“Falling In Love” [freelance]

Gambar

“Falling In Love”

Author : gladiol

Length : Ficlet

Genre : Romance

Rating : General

Cast : EXO Member | Girl (You)

Author’s note :

Hai Hai Hai…!! Hallo Hallo..!! Salam kenal. Panggil aja gladiol..haha. Aku 91 liner, #tuaaa.  Ini ff pertamaku. Terinspirasi dari VCR Greeting Party “Hello” di Jepang beberapa waktu lalu, dan aku nambahin beberapa adegan dan cerita buat memperpanjang setiap ceritanya. Berhubung aku masih baru banget di dunia per-ff-an, jadi dimohon sekali buat para pembaca buat meninggalkan komentar, kritik, dan sarannya. Sekian kata sambutan dari aku…terima kasih sudah menyempatkan waktunya buat baca ff-ku yang masih banyak kekurangan ini…

Buat Inhi eonni yang selalu bersedia buat aku gangguin tiap hari dan yang setia dengerin ocehanku tentang EXO…Saranghaeeee!!!!!!!!!!!

Selamat membaca…

 

***

 

 

 

Saat kau ada dihadapanku, aku tidak bisa membedakan antara bidadari atau manusia

 

Baekhyun POV

Hari ini aku mengunjungi kafe favoritku dengan teman. Aku merasa suntuk akhir-akhir ini. Pekerjaanku menumpuk belum lagi ibuku yang selalu mengomel karena aku yang tak kunjung memiliki kekasih. Temanku mengatakan akan mengenalkan sepupunya padaku hari ini. Itulah mengapa kami ada disini sekarang.

Jujur aku gugup. Aku sudah menunggu selama tiga puluh menit namun gadis yang dijanjikan oleh temanku tak kunjung datang juga.

Tak berapa lama temanku melambaikan tangan kearah pintu masuk. Akupun ikut menoleh dan kulihat gadis itu. Cantik dan anggun. Itu kesan pertamaku untuknya. Ah…kenapa dengan jantungku?

‘Hey…tenanglah, aku tak bisa berkonsentrasi sekarang.’ Omelku dalam hati.

Kami saling melempar senyum dan temanku pun mengobrol dengan gadis itu. Setelah kuperhatikan lebih dekat seperti ini, aku seperti pernah bertemu dengannya.

Gadis itu bertanya padaku apakah aku mengingatnya. Tapi aku ragu-ragu apakah aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Gadis itupun bercerita kalau dulu kami pernah satu sekolah saat sekolah dasar.

Aku ingat, dia adalah gadis tomboy yang suka memanjat pohon di taman belakang sekolah. Dia gadis yang suka merebut bekalku. Dia juga gadis yang dulu membuat aku menangis hingga mengompol karena melepaskan anak buaya peliharaannya di hadapanku.

Aku sungguh tidak menyangka kalau dia berubah dengan drastis seperti ini. Dia pun bercerita kalau sempat mengalami amnesia karena kecelakaan saat sekolah menengah atas. Dan itu menjadi kesempatan ibunya untuk mengubah sifat buruk dan penampilan gadis ini. Ibunya juga mengingatkannya kembali pada teman-teman lama yang sering ia jahili, termasuk aku.

Sekarang dia meminta maaf padaku, aku tidak gampang memberikan maaf begitu saja. Harus ada timbal baliknya. Aku bilang aku akan memaafkannya asal dia mau memberikan nomor ponselnya. Dia langsung memberikan nomor ponselnya padaku, aku beralasan ini untuk menjalin hubungan baik antar teman lama yang dulu bermusuhan.

Aku masih tak menyangka kalau dia bisa berubah menjadi cantik seperti sekarang hingga aku tak bosan memandangi wajahnya dan tersenyum sendiri.

Setelah pertemuan dikafe itu, kami sering mengobrol lewat telefon dan berkirim pesan. Tak jarang juga aku mengajaknya berjalan-jalan di sekitar Myeongdong untuk membeli barang yang kami suka. Sekarang kami berada dikafe itu lagi.

Kami duduk berhadapan dan mengobrol banyak hal. Aku terpaku memandangi senyum cantiknya itu. Aku tak bisa fokus pada obrolan yang sedang ia bicarakan. Pandanganku terpusat pada mata dan senyumnya.

Cantik… Sungguh cantik…

Kau ini bidadari atau manusia sih?

Kalau kau bidadari, aku rela kau ajak ke kahyangan…

Kalau kau manusia, kau harus rela kuajak kerumah ibuku dan akan kuperkenalkan kau sebagai kekasihku…

 

***

 

Manisnya senyummu, mengalahkan manisnya cookies-cookies ini

 

D.O. POV

Keadaan meja dapurku saat ini sangat jauh dari kata bersih. Sisa tepung dan cipratan adonan berceceran dimana-mana. Aku sedang membuat cookies sesuai degan resep yang diajarkan oleh guru kelas memasak yang aku ikuti dua minggu lalu.

Guru yang cantik, memiliki mata kecil dan senyum yang manis. Aku jadi tersenyum sendiri membayangkannya.

Jangan salah sangka, aku mengikuti kelas memasak bukan karena guru yang manis itu, tapi karena aku ingin serius belajar memasak mengingat memasak adalah hobiku tapi kemampuanku masih dibawah rata-rata.

Tiga minggu yang lalu, aku sedang berjalan sendirian di kawasan Hongdae. Saat itu kulihat ada seorang gadis yang sedang menawarkan brosur kelas memasak yang bisa diikuti dua kali seminggu.

Akupun tertarik mendekatinya dan saat itu juga dia menyunggingkan senyum manisnya kepadaku. Jantungku berdegup cukup cepat. Akupun tersadar saat suaranya memecah keheningan karena aku yang terlarut dalam lamunanku.

Aku bilang aku ingin belajar memasak dan ingin bergabung di kelasnya. Akhirnya kami memulai kelas kami seminggu kemudian dengan diikuti enam orang murid yang ternyata semua seumuran denganku.

Di setiap pertemuan kelas aku selalu mencari perhatian guru cantik itu, entah sengaja atau tidak, dengan pura-pura salah resep lah, salah memakai apron lah, bahkan saking gugupnya aku pernah tidak sengaja membaca kertas resep secara terbalik tepat dihadapannya.

Aku sangat memalukan saat itu, namun apa yang terjadi? Dia tertawa. Tawanya yang sangat aku tunggu-tunggu itu. Matanya semakin menyipit saat tertawa dan menambah kecantikannya.

Sungguh rasanya aku ingin berguling-guling di lantai untuk mengurangi rasa geli di perutku. Sampai pertemuan ketiga akhirnya kudapatkan kesempatan untuk berbincang dengannya setelah kelas memasak selesai.

Kami mengobrol banyak dan baru kuketahui kalau usianya setahun dibawahku. Diapun tak segan-segan memanggilku dengan sebutan “oppa”. Aku sangat bahagia saat itu. Dan ia pun memberikanku resep bagaimana membuat cookies yang enak.

‘Tentu saja enak kalau saat memakan cookies itu sambil melihat senyummu.’ batinku.

Siang ini kami bertemu lagi. Aku berjanji akan memasak cookies sesuai resep yang diberikannya. Aku masih menggiling adonanku saat dia datang. Kutempelkan chocochips satu per satu dengan hati-hati seolah takut merusak adonan. Kutunjukkan padanya adonan yang belum kupanggang itu, diapun tersenyum dan mengatakan kalau dia tak sabar menanti hasilnya. Kupanggang semua adonan yang sudah kubentuk.

Kulanjutkan obrolan kami tentang dunia memasak tentu saja, bukan dunia masa depan kami berdua. Suara dentingan oven memutuskan obrolan kami sejenak dan dengan hati-hati kukeluarkan cookies-cookies itu.

Setelah menunggu agak dingin, kuambil satu dan kuserahkan padanya. Dia menggigitnya dan tersenyum setelahnya menandakan masakan buatanku tidak mengecewakan. Aku juga mencoba cookies buatanku, ternyata enak. Menurutku ini enak bukan karena takaran resep yang kudapat darinya. Tapi karena aku memakan cookies ini sambil memandangi senyumnya.

Guruku yang cantik, bisakah aku mengikuti kelas memasak setiap hari?

Agar aku tak perlu menahan rinduku padamu yang hanya bisa kuobati di kelas memasak dua kali seminggu.

Agar aku bisa merasakan makanan yang enak saat aku memakan makananku sambil melihat senyummu.

Bisakah?

 

***

TBC

 

Gimana readers?? Maaf jelek banget ceritanya..hahaha.

Mohon komentarnya ya, biar bisa lebih bagus lagi ffnya, buat yang gak mau komentar, aku tetep ngucapin makasih karena udah nyempetin waktunya buat baca ffku yang aneh ini..

Sekali lagi, terima kasih….

Segera menyusul cerita member selanjutnya…

15 thoughts on ““Falling In Love” [freelance]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s