[Minri’s Diary – 06] Under The Moonlight

moonligh

Under The Moonlight

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Rating : PG-13

Genre : Romance, fluff

Length : vignette (<1800 W), series

Note : Do not copycat without my permission. Sedikit mau kasih tau, karena sudah ada beberapa kisah dengan karakter yang sama, dan nampaknya berhubungan, maka dari itu saya kasih judul ini (dan judul yang lama) diary si Minri karena semuanya pakai/selalu sudut pandang dia. Tapi mau baca dari awal atau tidak, kalian masih bisa memahami cerita ini, kok. Karena tiap kisah beda permasalahan. (maaf kepanjangan^^). Enjoy!

“Kita tidak perlu belajar berdansa. Kita hanya perlu saling menatap, merasakan detak jantung dan melangkah dengan perasaan.”

Langit telah bertabur bintang ketika aku keluar dengan langkah tergesa. Aku berlari kecil menuju ke sebuah taman yang tidak jauh dari rumahku. Tanpa tahu alasan sebenarnya, aku memenuhi panggilan Baekhyun yang memintaku datang ke taman.

Jam 9 tepat.

Seharusnya aku berada di rumah. Bergelung dalam kasurku, sambil membaca novel favorit atau berselancar di dunia maya dengan gadgetku. Mungkin juga bicara dengan Baekhyun melalui telpon.

Tapi sekarang aku berada di luar rumah. Dengan memberi alasan pada ibuku bahwa aku harus bertemu Baekhyun untuk urusan sekolah. Aku tidak tahu harus memberi alasan apalagi karena pada kenyataannya aku memang tidak tahu apa tujuan Baekhyun memanggilku di malam hari seperti ini. Tidak biasanya.

Aku menghentikan langkahku saat aku telah sampai di tempat tujuan. Sembari mengatur nafas, aku mengedarkan pandangan ke sekitar taman. Tidak banyak orang yang melewati taman itu hingga suasananya tampak sepi. Dan aku hanya memanfaatkan lampu kuning di tiang sebagai penerangan.

Mataku terhenti pada sesosok lelaki dengan kaos putih dan celana hitam selutut, berperawakan sedang serta berwajah manis. Baekhyun.

Aku segera menghampirinya. Mungkin karena mendengar jejak kakiku, Baekhyun pun menoleh. Tanpa ekspresi. Dia menghampiriku.

Aku berhenti bahkan sebelum aku berjarak lima meter dari tempatnya berdiri. Dia tampak menakutkan dengan wajah datarnya itu.

“Baek,” panggilku.

Tidak ada jawaban darinya.

“Baekhyun.” Aku terus memanggilnya, sementara dia semakin melangkah mendekatiku. Aku hanya berdiri diam sembari mencengkram ujung bajuku. Jangan bilang kalau Baekhyun kerasukan hantu taman. Tidak mungkin!

Baekhyun berdiri tepat di depanku, membuat jantungku nyaris berhenti karena bekerja terlalu keras. Tiba-tiba dia mencengkram kedua bahuku.

“Ajarkan aku berdansa….” ucapnya. Seketika aku merasa tubuhku meleleh seperti coklat. Aku menghela nafas lega. Hey, mana ada hantu taman yang minta ajari berdansa. Lagipula Baekhyun baru saja merubah ekspesi wajahnya dengan wajah anak anjing yang kelaparan, membuatku yakin bahwa dia memang Baekhyun.

Dia melakukan aegyo lagi, huh! aku bisa mati.

“Baek! Kau menakutiku tahu.” Aku menepis kedua tangannya di lenganku, lalu membuang pandanganku ke arah lain.

Dia tertawa pelan membuatku meliriknya dengan ekor mataku. Dia masih bisa tertawa setelah tadi membuatku nyaris mati ketakutan. Dasar Baekhyun.

“Maaf. Minri lucu sekali kalau sedang ketakutan seperti tadi.” Baekhyun meraih satu tanganku dan menggenggamnya lembut. “Tapi kau mau mengajarkanku berdansa ‘kan?”

“Sebentar. Kau memanggilku kesini karena hanya ingin minta ajari berdansa denganku? Yang benar saja Baekhyun, memangnya kau pernah melihatku berdansa? Aku juga tidak bisa, ish!”

“Minri pernah masuk kelas menari.” Baekhyun menatapku dengan mata yang mengerjap lucu. Ya, dia benar. Aku pernah masuk kelas menari tapi itu sudah lama sekali.

“Ya, tapi hanya satu semester di kelas sepuluh, sebelum aku berpindah ke kelas olahraga lalu tata boga.”

Aku berganti klub ekstrakurikuler tiga kali selama aku bersekolah di sekolah menengah atas. Sekarang aku sudah berada di tahun terakhir. Oh iya, kami sudah mendengar pengumuman kelulusan dan sekarang tersisa acara prom night.

Ada berbagai macam alasan mengapa aku memilih untuk berpindah dari kelas menari. Salah satunya karena saat itu di klub menari banyak sekali gadis-gadis genit, membuatku tidak tahan berada disana. Mereka suka menggoda Jongin –teman sekelasku. Bukannya aku cemburu. Tapi, siapa yang tahan berada dalam ruangan yang penuh dengan gadis menyebalkan. Mereka pikir kelas menari adalah tempat pencarian jodoh apa.

Lalu aku berpindah ke kelas olahraga. Dan disana aku bertemu Baekhyun. Lelaki berperawakan sedang dan berwajah manis (yang sekarang sudah menjadi pacarku). Aku tidak menyangka lelaki berkulit bayi itu memilih klub olahraga –spesifiknya dia memilih olahraga basket. Menakjubkan bukan? Dia paling pendek disana.

Di tahun terakhir, aku pindah ke klub tata boga –yang sekarang diketuai oleh Kyungsoo. Aku sama sekali tidak bisa memasak. Yeah, kalian tahu, dapur adalah zona yang paling kuhindari selain untuk makan. Aku sama sekali tidak berminat memasak. Tapi, mengingat aku adalah perempuan (nantinya akan menjadi istri dan ibu –ugh, aku tidak bisa membayangkan hal ini), maka dari itu aku harus bisa memasak.

Dan sekarang kemampuan memasakku sudah lumayan. Aku harus berterimakasih pada Kyungsoo. Lelaki tembem, bermata besar dan berwajah dingin itu.

“Jadi bagaimana?” tanya Baekhyun, menarikku kembali dari ingatanku dengan kelas menari.

“Aku sudah lupa.”

“Kalau begitu kita belajar bersama-sama saja.”

Baekhyun menggenggam kedua tanganku lalu mengarahkan ke pundaknya. Sementara Baekhyun meletakkan kedua tangannya di pinggangku. Ugh, darimana dia belajar semua ini? Dia sudah tahu bagaimana posisi yang benar orang yang sedang berdansa.

“Bukannya Minri janji padaku akan mengabulkan apapun permintaanku kalau nilaiku lebih tinggi dari Minri?”

Biar ku ceritakan sedikit. Waktu itu, sehari sebelum ujian, Baekhyun berada di rumahku untuk belajar bersama. Tapi dia sama sekali tidak menyentuh bukunya. Baekhyun hanya memainkan PSP yang dibawanya. Hal itu membuatku jengkel sekali. Aku sempat berpikir akan melemparkan kamus bahasa Jepang ke kepalanya.

“Baekhyun! Kalau kau tidak ingin belajar, lebih baik kau pulang.” Aku menghempaskan pulpenku ke meja belajar.

“Aku sudah belajar tadi malam. Aku bosan dengan angka-angka itu. Dan aku ingin disini saja menemani Minri belajar.” Baekhyun berucap tanpa menatapku. Aku beranjak dari kursiku lantas merebut PSP dari tangannya bahkan sebelum Baekhyun sempat menekan tombol ‘pause’. Masa bodoh.

Aku tahu Baekhyun termasuk dalam lima besar di kelas kami (dia berada satu ranking di bawahku). Tapi kalau dia malas mengulang pelajaran, aku khawatir dia akan lupa.

“Minri… kembalikan PSP-ku.”

“Pulang atau belajar disini?”

“Tidak keduanya.” Baekhyun melipat tangannya di depan dada sembari membuang pandangan ke arah lain. O-ow, dia keras kepala juga.

“Kalau nilai ujianmu lebih tinggi dariku, aku akan mengabulkan apapun keinginanmu –tentunya keinginan masuk akal dan bisa aku kabulkan. Bagaimana?”

Aku tidak tahu mengapa mulutku sampai mengatakan hal itu. Tapi ucapanku tadi sukses membuatnya menoleh dengan wajah yang menahan senyum.

“Setuju!” Baekhyun segera mengambil kursi yang lain lalu duduk di depan meja belajarku. Tampak sangat bersemangat.

Semudah itu memberikan tawaran pada Baekhyun? Dia bahkan melupakan PSP-nya yang masih di tanganku.

“Ayo sini!” Baekhyun menepuk-nepuk kursi yang berada di sampingnya.

Lebih baik begini. Lebih baik kami belajar bersama daripada aku mendengar Baekhyun menyumpah layar PSP-nya dan membuat belajarku terganggu. Soal permintaan itu, memangnya apa yang terlintas dipikiran Baekhyun saat aku menyebut kata ‘permintaan’? Es krim? Itu persoalan yang mudah. Jadi aku tidak perlu khawatir dan menyesali perkataanku tadi.

Ketika hari pengumuman kelulusan telah tiba, para siswa dan siswi berbondong-bondong menuju papan pengumuman membuat tempat itu sesak dan ramai.

Aku hanya berdiri beberapa meter dari sana. Sungguh, aku tidak ingin berdesakan dalam kerumunan itu. Jadi, aku hanya menunggu (dengan hati yang gelisah). Berharap kerumunan itu segera membubarkan diri.

Baekhyun baru keluar dari sana lantas menghampiriku. Titik-titik keringat tampak di dahinya. Bibirnya tersenyum lebar, membuatku yakin bahwa Baekhyun akan membawakan berita bagus padaku.

“Kita lulus!”

Baekhyun menghampiriku lalu memelukku. Aku tersenyum dibalik punggungnya. Akhirnya perjuangan kami tidak sia-sia.

“Dan kau harus memenuhi beberapa permintaanku,” bisik Baekhyun ditelingaku. Seketika tubuhku menegang, lalu aku melepaskan pelukannya.

“Jadi… maksudmu….”

Aku belum selesai dengan perkataanku, tapi Baekhyun sudah mengangguk senang. Lalu dia memegang pergelangan tanganku, lalu menarikku ke dalam kerumunan.

Aku menyusuri daftar nama dari atas sampai tiba di nomer sembilan, aku melihat nama Baekhyun disana dan aku berada di peringkat sepuluh (dari seratus dua puluh siswa).

Baiklah, sepertinya keberuntungan berpihak pada Baekhyun. Berharap saja semoga dia tidak meminta yang aneh-aneh.

 

Aku turut senang dengan hasil yang diraih Baekhyun. Ugh, aku bangga padanya. Aku menautkan tanganku dibelakang lehernya. Sebenarnya posisi seperti ini sangat tidak nyaman. Selain karena kami baru pertama kali melakukannya, di taman ini juga orang yang lewat melihati kami dengan aneh. Aku mengabaikan mereka, dan kembali fokus pada Baekhyun yang berada di depanku.

“Memangnya apa yang kau inginkan?”

“Ada banyak sekali!” Baekhyun mulai melangkahkan kakinya. Walaupun tidak ada musik, tapi aku berusaha menyesuaikan langkah kami.

“Salah satunya?”

“Belajar berdansa bersama.”

Aku sudah mengabulkan hal itu.

“Keinginan lainnya?”

“Minri harus menikah denganku.”

“Sebentar. Kita sudah membicarakan hal ini. Kenapa kau membahasnya lagi?” tanyaku, kemudian berhenti melangkah.

“Setelah ini kita harus kuliah. Di Universitas pasti banyak lelaki yang menyukai Minri. Nanti kalau Minri tertarik pada salah satu dari mereka bagaimana? Aku tidak ingin Minri meninggalkanku. Pokoknya tidak boleh!”

“Harusnya aku yang khawatir tentang hal itu, Baekhyun.” Aku mencubit hidungnya pelan, membuat dia mengerucutkan bibirnya lucu. “Para sunbaenim perempuan pasti tertarik dengan wajahmu yang seperti anak SMP ini.”

“Apa Minri menganggapku seperti anak SMP? Jahat sekali.” Baekhyun mengerucutkan bibirnya lagi. Tanpa sadar bahwa tangannya menarik pinggangku mendekat. Ya Tuhan, selamatkan jantungku yang malang.

“Sekarang seperti anak SD.”

“Minri-ya!”

“TK.”

“Aku pacarmu, berumur sembilan belas dan baru lulus SMA. Berhenti mengataiku–”

Playgroup.”

Aku meledakkan tawaku ketika Baekhyun melepaskan tangannya di pinggangku. Dia merapatkan rahangnya sembari mendengus. Sepertinya dia marah padaku. Ah, tapi wajahnya lucu sekali. Boleh aku mencubit pipinya? Atau tidak?

Tiba-tiba Baekhyun memegang kedua pipiku lantas mencium bibirku dengan gemas. Hanya beberapa detik, seketika membuatku bungkam.

Apa-apaan tadi?

“Ayo berdansa lagi.” Baekhyun kembali menarik pinggangku mendekat. Sementara kedua tanganku tergantung lemas di samping badan, dengan mata yang mengerjap-ngerjap, mencerna kejadian tadi.

“Minri-ya….” Panggil Baekhyun sembari tersenyum. Bukan, dia sedang menahan tawa dengan pipi yang merona. “Makanya jangan menganggapku anak SMP lagi.”

Arasseo.” Aku memegang bahunya. Lalu kami berdansa lagi. Tanpa musik, membuat gemersik rerumputan yang bergesekkan dengan alas kaki terdengar begitu jelas.

Aku menatap ke atas langit, bulan tergantung dengan indahnya memberikan cahaya berlebih seperti lampu sorot. Pasti akan tampak romantis sekali jika dilihat dari jauh. Karena dalam jarak dekat, kalian pasti akan tertawa.

“Minri-ya.” Baekhyun menatap mataku sembari tersenyum. Tapi aku harus menahan ringisanku karena suatu hal.

“Hm?”

“Aku belum pernah berdansa sebelumnya, tapi kenapa aku merasa sudah seperti ahlinya jika berdansa dengan Minri seperti ini.”

“Tapi kau baru saja menginjak kakiku, Baek.”

“Hah?” Baekhyun melihat ke bawah, dimana kakinya sedang menginjak kakiku dengan nyamannya. “Ah… maafkan aku….” Baekhyun menjauhkan kakinya kemudian jongkok, membersihkan sedikit pasir di kakiku karena sandal Baekhyun.

“Tidak apa-apa. Berdirilah. Kita ulangi lagi.” Aku menarik lengan Baekhyun agar dia berdiri. “Kita tidak perlu belajar berdansa. Kita hanya perlu saling menatap, merasakan detak jantung dan melangkah dengan perasaan.”

“Aku mengerti!”

“Sekarang, ayo kita pulang.” Aku melepaskan tanganku di lehernya, lalu melangkah menjauh. Berlama-lama berada dalam posisi seperti itu membuatku berpotensi kehilangan fokus.

“Minri-ya, kau melupakan satu hal!” Kudengar suara Baekhyun memanggilku cukup nyaring. Perasaan aku tidak membawa apapun tadi. Suara langkah kaki semakin mendekat. Aku membalikkan badanku dan…

Dan dia melakukannya lagi.

Ciuman yang hangat di bawah sinar bulan.

Good night.”

Baekhyun melangkah semakin menjauh dengan tangan yang melambai, dan senyum kotak khas miliknya.

“Mimpi indah, ya. Mimpikan aku!” Serunya. Kemudian Ia berbalik dan melangkah riang.

Aku menyentuh bibirku. Masih merasa melayang di udara. Kupu-kupu juga sepertinya tak lelah berterbangan kesana kemari di dalam perutku.

Good night, Baek.”

Aku mulai tersadar bahwa aku harus segera pulang setelah sosok Baekhyun hilang sejauh mata memandang. Dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ugh, berharap saja semoga tidak ada yang menyangka aku kehilangan kewarasan.

*END*

This FF related to : [Minri’s Diary 01 – My Boyfriend is a Baby | 02 Still a Baby | 03 My Black Pearl Talking about Marriage | 04 Just a little Mistake | 05 This is Your Day

 baek-ri pict

Haaai.. Hello..!!

Semua exofans pasti nonton EXO Showtime dong ya? Berarti udah bisa ngebayangin gimana senyum kotaknya Baekhyun.

As usual, sorry for typo, etc.

Maaf juga karena aku belum bisa sekarang bikin yang chapter. Kalau misalnya baru jadi 1 part trus aku post, sementara aku belum bikin lanjutannya, aku takut nanti malah terhenti di tengah. Jadi sabar aja ya (itupun kalau ada yang nunggu XD)

Hmm… mari kita sepakati lagi untuk tidak memanggilku “thor please, I’m not superhero-_-! Just call me Rima (I was born on 1993), Rim, Kak, karim(kak rima *lol) Dek, Eonni, Dongsaeng, Cinderella(/gak) apapun lah ya asal jangan thor. Kalian mau aku hiatus gara2 masalah ini doang? sepele tapi (please understand me that I don’t like it). Berasa sksd? Ya gapapa lah! :3

And as always, thanks for like, read and comment.

Tanpa kalian aku tidak ada apa-apanya. /kemudian terharu/

LOVE YAAA ❤

©Charismagirl, 2014.

226 thoughts on “[Minri’s Diary – 06] Under The Moonlight

  1. Waaa eonnie maaf maaf bgt aku baru tau ini kl eonnie gamau dipanggil thor. Maaf bgt eonn :'((
    Di chap sebelumnya aku selalu konen pake thor 😦 huhu

    Eonnie ini ceritanya makin manis aja. Suka bgt. Si baekkie udah tambah dewasa nih ye(?) haha
    Disini dia jg pinter bgt hihi

    Sekali lg maaf eonn aku bener2 gatauu :”)

  2. Ping-balik: [Minri's Diary - 09] My Cute Hero | EXO Fanfiction World

  3. Wihihihihi mau doooong dicium baekkie pas di bawah sinar bulan kayaknya romantis banget hahahah etapi jangan deh, lebih cihuy kalo sama sehun kayaknya hahahaha maaf aku baru tau eonno gasuka dipanggil “thor”… mianhae ne? Keep writting eon….ditunggu banget fic2 selanjutnya yg lbih cetar 🙂

  4. Ping-balik: [Minri's Diary - 08] Where Did He Go? | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s