13th [freelance]

Gambar

Tittle: 13th

Author: gitacchan

Main Cast:

Byun Baekhyun

Do Kyungsoo

Rating: General

Genre: friendship, comedy(?)

Length: Oneshoot               

Disclaimer: This story is pure my mine. Don’t copy and be good readers! FF ini sudah di publish di blog pribadi http://futuredreamworld.wordpress.com/

Notes: This story is very very short. Ide cerita ini tiba-tiba muncul saat lagi sibuk-sibuknya kerja tugas. Well, daripada ide ini (yang menurutku cemerlang :p) nanti hilang, jadi aku langsung bikinin ini FF deh😀 FF ini langsung jadi semalam, jadi…harap maklum mungkin banyak typo, kalimat yang ribet, atau kesalahan apalah soalnya gak sempat ngedit lagi dan langsung aku posting. Sebenarnya ide ini sepenuhnya dari kisah nyata aku tapi sengaja aku buat agak melenceng hehe:D okay, seperti biasa don’t forget to comment! RCL diperlukan sepenuhnya;)

Summary:

Baekhyun benci angka 13.-

 

 

OooooO

 

Baekhyun benci angka 13. Ia selalu berpikir bahwa angka 13 adalah angka kesialannya. Mungkin kalian juga berpikir seperti dirinya kan? Menganggap angka 13 adalah angka sial. Well, tapi ini berbeda. Baekhyun benar-benar benci angka itu!

“Hei Baek, kau baik-baik saja?” Kyungsoo melambai-lambaikan tangan di depan wajah Baekhyun. Baekhyun hanya menggeleng, “Tidak. Aku sedang tidak baik-baik saja.”

Kyungsoo tahu sedari tadi sahabatnya ini sedang menyembunyikan kekesalannya. Terakhir kali Baekhyun marah ketika dua bulan yang lalu, setelah ia dikalahkan dalam game oleh Chanyeol. Mungkin kalian menganggap itu masalah sepele. Tapi bagi Baekhyun itu adalah masalah yang sangat sangat sangat serius! Baekhyun yang menganggap dirinya pandai, tampan, dan laki-laki paling sempurna di dunia ini, *hell yeah, abaikan kenarsisannya* dikalahkan Chanyeol dengan skor 50-2! Tentu saja ini berakibat fatal. Baekhyun menjadi sangat kesal, lalu keesokan harinya ia mengunci diri di kamar dan menangis sejadi-jadinya. Dan Kyungsoo harus merelakan mata besarnya memiliki kantung mata sehingga matanya benar-benar menyerupai mata panda seperti milik Huang Zitao, anak kelas sebelah demi menghibur Baekhyun semalaman. Asdfghjkl, Kyungsoo benar-benar tak ingin mengingatnya kembali!

“Kau dikalahkan Chanyeol lagi?” Baekhyun menggeleng masih dengan muka kesalnya.

“Bukan, bahkan lebih parah! Aku benci angka 13!!!” teriak Baekhyun. Untung saja mereka saat ini sedang berada di atap sekolah. Karena jika tidak, Kyungsoo harus menanggung malu saat semua orang memperhatikannya dan sahabatnya yang sedang berteriak-teriak seperti orang gila.

“Eumm Baek, tenangkan dirimu. Coba jelaskan kenapa kau membenci angka 13 Baek?” Tanya Kyungsoo mencoba menenangkannya.

“Kau tahu, penyebab aku kalah di Olimpiade fisika kemarin karena angka 13 itu Kyungie! Aku mendapatkan no. urut 13, dan lihat sekarang apa yang terjadi! Aku tidak menang gara-gara angka sial itu!” Kyungsoo hanya melongo mendengar curhatan panjang x lebar Baekhyun. Sejenak Kyungsoo kembali mencerna perkataan sahabatnya ini dan mulai mengerti.

“Baek, itu hanya no. urut. Tidak mungkin itu akan berpengaruh kan.”

“Tidak! Tahun-tahun sebelumnya aku berhasil juara karena aku tidak mendapatkan no. urut itu!” kini Kyungsoo hanya terdiam karena ia tidak tahu harus menggunakan cara apa untuk meredakan kekesalan Baekhyun. Dan ditambah lagi bel telah berbunyi tanda jam pelajaran pertama segera dimulai sehingga menginterupsi kekesalan Baekhyun.

Sepanjang pelajaran, Kyungsoo terus melirik Baekhyun yang bangkunya tepat di sebelahnya sedang tidak fokus. Baekhyun hanya terus mencoret-coret belakang bukunya, entah menuliskan apa disana, yang pasti Kyungsoo tidak tahu apa yang sedang dikerjakan sahabatnya itu. Kyungsoo mendesah pelan. Ia tak habis pikir cuma karena Baekhyun benci angka 13 dengan alasan sepelenya kini tidak fokus pada pelajaran saat ini-sejarah-yang jelas-jelas guru yang mengajar di kelasnya itu bisa dikategorikan guru ‘killer’. Tiba-tiba mata Kyungsoo berbinar-binar. Bukan karena ia melihat koin emas di lantai, ataupun melihat sesuatu yang berkilauan di dalam kelas itu. Bukan! Bukan! Itu karena sebuah ide *yang menurutnya cemerlang* mendadak terbesit di otaknya. Ia terus tersenyum sepanjang mendengarkan penjelasan guru di depannya. Dan bahkan tanpa Kyungsoo sadari Baekhyun yang masih dirundung kekesalan melirik heran Kyungsoo yang terus tersenyum dengan mata bulatnya yang berbinar-binar itu.

OooooO

 

 

“Baek, kau ada rencana setelah pulang sekolah hari ini?” Tanya Kyungsoo disela-sela dirinya dan Baekhyun sedang membereskan buku-buku setelah jam terakhir selesai.

“Tidak.” Jawab Baekhyun singkat. Kyungsoo menoleh heran karena tidak biasanya Baekhyun tak tertarik ketika dirinya bertanya apakah ia sibuk setelah pulang sekolah.

“Kau tak bertanya kenapa?” Tanya Kyungsoo kembali. Baekhyun menoleh dengan raut muka datarnya, “kenapa?” bahkan pertanyaannya tak terdengar seperti pertanyaan.

“Aku ingin mengajakmu…eh maksudku mentraktirmu siang ini.” Baekhyun seketika menoleh dan mengangkat salah satu alisnya bingung.

“Menurutku siang ini cukup panas, jadi…bagaimana kalau kita mampir dulu ke kedai es krim pak Oh? Aku akan mentraktirmu.” Seketika itu mata Baekhyun berbinar seperti saat tadi Kyungsoo menemuka ide, namun bedanya sekarang saking berbinarnya mata Baekhyun yang sipit itu kurasa kalian jangan menatapnya karena saat ini matanya tersebut berubah menjadi berkilauan dan…. menyilaukan mata *oke, ini terlalu dramatis*

“Ayo!” Baekhyun langsung menarik lengan Kyungsoo keluar kelas. Bukankah semenit yang lalu ia masih murung? Dan sekarang kini keceriaannya kembali lagi berkat…es krim?! Batin Kyungsoo.

Baekhyun terus memasukkan es krim ke mulutnya. Walaupun kini mulutnya telah belepotan karena es krim, ia terus menyendokkan es krimnya ke mulutnya itu bahkan ia menggaruk-garuk isi mangkuk es krimnya hanya untuk mencari sisa-sisa es krim disela-sela mangkuk es krimnya itu. Kyungsoo hanya melongo melihat kelakuan Baekhyun yang tiba-tiba ceria karena iming-imingnya yaitu..sebuah es krim. Kyungsoo yang saat itu juga sangat ingin melahap es krim karena memang cuaca hari itu sangat panas mendadak sulit untuk menelan es krimnya melihat bagaimana cara Baekhyun melahap es krimnya yang terlihat sangat…aneh dan…menjijikkan baginya. Tapi tentu saja Kyungsoo memakluminya sebagai sahabat Baekhyun dari kecil, karena ia tahu sekali sifat Baekhyun jika sudah berhadapan dengan es krim. Baekhyun seketika berubah menjadi kekanakan seperti anak kecil. Ya begitulah. Dibalik otak cemerlangnya itu, ternyata Baekhyun menyimpan sifat kekanakan yang hanya sahabatnya-Kyungsoo-mengetahui rahasia tersebut. Tentu saja Kyungsoo bukan mulut ember yang akan langsung menyebarkan rahasia itu, karena tahu ia memiliki urusan lebih penting daripada membeberkan rahasia seorang Byun Baekhyun.

“Kau tidak memakan es krimmu Kyungie?” Tanya Baekhyun menginterupsi kegiatan Kyungsoo-mengamati (cara) Baekhyun memakan es krim.

“Eh? Oh tinggal sedikit kok. Kau sudah selesai? Ayo kita pergi.” Kyungsoo lalu menyendokkan es krimnya dengan terburu-buru sehingga ia hampir melompat-lompat karena mulutnya yang saat ini dipenuhi es krim terasa benar-benar menggigil! Ia langsung mengamit tasnya dan membayarnya di kasir. Baekhyun hanya mengekor.

“Memangnya kita mau kemana lagi Kyung?”

“Ke rumahku sebentar.” Jawab Kyungsoo sambil menunggu kembalian.

Belum sempat Baekhyun bertanya ada apa, Kyungsoo melanjutkan, “Nanti saja bertanyanya, pokoknya ikut aku saja.” Baekhyun hanya terdiam dan terus mengekori Kyungsoo yang keluar dari kedai es krim tersebut. Ide cemerlang yang Kyungsoo dapatkan tadi yaitu meredakan kekesalan Baekhyun dengan mentraktirnya es krim. Dan benar saja, bahkan Baekhyun saat ini seperti akan lupa dengan kekesalannya selama di sekolah tadi. Tapi bukan itu sebenarnya rencana Kyungsoo. Well, Kyungsoo benar-benar menyimpan rencana rahasianya tersebut.

OooooO

 

“Jadi…kau mengajakku kesini untuk belajar?” Tanya Baekhyun mengamati Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk. Ia melangkah menuju meja belajarnya, mengambil sesuatu.

“Bukan hanya itu, aku ingin kau melihat ini Baek.” Kyungsoo menunjukkan sebuah selebaran tepat di depan wajah Baekhyun. Baekhyun terlihat komat-kamit membacanya.

“Lomba pidato bahasa Inggris?” Tanya Baekhyun tak percaya. Kyungsoo mengiyakan.

“Kau harus mengikutinya Baek.” Ucap Kyungsoo yakin.

“Aku? Kenapa?”

“Kau cukup pandai. Jangan karena angka 13 yang menurutmu angka keramat itu kau tidak mau mengikuti lomba-lomba lagi Baek.”

“Tidak! Tidak! Aku tidak ingin terjatuh di lubang yang sama. Aku berhenti saja ikut lomba Kyung. Aku tak mau.” Elak Baekhyun.

“Apa hubungannya lomba ini dengan angka 13 Baek?” Kyungsoo jengah mendengar alasan sepele Baekhyun.

“Bagaimana jika aku bertemu angka 13 itu lagi? Jika aku mendapat no. urut 13 lagi bagaimana? Jika aku kalah…bagai-..” belum sempat Baekhyun selesai berbicara, Kyungsoo memotongnya dengan cepat.

“Baek, itu hanya angka. Tidak mungkin akan berpengaruh pada kalah-tidaknya dirimu kan. Sudahlah ikuti saja perintahku!”

“Tapi..tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian Baek.” Kyungsoo mulai gemas mendengar Baekhyun terus menolak. “Ya.” Lirihnya. Kyungsoo senang mendengar Baekhyun tidak membantahnya lagi.

OooooO

 

Kyungsoo terus menjadi pendengar setia saat Baekhyun sibuk berlatih pidato bahasa Inggris. Ia terus mendengarkan dan mencoba memperbaiki ketika mendengar pronounce Baekhyun salah.

“Well, setidaknya hari ini sudah lumayan Baek. Yang penting kau harus memperlancar cara berbicaramu.” Saran Kyungsoo setelah Baekhyun selesai berlatih.

“Terima kasih Kyungie-ku! Kau yakin aku akan berhasil kali ini?” Baekhyun menatap serius Kyungsoo.

“Bagiku kau tidak pernah gagal Baek.” Baekhyun tersenyum senang mendengarnya. Itulah yang membuatnya senang bersahabat dengan Kyungsoo. Entah kenapa bagi Baekhyun kalimat-kalimat penyemangat Kyungsoo selalu memberikan kesan tersendiri dan membangkitkan semangatnya lagi.

OooooO

 

Benar dugaan Baekhyun kali ini. Ia mendapat no. urut 13 lagi. Uh, menyebalkan! Desisnya. Ia celingak-celinguk menyapukan pandangan ke seluruh barisan bangku penonton. Sebagian bangku telah terisi sekarang. Tetapi saat ini ia tak melihat tanda-tanda sahabatnya-Kyungsoo-datang. Mendadak rasa gelisah menyelimutinya. Lalu ia merogoh saku celananya, mencari benda persegi panjang berlayar sentuh atau lebih tepat disebut i-phone miliknya. Ia menekan tombol call ketika mendapatkan nama Kyungsoo di layar daftar nama di i-phonenya itu.

“Tidak diangkat.” Gumamnya kesal. Tidak lama kemudian ada satu pesan masuk di inboxnya. Dari Kyungie. Bacanya.

Maaf Baek, aku harus menemani adikku ke acara theater sekolahnya. Dan sepertinya jika aku tak menemaninya ia akan menangis mengadu pada ibuku. Tak apa kan aku tak datang? Lagipula kau tidak perlu ditemani seperti adikku kan? Kau tak akan menangis mengadu pada ibumu kan jika aku tak menemanimu? Kkk~ aku bercanda. Sekali lagi aku minta maaf tak bisa hadirL

“Bahkan ia lebih mementingkan theater adiknya.” Gerutunya. Baekhyun mendesah pelan. Benar kata Kyungsoo, untuk apa ia bersedih karena Kyungsoo tak bisa menemaninya saat ini? Lagipula ia bukan anak berumur lima tahun seperti adik Kyungsoo. Baekhyun segera memasukkan handphonenya kembali ke saku celananya ketika mendengar MC mengatakan lomba akan segera mulai.

Aku bahkan telah mendapatkan kesialan pertama sebelum lomba. Pikirnya.

OooooO

 

Baekhyun benci angka 13. Dan kalian tahu bagimana Baekhyun menggambarkan perasaannya saat ini? Tentu saja ia kesal sepanjang hari. Bahkan saat pulang sekolah saja ia terus mengumpat sambil menendang kaleng minuman di sekitar jalanan yang ia temukan (yang hampir saja saat Baekhyun menendangnya mengenai kepala tetangganya). Aku benar-benar benci angka 13! Umpatnya.

“Baek!” seseorang di belakang memanggilnya. Baekhyun tak menghiraukannya, bahkan ia hanya terus berjalan murung (masih dengan mengumpat).

“Yakh Baekhyun!” orang itu sekarang ada di sampingnya sedang terengah-engah sambil berpegangan pada bahu Baekhyun. Pasti orang ini telah berlari menyusulnya saat panggilannya tak dihiraukan. Baekhyun menoleh seketika dan kembali berjalan lagi tak menghiraukan orang itu ketika setelah tahu siapa dia. Orang itu adalah Kyungsoo. Kyungsoo yang merasa aneh kenapa sepanjang hari selama di sekolah dirinya terus diacuhkan oleh Baekhyun tanpa alasan.

“Baek, kau kenapa sih?” Tanya Kyungsoo sambil sedikit berteriak, karena tentu saja jarak Baekhyun yang lebih dulu meninggalkannya lebih jauh.

“Baek!” kini Kyungsoo harus berlari demi mensejajarkan langkahnya dengan si sipit itu.

“Katakan padaku kenapa kau terus mengacuhkanku sepanjang hari!” Baekhyun hanya terdiam dan tak menjawab.

“Jawab aku!” suara Kyungsoo sedikit meninggi.

“Kau tak pernah mengerti diriku Kyung!” Kyungsoo mengernyit heran apa maksud perkataan Baekhyun. Baekhyun yang merasa Kyungsoo tak mengerti, langsung melanjutkan ucapannya.

“Gara-gara angka 13 itu aku kalah lagi dalam lomba itu Kyung! Gara-gara angka itu! Aku mendapatkan no. urut 13 dan sekarang kau lihat kan? Aku tak mendapatkan piala apapun. Sudah kubilang itu angka kesialanku!” dan kini Kyungsoo harus melongo (lagi) mendengar penjelasan sahabatnya itu.

“Dan satu lagi. Aku ikut lomba itu karena siapa? Karena dirimu. Ingat, karena dirimu Kyung! Jika saja kau tak menyuruhku untuk ikut, itu tidak mungkin terjadi!” bahkan kini mata bulat Kyungsoo seperti ingin melompat mendengar Baekhyun menyalahkannya.

“Aku? Kau menyalahkan aku atas kekalahanmu?” Tanya Kyungsoo tak percaya. Baekhyun hanya diam setelah mengatur nafasnya selesai marah-marah.

Kyungsoo tersenyum sinis, “Aku tak pernah menyangka kau sejahat itu padaku Baek. Kau anggap persahabatan kita ini apa hah? Sudahlah kalau begitu salahkan saja aku!” Baekhyun yang tak percaya Kyungsoo saat ini sedang membentaknya merubah raut wajahnya menjadi menyesal.

“Kyungie…” lirihnya.

“Sudah! Ini memang salahku! Anggap saja begitu! Kau tidak perlu memaafkanku! Bahkan aku tidak tahu apakah aku sudi meminta maaf padamu! Mulai saat ini anggap kita tak pernah kenal lagi. Aku menyesal berteman denganmu Baek! Aku kecewa padamu.” Bingo! Tiga kata di kalimat terakhir benar-benar menohok Baekhyun, dan kini rasa bersalahnya bertambah.

“Kyung!”

“Kyung! Aku mohon, maafkan aku!” bahkan mungkin saking kesalnya Kyungsoo, ia tak menghiraukan teriakan-teriakan Baekhyun.

Oh, naas sekali melihat dua orang sahabat ini-Baekhyun dan Kyungsoo-bertengkar hanya karena masalah sebuah angka yang Baekhyun benci. Ti-ga-be-las. Baekhyun terus berlari berusaha menyusul Kyungsoo tapi sejenak kemudian ia berhenti karena mendengar suara petir menggelegar dan bahkan sebelum ia mengambil payung di tasnya, hujan telah turun dengan deras. Baekhyun menghela napas. Kapan terakhir kali Kyungsoo marah? Pikirnya. Oh, bahkan saat ini ia baru teringat jika selama bersahabat dengannya Kyungsoo tak pernah semarah itu padanya. Baekhyun sampai-sampai berpikiran buruk, sampai kapankah Kyungsoo marah padaku? Bagaimana jika selamanya? Apa yang harus kulakukan untuk minta maaf? Dan saat ini Baekhyun hanya bisa berharap kemarahan Kyungsoo hanya bertahan satu hari dan keesokan harinya sudah kembali memaafkannya. Ya, Baekhyun hanya bisa berharap seperti itu.

OooooO

 

Baekhyun benci angka 13. Ti-ga-be-las. Oh, haruskah kita menambahkan kata benar-benar di kalimat tadi untuk menggambarkan seberapa besar kekesalannya? Baekhyun (benar-benar) benci angka 13. Itulah suasana hati Baekhyun saat ini. Ia terus menyalahkan angka 13 yang dianggapnya sial itu.

Kalian tahu kenapa? Eum, sejak tadi Kyungsoo tak terlihat batang hidungnya, bahkan sampai jam pelajaran pertama berlangsung tak terlihat tanda-tanda kehadirannya. Baekhyun menghela napas kasar, “Sebegitu marahnya kah Kyungie padaku?” gumamnya.

Dan sekarang sudah hari ketiga Kyungsoo tak menampakkan dirinya setelah kejadian pertengkaran (hebat) mereka. Baekhyun melihat kalender di kelasnya. Oh astaga, haruskah Baekhyun kembali menyalahkan angka kesialannya itu lagi? Karena ia baru menyadari bahwa pertengkaran mereka terjadi di tanggal 13. Uh, bahkan kalimat ‘Baekhyun (benar-benar) benci angka 13’ tak bisa menggambarkan besar kebenciannya pada angka itu.

Well, Baek kau harus berhenti menyalahkan angka 13.

OooooO

 

Baekhyun (benar-benar) benci angka 13. Semenjak lima hari setelah pertengkarannya dengan Kyungsoo (di tanggal 13 itu), Kyungsoo benar-benar tak terlihat hadir di sekolah. Bahkan saat ini Baekhyun berpikiran aneh-aneh, ‘bagaimana jika Kyungie pindah sekolah karenaku?’. Saat itu juga, ia memantapkan hatinya untuk pergi ke rumah Kyungsoo terlebih dahulu sebelum pulang ke rumahnya.

Dan siang itu, Baekhyun langsung melesat menuju rumah sahabatnya, Kyungsoo. Kini ia tak yakin apakah Kyungsoo masih menganggapnya sahabat.

Ia mengetuk pintu rumah Kyungsoo satu kali…..dua kali….bahkan ketiga kalinya tak terdengar sahutan. Lalu ia kembali mencoba lagi.

“Pemilik rumah itu sedang tak ada di rumah.”

“Eh?” Baekhyun terkejut ketika mendengar ada suara di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati seorang lelaki yang sebaya dengannya. Dan karena sepertinya ia pernah bertemu dengannya, ia mencoba mengingatnya. Dan saat itu juga, Baekhyun baru menyadari bahwa laki-laki itu adalah teman kelasnya. Oh astaga ia lupa bahwa itu adalah Oh Sehun!

“Kubilang Kyungsoo tak ada di rumah. Kudengar lima hari yang lalu, dirinya masuk ke rumah sakit.” Jelasnya datar. Tentu saja seketika itu Baekhyun membulatkan mata (walau tidak bisa sebulat mata Kyungsoo) karena terkejut dengan apa yang di dengarnya. Apa?! Sehun mengatakan Kyungsoo masuk…rumah sakit?!

“Benarkah? Katakan padaku! Dimana? Apakah rumah sakit itu dekat dari sini? Atau jauh? Bagaimana caraku kesana? Katakan! Katakan!”

Uh, bahkan sekarang Sehun hanya bisa memijit keningnya mendengar pertanyaan bertubi-tubi Baekhyun ditambah suaranya yang bisa membuatnya tuli saat ini!

“Aku tidak tahu! Cari saja rumah sakit terdekat dari sini! Tidak bisakah dirimu tenang sa-…” dan kini sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun telah berlari meninggalkannya. Ia benar-benar mencari rumah sakit terdekat dari kompleks rumah Kyungsoo itu!

OooooO

 

Dan disinilah Baekhyun dengan napas tersenggal-senggal. Tentu saja ia saat ini berada di depan pintu kamar Kyungsoo di rawat inap. Dan soal dirinya yang sedang terengah-engah? Oh bahkan kita melupakan satu fakta tadi. Baekhyun-berlari-menuju-rumah-sakit-ini-yang-bahkan-ia-sendiri-tak-yakin-jaraknya-bisa-dibilang-dekat-dengan-kompleks-perumahan-Kyungsoo-tadi! Entah karena betapa panik dirinya ketika mendengar Kyungsoo masuk rumah sakit atau…..saking bodohnya dirinya.

Cklek!

Kyungsoo yang mendengar suara pintu kamarnya terbuka, menatap menyelidik pintu tersebut. Oh, lebih tepatnya menatap menyelidik orang di balik daun pintu itu. Ia mendapati Baekhyun membuka pintu itu dengan kepala tertunduk.

“Baek?” panggilnya. Dan saat itu juga Baekhyun mendongak dengan raut wajah yang tak bisa didefinisikan. Sedih? Kecewa? Mungkin.

“Kyung, kau masih marah padaku?” tak ada jawaban dari Kyungsoo. Melihat Kyungsoo yang terus mengacuhkannya membuat rasa bersalahnya semakin bertambah.

“Kumohon…maafkan…aku…aku tahu diriku egois, aku tahu diriku jahat, aku tahu diriku benar-benar bersalah padamu, aku tahu kau pasti marah saat itu, aku tahu diriku bukan sahabat yang baik, dan aku tahu…aku tahu…eh, aku tidak tahu lagi….” Kyungsoo yang mendengar pernyataan maaf Baekhyun (yang terdengar konyol) akhirnya melunak dan mendekati Baekhyun. Bukan! Bukan karena pernyataan maaf Baekhyun. Lebih tepatnya saat mendengar Baekhyun meminta maaf. Kyungsoo mendengar suaranya yang bergetar, menandakan Baekhyun tidak lama kemudian akan menangis. Dan benar saja, Kyungsoo melihat mata Baekhyun sedang berkaca-kaca.

“Baek, jangan menangis. Aku sudah memaafkanmu kok.” Ujar Kyungsoo menghiburnya.

“Benarkah?” Tanya Baekhyun tak percaya. Kyungsoo mengangguk. Seketika Baekhyun langsung memeluk erat Kyungsoo.

“Baek..a-aku tidak bisa bernapas…” dan Baekhyun langsung melepaskan pelukannya dan menatap khawatir sahabatnya itu.

“Maaf! Maaf. Aku terbawa suasana. Kau tak apa kan Kyungie?” Kyungsoo hanya mengangguk.

“Oh iya aku sampai lupa menanyakannya! Kenapa bisa kau di rumah sakit ini Kyung?”

“Aku alergi hujan.” Jawab Kyungsoo enteng.

“Hah?!”  pekik Baekhyun.

Kyungsoo jengah melihat ekspresi terkejut Baekhyun, “Saat itu, aku tidak tahu jika akan terjadi hujan. Biasanya kan aku numpang di scooter-mu Baek. Aku berlari pulang ke rumah karena saat itu kulihat halte sepi. Dan jadilah keesokan harinya badanku panas tinggi. Dan biasanya aku baru sembuh setelah seminggu.” Jelas Kyungsoo.

Benar juga! Biasanya Kyungsoo pulang diantar Baekhyun dengan scooter-nya. Dan saat itu Baekhyun memang tak membawa scooter, tapi ia selalu sedia payung dalam tasnya sehingga saat itu ia tak kehujanan. Baekhyun bahkan baru tahu sekarang jika ada penyakit alergi hujan. Apa iya ada orang alergi hujan? Pikirnya. Baekhyun hanya mengangguk-ngangguk. Sesaat ia melupakan pikirannya tentang alergi hujan Kyungsoo dan teringat sesuatu.

“Kyung, kumohon saat ini saja. Jangan pernah maafkan aku jika aku tak bisa memenangkannya.” Kyungsoo bingung mendengar perkataan Baekhyun.

“Maksudmu kau ingin ikut lomba lagi?”

“Yap!” jawab Baekhyun dibarengi anggukan mantap.

“Memangnya lomba apa?”

“Kau baru akan aku beri tahu jika aku memenangkannya. Aku pulang dulu! Byeee Kyungie!” Kyungsoo hanya menatap heran kepergian Baekhyun.

Ia tak ingin memberitahuku. Oh, bahkan saat ini Baekhyun telah pandai bermain rahasia-rahasia rupanya. Pikir Kyungsoo.

OooooO

 

Baekhyun (benar-benar) benci angka 13. Oh, bahkan haruskah kita mengganti kata yang tercoret di kalimat tersebut dan menggantinya menjadi ‘Baekhyun mencintai angka 13’? bahkan Baekhyun mengklaim angka 13 adalah miliknya karena angka 13 itu menyimbolkan huruf B yang merupakan inisial namanya. Sedikit gila kedengarannya, tapi itulah yang dirasakan Baekhyun saat ini. Ia benar-benar mencintai angka 13 saat ini dan membuang pikirannya tentang 13 adalah angka sial. Kalian tahu kenapa? Baekhyun mendengar tentang lomba cerpen yang akan diadakan dalam waktu dekat ini. Entah keberanian dari mana, Baekhyun ingin mengikuti lomba itu. Bukan tanpa alasan rupanya, ia ingin Kyungsoo benar-benar memaafkannya. Aku ingin membuatnya bangga. Aku ingin membuktikan bahwa ia benar, angka 13 tak akan mempengaruhiku. Pikirnya. Dan yeahh, karena keyakinannya itu…Baekhyun berhasil meraih juara tiga. Walau hanya juara tiga, Baekhyun telah merasa bahagia sekaligus menyesali pikirannya tentang angka sial itu. Nyatanya ia mendapatkan no. urut 13 lagi, tapi kalian lihat kan? Bahkan saat ini ia mendapat juara tiga dan bukan kalah.

“Aku bahkan baru tahu kau suka mengarang cerita Baek.” Ujar Kyungsoo setelah melihat piala dan piagam Baekhyun yang diperlihatkan kepadanya.

“Aku juga bahkan baru tahu.” Jawab Baekhyun sambil mengendikkan bahu.

“Yang jelas aku sudah memaafkanmu, dan aku bangga padamu Baek.” Seketika itu keceriaan Baekhyun bertambah saat mendengarnya.

“Ayo kutraktir es krim!” Katanya sambil mengamit cepat lengan Kyungsoo setelah mengembalikan piala dan piagamnya ke lemari di ruang tamunya itu. Kyungsoo hanya terheran melihat Baekhyun. Kapan terakhir kali ia mentraktir? Gumamnya. Oh, bahkan Kyungsoo baru ingat Baekhyun pernah mengatakan ingin mentraktir es krim, dan pada akhirnya mau tak mau Kyungsoo yang harus membayarnya karena saat itu Baekhyun yang terburu-buru melupakan dompetnya.

Setidaknya ia sudah kembali ceria saat ini. Batin Kyungsoo.

OooooO

 

“Ada apa Baek?” Tanya Kyungsoo sedikit terkejut melihat Baekhyun. Tentu saja ia terkejut melihat Baekhyun yang tiba-tiba datang ke rumahnya, mengetuk pintu terburu-buru, bahkan sekarang langsung membuka pintu tanpa dipesilahkan.

“Ahhh menyebalkan!!!!” umpat Baekhyun. Dan kini Kyungsoo semakin heran dengan Baekhyun yang datang-datang langsung mengumpat.

“Aku dikalahkan oleh tiang basket itu Kyung! Chanyeol! Park Chanyeol! Dia mengalahkanku lagi di game sialan itu! Bahkan skornya saat ini lebih parah! 60-3! Huahhhh!!!” Kyungsoo hanya memijit keningnya mendengar penjelasan Baekhyun. Ia tahu bagaimana perilaku Baekhyun jika sudah dikalahkan Chanyeol dalam game. Pasti ia akan menginap lagi di rumahku, mengganggu tidurku, dan mau tidak mau aku harus menenangkannya semalaman. Pikir Kyungsoo. Well, Kyungsoo harus merelakan (lagi) mata besarnya itu menjadi mata panda dan…oh tidak bahkan Kyungsoo baru ingat jika besok akan ada ulangan kimia!

Yeahh, bahkan ini lebih buruk dari masalah angka 13!

THE END

Apa ini?

Ahhh bahkan aku juga tidak tahu.-.

Yang jelas aku gak tahu ide absurd ini muncul darimana, intinya aku langsung buat FF ini tanpa pikir panjang. Dan jujur FF ini belum aku edit karena buru-buru aku posting jadi aku benar-benar minta maaf jika ada kesalahan ketik.

Gimana???gimana? menurut kalian bagaimana FF ini? Menarik kah? Garingkah? Pasti gak lucu-__- jujur aku gak bisa bikin cerita comedy. Aku memang gak bakat di genre yang satu ini. Aku memang suka ketawa, tapi gak bisa bikin orang lain ketawa😀 and last, seperti biasa aku harap kalian mau comment. Kalau bisa kalian berikan pendapat bagaimana ini FF, apa kekurangannya, bagian mana yang harus aku tambahi, dll. Pokoknya comment! Terserah comment apa! Ingat don’t be silent readers!

17 thoughts on “13th [freelance]

  1. huahahahahaha aku ngakak bacanya,😄 lucu bgt, tulisanny jg keren ni salah stu ff yg bkin aku gk brenti baca smpe abis, keep writing thor..d tunggu karyamu selanjutnya😀

  2. Haha lucu banget sih. Ga kebayang Baekhyun bisa kekanakan gitu cuma karena angka 😄
    Yampun bang Dio tabah banget ya lunya sahabat begitu haha.
    Bagus ceritanya. Bikin terhibur, apalagi endingnya. Tiang basket?? Hahaha.

  3. kkk~ kebayang gak sih matanya kyungsoo yng udh bulat itu punya kantung mata :v
    persahabatan mereka sweet bangettt<3
    wkwkw..kyungsoo temannya baek apa eommanya? masa' setiap dikalain sm chanyeol harus ditenangin semalaman sama kyung xD

    yeyeye~~ pokoknya FF nya bagus!!Daebakkk!!🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s