MULTICHAPTER, Romance, SCHOOL LIFE

Byunie and Illy (Chapter 3)

Byunie & Illy

 

Author: Mingi Kumiko

Cast:

Byun Baek Hyun

Ahn Il Yun (OC)

Kim Jong In

Oh Se Hun

Genre: Romance, school life, friendship

Rating: PG-15

Chapter 1 // Chapter 2 //

.

.

Jam istirahat akhirnya tiba. Sebagian dari murid kelas 3 – 6 pun berhamburan keluar dengan tujuan yang berbeda-beda. Namun masih ada yang tetap tinggal di kelas dengan alasan yang berbeda-beda pula. Salah satunya Ilyun. Ia tak keluar dari kelas karena merasa tidak sebegitu lapar, jadi ia hanya perlu melakukan aktivitas yang lebih berguna ketimbang makan di kantin –membaca buku.

“Ilyunie…” suara yang tak asing di telinganya terdengar memanggil. Ia pun sontak menoleh dan didapatilah Sehun yang sudah berdiri di balik punggungnya. Ilyun berdiri, hendak menatap Sehun, lantas bertanya, “Ada apa?”

“Kejadian kemarin…, maafkan aku ya?” ucap Sehun lirih, namun kentara sekali dari nada bicaranya, Sehun benar-benar menyesal.

“Jika yang kau bentak kemarin adalah aku, itu bukan masalah besar. Mungkin aku memang benar-benar mengganggu ketika kau tengah melampiaskan rasa kecewamu. Yang lebih pantas kau mintai permohonan maaf itu Baekhyun. Aku yakin dia sudah mengerahkan seluruh tenanganya untuk memenangkan pertandingan futsal tesebut. Tapi di setiap pertandingan tentu hanya akan ada satu pemenang, bukan?” Ilyun berkelakar dengan begitu tenang. Sehun yang mendengarkan penuturan tersebut dari bibir Ilyun pun langsung tercengang.

 

Ia kira tadinya, Ilyun akan dengan mudah memaafkannya karena ia tahu Ilyun memiliki rasa padanya. Tapi kenyataan sungguh bertolak belakang dengan ekspektasi. Meminta maaf pada Baekhyun? Cih, mau ditaruh mana harga dirinya? Sehun bersumpah tak akan pernah mau melakukan itu.

“Ah, ne… oke! Tenang saja, aku akan meminta maaf padanya.” Sehun menyipitkan mata, bibirnya tertarik hingga membentuk lengkungan senyum serta ibu jari dan telunjuknya yang membentuk huruf ‘o’. Ilyun pun tersenyum lega tatkala mengetahui Sehun yang berniat meminta maaf pada Baekhyun. Entahlah bagaimana kondisi yang sebenarnya, Sehun yang memang kelewat pintar bersandiwara dan memainkan mimik wajah, atau Ilyun saja yang bodoh hingga tak menyadari ekspresi Sehun yang benar dibuat-buatnya.

 

Sehun berjalan dengan tegap seraya meletakkan kedua tangannya di saku celana. Pria tampan satu ini benar-benar terlihat menawan dengan apapun yang ia lakukan.

 

Di tengah perjalanannya yang sebenarnya tak memiliki tujuan, tak sengaja ia berpapasan dengan Baekhyun yang baru saja keluar dari toilet pria.

“Hey, bro!” sapa Sehun dengan seringai liciknya. Baekhyun yang melihatnya pun dibuat tak habis pikir dengan tingkah laku pria di hadapannya ini.

Is he crazy or something? Pertanyaan itu seakan tersirat dari cara Baekhyun menatap Sehun.

“Kau ingat hari kemarin? Urusan kita belum selesai.” Tutur Sehun. Yang diajak bicara pun mendadak terkesiap. Jika Sehun menganggap kejadian hari kemarin belum selesai, itu artinya…, Sehun ingin melanjutkan perkelahian yang dilerai oleh Ilyun, begitu?

 

Baekhyun pun teringat pesan Ilyun, kalau sampai nanti ketahuan berkelahi dan dipanggil guru BK…, pasti sepulang sekolah nanti ia akan diomeli habis-habisan oleh ibunya. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan wanita yang paling ia sayangi di dunia ini menjadi resah karena ulah tak bergunanya itu. Ya, menyelesaikan masalah menggunakan otot memang tak akan pernah berguna. Sampai kapanpun itu.

“Maaf, lebih baik kau melupakannya, permisi.” Baekhyun dengan sopan menghindari Sehun, bahkan ia sempat membungkuk sembilan puluh derajat tatkala akan berbalik dan pergi. Namun dengan cepat Sehun mencengkram bahunya dan membuat tubuh Baekhyun berbalik menghadapnya.

“Kau ini pengecut atau pecundang, huh?!”

“Keduanya.” Jawab Baekhyun spontan dengan pandangan remeh terarah pada Sehun.

 

Sehun geram dan tak kuasa melesatkan bogem mentahnya tepat di pipi kanan Baekhyun dan membuatnya tersungkur ke lantai.

YA! Dengan memiliki kekuatan, bukan berarti kau bisa bertindak seenaknya sendiri, Tuan Oh!” pekik Baekhyun sambil sesekali meringis , merasakan sakitnya pukulan Sehun.

 

Baekhyun hendak mengurungkan niatnya untuk membalas pukulan Sehun. Jelas sekali terlihat api kemarahan lawannya itu yang menyala-nyala. Membuat nyalinya ciut. Bagaimana ia tak takut, kini Sehun benar-benar seperti harimau kelaparan yang siap menerkam siapa saja, termasuk dirinya.

“Kau bodoh atau bagaimana, huh? Dengan mudahnya bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Aku benar-benar tak ingin membuat masalah di sini. Kumohon, hentikan!” tegas Baekhyun .

 

Memang kelihatannya benar-benar pengecut. Jika Baekhyun lelaki sungguhan, harusnya ia membalas pukulan Sehun dengan tinju yang lebih mantap. Namun tidak dengannya. Ia punya pendapat lain. Lelaki hebat adalah dia yang tahu bagaimana caranya berpikir dewasa serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Oke lupakan, itu hanya teori yang dengan asal Baekhyun cetuskan sejak beberapa menit yang lalu.

 

“Sudahlah, Sehun-a…, turuti saja permintaan si pendek penakut itu!”

Suara berat itu terdengar begitu santai dan terkesan slengean. Dia adalah Jongin –atau yang lebih akrab disapa Kai– yang tiba-tiba muncul dari toilet pria. Sebenarnya sedari tadi ia dengan iseng menonton ‘pertunjukan’ seru yang Baekhyun dan Sehun suguhkan. Tapi lama-lama, ia tak tega juga melihat Baekhyun yang terus saja meminta agar Sehun berhenti ‘menerkamnya’.

 

Ia rangkul pundak Baekhyun erat sekali. Perlahan ia memundurkan langkahnya yang otomatis membuat Baekhyun ikut mundur pula.

“Kita lanjutkan ini lain kali. Oh tidak, bahkan kalau perlu…, sesuai permintaan pecundang yang manis ini. Lupakan semua, Sehun-a. Dia lemah, menyedihkan, tak dapat berkelahi. Dan kau pasti ingat, bukan petarung sejati namanya kalau berkelahi tanpa alasan. Annyeong!” Kai melambai-lambaikan tangannya kepada Sehun dan dengan cepat mengantar Baekhyun menuju UKS.

 

“Terima kasih, Jongin-ssi…” ucap Baekhyun seraya mengobati sendiri memar di wajahnya. Tentu saja, mana mungkin Kai mau melakukan hal sejauh itu untuk Baekhyun. Memangnya dia siapa?

Just call me Kai. K-A-I. Is that too hard for you, Byun?”

Sorry, Kai…” Baekhyun meralat ucapannya barusan.

“Aku heran denganmu, Byun. Kupikir, setiap lelaki memiliki jiwa petarung di dalam dirinya. Tapi yang kau lakukan malah dengan lisan menyuruhnya berhenti. Harga dirimu di mana, sih?” celetuk Kai.

“Bukan kah kau juga mengetahuinya, bukan petarung sejati namanya kalau berkelahi tanpa memiliki tujuan? Masa bodoh kalau kau dan Sehun, atau bahkan semua orang menganggapku pengecut. Toh, tidak ada yang kupertahankan untuk perkelahian barusan.”

“Kau sangat menarik!” Kai berucap sambil bersenggut dagu.

“Terima kasih telah memujiku.”

 

***

OMO, Byunie! Pipimu kenapa?” tanya Ilyun sambil meraba-raba pipi Baekhyun yang lebam di sebelah kanannya. Ia baru sadar sekarang, karena saat di kelas, Baekhyun terus saja memalingkan wajah dan berusaha untuk tak menatap Ilyun.

“Illy-ya, apo!” rutuk Baekhyun karena Ilyun tak sengaja menekan pipi Baekhyun hingga membuat rasa nyeri di pipinya timbul.

Mianhae, luka ini kenapa? Ayolah, beri tahu aku!” Ilyun mendesak.

“Hanya masalah kecil, aku tersungkur ke lantai tadi.” Baekhyun menjawabnya dengan kalimat yang ambigu. Tapi memang benar,’kan? Hanya saja ia tak cerita apa yang menyebabkannya sampai tersungkur ke lantai.

“Benar tidak apa-apa?”

“Iya. Tapi hm…, terima kasih ya sudah khawatir. Aku senang. Tahu begitu, aku rela kok tiap hari mendapatkan memar di seluruh tubuhku supaya kau perhatikan, hehehe…” Baekhyun mulai menembak jitu sasarannya dengan rayuan mematikan. Ilyun pun terdiam, dalam beberapa saat tak mampu berkutik.

“Nanti sore ada acara tidak?” tanya Baekhyun sambil menyerahkan helm pada Ilyun.

“Tidak sih… memangnya kenapa?” Ilyun bertanya balik.

“Ayo jalan-jalan?”

“Ke mana?”

“Ada deh! Ikut saja, tidak jauh-jauh dari rumah, kok!”

“Ya, boleh juga.”

“Oke, nanti jam 4 sore jangan lupa!”

.

.

Sore di mana Baekhyun menjanjikan akan mengajak Ilyun pergi pun tiba. Dengan pakaian santai (kaus oblong dan celana pendek selutut), Baekhyun pergi menjemput Ilyun.

 

Ketika hendak mengetuk pintu, Baekhyun pun teringat kata Bibi Seo. Ia tak perlu mengetuk pintu jika ingin masuk rumah tersebut. Jadilah kini ia langsung membuka pintu rumah Ilyun. “Annyeong…” ucap Baekhyun sembari menengok kanan dan kiri, siapa tahu dia bertemu dengan Ilyun atau Bibi Seo.

“Byunie?!”  panggil Ilyun yang heran karena sudah ada Baekhyun di dalam rumahnya. Yang dipanggil pun menoleh dan mendadak terkesiap. Jelas saja, bagaimana ia tidak terkejut jika dihadapannya sudah ada Ilyun dengan pahanya yang terekspos karena ia menggunakan celana super mini, bisa juga disebut hot pants, mungkin?

“Cowok mesum! Bukannya menjawab sapaanku, malah terus saja melihati pahaku!” omel Ilyun yang menyadari tingkah kurang ajar Baekhyun.

“Salah sendiri, kenapa harus pakai celana semini itu?!” sanggahnya.

“Kau yang salah, masuk rumah orang tanpa mengetuk pintu dulu,”

“Ibumu sendiri yang bilang, aku boleh masuk rumah ini kapan saja dan tidak perlu mengetuk pintu dulu, wleee~” Baekhyun menyulurkan lidahnya untuk mengejek Ilyun.

“Ya sudah, ya sudah, kau ke sini untuk menjemputku, ‘kan? Aku ganti baju dulu ya?”

“Aku tunggu di ruang tamu, oke?”

“Sipp~”

 

Selang waktu berlalu, Ilyun pun selesai ganti baju dan segera menghampiri Baekhyun di ruang tamu. “Ayo berangkat!” ajaknya.

“Illy, apa semua baju yang kau miliki semuanya adalah rok?” heran Baekhyun.

“Hmm… bagaimana ya? Aku sukanya pakai rok, sih!”

“Tidak punya celana pendek dan kaus longgar?”

Oh my god, oh my no, oh my WOW! Pakaian macam apa itu? Masa aku pakai seperti itu? Menjijikkan!” semprot Ilyun. *Ilyunnya alay*

“Illy… bukan begitu. Masalahnya, akan lebih baik memakai baju santai ke tempat yang akan kita kunjungi.”

“Memangnya kita mau ke mana sih, Byun?”

“Ada deh pokoknya. Ayolah, jangan pakai rok mini dan high heels.”

Hufff… Sebentar ya, biar kupinjam Ilhoon (adiknya Ilyun) dulu.”

 

Ilyun akhirnya kembali dengan tampilan berbeda. Kali ini sesuai dengan keinginan Baekhyun, ia mengenakan celana pendek, kaus longgar warna hitam, dan sneakers abu-abu. “Catchy!” puji Baekhyun. “Hey, aku tetap cantik dengan apapun yang kugunakan. Ingat itu!” timpal Ilyun. “Iya, mangkannya aku suka…”

“Apa kau bilang?!”

“Eh? Bukan apa-apa, kok! Ya sudah, ayo pergi!”

 

Tanpa Ilyun duga sebelumnya, ternyata Baekhyun mengajaknya pergi dengan berjalan kaki. “Tempatnya dekat dari sini, kok! Jadi tidak perlu pakai motor.” jelas Baekhyun sebelum Ilyun ribut bertanya alasan kenapa ia tak membawa motor.

“Baekhyun-ah… Jangan buat aku penasaran, dong!” rutuk Ilyun.

“Sebentar lagi kita sampai, kok…” kata Baekhyun.

 

Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Ilyun sedikit terkejut, ia menaikkan alis tatkala melihat apa yang kini ada di hadapannya.

Ige mwoya?” heran Ilyun.

“Ayo kita main bersama?” ajak Baekhyun.

“Byunie…” kata Ilyun lirih dan tak jelas apa maksudnya.

“Sudahlah…” dengan gerakan cepat ia tarik tangan Ilyun untuk memasuki taman bermain tersebut.

 

“Kau ingat tempat ini?” tanya Baekhyun. “Aku selalu mengingatnya!” jawab Ilyun dengan mata yang hampir beranak sungai, ia terharu. Taman bermain tersebut adalah tempat terakhir Baekhyun menghabiskan waktu bersama Ilyun sebelum kepergiannya 10 tahun yang lalu.

“Katanya ada wahana baru. Tapi aku belum tahu apa.” ucap Ilyun. “Kalau begitu, ayo kita coba!”

 

Sesampainya mereka di wahana terbaru itu, Baekhyun dan Ilyun pun langsung kecewa karena antriannya panjang sekali.

“Kita tunggu saja sampai sepi ya?” saran Baekhyun.

“Iya, duduk, yuk!” ajak Ilyun.

 

Mereka pun kemudian duduk bersebelahan di atas patung berbentuk sapi. Saling diam dan sama sekali tidak ada topik pembicaraan yang dibahas.

“Oh iya, Byunie! Kau belum cerita padaku tentang kehidupanmu di Chungju. Lebih seru mana, Chungju atau Seoul?”

“Dua-duanya menyenangkan kok…” jawab Baekhyun kemudian menyedot jus kemasan yang ia beli di sekitar tempat antrian.

“Maksudnya… apa dulu kau sama sekali tak memikirkanku? Atau mungkin, berinisiatif memberiku kabar?”

“Dulu pernah sekali aku kembali ke sini untuk liburan, tapi tidak pulang ke rumah ibu karena tidak diizinkan oleh Ayah. Aku bermalam di hotel. Saat Ayah sedang mandi sore, aku nekat berlari keluar untuk pergi menemui Ibu dan kamu. Tapi saat hendak mampir ke rumahmu setelah melepas rindu pada Ibu, ternyata kau sekeluarga sedang tidak ada di rumah. Agak kecewa sih, tapi ya…, mau bagaimana lagi?”

“Oh… kukira kau telah benar-benar lupa padaku,”

“Apanya? Yang ada kau yang melupakanku! Saat kusapa pertama kali, kau lupa aku ini siapa, huh!”

“Ehehe, kalau itu sih memang sengaja…”

“Kau sengaja melupakanku?!”

“Bukan, aku sengaja bersikap seakan tak mengingatmu. Kau berubah. Jadi semakin hm…, tampan!”

Jeongmal? Terima kasih atas kejujurannya. Illy juga tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan mendebarkan, kok!” Baekhyun balas memuji Ilyun seraya dengan iseng mencubit hidung Ilyun sampai dalam beberapa detik gadis itu agak kesulitan untuk bernapas.

“Hmmm… Eh, aku bosan mengantri! Mencoba wahana barunya lain kali saja ya? Sekarang… Bagaimana kalau kita main wahana yang sepi?” Baekhyun segera turun dari patung yang ia duduki itu dan langsung menarik tangan Ilyun untuk mengikutinya tanpa peduli dengan keadaan Ilyun yang masih shock. Tapa Baekhyun sadari, perlakuannya barusan telah berhasil membuat jantung gadis berambut hitam panjang itu mencelos tak karuan.

 

Wahana yang dipilih Baekhyun untuk dimainkan adalah sesuatu yang berhubungan dengan air, water splash! Jadilah, ketika memainkan wahana itu, baju mereka basah kuyup.

“Byunie… rambutku basah, jadi kusut begini!” rengek Ilyun sambil mengelus-elus rambutnya.

“Haduhh, susah ya menghadapi cewek feminine!” cibir Baekhyun.

“Ahh, kau menyebalkan!” gerutu Ilyun yang malah membuat Baekhyun makin gemas saja dengannya. “Sudahlah, mau rambutmu rapi, lepek, atau bercabang dimana-mana pun, kau akan tetap terlihat cantik!” ucap Baekhyun yang membuat jantung Ilyun lagi-lagi serasa berhenti berdetak untuk beberapa saat. Belum lagi, setelah bicara seperti itu, Baekhyun langsung mengembangkan senyum termanisnya.

I hate you so much, Byun Baek Hyun!

 

Aish, ya sudahlah…, aku ke kamar mandi dulu ya?” ujar Ilyun.

“Mau menata rambut?” sahut Baekhyun sambil menyipitkan matanya saat menatap wajah Ilyun.

“Ayolah, Byunie…, namanya juga wanita, harus jaga penampilan!” Ilyun membuat pembelaan. “Hm…, tapi toiletnya di mana ya? Sedari tadi berkeliling, aku sama sekali tak menemukannya. Sudah bertahun-tahun berdiri, masa masih saja tak dibangun toilet umum, huh!” tambahnya.

“Ada kok, agak jauh sih memang…, Tempatnya di sebelah wahana komedi putar.” jelas Baekhyun.

“Oh, di situ? Ya sudah, kau tunggu sini, biar aku ke toilet dulu, oke?”

“Kau yakin ke sana sendirian?”

Aish, kau ini…, memangnya aku semengkhawatirkan itu apa?!”

“Hahaha, oke…, oke…, aku akan menunggumu di sini.”

 

Cukup lama Baekhyun menunggu, namun Ilyun tak kunjung kembali juga. Baekhyun pun dibuatnya khawatir. Memang sih, jarak dari tempatnya sekarang berdiri ke toilet lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, tapi kalau kembalinya sampai selama ini…, sudah jelas ada yang tidak beres. Akhirnya ia putuskan untuk menyusul Ilyun saja.

 

Ia pun sampai di area sekitaran toilet umum, namun tak ia temukan keberadaan Ilyun. Dengan firasat yang sedikit buruk, ia pun mencari Ilyun dengan berlari tunggang langgang.

“JANGAAAN!!!”

Mendadak saja ia mendengar sebuah jeritan yang cukup keras.

Jangan-jangan itu Illy!

Tanpa pikir panjang, Baekhyun segera mengikuti arah sumber suara tersebut.

 

Baekhyun akhirnya menemukan Ilyun, dan betapa terkejutnya ia tatkala melihat ada dua orang lelaki bertubuh kekar yang tengah menghadangnya. Ia terlihat ketakutan dan menangis deras.

“Illy!” Baekhyun memekik. Seketika pandangan kedua preman itu teralihkan. “Lepaskan dia!” suruh Baekhyun.

“Kau berani pada kami, cungkring?” sahut salah satu preman itu. Sekelebat keraguan pun menghujam benak Baekhyun. Tadi siang saja, ketika Sehun mengajaknya berkelahi, ia terus saja memohon agar Sehun berhenti memukulinya. Dan sekarang, ia malah dihadapkan dengan situasi segenting ini? Entahlah di sini siapa yang boleh dianggap kejam.

 

Belum lagi tatkala ia melihat lawan yang akan dihadapinya kali ini. Rasanya ia ingin lari dan membiarkan Ilyun diapa-apakan oleh para preman itu saja.

Tapi… mau bagaimana lagi? Demi Illy, hadapi saja!

 

Dan ia pun segera maju untuk menghajar preman-preman itu.

“HYAAA!”

Belum apa-apa, bogem mentah salah satu preman itu langsung menghantam wajahnya dengan keras dan membuat mulutnya memuncratkan darah segar.

BUG!

Lagi-lagi Baekhyun dipukul, ia pun terjerembab jidatnya menghantam tanah. Sakit sekali. Preman itu pun dengan brutalnya menginjak perut Baekhyun dengan sepatunya yang berat, ia gerak-gerakkan kakinya hingga kaus oblong yang Baekhyun kenakan sedikit robek.

“Masih berani melawan kami, huh?!”

Melihat keadaan Baekhyun yang lemah tak berdaya, Ilyun pun dengan segera menghampirinya. Dengan bermodal nekat, ia tarik tubuh preman itu agar menjauhi Baekhyun dan menghentikan aksi brutalnya tersebut. Ia menangis, merutuk pada dirinya sendiri.

“Byunie-ya!” ia terus memanggil nama itu sambil menepuk-nepuk pipi Baekhyun.

 

BUG!

Kedua preman itu mendadak jatuh terjerembab seperti Baekhyun. Ilyun pun dibuat bingung. Kenapa tiba-tiba seperti ini?

Ia menoleh ke segara arah, dan didapati lah seorang pria gagah perkasa tengah berdiri sambil seakan mengelus-elus tangannya yang berlumuran darah.

“Jongin?!” Ilyun terkejut bukan kepalang.

“Anak baru ini, sudah tahu tak bisa berkelahi, tetap saja memaksakan diri!” ocehnya.

“Kenapa bisa kau ada di sini?” tanya Ilyun.

“Kau lupa, rumahku kan di sekitar sini. Saat aku mendengar ribut-ribut tak jelas, aku langsung kemari.”

“Terima kasih banyak, kau telah menyelamatkan Byunie, hiks…”

“Byunie? Nugu?” bingung Jongin karena ia memang tak tahu siapa itu.

“Byunie itu… hmmm, ano…” Ilyun terbata-bata untuk menjelaskan siapa yang ia sebut ‘Byunie’ barusan.

“Ah~ arasseo! Itu panggilan kesayanganmu untuk Byun Baek Hyun,‘kan? Astaga…, sudah sampai sejauh itu rupanya?”

“Sudah, sudah! Jangan bahas itu. Tolong aku, bopong dia ke rumah ya?” Ilyun memohon.

“Membopongnya? Malas sekali!” tolak Jongin. Mendengar penolakan mentah-mentah yang dilontarkannya, Ilyun pun mendadak putus asa dan memilih menundukkan kepalanya.

Ya! Ya! Bukan begitu maksudnya…, Aku malas membopongnya sampai rumah, jadi kita pakai mobil saja,” jelas Jongin.

Geurae?!” Ilyun yang awalnya lesu pun mendadak terkesiap dan menunjukkan wajahnya yang cerah. “Ne…” jawab Jongin sambil tersenyum sendu pada Ilyun. Setelah sekian lama saling menatap dengan pandangan sengit, akhirnya senyuman itu kembali diulaskan keduanya.

 

Terakhir kali mereka saling melempar senyum adalah tahun lalu. Saat mereka masih saling suka dan terikat dalam suatu hubungan. Ya, hanya segelintir orang yang tahu kalau dulu, Ilyun dan Jongin pernah berpacaran. Memang sangat sulit ditebak jika melihat tingkah mereka yang selalu saja ribut dan saling membenci.

.

.

Setelah mengantarkan Ilyun ke rumah Baekhyun, ia pun segera turun dari mobil untuk membopong Baekhyun. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ilyun mengarahkan Jongin menuju kamar Baekhyun.

OMO! BAEKHYUNIE!” pekik ibunya Baekhyun tatkala melihat anaknya datang dengan keadaan yang sungguh menyedihkan.

“Ilyun-ah, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya beliau. “Baekhyun berkelahi dengan preman untuk menyelamatkan aku, bi… Maafkan aku, hiks!” jelas Ilyun dan lagi-lagi ia menangis.

“Cepat bawa dia ke kamarnya, tolong!” pinta Nyonya Yoon.

 

Setelah menelentangkan tubuh Baekhyun di kasur, Jongin pun berpamitan pulang pada ibunya Baekhyun. “Terima kasih, Nak… Kalau tidak ada kau, aku tak tahu bagaimana nasib anakku,” ucap beliau sambil membawa baskom berisi air hangat, lantas dengan handuk bersih mulai membersihkan tubuh Baekhyun yang lebam.

 

“Sama-sama, bi… Ya sudah, aku pulang dulu. Permisi ya,” kata Kai.

“Ilyun-ah, tolong antar Jongin sampai pintu depan ya? Aku harus mengurus Baekhyun.” pinta Nyonya Yoon pada Ilyun yang berdiri di sebelahnya.

“Hmmm… baiklah, bi…” Ilyun pun mengangguk dengan keragu-raguan. Tapi apa boleh buat, hanya mengantarkannya sampai gerbang saja, ‘kan?

 

“Terima kasih banyak ya, Jonginie…” ucap Ilyun lagi-lagi sesampainya ia di pintu depan rumah Baekhyun. “Ahaha, kau memanggilku dengan nama itu lagi. Sudah berapa lama ya aku tak mendengar itu? Hahaha~” Jongin tertawa renyah.

“Apa? Ya! Aku tidak sengaja. Lupakan tentang itu!” sanggah Ilyun.

“Tidak masalah kok jika kau terlalu merindukanku. Sweety… (panggilan kesayangan Jongin pada Ilyun saat mereka masih berpacaran dulu).”

 

Ilyun pun refleks memukul lengannya, ia tersipu malu dan membuat Jongin terkekeh gemas.

“Ya sudah, aku pulang dulu ya… Urus tuh, apa tadi? Byunie? Ya, urus tuh, Byuniemu sampai sembuh, wleeeek~”

“Apa-apaan sih? Kau menyebalkan, huh! Pulang sana!”

“Santai, santai… aku cuma bercanda. Oke, kali ini aku akan benar-benar pulang. Pai~”

 

Setelah dirasa Jongin telah menghilang dengan mobilnya, Ilyun pun kembali masuk rumah Baekhyun dan segera menengoknya.

“Bibi, bagaimana keadaan Baekhyun?” tanya Ilyun. “Baru saja ia tertidur. Katanya sih sudah tidak sakit.” jelas Nyonya Yoon.

“Boleh aku menungguinya, Bi?”

“Boleh, Ilyun-ah…”

 

***

Pagi-pagi sekali, Ilyun bela-belakan ke rumah Baekhyun untuk tujuan tertentu. Ia mengetuk pintu dan Nyonya Yoon pun langsung membukakannya.

“Ilyun-ah, pagi sekali datangnya? Tapi maaf, Baekhyun masih belum bisa sekolah hari ini…” ucapnya. “Oh~ aku ke mari bukan untuk mengajak Baekhyun berangkat bersama. Aku mau mengambil buku-buku tugas Baekhyun.” jelas Ilyun.

“Untuk apa?” bingung Nyonya Yoon. “Kalau dia tak sekolah hari ini, pasti kan banyak mata pelajaran yang ia tinggalkan. Nah, supaya tidak tertinggal, aku akan mencatatkan materi yang guru-guru jelaskan.”

Aigo, Ilyun-ah… Kamu baik sekali? Kalau begitu, kau masuklah dulu, biar bibi ambilkan. Apa kau mau menengok Baekhyun dulu?”

“Tidak deh, bi… Aku tahu dia harus banyak istirahat. Kalau aku datang, takutnya mengganggu.”

 

Di sisi lain…

Dengan mata masih menempel, rambut acak-acakan, Baekhyun terbangun. Melemaskan kaki dan tangannya setelah semalaman terkulai lemah tanpa tenaga. Mendadak saja kejadian kemarin berkelebat di kepalanya, membayangkan kembali bagaimana kedua preman itu menginjak perutnya dengan sangat kasar begitu ngeri. Ia menarik otot matanya ke bawah, mencoba mencari bagian kausnya yang sobek. Tapi ternyata tak ia temukan. Author Min-gi, eh maksudnya ibunya sudah terlebih dulu menggantikan bajunya. #bantaaaaaaii

 

CLECK!

Terdengar suara knop pintu yang ditarik ke bawah, Baekhyun pun terkesiap dan segera pura-pura masih tertidur. Ia mengedip-ngedipkan matanya, ingin tahu apa tujuan Nyonya Yoon memasuki kamar. Ternyata yang dilakukan ibunya itu malah mengambil tas sekolah Baekhyun.

Untuk apa? Baekhyun bingung dalam diam.

 

Nyonya Yoon pun kemudian menghampirinya. Mengelus pipi Baekhyun, membangunkannya dengan cara halus. “Baekhyun sayang… Ayo bangun, tidak perlu mandi, tunggu lukanya mengering dulu.”

 

Ia pun membuka matanya, kemudian melakukan peregangan. “Ahh!” pekiknya ketika merasakan sakit pada tulang belikat tatkala melakukan peregangan.

“Pelan-pelan, Baekhyun…” Nyonya Yoon menegurnya.

“Ehehe, aku ceroboh ya bu? Oh iya, kenapa ibu membawa tasku?” tanya Baekhyun yang akhirnya mengutarakan kebingungannya sedari tadi.

“Oh, ini? Ilyun dengan baik hati akan menyalinkan materi yang guru-guru jelaskan hari ini. Jadi, kau tidak akan ketinggalan pelajaran.”

“Tidak usah lah, bu… Nanti dia repot lagi?”

“Sudahlah, Baek… Hargai dia, Ilyun sangat menyesal atas kejadian kemarin. Mungkin ini upayanya untuk menebus kesalahannya.”

“Aku baik-baik saja, bu! Ini juga bukan salahnya, aku yang mau menyelamatkannya!”

Amboi… kau benar-benar mencintai Illy-mu ya? Tapi maaf, untuk kali ini ibu tak akan menuruti keinginanmu. Kau harus banyak istirahat, jangan banyak melakukan aktivitas terlebih dahulu. Untuk melakukan peregangan saja kau sudah meronta kesakitan!”

“Baiklah ibu, baik…”

 

***

“Bagaimana keadaan Baekhyun?” terdengar suara seorang pria dan menanyakan hal tentang Baekhyun. Ketika Ilyun menengoknya, ternyata itu adalah Jongin.

“Masih lemas sepertinya, harus banyak istirahat.” jawab Ilyun.

“Kok sepertinya? Tidak akurat, dong?”

“Hmmm… aku memang tak menjenguknya tadi pagi.”

 

WOW! Ada apa ini? Kim Jong In dan Ahn Il Yun yang selalu saja bertengkar mendadak saja bicara dengan tenang. Sungguh sebuah anomali!” oceh Kangjoo yang heran dengan apa yang barusan ia lihat.

“Jangan lebay, Kangjoo-ya…” kata Jongin.

“Hahaha, tapi baguslah! Seperti ini saja tiap hari, kelas kan jadi tentram! Hahaha~”

“Memangnya kami serusuh itu apa?” sahut Ilyun.

“Tidak, tidak… Aku hanya lega. Akhirnya kalian bisa berdamai.”

 

***

Sepulang sekolah dengan menaiki bis, Ilyun pun langsung menuju rumah Baekhyun tanpa pulang dulu ke rumah. Ia ingin menyerahkan buku-buku tugas Baekhyun yang tadi ia bawa ke sekolah untuk disalinkan materi.

 

“Bagaimana bi, apa Baekhyun sudah bangun?” tanya Ilyun. “Iya, sudah. Kau mau menengoknya?” Nyonya Yoon balik bertanya. “Iya, bi!”

 

Nyonya Yoon pun mengantar Ilyun sampai kamar Baekhyun. Namun setelah pintudibuka, ternyata Baekhyun masih tidur.

“Lho, kok dia tidur lagi ya?” bingung ibunya.

“Hmmm, ya sudah bi, aku tunggui saja sampai dia bangun.”

“Baiklah, kutinggal ke dapur dulu ya?”

“Iya…”

 

Ilyun pun memasuki kamar Baekhyun. Ia duduk di kasurnya dan memandang lekat-lekat wajah lebam Baekhyun yang tengah memejamkan matanya.

“Baekhyun-ah… kapan kau akan bangun?” ucap Ilyun sambil menggoyang-goyangkan lengan Baekhyun, namun apa yang ia lakukan itu sia-sia. Baekhyun tak juga bangun.

 

Perlahan-lahan ia melakukan pergerakan, Ilyun tidurkan kepalanya pada dada Baekhyun, dapat ia dengar dengan jelas degup jantung sahabatnya itu. “Maafkan aku ya… Aku ini memang bodoh, bisa-bisanya ribut hanya karena rambut yang basah. Byunie, ayo bangun!!!” Ilyun berucap dan tak kuat membendung air matanya.

 

Mendadak saja ia dengar detak jantung Baekhyun yang berdegup lebih kencang ketimbang tadi. Aneh, pikir Ilyun. Ia pun langsung bangkit dan menyeka air matanya.

“Kau pura-pura tidur ya?!” bentak Ilyun. Mendengar suaranya yang melengking itu, Baekhyun pun mengerjap-ngerjapkan matanya, mengintip sedikit.

“Sudahlah, jangan pura-pura lagi!” timpalnya. Dan akhirnya Baekhyun pun terang-terangan membuka mata dan bangkit dari tidurnya. “Hehehe, maaf ya… Tapi kalau tidak pura-pura tidur aku tak akan dapat pelukan darimu, kekeke…”

 

Anira…, Bagaimana, perut dan wajahmu, apa masih sakit?” tanya Ilyun. “Sebenarnya sih, masih sakit. Tapi jangan bilang-bilang pada ibuku ya?” Baekhyun menjawab dengan suara berbisik. Ujaran itu membuat Ilyun makin sedih, ia pun menunduk sambil berucap, “Maafkan aku…”

 

Baekhyun tak kuasa menahan harunya tatkala melihat Ilyun yang terlalu menyesali apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia pun kemudian mengangkat dagu Ilyun agar menatap wajahnya dan menyeka air mata yang membasahi pipinya dengan ibu jari.

Listen carefully, kalau aku harus mengalami kesusahan karena kesalahan orang yang sangat aku cintai, aku akan ikhlas…” ujar Baekhyun sambil mengacak pelan rambut Ilyun.

 

Ia pun langsung mengangkat tubuh Ilyun untuk duduk di pangkuannya, kemudian tangan kanannya menggapai pundak Ilyun untuk direngkuh, dan tangan kiri Baekhyun dilingkarkan di pinggangnya.

“Sudah, jangan khawatir…, Aku baik-baik saja, kok!” ucap Baekhyun sambil tersenyum dan menyingkirkan poni yang menutupi wajah Ilyun. Yang dipeluk pun kemudian balas melingkarkan tangannya di leher Baekhyun dengan erat.

“Byunie… Jadi, kau benar menyukaiku ya?” ujar Ilyun dengan polosnya.

Aish, Illy… Kau ini bodoh atau memang polos, sih?” heran Baekhyun sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia pun mulai memperkecil jarak antara wajahnya dengan Ilyun, ia miringkan kepalanya hingga hidung mereka saling beradu, kemudian menciumnya lembut. Ia semakin membulatkan bibir dan memperdalam ciumannya. Ilyun pun hanya memejamkan mata tanpa membalas ciuman itu.

 

Perlahan, Baekhyun melepaskan ciumannya, namun melihat Ilyun yang masih memejamkan mata, ia pun kembali menciumnya. Ia lumat bibir bawah berwarna merah muda itu.

“Illy, saranghae…” ucap Baekhyun di sela ciumannya dengan Ilyun.

“Byunie…” Ilyun hanya memanggil nama orang yang tengah menciumnya itu dengan pelan.

“Mulai sekarang, kau adalah milikku, right?” tanya Baekhyun.

“Tentu, aku milikmu, Byunie…” jawab Ilyun, dan akhirnya ia pun membulatkan bibirnya untuk membalas ciuman Baekhyun. Dengan begitu, tangan Baekhyun makin menggeladik saja. Jemarinya mulai menjalar ke bagian tengkuk Ilyun, mengatur posisi kepala gadis yang tengah ia ciumi itu. Penjelajahannya semakin jauh dan dalam saja.

 

– END –

Gimana? Endingnya gak gantung,’kan? Ini udah aku panjang-panjangin loh, aku edit lagi sampai konfliknya greget, fuh! Semoga kalian nggak kecewa ya? Jebbal, jebbal… *nangis darah*

Udah tahu kan ya, hubungan antara Ilyun dan Kai yang sebenernya? :v

Oke, need sequel nggak nih? Hehehe…, comment ya! 🙂

 

Iklan

Penulis:

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

71 thoughts on “Byunie and Illy (Chapter 3)

  1. YAAHH KOO ENDING? padahal aku suka banget tapi endingnya uwaawwwww aku sukkkkaaaaaaaaaaaaaaaaa bangeeeeeeeeeeetttttttttttt!!!!!!!!!!

  2. alurnya msh sdkit kceptn ch mnurut q, t chap ini sdh semakin baik dr chap sblumnya…
    ending nya sweet,
    tp q bingung sma Baek, pan td buat pregangan z sakit, nah lho knpa lw bt memangku illy g ya ???
    ok dc, q bca sequelnya ya, trnyta udh ada…
    author tetep smangat ya…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s