Posted in Chan Yeol, exofanworldfreelance, Fanfiction, Freelance, One Shoot, Oneshot, Romance

Candy [freelance]

Gambar

Title : Candy

Author : tetozly

Cast : Park Chanyeol, Jung Eunbi (OC)

Genre : Romance

Lenght : Oneshot

 

Desclaimer : Thanks buat sahabat-sahabatku yang gokil abis. Dan thanks udah ngesuport aku. Ini ff oneshot pertamaku. Jadi mohon di maafkan jika ada kesalahan. Entah alurnya kecepetan atau bahasanya yang ga sesuai. Ini murni dari imajinasiku. Don’t plagiarism! No Siders!

 

-CANDY-

 

 

Satu kata yang memiliki banyak rasa. Dimulai dari Sweet Candy, terkesan hangat, lembut, romantic, tidak tergesa-gesa. Tetapi, tidak semua Sweet Candy akan selamanya menjadi Sweet. Terkadang ia bisa menjadi Hot Candy saat ia marah. Bahkan Hot Candy dapat menghancurkan Bubble Gum yang sangat dekat dengan Marshmallow. Tetapi, Bubble Gum tetaplah Bubble Gum yang sangat lengket kepada semua. Bubble Gum memiliki saudara kembar bernama Chewing Gum. Kedua nya sangat asyik. Mereka bahkan berbagai bentuk. Entah itu Bulat, kotak, persegi, kubus, dan lain sebagainya.

 

Jelly Bean, bentuk yang simple mudah di bawa kemanapun oleh para pecinta permen di dunia. Mungkin para pecinta Permen di dunia memiliki jenis permen ini di dalam tas atau bahkan saku nya. Lolipop, siapa yang tidak mengenal Lolipop? Bulat bertangkai dengan warnanya yang sangat menarik. Bahkan sekarang ini Lolipop berbagai bentuk. Siapa yang tidak menyukai Lolipop. Pastinya ada yang tidak menyukai Lolipop. Sweet Candy membenci Lollipop.

 

Aku -Jung Eunbi-, aku adalah sosok pecinta permen tetapi di sisi lain aku sangat membenci Lolipop. Bukankah Lolipop juga merupakan bagian dari permen? Aku lebih menyukai Sweet Candy. Aku merupakan seorang pelayan sekaligus pemilik dari toko permen bernuansa Romantis ini. Tidak heran jika banyak sepasang kekasih saling menyatakan perasaannya.

 

“Selamat datang di Candace’s Shop.”

 

Apakah kalian bertanya-tanya mengapa toko ini diberi nama Candace’s Shop? Candace adalah English Name ku. Saat aku tinggal di London, keluargaku memanggil namaku dengan sebutan Candace. Karena nama itu cukup menarik untuk di jadikan nama sebuah toko permen, maka aku memberikan nama itu pada toko permenku.

 

“Apakah kau menjual jenis permen Lollipop? Aku sangat menyukainya.” Tanya seorang pembeli yang kuduga ia merupakan pembeli baru.

 

“Ya, kami menjual hampir semua jenis permen tuan.” Aku memberikan satu tangkai Lollipop yang diinginkan membeli ini.

 

“Apakah toko ini baru buka?” Tanya Pria bertubuh tinggi semampai ini yang ku akui cukup tampan.

 

“Tidak, toko ini telah berjalan selama kurang lebih satu tahun tuan.” Jawabku dengan sopan. Beginilah caraku mempelakukan seorang pelanggan.

 

“Ah, begitu rupanya. Pantas, kota ini banyak berubah setelah kepergianku.” Ucap pria itu.

 

“Apakah kau ingin membeli permen yang lain? Saya menyarankan untuk mencoba produk terbaru kami. Permen ini bernama Jhenk’s Candy. Saat kau memakannya permen ini akan membangkitkan semangat anda. Rasanya tidak terlalu manis dan tidak terlalu tawar. Permen ini dengan bimbingan dokter. Aman untuk anak-anak. Tidak merusak gigi saat anda memakannya. Jika berminat anda bisa membelinya disini.” Jelasku mempromosikan. Ayahku adalah seorang Dokter ia menjadi Dokter di Rumah Sakit milik keluarga kami. Mengapa kami memiliki rumah sakit? Karena hampir seluruh dari anggota keluargaku adalah seorang dokter. Sebelumnya aku telah memberitahu bahwa Ayahku adalah seorang dokter bukan? Ibuku adalah seorang Dokter Gigi sedangkan Kakak laki-lakiku juga seorang Dokter Umum. Tak heran bukan mengapa kami memiliki sebuah Rumah sakit?

 

“Bolehkah aku membelinya? Kebetulan adikku sedang patah hati mungkin, permen ini bisa membangkitkan semangatnya.”

 

“Tentu saja anda boleh membelinya.” Balasku sambil mengambilkan pesanannya.

 

Apakah kalian bertanya-tanya mengapa semua keluargaku adalah seorang dokter sedangkan aku tidak? Sebenarnya Ayahku telah menyuruhku untuk menjadi dokter. Tetapi ia tidak meyakiniku sebagai seorang dokter, karena sifatku yang pelupa. Bagaimana nanti jika aku melupakan resep saat sedang melayani seorang pasien yang sekarat. Aku juga sangat meyukai permen. Siapa yang tidak tahu jika permen itu tidak sehat. Maka dari itu, keluargaku membukakan toko permen untukku. Tetapi semua permen di sini dibawah saran Keluargaku. Bisa dibilang ini ‘cukup’ sehat untuk pecinta permen sepertiku.

 

“Terimakasih, aku akan sering datang kemari untuk membelikan permen. Kulihat permen-permen disini cukup menarik.” Ucap pria tinggi itu.

 

“Silahkan kembali kapanpun kau mau tuan. Terimakasih telah membeli produk kami.” Ucapku membungkukkan badan. Pria itu mengangguk sebagai pertanda jawaban ‘iya’ kemudian pergi meninggalkan toko ini.

 

-CANDY-

 

Hari ini cukup melelahkan. Tidak biasanya para pembeli lebih memilih memakan permennya disini sambil berdiskusi dengan temannya. Memang biasanya banyak orang yang lebih memilih memakan permennya disini tetapi, tidak sedikit pula orang yang membawa permennya untuk dibawa pulang atau bahkan untuk hadiah.

 

Saat ini aku sedang membereskan tokoku. Tetapi, aku menemukan barang aneh di atas meja kasir. Aku mendekat menuju meja kasir. Dompet milik pelanggan yang tertinggal. Hal seperti ini sudah biasa terjadi. Itu artinya pekerjaanku belum selesai. Aku harus mengembalikan dompet ini kepada pemiliknya. Kubuka dompetnya untuk melihat data diri yang tertera pada Kartu Pelajar nya.

 

Park Chanyeol.

 

Nama yang unik. Aku harus mengembalikan dompet ini segera. Sudah hampir larut malam. Terkadang pembeli ada yang merepotkan. Kalian tahu, aku pernah hampir saja terluka oleh pembeli. Perlu ku ceritakan? Baiklah. Saat itu aku sedang melayani pembeli yang sedang mabuk. Bukankah itu cukup gila. Aku membenci pria pemabuk. Pemabuk tidak mengenal waktu. Di pagi hari pun ia bisa saja mabuk. Aku tidak mengerti dengan pria pemabuk itu. Ia terus saja meracaukan nama orang yang tidakku kenal. Bisaku tebak itu adalah nama wanita. Mungkin, ia sedang patah hati. Tetapi, bukan begitu caranya mengatasi rasa sakit hati.

 

Tiba-tiba ia memelukku. Gila bukan? Lebih gilanya lagi ia berkata,

“Shim Chanmi, aku akan membunuhmu.”

Bukankan ia salah orang? Sudah jelas namaku Jung Eunbi. Parahnya benda tajam melekat pada tangan pria ini. Dia bisa saja membunuhku. Aku terus bersabar menghadapi pria tidak waras ini. Beruntung, saat itu Jeremy –kakak ku- datang menolongku. Saat itu ia sedang membawa kekasihnya. Mereka syok berat saat melihat benda tajam berada di depan wajahku. Tanpa basa-basi, ia menarik pria itu dan menghajarnya. Akhirnya, pria itu pergi dalam keadaan babak belur.

 

Soal kakak ku, namanya Jeremy. ia tidak memiliki Korean name. Because, he was born in England. So, he’s not Korean. Saat kakak ku berumur 5 tahun, mereka pindah ke Korea. Disinilah aku lahir. Aku besar disini. Hingga aku berumur 13 tahun, kakak ku kembali ke London untuk melanjutkan sekolah kedokterannya. Tapi, saat ini kakak ku telah memiliki Korean name. Apakah kalian ingin tahu? Namanya Jung Taewoo. Aku tidak terbiasa memanggilnya Taewoo. Menurutku, Jeremy saja cukup. Dia juga memanggilku Candace.

 

Aku berjalan menelusuri jalan raya yang bisa dibilang cukup luas untuk pejalan kaki sepertiku. Hingga akhirnya, aku menemukan tempat tinggal si pemilik dompet ini. Cukup luas. Tanpa basa-basi, aku menekan bel yang berada tepat di depanku. Aku menunggu reaksi dari sang pemilik rumah. Tidak ada tanda-tanda akan terbuka. Mungkin, sang pemilik telah beristirahat.

 

Pintu gerbang yang kutunggu akhirnya terbuka. Pria. Tentu saja pria. Pria ini tinggi sekali. Aku baru menyadarinya. Kulitnya putih seperti kapas. Hanya dengan melihatnya saja aku bisa merasakan kulitnya. Tampan. Untuk kali ini aku menyadarinya.

 

“Ekhm,” Suara dehaman pria tinggi ini membuyarkan khayalanku.

 

“Maaf, anda mencari siapa no-na?” Tanya pria ini. Ayolah, suaranya saja sudah membuatku terpesona.

 

“Ah, aku mencari Park Chan– “

 

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Balasnya cepat.

 

“Y-ya, aku dari Candace’s Shop.”

 

“Ah, pantas. Jadi, ada apa kau mencariku nona Jung-Eun-Bi?” Ucapnya sambil mengeja namaku yang tertera pada name tag yang kupakai.

 

“Aku ingin mengembalikan dompetmu yang tertinggal di toko-ku. Kau pasti sangat membutuhkannya.”

 

“Dompet? Sepertinya aku membawanya tadi.”

 

“Kau bisa melihatnya terlebih dahulu.” Aku menyodorkan barang yang menjadi topik utama pembicaraan kami saat ini.

 

“Benar, ini milik ku. Bagaimana aku bisa meninggalkannya. Aku ini ceroboh sekali. Beruntung, dompet ini tidak jatuh pada tangan yang salah. Terimakasih banyak Jung Eunbi.”

 

“Tidak masalah. Sebaiknya, aku harus pulang sudah hampir larut malam. Kalau begitu, permisi.” Balasku berpamitan. Mengapa dadaku berdetak lebih cepat.

 

“Bolehkah,” Langkahku terhenti.

 

“–aku mengantarmu.” Apa ini. Ia semakin membuatku gugup.

 

“Tidak usah. Itu akan sangat meropotkanmu.”

 

“Izinkan aku. Aku hanya ingin mengantarmu. Aku tidak akan melakukan apapun.” Aku harus menjawab apa.

 

“Percayalah, aku ini pria baik-baik.”

 

Apa yang akan kalian katakan saat kalian berada di posisiku? Menolak ajakan pria yang baru kalian kenal. Atau bahkan menerima pria yang kau sukai. Jujur, aku menyukainya. Ayolah, siapa yang tidak menyukai pria tinggi dan tampan. Bahkan ia sangat baik.

 

“Kumohon…”

 

“Apakah tidak merepotkan. Kita bahkan baru bertemu. Aku bisa pulang sendiri. Langipula aku-“

 

“Aku yang meminta. Jadi, tentu saja tidak merepotkan.”

 

“Kalau begitu, b-baiklah.” Balasku sambil menundukkan kepalaku. Aku tidak kuat dengan semua yang ada pada dirinya. Dan, disinilah aku. Berada dalam satu mobil, dan satu udara. Suasana yang sangat canggung. Kalian tahu, kami baru bertemu sebanyak dua kali. Kegiatanku hanya memandang ke luar jendela sambil sesekali meliriknya. Sudah berapa kali ku katakan, ia sangat tampan. Aku ingin meliriknya. Sekali lagi. Bolehkah? Perlahan tapi pasti. Aku meliriknya. Dan, oh no! Ia tertangkap basah! Ia melakukan kegiatan yang sama dengan ku! Pandangan kami bertemu. Cukup lama. Ia tersenyum. Manis. Sekali. Aku tidak tahan. Ayolah, mulai pembicaraan. Tiba-tiba saja, aku ingin sekali berbicara dengannya.

 

“Aku,” Yey! Dia memulai pembicaraan!

 

“Mencintaimu.” Apa?! Pembicaraan jenis apa ini. Itu tidak ada dalam kamusku. Aku membutuhkan bantuan saat ini. Itu pembicaraan, pernyataan, atau pertanyaan. Dia sangat ahli dalam membuatku tidak bisa menjawab. Bantu aku. Aku membutuhkan bantuan. Jeremy, tolong aku.

 

“N-ne?” Sial, Itu bukan jawaban yang ingin ku keluarkan.

 

“Aku tahu, kau pasti bingung dengan –eerr pernyataanku barusan. Tapi, aku memang mencintaimu sejak,” Sejak? Memangnya kapan aku pernah bertemu dengannya selain saat ini dan saat di… tunggu.

 

“–sejak aku bertemu denganmu di tokomu. Apa kau mengingatku? Aku membeli permen Lollipop tadi. Aku senang melihatmu melayani pelanggan dengan senyumanmu yang manis itu. Dan, tak ada satupun pembeli yang meninggalkan tokomu dengan raut wajah yang kecewa. Mungkin itu bukan alasan yang masuk akal tapi, percayalah aku mencintaimu. Aku tidak membutuhkan jawabanmu, karena aku yakin kau pasti akan menolakku.”

 

“Tidak, darimana kau tahu bahwa aku akan menolakmu.” Jawabku pada akhirnya. Jujur saja aku menyukai pria ini. Dan siapa sangka bahwa ia juga menyukaiku. Wanita mana yang akan menolak pria setampan dan sebaik dia.

 

“Maksudmu, kau…” Ia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan yang sangat sepi ini. Dan bertanyanya dengan hati-hati sambil memastikan jawaban yang kulontarkan untuknya. Aku mengangguk sebagai jawaban ‘iya’.

 

“Jadi, sekarang kau dan aku…” Balasnya. Bisa kupastikan wajahku saat ini merah padam hanya karena balasan dari pria yang sejak beberapa detik lalu telah berstatus sebagai –ekhm kekasihku.

 

“Bolehkah aku memelukmu?” Memeluk? Tentu saja boleh kau kan kekasihku. Ingin sekali aku menjawab kata-kata itu. Sayangnya, rasa tidak percaya yang ada pada diriku terhadap kata-kata itu lebih besar. Seperti biasa, aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban ‘iya’. Dan benar saja, pria ini langsung memelukku. Hangat, aman, dan nyaman. Disaat cuaca dingin seperti sekarang, apakah ini yang dirasakan oleh sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan lebih dulu daripada aku? Aku ingin lebih lama berada di posisi ini.

 

Aku melepaskan pelukan ini dengan amat teramat terpaksa. Walaupun pelukan ini telah usai, aku masih merasakan perasaan ini. Hangat. Itulah yang masih tak kunjung hilang. Ia kembali melajukan mobilnya yang tadi sempat terhenti.

 

-CANDY-

 

Cahaya matahari yang menusuk dimataku. Entah bagaimana caranya masuk, ia sukses membuatku membuka mata. Aku sangat mengenali dimana aku berada saat ini. Tentu saja. Tempat ini adalah kamar tidurku. Tempat yan– tunggu. Kamar? Bukankah semalam aku berada di dalam mobil –ekhm kekasihku? Apa ia yang membawaku kedalam sini? Akhh sial, aku tertidur saat di mobil. Tetapi bagaimana bisa ia mengetahui rumahku? Bukankah ia belum pernah mengunjungi rumahku sebelumnya? Apakah ia menguntitku selama ini? Akh, Park Chanyeol. Kau membuatku bingung.

 

Aku memutuskan keluar dari kamar untuk mengisi pasokan makanan. Perutku sudah sangat lapar. Beruntung di atas meja makan telah tersedia makanan yang begitu banyak. Hanya ada Jeremy disana. Mungkin Ibu dan Ayahku telah pergi ke Rumah Sakit.

 

“Hey, cepat kesini. Sebelum kuhabiskan semua makanan yang ada disini.” Ucap Jeremy. Tanpa basa-basi ke ambil sepiring nasi serta lauknya. Aku teringat sesuatu. Aku ingin menanyakan bagaimana caranya aku sampai dirumah semalam.

 

“Ak–“

 

“Semalam mengapa kau bisa tertidur ditoko?” Tanya Jeremy memotong pertanyaan yang tadinya ingin kutanyakan. Tertidur? Toko?

 

“Aku berkunjung ketokomu semalam. Aku melihatmu tertidur diatas meja. Dan– ” Jadi semalam aku tertidur? Lalu, bagaimana dengan pria yang bernama Park Chanyeol itu?

 

“–anehnya kau meracaukan nama seorang pria. Kalau tidak salah Park Chanyeol. Apa ia kekasihmu?” Aku tidak menjawab pertanyaan Jeremy. Aku masih berusaha mengingat bagaimana bisa aku tertidur di toko sedangkan aku berada di dalam mobil milik pria yang bernama Park Chanyeol? Jika itu mimpi, semua perasaan, tindakan, perlakuan, serta pelukan itu hanya mimpi?

 

“Aku melihat kau sudah dalam keadaan berselimut. Kupikir, kau sengaja tidur di toko untuk beristirahat sejenak. Karena saat itu sudah sangat larut jadi, aku memutuskan membawamu pulang.” Selimut? Aku tidak pernah membawa selimut ketoko. Jadi rasa hangat yang ada semalam itu berkat selimut?

 

“Apa kau membawa selimut itu?” Tanyaku memastikan.

 

“Sayang sekali, aku lupa membawa selimut itu. Aku tinggalkan di toko. Kukira, itu memang barang milik toko.”

 

“Bisakah kau mengantarku ketoko sekarang? Aku ingin memastikan bahwa itu adalah selimutku. Karena aku tidak ingat sama sekali tentang kejadian semalam.

 

-CANDY-

 

Aku menemukan selimut itu. Jeremy. Kau ini bodoh atau apa? Sudah jelas bahwa ini adalah jaket bukan selimut. Siapa pemilik dari Jaket ini? Mengapa ia berkunjung ketokoku semalam? Dan menyelimutiku dengan Jaket ini. Apakah jaket ini memiliki name tag? Aku mencari name tag yang berada pada jaket ini dan benar saja, jaket ini memiliki nam tag.

 

Park Chanyeol.

 

Pria ini. Jadi, Pria yang bernama Park Chanyeol itu benar-benar ada? Tetapi, untuk apa ia mendatangi tokoku? Kukira pria itu hanya sebatas mimpi. Pria yang memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aneh. Aku bingung dengan semua ini.

 

“Maaf, sekarang ini toko kami sedang tutup. Mohon data–“ Aku mengucakan beberapa patah kata setelah mendengar bunyi bell tanda pelanggan datang.

 

“Aku Chanyeol.” Chanyeol? Park Chanyeol?

 

“Aku kesini untuk mengambil benda yang berada di tanganmu saat ini.” Benda? Ah, Jaket ini. Jika semalam benar-benar mimpi, mengapa semua itu terasa nyata?

 

“A-aku kembalikan jaket ini tetapi, bolehkan aku bertanya suatu hal?”

 

“Silakan tanyakan saja padaku. Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?

 

“Sebelumnya, silakan duduk terlebih dahulu.” Ucapku mempersilakan.

 

“Semalam, bagaimana bisa kau datang ketokoku dan menyelimutiku dengan jaket milikmu?” Tanyaku pada akhirnya.

 

“Ah, semalam kebetulan aku ingin membeli permen ditoko permen milikmu, dan aku melihatmu sedang tertidur. Kurasa toko itu tutup. Tetapi tulisan yang tertera adalah ‘Open’. Mungkin kau lupa mengganti tulisan ‘Open’ enjadi ‘Close’. Aku memutuskan untuk kembali kerumah. Tetapi, aku tidak tega melihat seorang wanita yang tertidur pada saat cuaca dingin seperti ini. Jadi, aku memutuskan untuk masuk kedalam tokomu. Dan menyelimutimu dengan Jaket ini.”

 

“Ah, seperti itu rupanya. Tetapi, aku bermimpi aku berjalan menuju rumahmu dengan melihat alamat yang tertera pada Kartu Pelajarmu untuk mengembalikan dompetmu yang tertinggal.”

 

“Soal dompet. Aku melihatnya sebelum aku menyelimutimu. Dompet itu terletak di atas meja kasir. Kulihat itu mirip seperti milikku. Jadi, aku melihat dompet itu dan benar saja. Dompet itu adalah milikku. Jadi, aku berkata padamu bahwa aku Park Chanyeol ingin mengambil dompetku yang tertinggal.” Jelas sudah, semua itu hanya mimpi.

 

“Hahaha. Syukurlah. Jadi semua itu hanya mimpi. Aku sangat berterimakasih padamu Park Chanyeol. Telah berbaik hati menyelimutiku. Soal mimpi. Aku bermimpi bahwa kau menyatakan cintamu padaku. Itu sangat mustahil bukan? Saat itu, kita bahkan baru bertemu sebanyak dua kali sepertinya. Mimpiku itu benar-benar konyol.”

 

“Soal itu, temui aku pukul tujuh malam ini ditaman dekat sini. Ada yang ingin kukatakan.” Ucapnya berubah serius.

 

“B-baiklah.” Mengapa ia berubah jadi sangat misterius. Entahlah, yang penting aku sudah mendapatkan jawaban atas semua ini.

 

-CANDY-

 

Aku berjalan ditengah sinar bulan yang menerangi jalanan yang gelap. Sinar bulan sangat dibutuhkan. Terutama bagiku yang sedang berjalan menuju taman untuk menepati suatu ‘janji’ yang kusepakati beberapa jam yang lalu. Berkat sinar bulan dan lampu penerang jalan, aku sampai disini. Taman yang geap dan sepi pengunjung. Bukankah ia mengatakan pukul tujuh malam ini ditaman dekat tokoku? Mengapa taman ini begitu sepi. Jangan bilang ia mengerjaiku. Tidak mungkin ia mengerjaiku.

 

“Maaf aku terlambat.” Bisa kutebak siapa pemilik dari suara ini.

 

“Tak masalah, aku baru saja tiba disini lima menit yang lalu.” Jawabku. Ia langsung menduduki kursi taman yang aku duduki saat ini. Dan posisinya berada di sampingku.

 

“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” Tanyaku to the point.

 

“A-ku ingin menjawab mimpimu yang kau katakan tadi pagi ditokomu.” Ucapnya. Aku diam tak mengerti apa yang dikatakan olehnya.

 

“Kau bilang, bahwa aku menyatakan perasaanku padamu didalam mimpimu bukan? Dan mimpimu itu benar.” Benar? Jadi, ia benar-benar menyatakan cintanya padaku saat aku dalam keadaan tidak sadar?

 

“Apakah dimimpimu aku mengatakan alasan aku mencintaimu karena aku senang melihatmu melayani pelanggan dengan senyumanmu yang manis itu. Dan, tak ada satupun pembeli yang meninggalkan tokomu dengan raut wajah yang kecewa?”

 

“Y-ya kau mengatakan i-itu di dalam mimpiku.”

 

“Aku memang mengatakan itu padamu semalam. Sepertinya mimpimu itu benar-benar mengatakan segalanya. Jadi, apakah kau –ekhm menerimaku?” Oh no! Apakah ini nyata? Apakah ini benar-benar nyata? Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus menjawab dengan jawaban yang sama seperti yang ada di mimpiku? Atau, aku harus menjawab dengan jawaban yang berbeda dengan jawaban yang ada di mimpiku?

 

“Y-ya aku m-menerimamu.”

 

“Jadi, sekarang kita…” Seperti yang berada didalam mimpiku. Wajahku saat ini mungkin merah padam hanya karena balasan dari pria yang sejak beberapa detik lalu telah berstatus sebagai –ekhm kekasihku. Kulihat seluruh orang yang berada disini termasuk Jeremy memperhatikan kami. Tunggu. Bukankah taman ini sepi beberapa menit yang lalu? Mengapa seketika menjadi ramai pengunjung? Dan apa mereka melihat semua kejadian ini? Jeremy. Apakah kau Yang mempropokasikan semua pengunjung disini?

 

“Hey Jung Eunbi, jangan membuat kekasih barumu menunggu lebih lama hanya karena kau memikirkan orang-orang disini. Benar aku yang mengajak mereka kesini. Aku mengikutimu tadi. Jadi aku mengatakan pada semua pejalan kaki untuk menyaksikan pernyataan cinta secara langsung. Cepat peluk dia. Kuyakin itu yang ada dipikirannya saat ini.” Ucap Jeremy berteriak. Otomatis semua pengunjung taman ini mendengar teriakannya. Dengan keberanian yang cukup besar, aku memeluknya. Kali ini begitu nyata. Rasanya lebih hangat daripada yang berada didalam mimpiku.

 

Semua pengunjung taman ini menyaksikan drama secara langsung antara aku dan kekasihku. Mereka mendapat tontonan gratis. Walau ini tidak seromantis yang berada di drama. Tetapi, coba kalian berada diposisiku. Ini melebihi drama bagiku. Park Chanyeol sang pecinta Lollipop dan Jung Eunbi yang sangat benci dengan Lollipop akhirnya bersatu. Mungkin aku bisa menyukai Lollipop secara perlahan. Karena Sweet Candy dalam waktu dekat akan menyukai Lollipop. Atau mungkin saat ini Sweet Candy benar-benar mencintai Lollipop. Karena Benci itu merupakan kepanjangan dari ‘Benar-benar Cinta’.

 

-END-

 

Jelek yaaa. Sorry aku memang tidak berbakat dalam hal tulis menulis T.T Maaf jika ada typo. Aku tau ini cerita gaje banget T.T Thanks buat yang udah mau baca 😀 Buat Siders makasih juga ya 😀 Semoga kalian mau Comment suatu saat 🙂 Sebelumnya udah di post di http://applausexo.wordpress.com/ dan http://tetozly.wordpress.com/

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

14 thoughts on “Candy [freelance]

  1. hahaha…
    cerita nya mimpi yang jadi kenyataan ya? 🙂
    kependekan thor jadi terkesan buru-buru,,,hehehe…
    but sweet story… 🙂
    gomawoyo…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s