Diposkan pada Baek Hyun, charismagirl, Drabble, fluff, Romance, SCHOOL LIFE

[Minri’s Diary – 07] Can I Kiss My Present?

minri-07

Can I Kiss My Present?

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Rating : G, Teen

Length : Vignette (<1700 W)

Genre : Romance, fluff

Note : This story is mine. Do not copycat without my permission. Enjoy!

“Memangnya bisa aku apakan hadiahku yang ini?”

Mentari masih bersembunyi di ufuk timur. Belum saatnya cahaya memancar. Belum saatnya memulai aktivitas di hari baru –bagiku.

Aku baru saja bangun dari tidurku. Menatap langit di luar jendela yang masih berwarna biru gelap. Kemudian beralih menatap jam dinding dengan mata yang mengantuk.

Pukul lima tepat.

Aku tidak tahu mengapa aku bisa terbangun sepagi ini, padahal biasanya aku mulai bangkit dari tempat tidur jam tujuh pagi –jika ada aktivitas yang wajib. Dan tidak tentu jika itu hari libur.

Aku masih enggan membuka mata. Menikmati kehangatan dibalik selimut adalah salah satu alasanku malas untuk beranjak. Angin pagi hari menyusup lewat jendela cukup membuatku bergidik.

Suara pagar yang digeser seketika membuatku membuka mata sepenuhnya. Ini masih terlalu pagi untuk tamu berkunjung ke rumah. Dengan langkah berat aku menuju jendela dan mengintip di sela tirai.

Seorang lelaki berperawakan sedang, bercelana training hitam dan jaket kupluk warna senada menutupi tubuhnya dengan rapat. Dia membawa beberapa benda di tangannya –entah apa. Aku tidak dapat melihat dengan jelas benda itu, namun yang pasti aku mengenali siapa yang datang.

BAEKHYUN?! UNTUK APA DIA DATANG SEPAGI INI??

Aku beranjak dari jendela, berjalan mondar-mandir seperti sertika, mencari petunjuk dengan kedatangan Baekhyun yang pagi-pagi sekali. Lalu mataku terhenti pada kalender. Ada tanda lingkaran merah di angka sembilan. Oh astaga!

Baekhyun tidak bilang bahwa dia akan datang hari ini. Apa dia akan memberi kejutan padaku? Hah, kenapa aku bodoh sekali. Tentu saja dia tidak akan mengatakannya. Tapi sekarang aku harus apa?

Menyambut Baekhyun dengan pelukan saat dia masuk diam-diam ke dalam kamarku?

Pura-pura tidur dengan selimut sampai kepala?

Atau bersembunyi dalam kamar mandi? –oh tidak, ini konyol sekali.

Tubuhku seketika membeku saat aku mendengar derap langkah kaki yang semakin dekat dan jelas terdengar menuju kamarku. Aku menoleh pada gagang pintu yang bergerak ke bawah. (Aku tidak pernah mengunci kamar tidurku dan ini cukup menguntungkan untuk Baekhyun).

Tanpa memikirkan apa-apa lagi aku langsung melompat ke atas tempat tidur dan memejamkan mata. Mencoba menarik dan menghembuskan nafas dengan benar saat derak pintu terbuka berbunyi nyaring.

Apa dia sudah minta izin pada ibuku? Ini kan kamar anak perempuan. Ish!

Aku membuka mataku sedikit. Dan dia… benar-benar Baekhyun. Lelaki itu membuka topinya lalu meletakannya di atas meja belajarku. Aku kembali merapatkan mataku saat kurasa dia berjalan menghampiri tempat tidurku.

“Minri-ya,” bisiknya. Aku sama sekali tidak bergerak agar dia percaya bahwa aku masih tidur. Terlalu penasaran dengan apa yang akan dilakukannya jika dia pikir aku sama sekali tidak tahu.

“Minri pasti masih tidur.”

“Aku ingin memberi ucapan selamat ulang tahun, tapi aku tidak tega membangunkan Minri.” Aku kembali mengintip. Baekhyun tampak mengerucutkan bibirnya. Bahkan saat aku (dianggapnya) tidur, dia masih melakukan aegyo. Apa dia mencoba bertingkah manis di depan orang tidur? yang benar saja.

“Aku baru sekali melihat Minri tidur –Minri tampak cantik sekali. Seperti … putri tidur –yang hanya bisa dibangunkan dengan ciuman cinta sejati dari pangeran.”

Baekhyun mendudukkan dirinya pelan di atas kasur. Dan aku merasa dia sedang menatap wajahku. Uh, jaga jarakmu Baek, aku bisa tertawa kalau kau terus mendekat.

“Apa Minri ingin aku memberikan ciuman itu?” Terdengar kekehan dari mulutnya.

Maniak fairytale! Aku bahkan sudah bangun sebelum kau melakukannya.

Sebentar… dia ingin menciumku? Oh tidak!

Aku merasakan deru nafas hangat menerpa wajahku –sesaat sebelum aku merasakan kehangatan itu terganti dengan kecupan di kening. Tekstur bibirnya yang lembut itu bertahan beberapa detik. Kemudian dia menjauh, dan tersenyum.

“Selamat ulang tahun, Minri-ku.”

Aku meremas kuat selimutku dari dalam saat merasakan aliran darah mengalir ke wajah. Atmosfir terasa begitu hangat saat Baekhyun mencium keningku (ini adalah dini hari, yang harusnya dingin menusuk) dan … apa dia baru saja mengklaim bahwa aku adalah miliknya?

“Aku akan menunggu sampai Minri bangun.”

Baekhyun beranjak dari kasur lalu berjalan menuju meja belajarku. Lalu satu tangannya mengambil figura foto kami berdua yang aku pajang di atas meja itu. Aku hanya bisa mengamatinya dari samping, Tapi aku tahu bahwa dia sedang tersenyum.

Percaya atau tidak senyumannya itu menular padaku. Aku bisa merasakan kebahagiaan di balik senyum itu, dan akupun juga merasa bahagia.

Baekhyun merebahkan kepalanya di meja belajarku. Apakah dia sudah bosan menunggu? Apakah aku harus mengakhiri kegiatan ‘pura-pura tidur’ ini?

Dalam jarak beberapa meter ini aku hanya menatap punggungnya. Membayangkan betapa hugable tubuh lelaki itu dan tanpa tahu seberapa hangat yang bisa aku rasakan jika aku memeluknya dari belakang.

Aku tersadar dari fantasiku. Kulihat punggungnya bergerak teratur, membuatku berasumsi bahwa dia baru saja tertidur. Baekhyun pasti tidak pernah bangun sepagi ini. Kasihan.

Aku menyingkirkan selimutku lalu menghampirinya. Benar, dia sedang memejamkan matanya dengan bibir yang tersenyum. Kurasa dia sedang bermimpi. Tapi kalau cara tidurnya seperti ini, dia bisa sakit leher nanti.

Tanganku ingin menyentuh pundaknya. Tapi aku urungkan. Hingga aku hanya menunduk sambil menatap wajahnya. Namun, tiba-tiba Baekhyun membuka matanya membuatku terjengkang ke belakang. Nyaris membuat bokongku sendiri menyentuh lantai marmer.

“Astaga! Kalau mau bangun bilang dulu,” ucapku –dengan bodohnya. Ya, bodoh. Mana bisa orang tidur bicara sebelum dia bangun (kecuali dia mengigau).

“Minri?” Baekhyun menegakkan duduknya lantas mengusap kedua matanya kemudian menatapku. “Aku ingin memberi kejutan pada Minri.”

“Yap, dan kau tertidur di kamarku.”

Baekhyun menyengir, menampakkan senyum kotaknya. Lalu dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Sejak kapan Minri bangun?”

“Apa itu penting?” tanyaku balik. Kalau aku bilang ‘baru saja’, itu artinya aku membohonginya. Tapi kalau jujur, dia pasti mengamuk padaku.

“Tidak,” jawabnya kemudian beranjak dari kursi.

Dia menghampiriku lalu tiba-tiba memelukku. Ish! Anak ini.

“Selamat ulang tahun, Minri….” Baekhyun menggantungkan kalimatnya. Seolah ada yang ingin dikatakannya.

“Ya, Baek?”

“Selamat ulang tahun Minri, Park Minri!” serunya lantas mendesah lega. Kupikir aku sudah tahu, dia sudah mengatakannya waktu aku pura-pura tidur tadi. Tapi dia tidak tahu bahwa aku mendengarnya.

“Kenapa kau ragu?” tanyaku sambil tersenyum dibalik punggungnya. “Aku bahkan tidak punya nama belakang lagi setelah itu.”

Baekhyun melingkarkan kedua tangannya di bahuku, lalu menyandarkan kepalanya disana. Sementara aku menyelipkan kedua tanganku di pinggangnya, lalu melingkarkannya di punggung Baekhyun.

“Terimakasih, Baek.”

Detak jam dinding terdengar begitu jelas karena tidak ada satupun dari kami yang bersuara. Tanpa terasa beberapa menit terlewat. Dan kami hanya bertahan dalam posisi pelukan. Tubuhnya begitu hangat dengan aroma tubuh khas Baekhyun yang aku sukai.

“Apakah tidak ada prosesi tiup lilin?” tanyaku. Membuyarkan keheningan beberapa saat lalu.

“Oh iya,” ucap Baekhyun –dengan tidak rela melepaskan pelukannya. Dia mengambil kue kecil yang di atasnya sudah di pasang lilin. Baekhyun menyalakan lilin itu.

“Boleh aku mengucapkan harapanku sekarang?”

“Tentu!” Baekhyun menyodorkan kue itu di depan wajahku. Lalu aku memejamkan mataku.

Tuhan, aku punya banyak sekali harapan!

Jika Engkau ingin mengabulkannya sekarang, nanti atau kapanpun, aku berjanji akan menerimanya dengan senang hati karena aku tahu Engkau punya kuasa atas segala takdirku. Engkau pasti punya rencana yang bagus untuk hidupku.

Di depanku adalah Baekhyun, seorang lelaki yang cukup mengubah hidupku, tentunya memberikan warna tersendiri dalam hari-hariku. Terimakasih telah membuatnya ada untukku, aku tahu dia tidak sempurna –tidak ada manusia yang sempurna kan? Tapi bagiku dia adalah malaikat kecil yang kau kirim untukku. Dia sudah cukup sempurna untukku.

Lalu, aku ingin selalu berada di kelilingi orang-orang yang menyayangiku dan yang aku sayangi. Ayah, ibu, kakak, teman-teman, sahabat dan Baekhyun. Aku ingin mereka bahagia. Dan izinkanlah aku membahagiakan mereka. Karena di dunia ini, hidupku tidaklah berarti tanpa mereka semua.

 

Fuuh~

Aku membuka mataku. “Maaf lama,” ucapku.

Baekhyun menggelengkan kepalanya dan menatapku dengan mata yang mengerjap lucu. Lalu Dia meletakkan kembali kue itu di atas meja belajarku lalu menghampiriku.

“Kenapa Minri menangis?” tanya Baekhyun sembari mengarahkan jempolnya ke sudut mataku.

“Aku tidak menangis,” elakku sembali menepis pelan tangannya. Aku mengusap air mata yang entah kapan menggenang di mataku. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku akan menangis di saat seperti ini.

“Aku tahu, kok.” Baekhyun kembali menarikku ke dalam pelukannya, lalu menepuk-nepuk bahuku pelan. “Menangis itu normal tahu.” Aku merasa sedikit aneh karena Baekhyun bersikap lebih dewasa saat ini.

“Semua orang boleh menangis!”

Baekhyun menjauhkan tubuhku. Lalu mendaratkan bibirnya di bibirku, sementara aku hanya mengerjap dengan mode membeku.

“Aku ingin makan kuenya,” ucapku lalu mengambil kue coklat yang dibawa Baekhyun, setelah menyingkirkan lilinnya, aku menyendok kue tart itu.

Coklat. Salah satu rasa makanan yang kunobatkan sebagai rasa favoritku. Aku duduk di tepi ranjang sembari terus menyuap makanan itu. Baekhyun duduk di sampingku dengan kaki bergerak gelisah.

“Kau mau ini?” tanyaku.

Baekhyun menggelengkan kepalanya.

“Aku habiskan ya?” Dia hanya menjawabnya dengan anggukkan. Dia kembali bertingkah aneh.

Setelah menghabiskannya. Aku mengelap bibir dan tanganku dengan tisu. Langit sudah tampak bercahaya. Dan matahari malu-malu mengintip di balik awan. Aku membuka gorden sepenuhnya, membiarkan pencahayaan masuk ke dalam.

“Baek, mana hadiahku?” tanyaku asal.

“Nah itu dia! Aku lupa dengan hadiahnya.” Baekhyun berdiri lalu berjalan mondar-mandir. Dia menggigit kukunya sambil menatapku dengan tatapan minta maaf.

Aku melipat tanganku di depan dada sembari mendengus. Berlagak seperti sedang marah, padahal aku sama sekali tidak peduli dia membeli hadiah atau tidak. Dia bersedia bangun pagi, membeli kue dan mengucapkan selamat ulang tahun saja sudah cukup.

Baekhyun mengangkat satu tangannya. Dia seperti baru saja mendapatkan ide. Lelaki itu berjalan ke meja belajarku lalu mengambil pita merah di samping koleksi novel-ku. Dan dia mengikatkan pita itu ke kepalanya.

“Taraaa! Hadiahnya adalah aku!!”

Aku menutup mulutku dengan satu tangan. Sebenarnya aku ingin sekali tertawa. Oh, mengapa dia jadi terlihat cantik setelah di pasang pita di kepalanya. Tapi kalau aku mengatakan itu padanya, aku jamin dia akan mengomeliku habis-habisan.

“Memangnya bisa aku apakan hadiahku yang ini?” tanyaku sembari memperhatikannya dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi dengan pandangan menilai. Aku berjalan mengitari tubuhnya.

“Kau bisa memintanya bernyanyi, menari, membelikanmu es krim, mengajarkanmu berenang, mengajaknya berdansa–”

“Baik, baik, aku mengerti.” Aku berhenti di hadapannya, lalu mendongak sedikit untuk menatap matanya. “Aku boleh menciumnya kan?”

Dia tidak menjawab dengan suara, tapi cengiran di wajahnya membuatku tahu apa jawabannya. Aku menjinjit sedikit, lalu menyentuhkan bibirku di bibirnya, mengecap rasa yang kukenali, merasakan betapa lembutnya bibirnya itu. Uh, tolong!

“Aku hanya ingin kau selalu menyayangiku, Baek.” Aku berucap di depan bibirnya, lalu menyentuhkan dahi kami.

“Aku sayang Minri! Aku selalu sayang Minri.” Baekhyun menggenggam tanganku.

“Aku juga. Selalu.”

***END***

#HappyMinriDay (??)

Minri ultah tuh, kasih pelukan coba! *lol*

FF ultah Minri lagi? Yaps. Dan aku datang dengan versi berbeda (aku bikin 3 versi ya ngomong-ngomong-_- 2 diantaranya pairing byunbaek). Dan apakah mereka muncul terlalu cepat? hahah sowwry.___.

Demi apasih, aku berkaca-kaca nulis harapan Minri itu. hiks.

(remember about “thor”? don’t call me that.)

Sorry for typo dan terimakasih banyak sudah menyempatkan diri membaca ff ini.

LOVE YAA ❤

Dan satu lagi, karena dari minggu ini sampe minggu depan aku udah dalam masa FINAL TEST, jadi ya maaf kalo balesin komennya telat atau bahkan ga kebalas. Mari kita berdoa bersama bagi yg UKK dan Ujian-ujian lainnya, biar lancar nilainya bagus dan semuanya lancar. amin {}

© Charismagirl, 2014.

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

243 tanggapan untuk “[Minri’s Diary – 07] Can I Kiss My Present?

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s