Posted in Baek Hyun, charismagirl, Family, Marriage Life, Oneshot, Romance

US | Mom Doesn’t Need to Know

us mom day

Mom Doesn’t Need to Know

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Rating : G, PG-15

Genre : Romance, marriage life, family.

Length : One-shoot

Note : Do not copycat without my permission. Harusnya FF ini di post 2 hari lagi. Tapi, karena akan ada sesuatu lagi di hari itu 😀 jadi FF ini terpaksa aku dahulukan. Enjoy!

“Ini akan menjadi kejutan yang tidak terlupakan!”

8th June.

Berada sendirian di dalam apartment tempat tinggalnya seharusnya sudah menjadi hal yang biasa bagi Minri. Namun, semenjak kehadiran Chanhee, setidaknya saat Chanhee pulang sekolah, Minri sudah tidak sendirian lagi.

Dia kembali sendiri. Demi apapun, ini hari minggu!

Baekhyun dan Chanhee jalan-jalan pagi sekali tanpa sepengetahuan Minri. Hal itu sedikit banyak membuat Minri jengkel –setelah akhirnya dia tahu.

Hey, mengapa Minri harus ditinggal?

Baik, kalau memang mereka ingin jalan-jalan berdua saja, mereka bisa mengatakannya pada Minri sebelumnya agar Minri tahu bahwa saat dia bangun dia akan sendirian. Dan, mereka tidak perlu jalan-jalan begitu lama. Ini sudah hampir sore di hari minggu.

Suasana sepi memang sering dimanfaatkan Minri untuk kembali menulis karyanya. Tapi entah mengapa hari ini, semua ide-idenya menguap begitu saja. Dan dia sebal pada anak serta suaminya.

Minri menatap bosan layar tivi yang menampilkan drama keluarga. Sampai kapan lagi dia harus menunggu kedatangan bandit kecil dan bandit besar itu, keluhnya.

Minri terkesiap saat ponselnya berbunyi. Dia meraih benda itu, menatap layar sesaaat –nama Baekhyun terpampang disana –lalu menekan tombol jawab.

“Halo?”

Eomma!” suara cempreng dan menggemaskan dari Chanhee langsung menyambutnya. Samar-samar terdengar suara orang lain membuat Minri berasumsi bahwa Chanhee sedang berada di tempat umum.

“Iya Honey? Kapan kalian pulang? Tega sekali meninggalkan Eomma sendiri sampai sore begini.”

Sebentar lagi Eomma. Sebelumnya Chanhee mau tanya Eomma suka warna kuning tidak?

“Kuning? Sebenarnya….”

Warna kuning itu seperti mentari, cerah dan bersinar. Eomma pasti tambah cantik kalau pakai warna itu.

“Karena Chanhee suka, maka Eomma juga.” Minri tersenyum tipis. “Memangnya kenapa–”

Yaey! Baiklah, sudah dulu ya Eomma. Chanhee sayang Eomma.” Kemudian terdengar suara kecupan. Chanhee pasti mencium layar ponsel Baekhyun. Membayangkannya membuat Minri sedikit geli. Tapi kemudian saluran terputus.

Minri menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Baru beberapa menit mereka bicara, Chanhee sudah lebih dulu memutus saluran telpon bahkan ketika Minri belum menanyakan banyak hal.

Chanhee hanya bertanya tentang warna kuning. Minri tidak begitu suka warna itu. Dia lebih memilih warna merah muda yang lembut dan pucat. Tapi dia tidak mungkin membuat Chanhee kecewa karena anak itu begitu semangat saat mengatakannya.

Apa hubungan warna kuning dan yang mereka berdua lakukan sekarang. Dan dimana mereka sebenarnya?

***

Tring!

Dentingan bel yang tergantung di pintu terdengar ketika Baekhyun dan Chanhee memasuki toko kue. Kedua orang itu sedikit banyak menarik perhatian.

Baekhyun, pria muda yang tidak perlu diragukan ketampanannya itu menggunakan kaos warna putih, celana panjang hitam dan sepatu sneakers. Chanhee juga berpakaian yang hampir sama dengan Baekhyun, bedanya kaos yang dipakai Chanhee berwarna merah. Mungkin beberapa orang tidak menyangka bahwa Baekhyun adalah ayah dari Chanhee. Mereka lebih tampak seperti saudara kalau berpakaian seperti itu.

“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya seorang wanita muda yang bekerja disana.

“Kami ingin–”Belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, Chanhee sudah lebih dulu menginterupsi.

Appa! Kita beli yang ini saja.” Chanhee berdiri di depan etalase yang jaraknya tidak jauh dari tempat Baekhyun berdiri.

“Mari kita lihat kue tart yang diinginkan anak itu.”

Baekhyun dan pekerja wanita disana menghampiri Chanhee–yang menunjuk-nunjuk kue tart penuh krim cokelat.

Eomma suka cokelat!” seru Chanhee.

Baekhyun mengusak kepala Chanhee sembari tersenyum. Merasa bangga karena Chanhee mengetahui dengan baik makanan kesukaan Minri. Baekhyun jongkok, menyejajarkan tingginya dengan Chanhee.

“Chanhee yakin?”

Chanhee mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah.” Baekhyun kembali berdiri. “Kami beli kue tart cokelat yang ini,” ucap Baekhyun sembari menunjuk kue cokelat di balik etalase.

“Baik. Akan segera kami siapkan, Tuan.”

Selama menunggu pekerja membungkus kue itu, Baekhyun dan Chanhee duduk di salah satu bangku yang ada di toko kue itu untuk mendiskusikan hal lain.

Appa, kita belum beli hadiah.” Chanhee menggerak-gerakkan kakinya yang menggantung, sementara matanya mengerjap-ngerjap menatap Baekhyun.

“Astaga! Chanhee benar.” Baekhyun memegang bahu Chanhee. “Setelah ini kita beli hadiah.”

“Ini pesanan anda.” Pekerja wanita yang tadi menyerahkan kotak kue cokelat yang dibungkus rapi dan cantik. Baekhyun menyambutnya kemudian membayarnya.

 

Ada banyak hal yang dilakukan Baekhyun dan Chanhee sejak pagi hari. Baekhyun sudah merencanakan kepergiannya dengan Chanhee sejak hari sabtu, tanpa sepengetahuan Minri.

Ketika Baekhyun bangun jam 7 pagi, Baekhyun segera membersihkan diri kemudian berganti pakaian. Dia keluar kamar dengan mengendap-ngendap agar tidak membuat Minri terbangun dengan suara jejak kaki Baekhyun.

Kemudian Baekhyun membangunkan Chanhee. Dia menunggu Chanhee mandi –karena Chanhee menginginkannya. Lagi pula mereka akan jalan-jalan seharian. Lalu Baekhyun memilihkan pakaian Chanhee (dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya).

Setelah selesai bersiap-siap, mereka berdua pergi meninggalkan MInri yang masih tidur dengan pulas di bawah selimutnya. Baekhyun dan Chanhee sempat memberikan kecupan selamat pagi (diam-diam) tapi Minri tampak tidak terusik sama sekali.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah kafe. Karena mereka berdua belum sarapan, maka mereka memutuskan untuk makan di kafe yang lokasinya tidak jauh dari gedung apartemen mereka.

Kemudian ke toko buku (membeli buku kosakata bahasa inggris untuk Chanhee), Amusement Park, Studio Game, Bioskop. Mereka berdua sungguh bersenang-senang! Sampai akhirnya menjelang petang, mereka membeli kue tart dan tempat terakhir yang perlu mereka datangi adalah toko baju. Mereka akan membeli hadiah untuk Minri.

Chanhee mendongakkan kepalanya, memperhatikan jejeran baju yang tergantung di depannya. Dia tidak mengerti selera orang dewasa. Jadi, dia hanya menyusuri tempat itu. Kali ini membiarkan ayahnya yang memilih hadiah.

Namun, matanya tertuju pada sebuah syal yang tergantung tinggi. Chanhee tersenyum membayangkan ibunya memakai syal itu saat musim gugur yang dingin. Ibunya pasti cantik sekali.

Chanhee melihat ayahnya yang juga masih memilih-milih. Anak itu memutuskan untuk duduk. Seharian bersenang-senang membuat kakinya terasa pegal. Baekhyun tampak bicara dengan pegawai genit disana yang memukul manja lengan Baekhyun. Chanhee ingin segera menarik ayahnya keluar, tapi Chanhee merasa tidak sanggup lagi untuk pergi ke tempat lain.

Appa~” panggil Chanhee saat dia melihat pegawai genit itu mulai keterlaluan.

“Anak itu… anak anda?” tanya pegawai itu.

Chanhee mendengus. Apa wanita itu menganggap Baekhyun adalah pria yang belum beristri? Dia akan bilang pada ibunya nanti, ucap Chanhee dalam hati.

Baekhyun menghampiri Chanhee, lalu duduk di samping anak itu.

“Kita bisa pulang sekarang?” tanya Chanhee, anak itu tidak bisa menyembunyikan rasa lelah dari raut wajahnya.

“Tentu. Appa sudah menemukan hadiah yang bagus untuk ibumu.” Baekhyun kembali berdiri dan berjalan menuju tempat pembayaran.

Appa, aku boleh aku memilih satu hadiah untuk ibu juga?” Chanhee memegang tangan Baekhyun. Setelah mendapat persetujuan, Chanhee menarik Baekhyun ke tempat dia melihat syal tadi. “Ah! Aku akan menelpon ibu terlebih dahulu.”

Baekhyun menganggukkan kepalanya sembari merogoh saku celana, lantas menyerahkan ponselnya pada Chanhee. Anak itu sudah bisa mengoperasikannya dengan benar sejak beberapa bulan yang lalu. Hebat.

Eomma!”

Baekhyun hanya memperhatikan Chanhee yang sedang bicara dengan Minri. Anak itu membicarakan soal warna. Dan tampaknya Minri menyetujui pilihan Chanhee tersebut.

Toko baju itu menjadi tempat kunjungan mereka yang terakhir.

“Ayo pulang dan beri kejutan pada ibumu.”

***

Ting Tong!

Bunyi bel apartemen terdengar ketika Minri baru saja kembali dari dapur setelah dia mengambil minuman.

Langit di luar sudah tampak gelap karena mentari telah bergulir ke bagian lain. Minri menghampiri pintu lalu mengintip di celah kecil. Setelah memastikan bahwa dia mengenali orang yang menekan bel apartemennya, dia segera membukakan pintu.

“Kami pulang!” seru Chanhee sembari melangkah masuk. Anak itu sama sekali tidak menatap Minri. Dia hanya fokus melepaskan sepatunya.

“Kalian lama sekali perginya. Kemana saja?” tanya Minri dengan bibir mengerucut. Chanhee berbalik menatap ayahnya, mereka seakan bicara dengan tatapan mata. Dan Minri sama sekali tidak mengerti. Pembicaraan sesama pria?

“Kami pergi ke banyak tempat, Eomma! Menyenangkan sekali! Uh, tapi sekarang Chanhee lelah. Ceritanya nanti saja ya.” Chanhee melangkahkan kaki menuju kamarnya. Apa Chanhee begitu lelahnya sampai dia tidak ingin bicara dengan Minri dulu?

Minri menghampiri Baekhyun –memperhatikan kedua tangan Baekhyun yang kosong. Lelaki itu tidak membawa apapun di tangannya.

“Kalian tidak membeli apapun?” tanya Minri dengan kening berkerut.

Baekhyun tidak memberi jawaban apapun –selain tersenyum (dan itu bukan jawaban yang diinginkan Minri). Baekhyun berjalan melewati Minri, menuju kamar mereka berdua.

Apa Baekhyun juga ingin beralasan bahwa dia lelah? Kalau begini caranya, mereka benar-benar mengabaikan Minri seharian!

“Kau sudah makan?” tanya Baekhyun.

“Sudah, tapi–”

“Jangan khawatir, kami berdua juga sudah makan.” Baekhyun masuk ke dalam kamar mereka. Meninggalkan Minri sendirian di ruang tengah. Gadis itu mendengus jengkel.

“Ada apa dengan kalian?”

***

Minri masuk ke dalam kamar mereka tepat pukul sepuluh. Dia sengaja tidak masuk kamar semenjak Baekhyun berada di dalam sana. Dia pikir Baekhyun akan menghampirinya ke ruang tengah lalu menceritakan semua hal yang terjadi hari ini. Tapi ternyata tidak.

Dia menemukan Baekhyun sedang berbaring di kasur membelakangi Minri. Lalu Minri duduk di tepi kasur. Gadis itu heran, karena sebelumnya Baekhyun tidak pernah tidur seawal ini. Semuanya terasa janggal semenjak mereka berdua meninggalkan Minri sendirian di hari minggu. Apa mungkin Baekhyun punya wanita lain, lalu dia memperkenalkannya pada Chanhee? Ish! Pemikiran macam apa itu.

Minri membaringkan tubuhnya di samping Baekhyun. Dia menatap lama punggung lelaki itu.

“Baek, apa kau sudah tidur?” tanya Minri. Gadis itu mengangkat tubuhnya untuk menatap wajah Baekhyun. Tapi lelaki itu memejamkan matanya rapat, membuat Minri dengan tidak rela –yakin bahwa Baekhyun memang sudah tidur.

Gadis itu kembali ke tempatnya. Dia berbaring sembari menatap langit-langit.

“Hari ini kalian aneh sekali. Dan kalian tega mengabaikanku. Memangnya aku salah apa Baek?”

 

Baekhyun mendengar semuanya. Dia tahu Minri ada di sampingnya. Dia tahu Minri bicara padanya. Tapi Baekhyun harus pura-pura tidur agar rencananya berjalan sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Pria itu sebenarnya tidak tega membuat Minri sedih. Apalagi suaranya yang terdengar begitu terluka di telinga Baekhyun, membuat Baekhyun merasa bersalah.

Setelah yakin bahwa Minri sudah tidur, Baekhyun membalikkan badannya. Minri sedang memeluk guling dengan mata terpejam. Dan kenyataan yang membuat Baekhyun lebih merasa bersalah adalah gadis itu menghadap padanya. Itu berarti Minri tidur hanya dengan menatap punggungnya. Tidak ada kecupan selamat malam.

“Maafkan aku,” ucap Baekhyun. Dia mengusap pipi gadis itu pelan, lalu menyelipkan rambutnnya ke belakang telinga. Baekhyun mendekatkan wajahnya, mengecup kening gadis itu. Lalu beranjak dari sana. Dia perlu menyiapkan beberapa hal sebelum membangunkan Minri tepat tengah malam nanti.

***

Baekhyun menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia melirik jam dinding. Masih ada tersisa waktu sepuluh menit lagi sebelum jam dua belas.

Baekhyun telah menyulap ruang tengahnya menjadi sebuah tempat pesta kecil-kecilan yang penuh balon dan hiasan. Dia tahu Minri bukanlah anak-anak yang menyukai hal-hal seperti itu. Tapi apalah artinya pesta tanpa balon. Lagipula dia tidak ingin menghilangkan ide Chanhee (Chanhee menyumbangkan idenya perihal balon). Namun Baekhyun tidak tega membiarkan Chanhee bergabung dengannya. Anak seumuran Chanhee harus memiliki waktu tidur yang cukup.

Jadi, mereka berdua sepakat, nanti setelah sampai waktunya maka Baekhyun akan membangunkan Chanhee.

Baekhyun sudah mengambil barang-barang yang tadi siang dibelinya. Baekhyun menyimpan semua barang itu di dalam mobil, karena dia tidak ingin membuat Minri curiga. Itulah mengapa saat dia dan Chanhee pulang ke apartemen mereka, Baekhyun tidak membawa apa-apa di tangannya.

“Chanhee-ya, bangun.” Baekhyun mengguncangkan tubuh Chanhee pelan, membuat anak itu bergerak gelisah.

Chanhee mengusap matanya pelan, lalu membuka mata. Anak itu sesaat menggeliatkan badannya sebelum duduk dengan mata yang masih mengantuk.

“Sudah siap untuk hari ini?

Chanhee bangkit dari tempat tidurnya. Baekhyun yang tidak tega dengan keadaan Chanhee yang masih mengantuk berat, lantas menggendong Chanhee. Dia membiarkan anak itu menyandarkan kepala di bahunya.

Tidak perlu waktu lama untuk Baekhyun tiba di ruang tengah. Dia menghentikan langkahnya disana.

“Chanhee, coba lihat.”

Chanhee mengangkat kepalanya dengan berat. Lalu seketika membuka lebar matanya saat melihat keadaan ruang tengah yang ramai dengan balon dan hiasan dinding kertas klip warna-warni.

“Waaah!!” seru Chanhee.

“Stt.” Baekhyun meletakkan telunjuknya dibibir Chanhee. Sementara Chanhee hanya menyengir, menyadari bahwa dirinya bisa membuat ibunya terbangun.

“Kuenya dimana Appa?” tanya Chanhee dengan suara pelan.

Baekhyun menunjuk meja dengan dagunya. Chanhee meminta Baekhyun menurunkannya. Lalu Chanhee memegang kotak hadiah. Ada dua tumpuk kotak hadiah. Kotak yang lebih besar diletakkan di bawah (yang ini hadiah dari Baekhyun), sementara yang kecil diletakkan di atas.

Appa bawa kuenya saja ya,” ucap Chanhee. Anak itu sudah kehilangan rasa kantuknya.

“Baiklah. Ini akan menjadi kejutan yang tidak terlupakan!”

***

9th June.

Baekhyun dan Chanhee masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan. Berusaha sebisa mungkin tidak menciptakan suara dari jejak kaki mereka. Baekhyun membiarkan cahaya hanya berasal dari lampu tidur, hingga kamar itu tampak remang.

Saengil chukkahamnida….

 

Minri mengerutkan keningnya saat dia samar-samar mendengar seseorang atau mungkin beberapa orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Minri merasa terusik dengan hal itu. Dia membuka matanya pelan. Lantas duduk dengan tiba-tiba.

“Astaga! Kalian berdua!”

Minri memegang kepalanya yang terasa berputar-putar.

Baekhyun tersenyum sembari menyodorkan kue tart di depan Minri. Lilin telah menyala. Minri menatap Chanhee dan Baekhyun secara bergantian.

“Selamat ulang tahun… Ayo buat permohonan.”

Minri memejamkan matanya sesaat sebelum dia meniup lilin hingga padam.

“Ini untuk Eomma!” Chanhee menyerahkan dua kotak kado pada Minri sementara Baekhyun meletakkan kue ke atas nakas.

Minri menyambutnya dengan pandangan tidak percaya. “Kapan kalian menyiapkan semua ini?”

“Kemarin,” ucap Chanhee dengan polosnya.

Minri melirik jam dinding. Pukul 12.10. Chanhee tidak pernah terjaga di jam-jam seperti ini.

“Ah, terimakasih Honey,” ucap Minri sembari memeluk Chanhee erat sembari mengusap punggung anak itu. “Baek, aku butuh penjelasan dari semua ini nanti.” Minri mendongak menatap Baekhyun yang masih berdiri diam sembari tersenyum.

Eomma, buka kadonya….” Chanhee menunggu Minri membuka bungkusan itu. Anak itu menautkan tangannya saat Minri mengambil kado yang lebih kecil. Minri membuka perlahan membuat Chanhee sedikit tidak sabar. Minri mengangkat isinya, dan dia tersenyum. Syal tebal berwarna kuning cerah.

Sepertinya dia tahu itu hadiah siapa.

“Chanhee,” ucap Minri. “Terimakasih.” Minri mencium pipi Chanhee.

“Bagaimana Eomma bisa tahu,” gumam anak itu. Mungkin Chanhee lupa bahwa sebelumnya dia sudah menanyakan hal itu pada Minri.

Chanhee mengambil alih benda itu dari tangan Minri, lalu melingkarkannya. Dia tidak henti-hentinya tersenyum. Merasa senang dengan apa yang dia lakukan pada ibunya.

Eomma Chanhee benar-benar cantik.”

“Sekarang tersisa satu hadiah lagi,” ucap Baekhyun.

Minri membuka satu lagi bungkusan yang lebih besar. Dan dia menemukan mantel cokelat yang terlipat rapi di dalam kotak. Minri mengeluarkannya dari dalam kotak, lalu mencoba di tubuhnya. Bagian dalam terasa begitu lembut, ringan dan hangat seperti pelukan.

Minri menelengkannya kepada Baekhyun. “Kau selalu tahu apa yang aku suka. Terimakasih, Baek.”

Baekhyun menarik pinggang Minri dengan tiba-tiba membuat tubuh mereka hanya tinggal berjarak beberapa senti saja.

My level is here.” Baekhyun menunjuk bibirnya. Lelaki itu antisipasi kalau saja Minri ingin mencium pipinya juga seperti Chanhee.

Minri memutar bola matanya. Ya, dia tahu persis apa yang diinginkan Lelaki itu. Minri mencium bibir Baekhyun sesaat dan memberi gigitan kecil, membuatnya tampak terkesiap, lantas Minri tertawa pelan.

Baekhyun memberikan tatapan penuh peringatannya sebelum kembali bicara. “Nah, sekarang kau harus keluar.” Baekhyun membuka laci lalu mengambil sapu tangan hitam. “Dengan mata tertutup.” Sambungnya. Kemudian Baekhyun mengikatkan satu tangan itu ke seputar kepala Minri.

“Memangnya ada apa?” Minri berdiri, tanpa sadar bahwa tubuhnya sudah menghadap pintu kamar.

“Ada satu kejutan lagi.” Bisik Baekhyun, lalu mencium pipi Minri singkat.

***

Baekhyun mendorong pelan tubuh Minri sampai gadis itu tiba di ruang tengah. Chanhee juga ikut menuntun tangan Minri. Lalu Baekhyun membuka penutup mata.

Terang dan penuh hiasan.

Hal pertama yang dilihatnya adalah hiasan dinding yang berkelap-kelip terkena cahaya lampu dan balon-balon yang menggantung di langit-langit. Minri merasa seperti sedang bermimpi karena setahunya, terakhir kali dia meninggalkan ruang tengah, tidak ada balon dan semacamnya, apalagi tulisan ‘Happy Birthday My Best Wife and Chanhee’s Mom ’.

Ahh, kalian… Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi ini benar-benar istimewa!” Minri mengusap ujung matanya yang terasa berair. Baekhyun segera menenggelamkan gadis itu ke dalam pelukannya.

Chanhee hanya menatap kedua orang tuanya beberapa saat sebelum dia ikut bergabung dalam pelukan itu.

“Chanhee sayang Eomma!!”

Minri melepaskan pelukannya, lalu jongkok. Tangannya mengusak rambut Chanhee pelan. “Ne, Eomma juga sayang Chanhee.”

“Bagaimana denganku?” tanya Baekhyun merasa diabaikan.

“Urusan kita belum selesai Baek.”

“Urusan? Oh, aku suka berurusan denganmu–” Baekhyun berhenti bicara saat Minri menatapnya tajam, matanya seolah berkata ‘memangnya urusan apa yang membuatmu senang sekali?’

“Ayo kita makan kuenya, lalu berdansa!” seru Chanhee.

Minri tidak tahu apakah ada yang lebih konyol dari mereka bertiga. Di tengah malam itu, Baekhyun menyambungkan ponselnya ke speaker dan memutar lagu anak-anak yang ada di playlist ponselnya.

Dengan konyolnya mereka bertiga berjoget sembari memakan kue tart. Dan tidak sampai disana, Baekhyun juga mencolekkan krim cokelat ke hidung Minri. Chanhee yang melihat hal itu seketika tertawa. Minri tentu saja tidak terima menjadi bahan tertawaan, bahkan oleh anaknya sendiri. Minri mengejar Chanhee lalu memberikan sentuhan krim putih di pipi anak itu. Oh, Minri juga tidak lupa pada Baekhyun –si pelaku utama yang memulai peperangan krim kue tart.

Suara tawa bercampur musik memenuhi ruangan itu. Hingga tak terasa beberapa waktu terlewat. Mereka bertiga menyerah dan terkapar di atas sofa dengan titik-titik keringat di dahi.

“Chanhee harus tidur lagi.” Minri menegakkan duduknya lalu menghampiri Chanhee. “Terimakasih untuk kejutannya malam ini, Honey.”

“Hari ini sangat menyenangkan,” ucap Chanhee dengan senyuman polosnya.

“Yap, sangat menyenangkan. Sekarang waktunya istirahat.”

Chanhee mengangguk menurut. Minri mengurus anak itu sampai dia kembali ke kamar dan tidur dengan tenang.

***

Minri menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di samping Baekhyun, membuat sofa itu sedikit bergerak.

Minri sudah membersihkan wajahnya, hingga bersih dari krim-krim kue. Di ruang tengah masih terdengar suara musik namun Baekhyun mengatur volumenya ke volume terendah.

“Sebenarnya aku bingung harus marah atau berterimakasih padamu, Baek.” Minri menoleh pada Baekhyun yang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, lelaki itu lantas menegakkan duduknya.

“Opsi kedua sepertinya lebih cocok,” jawab Baekhyun sembari tersenyum.

“Tapi kau mengabaikanku seharian kemarin. Apa-apaan itu!”

Baekhyun menggeser duduknya mendekat pada Minri. Lalu menarik pinggang gadis itu hingga mereka duduk tidak berjarak.

“Aku mempersiapkan semua ini bersama Chanhee. Mana mungkin aku mengajakmu. Nanti namanya bukan kejutan lagi.”

“Tapi… err, seharian sendirian di rumah itu benar-benar tidak enak, Baekhyun!” Minri mencubit pinggang Baekhyun membuat pria itu mengaduh sekaligus menahan tawanya.

“Baik, baik, aku minta maaf, ya.” Baekhyun memeluk Minri. Dan meletakkan dagunya di bahu gadis itu. Lalu menunduk, memberi kecupan ringan disana.

Minri menggelengkan kepalanya pelan. Baekhyun tidak perlu minta maaf. Minri hanya sedang terbawa suasana. Hingga dia berpikir untuk menumpahkan semua kekesalannya. Yang harusnya dia lakukan adalah, “Terimakasih Baekhyun. Terimakasih karena selalu berada disisiku. Terimakasih untuk… segalanya.”

Baekhyun melepaskan pelukannya, lalu menatap Minri, “Aku tahu ini tidak akan cukup untuk membalas yang kaulakukan selama ini, sebagai istriku,” Baekhyun mengecup puncak kepala Minri, “dan sebagai ibu dari anak kita.” Sambungnya.

Minri mendongak, membuat wajah mereka berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Baekhyun meletakkan salah satu tangannya di pipi Minri, kemudian melenyapkan jarak di antara mereka. Membawa gadis itu ke dalam ciuman hangat dan dalam.

Uh, Kenapa tiba-tiba playlist-nya beralih ke lagu Moonlight?

Minri melingkarkan kedua tangannya di leher Baekhyun. Sesekali merambat ke atas, meremas helaian rambutnya yang kelam. Dia tidak peduli dengan tatanan rambut karena Baekhyun –entah mengapa dengan rambut berantakannya itu, tampak seksi.

Baekhyun semakin memojokkan Minri di lengan sofa. Dia benar-benar mengunci pergerakan gadis itu. Beberapa menit terlewat. Mereka mengakhiri ciuman itu ketika dirasa mereka berdua perlu udara untuk bernapas.

“Sebaiknya kita kembali tidur. Pagi-pagi kau harus bekerja.”

Baekhyun berdiri, lalu menarik tangan Minri hingga gadis itu juga ikut berdiri. “Mungkin aku masih bisa melakukan beberapa aktivitas lain.”

“Baek?”

Baekhyun hanya tertawa lalu mengangkat tubuh Minri dengan tiba-tiba membuat Minri harus melingkarkan tangannya di leher Baekhyun agar dia tidak terjatuh.

“Kau belum mematikan lagu di ponselmu,” ucap Minri, mencoba menginterupsi.

“Bukankah itu hal bagus? Chanhee tidak akan mendengar apa yang ayah dan ibunya lakukan, bukan?”

Oh, baiklah.

Apa?!

Dia ingin melakukan apa??

***END***

related to : US | Best Mom and Dad

Happy Birthday Minri! 😀 Or can I say happy birthday to me? Wkwk

Oh, please, ending itu… ga maksud apa-apa /act innocently/

Thanks to Baekhyun and Chanhee ❤ 😀

(DO NOT CALL ME ‘THOR’. If you’ve knew me, you will not call me that.)

Sorry for typo and thanks for read!

LOVE YAAA ❤

© Charismagirl, 2014.

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

336 thoughts on “US | Mom Doesn’t Need to Know

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s