Secret Darling | 10th Chapter

secret-darling1

:: SECRET DARLING | 10th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by IraWorlds © HSG ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previews : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter

.

“Jaga Sehun baik-baik. Biarkan dia istirahat saja sampai pagi. Semoga besok ia sudah pulih seperti biasa.” Sahut Luhan sebelum benar-benar pergi.

“Baiklah, oppa.” Balas Minhee pelan. “Oppa… Hati-hati.”

Luhan tak membalas kalimat Minhee lagi. Laki-laki itu benar-benar melangkah pergi, menyusuri lorong apartemen yang sudah sepi karena larut. Minhee masih memandangi punggung Luhan sampai laki-laki itu menghilang dalam balok elevator.

Selepas itu Minhee menghela napas panjang. Ia kembali masuk ke apartemennya dan menuju kamar utama tempat Sehun dibaringkan. Perlahan Minhee menghampiri Sehun, lalu mulai berpikir bagaimana caranya ia membereskan laki-laki itu. Minhee menutup matanya grogi.

Haruskah?

Sehun jelas dalam keadaan mabuk sungguhan kini. Masih segar di ingatan Minhee saat tragedi minuman jus wortel beberapa waktu yang lalu. Teringat itu Minhee kembali takut, mulai ada prasangka yang tidak-tidak berkelebat dalam benaknya.

Ia takut semua yang terjadi malam itu akan terulang kembali. Mungkin bisa lebih parah. Sehun mabuk sungguhan malam ini.

 

Dengan sedikit berjengit Minhee mendekatkan dirinya pada Sehun. Gadis itu berlutut di sisi tempat tidur dan mulai melepaskan sepatu Sehun. Minhee berani bersumpah kalau saat ini ia sedang grogi setengah mati. Disana Sehun masih suka meracau, jantung Minhee semakin bermarathon tidak jelas.

“Minhee-ya? Kaukah itu?” Tanya Sehun setelah sebelumnya terdiam. Minhee pikir Sehun sudah tertidur, namun mau tak mau ia terlonjak saat mendengar suara berat Sehun menyebut namanya.

Minhee menelan saliva-nya payah. “I-iya. Ini aku. Ada apa?”

 

 

.

.

| 10th Chapter |

.

.

 

“Minhee-ya? Kaukah itu?” Tanya Sehun setelah sebelumnya terdiam. Minhee pikir Sehun sudah tertidur, namun mau tak mau ia terlonjak saat mendengar suara berat Sehun menyebut namanya.

Minhee menelan saliva-nya payah. “I-iya. Ini aku. Ada apa?”

“Apa yang kau lakukan? Melepaskan sepatuku? Aku bisa sendiri.” Racau Sehun sambil terkekeh kecil. “Tak usah repot-repot melakukan itu, sayang.”

Minhee semakin payah menelan saliva-nya saat mendengar dengan kata apa Sehun memanggilnya. “Jangan panggil aku begitu. Aku punya nama.”

“Kau tidak suka?” Tanya Sehun lagi. “Kenapa? Bukankah kau tipe perempuan yang suka dengan hal-hal romantis semacam itu?”

“Hah?” sahut Minhee spontan. Ia memandangi Sehun dengan bingung. Kenapa ia tiba-tiba ingat dengan acara lamaran Jaewon pada Yuri saat di pesta tadi?

Romantis…?

Bagaimana bisa Sehun tahu jika hal yang terus berputar-putar di kepala Minhee saat di bar tadi adalah kata-kata soal ‘romantisme’?

 

“Aku tahu,” sahut Sehun singkat. “Maafkan aku, selama ini belum pernah melakukan hal romantis apapun padamu…”

Minhee terdiam. Bukan karena ia sengaja tidak mau menjawab perkataan Sehun, tapi lebih tepatnya ia sedang berpikir.

“Aku tidak banyak berharap padamu, kau tenang saja.” Sahut Minhee akhirnya. Ia menyunggingkan senyum, tepat setelah ia menyelesaikan tugasnya dengan sepatu Sehun. Gadis itu berdiri dari simpuhnya dan menarik bed cover untuk menyelimuti suaminya.

Namun tubuhnya membeku seketika saat Sehun menahan tangannya di tepi lembaran bed cover.

“Kau tahu? Aku mencintaimu.” Tubuh Minhee semakin membeku saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Sehun. Senyum di wajah gadis itu memudar. Bukan karena ia tak senang, tapi karena ia sungguh tak menyangka dengan apa yang didengarnya. Bukan ia tak mau membesarkan hatinya mengingat apa posisinya di hidup Sehun saat ini, namun ia lebih memilih menerima kenyataan bahwa Sehun sedang mabuk sekarang. Bukan tak mungkin Sehun hanya sekedar meracau tanpa tahu apa yang diucapkannya.

 

“Sebentar lagi aku ulangtahun. Aku ingin kau hadir di ulangtahunku,” sahut Sehun lagi. “Selalu ada di setiap tahun usiaku bertambah. Karena aku mencintaimu.”

Sehun menutup matanya yang sudah memerah saat membawa tangan Minhee dalam genggamannya ke atas dadanya. Minhee membatu. Ia hanya bisa diam saat tangannya berada di atas dada suaminya kini. Lalu Sehun terlelap.

Ini semua sama sekali tak ada di bayangan Minhee sebelumnya. Ia tak pernah kira Sehun akan meracau seperti ini dalam keadaan tidak sadarnya. Sungguh sulit Minhee menyunggingkan senyumnya seperti tadi. Ia hanya bisa terdiam, memikirkan segala perkataan yang Sehun ucapkan sebelum terlelap di alam bawah sadarnya.

 

***

 

Sinar matahari pagi yang hangat berhasil menembus tirai putih tipis yang menutupi jendela besar di kamar itu. Hari sudah pagi, sudah berjam-jam Sehun lewati dengan istirahat guna memulihkan kembali kesadarannya yang parah semalam. Sinar matahari itu seakan membangunkan Sehun, sukses memaksa Sehun membuka kelopak matanya yang masih lengket.

Sejenak Sehun belum tersadar sepenuhnya kalau ia bukan berada di kamar yang seharusnya. Ia baru tersadar setelah terjaga selama beberapa menit selanjutnya, menyadari interior kamar yang berbeda dan juga sprei putih yang ada dibawah tubuhnya sekarang.

Sehun kontan mendudukkan tubuhnya. Namun karena terlalu tiba-tiba, rasa pusing seketika menyerang kepalanya. Ia memegangi kepalanya sambil memandang sekeliling kamar.

Bukankah… Ini kamar Minhee?

 

Sehun terlonjak kaget. Laki-laki itu meloncat turun dari tempat tidur dan sedikit panik melihat keadaan tempat tidur yang berantakan. Juga kemejanya yang kusut tak karuan. Pikirannya langsung mengarah ke berbagai praduga negatif saat ia ingat apa yang menimpanya semalam.

Sial, bukankah ia mabuk?

Apa saja yang sudah ia lakukan pada Minhee?!

 

“Minhee-ya! Minhee-ya!” panggil Sehun panik saat kakinya melangkah keluar kamar. Sepi. Bahkan tak ada suara apapun yang mengisi apartemen itu sekarang, kecuali suaranya sendiri yang bergaung saat memanggil-manggil mana Minhee. Sehun berkeliling ke semua ruangan yang ada di apartemennya, namun ia masih tak berhasil juga menemukan Minhee.

Minhee tak ada di apartemen itu.

 

Sehun mengacak rambutnya frustasi.

 

 

Gadis itu melangkahkan kakinya gontai sepanjang koridor menuju kelasnya. Berkali-kali ia bahkan menguap di tengah perjalanan, matanya yang sayu dan berkantung jelas menunjukan ia tak mendapat waktu tidur yang cukup semalam sebelumnya.

Keadaan gadis itu sedikit kacau. Mungkin seharusnya ia tidak masuk kuliah dulu hari ini, namun ia terlalu memaksakan diri.

 

Minhee kehilangan keseimbangan. Tubuhnya sudah terlalu lelah, ia nyaris tidak tidur semalaman.

 

“Mine! Ada apa denganmu?” tahu-tahu Minhee sadar ketika Jungkook sudah berada di sisinya. Ia menahan sebagian berat tubuh Minhee. Minhee tersadar seketika dan buru-buru menjauhkan dirinya dari Jungkook.

“Ah, kau.” Sahut Minhee yang lebih mirip gumaman. “Aku tidak terlambat ‘kan pagi ini?”

“Astaga, kau pasti kurang istirahat.” Jungkook mengabaikan pertanyaan Minhee dan lebih memilih memperhatikan bagaimana kondisi Minhee sekarang.

“Ya, aku tidak tidur semalaman.” Jawab Minhee kecil. “Serius, aku tidak terlambat ‘kan?”

“Jangan masuk kelas hari ini.” Tegas Jungkook sambil membawa Minhee pergi ke arah sebaliknya.

“Apa maksudmu?” Minhee memaksa menghentikan langkah mereka. “Hari ini kelas terpenting dari Dosen Jung. Aku harus masuk.”

“Tapi aku tidak mengizinkanmu,” balas Jungkook lalu kembali membawa Minhee pergi. “Kau harus istirahat di ruang kesehatan seharian ini. Bila perlu pulang nanti aku yang akan mengantarmu.”

“Tidak perlu,” Minhee melepaskan diri dari Jungkook. “Aku memaksakan datang hari ini karena ada kelas dari Dosen Jung. Kalau aku tidak masuk kelas, apa gunanya aku datang hari ini,”

“Tidak, Mine.” Tegas Jungkook lagi. “Kau harus istirahat. Aku berjanji akan menyalinkan catatan dari Dosen Jung nanti untukmu.”

Minhee berhenti membantah dan kini memandangi Jungkook dengan tatapan mencari kesungguhan. Jungkook tak menjawabnya, ia hanya mengangguk. Meminta Minhee agar percaya padanya. Kembali percaya padanya seperti masa lalu.

 

“Baiklah,” sahut Minhee kecil. “Kau menang, Jeon Jungkook.”

 

 

 

“Astaga, tidak adakah yang bisa mengangkat telepon hari ini?!” keluh Sehun kesal. Ia melepaskan ponselnya dari telinga, memandang layarnya kesal dan nyaris membanting ponsel itu ke dinding jika saja ia tak ingat butuh waktu berbulan-bulan baginya untuk membeli smartphone itu. Belum lagi usahanya bertaruh nilai dengan orangtuanya, belajar keras selama satu semester demi mendapat uang saku tambahan.

Sehun mengurungkan niat untuk membanting ponsel itu sebagai pelampiasan rasa kesal dan tak sabar, namun tak bisa menahan diri untuk tidak meletakkan ponsel itu dengan keras ke atas meja. Laki-laki itu melirik jam dinding yang tergantung di atas sana, menyadari perasaannya semakin tak karuan saat melihat waktu yang semakin sore. Minhee belum kembali ke apartemen, jadi kemana gadis itu? Tak tahukah Sehun sedang menunggunya di apartemen dengan menyimpan rasa gelisah yang tak bisa ia telan sejak pagi?

 

Sehun tak bisa menunggu waktu yang lebih lama lagi. Ia bangkit dari kursi, menyambar mantelnya dan melangkah buru-buru menuju pintu. Ia memang tak tahu Minhee berada di mana, tapi ia akan ke kampus sekarang. Jika Minhee tak ada di sana juga, ia akan ke rumah orangtua Minhee. Jika di sana juga tak ada, mau tak mau Sehun harus ke rumah Minchan. Memangnya Minhee mau kemana lagi selain ke tiga tempat itu? Gadis itu bahkan tak banyak tahu tentang Seoul, memperkecil kemungkinan gadis itu keluyuran kemana-mana.

Namun tepat saat Sehun membuka pintu depan, ia melihat Minhee berdiri di baliknya. Tangan gadis itu terulur ke arah kenop pintu, dan sepertinya ia juga hendak membuka pintu andai saja Sehun tidak membuka pintu lebih dulu. Pandangan Minhee yang tertunduk kontan terangkat, pandangan mereka berdua sempat bertemu di udara selama beberapa puluh detik.

Sehun memecah keheningan itu dengan satu pelukan yang tiba-tiba pada Minhee. Minhee kaget, namun tak punya cukup tenaga untuk bereaksi seperti biasanya. Biasanya ia mungkin langsung mendorong Sehun, mengomel mengapa laki-laki itu asal peluk seenaknya. Namun tidak kali ini. Minhee hanya terdiam dengan kedua tangan yang terulur lurus disamping tubuhnya sendiri. Tak ada reaksi apapun. Tak ada tolakan maupun balas memeluk dari tangan gadis itu.

 

“Apa yang kau lakukan di luar sana?” Tanya Sehun dengan tangan yang masih memeluk Minhee. Sesaat Minhee hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.

“Aku…” gumam Minhee kecil. “Aku… Aku ke kampus.”

“Mengapa kau tidak membangunkanku?” Tanya Sehun lagi.

Minhee tidak menjawabnya dengan kata, gadis itu hanya menggeleng lalu tangannya mulai bereaksi dengan mendorong pelan Sehun agar menjauh dari tubuhnya.

“Aku datang ke kampus hari ini, tapi aku tidak masuk kelas.” jelas Minhee setelah tubuhnya tidak lagi dalam pelukan Sehun. Jujur, rasa risih itu masih ada. Minhee menghela napasnya pelan.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

“Ada seorang teman yang menyuruhku istirahat…” cerita Minhee pelan. “Dan aku beristirahat seharian. Aku meminum obat tidur supaya aku bisa istirahat sebentar di ruang perawatan, tapi ternyata aku malah tertidur sampai sore. Maafkan aku,”

“Jangan membuatku khawatir lagi, oke?” Sehun mengacak pelan puncak kepala Minhee sambil tersenyum tipis.

Minhee memandang Sehun lalu menganggukan kepalanya kecil.

“Minhee-ya, semalam aku mabuk…” ucap Sehun pelan. “Aku tidak melakukan hal yang buruk padamu, kan?”

Minhee mendongak kembali menatap Sehun, lalu terkekeh kecil. Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang terjadi antara kita, oppa. Aku hanya membantumu melepaskan sepatu. Itu saja. Ada apa? Kau khawatir padaku?”

“Tidak apa-apa,” Sehun balas terkekeh kecil. “Baiklah, sebaiknya kau membenahi dirimu dulu. Kau terlihat berantakan. Kau mau makan malam apa? Biar nanti aku pesankan dari restoran—“

“Apa saja,” potong Minhee dengan senyum. “Aku akan pesan menu yang sama denganmu. Terimakasih atas bantuanmu, oppa. Kau tahu aku sedang lapar,”

Sehun tersenyum membalasnya. “Apapun. Cepat pulihkan kondisimu, ya.”

 

***

 

Hari ini adalah hari Selasa pagi yang cerah. Minhee mengawali harinya dengan pergi ke kampus seperti biasanya, begitupun dengan Sehun. Hari ini ada kelas dari Dosen Im, dosen favorit Minhee. Ditambah lagi Minchan memaksanya masuk hari ini, sebab hari ini ia menduga ada pengumuman lebih lanjut mengenai casting drama dan juga naskah yang terpilih.

Tak ada yang tahu soal kedatangan Minhee ke kampus tempo hari, kecuali Jungkook. Sehun mungkin tahu, tapi ia tak tahu jika teman yang Minhee sebutkan saat itu adalah Jungkook. Minhee sengaja tak pernah memberi tahu Sehun, ia tak mau kejadian beberapa waktu yang lalu terulang kembali. Sama seperti Minchan, Sehun juga terlihat tak senang dengan Jungkook. Menghindari kemungkinan yang terjadi, Minhee memutuskan untuk tidak bercerita pada siapapun jika Jungkook telah banyak peduli dan menolongnya tempo hari. Bahkan Minhee memutuskan bahwa Minchan tak harus mengetahuinya, meski gadis itu sahabatnya.

 

“Hari ini Dosen Im tidak jadi masuk,” kabar Minchan saat melihat sosok Minhee duduk di kursinya.

Minhee menolehkan kepalanya pada Minchan, namun sebelum Minhee bertanya lebih lanjut, gadis itu sudah melanjutkan kalimatnya, “kemarin Dosen Im datang ke kelas sebentar, hanya ingin memberi info soal drama itu. Casting mungkin akan digelar minggu ini,”

“Naskah?” Tanya Minhee.

“Kau masih berharap soal naskah itu? Bukan naskahmu yang terpilih, Minhee. Sayang sekali. Naskah yang terpilih adalah naskah milik senior Moon Gayoung.” Jawab Minchan. “Dan kau tahu genrenya apa? Romance!”

“Oh, bagus. Bukankah drama memang harus bergenre romance?” Minhee balik bertanya. Minchan hanya mengangkat bahunya.

“Hari ini kita hanya punya jadwal dari Dosen Im… Kalau Dosen Im tidak masuk, berarti hari ini kita diliburkan?” Tanya Minhee lagi.

“Sepertinya begitu,” jawab Minchan ragu. “Memangnya kenapa?”

Minhee membinarkan matanya pada Minchan. “Oh, kesempatan bagus. Aku baru saja ingat, tempo hari mendapatkan informasi terbaru soal senior Kwon Soojeon. Kau mau mendengarnya?”

“Apa?” Minchan segera bangkit dari kursinya dan beringsut mendekati kursi Minhee. Melihatnya Minhee mengernyit, lalu sedikit mencibir atas kelakuan Minchan.

“Kau hanya beringsut saat kau ada maunya,” cibir Minhee kecut.

“Ayolah, cepat katakan saja, Minhee!” buru Minchan tak sabar.

“Kau kira semudah itu membeli informasi dariku?” balas Minhee dengan nada disiniskan. Minchan cemberut mendengarnya, lalu kembali beringsut menjauh dari Minhee.

“Apa maksudmu? Kau mau aku membayar?” protes Minchan.

“Tidak,” geleng Minhee. “Cukup temani aku ke Myeongdong saja hari ini. Aku harus mencari sesuatu di sana, dan setelah itu aku janji akan memberitahu infromasi itu padamu.”

“Baiklah,” Minchan menyerah. “Kau mau pergi sekarang? Kau mau membolos?”

“Karena Dosen Im tak ada…” Minhee tersenyum jenaka.,“baiklah, kita pergi sekarang saja.”

 

 

Minhee bergegas pulang ke apartemennya ketika hari sudah semakin sore. Minhee nyaris tak percaya, ia menghabiskan waktu seharian hanya untuk survei toko hadiah ulangtahun di Myeongdong. Saat sampai di apartemen, pintu sudah dalam keadaan tak terkunci. Itu berarti Sehun sudah tiba lebih dulu disana.

“Dari mana saja kau?” Tanya Sehun saat Minhee memunculkan dirinya dari balik pintu.

Minhee menatap Sehun cepat, lalu tersenyum lebar. “Jalan-jalan.”

“Bersama mantan kekasihmu itu?” tuduh Sehun dengan nada sedikit sinis.

Minhee mengerutkan keningnya. “Siapa maksudmu?”

“Kookie.” Jawab Sehun dengan nada menyebalkan. “Kau pergi bersama dia?”

“Apa maksudmu? Aku pergi bersama Minchan.” Protes Minhee tak terima. “Kenapa kau tiba-tiba membicarakan Jungkook, huh?”

“Oh, pacarmu yang manis itu menitipkan sesuatu padaku tadi,” cibir Sehun sambil mengambil sesuatu dalam tasnya. “Dia bilang tadi ia terlambat masuk kelas. Ia ingin memberikan benda ini padamu, tapi saat tiba di kelas kau sudah tidak di sana. Jadi dia repot-repot menungguku di gerbang kampus hanya untuk menitipkan benda ini padaku.”

Sehun menyerahkan sebuah notes berwarna ungu ke tangan Minhee. Kening Minhee berkerut saat menerimanya.

“Apa ini?” Tanya Minhee sebelum Sehun melangkah kembali ke kamarnya. “Notes?”

“Mana kutahu.” Jawab Sehun datar. “Mungkin kau bisa baca lembaran terakhirnya. Ada pesan dari pacarmu. Oh, masa kecil kalian sungguh manis, ya.”

 

Minhee bingung mau menimpali kalimat Sehun dengan apa lagi. Bahkan ia bingung apa yang sedang Sehun bicarakan. Sehun melenggang menuju kamarnya sendiri, lalu menutup pintunya. Minhee masih membatu di ruang tamu. Di tangannya masih ada sebuku notes berwarna ungu, Minhee bahkan ragu untuk membuka isinya.

Minhee mengerutkan keningnya saat melihat berlembar-lembar halaman awal yang terisi dengan deretan tulisan tangan yang terukir rapi. Minhee membacanya sekilas, lalu baru mengenali jika itu adalah materi yang berkenaan dengan mata kuliah Dosen Jung. Minhee segera tersadar dengan semuanya.

Jemarinya dengan cepat membalik halaman demi halaman, sampai ia tiba di lembar terakhir. Seperti yang Sehun bilang, memang ada pesan lain yang tertulis disana. Dan itu berarti, Sehun telah banyak memeriksa apa isi notes itu sebelum menyerahkannya pada Minhee. Bentuk rasa curiganya pada seorang laki-laki lain yang pernah menjadi bagian dari masa lalu istrinya.

 

 

Ini adalah salinan materi Dosen Jung yang tempo hari kujanjikan padamu. Kau boleh menyimpan notes ini, Mine. Bagaimana? Aku tidak salah pilih warna, kan? Aku masih mengingat kata-katamu di masa kecil, kau suka sekali dengan payung berwarna ungu pemberian ibumu.

Apakah kau masih menyukai warna ungu? Semoga ingatanku tak salah.

 

-Kookie-

 

 

***

 

Minhee datang ke kampus seperti biasa hari ini, lagi. Tidak ada yang berubah hari ini, meskipun ia tahu kejadian tak mengenakan itu masih tersimpan di ingatan miliknya dan milik Sehun. Hari ini mereka tidak berangkat bersama, seperti biasanya, mereka memang memilih untuk tidak datang bersama ke kampus untuk menghindari segala kemungkinan teman-teman mereka akan curiga. Sedikit tambahan malam itu, selepas Sehun menyampaikan notes ungu itu pada Minhee, Sehun tak lagi keluar untuk makan malam. Minhee pun hanya sempat keluar dari kamarnya sebentar, bermaksud mengajak bicara Sehun lagi, namun melihat pintu kamar Sehun yang tampaknya masih terkunci maka ia pun mengurungkan niat seketika.

Gadis itu memutar langkahnya kembali ke kamar, dan hal pertama yang ia lihat diatas nakasnya adalah notes ungu pemberian Jungkook.

 

Minhee melangkahkan kakinya menuju kelas lebih lambat dari biasanya. Kelas belum ramai saat ia tiba, suatu kewajaran mengingat ia memang sengaja berangkat lebih pagi hari ini. Walau tanpa ia duga, Sehun berangkat jauh lebih pagi darinya. Minhee tak tahu Sehun meninggalkan apartemen sejak pukul berapa, yang jelas ia sudah melihat sepatu Sehun menghilang dari rak saat ia baru akan mengikat tali sepatunya sendiri.

Minhee sengaja tidak menghubungi Sehun, ia tahu jika di situasi seperti ini Sehun akan sulit bicara pada siapapun. Mereka baru menikah selama hampir tiga bulan, namun seakan Minhee sudah banyak mengetahui bagaimana laki-laki itu sebenarnya. Minhee bahkan tak menyadari darimana ia mengetahui tentang semua itu, ia tahu dengan sendirinya, seiring dengan hari demi hari yang ia lewati bersama laki-laki itu.

 

Minhee mengambil tempat duduknya yang biasa, sedikit mengeluh dalam hati saat melihat tempat duduk yang biasa Minchan tempati masih kosong. Ini terlalu pagi. Kau keterlaluan, Shin Minhee. Hanya ada beberapa gelintir mahasiswa yang ada disana, bahkan separuhnya tak begitu Minhee kenal sebab ia merasa hanya bertemu mereka beberapa kelas saja dalam seminggu.

Minhee tak punya siapapun untuk mengobrol, dan inilah ia sekarang. Gadis itu memilih untuk membuka kembali notes ungu yang kemarin didapatnya, membaca deretan materi yang ada disana, tanpa tahu jika seseorang mulai memperhatikannya dari balik jendela koridor.

 

“Aku tidak bertemu denganmu kemarin,” sahut seseorang tiba-tiba. Cukup mengagetkan Minhee, termasuk saat ia menoleh dan menemukan laki-laki itu sudah mengambil tempat duduk disampingnya. Tempat duduk yang biasa ditempati Minchan.

“Kau membolos?” Tanya laki-laki itu lagi sambil melepaskan tasnya.

“Aku tidak membolos.” Jawab Minhee singkat. “Aku pergi selesai mendengar kabar jika Dosen Im tidak masuk.”

“Kemarin aku mencarimu,” sahut laki-laki itu lagi. “Tapi kau tidak ada di kelas.”

“Aku pergi ke Myeongdong.” Jawab Minhee sambil kembali memfokuskan diri pada lembaran notes itu, bukan pada pemilik notes itu sebelumnya.

“Myeongdong?” ulang laki-laki itu.

“Oh, terimakasih atas bantuanmu padaku.” Sahut Minhee mengalihkan tema. Gadis itu menatap Jungkook yang ada di sampingnya, lalu mengacungkan notes itu bersama sebuah senyuman kecil.

“Aku menitipkan notes itu pada kakak sepupumu,” sahut Jungkook sambil mengangkat bahunya. “Dia menyampaikan notes itu di hari yang sama?”

Minhee mengangguk, lalu kembali meletakan notes itu diatas mejanya. Sedikit lucu mengingat ucapan Jungkook yang menyebut Sehun sebagai ‘sepupu Minhee’.

 

“Tunggu,” suara seorang gadis tiba-tiba muncul diantara mereka. Minhee buru-buru mengakat kepalanya lagi, walau sebenarnya sudah bisa mengenali siapa pemilik suara itu.

“Ini kursiku. Mengapa kau mengambilnya?” protes Minchan sambil berkacak pinggang diantara Jungkook dan Minhee. Mata gadis itu menyipit saat memandangi Jungkook dan Minhee secara bergantian. “Kau tidak akan suka duduk di sini. Dua bangku jaraknya dari sini adalah kursi Melanie.”

“Sedikit bernostalgia bersama teman lama?” pinta Jungkook sambil mendongak pada Minchan. “Aku mohon. Hari ini saja.”

Minchan memandangi Jungkook lama sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang. Gadis itu berganti memandangi Minhee cukup lama sebelum akhirnya pergi dari sana tanpa mengucap sepatah kata lagi. Minhee mengerutkan keningnya, merasa ganjil atas sikap Minchan yang tak seperti biasanya. Minhee masih memandangi Minchan sampai gadis itu tiba di kuris barunya—kursi yang biasa ditempati Jungkook—dan pada akhirnya mereka saling bertukar tatap di udara. Minhee tak tahu itu apa, namun ia merasa ada yang lain saat Minchan balas memandangnya. Sedikit heran, mengingat bahwa Minchan masih baik-baik saja padanya saat mereka pergi ke Myeongdong kemarin. Namun sekarang sikap Minchan seakan berubah.

Apa itu karena ia melihat ada Jungkook di depan Minhee?

 

 

Dua jam penuh kuliah yang diberikan oleh Dosen Son tidak membantu Minhee sama sekali. Selama dua jam itu Minhee tidak bisa berkonsentrasi dengan materi yang Dosen Son jelaskan lewat proyektor. Gadis itu hanya duduk di kursinya dengan pandangan kosong yang tertuju ke layar, dan diam saat nyaris semua murid berebut mengangkat tangan ditengah kuis yang berlangsung setengah jam menjelang penghabisan durasi kelas.

Minhee sempat menyadari sedikit saat Jungkook yang duduk di sebelahnya beberapa kali melirik Minhee dalam diam, namun terlalu ciut untuk bertanya apakah ada yang salah dengan diri Minhee. Penyambutan pagi hari tadi tidak terlalu baik, Jungkook tahu jika baik Minhee maupun Minchan sama-sama tak suka dipisahkan oleh deratan kursi-kursi itu. Jadi sampai kelas berakhirpun, Jungkook hanya mampu meninggalkan tatapannya yang tak biasa melekat pada sosok Minhee sampai akhirnya ia meninggalkan kelas.

Minhee masih terdiam membatu di kursinya, matanya menatap satu-persatu mahasiswa lain yang mulai meninggalkan kelas. Minchan menjadi orang terakhir yang melangkah di belakang mereka semua. Melihatnya, Minhee bergegas menyusul langkah Minchan tanpa peduli apakah ada barangnya yang tertinggal di laci meja.

 

“Minchan!”

Minchan mencoba untuk tidak peduli dengan suara Minhee yang memanggil namanya di belakang sana. Gadis itu melanjutkan langkahnya lebih cepat, walau jujur ada sebersit rasa bersalah karena tak memerintahkan kedua kakinya berhenti melangkah.

“Minchan, kumohon tunggu aku sebentar!”

Minhee berkata saat ia tinggal sejengkal lagi menggapai kardigan Minchan yang melambai tertiup angin musim panas. Minhee berhasil menggapai ujung kardigan itu, membuat langkah Minchan tertarik sedikit. Minchan terpaksa membalik dan menghadapi wajah memelas Minhee.

“Kau marah padaku?” Tanya Minhee memelas.

Minchan menggeleng singkat lalu membetulkan letak tasnya.

“Lalu ada apa denganmu?” Tanya Minhee lagi.

“Kau masih ingat kata-kataku?” Minchan balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Minhee sebelumnya. Gadis itu sengaja tak menatap mata Minhee, ia takut ia merasa bersalah saat mengatakan apa yang sejak kemarin bergejolak dalam hatinya.

Minhee mengerutkan keningnya. “Apa?”

“Menjauhlah dari cinta masa lalumu itu, Minhee.” Ujar Minchan datar dan singkat. “Kau sudah memiliki Sehun sekarang. Kau tak perlu menanti Jungkook lagi. Kumohon jangan hancurkan apa yang sudah berjalan diantara kalian.”

Minhee mengerutkan keningnya semakin dalam. “Apa maksudmu, Minchan?”

Minchan menolehkan kepalanya pada Minhee, memberanikan untuk menatap mata Minhee meskipun ia tahu ia akan sedih saat melihat sinar yang ada di mata Minhee menghilang sebagian.

“Kau akan tahu nanti, Minhee. Sekarang kuminta saja, kau jangan mengulang cinta masa lalumu lagi bersama Jungkook.”

Minchan memaksa Minhee melepakan kardigannya, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan sahabatnya itu sendirian di koridor kampus. Dan Minchan benar. Saat tubuh gadis itu membeku, sebagian sinar dalam mata Minhee tenggelam dalam rasa kecewa yang tak mampu terjelaskan…

 

 

“Selamat siang, Bibi Seo…”

 

Minhee membuka pintu kaca itu dengan lesu, sekaligus menyapa seorang wanita paruh baya yang duduk diatas kursi rotannya.

Wanita yang masih tampak cantik sepuluh tahun menuju usia emasnya itu kontan menoleh lembut ke arah pintu kaca berloncengnya, lalu tersenyum melihat kedatangan Minhee.

“Ah, kau jadi datang lagi rupanya. Selamat siang, Minhee. Ada apa denganmu? Kau tampak tidak bersemangat,” celoteh Bibi Seo saat melihat kekusutan yang ada di raut wajah Minhee. “Oh, dan kemana sahabatmu yang kemarin itu?”

“Aku sedang bertengkar dengannya, Bibi.” Jawab Minhee dengan nada kecil seperti nyaris menangis. “Bagaimana caranya aku berbaikan dengannya? Bibi, aku mau menangis saja rasanya…”

Aigoo, jangan menangis…” hibur Bibi Seo sambil meletakkan rajutan setengah jadi yang ada di tangannya dan menghampiri Minhee. Memberikan sebuah pelukan untuk menengangkan gadis yang bahkan baru pertama kali bertemu dengannya itu kemarin.

“Kau pasti akan berbaikan lagi dengannya, percaya padaku…” bisik Bibi Seo dengan suaranya yang lembut.

“Bagaimana caranya? Dia bahkan sangat sinis saat kuajak bicara tadi… Bagaimana, Bibi?” rengek Minhee lagi dengan nada sedih.

“Dengar, Minhee-ya… Aku tak perlu tahu apa masalah yang terjadi diantara kalian sekarang, aku juga yakin tak punya cara yang ampuh untuk membuat kalian berbaikan dalam waktu hitungan jam… Sekarang percaya padaku, kalian akan baik-baik saja. Kalian akan bersahabat lagi, hanya biarkan waktu bekerja untuk memulihkan hatimu dan hatinya dari semua kesalahpahaman itu.” nasihat Bibi Seo lembut.

Wanita lemah lembut itu menghapus airmata yang sempat menggenang di pelupuk mata Minhee, lalu menghadiahkan sebuah senyum untuk mendinginkan hati Minhee. Minhee sangat bersyukur telah mengenal Bibi Seo sekarang, wanita itu layaknya sosok ibu yang hadir saat ia membutuhkan nasihat kala ibu kandungnya sendiri sudah berpisah atap dengannya kini.

Bibi Seo memang baru dikenalnya kemarin, berhubung Minhee baru saja mengajak Minchan memasuki toko rajutan milik Bibi Seo yang ada di kawasan Myeongdong. Ternyata Bibi Seo adalah seorang wanita yang sangat hangat dan lembut, terbukti dengan kebaikannya saat Minhee datang menceritakan masalahnya dengan Minchan siang ini. Sejak kemarin Minhee berjanji akan kembali ke toko rajut Bibi Seo lagi, dan itu adalah hari ini.

 

“Terimakasih, Bibi Seo.” Ucap Minhee dengan senyumnya yang mulai terkembang.

Bibi Seo mengangguk, lalu membimbing Minhee untuk duduk di kursi rotan lain yang berdekatan dengan kursi rotan pertama.

“Baiklah… Jadi, apa siang ini kau tetap bersikeras untuk belajar merajut? Padahal kondisi hatimu—“

“Aku sudah baik-baik saja, Bibi.” Potong Minhee sambil tersenyum. “Lagipula berkat nasihat Bibi tadi, aku jadi terpikirkan suatu ide agar aku dan Minchan bisa lekas berbaikan,”

“Oh ya? Apa itu?” Tanya Bibi Seo antusias.

“Asal Bibi Seo berjanji akan membantuku,” sahut Minhee dengan senyumnya yang lebih lebar. “Janji, Bibi?”

***

 

Please, oppa… Beritahu aku,” pinta Minhee memelas pada Luhan yang sedang berbicara dengannya lewat sambungan telepon. “Sebelum aku mengetahui tanggal itu sekalipun, aku sudah yakin jika waktu menuju ulangtahun Sehun oppa sudah dekat.”

“Oh? Kalau begitu kau pasti sudah punya prediksi tanggal berapa itu, bukan?” balas Luhan cuek.

Minhee mengacak poninya frustasi, walau ia tahu Luhan tak akan bisa melihat ekspresi seperti apa yang saat ini sedang ia tunjukkan.

Please, oppa. Dosenku akan masuk kelas lima menit lagi. Bisakah kau tidak mengulur-ulur waktu?” pinta Minhee lagi dengan nada yang lebih frustasi.

“Dosenmu sebentar lagi datang?” ulang Luhan. “Berarti kau tidak punya banyak waktu, ya… Baiklah, aku beri satu petunjuk, oke? Ulangtahun Sehun jatuh delapan hari lebih awal dari hari ulangtahunku. Sekarang kau cari sendiri tanggalnya, oke? Annyeong.”

 

Oppa!” Minhee berseru panik, bahkan nyaris membentak kesal saat menyadari jika sambungan teleponnya sudah diputus secara sepihak oleh Luhan.

Minhee menjejak-jejakkan kakinya ke lantai dengan kesal dan merengutkan wajahnya. Ia tak menyangka Luhan bisa semenyebalkan itu, tapi ternyata ia sama menyebalkannya dengan Sehun.

Seorang gadis teman sekelasnya yang mulai hari ini menempati kursi Minchan tiba, tepat saat Minhee masih menunjukkan raut kesalnya dan nyaris membanting ponselnya ke lantai. Gadis itu mengernyit bingung melihat keruh yang ada di wajah Minhee, walau segan namun akhirnya ia memberanikan diri bertanya. Tidak menyenangkan rasanya saat teman yang ada di sebelahmu akan merengut selama dua jam lebih durasi kuliah.

 

“Minhee-ya, ada apa denganmu?” Tanya gadis itu pelan, seraya mencoba menyentuh pundak Minhee lembut.

Minhee menolehkan kepalanya pada gadis itu, lalu mencoba tersenyum walau terapaksa. “Oh, tidak ada apa-apa, Eunji.”

“Kau terlihat sedang marah,” sahut gadis bernama Eunji itu lagi. “Ada apa? Mungkin bisa kubantu,”

 

Oh, gadis ini baik sekali. Minhee mengakui itu. Dan lagipula… Eunji memang terkenal sebagai salah satu gadis paling baik hati yang ada di kampus.

Sebenarnya ada yang Minhee syukuri juga saat Minchan memutuskan bertukar tempat duduk dengan Eunji. Jika saja saat ini yang duduk di sebelah Minhee adalah Minchan, Minchan pasti tak akan sepeduli ini pada Minhee. Yang ada Minchan malah akan meledeknya macam-macam, walau sebenarnya semua itu tak bagus untuk kondisi hati Minhee yang sedang panas.

“Aku tidak apa-apa, Eunji. Sungguh.” Jawab Minhee dengan cara tersenyum yang sudah diubahnya. “Aku hanya sedang kesal dengan seseorang, dan itu bukan kau. Tenang saja.”

Eunji terkekeh kecil lalu mengeluarkan buku catatannya saat Dosen Kim sudah memasuki kelas.

“Mulai sekarang jangan sungkan padaku, oke?” sahut Eunji hangat. “Aku juga temanmu. Aku teman yang duduk di sebelahmu mulai hari ini.”

Minhee mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya pada Eunji. Eunji tersenyum lagi, sebelum akhirnya mulai sibuk dengan lembaran catatan yang terhampar di atas mejanya.

Baiklah, Eunji telah mencoba menjadi teman sebelah bangku yang baik bagi Minhee, dan nyatanya gadis itu memang jauh lebih baik dan peduli pada Minhee. Tapi apakah semudah itu Minhee melupakan persahabatan yang telah ia rajut bertahun-tahun dengan Minchan?

Jawabannya tidak.

Mata Minhee masih memandangi punggung Minchan dengan sedih karena gadis itu belum mau berbicara dengannya sampai dengan pagi ini.

 

 

“Bibi, maafkan aku datang terlambat sore ini.”

 

Minhee kontan menolehkan kepalanya ke arah pintu kaca berlonceng milik Bibi Seo, dan keningnya mengerut mendapati seorang gadis berambut kelam berdiri disana dengan seraut senyumnya yang ramah.

Siapa gadis itu?

 

Pertanyaan Minhee bertambah besar karena ia melihat Bibi Seo bangkit dari kursi rotannya dan menyambut gadis itu. Bibi Seo memeluk gadis itu dengan hangat, seolah-olah itu adalah gambaran dari sebuah rasa rindu.

“Lama tak bertemu denganmu, Jeon-ah. Kau sudah seminggu tidak datang kesini. Aku merindukanmu!” ujar Bibi Seo sambil mempersilahkan gadis itu duduk di kursi rotan yang lain.

Minhee mengerutkan keningnya semakin dalam.

Jeon?

 

“Aku minta maaf, Bibi. Aku sedang sibuk di kampus belakangan ini.” Sahut gadis itu sambil melepaskan tas selempangnya dan meletakkan beberapa berkas yang semula ada di tangannya ke atas meja. Minhee melirik berkas itu sedikit. Oh, itu partitur musik.

“Apa yang kau lakukan sampai sudah melupakan benang-benang rajut kesayanganmu ini?” Tanya Bibi Seo sambil meraih benang rajut berwarna perwinkle, memindahkannya ke atas tangan gadis itu.

Gadis itu tersenyum lebar. “Aku lolos seleksi untuk beasiswa melanjurkan studi ke Berklee, Bibi. Aku senang sekali!”

“Benarkah?” Tanya Bibi Seo dengan wajah berbinar. “Oh, selamat, Jeon-ku sayang! Kau pasti akan menjadi mahasiswi yang berprestasi disana, permainan pianomu sangat bagus.”

“Terimakasih, Bibi. Aku akan berusaha yang terbaik karena aku sudah diterima di sana. Itu impianku sejak dulu.” Sahut gadis itu.

“Jeon-ah,” panggil Bibi Seo dengan nada suara yang berubah dari sebelumnya. “Apakah kau sudah menyelesaikan semuanya?”

Raut wajah gadis itu berubah mendung saat Bibi Seo menyeretnya pada tema obrolan yang lain. Sorot mata gadis itu berubah sendu, lalu dengan gelengan ia menjawab pertanyaan Bibi Seo.

“Kau akan pindah ke Berklee sebentar lagi. Dan kau belum menyelesaikan masalah itu juga?”

“Aku tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya, Bibi.” Jawab gadis itu sedih. “Dia bahkan tak mau bicara apapun lagi denganku. Ia memutuskan tali persahabatan kami. Aku tak tahu dengan cara apa lagi aku harus membujuknya agar mau bicara lagi denganku.”

 

Minhee terhenyak mendengar kata-kata gadis itu. Seketika ia teringat Minchan, teringat jika mereka sedang bertengkar sejak kemarin. Mendengar kata soal pemutusan tali persahabatan membuat Minhee ciut, ia takut mengalaminya juga dengan Minchan walaupun itu sama sekali bukan kenyataan yang diharapkannya.

 

“Aku akan menyelesaikannya langsung dengan Krystal.” Sambung gadis itu lagi. “Jika aku diterima di Berklee berarti aku akan satu kampus dengan Krystal. Aku sengaja mengincar beasiswa itu, Bibi. Aku tahu Krystal berkuliah di sana, sebab universitas itu sama-sama menjadi impian kami sejak dulu. Aku ingin menemui Krystal lagi. Aku ingin menyelesaikan semuanya langsung saat aku berhasil bertemu dengannya.”

“Aku sangat mengerti bagaimana posisimu sekarang, Jeon-ah. Aku mengerti jika sejak awal ini semua bukan keinginanmu. Kau tidak pernah mau mengkhianati Krystal, dan bukan keinginanmu juga untuk satu universitas bersama Kai.”

“Yuri eonni yang memintaku untuk berkuliah di universitas itu,” sahut gadis itu lagi. “Bukan salah Yuri eonni karena ia bahkan tak tahu sama sekali soal aku, Krystal, maupun Kai. Ia hanya memintaku memilih universitas itu karena mengingat kualitas yang mereka tawarkan untuk para mahasiswa. Tak ada siapapun yang ingin aku salahkan, Bibi. Setelah tahun-tahun yang kami lalui, kami membiarkan semuanya masih berupa salah paham. Tak ada yang maju untuk menyelesaikan itu semua, termasuk aku.”

“Kau sudah berusaha mencari tahu tentang Krystal, kau berniat memperbaiki tali persahabatan kalian. Itu kebaikan, Jeon-ah. Kau juga tak bisa dibilang bersalah sepenuhnya dalam kasus ini,” hibur Bibi Seo dengan senyumnya yang hangat. “Lalu… Kapan kau akan berangkat ke Berklee?”

“Mungkin semester depan.” Jawab gadis itu sambil menunduk.

“Kalau begitu, kau harus berbicara dengan Sulli sebelum keberangkatanmu ke sana.” sahut Bibi Seo yakin. “Dia pasti mau mendengarkanmu kali ini.”

 

Minhee terdiam total setelah mendengar semua pembicaraan antara Bibi Seo dan gadis itu. Minhee menolak hatinya yang mengatakan bahwa ia menguping pembicaraan orang lain. Karena pada dasarnya ia memang tak punya pilihan. Bibi Seo dan gadis itu berbicara banyak saat Minhee ada di dekat mereka.

 

Tapi tunggu… Kai? Gadis itu satu kampus dengan Kai?

Bukankah berarti… Ia satu kampus dengan Minhee juga?

 

 

 

 

| T B C |

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Mihihi, ayo di sini siapa yang masih bingung sama ceritanya? 😀

Masih bingung kenapa Minhee sama Minchan berantem? Masih bingung kenapa tiba-tiba sorotan jatuh ke Soojeon?

Masih bingung kenapa ada nama Krystal sama Sulli? 😀 😀

Hahaha hayoo, mungkin disini kalian makin belibet karena semakin banyak nama tokoh yang muncul 😀

Kotak komenan akan selalu terbuka kok buat yang mau nanya ‘-‘)/

 

Oh iya, mungkin ada pertanyaan juga ya soal siapa wanita yang ngejebak Sehun sampe mabuk kemaren, terus juga mungkin ada yang protes kenapa gak ada moment Sehun-Minhee seperti yang kalian harapkan .____.

Soal di wanita jahat itu, aku emang sengaja gak mengungkap identitas dia. Kalian gak perlu khawatir sama dia, karena dia gak bawa pengaruh apapun kok ke depannya 😀

Dan soal moment nih, maaf kalo aku menghancurkan harapan kalian (/-\)

Ehm… Kalian bisa menilai sendiri kan alurnya lagi kayak gimana sekarang, jadi kalo sekarang aku sempilin sweet moment seperti di awal …. Pasti jatuhnya bentrok (/-\) Ntar jadinya gak nyambung antara alur sama adegan -.-

Pokoknya disini aku bertekad buat jadi sutradara yang baik deh. Aku akan berusaha membawakan alur terbaik buat kalian (meskipun bukan berarti aku memenuhi request kalian soal moment), nanti kalian pasti ngerti kenapa aku memilih alur dengan jalan seperti ini 🙂

Percaya deh, rencana soal fic ini sudah kurencanakan sejak lama 🙂

Aku usahakan alurnya sudah matang ~

 

Pengumuman ya guys, minggu depan aku mau hiatus :3

Sebagai author yang masih duduk di bangku sekolah, aku harus ikut ujian minggu depan. Jadi aku harus hiatus kira-kira semingguan deh (/-\)

Jadi harap pengertiannya ya, kalo ntar aku tiba-tiba menghilang(?) 😀

Good luck juga buat kalian yang mau ujian sama seperti aku ‘-‘)9

 

Oke deh, sekian dulu cuap-cuap aku di chapter ini ~

Pendapat kalian soal chapter minggu ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini 😀

Have a nice week, guys! 😉

 

[♥] : Kata makasih gak pernah kering aku ucapin ke kalian, para readers kesayangan aku :3

Sampe detik ini komentar masih terus mengalir, dan jumlahnya beneran buat aku terharu… Aku terharu dengan betapa excited-nya kalian sama fic ini… Terimakasih banyak, aku sayang kalian semua deh… Beneran (/-\)

Makasih banyak ya, komentar kalian kemarin-kemarin selalu melebihi harapan aku… Makasih buat semangatnya :3

Pertahankan terus ya jumlah komentar kalian, supaya gembok bala aku gak nemplok di chapter selanjutnya 😀 mihihi ~

 

 

shineshen

 

 

Wanna see our new cast? ^^

Here it Kwon Soojeon, the 21 y.o girl who had a little memorabilia with Kai.

 BbPiVjdIUAAZDZe

512 thoughts on “Secret Darling | 10th Chapter

  1. Jungkook ternyata baik.. kalau seandainya Minhee jatuh cinta lagi sama Jungkook itu masuk akal. tapi Sehun kan udah jadi suaminya, posesif lagi kkk~

    Minchan kayaknya gak suka yah sama Jungkook? Minchan kayak gitu karena pingin ngelindungin rumah tangga sahabatnya (y)

    dann… kwon soojeon. Kai?

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s