Pervert Jiyeon —{1st Scene}

Pervert Jiyeon-2 copy a

Pervert Jiyeon —{1st Scene}

By Yaumila

 

| Main cast Park Jiyeon – Oh Sehun |

| Support cast Shin Hyeri – Kim Jong In – And other’s |

| Genre School Life, Romance | Length Main Chapter |

| Rating PG-17 |

My Blog : http://yaumila.wordpress.com

 

Previous part : [Prologue]

 

Disclaimer :

All of story is mine. So, don’t be plagiarism!

Copy-Paste is not allowed!

.

.

.

Bunyi nyaring sebuah alarm membuat sesorang yang sedang tergolek di atas ranjang terusik. Jiyeon beranjak dengan enggan dari atas tempat tidurnya. Dari hari ke hari tingkat kemalasannya semakin meningkat. Padahal ini baru minggu kelimanya berada di Anyang High School. Ini semua karena semalaman ia membaca komik yang baru dibelinya kemarin sehabis pulang sekolah. Tidak usah bertanya komik seperti apa yang dibeli oleh Jiyeon. Kita semua tahu apa kesukaannya—komik porno.

Jiyeon menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit dalam kamar mandi. Ia berjalan menuju lemarinya untuk mengambil seragam setelah mengeringkan tubuhnya terlebih dulu. Andai saja bukan karena godaan para pemuda-pemuda di sekolahnya yang rata-rata berwajah tampan, Jiyeon mungkin memilih untuk membolos saja. Tapi ia tidak ingin melewatkan sekalipun pemandangan yang menyegarkan matanya. Apalagi jika melihat mereka bermain basket atau sepak bola. Disana Jiyeon menemukan kesenangannya sendiri karena bisa melihat tubuh mereka yang basah oleh keringat. Membayangkan hal itu membuat wajah Jiyeon tanpa sadar memerah.

“Jiyeon, kau sudah sudah bersiap? Ayo kita sarapan.” Seruan Ibunya berhasil menghilangkan bayangan-bayangan kotornya.

“Ya Bu, aku sudah selesai.” Jiyeon sedikit menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Setelah merapikan letak poninya ia lekas keluar dan menuju meja makan. Setibanya disana ia melihat Ayah dan Ibunya sudah duduk di kursi masing-masing. Ibunya tersenyum saat melihatnya datang dan menepuk kursi yang ada di sebelahnya. Ayahnya sedang serius membaca Koran paginya, namun ia langsung menutupnya begitu melihat Jiyeon datang.

“Sebelum memulai sarapan, mari kita berdoa lebih dulu.” Mereka bertiga menundukan kepala dan berdoa dalam hati. Ya, Ayah Jiyeon merupakan orang yang sangat religius. Ia selalu memimpin doa sebelum mereka makan. Beliau juga rajin pergi ke gereja setiap minggunya. Bisa kita banyangkan bagaimana ekspresi yang akan beliau tunjukan jika mengetahui sikap Jiyeon yang terlampau jauh dari kesan religius yang telah ia ajarkan selama ini. Mungkin saja beliau akan memilih untuk bunuh diri. Berlebihan memang. Tapi orangtua mana yang akan sanggup memiliki anak yang bertingkah mesum seperti Jiyeon? Dan demi tuhan, Jiyeon adalah seorang gadis.

“Jiyeon, mulai hari ini kau akan diantar oleh supir Han. Ayah sedang sibuk dan harus tiba di kantor lebih pagi, jadi tidak bisa mengantarmu seperti biasa. Tidak apakan?”

“Tentu saja tidak apa-apa, Ayah. Aku bahkan bisa pergi ke sekolah sendiri.”

“Dan membiarkanmu naik bis seorang diri? Tidak, itu ide yang buruk. Bagaimana jika ada seseorang yang berbuat macam-macam padamu?” Maksud Ayah Jiyeon mungkin putrinya yang akan berbuat macam-macam pada pemuda yang ditemuinya.

“Tidak akan ada yang berani menggangguku Ayah.” Karena pada kenyataannya aku yang akan mengganggu mereka, pikir Jiyeon.

“Kau tidak akan pernah tahu apa yang ada dipikiran pemuda berdarah panas seusiamu, nak. Ayah juga pernah muda.” Ibu Jiyeon hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Suaminya itu terlalu mengkhawatirkan banyak hal mengenai putrinya. Itu sebenarnya wajar mengingat Jiyeon adalah anak mereka satu-satunya.

“Memang apa yang mereka pikirkan?” Jiyeon penasaran dengan jawaban yang akan diucapkan Ayahnya. Jika yang dimaksud Ayahnya adalah mengenai gairah mereka yang masih belum stabil dan suka mencuri pandang pada gadis-gadis yang memakai rok mini, Jiyeon sudah hapal betul akan hal itu. Karena ia termasuk ke dalam salah satu dari mereka yang masih belum bisa mengontrol gairahnya—atau hormonnya. Sepertinya kata-kata gairah terdengar terlalu frontal.

“Sudah hentikan, lebih baik kalian berangkat sekarang juga.” Suara Ibu Jiyeon menghentikan perdebatan kecil yang baru dimulai oleh suami dan putrinya.

“Baiklah, aku berangkat.” Ayah Jiyeon mulai melangkah keluar setelah menyelesaikan sarapannya. Jiyeon hanya melambaikan tangannya kepada sang Ayah dan meminum susunya. Sementara Ibunya mengantar Ayahnya hingga pintu depan. Setelah menghabiskan susunya Jiyeon pun segera beranjak dari tempatnya.

“Ibu, aku berangkat dulu.”

“Hati-hati sayang, semoga harimu menyenangkan.” Ibunya mendaratkan kecupan di kening Jiyeon dan mengantarnya hingga menuju mobil. Jiyeon tersenyum dan melambaikan tangannya saat mobil mulai melesat perlahan meninggalkan rumah. Ya semoga aku menemukan hal baru hari ini, gumam Jiyeon.

***

Jiyeon berjalan dengan santai menuju kelasnya. Ia merasa ada yang berbeda dengan suasa di sekolahnya. Hari ini keadaanya menjadi lebih ricuh dari biasanya. Para gadis terlihat bergosip dengan histeris lebih dari biasanya. Apa sekolah mereka kedatangan seorang artis? Atau bahkan presiden mungkin?

“Hey mesum!” Panggilan tersebut memang tidak terlalu kencang, namun cukup untuk membuat beberapa siswa yang mendengarnya bingung kepada siapa orang itu memanggil. Jiyeon sama sekali tidak memiliki niatan untuk mengetahui siapa yang dengan kurang ajarnya memanggil  ia dengan sebutan seperti itu. Dan siswa lain kembali sibuk dengan kegiatan mereka.

“Ya, aku memanggilmu. Kenapa tidak menungguku?”

“Benarkah? Memang siapa yang kau panggil?” Jiyeon mendengus dan tetap melanjutkan langkahnya.

“Oke, maafkan aku Jiyeon sayang. Aku berjanji tidak akan memanggilmu seperti itu lagi.”

“Kemarin kau juga berkata sepeti itu, Shin.” Gadis bernama Shin Hyeri itu tertawa mendengar ucapan Jiyeon. Ia suka sekali menyebut Jiyeon dengan sebutan mesum. Ia tahu jika Jiyeon tidak menyukai panggilannya, namun itu panggilan yang sangat pas untuk orang yang memang bertingkah sepeti ya begitulah. Hanya butuh beberapa minggu saja bagi Hyeri untuk bisa mengetahui sifat Jiyeon yang satu itu. Awalnya ia amat sangat terkejut mengetahui teman sebangkunya itu ternyata memiliki sifat mesum. Ayolah, Jiyeon seorang gadis. Seumur hidup ini kali pertamanya bagi Hyeri berteman dengan gadis mesum.

Jiyeon selalu lepas kontrol jika melihat pemuda yang membuatnya tertarik—tergoda. Hal yang paling mengerikan adalah Jiyeon akan langsung menghampiri pemuda itu jika Hyeri sedang tidak bersamanya. Jiyeon bahkan cenderung mengatakan keinginannya seperti menyentuh tubuh pemuda tersebut misalnya. Bahkan mungkin ia bisa melakukan hal yang lebih ekstrim. Dan itu selalu membuat Hyeri was-was. Bagaimanapun Jiyeon adalah sahabatnya, sebisa mungkin ia mencegah Jiyeon melakukan hal-hal aneh selama di sekolah. Cukup ia saja yang mengetahui sifat Jiyeon yang terbilang cukup langka.

“Ayo cepat, sebentar lagi bel akan berbunyi.” Hyeri mendorong punggung Jiyeon agar membuatnya berjalan lebih cepat. Persahabatan mereka sebenarnya cukup ajaib mengingat mereka baru bertemu saat masa orientasi. Tapi mereka terlihat seperti sepasang manusia yang sudah bersahabat selama bertahun-tahun. Ini semua mungkin karena Hyeri yang memang bersikap fleksibel atau Jiyeon yang bersifat terlalu absurd sehingga sangat sayang jika tidak dijadikan teman. Oke abaikan alasan terakhir.

“Lihat, Mr. Jang berjalan dengan seseorang. Apa ia murid baru?” Hyeri menghentikan langkahnya ketika mereka sudah di depan kelas, 1-III. Jiyeon ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang sedang dilihat oleh Hyeri. Ada seorang pemuda yang sedang menuju ruangan yang ada di samping kelasnya, 1-IV.

“Bisa saja. Tapi siapa pun pemuda itu ia terlihat sangat menarik. Lihat saja tubunya.” Hyeri bisa melihat binar di mata Jiyeon disertai senyumnya yang terlihat konyol. Mulai lagi, pikir Hyeri. Tanpa basa-basi Hyeri mendorong Jiyeon dengan kencang ke arah kelas mereka. Saking kencangnya membuat Jiyeon hampir terjungkal. Untung saja gadis itu mampu menyeimbangkan tubuhnya. Jika tidak mungkin ia harus menanggung malu karena ditertawakan teman sekelasnya.

“Shin Hyeri, awas kau.” Jiyeon menatap sahabatnya dengan garang. Hyeri hanya tertawa hambar melihatnya. Ia langsung berlari menuju kursinya secepat yang ia bisa sebelum Jiyeon memberikan bogem mentah padanya. Mereka berdua memang seorang gadis—dari segi fisik. Namun percayalah, cara mereka bertengkar seperti seorang barbar. Mereka bahkan tidak segan untuk memukul bahkan saling meninju satu sama lain. Benar-benar anarkis.

Jiyeon kali ini membiarkan Hyeri lolos karena tidak lama setelah itu Mr. Kim si guru killer datang ke kelas mereka. Berurusan dengannya sama dengan mati. Itu yang dikatakan siswa-siswa di sekolahnya. Karena sekali berhadapan dengan Mr. Kim, maka kau akan selalu mengalami masalah dengannya hingga lulus dari sekolah ini.

Pelajaran biologi adalah salah satu kesukaan Jiyeon. Karena kali ini mereka akan membahas tentang alat reproduksi. Otak kotornya bekerja dengan cepat saat Mr. Kim mulai menerangkan satu-persatu tentang alat reproduksi pada pria.

“Sistem reproduksi pada pria dirancang untuk menghasilkan, menyimpan dan mengirimkan sperma. Sistem reproduksi pria terbagi menjadi dua bagian, pertama alat kelamin luar yang terdiri dari skrotum dan penis. Kedua alat kelamin dalam yang terdiri  atas testis, kelenjar aksesori dan tubulus.” Jiyeon memperhatikan seluruh penjelasan Mr. Kim dengan seksama. Ia terlihat sangat antusias dibandingkan dengan siswa lainnya.

“Ya, kedipkan matamu. Kau terlihat mengerikan.” Hyeri menyenggol bahu Jiyeon saat ia mendapati gadis itu tengah memperhatikan Mr. Kim dengan terlalu serius. Jiyeon mendengus kesal karena Hyeri suka sekali mengganggu kesenangannya.

“Shin, apa kau pernah melihat penis?”

“Tutup mulutmu bodoh!”

***

Sehun menapaki kakinya di depan gedung yang akan menjadi tempatnya belajar selama 3 tahun ke depan. Harusnya ia sudah mulai bersekolah seperti siwa lainnya. Namun karena ia diharuskan mengurus beberapa berkas mengenai kepindahannya, ia harus rela mengundur waktu masuknya. Ya Sehun baru saja pindah dari Jerman. Selama 5 tahun Ayahnya ditugaskan disana, dengan terpaksa ia ikut kemanapun Ayahnya pergi. Saat masa dinas Ayahnya selesai mereka sekeluarga memutuskan untuk menetap kembali di Korea.

Dan ini adalah hari pertama Sehun mulai melaksanakan kegiatan belajarnya di Anyang High School. Sekolah ini sangat luas, dari luar nampak terlihat nyaman. Semoga saja aku betah selama berada disini, gumam Sehun. Ia mulai melangkahkan kakinya memasuki bangunan itu. Pertama-tama ia harus ke ruang guru terlebih dulu untuk mengetahui dimana letak kelasnya.

“Permisi.” Sehun mengucapkan salam dengan ragu saat ia memasuki ruang guru.

“Ah apa kau murid baru itu? Perkenalkan namaku Jang Gongsuk, kau bisa memanggilku Mr. Jang. Dan aku yang akan menjadi wali kelasmu.” Mr. Jang tersenyum ramah, ia merupakan guru yang sangat disukai oleh para siswa karena keramahannya. Beruntunglah mereka yang mendapatkan wali kelas seperti Mr. Jang.

“Namaku Oh Sehun, senang bertemu denganmu Mr. Jang.” Sehun membungkukan badannya hingga membentuk sudut siku-siku ke arah Mr. Jang. Anak yang benar-benar sopan, pikir Mr. Jang.

“Aku akan mengantarmu ke kelas, kebetulan sekali ini jam mengajarku.” Sehun mengangguk dan mengikuti Mr. Jang yang mulai melangkah meninggalkan ruang guru.

Sepanjang koridor Sehun melihat hanya ada beberapa siswa saja yang masih berkeliaran. Sisanya mungkin sudah berada di dalam kelas karena bel masuk akan segera berbunyi. Jarak dari ruang guru menuju kelasnya cukup jauh karena berada dilantai tiga. Jika seperti ini sudah dipastikan ia tidak boleh sampai terlambat. Kemungkinan selamat dari pengawas terlalu minim mengingat jarak kelasnya yang lumayan jauh.

Ketika mereka sudah berada di lantai tiga Sehun melihat dua orang gadis yang tidak jauh dari tempatnya. Salah satunya melihat ia dengan sangat intens, membuat Sehun sedikit risih dibuatnya. Tapi tak lama gadis satunya mendorong gadis yang tadi menatap Sehun dengan intens itu ke dalam kelas mereka. Sepertinya mereka bertengkar di dalam. Sehun tersenyum sendiri melihatnya.

“Silahkan masuk dan perkenalkan dirimu.” Mr. Jang sudah masuk ke dalam kelas dan meminta Sehun untuk mengikutinya. Sehun perlahan mulai memasuki kelasnya.

“Hallo, perkenalkan namaku Oh Sehun. Mohon bantuannya selama setahun ke depan.” Sehun membungkukan tubuhnya sama seperti yang ia lakukan di ruang guru. Kesan pertama terhadap Sehun adalah anak ini benar-benar sopan.

“Silahkan duduk di samping Kyungsoo.” Sehun menganggukan kepalanya dan mulai mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Di kelas ini ada tiga kursi yang masing kosong. Dari nama yang disebutkan oleh Mr. Jang sudah pasti ia adalah seorang pemuda. Dan ada dua orang pemuda yang salah satu kursinya masih kosong. Jadi mana yang bernama Kyungsoo?

Pemuda yang namanya disebut—Kyungsoo sepertinya dapat merasakan kebingungan Sehun. Ia melambaikan tangannya ke arah Sehun dan menunjuk kursi yang ada di sampingnya. Sehun mendesah lega karena tanpa ia minta orang yang akan duduk dengannya sudah menunjukan dirinya lebih dulu. Sehun pun melangkahkan kakinya ke deretan kursi yang berada di baris keempat dari depan.

“Hai, aku Oh Sehun.” Ia mengulurkan tangannya untuk mengajak teman barunya bersalaman sambil tersenyum.

“Aku tahu, namaku Do Kyungsoo.” Kyungsoo menanggapi uluran tangan Sehun dengan baik disertai senyumnya yang kelewat ceria. Haruskah perkenalan antar pemuda seperti mereka memiliki suasana ceria ini? Mereka malah terlihat seperti sepasang gadis.

***

Para siswa mulai meninggalkan kelas satu-persatu saat waktu istirahat tiba. Begitu pula dengan Jiyeon dan Hyeri mereka langsung melesat keluar saat selesai membereskan alat-alat tulis yang masih berserakan di meja. Ketika keluar mereka melihat Kyungsoo, pemuda bermata bulat itu sedang berjalan dengan seseorang yang mereka lihat tadi pagi. Sepertinya mereka akan pergi ke kantin. Jiyeon yang sejak awal sudah tertarik pada pemuda yang lebih tinggi dari Kyungsoo itu menarik Hyeri untuk menghampiri mereka berdua.

“Hey Kyungsoo.” Pemuda itu langsung menoleh ke arah sumber suara dan terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya.

“Aish, Park Jiyeon.” Kyungsoo mendesis kesal setelah tahu siapa yang memanggilnya. Jiyeon tertawa melihat tanggapan Kyungsoo, ia tidak pernah berubah dari dulu.

“Kenapa tanggapanmu seperti itu? Bahumu masih kecil ternyata.” Jiyeon tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Kyungsoo. Sementara pemuda itu merengut saat mendengar perkataan Jiyeon. Ia tidak bisa membantah, karena yang diucapkan Jiyeon memang benar adanya.

“Apa kau siswa baru?” Hyeri yang sejak tadi diam memberanikan dirinya untuk bertanya kepada pemuda yang berjalan bersama Kyungsoo.

“Ah ya, perkenalkan namaku Oh Sehun.” Hyeri membalas uluran tangan Sehun.

“Namaku Shin Hyeri dan ini temanku, Park Jiyeon.” Jiyeon mengulurkan tangannya ke arah Sehun dan ditanggapi dengan baik oleh pemuda itu.

“Senang berkenalan denganmu Oh Sehun, kelas kami tepat berada di samping kelasmu. Dan oh tanganmu kekar sekali, berbeda dengan Kyungsoo.” Jiyeon entah refleks atau sengaja ia langsung meraba-raba lengan Sehun yang memang berotot, membuat pemuda itu sedikit terkejut namun ia tidak menolak perlakuan Jiyeon meskipun merasa risih. Kyungsoo mendengus mendengarnya, jika bertemu dengannya Jiyeon pasti akan mengoloknya karena tubuhnya yang kurus—belum berotot. Hyeri yang takut kelakuan Jiyeon akan semakin menjadi jika dibiarkan akhirnya menarik Jiyeon kesisinya.

“Kami pergi dulu Kyungsoo, Sehun.” Hyeri sedikit membungkukan tubuhnya dan langsung menarik Jiyeon sebelum gadis itu menyuarakan aksi protesnya. Karena sudah menganggu momennya untuk bisa lebih dekat dengan siswa baru itu—Sehun.

“Kyungsoo, sepertinya kau dekat dengan gadis bernama Park Jiyeon itu.”

“Aku tidak yakin jika hubungan kami bisa dikategorikan dekat. Hanya saja dulu aku pernah satu kelas dengannya saat di Junior High School.” Sehun menganguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Kyungoo.

“Kenapa? Kau tertarik padanya?”

“HAH?! Yang benar saja, kami baru bertemu Kyungsoo.”

“Jadi setelah bertemu beberapakali kau akan tertarik padanya?” Sehun memutar kedua bola matanya jengah, ternyata pemuda ini sangat cerewet. Kyungsoo memandang Sehun dengan mata bulatnya, ia tidak sabar mendengar jawaban yang akan diberikan pemuda itu.

“Aku tidak tahu, apa justru kau yang tertarik padanya?” Sesungguhnya Sehun juga tidak tahu, meskipun sikap Jiyeon terbilang agak aneh namun wajahnya sangat manis.

“Kau gila?! Mana mungkin aku tertarik padanya, ia selalu mengataiku kurus.”

“Kau memang kurus Kyungsoo, setidaknya untuk saat ini.”

***

Kegiatan di sekolah berlalu begitu saja tanpa terasa. Tidak ada hal yang menyenangkan bagi para siswa. Mungkin tidak untuk Jiyeon. Karena hari ini ia mendapatkan objek baru untuk imajinasi liarnya, Oh Sehun. Menurut Jiyeon Sehun memiliki daya pikat tersendiri. Karena tubuhnya yang menjulang tinggi, kulitnya sangat putih untuk ukuran seorang pemuda. Jangan lupakan bagian yang paling penting, tubuhnya yang terlihat sangat atletis sangat menggoda mata Jiyeon.

Sementara Sehun merasa hari-harinya semakin berat. Sebenarnya ia hanya tidak tahu bahwa ada seseorang yang selalu mengamatinya dari jauh. Memang Sehun sering sekali bertemu dengan Jiyeon, terutama saat istirahat. Terkadang mereka akan pergi ke katin bersama-sama meskipun Kyungsoo agak—sangat terganggu dengan keberadaan Jiyeon. Belum lagi Hyeri yang selalu was-was ketika mendapati Jiyeon tengah menatap Sehun dengan pandangan horrornya. Ia takut sewaktu-waktu Jiyeon akan menyerang Sehun ketika pemuda itu sedang lengah. Terdengar tidak masuk akal memang. Tapi apapun bisa saja dilakukan jika itu menyangkut dengan seorang Park Jiyeon yang tingkat kemesumannya semakin meningkat seiring dengan seringnya ia membaca artikel-artikel dewasa.

“Hingga detik ini aku hanya bisa menyentuh lengannya saja, aku juga ingin menyentuh bagian lain dari tubuhnya.” Jiyeon memandangi Sehun yang baru saja memasuki area kantin bersama dengan Kyungsoo dari tempat duduknya. Matanya mengikuti setiap langkah Sehun.

“Jangan gila Park Jiyeon. Jaga hormonmu yang tumbuh berlebihan itu.” Hyeri mendengus kesal, ia tak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Jiyeon. Mungkinkah beberapa syaraf otaknya putus hingga membuat gadis itu sedikit gila?

“Hormonku normal Shin, oke? Sepertinya hormonmu yang terhambat, karena aku tidak pernah melihatmu tertarik dengan seorang pemuda.”

“Sayangnya hormonku juga normal, hanya saja tidak ada pemuda yang membuatku tertarik itu saja.”

“Syukurlah, aku kira kau penyuka sesama jenis. Aku jadi tidak harus takut lagi jika berdekatan denganmu kan, Shin?”

“Aku masih normal sialan! Dasar gadis menyebalkan, mulai sekarang aku akan memanggilmu si mesum! Atau Jiyeon mesum? Ah atau Jiyeon si mesum? Kau ingin panggilan yang mana?”

“Shin Hyeri!”

Sepertinya nasib sial sedang menimpa Jiyeon. Ia dan Hyeri terus bertengkar seperti orang bodoh. Bahkan mereka melanjutkan pertengkarannya hingga pulang sekolah dan saling mengejek lewat sambungan telpon dan terus berbicara hingga malam. Hingga akhirnya Hyeri sadar bahwa mereka memiliki tugas matematika dan harus dikumpulkan besok. Jiyeon yang baru mengingatnya malah memarahi Hyeri karena baru mengingatkannya. Alhasil mereka menyudahi pertengkaran yang jauh dari kata penting dan segera mengerjakan tugas.

Jiyeon mengerjakan tugasnya hingga larut malam karena ada beberapa soal yang membuatnya kesulitan. Dan ia bangun kesiangan saat pagi hari. Kesialannya masih berlanjut karena ia harus rela membuang waktunya dengan bertengkar kecil bersama Ibunya. Mereka berebut supir Han. Ibu Jiyeon memiliki janji untuk berkunjung ke rumah temannya yang berada di luar Seoul, sehingga ia membutuhkan supir Han untuk mengantarnya. Karena terlalu beresiko jika harus pergi seorang diri ke tempat yang lumayan jauh. Sementara Jiyeon yang tengah diburu waktu benar-benar membutuhkan supir Han agar ia tidak terlambat sampai ke sekolah.

“Baiklah Ibu, kau menang. Aku akan pergi naik bus.” Jiyeon yang sadar perdebatan mereka hanya membuang waktunya yang sudah semakin sempit itu membiarkan supir Han bersama Ibunya. Sebenarnya tidak setega itu membiarkan Ibunya pergi seorang diri.

Jiyeon berlari menuju halte bus secepat yang ia bisa. Rambut yang tadi ia tata serapi mungkin sudah hancur tidak karuan. Bahkan keringat mulai bercucuran dari keningnya. Ketika ia sudah dekat dengan halte sudah ada bus yang berhenti disana. Namun ketika tinggal beberapa langkah lagi agar bisa mencapai halte bus itu sudah pergi lebih dulu.

“Tunggu, tunggu aku. Hei, berhenti!” Jiyeon terengah-engah dan duduk di kursi halte. Ia harus berjalan sepanjang 1 kilometer jika ingin naik taksi. Tapi gadis itu sudah tidak punya tenaga lagi, dan ia memutuskan untuk menunggu bus berikutnya.

“Hah, hari yang melelahkan. Sepertinya dewi fortuna sedang marah padaku.”

***

Disinilah Jiyeon, di depan gerbang sekolahnya. Ia terlambat selama 40 menit. Dan kini ia harus menunggu pengawas yang biasa menangani siswa terlambat, Ms. Kim. Jiyeon mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

“Sehun?” Pemuda itu mendongak dan mendapati Jiyeon berdiri di hadapannya.

“Kau terlambat juga?”

“Ya, seperti yang kau lihat.”

Sehun berdiri tepat di samping Jiyeon dan menyandarkan tubuhnya pada pagar. Ia menyeka keringat yang berada di dahinya dengan tangan. Sementara Jiyeon hanya menyaksikan kejadian tersebut dengan seksama. Jiyeon menelan liurnya sendiri saat melihat benjolan kecil—jakun yang ada di leher Sehun bergerak naik turun.

“Jadi hanya kalian berdua yang datang terlambat. Ikut denganku ke kantor.” Suara Ms. Kim yang datang dengantiba-tiba mengagetkan mereka berdua. Tanpa bisa mencerna apa yang mereka dengar Ms. Kim langsung berlalu begitu saja. Mereka berdua hanya bisa mengikuti langkah Ms. Kim.

“Karena ini pertama kalinya kalian terlambat aku hanya memberi hukuman ringan. Tapi, bukankah kau siswa baru? Kau sudah datang terlambat setelah kepindahanmu kemari beberapa waktu lalu.” Ms. Kim menatap Sehun dengan pandangan kurang bersahabat.

“Maafkan aku, Ms. Kim. Aku akan berusaha agar tidak terlambat lagi.” Sehun membungkuk kepada Ms.Kim dengan kikuk. Sepertinya ia sudah membuat citra baiknya sedikit rusak hanya karena masalah ini. Sementara Ms. Kim hanya menganggukan kepalanya.

“Baiklah, tugas kalian merapikan seluruh buku yang ada di perpustakaan. Sekolah kita baru mendapat kiriman buku dan kalian harus menyusunnya hingga selesai. Setelah membereskan semuanya kalian boleh masuk ke kelas.”

“Baik Ms. Kim.”

“Silahkan memulai tugas kalian.” Keduanya mengangguk dan berdiri untuk keluar dari kantor Ms. Kim. Setelah mencapai pintu Sehun membukukan badannya kembali, sementara Jiyeon langsung berlalu menuju perpustakaan tanpa ada niat untuk bersikap sopan terhadap Ms. Kim. Karena menurut Jiyeon guru itu hanya menambah rasa lelahnya dengan tugas yang ia berikan.

Sehun yang tidak tahu dimana letak perpustakaan hanya mengekor di belakang Jiyeon. Gadis itu menyadari Sehun yang berjalan di belakangnya berhenti melangkah dan menarik lengan pemuda itu untuk berjalan beriringan dengannya. Sehun berjalan dengan kikuk karena Jiyeon tidak melepas genggaman tangannya sambil terus berjalan. Namun ia juga merasa tidak enak jika harus melepasnya lebih dulu. Sehun tersentak saat merasakan tangan Jiyeon melepas tautan mereka. Dan ia baru tersadar jika mereka sudah berada di depan pintu perpustakaan.

“Astaga, aku tidak yakin jika kita bisa masuk ke kelas hari ini.” Jiyeon membuka kedua mulutnya saat melihat buku-buku yang tertumpuk di lantai. Dan jumlahnya bukan main—banyak. Sehun ikut melongokkan kepalanya ke dalam dan tercengang setelahnya.

“Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertama untukku mengahabiskan waktu seharian di dalam perpustakaan.” Sehun mendekati buku-buku yang tergeletak tidak berdaya itu. Mereka—buku masih terlihat rapi, dan ada beberapa yang masih dibungkus plastik.

“Ayo kita susun buku-buku ini.” Sehun mengambil beberapa buku dan membawanya menuju rak yang berada paling pojok.

“Tunggu, kenapa rak ini kotor sekali? Haruskah kita membersihkannya lebih dulu?”

“Sepertinya begitu. Lihat, disana sudah disediakan peralatannya. Ms. Kim benar-benar berniat menyuruh siswa yang datang terlambat untuk melakukan ini.” Mereka menghela nafas pasrah, mau tidak mau mereka harus melakukannya bukan?

Jiyeon dan Sehun mulai memakai sarung tangan dan masker yang sudah disediakan. Mereka mulai membersihkan debu-debu yang menempel di rak menggunakan kemoceng. Membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkannya. Karena perlu diingat, raknya tidak hanya satu. Bisa dibanyangkan betapa lelahnya mereka. Belum lagi mereka harus menggunakan lap basah untuk membersihkan sisa-sisa debu yang masih menempel.

“Hah, kita bahkan menghabiskan waktu selama empat jam hanya untuk membersihkan rak. Oh punggungku.” Sehun tersenyum mendengar keluhan Jiyeon. Ia melepas sarung tangan beserta maskernya lalu mulai mengambil beberapa buku untuk ia susun. Jiyeon mengikuti apa yang dilakukan Sehun dengan malas.

“Kau susun bukunya dibagian bawah saja, biar aku yang menyusun dibagian atas.” Jiyeon mengangguk mendengar ucapan Sehun dan mengambil buku-buku itu. Jiyeon merasa benar-benar haus, ia belum minum lagi selain di rumahnya tadi setelah sarapan. Dan ia sudah tidak tahan lagi untuk menahan dahaganya lebih lama.

“Sehun, apa kau tidak haus? Aku ingin minum.”

“Cukup haus, tapi aku tidak memiliki air. Tahanlah hingga selesai.” Sehun menatap Jiyeon dengan iba, ia ingin menolong tapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jiyeon terlihat sangat kelelahan, keringat mengalir cukup banyak di keningnya.

“Ah aku akan pergi ke kantin sebentar untuk membeli minum, lalu kembali lagi kemari.”

“Tetapi ini belum selesai Jiyeon.”

“Aku pasti kembali, tenang saja aku akan membeli minuman untukmu juga.” Jiyeon langsung berlari keluar tanpa mendengar ucapan Sehun. Pemuda itu hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan kegiatannya.

Sudah lima belas menit sejak kepergian Jiyeon, dan gadis itu belum juga muncul hingga sekarang. Jangan-jangan ia kabur? Sebelum Sehun menaruh bukunya untuk mengecek keberadaan Jiyeon gadis itu sudah muncul lebih dulu.

“Sehun aku datang, ini minuman untukmu.”

Jiyeon berlari kecil untuk menghampiri Sehun. Pemuda itu menoleh ke arah Jiyeon dengan tumpukan buku yang ada di tangannya. Jiyeon tidak melihat tumpukan buku yang ada di bawahnya sehingga kejadian selanjutnya pun tidak bisa dihindari lagi. Terdengar bunyi debuman cukup keras yang berasal dari buku. Beruntungnya Jiyeon tidak sampai jatuh karena ia berpegangan pada paha Sehun yang kebetulan berada di hadapannya.

Namun Jiyeon menyadari sesuatu, ia merasakan sesuatu yang agak menonjol dan hangat pada telapak tangannya. Ia memberanikan diri untuk melihat apa yang saat ini ia sentuh. Dan detik itu juga mata Jiyeon sukses terbuka lebar. Bayangkan saja, tangannya tepat berada di selangkangan Sehun. Selangkangannya!

“Astaga aku memegangnya. AKU BENAR-BENAR MEMEGANGNYA!” Jiyeon berteriak histeris namun tidak memindahkan tangannya dari sana.

Sehun yang baru tersadar karena teriakan Jiyeon melihat ke bawah dan mendapati Jiyeon tengah berjongkok dengan tangan yang berada di selangkangannya. Astaga!

“AAAAAAAAAAAAA…”

.

.

.

Sebelumnya aku mau minta maaf karena updatenya lama T.T

Tugas kuliahku lagi numpuk soalnya, dan maaf kalau ceritanya jadi

ancur kaya gini. Aku juga gak tau kenapa bisa jadi begini akhirnya u,u

maaf kalau feelnya kurang dapet

kritik dan sarannya aku tunggu ya😀

101 thoughts on “Pervert Jiyeon —{1st Scene}

  1. Astaga inii ff apa? Ya ampun, jiyeon *ngelus2 dada* aku kalo jadi hye ri jg gak kuat punya temen mesumnya udah tingkat tinggi.
    Lanjut terus thor,ceritanya makin seru… Jiyeonnya juga makin…, mesum. Haha😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s