The Sun Flower – (The last prologue//Stay Alive With Her) Part-01

Untitled-1

Title                 :The Sun Flower – (Stay Alive With Her)

Cast                 : Oh Sehun//Choi Song Yi (OC)//Byun Baekhyun

Genre               : School Life, Romantic, Family (and the other genre coming soon)

Rating              : General

Author            : Redbaby

Note                 : Don’t read if you not like of my story. Don’t be silent readers!!!

Apapun tanggapan kalian tentang FF ini aku sebagai author akan terima dengan sangat baik. Jadi apakah itu kalian tidak suka atau suka, aku sangat-sangat menghargai kalian dan aku sangat menerima setiap kritikan yang sangat membangun dari kalian. Oleh karena itu aku komentar kalian sangat penting dalam FF ini.

FF WILL BE UPDATE EVERY SUNDAY

SO I NEED YOUR COMMENT!

Prlogue

and visit my Blog

###

I got the eye of the tiger, the fire, dancing through the fire

Cause I am a champion and you’re gonna hear me roarLouder, louder than a lion

Cause I am a champion and you’re gonna hear me roar

~Katy Perry~

Senin. Hari yang sangat menyebalkan di mana setiap orang akan kembali ke rutinitas yang membosankan. Untuk para pekerja kantoran pastinya akan bertemu kembali dengan tumpukan pekerjaan yang dengan setia menunggu setiap saat. Dan untuk para pelajar tentunya akan kembali di sibukkan oleh sederet mata pelajaran yang akan siap menguras tenaga dan pikiran mereka.

Jika di dunia kartun doraemon siap beraksi menggunakan kantung ajaibnya, maka semua orang akan sangat berharap adanya robot musang abad 22 itu di dunia nyata. Membuat semua angka dan hari di kalender berubah menjadi merah dan semua hari menjadi minggu, dan tak ada hari senin.

Wajah-wajah tak bersemangat, layu, serta kurang tidur tergambar jelas di wajah para siswa SMA Chungdam. Rasa tak rela meninggalkan hari minggu yang begitu indah bagi mereka.

Pagi itu kelas XII-3 tampak riuh saat guru Kang belum tampak untuk mengajar. Kesempatan itu di gunakan sebagian murid untuk sekedar menghabiskan rasa kantuk dengan tidur, ada pula yang bergosip bahkan menceritakan ulang apa yang mereka alami kemarin. Tak terkecuali Choi Song Yi. Iapun sama dengan murid lainnya menggunakan kesempatan pagi itu untuk menyalin tugas matematika yang tak sempat ia kerjakan di hari libur kemarin. Beruntung ia duduk bersama Park Jihyun murid pandai di kelas itu.

***

Langkah kaki lebar itu terus menyusuri koridor, sesekali ia menyamakan langkah kaki yang berada di depannya. Suara sepatu keduanya saling beradu, menimbulkan suara yang menggema di sepanjang koridor. Seorang laki-laki yang mengenakan kaus putih di selimuti jaket hitam, tampak berbeda memang dengan seragam sekolah biasanya. Rambut coklatnya yang sedikit berantakan tetapi terlihat rapi. Jika kau melihatnya, yang terlintas di benak kalian hanya satu kata. KEREN.

Suara gesekan pintu terdengar jelas, membuat para murid yang tadinya asyik melakukan aktifitasnya masing-masing kini kembali ke tempat masing-masing. Yang tadinya tertidur langsung terbangun seraya mengusap wajah mereka, yang bergosip dengan sigap mengehentikan kegiatannya kala guru Kang memasuki ruang kelas.

“Annyeonghaseyo songsaenim”

Setelah semua murid mengucapkan salam , wanita paruh baya itu membuka percakapan pertama pagi itu.

“Hari ini kelas kalian kedatangan siswa baru”

Mendengar kata siswa baru semua murid memasang wajah penasaran, siapakah gerangan yang akan menjadi bagian dari kelas itu. Semua murid mulai menebak-nebak dengan teman sebangku mereka.

“Aku harap dia seorang perempuan”

“Semoga saja dia seorang laki-laki tampan”

Sementara siswa lain sibuk dengan tebakan dan rasa penasaran mereka, Choi Song Yi tampak tak tertarik dengan apa yang saat ini terjadi di kelasnya. Ia tetap melanjutkan menyalin tugas milik Jihyun.

Beberapa detik kemudian orang yang merupakan siswa baru tersebut melangkahkan kaki memasuki kelas. Sebagian siswa laki-laki di kelas itu terlihat kecewa karena harapan bahwa murid baru itu adalah seorang perempuan melainkan seorang lelaki tampan yang sukses membuat para gadis di kelas itu bersorak bahagia. Senyum lebar yang menambah kesan ketampanan lelaki itu.

“Annyeonghaseyo. Namaku Byun Baekhyun, aku pindahan dari jepang. Salam kenal semuanya, aku harap kita bias berteman dengan baik. Mohon bantuannya” ucap Baekhyun memperkenalkan diri seraya membungkuk hormat.

Sementara siswa lainnya sibuk berbisik membicarakan lelaki itu. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kelas. Ada siswa yang terlambat rupanya. “Maaf aku terlambat” ucapnya.

Guru Kang yang merupakan wali kelas XII-3 hanya bisa menghela nafas melihat salah satu anak didiknya itu. Ini bukan pertama kali ia mendapati muridnya itu terlambat, sehingga ia hanya menggelengkan kepalanya—pasrah.

“Baekhyun-ssi, kau silahkan duduk! Dan bangkumu ada di belakang, dekat dengan Sehun”

Song Yi yang mendengar nama Sehun langsung menghentikan kegiatan menyalinnya dan kemudian menolehkan kepalanya ke belakang. Seperti biasa wajah kurang tidur terpampang jelas di wajah putih lelaki itu.

“Apa dia begadang lagi?” gumam gadis itu.

***

Bel istirahat telah berbunyi lima menit yang lalu. Semua murid berbondong-bondong berlari menghampiri kantin sekolah. Kini kelas itu sepi hanya ada tiga orang saja. Seperti biasa Sehun yang selalu menghabiskan waktu isitirahat untuk tidur siang dan Baekhyun yang merupakan murid baru yang masih mengenakan pakaian bebas dan belum mendapatkan seragam sedang duduk sambil membaca komik. Bukan karena Ia tak lapar, tetapi ia memang tak suka keramaian apalagi ia merupakan murid baru yang sudah jelas baginya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri bahkan menjalin pertemanan di sekolah barunya ini.

Satu hal yang menarik perhatian—Choi Song Yi—tak seperti biasanya ia berdiam diri di kelas saat jam istirahat. Yang biasanya ia menghabiskan waktu di ruang club taekwondo bersama teman satu clubnya, kini ia terlihat sedang berpikir. Ia bingung, kedua tangannya meremas kotak bekal miliknya. Gadis itu berniat memberikan bekal miliknya untuk Sehun. Ia tahu laki-laki itu pasti belum makan sedari pagi.

Gadis itupun bangkit. Kalau ia terlalu banyak berpikir, jam isitirahatpun akan segera habis. Perlahan ia berjalan menuju bangku, tempat Sehun tertidur pulas. Berusaha ia mengecilkan suara kakinya agar tak mengganggu waktu tidurnya.

“Sehun-ssi. Aku tahu kau pasti belum makan, aku memberikan bekal ini untukmu”

Ucap Song Yi dengan suara yang di kecilkan, tetapi terdengar seperti orang yang sedang berbisik. Di saat yang sama, Baekhyun menghentikan kegiatan membacanya dan kemudian melirik kea rah gadis itu. Bukannya ia terganggu tetapi karena ia duduk dekat dengan bangku Sehun, otomatis ia dapat melihat apa yang di lakukan oleh gadis itu. Setelah melirik Song Yi sekilas iapun kemudian melanjutkan membacanya.

Song Yi tahu bahwa niat baiknya itu tak akan berbuah manis. Lelaki itu tak akan menyadarinya, karena Sehun tidur dengan lelap. Gadis itu merutuki dirinya. Dasar bodoh, orang yang sedang tertidur lelap tak akan tahu apa yang sedang ia ucapkan. Bahkan bekalnya itupun tak akan tersentuh oleh lelaki itu.

Pasrah—Song Yi membalikkan badan menjauh dari tempat lelaki itu.

“Aku tidak lapar, dan aku tak butuh bekal darimu”

DEG

Seketika kakinya terhenti, jantunganya memacu dengan cepat serta darahnya mengalir begitu cepat di sekujur tubuhnya saat tiba-tiba Sehun terbangun. Jadi lelaki itu terjaga dari tidurnya, dan mendengar apa yang di katakannya? Oh, Tuhan lempar aku kelaut sekarang juga! Batinnya.

Perlahan ia memutar balik badannya menghadap Sehun. Dan ia mendapati lelaki itu sudah berdiri dengan wajah yang masih mengantuk. Kepalanya tertunduk setelah mendapat tatapan tajam dari Sehun.

“M..Mian telah mengganggu tidurmu”

Sehun yang merasa kesal karena tidurnya terganggu tak berniat menanggapi permintaan maaf dari gadis itu. Iapun bergegas mengambil tasnya dan berjalan melewati Song Yi keluar kelas.

Gadis itupun meremas ujung roknya. Ia tahu Sehun akan bersikap seperti itu padanya. Tak perlu merasa kesal atau marah karena ia sudah berkali-kali di perlakukan seperti itu oleh Sehun.

Baekhyun yang sedari tadi membaca sedikit terusik. Ia menatap keduanya dengan tatapan remeh.

“Bodoh” gumamnya.

***

Lelaki itu—Byun Baekhyun—berjalan santai seraya kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana menyusui lorong koridor Chungdam. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh bangunan sekolah, sedikit meremehkan dengan apa yang dia liat. Sekolah ini tak sebesar dengan sekolahnya yang terdahulu. Ia terus menyusuri koridor hingga singgah ke sebuah taman yang terlihat sepi—taman itu terletak di belakang sekolah, lumayan luas. Ia sedikit melebarkan matanya mendapati taman tersebut. Sepi, tak ada satupun siswa yang berkunjung ke tempat itu. Padahal suasanya begitu sunyi dan udaranya yang sejuk dengan pohon rindang yang mengelilingi taman. Ada kolam kecil di bawah pohon bonsai yang cukup rindang.

Kebetulan sekali ia ke tempat ini, setelah sempat merasa bosan berada di dalam kelas dan sekaligus melayani pertanyaan yang bertubi-tubi di layangkannya oleh para gadis untukknya. Baekhyun pun memutuskan untuk keluar dan sekedar melihat-lihat keadaan sekolah barunya itu.

Lelaki itu menghampiri pohon bonsai besar yang berada dua meter darinya. Mungkin bersantai sambil mendengarkan music favoritnya di bawah pohon itu bisa mengusir rasa bosannya.

Namun baru beberapa langkah hingga hanya menyisakan beberapa sentimeter dari pohon itu Baekhyun menyipitkan matanya saat melihat kaki milik seseorang terjulur di balik pohon. Apakah ada seseorang di sini?

Penasaran, ia pun lebih mendekat. Dan benar saja, ia mendapati seorang laki-laki yang mengenakan seragam Chungdam sedang tertidur pulas di sana. Baekhyun menghela napas seraya mendesah, di lipatnya kedua tangannya di depan dada seraya memperhatikan lelaki itu.

“Tsk. Beginikah kelakuan murid di korea?” gumamnya pelan. Walaupun ia berasal dari korea tetapi Baekhyun sudah berada di jepang semasih ia balita. Ibunya yang berasal dari korea selalu mengajarkannya bahasa korea hingga ia berkomunikasi dengannya ibunya menggunakan bahasa kelahiran orang tuanya itu.

Sadar akan kehadiran seseorang di dekatnya, lelaki itu kemudian terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang memantul dari celan-celan dedaunan di atasnya. Samar-samar ia melihat sosok laki-laki yang berdiri di sampingnya.

“Nugu-ya?” Tanya lelaki itu sambil membenarkan posisinya.

“Ya! Kenapa kau ada di tempat ini? Kau bahkan tak mengenakan seragam sekolah. Apa kau orang asing yang diam-diam menyelinap ke sekolah ini?”

Oh Sehun—lelaki itu berdiri sambil mengibaskan pakaiannya dari rerumputan yang menempel pada jas sekolahnya. Apa orang asing ini lakukan di sini? Sepengetahuannya hanya dirinyalah yang mengetahui tempat ini selain kepala sekolah yang memang sengaja menyembunyikan taman ini dari para penghuni sekolah agar seluruh tanaman dan bunga-bunga yang di peliharanya tak tersentuh dan bahkan berakibat rusak. Jangan Tanya kenapa Sehun bisa tahu hingga tiap hari ia bisa sesuka hati ketempat ini.

“Jika kau tak mengijinkan aku ke tempat ini, aku tak akan menjamin keamanan taman kesayanganmu ini kepala sekolah”

“B..baiklah bocah tengik”

Baekhyun tersenyum miring sambil melemparkan pandangannya ke sembarang arah. Seburuk apakah dia samapi ia tak menyadari kedatangan murid baru di kelasnya? Ia tak yakin akan bisa berteman baik dengan orang itu.

“Aku boleh meminjam taman ini?” Tanya Baekhyun enteng seraya mendekat kea rah Sehun dan kemudian tanpa seijin lelaki itu itu, Baekhyun mengambil tempat yang tadi di tempati oleh Sehun. Baekhyun merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau itu. Matanya terpejam sambil menarik nafasnya menikmati udara segar taman itu.

Sehun mengangkat alisnya ia cukup terkejut dengan sikap Baekhyun yang seenaknya merampas tempat favoritnya. Bukan hanya itu saja, laki-laki yang kini sedang terpejam bahkan tak menjawab satupun pertanyaan darinya.

***

Wajah datar itu selalu melekat di diri laki-laki bermarga Oh itu. Kesan dingin terlihat jelas pada tatapan tajam lelaki itu. Sejak memutuskan untuk membiarkan orang asing yang telah dengan lancing mengambil tempat peristirahatannya, tak hentinya Sehun menggerutu dan menyumpahi laki-laki bermata sipit itu dalam hatinya.

Bukannya masuk kelas melainkan lelaki itu melangkah menuju kantin. Ia baru menyadari bahwa perutnya bahkan belum terisi sejak pagi tadi. Seharusnya ia menerima pemberian bekal dari Song Yi waktu itu, dan ia tak akan kelaparan seperti ini.

Langkah kakinya terhenti saat matanya menangkap sepasang kaki berhenti di hadapannya. Sehun yang tadinya menunduk kini menegagkan kepalanya. Sejurus kemudian ia berdecak kesal lalu kemudian memalingkan wajahnya.

Choi Song Yi yang di tugaskan untuk mengambil buku di ruang guru oleh guru Kim terpaksa menghentikan langkahnya saat matanya mendapati sosok laki-laki yang selalu memperlakukannya acuh tak jauh darinya. Oh Sehun.

Tak ingin berdiam terlalu lama, Sehun melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Song Yi di hadapannya. Ia melewati gadis itu dengan acuh.

“Aku bahkan tak tahu apa yang membuatmu begitu membenciku. Oh Sehun”

Mendengar beberpa kalimat dari gadis itu, sehun berhenti sejenak lalu melirik walaupun tak sepenuhnya ia menghadap Song Yi. Sehun mendesah dan kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menanggapi perkataan Song Yi.

“Apa sesekali aku harus mengalah darimu? Tsk.”

“Tentu saja tidak Oh Sehun”

***

“Bagaimana kesanmu terhadap sekolah barumu? Apa kau menyukainya atau bahkan kau sudah memiliki seorang teman?”

Baekhyun tak sekalipun memalingkan wajahnya dari layar ponselnya. Tangannya sibuk membalas chat dari salah seorang teman sekolahnya di jepang.

“Apakah kau sudah memiliki teman seorang gadis korea?”

“Kau pikir aku sepertimu?”

“Ayolah sobat! Kau beruntung berada di Negara yang di anugrahi gadis cantik bahkan seksi seperti Hyorin”

“Aku merasa tak seberuntung yang kau pikirkan, bahkan aku tak menyukai gadis korea”

Baekhyun lantas mengakhiri percakapannya bersama temannya yang menggunakan bahasa jepang itu dengan mematikan ponselnya. Jika tidak ia bisa gila meladeni temannya itu.

Sementara itu Byun Sang Woo—kakak tertua dari keluarga Byun—melirik adiknya—Byun Baekyun—yang sedari tadi menggerutu tidak jelas dari kaca spion mobilnya.

“Wae, apakah aku harus menjawabnya?”

Sang Woo menghela nafas dengan sikap adikknya itu. Bukannya kesal ia malah tersenyum melihat wajah kesal Baekhyun.

Byun Sangwoo. Ia mengalihkan pandangannya dari Baekhyun saat ponselnya berbunyi . Di ambilnya ponsel touchscreen-nya di atas dashboard mobilnya. Nomor taka sing tertera di layar.

“Ne”

Lelaki berumur 20 tahun itu mengakhiri percakapannya lalu kemudian mematikan ponselnya. Ia pun segera melajukan mobil sport putih itu dengan kencang melewati padatnya kendaaran kota Seoul. Sementara Baekhyun tampak tak memperdulikan siapa yang menghubungi kakanya itu. Di miringkannya kepalanya menatap jendela mobil memandangi suasana malam korea. Suasana yang berbeda dengan jepang, pikirnya.

***

Suara matras begitu terdengar sehingga menggema di seluruh ruangan olahraga. Dua orang laki-laki sedang bertarung—lebih jelasnya berlatih—taekwondo. Tubuh kurus itu terbanting begitu saja oleh ke atas matras tebal. Tak ingin menyerah laki-laki itu berusaha bangkit dari tindahan badan seorang pria yang merupakan pelatih taekwondo di Chungdam.

Laki-laki itu terus berusaha melepaskan diri dari tangan yang mengunci lengannya. Keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya. Kulit putih itu tampak memerah. Melihat lelaki itu akan menyerah pelatih itu akhirnya perlahan melepaskan dekapannya dari lengan laki-laki itu.

Sial. Itu malah menjadi boomerang baginya karena lelaki itu berhasil mencuri kesempatan untuk bangkit serta akan berbalik menyerang. Tetapi seorang pelatih tahu bagaimana mengatasi serangan yang tiba-tiba. Lelaki itu terjatuh setelah kakinya di halau. Badan kurus itu kembali tersungkur.

Nafas yang menderu hingga keringat yang terus membasahi seluruh pakaian taekwondonya tak membuatnya menyerah.

“Jika tekhnikmu terus seperti ini, maka kau akan terus kalah, Sehun-ah”

Akhirnya Sehun bisa bernapas lega setelah pelatih Lee melepaskannya. Ia membalikkan badannya menghadap langit-langit ruangan. Sehun berusaha mengatur nafas yang hampir membuatnya pingsan.

“Serangan yang kau lancarkan tadi, bisa saja menjadi senjata lawan. Tak seharusnya kau bertindak gegabah di saat pihak lawan memberikanmu sedikit kesempatan saat kau berusaha mengelabuinya”

Pelatih Lee menyodorkan sebotol air mineral untuk Sehun. Lelaki itu bangkit dan kemudian meneguk seluruh air di botol itu sampai habis. Di sekanya keringat di dahinya yang menghalangi penglihatan matanya. Ia menatap pelatih Lee yang duduk di sampingnya.

“Dia bahkan sangat sulit untuk di kalahkan”

“Sehun-ah, kau benar-benar seperti ayahmu. Sifat tak ingin menyerah yang ada pada ayahmu begitu kuat di dalam dirimu”

Suara berat itu mengingatkan dirinya akan sosok ayah yang telah meninggalkannya lima tahun silam. Lee kwang He yang merupakan sahabat lama ayahnya tahu betul watak serta kepribadian Oh Dae Woon—ayah dari Oh Sehun.

“Aku ingin mengalahkannya sama seperti ia mengalahkan ayahku”

Kawang He mengusap puncak kepala Sehun lembut. Ada rasa kebencian, kesedihan dan juga dendam yang tersirat dari setiap ucapan lelaki itu. Pria parah baya itu dapat merasakannya. Ia mengerti apa yang di rasakan Sehun saat ini.

“Choi Song Yi dan Choi Min Suk. Memiliki tekhnik yang sama, yang semua orang bahkan aku dan ayahmu tak pernah bisa mengantisipasi serangan dari Min Suk. Bahkan sekarang putrinya memiliki semua itu”

***

Di hari kedua ia di sekolah ini tak lantas membuat dirinya tergugah untuk mencari teman. Baginya semua orang yang ia lihat di sekolah itu sangatlah membosankan. Kali ini ia masih mengenakan pakaian bebas karena ia tak berniat mengambil seragam sekolahnya yang seharusnya ia ambil kemarin saat sebelum pulang di ruang guru. Seragam yang begitu menarik baginya.

Tak berbeda dari hari pertama ia memasuki Chungdam. Sepanjang perjalanan menuju kelas tak hentinya para gadis memperhatikannya karena kagum akan ketampannya. Tetapi tak sedikit dari para siswa laki-laki yang iri padanya karena perhatian gadis-gadis di sekolah ini terus tertuju padanya.

Baekhyun yang sedari tadi tak ingin menghiraukan tatapan yang di berikan oleh para murid perempuan sekolah itu lebih memilih focus terhdap layar ponselnya. Seolah-olah hanya ponselnya-lah yang menarik baginya dari pada rasa kagum yang di berikan para gadis untuknya.

BRUUKK

Hampir saja ia terjungkal ke belakang saat seseorang menabraknya—bukan—melainkan memang dirinya yang tak memperhatikan jalan sehingga ia tahu jika seseorang berjalan di hadapannya.

“YA! Apa kau buta, huh?”

Song Yi yang menjadi korban yang di tabrak oleh Baekhyun meremas lengan kanannya. Rasa nyilu yang di rasakannya begitu terasa saat tubuh Baekhyun menabraknya sedikit keras hingga membuatnya terjungkal kebelakang.

Insiden itu berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka. Melihat Song Yi membentak Baekhyun membuat para siswa perempuan menatapnya tajam. Seolah berkata “apa kau ignin mati”

Menyadari tatapan membunuh dari gadis-gadis itu, Song Yi menaikkan alisnya bingung. Ada apa dengan mereka? Sejurus kemudian ia meringis kesakitan dan langsung membalikkan badan meminta pertanggung jawaban dari Baekhyun yang telah menabraknya.

Bingo! Laki-laki itu sudah tak ada di hadapannya, ia sudah berjalan jauh meninggalkannya tanpa permintaan maaf sedikipun. Oh, apa yang akan memiliki musuh baru lagi? Song Yi berdecak kesal. Jika saja ia mendapatkan tatapan tajam dari gadis-gadis itu, ia akan langsung mengejar Baekhyun bahkan akan lansung mencincangnya sampai tak tersisa.

Belum hilang rasa sakit di lengannya kini ia harus terpaksa merasakannya lagi. Tubuhnya terdorong ke depan saat seseorang tak sengaja menyenggolnya.

“YAAAA!”

Geram, gadis itu berteriak kesal. Oh Tuhan mimpi apa ia semalam sampai ia mendapatkan kesialan bertubi-tubi pagi ini? Kemarahannya semakin memuncak saat ia tahu bahwa yang menyenggolnya barusan adalah Sehun, laki-laki dingin menyebalkan.

Sama. Sehun bahkan tak meminta maaf dan malah terus melenggang meninggalkan dirinya yang kesakitan. Song Yi geram sambil menghentakan kakinya berulang kali ke lantai.

“YA! apakah seluruh laki-laki di dunia ini begitu menyebalkan, huh?”

***

Song Yi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan berukuran besar dan luas itu. Ini pertama kali ia memasuki ruangan guru sekolah itu. Oleh karena itu ia tak hafal bahkan tak tahu di mana meja guru Kang. Beruntung matanya berhasil menangkap sosok guru wanita yang duduk paling pojong dengkat jendela. Song Yi menghampiri guru Kang dengan cepat, ia membungkuk hormat setelah berhadapan dengan wanit paruh baya itu.

“Song Yi-a, maaf merepotkanmu. Tolong kau berikan seragam ini pada teman sekelasmu Byun Baekhyun. seharusnya dia mengambilnya kemarin sebelum pulang sekolah”

Gadis itu mengambuil tas berisi seragam yang di tugaskan guru Kang untuk di berikan pada Baekhyun. Ia sedikit berpikir, sepengetahuannya ia tak memiliki teman bernama Byun Baekhyun.

Oh Tuhan. Segitu tak pedulinyakah dia sampai-sampai ia tak mengetahui jika ada murid baru di kelasnya.

“Mianhamnida songsaenim. Boleh aku tahu yang bernama Baekhyun itu duduk di sebelah mana?”

“Dia duduk di sebelah Sehun”

Setelah mengerti Song Yi membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruang guru. Baiklah ini pertama ia di mintai tolong oleh guru Kang selama ia menjadi wali kelasnya. Mungkin karena ia adalah wakil ketua kelas jadi pekerjaannya tak begitu banyak yang semuanya sudah di ambil alih oleh sang ketua kelas. Tetapi untuk saat ini Park Jin Young tidak masuk sekolah, maka ialah yang menggantikannya.

SRRRAAKKK

Bungkusan yang berisi seragam sekolah terlempar di hadapannya dengan kasar. Baekhyun yang sedang asyik membaca komik sambil mendengarkan music melalui earphonenya sedikit tersentak.

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah bungkusan plastic di hadapannya itu. Dengan tenang ia mengambil bungkusan itu seraya berdiri setelah melepaskan earphone di telinganya.

Kebetulan kelas tidak begitu ramai hanya ada enam orang ada disana. Di saat yang sama Sehun hanya melirik malas kearah mereka berdua.

“Jika aku tahu yang di maksud guru Kang itu adalah kau, aku tak mau menerima perintahnya untuk memberikan seragam ini padamu, Tsk”

Sebelum ia menyerahkan seragam itu, ia tampak terkejut jika orang yang duduk di dekat Sehun dan sekaligus murid baru yang di maksud itu adalah orang yang telah tega meninggalkannya saat laki-laki itu menabrakknya tanpa permintaan maaf.

Dan benar saja. Kali ini Baekhyun tak sama sekali mengucapkan terima kasihnya untuk Song Yi. Alhasil kesan buruk yang di dapatkan dari lelaki itu semakin kuat besar. Gadis itupun berakhir dengan rasa kesal yang memuncak.

Sementara itu Baekhyun keluar kelas menuju toilet untuk memakai seragamnya. Sebenarnya ia tak berniat sama sekali untuk mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah yang menurutnya tidak menarik. Jika saja Sang Woo mengiriminya pesan untuk membujuknya untuk mengenakan seragam sekolahnya.

“YA! Samapi kapan kau akan berdiri terus dan menghalangi jalanku, huh?”

Gadis itu tersentak mendengar suara berat Sehun. Iapun dengan cepat memutar badannya. Seperti biasa tatapan tajam Sehun tak pernah sirna dari diri orang itu. Tak ingin membuat lelaki semakin kesal pada dirinya. Song Yi akhirnya sedikit menggeser badannya ke samping memberikan ruang untuk Sehun.

“Kau tak akan bisa mengalahkanku, Sehun-ssi”

Ucap Song Yi saat Sehun melewati dirinya yang kemudian memutar kepalanya menatap Sehun. Apa yang membuatnya berkata seperti itu pada Sehun? Apa ia ingin lelaki itu semakin membencinya seumur hidup. Entah apa yang ada di pikirannya hingga mengeluarkan ucapan yang bisa saja menyakiti hati lelaki itu.

Mendengar kalimat yang terucap dari bibir gadis itu, Sehun diam kedua tangannya terkepal kuat menahan emosi dan amarahnya.

“Aku tahu”

***

Sepertinya seragam ini tidak buruk, pikirnya.

Saat ini Baekhyun telah mengenakan seragam lengkap dengan jas berlogo SMA Chungdam. Satu kata—tampan. Baekhyun keluar dari toilet seraya melonggarkan jeratan dasi di kerahnya serta membuka satu kancing seragamnya hingga membuat kaus putih yang di kenakannya tadi sedikit terlihat.

Untung saja keadaan koridor sekolah sudah sepi karena jam pelajaran sudah di mulai lima menit yang lalu. Sehingga ia tak perlu merasa risih mendapati pandangan dari para gadis itu lagi. Baekhyun melenggang menuju kelas dengan kantung plastic berisi jelana jeans miliknya.

Baru saja ia akan berbelok melewati ruang music tak sengaja ia mendengar alunan piano yang terdengar cukup merdu di telinganya. Seperti ia tahu permainan piano ini, serta lagu yang di mainkan. Benar, pianis yang sangat di kaguminya Yiruma.

Tak banyak orang yang memainkan piano sebagus Yiruma. Siapakah orang yang memainkan piano seindah ini? Rasa penasaranpun terus merasukinya.

Baekhyun semakin mendekat. Beruntung pintunya tak terkucni sempurna hingga ia dapat membuka pintu itu dan melihat siapa memainkan piano tersebut.

Lelaki itu menjulurkan kepalanya agar ia dapat melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu. Matanya terus menatap kedepan kearah seseorang yang sedang melantunkan sebuah lagu yang mengingatkannya pada sosok seseorang yang dahulu masuk ke kehidupanya.

Seorang gadis yang dengan senyuman manisnya memainkan jari-jari lentiknya di atas tuts piano. Kepalanya bergerak pelan mengikuti irama music yang di mainkannya. Tetapi sejurus kemudia air bening menetes dari pelupuk mata gadis itu.

Entah apa yang membuat hati Baekhyun begitu tersentuh mendengar permainan piano orang itu. Apakah ingatannya kepada seseorang yang membuatnya begitu ikut menghayatinya. seketika ia terkesiap melihat gadis itu meneteskan air mata.

TO BE CONTINUED

Thanks yang udah bersedia membaca FF ini sampai tuntas^^ so tunggu lanjutannya minggu depan. Annyeong #bow#

35 thoughts on “The Sun Flower – (The last prologue//Stay Alive With Her) Part-01

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s