Last Kiss

last kiss

Last Kiss

Author : Charismagirl

Cast :

  • Zhang Yixing
  • Liu Lyn

Genre : Angst, sad, romance.

Length : Drabble

Note : It’s my first time made Yixing as main cast. Hope you like. Enjoy! (intermezzo before I comeback with BBH-PMR again.)

“Aku akan memberikan ciuman hangat penuh kasih sayang sebanyak kau mau. Tapi tidak untuk yang terakhir kali.”

***

Jika benar ada yang namanya mesin waktu. Yixing ingin sekali kembali pada saat-saat bahagianya. Dimana dia dan Lyn tertawa bersama, bercanda, dan berbagi cerita.

Menjadikan Lyn resmi menjadi kekasihnya ketika musim semi. Di bawah pancaran sinar mentari yang hangat. Di hamparan taman bunga berwarna-warni.

Yixing mengajak Lyn mengitari taman favoritnya itu. Mengobrol ringan. Mendengar tawa Lyn yang seindah harmoni orchestra, melihat senyum secerah hamburan cahaya. Dia menghentikan langkahnya di tengah jalan setapak. Memegang pelan kedua bahu gadis itu membuat mereka berhadapan satu sama lain.

“Aku tahu aku bukan pria yang baik, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Lyn. Kita sudah berteman cukup lama. Dan bolehkah aku meminta hubungan kita lebih dari sekedar itu?”

Lyn mengerjap bingung, mencerna kalimat yang meluncur dari bibir Yixing. Lalu perlahan terukir senyuman di bibirnya sebelum dia mengangguk.

Yixing menurunkan tangannya dari bahu ke lengan gadis itu, hingga sampai ke tangannya. Yixing menggenggamnya lembut. “Would you be my girlfriend?”

Lyn belum menjawab apapun, namun melepaskan genggaman tangan Yixing, lalu memeluk lelaki itu. Mendengarkan debaran jantungnya yang tidak beraturan. “Sure.”

Yixing membiarkan mereka bertahan beberapa menit dalam posisi seperti itu, sebelum menjauhkan tubuhnya dan mencium kening gadis itu.

“Terimakasih telah memberi jawaban yang kuinginkan. I love you, Liu Lyn.”

 

Tidak ada yang menyangka bahwa dalam sekejap hidupnya berubah.

Melayang pada kejadian satu minggu yang lalu ketika dia dan Lyn berada dalam satu mobil. Yixing menyetir seperti biasa, melaju dengan kecepatan sedang –meskipun Yixing suka pada hal yang ekstrim tapi dia tetap mengutamakan keselamatan terutama pada kekasihnya bernama Lyn itu.

Yixing dan Lyn berada dalam perjalanan menuju rumah orang tua Lyn. Gadis berambut sepunggung itu akan mengenalkan Yixing pada orang tuanya. Mereka sudah lama menjalin hubungan. Dan Yixing percaya bahwa Lyn adalah masa depannya –ibu dari anak-anaknya kelak.

Yixing melirik ke sampingnya, menemukan gadis itu tersenyum memandangi jejeran pohon yang mereka lewati. Dia mengangkat tangan kirinya, lalu menggenggam tangan Lyn tanpa menatap gadis itu. Genggamannya terasa hangat, merayap sampai ke dalam hati Yixing.

“Aku sayang padamu, Lyn.”

“Aku tahu. Aku percaya padamu.” Lyn melepaskan genggaman tangannya lalu memajukan wajahnya. Dia memberikan kecupan kilat di pipi Yixing lalu kembali ke tempat duduknya.

Yixing melirik gadis itu dengan ekor matanya. Rona merah terpatri di wajahnya yang manis. Dan bagi Yixing, gadis itu semakin terlihat cantik. Dia seperti malaikat tanpa sayap yang diturunkan ke bumi dan di takdirkan untuk bersama Yixing.

Takdir…

Garis kehidupan sudah di tentukan oleh takdir. Manusia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di detik berikutnya di kehidupan mereka.

Seperti Yixing yang tidak tahu sejak kapan truk dengan angkutan batang pohon melaju berkecepatan tinggi ke arahnya. Degupan jantungnya meningkat derastis, ketika dia sadar bahwa tidak ada jalan lain selain menghindar.

Kemudian terdengar suara jeritan. Tidak ada mobil lain di jalan yang sepi itu selain mobil Yixing dan truk angkutan di depannya.

Yixing membanting stir mobilnya ke kiri, tepian ban mobil mengenai trotoar membuat bagian kanan terangkat tinggi. Tanpa terduga mobil itu terguling sekali, sebelum berhenti dengan membentur pohon.

Lelaki itu terbatuk dan merasakan anyir darah keluar dari mulutnya. Kepalanya pening karena benturan. Kemudian dia teringat Lyn. Dia tidak berani menoleh ke samping. Dia terlalu takut melihat keadaan gadisnya.

Lyn…

Yixing berucap dengan bibir bergetar. Dengan perlahan Yixing menolehkan kepalanya. Dadanya terasa begitu sakit, seolah ada ribuan pisau tak kasat mata yang menusuk dadanya.

Darah mengalir di pelipis gadis itu, matanya yang indah telah tertutup rapat. Yixing menangis lirih. Dengan sisa tenaganya, lelaki itu memutus jarak diantara mereka. Dia membawa Lyn ke pangkuannya.

Tangan kanannya yang gemetar, mengusap pipi gadis itu. Perasaan takut menggerogotinya. Dia tidak pernah sanggup membayangkan jika Lyn pergi –pergi ke suatu tempat dimana Yixing tidak akan bisa menggapainya lagi.

“Lyn… sadarlah. Katakan padaku bahwa kau baik-baik saja.”

Yixing mengguncang pelan tubuh gadis itu. Namun tidak ada respon berarti yang didapatkannya. Dia mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali. Tanpa sadar membuat air matanya menetes di rambut Lyn.

Tangisan lirih penuh keputusasaan itu menjadi nada yang paling menyedihkan. Kehilangan adalah satu kata yang menakutkan. Dan Yixing tidak kehilangan gadis itu.

Yixing tidak tahu sejak kapan –dan siapa yang membawanya ke rumah sakit. Tidak lama setelah sadarkan diri, lelaki itu langsung berlari menuju ruang IGD. Dia menemukan Lyn terbaring di kasur putih dengan berbagai peralatan medis yang tidak semua dikenalinya.

Detektor jantung bekerja normal, tampak dari gelombang yang berjalan teratur di layar itu. Yixing memaksa masuk ke sana.

Dia pasti akan baik-baik saja, batin Yixing dengan meyakinkan hatinya.

 

Hari-hari berlalu. Putaran jam dinding terus berputar ke kanan. Menguji Yixing untuk tetap yakin dan bersabar bahwa semua hal yang ditakutkannya pasti berlalu.

Sudah lima hari Lyn tidak sadarkan diri. Wajah cantinya kini terlihat tirus dan pucat. Berbeda dengan keadaan Yixing yang sudah membaik. Hanya beberapa luka tersisa di wajahnya, namun itu tidak masalah baginya.

Ketakutan Yixing menguap saat dia mendapatkan kabar bahwa gadisnya telah sadarkan diri. Dan sekarang, gadis itu sedang tidur. Mendapati gadis itu tidur bukan dalam keadaan koma, membuat Yixing sedikit merasa lebih lega.

Dia menggenggam tangan Lyn yang terasa dingin, mengecup punggung tangan gadis itu beberapa kali, sebelum dia mendapatkan sebuah pergerakan yang mengejutkan. Gadis itu balas menggenggam tangannya, membuat Yixing terkesiap.

“Lyn?”

Dengan gerakan pelan, kelopak matanya terbuka. Iris hazel itu kembali menatap dunia dan kembali menatap… Yixing.

“Kau baik-baik saja,” ucap gadis itu memastikan. Bibir pucatnya melengkung ke atas. Yixing merindukan senyum itu. Yixing merindukan suara itu.

“Cepatlah sembuh. Kita punya banyak rencana yang membahagiakan.”

Lyn menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.

“Kau harus tetap bahagia, meskipun itu bukan bersamaku.”

“Jangan katakan hal yang membuatku takut, Lyn. Kumohon.” Yixing merapatkan duduknya, lantas menggenggam tangan Lyn dengan kedua tangannya. Perasaannya tidak karuan, masih takut dan kalut.

“Aku tahu, kita saling mencintai. Tapi takdir kita bukan seperti apa yang kita inginkan. Aku kembali hanya ingin memintamu berjanji untuk tetap meneruskan hidupmu, untuk tetap bahagia.”

“Kalau kau mencintaiku, kau tidak akan meninggalkanku. Kau tidak akan bicara seperti itu!” Yixing mengalihkan pandangannya saat dia rasa pandangannya buram tertutup genangan air mata. Dan satu kedipan membuat air mata itu tidak terbendung.

“Untuk terakhir kalinya, aku ingin kau menciumku.”

“Aku akan memberikan ciuman hangat penuh kasih sayang sebanyak kau mau. Tapi tidak untuk yang terakhir kali.”

“Kau masih bisa menemuiku di mimpimu.”

“Lyn, please. Stop.”

Kiss me, then.”

Yixing mendekatkan wajahnya. Dia memandangi wajah gadis itu sebelum dia menutup matanya dengan wajah bercahaya dan senyuman di bibirnya. Dan ketika bibir Yixing tepat menyentuh bibir Lyn. Yixing menangis keras. Lyn sudah tidak bernafas.

Lyn benar-benar pergi.

Sesak mendera di dadanya. Bahunya bergetar hebat. Bibir yang tadi menyentuh bibir Lyn hanya bisa berucap dengan lirih. Menyebut nama gadis itu –yang tidak akan membuka matanya lagi.

Kenyataan bahwa gadis itu benar-benar pergi membuat Yixing terpukul. Detektor jantung yang mendenging dengan nada yang sama dan garis lurus di layar telah memperjelas semuanya.

 

Tidak ada mesin waktu.

Kehidupan terus berlanjut. Yixing masih bernafas, Yixing masih melihat mentari di pagi pagi hari. Dia bisa mengabulkan keinginan gadis itu untuk terus melanjutkan hidupnya. Tapi dia tidak bisa berjanji untuk bahagia. Karena baginya, kebahagiannya adalah gadis itu.

Angin berhembus pelan, membelai rambut Yixing yang kelam. Dia meletakkan sebucket mawar merah kesukaan Lyn di atas gundukan tanah. Tanpa suara. Dia mencium nama Lyn yang terukir di batu nisan. Lagi-lagi matanya terasa panas.

Dia tidak ingin menyisakan jejak air mata di tanah itu, hingga ia memilih untuk segera pergi dari sana. Yixing berjalan menjauhi tempat terakhir Lyn. Dia merapatkan jaketnya. Langkah kakinya diiringi daun kering yang terbawa angin, seolah berkata pada Yixing bahwa dia tidak sendiri.

Aku tidak akan sendiri, karena kau selalu ada di dalam hatiku. Kuharap, di kehidupan yang lain kita kembali dipertemukan dengan akhir yang bahagia.

***END***

MAMPUS GUE BIKIN NASIB BANG YIXING NAAS T^T

Hello semuanyaaah, masih dalam masa final test dan aku sempat nulis ginian. LOL

Sebenernya … kepikiran buat bales dendam ke Baekkie soal kissing scene dramus! Err!! Tapi aku ga tega bikin BBH nangis nangis ((T^T)) apalagi bikin Minri mati. Cukup sekali Minri mati tragis di FF aku ya.

(do not call me thor^^)

Thanks buat Alma, udah bantuin nyari marga (aku sama sekali buta soal nama cewe china-_-). Thanks buat Suchi yang support aku atas segala keraguanku *halah* :3

Sorry for typo. Keep comment and love meeehh(?) àlagi gila ini, stress efek ujian.

Makasih banyak udah mau baca walopun kayaknya ada yg nyesel udah baca /ketawa nista/

BYEEE *teleport*

©Charismagirl

86 thoughts on “Last Kiss

  1. Eonni calon suami saya kenapa dibuat sedih😥 huwaa author jahat #lebaydeh…Enggak papa deh masih ada kehidupan di dunia selanjutnya #tambahngelantur ya udah deh Fighting authorrr…..laff yuu

    NB : Jangan buat calon suami aku nangis lagi ya author❤

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s