Posted in Baek Hyun, EXO-K, Fanfiction, fingersdancing14, friendship, Genre, Oneshot, Romance, SCHOOL LIFE

That’s Just A Past, Byunie!

thepast

 

Author: Mingi Kumiko

Main cast:

  • Byun Baek Hyun
  • Ahn Il Yun
  • Kim Jong In

Genre: Romance, school life, friendship

Rating: Teen

Length: Oneshot [ The 1st Sequel of ~> Byunie and Illy ]

“Apa salah kalau aku cemburu? Bukan kah banyak yang bilang, cemburu itu tanda cinta.”

.

.

Sore ini, Baekhyun sengaja datang ke rumah Ilyun dengan membawa buku catatan serta alat tulis. Katanya ada beberapa materi yang belum dapat ia pahami, jadi ia ingin minta bantuan Ilyun untuk mengajarinya sampai mahir. Tapi sebenarnya itu hanya alibinya agar bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama gadis itu.

“Sudah kubilang, sebelum kau minta diajari, siapkanlah dulu pertanyaannya agar aku tidak bingung harus menerangkan hal yang mana!” Ilyun terus saja mengomeli pria berkaus abu-abu di hadapannya itu. Ia kesal sekali. Bukan kah Baekhyun sendiri yang minta Ilyun meluangkan waktu untuk mengajarinya, tapi ketika Ilyun menanyakan bab mana yang belum dipahami kekasihnya itu, yang ia lakukan cuma diam sembari membolak-balikkan lembar demi lembar halaman bukunya.

“Aku butuh air untuk menjernihkan pikiranku, Byun. Kau tunggu sini ya! Hm…, apa kau juga butuh segelas air? 70% otak kita terdiri dari air, loh!” tawar Ilyun.

“Tidak, terima kasih.” Tolak Baekhyun dengan halus.

“Oke, aku ke dapur dulu.” Ucap Ilyun seraya beranjak dari kursi yang ia duduki.

 

Baekhyun bingung harus melakukan apa sembari menunggu Ilyun kembali dari dapur. Matanya menelusuri seluruh meja, kemudian ia mendapati sebuah buku dengan warna dan bentuk yang mencolok ketimbang buku-buku lain yang berserakan.

“Kalau kulihat sedikit, mungkin Illy tidak akan marah.” Ucapnya kemudian membuka buku tersebut. Sepertinya itu adalah buku harian. Seketika rasa bersalah pun menyelimuti hatinya. Buku harian kan benda yang bersifat sangat pribadi.Tapi apa boleh buat, sudah terlanjur. Dengan nakal ia melanjutkan menilik buku harian Ilyun yang ada di tangannya.

 

Ia tak benar-benar memperhatikan huruf demi huruf yang tertulis di buku tersebut. Malah terkesan hanya sekedar membolak-balikkan lembar per lembarnya. Hingga Baekhyun sampai di halaman tengah, matanya seketika terbelalak hebat. Ada sebuah kertas yang tertempel di halaman itu. Warnanya girly dan motifnya begitu manis. Tulisannya juga cukup rapi. Baekhyun mulai membaca surat itu,

For my sweety girl, Ahn Il Yun…

 

Namun sebelum Baekhyun membacanya lebih jauh lagi, Ilyun tiba-tiba saja datang dan sontak membuatnya terperanjat kaget. Sial, ia tertangkap basah!

“Siapa yang menyuruhmu menyentuh buku itu, huh?!” tegur Ilyun sambil berkacak pinggang. Baekhyun gelagapan, bingung dengan ujaran apa yang tepat untuk menimpali pertanyaan gadis di hadapannya itu.

“Maaf…,” ucapnya pelan seraya menunduk. Wajahnya terlipat dan tak berani menatap Ilyun.

“Ah sudahlah, bukan masalah besar juga. Apapun yang kutulis sama sekali tidak memalukan jika dibaca orang lain, kok!” Ilyun mengambil posisi duduk di sebelah Baekhyun dan bersikap seakan tak terjadi apa-apa barusan.

 

“Illy, aku mau tanya…” celetuk Baekhyun membuyarkan konsentrasi Ilyun tengah iseng membaca sebuah penjelasan panjang di sebuah buku.

“Tanyakan saja,” sahut Ilyun cepat.

“Surat yang kautempel di buku itu…, dari siapa?”

“Eh? Surat yang mana, sih?”

“Yang berwarna merah jambu dan ditulis sangat rapi itu, lho! Yang tulisannya ‘For my sweety girl, Ahn Il Yun’.”

Aish, jincha! Itu bukan apa-apa, lupakan saja!”

“Tapi aku ingin tahu. Apa dia orang yang spesial untukmu, sampai kau menempel kertas itu di buku harianmu?”

“Sudahlah, Byunie…, itu hanya sepenggal masa lalu yang tidak ada gunanya untuk dibahas.”

“Ya sudah. Kita lanjutkan belajar saja. Nampaknya aku sudah tahu mana yang belum kupahami.”

“Itu lebih baik!”

 

***

Di kala istirahat, Baekhyun menghabiskan waktunya dengan bersenda gurau sambil memakan hot dog bersama Jongin di kantin. Mereka mulai dekat setelah Jongin menyelamatkannya dari hantaman Sehun yang bertubi-tubi. Baekhyun yang merasa berutang budi padanya pun mulai berusaha membaur dengan lingkungan Jongin. Dan beruntungnya, ia juga merasa nyaman ketika bermain bersama Baekhyun. Menurut Jongin, Baekhyun memiliki banyak aegyo yang membuatnya tidak cepat bosan jika sedang menghabiskan waktunya bersama Baekhyun.

 

“Sama bagusnya sih…,” jawab Jongin ketika Baekhyun menanyakan mana yang lebih bagus antara Persona 3 dan Persona 4.

“Tapi kalau melihat Persona 4 tanpa tahu cerita Persona 3 terlebih dahulu, apa aku dapat memahami keseluruhan alurnya?”

“Persona 3 dan Persona 4 itu latar belakangnya beda, tokoh-tokohnya juga beda. Sama sekali tidak ada hubungannya. Kau tidak punya yang 3 ya? Mau kuberi?”

“Yang benar, Kai? Tentu saja aku mau! Nanti sore aku ke rumahmu.” Ucap Baekhyun begitu antusias dan ekspresinya sumringah sekali.

 

“Siapa bilang kau boleh main ke rumah Jongin nanti sore? Kaujanji akan bersepeda bersamaku, ‘kan?” tiba-tiba terdengar suara Ilyun yang menyela pembicaraan mereka berdua. Baekhyun mendongak dan didapatilah Ilyun yang tengah menyedekapkan tangan sambil menatapnya sarkatis.

“Illy, maaf…” ucap Baekhyun gelagapan.

“Byunie, apa kau tega mencampakkanku hanya demi menuruti gadis sok mengatur dan hobi membenarkan poni ini?” celoteh Jongin tiba-tiba dengan nada suara yang diimut-imutkan. Ia pun meletakkan kedua telapak tangannya di bawah dagu dan melakukan petals pose.

“Jangan ikut-ikutan memanggilnya Byunie, dasar kau jelek!”

“Terserah padaku, dong! Masa bodoh kalau aku jelek, memangnya kau, bisa cantik karena sejak SMP selalu menelan sayur-sayuran pahit, bahkan menjilat daging pun kau tak pernah!”

“BERHENTI !!!” sentak Baekhyun karena tidak tahan dengan suara kedua orang di hadapannya itu yang hampir memekakkan telinganya.

“Kalian lanjutkan saja bertengkarnya. Aku pergi dulu.” Tukas Baekhyun. Ia pun berdiri, lantas mengambil langkah untuk menjauhi Ilyun dan Jongin.

 

Ia tak habis pikir dengan ucapan Jongin barusan. Ia mendengar dengan jelas tadi, Jongin menyinggung masa SMP Ilyun. Bagaimana Jongin bisa tahu? Apa mereka dulunya se-SMP? Tapi bisa jadi Jongin hanya mendengar kabar dari orang lain. Ya, semoga opini kedua lah yang paling benar.

 

***

3 years ago…

Jantung Jongin berdentam sangat keras. Telapak tangannya basah oleh keringat. Untuk kesekian kalinya, ia mengembuskan napas, coba menetralisir rasa gugupnya dan segera mengutarakan maksud hatinya pada gadis di hadapannya itu.

“Kurasa aku menyukaimu, Ilyun-a,” ucap Jongin seraya menyodorkan sekuntum mawar putih pada Ilyun. Ilyun dengan hati-hati menerimanya kemudian berucap, “Bagaimana bisa kau suka padaku?”

“Aku tidak mengerti, tapi yang kutahu, pesonamu selalu menarik manik mataku untuk terus menatapmu.”

“Aku tahu usahamu mendekatiku selama ini dan aku menghargainya. Sepertinya aku merasakan hal yang sama denganmu.” Ilyun tersenyum begitu tulus. Cantik sekali, pikir Jongin.

“Apa kau mau…, menjadi pacarku?” tanya Jongin.

“Aku mau, Jongin.” Jawab Ilyun. Ia pun mendekap bunga pemberian Jongin seraya menunduk,  semburat merah merona di pipinya saat ini juga.

 

***

Tepat semiggu setelah Jongin mengutarakan perasaannya pada Ilyun, dan sampai saat ini hubungan mereka berjalan mulus-mulus saja. Hanya ada sisi manis yang ditunjukkan oleh keduanya. Mereka juga telah memiliki panggilan khusus masing-masing.

“Aku memanggilmu sweety, karena apapun yang ada pada dirimu terlihat manis di mataku.” Jelas Jongin. “Begitu kah? Kau juga manis, Jonginie…” balas Ilyun.

 

Hari ulang tahun Ilyun adalah tepat dua minggu setelah hari jadi mereka. Di ulang tahunnya, Jongin telah mempersiapkan sebuah hadiah spesial.

 

Terlebih dahulu ia mengajak Ilyun ke sebuah toko es krim, mengingat gadisnya itu memang sangat menyukai makanan tersebut.

“Sebelum kau makan es krimnya…, bisa kah kau mendengarkanku terlebih dahulu?” tanya Jongin ketika es krim pesanan mereka baru saja datang.

Ne?”

“Aku hanya mau menyanyikan sebuah lagu. Dengarkan ya?

chukhahae happy birthday to my love /

simnyeoni jinado // haruga jinan geotcheoreom //

byeonhaji anhgireul / maeil seolle gireul //

naneun yaksokhae //” Ia berusaha menyanyi dengan baik dengan suara yang sehalus mungkin agar gadis di hadapannya itu terkesima.

“Kenapa berhenti? Aku mau dengar kau bernyanyi lebih lama lagi!” protes Ilyun.

“Sudahlah, aku malu, my sweety… Selamat ulang tahun, saranghae.” Jongin menolaknya dengan halus seraya membelai lembut rambut panjang Ilyun yang tergerai.

“Ah ne, ini kado dariku. Semoga kau menyukainya.” Jongin mengeluarkan sebuah benda berbentuk kubus yang di atasnya terdapat pita berwarna merah muda.

“Aku pasti menyukainya!” kata Ilyun.

“Kau belum membukanya, bagaimana mungkin langsung mengatakan kalau kau menyukainya? Bukalah!” Jongin mempersilakan. Ilyun pun membuka penutup kotak tersebut dengan penuh rasa antusias. Setelah dibuka, ternyata isinya adalah sebuah topi rajutan berwarna putih, warna kesukaan Ilyun.

Johayo, Jonginie!” seru Ilyun.

“Syukurlah jika kau menyukainya.”

“Terima kasih…” Seulas senyum terukir tatkala ia mendapati Ilyun yang begitu gembira menerima kado darinya.

 

***

Sebulan berlalu, konflik di antara mereka berdua mulai muncul. Ilyun merasa tak nyaman dengan sikap Jongin yang tak kunjung berubah. Ia terlalu sering menjalahi teman-temannya, bahkan dalam bulan ini, ia sudah lima kali keluar masuk ruang konselor atas kasus yang berbeda-beda. Ilyun tahu Jongin melakukan hal tersebut atas dasar iseng. Tapi kalau sudah membahayakan keselamatan orang lain, itu bisa saja disebut tindakan kriminal.

 

Bahkan ada temannya yang mengalami patah tulang karena Jongin menjegalnya ketika anak tersebut tengah lari terbirit-birit. Saat ditanya alasan mengapa Jongin dengan tega melakukan itu, ia hanya menjawab, “Aku tidak sengaja”.

 

“Sudah berapa kali aku memberitahumu agar menjaga sikap? Kalau kau terus-terusan bersikap kasar, bisa-bisa kau di Drop Out, Jonginie!” omel Ilyun yang tak habis pikir dengan tingkah lakunya.

“Siapa suruh mereka gaduh di hadapanku? Aku paling benci diganggu.”

“Tapi, Jongin…” kali ini ia benar-benar kehabisan kata-kata.

“Kalau tidak suka, katakan saja.”

“Aku ingin kau berubah, Jonginie!”

“Itu sama artinya dengan kau tak menerimaku apa adanya.”

“Lalu apa gunanya hubungan ini jika aku tak bisa mengubahmu menjadi anak baik, huh?!”

“Jadi maksudmu, aku jahat, begitu?”

“KIM JONG IN!” bentak Ilyun. Ia sekuat tenaga menahan air matanya untuk keluar. Walaupun ia tahu dadanya akan menjadi sesak.

“Kalau kau sudah tidak nyaman denganku…, kita akhiri saja hubungan ini.”

“Apa?!” Ilyun tersentak kaget.

“Habis, mau bagaimana lagi?” Jongin mengidikkan bahunya.

“Baik kalau itu maumu. Siapa juga yang mau melanjutkan hubungan dengan lelaki kasar sepertimu? Bahkan seorang gadis yang buruk sekalipun juga tidak akan sudi!”

“Kau berani berkata demikian? Memangnya parasmu sudah sempurna? DASAR SOK CANTIK, vegetarian sampah!”

“KAU LAKI-LAKI KASAR, HITAM, CIH!”

“AKU TIDAK MAU MENGENALMU LAGI!” teriak keduanya serempak, kemudian berbalik dengan arah yang berlawanan.

 

– Flashback end –

 

Sejak hari itu, Ilyun dan Jongin tak pernah sekali pun bertegur sapa bahkan sekali. Di akhir tahun ajaran, tanpa direncanakan oleh keduanya, mereka bersekolah di SMA yang sama dan kembali sekelas saat menginjak bangku kelas 3. Jongin lah yang memulai pertengkaran untuk pertama kali. Ia sering menyela ketika Ilyun sedang bicara dengan guru. Mengatakan dia sok pintar lah, cari perhatian, dan sebagainya. Dan parahnya, Ilyun tak tinggal diam dan malah meladeni setiap ucapan yang terlontar dari mulut Jongin mengenai dirinya.

 

***

Baekhyun terus memasang ekspresi dingin sejak dari area parkir. Sikapnya itu membuat Ilyun sedikit bingung. Berkali-kali ia menanyakan penyebabnya tapi yang Baekhyun katakan cuma, “Tidak ada apa-apa”. Membuat Ilyun makin gelisah saja.

 

Mereka sampai di depan rumah Ilyun dan Baekhyun menekan rem untuk menghentikan laju motornya.

“Aku tak akan membiarkanmu pergi sebelum kau terus terang padaku!” Ilyun menahan lengan Baekhyun tatkala ia hendak memutar motornya.

“Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, ‘kan?” Baekhyun menatap Ilyun dengan tajam.

“Hal yang kusembunyikan?”

“Kau dan Jongin. Aku tahu dari cara kalian saling menatap, cara kalian bertengkar, semuanya berbeda. Kau yakin, hanya menyandang sebutan ‘Musuh Bebuyutan’-nya?”

 

Seluruh saraf Ilyun menengang, rasanya darah pun berhenti mengalir dalam tubuhnya. Sekelebat ingatan ketika ia masih menjalin hubungan dengan Jongin menari-nari di pikirannya. Baekhyun begitu kejam, kenapa ia harus membuat Ilyun mengungkit-ungkit hal yang paling ingin ia lupakan?

“Kami…, pernah pacaran.” Celetuk Ilyun.

“Oh, begitu.” Sergah Baekhyun singkat. Berhubung Ilyun sudah tak lagi mencengkram erat lengannya, ia dengan cepat segera tancap gas dan pulang ke rumahnya.

“BYUNIE!” panggil Ilyun dengan suara yang kelewat memekik. Namun yang dipanggil sama sekali tak menggubrisnya.

 

“Apa yang salah dengan jawaban barusan. Aku mengatakannya dengan jelas tanpa mengurangi atau menambah apapun. Byunie, kau membuatku gila!” Ilyun berdecak frustasi di depan pagar rumahnya.

 

***

Baekhyun benar-benar dibuat jengkel oleh kedua orang yang tadi siang tengah berseteru hebat di kantin hingga memekakkan telinganya itu. Kenapa Ilyun tak pernah cerita mengenai hubungannya dengan Jongin dulu? Oke, ini memang salahnya karena tak dari jauh-jauh hari bertanya. Tapi tak bisakah salah satu dari Ilyun dan Jongin menyempatkan waktu untuk menceritakan hal tersebut? Jadi ia tak perlu terlihat seperti orang kikuk yang hanya bisa menyaksikan mereka berdua yang kerap kali beradu mulut tak jelas macam tadi!

 

Ponsel Baekhyun bergetar singkat, pertanda ada pesan masuk.

From: Illy

Kau marah? Tapi kenapa? Aku sama sekali tak menjelaskan sesuatu yang salah. Ayolah, jangan bersikap seperti anak kecil, Byunie…

 

Apa, seperti anak kecil dia bilang? Baekhyun merutuk sebal. Yang ada, Ilyun dan Jongin lah yang lebih kekanak-kanakan darinya!

 

Baekhyun harus akui kalau dia cemburu setengah mati. Walaupun ia tahu Ilyun dan Jongin hanyalah mantan kekasih. Namun tetap saja, melupakan seseorang yang pernah singgah di hatimu itu tak semudah ketika kau mengingatnya, bukan? Kecuali jika kepalamu terbentur tiang listrik dengan sangat keras lantas mengalami amnesia.

 

Dan juga, kalau di antara mereka sudah benar-benar tak tersisa rasa suka sedikit pun, harusnya mereka berhenti saling mengusik. Bukannya saling bertengkar terus-terusan seperti itu. Cinta Lama Bersemi Kembali, atau istilah lain yang berbunyi Benci Jadi Cinta itu bisa saja terjadi, ‘kan?

 

***

Ilyun mengerang frustasi. Tubuhnya menggelinjang tak karuan di atas kasur hingga alasnya yang berwarna putih menjadi kusut. Ini keterlaluan, sudah sekitar 3 jam setelah pesan yang ia tujukan pada Baekhyun terkirim, namun sampai saat ini, ia tak kunjung mendapatkan balasan.

 

Kenapa pula Baekhyun harus marah kalau Ilyun memang pernah berpacaran dengan Jongin? Toh sekarang, di hatinya cuma ada Baekhyun.

“Jadi kau meragukan ketulusan cintaku padamu, huh? Kalau begitu, untuk apa kau bela-belakan babak belur dikroyok preman-preman sialan itu demi aku, bodoh?!” Ilyun berdecak frustasi pada foto Baekhyun yang terpampang di layar ponselnya.

What’s on your mind, Mr. Byun?”

 

***

Pagi menjemput kegelapan untuk segera sirna dan berganti siraman lembut cahaya matahari. Ilyun terbangun dari tidurnya yang sebenarnya dipaksakan untuk nyenyak. Ia langsung meraih ponsel di meja sebelah kasurnya. Ibu jarinya menyapu layar, dan… BINGO! Ia mendapati sebuah pesan di SNS-nya.

 

Itu dari Jongin. Ya, semalam ia memang mengirimkan pesan melalui SNS padanya. Terlalu gengsi bagi mereka bila harus saling bertukar nomor ponsel yang bersifat pribadi. Karena SNS adalah untuk umum, jadi agaknya mereka tidak canggung untuk saling bertukar ID.

Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti juga dia akan luluh dengan sendirinya. Santai saja.Baekhyun kan kalem.

 

Ilyun meremas ponselnya geram. Apa Jongin sedang bercanda? “Aish, berkonsultasi dengan lelaki bengal macam dia memang tak akan pernah menyelesaikan masalah!” rutuknya.

 

Setelah melakukan beberapa peregangan, Ilyun lantas membuka jendela kamarnya yang berseberangan langsung dengan kamar Baekhyun. Tanpa sengaja, Ilyun mendapati Baekhyun yang tengah menolehkan wajahnya ke samping kiri dan menumpukan tangannya di bingkai jendela. Ilyun mengucek matanya, memastikan itu bukan sekedar ilusi semata.

“Benar, itu Baekhyun!” serunya. Wajahnya seketika menjadi sumringah. Dengan penuh semangat ia memanggil Baekhyun.

“BYUNIE!” Baekhyun pun menoleh karena tersentak mendengar teriakan Ilyun. Terlihat di hadapannya kini seorang gadis tengah melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Tapi yang ia lakukan malah memalingkan wajah dan menutup jendelanya.

 

Ilyun terlongok melihat reaksi Baekhyun yang sama sekali tak mengindahkannya. Ia merutuk, kakinya ia hentak-hentakkan di lantai dengan kasar.

 

***

Ilyun menghabiskan hari minggunya yang begitu membosankan di ruang tamu. Yang ia lakukan hanya membaca ulang sebuah novel yang sudah pernah ia tamatkan sambil berbaring di atas sofa.

Noona, apa kau sibuk?” celetuk Ilhoon–adik lelakinya–membuyarkan konsentrasinya dalam mencerna tiap rangkain kalimat yang masih merumitkan baginya walaupun sudah dibaca berkali-kali.

“Tidak sih, memangnya kenapa?” tanya Ilyun seraya bangkit dari tidurnya.

“Aku sedang sibuk bermain Play Station dengan temanku. Omoni menyuruhku mengantarkan dumpling belut ini ke tetangga depan. Kau saja ya? Yang punya rumah kan pacarmu!”

Andwae, sirheoyo!” tolak Ilyun.

Noona, ayolah…, kau sendiri yang bilang sedang tidak punya kesibukan, ‘kan?”

 

Ilyun benar-benar bingung kali ini. Di satu sisi, ia kasian pada Ilhoon yang tak rela melewatkan waktunya yang sedikit untuk bermain play station. Ya, ibu mereka melarang keras Ilhoon menyentuh benda itu selain di hari libur. Tapi di sisi lain, ia masih belum punya keberanian untuk bertemu dengan Baekhyun. Penolakannya tadi pagi benar-benar mematahkan hati Ilyun.

“I, iya deh…” Ilyun mengangguk ragu. Ilhoon langsung menyodorkan tas berisi dumpling belut itu pada Ilyun dan segera kembali ke kamarnya. Sejenak ia mengendus dan mengembuskan napasnya dengan kasar.

 

Sesampainya di depan rumah Baekhyun, kakinya pun mendadak gemetaran serta tangannya mulai mengeluarkan keringat. “Bisa apa aku sekarang?” Ilyun mengembuskan napas sejenak. Mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menekan bel rumah Baekhyun.

 

Tak butuh waktu lama, pintu akhirnya terbuka. Ilyun sontak mundur, terlalu kaget karena yang membukakan pintu adalah Baekhyun.

Ano…, ini ada oleh-oleh dari ayahku, dumpling belut. Itu salah satu makanan kesukaanmu, ‘kan?” ujar Ilyun terbata-bata seraya menyodorkan bawaannya pada Baekhyun dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam.

“Oh, terima kasih.”  Baekhyun menerimanya tanpa ragu. Lantas ia langsung berlalu dengan berbalik terlebih dahulu. Dengan cepat Ilyun mencekal lengannya dan membuat Baekhyun urung melangkah.

“Jangan berlaga seperti kau tak pernah mengenalku!” kata Ilyun dengan penuh penekanan. Baekhyun menatap wajah itu dengan mimik datar. Raut wajah gadis itu memohon dan amat sedih.

“Bisa kah kau mendengarku sejenak?” tanya Ilyun. Baekhyun menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Ilyun untuk duduk di kursi terasnya.

 

“Kau tidak cocok bersikap dingin seperti ini, Byun! Ini tidak seperti Baekhyun yang kukenal.” Ucap Ilyun.

“Oh ya?” balasnya singkat namun cukup membuat Ilyun jengkel.

“Kau kenak-kanakan! Aku sudah mengatakannya, aku memang pernah berpacaran dengan Jongin. Apa yang salah dengan kalimatku?”

“Kenapa kau tak pernah cerita?”

“Karena aku benar-benar tak ingin mengingatnya lagi! Kami mengakhiri hubungan tidak dengan cara baik-baik dan aku menyesali itu sampai sekarang.”

“Aku butuh tambahan kalimat setelah kau bilang kalian pernah berpacaran dulunya.”

“Maksudmu?” Ilyun kebingungan. Seulas senyum mulai bisa Baekhyun perlihatkan, namun kali ini ia menyeringai. “Kau pikir saja sendiri. Tapi aku tak punya banyak waktu untuk menunggumu berpikir. Kalau terlalu lama, aku akan kutinggal menyantap dumpling ini.”

“Jangan membuatku makin gelisah, Byun!”

“Tidak…, aku sama sekali tak bermaksud seperti itu. Apapun yang ada di pikiranmu, katakan saja. Aku yakin, kau pasti tahu maksudnya.”

“Oh, baiklah…”

 

Ilyun segera beranjak dari posisi duduknya, demikian pula dengan Baekhyun. Perlahan ia sentuh lengan lelaki itu seraya menatap matanya lekat-lekat.

“Kami…, pernah pacaran dulu,” setelah itu ia menghela napas untuk melanjutkan kalimat berikutnya. “Tapi itu dulu. Aku tidak peduli dengan masa laluku. Yang kupikirkan sekarang adalah saat ini. Yang kutahu, aku adalah milikmu, hanya kau yang ada di hatiku, Byunie…” Ilyun menuntaskannya dengan firasat yang begitu yakin kalau kalimat itu lah yang ingin Baekhyun dengar darinya.

 

Seulas senyum yang manis terukir di bibir Baekhyun setelah ia mendengar penuturan Ilyun. Ia mengelus lembut rambut Ilyun seraya menatapnya dalam-dalam.

“Seharusnya kau mengatakan itu kemarin,” tandasnya.

“Kau menjebakku, Byunie!” Ilyun mengomel protes.

“Hanya sesekali. Kau mau masuk ke rumahku? Kita makan dumpling ini bersama-sama.”

“Tidak usah, aku sudah banyak makan itu di rumah. Aku pulang dulu ya?” tolak Ilyun halus, ia melambaikan tangannya ke arah Baekhyun dan lekas berbalik. Namun Baekhyun dengan cepat menarik pinggang Ilyun dan mengecup bibirnya. Ciumannya memang singkat, namun Baekhyun telah berhasil mengambil kesempatan melumat bibir bawah Ilyun.

“BYUNIE!” Ilyun tersentak kaget.

“Kau pikir menyenangkan menjalani satu hari tanpamu? Tidak, bodoh!”

“Tapi walaupun begitu, kan…”

“Oh, kau mau aku melakukannya dengan cara yang lebih manis? Na saranghaji?”

Hajima, Baekhyun-ssi! Lepaskan aku, nanti kalau ketahuan ibumu bagaimana?”

“Lelaki sejati harus berani memperlihatkan kemesraannya di hadapan orang tuanya sendiri.”

“Bicara apa kau ini? Lepaskan!” Ilyun menjitak kepala Baekhyun yang tak kunjung melepaskan rengkuhan di pinggangnya.

“Mulai sekarang, bersikaplah lebih terbuka padaku. Aku adalah pria yang kau percayai, ’kan?”

Ne, maafkan aku karena tak terus terang dari awal, Byunie…”

 

– END –

Gimana sequel ini? Udah menjawab rasa penasaran kalian tentang hubungan Jongin dan Nagisa belum? Moga kalian suka ya !! Sankyu~ ^^

Iklan

Penulis:

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

52 thoughts on “That’s Just A Past, Byunie!

  1. waha Baek cmburu nc 😉
    tp q ska thor…sikap Baek yg sprti ini jstru lbh tmpk nyta bt q…
    q ska krkter Bak yg sprti ini..
    slmat ya thor krns mnurut q kmmpuan mnulis author sdh smkin mkin mmbaik…
    alurnya jg g kcpetn, jd feelnya dpt dc 🙂
    tetap smngat ya thor, q tnggu krya lainnya yaaa…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s